Anda di halaman 1dari 37

Case Report

APENDISITIS PERFORASI

Oleh :

Resti Rusydi 1110312006

Husni Minanda Fikri 1110311006

Preseptor:

dr. Syafruddin, Sp.B

BAGIAN ILMU BEDAH

RSUD ADNAAN WD PAYAKUMBUH

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

2016
BAB 1

PENDAHULUAN

Apendisitis merupakan peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis.1


Apendisitis akut adalah penyebab paling umum dari akut abdomen, dan merupakan kasus intra-
abdominal yang paling sering membutuhkan pembedahan darurat untuk mencegah timbulnya
komplikasi yang berbahaya.1-4

Apendisitis paling sering terjadi pada pasien dalam dekade kedua hingga keempat
kehidupan. Dibandingkan dengan pasien yang lebih muda, pasien usia lanjut dengan
apendisitis sering menimbulkan masalah diagnostik lebih sulit karena presentasi manifestasi
klinis yang atipikal dan kesulitan komunikasi, memperluas diferensial diagnosis. Faktor-faktor
ini berkontribusi pada tingkat perforasi yang amat tinggi terlihat pada orang tua.5

Ketika manifestasi apendisitis dalam bentuk klasik, apendisitis mudah untuk


didiagnosis dan diobati. Sayangnya, hanya 55% dari pasien dengan apendisitis mengeluhkan
gejala klasik dan temuan fisik yang khas. Hal ini disebabkan tanda-tanda dan gejala awal
terutama tergantung pada lokasi ujung apendiks yang sangat bervariasi.6 Oleh karena itu,
diagnosis yang akurat dan tepat waktu terhadap apendisitis dengan gejala atipikal menjadi salah
satu masalah yang paling sering terlewatkan dalam gawat darurat. Meskipun saat ini ada
peningkatan penggunaan ultrasonografi, computed tomografi scanning, dan laparoskopi,
tingkat misdiagnosis apendisitis tetap konstan (15,3%), begitu juga dengan angka kejadian
apendisitis perforasi. Persentase misdiagnosis kasus apendisitis secara signifikan lebih tinggi
pada wanita dibandingkan pada pria (22.2 vs 9.3%).5
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi

2.1.1 Lokasi dan Deskripsi

Apendiks vermiformis adalah organ berbentuk tabung yang mempunyai otot dan
mengandung banyak jaringan limfoid. Panjang apendiks vermiformis bervariasi antara 8-13
cm, dengan diameter 0,7 cm.7 Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian
distal. Namun demikian, pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan
menyempit ke arah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden
appendicitis pada usia itu.8 Dasar apendiks melekat pada permulaan posteromedial caecum,
sekitar 2,5 cm di bawah ileocaecalis. Apendiks terletak di ileocaecum, pertemuan di 3 tinea
(Tinea libera, tinea colica, dan tinea omentum). Apendiks vermiformis diliputi seluruhnya oleh
peritoneum, yang melekat pada lapisan bawah mesenterium intestinum tenue melalui
mesenteriumnya sendiri yang pendek, mesoapendiks. Mesoapendiks berisi arteri dan vena
appendicularis, dan saraf-saraf. 7

Gambar 1. Anatomi Apendiks9

Apendiks vermiformis terletak di regio iliaca dextra, dan ujungnya diproyeksikan ke


dinding anterior abdomen pada titik sepertiga bawah garis yang menghubungkan spina iliaca
anterior superior dan umbilicus (titik Mc.Burney).7
Gambar 2. Titik McBurney 5

Perdarahan apendiks berasal dari arteria appendicularis merupakan cabang arteri


ileocaecalis (cabang a.mesenterica superior). Arteri apendikularis merupakan arteri tanpa
kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena trombosis pada infeksi maka apendiks akan
mengalami gangren5. Aliran darah balik yaitu melalui vena appendikularis mengalirkan
darahnya ke vena ileocaecal, kemudian menuju vena mesenteric superior dan masuk ke
sirkulasi portal.7

Ganbar 3. Perdarahan Apendiks


Persarafan apendiks berasal dari saraf parasimpatis cabang dari n.vagus yang mengikuti
arteri mesentrika superior dan a. appendikularis . sedangkan saraf simpatis berasal dari
n.thorakalis x. karena itu nyeri visceral pada apendisitis bermula di sekitar umbilicus.8

2.1.2 Posisi Ujung Apendiks Vermiformis

Terdapat beberapa variasi posisi apendiks vermiformis, yaitu diantaranya10,11


1. di belakang sekum (ascending retrocaecal): 64%
2. inferior sekum (subcaecal), turun ke arah pelvis minor: 32%
3. di belakang sekum (retrocaecal melintang): 2%
4. anterior dari ileum (ascending paracaecal preileal): 1%
5. posterior dari ileum (ascending paracaecal retroileal): 0,5%

Gambar 4. Posisi ujung apendiks vermiformis


Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan
apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks
penggantungnya. Oleh karenanya, gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks.8

2.2 Fisiologi

Apendiks menghasilkan lendir sebanyak 1-2 ml per hari, dan memiliki kapasitas 5
ml/hari. Lendir itu normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum.
Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis.8
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid
Tissue) terdapat di sepanjang saluran cerna, termasuk apendiks, ialah IgA. Imunoglobulin
tersebut sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan
apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limf di sini kecil
sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.8

2.3 Apendisitis akut

2.3.1 Definisi

Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis. Apendisitis akut adalah


penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran kanan bawah rongga abdomen, penyebab
paling umum untuk bedah abdomen darurat

Gambar 5. Peradangan pada apendiks vermiformis


2.3.2 Epidemiologi

Insidens apendisitis akut di negara maju lebih tinggi daripada di negara berkembang.
Namun, dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya menurun secara bermakna. Hal ini
diduga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari.8
Apendisitis paling sering terjadi pada pasien dalam dekade kedua hingga keempat
kehidupan, dengan usia rata-rata 31,3 tahun. Adapun perbandingan apendisitis pada laki-laki:
perempuan yaitu 1,2-1,3: 1.5

2.3.3 Etiologi

Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang dominan sebagai pencetus


apendisitis akut.5,8 Fekalit adalah penyebab paling umum dari obstruksi apendiks. Fekalit
ditemukan pada 40% kasus apendisitis akut sederhana, di 65% kasus apendisitis gangren tanpa
ruptur, dan hampir 90% dari kasus apendisitis gangren dengan ruptur. Di samping itu terdapat
penyebab lain yang lebih jarang seperti hipertrofi jaringan limfoid, sisa barium yang mengental
dari pemeriksaan x-ray sebelumnya, tumor, dan parasit usus (seperti cacing askariasis).5 Selain
itu, salah satu penyebab yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah erosi mukosa
apendiks akibat parasit seperti E. Histolytica.8

Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat


dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan menaikkan tekanan
intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya
pertumbuhan kuman flora kolon biasa.8

2.3.4 Patofisiologi

Patofisiologi dasar apendisitis adalah obstruksi lumen apendiks yang diikuti oleh
infeksi. Setelah terjadi obstruksi, peningkatan produksi lendir terjadi, yang menyebabkan
peningkatan tekanan intraluminal. Dengan meningkatnya tekanan dan stasis dari obstruksi,
pertumbuhan bakteri yang berlebihan kemudian terjadi. Lendir kemudian berubah menjadi
nanah yang menyebabkan peningkatan lebih lanjut dalam tekanan luminal.6 Hal ini
menyebabkan distensi apendiks dan kemudian merangsang ujung saraf dari serabut aferen
viseral, menghasilkan nyeri yang samar-samar, tumpul, dan menyebar di mid abdomen atau
epigastrium. Peristalsis juga dirangsang oleh distensi yang tiba-tiba, sehingga kram dapat
menyamarkan nyeri viseral pada awal perjalanan apendisitis. Distensi ini biasanya
menyebabkan refleks mual dan muntah, dan nyeri viseral difus menjadi lebih parah.5 Tekanan
luminal yang terus meningkat mengakibatkan obstruksi limfatik terjadi yang kemudian
menyebabkan edema pada dinding apendiks. Tahap ini dikenal sebagai apendisitis akut atau
fokal.6
Meningkatnya tekanan dalam lumen apendiks melebihi tekanan dari vena, sehingga
kapiler dan vena tersumbat. Aliran darah arteriol yang terus berlanjut menyebabkan terjadinya
obstruksi dan kongesti vaskular5 dan mengakibatkan edema dan iskemia. Invasi bakteri pada
dinding apendiks dikenal sebagai apendisitis supuratif akut.6
Patologi apendisitis dimulai di mukosa, kemudian melibatkan seluruh lapisan dinding
apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama.8 Proses inflamasi ini segera melibatkan serosa
apendiks kemudian peritoneum parietal, yang menyebabkan pergeseran karakteristik nyeri ke
kuadran kanan bawah.5 Akibat tekanan yang terus meningkat, terjadi trombosis vena dan arteri,
menyebabkan gangren (apendisitis gangerenosa) dan perforasi (apendisitis perforasi).6
Upaya pertahanan tubuh berusaha membatasi proses radang ini dengan menutup
apendiks dengan omentum, usus halus atau adneksa (Walling off) sehingga terbentuk masa
periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrate apendiks. Di dalamnya,
dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak
terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi tenang dan
selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.8

Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi membentuk
jaringan parut yang melengket dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat
menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. Suatu saat organ ini dapat meradang
akut lagi dan dinyatakan sebagai eksaserbasi akut.8

Pada anak-anak dimana memiliki omentum yang pendek, dan pada orang tua yang
memiliki daya tahan tubuh yang sudah menurun sulit untuk terbentuk infiltrat sehingga
kemungkinan terjadi perforasi menjadi lebih besar.
 Patogenesis Peradangan Seluruh permukaan
mukosa (24-48 jam)

Obstruksi Lumen
Mukus terkurung,
Stasis bagian distal
Tek. Intraluminar √

F. Resiko Ggn. Sirkulasi dan


Fokalit Translokasi kuman limfe (edem)

Ulserasi fokal (app. Infeksi bakteri---


peritonitis
Fokal) lumen - mukosa

Perforasi (app Penumpukan nanah


Ggn Sirkulasi Atrial
perforasi) dan T. Intra/odem

Ulserasi fokal (app. Tek. Meningkat dan


Fokal) udem Gangren

Gambar 6. Patofisiologi Apendisitis

Gambar 6. Perjalanan Penyakit Apendisitis13


2.3.5 Klasifikasi Apendisitis
A. Apendisitis akut
1. Appendicitis Akut Sederhana (Cataral Appendicitis)
Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi.
Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadi peningkatan tekanan dalam
lumen yang mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks jadi menebal, edema, dan kemerahan.
Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus, mual, muntah, anoreksia, malaise, dan
demam ringan. Pada appendicitis kataral terjadi leukositosis dan appendiks terlihat normal,
hiperemia, edema, dan tidak ada eksudat serosa.

2. Appendicitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis)


Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan
terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini
memperberat iskemia dan edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar
berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi
suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema,
hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan
peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri
pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai
dengan tanda-tanda peritonitis umum.

3. Appendicitis Akut Gangrenosa


Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai terganggu
sehingga terjadi infrak dan ganggren. Selain didapatkan tanda-tanda supuratif, appendiks
mengalami gangren pada bagian tertentu. Dinding appendiks berwarna ungu, hijau keabuan
atau merah kehitaman. Pada appendicitis akut gangrenosa terdapat mikroperforasi dan
kenaikan cairan peritoneal yang purulen.

B. Apendisitis Abses
Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus), biasanya
di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal, subcaecal, dan pelvic
.
C. Apendisitis Perforasi
Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah ganggren yang
menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum. Pada
dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik.

D. Apendisitis Kronis
Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif sebagai proses
radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi rendah, khususnya
obstruksi parsial terhadap lumen. Diagnosa appendicitis kronis baru dapat ditegakkan jika ada
riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik
appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Secara histologis, dinding appendiks
menebal, sub mukosa dan muskularis propia mengalami fibrosis. Terdapat infiltrasi sel radang
limfosit dan eosinofil pada sub mukosa, muskularis propia, dan serosa. Pembuluh darah serosa
tampak dilatasi.

Gambar 7. Klasifikasi apendisitis

2.3.6 Manifestasi klinis


Gejala apendisitis bervariasi berdasarkan lokasi apendiks. Gejala klasik apendisitis
ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium atau
di sekitar umbilicus. Keluhan ini sering disertai mual, kadang disertai muntah, dan umumnya
nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam, nyeri akan berpindah ke kanan bawah (titik
McBurney). Nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri
somatik setempat.8 Nyeri pada awalnya di daerah epigastrium atau sekitar pusat, kemudian
berpindah ke kuadran kanan bawah disebut juga dengan Kocher’s sign.5
Pada beberapa kasus, nyeri epigastrium tidak dirasakan tetapi terdapat konstipasi
sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar, yang justru dianggap berbahaya karena
mempermudah terjadinya perforasi.8
Apendiks yang terletak retrosekal retroperitoneal (antara sekum dan otot psoas mayor),
tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada rangsangan peritoneal karena
apendiks terlindung oleh sekum. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul
saat berjalan karena kontraksi otot psoas mayor yang menegang dari dorsal.5,8,14
Nyeri atipikal biasanya timbul jika apendiks terletak di dekat otot obturator internus,
rotasi dari pinggang meningkatkan nyeri pada pasien ditemui ketika ujung apendiks terletak di
panggul.6 Radang pada apendiks yang terletak di rongga pelvis dapat menimbulkan gejala dan
tanda rangsangan sigmoid atau rectum sehingga peristalsis meningkat dan pengosongan rectum
menjadi lebih cepat serta berulang. Apendiks yang menempel ke kandung kemih dapat
menimbulkan dysuria dan peningkatan frekuensi kencing akibat rangsangan apendiks terhadap
dinding kandung kemih.6,8 Apendiks yang terletak di depan ileum terminal dekat dengan
dinding abdominal, maka nyeri sangat jelas.14 Sedangkan jika apendiks terletak di belakang
ileum akan menyebabkan nyeri testis, mungkin disebabkan iritasi arteri spermatika dan ureter.5
Pada lebih dari 95% pasien dengan apendisitis akut, anoreksia merupakan gejala yang
pertama dirasakan, diikuti oleh nyeri perut, kemudian muntah-muntah (jika muntah terjadi).
Jika muntah mendahului timbulnya rasa sakit, diagnosis apendisitis harus dipertanyakan.5
Hanya 55% dari pasien dengan apendisitis mengeluhkan gejala dan temuan fisik yang
klasik. Hal ini dikarenakan tanda-tanda dan gejala awal terutama tergantung pada lokasi ujung
apendiks yang sangat bervariasi. Ketika ujung apendiksretrocecal, nyeri dapat
dimanifestasikan dengan ekstensi pasif pinggul (psoas sign). Ketika apendiks terletak di pelvis,
nyeri dapat terdeteksi selama pemeriksaan rektal toucher atau pemeriksaan panggul. Dengan
demikian, pada pasien dengan sakit perut terus-menerus dan gejala rektum (diare atau
tenesmus), penting untuk melakukan pemeriksaan dubur.6
Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik. Pada awalnya, anak sering hanya
menunjukkan gejala rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bias melukiskan rasa
nyerinya. Oleh karenanya apendisitis sering baru diketahui setelah terjadi perforasi.8
Pada kehamilan, keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut, mual, dan mutah. Hal
ini perlu dicermati karena pada kehamilan trimester pertama sering juga terjadi mual dan
muntah. Pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral sehingga
keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih di region lumbal kanan.8

Gambar 7. Letak Apendiks selama kehamilan

2.3.7 Diagnosis

Anamnesis

Pada anamnesis, keluhan utama apendisitis biasanya mula-mula dirasakan di


epigastrium atau region umbilical yang kemudian dapat menyebar dan dirasakan di seluruh
perut. Nyeri kemudian dirasakan berpindah ke perut kanan bawah, tepatnya di titik Mc Burney.
Selain itu terdapat pula keluhan anoreksia, mual, muntah, obstipasi, dan febris. Namun,
keluhan yang dirasakan pasien apendisitis dapat berbeda oleh karena gejala ditentukan dari
posisi ujung apendiks.

Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik hasil yang didapatkan ditentukan terutama oleh posisi anatomis
dari apendiks yang meradang, serta oleh apakah organ tersebut telah mengalami ruptur ketika
pasien pertama diperiksa.5

Tanda rangsangan peritoneum lokal di titik Mc Burney yaitu nyeri tekan, nyeri lepas,
dan defens muskuler.8 Sedangkan nyeri rangsang peritoneum tidak langsung dapat berupa 8
1. Nyeri pada sisi kanan bawah yang timbul saat dilakukan palpasi dengan tekanan
pada kuadran kiri bawah– Rovsing’s sign
2. Nyeri pada sisi kanan bawah yang timbul saat palpasi dengan tekanan pada kuadran
kanan bawah dilepaskan tiba-tiba- Blumberg’s sign
3. Nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak seperti saat nafas dalam, berjalan,
batuk, mengedan

Gambar 8. Titik Mc. Burney


 Status Generalis
Keadaan umum pasien tampak kesakitan, membungkuk, dan memegang perut
kanan bawah. Tanda-tanda vital tidak banyak berubah pada apendisitis tanpa perforasi.5
Pada pemeriksaan suhu biasanya didapatkan demam ringan dengan suhu sekitar 37,5-
38,5oC,8 denyut nadi normal atau sedikit meningkat.5 Perubahan signifikan biasanya
menunjukkan bahwa komplikasi telah terjadi atau diagnosis lain harus
dipertimbangkan.5
 Status lokalis8
- Inspeksi: tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada
penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat
pada masa atau abses periapendikuler.
- Palpasi: didapatkan nyeri terbatas pada regio iliaka kanan, bisa disertai nyeri lepas
(Blumberg’s sign). Defens muskuler menunjukan adanya rangsangan peritoneum
parietal. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis.
- Perkusi: nyeri ketuk Mc Burney karena rangsangan peritoneum
- Auskultasi: peristaltik usus sering normal tetapi juga dapat menghilang akibat
adanya ileus paralitik pada peritonitis generalisata yang disebabkan oleh apendisitis
perforasi.
 Pemeriksaan khusus5,8
- Rovsing’s sign
Positif jika dilakukan palpasi dengan tekanan pada kuadran kiri bawah dan
timbul nyeri pada sisi kanan.
- Psoas sign

Pasien dibaringkan pada sisi kiri, kemudian dilakukan ekstensi dari panggul
kanan. Positif jika timbul nyeri pada kanan bawah, menandakan apendiks yang
meradang menempel di otot psoas mayor.

Gambar 9. Pemeriksaan Psoas sign

- Obturator sign
Pada pasien dilakukan fleksi panggul dan dilakukan rotasi internal pada
panggul. Positif jika timbul nyeri pada hipogastrium atau vagina bilamana apendiks
yang meradang bersentuhan dengan otot obturator internus yang merupakan
dinding panggul kecil. Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi
terlentang akan menimbulkan nyeri pada apendisitis pelvika.
Gambar 10. Pemeriksaan Obturator sign
- Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi dapat dicapai
dengan jari telunjuk, misalnya pada apendisitis pelvika. Pada apendisitis pelvika,
tanda perut sering meragukan sehingga kunci diagnosis adalah nyeri terbatas pada
jam 9-12 sewaktu dilakukan colok dubur.

Tabel 1. Pemeriksaan Fisik yang Khas pada Apendisitis


Jenis Pemeriksaan Interpretasi
Rovsing’s sign Positif jika dilakukan palpasi dengan tekanan pada kuadran kiri bawah
dan timbul nyeri pada sisi kanan.
Psoas sign atau Pasien dibaringkan pada sisi kiri, kemudian dilakukan ekstensi dari
Obraztsova’s sign panggul kanan. Positif jika timbul nyeri pada kanan bawah.
Obturator sign Pada pasien dilakukan fleksi panggul dan dilakukan rotasi internal pada
panggul. Positif jika timbul nyeri pada hipogastrium atau vagina.
Dunphy’s sign Pertambahan nyeri pada tertis kanan bawah dengan batuk
Ten Horn sign Nyeri yang timbul saat dilakukan traksi lembut pada korda spermatic
kanan
Kocher (Kosher)’s Nyeri pada awalnya pada daerah epigastrium atau sekitar pusat,
sign kemudian berpindah ke kuadran kanan bawah.
Sitkovskiy Nyeri yang semakin bertambah pada perut kuadran kanan bawah saat
(Rosenstein)’s sign pasien dibaringkan pada sisi kiri
Bartomier- Nyeri yang semakin bertambah pada kuadran kanan bawah pada pasien
Michelson’s sign dibaringkan pada sisi kiri dibandingkan dengan posisi terlentang
Aure-Rozanova’s sign Bertambahnya nyeri dengan jari pada petit triangle kanan (akan positif
Shchetkin-Bloomberg’s sign)
Blumberg sign Disebut juga dengan nyeri lepas. Palpasi pada kuadran kanan bawah
kemudian dilepaskan tiba-tiba

Pemeriksaan Laboratorium

 Laboratorium darah

Leukositosis ringan (10.000-18.000 sel/mm3) biasanya didapatkan pada pasien dengan


akut apendisitis tanpa komplikasi, dan sering disertai dengan dominasi polimorfonuklear.
Jumlah sel darah putih di atas 18.000 sel/mm3 meningkatkan kemungkinan apendiks perforasi
dengan atau tanpa abses.5

 Urin lengkap

Urinalisis berguna untuk menyingkirkan saluran kemih sebagai sumber infeksi.


Meskipun beberapa sel darah putih atau merah bisa berasal dari ureter atau iritasi kandung
kemih sebagai akibat dari radang pada apendiks, bakteriuria dalam spesimen urin yang
diperoleh melalui kateter umumnya tidak terlihat dalam apendisitis akut.5

Pemeriksaan Radiologi

 Foto polos abdomen

Foto polos abdomen jarang mampu menegakkan diagnosis, namun berguna dalam
mengidentifikasi free gas, dan dapat menunjukkan appendicolith di 7-15% kasus.4
Ditemukannya sebuah appendicolith membuat kemungkinan apendisitis akut hingga 90%.
Pada pasien dengan apendisitis akut, pola gas usus yang abnormal sering terlihat namun bukan
merupakan penemuan yang spesifik5

 Ultrasonografi
Ultrasound dengan radiasi pengion yang rendah harus menjadi penunjang pilihan pada
pasien muda, dan efektif mengidentifikasi apendiks abnormal, terutama pada pasien yang
kurus.

Graded compression sonography telah diusulkan sebagai cara yang akurat untuk
menegakkan diagnosis apendisitis. Diagnosis sonografi apendisitis akut memiliki sensitivitas
dari 55-96% dan spesifisitas 85-98%.5 Hasil scan dianggap positif jika terdapat gambaran
aperistaltik, noncompressible apendiks ≥6 mm pada arah anteroposterior.15 Terlihatnya
appendicolith menetapkan diagnosis. Penebalan dinding apendiks dan adanya cairan
periappendiceal sangat sugestif. Demonstrasi sonografi dari usus buntu yang normal yaitu
compressible, struktur tabung blind-ending berukuran ≤5 mm, dapat menyingkirkan diagnosis
apendisitis akut. 5
Gambar 11. Apendiks normal. A dan B, longitudinal A) dan transversal (B)
sonogram, menunjukkan apendiks (panah) dengan diameter kurang dari 7 mm cut-off point,
dikelilingi oleh lemak noninflamed normal16

Gambar 12. Apendiks yang mengalami apendisitis.

Longitudinal dan transversal sonogram menunjukkan apendiks yang membesar (panah)


dikelilingi oleh lemak meradang hyperechoic (panah). 16

Apendiks yang meradang memiliki diameter lebih besar dari 6 mm, dan biasanya
dikelilingi oleh hyperechoic inflamed fat di sonografi. Tanda-tanda yang sangat mendukung
apendisitis yaitu adanya appendicolith, penebalan caecal apikal.16
 CT
Pada CT, apendiks yang meradang tampak melebar (> 5 cm) dan dinding yang menebal.
Biasanya ada bukti peradangan, dengan "lemak kotor," mesoappendix menebal, dan bahkan
phlegmon jelas.4,5,17,18
Fekalit dapat dengan mudah divisualisasikan, tetapi adanya fekalit bukan patognomonik
dari apendisitis. CT scan merupakan teknik yang sangat baik untuk mengidentifikasi proses
inflamasi lain yang menyerupai apendisitis.5
Gambar 13. Apendiks normal memiliki diameter luar maksimum 6 mm,
dikelilingi oleh homogeneous non-inflamed fat, dan sering mengandung gas
intraluminal. 16

Gambar 14. Apendisitis. CT Scan dengan kontras menggambarkan apendiks


yang mengalami distensi dan berisi cairan (panah) dengan periappendiceal fat-
stranding.16

 Barium enema
Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus.
Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendicitis pada jaringan
sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding.5
Foto barium enema yang dilakukan perlahan pada apendisitis akut memperlihatkan
tidak adanya pengisian apendiks dan efek massa pada tepi medial serta inferior dari caecum;
pengisisan lengkap dari apendiks menyingkirkan apendisitis.5

Gambar 15. Apendiks yang normal pada pemeriksaan barium enema


Apendiks terisi penuh dengan kontras, yang secara efektif menyingkirkan diagnosis
apendisitis.19

 Laparoskopi

dapat berfungsi baik sebagai manuver diagnostik dan terapeutik untuk pasien dengan
sakit perut akut dan yang diduga apendisitis akut.5

Gambar 16. Algoritma klinis untuk kasus dugaan apendisitis akut5

Meskipun dilakukan pemeriksaan dengan cermat dan teliti, diagnosis klinis apendisitis
akut masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus dimana lebih sering terjadi pada
perempuan terutama yang masih muda oleh karena keluhan yang menyerupai timbul dari
genitalia interna (seperti ovulasi, menstruasi, radang di pelvis, atau penyakit ginekologik lain).8

Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis apendisitis akut, bila diagnosis


meragukan, sebaiknya penderita diobservasi di rumah sakit dengan frekuensi setiap 1-2 jam.
Pemeriksaan ultrasonografi dapat meningkatkan akurasi diagnosis.
Kemungkinan apendisitis dapat diyakinkan dengan menggunakan skor Alvarado. Sistem
skor dibuat untuk meningkatkan cara mendiagnosis apendisitis.5

Tabel 2. The Modified Alvarado score5


The Modified Alvarado Score Skor
Gejala Perpindahan nyeri dari ulu hati ke perut 1
kanan bawah
Mual-Muntah 1
Anoreksia 1
Tanda Nyeri di perut kanan bawah 2
Nyeri lepas 1
Demam diatas 37,5°C 1
Pemeriksaan Leukositosis 2
Lab Hitung jenis leukosit shift to the left 1
Total 10
Interpretasi dari Modified Alvarado Score:
- Pasien dengan skor awal ≤ 4 sangat tidak mungkin
menderita apendisitis dan tidak memerlukan perawatan
di rumah sakit kecuali gejalanya memburuk.
- Skor 5-6 : dipertimbangkan apendisitis akut tapi tidak
perlu operasi segera
- Skor 7-8 : dipertimbangkan mengalami apendisitis akut
- Skor 9-10: hampir defi-nitif mengalami apendisitis akut
dan dibutuhkan tindakan bedah

2.3.8 Diagnosis banding

Diagnosis apendisitis akut tergantung pada empat faktor utama yaitu lokasi anatomi
dari apendiks yang meradang; tahap proses (yaitu tanpa komplikasi atau sudah tejradi
perforasi); usia; dan jenis kelamin pasien.5

 Gastroenteritis
Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahului rasa nyeri. Nyeri perut
sifatnya lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Sering dijumpai adanya hiperperistaltis.
Demam dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan dengan apendisitis akut.

 Limfadenitis mesenterika

Biasa didahului dengan enteritis atau gastroenteritis, ditandai dengan nyeri perut,
terutama sebelah kanan serta perasaan mual dan nyeri tekan perut yang sifatnya samar,
terutama perut sebelah kanan.

 Kelainan ovulasi

Folikel ovarium yang pecah pada ovulasi dapat menimbulkan nyeri pada perut kanan
bawah di tengah siklus menstruasi. Pada anamnesis, nyeri yang sama pernah timbul
lebih dahulu.

 Infeksi panggul

Salphingitis akut kanan sering dikacaukan dengan apendisitis akut. Suhu biasanya lebih
tinggi daripada apendisitis dan nyeri perut bagian bawah perut lebih difus. Infeksi
panggul pada wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin. Pada colok vagina
akan timbul nyeri hebat di panggul jika uterus diayunkan. Pada gadis dapat dilakukan
colok dubur jika perlu untuk diagnosis banding.

 Kehamilan di luar kandungan

Hampir selalu ada riwayat telat haid dengan keluhan yang tidak menentu. Pada
pemeriksaan vagina, didapatkan nyeri dan penonjolan rongga Douglas dan pada
kuldosentesis didapatkan darah.

 Kista ovarium terpuntir

Timbul nyeri mendadak dengan instensitas yang tinggi dan teraba massa dalam rongga
pelvis pada pemeriksaan perut, colok vagina, atau colok rektal. Tidak terdapat demam.
Pemeriksaan ultrasosnografi dapat menentukan diagnosis.

 Endometriosis eksterna
Endometriosis di luar rahim akan menimbulkan nyeri di tempat endometriosis berada,
dan darah mestruasi terkumpul di tempat itu karena tidak ada jalan keluar.

 Urolitiasis

Pielum atau ureter kanan. Adanya riwayat kolik dai pinggang ke perut yang menjalar
ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas. Hematuria sering ditemukan. Foto
polos perut atau urografi intravena dapat memastikan penyakit tersebut. Pielonefritis
sering disertai dengan demam tinggi, menggigil, nyeri kostovertebra an piuria.

 Penyakit saluran cerna lainnya

divertikulitis, chron’s disease, ileokolitis, typhoid, serta keganasan

2.3.9 Penatalaksanaan

Tatalaksana apendisitis pada kebanyakan kasus adalah apendektomi. Keterlambatan


dalam tatalaksana dapat meningkatkan kejadian perforasi.20 Oleh karenanya, meskipun
terdapat modalitas diagnostik yang lebih canggih, pentingnya intervensi operasi segera tidak
harus diminimalkan.5 Pada pasien dengan presentasi atipikal, pemeriksaan fisik adalah alat
yang paling penting dalam memutuskan apakah pasien membutuhkan operasi.19
Pasien dengan riwayat klasik dan temuan pemeriksaan fisik, dengan analisis urin
normal (atau piuria) dan jumlah leukosit yang tinggi dengan pergeseran ke kiri biasanya tidak
memerlukan studi pencitraan tambahan sebelum apendektomi. Pembedahan juga diindikasikan
pada pasien dengan presentasi atipikal dan temuan radiografi yang konsisten dengan
apendisitis. Setiap pasien dengan nyeri perut atipikal yang memiliki (1) nyeri persisten dan
menjadi demam, (2) peningkatan jumlah leukosit, atau (3) temuan pemeriksaan klinis
memburuk harus menjalani laparoskopi diagnostik dan usus buntu.19
Apendektomi dapat dilakukan dengan open atau laparoskopi21 Menurut Society of
American Gastrointestinal and Endoscopic Surgeons (SAGES) 2010 keadaan yang sesuai
untuk dilakukan laparoskopi diantaranya pada pasien dengan apendisitis tanpa komplikasi,
anak-anak, dan wanita hamil.19 Prosedur apendektomi laparoskopi sudah terbukti
menghasilkan nyeri pasca bedah yang lebih sedikit, pemulihan yang lebih cepat dan angka
kejadian infeksi luka yang lebih rendah, akan tetapi terdapat peningkatan kejadian abses intra
abdomen dan pemanjangan waktu operasi. Laparoskopi dikerjakan untuk diagnosa dan terapi
pada pasien dengan akut abdomen, terutama pada wanita22
Sebelum dilakukan operasi, maka perlu dilakukan persiapan seperti hidrasi yang
adekuat harus dipastikan, kelainan elektrolit harus diperbaiki, dan kondisi jantung, paru, dan
ginjal harus ditangani terlebih dahulu. Sebuah penelitian meta-analisis telah menunjukkan
efikasi antibiotik pra operasi dalam menurunkan komplikasi infeksi di apendisitis. Pada
apendisitis akut tanpa komplikasi, tidak ada manfaat dalam memperluas cakupan antibiotik
melampaui 24 jam. Pada apendisitis perforasi atau dengan gangren, antibiotik dilanjutkan
sampai pasien tidak demam dan memiliki jumlah sel darah putih normal. Untuk infeksi intra-
abdominal dari saluran pencernaan yang ringan sampai sedang, Surgical Infection Society telah
merekomendasikan terapi tunggal dengan cefoxitin, cefotetan, atau asam klavulanat tikarsilin.
Untuk infeksi yang lebih berat, terapi tunggal dengan carbapenems atau terapi kombinasi
dengan sefalosporin generasi ketiga, monobactam, atau aminoglikosida ditambah untuk
anaerobik dengan klindamisin atau metronidazole..Rekomendasi serupa untuk anak-anak.5
Penggunaan antibiotik terbatas 24 sampai 48 jam dalam kasus apendisitis nonperforasi.
Sedangkan untuk apendisitis perforasi, dianjurkan terapi diberikan selama 7 sampai 10 hari.
Antibiotik IV biasanya diberikan sampai jumlah sel darah putih normal dan pasien tidak
demam selama 24 jam.5 Selain itu pemberian analgesik untuk menghilangkan nyeri juga
diberikan pada pasien baik sebelum maupun sesudah operasi untuk mengurangi keluhan.
Interval apendektomi dilakukan minimal 6 minggu setelah kejadian akut
direkomendasikan untuk semua pasien yang diobati baik nonoperatif atau dengan drainase
abses sederhana.5

Adapun beberapa macam insisi untuk apendektomi:

Tabel 3. Macam-macam Insisi untuk apendektomi


Insisi Grid Iron (McBurney Incision)
23

Insisi Gridiron pada titik McBurney.


Garis insisi parallel dengan otot oblikus
eksternal, melewati titik McBurney yaitu
1/3 lateral garis yang menghubungkan
spina liaka anterior superior kanan dan
umbilikus.
Lanz transverse incision24
Insisi dilakukan pada 2 cm di bawah
pusat, insisi transversal pada garis
miklavikula-midinguinal. Mempunyai
keuntungan kosmetik yang lebih baik
dari pada insisi grid iron.

Rutherford Morisson’s incision (insisi


suprainguinal)25
Merupakan insisi perluasan dari insisi
McBurney. Dilakukan jika apendiks
terletak di parasekal atau retrosekal dan
terfiksir.
Low Midline Incision25
Dilakukan jika apendisitis sudah terjadi
perforasi dan terjadi peritonitis umum.

Insisi paramedian kanan bawah25


Insisi vertikal paralel dengan midline,
2,5 cm di bawah umbilikus sampai di
atas pubis.
2.3.10 Komplikasi

 Massa apendikuler

Masa apendiks terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau
dibungkus oleh omentum dan/atau lekuk usus halus.8
Pasien yang datang dengan massa apendikuler telah mengalami gejala untuk durasi yang lebih
lama, biasanya setidaknya 5 sampai 7 hari.5
Pasien dewasa dengan masa periapendikuler yang dengan dinding sempurna sebaiknya dirawat
terlebih dahulu dan diberi antibiotic sambil dilakukan pemantauan terhadap suhu tubuh, ukuran
massa, serta luasnya peritonitis. Bila sudah tidak ada demam, massa periapendikuler hilang,
dan leukosit normal, penderita boleh pulang dan apendektomi elektif dapat dikerjakan 2-3
bulan kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin.8

 Abses apendikuler

Abses yang terbentuk akibat mikro atau makro perforasi dari apendiks yang meradang
yang kemudian ditutupi oleh omentum, usus halus, atau usus besar.

 Perforasi

Apendisitis perforasi terjadi pada 25,8% kasus. Anak di bawah 5 tahun dan pasien
berusia lebih dari 65 tahun memiliki angka kejadian perforasi tertinggi (45 dan 51%) Telah
dikemukakan bahwa terlambatnya diagnosis apendisitis bertanggung jawab untuk sebagian
besar apendisitis perforasi. Tidak ada cara yang akurat untuk menentukan kapan dan apakah
ada kemungkinan apendiks akan pecah sebelum resolusi proses inflamasi. Penelitian terbaru
menunjukkan bahwa, pada pasien tertentu, observasi dan terapi antibiotik saja dapat menjadi
pengobatan yang tepat untuk akut apendisitis.5

Bila terjadi perforasi akan terbentuk abses apendiks. Ditandai dengan kenaikan suhu
dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri dan teraba pembengkakan masa, serta bertambahnya
angka leukosit.21

Ruptur apendiks harus dicurigai jika terjadi demam dengan suhu >39° C dan jumlah sel
darah putih >18.000 sel/mm3.5
 Peritonitis

Peritonitis umum terjadi proses Walling-off tidak efektif saat terjadi perforasi.5
Ditandai dengan demam tinggi, nyeri makin hebat yang meliputi seluruh perut, dan perut
menjadi tegang dan kembung. Nyeri tekan dan defens muskuler terjadi di seluruh perut,
mungkin disertai dengan pungtum maksimum di region iliaka kanan.8

 Abses hepar

 Ileus

 Syok septik

2.3.11 Prognosis
Angka kematian akibat apendisitis yaitu 0,2-0,8% yang lebih banyak disebabkan
komplikasi penyakit daripada intervensi bedah. Angka kematian pada anak-anak berkisar
antara 0,1% sampai 1%; pada pasien yang lebih tua dari 70 tahun, angka kematian naik di atas
20%, terutama karena keterlambatan diagnosis dan terapi. Perforasi apendiks dikaitkan dengan
morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan apendisitis nonperforasi.
Risiko kematian apendisitis akut tanpa gangren kurang dari 0,1%, namun risiko meningkat
menjadi 0,6% pada apendisitis gangren. Tingkat perforasi bervariasi dari 16% hingga 40%,
dengan frekuensi yang lebih tinggi terjadi pada kelompok usia muda (40-57%) dan pada pasien
yang lebih tua dari 50 tahun (55-70%), dimana sering terjadi misdiagnosis dan diagnosis yang
tertunda. Komplikasi terjadi pada 1-5% pasien dengan apendisitis, dan infeksi luka pasca
operasi menyebabkan kematian untuk hampir sepertiga dari morbiditas terkait.19

2.4 Apendisitis Rekurens

Diagnosis apendisitis rekurens baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan nyeri
berulang di perut kanan bawah yang mendorong dilakukannya apendektomi dan hasil patologi
menunjukkan peradangan akut. Kelainan ini terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali
sembuh spontan. Namun apendiks tidak pernah kembali ke bentuk aslinya karena terjadi
fibrosis dan jaringan parut. Resiko terjadinya serangan berulang adalah sekitar 50%.8

2.5 Apendistis Kronik


Diagnosis baru dapat ditegakkan jika semua syarat terpenuhi : (1) riwayat nyeri perut
kanan bawah yang lebih dari dua minggu, (2) terbukti terjadi radang kronik baik secara
makroskopik maupun mikroskopik (adanya fibrosis menyeluruh pada dinding apendiks,
sumbatan parsial atau total pada lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama di
mukosa, dan infiltrasi sel inflamasi kronik), dan (3) keluhan menghilang pasca apendektomi.8
Insidens apendisitis kronik adalah sekitar 1%.8,19

BAB III

LAPORAN KASUS
3.1 IDENTITAS

Nama : Ny.A (No. RM : 009934)

Umur : 60 tahun

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Sungai Kamunyang

Agama : Islam

Status : Menikah

Tanggal Masuk : 12 Juni 2019

3.2 ANAMNESIS

Keluhan utama : Nyeri perut kanan bawah semakin meningkat sejak enam jam sebelum

masuk rumah sakit.

Riwayat Penyakit Sekarang

– Nyeri perut kanan bawah semakin meningkat sejak enam jam sebelum masuk rumah

sakit.

– Riwayat nyeri perut disekitar pusar tujuh hari yang lalu kemudian nyeri berpindah ke

perut kanan bawah dan dirasakan terus menerus dan meningkat sejak enam jam yang

lalu.

– Demam tidak ada, riwayat demam tidak ada

– Mual dirasakan sejak adanya nyeri perut disertai menurunnya nafsu makan

– Muntah tidak ada, riwayat muntah tidak ada.

– BAB dan BAK dalam batas normal

Riwayat Penyakit Dahulu


- Tidak pernah menderita keluhan seperti ini sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga

- Tidak ada anggota keluarga yang mengeluhkan keluhan serupa

Riwayat Kebiasaan Sosial dan Ekonomi

 Pasien seorang ibu rumah tangga

3.3 PEMERIKSAAN FISIK

Status generalis:

Keadaan umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis

Tanda vital : Tekanan darah : 130/80 mmHg

Nadi : 80x/ menit

Respirasi : 16x / menit

Suhu : 37 ˚C

Kepala - Leher :

- Kepala : normocephali, bentuk simetris

- Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

- Leher : pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)

Tekanan vena jugularis tidak meningkat

Thorax :
Paru

- Inspeksi : gerakan dinding dada simetris, retraksi (-)

- Palpasi : Fremitus kiri sama dengan kanan

- Perkusi : sonor pada kedua lapang paru

- Auskultasi : vesikular, Rh (-/-), Wh (-/-)

Jantung

- Inspeksi : Iktus Cordis tidak terlihat

- Palpasi : Iktus teraba 1 jari lateral LMCS RIC V

- Perkusi :

o Batas atas : RIC 2 sinistra

o Batas bawah : RIC 4 sinistra

o Batas kanan : linea parasternalis dextra

o Batas kiri : 1 jari lateral LMCS RIC V

- Auskultasi : S1-S2 tunggal, reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

status lokalis

Genitalia eksterna

- Inspeksi : tidak diperiksa

Anal-perianal

- Inspeksi : tidak diperiksa

Ekstremitas atas/bawah
- Akral hangat, perfusi <2 detik, edem pretibia -/-

Status Lokalis

Regio Abdomen:

- Inspeksi : distensi (-), massa (-), venektasi (-)

- Palpasi : supel, nyeri tekan titik Mc Burney(+), defans muskuler (-),

hepar dan lien tidak teraba.

- Perkusi : timpani (+)

- Auskultasi: Bising usus (+) menurun

- Rovting sign: (-)

- Blumberg sign: (-)

- Psoas sign: (-)

- Obturator sign: (-)

3.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Lab darah rutin

Hasil pemeriksaan laboratorium

Darah Rutin (12 Juni 2019):

Hb : 12,6gr/dl (12-14 gr/dl)

Leu : 13.700/mm3 (5.000-10.000/mm3)

HT : 36 % (37-43)

Trom : 171 ribu/mm3 (150-400ribu/mm3)

Kesan: Leukositosis ringan

3.5 DIAGNOSIS
- Susp Apendisitis

3.6 ANJURAN PEMERIKSAAN

- Rontgen foto thoraks

3.7 TERAPI

- IVFD RL 20 gtt/i

- Inj Ranitidin 2x1 amp

- Inj Ceftriaxone 2x1 gr

- Appendektomi

Post Op

- Infus RL 40 gtt/i

- Inj Ceftriaxone 2x1 gr

- IV Metronidazol 1 fl

- Ketorolac 1 amp

- Pronalges supp 2

- Puasa sampai flatus

3.8 PROGNOSIS

- Quo ad Vitam : Bonam

- Quo ad Sanam : Bonam

- Quo ad Fungsionam : Bonam


BAB IV
DISKUSI

Telah dilaporkan kasus seorang pasien wanita berusia 60 tahun dengan diagnosis

apendisitis. Diagnosa ditegakan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

penunjang.

Dari anamnesis didapatkan nyeri perut kanan bawah yang semakin meningkat sejak enam

jam sebelum masuk rumah sakit. Nyeri perut dirasakan ±7 hari yang lalu dan awalnya dirasakan

disekitar pusat kemudian ke perut kanan bawah dan meningkat enam jam SMRS. Hal ini sesuai

dengan pola perpindahan nyeri pada apendisitis. Pasien tidak merasakan demam. Sering merasa

mual sejak nyeri perut ada dan nafsu makan juga ikut menurun.

Dari pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan titik Mc Burney. Tiga pemeriksaan fisik

tersebut merupakan pemeriksaan tambahan untuk menegakkan apendisitis dan ditemukan

positif pada pasien sehingga menunjang diagnosis adanya apendisitis. Dari pemeriksaan

laboratorium darah didapatkan leukosit 10.900/mm3, yang berarti leukositosis ringan, hal ini

menandakan adanya proses infeksi.

Terapi yang dilakukan pada pasien ini adalah laparotomi eksplorasi dan apendektomi. Hal

ini dilakukan karena terjadi perforasi apendik sehingga cavum abdomen perlu dieksplorasi

untuk membersihkan rongga abdomen dan dilakukan apendiktomi untuk membuang sumber

infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Humes DJ and Simpson J: Acute appendicitis. BMJ. 333:530–534. 2006.


2. Boni L, Dionigi G, Rovera F and Di Giuseppe M: Laparoscopic left liver sectoriectomy
of Caroli’s disease limited to segment II and III. J Vis Exp. 24:11182009.
3. Binnebösel M, Otto J, Stumpf M, et al: Acute appendicitis. Modern diagnostics -
surgical ultrasound. Chirurg. 80:579–587. 2009.(In German).
4. Weissleder R, Wittenberg J, Harisinghani MG et-al. Primer of diagnostic imaging.
Mosby Inc. (2007)
5. Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, et al. The Appendix. Shwartz’s Principles of
Surgery. 9th Ed. USA: McGrawHill Companies. 2010.
6. Vermiform Appendix. WebMD LLC; c1994-2014 [Updated: 2013 Oct 18, cited March
2016]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/195652.
7. Snell RS. Abdomen: Bagian II Cavitas Abdominalis. In: Sugiharto L, Hartanto H,
Listiawati E, Suyono YJ, Susilawati, Nisa TM, et al. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa
Kedokteran. 6th ed. Jakarta:EGC, 2006.p230-1.
8. Sjamsuhidajat R. Usus Halus, Apendiks, Kolon, dan Anorektum: Apendiks
Vermiformis. In: Sjamsuhidajat R, Karnadihardja W, Theddeus OHP, Rudiman Reno.
Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-deJong. 3rd ed. Jakarta:EGC, 2010.p755-62.
9. Terminal ileum and appendix. Anatomy Directory. [cited 2016 March]. Available from:
http://www.aokainc.com/terminal-ileum-and-apendiks/
10. Fritsch H, Kühnel W. Color atlas of human anatomy, Internal organs. Thieme Medical
Publishers. (2008)
11. Ghosh BD. Human Anatomy for Students. Jaypee Brothers Medical Publishers (P) Ltd.
12. Appendix variations. Shie Kasai. [cited March 2016] Available from:
http://www.shiekasai.com/aux/medical-illustration/
13. Bewes P. Appendicitis. [cited 2016 March]. E-Talc Issue 3. Available from:
http://web.squ.edu.om/medLib/MED_CD/E_CDs/health%2520development/html/clie
nts/beweshtml/bewes_01.htm.
14. Soybel D. Appendix. In: Norton JA, Barie PS, Bollinger RR, et al. Surgery Basic
Science and Clinical Evidence. 2nd Ed. New York: Springer. 2008.
15. Puylaert JB. Acute appendicitis: US evaluation using graded compression. Radiology.
1986;158 (2): 355-60.
16. Appendicitis – Mimics, Alternative nonsurgical diagnoses at sonography and CT.
Vriesman AB, Puylaert J. [cited 2014 March]. Available from:
http://www.radiologyassistant.nl/en/p420f0a063222e/appendicitis-mimics.html
17. Callahan MJ, Rodriguez DP, Taylor GA. CT of appendicitis in children. Radiology.
2002;224 (2): 325-32. doi:10.1148/radiol.2242010998.
18. Pereira JM, Sirlin CB, Pinto PS et-al. Disproportionate fat stranding: a helpful CT sign
in patients with acute abdominal pain. Radiographics. 24 (3): 703-15.
19. Appendicitis. WebMD LLC; c1994-2014 [Updated: Jul 21, 2014, cited March 2016].
Available from: http://emedicine.medscape.com/article/773895-
overview#aw2aab6b2b7aa.
20. Temple CL, Huchcroft SA, Temple WJ. The natural history of appendicitis in adults.
A prospective study. Ann Surg 1995 Mar; 221: 278-81.
21. Doherty GM, Way LW. Current surgical diagnosis & treatment. McGraw-Hill Medical.
(2006)
22. Birnbaum BA, Wilson SR. Appendicitis at the millennium. Radiology 2000 May; 215:
337e48.
23. Skandalakis JE, Colborn GL, Weidman TA, et al. Editors. Skandalakis’ Surgical
Anatomy. USA: McGrawHill. 2004.
24. Russell RCG, Williams NS, Bulstrode CJK. Editors. Bailey and Love’s Short Practice
of Surgery. 24th Ed. London: Arnold. 2004.
25. Patnalk VG, Singla RK, Bansal VK. Surgical Incisions-Their Anatomical Basis. J Anat.
Soc. India 50(2) 170-178 (2001).