Anda di halaman 1dari 15

PENGEMBANGAN VARIETAS UNGGUL

PADI SEBAGAI SOLUSI PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN


INDONESIA
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa dan atas segala rahmat-

Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah dengan judul “Pengembangan Variestas

Unggul Padi Sebagai Solusi Peningkatan Ketahanan Pangan Indonesia” ini tepat pada waktu yang telah

ditentukan.

Karya ilmiah ini disusun dalam rangka mengakhiri kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia

yaitu tentang pembuatan karya ilmiah yang telah dipaparkan guru bidang studi Bahasa Indonesia. Karya

tulis menerangkan tentang tata cara pengembangan varietas unggul padi sebagai solusi peningkatan

ketahanan pangan Indonesia . Selain itu karya ilmiah ini juga dibuat untuk menambah wawasan

pengetahuan mahasiswa-mahasiswi IPB tentang pengembangan varietas unggul padi sebagai solusi

peningkatan ketahanan pangan Indonesia. Dalam hal ini penulis menggunakan metode yang sangat

sederhana, sehingga karya ilmiah ini mudah diterima oleh para pembacanya.

Tim Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................i

DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang...................................................................................................

1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................

1.3 Tujuan................................................................................................................

1.4 Manfaat..............................................................................................................

BAB II TEORI

2.1 Ketahanan Pangan Nasional................................................................................


2.2 Pemuliaan Tanaman.............................................................................................

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Keadaan Pangan di Indonesia pada saat ini.........................................................

3.2 Perilaku Konsumtif Masyarakat terhadap Beras.................................................

3.3 Hal-hal yang Dilakukan untuk Mengoptimalkan Pembudidayaan


Tanaman Padi.....................................................................................................................

3.4 Pengoptimalan Hasil Kualitas Tanaman Padi dengan Lahan yang Sama.................

3.5 Pengaruh Varietas Padi yang Berbeda terhadap Hasil Produksi........................

3.6 Perananan Mahasiswa dalam Mempertahankan Ketahanan Pangan................

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN.......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pangan merupakan salah satu kebutuhan mendasar dalam pemenuhan aspirasi humanitik.
ketahanan pangan dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana semua rumah tangga baik fisik
maupun ekonomi mempunyai kemampuan untuk mencukupi kebutuhan pangan untuk semua anggota
keluarganya. Pentingnya penyediaan ketahanan pangan serta upaya pemenuhan konsumsi pangan
internal menjadi sentral utama membangun pertanian. Walau bahan pangan lebih murah bila diimpor,
ketahanan tentang penyediaan pangan juga sangat dibutuhkan untuk mengurangi ketergantungan
terhadap pasar dunia.

Ketersediaan pangan memiliki tiga dimensi, yaitu rata-rata pasokan pangan yang tersedia
(ketersediaan), kemampuan meminimalkan rumpang kemungkinan konsumsi pangan terhadap
permintaan konsumsi (stabilitas), dan kemampuan untuk mendapatkan dan memproduksi pangan
(aksesbilitas). Ada dua pilihan untuk mencapai suatu ketahanan pangan, yaitu swasembada pangan dan
kecukupan pangan. Swasembada pangan diartikan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan yang sejauh
mungkin berasal dari pasokan domestik dengan meminimalkan ketergantungan pada perdagangan
pangan. sedangkan konsep kecukupan pangan berbeda dengan konsep swasembada pangan karena
adanya variabel perdagangan internasional. Hal ini menuntut kemampuan menjaga tingkat produksi
domestik ditambah dengan kemampuan untuk mengimpor agar kebutuhan pangan penduduknya tetap
terpenuhi.

Namun kondisi geografis yang menguntungkan serta dialokasikannya anggaran untuk ketahanan
pangan tidak menjadikan Indonesia bebas dari permasalahan ketahanan pangan. Terdapatnya
permasalahan ketahanan pangan / terdapatnya daerah rawan pangan di Indonesia dapat diketahui dari
Peta Keamanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas, FSVA) yang diterbitkan
oleh World Food Programme (WFP) bekerja sama dengan De wan Ketahanan Pangan (DKP) Nasional
pada tahun 2009. Pada tahun 2009 terdapat 100 kabupaten yang masih dalam kategori rawan pangan.
Hal ini terasa janggal mengingat Indonesia memiliki potensi yang luar biasa secara geografis dan juga
sudah dimasukkannya ketahanan pangan dalam alokasi anggaran negara.

Indonesia saat ini berada pada fase krisis pangan stadium empat atau sudah dalam kondisi sangat
mengkhawatirkan. Alasannya, Indonesia sudah terlalu banyak mengimpor berbagai produk pangan.
kebijakan impor pangan membuat rakyat kehilangan kemandirian dan terus menerus bergantung pada
kepentingan asing. Di saat yang sama, kebijakan impor pangan juga membuat miskin petani Indonesia
dan hanya menguntungkan para pengusaha importir hitam di sejumlah kementerian terkait.
1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat ditarik beberapa
masalah yang nantinya akan dibahas di dalam karya ilmiah ini. Adapun rumusan masalah yang akan
dibahas adalah :

1. Bagaimana keadaan pangan di Indonesia pada saat ini?

2. Bagaimana perilaku konsumtif masyarakat Indonesia terhadap beras?

3. Hal-hal apa sajakah yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pembudidyaan tanaman padi?

4. Bagaimana pengaruh varietas padi yang berbeda terhadap kualitas dan kuantitas hasil produksi?

5. Bagaimana peranan mahasiswa dalam upaya mempertahankan ketahanan pangan Indonesia?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah :

1. Mengetahui keadaan pangan di Indonesia pada saat ini

2. Mengetahui perilaku konsumtif masyarakat Indonesia terhadap beras

3. Mengetahui hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pembudidayaan
tanaman padi

4. Mengetahui pengaruh varietas padi yang berbeda terhadap kualitas dan kuantitas hasil produksi

5. Menjelaskan peranan mahasiswa dalam upaya mempertahankan ketahanan pangan

1.4 Manfaat

Manfaat dari penulisan karya ilmiah ini adalah :

1. Memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai pentingnya penggunaan varietas padi


unggul untuk mendapatkan hasil produksi yang optimal

2. Memberikan solusi dalam upaya peningkatan ketahanan pangan Indonesia


BAB II

TEORI

2.1 Ketahanan Pangan Nasional

Menurut PPRI No. 68 Tahun 2002, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah
tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman,
merata dan terjangkau. ketahanan pangan merupakan tantangan yang mendapatkan prioritas untuk
mencapai kesejahteraan bangsa pada abad milenium ini. Apabila melihat Penjelasan PP 68/2002
tersebut, upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional harus bertumpu pada sumber daya pangan
lokal yang mengandung keragaman antar daerah. Ketersediaan pangan berfungsi menjamin impor
pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan
keamanannya. Ketersediaan pangan dapat dipenuhi dari tiga sumber yaitu: (1) produksi dalam negeri;
(2) pemasokan pangan; (3) pengelolaan cadangan pangan (Wibowo, 2002).

2.2 Pemuliaan Tanaman

Pemuliaan tanaman didifinisikan sebagai perpaduan seni dan ilmu pengetahuan yang mempelajari
bagaimana memperbaiki genotipe tanaman dalam populasi sehingga lebih bermanfaat bagi manusia.
Pada awal perkembangan pemuliaan tanaman hanya didasarkan pada seni saja. Pemuliaan tanaman
telah lahir sejak dikenalnya bahan pertanian, yaitu sejak manusia hidup dengan cara mengumpulkan
bahan makanan dari alam, berpidah-pindah menjadi menetap sambil bertanam dan beternak. Pada
waktu itu orang memilih jernis tanaman atau variasi antar tanaman yang lebih berguna. Pemilihan
dalam populasi tanaman didasarkan atas perasaan, keterampilan, kemampuan serta petunjuk yang
terlihat pada tanaman. Tanaman yang terpilih selanjutnya dikembangbiakkan untuk dapat memenuhi
kebutuhan petani.

Jadi, memilih (seleksi) dan memelihara (domestikasi) merupakan metode pemuliaan tanaman yang lahir
pertama kali. Walaupun didasarkan atas seni, namun hasil 8 pemuliaan tanaman di jaman dahulu cukup
menakjubkan. Sejak lahirnya teori Seleksi Alam dan Evolusi yang dikemukakan oleh Darwin (1858), dan
ditemukannya prinsip-prinsip penurunan sifat pada organisme oleh Gregor Mendel (1866), para ahli
banyak melakukan penelitian untuk mendapatkan varietas baru, berdasarkan atas seleksi keturunan.
Dengaan dukungan ilmu-ilmu lain seperti: Botani, Fisiologi, Morfologi, Taksonomi, Sistimatik, Hama dam
Penyakit, Statistik, Biokimia dan lain-lain, pemuliaan tanaman sebagai ilmu berkembang dengan pesat.

Akhirnya pemuliaan tanaman didifinisikan sebagai suatu metode yang secara


sistematik merakit keragaman genetic menjadi suatu bentuk yang lebih bermanfaat bagi manusia.
Seleksi yang artinya memilih dilakukan pada setiap tahap program pemuliaan, seperti memilih plasma
nutfah yang akan dijadikan tetua, memilih metode pemuliaan yang tepat, memilih genotipe yang akan
diuji, memilih metode pengujian yang tepat, dan memilih galur yang akan dilepas sebagai varietas.
Seleksi dapat dilakukan secara efektif pada populasi tergantung pada tempat dan waktu. Perbaikan
tanaman pada dasarnya tergantung dari penyusun suatu populasi yang terdiri dari individu-individu
dengan genetik berbeda. Seleksi pada umumnya dilakukan untuk memilih tanaman sebagai tetua/
parental, dan mencegah tanaman lain yang berpenampilan kurang baik sebagai tetua. Strategi perbaikan
populasi ini terdiri dari dua pekerjaan yang berlawanan, yaitu pengumpulan atau mempertahankan
keragaman di dalam populasi, dan seleksi yang mengarah pada pengurangan keragaman.

Apabila program pemuliaan tanaman mempunyai tujuan yang luas, maka plasma nutfah yang diinginkan
mempunyai keragaman genetik, adaptasi luas, relatif tahan terhadap hama dan penyakit tertentu.
Tetapi bila program pemuliaan tanaman mempunyai tujuan khusus, informasi yang diperlukan adalah
potensi hasil relatif dari masing-masing plasma nutfah. Pemilihan yang bijaksana terhadap plasma
nutfah permulaan merupakan faktor penting untuk keberhasilan program itu. Pemilihan metode
pemuliaan juga merupakan tanggung jawab penting dari pemulia tanaman. Suatu metode telah
diketahui efisien baik dengan percobaan atau teoritis untuk tanaman tertentu, mungkin tidak berlaku
untuk semua situasi. Efisiensi suatu metode dapat di pengaruhi oleh link-age, intensitas seleksi,
besarnya populasi, heritabiltas, dan peran gen (gen action). Waktu yang dibutuhkan untuk setiap siklus
pemuliaan harus diperhitungkan. Misalnya di daerah tropika, mungkin diperoleh dua atau tiga generasi
setiap tahun, sedang di daerah beriklim sedang mungkin hanya satu kali setahun.

Secara faktual dan sulit dibantah bahwa pemuliaan tanaman telah mampu meningkatkan hasil dan
kualitas tanaman secara cukup dramatis. Sebagai ilm dan teknologi, pemuliaan tanaman telah mampu
memberikan sumbangan besar dalam mendukung penyediaan pangan bagi 6,5 milyar umat manusia di
permukaan bumi saat ini. Dalam kurun waktu lebih kurang satu abad saja, pemuliaan tanaman telah
mampu membentuk ratusan varietas, klon, atau galur baru yang lebih unggul (Nasir 2001).
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Kondisi Pangan di Indonesia Dewasa ini

Pangan merupakan sesuatu yang esensi bagi siapa pun di dunia ini, termasuk masyarakat Indonesia. Di
tengah krisis yang semakin memburuk, kondisi pangan bangsa ini tidak kunjung membaik, bahkan dinilai
semakin memburuk, seiring dengn merabaknya kasus-kasus kelaparan dan malanutrisi yang merabak di
daerah. Kondisi ini sangat memerhatikan mengingat bangsa ini kaya akan sumber daya alam dan
memiliki sejarah sebagai bangsa agraris.

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang masih berkutat dalam menanggulangi masalah
gizi, masalah keamanan pangan menjadi penting untuk diperhatikan karena dampak yang
ditimbulkannya dapat memperparah masalah gizi yang sedang kita hadapi.

Pola hidup masyarakat yang masih terbelakang, membuat masyarakat kurang menyadari pentingnya
keamanan pangan. Kesulitan ekonomi menyebabkan masyarakat tidak lagi memerdulikan masalah
pangan yang utuh, baik, aman, serta sehat. Kasus merebaknya penggunaan formalin dan boraks pada
makanan yang kini terjadi membuktikan rendahnya kesadaran masyarkat untuk menciptakan iklim yang
baik bagi keamanan pangan. Nampaknya perlu peran pemerintah yang lebih proaktif dan antisipatif agar
penyelewengan penggunaan bahan-bahan berbahaya seperti pemakaian bubuk boraks dan formalin
serta isu-isu lainnya seputar pangan yang sebenarnya yang sudah sejak dahulu dan menjadi rahasia
publik di negara ini dapat diatasi dengan sistem pengaturan pangan yang tepat.

Salah satu kendala proses hukum produsen pengguna formalin adalah dampaknya yang tidak langsung.
Suatu kemajuan dengan maraknya perbincangan tentang formalin di media massa telah melahirkan
beberapa peraturan terbaru tentang formalin termasuk pemberian sanksi yang lebih tegas bagi para
pelanggar.

Kendala lain dalam penegakan hukum dalam pengaturan pangan adalah jumlah produsen makanan
rumah tangga terdaftar dan tidak terdaftar yang mencapai ribuan, sedangkan aparat pengawas
jumlahnya terbatas. Untuk mengatasi hal ini memerdayakan swadaya masyarakat secara aktif dalam
menciptakan ketersediaan pangan yang aman dengan kesadaran individu dan secara kondusif turut
serta dalam menjaga rambu-rambu pengaturan pangan merupakan alternatif yang paling
memungkinkan dari pada hanya bersandar pada kenampuan aparat pemerintah (Wijaya et al 2009).

3.2 Perilaku Konsumtif Masyarkat terhadap Beras

Ahli pertanian asal Institut Pertanian Bogor (IPB) Rachmat Pambudy menilai konsumsi beras masyarakat
Indonesia saat ini terbilang tinggi. Konsumsi beras di Indonesia sekarang ini sudah tinggi, sekitar 139 kg
per kapita dengan jumlah penduduk sekitar 245 juta jiwa pada tahun ini. Konsumsi yang tinggi ini akibat
dari kecenderungan sebagian besar petani Indonesia menggantungkan hidupnya dengan menanam padi.
(Subantoro et all, 2008). Produksi gabah kering giling saat ini hanya 69 juta ton dan konsumsi beras
nasional pada 2012 diperkirakan sebesar 34 juta ton. Oleh karena itu, untuk mengatasi kekurangan
beras ini, perlu dilakukan upaya-upaya bermanfaat. Ada dua cara yang dapat mengatasi permasalahan
tersebut. Pertama, memacu atau mempercepat peningkatan produksi beras. Cara pertama bisa
dilakukan melalui tiga hal, yaitu menggunakan bibit yang lebih bagus, pupuk yang lebih berimbang dan
metode penanaman yang lebih baik. Terkait metode penanaman yang baik, dianjurkan agar pemerintah
lebih menggalakkan System of Rice Intensification (SRI) kepada petani-petani di Indonesia. SRI
merupakan suatu metode menanam padi dengan menggunakan bibit, pupuk dan air yang lebih sedikit,
namun hasil produksinya bisa tinggi.

3.3 Hal-Hal yang dapat dilakukan untuk Mengoptimalkan Budidaya Tanaman Padi

Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan budidaya tanaman padi, salah
satunya yaitu dengan penggunaan metode SRI (System of Rice Intensification). Konsep dasar SRI yaitu
pindah tanam satu bibit usia sangat muda (7-14 hari setelah semai) per lubang dengan jarak tanam
longgar (30 cm x 30 cm), dan pemberian air irigasi terputus-putus tanpa penggenangan di petak sawah.
Apabila konsep dasar dan metoda SRI diterapkan secara benar, maka akan diperoleh panen padi lebih
besar walaupun dengan mengurangi input eksternal (air, pupuk kimia dan sebagainya). Teknis budidaya
dengan metode SRI yaitu:

1. Pengolahan Tanah

Untuk mendapatkan media tumbuh metode tanam padi SRI yang baik, maka lahan diolah seperti
menanam padi metode biasa yaitu tanah dibajak sedalam 25 sampai 30 m sambiI membenamkan sisa-
sisa tanaman dan rumput-rumputan, kemudian digemburkan dengan garu,' lalu diratakan sebaik
mungkin sehingga saat diberikan air ketinggiannya di petakan sawah akan merata.

2. Parit

Pada petak SRI perlu dibuat parit keliling dan melintang petak untuk membuang kelebihan air. Letak dan
jumlah parit pembuang disesuaikan dengan bentuk dan ukuran petak, serta dimensi saluran irigasi.

3. Pemilihan Benih yang Baik

Pemilihan benih bertujuan untuk mendapatkan benih yang bermutu baik atau bernas, dengan metode
SRI, harus terlebih dahulu diadakan pengujian benih. Pengujian benih dilakukan dengan eara
penyeleksian menggunakan larutan air garam, yang langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
· Masukkan air bersih ke dalam ember/panei, kemudian berikan garam dan aduk sampai larut.
Masukkan telur itik/bebek yang mentah ke dalam larutan garam ini. Jika telur itik belum mengapung
maka perlu penambahan garam kembali. Pemberian garam dianggap cukup apabila posisi telur itik
mengapung pada permukaan larutan garam.

· Masukkan benih padi yang akan diuji ke dalam ember/panei yang berisi larutan garam. Aduk benih
padi selama kira-kira satu menit.

· Pisahkan benih yang mengambang dengan yang tenggelam. Benih yang tenggelam adalah benih
yang bermutu baik atau bernas.

· Benih yang baik atau bernas ini, kemudian dibilas dengan air biasa sampai bersih. Dengan indikasi
bila digigit, benih sudah tidak terasa garam.

4. Perendaman Benih

Benih yang telah diuji tersebut, kemudian direndam dengan menggunakan air biasa. Perendaman ini
bertujuan untuk melunakkan sekam gabah sehingga dapat mempereepat benih untuk berkeeambah.
Perendaman dilakukan selama 24 sampai 48 jam.

5. Penganginan Benih

Benih yang telah direndam kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam karung yang berpori-pori atau
wadah tertentu dengan tujuan untuk memberikan udara masuk ke dalam benih padi, dan kemudian
disimpan di tempatyang lembab. Penganginan dilakukan selama 24 jam.

6. Penyemaian Benih

Penyemaian dengan metode SRI, dilakukan dengan mempergunakan nare atau tampah atau besek atau
juga di hamparan sawah, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penanaman. Pembuatan media
persemaian dengan metode SRI dapat dilakukan dengan langkah-Iangkah sebagai berikut:

· Mencampur tanah, pasir dengan pupuk organik dengan perbandingan 1:1 :1

· Sebelum nare atau tampah tempat pembibitan diisi dengan tanah, pasir yang sudah dieampur
dengan pupuk organik terlebih dahulu dilapis dengan daun pisang dengan harapan untuk
mempermudah pencabutan dan menjaga kelembaban tanah, kemudian tanah dimasukkan dan disiram
dengan air sehingga tanah menjadi lembab.

· Benih yang sudah dianginkan ini, ditaburkan ke dalam nare yang berisi tanah.

· Setelah benih ditabur, kemudian ditutup dengan lapisan tanah yang tipis.

· Persemaian dapat diletakkan pada tempat-tempat tertentu yang aman dari gangguan ayam atau
binatang lain.

· Selama masa persemaian, pemberian air dapat dilakukan setiap hari agar media tetap lembab
dan tanaman tetap segar.

7. Pencaplakan

Sebelum penanaman terlebih dahulu dilakukan penyaplakan dengan memakai caplak agar jarak tanam
pada areal persawahan menjadi lurus dan rapi sehingga mudah untuk disilang. Caplak berfungsi sebagai
penggaris dengan jarak tertentu. Variasi jarak tanam diantaranya dengan jarak tanam 30 m x 30 m, 35 m
x 35 m, atau jarak tertentu lainnya. Penyaplakan dilakukan seeara memanjang dan melebar. Setiap
pertemuan garis hasi Igaris penyaplakan adalah tempat untuk penanaman 1 bibit padi.

3.4 Pengoptimalan Kualitas Hasil Produksi Padi pada Lahan yang Sama

Saat ini Indonesia sedang dihadapkan dengan masalah konversi lahan pertanian yang cukup serius.
Tidak dapat dielakkan jika konversi lahan pertanian sudah menjadi lahan industri maupun perumahan.
Ketika lahan pertanian menyusut dan ketimpangan tidak teratasi, krisis ketersediaan pangan di depan
mata. Pada gilirannya ini akan berdampak pada “Krisis Ketahanan Pangan”, karena ketahanan pangan
yang pada awalnya sebagai tujuan dari pembangunan pertanian, menjadi sangat tergantung pada
ketersediaan lahan pertanian. Oleh karena itu, sangat diperlukan upaya yang dapat mengoptimalkan
produksi padi pada lahan yang sempit.

Dewasa ini, para peneliti telah berupaya untuk membuat padi varietas unggul. Keuntungan dari
penggunaan padi varietas unggul antara lain mampu bertahan pada lahan yang minim nutrisi; lebih
tahan terhadap hama; tahan terhadap kekurangan air; dan jumlah bulir padi yang lebih banyak pada
satu tangkainya. Jika dibandingkan dengan produksi padi lokal dengan menggunakan lahan yang sama
besar, maka akan diperoleh hasil yang lebih banyak untuk varietas unggul. Bulir padi yang dihasilkan pun
lebih berkualitas. Padi tersebut akan lebih harum serta lebih pulen setelah dimasak.
3.5 Pengaruh Varietas Padi yang Berbeda terhadap Hasil Produksi

Dapat dilihat dari tabel di atas bahwa hasil produksi terbanyak adalah 6,9 ton per hektar yang
dihasilkan oleh varietas Cibodas yang dilepas pada tahun 1995. Didapatlan umur padi 123 hari dengan
kualitas nasi yang sedang. Varietas ini tahan terhadap hama dan penyakit hawar daun/HDB. Sedangkan
hasil produksi paling sedikit sebanyak 3-5 ton/hektar yang dihasilkan oleh varietas Cirata yang dilepas
pada tahun 1996. Varietas ini tidak memiliki daya tahan terhadap hama dan penyakit apapun, namun
memiliki kualitas nasi yang sedang. Dapat disimpulkan bahwa semakin beragamnya varietas padi yang
dilepas, didapatkan pula umur, hasil, rasa nasi, dan toleransi terhadap hama dan penyakit yang beragam
pula.
3.6 Peranan Petani terhadap Ketahanan Pangan

Kunci untuk meningkatkan peran petani kecil dalam mewujudkan ketahanan pangan yang
berkelanjutan adalah dengan meningkatkan produksi dan akses pasar. Peningkatan produksi dilakukan
melalui peningkatan efisiensi, penerapan teknologi, dan meningkatkan skala ekonomi usahatani yang
akan menjamin penyediaan pangan secara berkelanjutan. Peningkatan akses petani terhadap pasar akan
mendorong peningkatan akses pangan masyarakat secara fisik dan meningkatkan pendapatan petani.
Petani harus segera berpindah dari sisten pertanian yang konvensional menjadi pertanian modern.
Pertanian modern akan membuat produksi padi menjadi lebih efektif. Salah satu bentuk pengaplikasian
dari pertanian modern adalah digunakannya varietas unggul. Salah satu jalan tempuh untuk meratakan
penggunaan varietas unggul yaitu diadakannya penyuluhan kepada para petani mengenai manfaat
penggunaan varietas unggul.
BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan yang dapat diambil dari pembahasan di atas adalah bahwa dibutuhkannya kesadaran

yang lebih dari seluruh warga negara dalam mempertahankan ketahanan pangan mengingat semakin

memburuknya ketahanan pangan nasional. Terlebih lagi, peranan petani harus ditingkatkan dalam

usaha mempertahankan ketahanan pangan. Diharapkan dengan hasil yang telah dioptimalkan,

masyarakat dapat berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan pangan nasional, sehingga ketahanan

pangan nasional dapat menjadi lebih stabil.


DAFTAR PUSTAKA

[Balitbang].2006.Pembudidayaan Varietas Padi.Jakarta[ID]:Balai Pustaka.

Nasir M.2001.Pengantar Pemuliaan Tanaman.Jakarta[ID]:Departemen Pendidikan Nasional.

Subantoro R et al.2008.Pemuliaan Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Varietas Lokal Menjadi

Varietas Lokal yang Unggul.Mediagro: 22 Agustus: 4 (62-74).

Wibowo R.2002.Pertanian dan Pangan.Jakarta[ID]:Pustaka Sinar Harapan.

Wijaya H et all.2009.Standarisasi dan Legislasi Pangan Edisi 1.Jakarta[ID]:UT Press.