Anda di halaman 1dari 203

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN NORMAL NY ”S”

GIVP30003 USIA KEHAMILAN 39 MINGGU KALA I FASE AKTIF


DENGAN MASASE COUNTER PRESSURE DI BPM HJ. TUTIK
RIF’ATUN NI’MAH, S.ST, S.Psi DESA KEBOAN
KECAMATAN NGUSIKAN
KABUPATEN JOMBANG

LAPORAN TUGAS AKHIR

Oleh :
NURUL JANNATUL WAHIDAH
NIM : 7212079

PRODI DIII KEBIDANAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM JOMBANG
2015
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN NORMAL NY ”S”
GIVP30003 USIA KEHAMILAN 39 MINGGU KALA I FASE AKTIF
DENGAN MASASE COUNTER PRESSURE DI BPM HJ. TUTIK
RIF’ATUN NI’MAH, S.ST, S.Psi DESA KEBOAN
KECAMATAN NGUSIKAN
KABUPATEN JOMBANG

LAPORAN TUGAS AKHIR

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan


Pendidikan Tingi Diploma III Kebidanan

Oleh :
NURUL JANNATUL WAHIDAH
NIM : 7212079

PRODI DIII KEBIDANAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM JOMBANG
2015

ii
SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Nurul Jannatul Wahidah

Nim : 7212079

Tempat, tanggal lahir : Probolinggo, 25 Mei 1994

Institusi : Prodi D-III Kebidanan FIK UNIPDU Jombang

Menyatakan bahwa Laporan Tugas Akhir yang Berjudul “Asuhan

Kebidanan Pada Ibu Bersalin Normal Ny ”S” GIVP30003 Usia Kehamilan 39

Minggu Kala I Fase Aktif Dengan Masase Counter Pressure Di BPM Hj.

Tutik Rif’atun Ni’mah, S.ST, S.Psi Desa Keboan Kecamatan Ngusikan

Kabupaten Jombang” adalah bukan Laporan Tugas Akhir orang lain baik

sebagian maupun keseluruhan, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah

disebutkan sumbernya.

Demikian surat pernyataan ini kami buat dengan sebenar-benarnya dan

apabila pernyataan ini tidak benar, kami bersedia mendapatkan sanksi.

Jombang, April 2015

Yang menyatakan

Nurul Jannatul Wahidah


7212079

iii
iv
v
LEMBAR PERSEMBAHAN

Alhamdulillah, berjuta syukur tak mampu membalas semua anugrahMu wahai

Dzat yang Maha Rahman dan Rohim.


R Karya tulis ini aku persembahkan untuk

orang – orang tercinta :

Kedua orang tua terhebat yang selalu Beliau sebut namaku dalam
doanya.
( Terimakasih atas cinta yang menguatkan ya Umi Sri Agustina dan Ayah
Suri)

Best sister all over the world, Diah Dwi Wahyuni


( Mbak
bak Wida sayang kamu dik )

My Room mate, Fitri Faridatul M, Amirotul Lutfia, Roro Nurfita


Nurfita,
Inqinagfirda, Roudatul Komala,
Kom Ainun Nadziroh, Zufatunnadliroh
Zufatunnadliroh,
Indah retno agustin, Baiq Yana lestari, Febri Anasari dan semua
penghuni kamar 23.
( Terimakasih untuk semangatnya, Kalian luar biasa)

Pak Menkora, teman yang paling produktif se Dunia


(Terimaksih untuk motivasi,
motiv efisiensi dan manajemen waktunya Pak )

My Partner, Fatimatuz Zahro


(Makasih yaa sayung, sudah menjadi seperjuangan terbaik selama Studi
Kasus)

Dan Orang – orang yang telah membantu saya dalam proses belajar.
( Jasa dan kebaikan kalian, hanya Allah yang bisa membalasya, amin)

Tanpa kalian aku bukan siapa – siapa

vi
MOTTO

Berangkatlah dengan penuh keyakinan.

Berjalanlah dengan penuh keikhlasan.

Istiqomahlah dalam menghadapi cobaan, dan

Pasrahlah!!

Ketika beribu perjuangan telah kamu lewati.

Ketika beribu doa telah kamu panjatkan,


panjatka dan

Ketika beribu ikhtiar tiada henti meniti.

Because sometime life is risking everything,

no one can’t see but you!

Always Smile and Keep Spirit


Wida

vii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT berkat rahmat, taufik serta hidayah-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Tugas Akhir ini yang

berjudul “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Normal Ny ”S” GivP30003 Usia

Kehamilan 39 Minggu Kala I Fase Aktif Dengan Masase Counter Pressure Di

BPM Hj. Tutik Rif’atun Ni’mah, S.ST, S.Psi Desa Keboan Kecamatan

Ngusikan Kabupaten Jombang” Penulis menyadari dalam penyusunan Laporan

Tugas Akhir ini tidak lepas motivasi dan bimbingan dari berbagai pihak baik

secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis menyampaikan

terima kasih sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. DR. H Ahmad Zahro, MA Selaku Rektor Universitas Pesantren Tinggi

Darul Ulum Jombang.

2. H. Andi Yudianto, S.Kep.Ners.M.Kes Selaku Dekan Fakultas Ilmu

Kesehatan, Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum Jombang.

3. Ninik Azizah, SST, M.Kes. Selaku Ketua Prodi D III Kebidanan sekaligus

Dosen Pembimbing I Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Pesantren Tinggi

Darul ‘Ulum Jombang.

4. Helmi Annuchasary, SKM. Selaku Wali Kelas sekaligus Dosen

Pembimbing II yang telah banyak memberikan motivasi dan pengarahan

dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir.

viii
5. Hj.Tutik Rif’atun Ni’mah SST.S.Psi selaku pembimbing lahan yang telah

bersedia memberi kami kesempatan untuk melakukan studi di BPM beliau

dan senantiasa memberi arahan yang tiada henti.

6. Kedua orang tua serta adikkuyang selalu mendukung dan mendo’akan saya

dalam menyusun Laporan Tugas Akhir ini.

7. H. Ali Muchsin M.Pdi dan Hj. Niswah Qonita As’ad beserta keluarga selaku

pengasuh juga pembina Asrama puteri XI Muzamzamah-Chosyi’ah Pondok

Pesantren Darul ‘Ulum Jombang.

8. Semua pihak dan teman-teman yang telah banyak membantu penulis dalam

menyelesaikan penyusunan Laporan Tugas Akhir.

Penulis menyadari penyusunan Laporan Tugas Akhir DIII Kebidanan

Fakultas Ilmu Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang ini masih jauh

dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun

dari semua pembaca sangat penulis harapkan dalam rangka perbaikan.

Akhir kata semoga Laporan Tugas Akhir ini bermanfaat bagi penulis

khususnya dan pembaca pada umumnya, Amin.

Jombang, April 2015

Penulis

ix
ABSTRAK

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN NORMAL NY ”S”


GIVP30003 USIA KEHAMILAN 39 MINGGU KALA I FASE AKTIF
DENGAN MASASE COUNTER PRESSURE DI BPM HJ. TUTIK
RIF’ATUN NI’MAH, SST, S.Psi DESA KEBOAN
KECAMATAN NGUSIKAN
KABUPATEN JOMBANG
2015

Nama Mahasiswa : Nurul Jannatul Wahidah


NIM : 7212079
Nama Dosen Pembimbing : Ninik Azizah, SST.M.Kes
Helmy Annuchasary,SKM.

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat
besarnya derajat kesehatan pada perempuan. Di BPM Hj.Tutik Rif’atun NI’mah,
SST,S.Psi penyebab tertinggi 3,42% ( 5 orang) dari 13% ( 19 orang) dilakukannya
rujukan akibat dari kecemasan ibu terhadap presepsi nyeri yang dirasakan.
Sehingga penulis ingin memberikan Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Kala I
Fase Aktif dengan Masase Counter Pressure Di BPM Hj. Tutik Rif’atun Ni’mah,
S.ST, S.Psi Desa Keboan Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang Tahun 2015.

Metode memperoleh data pada laporan tugas akhir ini mengunakan studi
kepustakaan dan studi kasus yang sesuai standar asuhan kebidanan. Dimana
penulis memulai dengan melakukan pengkajian data secara subjektif dan objektif,
menegakkan diagnosa dan atau masalah, melakukan perencanaan,
mengimplementasikan, mengevaluasi dan kemudian melakukan pencatatan
asuhan kebidanan dengan tujuan penulis dapat mengimplementasikan secara
langsung asuhan sesuai dengan Standar Asuhan Kebidanan.

Hasil asuhan kebidanan yang telah penulis lakukan dalam laporan tugas ini
yaitu penulis mamu melaksanakan dan mengaplikasikan secara langsung asuhan
kebidanan pada ibu bersalin normal Ny.”S” GivP30003 UK 39 minggu kala I fase
Aktif dengan masase counter pressure di BPM Hj.Tutik Rif’atun Nimah, S.ST,
S.Psi Keboan Jombang.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan memberikan masase counter


pressure dan asuhan kebidanan secara komprhensif dapat memberikan rasa
nyaman pada ibu bersalin.

Kata Kunci : AKI, Counter Pressure, Skala Nyeri, Asuhan Komprehensif

x
ABSTRACT

MIDWIFERY CARE ON NORMAL LABOR TO MRS. "S" GIVP30003 39TH


WEEKS AGE OF PREGNANCY WITH ACTIVE PHASE IN FIRST
STAGE BY COUNTER PRESSURE MASSAGE
IN CLINICAL PRACTICE OF HJ. TUTIK RIF'ATUN NI’MAH, SST, Psi
KEBOAN VILLAGE, NGUSIKAN
DISTRICT JOMBANG
2015

Name : Nurul Jannatul Wahidah


NIM : 7212079
Main of Supervisor : Ninik Azizah, SST.M.Kes
Assistant of Supervisor : Helmy Annuchasary, SKM.

Maternal Mortality Rate (MMR) is one of the indicators to see the


magnitude of women health status. In BPM Hj.Tutik Rif'atun Ni'mah, SST, S.Psi
their were 146 mothers in labor, and 13% (19 people) of it were brought to the
hospital. The main cause is prolonged labor with amount 3.42% (5 people) as a
result of maternal anxiety on their pain. So based on research done by Ida
Maryati, et al the author would like to give a comfortness by doing Midwifery
Care on Normal Labor to Mrs.S GIVP3A0 39th Weeks Age of Pregnancy With
Active Phase in First Stage by Counter Pressure Massage in Clinical Practice of
Hj.Tutik Rif’atun Ni’mah, SST,S.Psi Keboan Village, Ngusikan District Jombang
2015.

Methods of obtaining this paper are by increasing the literature and case
studies that follow the standard of midwifery care. Standard of midwifery care
are started from the assessment, that’s subjective and objective assessment,
diagnose and problem, intervention, implementation, evaluation, and reporting the
midwifery care to give the comfortless of labor woman.

The results of midwifery care that has been done shows that maternal with the
active phase in first stage which has a pretty high pain scale can relax , no stress,
and pain scale is reduced when given massage to her by counter pressure when
she had her contraction .

It can be concluded that by providing a counter pressure massage and


midwifery care comprehensive can provide comfort and relax to the maternal.

Keywords: AKI, Counter Pressure, Pain Scale, Comprehensive Care

xi
DAFTAR ISI

SAMPUL LUAR

SAMPUL DALAM ................................................................................ ii

SURAT PERNYATAAN ....................................................................... iii

LEMBAR PERSETUJUAN .................................................................. iv

LEMBAR PENGESAHAN.................................................................... v

LEMBAR PERSEMBAHAN ................................................................ vi

MOTTO ................................................................................................. vii

KATA PENGANTAR............................................................................ viii

ABSTRAK.............................................................................................. x

ABSTRACT ........................................................................................... xi

DAFTAR ISI .......................................................................................... xii

DAFTAR SINGKATAN ........................................................................ xvii

DAFTAR GAMBAR.............................................................................. xix

DAFTAR TABEL .................................................................................. xx

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... xxi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ................................................................. 4

1.3 Tujuan Penulisan ................................................................... 4

1.3.1 Tujuan Umum ........................................................... 4

1.3.2 Tujuan Khusus ........................................................... 4

1.4 Ruang Lingkup ...................................................................... 6

xii
1.5 Manfaat ................................................................................. 6

1.5.1 Manfaat Teoritis ........................................................ 6

1.5.2 Manfaat Praktis .......................................................... 7

1.6 Metode Memproleh Data ....................................................... 7

1.6.1 Studi Kepustakaan ..................................................... 7

1.6.2 Studi Pendahuluan...................................................... 7

1.6.3 Studi Kasus ................................................................ 8

1.7 Sistematika Penulisan ............................................................ 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori Medis........................................................... 12

2.1.1 Konsep Dasar Asuhan Persalinan Normal............... 12

2.1.1.1 Pengertian Persalinan Normal.......................... 12

2.1.1.2 Sebab Mulainya Persalinan.............................. 13

2.1.1.3 Tanda Persalian Sudah Dekat .......................... 14

2.1.1.4 Tanda Masuk dalam Persalinan ....................... 15

2.1.1.5 Tahapan Persalinan.......................................... 16

2.1.1.6 Mendiagnosis Persalinan ................................. 19

2.1.1.7 Faktor yang Mempengaruhi Persalinan ......... 21

2.1.1.8 Perubahan Fisiologis Pada Ibu Bersalin ........ 25

2.1.1.9 Adaptasi Psikologis Pada Ibu Bersain. .......... 27

2.1.1.10 Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin ...................... 28

2.1.1.11 Pelaksanaan Asuhan Kala I

dengan Partograf........................................... 30

xiii
2.1.2 Konsep Dasar Nyeri dalam Persalinan .................... 44

2.1.2.1 Definisi Nyeri.................................................. 44

2.1.2.2 Etiologi Nyeri Dalam Persalinan ..................... 44

2.1.2.3 Skala Nyeri...................................................... 45

2.1.2.4 Manajemen Nyeri dalam Persalinan................. 46

2.1.2.5 Pendekatan Nonfarmakologis Untuk

Memelihara Kenyamanan

Dan Menejemen Nyeri..................................... 48

2.1.2.6 Pendekatan Farmakologis Untuk

Memelihara Kenyamanan

dan Menejemen Nyeri. .................................... 54

2.1.3 Penelitian Relevan..................................................... 55

2.2 Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan ..................................... 56

2.2.1 Standar Asuhan Kebidanan Sesuai Kepmenkes

RI No.938/Menkes/SK/VIII/2007 ............................. 56

2.2.1.1 Pengertian Standar Asuhan Kebidanan ............ 56

2.2.1.2 Standar I :Pengkajian....................................... 56

2.2.1.3 Standar II : Perumusan Diagnosa dan atau

Masalah Kebidanan ......................................... 57

2.2.1.4 Standar III : Perencanaan................................. 57

2.2.1.5 Standar IV : Implementasi ............................... 58

2.2.1.6 Standar V : Evaluasi ........................................ 59

xiv
2.2.1.7 Standar VI : Pencatatan Asuhan Kebidanan ..... 59

2.2.2 Konsep Asuhan Kebidanan ...................................... 60

2.2.2.1 Pengkajian....................................................... 60

2.2.2.2 Merumuskan Diagnosa dan atau

Masalah Kebidanan ......................................... 68

2.2.2.3 Perencanaan .................................................... 69

2.2.2.4 Implementasi................................................... 71

2.2.2.5 Evaluasi........................................................... 74

2.2.2.6 Pencatatan Asuhan Kebidanan......................... 75

2.2.3 Landasan Hukum Kewenangan Bidan .................... 78

2.2.3.1 Peraturan-peraturan bidan................................ 78

2.2.3.2 Kompetensi Bidan Pada Asuhan

Persalinan danKelahiran .................................. 79

2.2.3.3 Standar asuhan persalinan................................ 84

BAB III TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian Data .................................................................... 109

3.2 Perumusan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan ............... 121

3.3 Perencanaan .......................................................................... 122

3.4 Implementasi ........................................................................ 125

3.5 Evaluasi ................................................................................ 130

3.6 Pencatatan Asuhan Kebidanan .............................................. 132

xv
BAB IV PEMBAHASAN....................................................................... 144

4.1 Pengkajian Data .................................................................... 144

4.2 Perumusan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan ............... 148

4.3 Perencanaan .......................................................................... 150

4.4 Implementasi ........................................................................ 151

4.5 Evaluasi ................................................................................ 152

4.6 Pencatatan Asuhan Kebidanan .............................................. 154

BAB V PENUTUP ................................................................................. 157

5.1 Kesimpulan........................................................................... 157

5.2 Saran..................................................................................... 159

DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 160

LAMPIRAN ...........................................................................................

xvi
DAFTAR SINGKATAN

AKI : Angka Kematian Ibu


APB : Ante Partum Bleeding
APGAR : Appriance Pulse Gremace Activity Respiratory
APN : Asuhan Persalinan Normal
ASI : Air Susu Ibu
BB : Berat Badan
BPM : Bidan Praktik Mandiri
CO2 : Karbondioksida
CPD : Cepallo Pelvic Disproportion
DJJ : Denyut Jantung Janin
DTT : Desinfeksi Tingkat Tinggi
HB : Hemoglobin
HPP : Hemorgea Post Partum
HT : Hematokrit
IMD : Inisiasi Menyusu Dini
IM : Intra Muskular
IV : Intra Vena
KIA : Kesehatan Ibu Dan Anak
KMS : Kartu Menuju Sehat
KPD : Ketuban Pecah Dini
K/U : Keadaan Umum
LILA : Lingkar Lengan Atas
L1 : Lumbal Atas / Lumbal Ke 1
MDG’s : Millenium Development Goal’s
PEB : Preeklamsia Berat
TB : Tinggi Badan
TD : Tekanan Darah
TTV : Tanda – Tanda Vital
UI : Unit Internasional

xvii
VT : Vaginal Toucher
PAP : Pintu Atas Panggul
PASI : Pendamping Air Susu Ibu
RCT : Random Controlled Trial
RR : Respiratory Rate
SAR : Segmen Atas Rahim
SBR : segmen bawah rahim
SC : Sectio Cesarea
SOP : Standar Operasional Prosedur
TFU : Tinggi Fundus Uteri
TENS : Transcutanous Electrical Nerve Stimulation
T10 : Torakal Ke 10
UUK : Ubun – Ubun Kecil
USG : Ultrasonography

xviii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bagian – Bagan Tulang Keras............................................... 15

Gambar 2.2 Bagian Lunak Panggul.......................................................... 15

Gambar 2.3 Siklus Pengaruh Kecemasan Pada Kemajuan Persalinan ....... 16

Gambar 2.4 Siklus Pengaruh Kegelisahan Pada Kemajuan Persalinan...... 17

Gambar 2.5 Perubahan Uterus Saat Persalinan ......................................... 18

Gambar 2.6 Halaman Depan Partograf..................................................... 32

Gambar 2.7 halaman Belakang Partograf ................................................. 33

Gambar 2.8 Skala Nyeri........................................................................... 35

Gambar 2.9 Konseling Sebelum Tindakan ............................................... 39

Gambar 2.10 Mencuci Tangan ................................................................. 39

Gambar 2.11 Posisi miring kiri, atau ........................................................ 39

Gamabr 2.12 Posisi Duduk....................................................................... 40

Gambar 2.13 Memijat Daerah Sakrum ..................................................... 40

Gambar 2.14 Titik Pemijatan Daerah Sakrum .......................................... 40

Gambar 2.15 Mencuci Tangan ................................................................. 41

Gambar 2.16 Mengevaluasi Tindakan ...................................................... 41

Gambar 3.1 Melakukan Counter Pressure........................................................... 128

xix
DAFTAR TABEL

Tabel 2.2 Posisi Untuk persalinan ............................................................ 22

Tabel 2.3 Riwayat Persalinan................................................................... 48

Tabel 2.4 Implementasi............................................................................ 56

Tabel 3.1 Riwayat persalinan .................................................................. 112

Tabel 3.2 Implementasi ........................................................................... 125

Tabel 3.3 Tabel Pengamatan ................................................................... 127

xx
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Surat Ijin Studi Kasus Dinkes Jombang


Lampiran II : Surat Pengantar Studi Pendahuluan ke BPM
Lampiran III : Surat Balasan Ijin Studi Kasus
Lampiran IV : Lembar Persetujuan Tindakan Medis
Lampiran V : Lembar Fotokopi identitas pasien
Lampiran VI : Lembar Partograf
Lampiran VII : Lembar Dokumentasi
Lampiran VIII : Lembar KIA
Lampiran IX : Lampiran III Lembar Konsul Laporan Tugas Akhir
Lampiran X : Jadwal Kegiatan
Lampiran XI : Riwayat Hidup

xxi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Angka Kematian Ibu (AKI) sampai saat ini masih menjadi salah

satu indikator yang digunakan untuk melihat besarnya derajat kesehatan

pada perempuan. Sesuai target MDGs (Millenium Development Goals)

nomor 5, yaitu meningkatkan kesehatan ibu dan menurunkan angka

kematian ibu hingga 3/4 sampai tahun 2015 dengan nilai 102 kematian

per 100.000 kelahiran hidup. Dan berdasarkan Survei Demografi dan

Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, Angka Kematian Ibu (AKI)

yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas sebesar 359 per

100.000 kelahiran hidup. ( Data SDKI 2012)

Berdasarkan sumber data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa

Timur Angka Kematian Ibu (AKI) di Jawa Timur pada tahun 2012 –

2013 mencapai angka 97.43 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan

Angka Kematian Ibu ( AKI) yang spesifik di Kabupaten Jombang yaitu

sekitar 102.91 per 100.000 kelahiran hidup. ( Data BPS Jatim 2013)

Dari data tersebut terlihatlah adanya kesenjangan antara Target

AKI dan Capaiannya. Salah satu penyebab terjadinya kesenjangan

adalah pertolongan persalinan yang kurang aman. Yang mana

persalinan merupakan proses pergerakan keluarnya janin, plasenta, dan

1
2

membran dari dalam rahim melalui jalan lahir, karena adanya kontraksi

dapat mengakibatkan rasa nyeri. ( Rohani, 2011 : 14)

Nyeri persalinan merupakan suatu kondisi fisiologis yang berasal

dari kontraksi uterus dan dilatasi serviks yang dapat mempengaruhi

kondisi ibu berupa kelelahan dan menimbulkan stress. Stress dapat

menyebabkan melemahnya kontraksi rahim dan berakibat pada

persalinan yang lama. (Maryunani, 2010 : 83)

Penolong persalinan seringkali melupakan untuk menerapkan

teknik pengontrolan nyeri, sehingga ibu mengalami kesakitan hebat.

Sehingga penting bagi seorang penolong persalinan untuk memenuhi

kebutuhan ibu akan rasa nyaman saat persalinan, yakni pengontrolan

nyeri persalinan yang tepat dan efektif. (Mulati, 2007 : 29)

Pengontrolan nyeri dapat dilakukan secara farmakologis maupun non-

farmakologis. Secara farmakologis merupakan tindakan pengontrolan

nyeri dengan tindakan medis, namun pengontrolan nyeri secara non

farmakologis dapat dilakukan oleh pemberi asuhan keseluruhan,

khususnya bidan. (Maryuani, 2010 :97) Salah satu metode non

farmakologis yang dapat diterapkan adalah masase dengan teknik

Counter Pressure dengan prinsip mengurangi ketegangan ibu. (Rejeki,

2011 : 44).

Hal ini telah dilakukan penelitian oleh Ida Maryati, dkk dari

Fakultas Keperawatan Universitas Padjajaran Bandung, Jawa Barat


3

tentang efektifitas teknik masase (counter-pressure) terhadap

penurunan intensitas nyeri pada fase aktif di Ruang Bersalin RSUD

Majalengka dan RSUD Cideres dengan hasil terdapat pengaruh positif

dari teknik masase (counter-pressure) terhadap penurunan intensitas

nyeri di Kala I fase aktif persalinan normal.

Berdasarkan studi pendahuluan di BPM Hj. Tutik Rifatun

Ni’mah, SST. Pada tanggal 10 Februari 2014 diperoleh data bahwa ada

146 ibu yang melakukan persalinan di BPM Hj.Tutik Rif’atun

Ni’mah,SST, dan 13% ( 19 orang) dari jumlah tersebut dilakukan

rujukan. Adapun penyebab dilakukannya rujukan adalah sebagai berikut

: partus lama 3,42% ( 5 orang) , RIwayat SC 2,05% ( 3 orang) , KPD

1,36% ( 2 orang) , PEB 1,36% ( 2 orang) , Prematur 1,36% ( 2 orang) ,

APB 1,36 % ( 2 orang) , Late HPP 0,68% ( 1 orang), Distosia Bahu

0,68% ( 1 orang). Dari data tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa

penyebab tertinggi dilakukannya rujukan adalah adanya partus lama

sebagai akibat dari kecemasan ibu terhadap presepsi nyeri yang

dirasakan.

Sehingga, berdasarkan fenomena diatas, penulis ingin melakukan

“Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Normal Ny ”S” GIVP30003

Usia Kehamilan 39 Minggu Kala I Fase Aktif Dengan Masase

Counter Pressure Di BPM Hj. Tutik Rif’atun Ni’mah, S.ST, S.Psi

Desa Keboan Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang”.


4

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana Pelaksanaan Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin

Normal Ny ”S” GIVP30003 Usia Kehamilan 39 Minggu Kala I Fase Aktif

Dengan Masase Counter Pressure Di BPM Hj. Tutik Rif’atun Ni’mah,

S.ST, S.Psi Desa Keboan Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang

Tahun 2015 ?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum

Dapat melaksanakan dan mengaplikasikan secara langsung

Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Normal Ny ”S” GIVP30003Usia

Kehamilan 39 Minggu Kala I Fase Aktif Dengan Masase Counter

Pressure Di BPM Hj. Tutik Rif’atun Ni’mah, S.ST, S.Psi Desa

Keboan Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang

1.3.2 Tujuan Khusus

Dapat :

1.3.2.1 Melakukan pengumpulan data dasar, baik data Subjektif maupun

data Objektif pada Ibu Bersalin Normal Ny ”S” GIVP30003 Usia

Kehamilan 39 Minggu Kala I Fase Aktif Dengan Masase Counter

Pressure Di BPM Hj. Tutik Rif’atun Ni’mah, S.ST, S.Psi Desa

Keboan Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang


5

1.3.2.2 Mengidentifikasi diagnosa dan masalah pada Ibu Bersalin Normal

Ny ”S” GIVP30003 Usia Kehamilan 39 Minggu Kala I Fase Aktif

Dengan Masase Counter Pressure Di BPM Hj. Tutik Rif’atun

Ni’mah, S.ST, S.Psi Desa Keboan Kecamatan Ngusikan Kabupaten

Jombang

1.3.2.3 Membuat Intervensi yang sesuai pada Ibu Bersalin Normal Ny ”S”

GIVP30003 Usia Kehamilan 39 Minggu Kala I Fase Aktif Dengan

Masase Counter Pressure Di BPM Hj. Tutik Rif’atun Ni’mah,

S.STt, S.Psi Desa Keboan Kecamatan Ngusikan Kabupaten

Jombang.

1.3.2.4 Melakukan Implementasi yang telah ditetapkan sesuai intervensi

pada Ibu Bersalin Normal Ny ”S” GIVP30003 Usia Kehamilan 39

Minggu Kala I Fase Aktif Dengan Masase Counter Pressure Di

BPM Hj. Tutik Rif’atun Ni’mah, S.ST S.Psi Desa Keboan

Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang.

1.3.2.5 Mengevaluasi pelaksanaan asuhan kebidanan pada Ibu Bersalin

Normal Ny ”S” GIVP30003 Usia Kehamilan 39 Minggu Kala I Fase

Aktif Dengan Masase Counter Pressure Di BPM Hj. Tutik Rif’atun

Ni’mah, S.ST, S.Psi Desa Keboan Kecamatan Ngusikan Kabupaten

Jombang.
6

1.3.2.6 Melakukan pencatatan dan pelaporab asuhan kebidanan pada Ibu

Bersalin Normal Ny ”S” GIVP30003 Usia Kehamilan 39 Minggu

Kala I Fase Aktif Dengan Masase Counter Pressure Di BPM Hj.

Tutik Rif’atun Ni’mah, S.ST, S.Psi Desa Keboan Kecamatan

Ngusikan Kabupaten Jombang.

1.4 Ruang Lingkup

Sasaran : Ibu Bersalin Normal Ny ”S” GIVP30003 Usia Kehamilan 39

Minggu Kala I Fase Aktif Dengan Masase Counter

Pressure

Tempat : BPM “Hj.Tutik Rifatun Ni’mah, S.ST. S.Psi. Desa Keboan

Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang..

Waktu : Bulan Januari – April.

1.5 Manfaat

1.5.1 Manfaat Teoritis

Dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan

pengalaman secara langsung sekaligus penanganan dalam

menerapkan ilmu yang diperoleh selama di akademik, serta

menambah wawasan dalam penerapan proses manajemen Asuhan

Kebidanan Normal.
7

1.5.2 Manfaat Praktis

1.5.2.1 Manfaat bagi Bidan Praktik Mandiri

Sebagai bahan informasi dan masukan bagi bidan untuk

memberikan kualitas pelayanan sehingga dapat memberikan

pelayanan yang aktual, baik, dan komprehensif.

1.5.2.2 Manfaat Institusi Kesehatan

Berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan sebagai

tambahan pengetahuan serta informasi dan sebagai bahan masukan

institusi dalam penerapan proses manajemen Asuhan Kebidanan

Ibu Bersalin Normal.

1.6 Metode Memproleh Data

Metode yang digunakan dalam penulisan Laporan Tugas Akhir ini

adalah :

1.6.1 Studi Kepustakaan

Penulis mencari, mengumpulan, dan mempelajari refrensi dengan

kasus yang dibahas yaitu Ibu Persalinan Normal dari beberapa buku,

informasi dari internet.

1.6.2 Studi Pendahuluan

Meminta surat pengantar dari institusi, kemudia penulis mendatangi

rumah bidan, meminta izin untuk melakukan penelitian, serta

meminta data Ibu Bersalin Normal yang dibahas.


8

1.6.3 Studi Kasus

Melakukan Studi kasus dengan melakukan pendekatan Asuhan

Kebidanan yang meliputi pengkajian data yakni data subjektif dan

data objektif, menganalisa data untuk menentukan diagnose dan

masalah, menentukan rencana, mengimplementasiakn tindakan, dan

kemudian mengevaluasi asuhan kebidanan pada ibu bersalin normal.

Untuk melakukan pengkajian data dapat menggunakan metode :

1.6.3.1 Anamnesa

Pasien melakukan Tanya jawab dengan klien, serta keluarga yang

dapat membantu memberikan informasi yang dibutuhkan.

1.6.3.2 Pemeriksaan Fisik

Melakukan pemeriksaan fisik secara sistematis pada klien mulai

dari kepala samapai kaki ( Head to toe) secara inspeksi, palpasi,

auskultasi dan perkusi yang menunjang kelancaran persalinan.

1.6.3.3 Pemeriksaan Penunjang

Data ini diperoleh dari pemeriksaan laboratorium, USG, yang telah

dilakukan oleh klien, jika klien belum pernah melakukan

pemeriksaan laboratorium diharapkan penulis dapat merujuk pasien

ke pelayanan kesehtan yang lebih tinggi dengan persetujuan dari

bidan / tenaga kesehatan yang bertanggung jawab.


9

1.6.3.4 Studi Dokumentasi

Studi dilakukan dengan mempelajari status kesehatan klien yang

bersumber dari catatan bidan, maupun dari sumber lain yang

menunjang seperti hasil pemeriksaan diagnostik.

1.6.3.5 Diskusi

Penulis melakukan diskusi dengan tenaga kesehatan yaitu bidan

yang menangani langsung klien tersebut serta diskusi dengan dosen

pembimbing Studi kasus.

1.7 Sistematika Penulisan

Mempermudah dalam pemahaman Asuhan Kebidanan ini, penulis

menyusun BAB sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Meliputi :

Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan,

Ruang Lingkup, Manfaat Penulisan,Metode Memperoleh

Data Dan Sistematika Penulisan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Meliputi :
10

Tinjauan Teori Medis, Konsep Dasar Persalinan Normal,

Konsep Dasar Nyeri Persalinan, Penelitian Relevan,

Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan, Standar Asuhan

Kebidanan, Landasan Hukum Kewenangan Bidan,

Peraturan-Peraturan Bidan, Kompetensi Bidan, Standart

Pelayanan Bidan.

BAB III : TINJAUAN KASUS

Menjelaskan tentang keseluruhan asuhan kebidanan yang

telah dilaksanakan. Asuhan dilaksanakan dengan runtutan

yang sesuai dengan tinjauan teori mulai dari pengkajian

hingga Pencatatan Asuhan Kebidanan.

Memuat tentang Asuhan Kebidanan berdasarkan

Keputusan Mentri Kesehatan

No.938/Menkes/SK/VIII/2007 tentang Standar Asuhan

Kebidanan meliputi Pengkajian Data, Perumusan Diagnosa

Dan Masalah Kebidanan, Perencanaan, Implementasi,

Evaluasi, Dan Pencatatan Asuhan Kebidanan

BAB IV : PEMBAHASAN

Membandingkan antara teori dan dokumentasi pelaksanaan

asuhan kebidanan yang telah dilaksanakan secara

berkesinambungan ( continuity of care), sesuai

dokumentasi standar asuhan kebidanan untuk melihat


11

adanya kesenajngan atau tidak, dimulai dari pengkajian

data hingga pencatatan asuhan kebidanan

BAB V : PENUTUP

Menguraikan kesimpulan yang merupakan sintesa dari

hasil bahasan yang dapat menjawab permasalahan dan

tujuan penyusunan studi kasus. Serta berisi saran yang

berupa masukan berdasarkan simpulan.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori Medis

2.1.1 Konsep Dasar Asuhan Persalinan Normal

2.1.1.1 Pengertian Persalinan Normal

Persalinan normal adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan

pengeluaran bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan

pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu dengan kekuatan ibu

sendiri dan melalui jalan lahir ibu tersebut. (Ambar, 2010 : 5)

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban

keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi

pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai

adanya penyulit. Persalinan dimulai ( inpartu) sejak uterus berkontraksi

dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan

berakhir dengan lahirna plasenta secara lengkap. Ibu dinayatakan belum

inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks.

(JNPK – KR, 2007 : 37)

Persalinan normal adalah pengeluaran seluruh hasil konsepsi yang

terjadi pada kehamilan aterm ( 37 – 40) lahir spontan, letak belakang

kepala dan lahir tanpa adanya komplikasi baik bagi ibu maupun janin.

(Zakiah, 2013 :11)

12
13

2.1.1.2 Sebab Mulainya Persalinan

Mulainya proses persalinan belum diketahui benar, yang ada hanya

berupa teori – teori yang kompleks antara lain, yaitu :

a. Teori penurunan hormon.

Saat 1-2 minggu sebelum proses melahirkan dimulai, terjadi

penurunan kadar estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja

sebagai penenang otot – otot polos rahim, jika kadar progesteron

turun akan menyebabkan tegangnya pembuluh darah dan

menimbulkan his.

b. Teori plasenta menjadi tua

Seiring matangnya usia kehamilan. Vili chorialis dalam plasenta

mengalami beberapa perubahan, hal ini menyebabkan turunnya kadar

estrogen dan progesteron yang mengakibatkan tegangnya pembuluh

darah sehingga akan menimbulkan kontraksi uterus.

c. Teori distensi rahim

Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu.,

Setelah melewati batas tersebut, akhirnya terjadi kontraksi sehingga

persalinan dapat dimulai.

d. Teori iritasi mekanis

Di belakang serviks terletak ganglion servikalis (fleksus

frankenhauser), bila ganglion ini digeser dan ditekan (misalnya oleh

kepala janin), maka akan timbul kontraksi uterus.


14

e. Teori oksitosin

Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis posterior, Perubahan

keseimbangan estrogen dan progesterone dapat mengubah sensitivitas

otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi Braxton Hicks.

f. Teori hipotalamus – pituitary dan glandula suprarenalis.

Glandula suprarenalis merupakan pemicu terjadinya persalinan, Teori

ini menunjukkan, pada kehamilan dengan bayi anensefalus sering

terjadi keterlambatan persalinan karena tidak terbentuknya

hipotalamus.

g. Teori protagladin

Protagladin yang dihasilkan oleh desidua disangka sebagai salah satu

sebab permulaan persalinan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa

prostaglandin yang diberikan secara intervena menimbulkan

kontraksi miometrium pada setiap usia kehamilan.

h. Induksi persainan

Persalinan dapat juga ditimbukan dengan jalan sebagai berikut.:

1) Gagang laminaria

2) Amniotomi : pemecahan ketuban.

3) Oksitosin drip : pemberian oksitosin menurut tetesan per infus.

2.1.1.3 Tanda Persalian Sudah Dekat

a. Lightening

Menjelang minggu ke – 36 pada primigravida, terjadi penurunan

fundus uterus karena kepala bayi sudah masuk ke dalam panggul.


15

Penyebab dari proses ini adalah sebagai berikut :

1) Kontraksi Braxton hicks.

2) Ketegangan dinding perut

3) Ketegangan ligamnetum rotondum.

4) Gaya berat janin, kepala kearah bawah uterus.

b. Terjadinya His Permulaan

Pada saat hamil muda sering terjadi Braxton Hicks yang kadang

dirasakan sebagai keluhan karena rasa sakit yang ditimbulkan. His

permulaan ini sering diistilahkan sebagai his palsu dengan ciri-ciri

sebagai berikut.

1) Rasa nyeri ringan di bagian bawah.

2) Datang tidak teratur.

3) Tidak ada perubahan pada serviks atau tidak ada tanda-tanda

kemajuan peralinan.

4) Durasi pendek.

5) Tidak bertambah bila beraktivitas.

2.1.1.4 Tanda Masuk dalam Persalinan

a. Terjadinya his persalinan.

Karakter dari his persalinan, yaitu :

1) Pinggang terasa sakit menjalar kedepan.

2) Sifat his teratur, interval makin pendek, dan kekuatan makin besar.

3) Terjadi perubahan pada serviks.


16

4) Jika pasien menambah aktivitasnya, misalnya dengan berjalan,

maka kekuatannya bertambah.

b. Pengeluaran lendir dan darah

Dengan adanya his persalinan, terjadi perubahan pada serviks yang

menimbulkan.

1) Pendataran dan pembukaan

2) Pembukaan menyebabkan selaput lendir yang terdapat pada kanalis

servikalis terlepas.

3) Terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah.

c. Pengeluaran cairan

Sebagian pasien mengeluarkan air ketuban akibat pecahnya selaput

ketuban. Jika ketuban sudah pecah, maka persalinan dapat

berlangsung dalam 24 jam. Namun jika ternyata tidak tercapai, maka

persalinan akhirnya diakhiri dengan tindakan tertentu, misalnya

ekstraksi vakum, atau section caesaria. (Ari, 2010 : 4-7).

2.1.1.5 Tahapan Persalinan

Tahap persalinan dibagi menjadi 4 fase/kala yaitu :

a. Kala I

Dinamakan kala pembukaan, pada kala ini serviks membuka sampai

terjadi pembukaan 10 cm. Proses membukanya serviks dibagi atas 2

fase :

1) Fase laten berlangsung selama 7-8 jam pembukaan terjadi sangat

lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm.


17

2) Fase aktif dibagi dalam 3 fase yaitu fase akselerasi dalam waktu 2

jam, pembukaan 3 cm tadi menjadi 4 cm dan fase dilatasi maximal

dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4

menjadi 9 cm dan fase deselerasi pembukaan menjadi lambat

kembali dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap

10 cm. Kala I ini selesai apabila pembukaan serviks uteri telah

lengkap. Pada primigravida kala I berlangsung kira-kira 12 jam

sedang pada multigravida 8 jam. Pembukaan primigravida 1 cm

tiap jam dan multigravida 2 cm tiap jam.

b. Kala II

Kala pengeluaran karena berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan

janin didorong keluar sampai lahir. Kala ini berlangsung 2 jam pada

primigravida dan 1 jam pada multipara. Batasan persalinan kala II

yaitu dimulai saat pembukaan serviks lengkap (10 cm) dan berakhir

dengan lahirnya seluruh tubuh janin. Kontraksi pada kala II ini

biasanya sangat kuat sehingga kemampuan ibu untuk menggunakan

otot-otot abdomen dan posisi presentasi mempengaruhi durasi kala II.

( Tsokronegoro, 2009 : 116).

Gejala utama kala II adalah sebagai berikut :

1) His semakin kuat dengan interval 2 – 3 menit, dengan durasi 50 –

100 detik.

2) Menjelang akhir kala I, ketuban pecah ditandai dengan pengeluaran

cairan secara mendadak.


18

3) Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti

keinginan meneran karena tertekan fleksus frankenhouser.

4) Dua kekuatan, yaitu his dan meneran akan mendorong kepala bayi

sehingga kepala membuka pintu, suboksiput bertindak sebagai

hipomochlion, berturut- turut lahir ubun – ubun besar, dahi, hidung,

dan muka serta kepala seluruhnya.

5) Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putaran paksi luar, yaitu

penyesuaian kepala pada pungung.

6) Setelah putaran paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi

ditolong dengan jalan berikut :

a) Pegang kepala pada tulang oksiput dan bagian bawah dagu,

kemudian ditarik cunam ke bawah untuk melahirkan bahu

depan, dn cunam ke atas untuk melahirkan bahu belakang.

b) Setelah kedua bahu bayi lahir, ketiak dikait untuk melahirkan

sisa badan bayi.

c) Bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban

c. Kala III

Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran plasenta.

Setelah kala II yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit, kontraksi

uterus berhenti sekitar 5 – 10 menit. Dengan lahirnya bayi dan proses

retraksi uterus, maka plasenta lepas dari lapisan Nitabusch. Lepasnya

plasenta sudah dapat diperkirakan dengan memperhatikan tanda-tanda

sebagai berikut :
19

1) Uterus menjadi berbentuk bundar.

2) Uterus terdorong ke atas, karena plasenta dilepas ke segmen bawah

rahim.

3) Tali pusat bertambah panjang.

4) Terjadinya perdarahan.

d. Kala IV

Observasi dilakukan mulai lahirnya plasenta selama 1 - 2 jam, hal ini

dilakukan untuk menghindari terjadinya perdarahan postpartum.

Observasi yang dilakukan melihat tingkat kesadaran penderita,

pemeriksaan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi dan pernapasan),

kontraksi uterus dan terjadinya pendarahan. Perdarahan dianggap

normal bila jumlahnya tidak melebihi 400 – 500 cc.

( Ari, 2010 : 7 – 9)

2.1.1.6 Mendiagnosis Persalinan

Persalinan patut dicurigai jika setelah usia kehamilan 22 minggu, pasien

merasakan adanya nyeri abdomen berulang disertai keluarnya cairan lendir

yang mengandung darah atau “bloody show”. Agar dapat mendiagnosis

persalinan, bidan harus mampu memastikan perubahan serviks dan

kontraksi yang cukup.

a. Perubahan serviks

Kepastian persalinan dapat ditentukan hanya jika serviks secara

progresif menipis dan membuka.


20

b. Kontraksi adekuat

Kontraksi dianggap adekuat apabila :

1) Terjadi teratur, minimal 2 kali dalam 10 menit dan setiap kontraksi

sedikitnya 40 detik.

2) Uterus mengeras selama kontraksi, tandanya adalah tidak bisa

menekan uterus dengan menggunakan jari anda.

Maka dapat disimpulkan bahwa gejala persalinan adalah sebagai

berikut.

1) Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak

kontraksi yang semakin pendek.

2) Terdapat tanda-tanda persalinan seperti pengeluaran lendir dan atau

lendir bercampur darah.

3) Dapat berisi ketuban pecah.

4) Pada pemeriksaan dalam dijumpai perubahan serviks : Perlunakan

serviks, Pendataran serviks, Pembukaan serviks, Timbul dorongan

untuk meneran, Pasien terlihat gelisah., Secara fisik timbul

ketidaknyamanan fisik dan diare, Adanya kontraksi berulang yang

sifatnya hilang timbul, Nyeri pinggang bagian bawah, dan

Ketidaknyamanan pelvis ketika terjadi penurunan kepala.

(Ari, 2010 : 9 – 11).


21

2.1.1.7 Faktor yang Mempengaruhi Persalinan

Persalinan normal ditentukan oleh 5 faktor utama, yaitu Power, Passanger,

Passage, Physic, dan Penolong :

a. Tenaga atau Kekuatan (Power) :

Terdiri dari his (kontraksi uterus), kontraksi otot dinding perut,

kontraksi diafragma pelvis, ketegangan, kontraksi ligamentum

rotundum, efektivitas kekuatan mendorong dan lama persalinan.

b. Janin (Passanger)

Passanger terdiri dari :

1) Janin : Berhubungan dengan ukuran kepala bayi baik Sub Occipito,

Fronto Occipiti, dan lain-lain.

2) Letak, presentasi, posisi, dan sikap badan janin

a) Letak janin

b) Presentasi merupakan bagian pertama janin yang masuk PAP

c) Sikap adalah postur khas janin tersebut.

d) Posisi adalah titik presentasi yang dihubunkan dengan sisi kiri

atau kanan panggul ibu. (Zakiah, 2013 : 13 - 24)

3) Plasenta dan selaput ketuban : Plasenta berasal dari lapisan

trofoblas pada ovum yang dibuahi, lalu terhubung dengan sirkulasi

ibu untuk melakukan fungsi – fungsi yang belum dapat dilakukan

oleh janin itu snediri selama kehidupan intrauterine. Keberhasilan

janin untuk hidup tergantung atas keutuhan dan efisiensi plasenta.

(Ai, 2012 :44)


22

c. Jalan Lahir (Passage)

Jalan lahir terdiri atas jalan lahir bagian tulang dan jalan lahir bagian

lunak. Jalan lahir bagian tulang terdiri atas tulang – tulang panggul dan

sendi-sendinya, sedang bagian lunak terdiri atas otot-otot, jaringan, dan

ligament – ligament.

Gambar 2.1 Bagian – Bagian Tulang Keras

Gambar 2.2 Bagian Lunak Panggul


23

d. Kejiwaan (Psyche)

Keadaan fisiologis ibu mempengaruhi proses persalinan. Perubahan

psikologis dan prilaku ibu, karena sebagian besar ibu hamil yang

memasuki masa persalinan akan merasa takut.

Adapun perubahan psikologi yang terjadi pada ibu bersalin meliputi :

1) Kecemasan mengakibatkan peningkatan hormone seks yang terdiri

dari bendarpin, adenocus tricotropin, cortisol, dan epineprin.

Gambar. 2.3 Pengaruh kecemasan pada kemajuan persalinan. Menurut Zakiah,

2013 :24
24

2) Ketakutan

Kegelisahan / kekuatan dan respon endokrin akan mengakibatkan

retensi Na, Eksresi K , dan penurunan glukosa.

Gambar 2.4 Siklus pengaruh kegelisahan pada kemajuan persalinan Menurut

Zakiah, 2013 : 25

e. Penolong

Bidan mempunyai tanggung jawab yang besar dalam proses

persalinan. Langkah utama yang harus dikerjakan adalah mengkaji

perkembangan persalinan. Kesalahan yang dilakukan bidan dalam

mendiagnosis persalinan dapat menimbulkan kegelisahan dan

kecemasan pada ibu dan keluarga. (Ai, 2012 :49)


25

2.1.1.8 Perubahan Fisiologis Pada Ibu Bersalin

Ada beberapa perubahan fisiologi yang terjadi pada ibu bersalin,

diantaranya yaitu :

a. Perubahan uterus

Sebelum persalinan uterus terdiri dari serviks uterus dan korpus uterus.

Saat persalinan dimulai, kontraksi uterus menyebabkan korpus uteri

berubah menjadi 2 bagian, yakni bagian atas yang tebal dan berotot

dan bagian bawah yang berotot pasif dan berdinding tipis. Segmen

bawah rahim bertahap membesar karena mengakomodasi isi dalam

rahim, sedangkan bagian atas menebal dan akomodasinya menurun.

Gambar 2.5 perubahan uterus saat persalinan.

b. Perubahan Kardiovaskuler

Pada setiap kontraksi, 400 ml darah dikeluarkan dari uterus dan masuk

kedalam system vaskuler ibu. Sehingga terjadi beberapa perubahan

pembuluh darah perifer, kemungkinan sebagai respon terhadap dilatasi

serviks atau kompresi pembuluh darah ibu oleh janin yang melalui

jalan lahir. Pipi menjadi merah, kaki menjadi panas atau dingin, dan

terjadi prolaps hemoroid.


26

c. Perubahan metabolisme

Selama persalinan baik metabolisme karbohidrat aerobik maupun

anaerobik akan naik secara perlahan. Kenaikan ini sebagian besar

diakibatkan karena kecemasan serta kegiatan otot rangka tubuh.

d. Perubahan pernafasan

Kenaikan pernafasan dapat disebabkan karena adanya rasa nyeri,

kekhawatiran, kecemasan, serta penggunaan teknik pernafasan yang

tidak benar. Sistem pernapasan juga meningkat.

e. Perubahan pada ginjal

Selama persalinan, ibu dapat mengalami kesulitan untuk berkemih

secara spontan akibat, berbagai alasan, edema jaringan akibat tekanan

bagian presentasi, rasa tidak nyaman, sedasi dan rasa malu.

f. Perubahan gastrointestinal

Persalinan mempungaruhi sistem saluran cerna wanita. Selama

persalinan, motalitas dan absorbsi saluran cerna menurun dan waktu

memuntahkan makanan yang belum dicerna setelah bersalin.

g. Perubahan hematologis

Jumlah sel – sel darah putih meningkat secara progresif selama kala

satu persainan sebesar > 25.000 /mm3.

h. Perubahan Muskuloskeletal

Nyeri punggung dan nyeri sendi terjadi akibat semakin renggangnya

sendi pada massa aterm. (Zakiah, 2013 : 28-35)


27

2.1.1.9 Adaptasi Psikologis Pada Ibu Bersalin.

Mendekati minggu – minggu terakhir menjelang persalinan, ibu hamil

mengalami kegelisahan. Kondisi – kondisi psikologis yang sering

menyertai ibu menjelang persalinan adalah :

a. Adanya perasaan takut

Adanya perasaan takut terhadap kematian akibat persalinan yang

akan dihadapi.

b. Perasaan bersalah

Perasaan ini berhubungan erat dengan kehidupan emosi dan cinta

kasih yang diterima ibu hamil dari orang tuanya, teruatama pada

ibunya.

c. Rasa takut konkrit

Kebanyakan wanita hamil akan dirundung rasa takut yang konkrit

menjelang persalinan seperti ketakutan jika anak yang lahir cacat,

takut bayinya bernasib buruk akibat dosanya, sikap penolakan dan

regresi kalau dirinya dipisahkan dengan bayinya.

d. Trauma kelahiran

Biasaynya berkaitan dengan sikap ibu yang selalu dirundung

ketakutan – ketakutan untuk berpisah dengan janin yang

dikandungnya, sikap protektif ibu yang berlebihan atau perasaan

tidak mampu merawat bayinya.

(Zakiah, 2013 : 34-35)


28

2.1.1.10 Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin

Menurut Asrinah ( 2010) kebutuhan dasar ibu bersalin terdiri dari 2

faktor utama, yaitu :

a. Dukungan fisik dan psikologi

Setiap ibu yang akan memasuki masa persalinan biasanya diliputi

perasaan takut, khawatir , ataupun cemas, terutama pada ibu

primipara. Perasaan takut bisa meningkatkan nyeri, otot-otot menjadi

tegang, dan ibu menjadi cepat lelah, yang pada akhirnya akan

menghambat proses persalinan. Sehingga bidan diharapkan ibu

sebagai pendamping persalinan yang dapat diandalkan serta mampu

meberikan dukungan, bimbingan dan pertolongan persalinan.

b. Posisioning dan aktifitas

Untuk membantu ibu agar tetap tenang dan rileks, sebisa mungkin

bidan tidak boleh memaksakan pemilihan posisi yang diinginkan oleh

ibu dalam persalinannya. Adapun posisi-posisi yang dianjurkan bagi

ibu bersalin adalah sebagai berikut :


29

Tabel 2.1 Posisi untuk persalinan

Posisi Alasan

Duduk atau setengah duduk Lebih mudah bagi bidan untuk

membimbing kelahiran kepala bayi dan

mengamati perenium

Posisi merangkak - Baik untuk persalinan dengan

punggung yang sakit

- Membantu bayi melakukan rotasi

- Peregangan minimal pada perenium

Berjongkok atau berdiri - Membantu penurunan kepala bayi

- Memperbesar ukuran panggul

- Memperbesar dorongan meneran

Berbaring miring ke kiri - Member rasa santai bagi ibu ynag

letih

- Member oksigenasi yang baik pada

bayi

- Membantu mencegah trjadinya

laserasi.
30

2.1.1.11 Pelaksanaan Asuhan Kala I dengan Partograf

a. Pemantauan partograf

Partograf merupakan alat bantu yang digunakan untuk memantau

kemajuan kala I persalinan dan informasi untuk membuat keputusan

klinik.

b. Fungsi partograf

1) Mengamati dan mencatat informasi kemajuan persalinan dengan

memeriksa dilatasi serviks selama pemeriksan dalam.

2) Mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan adanya penyulit

persalinan sehingga bidan dapat membuat keputusan tindakan

dengan tepat.

3) Sebagai alat komunikasi yang unik namun praktis antara bidan

dengan dokter mengenai perjalanan persalinan pasien.

4) Alat dokumentasi riwayat persalinan pasien beserta data

pemberian medikamentosa yang diberikan selama proses

persalinan.

Sebelum memutuskan untuk menggunakan partograf, bidan harus

dapat mengidentifikasi keadaan pasien apakah memenuhi kriteria

untuk dipantau menggunakan partograf atau tidak.

c. Kriteria pasien yang dapat dipantau menggunakan partograf adalah :

1) Persalinan diperkirakan spontan

2) Janin tunggal

3) Usia kehamilan 36-42 minggu


31

4) Presentasi kepala

5) Tidak ada penyulit persalinan

6) Persalinan sudah masuk dalam kala I fase aktif

d. Kriteria pasien yang tidak perlu dipantau menggunakan partograf

1) Tinggi badan psien kurang dari 145 cm

2) Ada perdarahan antepartum

3) Mengalami pre eklamsia atau eklamsia

4) Anemia

5) Adanya kelainan letak janin

6) Persalinan premature

7) Adanya induksi persalinan

8) Gemeli

9) Adanya rencana persalinan SC

Bagian – bagian partograf merupakan grafik yang diisi berdasarkan

hasil pemeriksaan yang dilakukan selama kala I persalinan, meliputi :

1) Kemajuan persalinan ;

a) Pembukaan serviks

b) Penurunan kepala janin

c) Kontrasksi uterus

2) Keadaan janin ;

a) DJJ

b) Warna dan jumlah air ketuban

c) Molase tulang kepala janin


32

3) Keadaan ibu ;

a) Nadi, tekanan darah, dan suhu

b) Urin, volume dan protein

c) Obat-obatan dan cairan IV

e. Cara pengisian partograf

1) Halaman depan

1. Bagian identitas pasien dan keterangan waktu :

(1) Diisi berdasarkan informasi yang dibutuhkan

(2) Meliputi nomor registrasi, nomor puskesmas, nama, tanggal

dan jam datang, usia, dan parietas pasien.

2. Baris untuk menuliskan waktu

Cara mengisi baris ini adalah dengan menuliskan jam

dilakukannya pemeriksaan dalam pertama kali, kemudian kotak

berikutnya diisi dengan penambahan satu jam berikutnya.

3. Grafik DJJ

(1) Hasil pemeriksaan DJJ yang dihitung selama 1 menit penuh

dituliskan dalam grafik ni dalam bentuk noktah ( titik yang

agak besar).

(2) Penulisan noktah disesuaikan dengan letak skala dalam

grafik dan jam pemeriksaan.

(3) Catat hasil pemeriksaan DJJ setiap 1 jam

(4) Antara noktah satu dengan yang lain dihubungkan dengan

garis tegas yang tidak terputus


33

(5) Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di antra garis

tebal pada angka 180 dan 100. Penolong harus waspada jika

frekuensi DJJ mengarah hingga dibawah 120 atau diatas

160.

4. Baris hasil pemeriksaan air ketuban

(1) Setiap melakukan pemeriksaan, hasil apapun yang

berkaitan dengan ketuban harus selalu dituliskan

(2) Cara menuliskannya adalah sebagai berikut

(a) U : kulit ketuban masih Utuh

(b) J : selaput ketuban pecan dan air ketuban jernih.

(c) M : air ketuban bercampur mekonium

(d) D : air ketuban bernoda darah

(e) K : tidak ada cairan ketuban / Kering.

(3) Hasil dituliskan di kolom sesuai dengan jam pemeriksaan.

5. Baris hasil pemeriksaan untuk molase kepala janin /

penyusupan

(1) Molase adalah indikator penting tentang seberapa jauh

kepala janin dapat menyesuaikan diri terhdap bagian keras

panggul. Semakin besar derajat penyusupan tulang kepala

janin atau semakin tumpang tindih antar tulang kepala janin

maka ini semakin menunjukan resiko adanya disporporsi

kepala panggul.
34

(2) Setiap melakukan pemeriksaan dalam, ada atau tidaknya

molase harus dilaporkan melalui baris ini.

(3) Cara menuliskannya menggunakan lambang- lambang

berikut.

(a) 0 : sutura terpisah

(b) 1 : sutura (pertemuan dua tulang tengkorak )

bersesuaian

(c) 2 : sutura tumpang tindih tapi dapat diperbaiki

(d) 3 : sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki

6. Garis wapada dan garis bertindak

(1) Garis waspada dimulai pada pembukaan 4 cm dan berakhir

pada titik dimana pembukaan lengkap diharapkan terjadi

jika laju pembukaan serviks 1 cm / jam. Jika pembukaan

serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada (

pembukaan kurang dari 1 cm/jam) , maka harus

dipertimbangkan kemungkinan adanya penyulit persalinan,

misalnya fase aktif yang memanjang, serviks kaku, inersia

uteri hipotonik, dan lin-lain. Pada kondisi ini

pertimbangkan untuk melakukan persiapan rujukan.

(2) Garis bertindak terletak sejajar dan disebelah kanan

(berjarak 4 jam) garis waspada. Jika pembukaan serviks

melampaui dan berada disebelah kanan garis tindakan,

maka hal ini menunjukkan perlu dilakukan tindakan untuk


35

menyelesaikan persalinan. Sebaiknya pasien sudah berada

di fasilitas pelayanan rujukan sebelum garis bertindak

terlampui.

7. Grafik hasil pemeriksaan dalam

(1) Setiap melakukan pemeriksaan dalam harus selalu

dituliskan dalam grafik ini, karena indikator normal atau

tidaknya persalinan melalui pemantauan partograf adalah

kemajuan pembukaan serviks.

(2) Cara menuliskannya dengan memberikan tanda silang tepat

diatas garis waspada ( jika pembukaan tepat 4 cm) atau

berada di perpotongan antara garis waspada dan sklaa

pembukaan yang ada di sisi paling pinggir grafik ( skala 1 –

10), dilanjutkan dengan menuliskan kapan atau jam berapa

pemeriksaan dilakukan pada baris waktu dibawahnya.

(3) Hasil pemeriksaan berikutnya diisi menyesuaikan dengan

waktu pemeriksaan dan dibuat garis penghubung antara

tanda silang sebelumnya dengan tanda silang berikutnya.

(4) Perlu diingat, hasil pemeriksaan dalam yang dituliskaan

dalam partograf adalah jika pembukaan sudah ebih dari 3

cm atau sudah masuk dalam fase aktif.

(5) Jika hasil pembukaan mendekati garis bertindak, amak

bidan harus merujuk pasien karena mengindikasikan

adanya persalinan lama.


36

8. Grafik hasil pemeriksaan penurunan kepala

(1) Mengacu kepada bagian kepala ( dibagi 5 bagian) yang

teraba pada pemeriksaan abdomen luar diatas simfisis pubis

(2) Cara menuliskannya dengan menggunakan symbol huruf

“O” yang dituliskan di skala 0 – 5 dengan pembagian

perlimaan untuk setiap penurunan kepala. Contohnya, jika

terba 3 / 5 bagian kepala, maka dituliskan skala angka 3,

jika teraba 4/5 bagaian kepala maka ditulisksan di skala 4.

(3) Jika kepala sudah turun dan pembukaan lengkap yaitu 0/5,

amka dituliskan dalam skala 0

9. Grafik hasil observasi kontraksi

(1) Kontraksi diperiksa setiap 30 menit dengan

mengidentifikasi kualitas kontraksi dalam 10 menit.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kontraksi

diperiksa 30 menit sekali selama 10 menit.

(2) Cara menuliskannya dengan melakukan arsiran dengan

bentuk tertentu ( sesuai dngan durasi kontraksi) di kotak –

kotak yang ada dalam grafik. Skala dalam grafik 1 – 5,

dimaksudkan untuk menggambarkan jumlah kontrasksi

dalam 10 menit serta bagaiana kualitasnya.

(3) Misalnya dalam 10 menit terdeteksi 2 kontraksi dengan

durasi 20 – 40 detik, amka yang diarsir adalah 2 kotak

dengan arsiran sesuai dengan durasi 20 – 40 detik.


37

10. Baris keterangan pemberian oksitosin

(1) Data yg dituliskan adalah berapa unit oksitosin yang

diberikan di baris pertama

(2) Jumlah tetesan / menit dalam baris kedua

11. Baris keterangan pemeberian cairan IV dan obat

Tulis jenis cairan infus dan jenis obat yang diberikan.

12. Grafik hasil pemeriksan tekanan darah dan nadi

(1) Tekanan darah diperiksa minimal setiap 4 jam yang

dituliskan sesuai dengan skala yang tersedia. Skala dalam

grafik ini adlah 60 – 180

(2) Nadi diperiksa setiap 30 menit berpedoman dengan sklaa

yang sama dengan skala pada tekanan darah

(3) Cara menuliskan hasil pemeriksaan.

(a) Tekanan darah : sistol dilambangkan dengan arah panah

keatas yang dituliskan desusai skala pada grafik,

sedangkan diastole dilambangkan dengan arah panan ke

bawah. Selanjutnya tarik garis kebawah dari panan

sistol dan diastole.

(b) Nadi : hasil pemeriksaan nadi juga sama dengan

penempatan penuliannya dengan tekanan darah, yang

membedakan adalah simbolnay. Untuk nadi dituliskan

dalam bentuk noktah menyesuaikan dengan skala yang

ada. Catat setiap 30 – 60 menit.


38

13. Baris hasil pemeriksaan suhu

(1) Hasil pemeriksaan suhu dituliskan dalam baris hasil

pemeriksaan suhu dengan angka nominal sesuai hasil yang

didapat

(2) Lakukan pencatatan setiap dua jam

14. Baris hasil pemeriksaan urin

(1) Setiap melakukan pemeriksaan urin, hasil harus selalu

dituliskan dalam baris ini

(2) Keterangan kandungan protein dan aseton dalam urin,

cukup dilambangkan dengan tanda (+) atu (-)

(3) Volume dituliskan dengan angka nominal sesuai dengan

data yang ada, catat setiap kali pasien berkemih.

2) Halaman Belakang

Pengisian partograf halaman belakang dilakukan setelah seluruh

proses persalinan selesai. Unsur – unsur yang dicatat dalam bagian

ini adalah sebagai berikut .

1. Data dasar.

a. Isikan data pada masing – masing tempat yang telah

disediakan atau dengan memberi tanda centang (v) pada

kotak disamping jawaban yang sesuai.

b. Untuk pertanyaan nomer 5 lingkari jawaban yang sesuai

c. Untuk pertanyaan nomer 8 jawaban bisa lebih dari satu.

2. Kala I
39

a. Bagaian kala I pada partograf halaman belakang terdiri atas

pertanyaan – pertanyaan partograf saat melewati garis

waspada, masalah lain yang mungkin timbul,

penatalaksanaan masalah, dan hasilnya.

b. Untuk pertanyaan nomer 9 , lingkari jawaban yang sesuai ,

pertanyaan lainnya hanya disisi jika terdapat masalah lain

dalam persalinan.

3. Kala II

a. Data yang harus diisi pada kala II terdiri dari keterangan

tindakan episiotomi, pendamping persalinan , gawat janin,

distosia bahu, maslah lain, serta penatalaksanaan masalah

dan hasilnya.

b. Beri tanda centang (v) pada kotak di samping jawaban yang

sesuai. Bila pertanyaan nomer 13 jawabannya “ya”, tulis

indikasinya

c. Jawaban untuk pertanyaan nomer 14 mungkin lebih dari

Satu

d. Untuk pertanyaan nomr 15 dan 16 jika jawabannya “ya”, isi

tindakan yang dilakukan.

e. Khusus pada pertanyaan nomer 15, ditambahkan ruang baru

untuk menekankan upaya deteksi dini terhadap gangguan

kondisi kesehatan janin selama kala II, hasil pemantauan

harus dicatat ( normal, gawat janin, atau tidak dapat


40

dievaluasi). Bagian ini dapat dijadikan sebagai pelengkap

bagi informasi pada kotak “ya” atau “tidak” untuk

petanyaan nomer 15

f. Untuk masalah lain pada pertanyaan nomer 17 harus

dijelaskan jenis masalah yang terjadi.

4. Kala III

a. Data untuk kala III terdiri dari lamanya kala III, pemberian

oksitosin, peregangan tali pusat terkendali, rangsangan pada

fundus kelengkapan plasenta saat dilahrikan, retensi

plasenta yang > 30 menit, laserasi, atonia uterus, jumlah

perdarahan , masalah lain, serta penatalaksanaan dan

hasilnya.

b. Isi jawaban pada tempat yang telah disediakan dan berilah

tanda centang (v) pada kotak disamping jawaban yang

sesuai.

c. Untuk pertanyaan nomer 25, 26 dan 28 lingkari jawaban

yang benar.

5. Bayi Baru Lahir

a. Informasi yang perlu dicatat pada bagian ini antara lain

berat dan panjang badan, jenis kelamin, penilaian bayi baru

lahir, pemberian ASI, masalah lain, serta penatalaksanaan

dan hasilnya.
41

b. Tulis jawaban pada tempat yang telah disediakan, serta

berikan tanda centang (v) pada kotak disamping jawaban

yang sesuai

c. Untuk pertanyaan nomer 36 dan 37, lingkari jawaban yang

sesuai

d. Untuk pertanyaan nomer 38 jawabannya mungkin lebih dari

satu.

6. Kala IV

a. Kala IV berisi data tentang tekanan darah, nadi, suhu, TFU,

konsistensi uterus, kandung kemih dan perdarahan

b. Pemantauan pada kala IV ini sangat penting, terutama

untuk menilai resiko atau kesiapan penolong

mengantisipasi kompliksai perdarahan pasca persalinan

c. Pemantauan kala IV dilakuakn setiap 15 menit sekali pada

1 jam pertama setelah melahirkan, dan selanjutnya setiap 30

menit pada 1 jam berikutnya.

d. Isikan hasil pemeriksaan pada kolom yang sesuai

e. Bila timbul maslah dalam kala IV, tuliskan jenis dan cara

penanganannya pada bagian masalah kala IV dan bagian

berikutnya

f. Bagian yang diarsir tidak perlu diisi


42

Gambar 2.6 Halaman depan partograf


43

Gambar 2.7 Halam Belakang partograf


44

2.1.2 Konsep Dasar Nyeri dalam Persalinan

2.1.2.1 Definisi Nyeri

Nyeri adalah suatu bagian proses melahirkan yang diketahui dan

akan diperkirakan pada hampir semua masyarakat berdasarkan presepsi

pribadi, prilaku eksternal yang ditunjukkan dalam respon terhadap nyeri,

dan pemahaman budaya tentang peran nyeri dalam proses melahirkan

bervariasi di antara komunitas. (Linda. 2007 :259)

Nyeri persalinan ditandai dengan adanya kontraksi rahim, kontraksi

sebenarnya telah terjadi pada minggu ke-30 kehamilan yang disebut

kontraksi Braxton hicks. Kontraksi Braxton hicks ini akan menjadi

kekuatan his dalam persalinan dan sifatnya teratur.(Gadysa, 2009 : 16).

2.1.2.2 Etiologi Nyeri Dalam Persalinan

Ada berbagai faktor yang memengaruhi intensitas dan jumlah nyeri

yang dialami ibu selama persalinan. Faktor- faktor tersebut adalah :

1. Membukanya mulut rahin

Nyeri pada kala pembukaan terutama disebabkan oleh membukanya

mulut rahim misalnya peregangan otot polos merupakan rangsangan

yang cukup menimbulkan nyeri. Terdapat hubungan erat antara besar

pembukaan mulut rahim dengan intensitas nyeri ( makin membuka

makin nyeri).

2. Kontraksi dan peregangan rahim


45

Rangsang nyeri disebabkan oleh tertekannya ujung syaraf sewaktu

rahim berkontraksi dan teregangnya rahim bagian bawah.

3. Kontraksi mulut rahim

Teori ini kurang dapat diterima oleh karena jaringan mulut rahim

hanya sedikit mengandung jaringan otot.

4. Peregangan jalan lahir oleh kepala janin pada akhir kala pembukaan

dan selama kala pengeluaran menimbulkan rasa nyeri paling hebat

dalam proses persalinan.

2.1.2.3 Skala Nyeri

Salah satu cara untuk mengukur tingkat nyeri adalah dengan mengguankan

skala nyeri Bourbonnais berdasarkan penilaian objektif, yaitu :

Gambar 2.8 Skala Nyeri

Keterangan :

Semakin besar nilai, maka semakin berat intensitas nyerinya :

1. Skala 0 = tidak nyeri

2. Skala 1 – 3 = nyeri ringan


46

Secara objektif klien dapat berkomunikasi dengan baik, tindakan

manual dirasakan sangat membantu.

3. Skala 4 – 6 = nyeri sedang

Secara objektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan

lokasi nyeri dan dapat mendeskripsikan nyeri, klien dapat mengikuti

perintah dengan baik dan responsive terhadap tindakan manual.

4. Skala 7 – 9 = nyeri berat

Secara objektif klien dapat mengikuti perintah, dapat menunjukkan

lokasi nyeri tapi tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi

dengan relaksasi.

5. Skala 10 = nyeri sangat berat (panik , tidak terkontrol)

Secara objektif klien tidak mau berkomunikasi, berteriak, tidak dapat

menunjukkan lokasi nyeri, klien tidak dapat mengikuti perintah, selalu

mengejan tanpa dapat dikendalikan,

2.1.2.4 Manajemen Nyeri dalam Persalinan

Teori yang mendasari penurunan nyeri persalinan :

1. Teori gate control

Teori ini mendasari banyak teknik untuk managemen nyeri, terutama

pada nyeri persalinan. Berdasarkan teori ini pengiriman nyeri dapat

dimodifikasi atau di blok dengan stimulasi pusat. Selama persalinan,

perjalanan impuls nyeri dari uterus sepanjang serabut neural kecil (

serabut C) pada bagian ascending ke substansia gelatinosa pada bagian

columna spinal. Sel kemudian menghantarkan rangsangan nyeri ke


47

otak. Stimulasi taktil seperti masase dapat menghasilkan pesan yang

berlawanan yang menghantarkan sepanjang serabut neural terbesar dan

tercepat ( serabut delta A). pesan yang berlawanan ini menutup

gerbang masuk “gate” di substansia gelatinosa sehingga memblok

pesan nyeri.

2. Teori endogen opiat

Pada awal 1970 peneliti mengidentifikasi reseptor opiate pada otak

spinalcord . mereka menemukan bahwa system saraf pusat melepas

substansi seperti morphin yang dinamakan endorphin dan enkapalin

ketika terjadi nyeri. Opiate endorphin ini mengikat bagian reseptor

yang peka dan mengubah presepsi nyeri dengan cara yang tidak pernah

dimengerti..Dan salah satu cara yang dilakukan untuk memicu

timbulnya endorphin ini adalah dengan teknik akupuntur dan

acupressure. (Padila, 2014 : 163 – 167)

2.1.2.5 Pendekatan Nonfarmakologis Untuk Memelihara Kenyamanan Dan

Menejemen Nyeri

1. Kehadiran fisik

Dengan kehadiran orang lain, pemberi perawatan biasanya

memberi penenangan pada wanita yag melahirkan. Keterkaitan antara

kehadiran orang lain, bahkan orang asing, telah menunjukkan akibat

penurunan lama persalinan dan memperbaiki hasil kelahiran

2. Relasksasi dan distraksi


48

Relasksasi telah digunakan disemua area perawatan kesehatan

untuk menurunkan stress dan ansietas. Relaksasi sadar terhadap otot

seluruh tubuh selama persalinan tampak mengingkatkan keefektifan

kontraksi uterus. Persiapan untuk relakasasi meliputi ruangan yang

tenang, musik lembut, suhu nyaman, dan posisi ibu yang nyaman

semua meingktkan kenyamanan.

3. Posisi maternal dan perubahan posisi

Perubahan posisi, termsuk ambulasi, telah dikaitkan dengan

lebih baik sedikitnya penggunaan medikasi nyeri, kontraksi lebih

efektif, dan rasa kontrol ibu lebih besar.

4. Penggunaan kompres panas dan dingin lokal

Pengunaan kompres panas untuk area yang tegang dan nyeri

dianggap meredakan nyeri dengan mengurangi spasme otot yang

disebabkan oleh iskemia, yang merangsang neuron yang memblok

transmisi lanjut rangsang nyeri dan menyebabkan vasodilatasi dan

peningkatan aliran darah ke area tersebut. Sedangkan pemberian

kompres dingin menurunkan ketidaknyamanan dengan mengurangi

sensitivitas kulit dan otot superfissal oleh rangsangan sensori dan

dengan mengurangi inflamasi serta kekakuan. (Myles, 2011 : 462)

5. Masase dan pijatan


49

a. Pengertian

Masase adalah melakukan tekanan tangan pada jaringan lunak,

biasanya otot, tendon atau ligamentum tanpa menyebabkan

gerakan atau perubahan posisi sendi untuk meredakan nyeri,

menghasilkan relaksasi atau memperbaiki sirkulasi.

b. Tekhnik

1) Efflurage

Tekhnik pemijatan usapan lembut, lambat dan panjang, tidak

putus-putus, dilakukan dengan menggunakan ujung-ujung jari

yang ditekan lembut dan ringan dan diusahakan ujung jari

tidak lepas dari permukaan kulit.

2) Counter Pressure

Teknik pijatan kuat dengan cara meletakkan tumit tangan atau

juga menggunakan bola tenis, tekanan dapat diberikan dalam

gerakan lurus atau lingkaran kecil.

(Padila, 2014 :167)


50

Adapun Langkah masase counter pressure adalah :

1. Memberitahu ibu langkah yang akan dilakukan dan

fungsinya.

Gambar 2.9 Konseling sebelum tindakan

2. Mencuci tangan

Gambar 2.10 Mencuci tangan

3. Memakai sarung tangan medis

Gambar 2.11 Memakai sarung tangan


51

4. Menganjurkan ibu mencari posisi yang nyaman seperti

posisi berbaring miring ke kiri ataupun duduk.

Gambar 2.12 Posisi miring Kiri, atau

Gambar 2.13 Posisi Duduk


52

5. Menekan daerah sakrum secara mantap dengan pangkal

atau kepalan salah satu telapak tangan setiap jam selama

20 menit, lepaskan dan tekan lagi.

Gambar 2.14 Memijat daerah Sakrum

Gambar 2.15 Titik pemijatan sacrum


53

6. Mencuci tangan

Gambar 2.16 Mencuci tangan

7. Mengevalusi teknik massage counter pressure tersebut.

Gambar 2.17 Mengevalusi tindakan


54

2.1.2.6 Pendekatan Farmakologis Untuk Memelihara Kenyamanan dan

Menejemen Nyeri.

1. Pethidin

Adalah jenis obat-obatan narkotik seperti halnya morfin.

Penggunaannya secara luas, termasuk dihunakan dalam mengurangi

rasa sakit pada saat persalinan. Tapi efeknya membuat seseorang tidak

dapat mengendalikan diri dengan apa yang sedang terjadi.

2. Epidural

Teknik epidural merubah persalinan yang sebelumnya terasa

menakutkan, menjadi hal yang menyenangkan. Walaupun terkadang

ada beberapa wanita menyatakan bahwa epidural yang ia gunakan

tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

3. Metode spinal

Merupakan metode dengan suntikan mati rasa yang diberikan pada

bagian bawah tulang belakang wanita. (Mary,2010 :122-126)

2.1.3 Penelitian Relevan

Persalinan lama adalah penyebab utama kesakitan ibu selama

persalinan, bila tidak ditangani akan menyebabkan kematian. Salah satu

penyebabnya adalah nyeri persalinan disertai dengan ketegangan. Nyeri

persalinan dapat dikelola melalui penanganan nyeri yang tepat, salah

satunya adalah dengan pijat relaksasi. (Marmi, 2012 :84)

Hal ini telah dibuktikan oleh penelitian Ida Maryati*, Hartiah

Haroen*Yanti Hermayanti*Imas Masruroh dari Fakultas Keperawatan


55

Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat tentang “efektifitas teknik

masase (counter-pressure) terhadap penurunan intensitas nyeri pada fase

aktif persalinan normal di ruang bersalin RSUD Majalengka dan RSUD

Cideres” .

Dengan hasil terlihat adanya perbedaan Intensitas Nyeri Sebelum

dan Sesudah Teknik Masase (Counter-pressure) diberikan, yakni

penurunan rata-rata intensitas nyeri kurang lebih 1,74 dengan rentang 0,67

sampai 4,33. Keberhasilan ini membuktikan bahwa dengan counter-

pressure dapat mencegah atau menghambat impuls nyeri yang berasal dari

serviks dan korpus uteri dengan memakai landasan teori gate control.

Dengan memakai teknik masase jalur saraf untuk persepsi nyeri ini dapat

dihambat atau dikurangi, lalu intensitas nyeri yang dirasakan ibu

berkurang dan ketegangan tidak terjadi. Sehingga mereka mendapatkan

kesimpulan bahwa terdapat pengaruh positif dari teknik masase (counter-

pressure) terhadap penurunan intensitas nyeri fase aktif persalinan normal.

2.2 Tinjauan Teori Standar Asuhan Kebidanan

2.2.1 Standar Asuhan Kebidanan Sesuai Kepmenkes RI

No.938/Menkes/SK/VIII/2007

2.2.1.1 Pengertian Standar Asuhan Kebidanan

Standar asuhan kebidanan adalah acuan dalam proses pengambilan

keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan

wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat

kebidanan. Mulai dari pengkajian, perumusan diagnose dan atau masalah


56

kebidanan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan pencatatan asuhan

kebidanan.

2.2.1.2 Standar I :Pengkajian

A. Pernyataan Standar

Bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat, relevan dan

lengkap dari ssemua sumber yang berkaitan dengan kondii klien.

B. Kriteria Pengkajian :

1. Data tepat, akurat dan lengkap

2. Terdiri dari Data SUbjektif (hasil Anamnesa, biodata, keluhan

utama, riwayat obstetric, riwayat kesehatan dan latar belakang

sosial budaya)

3. Data objektiif ( hasil pemeriksaan fisik, psikologis dan

pemeriksaan penunjang.

2.2.1.3 Standar II : Perumusan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan

A. Pernyataan standar

Bidan menganalisa data yang diperoleh pada pegnkajian,

menginterpretasinya secara akurat dan logis untuk menegakan

diagnose dan masalah kebidanan yang tepat.

B. Kriteria Perumusasn diagnose dan atau masalah

1. Diagnose sesuai dengan nomenklatur kebidanan

2. Masalah dirumuskan sesuai dengan kondisi klien

3. Dapat diselesaikan dengan asuhan kebidanan secara mandiri,

kolaborasi, dan rujukan.


57

2.2.1.4 Standar III : Perencanaan

A. Pernyataan Standar

Bidan merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnose dan

masalah yang ditegakkan

B. Kriteria Perencanaan

1. Rencana tindakan disusun berdasrkan prioritas masalah dan

kondisi klien, tindakan segera, tindakan antisipasim dan asuhan

secara komprehensif

2. Melibatkan klien / pasien dan ata keluarga

3. Mempertimbangkan kondisi psikologi, sosial budaya klien /

keluarga

4. Memilih tindakan yang aman sesuai kondisi dan kebutuhan klien

berdasrkan evidence based dan memastikan bahwa suhan yang

diberikan bermanfat unutkklien

5. Mempertibangkan kebijakan dan peraturan yang berlaku,

sumberdaya seta fasilitas yang ada

2.2.1.5 Standar IV : Implementasi

A. Pernyataan standar

Bidan melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komprehensif,

efektif, efisien dan aman berdasarkan evidenced based kepada klien /

pasien, dalam bentuk uapya promotif, preventif, kuratif dan

rehabilitative. Dilaksanakan secra mandiri, kolaborasi dan rujukan.


58

B. Kriteria

1. Memperhatikan keunikan klien sebagai makhluk bio-psiko-sosial-

spiritual dan cultural

2. Setiap tindakan asuhan harus mendapatkan perssetujuan dari klien

dan atau keluarganya ( Inform consent)

3. Melaksanakan asuhan tindakan asuhan berdasrkan evidence based

4. Melibatkan klien / psien dalam setiap tindakan

5. Menjaga privacy klien / pasien

6. Melaksnaakan prinsip pencegahan infeksi

7. Mengikuti perkembangan kondisi klien secara berkesinambungan

8. Menggunakan sumber daya, sarana, dan fasilitas yang ada dan

sesuai

2.2.1.6 Standar V : Evaluasi

A. Pernyataan standar

Bidan melakukan evaluasi secara sistematis dan berkesinambungan

untuk melihat keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, sesuai

dengan perubahan perkembangan kondisi klien.

B. Kriteria Evaluasi

1. Penilaian dilakukan segera setelah selesai melakukan asuhan

sesuai kondisi klien

2. Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan pada klien dan

atau kelaurga

3. Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar


59

4. Hasil evaluasi ditindak lanjuti sesuai dengan kondisi klien /

pasien.

2.2.1.7 Standar VI : Pencatatan Asuhan Kebidanan

A. Pernyataan standar

Bidan melakukan pencatatan secara lengkap, akurat, singkat dan jelas

mengenai keadaan / kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam

memberikan asuhan kebidanan

B. Kriteria pencatatan Asuhan kebidanan

1. Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan pada

formulir yang tersedia (Rekam Medis / KMS/status pasien / buku

KIA)

2. Ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP

3. S adalah data subjektif, mencatat hasil anamnesa

4. O adlah objektif, mencatat hasil pemeriksaan

5. A adalah hasil abalisa, mencatat diagnose dan masalah kebidanan

6. P adalah penatalkasanaan, mencatat seluruh perencanaan dan

penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan

antisipatif, tindkan segera, tindakan secara komprehensif;

penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi / follow up dan

rujukan.
60

2.2.2 Konsep Standar Asuhan Kebidanan

2.2.2.1 Pengkajian

A. Data Subjektif

1. Biodata

a. Biodata Ibu

1) Nama : Nama ibu bersalin.

2) Usia : Usia ibu bersalin, normalnya 20 – 35

tahun.

3) Agama : Agama ibu bersalin

4) Pendidikan : Pendidikan terakhir ibu bersalin.

5) Pekerjaan : Pekerjaan saat ini ibu bersalin.

6) Suku / bangsa : Suku / bangsa ibu bersalin.

7) Alamat : Alamat tempat tinggal ibu bersalin saaat.

b. Biodata Suami

1) Nama : Nama suami ibu bersalin.

2) Usia : Usia suami ibu bersalin.

3) Agama : Agama suami ibu bersalin

4) Pendidikan : Pendidikan terakhir suami ibu bersalin.

5) Pekerjaan : Pekerjaan saat ini suami ibu bersalin.

6) Suku / bangsa : Suku / bangsa suami ibu bersalin.

7) Alamat : Alamat tempat tinggal suami ibu bersalin

8) No.Hp : Nomer HP penanggung jawab keluarga

2. Keluhan utama
61

Ibu mulai terasa ada kencang-kencang di perut tembus hingga

pinggang, disertai ada pengeluaran cairan / lendir darah dari jalan

lahir.

3. Riwayat kehamilan sekarang

a. HPHT : hari pertama haid terakhir ibu bersalin

b. TP : tafsiran persalinan ibu bersalin.

c. Gerakan janin : gerakan janin yang pertama kali dirasakan

d. Frekuensi gerakan janin 24 jam terakhir

e. ANC

Trimester I : minimal 1 x

Trimester II : minimal 1 x

Trimester III : minimal 2 x

4. Riwayat Menstruasi

a. Menarche : Menarch ibu bersalin. Usia sekitar 12 – 16

tahun.

b. Siklus : Siklus haid ibu bersalin. Biasanya sekitar 23

– 32 hari.

c. Volume : Volume darah yang dikeluarkan ibu bersalin.

d. Keluhan : Keluhan ada disminore / tidak.


62

5. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu.

Tabel. 2.2 Tabel riwayat persalinan

BB /
Ke UK Penolong Tempat Jenis JK Usia ASI
PB

6. Riwaya KB yang lalu

a. Jenis KB yang diapakai

b. Berapa lama pemakaian KB

c. Keluhan saat pemakaian

d. Alasan berganti KB

7. Riwayat kesehatan

Beberapa data penting tentang riwayat kesehatan ibu bersalin yang

perlu kita ketahui adalah apakah ibu bersalin pernah atau sedang

menderita penyakit seperti jantung, diabetes mellitus, ginjal,

hipertensi, hipotensi, hepatitis, atau anemia.

8. Riwayat Psiko, sosial, dan budaya

a. Status perkawinan

1) Usia nikah pertama kali ibu bersalin

2) Status pernikahan ibu bersalin sah / tidak

3) Lama pernikahan ibu bersalin

4) Perkawinan sekarang adalah suami yang ke berapa.

b. Keadaan lingkungan
63

Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi status kesehatan

keluarga.

c. Respon keluarga terhadap persalinan

Bagaimana respons yang positif dari keluarga terhadap

persalinan akan mempercepat proses adaptasi pasien menerima

peran dan kondisinya.

d. Respons pasien terhadap kelahiran bayinya

Bertanya pada ibu bersalin bagaimana perasaannya terhadap

kehamilan dan kelahirannya.

e. Respons suami pasien terhadap kehamilan ini

Bagaiamana respons suami pasien atau dapat juga keapda

pasien.

f. Adat istiadat yang berkaitan dengan persalinan

Bagiamana kepercayaan keluarga tehadap adat dalam proses

persalinan.S

9. Pola kehidupan sehari-hari

a. Pola makan dan minum

1) Kapan atau jam berapa terakhir terakhir kali makan

2) Makanan yang dimakan

3) Jumlah makanan yang dimakan

b. Pola istirahat

1) Kapan terakhir tidur

2) Berapa lama
64

3) Aktivitas sehari – hari

c. Personal hygine

1) Kapan terakhir mandi, keramas, dan gosok gigi.

2) Kapan terakhir ganti baju dan pakaian dalam

d. Aktivitas seksual

1) Keluhan

2) Frekuensi

3) Kapan terakhir melakukan hubungan seksual

B. Data objektif

Data ini dikumpulkan guna melengkapi data untuk menegakkan

diagnosis. Bidan melakukan pengkajian data objektif melalui

pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi, dan pemeriksaan

penunjang yang dilakukan secara berurutan.

Adapun Langkah – langkah pemeriksaan, yaitu :

A. Pemeriksaan Umum

1. Keadaan umum : Baik

2. Kesadaran : Composmetis

3. TTV yang meliputi :

a. Tekanan Darah : normalnya 110/70- 120/80 mmHg

b. Nadi : normalnya 80 - 100 x/menit

c. Pernapasan : normalnya 16-24 x/menit

d. Suhu : normalnya 36,50C – 37,50C

e. BB : sesuai IMT
65

f. TB :  145 cm.

g. LILA : Normalnya 23,5 cm

B. Pemeriksaan Fisik

1. Inspeksi

Kepala : Simetris / tidak, rambut bersih / kotor,

kulit kepala bersih / tidak.

Muka : Simetris / tidak, oedema / tidak, terdapat

cloasma gravidarum / tidak, pucat / tidak.

Mata : Simetris / tidak, Conjungtiva anemia/

tidak, sklera ikterus / tidak, katarak / tidak.

Mulut : Simetris / tidak, apakah bibir kering,

pucat, stomatitis, karies pada gigi / tidak.

Hidung : Simetris / tidak, adakah pernafasan cuping

hidung.

Telinga : Simetris / tidak, bersih / tidak, adakah

cairan purulen dan kotoran.

Leher : Simetris / tidak, adakah pembesaran

kelenjar tyroid dan pembengkakan vena

jugularis.

Ketiak : Simetris / tidak, adakah benjolan/

pembesaran kelenjar limfe.

Dada : Simetris / tidak, puting susu datar/

menonjol, bersih / tidak, ASI sudah keluar


66

/ tidak, adakah benjolan / tumor, adakah

hyperpigmentasi.

Abdomen : Membesar sesuai Usia kehamilan / tidak,

terdapat linea nigra dan striae gravidarum

/ tidak, ada luka bekas operasi / tidak.

Vulva : apakah terdapat peradangan, apakah

terlihat adanya pengeluaran cairan, apakah

tampak adanya lendir dan atau darah.

Anus : Hemoroid / tidak.

Ekstremitas atas : Simetris / tidak, varises / tidak,

oedem / tidak.

Ektremitas bawah : Simetris / tidak, varises/ tidak,

oedem / tidak.

2. Pemeriksaan Palpasi

Kepala : Adakah benjolan abnormal, adakah nyeri

tekan

Leher : Adakah pembesaran kelenjar tyroid dan

vena jugularis / tidak.

Ketiak : Adakah pembesaran kelenjar limfe.

Payudara : Adakah benjolan abnormal, terdapat

nyeri tekan / tidak.

Perut : Pemeriksaan leopold dan kontraksi

uterus
67

Leopold I : Mengetahui TFU, usia kehamilan dan

bagian yang ada di fundus.

Leopold II : Mengetahui bagian yang ada disebelah

kanan dan kiri perut ibu.

Leopold III : Mengetahui bagian terendah janindan

sudah masuk PAP / belum.

Leopold IV: Mengetahui kepala janin sudah masuk

PAP / belum dan seberapa bagian yang

telah masuk PAP.

3. Pemeriksaan Auskultasi

DJJ : 120 – 160 x / menit

4. Pemeriksaan perkusi

Reflek Patella + / +

C. Pemeriksaan Dalam

a. Pembukaan : pembukaan 4 – 10 cm.

b. Efficement : 25% - 100%

c. Ketuban : pecah / belum

d. Presentasi : Letak kepala

e. Dominator : UUK

f. Hodge dan penurunan kepala janin : H II - IV

g. His : minimal 2 x dalam 10 menit selama

> 40 detik

D. Pemeriksaan penunjang
68

Hb : > 11%

Reduksi : negatif

Albumin : negatif

USG : Let Kep. Uk 37 – 40 minggu

2.2.2.2 Merumuskan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan

Dalam langkah kedua ini, bidan membagi interpretasi data dalam tiga

bagian.

a. Diagnosis kebidanan / nomenklatur

1) Diagnosa

GxPxAx UK 37-40 Minggu, Aterm, Tunggal, Hidup, Letak

Kepala, Intra Uteri, Kesan jalan lahir normal, Inpartu Kala I Fase

Aktif dengan Keadaan Umum Ibu dan Janin Baik.

2) Ds

Ibu mengeluh dan ekspresi muka terlihat kesakitan.

3) Do

Keadaaan umum : baik

Kesadaran : kompos metis

TD : 110/70 mmHg – 120/80 mmHg

Suhu : 36,5 – 37,5 oC

RR : 12 – 24 x/menit

Leopold I : teraba bokong

Lepold II : Puka / puki

Leopold III : Teraba Kepala


69

Lepolod IV : Divergen

VT : Pembukaan 4 – 10 cm, eff 25 – 100%, ketuban - / + ,

dominator UUk, Hodge II – IV,

His : minimal 2 x dalam 10 menit selama >40 detik

4) Masalah

Ibu merasa cemas dan khawatir dengan keadaanya dan bayinya

5) Kebutuhan

1) Rasa nyaman.

2) Asuhan sayang ibu meliputi Dukungan emosional dan mobilisasi.

3) Observasi TTV

4) Observasi kemajuan persalinan

5) Persiapan persalinan.

2.2.2.3 Perencanaan

a. Tujuan

Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 4-8 jam diharapkan

persalinan ini dapat berlangsung tidak lebih dari ± 18 jam, secara

spontan, ibu tidak cemas dan rasa nyeri yang dirsakan ibu berkurang.

b. Rencana Asuhan

1. Lakukan pendekatan dengan klien

R) Klien lebih kooperatif dan mau untuk dilakukan counter

pressure

2. .Lakukan cuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan


70

R) Cuci tangan sebelum melakukan tindakan dapat mencegah

terjadinya infeksi nosokomial

3. Beritahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan yang telah dilakukan

R) Memberitahu hasil pemeriksaan dapat membuat ibu mengerti

keadaannya saat ini

4. Pantau tekanan darah, suhu, denyut jantung, nadi, his,

pembukaan, penurunan dan cairan ketuban.

R) pemantauan digunakan untuk mengetahui kemajuan persalinan

pada ibu.

5. Melakukan asuhan sayang ibu yang terdiri dari :

a. Mengajari ibu teknik relaksasi pernafasan yang benar

R) teknik relaksasi pernafasan dapat mengurangi nyeri yang

dirasakan ibu.

b. Minta ibu tidur miring kiri atau posisi yang dianjurkan.

R) tidur miring kiri dapat membuat sirkulasi ibu ke janin

menjadi lancar.

c. Beri dukungan dan dengarkan keluhan bu

R) memberi dukungan dan mendengarkan keluhan ibu dapat

membuat ibu tenang.

d. Beri ibu minum yang cukup

R) member ibu minum yang cukup dapat mencegah dehidrasi.

e. Minta ibu untuk berkemih sesering mungkin


71

R) kandung kencing yang penuh dapat menghambat

penurunan kepala bayi.

6. Pijat punggung ibu secara perlahan dengan metode Counter

Pressure

R) Memijat punggung dengan Counter Pressure dapat

mengurangi nyeri dan mencegah terjadinya persalinan lama.

7. Lakukan pendekatan pada tim medis persiapan asuhan persalinan

58 Langkah

R) Persiapan asuhan persalinan 58 langkah untuk melaksanakan

pertolongan persalinan yang aman.

2.2.2.4 Implementasi

Bidan melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komprehensihf

dalam berbagai upaya. Dan melakukan tindakan yang telah direncanakan

secara efisien.

Tabel 2.3 Implementasi

Hari, Tgl
No. Kegiatan TTD
/ Jam

1. Melakukan pendekatan dengan klien

2. Melakukan cuci tangan sebelum melakukan

tindakan.

a. Melakukan Cuci tangan dengan 7

langkah sesuai SOP.

3. Memberitahu ibu dan keluarga hasil


72

pemeriksaan yang telah dilakukan.

a. Memberitahu bahwa ibu saat ini

sedang menghadapi persalinan,

pembukaan pada sase aktif keadaan

ibu janin baik.

4. Memantau tekanan darah, suhu, nadi, djj,

his, pembukaan, penurunan, dan cairan

ketuban setiap 30 menit.

a. Memantau dengan hasil TD : 110/70

– 120/80 mmHg , Nadi 80 - 100

x/menit, Pernapasan 16-24 x/menit,

Suhu 36,50C – 37,50C, DJJ 120 – 160

x/menit, His minimal 2x10’’ selama

> 40 detik, Pembukaan 4 – 10 cm,

Penurunan 3/5 – 0/5, dominator

UUK, Ketuban Utuh / jernih.

5. Melakukan Asuhan sayang Ibu, yaitu :

a. Mengajari relaksasi dengan cara

menarik napas dari hidung dan

menghembuskan lewat mulut.

b. Memiringkan tubuh ibu ke kiri atau

posisi yang dianjurkan.


73

c. Mendengarkan keluhan ibu yang

merasa kesakitan dan member

dukungan.

d. Memberi ibu segelas teh hangat atau

air putih.

e. Meminta ibu dan mengantarnya ke

kamar mandi untuk berkemih jika

ibu sanggup dan atau melakukan

kateterisasi sesuai SOP jika

diperlukan.

6. Memijat punggung ibu secara perlahan

dengan teknik Counter Pressure.

a. Memijat dengan teknik counter

pressure yaitu menekan di daerah

sacrum dari atas ke bawah selama 20

menit setiap satu jam sekali.

7. Melakukan kolaborasi tim medis untuk

persiapan asuhan persalinan 58 Langkah

2.2.2.5 Evaluasi

Mengevaluasi setiap asuhan yang telah diberikan.


74

a. Hari dan Tanggal :

Bukti dokumentasi pada saat dilakukan asuhan kebidanan setelah

dilakukan implementasi.

b. Jam :

Bukti dokumentasi waktu dilakukan asuhan kebidanan setelah

dilakukan implementasi.

1. Klien mengerti dan setuju tentang perlakuan yang akan dibrikan pada

dirinnya.

2. Tangan petugas kesehatan sudah terdekontaminasi dengan bersih

3. Ibu mengerti bahwa saat ini ibu sedang menghadapi proses

persalinan,pembukaan fase aktif, serviks mulai tipis, ketuban masih

utuh atau tidak, keadaan ibu dan janin baik.

4. Tekanan darah, suhu, djj, nadi, his, pembukaan, penurunan, dan cairan

ketuban terpantau dengan baik dalam partograf.

5. Asuhan sayang ibu telah dilakukan, terdiri dari :

a. Ibu mampu melakukan teknik relaksasi yang baik dan benar dan

ibu merasa rileks

b. Ibu bersedia untuk miring kiri dan berganti posisi sesuai keinginan

c. Ibu termotivasi dan semangat untuk menghadapi persalinan

d. Ibu bersedia untuk cukup minum dan mau minum air putih / teh.

e. Ibu mau kencing sendiri

6. Ibu merasa rilex dan nyeri berkurang setelah dilakukan pijat disekitar

punggung dengan teknik Counter Pressure di daerah sacrum.


75

7. Kolaborasi tim medis untuk persiapan asuhan persalinan 58 Langkah

sudah siap.

2.2.2.6 Pencatatan Asuhan Kebidanan

Pencatatan asuhan kebidanan dilakukan sesuai Kala yang ditulis secara

SOAP.

1) Kala I

S : Ibu merasa mules – mules

O :

K/U : baik

Kesadaran : composmetis

TD : 110/70 mmHg-120/80 mmHg

Suhu : 36,5º C-37,5º C

Nadi : 80-100 x/menit

RR : 16-24 x/menit

DJJ : 120 – 160 x / menit

Penurunan :3/5 sampai 0/5

His : (+)

Bandle : (-)

VT : pembukaan 4 - 10 cm, effisemen 25 - 100%,

ketuban negatif, presentasi kepala, dominator UUK, penurunan

3/5 samapi 0/5, Hodge II - IV, penyusupan 0.


76

A : GxPxAx UK 37-40 Minggu, Aterm, Tunggal, Hidup, Letak

Kepala, Intra Uteri, Kesan jalan lahir normal Kala I fase Aktif dengan

Keadaan umum ibu dan janin baik.

P : Sesuai Landasan Hukum Kewenangan Bidan, Standar 9 (Asuhan

Persalinan Kala I).

2) Kala II

S : Ibu merasa mules – mules dan ingin meneran

O :

K/U : baik

Kesadaran : composmentis

TD : 110/70 mmHg-120/80 mmHg

Suhu : 36,5º C-37,5º C

Nadi : 80-100 x/menit

RR : 16-24 x/menit

DJJ : 120 – 160 x / menit

Penurunan :1/5 sampai 0/5

His : (+)

Bandle : (-)

VT : pembukaan 10 cm, effisemen 100%, ketuban

negatif, presentasi kepala, dominator UUK, penurunan 1/5 samapi

0/5, Hodge IV, penyusupan 0.

A : Kala II
77

P : sesuai dengan landasan hukum kewenangan bidan, standar 10 (

Persalinan Kala II yang aman) dan standar 12 (penanganan kala II

Dengan Gawat Janin Melalui Episiotomi)

3) Kala III

S : Ibu merasa mules – mules

O : K/U baik, TFU 1- 3 jari atas simfisis, His Baik, Palapasi tidak ada

janin kedua.

A : Kala III

P : sesuai dengan landasan hukum kewenangan bidan, standar 11 (

Penatalkasanaan aktif persalinan kala III)

4) Kala IV

S : Ibu merasa senang karena bayi dan ari – arinya telah lahir

O : K/U baik

Kesadaran : kompos metis

TTV : Nadi : 80 – 120 x /menit

Suhu : 36,5 – 37,50 C

RR : 18 – 24 x / menit

TFU : 1 – 3 jari bawah pusat

His : Baik

Perdarahan : normal

Lokea : Rubra

Laserasi : derajat 1 -2

A : Kala IV
78

P : sesuai dengan Landasan Hukum Kewenangan Bidan, Standar 14 (

Penanganan pada dua jam pertama setelah persalinan).

2.2.3 Landasan Hukum Kewenangan Bidan

2.2.3.1 Peraturan-peraturan bidan

Penyelenggaraan Praktik

Pasal 9

Bidan dalam menjalankan praktik, berwenang untuk memberikan

pelayanan yang meliputi:

a. Pelayanan kesehatan ibu

Pasal 10

1) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9

huruf a diberikan pada masa pra hamil, kehamilan, masa

persalinan, masa nifas, masa menyusui dan masa antara dua

kehamilan.

2) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

meliputi: pelayanan persalinan normal.

3) Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud pada

ayat (2) berwenang untuk:

a. Episiotomi.

b. Penjahitanluka jalan lahir tingkat I dan II.

c. Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan

perujukan.
79

d. Fasilitasi / bimbingan inisiasi menyusui dini dan promosi air

susu ibu eksklusif.

e. Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan

post partum.

f. Penyuluhan dan konseling.

g. Pemberian surat keterangan kematian dan

h. Pemberian surat keterangan cuti bersalin.

2.2.3.2 Kompetensi Bidan Pada Asuhan Persalinan dan Kelahiran

Kompetensi ke-4: Bidan memberikan asuhan yang

bermutu tinggi, tanggap terhadap kebudayaan setempat selama

persalinan, memimpin suatu persalinan yang bersih dan aman,

menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk

mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayinya yang baru

lahir.

a. Pengetahuan Dasar

1. Fisiologi persalinan.

2. Anatomi tengkorak janin, diameter yang penting dan penunjuk.

3. Aspek psikologi dan kultural pada persalinan dan kelahiran.

4. Indikator tanda-tanda mulai persalinan.

5. Kemajuan persalinan normal dan penggunaan partograf atau

alat serupa.

6. Penilaian kesejahteraan janin dalam masa persalinan.

7. Penilaian kesejahteraan ibu dalam masa persalinan.


80

8. Proses penurunan janin melalui pelvik selama persalinan dan

kelahiran.

9. Pengelolaan dan penatalaksanaan persalinan dengan kehamilan

normal dan ganda.

10. Pemberian kenyamanan dalam persalinan, seperti: kehadiran

keluarga / pendamping, pengaturan posisi, hidrasi, dukungan

moril, pengurangan nyeri tanpa obat.

11. Transisi bayi baru lahir terhadap kehidupan di luar uterus.

12. Pemenuhan kebutuhan fisik bayi lahir meliputi pernafasan,

kehangatan dan memberikan ASI / PASI.

13. Pentingnya pemenuhan kebutuhan emosional bayi baru lahir,

jika memungkinkan antara lain kontak kulit langsung, kontak

mata antar bayi dan ibunya bila dimungkinkan.

14. Mendukung dan meningkatkan pemberian ASI ekslusif.

15. Manajemen fisiologi Kala III.

16. Memberikan suntikan intra muskular meliputi uterotinika,

antibiotika dan sedativa.

17. Indikasi tindakan kedaruratan kebidanan seperti: Distosia

bahu, Asfiksia neonatal, Retensio plasenta, Perdarahan karena

atonia uteri dan mengatasi renjatan.

18. Indikasi tindakan operatif pada persalihan misalnya gawat

janin, CPD.
81

19. Indikator komplikasi persalinan: perdarahan, partus macet,

kelainan presentasi, eklampsia, kelelahan ibu, gawat janin,

infeksi, ketuban pecah dini tanpa infeksi, distocia karena

inersia uteri primer, post term dan pre term serta tali pusat

menumbuung.

20. Prinsip Manajemen Kala III, secara fisiologis.

21. Prinsip Manajemen aktif Kala III.

b. Pengetahuan Tambahan

1. Penatalaksanaan persalinan dengan malpresentasi.

2. Pemberian suntikan anestesi lokal.

3. Akselerasi dan induksi persalinan.

c. Ketrampilan Dasar

1. Mengumpulkan data yang terfokus pada riwayat kebidanan dan

tanda-tanda vital ibu pada persalinan sekarang.

2. Melaksanakan pemeriksaan fisik yang terfokus.

3. Melakukan pemeriksaan abdomen secara lengkap untuk posisi

dan penurunan janin.

4. Mencatat waktu dan mengkaji kontraksi uterus (lama, kekuatan

dan frekuensi)

5. Melakuakn pemeriksaan panggul (pemeriksaan dalam) secara

lengkap dan akurat meliputi pembukaan, penurunan, bagian

terendah, presentasi, posisi keadaan ketuban dan proposi

panggul dengan bayi.


82

6. Melakukan pemantuan kemajuan persalinan dengan

menggunakan partograf.

7. Memberikan dukungan psikologis bagi wanita dan keluarganya.

8. Memberikan cairan, nutrisi dan kenyamaan yang adekuat

selama persalinan.

9. Mengidentifikasi secara dini kemungkinan pola persalinan

abnormal dan kegawatdaruratan dengan intervensi yang sesuai

dan atau melakukan rujukan dengan tepat waktu.

10. Melakukan amniotomi pada pembukaan serviks lebih dari 4 cm

sesuai dengan indikasi.

11. Menolong kelahiran bayi dengan lilitan tali pusat.

12. Melakukan episiotomi dan penjahitan, jika diperlukan.

13. Melaksanakan manajemen fisiologi Kala III.

14. Melaksanakan Manajemen aktif kala III.

15. Memberikan suntikan intra muskuler meliputi uterotonika, anti

biotika dan sedativa.

16. Memasang infus, mengambil darah untuk pemeriksaan

haemoglobin (HB) dan hematokrit (HT).

17. Menahan uterus untuk mencegah terjadinya inversi uteri dalam

kala III.

18. Memeriksa kelengkapan plasenta dan selaputnya.

19. Memperkirakan jumlah darah yang keluar pada persalinan

dengan benar.
83

20. Memeriksa robekan vagina, serviks dan perineum.

21. Menjahit robekan vagina dan perineum tingkat II.

22. Memberikan pertolongan persalinan abnormal: letak sungsang,

partus macet kepala di dasar paanggul, ketuban pecah dini

tanpa infeksi, post term dan pre term.

23. Melakukan pengeluaran plasenta secara manual.

24. Mengelola perdarahan post partum.

25. Memindahkan ibu untuk tindakan tambahan / kegawatdaruratan

dengan tepat waktu sesuai indikasi.

26. Memberikan lingkungan yang aman dengan meningkatkan

hubungan / tali kasih ibu dan bayi baru lahir.

27. Memfasilitasi ibu untuk menyusui sesegera mungkin dan

mendukung ASI ekslusif.

28. Mendokumentasikan temuan-temuan yang penting dan

intervensi yang dilakukan.

d. Ketrampilan Tambahan

1. Menolong kelahiran presentasi muka dengan penempatan dan

gerakan tangan yang tepat.

2. Memberikan suntikan anestesi lokal jika diperlukan.

3. Melakukan ekstraksi forcep rendah dan vakum jika diperlukan

sesuai kewenangan.
84

4. Mengidentifikasi dan mengelola malpresentasi, distosia bahu,

gawat janin dan kematian janin dalam kandungan (IUFD)

dengan tepat.

5. Mengidentifikasi dan mengelola tali pusat menumbung.

6. Mengidentifikasi dan menjahit robekan serviks.

7. Membuat resep dan atau memberikan obat-obatan untuk

mengurangi nyeri jika diperlukan sesuai kewenangan.

8. Memberikan oksitosin dengan tepat untuk induksi dan

akselerasi persalinan dan penanganan perdarahan post partum.

2.2.3.3 Standar Asuhan Persalinan

Standart 9 : Asuhan Persalinan Kala 1

a. Tujuan

Untuk memberikan pelayanan kebidanan yang

memadai dalam mendukung pertolongan persalinan yang

bersih dan aman untuk ibu dan bayi.

b. Pernyataan Standart

Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah

di mulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan

yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan ibu,

selama proses persalinan berlangsung. Bidan juga

melakukan pertolongan proses persalinan dan kelahiran


85

yang bersih dan aman, dengan sikap sopan dan

penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan

tradisi setempat. Disamping itu ibu memilih orang yang

akan mendampinginya selama proses persalinan dan

kelahiran.

c. Hasil

1. Ibu bersalin mendapat pertolongan darurat yang memadai dan

tepat waktu, bila diperlukan.

2. Meningkatnya cakupan persalinan dan komplikasi lainnya yang

ditolong tenaga kesehatan terlatih.

3. Berkurangnya kematian/kesakitan ibu/bayi akibat partus lama.

d. Prasyarat

1. Mengijinkan ibu memilih orang yang akan mendampinginya

selama proses persalinan dan kelahiran.

2. Bidan dipanggil jika ibu sudah mulai mules / ketuban pecah.

3. Bidan telah terlatih dan terlatih untuk:

a) Memberikan pertolongan persalinan yang bersih dan aman

b) Penggunaan partograf dan pembacaannya

4. Adanya alat untuk pertolongan termasuk beberapa sarung tangan

DTT / steril.

5. Adanya perlengkapan untuk pertolongan persalinan yang bersih

dan aman, seperti air bersih, sabun dan handuk yang bersih (satu

untuk mengeringkan bayi, yang lain untuk dipakai kemudian).


86

Pembalut wanita dan tempat untuk plasenta. Bidan sedapat

mungkin menggunakan sarung tangan yang bersih.

6. Tersedia ruangan yang hangat, bersih dan sehat untuk persalinan.

7. Menggunakan KMS ibu hamil/buku KIA, partograf dan kartu

ibu.

8. Sistem rujukan untuk perawatan kegawatdaruratan obstetri yang

efektif.

e. Proses, Bidan harus

1. Mengijinkan ibu memilih orang yang akan mendampinginya

selama proses persalinan dan kelahiran.

2. Segera mendatangi ibu bumil ketika diberitahu persalinan sudah

mulai / ketuban pecah.

3. Cuci tangan dengan sabun air yang bersih mengalir, kemudian

keringkan hingga betul-betul kering dengan handuk bersih setiap

kali sebelum dan setelah mlakukan kontak dengan pasien. (kuku

harus dipotong pendek dan bersih). Gunakan sarung tangan

bersih kapanpun menangani benda yang terkontaminasi oleh

darah atau cairan tubuh. Gunakan sarung tangan DTT / steril

untuk semua pemeriksaan vagina.

4. Menanyakan riwayat kehamilan ibu dengan lengkap.

5. Melakukan pemeriksaan fisik secara lengkap (dengan

memberikan perhatian terhadap tekanan darah, denyut jantung


87

janin (DJJ), frekuensi dan lama kontraksi dan apakah ketuban

pecah).

6. Lakukan pemeriksaan dalam aseptik dan sesuai dengan

kebutuhan. (jika his teratur dan tidak ada hal yang

mengkhawatirkan atau his lemah tapi tanda-tanda vital ibu / janin

normal, maka tidak perlu segera melakukan periksa dalam).

7. Dalam keadaan normal periksa dalam cukup setiap empat jam

dan harus selalu secara aseptik.

8. Jangan melakukan periksa dalam jika ada perdarahan dari vagina

yang lebih banyak dari jumlah normal bercak darah / show yang

ada pada persalinan. Perdarahan dalam proses persalinan

mungkin disebabkan komplikasi seperti plasenta previa, segera

rujuk ke puskesmas atau rumah sakit setempat (ikuti standart

yang tercantum di standart 16).

9. Catat semua temuandan pemeriksaan dengan tepat dan seksama

pada kartu ibu dan partograf pada saat ashan diberikan.Jika

ditemukan komplikasi atau masalah, segera berikan perawatan

yang memadai dan rujuk ke puskesmas / rumah sakit yang tepat.

10. Catat semua temuan dan pemeriksaan pada fase laten persalinan

pada kartu ibu dan catatan kemajuan persalinan. Ibu harus di

evaluasi sedikitnya setiap 4 jam , lebih sering jika diindikasikan,

catatan harus memasukkan denyut jantung janin, periksa dalam,

pecahnya ketuban, perdarahan atau cairan vagina, kontraksi


88

uterus, tanda-tanda vital ibu (suhu, nadi, dan tekanan darah),

urine, minuman, obat obat yang diberikandan informasi lain yang

berkaitan serta semua perawatan yang diberikan.

11. Catat semua temuan pada partograf dan kartu itu pada saat ibu

sampai dengan fase aktif (pembukaan 4 cm atau lebih).

12. Lengkapi partograf dengan seksama untuk semua ibu yang akan

bersalin. Partograf adalah alat untuk mencatat dan menilai

kemajuan persalinan, dan kondisi ibu dengan janin. Penggunaan

partograf diperlukan untuk pengambilan keputusan klinis dan

deteksi dini komplikasi dalam proses persalinan, seperti misalnya

partus lama. Penggunaan partograf secara tepat akan

memungkinkan bidan untuk membuat keputusan tentang

perawatan ibu pada waktu yang tepat dan memungkinkan

rujukan dini jika diperlukan.

13. Memantau dan mencatat denyut jantuing janin sedikitnya setiap

30 menit selama proses persalinan, jika ada tanda tanda gawat

janin (DJJ kurang dari 100 kali / menit atau lebih dan 180 kali/

menit), harus dilakukan setiap 15 menit, DJJ harus didengarkan

selama dan segera setelah kontraksi uterus, jika ada tanda tanda

jawat janin bidan harus mempersiapkan rujukan ke fasilitas yang

mamadai.

14. Melakukan dan mencatat pada partograf hasil periksa dalam

setiap 4 jam (lebih sering jika ada indikasi medis). Pada setiap
89

periksa dalam, evaluasi dan catat penyusupan kepala janin dan

cairan vagina / air ketuban.

15. Catat pada partograf kontraksi uterus setiap 30 menit pada fase

aktif. Palpasi jumlah dan lamanya kontraksi selama 10 menit.

16. Catat pada partograf dan amati penurunan kepala janin dengan

palpasi abdomen setiap 4 jam dan teruskan setiap periksa dalam.

17. Pantau dan catat pada partograf :

a) Tekanan darah setiap 4 jam, lebih sering jika ada komplikasi

b) Suhu setiap 2 jam, lebih sering jika ada tanda atau gejala

infeksi

c) Nadi setiap setengah jam

18. Minta ibu hamil agar sering buang air kecil sedikitnya setiap 2

jam. Catat pada partograf jumlah pengeluaran urine setiap kali

kecil , dan catat protein atau aseton yang ada dalam urine.

19. Anjurkan ibu untuk mandi dan tetap aktif bergerak seperti biasa,

dan memilih posisi yang dirasakan nyaman; kecuali jika belum

terjadi penurunan kepala sementara ketuban belum pecah. (Riset

membuktikan banyak keuntungannya jika ibu tetap aktif

bergerak semampunya ddan merasa senyaman mungkin), jangan

perbolehkan ibu dalam proses persalinan berbaring terlentang,

ibu harus selalu berbaring miring, duduk, berdiri, atau

berjongkok. Berbaring terlentang mungkin menyebabkan gawat

janin.
90

20. Selama proses persalinan, anjurkan ibu untuk cukup minum guna

menghindari dehidrasi dan gawat janin.(Riset menunjukkan

bahwa ada keuntungannya untuk memperbolehkan ibu minum

dan makan makanan kecil selama proses persalinan tanpa

komplikasi dan ada kerugiannya melarang minum atau makan

makanan kecil yang mudah dicerna).

21. Selama persalinan, beri dukungan moril dan perlakuan yang

baik dan peka terhadap kebutuhan ibu hamil, suami / keluarga /

orang terdekat yang mendampingi. Anjurkan pada orang yang

mendampingi ibu untuk mengambil peran aktif dalam

memberikan kenyamanan dan dukungan kepada ibu selama

persalinan.

22. Jelaskan proses persalinan yang sedang terjadi pada ibu, suami

dan keluarganya, beritahu mereka kemajuan persalinan secara

berkala.

23. Saat proses persalinan berlangsung, bersiaplah untuk

menghadapi kelahiran bayi (lihat standar 10).

24. Lakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman (lihat

standart 10).

Standar 10: Persalinan Kala II Yang Aman

a. Tujuan

Memastikan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi.

b. Pernyataan Standar
91

Bidan melakukan pertolongan persalinan bayi dan plasenta yang

bersih dan aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak

pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. Disamping itu, ibu

diijinkan memilih orang yang akan mendampinginya selama proses

persalinan.

c. Hasil

1. Persalinan yang bersih dan aman.

2. Meningkatnya kepercayaan terhadap bidan.

3. Meningkatnya jumlah persalinan yang ditolong oleh bidan.

4. Menurunnya komplikasi seperti pendarahan postpartum, asfiksia

neonatorum, trauma kelahiran.

5. Menurunnya angka sepsis puerperalis.

d. Prasyarat

1. Bidan dipanggil apabila ibu sudah mulai mulas/ketuban pecah.

2. Bidan sudah terlatih dan terampil dalam menolong persalinan

secara bersih dan aman.

3. Tersedianya alat untuk pertolongan persalinan termasuk sarung

tangan dalam keadaan desinfeksi tingkat tinggi (DTT)/steril.

4. Tersedianya perlengkapan untuk pertolongan persalinan yang

bersih dan aman, seperti air bersih, sabun dan handuk yang bersih,

dua handuk/kain hangat yang bersih (satu untuk mengeringkan

bayi, yang lain untuk dipakai kemudian), pembalut wanita dan


92

tempat untuk plasenta. Bidan sedapat mungkin menggunakan

sarung tangan yang bersih.

5. Tersedianya ruangan yang hangat, bersih dan sehat untuk

persalinan.

6. Menggunakan KMS Ibu Hamil/Buku KIA, Kartu ibu partograf.

7. Sistem rujukan untuk perawatan kegawatdaruratan Obstetri yang

efektif.

e. Proses, Bidan harus:

1. Menghargai ibu selama proses persalinan.

2. Mengijinkan ibu memilih orang yang akan mendampinginya

selama proses persalinan dan kelahiran.

3. Memastikan tersedianya ruangan yang hangat, bersih dan sehat

untuk persalinan, dua handuk/kain hangat yang bersih (satu untuk

mengeringkan bayi, yang lain untuk dipakai kemudian), tempat

untuk plasenta. (Jika ibu belum mandi, bersihkan daerah

perineum dengan sabun dan air mengalir).

4. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir,

kemudian keringkan hingga betul-betul kering dengan handuk

bersih. (Kuku harus dipotong pendek dan bersih).

5. Bantu ibu untuk mengambil posisi yang paling nyaman baginya.

(Riset menunjukkan bahwa posisi duduk tau jongkok memberikan

banyak keuntungan).
93

6. Pada Kala II anjurkan ibu untuk meneran hanya jika merasa ingin

atau saat kepala bayi sudah kelihatan. (Riset menunjukkan bahwa

menahan nafas sambil meneran adalah berbahaya, dan meneran

sebelum kepala bayi tampak tidaklah perlu. Bahkan meneran

sebelum pembukaan serviks lengkap adalah berbahaya). Jika

kepala belum terlihat, padahal ibu sudah sangat ingin meneran,

periksa pembukaan serviks dengan periksa dalam. Jika

pembukaan belum lengkap, keinginan meneran bisa dikurangi

dengan memiringkan ibu ke sisi sebelah kiri.

7. Pada kala II, dengarkan DJJ setiap 5 menit setelah his berakhir,

irama dan frekuensinya harus segera kembali ke normal. Jika

tidak, cari pertolongan medis. (Jika kepala sudah meregangkan

perineum, dan terjadi kelambatan kemajuan persalinan atau DJJ

menurun sampai 100x/menit atau kurang, atau meningkat menjadi

160x/menit atau lebih, maka percepatan persalinan dengan

melakukan episiotom, lihat standar 12).

8. Hindari peregangan vagina secara manual dengaan gerakan

menyapu atau menariknya ke arah luar. (Riset menunjukkan

bahwa hal tersebut berbahaya).

9. Pakai sarung tangan sedapat mungkin, saat kepala bayi kelihatan.

10. Jika ada kotoran keluar dari rektum, bersihkan dengan kain

kering.
94

11. Bantu kepala bayi lahir perlahan, sebaiknya diantara his. (Riset

menunjukkan bahwa robekan tingkat dua dapat sembuh sama

baiknya dengan luka episiotomi, sehingga tidak perlu melakukan

episiotomi, kecuali terjadi gawat janin, komplikasi persalinan

pervaginam (sungsang, distosia bahu, fofcep, vacum), atau ada

hambatan pada perineum (misalnya disebabkan jaringan parut

pada perineum).

12. Begitu kepala bayi lahir, usap mulut dan hidung bayi dengan kasa

bersih dan biarkan kepala bayi memutar (seharusnya terjadi

spontan, sehingga bayi tak perlu dibantu. Jika bahu tidak memutar

ikuti standar 18).

13. Begitu bahu sudah pada poisi anterior posterior yang benar,

bantulah persalinan dengan cara yang tepat.

14. Segera setelah lahir, periksa keadaan bayi, letakkan di perut ibu,

dan segera keringkan bayi dengan handuk bersih yang hangat.

Setelah bayi kering, selimuti bayi dengan handuk baru yang

bersih dan hangat.

15. Minta ibu memegang bayinya. Tali pusat di klem di dua tempat,

lalu potong diantara dua klem dengan gunting tajam steril / DTT.

16. Letakkan bayi dalam pelukan ibu dan mulai menyusui. (Riset

menunjukkan hal ini penting untuk keberhasilan dalam

memberikan ASI dan membantu pelepasan plasenta. Kontak kulit

dengan kulit adalah cara yang baik untuk menjaga kehangatan


95

bayi, sementara handuk diselimutkan pada punggung bayi. Jika

bayi tidak didekap oleh ibuya, selimuti bayi dengan kain yang

bersih dan hangat. Tutupi bayi agar tidak kehilngan panas).

17. Menghisap lendir dari janin nafas bayi tidak selalu diperlukan.

Jika bayi tidak menangis spontan, gunakan pengisap DeLee yang

sudah diDTT atau aspirator lendir yang baru dan bersih untuk

membersihkan jalan nafas (lihat standar 24).

18. Untuk melahirkan plasenta, mulailah langkah-langkah untuk

penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga yang tercantum di

standar 11.

19. Pada saat plasenta sudah dilahirkan lengkap dan utuh dengan

mengikuti langkah-langkah penatalaksanaan aktif persalinan kala

tiga (lihat standar 11), lakukan masase uterus agar terjadi

kontraksi dan pengeluaran gumpalan darah.

20. Segera sesudah plasenta dikeluarkan, periksa apakah terjadi

laserasi pada vagina atau perineum. Dengan menggunakan

tekhnik aseptik, berikan anestesi lokal (1% lidokain), lalu jahit

perlukaan danatau laserasi dengan peralatan steril / DTT. (lihat

Standar 12).

21. Perkirakan jumlah kehilangan darah secara akurat (ingat

perdarahan sulit diukur dan sering diperkirakan lebih sedikit).

22. Bersihkan perineum dengan air matang dan tutupi dengan kain

bersih/telah dijemur.
96

23. Berikan plasenta kepada suami/keluarga ibu.

24. Pastikan agar ibu dan bayi merasa nyaman. Berikan bayi kepada

ibu untuk diberi ASI.

25. Untuk perawatan bayi baru lahir lihar standar 13.

26. Catat semua temuan dengan seksama.

Standar 11: Penatalaksanaan Aktif Persalinan Tiga

a. Tujuan

Membantu secara aktif pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara

lengkap untuk mengurangi kejadiaan perdarahan pasca persalinan,

memperpendek waktu persalinan kala 3, mencegah terjadinya atonia

uteri dan retensio plasenta.

b. Pernyataan Standar:

Secara rutin bidan melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala

tiga.

c. Hasil

1. Menurunkan terjadinya perdarahan yang hilang pada persalinan kala

tiga.

2. Menurunkan terjadinya atonia uteri.

3. Menurunkan terjadinya retensio plasenta.

4. Memperpendek waktu persalinan kala tiga.

5. Menurunkan terjadinya postpartum akibat salah penanganan kala

tiga.

d. Prasyarat
97

1. Bidan sudah terlatih dan terlampir dalam melahirkan plasenta secara

lengkap dengan melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala

tiga secara benar.

2. Tersedianya peralatan dan perlengkapan untuk melahirkan plasenta,

termasuk air bersih, larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi, sabun

dan handuk yang bersih untuk cuci tangan, juga tempat untuk

plasenta. Bidan seharusnya menggunakan sarung tangan DTT /

steril.

3. Tersedia obat-obat oksitosin dan metode yang efektif untuk

penyimpanan dan pengirimanna yang dijalankan dengan baik.

4. Sistem rujukan untuk kegawatdaruratan Obstetri yang efektif.

e. Proses Bidan harus:

1. Berikan penjelasan pada ibu, sebelum melahirkan, tentang prosedur

penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga.

2. Masukkan oksitosin 10 IU IM ke dalam alat suntik steril menjelang

persalinan.

3. Setelah bayi lahir (lihat standar 10), tali pusat di klem di dua

tempat, lalu potong diantara dua klem dengan gunting tajam steril /

DTT.

4. Memeriksa fundus uteri untuk memastikan kehamilan ganda. jika

tidak ada, beri oksitosin10 UI secara IM (dalam waktu 2 menit

setelah persalinan).
98

5. Tunggu uterus berkontraksi, lakukan penegangan tali pusat terus-

menerus sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati ke

arah punggung ibu dan ke arah atas (dorso-kranial). Ulangi langkah

inipada setiap ada his. Berhati-hati, jangan menarik tali pusat

berlebihan karena akan menyebabkan inversio uteri.

6. Bila plasenta belum lepas setelah melakukan penatalaksanaan aktif

persalinan kala tiga dalam waktu 15 menit:

a) Ulangi 10 unit oksitosin IM.

b) Periksa kandung kemih, lakukan katerisasi bila penuh.

c) Beritahu keluarga untuk persiapan merujuk.

d) Teruskan melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga

selama 15 menit lagi.

e) Rujuk ibu bila plasenta tidak lahir setelah 30 menit.

7. Bila sudah terasa adanya pelepasan plasenta, minta ibu untuk

meneran sedikit pada saat tali pusat ditegangkan ke arah bawah

kemudian ke arah atas sesuai dengan kurve jalan lahir hingga

plasenta tampak pada vulva (jangan mendorong fundus karena

dapat mengakibatkan inversio uteri).

8. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta

dengan hati-hati. Bila perlu, pegang plasenta dengan kedua tangan

dan lakukan putaran searah jarum jam untuk membantu

pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.


99

9. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban dikeluarkan, lakukan

masase uterus supaya berkontraksi.

10. Sambil melakukan masase fundus uteri, periksa plasenta dan

selaput ketuban untuk memastikan plasenta utuh dan lengkap.

11. Bila plasenta tidak dilahirkan pasca persalinan lihat standar 21.

12. Perkirakan jumlah kehilangan darah secara akurat (ingat

perdarahan sulit diukur dan sering diperkirakan lebih sedikit).

13. Bersihkan vulva dan perineum dengan air matang dan tutup

denganpembalut wanita/kain bersih/telah dijemur.

14. Periksa data-data vital. Catat semua temuan dengan seksama.

Berikan plasenta kepada suami/keluarga ibu.

15. Catat semua perawatan dan temuan dengan seksama.

Standar 12: penanganan kala II Dengan Gawat Janin Melalui

Episiotomi

a. Tujuan

Mempercepat persalinan dengan melakukan episiotomi jika ada tanda-

tanda janin pada saat kepala janin meregangkan perineum.

b. Pernyataan standar
100

Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin pada kala dua,

dan segera melakukan episiotomi dengan aman untuk memperlancar

persalinan, diikuti dengan penjahitan perineum.

c. Hasil

a) Penurunan kejadian asfiksia neonatorum berat.

b) Penurunan kejadianlahir mati pada kala II

d. Prasyarat

Bidan sudah terlatih dalam melaksanakan episiotomi dan menjahit

perineum secara benar.

1. Bidan sudah terlatih dalam melaksanakan episiotomi dan menjahit

perineum secara benar

2. Tersedia sarung tangan/alat/perlengkapan, untuk melakukan

episiotomi, termasuk gunting tajam yang steril / DTT, dan alat /

bahan yang steril / DTT untuk penjahitan perineum, (anestesi lokal

misalnya dengan 10 ml lidokain 1% dan alat suntik/jarum

hipodermik steril).

3. Menggunakan kartu ibu, partograf dan Buku KIA

e. Proses

Jika ada tanda gawat janin berat dan kepala sudah terlihat pada vulva,

episiotomi mungkin salah satu dari beberapa tindakan yang dapat

dilakukan oleh bidan untuk menyelamatkan janin.

f. Bidan harus

3 Mempersiapkan alat-alat steril / DTT untuk tindakan ini.


101

4 Memberitahu ibu tentang perlunya episiotomi dilakukan dan yang

akan dirasakan.

5 Kenakan sarung tangan steril / DTT.

6 Jika kepala janin meregangkan perinium, anestesi lokal diberikan

pada saat his. Masukkan dua jari tangan kiri ke dalam vagina untuk

melindungi kepala bayi, dan dengan tangan kanan tusukkan jarum

sepanjang garis yang akan digunting (sebaiknya dilakukan insisi

medio-lateral). Sebelum menyuntikkannya, tarik jarum sedikit,

(untuk memastikan jarum tidak menembus pembuluh darah).

Msukkan dua jari tangan kiri ke dalam vagina untuk melindungi

kepala bayi, dan dengan tangan kanan, tusukkan jarum sepanjang

garis yang akan digunting hingga teranastesi.

7 Tunggu satu menit agar anestesinya bekerja, lakukan tes kekebalan.

8 Pada Puncak his berikutnya, lindungi kepala janin seperti di atas,

kemudian lakukan pengguntingan tunggal yang mantap.

(Sebaiknya Medio-lateral)

9 Tangan kanan melindungi perineum, semnetara tangan kiri

menahan puncak kepala agar tidak terjadi defleksi yang terlalu

cepat saat kepala lahir. Minta ibu untuk meneran di antara dua his.

Kemudian lahirkan bayi secara normal.

10 Begitu bayi lahir, tutupi perineum dengan pembalut steril dan

lakukan resusitasi neonatus jika diperlukan. (lihat Standar 24)


102

11 Lahirkan plsenta dan selaput ketuban secara lengkap mengikuti

langkah penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga, sesuai dengan

Standar 11.

12 Periksa perineum untuk menentukan tingkat luka episiotomi,

perluasan episiotomi dan/atau laserasi.

13 Segera setelah plsenta dan selaput ketuban dikeluarkan, dengan

menggunakan tekhnik aseptik, berikan anestesi lokal (lidokain 1%),

lalu jahit perlukaan danatau laserasi dengan peralatan steri/DTT.

(lihat standar 12).

14 Lakukan penjahitan sekitar 1 cm di atas ujung luka episiotomi atau

laserasi di dalam vagina. Lakukan penjahitan secara berlapis. Mulai

dari vagina, ke arah perineum, lalu teruskan dengan perineum.

15 Sesudah penjahitan, lakukan masase uterus untuk memastikan

bahwa uterus berkontraksi dengan baik. Pastikan, bahwa tidak ada

kasa yang tertinggal di vagina dan masukkan jari dengan hati-hati

ke rektum untuk memastikan bahwa penjahitan tidak menembus

dinding rektum. Bila hal tersebut terjadi, lepaskan jahitan dan

lakukan jahitan ulang. periksa vagina dan pastikan tidak ada bahan

yang tertinggal.

16 Kenakan sarung tangan bersih, bersihkan perineum dengan air

matang, buatlah ibu merasa bersih dan nyaman. Periksa apakah

pendarahan dari raerah insisi sudah berhenti. Bila pendarahan

masih ada, periksa sumbernya. Bila berasal dari luka episiotomi,


103

temukan titik pendarahan dan segera ikat, jika bukan, ikuti Standar

21.

17 Pastikan bahwa ibu diberi tahu agar menjaga perineum tetap bersih

dan kering, serta menggunakan pembalut wanita / kain bersih yang

telah dijemur.

18 Catat semua perawatan dan temuan dengan seksama. Ikuti standar

untuk perawatan post partum (Pengurus pusat IBI, 2006).

Standar 14: Penanganan Pada Dua Jam Pertama Setelah

Persalinan

a. Tujuan

Mempromosikan perawatan ibu dan bayi yang bersih dan aman selama

persalinan kala empat untuk memulihkan kesehatan ibu dan bayi.

Meningkatkan asuhan sayang ibu dan sayang bayi. Memulai pemberian


104

ASI dalam waktu 1 jam pertama setelah persalinan dan mendukung

terjadinya ikatan batin antara ibu dan bayinya

b. Pernyataan standar

Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya

komplikasi paling sedikit selama 2 jam setelah persalinan, serta

melakukan tindakan yang diperlukan. Disamping itu, bidan

memberikan penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat pulihnya

kesehatan ibu, dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI

c. Hasil

1. Komplikasi segera dideteksi dan dirujuk

2. Penurunan kejadian infeksi pada ibu dan bayi baru lahir

3. Penurunan kematian akibat perdarahan pasca persalinan primer

4. Pemberian ASI dimulai dalam 1 jam pertama sesudah persalinan

d. Prasyarat

1) Ibu dan bayi dijaga oleh bidan terlatih selama dua jam sesudah

persalinan dan jika mungkin bayi tetap bersama ibu.

2) Bidan terlatih dan terampil dalam memberikan perawatan untuk

ibu dan bayi segera setelah persalinan, termasuk keterampilan

pertolongan pertama pada keadaan gawat darurat.

3) Ibu didukung/ dianjurkan untuk menyusui dengan ASI dan

memberikan kolostrum.

4) Tersedia alat perlengkapan, misalnya untuk membersihkan

tangan yaitu air bersih, sabun dan handuk bersih; handuk/ kain
105

bersih untuk menyelimuti bayi, pembalut wanita yang bersih,

pakaian kering dan bersih untuk ibu, sarung atau kain kering dan

bersih untuk alas ibu, kain/ selimut yang kering untuk

menyelimuti ibu, sarung tangan DTT, tensimeter air raksa,

stetoskop dan termometer.

5) Tersedianya obat-obatan oksitosika, obat lain yang diperlukan

dan tempat penyimpanan yang memadai.

6) Adanya sarana pencatatan: partograf, kartu ibu, kartu bayi, buku

KIA

7) Sistem rujukan untuk perawatan kegawatdaruratan obstetri dan

kegawatdaruratan bayi baru lahir yang efektif.

e. Proses

Bidan harus:

1) Selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memberikan

perawatan pada ibu dan bayi baru lahir. Menggunakan sarung

tangan bersih pada saat melakukan kontak dengan darah atau

cairan tubuh.

2) Mendiskusikan semua pelayanan yang diberikan untuk ibu dan

bayi dengan ibu, suami dan keluarganya.

3) Segera setelah lahir, nilai keadaan bayi, letakkan di perut ibu, dan

segera keringkan bayi dengan handuk bersih yang hangat.

Setelah bayi kering, selimuti bayi dengan handuk baru yang

bersih dan hangat. Bila bayi bernafas/ menangis tanpa kesulitan,


106

dukung ibu untuk memeluk bayinya. Jika bayi mengalai kesulitan

bernafas.

4) Sangat penting untuk menilai keadaan ibu beberapa kali selama

dua jam pertama setelah persalinan. Berada bersama ibu dan

melakukan setiap pemeriksaan ini, jangan pernah meninggalkan

ibu sendirian sampai paling sedikit 2 jam setelah persalinan dan

kondisi ibu stabil. Lakukan penatalaksanaan yang tepat

persiapkan rujukan jika diperlukan.

5) Melakukan penilaian dan masase fundus uteri setiap 15 menit

selama satu jam pertama setelah persalinan, kemudian setiap 30

menit selama satu jam kedua setelah persalinan. Pada saat

melakukan masase uterus, perhatikan berapa banyak darah yang

keluar dari vagina. Periksa perineum ibu apakah membengkak,

hematoma, dan berdarah dari tempat perlukaan yang sudah

dijahit setiap kali memeriksa perdarahan fundus dan vagina.

6) Jika terjadi perdarahan, segera lakukan tindakan sesuai dengan

standar 21. berbahaya jika terlambat bertindak

7) Periksa tekanan darah dan nadi ibu setiap 15 menit selama satu

jam pertama setelah persalinan, dan setiap 30 menit selama satu

jam kedua setelah persalinan.

8) Lakukan palpasi kandung kemih ibu setiap 15 menit selama satu

jam pertama setelah persalinan dan kemudian 30 menit selama

satu jam kedua setelah persalinan. Bila kandung kemih penuh


107

dan meregang, mintalah ibu untuk BAK jangan memasang

kateter kecuali ibu tidak bisa melakukannya sendiri. Mintalah ibu

untuk buang air kecil dalam 2 jam pertama sesudah melahirkan

9) Periksa suhu tubuh ibu beberapa saat setelah persalinan dan

sekali lagi satu jam setelah persalinan. Jika suhu tubuh ibu >

380C, minta ibu untuk minum 1 liter cairan, jika suhunya tetap >

380C segera rujuk ibu ke pusat rujukan terdekat.

10) Secepatnya bantu ibu agar dapat menyusui. Atur posisi bayi agar

dapat melekat dan mengisap dengan benar. Semua ibu

membutuhkan pertolongan untuk mengatur posisi bayi, baik

untuk ibu yang baru pertama kali menyusui maupun ibu yang

sudah pernah menyusui).

11) Penggunaan gurita atau stagen harus ditunda hingga 2 jam

setelah melahirkan. Kontraksi uterus dan jumlah perdarahan

harus dinilai, dan jika ibu mengenakan gurita atau stagen hal ini

sulit dilakukan.

12) Lihat standar 13 untuk peristiwa bayi baru lahir

13) Bila bayi tidak memperlihatkan tanda-tanda kehidupan setelah

dilakukan resusitasi, maka beritahu orang tua bayi apa yang

terjadi. Berikan penjelasan secara sederhana dan jujur. Biarkan

mereka melihat atau memeluk bayi mereka. Berlakulah bijaksana

dan penuh perhatian. Biarkan orang tua melakukan upacara untuk

bayi yang meninggal sesuai dengan adat istiadatnya atau


108

kepercayaan mereka. Setelah orang tua bayi mulai tenang,

bantulah mereka dan perlakukan bayi dengan baik dan penuh

pengertian terhadap kesedihan mereka.

14) Bantu ibu membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian.

Ingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan tubuh dan

mengganti kain pembalut secara teratur, berikan penjelasan

perubahan-perubahan yang terjadi pasca persalinan.

15) Catat semua temuan dan tindakan dengan lengkap dan seksama

pada partograf, kartu ibu dan kartu bayi.

16) Sebelum meninggalkan ibu, bahaslah semua bahaya potensial

dan tanda-tandanya dengan suami dan keluarga. Bahaya potensial

dan tanda-tandanya:

17) Ibu mengalami perdarahan berat

18) Mengeluarkan gumpalan darah

19) Pusing

20) Lemas berlebihan

21) Suhu tubuh ibu >380C

22) Suhu tubuh bayi < 360C atau > 37,50C

23) Bayi tidak mau menyusu

24) Bayi tidak mengeluarkan urine atau mekonium dalam 24 jam

pertama

25) Pastikan bahwa ibu dan keluarganya mengetahui bagaimana dan

kapan harus meminta pertolongan.


109

26) Jangan meninggalkan ibu dan bayi sampai mereka dalam keadaan baik

dan semua catatan lengkap.


BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN NORMAL NY ”S”

GIVP30003 USIA KEHAMILAN 39 MINGGU KALA I FASE AKTIF

DENGAN MASASE COUNTER PRESSURE DI BPM HJ. TUTIK

RIF’ATUN NI’MAH, S.ST,S.Psi DESA KEBOAN

KECAMATAN NGUSIKAN

KABUPATEN JOMBANG

3.1 Pengkajian Data

Tempat Pengkajian :BPM Hj.Tutik Rif’atun Ni’mah, SST. S.Psi

Tanggal : 21 Maret 2015

Jam : 09.30 WIB

3.1.1 Data Subjektif

1. Biodata

a. Biodata Ibu

1) Nama : Ny. S

2) Usia : 36 Tahun

3) Agama : Islam

4) Pendidikan : SD

5) Pekerjaan : Wiraswasta

109
110

6) Suku / bangsa : Jawa / Indonesia

7) Alamat : Ds. Betro RT 04 RW 01, kecamatan

Kemlagi, Kabupaten Jombang.

b. Biodata Suami

1) Nama : Tn. W

2) Usia : 40 Tahun

3) Agama : Islam

4) Pendidikan : SMA

5) Pekerjaan : Wiraswasta

6) Suku / bangsa : Jawa / Indonesia

7) Alamat : Ds. Betro RT 04 RW 01, kecamatan

Kemlagi, Kabupaten Jombang

8) No.Hp : 085731258838

2. Keluhan utama

Ibu merasa perut kencang-kencang tembus hingga pinggang sejak

tanggal 21 Maret 2015 jam 02.00 WIB yang disertai adanya

pengeluaran cairan lendir darah dari jalan lahir.

3. Riwayat kehamilan sekarang

a. HPHT : 25 – 06 - 2014

b. TP : 01 – 04 - 2015

c. Gerakan janin : usia kehamilan 4 bulan

d. Frekuensi gerakan janin 24 jam terakhir : lebih dari 10 kali


111

e. ANC

Trimester I : Frekuensi : 2 kali

Keluhan : perut kembung

Terapi : Novakalk, Antasid dan

Etabion

Trimester II : Frekuensi : 2 kali

Keluhan : tidak ada keluhan

Terapi : Etabion

Trimester III : Frekuensi : 6 kali

Keluhan : tidak ada keluhan

Terapi : Etabion dan Betabion

4. Riwayat Menstruasi

a. Menarche : 12 Tahun.

b. Siklus : 28 Hari

c. Volume : ± 2 kali ganti pembalut per hari

d. Keluhan : tidak pernah disminore


112

5. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu.

Tabel. 3.1 Tabel riwayat persalinan

BB /
Ke UK Penolong Tempat Jenis JK Usia
PB

I 9 bln Dukun Rumah Spontan 4100 gr PR 1 nov 93

/ 50 cm

II 9 bln Bidan BPM Spontan 3000 gr PR 2 sep 03

/ 48 cm

III 9 bln Bidan BPM Spontan 4100 gr PR 7 mrt 07

/ 49 cm

IV HAMIL INI

6. Riwaya KB yang lalu

Ibu pernah memakai suntik KB 3 bulan setelah kelahiran anak

pertamanya, selama 3 tahun, kemudian berhenti memakai karena

keluhan Berat badan yang selalu bertambah. Dan kemudian sampai

saat ini ibu tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun, namun ibu

menggunakan KB alami dengan koitus intruptus.

7. Riwayat kesehatan

a. Riwayat kesehatan yang lalu

Ibu tidak menderita penyakit menular seperti batuk berdarah,

penyakit kuning, jenis penyakit menahun seperti jantung dan jenis

penyakit keturuan seperti sesak, darah tinggi dan kecing manis.


113

b. Riwayat kesehatan sekarang

Ibu tidak menderita penyakit menular seperti batuk berdarah,

penyakit kuning, jenis penyakit menahun seperti jantung dan jenis

penyakit keturuan seperti sesak, darah tinggi dan kencing manis.

c. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu mengatakan dari pihak keluarga tidak ada yang menderita

jenis penyakit menahun (jantung) menular (penyakit kuning,

batuk berdarah) dan penyakit menurun (sesak, kencing manis,

darah tinggi).

8. Riwayat Psiko, sosial, dan budaya

a. Status perkawinan

Kawin : 1 kali

Umur Kawin : Istri ( 14 tahun), suami ( 18 tahun)

Lama Kawin : 22 tahun

b. Keadaan lingkungan

Lingkungan rumah ibu bersih dan rapi.

c. Respon ibu dan keluarga terhadap persalinan

Ibu dan suami mengharapkan kelahiran bayinya bisa berjalan

dengan lancar dan selamat.

d. Adat istiadat yang berkaitan dengan persalinan

Ibu percaya bahwa dengan meminum air yang sudah di doakan

“disuwuk” dapat meperlancar proses kelahiran bayi.


114

9. Pola kehidupan sehari-hari

a. Pola nutrisi

1) Saat hamil

Makan : 3-4x/hari, porsi sedikit tapi sering, jenis

makanan nasi, lauk pauk, sayuran hijau,

buah dan makanan manis-manis nafsu

makan bertambah

Minum : ± 7-8 gelas/hari (air putih, susu,

minuman manis).

2) Saat inpartu

Makan : 2x ( nasi, lauk-pauk, sayur, porsi sedikit)

Minum : 1/2 botol minuman 2500 ml

b. Pola istirahat/tidur

1) Saat hamil

Tidur siang : jam 11.00-13.00 WIB

Tidur malam : jam 20.30- 03.30 WIB

2) Saat inpartu : ibu hanya tidur siang sebentar.

c. Pola aktifitas

1) Saat hamil : melakukan pekerjaan rumah seperti biasa

dan dibantu oleh suami

2) Saat inpartu : ibu berjalan di sekitar BPM, mencari

posisi yang nyaman.


115

d. Pola eliminasi

1) Saat hamil

BAK : ± 6-7x/hari, warna kuning jernih, bau

khas.

BAB : 1x/hari warna kuning, bau khas,

konsistensi lunak.

2) Saat inpartu

BAK : ± 6x, warna kuning jernih, bau khas.

BAB : ibu mengatakan belum BAB

e. Pola kebersihan diri (personal hygiene)

1) Saat hamil : Mandi 3x/hari, gosok gigi 2x/hari, ganti

baju tiap1x/hari, keramas 2-3x/minggu.

2) Saat inpartu : Ibu belum mandi, gosok gigi, keramas,

dan juga belum ganti baju.

f. Pola sexsualitas

1) Saat hamil : 1-2 x/minggu

2) Saat inpartu : Tidak melakukan hubungan seksual


116

3.1.2 Data objektif

A. Pemeriksaan Umum

1. Keadaan umum : Baik

2. Kesadaran : Composmetis

3. TTV yang meliputi :

a. Tekanan Darah : 120 / 80 mmHg

b. Nadi : 82 x/menit

c. Pernapasan : 21 x/menit

d. Suhu : 36.6 0C

e. BB saat hamil : 66 kg

f. BB sebelum hamil : 53 kg

g. TB : 160 cm

h. LILA : 25,5 cm

4. KSPR : 10

5. Skala Nyeri :6

B. Pemeriksaan Fisik

1. Inspeksi

Kepala : Simetris, rambut panjang sedikit

bergelombang, hitam, sedikit kusam, kulit

kepala bersih, rambut tidak berketombe,

tidak rontok, tidak ada lesi.


117

Muka : Simetris, bersih, tidak ada lesi, sedikit

pucat, tidak ada oedem, tidak ada coasma

gravidarum, wajah tampak tegang, keluar

keringat.

Mata : Simetris, sklera putih tidak icterus,

conjungtiva merah muda, tidak ada katarak.

Hidung : Simetris, bersih, tidak ada secret, tidak ada

pernapasan cuping hidung.

Mulut dan gigi : Simetris, bibir tampak pucat dan kering,

tidak ada stomatitis, gigi bersih, tidak ada

karies gigi.

Telinga : Simetris, bersih, tidak ada serumen, tidak

ada lesi.

Leher : Tidak tampak pembengkakan kelenjar

tyroid, tidak tampak pembengkakakn vena

jugularis, tidak tampak tumor atau massa.

Ketiak : tidak tampak pembengkakan kelenjar

limphe.

Dada : simetris, hiperpigmentasi areola mammae,

puting susu menonjol, tidak ada retraksi

dada, dan tidak terdapat lesi.


118

Abdomen : Pembesaran sesuai usia kehamilan,

terdapat strie livide, terdapat linea nigra

tidak ada bekas luka operasi.

Vulva : tidak tampak luka parut, tidak ada varices,

tidak oedem, tampak keluar lendir

bercampur darah (bloody show).

Anus : Bersih, tidak ada hemoroid

Ekstremitas atas : Simetris, tidak oedem, tidak ada varises,

tidak ada gangguan pergerakan.

Ektremitas bawah : simetris, tidak oedem, tidak ada varises, tidak

ada gangguan pergerakan.

2. Palpasi

Kepala : Simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak ada

benjolan abnormal

Leher : tidak teraba pembesaran kelenjar thyroid

dan tidak ada bendungan vena jugularis.

Ketiak : tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe,

tidak ada nyeri tekan

Mamae : tidak terdapat nyeri tekan, tidak terdapat

pembengkakan, tidak terdapat benjolan

abnormal, kolostum sudah keluar (+/+)

Abdomen

Leopold I : TFU pertengahan px-pusat, pada bagian


119

fundus teraba lunak, bulat, tidak melenting

(bokong).

Leopold II : Pada perut ibu sebelah kiri teraba bagian

janin yang panjang, datar dan keras seperti

papan, sedangkan pada sebelah kanan perut

ibu teraba bagian-bagian kecil tanagan dan

kaki janin. (PUKI),

Leopold III : pada bagian terendah janin teraba bulat,

keras, melenting (kepala janin) dan sudah

masuk PAP

Leopold IV : bagian terendah janin sudah masuk PAP

(divergen) 3/5

TFU menurut Mc. Donalad : 31 cm

TBBJ : (TFU-11) x 155

(31-11) x 155= 3100 gram

3. Auskultasi

Dada : Pernafasan normal, Tidak terdengar ronchi

dan wheezing

Abdomen (DJJ) : (+) 145x/menit

4. Perkusi

Refleks patella : Reflek patella pada kaki kanan dan kiri ibu

(+/+)
120

C. Pemeriksaan dalam

Tanggal : 21 – 03 – 2015 Jam : 09.30 WIB

Pembukaan : 5 cm

Efficement : 50 %

Ketuban : utuh

Presentasi : belakang kepala

Dominator : Ubun –ubun kecil

Molase : tidak ada penumpukan sutura

Bagian Kecil : tidak teraba bagian terkecil janin

Hodge : II

Penurunan kepala janin : 3/5

D. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan

3.2 Merumuskan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan

3.2.1 Diagnosis kebidanan / nomenklatur

1) Diagnosa

GIVP30003 UK 39 Minggu, Aterm, Tunggal, Hidup, Intra Uteri, Letak

Kepala, Kesan jalan lahir normal, Inpartu Kala I Fase Aktif dengan

Keadaan Umum Ibu dan Janin Baik.

a. Ds

Ibu mengatakan ini kehamilan ke empatnya dengan usia

kehamilan 9 bulan dan perutnya terasa kenceng-kenceng menjalar


121

hingga punggung sejak tanggal 21 – 03 – 2015 jam 02.00 WIB

yang disertai keluar lendir bercampur darah.

b. Do

Keadaaan umum : baik

Kesadaran : kompos metis

TP : 01 – 04 2015

TTV :

TD : 120/80 mmHg

Suhu : 36,6 oC

RR : 21 x/menit

Nadi : 82 x / menit

Leopold I : teraba bokong

Lepold II : Puki

Leopold III : Teraba Kepala

Lepolod IV : Divergen ( 3/5)

TFU Mc.Donald : 31 cm

TBBJ : 3100 gram

VT : Pembukaan 5 cm, eff 50 %, ketuban + ,

presentasi belakang kepala, dominator

UUK, penyusupan 0, tidak teraba bagian

kecil janin, Hodge II,

His : 4 x 10’38’’
122

2) Masalah

a. Ds

Ibu merasa cemas dan khawatir dengan keadaanya dan bayinya

b. Do

Inspeksi Muka : Pada pemeriksaan fisik wajah tampak ibu

tegang dan takut menghadapi persalinan.

Skala Nyeri :6

3) Kebutuhan

a. Rasa nyaman.

b. Asuhan sayang ibu meliputi Dukungan emosional dan mobilisasi.

c. Observasi TTV

d. Observasi kemajuan persalinan

e. Persiapan persalinan.

1.2.2.2 Perencanaan

a. Diagnosa :

GIVP30003 UK 39 Minggu, Aterm, Tunggal, Hidup, Intra Uteri, Letak

Kepala, Kesan jalan lahir normal, Inpartu Kala I Fase Aktif dengan

Keadaan Umum Ibu dan Janin Baik.

b. Tujuan

Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 4-8 jam diharapkan

persalinan ini dapat berlangsung tidak lebih dari ± 18 jam, secara

spontan, ibu tidak cemas dan rasa nyeri yang dirsakan ibu berkurang.
123

c. Rencana Asuhan

1. Lakukan pendekatan kepada Klien dan keluarga

R) Ibu bisa lebih kooperatif dengan Bidan.

2. Lakukan cuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan

R) Cuci tangan sebelum melakukan tindakan dapat mencegah

terjadinya infeksi nosokomial

3. Beritahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan yang telah dilakukan

R) Memberitahu hasil pemeriksaan dapat membuat ibu mengerti

keadaannya saat ini

4. Pantau tekanan darah, suhu, denyut jantung, nadi, his,

pembukaan, penurunan dan cairan ketuban.

R) pemantauan digunakan untuk mengetahui kemajuan persalinan

pada ibu.

5. Melakukan asuhan sayang ibu yang terdiri dari :

a. Mengajari ibu teknik relaksasi pernafasan yang benar

R) teknik relaksasi pernafasan dapat mengurangi nyeri yang

dirasakan ibu.

b. Minta ibu tidur miring kiri atau posisi yang dianjurkan.

R) tidur miring kiri dapat membuat sirkulasi ibu ke janin

menjadi lancar.

c. Beri dukungan dan dengarkan keluhan bu

R) memberi dukungan dan mendengarkan keluhan ibu dapat

membuat ibu tenang.


124

d. Beri ibu minum yang cukup

R) member ibu minum yang cukup dapat mencegah dehidrasi.

e. Minta ibu untuk berkemih sesering mungkin

R) kandung kencing yang penuh dapat menghambat

penurunan kepala bayi.

6. Pijat punggung ibu secara perlahan dengan metode Counter

Pressure

R) Memijat punggung dengan Counter Pressure dapat

mengurangi nyeri dan mencegah terjadinya persalinan lama.

7. Kolaborasi dengan Tim Medis

R) Melakukan kolaborasi dengan Tim Medis atau Bidan

pembimbing dapat membantu proses persalinan dengan aman

sesuai langkah Asuhan persalinan Normal.


125

1.2.2.3 Implementasi

Tabel 3.2 Tabel Implementasi

Hari, Tgl
No. Kegiatan TTD
/ Jam

1. 21 – 03 – Melakukan pendekatan dengen klien

2015 / a. Memperkenalkan diri kepada klien dan

09.40 menjelaskan tentang tindakan counter

pressure yang akan dilakukan pada

pasien.

b. Menanyakan data klien serta keluhan

nyeri pinggang yang dirasakan oleh

klien.

2. 09.45 Melakukan cuci tangan sebelum melakukan

tindakan.

a. Melakukan Cuci tangan dengan 7

langkah sesuai SOP. ( SOP terlamipr)

3. 09.50 Memberitahu ibu dan keluarga hasil

pemeriksaan yang telah dilakukan.

a. Memberitahu bahwa ibu saat ini sedang

menghadapi persalinan, pembukaan 5

cm pada fase aktif keadaan ibu dan janin

baik.
126

4. 10.00 Memantau tekanan darah, suhu, nadi, djj,

his, pembukaan, penurunan, dan cairan

ketuban setiap 30 menit.

a. Memantau dengan hasil terlampir dalam

partograf dan lembar observasi.

5. 10.10 Melakukan Asuhan sayang Ibu, yaitu :

a. Mengajari relaksasi dengan cara

menarik napas dari hidung dan

menghembuskan lewat mulut.

b. Memiringkan tubuh ibu ke kiri atau

posisi yang dianjurkan.

c. Mendengarkan keluhan ibu yang merasa

kesakitan dan member dukungan.

d. Memberi ibu segelas teh hangat atau air

putih.

e. Meminta ibu dan mengantarnya ke

kamar mandi untuk berkemih.


127

6. 10.30 Memijat punggung ibu secara perlahan dengan teknik

Counter Pressure.

a. Sesuai dengan penelitian relevan yang telah dilakukan

oleh Ida dkk, maka Memijat dengan teknik counter

pressure yaitu menekan di daerah dengan kuat. Pada

hal ini penulis melakukan masase setiap ada his.

Terdokumentasi

b. Tabel 3.3 Tabel pengamatan

Counter Skala
No. Jam His
Pressure Nyeri
1. 09.30 101 4x 38’’ - 6
2. 102 4x 38’’ + 3
3. 103 4x 36’’ + 3
1
4. 10.00 10 4x 37’’ - 6
2
5. 10 4x 38’’ - 6
3
6. 10 4x 38’’ - 6
1
7. 10.30 10 4x 42’’ + 4
2
8. 10 4x 42’’ + 4
3
9. 10 4x 42’’ + 4
1
10. 11.00 10 5x 41’’ + 5
2
11. 10 5x 44’’ + 5
3
12. 10 5x 45’’ + 5
1
13. 11.30 10 5x 44’’ + 5
2
14. 10 5x 44’’ + 5
3
15. 10 5x 45’’ + 5
128

c. Gambar

Gambar 3.1 Melakukan Counter


Pressure

7. 11.30 Melakukan
lakukan kolaborasi dengan tim medis

atau bidan pembimbing, diantaranya yaitu :

a. Memeriksa bahwa ketuban sudah pecah

b. Melihat tanda dan gejala kala II (doran,

teknus, perjol, vulka)

c. Memeriksa kelengkapan alat dan

mematahkan ampul oksitosin serta

memasukkan spuit kedalam partus set

d. Memakai celemek plastik

e. Memastikan lengan tidak memakai

perhiasan, mencuci tangan dengan sabun


un

dan dibilas pada air yang mengalir.


129

f. Memakai sarung tangan DTT / steril

g. Memasukkan oksitosin kedalam spuit

steril dan meletakkannya kedalam partus

set

h. Melakukan vulva hygiene

i. Melakukan pemeriksaan ( pembukaan

lengkap eff 100%)

j. Memasukkan tangan kedalam klorin

0,5% & merendam handscoon keadaan

terbalik

k. Memeriksa DJJ (142 x/ menit)

l. Memberitahukan Ibu Ø sudah lengkap,

keadaan janin & meminta Ibu meneran

saat his

m. Menyiapkan posisi Ibu untuk meneran.

n. Melakukan pimpinan meneran saat ada

his dan istirahat saat tidak ada his, serta

memberi minum dan memeriksa DJJ.

o. menganjurkan Ibu untuk berjalan,

berjongkok atau mengambil posisi yang

nyaman, jika Ibu belum merasa ada

dorongan untuk meneran.


130

1.2.2.4 Evaluasi

a. Hari dan Tanggal : Sabtu, 21 Maret 2015

b. Jam : 11.35 WIB

1. Ibu kooperatif dan bersedia untuk dilakukan masase counter

pressure

2. Tangan petugas kesehatan sudah terdekontaminasi dengan bersih

3. Ibu mengerti bahwa saat ini ibu sedang menghadapi proses

persalinan,pembukaan fase aktif, serviks mulai tipis, ketuban masih

utuh, keadaan ibu dan janin baik.

4. Tekanan darah, suhu, djj, nadi, his, pembukaan, penurunan, dan

cairan ketuban terpantau dengan baik dalam partograf.

5. Asuhan sayang ibu telah dilakukan, terdiri dari :

a. Ibu mampu melakukan teknik relaksasi yang baik dan benar

dan ibu merasa rileks

b. Ibu bersedia untuk miring kiri dan berganti posisi sesuai

keinginan

c. Ibu termotivasi dan semangat untuk menghadapi persalinan

d. Ibu bersedia untuk cukup minum dan mau minum teh hangat.

e. Ibu mau kencing sendiri

6. Ibu merasa rilex dan nyeri berkurang setelah dilakukan pijat disekitar

punggung dengan teknik Counter Pressure di daerah sacrum.


131

7. Telah melakukan kolaborasi dengan tim medis atau bidan pembimibng

dengan baik, dengan hasil :

a. Sudah terlihat tanda dan gejala kala II (doran, teknus, perjol, vulka)

b. Alat sudah lengkap, ampul oksitosin terpatahkan dan spuit masuk

kedalam partus set

c. Petugas kesehatan telah memakai celemek plastic

d. Tangan telah bersih

e. Telah memakai sarung tangan steril

f. Oksitosin masuk kedalam spuit steril dan dalam partus set

g. Vagina ibu telah bersih

h. Pembukaan lengkap 10 cm, effisemen 100 %, ketuban - , presentasi

belakang kepala, dominator UUK, penyusupan 0, penurunan 0/5 ,

tidak teraba bagian kecil janin, hodge IV.

i. Handscoon terdekontaminasi

j. DJJ (142 x/ menit)

k. Ibu mengerti bahwa pembukaan sudah lengkap, keadaan janin &

ibu baik.

l. Ibu dalam posisi litotomi.

m. Ibu mampu meneran dengan baik saat ada his.

n. Ibu tidur miring kiri saat tidak ada his.


132

1.2.2.5 Pencatatan Asuhan Kebidanan

Pencatatan asuhan kebidanan dilakukan sesuai Kala yang ditulis secara

SOAP.

1) Kala II

Tanggal 21 Maret 2015 / jam 11.40 WIB

S : Ibu merasa mules – mules dan ingin meneran

O :

K/U : baik

Kesadaran : compos mentis

TD : 120/80 mmHg

Suhu : 36,6 C

Nadi : 90 x/menit

RR : 24 x/menit

DJJ : 141 x / menit

Penurunan : 0/5

His : (+)

Bandle : (-)

VT : pembukaan 10 cm, effisemen 100%, ketuban

negatif, presentasi belakang kepala, dominator UUK, penyusupan

0,penurunan 0/5, Hodge IV.


133

A : Ny. S GIVP30003 UK 39 Minggu, Aterm, Tunggal, Hidup, Intra

Uteri, Letak Kepala, Kesan jalan lahir normal, Inpartu Kala II

dengan Keadaan Umum Ibu dan Janin Baik

P : sesuai dengan langkah Asuhan Persalinan Normal Langkah 15 -

33

1. Saat kepala janin terlihat pada vulva 5-6 cm, memasang

handuk bersih untuk mengeringkan Bayi diatas perut Ibu.

2. Meletakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah

bokong Ibu

3. Membuka tutup partus set, memperhatikan kelengkapan alat

dan bahan.

4. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.

5. Setelah tampak kepala Bayi (suboktipito) tampak dibawah

sympisis, tangan kanan melindungi perineum dengan lipatan

kain 1/3 bagian, sementara tangan kiri menahan puncak

kepala agar tidak terjadi deflexi yang terlalu cepat.

6. Memeriksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat.

7. Menunggu Bayi melakukan putaran paksi luar secara

spontan.

8. Setelah bayi melakukan putaran paksi luar, memegang secara

biparietal, cunam kebawah untuk melahirkan bahu depan dan

keatas untuk melahirkan bahu belakang.


134

9. Setelah kedua bahu lahir, menggeser tangan bawah kearah

perineum Ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku

sebelah bawah. Dengan menggunakan tangan atas untuk

menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah atas.

10. Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas

berlanjut ke punggung, bokong, tungkai dan kaki, pegang

kedua mata kaki (masukkan telunjuk diantara kaki dan

pegang masing-masing mata kaki) (masukkan telunjuk kaki

dan pegang masing-masing mata kaki dengan Ibu jari & jari-

jari lainnya)

Bayi lahir tanggal 21 – 03 – 2015 jam 11.45 WIB jenis

kelamin laki – laki.

11. Melakukan penilaian sepintas

Bayi segera menangis, menangis kuat, tonus otot baik, warna

kulit merah

12. Mengeringkan tubuh bayi dimulai dari muka, kepala dan

bagian tubuh lainnya. Mengganti handuk basah dengan

handuk yang kering dan membiarkan bayi diatas perut ibu.

13. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi

bayi dalam uterus.

14. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar

uterus berkontraksi dengan baik.


135

15. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin

10 unit IM di 1/3 paha atas bagian distal lateral.

16. Setelah 2 menit pasca persalinan, menjepi tali pusat dengan

klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat

kea rah distal dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal

dari klem pertama.

17. Dengan satu tangan, memegang tali pusat yang telah dijepit

dan melakukan pengugntingan tali pusat diantara 2 klem dan

kemudian mengikat tali pusat dengan benang DTT.

18. Meletakkan bayi tengkurap di dada ibu.

19. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang

topi di kepala bayi.

2) Kala III

Tanggal 21 Maret 2015 / Jam 11.45

S : Ibu merasa senang karena bayi sudah lahir, tapi perut masih

mules – mules.

O : K/U baik, Lahir spontan bayi Laki-laki, Jam 11.45, BB 3400

gram,, PB 50 cm, TFU setinggi pusat, His Baik, Palapasi tidak

ada janin kedua.

Terjadi semburan darah, tali pusat memanjang dan uterus

globuler.

A : Ny. S P40004 Kala III dengan Keadaan Umum ibu dan Bayi baik
136

P : sesuai dengan langkah Asuhan Persalinan Normal Langkah 34 -

41

1. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm

dari vulva.

2. Meletakkan satu tangan diatas kain pada perut Ibu, di tepi

atas simfisis, untuk mendeteksi kontraksi dan tangan lain

menegangkan tali pusat.

3. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat ke arah

bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus kearah

belakang atas (darso-kranial) secara hati-hati (untuk

mencegah inversio uteri).

4. Mengeluarkan plasenta dengan melakukan peregangan dan

dorongan dorso-kranial hingga plasenta terlepas, meminta Ibu

meneran. menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan

kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir. tali Pusat

bertambah panjang, memindahkan klem hingga berjarak

sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.

5. Saat plasenta muncul di introitus vagina, melahirkan plasenta

dengan kedua tangan, memegang dan memutar plasenta

hingga selaput ketuban terpilin kemudian melahirkan dan

menempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan.

Plasenta lahir spontan dan lengkap pada tanggal 21 – 03 –

2014 jam 11.55 WIB


137

6. Melakukan masase uterus, dengan telapak tangan di fundus

melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut

hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras).

7. Memeriksa kedua sisi plasenta baik bagian Ibu maupun Bayi

dan memastikan selaput ketuban lengkap dan utuh, kemudian

memasukkan plasenta kedalam tempat plasenta.

Selaput ketuban utuh, kotiledon lengkap.

8. Mengevaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan

perenium.

Tidak ada laserasi

3) Kala IV

Tanggal 21 Maret 2015 / Jam 12.15

S : Ibu merasa senang karena bayi dan ari – arinya telah lahir

O : K/U baik

Kesadaran : kompos metis

TTV : Nadi : 82 x /menit

Suhu : 36,4 C

RR : 19 x / menit

TFU : 2 jari bawah pusat

His : Baik

Perdarahan : normal, ± 100 ml

Lokea : Rubra

Laserasi : tidak ada laserasi


138

A : Ny. S P40004 Kala IV dengan Keadaan Umum ibu dan Bayi baik

P : sesuai dengan langkah Asuhan Persalinan Normal Langkah 42 –

58

1. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi

perdarahan pervaginam.

2. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada

ibu paling sedikit 1 jam.

3. Setelah satu jam, melakukan penimbangan / pengukuran bayi,

beri tetes mata antibiotic profilaksis dan vitamin K1 1 mg IM di

paha kiri anterolateral.

4. Setelah satu jam pemberian vitamin K1, memberikan suntikan

imuniasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral.

5. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan

pervaginam

Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan. Setiap 30

menit pada jam kedua pasca persalinan

6. Mengajari ibu cara melakukan massase uterus dan menilai

kontraksi.

7. Mengevaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.

8. Memeriksa nadi Ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15

menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30

menit selama jam kedua pasca persalinan. Memeriksa

temperatur tubuh Ibu sekali setiap jam selama 2 jam pertama PP.
139

9. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi

bernafas Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam

larutan klorin 0,5% untuk (10 menit). Cuci dan bilas peralatan

setelah didekontaminasi.

10. Membuang bahan-bahan terkontaminasi ke tempat sampah

yang sesuai.

11. Membersihkan Ibu dengan menggunakan air DTT, bersihkan

sisa cairan ketuban, lendir, dan darah. Membantu Ibu memakai

pakaian yang bersih dan kering.

12. Memastikan Ibu merasa nyaman, menganjurkan keluarga untuk

memberi Ibu minuman dan makanan yang diinginkannya

13. Mendekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%

14. Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5%

membalikkan bagian dalam keluar dan merendam dalam larutan

klorin 0,5% selama 10 menit.

15. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir

16. Melengkapi partograf. (lembar depan dan lembar belakang)

periksa tanda vital, TFU, UC, kandung kemih, perdarahan, dan

asuhan kala IV.


140

4) 6 Jam Post Partum

Tanggal 21 Maret 2015 / Jam 17.30 WIB

S : Ibu merasa perutnya masih mules-mules

O :

a. Ibu :

K/U baik

Kesadaran : kompos metis

TTV : TD : 120 / 80 mmHg.

Nadi : 88 x /menit

Suhu : 36,4 C

RR : 19 x / menit

TFU : 2 jari dibawah pusat

His : Baik

Perdarahan : normal ±100 ml

Lokea : Rubra

ASI : Belum keluar

BAB / BAK : - / +

A : Ny. S P40004 6 jam Post Partum dengan keadaan umum ibu dan

bayi baik.

P : 1. Mengajari ibu cari meneteki yang benar, ibu mengerti dan bisa

meneteki sendiri

2. Mengajari ibu cara perawatan tali pusat yang benar.

3. Memberi konseling tetang kebutuhan nutrisi ibu nifas


141

4. Memberikan terapi obat per oral :

a. Vitamin A

b. Etabion

c. Amoxilin

5. Memberitahu ibu tentang kunjungan rumah 3 hari lagi.

5) 3 Hari Post Partum

Tanggal 23 Maret 2015 / Jam 11.00 WIB

S : Ibu mengatakan keadaanya membaik, dan asi sudah mulai lancar.

Bayi sedikit kurang mau menyusu

O :

a. Ibu :

K/U baik

Kesadaran : kompos metis

TTV : TD : 110 / 70 mmHg.

Nadi : 88 x /menit

Suhu : 36,5 C

RR : 18 x / menit

TFU : Pertengahan antara simfisis dan pusat

His : Baik

Perdarahan : normal, 1 hari ganti 2 x pembalut

Lokea : Rubra

ASI : Lancar

BAB / BAK : - / +
142

b. Bayi :

K/U baik

Kesadaran : komposmetis

Nadi : 104 x /menit

Suhu : 36,7 0C

RR : 40 x/menit

Kulit terlihat agak kuning

Tali pusat basah, sedikit berbau dan ditutup kasa betadin.

A : Ny. S P40004 Hari ke 3 Post Partum dengan keadaan umum ibu dan

bayi baik.

P : 1. Mengevaluasi cara menyusui ibu

2. Memberi konseling tentang tanda bahaya pada bayi

3. Memberi konseling tentang cara perawatan tali pusat yang

benar.

3. Mengingatkan Ibu untuk kontrol ke Bidan pada minggu ke 2

6) Minggu ke -2 Post Partum

Tanggal 28 Maret 2015 / Jam 16.30 WIB

S : Ibu mengatakan keadaanya membaik, dan sudah bisa BAB serta

BAK.

O :

a. Ibu :

K/U baik

Kesadaran : kompos metis


143

TTV : TD : 110 / 70 mmHg.

Nadi : 80 x /menit

Suhu : 36,50 C

RR : 18 x / menit

TFU : Pertengahan antara simfisis dan pusat

His : Baik

Perdarahan : normal, 1 hari ganti 2 x pembalut

Lokea : serosa

ASI : Lancar

BAB / BAK : + / +

c. Bayi :

K/U baik

Kesadaran : komposmetis

Nadi : 122 x /menit

Suhu : 36,90C

RR : 40 x/menit

Tali pusat sudah lepas dan kering.

A : Ny. S P40004 Minggu ke -2 Post Partum dengan keadaan umum

ibu dan bayi baik.

P : 1. Mengevaluasi cara menyusui ibu

2. Memberikan konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi.

3. mengingatkan ibu untuk melakukan imunisasi secara rutin

sesuai jadwal.
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan tentang kesenjangan yang terjadi antara

konsep dasar tinjauan pustaka dan tinjauan kasus dalam penerapan Standar

Asuhan Kebidanan dengan judul “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Normal

Ny “S” GIVP30003 Usia Kehamilan 39 Minggu Kala I Fase Aktif dengan Massase

Counter Pressure di BPM Hj.Tutik Rif’atun Ni’mah S.ST,S.Psi, Desa Keboan

Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang”.

Pembahasann ini disusun dengan pendekatan standar asuhan kebidan yang

terdiri dari VI standar, yaitu Pengkajian Data, Merumuskan Diagnosa dan atau

Masalah Kebidanan, Perencanaan, Implementasi, Evaluasi dan Pencatatan Asuhan

Kebidanan.

4.1 Pengkajian Data

Pada tahap ini penulis melakukan pengkajian dan pengumpulan data

dasar baik pengkajian data secara subjektif mapun data secara objektif.

Data subjektif ini dilakukan dengan melakukan anamnesis kepada pasien

Ny.S maupun kepada keluarga pasien yang meliputi anamnesis identitas ibu,

data biologis, psikologis, sosial, ekonomi, dan beberapa riwayat kesehatan ibu.

Sehingga berdasarkan ananmenis yang dilakukan, didapatkan data pasian,

nama Ny. S usia 36 Tahun GIVP30003 dengan HPHT 25 – 06 – 2014 dan TP 01

– 04 – 2015 yang berarti Usia Kehamilan ibu saat ini yaitu 39 minggu Dengan

144
145

riwayat kehamilan ibu sekarang telah melakukan pemeriksaan sebanyak 10

kali selama kehamilan, tanpa adanya komplikasi apapun pada riwayat

kehamilan, persalinan, dan nifas lalu. Ibu mengeluh merasa perut kencang-

kencang tembus hingga pinggang sejak tanggal 21 Maret 2015 jam 02.00 WIB

yang disertai adanya pengeluaran cairan lendir darah dari jalan lahir. Dan ibu

merasa cemas juga khawatir dengan keadaannya dan keadaan bayinya.

Sedangkan data objektif didapatkan dengan melakukan beberapa

pemeriksaan yang terdiri dari, pemeriksaan umum, pemeriksaan fisik baik

dengan inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi, juga dilakukan pemeriksaan

dalam serta pemeriksaan penunjang. Sehingga didapatkan data paseien dengan

keadaan umum baik dan tanda – tanda vital sesuai batas normal yang meliputi

Tekanan Darah 120 / 80 mmHg, Nadi 82 x/menit, Pernapasan 21 x/menit,

Suhu 36.6 0C, BB saat hamil 66 kg, BB sebelum hamil 53 kg, TB 160 cm,

LILA 25,5 cm, KSPR 10, Skala Nyeri 6. Pada pemeriksaan Abdomen

didapatkan hasil Leopold I teraba bokong dengan TFU pertengahan px-pusat,

Leopold II PUKI, Leopold III kepala janin sudah masuk PAP, Leopold IV

divergen 3/5 sedangkan TFU menurut Mc. Donalad yaitu 31 cm dengan

tafsiran berat badan jamin 3100 gram dan DJJ 145x/menit. Hal ini ditunjang

dengan dilakukannya pemeriksaan dalam dengan hasil pembukaan 5 cm,

efficement 50 %, ketuban masih utuh, presentasi belakang kepala, dominator

ubun –ubun kecil, tidak ada molase tidak teraba bagian terkecil janin, Hodge

II dan terjadi penurunan kepala janin sebesar 3/5.


146

Secara teori berdasarkan konsep standar asuhan kebidanan Usia ibu

bersalin, normalnya yaitu 20 – 35 tahun. Dimana pemeriksaan kehamilan

minimal menurut WHO dalam Buku Saku Asuhan Persalinan Normal yang

harus dilakukan oleh setiap ibu hamil adalah 4 kali selama kehamilannya.

Menurut teori dari buku JNPK – KR, 2007 halaman 37 ibu bersalin dikatakan

normal apabila prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37

minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai ( inpartu) sejak

uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan

menipis) dan berakhir dengan lahirna plasenta secara lengkap. Adapun tanda –

tanda ibu sudah masuk dalam proses persalinan yaitu terjadinya his persalinan

yang ditandai dengan Pinggang terasa sakit menjalar kedepan dengan sifat his

teratur, interval makin pendek, dan kekuatan makin besar. Adanya

pengeluaran lendir dan darah sebagai akibat dari adanya pendataran dan

pembukaan serviks. Dan juga terlihat pengeluaran cairan ketuban. (Ari, 2010 :

4-7).

Menurut Zakiah salah satu faktor penting dalam proses persalinan yaitu

Kejiwaan (Psyche) yang merupakan keadaan fisiologis sebagai adapatsai

psikologis persalinan yang terlihat dari adanya ketakutan dan kecemasan ibu

bersalin. Berdasarkan skala nyeri Bourbonnais. Pasien dikatakan memiliki

skala nyeri 4 – 6 yang tergolong nyeri sedang apabila kriteria objektif klien

mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri dan dapat

mendeskripsikan nyeri, klien dapat mengikuti perintah dengan baik dan

responsive terhadap tindakan manual.


147

Dan berdasarkan skor poedji rochjati dalam hal perencanaan persalinan

aman di buku KIA seharusnya ibu hamil dengan jumlah skor 6 – 10 termasuk

dalam kehamilan dengan resiko tinggi sehingga perlu dilakukan rujukan ke

polindes, puskesmas maupun rumah sakit yang harus ditolong oleh bidan

denga pendampingan aktif dari dokter. Dan menurut teori pemeriksaan

Lepolod dikatakan normal apabila pada Leopold I teraba bokong, Leopold II

teraba Puka / Puki, Leopold III teraba Kepala, dan Leopold IV teraba divergen

5/5 – 0/5 dengan TFU sesuai Usia kehamilan dan DJJ normal 120 – 160 x /

menit.

Sehingga dalam hal ini hanya ada beberapa kesenjangan yang terlihat

antara landasan teori dan fakta kasus yang terjadi, pertama yaitu berkenaan

dengan usia ibu bersalin yang lebih dari 35 tahun yang dapat meningkatkan

adanya resiko komplikasi dalam kehamilan dan proses persalinan. Kedua yaitu

kesenjangan penilaian KSPR dengan penyelesaian tindakannya yang

seharusnya dilakukan rujukan ke puskesmas ataupun rumah sakit terkait.

Kesenjangan yang terjadi ini dapat mengakibatkan terjadinya penyulit yang

tak terduga saat proses persalinan. Dan resiko terjadinya angka kematian ibu

dan bayi pun lebih tinggi daripada ibu hamil dengan skor 0 – 6 . Dalam hal ini

sebenarnya bidan sudah memberikan konseling tentang keamanan proses

persalinan yang sebaikanya harus dilakukan di puskesmas atau dirumah sakit

dengan pemantauan dokter, namun karena pasien dan keluarga memiliki rasa

kepercayaan yang tinggi terhadap kualitas pelayanan bidan, maka pasien pun

tetap memilih untuk melahirkan di rumah bidan. Sehingga bidan tetap


148

melakukan pertolongan persalinan normal dengan pemantauan ketat. Namun

untuk status pemeriksaan kehamilan, kesesuaian usia kehamilan dan keluhan

yang dirasakan oleh Ny.S dan hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan oleh

penulis semua sudah sesuai dengan teori yang dipaparkan. Dimana keluhan

nyeri perut tembus hingga pinggang, his semakin sering, dan adanya

pembukaan serviks menandakan pasien dalam tahap inpartu.

4.2 Merumuskan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan

Dalam merumuskan diagnosa dan atau masalah kebidanan ini penulis

melakukan analisa data yang telah diperoleh pada hasil pengkajian,

menginterpretasinya secara akurat dan logis sesuai dengan nomenklatur

kebidanan dan kondisi klien yang dapat diselesaikan dengan tindakan mandiri,

kolaborasi maupun rujukan.

Dalam hal ini penulis mengambil diagnosa GIVP30003 UK 39 Minggu, Aterm,

Tunggal, Hidup, Intra Uteri, Letak Kepala, Kesan jalan lahir normal, Inpartu

Kala I Fase Aktif dengan Keadaan Umum Ibu dan Janin Baik yang didukung

dengan beberapa data objektif seperti yang telah disampaikan pada standar II.

Dengan masalah Ibu merasa cemas dan khawatir dengan keadaanya dan

bayinya. Sehingga Ibu membutuhkan Rasa nyaman, Asuhan sayang ibu yang

meliputi Dukungan emosional dan mobilisasi, Observasi TTV, Observasi

kemajuan persalinan dan Persiapan persalinan.

Berdasarkan teori menurut buku JNPK-KR (2008) tanda-tanda inpartu yaitu,

penipisan dan pembukaan serviks, kontraksi uterus yang mengakibatkan


149

perubahan pada serviks ( frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit), cairan

lendir bercampur darah ( bloody show) melalui vagina.

Menurut Tsokronegoro, 2009 kala I fase aktif adalah kala dimana serviks

membuka dari 4 sampai terjadi pembukaan 10 cm. Fase aktif dibagi dalam 3

fase yaitu fase akselerasi dalam waktu 2 jam, pembukaan 3 cm tadi menjadi 4

cm dan fase dilatasi maximal dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung

sangat cepat dari 4 menjadi 9 cm dan fase deselerasi pembukaan menjadi

lambat kembali dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap 10

cm. Kala I ini selesai apabila pembukaan serviks uteri telah lengkap.

Dan Ny.S membutuhkan rasa nyaman untuk mengurangi kecemasan akibat

rasa sakit yang dirasakannya ibu bersalin mmbutuhkan asuhan kasih sayang

dan pengalihan rasa nyeri yang dirasaknnya.

Sehingga dengan demikian diagnosa atau masalah aktual yang diidentifikasi

pada kasus Ny.S dalam persalinan normal ini tidak meunjukkan adanya

kesenjangan dengan landasan teori. Karena sudah dipaparkan secara jelas

bahwa Ny.S sudah mengalami tanda-tanda inpartu sebagimana yang telah

tersebut di landasan teori, dan merasa cemas atas proses persalinan yang akan

dia alami. Sehingga bidan harus memberikan asuhan yang efektif dan

komprehensif untuk bisa memberikan rasa nyaman, mengurangi kecemasan

dan meminimalisir terjadinya partus lama.


150

4.3 Perencanaan

Dari diagnosa dan atau masalah yang ada maka penulis menysun rencana

asuhan kebidanaan untuk mengatasi masalah yang dialami oleh klien dengan

menetapkan tujuan dan kriteria yang ingin dicapai , penetapan tujuan ini

diharapkan setelah memberikan asuhan kebidanan selama 4-8 jam dalam

persalinan ini dapat berlangsung tidak lebih dari ± 18 jam, secara spontan, ibu

tidak cemas dan rasa nyeri yang dirsakan ibu berkurang. Pada studi kasus

Ny.S dengan persalinan normal, rencana asuhan yang diberikan adalah sebagai

berikut yaitu Lakukan pendekatan kepada Klien dan keluarga, Lakukan cuci

tangan sebelum melakukan pemeriksaan, Beritahu ibu dan keluarga hasil

pemeriksaan yang telah dilakukan, Pantau tekanan darah, suhu, denyut

jantung, nadi, his, pembukaan, penurunan dan cairan ketuban, Melakukan

asuhan sayang ibu, Pijat punggung ibu secara perlahan dengan metode

Counter Pressure dan Kolaborasi dengan Tim Medis.

Dalam hal ini rencana asuhan yang dilakukan oleh penulis diatas tidak terdapat

kesenjangan antara prencanaan berdasarkan tinjauan pustaka dengan tinjauan

kasus karena penulis melakukan intervensi asuhan kebidanan yang sesuai

berdasarkan tinjauan teori yang sudah direncanakan. Sehingga penulis tidak

menemukan kesulitan dalam hal melakukan perencanaan yang komprehensif

yang sesuai dengan tujuan untuk menolong proses persalinan normal secara

aman dan memberikan rasa nyaman pada pasien.


151

4.4 Implementasi

Dalam implementasi ini penulis melakukan semua asuhan sesuai dengan

intervensi atau perencanaan yang sudah direncanakan pada standar III, namun

untuk perlakukan masase counter pressure nya, penulis melakukan pijatan di

daerah sakrum ibu dengan tekanan kuat dan gerakan melingkar setiap saat

kontraksi itu datang. Padahal secara teori, menurut Padila, 2014 Teknik pijatan

Counter Pressure yaitu pemijatan kuat dengan cara meletakkan tumit tangan

atau juga menggunakan bola tenis, tekanan dapat diberikan dalam gerakan

lurus atau lingkaran kecil selama 20 menit setiap jam di fase aktif. (Padila,

2014 :167)

Sehingga dalam implementasi ini penulis menemukan kesenjangan dalam

perlakuam memberikan rasa nyaman paada pasien yang dilakukan dengan

masase counter pressure, dimana penulis tidak memberikan asuhan sesuai

dengan teori yang disampaikan Padila untuk melakukan masase setiap 1 jam

sekali selama 20 menit, namun penulis melakukan masase setiap ada his. Hal

ini berkenaan dengan keefetifitasan pemberian masase untuk memberikan rasa

nyaman yang lebih kepada pasien. Karena berdasarkan penilaian dari data

tabel yang penulis lakukan, terlihat adanya perbedaan skala nyeri yang cukup

signifikan dari pemberian masase setiap 1 jam sekali dengan pemberian

masase setiap ada his. Dimana saat dilakukan masase setiap satu jam sekali

skala nyeri tidak berubah, namun saat dilakukan masase di setiap ada his, ibu

merasa lebih nyaman dan skala nyeri berubah.


152

4.5 Evaluasi

Evaluasi pada standar ini adalah memberi nilai terhdap hasil intervensi yang

dilakukan berdasarkan tujuan dan kriteria yang telah ditentukan sebelumya.

Teknik evaluasi dilakukan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik yang meliputi

inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi untuk memproleh data hasil

kemajuan pasien.

Dalam hal ini. Setelah dilakukan asuhan kebidanan terutama dalam pemberian

masase counter pressure pada Ny.S, skala dan intensitas nyeri yang dirasakan

Ny.S menurun. Penilaian ini dilakukan dengan menghitung rata-rata skala

nyeri setelah dilakukannya tindakan counter pressure selama ada his.

Walaupun dalam penghitungan beberapa waktu skala nyeri yang dirasakan ibu

juga kadang mengalami kenaikan, itu merupakan kenaikan yang wajar yang

disebabkan karena adanya kekuatan his yang semakin kuat seiring

bertambahnya waktu. Selain menurunnya skala nyeri, Ny.S juga mengalami

pembukaan lengkap setelah 2 jam perlakuan masase pada Kala I fase aktif.

Disesuakan dengan Teori gate control yang mendasari teknik Counter

Pressure untuk managemen nyeri, terutama pada nyeri persalinan.

Berdasarkan teori ini pengiriman nyeri dapat dimodifikasi atau di blok dengan

stimulasi pusat. Selama persalinan, perjalanan impuls nyeri dari uterus

sepanjang serabut neural kecil ( serabut C) pada bagian ascending ke

substansia gelatinosa pada bagian columna spinal. Sel kemudian

menghantarkan rangsangan nyeri ke otak. Stimulasi taktil seperti masase dapat

menghasilkan pesan yang berlawanan yang menghantarkan sepanjang serabut


153

neural terbesar dan tercepat ( serabut delta A). pesan yang berlawanan ini

menutup gerbang masuk “gate” di substansia gelatinosa sehingga memblok

pesan nyeri.

Dan seperti yang kita ketahui berdasarkann teori kala I selesai apabila

pembukaan serviks uteri telah lengkap. Pada primigravida kala I berlangsung

kira-kira 12 jam sedang pada multigravida 8 jam. Pembukaan primigravida 1

cm tiap jam dan multigravida 2 cm tiap jam.

Sehingga dalam hal ini tidak terdapat adanya kesenjangan antara teori dan

tinjauan kasus yang ada. Dimana menurut teori gate kontrol, counter pressure

dapat memberikan rasa nyaman pada ibu bersalin dan itu terbukti dari adanya

evaluasi dari tabel penilaian skala nyeri yang sudah penulis buat. Selain itu,

proses dan kesesuaian pembukaan uterus dari Kala I fase akif sampai

berakhirnya kala I tersebut juga sudah sesuai dengan teori, hal ini dibuktikan

dengan pembukaan yang terjadi pada Ny.S hanya membutuhkan waktu 2 jam

dari pembukaan 5 cm untuk bisa mencapai menuju pembukaan 10 cm.

Padahal seperti yang kita ketahui pada multigravida pembukaan terjadi 2 cm

setiap 1 jam sekali. Ini sudah menandakan bahwa proses pembukaan yang

terjadi pada Ny.S sudah lebih cepat dari teori, mungkin saja akibat dari masase

tersebut.
154

4.6 Pencatatan Asuhan Kebidanan

Adapun pada pencatatan asuhan kebidanan ditulis dengan menggunakan

format SOAP yang sesuai dengan teori standar asuan kebidnan.

1) Kala II

Pada tanggal 21 – 03 -015 jam 11.30 penulis mengambil diagnosa Ny.S

dengan Kala II karena sudah ada pembukaan lengkap dan adanya

dorongan menrean, tekanan pada anus, perenium menonjol , dan vulva

membuka. Sehingga penulis melakukan asuhan sesuai dengan langkah

Asuhan Persalinan Normal Langkah 15 – 33.

Menurut Tsokronegoro, 2009 Kala II meruapakan kala pengeluaran karena

berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan janin didorong keluar sampai

lahir. Kala ini berlangsung 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada

multipara. Batasan persalinan kala II yaitu dimulai saat pembukaan serviks

lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya seluruh tubuh janin.

Kontraksi pada kala II ini biasanya sangat kuat sehingga kemampuan ibu

untuk menggunakan otot-otot abdomen dan posisi presentasi

mempengaruhi durasi kala II. Dengan gejala utama His semakin kuat

dengan interval 2 – 3 menit, dengan durasi 50 – 100 detik, ketuban pecah

ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak, serta kepala lahir

seluruhnya dan diikuti oleh putaran paksi luar, yaitu penyesuaian kepala

pada pungung.

Sehingga tidak ada kesenjangan anatara penegakan diagnose, dan asuhan

yang diberikan pada kala II ini dengan landasan teori yang sudah ada.
155

Dibuktikan dengan proses kelahiran yang sesuai, tidak lebih dari 1 jam.

Karena Ny.S hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk melahirkan

bayinya.

2) Kala III

Pada tanggal 21 Maret 2015 / Jam 11.45 penulis mengambil diagnose

Ny.S dengan Kala III dengan keadaan umum baik yang ditandai dengan

ibu merasa perut mules – mules, keluar darah yang meyembur dari jalan

lahir, dan uterus globuler. Sehingga penulis melakukan asuhan persalinan

normal langkah 34 – 41.

Menurut Ari, 2010 Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran

plasenta. Setelah kala II yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit,

kontraksi uterus berhenti sekitar 5 – 10 menit. Dengan lahirnya bayi dan

proses retraksi uterus, maka plasenta lepas dari lapisan Nitabusch.

Lepasnya plasenta sudah dapat diperkirakan dengan memperhatikan tanda-

tanda Uterus menjadi berbentuk bundar, Uterus terdorong ke atas, Tali

pusat bertambah panjang, dan Terjadinya perdarahan.

Sehingga sudah jelas tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus yang

terjadi dalam Kala III ini. Karena Plasenta lahir lengkap setelah 10 menit

bayi lahir.

3) Kala IV

Pada tanggal 21 Maret 2015 / Jam 12.15 penulis mendiagnosa Ny.S

dengan kala IV karena his semakin baik, TFU 2 jari bawah pusat,
156

perdarahan normal tanpa adanya laserasi. Sehingga penulis melakukan

asuhan peralinan normal yang sesuai. Langkah 42 – 58.

Menurut Ari, 2010 Kala IV merupakan kala observasi yang dilakukan

mulai lahirnya plasenta selama 1 - 2 jam, hal ini dilakukan untuk

menghindari terjadinya perdarahan postpartum. Observasi yang dilakukan

melihat tingkat kesadaran penderita, pemeriksaan tanda-tanda vital

(tekanan darah, nadi dan pernapasan), kontraksi uterus dan terjadinya

pendarahan. Perdarahan dianggap normal bila jumlahnya tidak melebihi

400 – 500 cc.

4) 6 Jam Post Partum

Pada Tanggal 21 Maret 2015 / Jam 17.30 WIB ibu merasa perutnya masih

mules-mules dengan keadaan umum baik

Sehingga tidak ada kesenjagan antara teori dan suhan yang diberikan.

5) 3 Hari Post Partum

Pada Tanggal 23 Maret 2015 / Jam 11.00 WIB Ibu mengatakan keadaanya

membaik, dan asi sudah mulai lancar. Sehingga tidak ada kesenjangan

antara teori dan fakta kasus yang terjadi.

6) Minggu ke -2 Post Partum

Tanggal 28 Maret 2015 / Jam 16.30 WIB Ibu mengatakan keadaanya

membaik, dan sudah bisa BAB serta BAK. Sehingga tidak ada

kesenjangan antara teori dan fakta yang terjadi.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin Normal dengan Masase

Counter Pressure yang penulis lakukan paada tanggal 21 Maret 2015 dengan

menggunakan pedoman standar asuhan kebidanan, didapatkan data subjektif

biodata pasien, nama Ny. S usia 36 Tahun GIVP30003 dengan HPHT 25 – 06 –

2014 dan TP 01 – 04 – 2015 yang berarti Usia Kehamilan ibu saat ini yaitu 39

minggu Dengan riwayat kehamilan ibu sekarang telah melakukan pemeriksaan

sebanyak 10 kali selama kehamilan, tanpa adanya komplikasi apapun pada

riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas lalu. Ibu mengeluh merasa perut

kencang-kencang tembus hingga pinggang sejak tanggal 21 Maret 2015 jam

02.00 WIB yang disertai adanya pengeluaran cairan lendir darah dari jalan

lahir. Dan ibu merasa cemas juga khawatir dengan keadaannya dan keadaan

bayinya.

Dan didapatkan data objektif paseien dengan keadaan umum baik dan

tanda – tanda vital sesuai batas normal yang meliputi Tekanan Darah 120 / 80

mmHg, Nadi 82 x/menit, Pernapasan 21 x/menit, Suhu 36.6 0C, BB saat hamil

66 kg, BB sebelum hamil 53 kg, TB 160 cm, LILA 25,5 cm, KSPR 10, Skala

Nyeri 6. Pada pemeriksaan Abdomen didapatkan hasil Leopold I teraba

bokong dengan TFU pertengahan px-pusat, Leopold II PUKI, Leopold III

kepala janin sudah masuk PAP, Leopold IV divergen 3/5 sedangkan TFU

157
158

menurut Mc. Donalad yaitu 31 cm dengan tafsiran berat badan jamin 3100

gram dan DJJ 145x/menit. Hal ini ditunjang dengan dilakukannya

pemeriksaan dalam dengan hasil pembukaan 5 cm, efficement 50 %, ketuban

masih utuh, presentasi belakang kepala, dominator ubun –ubun kecil, tidak

ada molase tidak teraba bagian terkecil janin, Hodge II dan terjadi penurunan

kepala janin sebesar 3/5.

Sehingga dalam hal ini penulis mengambil diagnosa GIVP30003 UK 39

Minggu, Aterm, Tunggal, Hidup, Intra Uteri, Letak Kepala, Kesan jalan lahir

normal, Inpartu Kala I Fase Aktif dengan Keadaan Umum Ibu dan Janin Baik

yang didukung dengan beberapa data objektif seperti yang telah disampaikan

pada standar II. Dengan masalah Ibu merasa cemas dan khawatir dengan

keadaanya dan bayinya. Sehingga Ibu membutuhkan Rasa nyaman, Asuhan

sayang ibu yang meliputi Dukungan emosional dan mobilisasi, Observasi

TTV, Observasi kemajuan persalinan dan Persiapan persalinan.

Dari diagnosa dan atau masalah yang ada maka penulis menysun rencana

asuhan kebidanaan untuk mengatasi masalah yang dialami oleh klien dengan

menetapkan tujuan dan kriteria yang ingin dicapai , penetapan tujuan ini

diharapkan setelah memberikan asuhan kebidanan selama 4-8 jam dalam

persalinan ini dapat berlangsung tidak lebih dari ± 18 jam, secara spontan, ibu

tidak cemas dan rasa nyeri yang dirsakan ibu berkurang.

Sehingga pada studi kasus Ny.S dengan persalinan normal ini

implementasi utama yang penulis tekankan disini adalah pemberian Masase

Counter Pressure yang dilakukan setiap ada his pada saat proses persalinan
159

berlangsung dengan harapan masase yang diberikan dapat membantu

memberikan rasa nyaman, mengontrol nyeri, menghilangkan stress dan

ketakutan, sehingga ibu merasa rilex dan proses persalinannya pun berjalan

lebih cepat dan lancer.

Evaluasinya yaitu Ny.S mengalami penurunan skala nyeri yang cukup

signifikan saat diberikan masase counter pressure, ny.S tampak rilex dan

santai, serta pembukaan yang terjadi pada Ny.S hanya membutuhkan waktu 2

jam dari pembukaan 5 cm untuk bisa mencapai menuju pembukaan 10 cm.

Padahal seperti yang kita ketahui pada multigravida pembukaan terjadi 2 cm

setiap 1 jam sekali. Ini sudah menandakan bahwa proses persalinan /

pembukaan yang terjadi pada Ny.S sudah lebih cepat dari teori, mungkin saja

akibat dari masase tersebut.

Dan dalam catatan asuhan kebidanan yang dilakukan mulai dari 6 jam post

partum sampai minggu ke 2 post partum dapat berjalan dengan normal dan

baik.

5.2 Saran

Sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan penulis

menyampaikan pemikiran sebagai berikut :

5.1.1 Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan memberikan pendidikan yang lebih intensif kepada mahasiswa

tentang masase Counter Pressure untuk bisa menambah keterampilan

mahasiswa kebidanan dalam memberikan rasa nyaman pada ibu bersalin.


160

5.1.2 Bagi penulis

Penulis selanjutnya diharapkan penulisan ini dapat dijadikan sebagai

masukan dalam memberikan asuhan kebidanan dan sebagai referensi bagi

penulis lain.

5.1.3 Bagi petugas kesehatan

a. Petugas memberikan asuhan yang komperhensif dan kontineu

secara cepat,aman dan tepat dalam pengontrolan nyeri ibu

bersalin.

b. Petugas memberikan konseling kepada ibu atau keluarga

sehingga ibu/ keluarga mau jika harus diberikan intervensi

berupa masase counter pressure.

c. Petugas mampu melaksanakan masase counter pressure dengan

baik dan benar sesuai teori yang sudah ada.

5.1.4 Bagi klien

Klien dan keluarga mau untuk diberikan masase counter pressure

dalam upaya pengurangan nyeri yang klien rasakan

5.1.5 Bagi Institusi pelayanan

Bagi institusi pelayanan agar dapat memberikan pelayanan yang

optimal, dan selalu memperhatikan standart Asuhan Kebidanan sehingga

dapat mencegah terjadinya infeksi sekunder ataupun infeksi nosokomial

yang memperburuk keadaan klien.


DAFTAR PUSTAKA

Aprillia Yesie. 2011. Siapa Bilang Melahirkan Itu Sakit. Yogyakarta : ANDI

Danuatmaja, B dan Mila M. 2008. Persalinan Normal Tanpa Rasa Sakit.4thed.


Jakarta : EGC.

Dwi Ambar, 2010. Buku Ajar Asuhan Kebidnaan Persalinan Normal. Jakarta :
EGC

JNPK-KR. 2007. Buku Acuan Pelatihan Asuhan Persalinan Normal, Ed.3


(Revisi). Jakarta

Manuaba. 2007. Ilmu Kebidanan Penyakit kandungan dan Keluarga Berencana


untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC

Marmi. 2012. Intranatal Care. Yogyakarta : Pustaka pelajar

Maryunani, Anik. 2010. Nyeri dalam Persalinan “Teknik dan Cara


Penanganannya”. Jakarta : Trans Info Media.

Mulati.T.S. 2007. Perbedaan antara Pengontrol Nyeri Pinggang Persalinan


dengan Teknik Superficial Heat-Cold dan Teknik Counterpressure
terhadap Efektifitas Pengurangan Nyeri Pingang Kala I Persalinan Studi
di RB wilayah Klaten.. Http
://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/34076976.pdf. Diakses 23 Januari
2014.

Nolan, Mery. 2010. Kelas Bersalin. Jogjakarta : Golden Book

Nurasiah ai dkk. 2012. Asuhan Persalinan Normal Bagi Bidan. Bandung : Refika
Aditama

Padila, 2014. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Yogyakarta :Nuha medika

Rahayu Sri, dkk. 2009. Buku Ajar Bidan Myles. Jakarta : EGC.

Rohani , dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa Persalinan. Jakarta : Salemba
Medika.

Sulistyawati Ari, dkk. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Jakarta :
Salemba Medika.

160
161

Varney H. 2007. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC

Zakiah dkk.2013. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan (Bd.302). Jombang :


Unipdu press
DOKUMENTASI

No. Gambar Keterangan


1. Melakukan konseling
pada keluarga dan
meminta inform
consent

Melakukan Counter
Pressure dengan ibu
berbaring miring kiri
Melakukan Counter
Pressure dengan ibu
Jongkok

Melakukan Counter
Pressure dengan ibu
berdiri
Kunjungan Rumah 3
hari PP
Memeriksa keadaan
ibu

Kunjungan rumah 3
hari PP memeriksa
kondisi bayi

Anda mungkin juga menyukai