Anda di halaman 1dari 11

KONSEP DASAR DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR DAN

PENGEJARAN REMEDIAL

A. Pengertian Diagnostik Kesulitan Belajar

Guru sebagai pendidik dituntut untuk bertanggung jawab atas


perkembangan peserta didiknya. Kegiatan memahami kesulitan belajar peserta
didik ini dikenal dengan istilah diagnostik kesulitan belajar. Dalam memahami
apa yang dimaksud diagnostik kesulitan belajar, sebelumnya kita harus
memahami istilah diagnostik dan kesulitan belajar.

a) Diagnostik

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diagnosis /di•ag•no•sis/ adalah


penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya.
Banyak ahli mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian diagnostik antara
lain, menurut Harriman dalam bukunya Handbook of Psychological Term,
diagnostik adalah suatu analisis terhadap kelainan atau salah penyesuaian dari
pola gejala-gejalanya. Jadi diagnostik merupakan proses pemeriksaan terhadap
hal-hal yang dipandang tidak beres atau bermasalah.

Sedangkan menurut Webster, diagnosik diartikan sebagai proses menentukan hak


menentukan permasalahan kikat kelainan atau ketidakmampuan dengan ujian, dan
melalui ujian tersebut dilakukan suatu penelitian yang hati-hati terhadap fakta-
fakta yang dijumpai, yang selanjutnya untuk menentukan permasalan yang
dihadapi.

Maka dapat disimpulkan bahwa diagnosik adalah penentuan jenis masalah atau
kelainan dengan meneliti latar belakang penyebabnya atau dengan cara
menganalisis gejala-gejala yang tampak.

b) Kesulitan Belajar

Secara harfiah, kesulitan belajar didefinisikan sebagai rendahnya kepandaian yang


dimiliki seseorang dibandingkan dengan kemampuan yang seharusnya dicapai
orang itu pada umur tersebut. Kesulitan belajar secara informal dapat dikenali dari
keterlambatan dalam perkembangan kemampuan seorang anak. Kesulitan atau
hambatan belajar yang dialami oleh peserta didik dapat berasal dari faktor
fisiologik, psikologik, instrument, dan lingkungan belajar.

Beberapa kasus memperlihatkan bahwa kesulitan belajat ini mempengaruhi


banyak aspek kehidupan seseorang, baik itu di sekolah, pekerjaan, rutinitas sehari-
hari, kehidupan keluarga, atau bahkan terkadang dalam hubungan persahabatan
dan bermain. Beberapa penderita menyatakan bahwa kesulitan ini berengaruh
pada kebahagiaan mereka. Sementara itu, bagi penderita lain, gangguan ini
menghambat proses belajar mereka, sehingga tentu saja pada gilirannya juga akan
berdampak pada aspek lain kehidupan mereka.

Maka dapat disimpulkan bahwa diagnostik kesulitan belajar merupakan proses


menentukan masalah atas ketidakmampuan peserta didik dalam belajar dengan
meneliti latar belakang penyebabnya dan atau dengan cara menganalisis gejala-
gejala kesulitan atau hambatan belajar yang nampak.

B. Jenis - Jenis Kesulitan Belajar

Mengenali kesulitan belajar jelas berbeda dengan mendiagnostik penyakit


cacar air atau campak. Cacar air dab campak tergolong penyakit dengan gejala
yang dapat dikenali dengan mudah. Berbeda dengan LD (Learning
Disorder/Gangguan belajar) yang sangat rumit dan meliputi begitu banyak
kemungkinan penyebab, gejala-gejala, perawatan, serta penanganan. LD sangatlah
sulit untuk didiagnostik dan dicari penyebabnya secara pasti. Hingga saat ini,
belum ditemukan obat atau perawatan yang sanggup menyembuhkan mereka
sepenuhnya.

Tidak semua kesulitan dalam proses belajar dapat disebut LD. Sebagian anak
mungkin hanya mengalami kesulitan dalam mengembangkan bakatnya. Kadang-
kadang, seseorang memperlihatkan ketidakwajaran dalam perkembangan
alaminya, sehingga

Kriteria yang harus dipenuhi sebelum seseorang dinyatakan menderita LD


tertuang dalam buku petunjuk yang berjudul DSM (Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders). Kesulitan belajar dibagi menjadi tiga kategori
besar, yaitu :

1. Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa

Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa sering menjadi indikasi awal


bagi kesulitan belajar yang dialami seorang anak. Orang yang mengalami
kesulitan jenis ini menemui kesulitan dalam menghasilkan bunyi-bunyi bahasa
yang tepat, berkomunikasi dengan orang lain melalui penggunaan bahasa yang
benar, atau memahami apa yang orang lain katakan.

2. Permasalahan dalam hal kemampuan akademik

Siswa-siswi yang mengalami gangguan kemampuan akademik berbaur


bersama teman-teman sekelasnya demi meningkatkan kemampuan membaca,
menulis, dan berhitung mereka.

3. Kesulitan lainnya,
yang mencakup kesulitan dalam mengoordinasi gerakan anggota tubuh
serta permasalahan belajar yang belum dicakup oleh kedua kategori di atas.

Kesulitan lainnya seperti “gangguan kemampuan motorik” dan “gangguan


perkembangan khusus yang belum diklasifikasikan”. Gejala-gejalanya adalah
keterlambatan atau keterbelakangan dalam memahami bahasa, kemampuan
akademis serta motorik yang pada gilirannya memengaruhi kemampuannya untuk
memelajari sesuatu. Tetapi bedanya, ini semua tidak sesuai kriterianya dengan
jenis-jenis keterlambatan belajar yang telah kita bahas sebelumnya. Gejala-gejala
ini juga mencakup gangguan koordinasi tubuh yang pada gilirannya dapat
mengakibatkan buruknya tulisan seseorang, dan begitu pula halnya dengan
kesulitan mengeja serta mengingat.

C. Faktor – Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Peserta Didik

Beberapa faktor penyebab munculnya kesulitan belajar menurut Sukardi


dibedakan menjadi dua, yaitu :

a) Faktor internal yang meliputi:

1. Kesehatan

Kondisi fisik secara umum dapat memengaruhi kemampuan mencapai


suatu tujuan. Kesehatan yang buruk dapat berpengaruh pada tingginya
ketidakhadiran siswa dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, siswa yang
kurang sehat juga tidak bisa mencapai potensi yang sebenarnya.

2. Problem Menyesuaikan Diri

Walaupun faktor ini erat kaitannya dengan masyarakat sekitarnya namun


sumber utama faktor ini berasal dari salam diri siswa, sebagai contoh memiliki
gangguan emosional. Prilaku siswa yang mengalami gangguan emosional ditandai
dengan hal (1) siswa menolak untuk belajar dan hanya ingin melakukan yang dia
senangi, (2) siswa menjadi nakal, agresif, dan menyerang siswa lain secara
terbuka, (3) siswa berprestasi negatif terhadap kegiatan belajar, (4) siswa
memindahkan kekerasan dari rumah ke sekolah apabila ia menjadi korban
kekerasan orang tuanya ataupun saudaranya, dan (5) siswa menolak perintah
belajar atau tekanan lain dari orang tua.
b) Faktor eksternal yang meliputi:

1. Lingkungan

Faktor ini merupakan faktor yang tidak mudah diidentifikasi. Problem


lingkungan muncul sebagai hasil reaksi atau perubahan dalam diri siswa terhadap
keluarga ataupun lingkungannya. Penolakan lingkungan terhadap diri siswa pun
dapat menjadi problem yang sulit dalam belajar.

2. Cara Guru Mengajar yang Tidak Baik

Karena cara mengajar guru yang tidak baik dapat menimbulkan kesulitan
belajar pada siswa. Agar hal ini tidak terjadi maka guru perlu melakukan
perbaikan secara berkala, baik penguasaan metode mengajar maupun materi ajar.

3. Orang Tua Siswa

Orang tua yang tidak mau atau tidak mampu menyediakan buku atau
fasilitas belajar yang memadai bagi anaknya atau mereka yang tidak mau
mengawasi anaknya dalam belajar menjadi faktor yang dapat menjadi pemicu
timbulnya kesulitan belajar.

4. Masyarakat Sekitar

Masyarakat di sekitar siswa dapat menjadi sumber masalah, ketika


keberadaan masyarakat tidak kondusif terhadap kebutuhan siswa secara individual
maupun kelompok.

D. Ciri-Ciri Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar

Pengetahuan tentang ciri-ciri siswa lamban belajar dan berprestasi rendah


sangat penting dikuasai guru. Pengetahuan itu memberi dasar keterampilan dalam
menangani siswa yang sedang menghadapi kesulitan belajar disekolah. Siswa
lamban belajar dan berprestasi rendah adalah siswa yang kurang mampu menguasai
pengetahuan dalam batas waktu yang telah ditentukan karena ada faktor tertentu
yang mempengaruhinya. Faktor itu antara lain disebabkan lemahnya kemampuan
siswa menguasai pengetahuan dan keterampilan dasar tertentu pada sebagian materi
pelajaran yang harus dikuasai sebelunya. Pengetahuan dan keterampilan dasar itu
pada umumnya berkisar pada pelajaran membaca, menulis, dan berhitung. Akibat
kelemahan itu, siswa akan selalu menghadapi kesulitan mempelajari pengetahuan
lainya, sehingga prestasi yang diperolehnya menjadi rendah bahkan gagal meraih
sukses di sekolah, jika tidak ada usaha untuk memperbaikinya.
Ciri-ciri umum siswa lamban belajar dapat dipahami melalui pengamatan fisik
siswa, perkembangan mental, intelektual, sosial, ekonomi, kepribadian, dan proses-
proses belajar yang yang dilakukannya di sekolah dan di rumah. Ciri-ciri itu
dianalisis agar diperoleh kejelasan yang konkret tentang gejala dan sebab-sebab
kesulitan belajar siswa di sekolah dan di rumah. Rincian analisisnya mencakup hal-
hal sebagai berikut: fisik, perkembangan mental, sosial, perkembangan
kepribadian, proses-proses belajar yang dilakukannya.
Ketidaksanggupan siswa lamban belajar dalam menguasai pengetahuan
mempengaruhi sikap dan perilakunya menjadi tidak cocok dengan lingkungan
sekelilingnya sehingga mengundang masalah orang-orang di sekitarnya.
Ketidaksanggupan belajar disebabkan kerusakan-kerusakan tertentu pada diri
seseorang yang membuat seseorang itu lamban belajar. Menurut Cece Wijaya
(2010), kerusakan-kerusakan itu dikategorikan dalam empat hal, yaitu :
 Dyslexia, adalah kelemahan-kelemahan belajar di bidang menulis dan
berbicara. Ciri-cirinya adalah sulit mengingat huruf, kata, tulisan, dan
suara.
 Dyscalculia, adalah kesulitan mengenal angka dan pemahaman terhadap
konsep dasar matematika. Kelemahan umum di bidang dyslexia kadang-
kadang muncul di bidang pelajaran matematika. Karena itu kerusakan-
kerusakan di bidang dyslexia berpengaruh terhadap kerusakan-kerusakan di
bidang dyscalculia, demikian pula sebaliknya.
 Attention Defisit Hyperactive Disorder (ADHD), adalah pemusatan
perhatian terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapinya. Siswa
lamban belajar dapat memusatkan perhatiannya hanya berkisar pada satu
pokok bahasan saja, ia kurang mampu menyelesaikan tugas-tugas yang
beraneka ragam yang membuat dirinya menjadi kacau.
 Spatial, motor, ad perceptual defisits, adalah kondisi lemah dalam menilai
dirinya menurutukuran ruang dan waktu.
Kerusakan lainnya yang membuat siswa lamban belajar adalah Social defisits,
yaitu kesulitan mengembangkan keterampilan sosial. Kesulitan itu dapat membuat
ketidaksanggupan menemukan jati dirinya. Gejala-gejalanya adalah (1) sulit
menangkap tanda-tanda tingkah laku sosial, seperti dalam mencurahkan idemelalui
raut muka dan gerakan-gerakan motorik lainnya, (2) sering nmemotong
pembicaaan orang, (3) berbicara dengan keras, (4) sulit berteman, dan (5)
ketidaksadaran terhadap cara-cara orang lain mengamati perilakunya.
Berdasarkan hasil penelitian para pakar psikolog bahwa siswa yang tidak
sanggup mengembangkan keterampilan sosila dapat dilatih melalui bimbingan
guru-gurunya. Ukuran kepercayaan yang tumbuh pada dirinya dapat menjadi alat
untuk mengembangkan keterampilan bergaul dalam lingkungannya.

E. Pengertian Pengajaran Remedial

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mendefinisikan bahwa


“Remedial” dan “Teaching”. Bila dipisahkan kata remedial berarti (1) Remedial
yang berhubungan dengan perbaikan, pengajaran ulang bagi murid yang hasil
belajarnya jelek, (2) Remedial berarti bersifat menyembuhkan (yang disembuhkan
adalah beberapa hambatan / gangguan kepribadian yang berkaitan dengan
kesulitan belajar sehingga dapat timbal balik dalam arti perbaikan belajar atau
perbaikan pribadi). Sedangkan teaching yang berarti “pengajaran” berarti proses
perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan Perihal mengajar, segala sesuatu
mengenai mengajar.

Menurut Ischak S.W dan Warji R. dalam bukunya Program Remidial Dalam
Proses Belajar-Mengajar memberikan pengertian Remedial Teaching adalah
“Kegiatan perbaikan dalam proses belajar mengajar adalah salah satu bentuk
pemberian bentuk pemberian bantuan. Yaitu pemberian bantuan dalam
proses belajar mengajar yang berupakegiatan perbaikan terprogram dan disusun
secara sistematis.”

Menurut Sukardi, “Remedial tidak lain adalah termasuk kegiatan pengajaran


yang tepat diterapkan, hanya ketika kesulitan dasar para siswa telah diketahui.
Kegiatan remedial merupakan tindakan korektif yang diberikan kepada siswa
setelah evaluasi diagnostik dilakukan”.

Pengajaran remedial merupakan suatu bentuk pengajaran yaang bersifat


mengobati, menyembuhkan atau membetulkan pengajaran dan membuatnya
menjadi lebih baik dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal.

Maka pengajaran remedial merupakan salah satu tahap kegiatan utama dalam
keseluruhan kerangka pola layanan bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian
kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar mengajar.

F. Tujuan dan Fungsi Pengajaran Remedial

a) Tujuan Pengajaran Remedial

1. Supaya siswa dapat memahami dirinya, khususnya prestasi belajarnya, dapat


mengenal kelemahannya dalam mempelajari suatu bidang studi dan juga
kekuatannya.

2. Supaya siswa dapat memperbaiki atau mengubah cara belajarnya ke arah yang
lebih baik.

3. Supaya siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat.

4. Supaya siswa dapat mengembangkan sifat dan kebiasaan yang dapat


mendorong tercapainya hasil yang lebih baik.

5. Supaya siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan


kepadanya, setelah ia mampu mengatasi hambatan yang menjadi kesulitan
belajarnya, dan mengembangkan sikap serta kebiasaan yang baru dalam belajar.

b) Fungsi Pengajaran Remedial


1. Fungsi Korektif

Berarti bahwa melalui pengajaran remedial dapat dilakukan perbaikan terhadap


hal-hal yang dipandang belum memenuhi apa yang diharapkan dalam keseluruhan
proses pembelajaran, antara lain mencakup perumusan tujuan, penggunaan
metode, cara-cara belajar, materi dan alat pelajaran, evaluasi dan lain-lain.

2. Fungsi Pemahaman

Berarti bahwa dengan remedial memungkinkan guru, siswa atau pihak-pihak


lainnya akan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan komprehesif
mengenai pribadi siswa.

3. Fungsi Penyesuaian

Berarti bahwa pengajaran ramedial dapat membentuk siswa untuk dapat


menyesuaikan diri dengan lingkungan dan proses belajarnya.

4. Fungsi Pengayaan

Berarti bahwa melalui pengajaran remedial, siswa akan dapat memperkaya proses
pembelajaran, sehingga materi yang tidak disampaikan dalam pengajaran reguler,
akan dapat diperoleh melalui pengajaran ramedial.

5. Fungsi Akselerasi

Berarti bahwa melalui pengajaran remedial akan dapat diperoleh hasil belajar
yang lebih baik dengan menggunakan waktu yang efektif dan efesien.

6. Fungsi Terapeutik

Fungsi ini berarti bahwa melalui pengajaran remedial secara langsung atau tidak
akan dapat membantu menyembuhkan atau memperbaiki kondisi-kondisi
kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukan adanya penyimpangan.

G. Macam-Macam Metode Pengajaran Remedial

Metode yang digunakan dalam pengajaran perbaikan yaitu metode yang


dilaksanakan dalam keseluruhan kegiatan bimbingan belajar mulai dari tingkat
identifikasi kasus sampai dengan tindak lanjut. Metode yang dapat digunakan,
yaitu :

a) Tanya Jawab

Metode ini digunakan dalam rangka pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan
sifat kesulitan siswa. Kebaikan metode ini dalam rangka pengajaran perbaikan
yaitu memungkinkan terbinanya hubungan baik antara guru dan siswa,
meningkatkan motivasi belajar siswa, menumbuhkan rasa percaya diri siswa, dan
sebagainya.

b) Diskusi

Metode ini digunakan dengan memanfaatkan interaksi antar-individu dalam


kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar yang dialami oleh sekelompok
siswa.

c) Tugas

Metode ini dapat digunakan dalam rangka mengenal kasus dan pemberian
bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dengan metode ini,
siswa diharapkan dapat lebih memahami dirinya, dapat memperdalam materi yang
telah dipelajari, dan dapat memperbaiki cara-cara belajar yang pernah dialami.

d) Kerja Kelompok

Metode ini hampir bersamaan dengan pemberian tugas dan diskusi. Yang
terpenting adalah interaksi di antara anggota kelompok dengan harapan terjadi
perbaikan pada diri siswa yang mengalami kesulitan belajar.

e) Tutor

Tutor adalah siswa sebaya yang ditugaskan untuk membantu temannya yang
mengalami kesulitan belajar, karena hubungan antara teman umumnya lebih dekat
dibandingkan hubungan guru-siswa. Pemilihan tutor ini berdasarkan prestasi,
hubungan sosial yang baik, dan cukup disenangi oleh teman-temannya. Tutor
berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru.

f) Pengajaran Individual

Pengajaran individu adalah interaksi antara guru-siswa secara individual dalam


proses belajar mengajar. Pendekatan dengan metode ini bersifat teraputik, artinya
mempunyai sifat penyembuhan dengan cara memperbaiki cara-cara belajar siswa.
Hasil yang diharapkan dalam metode ini di samping adanya perubahan prestasi
belajar juga perubahan dalam pemahaman diri siswa.

H. Metode dalam Pengajaran Remedial

Pengajaran remedial merupakan salah satu bentuk bimbingan belajar dapat


dilaksanakan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a. Meneliti kasus dengan permasalahannya sebagai titik tolak kegiatan-
kegiatan berikutnya.
b. Menentukan tindakan yang harus dilakukan.

Dalam langkah ini, dilakukan usaha-usaha untuk menentukan karakteristik


kasus yang ditangani tersebut. Setelah karakteristik ditentukan, maka tindakan
pemecahannya harus dipikirkan adalah sebagai berikut :

1. Jika kasusnya ringan, tindakan yang ditentukan adalah memberikan


pengajaran remedial kepada siswa tersebut.
2. Jika kasusnya cukup dan berat, maka sebelum diberikan pengajaran
remedial, siswa harus diberikan layanan konseling terlebih dahulu.

c. Pemberian layanan khusus yaitu bimbingan dan konseling.

Tujuan dari layanan khusus bimbingan konseling ini adalah mengusahakan


agar siswa yang terbatas dari hambatan mental emosional (ketegangan batin),
sehingga kemudian siap menghadapi kegiatan belajar secara wajar. Bentuk
konseling di sini bisa berupa pdikoterapi yang dilakukan oleh psikolog. Tetapi ada
kalanya kasus ini dapat dilakukan oleh guru sendiri.

d. Langkah pelaksanaan pengajaran remedial.


e. Melakukan pengukuran kembali terhadap prestasi belajar siswa dengan
alat tes sumatif.
f. Melakukan re-evaluasi dan re-diagnostik.

Terdapat tiga kemungkinan tafsiran hasil, yaitu sebagai berikut :

1. Kasus menunjukkan kenaikan prestasi yang dihasilkan sesuai dengan


kriteria yang diharapkan. Maka selanjutnya diteruskan ke program yang
berikutnya.
2. Kasus menunjukkan kenaikan prestasi, namun belum memenuhi kriteria
yang diharapkan. Maka kasus diserahkan kepada pembimbing untuk
diadakan pengayaan.
3. Kasus belum menunjukkan perubahan yang berarti dalam hal prestasi.
Maka perlu didiagnostik lagi untuk mengetahui letak kelemahan
pengajaran remedial untuk selanjutnya diadakan ulangan dengan alternatif
yang sama.

I. Strategi dan Pendekatan Pengajaran Remedial

Strategi dan teknik pengajaran remedial / Remedial Teaching tesebut seeperti


yang dirumuskan oleh Izhar Hasis yang disimpulkan dari Ross and Stanley dan
dari Dinkmeyer and Caldweel dalam bukunya Developmental Counseling, adalah
sebagai berikut :
a) Strategi dan Teknik Pendekatan Remedial Teaching yang Bersifat Kuratif

Tindakan Remedial Teaching dikatakan bersifat kuratif kalau dilakukan


setelah selesainya program proses belajar mengajar utama diselenggarakan.
Diadakannya tindakan ini didasarkan atas kenyataan empirik bahwa seseorang
atau sejumlah orang atau mungkin sebagian besar atau seluruh anggota kelas atau
kelompok belajar dapat dipandang tidak mampu menyelesaikan program proses
belajar mengajar yang bersangkutan secara sempurna sesuai dengan kriteria
keberhasilan yang ditetapkan. Teknik pendekatan yang dipakai dalam
hal ini adalah sebagai berikut :

1. Pengulangan (repetation)
Pengulangan dapat terjadi pada beberapa tingkatan, yaitu : pada setiap
akhir jam pertemuan, setiap akhir unit (satuan bahan) pelajaran tertentu,
dan pada setiap satuan program studi (triwulan atau semester).

2. Pengayaan (enrichment) dan Pengukuhan (reinforcement)


Kalau layanan remedial ditujuakan pada siswa yang
mempunyai kelemahan sangat mendasar, maka layanan pengayaan dan
pengukuhan ditujukan pada siswa yang mempunyai kelemahan ringan.
Teknik pelaksanaannya dapat dengan memberikan tugas atau soal
pekerjaan rumah.

3. Percepatan (acceleration)
Percepatan diberiakan kepada kasus berbakat tetapi menunjukkan
kesulitan psikososial atau ego emosional. Ada dua kemungkinan
pelaksanaannya, yaitu promosi penuh status akademisnya ke tingkat yang
lebih tinggi sebatas kemungkinan dan maju berkelanjutan bila kasus
menonjol pada beberapa bidang tertentu.

b) Strategi dan Teknik pendekatan Remedial Teaching yang Bersifat Preventif

Strategi dan teknik pendekatan preventif diberikan kepada siswa tertentu


berdasarkan data atau informasi yang ada dapat diantisipasi atau setidaknya patut
diduga akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar. Oleh
karena itu, sasaran pokok dari pendekatan preventif adalah berusaha sedapat
mungkin agar hambatan-hambatan dalam mencapai prestasi dapai dihindari dan
kemampuan penyesuaian sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan
dapat dicapai. Teknik pendekatan yang dipakai adalah layanan
pengajaran kelompok yang Diorganisasikan secara homogen
(homogenius grouping), layanan pengajaran secara individual dan layanan
pengajaran kelompok dengan dilengkapi kelas khusus remedial dan pengayaan.
c) Strategi dan Teknik Pendekatan Remedial Teaching Bersifat Pengembangan

Kalau pendekatan kuratif merupakan tindak lanjut dari post teaching


diagnostic, pendekatan preventif merupakan tindak lanjut dari pre teaching
disgnostic maka pendekatan pengmebangan merupakan tindak lanjut dari during
teaching diagnostic atau upaya diagnostik yang dilakukan guru selama
berlangsungnya proses belajar mengajar (PBM). Agar strategi pendekatan ini
dapat dioperasikan secara teknis yang sistematis, maka diperlukan adanya
pengorganisasian proses belajar mengajar yang sistematis seperti dalam bentuk
pengajaran berprogram.