Anda di halaman 1dari 31

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Lansia


1. Definisi Lansia
Menurut Hardywinoto dan Setiabudhi (Sunaryo dkk, 2016) lansia
adalah kelompok manusia yang berusia 60 tahun keatas. Menurut
Setianto (Abdul Muhith, 2016), seseorang dikatakan lanjut usia (lansia)
apabila usianya 65 tahun keatas. Lansia menurut Pudjiastuti (Abdul
Muhith, 2016), lansia bukan penyakit, namun merupakan tahap lanjut
dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan
kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan. Lansia
menurut Hawari (handout Konsep Lansia Umamah, 2014), adalah
keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan
keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis. Kegagalan ini berkaitan
dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan
kepekaan secara individual. Lansia menurut Bailon G. Salvaclon (Abdul
Muhith, 2016), adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena
hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah
tangga, berinteraksi satu sama lain dalam perannya untuk menciptakan
dan mempertahankan suatu budaya. Lansia menurut BKKBN (Abdul
Muhith, 2016), adalah individu yang berusia diatas 60 tahun, pada
umumnya memiliki tanda-tanda terjadinya penurunan fungsi-fungsi
biologis, psikologis, sosial, dan ekonomi.
2. Batasan Umur Lanjut Usia
Menurut pendapat berbagai ahli dalam Efendi (2009), batasan-
batasan umur yang mencakup batasan umur lansia sebagai berikut
(Sunaryo dkk, 2016) :
a. Menurut Undang-Undang Nomor 13 tahun1998 dalam Bab 1 Pasal 1
ayat 2 yang berbunyi “Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia
60 (enam puluh) tahun ke atas”.
b. Menurut World Health Organizatioan (WHO), usia lanjut dibagi
menjadi empat kriteria berikut:
1) Usia pertengahan (middle age) ialah 45-59 tahun.
2) Lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun.
3) Lanjut usia tua (old) ialah 75-90.
4) Usia sangat tua (very old) ialah diatas 90 tahun.
c. Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolog UI) terdapat empat fase, yaitu:
1) Fase inventus ialah 25-40 tahun.
2) Fase virilities ialah 40-55 tahun.
3) Fase presenium ialah 55-65 tahun.
4) Fase senium ialah 65 hingga tutup usia.
d. Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro masa lanjut usia (geriatric
age) : >65 tahun atau 70 tahun. Masa lanjut usia (geriatric age) itu
sendiri dibagi menjadi tiga batasan umur, yaitu:
1) Young old 70-75 tahun.
2) Old 75-80 tahun.
3) Very old >80 tahun.

Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada alur


kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU
No. 13 tahun 1998 tentang Kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut
adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Sunaryo
dkk, 2016).
3. Masalah pada Proses Penuaan
Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistem organ
tubuh, di antaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan,
kardiovaskular, sistem pengaturan tubuh, musculoskeletal,
gastrointestinal, genitalia urinaria, endokrin, dan integument yang
dijelaskan sebagai berikut (Abdul Muhith, 2016) :
a. Sistem pernafasan pada lansia
1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume
udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
2) Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk
sehingga potensial terjadi penumpukan sekret.
3) Penurunan aktivitas paru (mengembang dan mengempisnya)
sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk ke paru mengalami
penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira-kira 500 ml.
4) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang (luas permukaan
normal 50 m2), menyebabkan terganggunya proses difusi.
5) Penurunan oksigen (O2) arteri menjadi 75 mmHg mengganggu
proses oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut ke
semua jaringan.
6) CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri
juga menurun dan lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri
7) Kemampuan batuk berkurang sehingga pengeluaran sekret dan
corpus alium dari saluran napas berkurang sehingga potensial
terjadinya obstruksi.
b. Sistem persarafan
1) Cepat menurunkan hubungan persarafan.
2) Lambat dalam merespon dan waktu untuk berpikir.
3) Mengecilnya saraf pancaindera.
4) Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya
saraf penciuman dan perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu
dengan rendahnya ketahanan tubuh terhadap dingin.
c. Sistem penglihatan
1) Kornea lebih berbentuk sferis (bola).
2) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
3) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).
4) Meningkatnya pengamatan sinar: daya adaptasi terhadap kegelapan
lebih lambat, susah melihat dalam cahaya gelap.
5) Hilangnya daya akomodasi.
6) Menurunnya lapang pandang dan berkurangnya luas pandang.
7) Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau pada skala.
d. Sistem pendengaran
1) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran).
2) Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam,
terutama terhadap bunyi suara, antara lain nada yang tinggi, suara
yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia
diatas 65 tahun.
3) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis
4) Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena
meningkatnya keratin.
e. Pengecap dan penghidung
1) Menurunnya kemampuan pengecap.
2) Menurunnya kemampuan penghidung sehingga mengakibatkan
selera makan berkurang.
f. Peraba
1) Kemunduran dalam merasakan sakit.
2) Kemunduran dalam merasakan tekanan panas, dan dingin.
g. Perubahan kardiovaskuler
1) Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
2) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% per tahun
sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya
kontraksi dan volumenya.
3) Kehilangan elastisitas pembuluh darah.
4) Kurangny efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi,
perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa
menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg
(mengakibatkan pusing mendadak).
5) Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh
darah perifer (normal kurang lebih 170/95 mmHg).
h. Sistem genitalia
1) Ginjal: mengecil dan nefron menadi atropi, aliran darah ke ginjal
menurun sampai 50%, penyaringan di glomerulus menurun sampai
50%, fungsi tubulus berkurang akibatnya berkurangnya kemampuan
mengosentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria (biasanya
+1).
2) Vesika urinaria atau kandung kemih: otot-otot menjadi lemah,
kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi
BAK meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut
usia sehingga meningkatnya retensi urin.
3) Pembesaran prostat kurang lebih 75% dimulai oleh pria usia di atas
65 tahun.
4) Atropi vulva.
5) Vagina: selaput menjadi kering, elastisitas jaringan menurun juga
permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya
lebih alkali terhadap perubahan warna.
6) Daya seksual: frekuensi seksual intercourse cenderung menurun tapi
kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus.
i. Sistem endokrin atau metabolik pada lansia
1) Produksi hampir semua hormon menurun.
2) Pituitari: pertumbuhan hormon ada, tetapi lebih rendah dan hanya
ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH,
FSH, dan LH.
3) Menurunnya aktivitas tiroid.
4) Menurunnya produksi aldosteron.
5) Menurunnya sekresi hormon: progesteron, estrogen, dan testosteron.
j. Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut
1) Kehilangan gigi, penyebab utama adanya periodontal disease yang
biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi
kesehatan gizi yang buruk dan gizi yang buruk,
2) Indera pengecap menurun, adanya iritasi yang kronis dari salput
lendir, atropi indera pengecap (kurang lebih 80%), hilangnya
sensitifitas dari saraf pengecap di lidah terutama rasa manis, asin,
asam, pahit.
3) Esofagus melebar.
4) Lambung: rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun), asam
lambung menurun.
5) Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
6) Fungsi absorpsi melemah (daya absorpsi terganggu).
7) Liver (hati): makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan,
berkurangnya aliran darah.
k. Sistem muskuloskeletal
1) Tulang rapuh.
2) Resiko terjadi fraktur.
3) Kifosis.
4) Persendian besar dan menjadi kaku.
5) Pada wanit lansia lebih banyak mengalami resiko fraktur.
6) Pinggang, lutut, dan jari pergelangan tangan terbatas.
7) Pada diskus invertebralis menipis dan menjadi pendek (tinggi badan
berkurang).
l. Perubahan sistem kulit dan jaringan ikat
1) Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
2) Kulit kering dan kurang elastis karena menurunnya cairan dan
hilangnya jaringan adiposa.
3) Kelenjar keringat mulai tidak bekerja dengan baik sehingga tidak
begitu tahan dengan panas dengan temperatur yang tinggi.
4) Kulit pucat dan terdapat bintik-bintik hitam akibat menurunnya
aliran darah dan menurunnya sel-sel yang memproduksi pigmen.
5) Menurunnya aliran darah pada kulit juga menyebabkan
penyembuhan luka kurang baik.
6) Kuku pada jaringan tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.
7) Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta
warna rambut kelabu.
8) Pada wanita usia lebih dari 60 tahun rambut wajah meningkat
kadang-kadang menurun.
9) Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang
menurun.
10) Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas
yang banyak, rendahnya aktivitas otot.
m. Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan seksual
1) Perubahan sistem reproduksi.
2) Selaput lendir vagina menurun atau kering.
3) Menciutnya ovarium dan uterus.
4) Atropi payudara.
5) Testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara
berangsur-angsur.
6) Dorongan seks menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi
kesehatan baik.
Perubahan sistem tubuh lansia menurut Nugroho (Abdul Muhith,
2016) adalah :
a. Sel
1) Pada lansia, jumlah akan lebih sedikit dan ukurannya akan lebih
besar.
2) Cairan tubuh dan cairan intraseluler akan berkurang.
3) Proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati juga ikut
berkurang.
4) Jumlah sel otak akan menurun.
5) Mekanisme perbaikan sel akan terganggu dan otak menjadi atropi
b. Sistem persarafan
1) Rata-rata berkurangnya saraf neucortical sebesar 1 per detik (Abdul
Muhith, 2016).
2) Hubungan persarafan cepat menurun.
3) Lambat dalam merespon, baik dari gerakan maupun jarak waktu,
khusus dengan stres.
4) Mengecilnya saraf pancaindra, serta menjadi kurang sensitif
terhadap sentuhan.
c. Sistem pendengaran
1) Gangguan pada pendengaran (presbiakusis)
2) Membran timpani atropi.
3) Terjadi dan pengumpulan dan pengerasan serumen karena
peningkatan keratin.
4) Pendengaran menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan
jiwa atau stres.
d. Sistem penglihatan
1) Timbul sklerosis pada sfingter pupil dan hilangnya respon terhadap
sinar.
2) Kornea lebih berbentuk seperti bola (sferis).
3) Lensa lebih suram (keruh) dapat menyebabkan katarak.
4) Meningkatnya ambang.
5) Pengamatan sinar dan daya adaptasi terhadap kegelapan menjadi
lebih lambat dan sulit untuk melihat dalam keadaan gelap.
6) Hilangnya daya akomodasi.
7) Menurunnya lapang pandang dan menurunnya daya untuk
membedakan warna biru dengan hijau pada skala pemeriksa.
e. Sistem kardiovaskuler
1) Elastisitas dinding aorta menurun.
2) Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
3) Kemampuan jnatung memompa darah menurun 1% setiap tahun
sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya
kontraksi dan volumenya.
4) Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas
pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, sering terjadi postural
hipotensi.
5) Tekanan darah meningkat diakibatkan oleh meningkatnya resistensi
dari pembuluh darah perifer.
f. Sistem pengaturan suhu tubuh
1) Suhu tubuh menurun (hipotermia) secara fisologis ±35°C. Hal ini
diakibatkan oleh metabolisme yang menurun.
2) Keterbatasan reflek menggigil, dan tidak dapat memproduksi panas
yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas otot.
g. Sistem pernapasan
1) Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.
2) Menurunnya aktivitas dari silia.
3) Paru-paru kehilangan elastisitas sehingga kapasitas residu
meningkat.
4) Menarik napas lebih berat, kapasitas pernapasan maksimum
menurun, dan kedalaman bernapas menurun.
5) Ukuran alveoli melebar dari normal dan jumlahnya berkurang,
oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg, kemampuan untuk
batuk berkurang, dan penurunan kekuatan otot pernapasan.
h. Sistem gastrointestinal
1) Kehilangan gigi, indera pengecapan mengalami penurunan.
2) Esofagus melebar.
3) Sensitivitas akan rasa lapar menurun.
4) Produksi asam lambung dan waktu pengosongan lambung menurun.
5) Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
6) Fungsi absorpsi menurun.
7) Hati (liver) semakin mengecil dan menurunnya tempat menyimpan.
8) Berkurangnya suplai aliran darah.
i. Sistem genitourinaria
1) Ginjal mengecil dan nefron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal
menurun hingga 50%, fungsi tubulus berkurang (berakibat pada
penurunan kemampuan ginjal untuk mengonsentrasikan urine, berat
jenis urine mnurun, protein uria biasanya +1), Blood Urea Nitrogen
(BUN) meningkat hingga 21 mg, dan nilai ambang ginjal meningkat.
2) Otot-otot kandung kemih (vesika urinaria) melemah kapasitasnya,
menurun hingga 200 ml dan menyebabkan rekurensi buang air kecil
meningkat, kandung kemih dikosongkan sehingga meningkatkan
retensi urine.
3) Pria dengan usia 65 tahun ke atas sebagian besar mengalami
pembesaran prostat hingga +75% dari besar normalnya.
j. Sistem endokrin
Menurunnya produksi ACTH, TSH, FSH, dan LH, aktivitas
tiroid, basal metabolik rate (BMR), daya pertukaran gas, produksi
aldosteron, serta sekresi hormon kelamin seperti progesteron,
estrogen, dan testosteron.
k. Sistem integumen
1) Kulit menjadi keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
2) Permukaan kulit kasar dan bersisik.
3) Menurunnya respon terhadap trauma, mekanisme proteksi kulit
menurun.
4) Kulit kepala dan rambut menipis serta berwarna kelabu.
5) Rambut dalam hidung dan telinga menebal.
6) Berkurangnya elastisitas akibat menurunnya cairan dan
vaskularisasi.
7) Pertumbuhan kuku lebih lambat, kuku jari menjdai keras dan rapuh,
kuku kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk.
8) Kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya.
9) Kuku menjadi pudar dan kurang bercahaya.
l. Sistem muskuloskeletal
1) Tulang kehilangan kepadatan (density) dan semakin rapuh.
2) Kifosis.
3) Persendian membesar dan menjadi kuku.
4) Tendon mengkerut dan mengalami sklerosis.
5) Atropi serabut otot sehingga gerak seseorang menjadi lambat, otot-
otot kram dan menjadi tremor.
4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Proses Menua
Menurut Siti Bandiyah (2009 dalam Abdul Muhith, 2016) penuaan
dapat terjadi secara fisiologis dan patologis. Penuaan yang terjadi sesuai
dengan kronologis usia. Faktor yang memengaruhi yaitu hereditas atau
genetik, nutrisi atau makanan, status kesehatan, pengalaman hidup,
lingkungan, dan stres.
a. Hereditas atau Genetik
Kematian sel merupakan seluruh program kehidupan yang
dikaitkan dengan peran DNA yang penting dalam mekanisme
pengendalian fungsi sel. Secara genetik, perempuan ditentukan oleh
sepasang kromosom X sedangkan laki-laki oleh satu kromosom X.
Kromosom X ini ternyata membawa unsur kehidupan sehingga
perempuan berumur lebih panjang daripada laki-laki.
b. Nutrisi atau Makanan
Berlebihan atau kekurangan mengganggu keseimbangan reaksi
kekebalan.
c. Status Kesehatan
Penyakit yang selama ini selalu dikaitkan dengan proses
penuaan, sebenarnya bukan disebabkan oleh proses menuanya
sendiri, tetapi lebih disebabkan oleh faktor luar yang merugikan yang
berlangsung tetap dan berkepanjangan.
d. Pengalaman Hidup
1) Paparan sinar matahari: kulit yang tak terlindung sinar matahari akan
mudah terkena oleh flek, kerutan, dan menjadi kusam.
2) Kurang olahraga: olahraga membantu pembentukan otot dan
menyebabkan lancarnya sirkulasi darah.
3) Mengonsumsi alkohol: alkohol dapat memperbesar pembuluh darah
kecil pada kulit dan menyebabkan peningkatan aliran darah dekat
permukaan kulit.
e. Lingkungan
Proses menua secara biologik berlangsung secara alami dan
tidak dapat dihindari, tetapi seharusnya dapat tetap dipertahankan
dalam status sehat.
f. Stres
Tekanan kehidupan sehari-hari dalam lingkungan rumah,
pekerjaan, ataupun masyarakat yang tercermin dalam bentuk gaya
hidup akan berpengaruh terhadap proses penuaan.
B. Konsep Dasar Hipertensi
1. Definisi Demensia
Demensia merupakan penyakit degenerative yang sering menyerang
orang-orang lanjut usia. Demensia terjadi akibat kerusakan sel-sel otak
dimana system syaraf tidak lagi membawa informasi ke dalam otak,
sehingga membuat kemunduran pada daya ingat, keterampilan secara
progresif, gangguan emosi, dan perubahan perilaku harian (behavioral
symtomp) yang mengganggu (distruktive), ataupun tidak menggangu (non
distruktive). (http//:sinar harapan.co.id/iptek/kesehatan/2003/0822/kes2).
Demensia merupakan penurunan kemampuan mental yang
berkembang secara perlahan menyebabkan gangguan ingatan, pikiran,
penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian dan terjadi
kemunduran keperibadian. Pada usia muda demensia bisa terjadi secara
mendadak jika ada pencendraan otak yang hebat, penyakit atau zat-zat
racun (missal karbon monoksida) yang menyebabkan hancurnya sel-sel
otak.
Demensia merupakan penurunan kemampuan mental yang lebih
serius yang makin lama makin parah. Pada penuaan normal, seseorang
dapat lupa pada hal detail, kemudian akan lupa secara keseluruhan
peristiwa yang baru saja terjadi. (Janiwarti, Bethsaida.2011).
Demensia adalah sindroma klinis yang meliputi hilangnya fungsi
intelektual dan memori yang sedemikian berat sehingga menyebabkan
disfungsi hidup sehari -hari. Demensia merupakan keadaan ketika
seseorang mengalami penurunan daya ingat dan daya pikir lain yang
secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan sehari hari (Arif muttaqin,
2008).
Demensia merupakan sindroma yang ditandai oleh berbagai
gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran. Fungsi kognitif yang
dapat dipengaruhi pada demensia adalah inteligensia umum, belajar dan
ingatan, bahasa, memecahkan masalah, orientasi, persepsi, perhatian,
konsentrasi, pertimbangan dan kemampuan social (Aru w. Sudoyo, 2009).
Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa gangguan
fungsi vegetatif atau keadaan yang terjadi.memori, pengetahuan umum,
pikiran abstrak,penilaian, dan interpretasi atas komunikasi tertulis dan
lisan dapat terganggu.(Elizabeth j. Corwin,2009)
Demensia adalah penurunan fungsi intelektual yang menyebabkan
hilangnya independensi sosial. (Willam F Ganong,2009)
Demensia adalah sindrom klinis yang meliputi hilangnya fungsi
intelekual dan memori yang sedemikian berat sehingga menyebabkan
disfungsi hidup sehari- hari. Demensia merupakan keadaan ketika
seseorang mengalami penurunan daya ingat dan daya pikir lain yang
secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari
( Nugroho,2008)
2. Etiologi Demensia
a. Penyebab utama dari penyakit demensia adalah penyakit
alzheimer,yang penyebabnya sendir belum diketahui secara pasti.
Penyakit alzheimer disebabkan karena adanya kelainan faktor genetik
atau adanya kelainan gen tertentu. Beberapa bagian otak mengalami
kemunduran sehingga terjadi kerusakan sel dan berkurangnya respon
terhadap bahan kimia yang menyalurkan sinyal kedalam otak.
Jaringan abnormal di temukan di dalam otak ( disebut plak senilis
dan serabut saraf yang tidak teratur) dan protein abnormal, yang bisa
terlihat saat otopsi
b. Penyebab kedua dari demensia yaitu serangan stroke yang brturut-
turut. Stroke tunggal yang ukurannya kecil dan menyebabkan
kelemahan yang ringan atau yang timbul secara perlahan. Strok kecil
ini secarabertahap menyebabkan kerusakan jaringan otak, daeah otak
yang mengalami kerusakan jaringan otak, daerah otak yang
mengalami kerusakan akibat tersumbatnya aliran darah yang disebut
dengan infark. Demensia yang disebabkan oleh strok kecil disebut
demensia multi- infark. Sebagian penderita memiliki tekanan darah
tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan perusakan
pembuluh darah diotak
c. Penyebab demensia menurut NUGROHO (2008) dapat digolongkan
menjadi 3 golongan besar :
1) Sindrom demensia dengan penyakit yang etiologi dasarnya tidak
di kenalkelainan yaitu : terdapat pada tingkat subseluler atau
secara biokimiawi pada sistem enzim, atau sistem metabolisme
2) Sindroma demensia dengan etiologi yang dikenal tetapi belum
dapat di obati, penyebab utama dalam golongan ini diantaranya :
a) Penyakit degenerasi spino-serebelar.
b) Subakut leuko-ensefasilitis sklerotik van bogaert
c) Khorea huntington
3) Sindroma demensia dengan etiologi penyakit yang dapat diobati,
dalam golongan ini di antaranya :
a) Penyakit cerebro kardiovaskuler
b) Penyakit-penyakit metabolik
c) Gangguan nutrisi
d) Akibat intoksikasi menahun (Oktavianus, 2014)
3. Klasifikasi Demensia
a. Demensia tipe alzaimer
Demensia alzaimer adalah salah satu bentuk demensia akibat
degenerasi otak yang sering ditemukan dan paling ditakuti. Demensia
alzaimer, biasanya diderita oleh pasiean usia lanjut dan merupakan
penyakit yang tidak hanya mengoroti daya pikir dan kemampuan
aktifitas penderita. Demensia alzaimer merupakan keadaan klinis
seseorang yang mengalami kemunduran fungsi intelektual dan
emosional secara progresif sehingga mengganggu kegiatan sosial
sehari-hari. Gejala dimulai dengan gangguan memori yang
mempengaruhi keterampilan pekerjaan, kesuliatan melakukan tugas
yang biasanya dilakukan dan berbahasa, gangguan pengendalaan waktu
dan tempat, sulit berpikir abstrak, salah salah meletakkan barang,
perubahan inisiatif, tingkah laku, dan keperibadian.
Adapun gejala demensia alzaimer adalah kehilangan daya ingatan
secara perlahan dan progresif, kesulitan dalam mengikuti berita dan
melakukan kegiatan sehari-hari, gangguan penilaian, penalaran,
konsentrasi dan orientasi, kebingungan dan kegelisahan, perubahan
keperibadian, dan kehilangan kemampuan untuk mengurus diri sendiri.
Demensia alzaimer terjadi karena proses degenarasi sel-sel neuron otak
di area temporo puritan dan frontalis yang ditandai dengan gangguan
perilakua seperti agresif, menjadi galak, kasar, tidak jarang menyerang
secara fisik, selalu gelisah, suka menimbun barang, sering berteriak
pada tengah malam, kekhawatiran, delusi, sikat impulsive, dan
kecendrungan mengulang pertanyaan.
Gejala klinis demensia alzaimer adalah kumpulan gejala demensia
akibat gangguan neurodegenerative (penuaan syaraf) yang berlangsung
progresif lambat. Akibat degenerative menyebakan kematian sel-sel
otak. Akibat kematian sel-sel otak baru menimbulkan gejala klinis
selama kurun waktu 30 tahun. Semula ditemukan gejala muda lupa
(forgetfulness), yang menyebabkan penderitaan sulit menyebut kata
yang benar, berlanjut pada ksulitan mengenal benda dan berakhir pada
ketidak mampuan menggunakan barang-barang sekalipun pada barang-
barang yang termurah. (http//:www.era baru.or.id) terdapat tidak
stadium tipe alzaimer yaitu :
1) Stadium I (amnestik) : berlangsung 2-4 tahun dengan gangguan pada
memori, berhitung, dan aktifitas spontan menurun. Fungsi memori
yang terganggua adalah memori baru atau lupa hal baru yang
dialami. Kondisi yang tidak mengganggu dal aktifitas keluarga.
2) Stadium II (stadium demensi): berlangsung 2-10 tahun dengan gejala
desorentasi, gangguan bahasa (afasia), mudah bingung, penurunan
fungsi memori lebih berat sehingga penderita tidak dapat melakukan
kegiatan sampai selesai, tidak mengenal anggota keluarganya, tidak
ingat sudah melakukan tindakan sehingga mengulanginya lagi,
mengalami gangguan fisukospasial yang menyebabkan penderita
mudah tersesat dilingkungannya. Depresi berat prafelansianya 15-
20%.
3) Stadium III : yakni stadium yang berlangsung 6-12 tahun, dengan
gejala penderita menjadi vegetative, tidak bergerak dan membisu,
daya intelektual dan memori memburuk, sehingga tidak mengenal
keluarganya sendiri, tidak dapat mengendalikan BAB atau BAK,
kegiatan seari-hari membutuhkan bantuan orang lain. Penyebabnya
bisa akibat trauma, kematian atau infeksi.
b. Demensia vaskuler merupakan jenis demensi terbanyak kedua setelah
alzaimer yang diakibatkan gangguan sirkulasi darah di otak. Faktor
penyebabnya biasanya bersumber dari stroke. Gejala depresi lebih
sering dijumpai pada demensia faskuler dari pada demensia alzaimer.
Hal ini disebabkan karena kemampuan penilaian terhadap diri sendiri
dan respon emosi tetap labil pada demensia vaskuler.
Demensia karena stroke kecil memeiliki perjalanan penyakit
dengan pola sesperti menuruni tangga. Gejalanya memburuk secara
tiba-tiba kemudia agak membaik dan selanjutnya memburuk lagi saat
stroke yang berikutnya terjadi. Mengendalikan tekanan darah tinggi dan
kencing manis kadang dapat mencegah stroke berikutnya dan kadang
terjadi penyembuhan ringan.
Gejala klinis demensia vaskuler bervariasai tergantung pada
kelainan vaskuler pada otak. Gangguan memori tidak slalu menonjol,
tapi terjadi secara bertahap dalam masa lebih singkat dibandingkan
proses dengan demensia alzaimer. Biasanya berupa gangguan kognitif
(gangguan konsentrasi, memori dan desorentasi, gangguan komunikasi,
afasia, aparaksia, agnosia, dan ganguan kamampuan eksekusi,
pengambilan keputusan, gangguan fisik (paresis) gangguan control
kandung kencing). (Janiwarti, Bethsaida, 2011)
Menurut : Arif muttaqin (2008), kerusakan struktur otak demensia
dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Tipe Alzheimer
Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah
penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada
otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di
transmisikan sebagaimana mestinya. Penderita Alzheimer mengalami
gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga
penurunan proses berpikir.
b. Demensia vascular
Demensia tipe Vaskuler, disebabkan oleh gangguan sirkulasi
darah di otak. “Dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat
berakibat terjadinya demensia,”. Depresi bisa disebabkan karena lesi
tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi
itu dapat didiuga sebagaidemensia vaskuler.
4. Patofisiologi Demensia
Satu tanda lesi adalah kekusutan neurofibrilaris, yaitu struktur
intraselular yang berisi serat kusut, melintir, yang sebagian besar terdiri
dari protein. Dalam sistem saraf pusat , protein ini sebagian besar telah
dipelajari sebagai penghambat pembentuk struktural yang berkait dalam
menstabikan mikrotubulus dan merupakan komponen penting dari
sitoskleton sel neuronal (Muttaqin, 2008).
Hal yang menarik dari gejala penderita demensia (usia >65 tahun)
adalah adanya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga
mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Lansia penderita demensia tidak
memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka
sebagaimana lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan
degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri,
mereka sulit untuk mengingat dan sering lupa jika meletakkan barang.
Mereka seringkali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan bahwa
itu adalah yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai
dirsakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama mereka,
meraka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin
jadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin lansia kelelahan
dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya
sebuah masalah besar dibalik penurunan daya ingat yang dialami oleh
orang tua mereka.
Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi
pada lansia. Mereka menjaga jarak dengan lingkungan dengan lebih
sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit
lain dan biasanya akan memperparah kondisi lansia. Pada saat ini
mungkin saja lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai
berhalusinasi. Disinilah keluarga membawa lansia penderita demensia
ke rumah sakit dimana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus
pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga
kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan megenali
gejala demensia. (Oktavianus,2014)
5. Manifestasi Klinis Demensia
a. Manifestasi Klinis menurut oktavianus, 2014
Tanda dan gejala dari penyakit demensia antara lain:
1) Rusaknya seluruh jajaran fungsi kognitif
2) Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek
3) Gangguan kepribadian dan perilaku (mood swings)
4) Defisit neurologi dan fokal
5) Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi dan kejang
6) Gangguan psikotik : hausnasi, ilusi, waham, dan paranoid
7) Keterbatasan dalam ADL (activities of daily living)
8) Kesulitan mengatur penggunaan kkeuangan
9) Tidak bisa pulang kerumah bila bepergian
10) Lupa meletakkan barang penting
11) Sulit mandi, makan, berpakaian dan toileting
12) Mudah terjatuh dan keseimbangan buruk
13) Tidak dapat makan an menelan
14) Inkontinensia urine
15) Dapat berjalan jauh dari rumah dan tidak bisa pulang
16) Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita
demensia, “lupa” menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas
17) Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu,
bulan, tahun, tempat demensia berada
18) Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat
melihat sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil
yang dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan.
Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-
perasaan tersebut muncul
19) Penurunan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang
benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi,
mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali
20) Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri,
dan gelisah
b. Menurut janiwarti, bethasaida.2011 yaitu :
1) Gejala awal demensia adalah kemunduran fungsi kognitif ringan,
kemunduran dalam mempelajari hal-hal yang baru, ingatan terhadap
peristiwa jangka pendek menurun, kesulitan menemukan kata-kata
yang tepat. Pada tahap lanjut, gejala antara lain sulit mengenali
benda, tidak dapat bertindak secara berencana, sukar mengenakan
pakaian, sulit memperkirakan jarak dan sulit mengordinasikan
anggota tubuh.
2) Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi
pada lansia, dimana sering kali dia menjaga jarak dengan lingkungan
yang lebih sensitive. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti munculnya
penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi lansia. Pada
saat ini mungkin saja lansia menjadi sangat ketakutan bahkan hingga
berhalusinasi. Pada tahap lanjut demensia menimbulkan perubahan
tingkah laku yang menghawatirkan, pemahaman perubahan tingkah
laku yang dialami lansia demensia.
Perubahan lainnya perilaku lansia pada demensia adalah
delusi, halusinasi, depresi kerusakan fungsi tubuh, cemas dan
disorentasi spasial, ketidak mampuan melakukan tindakan yang
berarti, tidak dapat melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri,
melawan, marah, agitasi, apatis, kabur dari tempat tinggal.
6. Penatalaksanaan Demensia
a. Farmakologi.
Sebagian besar penyakit demensia tidak dapat disembuhkan. Obat
tokrin membantu penderita alzaimer tetapi menyebabkan efek samping
yang serius. Tokrin telah digantikan denepezil yang memilki lenih
sedikit efek samping. Dan memperlambat perkembangan alzaimer
selama satu tahun atau lebih. Ibu profen juga bisa memperlambat
penyakit ini, obat yang paling baik diberikan pada stadium dini.
Demensia karena stroke yang berturut-turut sulit diobati, tetapi
perkembangannya bisa diperlambat denag mengobati tekanan darah
tinggi atau kencing manis yang berhubungan dengan stroke. Jika
hilangnya ingatan disebabkan oleh depresi, diberika obata anti depresi
untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang meledak-ledak yang
menyertai demensia. Obat antipsikosa, missal tioridazin dan
haloperidol. Obat antipsikotik efektif diberikan kepada penderita yang
mengalami halusinasi atau paranoid.
b. Terapi perilaku
1) Mempertahankan lingkungan familier membantu penderita tetap
memiliki orientasi. Misal kalender yang besar, cahaya terang, jam
dinding dengan angka yang besar, atau radio juga bisa mmebantu
penderita tetap memiliki orientasi.
2) Menyembunyikan kunci mobil dan memsang detector pada kunci
pintu bisa membantu mencegah terjadinya kecelakaan pada penderita
yang senang berjalan-jalan.
3) Menjalani kegiatan mandi, makan, tidur dan aktiftas lain secara
rutin, bisa memberikan rasa keteraturan pada klain.
4) Memarahi atau menghukum penderita tidak membantu bahkan akan
memeperburuk keadaan.
5) Meminta bantuan organisasi yang memeberika pelayanan sosial dan
perawatan akan sangat membantu. (Janiwarti, Bethsaida.2011)
7. Komplikasi Demensia
Menurut silvia, (2006), komplikasi yang akan muncul adalah sebagai
berikut :
a. Penyakit akut atau kronis, seperti gagal jantung kongestif, pneumonia,
penyakit ginjal dan hati,kanker dan stroke.
b. Faktor hormonal dan nutrisi, diabetes, ketidakseimbangan adrenal, atau
tiroid, malnutrisi dan dehidrasi.
c. Kerusakan sensorik yang berkaitan dengan kehilangan penglihatan dan
pendengaran serta deprivasi tidur.
d. Kerusakan sensorik yang berkaitan dengan kehilangan penglihatan dan
pendengaran serta deprivasi tidur.
e. Pengobatan, meliputi meminum berbagai obat, resep (terutama
kombinasi obat yang bersifat antikolinergik).
f. Obat-obat yang mengganggu sistem kolinergik dan neurotransmitter
asetikolin dapat mempengaruhi memori, kemampuan belajar.
8. Pemeriksaan Diagnostik Demensia
Menurut Arif muttaqin, (2008) :
a. Pemeriksaan laboratorium rutin
Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan begitu diagnosis
klinis demensia ditegakkan untuk membantu pencarian etiologi
demensia khususnya pada demensia reversible, walaupun 50%
penyandang demensia adalah demensia Alzheimer dengan hasil
laboratorium normal, pemeriksaan laboratorium rutin sebaiknya
dilakukan. Pemeriksaan laboratorium yang rutin dikerjakan antara lain:
pemeriksaan darah lengkap, urinalisis, elektrolit serum, kalsium darah,
ureum, fungsi hati, hormone tiroid, kadar asam folat.
b. Imaging
Computed Tomography (CT) scan dan MRI (Magnetic Resonance
Imaging) telah menjadi pemeriksaan rutin dalam pemeriksaan demensia
walaupun hasilnya masih dipertanyakan.
c. Pemeriksaan EEG
Electroencephalogram (EEG) tidak memberikan gambaran
spesifik dan pada sebagian besar EEG adalah normal. Pada Alzheimer
stadium lanjut dapat memberi gambaran perlambatan difus dan
kompleks periodik.
d. Pemeriksaan cairan otak
Fungsi lumbal diindikasikan bila klinis dijumpai awitan demensia
akut, penyandang dengan imunosupresan, dijumpai rangsangan
meningen dan panas, demensia presentasi atipikal, hidrosefalus
normotensif, tes sifilis (+), penyengatan meningeal pada CT scan.
e. Pemeriksaan genetika
Apolipoprotein E (APOE) adalah suatu protein pengangkut lipid
polimorfik yang memiliki 3 allel yaitu epsilon 2, epsilon 3, dan epsilon
4. setiap allel mengkode bentuk APOE yang berbeda. Meningkatnya
frekuensi epsilon 4 diantara penyandang demensia Alzheimer tipe
awitan lambat atau tipe sporadik menyebabkan pemakaian genotif
APOE epsilon 4 sebagai penanda semakin meningkat.
f. Pemeriksaan neuropsikologis
Pemeriksaan neuropsikologis meliputi pemeriksaan status mental,
aktivitas sehari-hari / fungsional dan aspek kognitif lainnya. (Asosiasi
Alzheimer Indonesia,2003) Pemeriksaan neuropsikologis penting untuk
sebagai penambahan pemeriksaan demensia, terutama pemeriksaan
untuk fungsi kognitif, minimal yang mencakup atensi, memori, bahasa,
konstruksi visuospatial, kalkulasi dan problem solving. Pemeriksaan
neuropsikologi sangat berguna terutama pada kasus yang sangat ringan
untuk membedakan proses ketuaan atau proses depresi. Sebaiknya
syarat pemeriksaan neuropsikologis memenuhi syarat sebagai berikut:
1) Mampu menyaring secara cepat suatu populasi
2) Mampu mengukur progresifitas penyakit yang telah
diindentifikaskan demensia.
Sebagai suatu esesmen awal pemeriksaan Status Mental Mini
(MMSE) adalah test yang paling banyak dipakai, tetapi sensitif untuk
mendeteksi gangguan memori ringan.
Pemeriksaan Status Mental Mini (MMSE)
No Tes Nilai
ORIENTASI

1. Sekarang (tahun), (musim), (bulan), ( tanggal), hari apa? 5


2. Kita berada dimana (Negara, propinsi, kota, rumah sakit, lantai 5
kamar)
REGISTRASI
3. Sebutkan 3 buah nama benda (apel, meja, atau koin), setiap 3
benda 1 detik, pasien disuruh mengulangi ketiga nama benda tadi.
Nilai 1 untuk setiap nama benda yang benar. Ulangi sampai
pasien dapat menyebutkan dengan benar dan catat jumlah
pengulangan
ATENSI DAN KAKULASI

4. Kurangi 100 dengan 7. Nilai 1 tiap jawaban yang benar. Hentikan 5


setelah 5 jawaban. Atau disuruh mengeja tebalik kata “WAHYU”
(nilai di berikan huruf yang benar sebelum kesalahan: minsalnya
uyahw – 2 nilai
MENGINGAT KEMBALI (RECALL)

5. Pasien di suruh menyebutkan kembali 3 benda diatas 3


BAHASA

6. Pasien di suruh menyebut nama benda yang di tunjukkan (pensil, 2


buku)
7. Pasien di suruh mengulang kata-kata “namun”, “tanpa”, “bila” 1
8. Pasien di suruh melakukan perintah “ambil kertas itu dengan 3
tangan anda, lipatlah menjadi dua dan letaklah dilantai”
9. Pasien di suruh melakukan perintah “pejamkanlah mata anda” 1

10. Pasien disuruh menulis dengan spontan 1

11. Pasien disuruh menggambarkan bentuk dibawah ini 1

TOTAL 30

Skor Nilai 24 – 30 = Normal


Nilai 17 – 23 = Sedang
Nilai 0 – 16 = Berat
Menurut(Janiwarti, Bethsaida.2011) :
a. Catatan : walaupun tidak ada pemeriksaan diagnostic yang dikhususkan
untuk penyakit alzaimer, pemeriksaan ini digunakan untuk
menegsampingan tipe dimensia ini yang mungkin membingungkan.
b. Antibody : secara abnormal bisa ditemukan dalam kadar yang tinggi
c. ApoE4 : pemeriksaan untuk mengetahui adanya kerusakan genetic yang
berhubungan dengan perubahan DTA.
d. Pemeriksaan darah lengkap, RPR, eletrolit, tyroid : menentukan atau
mengeleminasi disfungsi yang dapat ditangani atau dikembalikan (mis.
Proses penykit metabolic, ketidak seimbangan cairan atau elektrolit,
neurosifils).
e. Vit. B12 : dapat menyingkap kekurangan nutrisi jika rendah.
f. Kadar folat : kadar rendah dapat memepengaruhi fungsi memori.
g. Uji supresi dexamitason : mengenyampingkan depresi yang dapat
ditangani.
h. EKG : mengenyampingkan insufiensi cardiac.
i. EEG ; dapat normal atau menunjukkan beberapa keterlambatan
(membantu menetapkan disfungsi otak yang dapat ditangani,
pemeriksaan ini juga dapat menyatakan lesi fokal (vascular).
j. Sinar X tengkorak : biasanya normal tetapi dapat menyatakan tanda
trauma kepala.
k. Uji penglihatan dan pendengaran : mengesampingkan penurunan yang
mungkin dapat menjadi penyebab atau memberi kontribusi untuk
disorentasi, suasana hati yang berubah-ubah, perubahan persepsi sensori
(bukan kerusakan kognitif).
l. Positron emison temografi (PET) scan brai electric card activity
mapping (BEAM) magnetic resonance emaging (MRE) : dapat
menunjukkan area karakteristik metabolisme yang menurun karena
DTA (di masa deapan, pemindaian dapat menjadi alat screening uuntuk
menyatakn perubahan awal, seperti pembentukan plak atau terjadi
kekusutan atau neurofibrilaris, bagi mereka yang berada pada kelompok
resiko mengalami demensia)
m. CT scan : dapat menunjukkan pelebaran ventrikel, atau atrofi kortikal.
n. Cairan serepropinalis : adanya protein abnormal dari sel otak 90%
mengidentifikasi DTA.
o. Uji respons pupil tropykamid (maydriacyl) hipersensitifitas terhadap
obat-obat yang memblock kerja asetilkolin. Respon dilatasi pupil
terhadap tetes mata tampaknya sama pada klien dengan DTA fase awal
atau fase tengah sebagai fase yang berat oleh karena itu ujia ini dapat
memberikan aat screening tetapi masih dalam penelitian.
Alzaimers disease asosiatek protein (ADAP) : penelitian postmortem
telah mmeberikan hasil postitif lebih dari 80%, pasien DTA. Adaptasi
ADAP untuk pemeriksaan masih sedang diteliti.(Janiwarti,
Bethsaida.2011).
9. Pencengahan Dan Perawatan Demensia
Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya
demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa
mengoptimalkan fungsi otak, seperti :
a. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti
alkohol dan zat adiktif yang berlebihan.
b. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya
dilakukan setiap hari.
c. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif
Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
d. Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang
memiliki persamaan minat atau hobby.
e. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks
dalam
f. kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat ( Silvia,
2006)
Menurut Oktavianus (2014)
Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya
demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan
senantiasa mengoptimalkan fungsi otak, seperti :
a. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti
alkohol dan zat aditif yang berlebihan.
b. Membaca buku yang merangsang otak untuk berfikir hendaknya
dilakukan setiap hari.
c. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan
aktif :
1) Kegiatan rohani dan memperdalam ilmu agama.
2) Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman
yang memiliki persamaan dan minat atau hobi.
d. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks
dalam kehidupan sehari-hari dapat memebuat otak kita tetap sehat.
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI
A. Pengkajian
1. Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, alamat, pendidikan dan
pekerjaan.
2. Keluhan Utama
Keluarga pasien mengatakan pasien sering lupa akan peristiwa
yang terjadi, pasien lupa hari dan tanggal, pasien sering salah
menyebutkan nama orang lain, dan pasien salah mengenali orang di
sekelilingnya.
3. Pemeriksaan Fisik
a. B1 : RR 20 x/menit, tidak tampak sesak.
Tidak ada masalah
b. B2 : tensi menurun, takikardia
c. B3 : kesadaran menurun, mudah lupa, emosi labil, dan berpikir abstrak.
d. B4 : poliuri, kerusakan pada sfingter
e. B5 : anoreksia, berat badan menurun
f. B6 : terjadinya gangguan gerak
4. Spiritual
Keyakinan klien terhadap agama dan keyakinan masih kuat akan
tetapi tidak atau kurang mampu dalam melaksanakan ibadah
sesuai agama dan kepercayaannya.
5. Status Mental

a. Penampilan klien tidak rapi dan tidak mampu untuk merawat dirinya
sendiri.

b. Pembicaraan keras, cepat dan inkoheren.

c. Aktivitas motorik, perubahan motorik dapat dimanifestasikan adanya


peningkatan kegiatan motorik dan gelisah.

6. Alam Perasaan
Klien tampak ketakutan dan putus asa
7. Afek dan Emosi
Perubahan afek terjadi karena klien berusaha membuat jarak
dengan perasaan tertentu karena jika langsung mengalami perasaan
tersebut dapat menimbulkan ansietas. Keadaan ini menimbulkan
perubahan afek yang digunakan klien untuk melindungi dirinya, karena
afek yang telah berubah memampukan klien mengingkari dampak
emosional yang yang menyakitkan diri dari lingkungan eksternal.
Respon emosional klien mungkin tampak tidak sesuai karena dari
kerangka pikir yang telah berubah. Perubahan afek adalah tumpul, datar,
tidak sesuai, berlebihan dan ambivalen
8. Interaksi saat wawancara
Sikap klien terhadap pemeriksaan kurang kooperatif dan kontak
mata kurang.
9. Persepsi
Persepsi melibatkan proses berpikir dan pemahaman emosional
terhadap suatu obyek. Perubahan persepsi dapat terjadi pada satu atau
lebih panca indra. Perubahan persepsi yang paling sering ditemukan
adalah halusinasi.
ANALISA DATA
No Data Etiologi Masalah
1. DS : Pasien mengatakan mudah Degeneratif Hambatan
lupa akan peristiwa yang terjadi, neuronal dan memori
pasien mengatakan terkadang demensia
lupa hari dan tanggal sekarang
DO : Pasien salah menyebutkan
tanggal dan hari sekarang,
pasien salah menyebutkan
musim apa sekarang
2. DS : pasien mengatakan Proses Resiko
terkadang salah menyebut nama
demensia dan kerusakan
orang disekitarnya
DO : pasien mulai terjadi kerusakan interaksi
perubahan diri dengan terkadang
kognitif social
menarik diri dari lingkungan
sekitar, pasien terkadang salah
mengenali orang disekitarnya
B. Diangnosa Keperawatan
1. Hambatan memori berhubungan dengan degeneratif neuronal dan
demensia yang dibuktikan dengan pasien mengatakan mudah lupa akan
peristiwa yang terjadi, pasien mengatakan terkadang lupa hari dan tanggal
sekarang, pasien salah menyebutkan tanggal dan hari sekarang, pasien
salah menyebutkan musin apa sekarang
2. Resiko kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan proses demensia
dan kerusakan kognitif yang dibuktikan dengan pasien mengatakan
terkadang salah menyebut nama orang disekitarnya, pasien mulai terjadi
perubahan diri dengan terkadang menarik diri dari lingkungan sekitar,
pasien terkadang salah mengenali orang disekitarnya
Daftar pustaka

Arif, Muttaqin . 2008 . Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Persyarafan . Jakarta : Salemba Medika.
Handayani, wiwik. 2008. Asuhan Keperawatan pada klien dengan Gangguan
Sistem Neurologi. Jakarta : Selemba medika
Janiwarti, Bethsaida.2011. Buku psikiatri. Yogyakarta : salemba medika
Maryam, R. Siti . 2012 . Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya . Jakarta :
Salemba Medika
Widagdo, Wahyu dkk. 2008. Askep Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta : Trans Info Media
Oktavianus. 2014. Asuhan keperawatan pada sistem neuobehvior. Yogyakarta :
Graha ilmu
Wilkson, juddith. 2015. Buku saku NANDA NIC NOC. Jakarta : buku kedokteran
EGC.