Anda di halaman 1dari 11

1

Berdasarkan banyaknya kasus, Maluku masih belum dapat diterima


lemahnya sanksi dan banyaknya oleh pihak Komisi Pemilihan Umum
dampak yang merugikan akibat (KPU). Selain BNN, KPU Maluku
penyalahgunaan narkoba maka menunjuk tiga rumah sakit untuk tes
banyak instansi-instansi terkait yang urine bacaleg dari 16 parpol peserta
mengharuskan para pelamar pekerja pemilu, yaitu Rumah Sakit Karel
untuk melampirkan surat keterangan Sadsuitubun Langgur, RSUD Masohi
bebas narkoba sebagai salah satu dan Rumah Sakit Khusus Daerah
persyaratan yang harus dipenuhi. 2 Maluku. Ketiga rumah sakit ini
Proses pembuatan Surat direkomendasikan oleh Ikatan Dokter
Keterangan Bebas Narkoba (SKBN) Indonesia (IDI) Maluku. Pengawasan
dipandang krusial, tetapi tidak tes urin di ketiga rumah sakit itu tidak
memiliki kekuatan hukum, karena berjalan ketat, sehingga membuka
belum memenuhi aspek medikolegal. ruang untuk terjadinya kecurangan
Selain itu, aspek legalitas Surat yang ditandai dengan hasil tes urin
Keterangan Bebas Narkoba masih negatif pada semua bacaleg. Padahal,
menuai masalah. Berbagai prosedur ada bakal calon legislatif yang
pemeriksaan laboratorium narkoba tersandung kasus narkoba. Menurut
belum memenuhi standar pelayanan keterangan Kepala BNN Provinsi
minimal, sehingga akan Maluku, Brigjen Rusno Prihardito
mempengaruhi validitas hasil bahwa pemeriksaan urine sebaiknya
pemeriksaan narkoba. Hal ini melalui satu pintu yaitu BNN,
diperburuk dengan belum adanya sehingga dapat dikontrol.2
peraturan hukum yang menetapkan
Dokter umum dan dokter
pihak yang berwenang mengeluarkan
spesialis jiwa juga dapat
SKBN. 2
mengeluarkan SKBN bagi para
Banyak kasus terbaru mengenai
pasien yg ingin mendapatkan SKBN.
SKBN yang baru-baru ini menjadi
Hal ini menyebabkan kebingungan
trending. Contohnya kasus yang baru
bagi masyarakat untuk mendapatkan
ini terjadi di Maluku. Hasil tes urin
SKBN apakah melalui rumah sakit,
bakal calon anggota legislatif yang
puskesmas atau dokter praktek.2
dikeluarkan oleh tiga rumah Sakit di
2
Berdasarkan gambaran kasus dini ketergantungan maupun
inilah yang menjadi latar belakang penyalagunaan narkoba.
kami untuk meninjau masalah tentang 4) SKBN merupakan bentuk peran
institusi dan dokter yang berwenang serta masyarakat dalam
dalam mengeluarkan SKBN. mewujudkan upaya pencegahan
penyalahgunaan narkoba
TINJAUAN PUSTAKA sebagaimana tercantum dalam
Pengertian Surat Keterangan pasal 54 UU nomor 5 tahun 1997
Bebas Narkoba (SKBN)
tentang psikotropika.
Surat Keterangan Bebas 5) Pemeriksaan narkoba dan
Narkoba adalah surat keterangan pengesahan SKBN bermanfaat
resmi yang menerangkan bahwa untuk orientasi program
seseorang bebas dari penggunaan zat- pemberantasan narkoba di
zat narkotika, psikotoprika dan obat Indonesia dan hal ini dapat
berbahaya adiktif lainnya. Adapun tercapai jika pemeriksaan narkoba
tujuan dari dikeluarkan SKBN adalah di tingkat institusi dilaksanakan
3
sebagai berikut : secara berkala.3
1) SKBN dapat dijadikan bukti yang Landasan Hukum mengenai
sah secara hukum jika surat Narkotika dan Psikotropika
tersebut diterbitkan secara Undang-undang No. 35 Tahun
prosedural bahwa seseorang bebas 2009 tentang Narkotika pasal 1
dari penyalagunaan narkoba. dijelaskan bahwa narkotika adalah zat
2) SKBN dapat membuktikan bahwa atau obat yang berasal dari tanaman
seseorang bebas dari penggunaan atau bukan tanaman baik sintetis
zat-zat narkotika serta sebagai maupun semi sintetis yang dapat
salah satu syarat administratif bagi menyebabkan penurunan atau
pelamar. perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
3) Asas manfaat urgensi SKBN dapat mengurangi sampai menghilangkan
ditunjukan untuk tujuan jangka rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
panjang, terutama dalam ketergantungan, yang dibedakan ke
mencegah dan mendeteksi secara dalam golongan-golongan sebagai
3
mana terlampir dalam Undang- pembinaan dan pengawasan
Narkotika dan Prekursor Narkotika
undang ini atau yang kemudian
sesuai dengan kepentingan nasional.
ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Pemerintah melalui Undang-
Kesehatan. Pada pasal 61 dan 63
undang No.5 Tahun 1997 juga telah
dalam undang-undang ini juga telah
mengatur tentang Psikotropika,
mengatur tentang pengawasan
dimana pasal 1 menjelaskan bahwa
narkotika oleh pemerintah. 4
Psikotropika adalah zat atau obat,
Pasal 61 :
baik alamiah maupun sintetis bukan
1) Pemerintah melakukan
pengawasan terhadap segala narkotika, yang berkhasiat psikoaktif
kegiatan yang berkaitan dengan melalui pengaruh selektif pada
Narkotika.
2) Pengawasan sebagaimana susunan saraf pusat yang
dimaksud pada ayat (1) meliputi: menyebabkan perubahan khas pada
a. Narkotika dan Prekursor
Narkotika untuk kepentingan aktivitas mental dan perilaku.
pelayanan kesehatan dan/atau Sedangkan pada pasal 50 dan 51 telah
pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi; menjelaskan mengenai pengawasan
b. Alat-alat potensial yang dapat terhadap psikotropika 5
disalahgunakan untuk
melakukan tinndak pidana
Pasal 50 :
Narkotika dan Prekursor
Narkotika; 1) Pemerintah melakukan penga-
c. Evaluasi keamanan, khasiat, wasan terhadap segala kegiatan
dan mutu produk sebelum yang berhubungan dengan
diedarkan; psikotropika, baik yang
d. Produksi; dilakukan oleh Pemerintah
e. Impor dan ekspor; maupun oleh masyarakat.
f. Peredaran; 2) Dalam rangka pengawasan,
g. Pelabelan; Pemerintah berwenang :
h. Informasi; dan a. Melaksanakan pemeriksaan
i. Penelitian dan pengembang an setempat dan/atau
ilmu pengetahuan dan pengambilan contoh pada
teknologi. sarana produksi, penyaluran,
pengangkutan, penyimpanan,
Pasal 63 : sarana pelayanan kesehatan
Pemerintah mengupayakan kerja dan fasilitas rehabilitasi;
sama dengan negara lain dan/atau b. Memeriksa surat dan/atau
badan internasional secara bilateral dokumen yang berkaitan
dan multilateral, baik regional dengan kegiatan di bidang
maupun internasional dalam rangka psikotropika;
4
c. Melakukan pengamanan pemeriksaan Narkoba. Masalah
terhadap psikotropika yang
diperparah dengan belum adanya
tidak memenuhi standar dan
persyaratan; dan peraturan hukum yang menetapkan
d. Melaksanakan evaluasi
pihak yang berwenang mengeluarkan
terhadap hasil pemeriksaan.
3) Pelaksanaan pengawasan SKBN. Beberapa institusi dan profesi
sebagaimana dimaksud pada ayat
telah menerbitkan surat keterangan
(2) dilengkapi dengan surat tugas.
hasil pemeriksaan tidak mengguna-
Pasal 51 : kan Narkoba. Selama ini, hasil
1) Dalam rangka pengawasan, pemeriksaan laboratorium itulah yang
Menteri berwenang mengambil
dianggap sebagai SKBN.
tindakan administratif terhadap
pabrik obat, pedagang besar Berdasarkan keputusan Menteri
farmasi, sarana penyimpanan
Kesehatan Republik Indonesia No
sediaan farmasi pemerintah,
apotek, rumah sakit, puskesmas, 194/MENKES/SK/VI/2012
balai pengobatan, dokter,
mengenai KEPUTUSAN MENTERI
lembaga penelitian dan/atau
lembaga pendidikan, dan fasilitas KESEHATAN TENTANG
rehabilitasi yang melakukan
PENUNJUKAN LABORATORIUM
pelanggaran terhadap ketentuan
undang-undang ini. PEMERIKSAAN NARKOTIKA
2) Tindakan administratif sebagai
DAN PSIKOTROPIKA. Bahwa
mana dimaksud pada ayat (1),
dapat berupa : dalam peraturan tersebut
a. Teguran lisan;
menunjukkan Laboratorium
b. Teguran tertulis;
c. Penghentian sementara ke- Pemeriksaan Narkotika dan
giatan;
Psikotropika dalam Daftar
d. Denda administratif;
e. Pencabutan izin praktik. sebagaimana tercantum dalam
Lampiran yang merupakan bagian
Landasan Hukum Penunjukan tidak terpisahkan dari Keputusan
Laboratorium Pemeriksaan
Narkotika dan Psikotropika Menteri, sebagai laboratorium yang
Berbagai prosedur berwenang melakukan pengujian
pemeriksaan laboratorium Narkoba narkotika dan psikotropika dalam
belum memenuhi standar pelayanan rangka proses penyidikan tindak
minimal, hal ini tentunya akan pidana narkotika dan psikotropika.
mempengaruhi validitas hasil Laboratorium Pemeriksa- an
5
Narkotika dan Psikotropika 2) Pusat Laboratorium Forensik dan 7
sebagaimana dimaksud terdiri atas Laboratorium Forensik Cabang,
laboratorium di lingkungan: 6 3) 4 Balai Besar Laboratorium
1) Kementerian Kesehatan Republik Kesehatan,
Indonesia untuk pengujian spesimen 4) Rumah Sakit Ketergantungan
narkotika dan psikotropika. Obat,
2) Kepolisian Negara Republik 5) 22 Balai Laboratorium kesehatan
Indonesia untuk pengujian 6) Laboratorium Kesehatan Daerah
spesimen, narkotika dan Provinsi DKI Jakarta,
psikotropika dalam bentuk bahan 7) Pusat Pengujian BPOM,
baku dan/atau sediaan jadi, serta zat 8) 19 Balai besar BPOM,
aktif dalam obat. 9) 7 BPOM.
3) Badan Pengawas Obat dan Makanan
Namun dalam kedua
(BPOM) untuk pengujian narkotika
Kepmenkes tersebut belum dijelaskan
dan psikotropika dalam bentuk
mengenai justifikasi atau pengesahan
bahan baku dan obat jadi.
SKBN.7
4) Badan Narkotika Nasional (BNN)
untuk pengujian spesimen,
Kewenangan Pengeluaran SKBN
narkotika dan psikotropika dalam oleh Praktik Medis
bentuk bahan baku dan zat aktif Untuk memberikan/mengelu
dalam obat. arkan Surat Keterangan, dokter
mengacu pada Kode Etik
Keputusan Menteri No.522/ Kedokteran Indonesia (KODEKI
MENKES/SK/2008 tentang Penunjuk 2012), sehingga tidak mudah pasien
kan Laboratorium Pemeriksaan meminta Surat Keterangan, karena
Narkoba dan Psikotropika Projustisia berdasarkan Pemeriksaan dokter
dimana laboratorium yang ditunjuk berhak menentukan apakah pasien
antara lain adalah sebagai berikut; perlu mendapatkan Surat
1) Unit Pelaksana Teknis Laborato- Keterangan (Sehat/Sakit/Bebas
rium Uji Narkoba BNN; Narkoba/dll). Surat Keterangan
Sehat/Bebas Narkoba tidak
6
disebutkan secara jelas, hanya f. melakukan tindakan
kedokteran atau
dalam :
kedokteran gigi;
g. menulis resep obat dan
Pasal 7 :
alat kesehatan;
Seorang dokter hanya memberi
h. menerbitkan surat
surat keterangan dan pendapat
keterangan dokter atau
yang telah diperiksa sendiri
dokter gigi;
kebenarannya.
i. menyimpan dan
memberikan obat
Kewenangan seorang dokter
dalam jumlah dan jenis
terlihat jelas berdasarkan PERM yang sesuai dengan
standar; dan
ENKES No.2052 tahun 2012 tentang
j. meracik dan
Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik menyerahkan obat
kepada pasien, bagi
Kedokteran Pasal 20 ayat 1 dan
yang praktik di daerah
Undang-Undang N0 29 tahun 2004 terpencil yang tidak
ada apotek.
tentang Praktik Kedokteran :8
Sesuai ketententuan peraturan
Pasal 35
perundang-undangan di atas seorang
1) Dokter dan Dokter Gigi dokter (umum atau spesialis) berhak
yang telah memiliki SIP menerbitkan surat keterangan sesuai
berwenang untuk menyele- kompetensi dan harus melalui
nggarakan praktik kedok- prosedur pemeriksaan yang lege artis
teran, yang meliputi antara dan pasien benar mendapatkan surat
lain: keterangan tersebut serta dapat
a. mewawancarai dipertanggung- jawabkan. Sementara
pasien;
b. memeriksa fisik dan dokter dengan sengaja mengeluarkan
mental pasien; surat keterangan tanpa melakukan
c. menentukan
pemeriksaan penu- pemeriksaan terhadap pasien secara
njang; langsung dapat dituduh membuat
d. menegakkan
diagnosis; surat keterangan palsu dengan
e. menentukan ancaman 4 tahun penjara.
penatalaksanaan dan
pengobatan pasien; Berdasarkan Undang-Undang
No 35 Tahun 2009 Tentang

7
Narkotika,dijelaskan wewenang undang yang telah ditetapkan,
penyidik pada : 9 sehingga perlu adanya peraturan yang
Pasal 75 bersifat hukum terkait dengan
Dalam rangka melakukan penyidi-
pengaturan mengenai proses regulasi
kan, penyidik BNN berwenang :
l. Melakukan tes urin, tes darah, tes tersebut dan peraturan mengenai
rambut, tes asam
siapa saja yang berwenang untuk
dioksiribonukleat (DNA),
dan/atau tes bagian tubuh mengeluarkan SKBN serta yang
lainnya.
menandatangi SKBN tersebut
sehingga kelegalitasan SKBN dapat
PEMBAHASAN
terjamin dan terbukti sah secara
Berdasarkan landasan teori dan hukum agar wewenang dalam
contoh kasus diatas, bahwa pengeluaran SKBN tidak disalah-
pengeluaran SKBN yang kini banyak gunakan. Selain itu, pihak yang
dapat dikeluarkan oleh berbagai pihak menandatangani SKBN tidak
baik dari rumah sakit, puskesmas dan dijelaskan secara spesifik dalam
dokter praktik. Namun pemerintah undang-undang sehingga dapat
telah mengeluarkan surat keputusan disimpulkan bahwa semua dokter
menteri kesehatan tentang yang memiliki SIP dan yang bekerja
penunjukan laboratorium pemeriksa- pada tempat yang telah ditunjuk dapat
an narkotika dan psikotropika sesuai memerika narkoba dan psikotropika,
dengan tugas dan fungsinya masing- berwenang untuk mengeluarkan
masing. Pihak yang berwenang SKBN, hal ini berpacu pada pasal 7
mengeluarkan SKBN adalah dokter KODEKI dan PERMENKES 2052
yang memiliki SIP sedangkan tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan
penyidik BNN berwenang untuk Praktik Kedokteran Pasal 20 ayat 1
melakukan pemeriksaan urin. Selain dan Undang-Undang N0 29 tahun
itu, sebagai dokter yang berwenang 2004 tentang Praktik Kedokteran
mengeluarkan surat keterangan harus Pasal 35 ayat 1.10
berdasarkan tempat yang telah
ditentukan penunjukan pemeriksaan
laboratorium sesuai dengan Undang-

8
KESIMPULAN dokter yang berwenang mengeluar
kan SKBN adalah dokter yang
Berdasarkan penjelasan di atas,
bekerja di tempat-tempat yang
maka dapat disimpulkan bahwa pihak
ditunjuk sebagai tempat untuk
yang berhak mengeluarkan SKBN
melakukan pemeriksaan laboratorium
adalah dokter yang memiliki SIP yang
(BNN, Laboratorium forensik,
SIP tersebut masih berlaku
Rumah Sakit, BPOM).
sedangkan instansi yang berhak
sesuai dengan PERMENKES UCAPAN TERIMA KASIH
SK/VI/2012 dan Keputusan Menteri
Penulisan studi pustaka tidak terlepas
No.522/ MENKES/SK/2008 tentang
dari bantuan berbagai pihak, sehingga
Penunjukkan Laboratorium Pemerik
penulis mengucapkan terimakasih
saan Narkoba dan Psikotropika
kepada :
Projustisia. Penyidik BNN
1. dr.Bendrong Moediarso, Sp F,
berwenang hanya untuk melakukan
SH. Selaku Pembimbing
pemeriksaan urin, namun belum ada
Penulisan Studi Pustaka Ini
peraturan yang jelas terkait dengan
2. Koordinator Pendidikan
kriteria dokter yang dapat
Forensik Fakultas Kedokteran
mengeluarkan SKBN.
Universitas Pattimura
SARAN 3. Kepala Departemen Forensik
Fakultas Kedokteran
Saran dari kelompok kami
Universitas Airlangga
adalah perlu adanya undang-undang
4. Kepala Instalasi Forensik RSUD
yang mengatur terkait dengan
Dr.Soetomo Surabaya
peraturan mengenai siapa saja yang
berwenang untuk mengeluarkan
SKBN serta yang menandatangi
SKBN tersebut sehingga
kelegalitasan SKBN dapat terjamin
dan terbukti sah secara hukum agar
wewenang dalam pengeluaran SKBN
tidak disalahgunakan. Selain itu,
9
DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization (WHO). The World Health Report of Prevalence

Drugs Abuse; 2016

2. Kasus Bacaleg Maluku Diragukan Hasil Pemeriksaa Urin Untuk SKBN.

[Internet]. 2017 [cited on 1 Maret 2019] Available from URL:

http://www.siwalimanews.com/post/bnn_saran_kpu_tes_urine_ulang_bacaleg

3. Krisna.A. Surat Keterangan Bebas Narkoba. [Internet]. 2017 [cited on 1 Maret

2019]. Available from URL: https://www.kaskus.co.id/thread/

58eb42a0ded77009538b456d/skbn-surat-keterangan-bebas-narkoba-apa-dan-

bagaimana-mendapatkannya/

4. Republik Indonesia. Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Pasal 1, 51 dan 56 ;1,2,3,4,5.1997.P 5-10.12-15.20-23. Jakarta; 2009

5. Republik Indonesia . Undang-undang No.5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

Pasal 1,Pasal 50, Pasal 51.P 1.15-20.1997. Jakarta; 1997

6. Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No

194/MENKES/SK/VI/2012 tentang Penunjukkan Laboratorium Pemeriksaan

Narkotika dan Psikotropika. Jakarta; 2012

7. Republik Indonesia. Keputusan Menteri No.522/MEN- KES/SK/2008 tentang

Penunjukkan Laboratorium Pemeriksaan Narkoba dan Psikotropika Projustisia.

Jakarta; 2008

10
8. Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2012 tentang Izin

Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran Pasal 20 ayat 1. Jakarta; 2012

9. Republik Indonesia. Undang-Undang No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika

Pasal 75. Jakarta; 2009

10. Jofan Viradella SP, Sofiana I, Vita KR. JUSTIFIKASI SURAT KETERANGAN

BEBAS NARKOBA . [Internet] 2017 [cited on 1 Maret 2019]. Available from

URL ;https://forismafkunair. wordpress.com /2008/05/09/ justifikasi-surat-

keterangan-bebas-narkoba/.

11