Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jasa yang diberikan akuntan publik yaitu jasa assurance dan non assurance. Jasa assurance

adalah jasa professional independent yang meningkatkan kualitas informasi bagi para pengambil

keputusan. Jasa semacam ini dianggap penting karena si peneydia jasa assurance itu independent

dan dianggap tidak bias berkenaan dengan informasi yang diperiksa. Individu-individu yang

bertanggung jawab membuat keputusan bisnis memerlukan jasa assurance untuk membantu

meningkatkan keandalan dan relevansi informasi yang digunakan sebagai dasar keputusannya.

Salah satu kategori jasa assurance yang diberikan akuntan publik adalah jasa atestasi. Jasa

atestasi (attestation service) adalah jenis jasa assurance dimana KAP mengeluarkan laporan suatu

asersi yang disiapkan pihak lain. Jasa atestasi dibagi menjadi lima kategori :

1. Audit atas laporan keuangan historis.

2. Atestasi mengenai pengendalian internal atas pelaporan keuangan.

3. Review laporan keuangan historis.

4. Jasa atestasi mengenai teknologi informasi.

5. Jasa atestasi lain yang dapat diterapkan pada berbagai permasalahan.

Sebagian besar jasa assurance lain yang diberikan akuntan public tidak memenuhi definisi

jasa atestasi, tetapi akuntan tetap harus independent dan harus memberikan kepastian tentang

informasi yang digunakan oleh pengambil keputusan. Jasa-jasa assurance ini berbeda dengan jasa

atestasi karena akuntan public tidak diharuskan mengeluarkan laporan tertulis, dan lepastian itu

tidak harus mengenai reliabilitas asersi pihak lain tentang ketaatan pada kriteria tertentu.
Penugasan jasa assurance lain ini berfokus pada peningkatan mutu informasi bagi pengambil

keputusan, sama seperti jasa atestasi.

KAP juga melakukan berbagai jasa lain yang umumnya berada di luar lingkup jasa

assurance. Tiga contoh yang spesifik asalah :

1. Jasa akuntansi dan pembukuan

2. Jasa pajak

3. Jasa konsultasi manajemen.

1.2 Tujuan Pembahasan


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Jasa Review dan Kompilasi

Banyak perusahaan nonpublic menginginkan agar laporan keuangannya direview atau

dikompilasi oleh akuntan public, dan bukan diauditnya. Manajemen perusahaan nonpublic

mungkin meyakini bahwa audit tidak diperlukan karena tidak ada bank atau Lembaga peraturan

yang mengharuskan audit dan manajemen tidak melihat kebutuhan akan laporan yang diaudit

untuk pemakai internal. Sebaliknya, perusahaan mungkin akan menugaskan akuntan public utuk

membantu pembuatan laporan keuangan, baik untuk penggunaan internal maupun untuk kreditor

atau pemberi pinjaman menurut perjanjian pinjaman. Tergantung pada besarnya pinjaman,

pemberi pinjaman mungkin mensyaratkan laporan keuangan yang direview atau dikompilasi, dan

bukan suatu audit. Suatu review akan menyefiakan keyakinan yang terbatas atas laporan

keuangan, sementara kompilasi tidak menyediakan keyakinan yang diekspresikan.

Standar untuk kompilasi dan review laporan keuangan disebut Statements on Standards for

Accounting and Review Services (SSAR), diterbitkan oleh Accounting and Review Services

Committee dari AICPA. Komite ini memiliki otoritas yang sebanding dengan Auditing Standards

Board untuk jasa yang melibatkan laporan keuangan yang belum diaudit milik perusahaan

nonpublic. Karena tidak melakukan audit, SSARS merujuk para akuntan public yang melakukan

jasa review dan kompilasi sebagai akuntan, dan bukan auditor.

Karena keyakinan yang disediakan oleh kompilasi dan review jauh di bawah audit, lebih

sedikit bukti yang diperlukan bagi jasa tersebut dan dapat disediakan dengan biaya yang lebih

rendah ketimbang suatu audit.


2.1.1 Prosedur Kompilasi

Penugasan jasa kompilasi (compilation service) didefinisikan dalam SSARS sebagai suatu

jasa dimana akuntan menyiapkan laporan keuangan dan menyajikannya kepada klien atau pihak

ketiga tanpa menyediakan assurance pblik mengenai laporan tersebut. Banyak KAP menyiapkan

laporan keuangan bulanan, kuartalan, atau tahunan untuk kliennya. Laporan-laporan tersebut

biasanya ditujukan untuk penggunaan internal oleh manajemen, walaupun mungkin juga

disediakan untuk pemakai eksternal. Akuntan Publik tidak diwajibkan untuk bersikap independent

dalam melakukan kompilasi dan laporan keuangan dapat dikeluarkan tanpa pengungkapan

tambahan seperti catatan kaki.

Ketika akuntan menyerahkan laporan keuangan dan memperkirakan bahwa laporan itu

akan digunakan oleh pihak ketiga, akuntan tersebut diharuskan untuk setidaknya menerbitkan

laporan kompilasi yang menyertai laporan tersebut. Jika akuntan tidak memperkirakan laporan

keuangan akan digunakan oleh pihak ketiga, akuntan tidak perlu memenrbitkan suatu laporan

kompilasi selama akuntan public tersebut mendokumentasikan, dalam surat penugasan dengan

klien, pemhaman menyangkut jasa yang akan dilaksanakan dan pembatasan bahwa laporan

keuangan tersebut hanya digunakan oleh manajemen.

a Persyaratan Kompilasi

Kompilasi tidak membebaskan akuntan dari pertanggungjawaban karena mereka selalu

bertanggung jawab untuk selalu cermat dalam melaksanakan semua penugasan. Dalam penugasan

kompilasi, akuntan harus memenuhi hal-hal sebagai berikut :

 Menetapkan pemahaman dengan klien mengenai jenis dan Batasan dari jasa yang

disediakan dan deskripsi dari laporan, jika laporan akan diterbitkan.


 Memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip akuntansi dan praktik dari industri klien.

 Mengetahui klien, mencakup sifat dari transaksi bisnisnya, catatan akuntansi dan isi dari

laporan keuangan (pengetahuan mungkin lebih sedikit dari kaji ulang).

 Mengajukan pertanyaan untuk menentukan apakah informasi klien memenuhi persyaratan.

 Membaca laporan keuangan yang dikompilasi dan waspada akan adanya penghilangan

yang nyata atau kesalahan dalam aritmatika dan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima

umum.

Akuntan tidak harus melakukan tanya jawab lainnya atau melakukan prosedur lain untuk

memverifikasi informasi yang diberikan oleh klien. Akan tetapi jika mereka menyadari bahwa

laporan tidak disajikan secara wajar, maka mereka harus memperoleh informasi tambahan. Jika

klien menolak untuk memberikan informasi, maka akuntan harus menarik diri dari penugasan

kompilasi.

b Bentuk Laporan Kompilasi

SSARS mendefinisikan tiga jenis laporan kompilasi. Penggunaan masing-masing laporan

bergantung pada keputusan manajemen apakah manajemen memilih untuk memasukkan semua

pengungkapan yang diharuskan dalam laporan keuangan.

1. Kompilasi dengan pengungkapan lengkap. Kompilasi jenis ini membutuhkan

pengungkapan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum, sama

seperti untuk laporan keuangan yang diaudit atau kaji ulang..

2. Kompilasi yang menghilangkan seluruh pengungkapan. Jenis kompilasi ini dapat

diterima jika laporan tersebut mengindikasikan kurangnya pengungkapan dan

ketidakhadiran pengungkapan tidak, berdasarkan pengetahuan akuntan public, dilakukan


dengan tujuan untuk menyesatkan pemakai laporan keuangan. Pada umumnya, jenis

laporan seperti ini terutama digunakan untuk tujuan manajemen.

3. Kompilasi Tanpa Independensi. Seperti KAP dapat mengeluarkan laporan kompilasi

dengan pengungkapan lengkap atau pengungkapan yang dihilangkan meskipun akuntan

tidak independent dari klien, yang didefinisikan oleh Kode Etik. Apabila akuntan tidak

memiliki independensi, maka pada laporan harus menyatakan bahwa“ Kami tidak

independen terhadap PT xxx

Untuk ketiga jenis laporan kompilasi , elemen-elemen berikut juga diperlukan:

 Tanggal pada laporan akuntan adalah tanggal penyelesaian kompilasi.

 Setiap halaman laporan keuangan yang dikompilasi oleh akuntan harus menyatakan “Lihat

kompilasi laporan akuntan.”

 Jika klien gagal mengikuti prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum, auditor harus

memasukkan modifikasi yang sama dalam laporan kompilasi yang digunakan dalam

review.

Laporan akuntan tentang kompilasi harus memuat informasi bahwa:

• Kompilasi telah dilakukan.

• Kompilasi terbatas pada penyajian informasi dalam bentuk laporan keuangan yang

merupakan representasi manajemen.

• Laporan keuangan tidak diaudit atau direview dan dengan demikian akuntan tidak

menyatakan pendapat atau bentuk keyakinan lain.


c Contoh laporan kompilasi

Kami telah melakukan kompilasi neraca PT ABC tanggal 31 Desember 2009 serta laporan rugi
laba, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas yang berkaitan untuk tahun yang berakhir
pada tanggal tersebut sesuai dengan Standar Jasa Akuntansi dan Review yang ditetapkan oleh
Ikatan Akuntan Indonesia.
Suatu kompilasi terbatas pada penyajian informasi dalam bentuk laporan keuangan yang
merupakan representasi manajemen. Kami tidak melakukan audit atau review terhadap laporan
keuangan terlampir tersebut dan oleh karena itu kami tidak menyatakan pendapat atau bentuk
keyakinan lain atas laporan keuangan tersebut.
Manajemen telah memutuskan untuk tidak memasukkan hampir semua pengungkapan material
(termasuk laporan arus kas), yang diharuskan oleh PABU. Jika pengungkapan yang tidak
dimasukkan tersebut disajikan dalam laporan keuangan, mungkin hal tersebut akan mempengaruhi
kesimpulan para pemakai laporan keuangan tentang posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas
perusahaan. Oleh karena itu, laporan keuangan ini tidak dirancang untuk mereka yang tidak
mengetahui tentang masalah tersebut.

2.1.2 Prosedur Review

Review atas laporan keuangan adalah pelaksanaan prosedur permintaan keterangan dan

analisis yang menghasilkan dasar memadai bagi akuntan untuk memberikan keyakinan terbatas

bahwa tidak terdapat modifikasi material yang harus dilakukan atas laporan keuangan agar laporan

tersebut sesuai dengan PABU. Sebuah penugasan jasa review memungkinkan keterlibatan akuntan

dalam memberikan assurance terbatas bahwa laporan keuangan telah sesuai dengan SAK,

termasuk pengungkapan informatif yang tepat atau basis akuntansi komprehensif yang lain seperti

basis kas akuntansi. Akuntan publik harus independen dari klien untu dapat melakukan jasa

review.

a Persyaratan Review

SSARS merekomendasikan prosedur berikut untuk suatu penugasan review :


• Harus memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip akuntansi dan praktik dari industri

klien.

• Harus memperoleh pengetahuan mengenai klien, menyangkut sifat transaksi bisnis klien,

catatan akuntansi dan karyawan, serta isi laporan keuangan.Tingkat pengetahuan untuk

review mungkin lebih sedikit ketimbang untuk suatu audit.

• Mengajukan pertanyaan kepada manajemen. Pengajuan pertanyaan merupakan prosedur

review yang paling penting. Tujuannya adalah untuk mementukan apakah laporan

keuangan disajikan secara wajar, dengan mengasumsikan bahwa manajemen tidak

bermaksud untuk menipu akuntan. Pengajuan pertanyaan harus dilakukan kepada personil

klien yang sesuai dan pada umumnya melibatkan diskusi, seperti pertanyaan ilustratif

berikut :

a Gambarkan prosedur Anda untuk pencatatan, pengklasifikasian, dan peringkasan

transaksi serta pengungkapan informasi dalam laporan.

b Apa tindakan yang paling penting yang diambil dalam pertemuan pemegang saham

dan dewan direksi tahun ini?

c Apakah setiap akun dalam laporan keuangan disiapkan sesuai dengan prinsip-

prinsip akuntansi yang diterima secara umum dan diterapkan secara konsisten?

• Melakukan prosedur analitis. Prosedur ini akan mengidentifikasikan hubungan dan item-

item individual yang tampak tidak biasa. Jika terlihat tren yang tidak biasa, akuntan akan

terlibat dalam pengajuan pertanyaan lanjutan dengan personil klien untuk memperolah

penjelasan dari setiap hubungan yang tidak diduga.


Prosedur analitik meliputi:

 Pembandingan antara laporan keuangan dengan laporan keuangan dalam periode

lalu yang sebanding.

 Pembandingan antara laporan keuangan dengan hasil yang diantisipasi, misalnya

anggaran atau prakiraan.

 Studi hubungan antara unsur-unsur dalam laporan keuangan yang diharapkan akan

sesuai dengan pola yang dapat diperkirakan atas dasar pengalaman entitas

• Memperoleh surat representasi. Akuntan diharuskan untuk memperolah surat representasi

dari anggota manajemen yang memiliki pengetahuan mengenai persolan keuangan.

Berdasarkan prosedur tersebut, akuntan mungkin merasa khawatir bahwa informasi tidak

benar, tidak lengkap, atau tidak memuaskan. Jika demikian, prosedur tambahan sebaiknya

dilakukan sebelum akuntan menerbitkan laporan jasa review standar

b Pelaporan Review

Laporan review harus menyatakan bahwa:

• Review dilaksanakan sesuai dengan Standar Jasa Akuntansi dan Review yang ditetapkan

IAI.

• Semua informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan adalah penyajian manajemen.

• Review terutama mencakup permintaan keterangan kepada pejabat penting dan prosedur

analitik yang diterapkan terhadap data keuangan.

• Lingkup review jauh lebih sempit dibandingkan lingkup audit.


• Akuntan tidak mengetahui adanya suatu modifikasi material yang harus dilakukan agar

laporan keuangan sesuai dengan PABU.

Terdapat tiga aspek dari laporan review yaitu :

a. Paragraf pertama serupa dengan laporan audit kecuali untuk referensinya terhadap jasa

review dan bukan audit.

b. Pargraf kedua menyatakan bahwa suatu review terutama terdiri dari pengajuan pertanyaan

dan prosedur analitis, pada intinya memiliki lingkup yang lebih sedikit dari suatu audit, dan

tidak ada opini yang diekspresikan.

c. Paragraf ketiga mengekspresikan assurance terbatas dalam bentuk assurance negative

bahwa “sepengetahuan kami tidak ada modifikasi material yang harus dilakukan terhadap

laporan keuangan.”

Tanggal laporan review harus tanggal penyelesaian pengajuan pertanyaan akuntan dan

prosedur analitis. Setiap halaman dari laporan keuangan yang direview harus memasukkan

referensi “Lihat laporan review akuntan.”

c Contoh Pelaporan Review

Kami telah melakukan review neraca PT ABC tanggal 31 Desember 2009 serta laporan rugi laba,
laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas yang berkaitan untuk tahun yang berakhir pada
tanggal tersebut sesuai dengan Standar Jasa Akuntansi dan Review yang ditetapkan oleh IAI.
Semua informasi yang dimuat dalam laporan keuangan adalah penyajian manajemen PT ABC.
Review terutama terdiri atas permintaan keterangan kepada pejabat perusahaan dan prosedur
analitik yang diterapkan atas data keuangan. Review mempunyai lingkup yang jauh lebih sempit
dibandingkan dengan lingkup audit yang dilakukan sesuai dengan standar auditing yang ditetapkan
IAI dengan tujuan untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan. Oleh
karena itu, kami tidak memberikan pendapat semacam itu.
Berdasarkan review kami, tidak terdapat penyebab yang menjadikan kami yakin bahwa laporan
keuangan yang kami sebutkan di atas tidak disajikan sesuai dengan PABU.
2.2 Atestasi Kepatuhan

2.2.1 Berdasarkan Standar Auditing

Auditor dapat menerima perikatan untuk melaksanakan prosedur yang disepakati untuk

membantu pemakai dalam mengevaluasi asersi tertulis manajemen tentang (a) kepatuhan entitas

terhadap persyaratan tertentu, (b) efektivitas pengendalian intern terhadap kepatuhan2, atau (c)

keduanya. Dalam perikatan pemeriksaan, asersi tertulis manajemen dapat mengambil berbagai

macam bentuk, namun harus cukup spesifik sehingga pemakai yang memiliki kompetensi dalam

memanfaatkan kriteria pengukuran dan pengungkapan yang sama atau serupa dapat mencapai

kesimpulan yang secara material sama.

Auditor dilarang memberikan keyakinan negatif tentang apakah asersi manajemen

disajikan secara wajar. Laporan praktisi harus memuat unsur-unsur berikut ini:

a. Judul yang berisi kata independen

b. Identifikasi pemakai tertentu

c. Suatu pengacuan ke asersi manajemen tentang kepatuhan entitas dengan persyaratan tertentu

atau tentang efektivitas pengendalian intern entitas terhadap kepatuhan, termasuk periode

atau titik waktu yang dicakup oleh asersi manajemen, dan sifat perikatan

d. Suatu pernyataan bahwa prosedur, yang telah disepakati oleh pemakai tertentu yang

disebutkan dalam laporan, telah dilaksanakan untuk membantu pemakai dalam mengevaluasi

asersi manajemen tentang kepatuhan entitas terhadap persyaratan tertentu atau tentang

efektivitas pengendalian intern entitas terhadap kepatuhan

e. Pengacuan ke standar yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia

f. Suatu pernyataan bahwa memadainya prosedur merupakan tanggung jawab pemakai tertentu

dan suatu pernyataan tidak bertanggung jawab tentang memadainya prosedur tersebut
g. Daftar prosedur yang telah dilaksanakan (atau pengacuan mengenai hal ini) dan temuan yang

bersangkutan.

h. Jika berlaku, suatu penjelasan adanya batas materialitas yang disepakati

i. Suatu pernyataan bahwa praktisi tidak mengadakan perikatan, suatu pernyataan tidak

memberikan pendapat atas asersi tersebut, dan suatu pernyataan bahwa jika praktisi telah

melaksanakan prosedur tambahan, hal lain mungkin terungkap dan akan dilaporkan.

j. Suatu pernyataan tentang pembatasan atas penggunaan laporan karena laporan tersebut

hanya diperuntukkan bagi pemakai tertentu (Namun, jika laporan tersebut merupakan

"catatan publik" praktisi harus menambahkan kalimat berikut ini: "Namun, laporan ini

merupakan catatan publik dan distribusinya tidak terbatas.")

k. Jika berlaku, pembatasan tentang prosedur atau temuan

l. Jika berlaku, suatu penjelasan tentang sifat bantuan oleh spesialis

2.2.2 Berdasarkan Standar Astestasi

a Standar Umum

1. Penugasan harus dilakukan oleh seorang praktisi yang memiliki pelatihan teknis dan

kemahiran yang memadai dalam fungsi atestasi.

2. Penugasan harus dilakukan oleh seorang praktisi yang memiliki pengetahuan mencukupi

mengenai persoalan.

3. Praktisi harus melakukan penugasan hanya jika ia memiliki alasan untuk merasa yakin bahwa

persoalan dapat dievaluasi berdasarkan kriteria bagi pemakai.

4. Dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan, independensi dalam sikap mental

harus dijaga oleh praktisi.


5. Ketelitian professional harus dilaksanakan dalam perencanaan dan pelaksanaan penugasan.

b Standar Pekerja Lapangan

1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi

dengan semestinya.

2. Bukti yang cukup harus diperoleh untuk memberikan dasar rasional bagi simpulan yang

dinyatakan dalam laporan.

c Standar Pelaporan

1 Laporan harus mengidentifikasi persoalan atau asersi yang dilaporkan dan menyatakan sifat

dari penugasan.

2 Laporan harus menyatakan simpulan praktisi mengenai persoalan atau asersi dalam

hubungannya dengan kriteria mengevaluasi persoalan tersebut.

3 Laporan harus menyatakan seluruh pernyataan signifikan dari praktisi mengenai penugasan,

persoalan, dan jika memungkinkan asersi yang berhubungan.

4 Laporan harus menyatakan bahwa pemakai laporan dibatasipada pihak-pihak tertentu, dalam

situasi tertentu.

2.2.3 Berdasarkan Standar Audit Pemerintah

Auditor Pemerintah harus menerapkan kemahiran profesionalnya secara cermat dan

seksama untuk memastikan bahwa auditor dan manajemen memahami tipe perikatan yang harus

dilaksanakan oleh auditor. Manajemen juga bertanggung jawab untuk memperoleh jasa audit yang

memenuhi persyaratan hukum dan peraturan atau kontrak yang relevan.

Dalam audit yang dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan

Akuntan Indonesia, tanggung jawab auditor untuk mempertimbangkan peraturan perundang-


undangan dan bagaimana dampaknya terhadap audit tersebut. Auditor biasanya

mempertimbangkan hukum dan peraturan yang dipahaminya sebagai hal yang memiliki pengaruh

langsung dan material dalam penentuan jumlah-jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan.

Entitas pemerintahan umumnya diatur oleh berbagai peraturan perundang-undangan yang

berdampak terhadap laporan keuangannya. Aspek penting prinsip akuntansi yang berlaku umum

di Indonesia yang diterapkan dalam entitas pemerintahan adalah diakuinya berbagai aturan kontrak

dan hukum yang khusus berlaku dalam lingkungan pemerintahan. Berbagai aturan tersebut

merupakan dasar dan dicerminkan dalam struktur dana, basis akuntansi, dan prinsip lain serta

metode yang ditetapkan, dan merupakan faktor utama yang membedakan antara akuntansi

pemerintahan dari akuntansi perusahaan.

Auditor harus memperoleh pemahaman tentang kemungkinan dampak peraturan

perundang-undangan terhadap laporan keuangan yang umumnya diperkirakan oleh auditor

berdampak langsung dan material atas penentuan jumlah yang tercantum dalam laporan keuangan.

Auditor harus menentukan apakah manajemen telah mengidentifikasi peraturan perundang-

undangan yang mempunyai pengaruh langsung dan material dalam penentuan jumlah-jumlah yang

tercantum dalam laporan keuangan entitas pemerintahan.

Laporan auditor tentang kepatuhan didasarkan atas hasil prosedur yang dilaksanakan sebagai

bagian dari audit atas laporan keuangan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan oleh auditor dalam

pelaporan tentang kepatuhan berdasarkan Standar Audit Pemerintahan, sebagaimana disebutkan

berikut ini:

a Keyakinan positif dan negatif

b Pelaporan ketidakpatuhan

c Unsur pelanggaran hukum


Standar Audit Pemerintahan mengharuskan auditor melakukan hal-hal berikut ini:

a Auditor harus merancang audit untuk dapat memberikan keyakinan memadai guna

mendeteksi ketidakberesan yang material bagi laporan keuangan.

b Auditor harus merancang audit untuk memberikan keyakinan memadai guna mendeteksi

kesalahan/kekeliruan yang material dalam laporan keuangan sebagai akibat langsung dari

adanya unsur perbuatan melanggar/melawan hukum yang material.

c Auditor harus waspada terhadap kemungkinan telah terjadinya unsur perbuatan

melanggar/melawan hukum secara tidak langsung. Jika informasi khusus yang telah

diterima oleh auditor memberikan bukti tentang adanya kemungkinan unsur perbuatan

melanggar/melawan hukum yang secara tidak langsung berdampak material terhadap

laporan keuangan, maka auditor harus menerapkan prosedur audit yang secara khusus

ditujukan untuk memastikan apakah suatu unsur perbuatan melanggar/melawan hukum

telah terjadi. Auditor akan mematuhi persyaratan ini dengan mendesain audit untuk

memberikan keyakinan memadai tentang deteksi terhadap kekeliruan, ketidakberesan, dan

unsur perbuatan melanggar/melawan hukum sebagai akibat dari pelanggaran peraturan

perundang-undnagan yang berdampak langsung dan material terhadap jumlah yang

tercantum dalam laporan keuangan, sebagaimana disyaratkan oleh SA Seksi 316 dan 317.