Anda di halaman 1dari 14

IMPLEMENTASI BIMBINGAN DAN KONSELING PADA MATA

PELAJARAN DALAM KURIKULUM 2013

A. Implementasi Bimbingan dan Konseling Kurikulum 2013

Keberadaan Bimbingan dan konseling dalam pendidikan di Indonesia,


sesungguhnya sudah dimulai sejak tahun 1964, yang disebut "Bimbingan dan
Penyuluhan" ketika diberlakukan "Kurikulum Gaya Baru. "Bimbingan dan
Penyuluhan pada waktu itu dipandang sebagai unsur pembaharuan dalam
penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

Sejak diberlakukan Kurikulum Tahun 1975, pelayanan bimbingan dan


penyuluhan telah dijadikan sebagai bagian integral dari keseluruhan upaya
pendidikan. Petugas yang secara khusus melaksanakan pelayanan bimbingan dan
konseling pada saat itu disebut Guru Bimbingan dan Penyuluhan (Guru BP). 7
Sejak diberlakukannya kurikulum 1994, sebutan untuk Guru BP berubah rnenjadi
Guru Pembimbing, sebutan resmi ini diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84 Tahun 1995 tentang Jabatan
Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, serta Surat Keputusan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan No.025/0/1995 tentang Petunjuk Teknis Ketentuan Pelaksanaan
Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya antara lain mengandung arahan dan
ketentuan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah
oleh guru kelas di SD dan guru pembimbing di SLTP dan SLTA. Walaupun kedua
aturan tersebut mengandung hal-hal yang berkenaan dengan pelayanan bimbingan
dan konseling, tetapi tugas itu dinyatakan sebagai tugas guru (dengan sebutan guru
pembimbing) dan tidak secara eksplisit dinyatakan sebagai tugas konselor. Hal ini
dapat dipahami karena sebutan konselor belum ada dalam perundangan.
Penggunaan sebutan guru, sangat merancukan konteks tugas guru yang mengajar
dan konteks tugas konselor sebagai penyelenggara pelayanan ahli bimbingan dan
konseling. Guru pembimbing yang pada saat ini ada di lapangan pada hakikatnya
melaksanakan tugas sebagai konselor, tetapi sering diperlakukan dan diberi tugas
layaknya guru mata pelajaran. Bimbingan dan konseling bukanlah kegiatan
pembelajaran dalam konteks adegan belajar mengajar di kelas yang layaknya
dilakukan guru sebagai pembelajaran bidang studi, melainkan pelayanan ahli dalam
konteks memandirikan peserta didik. (ABKIN: 2007).

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP 2006), seperti yang


diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006
tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, posisi dan arah
layanan bimbingan dan konseling di sekolah dimasukan dalam struktur kurikulum
sebagai kegiatan pengembangan diri. Pengembangan diri bukan merupakan mata
pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri
sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan
kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh
konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk
kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan oleh konselor atau
guru bimbingan dan konseling dalam bentuk kegiatan pelayanan konseling yang
berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan
pengembangan karir peserta didik.

Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan bagian integral


dari keseluruhan upaya pendidikan dalam jalur pendidikan formal dan layanan ini
meskipun dilakukan oleh pendidik yang disebut sebagai konselor, tetapi ekspektasi
kinerja 8 profesionalnya berbeda dengan ekspektasi kinerja profesional yang
dilakukan oleh guru. Jika ekspektasi kinerja guru menggunakan materi pelajaran
sebagai konteks layanan keahliannya, maka ekspektasi kinerja konselor tidak
demikian. Ekspektasi kinerja konselor tidak meggunakan materi pelajaran dalam
koteks layanan keahliannya (bimbingan dan konseling), melainkan menggunakan
proses pengenalan diri peserta didik (konseli) dengan memahami kekuatan dan
kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya,
untuk menumbuhkembangkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan
penting dalam perjalanan hidupnya, sehingga mampu memilih, meraih serta
mempertahankan karir (kemajuan hidup) untuk mencapai hidup yang efektif,
produktif, dan sejahtera dalam konteks kemaslahatan umum.

Bimbingan dan konseling merupakan upaya proaktif dan sistematik dalam


nemfasilitasi peserta didik mencapai tingkat perkembangan yang optimal,
pengembangan perilaku efektif, pengembangan lingkungan perkembangan, dan
meningkatan keberfungsian individu di dalam lingkungannya. Semua perubahan
perilaku tersebut merupakan proses perkembangan, yakni proses interaksi antara
individu dengan lingkungan perkembangan melalui interaksi yang sehat dan
produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan tanggung jawab untuk
mengembangkan lingkungan perkembangan, membangun interaksi dinamis antara
individu dengan lingkungannya, membelajarkan individu untuk mengembangkan,
memperbaiki, dan memperhalus perilaku.

Posisi bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal seperti


tertera pada Gambar 1, mengindikasikan bahwa pelayanan bimbingan dan
konseling merupakan bagian integral dari program pendidikan. Dengan demikian,
posisi guru bimbingan dan konseling (dalam Pasal 1 ayat 6 UU RI No. 20/2003
disebut konselor) sejajar dengan guru bidang studi/mata pelajaran dan administrator
Sekolan/Madrasah. Demikian pula dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan
menengah menempatkan pelayanan bimbingan dan konseling sebagai bagian
integral dari program pendidikan di sekolah/madrasah.

Merajuk pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem


Pendidikan Nasional, sebutan untuk guru bimbingan dan konseling dinyatakan
dalam sebutan 'Konselor." Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional
dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru,
dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator, instruktur,fasilitator dan
sebutan lain yang sesuai kekhususannya,serta berpartisipasi dalam
penyelenggaraan pendidikan (UU RI No. 20/2003, Pasal 1 angka 6). Pengakuan
secara eksplisit dan kesejajaran posisi antara tenaga pendidik satu dengan yang
lainnya tidak menghilangkan arti bahwa setiap tenaga pendidik, termasuk konselor,
memiliki konteks tugas, ekspektasi kinerja, dan setting pelayanan spesifik yang
mengandung keunikan dan perbedaan.

B. Peran dan Fungsi Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi


Kurikulum 13

Bimbingan dan konseling adalah upaya pendidikan dan merupakan bagian


integral dari pendidikan yang secara sadar memposisikan "... kemampuan peserta
didik untuk mengeksplorasi, memilih, berjuang meraih, serta mempertahankan
karier itu ditumbuhkan secara isi-mengisi atau komplementer oleh guru bimbingan
dan konseling atau konselor dan oleh guru mata pelajaran dalam setting pendidikan
khususnya dalam jalur pendidikan formal, dan sebaliknya tidak merupakan hasil
upaya yang dilakukan sendirian oleh Konselor, atau yang dilakukan sendirian oleh
Guru. (ABKIN: 2007).

Ini berarti bahwa proses peminatan, yang difasilitasi oleh layanan bimbingan
dan konseling, tidak berakhir pada penetapan pilihan dan keputusan bidang atau
rumpun keilmuan yang dipilih peserta didik di dalam mengembangkan potensinya,
yang akan menjadi dasar bagi perjalanan hidup dan karir selanjutnya, melainkan
harus diikuti dengan layanan pembelajaran yang mendidik, aksesibilitas
perkembangan yang luas dan terdiferensiasi, dan penyiapan lingkungan
perkembangan/belajar yang mendukung. Dalam konteks ini bimbingan dan
konseling berperan dan berfungsi, secara kolaboratif, dalam hal-hal berikut :

1. Menguatkan Pembelajaran yang Mendidik Untuk mewujudkan arahan Pasal 1


(1), 1 (2), Pasal 3, dan Pasal 4 (3) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional secara utuh, kaidah-kaidah implementasi Kurikulum
2013 sebagaimana dijelaskan harus bermuara pada perwujudan suasana dan proses
pembelajaran mendidik yang memfasilitasi perkembangan potensi peserta didik.
Suasana belajar dan proses pembelajaran dimaksud pada hakikatnya adalah proses
mengadvokasi dan memfasilitasi perkembangan peserta didik yang dalam
implementasinya memerlukan penerapan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling.
Bimbingan dan konseling harus meresap ke dalam kurikulum dan pembelajaran
untuk mengembangkan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan
potensi peserta didik. Untuk mewujudkan lingkungan belajar dimaksud, guru
hendaknya: (1) memahami kesiapan belajar peserta didik dan penerapan prinsip
bimbingan dan konseling dalam pembelajaran, (2) melakukan asesmen potensi
peserta didik, (3) melakukan diagnostik kesulitan perkembangan dan belajar peserta
didik, (4) mendorong terjadinya internalisasi nilai sebagai proses individuasi
peserta didik. Perwujudan keempat prinsip yang 6 disebutkan dapat dikembangkan
melalui kolaborasi pembelajaran dengan bimbingan dan konseling.

2. Memfasilitasi Advokasi dan Aksesibilitas Kunkulum 2013 menghendaki adanya


diversifikasi layanan, jelasnya layanan peminatan. Bimbingan dan konseling
berperan melakukan advokasi, aksesibilitas, dan fasilitasi agar terjadi diferensiasi
dan diversifikasi layanan pendidikan bagi pengembangan pribadi, sosial, belajar
dan karir peserta didik. Untuk itu kolaborasi guru bimbingan dan
konseling/konselor dengan guru mata pelajaran perlu dilaksanakan dalam bentuk:
(1) memahami potensi dan pengembangan kesiapan belajar peserta didik, (2)
merancang ragam program pembelajaran dan melayani kekhususan kebutuhan
peserta didik, serta (3) membimbing perkembangan pribadi, sosial, belajar dan
karir.

3. Menyelenggarakan Fungsi Outreach Dalam upaya membangun karakter sebagai


suam keutuhan perkembangan, sesuai dengan arahan Pasal 4 (3) UU No. 20/2003,
Kurikulum 2013 menekankan pembelajaran sebagai proses pemberdayaan dan
pembudayaan. Untuk mendukung prinsip dimaksud bimbingan dan konseling tidak
cukup menyelenggarakan fungsi-fungsi inreach tetapi juga melaksanakan fungsi
outreach yang berorientasi pada penguatan daya dukung lingkungan perkembangan
sebagai lingkungan belajar. Dalam konteks ini kolaborasi guru bimbingan dan
konseling/konselor dengan guru mata pelajaran hendaknya terjadi dalam konteks
kolaborasi yang lebih luas, antara lain: (1) kolaborasi dengan orang tua/keluarga,
(2) kolaborasi dengan dunia kerja dan lembaga pendidikan, (3) "intervensi"
terhadap institusi terkait lainnya dengan tujuan membantu perkembangan peserta
didik
C. Pelaksanaan Pelayanan Peminatan pada Satuan Pendidikan

Pelayanan Bimbingan dan Konseling tentang arah peminatan merupakan upaya


untuk membantu siswa dalam memilih dan mendalami mata pelajaran yang diikuti
pada satuan pendidikan (SD/MI, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB
danSMK), memahami dan memilih arah pengembangan karir, dan menyiapkan diri
serta memilih pendidikan lanjutan sampai ke perguruan tinggi. Dalam pelayanan
bimbingan dan konseling (BK) upaya pelayanan arah peminatan ini merupakan
salah satu bentuk layanan penempatan/penyaluran.

Kaidah dasar yang dinyatakan secara eksplisit dalam Kurikulum 2013 yang
berkaitan langsung dengan pelayanan bimbingan dan konseling adalah kaidah
peminatan. Peminatan dipahami sebagai upaya advokasi dan fasilitasi
perkembangan peserta didik agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan,akhlak mulia,serta keterampilan yang diperlukan
dirinya,masyarakat,bangsa,dan negara (arahan Pasal 1 angka 1 UU Nomor 20
Tahun 2003 Sisdiknas) sehinga mencapai perkembangan optimum. Perkembangan
optimum bukan sebatas tercapainya prestasi sesuai dengan kapasitas intelektual dan
minat yang dimilikinya, melainkan sebagai sebuah kondisi perkembangan yang
memungkinkan peserta didik mampu mengambil pilihan dan keputusan secara
sehat dan bertanggung jawab serta memiliki daya adaptasi tinggi terhadap dinamika
kehidupan yang dihadapinya. Dengan demikian, peminatan adalah sebuah proses
yang akan melibatkan serangkaian pengambilan pilihan dan keputusan oleh pserta
didik yang didasarkan atas pemahaman potensi diri dan peluang yang ada di
lingkungannya. Ditinjau dari konteks ini maka pelayanan bimbingan dan konseling
adalah “wilayah layanan yang bertujuan memandirikan individu yang normal dan
sehat dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengambilan keputusan
termasuk yang terkait dengan keperluan untuk memilih, meraih serta
mempertahankan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan
sejahtera,serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum
(the Common Good) melalui (upaya) pendidikan. (ABKIN:2007).

Peminatan adalah proses yang berkesinambungan untuk menfasilitasi peserta


didik mencapai tujuan pendidikan nasional, dan oleh karena itu peminatan harus
berpijak padad 11 kaidah-kaidah dasar yang secara eksplisit dan
implisit,terkandung dalam kutikulum. Kaidah-kaidah dimaksud ialah bahwa
Kurikulum Tahun 2013:

 memiliki spirit kuat untuk pemulihan fungsi dan arah pendidikan yang lebih
konsisten sesuai dengan Pasal 3 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang bermakna bahwa watak dan
peradaban bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila dan UUD 1945 harus menjadi tujuan eksistensial pedidikan, yang
melandasi upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai tujuan kolektif-
kultural pendidikan, yang diejawantahkan melalui pengembangan potensi
peserta didik sebagai tujuan individual pendidikan.

 dimaksudkan untuk menyiapkan peserta didik agar sukses dalam


menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan kehidupan di era globalisasi
dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-undang Dasar
1945.

 menitikberatkan pada pencapaian kompetensi sikap, keterampilan. dan


pengetahuan sebagai keutuhan yang harus dicapai oleh peserta didik; dan
juga tidak memisahkan antara mata pelajaran dengan muatan local,
pendidikan akademik, dan pendidikan karakter sebagai keutuhan yang
memberikan kemaslahatan bagi bangsa.

 memiliki spirit yang kuat untuk memulihkan proses pendidikan sebagai


proses pembelajaran yang mendidik dan wahana pengembangan karakter,
kehidupan yang demokratis, dan kemandirian sebagai softskills, serta
penguasaan sains, teknologi, dan seni sebagai hardskills. Capaian
pendidikan merupakan interaksi yang fungsional antara efektivitas
kurikulum berbasis kompetensi dan pembelajaran siswa aktif dengan lama
pembelajaran di sekolah.

 memandang bahwa peserta didik aktif dalam proses pengembangan potensi


dan perwujudan dirinya dalam konteks sosial kultural, sehingga menuntut
profesionalitas guru yang mampu mengembangkan strategi pembelajaran
yang menstimulasi peserta didik untuk belajar lebih aktif.

 menekankan penilaian berbasis proses dan hasil. Ini berarti ukuran


keberhasilan pendidikan tidak hanya akumulasi fakta dan pengetahuan
sebagai hasil dari ekspose didaktis, tetapi juga menekankan pada proses
pembelajaran yang mendidik.

 tidak menyederhanakan upaya pendidikan sebagai pencapaian target-target


kuantitatif berupa angka-angka hasil ujian sejumlah mata pelajaran
akademik saja, tanpa penilaian proses atau upaya yang dilakukan oleh
peserta didik. Kejujuran, kerja keras dan disiplin adalah hal yang tidak boleh
luput dari penilaian proses. Hasil penilaian 12 juga harus serasi dengan
perkembangan akhlak dan karakter peserta didik sebagai makhluk individu,
sosial, warga negara dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
 mengakui dan menghormati adanya perbedaan kemampuan dan kecepatan
belajar peserta didik, yang secara tegas menuntut adanya remediasi dan
akselerasi secara berkala pasca penilaian, terutama bagi peserta didik yang
belum mencapai batas kompetensi yang ditetapkan. Tidak semua peserta
didik memiliki kemampuan dan kecepatan yang sama dalam mencapai
kompetensi yang ditetapkan. Memberi kesempatan kepada peserta didik
untuk mencapai kompetensi utuh sesuai dengan kemampuan dan kecepatan
belajaraya adalah prinsip pendidikan yang paling fundamental. Kurikulum
2013 lebih sensitif dan respek terhadap perbedaan kemampuan dan
kecepatan belajar peserta didik.

 memberikan peluang yang lebih terbuka kepada setiap peserta didik untuk
mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara fleksibel tanpa
dibatasi dengan sekat-sekat penjurusan yang terlalu kaku.

 menuntut adanya kolaborasi yang baik antara guru mata pelajaran, guru
bimbingan dan konseling atau konselor dan orang tua/wali dalam
mengoptimalkan potensi peserta didik.

 menekankan pada proses, mengandung implikasi peran pendidikan yang


mengarah kepada orientasi perkembangan dan pembudayaan peserta didik.
Oleh karena itu, proses pendidikan melibatkan manajemen, pembelajaran,
dan bimbingan dan konseling.

Pelayanan Arah Peminatan Siswa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan
terintegrasi dalam program pelayanan Bimbingan dan Konseling (BK) pada satuan
pendidikan, khususnya dalam jenjang pendidikan dasar dan menengah. Artinya,
program pelayanan BK pada satuan pendidikan yang lengkap dan penuh harus
memuat kegiatan pelayanan arah peminatan siswa. Upaya ini mengacu kepada
program pelaksanaan kurikulum, khususnya terkait dengan peminatan akademik,
peminatan vokasional, peminatan pendalaman dan lintas mata pelajaran, dan
peminatan studi lanjutan. Program bimbingan dan konseling dengan pelayanan arah
peminatan siswa itu sepenuhnya berada di bawah tanggung jawab Guru Bimbingan
dan Konseling (Guru BK) atau Konselor di setiap satuan pendidikan.

Pelayanan Arah Peminatan Siswa merupakan kegiatan bimbingan dan


konseling yang amat penting dan menentukan kesuksesan dalam belajar,
perkembangan dan masa depan masing-masing siswa. Untuk itu, pelaksanaannya
memerlukan Panduan Khusus tersendiri 13 demi kelancaran dan ketepatannya. Hal
ini terkait secara langsung dengan konstruk dan isi Kurikulum Tahun 2013 yang
dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif
melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi.
Dalam konstruk dan isinya Kurikulum Tahun 2013 mementingkan
terselenggaranya proses pembelajaran secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif serta memberi ruang yang
cukup bagi prakarsa bagi kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat,
dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Proses belajar yang dilakukan
dengan menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach) dengan penilaian
hasil belajar berbasis proses dan produk. Untuk ini, selain memuat isi kurikulum
dalam bentuk mata pelajaran dan kegiatan lainnya, Kurikulum Tahun 2013
menyajikan kelompok mata pelajaran wajib, mata pelajaran peminatan, dan mata
pelajaran pilihan untuk pendidikan menengah yang diikuti peserta didik sepanjang
masa studi mereka. kelompok mata pelajaran peminatan meliputi peminatan
akademik,peminatan vokasional, peminatan pendalaman dan lintas mata pelajaran
dan peminatan studi lanjutan. Untuk SMA/MA/SMALB peminatan akademik
meliputi (a) peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, (b) peminatan
Ilmu Pengetahuan Sosial, dan (c) peminatan Bahasa dan Budaya; sedangkan untuk
SMK peminatan kejuruan meliputi (a) peminatan teknologi dan rekayasa; (b)
peminatan kesehatan; (c) peminatan seni, kerajinan, dan pariwisata; (d) peminatan
teknologi informasi dan komunikasi; (e) peminatan agribisnis dan agroteknologi;
(f) peminatan bisnis dan manajemen; atau (g) peminatan lain yang diperlukan
masyarakat. Secara rinci bidang peminatan kejuruan untuk SMK ada pada tabel
lampiran 3.

Guru BK atau Konselor melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling


membantu siswa dalam memenuhi Arah Peminatan Siswa sesuai dengan
kemampuan dasar, bakat, minat dan kecenderungan umum pribadi masing-masing
siswa. Pelayanan BK untuk arah peminatan siswa memberikan kesempatan yang
cukup luas bagi siswa untuk menempatkan diri pada jalur yang lebih tepat dalam
rangka penyelesaian studi secara terarah, sukses, dan jelas dalam arah pendidikan
selanjutnya. Wilayah arah peminatan siswa ini, dalam keseluruhan program
pendidikan satuan pendidikan dasar dan menengah merupakan bidang pelayanan
BK yang menjadi wilayah tugas pokok Guru BK atau Konselor dalam kerangka
keseluruhan program pelayanan BK pada satuan pendidikan. Dengan demikian,
Panduan Khusus Pelayanan BK dalam bentuk Panduan Pelayanan Arah Peminatan
Siswa merupakan bagian dari Panduan Umum Pelayanan BK secara menyeluruh.
Penyelenggaraan Pelayanan Peminatan Siswa 14 berada dalam wilayah manajemen
Bimbingan dan Konseling yang merupakan bagian integral dari manajemen
pendidikan pada satuan pendidikan.
D. Arahan Peminatan Peserta Didik pada Kurikulum 2013

 Arah peminatan pertama perlu dikembangkan pada siswa SD/MI/SDLB


yang akan melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs/SMPLB. Mereka dibantu
untuk memperoleh informasi untuk memilih SMP/MTs/SMPLB.
 Arah peminatan kedua perlu dibangun pada siswa SMP/MTs/SMPLB yang
akan melajutkan ke SMA/MA/ SMALB dan SMK. Mereka dibantu untuk
memperoleh informasi yang cukup lengkap tentang jenis dan
penyelenggaraan masing-masing SMA/MA/SMALB dan SMK, pilihan
mata pelajaran dan arah karir yang ada, dan kemungkinan studi lanjutannya.
 Arah peminatan ketiga umum perlu dikembangkan pada siswa
SMA/MA/SMALB dan SMK untuk mengambil pilihan dan pendalaman,
serta keterkaitan lintas mata pelajaran tertentu, pilihan arah pengembangan
karir.
 Arah peminatan ketiga kejuruan perlu dikembangkan pada siswa SMK
untuk memilih dan mendalami dan mengakses keterkaitan lintas mata
pelajaran praktik/kejuruan yag ada di SMK.
 Arah peminatan keempat perlu dikembangkan pada siswa di
SMA/MA/SMALB dan SMK yang akan melanjutkan studi ke perguruan
tinggi, mereka dibantu untuk memilih salah satu fakultas dengan program
studinya yang ada di perguruan tinggi, sesuai dengan bakat dan minat,
serta pilihan/pendalaman mata pelajaran di SMA/MA/SMALB atau SMK.

Masing-masing tingkat arah peminatan itu memerlukan penanganan yang


akurat sesuai dengan tingkat perkembangan dan karakteristik siswa yang
bersangkutan, serta karaketristik satuan pendidikan di mana siswa belajar.

 ASPEK ARAH PEMINATAN

Untuk setiap tingkat arah peminatan digunakan lima aspek pokok sebagai
dasar pertimbangan bagi arah peminatan yang akan ditempuh. Kelima aspek
tersebut secara langsung mengacu kepada beberapa karakteristik pribadi siswa
dan lingkungannya, kondisi sekolah dan kondisi pihak-pihak yang bertanggung
jawab atas pendidikan siswa yang bersangkutan, yaitu :

1. Bakat, minat, yang dan kecenderungan pribadi yang dapat diukur dengan tes
bakat dan/atau inventori tentang bakat/ minat.

2. Kemampuan dasar umum (kecerdasan), yaitu kemampuan dasar yang biasanya


diukur dengan tes intelegensi.

3. Kondisi dan kurikulum yang memuat mata pelajaran dan/atau praktik/latihan


yang dapat diambil/didalami siswa atas dasar pilihan, serta sistem Satuan Kredit
Semester (SKS) yang dilaksanakan.
4. Prestasi hasil belajar, yaitu nilai hasil belajar yang diperoleh siswa di
sekolah/madrasah, baik (a) rata-rata pada umumnya, maupun (b) per mata
pelajaran, baik yang bersifat wajib maupun pilihan, dalam rangka peminatan
akademik, vokasional dan studi lanjutan.

5. Ketersediaan fasilitas sekolah/madrasah, yaitu apa yang ada di tempat siswa


belajar yang dapat menunjang pilihan atau arah peminatan siswa.

6. Dorongan moral dan finansial, yaitu kemungkinan penguatan dan berbagai


sumber yang dapat membantu siswa , seperti orang tua dan kemungkinan bantuan
dari pihak lain, dan beasiswa.

Dalam penerapannya arah peminatan siswa merupakan gabungan dan


kemungkinan yang paling mengutungkan dari kombinasi semua yang ada itu pada
setiap jenis dan jenjang satuan pendidikan.

E. Langkah-Langkah Peminatan pada Kurikulum 2013

Pelayanan arah peminatan dimulai sejak sedini mungkin, yaitu sejak siswa
menyadari bahwa ia berkesempatan memilih jenis sekolah dan/atau mata
pelajaran dan/atau arah karir dan/atau studi lanjutan. Ketika itulah langkah-
langkah pelayanan arah peminatan secara sistematik dimulai, mengikuti sejumlah
langkah yang disesuaikan dengan tingkat arah peminatan tertentu.

1. Langkah pertama : Pengumpulan Data


Langkah ini dilakukan untuk mengumpulkan data tentang :
a. Data pribadi siswa : kemampuan dasar (intelegensi), bakat dan minat
serta kecenderungan potensi.
b. Keluarga
c. Kondisi lingkungan
d. Mata pelajaran wajib dan pilihan
e. Sistem pembelajaran, termasuk Sistem Kredit Semester (SKS)
f. Informasi pekerjaan/karir
g. Bahan informasi karir
h. Bahan informasi pendidikan lanjutan
i. Data kegiatan belajar
j. Data hasil belajar
k. Data khusus tentang siswa.

2. Langkah kedua: layanan informasi/orientasi arah peminatan


Dengan langkah ini kepada para siswa diberikan informasi selengkapnya,
sesuai dengan jenis dan jenjang satuan pendidikan siswa, yaitu informasi
tentang :

a. Sekolah ataupun program yang sedang mereka ikuti dan setamat dari
sekolah atau selepas dari kelas yang mereka duduki sekarang.

b. Kurikulum dan berbagai mata pelajaran baik yang wajib maupun pilihan
yang diikuti siswa, terutama berkenaan dengan arah dan pendalaman mata
pelajaran, serta lintas mata pelajaran.

c. Informasi tentang karir atau jenis pekerjaan yang perlu dipahami dan/atau
yang dapat dijangkau oleh tamatan pendidikan yang sedang ditempuh
sekarang, terutam berkenaan dengan peminatan vokasional.

d. Informasi tentang studi lanjutan setamat pendidikan yang sedang ditempuh


sekarang. Layanan informasi tentang berbagai hal di atas dapat dilakukan
melalui layanan informasi klasikal. Layanan informasi ini dapat dilengkapi
dengan layanan orientasi melalui kunjungan ke sekolah/ madrasah dan/atau
lembaga kerja yang dapat menjadi arah peminatan/ pilihan siswa.

3. Langkah ketiga : Identifikasi dan Penetapan Arah Peminatan

Langkah ini terfokus pada kecocokan antara kondisi pribadi siswa dengan
syarat-syarat atau tuntutan mata pelajaran pilihan dan/atau sekolah/madrasah, arah
pengembangan karir, kondisi orang tua dan lingkungan pada umumnya, terutama
dalam rangka peminatan akademik, vokasional, dan studi lanjutan. Keadaan yang
diinginkan ialah kondisi pribadi siswa benar-benar cocok atau sejajar, atau
setidak-tidaknya mendekati, dengan persyaratan dan kesem-patan yang ada itu.
Kecocokan itu disertai dengan tersedianya fasilitas yang ada di sekolah yang
cukup memadai, serta dukungan moral dan finansial yang memadai pula
(terutama dari orang tuanya).

Langkah ketiga itu dilaksanakan melalui kontak langsung Guru BK atau


Konselor dengan siswa melalui penyajian angket ataupun modul. Kontak
langsung ini disertai pembahasan individual, diskusi kelompok dan kegiatan lain
melalui strategi transformasional-BMB3 yang mengajak siswa berpikir, merasa,
bersikap, bertindak, dan bertanggung jawab atas berbagai aspek pilihan yang
tersedia dan keputusan yang diambil.
3. Langkah keempat : Penyesuaian

Langkah ketiga di atas dapat menghasilkan pilihan yang tepat bagi siswa
dan orang lain yang berkepentingan (terutama orang tua), atau pilihan yang
tepat bagi siswa tetapi tidak disetujui oleh orang tuanya.

Apabila ketidakcocokan itu terjadi maka perlu dilakukan peninjauan


kembali melalui layanan konseling perorangan baik terhadap siswa
dan/ataupun orang tuanya. Apabila pilihan tepat tetapi sekolah/madrasah yang
sedang atau akan diikuti tidak tersedia pilihan yang diinginkan, maka siswa
yang bersangkutan dapat dianjurkan untuk mengambil pilihan itu di sekolah
lain. Lebih jauh, apabila pilihan tepat dan fasilitas di sekolah/madrasah
tersedia, tetapi dukungan finansial tidak ada, maka perlu dilakukan konseling
perorangan (dengan siswa dan orang tuanya untuk membahas kemungkinan
mencari bantuan atau beasiswa). Apabila pilihan tidak tepat, maka siswa yang
bersangkutan perlu mengganti pilihan lain dan perlu dilakukan penyesuaian-
penyesuaian pada diri siswa dan pihak-pihak yang berkepntingan. Untuk ini
diperlukan layananan konseling perorangan bagi siswa yang bersangkutan.
Demikian, langkah keempat dilaksanakan seoptimal mungkin demi
kesuksesan studi siswa.

4. Langkah kelima: Monitoring dan Tindak Lanjut


Guru BK atau Konselor memonitor penampilan dan kegiatan siswa
asuhnya secara keseluruhan dalam menjalani program pendidikan yang
diikutinya, khususnya berkenaan dengan arah peminatan yang dipilihnya.
Perkembangan dan berbagai permasalahan siswa perlu diantisipasi dan
memperoleh pelayanan Bimbingan dan Konseling secara komprehensif
dan tepat.
Kegiatan monitoring dapat menggunakan format-format (lihat
lampiran) yang diadministrasikan, secara berkala, minimal setiap tengah
dan akhir/awal semester, yang isian format itu kemudian mendapatkan
pembahasan dan tindak lanjut secara tepat.

F. Langkah-Langkah Peminatan pada Kurikulum 2013


1. Pelaksanan
Memperhatikan tingkat aspek pokok dan langkah-langkah arah peminatan
di atas, pelaksana dan peranannya masing-masing adalah :
 Guru Kelas, karena di SD/MI/SDLB pada umumnya belum ditugaskan
Guru BK atau Konselor secara khusus, maka pelayanan BK di
SD/MI/SDLB pada umumnya dilaksanakan oleh Guru Kelas. Dalam hal
ini guru kelas SD/MI/SDLB dan khususnya Guru Kelas VI SD/MI/SDLB
adalah pelaksana pelayanan arah peminatan tingkat pertama bagi siswa-
siswa SD/MI/SDLB, yang akan tamat SD/MI/SDLB (terutama kelas VI)
dan melanjutkan pelajarannya ke SMP/MTs/SMPLB. Guru kelas VI
SD/MI/SDLB dapat bekerja sama dengan Guru BK atau Konselor
SMP/MTs/SMPLB atau SMA/MA/SMALB atau SMK yang terdekat
dalam pelayanan alih tangan kasus.
 Guru BK atau Konselor di SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/ SMALB
adalah pelaksana pelayanan arah peminatan tingkat kedua di
SMP/MTs/SMPLB, tingkat ketiga umum SMA/MA/SMALB, tingkat
ketiga kejuruan SMK. Dalam menjalankan tugasnya guru BK atau
konselor dapat bekerjasama dengan petugas yang berwewenang
menyelenggarakan tes intelegensi dan tes bakat, dengan Guru Mata
Pelajaran, Wali Kelas, dan orang tua, serta kepala satuan pendidikan. Guru
BK atau Konselor melaksanakan dan mengkoordinasikan upaya pelayanan
arah peminatan (sebagaimana diuraikan pada Bab III) secara menyeluruh.
 Guru Mata Pelajaran, baik untuk mata pelajaran umum maupun mata
pelajaran praktik/kejuruan yang bersifat wajib ataupun pilihan. Guru Mata
Pelajaran secara khusus menyediakan nilai-nilai prestasi belajar sisw dan
informasi pendidikan/pekerjaan yang memerlukan informasi dari mata
pelajaran yang dimaksudkan. Guru Mata Pelajaran Praktik/Kejuruan di
SMK khususnya menyediakan nilai-nilai prstasi belajar siswa dan
informasi pendidikan/pekerjaan/karir yang memerlukan penge-
tahuan/keterampilan kejuruan yang dimaksudkan itu.
 Orang Tua siswa yang bersangkutan, mendorong anaknya untuk
memilih mata pelajaran atau studi lanjutan yang sesuai dengan bakat,
minat, dan kecenderungan siswa, dan menyediakan fasilitas bagi
kelanjutan pendidikan anaknya.
 Kepala Sekolah, khususnya memperlancar pelaksanaan upaya pelayanan
arah peminatan di sekolah/madrasah dengan memberikan kesempatan
seluas-luasnya bagi . Guru Kelas, Guru BK atau Konselor, Guru Mata
Pelajaran dan Wali Kelas untuk menjalankan peranannya secara tepat
dalam rangka pelayanan arah peminatan siswa.
Di samping itu, Kepala Sekolah menyediakan waktu, format-
format, dan dana serta fasilitas lain bagi keberhasilan upaya arah
peminatan siswa. Lebih jauh, Kepala Sekolah juga memberikan
kesempatan dan mendorong orang tua untuk berkonsultasi da memperoleh
informasi tentang pilihan yang ada serta bakat/minat/ kecenderungan
siswa. Dengan demikian orang tua diharapkan memberikan dorongan dan
fasilitas untuk pengembangan bakat/minat/kecenderungan siswa secara
tepat dan optimal.
Demikian pula, kepada para siswa diberikan kesempatan seluas-
luasnya untuk mengungkapkan potensi diri dan menyampaikan aspirasi
tentang pilihan pelajaran, pilihan karir, dan pilihan sekolah/program yang
diinginkannya.
2. Mekanisme
Pihak-pihak yang terlibat dalam mekanisme pelayanan arah peminatan
siswa adalah sebagaimana terlihat pada bagan berikut, yaitu Kepala
Sekolah (A), Guru BK atau Konselor (B), Guru Mata Pelajaran (B), Wali
Kelas (B2), Orang Tua (D), dan siswa yang bersangkutan