Anda di halaman 1dari 26

TUGAS

Manajemen Kinerja (MK)

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA


Dosen : Ibu Imas Isyani

Disusun oleh :

Annisa Primanty 120820090503

Kelas Eksekutif Angkatan XXXV

MAGISTER MANAGEMENT
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2011
Pertanyaan No. 1

Tanggapan kasus terkait dengan manajemen dan keselamatan kerja :

Kita sering tidak sadar bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk salah satu tempat kerja

yang berisiko,terutama bagi pekerja RS. Di RS banyak sekali bahan, alat dan proses kerja

yang mengancam. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). NIOSH pada tahun 1985

mencatat bahwa di RS terdapat 159 zat yang bersifat iritan bagi kulit dan 135 bahan kimia

berbahaya yang bersifat karsinogenik, terratogenik dan mutagenik yang dapat mengancam

pekerja. Disamping itu, di RS angka berbagai Penyakit Akibat Kerja (PAK) seperti Low

Back Pain, Hypertensi, Varises, gangguan pencernaan dan stress diyakini cukup tinggi.

Angka Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) di RS juga cukup memprihatinkan. NSC-Amerika

(1998) mencatat frekuensi angka KAK di RS lebih tinggi 41% dibanding pekerja lain

dengan angka KAK terbesar adalah NSI (Needle Stick injuries). Di Indonesia, penelitian dr

Joseph tahun 2005 -2007 mencatat bahwa angka KAK NSI mencapai 38-73 % dari total

petugas kesehatan.

Pada prinsipnya permasalahan tersebut timbul karena lemahnya pihak manajemen

dalam menjalankan K3 RS dengan baik dan benar, serta tingkat kesadaran pekerja RS akan

K3 yang masih rendah. Di samping itu berbagai masalah K3 kurang mendapat perhatian

sebagaimana mestinya, hal ini dapat dilihat, masih banyaknya PAK dan KAK (HNP, NSI

dll) yang tidak termasuk dalam 31 PAK yang ditetapkan oleh pemerintah (Keppres No.

31/1991) yang mengakibatkan PT Jamsostek menolak membayar klaim berbagai PAK

tersebut. Agar K3 di Rumah Sakit dapat dilaksanakan dengan baik, maka pihak manajemen

RS perlu memahami berbagai hal yang terkait dengan K3. Pelatihan yang diadakan ini

tujuannya adalah menjawab atas permasalahan-permasalahan yang terkait K3 di RS, tidak


hanya dari aspek pengelolaannya saja, akan tetapi lebih meningkatkan profesionalisme

SDMK3 yang ada di RS, sehingga diharapkan para SDM K3 tersebut lebih peka dan kreatif

dalam implementasi K3 di Rumah Sakit. dengan penerapan K3 RS yang baik dan benar

tersebut maka berbagai PAK dan KAK dapat diminimalisasi, produktivitas pekerja dapat

ditingkatkan dan pada akhirnya dapat meningkatkan profit bagi Rumah Sakit.

Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, Pasal 23

dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di

semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan,

mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Jika

memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke

dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan

dampak kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS, tapi juga

terhadap pasien maupun pengunjung RS. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS

menerapkan upaya-upaya K3 di RS.

Potensi bahaya di RS, selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahaya-

bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS, yaitu kecelakaan (peledakan,

kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber

cidera lainnya), radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya, gas-gas anastesi, gangguan

psikososial dan ergonomi. Semua potensi bahaya tersebut di atas, jelas mengancam jiwa

dan kehidupan bagi para karyawan di RS, para pasien maupun para pengunjung yang ada di

lingkungan RS. Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 1988 menunjukkan

bahwa terjadinya kecelakaan di RS 41% lebih besar dari pekerja di industri lain. Kasus
yang sering terjadi adalah tertusuk jarum, terkilir, sakit pinggang, tergores/terpotong, luka

bakar, dan penyakit infeksi dan lain-lain.

Sejumlah kasus dilaporkan mendapatkan kompensasi pada pekerja RS, yaitu

sprains, strains : 52%; contussion, crushing, bruising : 11%; cuts, laceration, punctures:

10.8%; fractures: 5.6%; multiple injuries: 2.1%; thermal burns: 2%; scratches, abrasions:

1.9%; infections: 1.3%; dermatitis: 1.2%; dan lain-lain: 12.4% (US Department of

Laboratorium, Bureau of Laboratorium Statistics, 1983). Laporan lainnya yakni di Israel,

angka prevalensi cedera punggung tertinggi pada perawat (16.8%) dibandingkan pekerja

sektor industri lain. Di Australia, diantara 813 perawat, 87% pernah low back pain,

prevalensi 42% dan di AS, insiden cedera musculoskeletal 4.62/100 perawat per tahun.

Cedera punggung menghabiskan biaya kompensasi terbesar, yaitu lebih dari 1 milliar $ per

tahun. Khusus di Indonesia, data penelitian sehubungan dengan bahaya-bahaya di RS

belum tergambar dengan jelas, namun diyakini bahwa banyak keluhan-keluhan dari para

petugas di RS, sehubungan dengan bahaya-bahaya yang ada di RS.

Selain itu, Gun (1983) memberikan catatan bahwa terdapat beberapa kasus penyakit

kronis yang diderita petugas RS, yakni hipertensi, varises, anemia (kebanyakan wanita),

penyakit ginjal dan saluran kemih (69% wanita), dermatitis dan urtikaria (57% wanita)

serta nyeri tulang belakang dan pergeseran diskus intervertebrae. Ditambahkan juga bahwa

terdapat beberapa kasus penyakit akut yang diderita petugas RS lebih besar 1.5 kali dari

petugas atau pekerja lain, yaitu penyakit infeksi dan parasit, saluran pernafasan, saluran

cerna dan keluhan lain, seperti sakit telinga, sakit kepala, gangguan saluran kemih, masalah

kelahiran anak, gangguan pada saat kehamilan, penyakit kulit dan sistem otot dan tulang

rangka. Dari berbagai potensi bahaya tersebut, maka perlu upaya untuk mengendalikan,
meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya, oleh karena itu K3 RS perlu dikelola

dengan baik. Agar penyelenggaraan K3 RS lebih efektif, efisien dan terpadu, diperlukan

sebuah pedoman manajemen K3 di RS, baik bagi pengelola maupun karyawan RS.

A. Latar Belakang K3

Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara

umum diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia menempati posisi

yang buruk jauh di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Kondisi tersebut

mencerminkan kesiapan daya saing perusahaan Indonesia di dunia internasional masih

sangat rendah. Indonesia akan sulit menghadapi pasar global karena mengalami

ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah). Padahal

kemajuan perusahaan sangat ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya. Karena itu

disamping perhatian perusahaan, pemerintah juga perlu memfasilitasi dengan peraturan

atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Nuansanya harus bersifat

manusiawi atau bermartabat.

Keselamatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan bisnis

sejak lama. Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan

kinerja karyawan dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin tersedianya

fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku tahun 2020

mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang

ditetapkan dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara yang

harus dipenuhi oleh seluruh negara anggota, termasuk bangsa Indonesia. Untuk
mengantisipasi hal tersebut serta mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja

Indonesia; telah ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat

Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku

sehat, memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta

memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk

upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran

lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan

penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan

produktivitas kerja.

Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi

bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara

menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat

luas.

Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas

kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika

kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari

beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai

faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta

keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko

kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. Dalam

penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah

mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan
kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan

lingkungan disekitarnya.

Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya.

Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat

penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan

dalam bekerja akan berdampak pada diri, keluarga dan lingkungannya. Salah satu

komponen yang dapat meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan.

Tenaga kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan

kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari

pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja.


PEMBAHASAN MENGENAI KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

A. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya

untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja

pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju

masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu

ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya

kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses

produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia

merdeka menimbulkan konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan

pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja.

Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih tinggi dalam

mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun jenis

kecelakaannya. Sejalan dengan itu, perkembangan pembangunan yang dilaksanakan

tersebut maka disusunlah UU No.14 tahun 1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga

kerja yang selanjutnya mengalami perubahan menjadi UU No.12 tahun 2003 tentang

ketenaga kerjaan.

Dalam pasal 86 UU No.13 tahun 2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau

buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan

kerja, moral dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat serta

nilai-nilai agama.
Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka dikeluarkanlah peraturan

perundangan-undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja sebagai pengganti

peraturan sebelumnya yaitu Veiligheids Reglement, STBl No.406 tahun 1910 yang

dinilai sudah tidak memadai menghadapi kemajuan dan perkembangan yang ada.

Peraturan tersebut adalah Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang keselamatan

kerja yang ruang lingkupnya meliputi segala lingkungan kerja, baik di darat, didalam

tanah, permukaan air, di dalam air maupun udara, yang berada di dalam wilayah

kekuasaan hukum Republik Indonesia.

Undang-undang tersebut juga mengatur syarat-syarat keselamatan kerja dimulai

dari perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan,

pemakaian, penggunaan, pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang produk tekhnis

dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.

Walaupun sudah banyak peraturan yang diterbitkan, namun pada pelaksaannya

masih banyak kekurangan dan kelemahannya karena terbatasnya personil pengawasan,

sumber daya manusia K3 serta sarana yang ada. Oleh karena itu, masih diperlukan

upaya untuk memberdayakan lembaga-lembaga K3 yang ada di masyarakat,

meningkatkan sosialisasi dan kerjasama dengan mitra sosial guna membantu

pelaksanaan pengawasan norma K3 agar terjalan dengan baik.


1. Sebab-sebab Kecelakaan

Kecelakaan tidak terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan yang

salah atau kondisi yang tidak aman. Kelalaian sebagai sebab kecelakaan merupakan

nilai tersendiri dari teknik keselamatan. Ada pepatah yang mengungkapkan tindakan

yang lalai seperti kegagalan dalam melihat atau berjalan mencapai suatu yang jauh

diatas sebuah tangga. Hal tersebut menunjukkan cara yang lebih baik selamat untuk

menghilangkan kondisi kelalaian dan memperbaiki kesadaran mengenai

keselamatan setiap karyawan pabrik.

Diantara kondisi yang kurang aman salah satunya adalah pencahayaan,

ventilasi yang memasukkan debu dan gas, layout yang berbahaya ditempatkan dekat

dengan pekerja, pelindung mesin yang tak sebanding, peralatan yang rusak,

peralatan pelindung yang tak mencukupi, seperti helm dan gudang yang kurang

baik.

Diantara tindakan yang kurang aman salah satunya diklasifikasikan seperti

latihan sebagai kegagalan menggunakan peralatan keselamatan, mengoperasikan

pelindung mesin mengoperasikan tanpa izin atasan, memakai kecepatan penuh,

menambah daya dan lain-lain. Dari hasil analisa kebanyakan kecelakaan biasanya

terjadi karena mereka lalai ataupun kondisi kerja yang kurang aman, tidak hanya

satu saja. Keselamatan dapat dilaksanakan sedini mungkin, tetapi untuk tingkat

efektivitas maksimum, pekerja harus dilatih, menggunakan peralatan keselamatan.

2. Faktor - faktor Kecelakaan

Studi kasus menunjukkan hanya proporsi yang kecil dari pekerja sebuah

industri terdapat kecelakaan yang cukup banyak. Pekerja pada industri mengatakan
itu sebagai kecenderungan kecelakaan. Untuk mengukur kecenderungan kecelakaan

harus menggunakan data dari situasi yang menunjukkan tingkat resiko yang

ekivalen.

Begitupun, pelatihan yang diberikan kepada pekerja harus dianalisa, untuk

seseorang yang berada di kelas pelatihan kecenderungan kecelakaan mungkin hanya

sedikit yang diketahuinya. Satu lagi pertanyaan yang tak terjawab ialah apakah ada

hubungan yang signifikan antara kecenderungan terhadap kecelakaan yang kecil

atau salah satu kecelakaan yang besar. Pendekatan yang sering dilakukan untuk

seorang manager untuk salah satu faktor kecelakaan terhadap pekerja adalah dengan

tidak membayar upahnya. Bagaimanapun jika banyak pabrik yang melakukan hal

diatas akan menyebabkan berkurangnya rata-rata pendapatan, dan tidak membayar

upah pekerja akan membuat pekerja malas melakukan pekerjaannya dan terus

membahayakan diri mereka ataupun pekerja yang lain. Ada kemungkinan bahwa

kejadian secara acak dari sebuah kecelakaan dapat membuat faktor-faktor

kecelakaan tersendiri.

3. Masalah Kesehatan Dan Keselamatan Kerja

Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan

resultante dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja, beban kerja dan

lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada pekerja. Bila ketiga

komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang

optimal dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya bila terdapat ketidak serasian

dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan

akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja.


a) Kapasitas Kerja

Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum

memuaskan. Dari beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 30-40%

masyarakat pekerja kurang kalori protein, 30% menderita anemia gizi dan 35%

kekurangan zat besi tanpa anemia. Kondisi kesehatan seperti ini tidak

memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang

optimal. Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja yang

ada sebagian besar masih di isi oleh petugas kesehatan dan non kesehatan yang

mempunyai banyak keterbatasan, sehingga untuk dalam melakukan tugasnya

mungkin sering mendapat kendala terutama menyangkut masalah PAHK dan

kecelakaan kerja.

b) Beban Kerja

Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat teknis

beroperasi 8 - 24 jam sehari, dengan demikian kegiatan pelayanan kesehatan

pada laboratorium menuntut adanya pola kerja bergilirdan tugas/jaga malam.

Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat,

akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Faktor lain yang turut

memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja

yang masih relatif rendah, yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja

tambahan secara berlebihan. Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat

menimbulkan stres.
c) Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi

kesehatan kerja dapat menimbulkan Kecelakaan Kerja (Occupational Accident),

Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja (Occupational

Disease & Work Related Diseases).

B. Tinjauan Tentang Tenaga Kesehatan

1. Pengertian Tenaga Kesehatan

Kesehatan merupakan hak dan kebutuhan dasar manusia. Dengan demikian

Pemerintah mempunyai kewajiban untuk mengadakan dan mengatur upaya

pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau rakyatnya. Masyarakat, dari semua

lapisan, memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapat pelayanan

kesehatan.

Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang

kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau ketermpilan melalui pendidikan di

bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk

melakukan upaya kesehatan, baik berupa pendidikan gelar-D3, S1, S2 dan S3-;

pendidikan non gelar; sampai dengan pelatihan khusus kejuruan khusus seperti Juru

Imunisasi, Malaria, dsb., dan keahlian. Hal inilah yang membedakan jenis tenaga ini

dengan tenaga lainnya. Hanya mereka yang mempunyai pendidikan atau keahlian

khusus-lah yang boleh melakukan pekerjaan tertentu yang berhubungan dengan jiwa

dan fisik manusia, serta lingkungannya.


Tenaga kesehatan berperan sebagai perencana, penggerak dan sekaligus

pelaksana pembangunan kesehatan sehingga tanpa tersedianya tenaga dalam jumlah

dan jenis yang sesuai, maka pembangunan kesehatan tidak akan dapat berjalan

secara optimal. Kebijakan tentang pendayagunaan tenaga kesehatan sangat

dipengaruhi oleh kebijakan kebijakan sektor lain, seperti: kebijakan sektor

pendidikan, kebijakan sektor ketenagakerjaan, sektor keuangan dan peraturan

kepegawaian. Kebijakan sektor kesehatan yang berpengaruh terhadap

pendayagunaan tenaga kesehatan antara lain: kebijakan tentang arah dan strategi

pembangunan kesehatan, kebijakan tentang pelayanan kesehatan, kebijakan tentang

pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan, dan kebijakan tentang pembiayaan

kesehatan. Selain dari pada itu, beberapa faktor makro yang berpengaruh terhadap

pendayagunaan tenaga kesehatan, yaitu: desentralisasi, globalisasi, menguatnya

komersialisasi pelayanan kesehatan, teknologi kesehatan dan informasi. Oleh karena

itu, kebijakan pendayagunaan tenaga kesehatan harus memperhatikan semua faktor

di atas.

2. Jenis Tenaga Kesehatan

Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang

kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau ketermpilan melalui pendidikan di

bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk

melakukan upaya kesehatan, baik berupa pendidikan gelar-D3, S1, S2 dan S3-;

pendidikan non gelar; sampai dengan pelatihan khusus kejuruan khusus seperti Juru

Imunisasi, Malaria, dsb., dan keahlian. Hal inilah yang membedakan jenis tenaga ini

dengan tenaga lainnya. Hanya mereka yang mempunyai pendidikan atau keahlian
khusus-lah yang boleh melakukan pekerjaan tertentu yang berhubungan dengan jiwa

dan fisik manusia, serta lingkungannya.

Jenis tenaga kesehatan terdiri dari :

a. Perawat

b. Perawat Gigi

c. Bidan

d. Fisioterapis

e. Refraksionis Optisien

f. Radiographer

g. Apoteker

h. Asisten Apoteker

i. Analis Farmasi

j. Dokter Umum

k. Dokter Gigi

l. Dokter Spesialis

m. Dokter Gigi Spesialis

n. Akupunkturis

o. Terapis Wicara dan

p. Okupasi Terapis.
C. Peran Tenaga Kesehatan Dalam Menangani Korban Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat saling berkaitan. Pekerja yang

menderita gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja cenderung lebih mudah

mengalami kecelakaan kerja. Menengok ke negara-negara maju, penanganan kesehatan

pekerja sudah sangat serius. Mereka sangat menyadari bahwa kerugian ekonomi (lost

benefit) suatu perusahaan atau negara akibat suatu kecelakaan kerja maupun penyakit

akibat kerja sangat besar dan dapat ditekan dengan upaya-upaya di bidang kesehatan

dan keselamatan kerja.

Di negara maju banyak pakar tentang kesehatan dan keselamatan kerja dan

banyak buku serta hasil penelitian yang berkaitan dengan kesehatan tenaga kerja yang

telah diterbitkan. Di era globalisasi ini kita harus mengikuti trend yang ada di negara

maju. Dalam hal penanganan kesehatan pekerja, kitapun harus mengikuti standar

internasional agar industri kita tetap dapat ikut bersaing di pasar global. Dengan

berbagai alasan tersebut rumah sakit pekerja merupakan hal yang sangat strategis.

Ditinjau dari segi apapun niscaya akan menguntungkan baik bagi perkembangan ilmu,

bagi tenaga kerja, dan bagi kepentingan (ekonomi) nasional serta untuk menghadapi

persaingan global.

Bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang sudah ada, rumah sakit pekerja akan

menjadi pelengkap dan akan menjadi pusat rujukan khususnya untuk kasus-kasus

kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Diharapkan di setiap kawasan industri akan

berdiri rumah sakit pekerja sehingga hampir semua pekerja mempunyai akses untuk

mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif. Setelah itu perlu adanya rumah

sakit pekerja sebagai pusat rujukan nasional. Sudah barang tentu hal ini juga harus
didukung dengan meluluskan spesialis kedokteran okupasi yang lebih banyak lagi.

Kelemahan dan kekurangan dalam pendirian rumah sakit pekerja dapat diperbaiki

kemudian dan jika ada penyimpangan dari misi utama berdirinya rumah sakit tersebut

harus kita kritisi bersama.

Kecelakaan kerja adalah salah satu dari sekian banyak masalah di bidang

keselamatan dan kesehatan kerja yang dapat menyebabkan kerugian jiwa dan materi.

Salah satu upaya dalam perlindungan tenaga kerja adalah menyelenggarakan P3K di

perusahaan sesuai dengan UU dan peraturan Pemerintah yang berlaku. Penyelenggaraan

P3K untuk menanggulangi kecelakaan yang terjadi di tempat kerja. P3K yang dimaksud

harus dikelola oleh tenaga kesehatan yang professional.

Yang menjadi dasar pengadaan P3K di tempat kerja adalah UU No. 1 Tahun 1970

tentang keselamatan kerja; kewajiban manajemen dalam pemberian P3K, UU No.13

Tahun 2000 tentang ketenagakerjaan, Peraturan Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi

No.03/Men/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja ; tugas pokok meliputi P3K dan

Peraturan Mentri Tenaga Kerja No. 05/Men/1995 tentang Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Pertanyaan No. 2

Program yang disusun agar penyelenggaraan K3 RS lebih efektif :

• Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control)

Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control) Yaitu upaya untuk

menemukan gangguan sedini mungkin dengan cara mengenal (Recognition) kecelakaan


dan penyakit akibat kerja yang dapat tumbuh pada setiap jenis pekerjaan di unit

pelayanan kesehatan dan pencegahan meluasnya gangguan yang sudah ada baik

terhadap pekerja itu sendiri maupun terhadap orang disekitarnya. Dengan deteksi dini,

maka penatalaksanaan kasus menjadi lebih cepat, mengurangi penderitaan dan

mempercepat pemulihan kemampuan produktivitas masyarakat pekerja. Disini

diperlukan system rujukan untuk menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja secara

cepat dan tepat (prompt-treatment). Pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui

pemeriksaan kesehatan pekerja yang meliputi :

1. Pemeriksaan Awal Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum

seseorang calon/pekerja (petugas kesehatan dan non kesehatan) mulai melaksanakan

pekerjaannya. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang status

kesehatan calon pekerja dan mengetahui apakah calon pekerja tersebut ditinjau dari

segi kesehatannya sesuai dengan pekerjaan yang akan ditugaskan kepadanya.

Anamnese umumPemerikasaan kesehatan awal ini meliputi:

a. Anamnese pekerjaan

b. Penyakit yang pernah diderita

c. Alergi

d. Imunisasi yang pernah didapat

e. Pemeriksaan badan

f. Pemeriksaan laboratorium rutin Pemeriksaan tertentu :

- Tuberkulin test

- Psiko test
2. Pemeriksaan Berkala Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan secara

berkala dengan jarak waktu berkala yang disesuaikan dengan besarnya resiko

kesehatan yang dihadapi. Makin besar resiko kerja, makin kecil jarak waktu antar

pemeriksaan berkala. Ruang lingkup pemeriksaan disini meliputi pemeriksaan

umum dan pemeriksaan khusus seperti pada pemeriksaan awal dan bila diperlukan

ditambah dengan pemeriksaan lainnya, sesuai dengan resiko kesehatan yang

dihadapi dalam pekerjaan.

3. Pemeriksaan Khusus Yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada khusus

diluar waktu pemeriksaan berkala, yaitu pada keadaan dimana ada atau diduga ada

keadaan yang dapat mengganggu kesehatan pekerja. Sebagai unit di sektor

kesehatan pengembangan K3 tidak hanya untuk intern laboratorium kesehatan,

dalam hal memberikan pelayanan paripurna juga harus merambah dan memberi

panutan pada masyarakat pekerja di sekitarnya, utamanya pelayanan promotif dan

preventif. Misalnya untuk mengamankan limbah agar tidak berdampak kesehatan

bagi pekerja atau masyarakat disekitarnya, meningkatkan kepekaan dalam

mengenali unsafe act dan unsafe condition agar tidak terjadi kecelakaan dan

sebagainya.
Kesimpulan

Sebagai suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha,

kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan dapat menjadi upaya preventif

terhadap timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam

lingkungan kerja. Pelaksanaan K3 diawali dengan cara mengenali hal-hal yang

berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan

tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian. Tujuan dari dibuatnya sistem ini adalah

untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja dan penyakit

akibat hubungan kerja.

Peran tenaga kesehatan dalam menangani korban kecelakaan kerja adalah menjadi

melalui pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja

yang meliputi pemeriksaan awal, pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus. Untuk

mencegah terjadinya kecelakaan dan sakit pada tempat kerja dapat dilakukan dengan

penyuluhan tentang kesehatan dan keselamatan kerja.

Saran

Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan karena sakit

dan kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) suatu

perusahaan atau negara olehnya itu kesehatan dan keselamatan kerja harus dikelola

secara maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan tetapi seluruh masyarakat.
Pertanyaan 3:

Pendekatan yang dilakukan terkait dengan manajemen dan keselamatan kerja dan

Pendekatannya :

1. Pembentukan Panitia K3

Bahwa sangat diperlukan adanya pelaksanaan upaya keselamatan kerja, kebakaran dan

kewaspadaan bencana di Rumah Sakit, sebagai upaya untuk meminimalkan terjadinya

penyakit akibat kerja dan kecelakan kerja, sehingga ditetapkan :

• Perlunya untuk membentuk dan mengangkat Panitia K3 di Rumah Sakit yang

merupakan

• organisasi non struktural.

• Panitia K3 Rumah Sakit terdiri dari tenaga staf adalah tenaga yang menjadi anggota

Panitia K3 Rumah Sakit, dan tenaga pendukung adalah tenaga / pegawai yang

melaksanakan fungsi K3 Rumah Sakit.

• Panitia K3 Rumah Sakit memiliki sistem komunikasi internal dan eksternal.

• Sistem komunikasi internal menggunakan pesawat intercom nomor dan telpon

nomor, sistem komunikasi ekternal menggunakan sambungan pesawat telpon nomor

langsung dan pesawat melalui operator serta pesawat telpon lain untuk facsimile.

• Bilamana terjadi bencana di Ruma Sakit, maka pesawat dengan nomor tersebut

diatas hanya diperuntukan penggunaannya oleh Panitia K3 Rummah Sakit selain Panitia

K3 Rumah Sakit dilarang menggunakan pesawat telpon tersebut.


2. Keselamatan Kerja

Pelaksanaan Keselamatan Kerja adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan

tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat

mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada

akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Keselamatan kerja bagi

pegawai diupayakan melalui kegiatan – kegiatan seperti :

o Pemantauan lingkungan kerja pegawai secara rutin

o Tersedia sistem deteksi api dan asap kebakaran di rumah sakit.

o Tersedia alat pemadam api / kebakaran di rumah sakit dengan jumlah yang cukup

dan sesuai dengan persyaratan yang berlaku.

o Tersedia rambu-rambu/tanda-tanda khusus bagi evakuasi pasien apabila terjadi

kebakaran di rumah sakit.

o Diadakannya simulasi / latihan secara teratur tentang pencegahan dan pengendalian

kebakaran.

o Setiap pegawai rumah sakit mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan /

simulasi tentang pencegahan dan pengendalian kebakaran.

Pencegahan kebakaran adalah usaha menyadari/mewaspadai akan faktor-faktor

yang menjadi sebab munculnya atau terjadinya kebakaran dan mengambil langkah-langkah

untuk mencegah kemungkinan tersebut menjadi kenyataan. Pencegahan kebakaran

membutuhkan suatu program pendidikan dan pengawasan beserta pengawasan karyawan,

suatu rencana pemeliharaan yang cermat dan teratur atas bangunan dan kelengkapannya,
inspeksi/pemeriksaan, penyediaan dan penempatan yang baik dari peralatan pemadam

kebakaran termasuk memeliharanya baik segi siap- pakainya maupun dari segi mudah

dicapainya

4. Kewaspadaan Bencana

Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit ditetapkan

sebagai berikut :

o Diperlukan pedoman pencegahan dan penanggulangan bencana yang dapat

digunakan bagi seluruh pegawai Rumah Sakit dalam mengambil langkah-langkah yang

diperlukan guna mencegah dan menanggulangi bencana di Rumah Sakit.

o Organisasi pencegahan dan penanggulangan bencana ini terdiri dari : perawat dan

Ka. Urusan, dokter IGD, Manajer Penunjang Medis, Manajer Keperawatan, Manajer

Pelayanan Medis, Wakil Direktur Medis, Direktur RS.

o Untuk pembekalan pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman pegawai dalam

penanggulangan bencana maka perlu diadakan pendidikan dan latihan penanggulangan

bencana.

o Ditetapkan sistem komunikasi dalam penanggulangan bencana yaitu tata cara

penggunaan telepon, daftar nomor penting, dan kewenangan penggunaan telepon.

o Tersedianya rambu-rambu khusus untuk jalur evakuasi pasien

o Sarana dan Prasarana rumah sakit mengikuti ketentuan perijinan perundang-

undangan yang berlaku.


5. Pendidikan dan Pelatihan K3

Pendidikan dan Pelatihann K3 di Rumah Sakit, ditetapkan sebagai berikut :

o Setiap pegawai di Rumah Sakit diberikan kesempatan mengikuti pendidikan dan

pelatihan K3 untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan dibidang K3.

o Rumah Sakit melalui urusan diklat menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan K3

bagi pegawai secara berkala dan berkesinambungan.

o Materi pendidikan dan latihan K3 akan selalu disesuaikan dengan kebutuhan,

kemajuan dan perkembangan K3.

o Pendidikan dan pelatihan K3 dapat melalui seminar, workshop, pertemuan ilmiah,

dll.

6.Evaluasi dan Pelaporan

Evaluasi dan Pelaporan tentang kegiatan- kegiatan K3 di Rumah Sakit, adalah

sebagai berikut :

a. Memuat seluruh aspek K3, yaitu :

• Disaster Program

• Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran

• Keamanan Pasien, Pengunjung dan pegawai

• Keselamatan dan Kesehatan Pegawai

• Pengelolaan bahan dan Barang Berbahaya

• Kesehatan Lingkungan Kerja

• Sanitasi Rumah Sakit


• Sertifikasi/Kaliberasi Sarana, Prasarana dan Peralatan

• Pengelolaan Limbah Padat, Cair dan Gas

• Pendidikan dan Latihan K3

• Pengumpulan, Pengolahan, dan Pelaporan Data

b. Evaluasi ini dilakuan untuk jangka waktu yang ditentukan sesuai dengan jenis kegiatan

yang dilaksanakan, dapat dilakukan 3 bulan, 6 bulan, dst.

c. Hasil Evaluasi dibuatkan laporannya dan pelaporan disampaikan kepada direktur

rumah sakit untuk mendapatkan tindak lanjut, untuk jangka waktu 1 (satu) tahun.

7. Peningkatan Mutu

Peningkatan Mutu K3 Rumah Sakit, meliputi :

• Ada pencatatan tentang semua kejadian serta penanggulangan kasus K3.

• Dilakukan analisa terhadap kasus kejadian K3 di rumah sakit oleh Panitia K3 Ruma Sakit.

• Hasil Analisa dibuatkan rekomendasi dan laporannya kepada direktur rumah sakit
DAFTAR PUSTAKA

Poerwanto, Helena dan Syaifullah. Hukum Perburuhan Bidang Kesehatan dan


Keselamatan Kerja. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
2005.

Indonesia. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Indonesia. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

Silalahi, Bennett N.B. [dan] Silalahi,Rumondang.1991. Manajemen keselamatan dan


kesehatan kerja.[s.l]:Pustaka Binaman Pressindo.

Suma'mur .1991. Higene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta :Haji Masagung

Suma'mur .1985. Keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan. Jakarta :Gunung Agung,
1985

-------------------,1990. Upaya kesehatan kerja sektor informal di Indonesia. [s.]:Direktorat


Bina Peran Masyarakat Depkes RT.