Anda di halaman 1dari 6

ARTIKEL ILMIAH PPDH

ROTASI INTERNA HEWAN KECIL


BEDAH DAN RADIOLOGI
yang dilakukan di
KLINIK HEWAN DAN RUMAH SAKIT HEWAN
PENDIDIKAN FKH UB

SISTEM UROLOGI:
“Chronic Renal Failure Associated with Polycystic Kidney Disease in a Persian Cat”

Oleh:
DINDA ADINDA, S.KH
170130100011045

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
PENDAHULUAN

Feline Polycystic Kidney Disease (PKD) merupakan penyakit herediter terutama


menyerang kucing Persian. Penyakit tersebut disebabkan dengan mutasi pad gen PKD-1 yang
mengkode Polycystin-1 yang merupakan glikoprotein dari tubulus ginjal dan bertanggung
jawab untuk proliferasi sel dan diferensiasi sel. PKD ditandai dengan terbentuknya kista
pada ginjal dimana sering tidak muncul gejala klinis. Perkembangan kista membesar seiring
waktu dimana mampu menekan parenkim ginjal dan akan menyebabkan kehilangan fungsi.
Adapun gejala klinis yang muncul tidak spesifik seperti penurunan berat badan, depresi,
muntah, poliuria-polidipsia, anemia dan pembesaran abdomen. PKD dapat di diagnosa
dengan bantuan ultrasonografi dimana kista tampak anechoic, adanya struktur bulat atau oval
pada ginjal. Pada kasus ini dijabarkan tentang gejala klinis, pemeriksaan hematologi,
biokimia dan ultrasonografi dari ginjal pada kucing Persia.

CASE REPORT

1. Signalement
Jenis hewan : Kucing
Ras : Persian
Jenis kelamin : Jantan
Usia : 3 tahun
Berat badan : 1,8 kg
2. Anamnesa
Datang seekor kucing dengan keluhan selama 2 minggu mengalami poliuria, polidipsia,
penurunan berat badan parah, vomit,
3. Pemeriksaan fisik
Berdasarkan pemeriksaan fisik diketahui jika kucing tersebut mengalami dehidrasi
sedang, suhu badan 36,50C, pulsus 164/menit, frekuensi respirasi 32/menit, halitosis,
terjadi ulserasi pada mulut dan gingivitis. Pada ginjal kiri mengalami pembesaran dan
struktur ginjal irreguler ketika di palpasi.
4. Pemeriksaan Penunjang
a. Hematologi dan Kimia darah

Parameter Hasil Normal


WBC 20,8 5-15 x103/µL
RBC 5,28 6-10 x105/ µL
Hb 8,5 8-15 g/dL
Hematokrit 25 30-45 %
MCV 48,8 39-55 fL
MCHC 33 30-36 g/dL
pH 7,17 7,24-7,4
pCO2 24,4 29-45 mmHg
pO2 38 35-40
Na+ 166 146-156 mmol/L
K+ 4,7 3,7-6,1 mmol/L
Ca2+ 1,05 0,9-1,3 mmol/L
HCO-3 8,5 17-24 mmol/L

Parameter Hasil Normal


Alanine Aminotransferase 21 25-97 U/L
Aspartate Aminotransferase 37 7-38 U/L
Alkaline Phosphatase 6 14-71 U/L
Total Bilirubin 0,1 0-0,2 mg/dl
Total Protein 4,9 6-7,9 g/dL
Albumin 2,3 2,8-3,9 g/dL
Phosphorus 16,5 3,2-6,2 mg/dL
Glukosa 120 73-134 mg/dL
Total Calcium 5,21 9,4-11,4 mg/dL
BUN 489 19-34 mg/dL
Creatinin 5,61 0,8-1,8 mg/dL
Hasil hematologi menunjukkan leukositosis, anemia normocytic normochromic,
acidemia, hypernatremia, sedangkan hasil kimia darah menunjukkan hipoproteinemia,
hipoalbuminemia, hiperphosphatemia, dan azotemia.
b. Gambaran USG

Hasil pemeriksaan ultrasonografi pada regio abdominal tampak anechoic, struktur


pada ginjal tampak ada bentukan oval pada kedua ginjal.

c. Urinalisis
Pemeriksaan urinalisis menunjukkan spesific gravity 1,010 dan proteinuria.
5. Diagnosa
Diagnosa kasus ini berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang yaitu
chronic renal failure stage 4 dengan PKD. Klasifikasi stage chronic renal failure sesuai
dengan klasifikasi IRIS.
6. Terapi
Terapi yang diberikan dengan terapi cairan NaCl solution 0,9 ml sebanyak 250 ml,
vitamin kompleks (3 ml/day oral), pemberian suplement diet yang mendukung fungsi
ginjal ( 1 g/5 kg sebanyak 2 kali sehari, ipakitine, Novakim) dan pemberian diet rendah
phosphor dan sodium. Namun kucing tersebut meninggal setelah 2 minggu dan ketika
dilakukan nekropsi tidak mendapatkan ijin dari pemilik.
PEMBAHASAN

Polycytic Kidney Disease merupakan penyakit herediter yang bersifat progresif yang
merupakan hasil dari mutasi autosomal dominant gen dan sering terjadi pada kucing Persian.
Prevalensi kejadian PKD pada beberapa negara yaitu 41,8% Di Perancis, 41% Italia, 45% di
Australia, 36,3% Slovenia dan 49,2% di Inggris. Kejadian PKD dengan terbentuknya kista
dari sejak lahir, namun gejala klinis biasanya dapat diobesrvasi pada usia 3-10 tahun. Gejala
klinis PKD biasanya diikuti dengan chronic renal failure dengan gejala kehilangan berat
badan, poliuria, polidipsia, anemia, stomatitis uremia serta pembesaran abdominal. Pada
kasus ini muncul gejala vomit, penurunan berat badan yang parah, anemia, poliuria,
polidipsia. PKD dapat di diagnosa dengan bantuan USG yang tampak struktur kista anechoic
pada ginjal yang sesuai dengan literature.
Polycytic Kidney Disease merupakan suatu penyakit yang bersifat genetik dimana
diturunkan dari induk kepada anaknya yang menyebabkan ginjal membesar. Kondisi ini
diawali dengan munculnya kista yang berisi cairan pada ginjal diturunkan dari salah satu atau
kedua induknya.Pada kucing, kista mulai tumbuh pada usia 3 hingga 10 tahun (Barrs, et al.
2001). Kista tersebut bervariasi dalam ukuran, mulai kurang dari 1 mm sampai lebih besar
dari 1 cm, semakin tua usia hewan semakin besar dan lebih banyak kistanya.
Polycystic Kidney Disease (PKD) bersifat progresif lambat irreversibel dan
mewariskan penyakit pada keturunannya serta menyebabkan kista multipel sehingga
sehingga menyebabkan ginjal membesar secara dramatis. Kista tersebut akan menggantikan
jaringan ginjal normal dan menekan parenkim ginjal yang akhirnya menyebabkan gagal
ginjal kronis.
Gejala klinis Polycyctic Kidney Disease tidak spesifik dan mirip dengan yang terlihat
pada kasus gagal ginjal kronis karena sebab lain seperti lethargi, penurunan nafsu makan atau
anoreksia, polydipsia, polyuria, ulser pada saluran digesti, muntah, bau ureum dari saluran
pernapasan maupun mulut (Schaer, 2016). Gejala klinis PKD sering kali diikuti dengan gejala
hipertensi karena adanya gangguan pada angiotensin converting enzymes inhibitor (ACEI)
dan calcium channel blocker sehingga menyebabkan chronic renal injury. Pada kasus ini
tidak terjadi hypertensi sehingga tidak diberikan terapi.
Hypokalemia umum terjadi pada stage 2 dan stage 3 chronic renal failure, akan tetapi
hyperkalemia sering terjadi pada stgae 4 chronic renal insufficiency karena penurunan
frekuensi filtrasi glomerulus dan retensi potassium. Normokalemia terjadi karena
keseimbangan antara hypokalemia yang diasosiasi dengan primary aldosteronism dan
hyperkalemia yang diasosiasi dengan chronic renal failure. Pada kasus ini terdeteksi kucing
normokalemia. Metabolic acidosis biasanya terjadi pada chronic renal insufficiency karena
ginjal tidak dapay mengekresikan ion hidrogen dan tidak dapat mereabsorbsi bikarbonat.
Penurunan perfusi jaringan menyebabkan dehidrasi dan meningkatkan konsentrasi asam
laktat yang dapat mempengaruhi exacerbation metabolic acidosis. Pada kasus ini kucing
mengalami metabolic acidosis parah.

KESIMPULAN

Pada kasus PKD yang terjadi di kucing persian ini ditandai dengan gejala vomit,
penurunan berat badan, poliuria dan polidipsia.

DAFTAR PUSTAKA

Barrs, VR et al. 2001. Prevalence of Autosomal Dominant Polycystic Kidney Disease in


Persian Cats and related breeds in Sydney and Brisbane. Aust Vet J. 79: 257-259.
Kenan, C, T dan Mustafa I. 2017. Chronic Renal Failure Associated with Polycystic Kidney
Disease in a Persian Cat. F.U.Sag.Vet.Derg (3) : 265-267
Schaer, M. 2016. Clinical Medicine of the Dog and Cat. Third Edition. Manson Publishing
Ltd. London. 13. 505-510.