Anda di halaman 1dari 21

PEMANTAUAN PELAYANAN KEBIDANAN

(PWS KIA), KOHORT IBU,BAYI DAN BALITA

Disusun Oleh :

1. Deti Annisa Pratiwi 5. Nawiyah Hartini


2. Marsini 6. Siti Khodijah
3. May Rismawati 7. Wiwik Idayanti
4. Melisa Wahyuni

PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN


UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Penulis bersyukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufik, dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah kebidanan
“Pemantauan Pelayanan Kebidanan (PWS KIA) Kohort Ibu, Bayi, Dan Balita”
dengan baik. Paper ini, dapat diselesaikan dengan baik karena dukungan dan
partisipasi berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah berpatisipasi dalam penyusunan paper ini, semoga
dengan adanya paper ini dapat meningkatkan pengetahuan tentang pelayanan
kebidanan (PWS KIA) kohort Ibu, Bayi, Dan Balita
Penulis menyadari bahwa tiada sesuatu yang sempurna di dunia ini,
begitupun paper yang telah penulis buat, baik dalam hal isi maupun penulisannya.
Akhir kata, penulis berharap semoga paper ini dapat bermanfaat sebagai
sumbangan pemikiran kecil bagi kemajuan ilmu pengetahuan, baik di Universitas
Nasional maupun lingkungan masyarakat.

Jakarta, 31 November 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

JUDUL ..................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................1
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan ..............................................................................................2
1. Tujuan Umum ..............................................................................2
2. Tujuan Khusus .............................................................................2
D. Manfaat ............................................................................................2
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi PWS-KIA ...........................................................................3
B. Definisi Kohort Ibu, Bayi, Dan Balita .............................................4
C. Prinsip Pengelolaan ..........................................................................4
D. Pengumpulan Data ...........................................................................5
E. Indikator Pemantauan.......................................................................7
F. Pelaksanaan PWS ..........................................................................13
G. Pemantauan Dan Pelaporan............................................................13

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ....................................................................................15
B. Saran ...............................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Neonatus (AKN), Angka
Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan
beberapa indikator status kesehatan masyarakat. Dewasa ini AKI dan AKB di
Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya. Menurut
data survey demografi kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, AKI 228/100.000
Kelahiran Hidup, AKB 34/1000 Kelahiran Hidup, AKN 19/1000 Kelahiran
Hidup, AKABA 44/1000 Kelahiran Hidup.
Dalam upaya penurunan Angka Kemtian Ibu dan Anak Indonesia, sistim
pencatatan dan pelaporan merupakan komponen yang sangat penting. Selain
sebagai alat untuk memantau kesehatan ibu daan bayi, bayi baru lahir, bayi dan
balita, juga untuk menilai sejuh mana keberhasilan program serta sebagai bahan
untuk membuat perencanaan di tahun-tahun berikutnya, dengan melaksanakan
berbagai program KIA.
Agar pelaksanaan program KIA, aspek peningkatan mutu pelayanan
program KIA tetap diharapkan menjadi kegiatan prioritas di tingkat kabupaten
atau kota. Peningkatan mutu program KIA juga dinilai dari besarnya cakupan
program di masing-masing wilayah kerja. Untuk itu, besarnya cakupan pelayanan
KIA disuatu wilayah kerja perlu dipantau secara terus menerus, agar diperoleh
gambaran yang jelas mengenai kelompok mana dalam wilayah kerja tersebut yang
paling rawan.
Selain itu untuk membantu mengurangi angka kematian dan kesakitan ibu
dan bayi tersebut serta meningkatkan mutu pelayanan program KIA, Bidan
haruslah dapat membangun kemitraan yang efektif melalui kerjasama lintas
program lintas sector dan mitra lainnya serta dapat bekerjasama dengan
masyarakat. Masyarakat dapat dibina dalam proses tersebut.

1
2

22

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan PWS KIA?
2. Apa yang dimaksud Kohort Ibu, Bayi, dan Balita ?
3. Bagaimana pengelolaan PWS KIA ?
4. Bagaimana cara Pengumpulan Data PWS ?
5. Apa Indikator Pemantauan ?
6. Bagaimaan Pelaksanaan PWS ?
7. Bagaimana Pemantauan dan Pelaporan

C. Tujuan
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Organisasi Manajemen Pelayanan
Kebidanan ?
2. Untuk mengetahui hal yang terkait mengenai PWS KIA.
3. Untuk mengetahui hal yang terkai mengenai Kohort Ibu, Bayi, dan Balita
4. Untuk mengetahui tentang Pemantauan dan Pelaporan

D. Manfaat Penyusunan Makalah


1. Dapat memberikan pengetahuan atau wawasan mengenai Pemantauan
Pelayanan Kebidanan Pws Kia dan Kohort Ibu, Bayi, dan Balita
2. Kita dapat mengetahui Pemantauan Pelayanan Kebidanan Pws Kia dan
Kohort
3. Dapat dijadikan acuhan dalam melakukan pemantauan pelayanan
kebidanan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PWS KIA (Pemantauan Wilayah Setempat)


1. Pengertian
PWS KIA adalah suatu alat manajemen program KIA untuk
melakukan pemantauan cakupan pelayanan KIA di suatu wilayah kerja
secara terus menerus agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan
tepat terhadap desa dengan cakupan pelayanan KIA yang masih rendah
Pelayanan yang dimaksud adalah pelayanan ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas, Kunjungan neonatal, ibu dengan komplikasi
kebidanan, bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi dan balita.

2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Terpantaunya cakupan dan mutu pelayanan KIA secara terus-
menerus di setiap wilayah kerja.
b. Tujuan Khusus
1) Memantau pelayanan KIA secara Individu melalui Kohort
2) Memantau kemajuan pelayanan KIA dan cakupan indikator KIA
secara teratur (bulanan) dan terus menerus.
3) Menilai kesenjangan pelayanan KIA terhadap standar pelayanan
KIA.
4) Menilai kesenjangan pencapaian cakupan indikator KIA terhadap
target yang ditetapkan.
5) Menentukan sasaran individu dan wilayah prioritas yang akan
ditangani secara intensif berdasarkan besarnya kesenjangan.
6) Merencanakan tindak lanjut dengan menggunakan sumber daya
yang tersedia dan yang potensial untuk digunakan.
7) Meningkatkan peran aparat setempat dalam penggerakan sasaran
dan mobilisasi sumber daya.

3
4

8) Meningkatkan peran serta dan kesadaran masyarakat untuk


memanfaatkan pelayanan KIA.

B. Kohort ibu, bayi, dan balita


1. Pengertian Kohort Ibu
Kohort ibu merupakan sumber data pelayanan ibu hamil dan
bersalin, serta keadaan/resiko yang dipunyai ibu yang di organisir
sedemikian rupa yang pengkoleksiaannya melibatkan kader dan dukun
bayi diwilayahnya setiap bulan yang mana informasi pada saat ini
lebih difokuskan pada kesehatan ibu dan bayi baru lahir tanpa adanya
duplikasi informasi

2. Pengertian Kohort Bayi


Kohort bayi merupakan sumber data pelayanan kesehatan bayi, termasuk
neonatal.

3. Pengertian Kohort Balita


Kohort balita merupakan sumber data pelayanan kesehatan balita,
umur 12 bulan sampai dengan 5 tahun

C. Prinsip Pengelolaan Program KIA


Pengelolaan program KIA pada prinsipnya bertujuan memantapkan
dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan KIA secara efektif dan
efisien. Pemantapan pelayanan KIA dewasa ini diutamakan pada kegiatan
pokok sebagai berikut:
a. Peningkatan pelayanan antenatal sesuai standar bagi seluruh ibu hamil
di semua fasilitas kesehatan.
b. Peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan kompeten
diarahkan ke fasilitas kesehatan.
c. Peningkatan pelayanan bagi seluruh ibu nifas sesuai standar di semua
fasilitas kesehatan.
5

d. Peningkatan pelayanan bagi seluruh neonatus sesuai standar di semua


fasilitas kesehatan.
e. Peningkatan deteksi dini faktor risiko dan komplikasi kebidanan dan
neonatus oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat.
f. Peningkatan penanganan komplikasi kebidanan dan neonatus secara
adekuat dan pengamatan secara terus-menerus oleh tenaga kesehatan.
g. Peningkatan pelayanan kesehatan bagi seluruh bayi sesuai standar di
semua fasilitas kesehatan.
h. eningkatan pelayanan kesehatan bagi seluruh anak balita sesuai
standar di semua fasilitas kesehatan.
i. Peningkatan pelayanan KB sesuai standar.
Pelayanan Program KIA itu meliputi:
a) Pelayanan Antenatal
b) Pertolongan Persalinan
c) Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
d) Pelayanan Kesehatan Neonatus
e) Deteksi Dini Faktor Risiko Dan Komplikasi Kebidanan Dan
Neonatus Oleh Tenaga Kesehatan Maupun Masyarakat.
f) Penanganan Komplikasi Kebidanan.
g) Pelayanan Neonatus Dengan Komplikasi
h) Pelayanan Kesehatan Bayi
i) Pelayanan Kesehatan Anak Balita
j) Pelayanan KB Berkualitas

D. Pengumpulan Data
1. Jenis data
a. Data pendukung adalah data sasaran :
1) Sasaran ibu hamil
Rumus mencari sasaran Ibu hamil :
CBR x 1,1 x Jumlah Penduduk
2) Sasaran ibu bersalin
6

Cara mencari sasaran ibu bersalin :


1,05 x CBR x Jumlah Penduduk
3) Sasaran ibu nifas
Jumlah sasaran ibu nifas sama dengan jumlah sasaran ibu bersalin
4) Sasaran bayi
Jumlah sasaran :
CBR x Jumlah Penduduk
5) Sasaran ibu hamil, bersalin dan nifas dengan faktor
risiko/komplikasi
Ibu hamil = 20 % x Jumlah sasaran ibu hamil
Ibu bersalin = 20 % x Jumlah sasaran ibu bersalin
Ibu nifas = 20 % x Jumlah sasaran ibu nifas
6) Sasaran anak Balita
Rumus sasaran :
9.1% x Jumlah Penduduk
Sasaran PUS
Rumus sasaran : 18% x Jumlah penduduk
b. Data pelayanan :
1) Jumlah K1
2) Jumlah K4
3) Jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan
4) Jumlah ibu nifas yang dilayani 3 kali (KF 3) oleh tenaga
kesehatan
5) Jumlah neonatus yang mendapatkan pelayanan kesehatan
pada umur 6-48 jam
6) Jumlah neonatus yang mendapatkan pelayanan kesehatan
lengkap (KN lengkap)
7) Jumlah ibu hamil, bersalin dan nifas dengan faktor risiko/
komplikasi yang di deteksi oleh masyarakat
8) Jumlah kasus komplikasi obstetri yang ditangani
9) Jumlah neonatus dengan komplikasi yang ditangani
7

10) Jumlah bayi 29 hari – 12 bulan yang mendapatkan


pelayanan kesehatan sedikitnya 4 kali
11) Jumlah bayi 12-59 bulan yang mendapatkan pelayanan
kesehatan sedikitnya 8 kali
12) Jumlah anak balita sakit yang mendapatkan pelayanan
kesehatan sesuai standar
13) Jumlah peserta KB aktif
c. Sumber data
1) Register kohort ibu
2) Register kohort bayi
3) Register kohort anak balita
4) Register kohort KB
5) Data desa (Data dasar jumlah penduduk, geografis,
Jumlah RT, jumlah KK yang mempunyai kartu
KS, Jamsostek, Askes dan lain-lain)

E. Indikator Pemantauan
1. Akses Pelayanan Antenatal (cakupan K1) adalah cakupan ibu hamil yang
pertama kali mendapat pelayanan antenatal oleh tenaga kesehatan disuatu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu
Rumus perhitungan = Jumlah cakupan K1 x 100 %
sasaran ibu hamil

2. Cakupan pelayanan ibu hamil ( cakupan K4) adalah cakupan ibu hamil
yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar (4 x
selama kehamilan) pada trimester 3 disuatu wilayah kerja pada kurun
waktu tertentu.
Rumus perhitungan = Jumlah cakupan K4 x 100 %
sasaran ibu hamil

3. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan (Pn)


8

adalah cakupan ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh


tenaga kesehatan yang dimiliki kompetensi kebidanan di suatu wilayah
kerrja dalam kurun waktu tertentu.
Rumus perhitungan = Jumlah K4 x 100%
sasaran bulin

4. Cakupan pelayanan nifas oleh tenaga kesehatan (KF3) adalah cakupan


pelayanan kepada ibu pada masa 6 jam sampai dengan 42 hari pasca
bersalin sesuai standar paling sedikit 3 kali, dengan distribusi waktu :
1) 6 jam sd hari ke 3 (KF1)
2) hari ke 4 sd hari ke 28 (KF2)
3) hari ke 29 sd hari ke 42 (KF3)
setelah bersalin di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Rumus perhitungan = Jumlah KF3 x 100%
sasaran ibu nifas

5. Cakupan pelayanan neonatus pertama ( KN 1) adalah cakupan neonatus


yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada 6-48 jam setelah lahir di
suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Rumus perhitungan = Jumlah KN 1 x 100%
sasaran bayi

6. Cakupan pelayanan kesehatan neonatus 0-28 hari (KN lengkap) adalah


cakupan neonatus yang mendapatkan pelayanan sesuai standar
paling sedikit 3x dengan distribusi waktu 1 x pada 6-48 jam, 1x pada hari
ke 3 – hari ke 7 dan 1 x pada hari ke 8 – hari ke 28 setelah lahir disuatu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Rumus yang digunakan = Jumlah KN lengkap x 100 %
sasaran bayi
9

7. Deteksi faktor risiko dan komplikasi oleh masyarakat adalah cakupan ibu
hamil dengan faktor resiko atau komplikasi yang di temukan oleh kader
atau dukun bayi atau masyarakat serta dirujuk ke tenaga kesehatan di suatu
wilayah kerja pada kurun waktu tetentu. Indikator ini mengmbarkan peran
serta dan keterlibatan masyarakat dalam mendukung upaya peningkatan
kesehatan ibu hamil, ibu bersalin dan nifas.
Rumus = Jumlah ibu hamil faktor resiko oleh masyarakat x 100%
sasaran bumil resiko

8. Deteksi Faktor risiko dan komplikasi oleh tenaga kesehatan adalah


cakupan ibu hamil dengan faktor risiko atau komplikasi yang di temukan
oleh bidan atau nakes lainnya.
Rumus = Jumlah bumil faktor risiko oleh nakes x100%
sasaran bumil risiko

9. Penanganan komplikasi obstetric adalah cakupan penanganan komplikasi


kebidanan yang ditangani oleh nakes.
Rumus = Jumlah ibu bersalin dengan komplikasi yang di tangani x 100%
sasaran ibu bersalin risiko

10. Cakupan penanganan komplikasi neonates adalah cakupan neonatus


dengan komplikasi yang ditangani secara definitif oleh tenaga kesehatan
kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan di suatu wilayah
kerja pada kurun waktu tertentu. Penanganan definitif adalah pemberian
tindakan akhir pada setiap kasus Komplikasi neonatus yang pelaporannya
dihitung 1x pada masa neonatus.
Kasus komplikasi yang di tangani adalah seluruh kasus yang ditangani
tanpa melihat hasilnya hidup atau mati
Rumus perhitungan = Jumlah neonatus dengan komplikasi x 100
15% x jumlah sasaran bayi
10

11. Cakupan pelayanan kesehatan Bayi 29 hari – 12 bulan (kunjungan Bayi)


adalah cakupan bayi yang mendapatkan pelyanan paripurna minimal 4
kali yaitu :
1 x pada umur 29 hari – 2 bulan
1 x pada umur 3 – 5 bulan
1 x pada umur 6 – 8 bulan
1 x pada umur 9 – 11 bulan
sesuai standar disuatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Rumus yang di gunakan :
∑ bayi yang memproleh 4 x pelayanan kesehatan sesuai standar x 100%
Jumlah seluruh sasaran bayi disuatu wilayah kerja dalam 1 tahun

12. Cakupan pelayanan Balita (12 – 59 bulan) adalah cakupan anak balita (12
– 59 bulan) yang memperoleh pelayanan sesuai standar, meliputi
pemantauan pertumbuhan minimal 8 x setahun, pemantauan
perkembangan minimal 2 x setahun, pemberian vitamin A 2 x setahun.

Rumus yang digunakan :


Jumlah anak balita yang memperoleh pelayanan sesuai standar x 100%
Jumlah seluruh anak Balita di suatu wilayah kerja dalam 1 tahun

13. Cakupan pelayanan kesehatan anak balita sakit yang dilayani dengan
MTBS adalah cakupan pelayanan kesehatan anak balita sakit yang
dilayani dengan MTBS Adalah cakupan anak balita (umur 12 – 59
bulan) yang berobat ke Puskesmas dan mendapatkan pelayanan
kesehatan sesuai standar ( MTBS) disuatu wilayah kerja pada kurun
waktu tertentu.
Rumus yang digunakan :
∑ Balita sakit yang memproleh pelayanan sesuai tatalaksana MTBS x 100%
Jumlah seluruh anak balita sakit yang berkunjung ke puskesmas di suatu wilayah
kerja dalam 1 tahun

14. Cakupan peserta KB aktif dalah cakupan peserta KB yang baru dan lama
yang masih aktif menggunakan alat dan obat kontrasepsi (alokon)
11

dibandingkan dengan jumlah pasangan usia subur disustu wilayah kerja


pada waktu tertentu.
Rumus yang digunakan = Jumlah peserta KB aktif x 100 %
Ditetapkan 6 indikator dalam PWS-KIA yaitu:
1) Akses pelayanan antenatal (cakupan I)
Merupakan alat untuk mengetahui jangkauan pelayanan antenatal
serta kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat.
DENGAN RUMUS:
Jumlah kunjungan baru ibu hamil (KI) X 100 %

Jumlah sasaran ibu hamil dalam 1 tahun

2) Cakupan ibu hamil (cakupan K4)


Menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil disuatu wilayah
serta menggambarkan kemampuan manajemen/kelangsungan
program KIA.
DENGAN RUMUS :
Jumlah kunjungan ibu hamil (cakupan K4) X 100%

Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun

3) Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan


Merupakan alat untuk memperkirakan proporsi persalinan yang
ditangani oleh tenaga kesehatan yang menggambarkan kemampuan
manajemen program KIA dalam pertolongan persalinan secara
professional.
DENGAN RUMUS:
Jumlah persalinan oleh tenaga kesehatan X 100%

Jumlah sasaran persalinan dalam satu tahun


12

4) Deteksi ibu hamil beresiko oleh tenaga kesehatan


Merupakan alat untuk mengukur besarnya masalah yang dihadapi
oleh program KIA yang harus ditindak lanjuti dan diintervensi
secara intensif.
DENGAN RUMUS:
Jumlah ibu hamil beresiko X 100%

Jumlah sasaran bumil dalam satu tahun

5) Detaksi ibu hamil beresiko oleh masyarakat.


Merupakan alat untuk mengukur tingkat kemampuan dan peran
serta masyarakat dalam melakukan deteksi ibu hamil beresiko di
suatu wilayah.
DENGAN RUMUS:
Jumlah bumil yang dirujuk oleh kader ke peskesmas/nakes X 100%

Jumlah sasaran bumil dalam 1 tahun

6) Cakupan pelayanan neonatal oleh tenaga kesehatan


Untuk mengetahui jangkauan layanan kesehatan neonatal serta
kemampuan program dalam menggerakan masyarakat melakukan
layanan kesehatan neonatal.
DENGAN RUMUS:
Jumlah kunjungan baru bayi usia < 1 bulan yang X 100%
mendapatkan layanan kesehatan oleh nakes

Jumlah sasaran bayi dalam satu tahun

Dalam PWS-KIA 6 indikatornya disebut sebagai “Indikator


Pemantauan Teknis” Untuk KI dan K4 disebut sebagai “Indikator
Pemantauan Non Teknis”. Kedua inikator ini digunakan sebagai alat
13

motivasi dan komunikasi dengan lintas terkait dalam menyampaikan


kemajuan maupun permasalahan operasional KIA di suatu
wilayah.kedua indicator ini disajikan setiap bulan dalam rakor, untuk
menyampaikan desa (RW) mana yang maju atau yang masih kurang
dari target.
JIKA: pencapaian KI kurang dari 80% dan pencapaian K4 kurang dari
70% Menunjukan:
1. Managemen program KIA belum optimal
2. Petugas bersifat pasif
3. Upaya KIEnya belum memadai.

F. Pelaksanaan PWS KIA


a) Sosialisasi
Fokus pertemuan untuk sosialisasi tentang PWS KIA, menyepakati
peran lintas sektor dalam PWS KIA dan menyusun mekanisme
pemantauan kegiatan.

b) Fasilitasi
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bantuan teknis berupa
kunjungan ke lapangan atau pertemuan.

c) Evaluasi /Tindak lanjut


Kegiatan ini bertujuan untuk menilai kemajuan cakupan program
KIA dan merencanakan kegiatan tindak lanjut.

G. Pemantauan dan Pelaporan


Pemantauan kegiatan PWS KIA dapat dilakukan melalui laporan kegiatan
PWS KIA bulanan dengan melihat kelengkapan data PWS KIA berikut
dengan :
a) Hasil analisis indikator PWS KIA, antara lain : grafik hasil cakupan,
hasil penelusuran dll
14

b) Rencana tindak lanjut berupa jadwal rencana kegiatan.

Pelaksanaan PWS KIA yang dilaporkan dimasing masing tingkatan


adalah :
a) Di tingkat Desa untuk dilaporkan ke Puskesmas setiap bulan.
b) Di tingkat puskesmas untuk dilaporkan ke Dinas Kesehatan
kabupaten/kota setiap bulan.
c) Di tingkat kabupaten/propinsi untuk dilaporkan ke Dinas Kesehatan.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA)


adalah alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA di suatu
wilayah kerja secara terus menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut yang
cepat dan tepat. Program KIA yang dimaksud meliputi: pelayanan ibu hamil,
ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi kebidanan, keluarga berencana,
bayi baru lahir, bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi, dan balita.
Kohort merupakan sumber data pelayanan ibu, bayi, dan balita yang
terkait pada keadaan/resiko yang dipunyai ibu, bayi, dan balita yang di
organisir sedemikian rupa yang pengkoleksiaannya melibatkan kader dan
dukun bayi diwilayahnya setiap bulan.

B. SARAN
Untuk tenaga kesehatan khususnya seorang bidan, alangkah baiknya untuk
melakukan pemantaan pelayanan kebidanan didaerah kerjanya baik dengan
menggunakan PWS KIA maupun Pendataan Sasaran, agar dapat mengetahui
keadaan wilayah kerja baik yang berkaitan dengan ibu hamil, ibu bersalin,
ibu nifas, ibu dengan komplikasi kebidanan, keluarga berencana, bayi baru
lahir, bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi, dan balita.
Untuk masyarakat sendiri bisa melakukan pendataan dengan adanya
pemantauan dari tenaga kesehatan terutama bagi masyarakat yang ditunjuk
menjadi kader begitu juga dukun bayi.

15
DAFTAR PUSTAKA

Astuti,Sri.2013.“MAKALAH PWS KIA” [online].


(http://sriastuti200792.blogspot.com/2013/05/makalah-pws-kia_20.html, diakses
tanggal 30 November 2018 pukul 10.00 WIB)

Departemen Kesehatan RI. 1998. Direktorat Jendral Pembinaan Kesehatan


Masyarakat. Pedoman Pemantuan Wilayah Setempat.

Yeni, Rama. 2013. “PWS KIA” [online].


(http://ramaye.blogspot.com/2013/08/pws-kia.html, diakses tanggal 30 November
2018 pukul 10.30 WIB)

Simatupang, Erna Juliana. 2008. “Manajemen Pelayanan Kebidanan”. Jakarta:


EGC

Soepardan, Suryani. 2007. “Konsep Kebidanan”. Jakarta: EGC


LAMPIRAN

Gambar 1. Grafik PWS KIA

Gambar 2. Buku KIA


Kohort Ibu Kohort Balita

Kohort Bayi

Gambar 3. Kohort