Anda di halaman 1dari 33

1. Ny.

Ani, usia 26 tahun, datang ke praktek dokter dengan benjolan di


leher serta di lipat ketiak kiri dan kanan sejak 3 hari yang lalu.

a. Bagaimana anatomi organ pada kasus?

Aksila :

Definisi: Aksila (ketiak) adalah ruang berbentuk piramida antara


bagian atas lengan dan sisi dada.

Fungsi: Membentuk jalur penting untuk saraf, darah, dan pembuluh


getah bening saat mereka bepergian dari akar leher ke tungkai atas

Isi aksila: Arteri aksila, Vena aksila, Pleksus brakialis, Kelenjar


getah bening aksila

Batas-batas aksila: Aksila memiliki apeks, dasar dan 4 dinding


(dinding anterior, posterior, medial dan lateral)
• Dinding anterior: oleh otot minor pectoralis mayor, subclavius,
dan pectoralis

• Dinding posterior: Oleh subscapularis, latissimus dorsi, dan otot


teres utama

• Dinding medial: Pada empat atau lima tulang rusuk bagian atas
dan ruang interkostal tertutup oleh otot anterior serratus

• Dinding lateral: oleh coracobrachialis dan otot-otot bisep dalam


alur bicipital humerus

Arteri Aksila:

• Awal: Arteri aksila dimulai di perbatasan lateral tulang rusuk


pertama sebagai kelanjutan dari arteri subklavia

• Pengakhiran: pada batas bawah otot utama teres, di mana ia


berlanjut sebagai arteri brakialis.

• Arteri berhubungan erat dengan tali pleksus brakialis dan cabang-


cabangnya dan ditutup dengan mereka dalam selubung jaringan ikat
yang disebut selubung aksila. Jika selubung ini ditelusuri ke atas ke
akar leher, terlihat bersambung dengan fasia prevertebralis

Vena aksila:

Vena aksila terbentuk di batas bawah otot utama teres oleh


penyatuan venae comitantes dari arteri brakialis dan vena basilik,
berjalan ke atas di sisi medial arteri aksila dan berakhir di
perbatasan lateral tulang rusuk pertama dengan menjadi vena
subklavia.
Leher:

Lokasi : Collum terletak antara cranium dan thorax. Batas atas


dibentukoleh tepi bawah mandibula, Angulus mandibulae, processus
mastoideus, linea nuchae superior dan protuberantia occipitalis
externa. Sedangkan batas bawah adalah incisura jugularis sterni,
dataran atas clavicula, articualtio acromioclavicularis, margo
superior scapula dan proccesu spinorus vertebra cervicallis VIII
arah.
Fungsi : menghubungkan kepala dan badan atau berfungsi sebagai
penyangga kepala agar kepala bisa tegak, bisa mengangguk,
menengok dan lain-lain. Pada leher ada tenggorokan yang berfungsi
sebagai saluran pencernaan dan saluran pernafasan. Organ-organ di
leher : Beberapa organ terdapat di regio colli: thymus, glandula
thyroidea dan glandula parathyroidea, trachea, oesopagus, glandula
submandibularis, glandula salivarius, larynx dan pharynx
Arteri :
I. Arteria Carotis Communis:
Letak a. carotis communis di sebelah lateral trachea dan
esophagus, di belakang lobus glandula thyroidea, di depan mm.
scaleni longus colli dan n. vagus, disebelah dorsal m.
omohyoideus, m. sternomastoideus, r. descendens n. Xll. Kira-
kira setinggi cornu superius cartilage thyreoidea
mempercabangkan a.carotis interna dan a. carotis externa.
II. Arteria Carotis Externa:
Terletak hampir lurus ke kranial,sebagian tertutup oleh m.
digastricus dan m. stylohyoideus, v. facialis communis dan n.
hypoglossus. Berjalan di sebelah dorsal margoposterior ramus
mandibulae setelah sampai di medial collum mandibulae
bercabang dua sebagai cabang terminal a. temporalis superficialis
dan a. maxillaris interna.
Vena :
I. Vena Jugularis Externa:
V. jugularis externa merupakan pembuluh darah balik, membawa
darah dan sebagian muka dan atap kepala serta sebagian regio coil
superficialis. Letak vena ini kirakira dari angulus mandibulae ke
kaukodorsal pada pertengahan clavicula, di luar M.
sternomastoideus dan di bawah platysma myoldeus. Vena ini
mendapat darah dari v.temporalis superficialis, V.facialis,
V.maxillaris, V.auricularis anterior.
II. jugularis interna:
V. jugularis interna merupakan pembuluh darah balik mernbava
darah dan otak, leher ini berjalan di antara foramen jugulare
sampai di belakang extremitas sternalis claviculae. Pada ujung
kranial dan kaudal terdapat pembesaran yang disebut bulbus
superior dan Bulbus superior terdapat ketika vena itu melalui
foramen jugulare, sedangkan rdapat ketika vena itu bermuara pada
vena bronchocephalica.
Aliran Limfe :
aliran lymphe daerah leher akan ke lymphonodi cervicabs profundi
kemudian ke truncus jugularis kiri bermuara pada ductus thoracicus.
Persyarafan :
N. Facialis (N.CraniaIis ke VII)
N.Glosso pharyngeus(N.Cranialis ke IX)
N.Vagus(N.Cranjaljs ke X).
N. Acegsorjus (N.Cranialis ke Xl)
Tulang :
Tulang - tulang (Ossa) Yang perlu dikenal kembali baik bentuk,
letak dan bangunan-bangunannya adalah : - Vertebra cervicalis I
sampai dengan VII, Sebagiam sternum (manubrium sterni),
clavicula, scapula. Tulang-tulang basis crania, mandibula dan o s
hyodeum
Tulang-tulang Rawan (cartilagiae) Cartilago yang menbentuk laryx,
antara lain cartilage thyroidea, cartilage criodea, cartilage
arytenoidea, cartilage corniculata da cartilage cuniofome serta
cartilage yang menbentuk dinding trachea.
Otot :
I. Otot-otot yang superfisial yaitu:
A. Platysma
B. m. sternomastoidus
C. m. trapezius
D. Otot-otot infrahyoideus
E. Otot-otot suprahyoideu
II.Otot-otot yang profundi:
A.Otot-otot scaleni
B.Otot-otot praevertebralis
C.Otot-otot larynx dan pharynx
D.Otot-otot tengkuk (erector trunci) dan m.levator scapulae.

b. Bagaimana fisiologi organ yang terlibat pada kasus?


Fisiologi sistem limfatik:
Sistem limfe merupakan suatu jalan tambahan tempat cairan dapat
mengalir dari ruang interstisial ke dalam darah sebagai transudat di
mana selanjutnya ia berperan dalam respon imun tubuh. Secara
umum sistem limfatik memiliki tiga fungsi yaitu:
1) Mempertahankan konsentrasi protein yang rendah dalam cairan
interstisial sehingga protein-protein darah yang difiltrasi oleh
kapiler akan tertahan dalam jaringan, memperbesar volume cairan
jaringan dan meninggikan tekanan cairan interstitial. Peningkatan
tekanan menyebabkan pompa limfe memompa cairan interstisial
masuk ke kapiler limfe membawa protein berlebih yang
terkumpul tersebut. Jika sistem ini tidak berfungsi maka dinamika
pertukaran cairan pada kapiler akan menjadi abnormal dalam
beberapa jam hingga menyebabkan kematian,
2) Absorpsi asam lemak, transpor lemak dan kilus (chyle) ke sistem
sirkulasi,
3) Memproduksi selsel imun (seperti limfosit, monosit, dan sel-sel
penghasil antibodi yang disebut sel plasma). Nodus limfoid
mempersiapkan lingkungan tempat limfosit akan menerima
paparan pertamanya terhadap antigen asing (virus, bakteri, jamur)
yang akan mengaktivasi limfosit untuk melaksanakan fungsi
imunitas.
(Laksmi K, 2010)
c. Bagaimana histologi organ pada kasus?

Kelenjar limfe terdiri dari massa padat agregat limfosit yang


bercampur dengan sinus-sinus limfe yang lebar yang mengandung
limfe dan didukung oleh rangka serat retikular halus. Sebuah
kelenjar limfe dipotong menjadi dua untuk memperlihatkan korteks
(4) disebelah luar dan berwarna gelap dan medula (10) di bagian
dalam dan berwarna terang. Kelenjar limfe dikelilingi oleh jaringan
adiposa perikapsul (1) yang mengandung banyak pembuluh darah,
yang disini diperlihatkan sebagai arteriol dan venula (9). Kapsul (2)
jaringan ikat padat membungkus kelenjar limfe. Dari kapsul (2),
terbentuk trabekula jaringan ikat (6) yang masuk ke dalam kelenjar,
pada awalnya di antara nodus-nodus limfe, dan kemudian bercabang
ke seluruh medula (10) dengan jarak bervariasi. Jaringan ikat
trabekula (6) ini juga mengandung pembuluh darah (5,8) utama
kelenjar limfe.
Terdapat pembuluh limfe aferen dengan katup (7) yang berjalan
di kapsul jaringan ikat (2) kelenjar limfe dan, pada interval-interval
tertentu, menembus kapsul untuk masuk ke suatu ruang sempit yang
disebut sinus subkapsularis (3,15). Dari sini, sinus (sinus korteks)
meluas di sepanjang trabekula (6) untuk masuk kedalam sinus
medularis (11).
Korteks (4) kelenjar limfe banyak mengandung agregat limfosit
yang disebut nodulus limfatik (16). Jika nodulus limfatik (16)
dipotong melalui bagian tengahnya, terlihat daerah-daerah yang
lebih terang. Daerah terang ini adalah sentrum germinativum (17)
nodulus limfatik (16) dan mencerminkan tempat aktif proliferasi
limfosit.
Di medula (10) kelenjar limfe, limfosit tersusun sebagai tali-tali
ireguler jaringan limfe yang disebut korda medula (medullary cords)
(14). Korda medula (14) mengandung makrofag, sel plasma, dan
limfosit kecil. Sinus medularis (11) yang melebar mengalirkan limfe
dari daerah korteks kelenjar limfe dan berjalan diantara korda
medula (14) menuju hilus (12) kelenjar limfe.
Sifat konkaf kelenjar limfe menunjukkan adanya hilus (12).
Saraf, pembuluh darah, dan vena yang menuju dan keluar dari
kelenjar limfe terletak di hilus (12). Pembuluh limfe eferen (13)
menerima limfe dari sinus medularis (11) dan keluar dari kelenjar
limfe di hilus (12).
(Difiore, 2015)

d. Apa makna Ny. Ani memiliki benjolan dileher serta dilipatan ketiak
kiri?
maknanya adalah nyonya Ani menderita Limponedopati yaitu
pembengkakan pada kelenjar limfa yang terjadi karena infeksi dari
mikroorganisme asing yang terbawa oleh pembuluh limfe dari
daerah yang terinfeksi ke daerah regional yang akan membengkak.
infeksi terebut menimbulkan hiperplasia, kelenjar getah bening yang
membengkak secara klinis ditandai dengan benjolan pada saluran
getah bening, yaitu di axila dextra et sinistra, regio colli, dan lain
sebagainya, kelenjar getah bening yang terinfeksi akan membesar,
lunak dan nyeri ketika ditekan, kulit pada daerah yang bengkak akan
merah dan teraba hangat. sesuai dengan keluhan Ny. Ani yaitu
keluhan pada daerah leher dan ketiak pada kanan dan kiri, yaitu
disebabkan karena pembesaran kelenjar getah bening pada daerah
leher dan ketiak.
e. Apa kemungkinan penyebab benjolan pada leher dan ketiak Ny.
Ani?

Kemunkinan benjolan di leher dan ketiak Ny.Ani disebabakn oleh


infeksi toksoplasma gondii karena mengkonsumsi sate daging
kambing yang kurang matang atau bisa juga karena kontaminasi dari
tinja kucing peliharaannya

f. Bagaimana patofisologi benjolan di leher dan lipatan ketiak kiri dan


kanan?

Pada garis besarnya sesuai dengan cara penularan dan gejala


klinisnya, toksoplasmosis dapat dikelompokkan atas:
toksoplasmosis akuisita (dapatan) dan toksoplasmosis kongenital.
Baik toksoplasmosis dapatan maupun kongenital, sebagian besar
asimtomatis atau tanpa gejala. Keduanya dapat bersifat akut dan
kemudian menjadi kronik atau laten. Gejalanya nampak sering tidak
spesifik dan sulit dibedakan dengan penyakit lain. Toksoplasmosis
dapatan biasanya tidak diketahui karena jarang menimbulkan gejala.
Tetapi bila seorang ibu yang sedang hamil mendapat infeksi primer,
ada kemungkinan bahwa 50% akan melahirkan anak dengan
toksoplasmosis kongenital. Gejala yang dijumpai pada orang dewasa
maupun anak-anak umumnya ringan. Gejala klinis yang paling
sering dijumpai pada toksoplasmosis dapatan adalah limfadenopati
dan rasa lelah, disertai demam dan sakit kepala (Ganda husada,
2003). Pada infeksi akut, limfadenopati sering dijumpai pada
kelenjar getah bening daerah leher bagian belakang. Gejala tersebut
di atas dapat disertai demam, mialgia dan malaise.

Ookista yang dikeluarkan dari tinja kucing, yang ikut tertelan secara
oral -> menghasilkan 2 sporokista yang masin-masing mengandung
4 sporozoit -> dibentuk kelompok trofozoit yang membelah secara
aktif dan disebut trakizoit -> terbentuk kista yang mengandung
bradizoit -> pada manusia takizoit (obligat intraseluler) ditemukan
pada infeksi akut dan dapat memasuki tiap sel yang berinti ->
takizoit berkembang biak didalam sel secara endodiogeni

g. Apa saja kemungkinan penyakit dengan benjolan di leher dan ketiak


kiri dan kanan?
1) Toksoplasmosis
2) Lymphadenitis
3) Tuberkulosis (TBC)
4) Kanker kelenjar getah bening
5) Limpoma
6) Struma
7) Abses di leher
8) Fibroadenoma
(Setiati S, 2014)
h. Bagaimana hubungan usia dan jenis kelamin pada kasus?
penderita berusia 40 tahun atau lebih dengan limfadenopati
mempunyai resiko keganasan sekitar 4%. Pada usia dibawah 40
tahun, resiko keganasan sebagai penyebab limfadenopati sebesar
0,4%. Limfadenopati yang belangsung kurang dari 2 minggu atau
lebih dari 1 tahun tanpa progresivitas ukuran mempunyai
kemungkinan sangat kecil bahwa etiologinya adalah keganasan.
Sedangkan, jenis kelamin seseorang tidaklah mempengaruhi
pembesaran kelenjar getah bening. Karena baik laki-laki maupun
perempuan dapat mengalami pembesaran kelenjar getah bening
(limfadenopati). (Oehadian, 2013)

2. Sejak 1 minggu yang lalu, Ny. Ani mengeluh demam tidak terlalu tinggi,
sakit kepala, nyeri otot, dan lesu. Ny. Ani belum pernah berobat
sebelumnya dan hanya minum obat warung untuk mengurangi keluhan.
a. Bagaimana patofisiologi demam tidak terlalu tinggi dan sakit
kepala?

mekanisme sakit kepala terjadi karena adanya mikroorganisme asing


yang masuk seperti bakteri dan parasit yang kemudian masuk
kedalam sel-sel dan jaringan yang berada di seluruh tubuh. Apabila
mikroorganisme asing ini sampai ke sel-sel yang berada di otak
menyebabkan sel tersebut terinfeksi mikroorganisme asing yang
mengakibatkan rasa sakit di kepala. Dan apabila infeksinya terus
berlanjut dapat menyebabkan penurunan tingkat kesadaran.

Infeksi/peradangan → Produksi Makrofag → Melepaskan pirogen


endogen → produksi prostaglandin → titik patokan hipotalamus
→ Inisiasi “respon dingin” → produksi panas meningkat dan
pengeluaran panas menurun → peningkatan suhu tubuh → Demam
(Sherwood, 2014).

b. Bagaimana patofisiologi nyeri otot dan lesu?

Makan daging kurang matang merupakan cara transmisi yang


penting untuk toxoplasa gondii, transmisi melalui ookista tidak
dapat diabaikan. Seekor kucing dapat mengeluarkan sampai 10 juta
butir ookista sehari selama 2 minggu. Bila ookista tertelan oleh
mamalia lain atau burung (hospes perantara), maka pada berbagai
jaringan hospes perantara ini dibentuk kelompok-kelompok trofozoit
yang membelah secara aktif dan disebut takizoit (tachyzoit = bentuk
yang membelah cepat). Takizoit dapat menginfeksi dan bereplikasi
seluruh sel pada mamalia kecuali sel darah merah. Kecepatan
takizoit toksoplasma membelah berkurang secara berangsur dan
terbentuklah kistayang mengandung bradizoit (bentuk yang
membelah perlahan); masa ini adalah masa infeksi klinis menahun
yang biasanya merupakan infeksi laten. Pada hospes perantara tidak
dibentuk stadium seksual, tetapi dibentuk stadium istirahat, yaitu
kista jaringan. Jika kista jaringan yang mengandung bradizoit atau
ookista yang mengandung sporozoit tertelan oleh pejamu, maka
parasit akan terbebas dari kista oleh proses pencernaan. Bradizoit
resisten terhadap efek dari pepsin dan menginvasi traktus
gastrointestinal pejamu. Di dalam eritrosit, parasit mengalami
transformasi morfologi, akibatnya jumlah takizoit invasive
meningkat. Takizoit ini mencetuskan respon igA sekretorik spesifik
parasit. Dari traktus gastrointestinal, parasit kemudian menyebar ke
berbagai organ, terutama jaringan limfatik, otot lurik sehingga
menyebabkan nyeri otot, miokardium, retina, plasenta dan SSP dan
peningkatan sel T supresor dan penurunan ratio sel T helper- sel T
supresor sehingga jumlah sel T helper yang lebih sedikit sehingga
badan menjadi lesu. (Setiati S, 2014)

c. apa makna Ny. Ani belum pernah berobat sebelumnya dan hanya
minum obat warung untuk mengurangi keluhan?

Maknanya obat yang dikonsumsi oleh Ny.Ani hanya untuk


mengurangi gejalanya saja/simpomatis dan tidak membunuh
T.Gondii yang merupakan penyebab utama dari keluhan

d. Apa resiko minum obat warung untuk mengurangi keluhan?

Karena obat warung bukan berdasarkan resep dokter, resiko yang


dapat terjadi adalah timbul gejala dan penyakit yang baru dan tidak
menjamin efektivitas obat tersebut.

e. Bagaimana hubungan keluhan utama dan keluhan tambahan?

Benjolan pada leher dan ketiak merupakan manifestasi klinik dari


limfadenitis. Dimana limfadenitis dapat bermanifestasi sebagai :
1) Limfa denopati, terutama servikal dan biasanya nonsupuratif
dan tidak nyeri tekan
2) Suatu penyakit menyerupai influenza dengan demam ringan
3) Gejala dan tanda dapat hilang timbul, namun sembuh dalam
beberapa bulan

f. Apa kemungkinan obat warung yang dikonsumsi oleh Ny. Ani?

Karena pada kasus, Ny. Ani mengalami demam, sakit kepala, nyeri
otot, dan lesu , maka kemungkinan obat yang dikonsumsi yaitu :

1. Asam mefenamat
Termasuk ke dalam kelompok anti inflamasi atau pereda nyeri
serta radang yang bekerja dengan menghambat sintesa
prostaglandin dalam jaringan sehingga menimbulkan efek
analgesik (menghambat reseptor atau penerima rangsangan) yang
akan dirasakan oleh tubuh. Sangat disarankan untuk
menggunakan obat ini secara oral.
Efek samping yang mungkin akan ditimbulkan dari
pengkonsumsian obat jenis ini antara lain adalah masalah
pencernaan khususnya pada bagian lambung, sakit kepala, pusing,
mengantuk, tegang dan mungkin gangguan penglihatan.
2. Parasetamol
Perkembangan untuk mendapatkan obat yang mengandung sifat
analgetik tetapi tetap aman menghasilkan penemuan yang berupa
obat yang dinamakan parasetamol. Obat ini terindikasi mampu
meredakan nyeri tanpa mempengaruhi sistem saraf pusat atau
dengan kata lain menghilangkan kesadaran. Merupakan obat
analgetik paling aman yang pernah ditemukan karena tidak akan
menimbulkan efek ketergantungan dan ketagihan. Mampu
meredakan berbagai penyakit seperti demam, pilek dan infeksi
kuman atau virus.
Efek samping yang mungkin akan pasien alami apabila
mengkonsumsi obat jenis parasetamol antara lain adalah iritasi,
pendarahan lambung dan gangguan pada pernafasan. Penggunaan
yang berlebihan mampu membawa pasien ke dalam penyakit
kerusakan hati yang parah. Aman digunakan untuk ibu menyusui
dan hamil meski dalam beberapa keadaan terbukti bahwa
parasetamol dapat membuat susu yang dihasilkan oleh ibu
menjadi lebih cair.
3. Aspirin
Selain berfungsi sebagai analgetik, obat jenis aspirin dapat
digunakan sebagai obat antipiretik atau demam dan juga obat anti
inflamasi atau peradangan. Dapat digunakan dalam dosis rendah
dan jangka waktu yang lama untuk mencegah serangan jantung.
Bekerja dengan menghambat rangsangan pada reseptor rasa sakit
hingga menimbulkan efek analgetik. Rangsangan yang diterima
tidak akan diteruskan ke sistem jaringan saraf pusat karena efek
analgetik dari aspirin yang menghambat kerja dari bagian neuron
atau reseptor (penerima) rangsangan pada tubuh.
Efek samping yang mungkin akan dialami oleh pasien apabila
menggunakan obat jenis aspirin antara lain adalah sakit kepala,
perubahan mental, pusing dan limbung, serta amnesia dan susah
untuk tidur. Kerusakan hati serta ginjal akan terjadi apabila
penggunaan obat tidak sesuai dengan dosis yang diberikan dan
dalam jangka waktu yang lama.
4. Ibuprofen
Efek analgetik yang diberikan oleh jenis obat ibuprofen mirip
dengan aspirin. Hanya saja ibuprofen tidak dianjurkan untuk
dikonsumsi oleh ibu hamil serta menyusui karena dosisnya yang
cukup tinggi. Mekanisme kerja dari ibuprofen dilakukan dengan
menghambat sintesa prostaglandin hingga neuron tidak menerima
rangsangan rasa sakit.
Efek samping yang mungkin akan dialami oleh pasien apabila
mengkonsumsi obat jenis ibuprofen antara lain adalah sakit kepala
dan pusing, mual atau muntah, diare, konstipasi dan kemungkinan
sakit kuning apabila penggunaan obat tidak sesuai anjuran dokter
dan dalam jangka waktu yang lama serta terus – menerus. Pasien
dengan riwayat penyakit hipersensitivitas atau alergi, asma dan
rinitis atau pembengkakan pada selaput lendir di hidung yang
parah tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi obat jenis ibuprofen.
5. Natrium Diklofenak
Bekerja dengan menghambat sensor nyeri dan demam hingga
menyebabkan efek analgetik. Mengurangi rasa nyeri secara
spontan dan bersamaan dengan penyembuhan bengkak dan
demam. Efek samping yang mungkin dialami oleh pasien apabila
mengkonsumsi obat ini antara lain adalah gangguan pada saluran
pencernaan khususnya lambung, depresi, sakit kepala, cemas,
insomnia, dan gangguan fungsi ginjal apabila digunakan oleh
pasien dalam jangka waktu yang lama serta terus menerus tanpa
anjuran dari dokter. Pasien degan riwayat yang memiliki penyakit
seperti hipersensitivitas atau alergi, asma, tukak lambung aktif
tidak disarankan untuk mengambil obat ini sebagai bahan obat
untuk dikonsumsi. (MIMS, 2010)

3. Selama ini Ny. Ani diketahiu senang mengonsumsi sate daging kambing
yang kurang matang dan memiliki kebiasaan memelihara kucing.Ny.

a. Apa makna Ny. Ani senang mengonsumsi sate daging kambing


yang kurang matang dan memiliki kebiasaan memelihara kucing?

Maknanya,Ny. Ani terinfeksi parasit tokso plasma gondii melalui


akuisita (dapatan) dimana manusia dapat terinfeksi oleh tokso
plasma gondii dengan berbagai cara misalnya makan daging mentah
atau kurang masak yang mengandung kista tokso plasma gondii,
ternakan atau tertelan ookista dari tinja kucing. Ny. Ani juga
memiliki kebiasaan memelihara kucing dimana kucing merupakan
hospes definitive dari tokso plasma gondii. Kucing akan mengeluar
kan ookista bersamaan dengan tinjanya.
b. Apakah ada hubungan Ny. Ani senang mengonsumsi sate daging
kambing yang kurang matang dan memiliki kebiasaan memelihara
kucing dengan keluhan utama?

Manusia dapat terkena infeksi melalui tiga cara, Toxoplasma gondii


berada dalam tiga bentuk utama, yaitu : ookista, tachizoit dan
bradizoit Ookista dikeluarkan melalui tinja. karena tinja Ookista
yang terdapat dalam tinja kucing berisi dua sporokista, yang masing-
masing mengandung empat sporozoit. Bila tertelan oleh hewan atau
manusia akan berkembang menjadi tachyzoit ( trofozoit ). Tachyzoit
berbentuk seperti bulan sabit yang dapat dengan cepat
memperbanyak diri.
Seekor kucing dapat mengeluarkan sampai 10 juta ookista sehari
selama 2 minggu. Ookista dapat hidup di tanah. Cacing tanah
mencampur ookista dengan tanah, kecoa, lalat dapat menjadi vektor
mekanik yang dapat memindahkan ookista dari tanah atau lantai ke
makanan. (Basavaraju A, 2016)
Penularan terhadap manusia terutama terjadi apabila tertelan daging
babi atau domba yang mengandung kista jaringan atau apabila
menelan daging dimasak tidak matang. Jika kista jaringan yang
mengandung bradizoit atau ookista tertelan pejamu, maka parasit
akan terbebas dari kista dalam proses pencernaan. Bradizoitini
resisten terhadap efek dari pepsin dan menginvasi traktus
gastrointestinal pejamu. Dalam eritrosit parasit mengalami
transformasi morfologi, akibatnya jumlah takizoit invasif
meningkat. Takizoit ini mencetuskan respon IgA sekretorik spesifik
parasit. Dari traktus gastrointestinal,kemudian parasit menyebar ke
berbagai organ, terutama jaringan limfatik, otot lurik, miokardium,
retina, plasenta dan sistem saraf pusat (SSP). Di tempat-tempat
tersebut, parasit menginfeksi sel pejamu, bereplikasi, dan
menginvasi sel yang berdekatan. Terjadilah proses yang khas yakni
kematian sel dan nekrosis fokal yang dikelilingi respon inflamasi
akut. (Soleimani A, 2015)

c. Apa saja dampak mengosumsi daging yang kurang matang dan


kebiasaan memelihara kucing?

Manusia dapat terinfeksi parasit ini bila memakan daging yang


kurang matang atau sayuran mentah yang mengandung ookista atau
pada anak-anak yang suka bermain di tanah, serta ibu yang gemar
berkebun dimana tangannya tertempel ookista yang berasal dari
tanah. Perkembangan parasit dalam usus kucing menghasilkan
ookista yang dikeluarkan bersama tinja. Ookista menjadi matang
dan infektif dalam waktu 3-5 hari di tanah. Ookista yang matang
dapat hidup setahun di dalam tanah yang lembab dan panas, yang
tidak terkena sinar matahari secara langsung. Ookista yang matang
bila tertelan tikus, burung, babi, kambing, atau manusia yang
merupakan hospes perantara, dapat menyebabkan terjadinya infeksi.
(Montoya JG, 2004)

Pada ibu hamil yang mengalami infeksi primer, mula-mula akan


terjadi parasitemia, kemudian darah ibu yang masuk ke dalam
plasenta akan menginfeksi plasenta (plasentitis). Infeksi parasit
dapat ditularkan ke janin secara vertikal. Takizoit yang terlepas akan
berproliferasi dan menghasilkan fokus-fokus nekrotik yang
menyebabkan nekrosis plasenta dan jaringan sekitarnya, sehingga
membahayakan janin dimana dapat terjadi ekspulsi kehamilan atau
aborsi. (Erna Suparman, 2012)

d. Apa saja klasifikasi toksoplasmosis?

Kingdom : Protista
Subkingdom : Protozoa
Phylum : Apicomplexa
Class : Sporozoasida
Ordo : Eucoccidiorida
Subordo : Eimeriorina
Family : Sarcocystidae
Subfamily : Toxoplasmatidae
Genus : Toxoplasma
Spesies : Toxoplasma gondii
(lavine, 2008)
e. Bagaimana patofisologi toksoplasmosis?

f. Bagaimana siklus hidup toksoplasmagondii?

Di dalam usus kecil kucing sporozoit menembus sel epitel dan


tumbuh menjadi trofozoit. Inti trofozoit membelah menjadi banyak
sehingga terbentuk skizon. Skizon matang pecah dan menghasilkan
banyak merozoit (skizogoni). Daur aseksual ini dilanjutkan dengan
daur seksual. Merozoit masuk ke dalam sel epitel dan membentuk
makrogametosit dan mikrogametosit yang menjadi makrogamet dan
mikrogamet (gametogoni). Setelah terjadi pembuahan terbentuk
ookista, yang akan dikeluarkan bersama tinja kucing. Di luar tubuh
kucing, ookista tersebut akan berkembang membentuk dua
sporokista yang masing-masing berisi empat sporozoit (sporogoni)
(Krahenbuhl dan Remington, 1982). Bila ookista tertelan oleh
mamalia (manusia) maka di dalam tubuh hospes perantara akan
terjadi daur aseksual yang menghasilkan takizoit. Takizoit akan
membelah, kecepatan membelah takizoit ini berkurang secara
berangsur kemudian terbentuk kista yang mengandung bradizoit.
Bradizoit dalam kista biasanya ditemukan pada infeksi menahun
(infeksi laten).

g. Bagaimana faktor resiko dari toksoplasmosis?


Terjadi korioretinitis (penglihatan kabur, skotoma, nyeri, fotofobia,
dan epifora), hidrosefalus, mikrosefalus, anemia, ikterus,
hipotermia, trombositopenia, dan pneumonitis. (Reksodiputro, 2015)

 Kebiasaan kontak dengan kucing


 Kebiasaan konsumsi daging yang kurang matang
 Kontak dengan tanah
 Kebiasaan konsumsi sayuran tidak dimasak

(Setiati S, 2014)

4. Ny. Ani memiliki riwayat keguguran 2 bulan yang lalu. Ny. Ani tidak
mempunyai riwayat kontak dengan pasien TB. Di dalam keluarg Ny. Ani
tidak ada riwayat keganasan. Riwayat batuk lama dan konsumsi obat 6
bulan disangkal.
a. Apa makna Ny. Ani memiliki riwayat keguguran 2 bulan yang lalu?

Pada wanita yang terinfeksi Toxoplasma gondii, selama kehamilan


akan meneruskan infeksinya kepada janin yang dikandung melalui
tali plasenta dan menimbulkan infeksi, janin yang dikandung
mengalami keguguran atau bayi lahir namun mengalami beberapa
gangguan baik cacat fisik maupun nonfisik. Cacat fisik seperti
hidrosepalus, mikrosepalus, anggota badan tidak lengkap, usus
keluar dari perut, dan lainnya. Sedangkan pada kasus nonfisik
seperti menyerang sel syaraf otak, pengkapuran otak, idiot, dan
lainnya. Toksoplasmosis dapat mengakibatkan cacat seumur hidup
pada anak yang terinfeksi (Juanda, 2013)

b. Apa makna Ny. Ani tidak mempunyai riwayat kontak dengan pasien
TB?

Maknanya adalah Ny. Ani kemungkinan tidak terinfeksi bakteri


yang menyebabkan TB, dikarenakan salah satu cara penularan TB
tidak terjadi pada Ny. Ani yaitu kontak pasien TB.
c. Bagaimana patofisiologi Ny. Ani mengalami keguguran?

pada ibu hamil yang mengalami infeksi primer, mula mula akan
terjadi parasitemia, kemudian darah ibu yang masuk ke dalam
plasenta akan menginfeksi plasenta. Infeksi parasit dapat ditularkan
ke janin secara vertical. Takizoit yang terlepas akan berproliferasi
dan menghasilkan focus-fokus nekrotik yang menyebabkan nekrosis
plasenta dan jaringan sekitarnya sehingga membahayakan janin dan
terjadi keguguran (Erna, 2012)

d. Apa makna riwayat batuk lama dan konsumsi obat 6 bulan


disangkal?

Maknanya, selama 6 bulan terakhir Ny. Ani tidak mengalami batuk


lama dan mengkonsumsi obat sedangkan orang yang terkena
penyakit TB memiliki gejala batuk lama dan harus mengonsumsi
obat. Sehingga kita dapat menyingkirkan diagnosis penyakit TB.

5. Pemeriksaan fisik:
keadaan umum: compos mentis
Tanda vital: Nadi: 100x/menit, RR: 22x/menit, Temp.: 37,5ºC, TD
120/80 mmHG
Kepala: Konjungtiva pucat (-/-), Rinorea (-), Faring tenang, Tonsil: T1-
T1
Leher: Terdapat benjolan multiple pada regio coli dextra et sinistra
diameter berkisar 0,5-1 cm, teraba hangat, kenyal, nyeri tekan (+),
mobile, warna sama dengan sekitar.
Thoraks: simetris, retraksi (-)
 Paru-paru : vesikuler (+) normal, ronki (-), wheezing (-)
 Jantung : bunyi jantung I dan II normal, murmur (-), gallop(-)
Abdomen : datar, lemas, bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak
teraba.
Ekstremitas :
- Regio akilaris dextra et sinistra teraba benjolan multiple pada regio coli
dextra et sinistra diameter berkisar 0,5-1 cm, teraba hangat, kenyal, nyeri
tekan (+), mobile, warna sama dengan sekitar.

a. Bagaimana interptretasi dari pemeriksaan fisik?

Hasil pemeriksaan Nilai normal Interprestasi


fisik

Kesadaran Compos Compos mentis Normal


mentis

Tekanan darah 120/80 120/80 mmHg Normal


mmHg

Kecepatan pernapasan 16-24x/menit Normal


22x/menit

Suhu 37,5oC 36,5-37,2oC Demam


(hipertermi)

Nadi 110x/menit 60-100x/menit Takikardi

Hasil Pemeriksaan Fisik Interpretasi

Konjungtiva pucat (-/-) Normal

rinorea (-) Normal

Kepala faring tenang Normal

tonsil: T1-T1 Normal


Leher benjolan multiple pada Abnormal (terjadi
regio coli dekstra et pembesaran kelenjar
sinistra diameter getah bening)
berkisar 0,5-1 cm,
teraba hangat, kenyal,
nyeri tekan (+), mobile,
warna sama dengan
sekitar.
Thorax Simetris dan retraksi (-) Normal

Paru Vesikuler (+) Nomal


normal, Ronki (-
),Wheezing (-)
Jantunng Bunyi Normal
jantung I dan II normal
murmur (-), gallop (-)
Datar Normal
Abdomen
Lemas Normla

Bising usus (+) Normal

Hepar dan lien tidak Normal


teraba
Ekstremitas Regio aksilaris dextra et Abnormal (terjadi
sinistra teraba benjolan pembesaran kelenjar
multiple regio coli getah bening)
dekstra et sinistra
diameter verkisar 0,5-1
cm, teraba hangat,
kenyal, nyeri tekan (+),
mobile, warna sama
dengan sekitar.
b. Bagaimana mekanisme dari dari pemeriksaan fisik yang abnormal?

Infeksi parasit toxoplasma gondii  kelenjar getah bening


menghasilkan sel-sel pertahanan tubuh yang lebih banyak untuk
mengatasi antigen  kelenjar getah bening membesar.

6. Pemeriksaan laboratoriom:
Darah rutin : Hb: 12,2 gr/dl, trombosit 280. 000/mm3, leukosit 12.
000/mm3, LED 15 mm/jam, diff count 0/0/5/83/8/4

a. Bagaimana interptretasi dari pemeriksaan laboratorium?

Hasil pemeriksaan Kadar normal Interprestasi


Lab
Hemoglobin 12,2 Pria: 13-18 g/Dl Normal
g/dL
Wanita: 12-16 g/Dl

Trombosit 170.000 – 380.000 Normal


280.000/mm3 /mm3

Leukosit 12.000/ 3.200-10.000 /mm3 Abnormal


mm3 (Hiperleukosit)

LED 15 mm/jam neonatus : 0-2 Normal


mm/jam

anak-anak : 0-10
mm/jam wanita
dewasa : 0-20
mm/jam

wanita usia > 50


tahun : 0-30 mm/jam
pria dewasa : 0-15
mm/jam pria usia >
50 tahun : 0-20
mm/jam

Diff count Basofil 0-1 % Basofil: normal


0/0/5/83/8/4. Eusinofil 1-3 % Eusinofil: eosipenia
N.batang 2-6 % Netrofil batang:
N. segmen 40-70% normal
Limfosit 20-40 % Netrofil Segmen:
Monosit 2-8% netrofili
Limfosit: limfopenia
Monosit: normal

b. Bagaimana mekanisme dari dari pemeriksaan laboratorium yang


abnormal?

Leukositosis :
secara umum merupakan peningkatan jumlah leukosit dalam darah.
Leukosit terdiri atas enam sel: yaitu netrofil polimorfonuklear,
eosinofil polimorfonuklear, basofil polimorfonuklear, monosit,
limfosit,dan sel plasma.Leukosit merupakan seldarah yang berperan
dalam tubuh untuk menangkal berbagai agen-agen infeksi,seperti
virus dan bakteri. Dalam proses infeksi peningkatan sel-sel leukosit
akan terjadi karena tubuh mencoba mengompensasi kerusakan
jaringan akibat infeksi tersebut. Sel-sel polimorfonuklear dari
leukosit (granulosit) yang dilepaskan dari sumsum tulang normalnya
memiliki masa hidup 4-8 jam dalam sirkulasi darah dan 4-5 hari
berikutnya dalam jaringan yang membutuhkan. Dalam infeksi yang
lebih berat, granulosit akan bekerja lebih cepat di jaringan yang
terinfeksi dan masa hidup dari granulosit akan menurun drastis.
Oleh karena itu, selama infeksi terjadi akan terjadi mekanisme yang
mendorong pembuatan leukosit untuk meningkatkan jumlah leukosit
guna menyokong penanggulangan infeksi. Peningkatan darisel-sel
leukosit inilah yang disebut dengan leukositosis dan hal ini menjadi
salah satu indikasi terjadinya infeksi. (Simamora, 2015)
Hb meningkat :
Leukosit serta sel darah merah normal diproduksi secara bersamaan
dari sumsum tulang belakang. Dikarenakan leukosit diproduksi
lebih, sel darah merah mengalami penurunan dimana sel darah
merah mengandung hb.
7. Pemeriksaan serologi: IgM 400 mg/dl; IgG 1100 mg/dl

Pemeriksaan MRI kepala: didapatkan lesi multiple berbentuk bulat


dengan batas tegas (ring enhancing lession)

a. Bagaimana interpretasi pemeriksaan serologi dan pemeriksaan MRI


kepala?

Pemeriksaan serologi: IgM 400 mg/dl; IgG 1100 mg/dl

IgM dan IgG tinggi menunjukkan bahwa Ny. Ani pernah


mengalami toksoplasmosis dan sekarang juga mengalami
toksoplasmosis. Dapat dibuktikan dengan riwayat keguguran 2 bulan
yang lalu.

Pemeriksaan MRI kepala: didapatkan lesi multiple berbentuk bulat


dengan batas tegas (ring enhancing lession)

Dari pemeriksaan MRI kepala dapat disimpulkan bahwa terjadi


toksoplasmosis cerebri

8. Bagaimana cara mendiagnosis?

1. Anamnesis
Pasien mengeluh terdapat benjolan di leher serta di lipatan ketiak
kiri dan kanan demam tidak terlalu tinggi, sakit kepala, nyeri otot,
dan lesu. Ny. Ani diketahui senang mengkonsumsi daging kambing
yang kurang dan memiliki kebiasaan memelihara kucing. Ny. Ani
memiliki riwayat keguguran 2 bulan yang lalu. Ny. Ani tidak
mempunyai riwayat kontak dengan pasien TB. didalam keluarga ny.
Ani tidak ada riwayat keganasan. Riwayat batuk lama dan konsumsi
obat 6 bulan disangkal.
2. Pemeriksaan fisik
Leher : limfadenitis pada regio coli
Ekstrimitas : limfadenitis terdapat pada regio axilaris dextra et sinistra
3. Pemeriksaan laboratorium
Leukosit : 12.000/ 𝑚𝑚3 : leukositosis
Diff count :
Eosinofil 0% : eosipenia
Neutrofil segmen 83% : neutrofilia
Limfosit 8% : limfopenia
4. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan serologi: IgM 400 mg/dl; IgG 1100 mg/dl

IgM dan IgG tinggi menunjukkan bahwa Ny. Ani pernah


mengalami toksoplasmosis dan sekarang juga mengalami
toksoplasmosis. Dapat dibuktikan dengan riwayat keguguran 2 bulan
yang lalu.

Pemeriksaan MRI kepala: didapatkan lesi multiple berbentuk bulat


dengan batas tegas (ring enhancing lession)

Dari pemeriksaan MRI kepala dapat disimpulkan bahwa terjadi


toksoplasmosis cerebri

9. Bagaimana diagnosis banding?

- Toksoplasmosis
- Toksoplasmosis cerebri

- limfoma

10. Apa diagnosis kerja pada kasus?

Toksoplasmosis et causa toksoplasma gondii

11. Apa pemeriksaan penunjang pada kasus?

Pemeriksaan CT Scan otak pada pasien dengan Ensefalitis Toksoplasma


(ET) menunjukkan gambaran menyerupai cincin yang multipel pada 70-
8000 kasus. Pada pasien dengan AIDS yang telah terdeteksi dengan IgG
Toksoplasma gondii dan gambaran cincin yang multipel pada CT Scan
sekitar 80° 0 merupakan TE. Lesi tersebut terutama berada pada ganglia
basal dan corticomedullaryjunction.

Selain itu, spesimen untuk pemeriksaan T. gondii umumnya dengan


tindakkan invasif seperti biopsi otak, liquid cerebrospinal (LCS)
sehingga perlu dikembangkan metode pengambilan sampel yang bersifat
non-invasif seperti dari urine. Sampel urine mudah diambil dengan risiko
minimal dan tidak menyakitkan penderita, dan dapat dilaksanakan di
daerah pedesaan dan terpencil. (Hu X, 2012)

Penggunaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dalam mendeteksi


Toksoplasma gondii telah digunakan dewasa ini. Dengan teknik ini dapat
dibuat diagnosis dini yang cepat dan tepat untuk toksoplasmosis
kongenital prenatal dan postnatal dan infeksi Toksoplasmosis akut pada
wanita hamil dan penderita imunokompromais. Spesimen tubuh yang
digunakan adalah cairan tubuh termasuk cairan serebrospinal, cairan
amnion, dan darah. J ose E Vidal et al mendapatkan bahwa PCR
memiliki sensitivitas yang tinggi yaitu 100% dengan spesifitas 94,4 %.
Lamoril J et al menunjukkan bahwa PCR memiliki spesititas yang rendah
bila bahan yang diambil berasal dari darah. PCR juga menjadi negatif
apabila sebelum dilakukan PCR pasien telah diberikan pengobatan.
(Reksodiputro, 2015)

Pemeriksaan sediaan mikroskopis, untuk menemukan ookista yang di


dalam tinja kucing, atau takizoit didalam eksudat peritoneal atau biakan
jaringan, Toxoplasma dapat ditemukan didalam usapan dari irisan
jaringan atau eksudat yang diwarnai. Uji warna masih paling
memuaskan sampai saat ini.

Pemeriksaan darah atau jaringan tubuh penderita (histopatologi)


Diagnosis dapat ditegakkan jika ditemukan parasit di dalam jaringan
atau cairan tubuh penderita. Hal ini dilakukan dengan cara menemukan
secara langsung parasit yang diambil dari cairan serebrospinal, atau
hasilbiopsijaringantubuh yang lainya. Namun diagnosis berdasarkan
penemuan parasit secara langsung jarang dilakukan karena kesulitan
dalam hal pengambilan spesimen yang akan diteliti. (Suriantika, 2013)

12. Bagaimana tatalaksana pada kasus?

Farmakologis:

Obat-obat yang dipakai sampai saat ini hanya membunuh bentuk takizoit
T. gondii dan tidak membasmi bentuk kistanya, sehingga obat-obat ini
dapat memberantas in feksi akut, tetapi tidak dapat menghilangkan
infeksi menahun, yang dapat menjadi aktif kembali.

Pirimetamin dan sulfonamid bekerja secara sinergistik, maka dipakai


sebagai kombinasi selama 3 minggu atau sebulan. Pirimetamin menekan
hemopoiesis dan dapat menyebabkan trombositopenia dan leukopenia.
Untuk mencegah efek sampingan ini, dapat ditambahkan asam folinik
atau ragi. Pirimetamin bersifat teratogenik, maka obat ini tidak
dianjurkan untuk wanita hamil.

Pirimetamin diberikan dengan dosis 50-75 mg sehari untuk dewasa selam


3 hari dan kemudian dikurangi menjadi 25 mg sehari (0,5-1 mg/
kgBB/hari) selama beberapa minggu pada penyakit berat. Karena
halflifenya adalah 4-5 hari, pirimetamin dapat diberikan 2 kali/hari atau
3-4 kali sekali. Asam folinik diberikan 2-4 mg sehari. Sulfonamide dapat
menyebabkan trombositopenia dan hematuria, diberikan dengan dosis
50-100 mg/kgBB/hari selama beberapa minggu atau bulan.

Spiramisin adalah antibiotika makrolid, yang tidak menembus plasenta,


tetapi ditemukan dengan konsentrasi tinggi di plasenta. Spiramisin
diberikan dengan dosis 100 mg/kgBB/hari selama 30-45 hari. Obat ini
dapat diberikan pada wanita hamil yang mendapat infeksi primer, sebagai
obat protilaktik untuk mencegah transmisi T. gondii ke janin dalam
kandungannya.

Klindamisin efektif untuk pengobatan toksoplasmosis, tetapi dapat


menyebabkan kolitis pseudomembranosa atau kolitis ulserativa, maka
tidak dianjurkan untuk pengobatan rutin pada bayi dan wanita hamil.
Kortikosteroid digunakan untuk mengurangi peradangan pada mata,
tetapi tidak dapat diberikan sebagai obat tunggal.

Obat makrolid lain yang efektif terhadap T. gondii adalah klaritromisin


dan azitromisin yang diberikan bersama pirimetamin pada penderita
AIDS dengan ensefalitis toksoplasmik. Obat yang baru adalah
hidroksinaftokuinon (atovaquone) yang bila dikombinasi dengan
sulfadiazin atau obat lain yang aktif terhadap T. gondii, dapat membunuh
kista jaringan pada mencit. Tetapi hasil penelitian pada manusia masih
ditunggu. Toksoplasmosis akuisita yang asimtomatik tidak perlu
diberikan pengobatan. Penderita imunokompromais (AIDS, keganasan)
yang terjangkit toksoplasmosis akut harus dibeli pengobatan.

(Reksodiputro, 2015)

Non farmakologis:

a) Menghindari bahan yang terkontaminasi ookista


b) Tidak memakan daging yang kurang matang

c) Daging harus dimasak hingga 60ºC atau dibekukan untuk


mematikan kista

d) Tangan harus dicuci bersih setelah berkebun

e) Semua buah-buahan serta sayuran harus dicuci dahulu

(Isselbacher, 2012)

13. Bagaimana komplikasi pada kasus?

1) Kebutaan. Kondisi ini terjadi pada penderita toksoplasmosis yang


mengalami infeksi mata, yang tidak diobati dengan sempurna.
2) Ensefalitas. Infeksi otak serius dapat terjadi pada penderita
toksoplasmosis dengan system imunitas rendah karena pnyakit
HIV/AIDS
3) Gangguan pendengaran, gangguan pengelihatan, retardasi mental.

14. Apa prognosis pada kasus?

Toksoplasma akut untuk pasien imunokompeten mempunyai prognosis


yang baik. Toksoplasmosis pada bayi dan janin dapat berkembang
menjadi retinokoroiditis. Toksoplasmosis kronik asimtomatik dengan
titer antibedi yang persisten, umumnya mempunyai prognosis yang baik
dan berhubungan erat dengan imunitas seseorang. Toksoplasmosis pada
pasien imunodeflsiensi mempunyai prognosis yang buruk.
(Reksodiputro, 2015)

15. Apa SKDU?

3A Bukan gawat darurat


Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi
pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat. Lulusan dokter mampu
menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien
selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah
kembali dari rujukan.

16. Apa nilai-nilai islam pada kasus?

a. Al-baqarah (2): 168

‫ما كلوا النَّاسُ أَيُّ َها يَا‬


َّ ‫ضُ فِي ِم‬ِ ‫خط َواتُِ َت َّت ِبعوا َولَا َط ِيبًا َحلَالًا الْأَ ْر‬
ُ‫ان‬
ِ ‫شيْ َط‬
َّ ‫م إِنَّهُ ُۚال‬
ُْ ‫ُم ِبين َعدوُ لَك‬
Terjemah Arti: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik
dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah
musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah : 168)
b. Al-Baqarah (2) : 222
...Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan
menyukai orang-orang yang mensucikan diri.

2.7 Kesimpulan

Ny. Ani memiliki benjolan pada regio colidan regio axilaris dextra et
sinistra serta sakit kepala, nyeri otot dan lesu karena mengalami
toksoplasmosis

2.8 Kerangka Konsep

Mengkonsumsi daging kambing


memelihara kucing
kurang matang

Mengandung kista jaringan Terdapat ookista

Terinfeksi toksoplasma gondii


Terinfeksi toksoplasma gondii

Benjolan di regio coli dan axilaris


dextra et sinistra

DAFTAR PUSTAKA

Basavaraju A. 2016. Toxoplasmosis in HIV Infection: An Overview. Tropical


Parasitology. 6(2):129-135

Erna Suparman. 2012. Toksoplasmosis Dalam Kehamilan. Jurnal Biomedik,


Volume 4, Nomor 1.

Eroschenko VP. 2010. Atlas Histologi diFiore dengan Korelasi Fungsional Edisi
11. Jakarta: EGC.

Ganda Husada, Susanto I. 1990. kumpulan makalah simposium toksoplasmosis.

Hu X, Pan CW, Li YF, Wang H, Tan F. 2012. Urine sample used for detection of
toxoplasma gondii infection by loop-mediated isothermal amplification
(LAMP). Folia Parasitol (Praha). Available from: http://
www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22439424

Isselbacher dkk. 2012. Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Alih


bahasa Asdie Ahmad H., Edisi 13, Jakarta: EGC

Juanda IR H A. 2013. TORCH (Toxo, Rubella, CMV, dan Herpes) Akibat dan
Solusinya. Bogor : Yayasan Aquatreat Therapy Indonesia.
Kinik, S.T., Alehan, F., Erol, I. and Kanra, A.R. 2010. Obesity and Paediatric
Migraine. International Headache Society. Cephalalgia 30: 105.

Krahenbuhl. J.L and Remington J.S., 1982. The Immunology of Toxoplasma and
toxoplasmosis. 2nd Edition. Blackwell Scientific publications. Oxford.
London. Edinburgh. Boston. Melbourne

Laksmi K. Wardhani, Widodo Ario Kentjono. 2010. Aliran Limfatik Daerah


Kepala Dan Leher Serta Aspek Klinisnya. Jurnal UNAIR

MIMS, 2010, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 9 2009/2010, PT.


Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia), Jakarta

Montoya JG, Liesenfeld O. Toxoplasmosis. Lancet. 2004;363:1965-76)

Oehadian, A. 2013. Pendekatan Diagnosis Limfadenopati. Jurnal continuing


medical education. Vol. 44 no. 10
Reksodiputro, dkk. 2015. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna
Publishing

Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Stiyohadi B, Syam AF. Buku ajar ilmu penyakit
dalam jilid I. VI. Jakarta: Interna Publishing; 2014

Sherwood, L. 2014. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem. Edisi 8. Jakarta: EGC.

Simamora, Benedictus Brynt. 2015. LeukositosisDalam Proses Infeksi. Surakarta:


FK Universitas Sebelah Maret.
Soleimani A, Bairami A. Cerebral Toxoplasmosis in A Patient Leads to Diagnosis
of AIDS. Asian Pacific Journal of Tropical Disease. 2015 July; 5(8):667-8

Suriantika, cipto. 2013. ParasitologiToksoplasmaGondii. Jakarta: Unmuh Prof.


dr. Hamka.