Anda di halaman 1dari 21
PERENCANAAN TES OLEH: KADEK PASEK BUDARSINI 1823011024 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCA SARJANA
PERENCANAAN TES
OLEH:
KADEK PASEK BUDARSINI
1823011024
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2019

Abstrak

Penentuan tujuan tes dapat ditentukan melalui jenis-jenis tes yang digunakan untuk mengukur aspek-aspek tertentu seperti menilai aspek prilaku (tes penempatan), memonitor kemajuan belajar (tes formatif), mendiagnosa kesulitan- kesuliatan belajar (tes diagnostik), dan mengukur hasil belajar diakhir materi pembelajaran (sumatif tes). Keempat jenis tes ini memiliki karakteristik tersendiri baik dari segi fungsi, pertimbangan sampel maupun karakteristik item soal. Hasil belajar siswa yang diukur melalui suatu tes dapat mencerminkan tujuan pembelajaran. Taxonomi Tujuan Pendidikan dapat digunakan untuk mengidentifikasi tujuan pembelajaran yang diukur seperti salah satunya domain kognitif untuk tes prestasi. Dalam penyusunan seperangkat tes harus memperhatikan spesifikasi tes, seperti memilih hasil belajar yang diukur, menguraikan materi belajar, dan membuat bagan dua arah. Selain itu, spesifikasi tes juga harus memperhatikan apakah tes yang akan dibuat mengacu pada norma atau mengacu pada patokan. Beberapa pertimbangan umum dalam penyusunan item tes, yaitu mencocokkan item soal dengan hasil belajar yang spesifik, meningkatkan fungsi konten soal, memilih tingkat kesulitan soal yang tepat, dan menentukan jumlah soal. Adapun dua karakteristik penting yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan tes prestasi yang baik yaitu validitas danreliabilitas.

A. PENDAHULUAN

Definisi evaluasi dikembangkan pertama kali oleh Ralph Tyler yang

mengemukakan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data

untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa dan bagaimana tujuan pendidikan

sudah tercapai. Evaluasi merupakan bagian proses yang sangat penting dalam

proses pembelajaran. Menurut Cronbach dan Stuflebeam (dalam Arikunto, 2015),

proses evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai tetapi

digunakan untuk membuat keputusan. Melalui kegiatan evaluasi, maka

menurunnya dan meningkatnya kualitas pendidikan dapat diketahui dan melalui

evaluasi dapat pula diketahui titik kelemahan pembelajaran, sehingga dapat

dicarikan solusi untuk mengubah hal tersebut menjadi lebih baik. Evaluasi tidak

hanya bermanfaat bagi guru tetapi bermanfaat pula untuk siswa maupun sekolah.

Guru maupun calon guru dituntut untuk mampu mengembangkan suatu

alat evaluasi yang nantinya akan mampu dijadikan sebagai alat ukur keberhasilan

proses pembelajaran. Untuk mengembangkan suatu alat evaluasi yang tepat maka

guru ataupun calon guru juga harus mengetahui dasar-dasar tentang evaluasi yang

salah satunya adalah alat evaluasi yang digunakan yaitu berupa tes. Suatu tes

untuk mengevaluasi hasil belajar disebut baik jika materi yang termuat dalam butir-butir tes tersebut dapat mewakili seluruh materi yang telah dipelajari siswa. Perencanaan tes yang baik adalah salah satu kunci untuk mendapatkan tes prestasi yang efektif. Hal ini akan menjamin bahwa tes yang dibuat dapat mengukur hasil belajar yang relevan. Mengukur sebuah sampel yang repsentatif dari hasil yang diharapkan dan menyediakan informasi terpercaya yang menjadi dasar pengambilan keputusan pembelajaran. Merencanakan tes termasuk mengidentifikasi dan menspesifikasikan dari apa yang akan diukur secara tepat. Perencanaan tes memerlukan beberapa pertimbangan dan langkah yang efektif, pertimbangan yang pertama dalam perencanaan tes adalah untuk menentukan jenis dari tes yang dipersiapkan. Ini akan membantu memperjelas apa yang akan diukur dan akan membantu dalam menyatakan spesifikasi tes dalam istilah yang tepat. Jika perencanaan tes yang baik telah dilakukan, mengkonstruksi soal-soal tes yang relevan sangatlah mudah untuk dilakukan. Berdasarkan uraian di atas, penulis membahas artikel yang berjudul Merencanakan Seperangkat Tes”.

B. IDENTIFIKASI MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah di atas, adapun beberapa rumusan

masalah sebagai berikut.

1.

Bagaimanakah menentukan tujuan dari suatu tes?

2.

Bagaimanakah mengidentifikasi dan menetapkan prestasi belajar yang diinginkan?

3.

Apa saja langkah-langkah dalam menyiapkan spesifikasi tes?

4.

Apa saja pertimbangan dalam menyusun tes yang relevan?

5.

Apa saja pertimbangan teknik dalam perencanaan tes?

C.

Pembahasan

1.

Menentukan Tujuan Tes

Seperti yang termuat dalam Bab I, tes yang bisa digunakan dalam rancangan pembelajaran untuk menilai aspek prilaku (tes penempatan), memonitor kemajuan belajar (tes formatif), mendiagnosa kesulitan-kesuliatan

belajar (tes diagnostik), dan mengukur hasil belajar diakhir materi pembelajaran

(tes sumatif). Setiap jenis dari tes biasanya menggunakan beberapa modifikasi

desain tes khusus yang diperlukan. Meskipun susunan khusus dari tes apa pun

tergantung pada situasi tertentu yang digunakan, hal itu memungkinkan untuk

mengidentifikasi karakteristik umum dalam berbagai jenis tes. Di bawah ini

adalah rangkuman jenis-jenis tes (Tabel. 1).

Tabel 1. Karakteristik Empat Jenis Tes Prestasi

Jenis tes

 

Fungsi Tes

Pertimbangan

Karakteristik

Sampel

Item

 

Mengukur kemampuan prasyarat. Menentukan prestasi yang akan dicapai dalam tujuan pembelajaran.

Memasukkan

Biasanya, item-

dalam setiap

item soalnya

sikap prasyarat.

mudah dan

Memilih sampel

itemnya

Penempatan

yang

memiliki sebuah

representative

susunan yang

 

dari tujuan

luas dari

pembelajaran.

kesulitan dan

 

tidak mengacu

pada kriteria.

 

Menyediakan umpan balik kepada siswa dan guru dalam proses pembelajaran.

Memasukkan semua tujuan, jika memungkinkan (atau hal-hal yang paling penting).

Itemnya harus

sesuai dengan

kesulitan-

Formatif

kesulitan yang menjadi tujuan dan kriteria yang dirujuk.

 

Menentukan sebab dari kesulitan belajar yang sifatnya berulang.

Memasukkan sampel dari tugas berdasarkan sumber-sumber umum dari kesalahan belajar.

Biasanya, soal-

soalnya mudah

dan digunakan

dalam

Diagnostik

 

menyatakan

secara tepat

 

sebab yang

spesifik dari

kegagalan.

 

Membuat peringkat, atau mengelompokkan

Memilih sampel yang representatif dari tujuan

Biasanya,

itemnya

memiliki sebuah

Sumatif

ke

dalam kategori

pembelajaran.

susunan yang

di

akhir

luas dari

 

pembelajaran.

kesulitan dan

tidak mengacu

pade kriteria.

Materi dari tabel 1 menyediakan sebuah deskripsi umum yang baik dari keempat jenis-jenis tes, setiap kategori dikatakan saling melengkapi untuk setiap tingkatan. Misalnya, sebuah tes khusus dapat dibuat untuk kebutuhan yang lebih dari satu tujuan. Sebagai contoh hasil akhir daripada tes formatif yang dapat digunakan untuk menyediakan umpan balik ke siswa, menunjukkan secara tepat sumber dari kegagalan ataupun kesalahan pembelajaran, dan untuk menyatakan penguasaan dari setiap unit yang menjadi tujuan. Sama halnya seperti pertimbangan sampel dan karakteristik butir soal yang memerlukan modifikasi untuk menjadi tes yang dapat digunakan secara tepat atau jenis yang spesifik dari pembelajaran.

2. Mengidentifikasi dan Menetapkan Prestasi Belajar yang Diinginkan

Hasil belajar siswa yang diukur melalui suatu tes harus mencerminkan tujuan pembelajaran. Di mana hal pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi tujuan-tujuan pembelajaran yang akan diukur dengan tes. Salah satu panduan yang dapat digunakan dalam hal ini adalah Taksonomi Tujuan Pendidikan (lihat Bloom et al, 1956; Krathwohl et al, 1964; Harrow, 1972). Hal ini adalah sistem komprehensif yang mengklasifikasikan tujuan dalam setiap dari tiga domain: (1) kognitif, (2) afektif, dan (3) psikomotor. Domain kognitif berhubungan dengan hasil intelektual, domain afektif dengan minat dan sikap, dan domain psikomotor dengan keterampilan motorik. Karena perhatian kita di sini adalah tentang pengujian prestasi, kita hanya akan fokus pada domain kognitif.

2.1 Domain Kognitif

Hasil kemampuan intelektual dalam kajian domain kognitif dibagi menjadi dua bagian yaitu (1) pengetahuan dan (2) kemampuan dan kecakapan dalam intelektual. Akan diuraikan lebih jelas bagian-bagian dari kedua hal ini:

Pengetahuan:

1. Pengetahuan (mengingat materi pembelajaran sebelumnya) 1.1 Pengetahuan Tertentu/Spesifik

1.1.1 Pengetahuan istilah-istilah

1.1.2 Pengetahuan fakta-fakta tertentu/spesifik

1.2 Pengetahuan dari cara-cara dan makna yang telah ditetapkan dengan spesifik

1.2.1 Pengetahuan dari ketetapan

1.2.2 Pengetahuan trend dan barisan

1.2.3 Pengetahuan klasifikasi dan kategori

1.2.4 Pengetahuan kriteria

1.2.5 Pengetahuan metodologi

1.3 Pengetahuan dari bagian yang universal dan abstrak

1.3.1 Pengetahuan dari prinsip dan generalisasi

1.3.2 Pengetahuan dari teori dan struktur.

Kemampuan dan Kecakapan Intelektual:

2. Pemahaman (menyerap arti dari sebuah materi)

2.1 Translasi (merubah dari suatu bentuk ke bentuk lain)

2.2 Interpretasi (menjelaskan dan merangkum materi)

2.3 Ekstrapolasi (memperluas makna melalui data yang ada)

3. Aplikasi (menggunakan informasi ke dalam situasi konkret)

4. Analisis (memecah materi menjadi bagian-bagiannya)

4.1 Analisis dari elemen-elemennya (mengidentifikasi bagian-bagiannya)

4.2 Menganalisis hubungannya (mengidentifikasi hubungannya)

4.3 Menganalisis prinsip pengelompokannya (mengidentifikasi kelompoknya)

5. Sintetis (menggabungkan bagian-bagian dalam satu kesatuan)

5.1 Hasil dari komunikasi yang unik

5.2 Hasil dari sebuah perencanaan dan pengusulan kumpulan dari operasi)

5.3 Turunan dari sebuah kumpulan dari hubungan yang bersifat abstrak)

6. Evaluasi (memutuskan nilai dari sesuatu untuk tujuan yang diberikan dengan

menggunakan kriteria yang telah didefinisikan)

6.1 Keputusan dalam istilah dari fakta-fakta internal

6.2 Keputusan dalam istilah kriteria eksternal.

Dapat dilihat bahwa siswa mulai dari penarikan informasi faktual yang sederhana kemudian dilanjutkan ke tingkat pemahaman dan maju melalui tingkat aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Secara garis besar, hasilnya disusun dalam rangka meningkatkan tes prestasi belajar siswa, hal ini juga berfokus pada daftar

proses mental yang komprehensif dan lengkap untuk dipertimbangkan ketika mengidentifikasi hasil pembelajaran serta berfungsi sebagai panduan untuk menyatakan hasil pembelajaran dalam hal kinerja siswa tertentu.

2.2 Menyatakan Hasil Belajar Secara Umum

Suatu hasil belajar yang diukur melalui tes sangat berguna dalam mengonstruksi tes ketika mereka dinyatakan sebagai terminal tingkah laku yang dapat diamati. Hal ini, dapat menunjukkan secara jelas prestasi siswa yang tercacat di akhir kegiatan pembelajaran. Di akhir dari perencanaan tes prestasi, siswa diharapkan:

1. Mengetahui makna dari istilah-istilah umum.

2. Mengetahui fakta spesifik tentang perencanaan tes.

3. Mengetahui prosedur dasar untuk perencanaan sebuah tes prestasi.

4. Memahami prinsip yang relevan dari tes

5. Mengaplikasikan prinsip dari perencanaan tes.

2.3 Penjelasan Hasil Umum dalam Istilah yang Spesifik

Ketika sebuah tes dari hasil belajar secara umum telah diidentifikasi dan diklarifikasi, langkah selanjutnya adalah mendata jenis yang spesifik dari prestasi

siswa yang diterima sebagai bukti bahwa hasilnya telah tercapai. Untuk dua hal dalam hasil belajar yang spesifik bisa di daftar sebagai berikut. 1. Mengetahui makna/arti dan istilah-istilah umum

1.1 Mengidentifikasi definisi yang tepat dari istilah -istilah.

1.2 Mengidentifikasi arti dari istilah-istilah ketika digunakan dalam konteks

1.3 Membedakan antara istilah dalam basis dari makna

1.4 Memilih istilah yang paling tepat ketika mendekripsikan prosedur tes.

4. Memahami prinsip yang relevan dari tes

4.1 Menjelaskan setiap prinsip ke dalam bahasa mereka sendiri

4.2 Memantaskan sebuah contoh yang spesifik untuk setiap prinsip.

4.3 Menjelaskan kerelevanan dari setiap prinsip ke dalam langkah utama dalam perencanaan tes.

4.4 Memprediksi efek yang paling mungkin dari setiap melanggar prinsip- prinsip tersebut.

4.5 Merumuskan sebuah perencanaa tes yang sesuai dengan prinsip -prinsip.

Istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan hasil belajar tertentu dengan menunjukkan kemampuan siswa yang dapat di demonstrasikan ke dalam sebuah pegamatan eksternal. Istilah kuncinya di daftar seperti di bawah untuk menekankan hasil belajar dalam istilah kemampuan yang spesifik.

Mengidentifikasi

Memasangkan

Membedakan antara

Menjelaskan

Memilih

Memprediksi

Mendeskripsikan

Merumuskan

Kata kerja operasional seperti di atas mengindikasikan secara persis apa yang siswa dapat lakukan untuk mendemontrasikan prestasi mereka. Istilah yang tidak jelas seperti “belajar”, “melihat”, “menyadari” dan “akrab dengan” harus dihindari karena mereka tidak secara jelas menunjukan kemampuan awal yang diukur.

Beberapa sampel kata kerja operasional untuk menyatakan hasil belajar yang spesifik untuk setiap level dari daerah kognitif dari taksonomi tertera pada tabel 2. Meskipun kata kerja operasional yang pasti dapat digunakan dalam beberapa level yang berbeda sebagai contoh “mengidentifikasi”, tabel tersebut menyediakan sebuah petunjuk yang sangat berguna untuk menjelaskan hasil yang diharapkan dalam istilah kemampuan. Dalam mendefinisikan hasil belajar secara umum dengan istilah kemampuan yang lebih spesifik adalah tidak mungkin untuk mendaftar semua jenis yang relevan. Untuk merencanakan sebuah tes yang digunakan dalam mendeskripsikan tugas-tugas belajar siswa yang sudah mampu dikuasai, kita harus merancangnya seperti daftar komprehensif. Sebuah tes yang digunakan untuk merangking siswa dalam suatu pencapaian, biasanya menyertakan jumlah yang memadai pada tipe tertentu dari suatu kinerja untuk memperjelas seperti apa kategori siswa yang sudah mampu mencapai hasil yang diinginkan.

Tabel 2. Ilustrasi Kata Kerja Dalam Taksonomi dari Domain Kognitif

Kategori kategori taksonomi

Contoh kata kerja untuk menyatakan hasil belajar secara spesifik

Pengetahuan

Mengidentifikasi, menamai, mendefinisikan, medeskripsikan, mendaftar, menyocokkan, memilih, mensketsa.

Pemahaman

Mengklasifikasikan, menjelaskan, merangkum, menkonversi, memprediksi, membedakan antara

Aplikasi

Mendemonstrasikan, menghitung, menyelesaikan, memodifikasi, meyusun, mengoperasikan, menghubungkan

Analisis

Membedakan, mendiagramkan, mengestimasi, memisahkan,menduga, mengurutkan, membagi lagi

Sintesis

Mengkombinasi, membuat, merumuskan, mendisain, menggubah, mengkonstruksi, menyusun kembali, merevisi

Evaluasi

Memutuskan, mengkritik, membandingkan, membenarkan, menyimpulkan, membedakan, mendukung.

3. Menyiapkan Spesifikasi Tes

Dalam penulisan item tes diperlukan spesifikasi tes yang dipersiapkan

secara matang. Fungsi dari spesifikasi adalah untuk mendeskripsikan domain

prestasi menjadi dapat diukur dan menyediakan pedoman untuk mendapatkan

sebuah sampel yang representatif dari tugas-tugas tes. Dalam mengkontruksi tes

prestasi, salah satu alat yang digunakan berupa bagan dua jalur yang disebut

dengan tabel spesifikasi.

3.1 Merancang Tabel Spesifikasi

Dalam menyiapkan tabel spesifikasi dilakukan dengan beberapa cara

yaitu (1) memilih hasil belajar yang diukur, (2) menguraikan materi belajar dan

(3) membuat bagan dua arah. Bagan dua arah ini mendeskripsikan sampel dari

item yang menjadi bagian dari tes.

1. Memilih Hasil Belajar yang Akan Diukur

Hasil belajar dalam pembelajaran yang bersifat khusus akan bergantung

pada sifat dasar tertentu dari pembelajaran, tujuan yang dicapai pada materi

pembelajaran sebelumnya, filosofi dari sekolah, kebutuhan-kebutuhan khusus dari

siswa, dan beberapa faktor lokal lainnya yang mempertegas program materi

pelajaran. Meskipun banyak variasi dari pembelajaran ke pembelajaran yang lain, sebagian besar tujuan pembelajaran akan mencakup hasil belajar dalam bidang berikut: (1) pengetahuan, (2) kemampuan intelektual dan keterampilan, 3) keterampilan umum (laboratorium, kinerja, komunikasi, kerja-studi), dan (4) sikap, minat dan apresiasi. Hal ini di dua wilayah pertama, yang dicover dengan domain kognitif dari taksonomi bahwa tes prestasi yang paling berguna. Hasil belajar di daerah lain biasanya dievaluasi oleh skala penilaian, ceklist, catatan anekdot, persediaan, dan prosedur evaluasi non-test serupa. Dengan demikian, langkah pertama adalah untuk memisahkan dari daftar hasil belajar mereka yang diuji dengan uji kertas dan pensil.

2. Menguraikan Materi Belajar

Hasil belajar yang dinyatakan akan menentukan bagaimana siswa memberikan respon terhadap materi belajar dalam pembelajaran. Siswa dapat merespon dengan cara yang sama untuk berbagai bidang materi pelajaran, dan dapat memberikan reaksi dalam berbagai cara yang sama dari materi pelajaran. Sebagai contoh, ketika kita menyatakan bahwa siswa dapat “mendefinisikan istilah dengan kata-katanya sendiri, “mengingat fakta tertentu”, atau “mengidentifikasi contoh sebuah prinsip”, jenis dari prestasi kinerja ini dapat diterapkan pada hampir semua bidang materi pelajaran. Demikian pula dalam mempelajari taksonomi tujuan pendidikan kita dapat berharap siswa hanya untuk mengingat kategori di dalamnya, atau kita bisa meminta mereka untuk menjelaskan prinsip-prinsip yang diatur, untuk meringkas kegunaannya dalam perencanaan tes, untuk mengklasifikasikan hasil belajar yang diberikan, atau menggunakan hal tersebut dalam konstruksi yang nyata dari sebuah tes. Karena jenis khusus dari prestasi siswa dapat tumpang tindih dalam berbagai bidang materi, lebih tepat untuk mendaftar setiap aspek prestasi dan materi pelajaran secara terpisah dan kemudian berhubungan semua itu dalam tabel spesifikasi. Konten dari pembelajaran tentu saja dapat diuraikan secara rinci untuk tujuan pengajaran, tetapi hanya saja untuk perencanaan tes, kategori utama yang perlu daftar. Berikut uraian dari topik materi pelajaran yang dibahas dalam dua bab pertama buku Norman E. Gronlund yang menggambarkan secara rinci untuk rencana tes.

A. Peran tes dalam proses pembelajaran

1. Keputusan pembelajaran dan jenis tes

2. Pengaruh tes pada pembelajaran dan instruksi

B. Prinsip pencapaian tes

1. Hubungan dengan tujuan pembelajaran

2. Pengambilan sampel representatif

3. Relevansi hasil-hasil pada setiap item

4. Relevansi uji menggunakan hasil

5. Reliabilitas tes

6. Meningkatkan pembelajaran

C. Tes acuan norma dan tes acuan patokan

D. Perencanaan tes

1. Menentukan tujuan tes

2. Mengidentifikasi hasil-hasil pembelajaran yang dimaksudkan

3. Mempersiapkan spesifikasi tes

4. Membangun item tes yang relevan

Tes prestasi biasanya dirancang untuk mengukur semua isi pembelajaran, termasuk yang dibahas dalam diskusi kelas, di luar kelas, membaca, dan setiap penugasan khusus lainnya.

3. Membuat Bagan Dua Jalur

Setelah menentukan hasil belajar yang ingin diukur, dan mempersiapkan materi yang digunakan, selanjutnya akan dibuat bagan dua arah yang disebut tabel spesifikasi. Seperti disebutkan sebelumnya, tujuan dari tabel ini adalah untuk memberikan jaminan bahwa tes akan mengukur sampel yang representatif dari hasil belajar dan topik subjek-materi yang akan diukur. Contoh dari tabel spesifikasi forum tes sumatif norma-direferensikan pada dua bab pertama buku ini diberikan dalam Tabel 3.

Tabel 3. Tabel Spesifikasi Tes Sumatif Bab 1 dan 2 pada Buku.

Outcomes Content
Outcomes
Content
 

Knows

Comprehends

Principles

Applies

Principles

Total

     

Number

Terms

Facts

Procedures

of Item

Role of Tests in Instruction

4

4

 

2

 

10

Principles of

4

3

2

6

5

20

Testing

Norm-

4

3

3

   

10

Referenced vs

Criterion-

Referenced

Planning the

3

5

5

2

5

20

Test

Total Number

15

15

10

10

10

60

of Items

Angka-angka dalam setiap sel dari tabel menunjukkan jumlah item tes

yang akan digunakan pada bidang tertentu. Misalnya, 15 item dalam tes akan

mengukur pengetahuan tentang istilah: 4 di antaranya berkaitan dengan “peran tes

dalam mengajar”, 4 berkaitan dengan “prinsip pengujian”, 4 item untuk acuan

norma dan acuan patokan” dan 3 sisanya untuk “merencanakan tes”. Jumlah item

menyatakan total dari setiap sel yang ditentukan oleh bobot yang diberikan untuk

setiap hasil belajar dan setiap materi pelajaran.

Sejumlah faktor mempengaruhi penetapan bobot relatif setiap hasil

pembelajaran. Misalnya, seberapa pentingkah setiap bidang dalam total

pengalaman belajar?, berapa banyak waktu yang disediakan untuk setiap bidang

selama pengajaran?, hasil mana yang memiliki daya ingat dan nilai transfer

terbesar?. Kriteria ini dan yang serupa harus dipertimbangkan dalam menentukan

kepentingan relatif dari setiap hasil dan subjek bidang. Dalam analisis akhir, bobot

yang ditetapkan untuk hasil dan topik yang tercantum dalam tabel harus

mencerminkan penekanan yang diberikan selama pengajaran. Dalam tabel 2

misalnya diasumsikan bahwa lebih banyak penekanan diberikan pada

“perencanaan tes” (20 item) seperti yang diberikan kepada “acuan norma dan

acuan patokan” (10 soal). Demikian pula, diasumsikan bahwa hasil pengetahuan

diberi sekitar dua pertiga dari total yang ditekankan (40 soal) dan bahwa

pemahaman dan penerapan hasil masing-masing diberikan sekitar seperenam dari

total yang ditekankan (masing-masing 10 soal). Singkatnya, persiapan tabel spesifikasi mencakup langkah-langkah berikut:

1. Mengidentifikasi hasil belajar dan konten yang akan diukur.

2. Menentukan hasil belajar dan konten yang relatif penting.

3. Membuat bagan dua arah sesuai dengan bobot relatif dengan

mendistribusikan item tes secara proporsional di antara sel-sel yang relevan. Dalam tabel dua arah menunjukkan jenis tes yang diperlukan untuk mengukur hasil belajar dan konten harus seimbang. Dengan demikian, tabel spesifikasi berfungsi untuk membuat tes seperti yang direncanakan. Ini menentukan jumlah dan sifat dari item dalam ujian dan menyediakan panduan dalam penulisan item soal. 3.2 Spesifikasi untuk Tes Acuan Patokan Tabel spesifikasi dapat berguna dalam menyiapkan tes acuan patokan namun sangat tergantung pada sifat domain prestasi yang diukur. Dalam beberapa kasus tes dapat mencakup area yang terbatas pada tabel spesifikasi kategori domain kognitif, misalnya daftar cara-cara khusus siswa untuk menunjukkan pengetahuan mereka dapat memberikan dasar yang cukup untuk perencanaan tes. Salah satu prosedur untuk mempersiapkan spesifikasi yang terperinci

untuk tes acuan patokan melibatkan penulisan spesifikasi tes terpisah untuk setiap kumpulan item yang mengukur kelas yang sama dari kinerja siswa (Popham, 1978) ini biasanya melibatkan domain prestasi yang jelas. Prosedurnya adalah sebagai berikut:

1. Deskripsi Umum: Sebuah deskripsi singkat, secara umum, dari perilaku yang dinilai oleh tes.

2. Contoh item tes: Item ilustrasi yang mencerminkan atribut soal tes akan dibatasi pada dua komponen berikut.

a. Stimulus atribut: Serangkaian pernyataan yang berusaha untuk membatasi kelas material stimulus yang akan dihadapi oleh peserta ujian.

b. Respon atribut: Serangkaian pernyataan yang mencoba baik untuk (a) membatasi kelas dari pilihan respon dimana siswa membuat tanggapan

yang dipilih atau (b) menjelaskan standar dimana tanggapan peserta ujian akan dinilai 3. Keterangan suplemen: dalam kasus tertentu mungkin perlu untuk menambahkan lampiran atau suplemen untuk empat komponen sebelumnya. Suplemen ini biasanya menyediakan daftar yang lebih rinci atau penjelasan dari konten yang layak.

Spesifikasi rinci tersebut dapat dibuat menjadi beberapa halaman dan memerlukan waktu yang cukup untuk mempersiapkan. Jika hati-hati dilakukan, spesifikasi akan jelas menunjukkan sifat dari kinerja siswa yang diukur dan karakteristik khusus dari item tes yang dipersiapkan. Prosedur ini sangat berguna di mana item yang harus disiapkan oleh sejumlah individu. Dalam hal ini spesifikasi memberikan pedoman yang diperlukan untuk mempersiapkan item tes yang relevan dan fungsional. Deskripsi rinci, berguna dalam berkomunikasi dengan pengguna tes khususnya mewakili apa yang dinilai tes.

4. Pertimbangan dalam Menyusun Item Tes yang Relevan

Pembuatan seperangkat tes yang relevan sangat sederhana jika hasil belajar yang diinginkan telah didefinisikan dengan jelas dan spesifikasi pengujian disiapkan dengan matang. Berikut ini berapa pertimbangan umum dalam penyusunan item tes.

4.1 Menyesuaikan Item Soal dengan Hasil Belajar yang Spesifik

Pengujian prestasi yang efektif mensyaratkan bahwa seperangkat tes yang akan dibangun menimbulkan kinerja yang digambarkan dalam hasil belajar yang dimaksud. Meskipun kita tidak pernah yakin dengan korespondensi sempurna antara hasil dan soal. Contoh berikut menggambarkan bagaimana soal harus ditulis untuk mengukur jenis khusus dari spesifikasi kinerja dinyatakan dalam hasil belajar yang spesifik.

Contoh:

Hasil belajar yang spesifik: Mendefinisikan istilah-istilah dengan kata-kata siswa sendiri. Petunjuk: Tentukan masing-masing istilah berikut dalam satu atau dua kalimat.

1.

Taksonomi

2. Kognitif

3. Pengukuran

4. Evaluasi

Hasil belajar yang spesifik: Mengidentifikasi langkah-langkah prosedural dalam perencanaan test. 1. Manakah salah satu dari langkah-langkah berikut yang harus diselesaikan terlebih dahulu dalam merencanakan sebuah tes prestasi?

A. Pilih jenis soal tes untuk digunakan.

B. Tentukan panjang tes.

* C. Menentukan hasil pembelajaran yang diharapkan. D. Siapkan spesifikasi tes. Hasil belajar yang spesifik: Mengidentifikasi urutan hirarkis dari kategori dalam taksonomi domain kognitif.

yang

1. Manakah

salah

satu

dari

kategori

berikut

dalam

taksonomi

menunjukkan tingkat tertinggi dalam belajar?

A. Analisis

B. Aplikasi

C. Pemahaman

* D. Sintesis

Hasil belajar yang spesifik: Membedakan antara dugaan dan bukan dugaan yang menjadi prinsip dalam tes prestasi.

pernyataan

mengindikasikan prinsip dugaan dari pengujian prestasi, lingkari S, Jika itu

Petunjuk: Bacalah

setiap

pernyataan-pernyataan

berikut.

Jika

menunjukkan sebuah prinsip yang bukan dugaan, lingkari U.

1. Hasil pembelajaran spesifik yang akan diuji harus dinyatakan dalam hal kinerja siswa. 2. Pengujian prestasi harus dibatasi dengan hasil yang dapat diukur tujuannya. 3. Setiap tes prestasi harus mengukur dengan jelas jenis dari prestasi

siswa. Hasil belajar yang spesifik: Mengidentifikasi contoh-contoh hasil belajar yang benar.

*S U

S

*U

*S U

1. Manakah salah satu dari hasil belajar berikut ini yang benar?

A. Siswa menyadari pentingnya tes dalam mengajar.

B. Siswa telah memperoleh prinsip-prinsip dasar tes prestasi.

C. Siswa menunjukkan keingintahuannya tentang pengalaman yang

lebih dalam konstruksi tes. *D. Siswa memprediksi efek yang paling mungkin terjadi karena melanggar prinsip konstruksi tes. Perlu dicatat dalam contoh ini bahwa setiap hasil belajar yang spesifik memberikan definisi yang tepat tentang kinerja siswa yang akan diukur, dan soal

tes hanya memberikan tugas yang membuat pengukuran yang mungkin untuk kinerja yang ditentukan.

4.2 Meningkatkan Fungsi Konten Soal Jika soal tes untuk meningkatkan hasil belajar, perhatian harus diberikan dalam ungkapan tiap butir soal. Hambatan yang mungkin membuat susah memahami tes yang dibuat dan memberikan sedikit informasi untuk jawaban yang benar. Berikut ini beberapa hambatan umum yang harus dihindari selama mempersiapkan tes.

a. Kosakata yang sulit dan tidak penting.

b. Struktur kalimat yang kompleks tetapi tidak penting.

c. Pernyataan yang mengandung ambiguitas.

d. Pernyataan yang berlebihan dan bertele-tele

e. Tidak jelas menggambarkan yang dimaksudkan.

f. Petunjuk yang tidak jelas.

g. Bahan mencerminkan ras, etnis, atau bias seks. Hambatan tersebut dapat dihindari dengan (1) menulis setiap soal tes

sehingga menyajikan tugas secara jelas, (2) menyatakan soal tes dengan sederhana dan bahasa yang jelas, (3) menjaga soal tes agar terhindar dari bias dan tidak fungsional, dan (4) menggunakan format tes dan petunjuk yang berkontribusi mengefektifkan tes yang dilakukan. Beberapa petunjuk umum yang harus dihindari ketika membuat persiapan tes, yaitu:

a. Kumpulan-kumpulan bahasa lisan memberikan jawabannya.

b. Ketakonsistenan tata bahasa yang menghilangkan jawaban yang salah.

c. Clue-clue spesifik yang membuat kemungkinan jawaban tertentu (misalnya, kadang-kadang) dan lainnnya yang tidak mungkin (misalnya, selalu).

d. Stereotip atau sangat terlalu teksbook untuk jawaban yang benar.

e. Panjang atau lokasi jawaban yang benar.

f. Materi dalam soal yang membantu dalam menjawab soal lain.

4.3 Memilih Tingkat Kesulitan Soal yang Tepat Keputusan mengenai tingkat kesulitan soal diarahkan sebagian besar berdasarkan tes prestasi yang sedang dipersiapkan. Jika tes tersebut menjadi acuan patokan, tingkat kesulitan tes ditentukan oleh tingkat kesulitan tugas belajar yang dijelaskan dalam hasil belajar yang spesifik. Jika tes tersebut menjadi acuan normatif, tingkat kesukaran tes sengaja diubah untuk mendapatkan penyebaran skor tes. Pendekatan berbeda untuk kesulitan butir soal merupakan salah satu perbedaan utama antara pengujian yang mengacu pada patokan dan pengujian yang mengacu pada norma. Tes yang mengacu pada patokan dirancang untuk menggambarkan tugas belajar yang spesifik yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh seseorang, maka tingkat kesulitan tes harus sesuai dengan tingkat kesulitan tugas-tugas yang diberikan. Jika pelajaran mudah, soal tes juga harus mudah. Jika pelajaran sulit, soal tes juga harus sulit. Tidak ada soal yang harus dihilangkan karena sebagian besar siswa mungkin diharapkan untuk menjawab dengan benar. Untuk melayani fungsi ini secara efektif, soal tes dengan materi belajar harus saling berkaitan, termasuk tingkat kesulitan tes. Tes prestasi yang mengacu pada norma dirancang untuk peringkat individu dalam prestasi mereka. Untuk tujuan ini berbagai penyebaran skor tes yang diinginkan akan didapatkan. Sebagai contoh, kita dapat mengatakan keyakinan bahwa Mary telah mencapai skor lebih dari Tom jika perbedaan sepuluh poin lebih diantara keduanya. Dengan demikian, kemampuan soal tes untuk diskriminasi siswa sangat penting dalam pengujian yang mengacu pada norma, dan semakin besar penyebaran skor akan semakin baik. Variabilitas skor yang diinginkan dalam tes yang mengacu pada norma diperoleh dengan mengeliminasi soal tes yang sangat mudah (karena cenderung

dijawab dengan benar oleh semua siswa). Meskipun begitu, soal yang mudah dapat ditempatkan pada bagian awal tes untuk memotivasi siswa, dan soal yang sulit ditempatkan di akhir tes untuk menantang kemampuan siswa dan meningkatkan perbedaan skor antar siswa. Tes yang mengacu pada norma didesain untuk mengurutkan rangking prestasi siswa, tetapi rangking tersebut harus merepresentasikan tujuan instruksional. Jika soal tidak relevan, maka pengukuran tidak valid. 4.4 Menentukan Jumlah Soal Spesifikasi tes harus menunjukkan sampel soal yang akan dimasukkan kedalam sebuah tes. Meskipun jumlahnya ditentukan oleh tujuan tes dan jenis soal tes yang dipersiapkan. Ada beberapa kendala praktis yang juga harus diperhatikan, yaitu usia siswa yang diuji dan waktu yang tersedia untuk pengujian. Pada tingkat sekolah dasar, waktu pengujian biasanya tidak boleh lebih dari tiga puluh menit sehingga motivasi dapat terjaga. Pada tingkat sekolah menengah dan tingkat yang lebih tinggi, siswa dapat diberikan tes yang berlangsung beberapa jam. Dalam mencocokkan jumlah soal dan waktu yang tersedia, kita dihadapkan dengan masalah untuk memperkirakan banyaknya soal yang dapat diselesaikan siswa tiap menit. Akan tetapi, tidak mudah menentukannya karena tergantung pada jenis tes soal, pengukuran kompleksitas hasil pembelajaran, dan usia siswa. Untuk siswa tingkat SMA dan perguruan tinggi harus dapat menjawab salah satu soal pilihan ganda, soal tiga jawaban pendek, atau tiga soal salah benar per menit ketika menjawab soal yang mengukur pengetahuan. Untuk mengukur hasil pembelajaran yang lebih kompleks seperti pemahaman dan aplikasi, serta untuk pengujian kelompok siswa lebih muda membutuhkan lebih banyak waktu tiap soal. Dalam memperkirakan jumlah soal, perlu diingat bahwa ada siswa lambat belajar dalam kelas yang perlu diberikan kesempatan untuk menyelesaikan tes. Pengalaman dalam menguji suatu kelompok tertentu menjadi panduan yang dapat diandalkan untuk menentukan panjang tes yang tepat.

5. Pertimbangan Teknik dalam Perencanaan Tes

Dua karakteristik yang paling penting dari pembuatan tes prestasi yang baik adalah validitas (validity) dan reliabilitas (realibility). Sebagian besar upaya

dalam konstruksi tes diarahkan pada keseluruhan tes yang sangat valid dan reliabel. Validitas mengacu pada sejauh mana tes berfungsi dikaitkan dengan tujuan penggunaannya. Dalam kasus pengujian prestasi siswa tujuannya adalah menggunakan hasil yang diperoleh siswa untuk menggambarkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan instruksional. Karena kita hanya dapat mengukur sampel kinerja siswa yang mewakili pencapaian tujuan yang memuaskan, hasil validitas tergantung pada kecukupan sampel uji. Jenis validitas ini disebut validitas isi dan menjadi kriteria utama dalam pengujian pencapaian. Kita bisa memperoleh validitas isi yang tinggi, dengan mendefinisikan domain dari tugas- tugas belajar yang akan diukur, mempersiapkan spesifikasi tes dengan cermat serta membuat sampel yang representatif dari item soal yang relevan. Jika prosedur tersebut tidak dilakukan dengan baik, maka validitas isi akan diragukan. Reliabilitas mengacu pada konsistensi pengukuran. Misalnya, jika seorang siswa mendapatkan skor 60 pada suatu tes, kita bisa mengatakan bahwa 60 akurat mewakili kinerja tes-nya. Jadi, jika kita uji dia pada waktu yang berbeda atau dengan sampel yang berbeda dari soal yang setara, kita akan menduga dia pasti mendapatkan skor yang sama. Tentu saja kita tidak bisa berharap kinerja tes dapat sempurna kekonsistenannya. Namun jika suatu tes memiliki tingkat konsistensi yang wajar maka hasil tes akan lebih dipercaya. Banyak faktor yang mempengaruhi konsistensi suatu test diantaranya keberuntungan dalam menebak dan ambiguitas di soal tes yang dapat menyebabkan nilai tes bervariasi. Tujuan penting dalam pengujian adalah meminimalkan kesalahan yang mungkin terjadi sehingga hasil tes yang dibuat reliabel seperti yang diharapkan. Reliabilitas diperlukan untuk mendapatkan validitas. Hal ini dapat dilihat jika tes seorang individu berubah-ubah maka kita tidak dapat mengharapkan tes tersebut mampu mendeskripsikan pencapaian yang benar. Dengan demikian reliabilitas memberikan konsistensi yang memungkinkan validitas. Namun perlu diingat bahwa konsistensi hasil hanyalah satu elemen penting dari validitas. Seperti yang telah dibahas sebelumnya untuk validitas isi yang baik kita juga membutuhkan ukuran keseimbangan pencapaian. Dengan demikian, reabilitas itu perlu, namun tidak cukup untuk syarat validitas.

Validitas dan reliabilitas pada sebuah tes dapat dilakukan selama pembuatan tes. Ketika memilih sampel representatif dari pembelajaran untuk dimasukkan dalam tes, kita menyediakan validitas isi. Ketika menyertakan sejumlah item yang memadai dalam pengujian, kita telah menyediakan reliabilitas. Ketika membuat soal tes yang bebas ambiguitas, klu-klu, dan kesalahan teknis lainnya, kita telah membuat tes yang valid dan reliabel.

D. PENUTUP

1.

Simpulan Adapun simpulan yang dapat diberikan penulis dari penulisan artikel ini

yaitu sebagai berikut.

1. Secara umum penentuan tujuan tes dapat ditentukan melalui jenis-jenis tes seperti menilai aspek prilaku (tes penempatan), memonitor kemajuan belajar (tes formatif), mendiagnosa kesulitan-kesuliatan belajar (tes diagnostik), dan mengukur hasil belajar diakhir materi pembelajaran (sumatif tes). Setiap jenis

dari tes menggunakan beberapa disain tes khusus yang diperlukan.

2. Hasil belajar siswa yang diukur melalui suatu tes dapat mencerminkan tujuan pembelajaran. Di mana hal pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi tujuan-tujuan instruksional yang akan diukur dengan tes. Dalam hal pengujian harus dapat dipastikan bahwa hal itu dinyatakan dalam cara yang tepat dan benar. Untuk mendefinisikan hasil belajar secara umum dalam istilah kemampuan yang lebih spesifik adalah tidak mungkin untuk mendaftar semua jenis yang relevan dari kemampuan.

3. Dalam menentukan spesifikasi tes terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan, yaitu: (a) memilih hasil belajar yang diukur, (b) menguraikan materi belajar dan (c) membuat bagan dua arah. Spesifikasi tes juga harus memperhatikan apakah tes yang akan dibuat mengacu pada norma atau mengacu pada patokan.

4. Pembuatan seperangkat tes yang relevan sangat sederhana jika hasil belajar yang diinginkan telah didefinisikan dengan jelas dan spesifikasi pengujian disiapkan dengan matang. Adapun beberapa pertimbangan umum dalam penyusunan item tes, yaitu: (a) mencocokkan item soal dengan hasil belajar

yang spesifik, (b) meningkatkan fungsi konten soal, (c) memilih tingkat kesulitan soal yang tepat, (d) menentukan jumlah soal.

5. Validitas dan reliabilitas pada sebuah tes dapat dilakukan selama pembuatan

tes. Ketika memilih sampel representatif dari pembelajaran untuk dimasukkan dalam tes, kita menyediakan validitas isi. Ketika menyertakan sejumlah item yang memadai dalam pengujian, kita telah menyediakan reliabilitas. Ketika membuat soal tes yang bebas ambiguitas, klu-klu dan kesalahan teknis lainnya, kita telah membuat tes yang valid dan reliabel. 2. Saran Adapun saran yang dapat penulis berikan, yaitu sebagai pendidik hendaknya memperhatikan tahapan perencanaan dalam membuat seperangkat tes sehingga tes yang diberikan kepada peserta didik memiliki spesifikasi yang benar serta sesuai dengan aspek yang akan diukur.

E. DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2015. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi 2). Jakarta :

Bumi Aksara. Groundlund, Norman E. 1982. Constructing Achievement Test (Third Edition). United Stated of America.