Anda di halaman 1dari 67

STUDI KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.R DENGAN DIAGNOSA MEDIS


TONSILITIS DI RUANG ANAK UPT PUSKESMAS PAHANDUT
PALANGKA RAYA

OLEH:
KELOMPOK II

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI NERS
2018
SEMINAR KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.R DENGAN DIAGNOSA MEDIS
TONSILITIS DI RUANG ANAK UPT PUSKESMAS PAHANDUT
PALANGKA RAYA

Dibuat Sebagai Syarat Dalam Menempuh Seminar Kasus


Program Studi Ners Stases Keperawatan Anak
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Eka Harap Palangkaraya

OLEH:
KELOMPOK II

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM SUDI NERS
2019
PERNYATAAN ORISINALITAS

Kami yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama Kelompok : Kelompok II
Program Studi : Profesi Ners Angkatan VI
Judul : Asuhan Keperawatan Pada An. R dengan Diagnosa Medis
Tonsilitis Di Ruang Anak UPT Puskesmas Pahandut
Palangka Raya.

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Asuhan Keperawatan Pada An.R


ini merupakan hasil karya kami sendiri dan bukan plagiat, begitu pula hal yang
terkait didalamnya baik mengenai isinya, sumber yang saya kutip, maupun teknik
didalam pembuatan dan penyusunan laporan ini.
Pernyataan ini akan kami pertanggung jawabkan sepenuhnya, apabila di
kemudian hari bukti bahwa Asuhan Keperawatan Pada An.R ini bukan hasil karya
kami atau plagiat, maka kami menerima sanksi atas perbuatan kami tersebut
berdasarkan peraturan yang berlaku.

Palangka Raya, Juni 2019

Kelompok II
HALAMAN PENGESAHAN

Asuhan Keperawatan ini disusun oleh:

Kami yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama Kelompok : Kelompok II


Program Studi : Profesi Ners Angkatan VI
Judul : Asuhan Keperawatan Pada An. R dengan Diagnosa Medis
Tonsilitis Di Ruang Anak UPT Puskesmas Pahandut
Palangka Raya.

Telah melaksanakan ujian pratik sebagai persyaratan untuk menempuh


Pratik Klinik Program Studi Ners Stase Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Eka Harap Palangka Raya.

PENGUJI PRATIK

Penguji Akademik Penguji Klinik

Henry Wiyono, Ners, M.Kep. Hellyana, S.Kep., Ners

Ketua Program Studi Ners

Meilitha Carolina, Ners, M.Kep


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat karunia dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan
“Asuhan Keperawatan pada An.R dengan Diagnosa Medis Tonsilitis Di
Ruang Anak UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya” sebagai persyaratan
dalam menempuh ujian Pratik Klinik Program Studi Ners Stase Keperawatan
Anak di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yayasan Eka Harap Palangka Raya.
Penulisan Asuhan Keperawatan ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak baik materi, moral dan spiritual. Oleh karena itu, dalam
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1) H. Riduan, SKM., M.M.Kes selaku kepala UPT Puskesmas Palangka Raya
yang telah menyediakan tempat bagi pelaksanaan Pratik Keperawatan Dasar
Profesi Program Studi Ners STIKes Eka Harap Palangka Raya.
2) Maria Adelheid Ensia, S.Pd., M.Kes. selaku Ketua STIKes Eka Harap
Palangka Raya.
3) Meilitha Carolina, Ners, M.Kep. selaku Ketua Program Studi Ners STIKes Eka
Harap Palangka Raya
4) Henry Wiyono Ners, M.Kep. selaku pembimbing akademik yang telah
memberikan dorongan, arahan dan pemikiran serta penuh kesabaran
membimbing penulis dalam menyelasikan laporan asuhan keperawatan ini.
5) Hellyana S.Kep., Ners selaku pembimbing lahan (CI) yang telah membimbing
dan memberikan saran-saran.
6) Kakak-kakak yang bertugas di UPT Puskesmas Pahandut yang telah
memberikan bimbingan, masukan dan saran dalam pembuatan asuhan
keperawatan.
7) An.R dan keluarga yang mau bekerjasama dalam memberikan informasi dan
data-data yan diperlukan.
8) Orang tua yang selalu memberi motivasi, doa dan dukungan moril dan materil
kepada penulis.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan studi kasus ini sangat jauh
dari sempurna, maka dengan ini penulis sangat menghargai apabila ada kritik dan
saran dari berbagai pihak.
Akhir kata, semoga Penulisan Studi Kasus ini dapat berguna bagi
pengembangan Ilmu Keperawatan khususnya dalam riset keperawatan dan
semoga Tuhan YME senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kita
semua, Amin.

Palangka Raya, Juni 2019

Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tonsilitis adalah radang yang terjadi pada tonsil palatina dan dapat
mengenai semua peringkat umur terutamanya anak-anak. Infeksi tonsilitis dapat
menyebar melalui udara, tangan dan ciuman. Tonsilitis terbagi dua berdasarkan
waktu berlangsungnya penyakit, yaitu tonsilitis akut pada keluhan penyakit yang
berlangsung kurang dari tiga minggu dan tonsilitis kronis pada keluhan penyakit
yang berlangsung lebih dari tiga bulan ataupun menetap. Faktor risiko terjadinya
tonsilitis kronis adalah akibat dari pajanan menahun terhadap asap rokok, tidak
menjaga kebersihan mulut, kelelahan, perubahan cuaca ataupun pengobatan
tonsilitis akut yang tidak tuntas.
Pada penelitian di Rusia didapatkan 335 anak yang berusia 1-15 tahun
menderita penyakit tonsilitis kronis manakala penelitian di India didapatkan
kelompok usia 5-14 tahun lebih sering menderita tonsilitis kronis dan
mayoritas terjadi pada anak perempuan. Berdasarkan data epidemiologi tujuh
provinsi di Indonesia pada tahun 2012, tonsillitis kronis menduduki tangga yang
pertama dengan prevalensi sebesar 3.8% dan diikuti nasofaringitis akut sebesar
4.6%. Kajian terdahulu mendapatkan 190-230 per 1000 penduduk menderita
penyakit pada telinga, hidung dan tenggorok dan sebahagian besarnya adalah
tonsillitis kronis sebesar 38.4%.
Tonsilektomi sering dianjurkan pada pasien yang menderita tonsilitis
kronis, tonsilitis akut dan tonsilitis rekuren. Pasien yang menjalani tonsilektomi
akan diangkat tonsilnya dan mereka tidak akan mengalami tonsilitis lagi namun
mereka masih terpapar kepada risiko untuk menderita faringitis ataupun nyeri
tenggorok. Berdasarkan kriteria Paradise, pasien yang
menderita nyeri tenggorok sekurang-kurangnya tujuh episode di tahun
sebelumnya, tanpa menilai keberhasilan pengobatan sebelumnya, dianjurkan
untuk menjalani operasi tonsilektomi. Umumnya, pasien yang menderita episode
tonsilitis sebanyak empat atau lima kali setahun sudah sangat dianjurkan untuk
operasi tonsilektomi.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah pada kasus Tonsilitis
yakni sebagai berikut: Bagaimana asuhan keperawatan pada An. R dengan
diagnosa medis Tonsilitis di Ruang Anak UPT Puskesmas Pahandut Kota
Palangka Raya?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penyusunan dan penulisan laporan studi kasus dapat dibagi menjadi
tujuan umum dan tujuan khusus.
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penyususnan dan penulisan studi kasus ini adalah agar
penulis mampu menggambarkan asuhan keperawatan secara komprehensif yang
meliputi biopsikososial dan spiritual pada pasien dengan Diare dengan
menggunakan proses keperawatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1) Mampu melakukan pengkajian keperawatan pada pasien An. R dengan
Tonsilitis di Ruang Anak UPT Puskesmas Pahandut Kota Palangka Raya.
2) Mampu menentukan masalah keperawatan pada pasien An. R dengan
Tonsilitis di Ruang Anak UPT Puskesmas Pahandut Kota Palangka Raya.
3) Mampu merencanakan asuhan keperawatan pada pasien An. R dengan
Tonsilitis di Ruang Anak UPT Puskesmas Pahandut Kota Palangka Raya.
4) Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien An. R dengan
Tonsilitis dengan Diare di Ruang Anak UPT Puskesmas Pahandut Kota
Palangka Raya.
5) Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada pasien An. R dengan
Tonsilitis di Ruang Anak UPT Puskesmas Pahandut Kota Palangka Raya.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Teoritis
Dengan adanya penulisan studi kasus ini diharapkan dapat menambah ilmu
pengetahuan dan memperkuat teori tentang asuhan keperawatan dengan Tonsilitis.
1.4.2 Praktis
1.4.2.1 Bagi Institusi
Sebagai tolak ukur kemampuan mahasiswa dalam penguasaan terhadap ilmu
keperawatan, proses keperawatan dan pendokumentasian proses keperawatan
sehingga dapat memberikan umpan balik terhadap efektivitas pengajaran dan
bimbingan yang telah diberikan dan diterapkan untuk kemajuan dimasa
mendatang.
1.4.2.2 Bagi Lahan Pratik
Menyediakan kerangka berfikir secara ilmiah yang bermanfaat bagi rumah
sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan penatalaksanaan asuhan
keperawatan pada pasien dengan Tonsilitis. Serta menyediakan referensi bagi
perawat di Ruang Anak UPT Puskesmas Pahandut Kota Palangka Raya dalam
melakukan asuhan keperawatan secara komprehensif.
1.4.2.3 Bagi Penulis
Sebagai salah satu pengalaman berharga dan nyata yang didapat dari
lapangan praktik yang dilakukan sesuai dengan ilmu yang didapatkan serta
sebagai acuan dalam menghadapi kasus yang sama sehingga dapat memberikan
asuhan keperawatan yang lebih baik.
1.4.2.4 Bagi Pasien dan Keluarga
Dapat meningkatkan pengetahuan tentang perawatan, pencegahan Tonsilitis.
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian Tonsilitis
 Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok
A streptococcus beta hemolitik, namun dapat juga disebabkan oleh
bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus (Hembing, 2004).
 Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari
cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa
yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu tonsil faringeal (adenoid),
tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil
tuba Eustachius (lateral band dinding faring atau Gerlach’s tonsil)
(Soepardi, 2007).
 Tonsilektomi adalah pengangkatan tonsil dan struktur adenoid, bagian
jaringan limfoid yang mengelilingi faring melalui pembedahan (Nettina,
2006)
 Tonsilektomi adalah suatu tindakan pembedahan dengan mengambil atau
mengangkat tonsil untuk mencegah infeksi selanjutnya (Shelov, 2004).
 Tonsilitis adalah suatu peradangan pada hasil tonsil (amandel), yang
sangat sering ditemukan, terutama pada anak-anak (Firman sriyono,
2006, 2006).
 Tonsilitis adalah suatu penyakit yang dapat sembuh sendiri berlangsung
sekitar lima hari dengan disertai disfagia dan demam (Megantara, Imam,
2006).
2.2 ETIOLOGI
Penyebab tonsilitis menurut (Firman S, 2006) dan (Soepardi, Effiaty
Arsyad,dkk, 2007) adalah infeksi kuman Streptococcus beta hemolyticus,
Streptococcus viridans, dan Streptococcus pyogenes. Dapat juga disebabkan oleh
infeksi virus
Menurut Firman S (2006), penyebabnya adalah infeksi bakteri streptococcus
atau infeksi virus. Tonsil berfungsi membantu menyerang bakteri dan
mikroorganisme lainnya sebagai tindakan pencegahan terhadap infeksi. Tonsil
bisa dikalahkan oleh bakteri maupun virus, sehingga membengkak dan meradang,
menyebabkan tonsillitis.
Penyebab utama tonsilitis adalah kuman golongan streptokokus (streptokus
α streptokokus ß hemolycitus, viridians dan pyogeneses), penyebab yang lain
yaitu infeksi virus influenza, serta herpes (Nanda, 2008). Infeksi ini terjadi pada
hidung / faring menyebar melalui sistem limpa ke tonsil hiperthropi yang
disebabkan oleh infeksi bisa menyebabkan tonsil membengkak sehingga bisa
menghambat keluar masuk udara. 50% bakteri merupakan penyebabnya. Tonsil
bisa dikalahkan oleh bakteri maupun virus, sehingga membengkak dan meradang,
dan juga menyebabkan tonsilitis (Reeves, 2001).
Etiologi menurut Mansjoer (2001) etiologi tonslitis adalah :
a. Streptokokus Beta Hemolitikus
Streptokokus beta hemolitikus adalah bakteri gram positif yang dapat
berkembang biak ditenggorokan yang sehat dan bisa menyebabkan infeksi
saluran nafas akut.
b. Streptokokus Pyogenesis
Streptokokus pyogenesis adalah bakteri gram positif bentuk bundar yang
tumbuh dalam rantai panjang dan menyebabkan infeksi streptokokus group
A. Streptokokus Pyogenesis adalah penyebab banyak penyakit penting pada
manusia berkisar dari infeksi khasnya bermula ditenggorakan dan kulit.
c. Streptokokus Viridans
Streptokokus viridans adalah kelompok besar bakteri streptokokus komensal
yang baik a-hemolitik, menghasilkan warna hijau pekat agar darah. Viridans
memiliki kemampuan yang unik sintesis dekstran dari glukosa yang
memungkinkan mereka mematuhi agregat fibrin-platelet dikatup jantung
yang rusak.
d. Virus Influenza
Virus influenza adalah virus RNA dari famili Orthomyxo viridae (virus
influenza). Virus ini ditularkan dengan medium udara melalui bersin pada
manusia gejala umum yang terjadi yaitu demam, sakit tenggorokan, sakit
kepala, hidung tersumbat. Dalam kasus yang buruk influenza juga dapat
menyebabkan terjadinya pneumonia.

Etiologi berdasarkan Morrison yang mengutip hasil penyelidikan dari


Commission on Acute Respiration Disease yang bekerja sama dengan Surgeon
General of the Army, dimana dari 169 kasus didapatkan :
1. 25 % disebabkan oleh Streptokokus β hemolitikus yang pada masa
penyembuhan tampak adanya kenaikan titer Streptokokus antibodi dalam
serum penderita.
2. 25 % disebabkan oleh Streptokokus lain yang tidak menunjukkan kenaikan
titer Sreptokokus antibodi dalam serum penderita.
3. Sisanya adalah Pneumokokus, Stafilokokus, Hemofilus influensa.
Ada pula yang menyebutkan etiologi terjadinya tonsilitis sebagai berikut:
1. Streptokokus β hemolitikus Grup A
2. Hemofilus influensa
3. Streptokokus pneumonia
4. Stafilokokus (dengan dehidrasi, antibiotika)
5. Tuberkulosis (pada immunocompromise)
Faktor Predisposisi
1. Rangsangan kronis (rokok, makanan)
2. Higiene mulut yang buruk
3. Pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang berubah-ubah)
4. Alergi (iritasi kronis dari alergen)
5. Keadaan umum (gizi jelek, kelelahan fisik)
6. Pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.
2.3 TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala tonsilitis seperti demam mendadak, nyeri tenggorokan,
ngorok, dan kesulitan menelan (Smeltzer, 2001). Sedangkan menurut Mansjoer
(2000) adalah suhu tubuh naik sampai 40◦C, rasa gatal atau kering di tenggorokan,
lesu, nyeri sendi, odinofagia (nyeri menelan), anoreksia, dan otalgia (nyeri
telinga). Bila laring terkena suara akan menjadi serak. Pada pemeriksaan tampak
faring hiperemisis, tonsil membengkak, hiperemisis.
Tanda dan gejala Tonsilitis menurut ( Smeltzer & Bare, 2000) ialah sakit
tenggorokan, demam, ngorok, dan kesulitan menelan. Sedangkan menurut Effiaty
Arsyad Soepardi,dkk ( 2007 ) tanda dan gejala yang timbul yaitu nyeri tenggorok,
tidak nafsu makan, nyeri menelan, kadang-kadang disertai otalgia, demam tinggi,
serta pembesaran kelenjar submandibuler dan nyeri tekan.
Menurut Megantara, Imam (2006), Gejalanya berupa nyeri tenggorokan
(yang semakin parah jika penderita menelan) nyeri seringkali dirasakan ditelinga
(karena tenggorokan dan telinga memiliki persyarafan yang sama). Gejala lain :
Demam, tidak enak badan, sakit kepala, muntah
Menurut Hembing, (2002) :
1. Dimulai dengan sakit tenggorokan yang ringan hingga menjadi parah, sakit
saat menelan, kadang-kadang muntah.
2. Tonsil bengkak, panas, gatal, sakit pada otot dan sendi, nyeri pada seluruh
badan, kedinginan, sakit kepala dan sakit pada telinga.
3. Pada tonsilitis dapat mengakibatkan kekambuhan sakit tenggorokan dan
keluar nanah pada lekukan tonsil.

√ Gejala tonsilitis antara lain : sakit tenggorokan, demam, dan kesulitan dalam
menelan.
√ Gejala tonsilitis akut : gejala tonsilitis akut biasanya disertai rasa gatal /
kering ditenggorokan, lesu, nyeri sendi, anoreksia, suara serak, tonsil
membangkak.
√ Di mulai dengan sakit tenggorokan yang ringan hingga parah, sakit menekan
terkadang muntah. Pada tonsilitis dapat mengakibatkan kekambuhan sakit
tenggorokan dan keluar nanah pada lekukan tonsil.
√ Gambaran tonsilitis kronis : nyeri telan, bahkan dapat menginfeksi telinga
bagian tengah, misal proses berjalannya kronis, tingkat rendahnya yang pada
akhirnya menyebabkan ketulian permanen (Baughman, 2002).
Manifestasi Klinis Menurut Smeltzer (2001)
a. Sistem Gastointestinal
1. Nyeri pada tenggorokan, adanya virus dan bakteri
2. Nyeri saat menelan, adanya pembengkakan pada tonsil
3. Anoreksia : mual dan muntah
4. Mulut berbau
5. Bibir kering
6. Nafsu makan berkurang
b. Sistem Pernafasan
1. Sesak nafas karena adanya pembesaran pada tonsil
2. Faring hiperimisis : terdapat detritus
3. Pernafasn bising.
4. Edema faring
5. Batuk
c. Sistem Imun
1. Pembengkakan kelenjar limpah leher
2. Pembesaran tonsil
3. Tonsil Hiperemia
4. Demam atau peningkatan seluruh tubuh
d. Sistem Muskuloskeletal
1. Kelemahan pada otot
2. Letargi
3. Nyeri pada otot
4. Malaise
Pasien mengeluh ada penghalang di tenggorokan, terasa kering dan
pernafasan berbau, rasa sakit terus menerus pada kerongkongan dan sakit waktu
menelan. Pada pemeriksaan, terdapat 2 macam gambaran tonsil yang mungkin
tampak:
1. Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan ke
jaringan sekitar, kripte yang melebar, tonsil ditutupi oleh eksudat yang
purulen atau seperti keju.
2. Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil, mengeriput, kadang-kadang seperti
terpendam di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis, kripte yang
melebar dan ditutupi eksudat yang purulen.
Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur
jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial
kedua tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi:
T0: Tonsil masuk di dalam fossa
T1: <25 % volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
T3: 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
T4: >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring

(A) Tonsilar hypertrophy grade-I tonsils (B) Grade-II tonsils (C) Grade-III tonsils
(D) Grade-IV tonsils
2.4 KLASIFIKASI
Menurut Soepardi (2007) macam-macam tonsilitis yaitu :
1. Tonsilitis Akut
a. Tonsilitis viral
Gejala tonsilitis viral lebih menyerupai commond cold yang disertai rasa
nyeri tenggorok. Virus Epstein Barr adalah penyebab paling sering.
Hemofilus influenzae merupakan penyebab tonsilitis akut supuratif. Jika
terjadi infeksi virus coxschakie, maka pada pemeriksaan rongga mulut
akan tampak luka-luka kecil pada palatum dan tonsil yang sangat nyeri
dirasakan klien.
b. Tonsilitis bakterial
Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A Streptokokus, β
hemolitikus yang dikenal sebagai strep throat, pneumokokus,
Streptokokus viridan, Streptokokus piogenes. Infiltrasi bakteri pada
lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa
keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus. Bentuk
tonsilitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis. Bila
bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur-alur maka akan
terjadi tonsilitis lakunaris.
Dari kedua Tonsilitis viral dan Tonsilitis Bakterial dapat meenimbulkan
gejala perkembangan lanjut tonsillitis akut yaitu :
√ Tonsilitis folikularis dengan gejala tonsil membengkak dan hiperemis dengan
permukaannya berbentuk bercak putih yang mengisi kripti tonsil yang disebut
detritus. Detritus ini terdiri dari leukosit, epitel yang terlepas akibat
peradangan, dan sisa-sisa makanan yang tersangkut.
√ Infiltrat peritonsiler dengan gejala perkembangan lanjut dari tonsiitis akut.
Perkembangan ini sampai ke palatum mole (langit-langit), tonsil menjadi
terdorong ke tengah, rasa nyeri yang sangat hebat , air liur pun tidak bisa di
telan. Apabila dilakukan aspirasi (penyedotan dengan spuit/ suntikan) di
tempat pembengkakan di dekat palatum mole (langit- langit) akan keluar
darah.
√ Abses peritonsil dengan gejala perkembangan lanjut dari infiltrat peritonsili.
Dan gejala klinis sama dengan infiltrat perintonsiler. Apabila dilakukan
aspirasi (penyedotan dengan spuit/ suntikan) di tempat pembengkakan di
dekat palatum mole (langit- langit) akan keluar NANAH.
2. Tonsilitis Membranosa
a. Tonsilitis difteri
Tonsilitis difteri merupakan tonsilitis yang disebabkan kuman
Corynebacterium diphteriae. Penularannya melalui udara, benda atau
makanan yang terkontaminasi. Tonsilitis difteri sering ditemukan pada
anak-anak berusia kurang dari 10 tahun frekuensi tertinggi pada usia 2
sampai 5 tahun.
b. Tonsilitis septik
Tonsilitis yang disebabkan karena Streptokokus hemolitikus yang
terdapat dalam susu sapi.
c. Angina plaut vincent ( stomatitis ulsero membranosa )
Tonsilitis yang disebabkan karena bakteri spirochaeta atau triponema
yang didapatkan pada penderita dengan hygiene mulut yang
kurang dan defisiensi vitamin C.
d. Penyakit kelainan darah
Tidak jarang tanda leukemia akut, angina agranulositosis dan
infeksi mononukleosis timbul di faring atau tonsil yang tertutup membran
semu. Gejala pertama sering berupa epistaksis, perdarahan di mukosa
mulut, gusi dan di bawah kulit sehingga kulit tampak bercak kebiruan.
e. Tonsilitis Kronik
Tonsilitis kronik timbul karena rangsangan yang menahun dari
rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang buruk, pengaruh
cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.

2.5 PATOFISIOLOGI
Terlampir
2.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang
a. Tes Laboratorium
Tes laboratorium ini digunakan untuk menentukan apakah bakteri yang ada
dalam tubuh pasien dengan tonsilitis merupakan bakteri grup A, kemudian
pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung jenisnya, serta laju endap darah.
Persiapan pemeriksaan yang perlu sebelum tonsilektomi adalah :
1. Rutin : Hemoglobine, lekosit, urine.
2. Reaksi alergi, gangguan perdarahan, pembekuan.
3. Pemeriksaan lain atas indikasi (Rongten foto, EKG, gula darah, elektrolit,
dan sebagainya.
b. Kultur
Kultur dan uji resistensi bila diperlukan.
c. Terapi
Dengan menggunakan antibiotik spectrum lebar dan sulfonamide, antipiretik,
dan obat kumur yang mengandung desinfektan.( Soetomo, 2004 )

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosa


tonsilitis akut adalah pemeriksaan laboratorium meliputi :
 Leukosit : terjadi peningkatan
 Hemoglobin : terjadi penurunan
 Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensitifitas obat
Pemeriksaan swab dari permukaan tonsil dilakukan pada saat pasien telah
dalam narkose. Permukaan tonsil diswab dengan lidi kapas steril. Sebelumnya
tidak dilakukan tindakan aseptik anti septik pada tonsil. Pemeriksaan
bakteriologi dari inti tonsil dilakukan dengan mengambil swab sesaat setelah
tonsilektomi. Tonsil yang telah diangkat disiram dengan cairan salin steril
kemudian diletakkan pada tempat yang steril. Tonsil dipotong dengan
menggunakan pisau steril dan jaringan dalam tonsil diswab memakai lidi
kapas steril. Spesimen yang telah diambil dimasukkan ke dalam media
transportasi yang steril. Biakan bakteri aerob dan anaerob fakultatif dapat
dilakukan dengan menggunakan agar darah, agar coklat, eosin-methilene blue
(EMB). Tempat pembiakan ini diinkubasi pada suhu 370C, 5% CO2.
 Tes Schick atau tes kerentanan di ptori
 Audiometri : adenoid terinfeksi

2.7 TINDAKAN UMUM YANG DILAKUKAN


Penatalaksanaan pasien tonsilitis menurut ( Mansjoer, 2000) yaitu :
1. Penatalaksanaan tonsilitis akut
a. Antibiotik golongan penicilin atau sulfanamid selama 5 hari dan obat
kumur atau obat isap dengan desinfektan, bila alergi dengan diberikan
eritromisin atau klindomisin.
b. Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder, kortikosteroid
untuk mengurangi edema pada laring dan obat simptomatik.
c. Pasien diisolasi karena menular, tirah baring, untuk menghindari
komplikasi kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapan
tenggorok 3x negatif.
d. Pemberian antipiretik.
2. Penatalaksanaan tonsilitis kronik
a. Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur / hisap.
b. Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi
konservatif tidak berhasil.
Tonsilektomi menurut ( Nettina, 2006 ) yaitu:
1. Perawatan pra Operasi :
a. Lakukan pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok secara seksama
dan dapatkan kultur yang diperlukan untuk menentukan ada tidak dan
sumber infeksi
b. Ambil spesimen darah untuk pemeriksaan praoperasi untuk menentukan
adanya resiko perdarahan : waktu pembekuan, pulasan trombosit, masa
protrombin, masa tromboplastin parsial.
c. Lakukan pengkajian praoperasi : Perdarahan pada anak atau keluarga, kaji
status hidrasi, siapkan anak secara khusus untuk menghadapi apa yang
diharapkan pada masa pascaoperasi, gunakan teknik-teknik yang sesuai
dengan tingkat perkembangan anak (buku, boneka, gambar ), bicaralah
pada anak tentang hal-hal baru yang akan dilihat di kamar operasi, dan
jelaskan jika terdapat konsep-konsep yang salah, bantu orang tua
menyiapkan anak mereka dengan membicarakan istilah yang umum
terlebih dahulu mengenai pembedahan dan berkembang ke informasi yang
lebih spesifik, yakinkan orang tua bahwa tingkat komplikasi rendah dan
masa pemulihan biasanya cepat, anjurkan orang tua untuk tetap bersama
anak dan membantu memberikan perawatan.
2. Perawatan pascaoperasi :
a. Kaji nyeri dengan sering dan berikan analgesik sesuai indikasi
b. Kaji dengan sering adanya tanda-tanda perdarahan pascaoperasi
c. Siapkan alat pengisap dan alat-alat nasal packing untuk berjaga-jaga
seandainya terjadi kedaruratan.
d. Pada saat anak masih berada dalam pengaruh anestesi, beri posisi
telungkup atau semi telungkup pada anak, dengan kepala dimiringkan
kesamping untuk mencegah aspirasi
e. Biarkan anak memperoleh posisi yang nyaman sendiri setelah ia sadar (
orangtua boleh menggendong anak )
f. Pada awalnya anak dapat mengalami muntah darah lama. Jika diperlukan
pengisapan, hindari trauma pada orofaring.
g. Ingatkan anak untuk tidak batuk atau membersihkan tenggorok kecuali
jika perlu.
h. Berikan asupan cairan yang adekuat; beri es batu 1 sampai 2 jam setelah
sadar dari anestesi. Saat muntah susah berhenti, berikan air jernih dengan
hati-hati.
i. Tawarkan jus jeruk dingin disaring karena cairan itulah yang paling baik
ditoleransi pada saat ini, kemudian berikan es loli dan air dingin selama 12
sampai 24 jam pertama
j. Ada beberapa kontroversi yang berkaitan dengan pmberian susu dan es
krim pada malam pembedahan : dapat menenangkan dan mengurangi
pembengkakan, tetapi dapat meningkatkan produksi mukus yang
menyebabkan anak lebih sering membersihkan tenggorokanya,
meningkatkan resiko perdarahan.
k. Berikan collar es pada leher, jika didinginkan. ( lepas collar es tersebut,
jika anak menjadi gelisah ).
l. Bilas mulut pasien dengan air dingin atau larutan alkalin.
m. Jaga agar anak dan lingkungan sekitar bebas dari drainase bernoda darah
untuk membantu menurunkan kecemasan.
n. Anjurkan orang tua agar tetap bersama anak ketika anak sadar.
Tonsilektomi menurut Firman S (2006), yaitu :
1. Perawatan Prabedah
Diberikan sedasi dan premedikasi, selain itu pasien juga harus dipuasakan,
membebaskan anak dari infeksi pernafasan bagian atas.
2. Teknik Pembedahan
Anestesi umum selalu diberikan sebelum pembedahan, pasien diposisikan
terlentang dengan kepala sedikit direndahkan dan leher dalam keadaan
ekstensi mulut ditahan terbuka dengan suatu penutup dan lidah didorong
keluar dari jalan. Penyedotan harus dapat diperoleh untuk mencegah
inflamasi dari darah. Tonsil diangkat dengan diseksi / quillotine.
Metode apapun yang digunakan penting untuk mengangkat tonsil secara
lengkap. Perdarahan dikendalikan dengan menginsersi suatu pak kasa ke
dalam ruang post nasal yang harus diangkat setelah pembedahan. Perdarahan
yang berlanjut dapat ditangani dengan mengadakan ligasi pembuluh darah
pada dasar tonsil.
3. Perawatan Paska-bedah
a. Berbaring ke samping sampai bangun kemudian posisi mid fowler.
b. Memantau tanda-tanda perdarahan
1. Menelan berulang
2. Muntah darah segar
3. Peningkatan denyut nadi pada saat tidur
c. Diet
1. Memberikan cairan bila muntah telah reda
a. Mendukung posisi untuk menelan potongan makanan yang besar
(lebih nyaman dari ada kepingan kecil).
b. Hindari pemakaian sedotan (suction dapat menyebabkan
perdarahan).
2. Menawarkan makanan
a. Es crem, crustard dingin, sup krim, dan jus.
b. Refined sereal dan telur setengah matang biasanya lebih dapat
dinikmati pada pagi hari setelah perdarahan.
c. Hindari jus jeruk, minuman panas, makanan kasar, atau banyak
bumbu selama 1 minggu.

3. Mengatasi ketidaknyamanan pada tenggorokan


a. Menggunakan ice color (kompres es) bila mau
b. Memberikan anakgesik (hindari aspirin)
c. Melaporkan segera tanda-tanda perdarahan.
d. Minum 2-3 liter/hari sampai bau mulut hilang.
4. Mengajari pasien mengenal hal berikut
a. Hindari latihan berlebihan, batuk, bersin, berdahak dan menyisi
hidung segera selama 1-2 minggu.
b. Tinja mungkin seperti teh dalam beberapa hari karena darah yang
tertelan.
c. Tenggorokan tidak nyaman dapat sedikit bertambah antara hari
ke-4 dan ke-8 setelah operasi.
The American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery
Clinical Indikators Compendium tahun 1995 menetapkan indikasi
dilakukannya tonsilektomi yaitu:
1) Serangan tonsilitis lebih dari tiga kali per tahun walaupun telah
mendapatkan terapi yang adekuat
2) Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan
gangguan pertumbuhan orofasial
3) Sumbatan jalan nafas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan jalan
nafas, sleep apnea, gangguan menelan, dan gangguan bicara.
4) Rinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil, yang
tidak berhasil hilang dengan pengobatan.
5) Napas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan
6) Tonsilitis berulang yang disebabkan oleh bakteri grup Asterptococcos β
hemoliticus
7) Hipertrofi tonsil yang dicurigai adanya keganasan
8) Otitis media efusa / otitis media supurataif ( Soepardi, Effiaty Arsyad,dkk.
2007 )
The American Academy of Otolaryngology-Head and Surgery (AAO-HNS)
merilis indikasi klinis untuk melakukan tonsilektomi adalah:
1. Indikasi Absolut
a. Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran napas,
disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner
b. Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan
drainase
c. Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam
d. Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi
2. Indikasi Relatif
a. Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi
antibiotik yang adekuat
b. Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian
terapi medis
c. Tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptokokus yang tidak
membaik dengan pemberian antibiotik β-laktamase resisten
Brodsky menyatakan tonsilitis rekuren dindikasikan untuk tonsilektomi jika
terjadi serangan tonsilitis akut berulang lebih dari 4 kali dalam satu tahun
kalender, atau lebih dari 7 kali dalam 1 tahun, 5 kali setiap tahun selama 2 tahun,
atau 3 kali setiap tahun selama 3 tahun. Bila masih diragukan berikan antibiotik
spektrum luas sebelum didapatkan hasil kultur tonsil kemudian lanjutkan dengan
antibiotik sesuai kultur. Bila terdapat rekurensi dalam 1 tahun diindikasikan untuk
tonsilektomi. Bila ditemukan gejala yang persisten yang nyata lebih dari 1 bulan
dengan eritema peritonsil indikasi untuk tonsilektomi. Bila gejala dimaksud masih
diragukan berikan antibiotik selama 3-6 bulan sesuai kultur, jika gejala masih
menetap indikasi tonsilektomi.
INDIKASI TINDAKAN TONSILAKTOMI
INDIKASI ABSOLUT:
1. Tonsil (amandel) yang besar hingga mengakibatkan gangguan pernafasan,
nyeri telan yang berat, gangguan tidur atau sudah terjadi komplikasi penyakit-
penyakit kardiopulmonal.
2. Abses peritonsiler (Peritonsillar abscess) yang tidak menunjukkan perbaikan
dengan pengobatan. Dan pembesaran tonsil yang mengakibatkan gangguan
pertumbuhan wajah atau mulut yang terdokumentasi oleh dokter gigi bedah
mulut.
3. Tonsillitis yang mengakibatkan kejang demam.
4. Tonsil yang diperkirakan memerlukan biopsi jaringan untuk menentukan
gambaran patologis jaringan.
INDIKASI RELATIF:
1. Jika mengalami Tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun dan tidak
menunjukkan respon sesuai harapan dengan pengobatan medikamentosa yang
memadai.
2. Bau mulut atau bau nafas tak sedap yang menetap pada Tonsilitis kronis yang
tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan.
3. Tonsilitis kronis atau Tonsilitis berulang yang diduga sebagai carrier kuman
Streptokokus yang tidak menunjukkan repon positif terhadap pengobatan
dengan antibiotika.
4. Pembesaran tonsil di salah satu sisi (unilateral) yang dicurigai berhubungan
dengan keganasan (neoplastik)
KONTRAINDIKASI
Ada beberapa keadaan yang merupakan kontraindikasi melakukan
pembedahan tonsil karena bila dikerjakan dapat terjadi komplikasi pada penderita,
bahkan mengancam kematian. Keadaan tersebut adalah kelainan hematologik,
kelainan alergi-imunologik dan infeksi akut. Kontraindikasi pada kelainan
hematologik adalah anemi, gangguan’ pada sistem hemostasis dan lekemi. Pada
kelainan alergi-imunologik seperti penyakit alergi pada saluran pernapasan,
sebaiknya tidak dilakukan tonsilektomi bila pengobatan kurang dari 6 bulan
kecuali bila terdapat gejala sumbatan karena pembesaran tonsil. Pembedahan
tonsil sebagai pencetus serangan asthma pernah dilaporkan. Tonsilektomi juga
tidak dikerjakan apabila terdapat infeksi akut lokal, kecuali bila disertai sumbatan
jalan napas atas. Tonsilektomi sebaiknya baru dilakukan setelah minimal 23
minggu bebas dari infeksi akut. Di samping itu tonsilektomi juga tidak dilakukan
pada penyakit-penyakit sistemik yang tidak terkontrol seperti diabetes atau
penyakit jantung pulmonal
Teknik Operasi Tonsilektomi Pengangkatan tonsil pertama sebagai tindakan
medis telah dilakukan pada abad 1 Masehi oleh Cornelius Celsus di Roma dengan
menggunakan jari tangan. Di Indonesia teknik tonsilektomi yang terbanyak
digunakan saat ini adalah teknik Guillotine dan diseksi. Diseksi: Dikerjakan
dengan menggunakan Boyle-Davis mouth gag, tonsil dijepit dengan forsep dan
ditarik ke tengah, lalu dibuat insisi pada membran mukus. Dilakukan diseksi
dengan disektor tonsil atau gunting sampai mencapai pole bawah dilanjutkan
dengan menggunakan senar untuk menggangkat tonsil. Guilotin: Tehnik ini sudah
banyak ditinggalkan. Hanya dapat dilakukan bila tonsil dapat digerakkan dan bed
tonsil tidak cedera oleh infeksi berulang. Elektrokauter: Kedua elektrokauter
unipolar dan bipolar dapat digunakan pada tehnik ini. Prosedur ini mengurangi
hilangnya perdarahan namun dapat menyebabkan terjadinya luka bakar. Laser
tonsilektomi: Diindikasikan pada penderita gangguan koagulasi. Laser KTP-512
dan CO2 dapat digunakan namun laser CO2 lebih disukai.tehnik yag dilakukan
sama dengan yang dilakukan pada tehik diseksi (Dhingra, 2008).
Komplikasi tonsilitis akut dan kronik yaitu :
1. Abses pertonsil
Terjadi diatas tonsil dalam jaringan pilar anterior dan palatum mole, abses ini
terjadi beberapa hari setelah infeksi akut dan biasanya disebabkan oleh
streptococcus group A ( Soepardi, Effiaty Arsyad,dkk. 2007 ).
2. Otitis media akut
Infeksi dapat menyebar ke telinga tengah melalui tuba auditorius (eustochi)
dan dapat mengakibatkan otitis media yang dapat mengarah pada ruptur
spontan gendang telinga ( Soepardi, Effiaty Arsyad,dkk. 2007 ).
3. Mastoiditis akut
Ruptur spontan gendang telinga lebih jauh menyebarkan infeksi ke dalam sel-
sel mastoid ( Soepardi, Effiaty Arsyad,dkk. 2007 ).
4. Laringitis
Merupakn proses peradangan dari membran mukosa yang membentuk larynx.
Peradangan ini mungkin akut atau kronis yang disebabkan bisa karena virus,
bakter, lingkungan, maupunmkarena alergi ( Reeves, Roux, Lockhart, 2001 ).
5. Sinusitis
Merupakan suatu penyakit inflamasi atau peradangan pada satua atau lebih
dari sinus paranasal. Sinus adalah merupakan suatu rongga atau ruangan
berisi udara dari dinding yang terdiri dari membran mukosa (Reeves, Roux,
Lockhart, 2001).
6. Rhinitis
Merupakan penyakit inflamasi membran mukosa dari cavum nasal dan
nasopharynx ( Reeves, Roux, Lockhart, 2001 )
7. Peritonsilitis
Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus dan
abses.
8. Abses Peritonsilar (Quinsy)
Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber infeksi
berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus
kapsul tonsil dan penjalaran dari infeksi gigi. Abses peritonsil merupakan
infeksi dapat meluas menuju kapsul tonsil dan mengenai jaringan sekitarnya.
Abses biasanya terdapat pada daerah antara kapsul tonsil dan otot-otot yang
mengelilingi faringeal bed. Hal ini paling sering terjadi pada penderita dengan
serangan berulang. Gejala penderita adalah malaise yang bermakna, odinofagi
yang berat dan trismus. Diagnosa dikonfirmasi dengan melakukan aspirasi
abses (Shnayder, Lee, Bernstein, 2008).
9. Abses intratonsilar
Merupakan akumulasi pus yang berada dalam substansi tonsil. Biasanya
diikuti dengan penutupan kripta pada Tonsilitis Folikular akut. Dijumpai
nyeri lokal dan disfagia yang bermakna. Tonsil terlihat membesar dan merah.
Penatalaksanaan yaitu dengan pemberian antibiotika dan drainase abses jika
diperlukan; selanjutnya dilakukan tonsilektomi.
10. Abses Parafaringeal
Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah
bening/pembuluh darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus
paranasal, adenoid, kelenjar limfe faringeal, mastoid dan os petrosus.
11. Abses retrofaring
Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya terjadi pada
anak usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih berisi
kelenjar limfe.
12. Krista Tonsil
Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan fibrosa
dan ini menimbulkan krista berupa tonjolan pada tonsil berwarna
putih/berupa cekungan, biasanya kecil dan multipel.
13. Tonsilolith (kalkulus dari tonsil)
Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat dalam jaringan tonsil
membentuk bahan keras seperti kapur. Tonsililith dapat ditemukan pada
Tonsilitis Kronis bila kripta diblokade oleh sisa-sisa dari debris. Garam
inorganik kalsium dan magnesium kemudian tersimpan yang memicu
terbentuknya batu. Batu tersebut dapat membesar secara bertahap dan
kemudian dapat terjadi ulserasi dari tonsil. Tonsilolith lebih sering terjadi
pada dewasa dan menambah rasa tidak nyaman lokal atau foreign body
sensation. Hal ini didiagnosa dengan mudah dengan melakukan palpasi atau
ditemukannya permukaan yang tidak rata pada perabaan.
2.8 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
Focus pengkajian:
 Wawancara
1. Kaji adanya riwayat penyakit sebelumnya (tonsillitis)
2. Apakah pengobatan adekuat
3. Kapan gejala itu muncul
4. Apakah mempunyai kebiasaan merokok
5. Bagaimana pola makannya
6. Apakah rutin / rajin membersihkan mulut
 Pengkajian system : Tonsilitis akan berdampak terhadap sistem tubuh lainnya
dan kebutuhan dasar manusia (Nurbaiti, 2001) meliputi :
a. Sistem Gastrointestinal
Klien sering merasa mual dan muntah, nyeri pada tenggorokan sulit untuk
menelan sehingga klien susah untuk makan dan sulit untuk tidur
b. Sistem Pulmoner
Klien sering mengalami sesak nafas karena adanya pembengkakan pada tonsil dan
faring, klien sering batuk
c. Sistem Imun
Tonsil terlihat bengkak dan kemerahan, daya tahan tubuh klien menurun, klien
mudah terserang demam
d. Sistem Muskuloskeletal
Klien mengalami kelemahan pada otot, otot terasa nyeri keterbatasan gerak, klien
susah untuk melakukan aktivitas sehari-hari
e. Sistem Endokrin
Adanya pembengkakan kelenjar getah bening, adanya pembesaran kelenjar tiroid
f. Sistem Gastointestinal
1. Nyeri pada tenggorokan, adanya virus dan bakteri
2. Nyeri saat menelan, adanya pembengkakan pada tonsil
3. Anoreksia : mual dan muntah
4. Mulut berbau
5. Bibir kering
6. Nafsu makan berkurang
g. Sistem Pernafasan
1. Sesak nafas karena adanya pembesaran pada tonsil
2. Faring hiperimisis : terdapat detritus
3. Pernafasn bising
4. Edema faring
5. Batuk
h. Sistem Imun
1. Pembengkakan kelenjar limpah leher
2. Pembesaran tonsil
3. Tonsil
4. Hiperemia
5. Demam atau peningkatan seluruh tubuh
i. Sistem Muskuloskeletal
1. Kelemahan pada otot
2. Letargi
3. Nyeri pada otot
4. Malaise
b. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan usap tenggorok:
Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan sebelum memberikan pengobatan,
terutama bila keadaan memungkinkan. Dengan melakukan pemeriksaan ini kita
dapat mengetahui kuman penyebab dan obat yang masih sensitif terhadapnya.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
c. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan pembengkakan jaringan tonsil.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
3. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
5. Gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubungan dengan obstruksi pada
tuba eustaki
10. Nursing Care Planing (NCP)
NO DX KEP NOC NIC
1 Nyeri akut b/d Setelah dilakukan tindakan 1.Kaji nyeri
pembengkakan keperawatan selama… R/Mengetahui daerah nyeri,
jaringan tonsil Diharapkan nyeri berkurang atau factor pencetus, berat ringan
hilang nyeri yang dirasakan
INDIKATOR IR ER 2.Ajarkan teknik relaksasi
 Mampu R/Mengajarkan apabila nyeri
mengontrol nyeri timbul
 Melaporkan 3.Obs TTV

nyeri berkurang R/Untuk mengetahui KU klien

 Mampu 4.Berikan analgetik sesuai

mengenali nyeri program


R/Untuk mengurangi rasa nyeri
 Menyatakan rasa
5. Jelaskan pada pasien tentang
nyaman
sebab-sebab timbulnya nyeri
 TTV DBN
R/ Pemahaman pasien tentang
penyebab nyeri yang terjadi
Keterangan :
akan mengurangi ketegangan
1. Kuat
6. Atur posisi pasien senyaman
2. Berat
mungkin sesuai keinginan
3. Sedang
pasien
4. Ringan
R/ Posisi yang nyaman akan
5. Tidak ada
membantu memberikan
kesempatan pada otot untuk
relaksasi seoptimal mungkin
7. Bantu pasien dalam
identifikasi faktor pencetus
R/ nyeri dipengaruhi oleh;
kecemasan, ketegangan, suhu,
distensi kandung kemih dan
berbaring lama
2 Ketidakseimba 1. Kaji nutrisi klien
ngan nutrisi Setelah dilakukan tindakan R/Untuk mengetahui kebutuhan
kurang dari keperawatan selama… nutrisi klien
kebutuhan Diharapkan nutrisi terpenuhi 2. Jelaskan pada klien tentang
tubuh b/d INDIKATOR IR ER pentingnya nutrisi tubuh
pembengkakan  Intake makanan R/Menembah pengetahuan klien
pada tonsil dan cairan tantang nutrisi
 Energi 3. Anjurkan makan sedikit tapi

 Berat badan sering

Keterangan : R/Meningkatkan intake nutrisi

1. Keluhan ekstrim klien

2. Keluhan berat 4. Anjurkan makan selagi

3. Keluhan sedang hangat

4. Keluhan ringan R/Meningkatkan nafsu makan

5. Tidak ada keluhan klien


5. Anjurkan hygiene mulut
R/Meningkatkan nafsu makan
klien
6. Kolaborasi dengan ahli gizi
R/Untuk mengetahui gizi yang
seimbang

3 Hipertermi 1. Kaji factor penyebab


berhubungan Setelah dilakukan tindakan hipertermi
dengan proses keperawatan selama… R/untuk mengetahui penyebab
penyakit Diharapkan suhu tubuh DBN 2. Obs. TTV
R/Dapat menentukan
INDIKATOR IR ER
perkembangan perawatan
 Intake makanan
3. Pertahankan suhu tubuh
dan cairan
normal
 Energi
R/Dapat dipengaruhi suhu
 Berat badan
lingkungan, aktivitas
 Suhu tubuh DBN 4. Beri kompres hangat
Keterangan : R/Perpindahan panas secara
1. Kuat konduktif
2. Berat 5. Berikan pakaian yang tipis
3. Sedang yang menyerap keringat
4. Ringan R/Proses konveksi akan
5. Tidak ada terhalang pakaian yang ketat.
6. Kolaboraso dalam pemberian
antipiretik
R/Menurunkan panas pada pusat
hipotalamus

4 Intoleransi 1. Monitor keterbatasan


aktivitas aktivitas
berhubungan Setelah dilakukan tindakan R/Merencanakan intervensi
dengan keperawatan selama… dengan tepat
kelemahan Diharapkan klien toleransi 2. Bantu klien dalam aktivitas
fisik terhadap aktivitas sendiri
INDIKATOR IR ER R/Klien dapat memilih dan

 TTV DBN merencanakan nya sendiri

 Langkah berjalan 3. Catat tanda vital


R/Mengkaji sejauh mana
 Jarak jalan
perubahan selama aktivitas
 Kuat
4. Menentukan penyebab
Keterangan :
intoleransi aktivitas
1. Keluhan ekstrim
R/Menentukan intervensi
2. Keluhan berat
5. Monitor intake output
3. Keluhan sedang
R/Sumber energy klien
4. Keluhan ringan
6. Kaji tingkat intoleransi klien
5. Tidak ada keluhan
R/ Untuk mengetahui tingkat
aktivitas klien guna intervensi
selanjutnya
7. Anjurkan klien untuk
melakukan aktivitas yang ringan
R/Aktivitas yang ringan dapat
membantu mengurangi energy
yang keluar
8. Ajurkan klien untuk istirahat
yang cukup
R/Istirahat yang cukup dapat
mebantu meminimalkan
pengeluaran energy

5 Gangguan 1. Orientasi dengan kenyataan


persepsi R/Menimbulkan mental klien
sensori : Setelah dilakukan tindakan yang positif
pendengaran keperawatan selama… 2. Memberikan dukungan
b/d obstruksi Diharapkan klien toleransi secara emosional
pada tuba terhadap aktivitas R/Meyakinkan klien bahwa
eustaki INDIKATOR IR ER klien tidak sendiri dan ada yang
 Tidak ada distorsi memperhatikan nya
pendengaran 3. Ajarkan klien perawatan
 Komunikasi yang telinga sesuai indikasi

dilakukan dapat R/Agar tidak memperparah

diterima penurunan pendengaran

Keterangan : 4. Memperbaiki cara

1. Keluhan ekstrim komunikasi dengan biacar pelan

2. Keluhan berat didekat klien dan tidak berteriak

3. Keluhan sedang R/Kebisingan dapat

4. Keluhan ringan mempengaruhi pendengaran

5. Tidak ada keluhan 5. Berikan posisi yang nyaman


dan tidak bising
R/ Agar telinga klien tidak
tambah sakit karena kebisingan
dapat menjadi faktor pencetus
nyeri telinga dan penurunan
pendengaran
6. Observasi ketajaman
pendengaran, catat apakah
kedua telinga terlibat
R/ Mengetahui tingkat
ketajaman pendengaran pasien
dan untuk menentukan
intervensi selanjutnya
7. Anjurkan pasien dan
keluarganya untuk mematuhi
program terapi yang diberikan
R/ Mematuhi program terapi
akan mempercepat proses
penyembuhan
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Anamnesa
Pengkajian Tanggal 17 Juni 2019 Pukul 10.00 WIB
3.1.1 Identitas pasien
Nama Klien : An. R
TTL/Umur : Palangka Raya, 14-4-2011/ 8,2 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Kristen Protestan
Suku : Dayak/Indonesia
Pendidikan : SD
Alamat : Jln. Rindang Banua
Diagnosa medis : Tonsilitis

3.1.2 Identitas penanggung jawab


Nama Penanggung Jawab : Ny. N
TTL : Palangka Raya, 23 November 1987
Jeniskelamin : Perempuan
Agama : Kristen Protestan
Suku : Dayak/Indonesia
Pendidikan : D3
Pekerjaan : PNS
Alamat : Jln. Rindang Banua
Hubungan keluarga : Ibu klien
3.1.3 Keluhan utama
Ibu An. R mengatakan An. R nyeri tenggorokan saat menelan “P: nyeri saat
menelan Q: Nyeri seperti ditusuk-tusuk R: nyeri ditenggorokan S: skala 5
(sedang) T: Nyeri hilang timbul”
3.1.4 Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
An. R dibawa oleh ibunya ke Puskesmas Pahandut Palangka Raya pada
tanggal 17 Juni 2019 pada pukul 10.00 WIB dengan keluhan P: nyeri saat
menelan Q: Nyeri seperti ditusuk-tusuk R: nyeri ditenggorokan S: skala 5
(sedang) T: Nyeri hilang timbul dan panas sudah 2 hari.
2) Riwayat kesehatan lalu
(1) Riwayat prenatal : Selama kehamilan, ibu tidak pernah sakit,
An. R anak Ny. N yang ke 1. Selama hamil
Ny. N rutin memeriksa kehamilan ke
tenaga kesehatan.
(2) Riwayat natal : An. R lahir di klinik bidan dengan
persalinan normal yang dibantu oleh
tenaga kesehatan dengan berat badan 3,5
kg dan panjang badan -cm.
(3) Riwayat postnatal : Setelah lahir, An. R langsung menangis
spontan, bergerak aktif, tubuh kemerahan
dan tidak mengalami masalah kesehatan.
(4) Penyakitsebelumnya : Ny. N mengatakan tidak ada riwayat
penyakit sebelumnya.

(5) Imunisasi :
Jenis BCG DPT Polio Campak Hepatitis TT
Usia 2 3,5,6 2,3,5,6 9 bulan 0 Hari -
bulan bulan bulan

3) Riwayat kesehatan keluarga


Ny. N mengatakan dalam keluarganya tidak ada keluarga mengalami panas
seperti yang dialami anaknya dan tidak ada riwayat penyakit keturunan.
4) Susunan genogram 3 (tiga) generasi
Keterangan gambar:
: Laki-laki

: Perempuan

: Meninggal Dunia

: Hubungan Keluarga

: Tinggal serumah

: Pasien
Gambar 3.1 Genogram Keluarga
3.2 Pemeriksaan Fisik
3.2.1 Keadaan umum :
Kesadaran Compos Mentis, wajah klien tampak meringis, muka pucat, mata
merah.
3.2.2 Tanda vital
Tekanan darah : - mmhg
Nadi : 112x/mnt
Suhu : 38,3˚C
Respirasi : 23x/mnt
3.2.3 Kepala dan wajah
1) Ubun-ubun
Menutup (√ )Ya ( ) Tidak
Keadaan ( ) cembung ( ) cekung ( ) lain,lain…
Kelainan ( ) Hidrocefalus ( ) Microcephalus
Lain-lain: Tidak ada
2) Rambut
Warna : Hitam, pendek
Keadaan : Rontok ( ) Ya (√ )Tidak
Mudah dicabut ( ) Ya (√ )Tidak
Kusam ( ) Ya (√ )Tidak
Lain-lain: Tidak ada

3) Kepala
Keadaan kulit kepala : Bersih
Peradangan/benjolan : ( ) Ada, sebutkan…………………
(√ ) Tidak………………………….
Lain-lain : Tidak ada
4) Mata
Bentuk : (√) simetris ( ) tidak
Conjungtiva : Merah muda
Skelera : Putih
Reflek pupil : Pupil mengecil bila diberikan rangsangan cahaya.
Oedem Palpebra : ( ) Ya (√) tidak
Lain-lain : Tidak ada
5) Telinga
Bentuk : (√) Simetris ( ) tidak
Serumen/secret : ( ) Ada (√) tidak
Peradangan : ( ) Ada (√) tidak.
Lain-lain : Tidak ada.
6) Hidung
Bentuk : (√) Simetris ( ) tidak
Serumen/secret : ( ) Ada (√) tidak
Pasase udara : ( ) terpasang O2….. liter (√) tidak
Fungsi penciuman : Tidak dikaji
Lain-lain : Tidak ada.
7) Mulut
Bibir : intak ( ) ya (√) tidak
Stanosis ( ) ya (√) tidak
Keadaan () kering (√) lembab
Palatum : (√) keras ( ) lunak
8) Gigi
Carries : ( ) ya, sebutkan…............ (√) tidak
Jumlah gigi : lengkap
Lain-lain : Tidak ada
3.2.4 Leher dan tengorokan
Bentuk : Simetris
Reflek menelan : kurang baik
Pembesaran tonsil : ada
Pembesaran vena jugularis: Tidak ada
Benjolan : Tidak ada
Peradangan : Tidak ada
Lain-lain : Tidak ada
3.2.5 Dada
Bentuk : (√) simetris ( ) tidak
Retraksi dada : ( ) ada (√) tidak ada
Bunyi nafas : -
Tipe pernafasan : perut
Bunyi jantung :lup dup
Iktus cordis : Tidak nampak
Bunyi tambahan : Tidak ada
Nyeri dada : Tidak ada
Keadaan payudara: Simetris
Lain-lain : Tidak ada
3.2.6 Punggung
Bentuk : (√) simetris ( ) tidak
Peradangan : ( ) ada, sebutkan………….
Benjolan : ( ) ada, sebutkan…………
Lain-lain : Tidak ada
3.2.7 Abdomen
Bentuk : (√) simetris ( ) tidak
Asites : ( ) ada (√) tidak
Massa : ( ) ada, sebutkan……..
Hepatomegali : ( ) ada (√) tidak
Spenomegali : ( ) ada (√) tidak
Nyeri : ( ) ada, sebutkan………………….
Lain-lain : Tidak ada.
3.2.8 Ektremitas
Pergerakan/ tonus otot: An. R dapat bergerak bebas dan dengan kekuatan
penuh
Oedem : ( ) ada, sebutkan………… (√) tidak
Sianosis : ( ) ada, sebutkan………… (√) tidak
Clubbing finger : ( ) ada (√) tidak
Keadaankulit/turgor : Setelah dicubit kulit kembali selama <2 detik
Lain-lain : Tidak ada
3.2.9 Genetalia
1) Laki-laki
Kebersihan : Bersih
Keadaan Penis : (√) lengkap ( ) tidak
Peradangan/ benjolan : Tidak ada
Lain-lain: Tidak ada.

3.3 Riwayat Pertumbuhan Dan Perkembangan


1. Gizi : BB : 50 Kg TB: 130 Cm An. R di rumah
makan nasi, lauk-pauk, buah dan sayur.
2. Kemandirian dalam bergaul : An. R sudah bisa bergaul dengan anak
yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya.
3. Motorik halus : An. R dapat menulis, menggambar.
4. Motorik kasar : An. R sudah bisa berlari dan melompat.
5. Kognitif dan bahasa : An. R sudah bisa dengan lancar.
6. Psikososial : An. R sudah bisa bergaul dengan baik di
lingkungan.

3.4 Pola Aktifitas sehari-hari


No Pola kebiasaan Sebelum sakit Saat sakit
1 Nutrisi
a. Frekuensi 3 X/ Hari 2x/ Hari
b. Nafsu makan/selera Baik Berkurang
c. Jenis makanan Nasi, lauk-pauk, buah Bubur, lauk-pauk
2 Eliminasi
a. BAB
Frekuensi 1x -
Konsistensi Lembek -
b. BAK
Frekuensi 4-5x/hari 5-6x/ hari
Konsistensi Kuning jernih Kuning jernih
3 Istirahat/tidur
a. Siang/ jam ±1-2 jam ±2-3 jam
b. Malam/ jam ±10 jam ±7-8 jam
4 Personal hygiene
a. Mandi 2x / hari 2x / hari dilap
b. Oral hygiene - -
c. Rambut 1 hari 3x -
d. Pakaian Baju di ganti 2xsehari Baju di ganti 2xsehari
e. Kuku Di potong setiap 2 Kuku bersih
minggu sekali, dan
bersih

3.5 Terapi Obat


Tanggal 17 Juni 2019
1. Amoxilin syr 3x1 cth
2. Febrinex 3x 1 cth

Palangka Raya, 17 Juni 2019


Mahasiswa,

Kelompok II
ANALISA DATA

DATA SUBJEKTIF KEMUNGKINAN MASALAH


DAN DATA PENYEBAB
OBJEKTIF
Invasi kuman patogen Nyeri akut
DS:
(bakteri dan virus)
P : Klien mengatakan
nyeri saat menelan
Reaksi antigen dan
Q: Nyeri seperti ditusuk-
antibodi dalam tubuh
tusuk
tidak dapat melawan
R: Nyeri dirasakan pada
antigen kuman
tenggorokan
S: Skala nyeri 5 (sedang)
Virus dan bakteri
T: Nyeri hilang timbul
menginfeksi tonsil
DO :
 Kesadaran: compos
Epitel terkikis
mentis
 Wajah klien tampak
Tonsilitis
meringis ketika
disuruh menelan
Pembengkakan tonsil
 TTV :
Nadi : 112 x/menit,
Nyeri akut
RR: 23 x/menit.
Suhu : 38,3 0C
 BB: 30 kg, TB: 117
cm

DS: Invasi kuman patogen Hipertermia


Ibu klien mengatakan (bakteri dan virus)
An. R Demam sudah 2
hari ini sebelum dibawa Reaksi antigen dan
ke PKM. antibodi dalam tubuh
DO : tidak dapat melawan
 Kesadaran: compos antigen kuman
mentis
 Wajah klien tampak Virus dan bakteri
meringis ketika menginfeksi tonsil
disuruh menelan
 Kulit terasa hangat Epitel terkikis
 TTV :
Nadi : 112 x/menit, Tonsilitis
RR: 23 x/menit.
Suhu : 38,3 0C Pembengkakan tonsil
 BB: 30 kg, TB: 117
cm Respon inflamasi

Pembuluh darah
termoregulasi
hipotalamus
meningkat

Peningkatan suhu tubuh


PRIORITAS MASALAH
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi
2. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (tonsilitis)
RENCANA KEPERAWATAN
Nama Pasien : An. R
Ruang Rawat : Ruang Anak UPT Puskesmas Pahandut

Diagnosa Tujuan (Kriteria hasil) Intervensi Rasional


Keperawatan
Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan perawatan selama 3 1) Observasi tingkat nyeri, lokasi, dan 1) Mengetahui tingkat nyeri, lokasi,
dengan agen cedera kali kunjungan diharapkan nyeri yang karakteristik nyeri. dan karakteristik nyeri
biologi dirasakan berkurang maupun hilang. 2) Observasi skala nyeri dan TTV 2) Mengetahui keadaan umum
Kriteria hasil: 3) Anjurkan pasien melakukan teknik pasien
1) Klien tampak tenang relaksasi 3) Agar pasien tidak berfokus pada
2) Nyeri berkurang 0-2 4) Berikan tindakan nyaman dan nyeri dan mengurangi nyeri
3) Klien dapat menelan dengan baik aktivitas hiburan 4) Meningkatkan relaksasi dan
5) Berikan pendidikan kesehatan membantu perhatian pada sesuatu
tentang manajemen nyeri 5) Agar klien mengerti tentang
6) Kolaborasi dengan dokter untuk manajemen nyeri dan mengurangi
pemberian analgesik rasa nyeri yang dirasakan
RENCANA KEPERAWATAN
Nama Pasien : An. R
Ruang Rawat : Ruang Anak UPT Puskesmas Pahandut

Diagnosa Tujuan (Kriteria hasil) Intervensi Rasional


Keperawatan
Hipertemia Setelah dilakukan pendidikan kesehatan 1) Observasi suhu tubuh 1) Untuk mengetahui suhu tubuh
berhubungan dengan selama 3 kali kunjungan diharapkan tidak 2) Observasi warna kulit pasien
proses penyakit terjadi peningkatan suhu tubuh. 3) Berikan kompes hangat pada 2) Untuk mengetahui adanya
(tonsilitis) Kriteria hasil: daerah lipatan (aksila dan lipatan perubahan warna kulit
1) Suhu tubuh dalam batas normal 36,5- paha) 3) Untuk membantu menurunkan
37,5 0C 4) Anjurkan pasien menggunakan panas
2) Tidak ada perubahan warna kulit pakaian tipis 4) Untuk membantu menurunkan
5) Anjurkan pasien untuk minum air panas
putih yang banyak 5) Untuk membantu menurunkan
6) Kolaborasi dengan dokter untuk panas
pemberian antipiretik 6) Agar pasien lebih nyaman dan
menurunkan panas.
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

Hari, tanggal Implementasi Evaluasi (SOAP) Tanda tangan


dan
dan jam
Nama Perawat
Selasa, 1) Mengobservasi tingkat nyeri, Selasa, 18 Juni 2019
18 Juni 2019 lokasi, dan karakteristik nyeri. S:
15.00 WIB 2) Mengobservasi skala nyeri dan Ibu An. R mengatakan anaknya masih mengeluh
15.30 WIB TTV nyeri tenggorokan.
16.00 WIB 3) Menganjurkan pasien melakukan O :
teknik relaksasi 1) TTV:
4) Memberikan tindakan nyaman dan N:88 x/m
aktivitas hiburan RR: 22 x/m
5) Memberikan pendidikan kesehatan S: 36,8 0C Kelompok II
tentang manajemen nyeri 2) Klien tampak masih meringis ketika disuruh
6) Berkolaborasi dengan dokter untuk menelan
pemberian analgesik 3) Klien tampak mengerti ketika diberikan
penjelasan tentang manajemen nyeri
4) Skala nyeri 4
5) Terapi yang diberikan:
a. Amoxilin syr 3x1cth
b. Febrinex 3x1 cth
A:
Masalah teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi :
1) Mengobservasi tingkat nyeri, lokasi, dan
karakteristik nyeri.
2) Mengobservasi skala nyeri dan TTV
3) Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian
analgesik
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

Hari, tanggal Implementasi Evaluasi (SOAP) Tanda tangan


dan
dan jam
Nama Perawat
Selasa, 1) Mengobservasi suhu tubuh Selasa, 18 Juni 2019
18 Juni 2019 2) Mengobservasi warna kulit S:
15.00 WIB 3) Memberikan kompes hangat pada Ibu An. R mengatakan demam anaknya sudah
15.30 WIB daerah lipatan (aksila dan lipatan turun.
16.00 WIB paha) O:
4) Menganjurkan pasien menggunakan 1) TTV:
pakaian tipis N: 88 x/m
5) Menganjurkan pasien untuk minum RR: 22 x/m
air putih yang banyak S:36,8 0C Kelompok II
6) Berkolaborasi dengan dokter untuk 2) Kulit pasien tidak terasa hangat
pemberian antipiretik 3) Terapi yang diberikan:
a. Amoxilin syr 3x1cth
b. Febrinex 3x1 cth

A:
Masalah teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi :
1) Mengobservasi suhu
2) Menganjurkan pasien untuk minum air putih
yang banyak
3) Mengkolaborasi dangan dokter untuk pemberian
obat antipiretik
CATATAN PERKEMBANGAN

Hari, tanggal Implementasi Evaluasi (SOAP) Tanda tangan


dan
dan jam
Nama Perawat
Rabu, 1) Mengobservasi tingkat nyeri, Selasa, 19 Juni 2019
19 Juni 2019 lokasi, dan karakteristik nyeri. S:
15.00 WIB 2) Mengobservasi skala nyeri dan Ibu An. R mengatakan anaknya masih mengeluh
15.30 WIB TTV nyeri tenggorokan namun sudah berkurang.
16.00 WIB 3) Menganjurkan pasien melakukan O :
teknik relaksasi 6) TTV:
4) Memberikan tindakan nyaman dan N:80 x/m
aktivitas hiburan RR: 20 x/m
5) Memberikan pendidikan kesehatan S: 36,5 0C Kelompok II
tentang manajemen nyeri 1) Klien tampak masih meringis ketika disuruh
6) Berkolaborasi dengan dokter untuk menelan
pemberian analgesik 2) Skala nyeri 3
3) Terapi yang diberikan:
a. Amoxilin syr 3x1cth
b. Febrinex 3x1 cth
A:
Masalah teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi :
1) Mengobservasi skala nyeri dan TTV
2) Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian
analgesik
CATATAN PERKEMBANGAN

Hari, tanggal Implementasi Evaluasi (SOAP) Tanda tangan


dan
dan jam
Nama Perawat
Rabu, 1) Mengobservasi suhu tubuh Selasa, 19 Juni 2019
19 Juni 2019 2) Mengobservasi warna kulit S:
15.00 WIB 3) Memberikan kompes hangat pada Ibu An. R mengatakan demam anaknya sudah
15.30 WIB daerah lipatan (aksila dan lipatan turun.
16.00 WIB paha) O:
4) Menganjurkan pasien menggunakan 4) TTV:
pakaian tipis N: 80 x/m
5) Menganjurkan pasien untuk minum RR: 20 x/m
air putih yang banyak S:36,5 0C Kelompok II
6) Berkolaborasi dengan dokter untuk 5) Kulit pasien tidak terasa hangat
pemberian antipiretik 6) Terapi yang diberikan:
a. Amoxilin syr 3x1cth
b. Febrinex 3x1 cth

A:
Masalah teratasi
P:
Intervensi di hentikan
BAB 4
PEMBAHASAN

Berdasarkan teori-teori keperawatan di BAB 2 laporan ini dan dalam


melakukan asuhan keperawatan pada An. R dengan kasus Tonsilitis di Ruang
Poli Anak UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya yang terdapat pada BAB 3,
maka ada beberapa hal yang menjadi persamaan yaitu:

4.1 Pengkajian
Berdasarkan pengkajian pada tanggal 17 Juni 2019, Pukul 10.00 WIB pada
An. R dengan diagnosa medis Tonsilitis. Ibu An. R mengatakan “Ibu An. R
mengatakan An. R nyeri tenggorokan saat menelan “P: nyeri saat menelan Q:
Nyeri seperti ditusuk-tusuk R: nyeri ditenggorokan S: skala 5 (sedang) T: Nyeri
hilang timbul”. Ibu An. R mengatakan bahwa anak nya susah menelan dan badan
An. R sudah 2 hari panas dibawa ole ibunya ke UPT Puskesmas Pahandut. Di
Puskesmas An. R di periksa oleh dokter dan di resepkan obat amoxicillin syr 3x1
cth dan febrinex 3x1 cth pyr.
Menurut Soepardi 2007, Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang
merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan
kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu tonsil faringeal
(adenoid), tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah),
tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring atau Gerlach’s tonsil).
pengkajian keperawatan anak mencakup data umum, riwayat dan
pemeriksaan fisik, riwayat pertumbuhan dan perkembangan, pola aktivitas
sehari-hari dan pengkajian fokus.
Dari uraian diatas antara fakta dan opini terdapat kesamaan dalam
pengkajian yang dilakukan terhadap An. R pengkajian berfokus pada
pengkajian awal dan lanjutan, dimana pengkajian yang dilakukan tidak hanya
sekali pertemuan, tapi dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah klien yang
dilakukan 3x kunjungan. Dalam pengkajian klien tampak, gelisah, lemas.
4.2 Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan hasil pengkajian, diagnosa yang diangkat oleh penulis dalam
asuhan keperawatan Anak pada An. R engan diagnosa medis Tongsilitis di
Ruang Poli Anak UPT Puskesmas Pahandut Palangka Raya yaitu :
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi
2. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (tonsilitis).
Diagnosa Keperawatan menurut Teori
. Nyeri akut berhubungan dengan pembengkakan jaringan tonsil.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
3. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
5. Gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubungan dengan obstruksi pada
tuba eustaki
Dalam pelaksanaan pengkajian yang telah dilakukan oleh penulis terdapat
beberapa perbedaan diagnosa dari diagnosa yang kami ambil dengan diagnosa
dari teori yaitu diagnosa yang kami ambil hanya tiga sedangkan diagnosa yang
dari teori terdapat enam diagnosa.

4.3 Intervensi Keperawatan


Penentuan prioritas masalah dalam kasus ini disesuaikan menurut Hirarki
Maslow yaitu kebutuhan dasar dan keadaan yang mengancam keselamatan klien.
Berdasarkan intervensi diagnosa pertama Observasi tingkat nyeri, lokasi, dan
karakteristik nyeri. Observasi skala nyeri dan TTV, Anjurkan pasien melakukan
teknik relaksasi, Berikan tindakan nyaman dan aktivitas hiburan, Berikan
pendidikan kesehatan tentang manajemen nyeri, Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian analgesik.
Intervensi diagnosa kedua, Observasi suhu tubuh, Observasi warna kulit,
Berikan kompes hangat pada daerah lipatan (aksila dan lipatan paha) Anjurkan
pasien menggunakan pakaian tipis, Anjurkan pasien untuk minum air putih yang
banyak, Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antipiretik.
Berdasarkan pernyataan di atas, penulis dalam membuat/menyusun
intervensi keperawatan mengikuti rumusan intervensi sesuai dengan teori yang
ada yaitu ONEK (Observasi, Nursing terapi/tindakan mandiri, Edukasi, dan
Kolaborasi).

4.4 Implementasi Keperawatan


Implementasi pada asuhan keperawatan dilakukan sesuai dengan rencana
intervensi yang telah dibuat sebelumnya.
Pada diagnosa pertama implementasi yang dilakukan yaitu:
Mengobservasi tingkat nyeri, lokasi, dan karakteristik nyeri, Mengobservasi
skala nyeri dan TTV, Menganjurkan pasien melakukan teknik relaksasi,
Memberikan tindakan nyaman dan aktivitas hiburan, Memberikan pendidikan
kesehatan tentang manajemen nyeri, Berkolaborasi dengan dokter untuk
pemberian analgesik.
Pada diagnosa kedua implementasi yang di lakukan yaitu : Mengobservasi
suhu tubuh, Mengobservasi warna kulit, Memberikan kompes hangat pada
daerah lipatan (aksila dan lipatan paha), Menganjurkan pasien menggunakan
pakaian tipis, Menganjurkan pasien untuk minum air putih yang banyak,
Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian antipiretik
Berdasarkan teori, implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan
perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap
perencanaan (Setiadi, 2012: 53). Dalam melaksanakan tindakan perawatan,
selain melaksanakannya secara mandiri, harus adanya kerja sama dengan tim
kesehatan lainnya. Implementasi merupakan realisasi rencana tindakan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan menilai data yang baru.
Implementasi tindakan dibedakan menjadi tiga kategori yaitu: independent
(mandiri), interdependent (bekerja sama dengan tim kesehatan lainnya: dokter,
bidan, tenaga analis, ahli gizi, apoteker, ahli kesehatan gigi, fisioterapi dan
lainnya) dan dependent (bekerja sesuai instruksi atau delegasi tugas dari
dokter) (Zaidin, 2003: 84).

4.5 Evaluasi Keperawatan


Evaluasi menentukan respons klien terhadap tindakan keperawatan dan
seberapa jauh tujuan perawatan telah terpenuhi. (Patricia A. Potter, 2005).
Pada kasus, evaluasi keperawatan dilakukan pada hari yang sama dengan
implementasi keperawatan. Evaluasi dari tindakan yang telah diberikan pada
Tn. Y berdasarkan dari intervensi.
Evaluasi pada diagnosa pertama Pola nafas tidak efektif b.d. penurunan
kontraktivitas miokard d.d. pasien mengeluh sesak nafas yaitu data subyektif :
ibu An. R mengatakan, “anaknya masih mengeluh nyeri tenggorokan.” Data
Obyektif : TTV: (N:88 x/m, RR: 22 x/m, S: 36,8 0C), Klien tampak masih
meringis ketika disuruh menelan, Klien tampak mengerti ketika diberikan
penjelasan tentang manajemen nyeri, Skala nyeri 4,Terapi yang diberikan:
(Amoxilin syr 3x1cth, Febrinex 3x1 cth). Masalah Nyeri Akut teratasi
sebagian, Lanjutkan intervensi.
Evaluasi pada diagnosa kedua Nyeri dada berhubungan dengan iskemi
jaringan yaitu data subyektif : Ibu An. R mengatakan “demam anaknya sudah
turun.” Data obyektif: TTV: (N: 88 x/m, RR: 22 x/m, S:36,8 0C )Kulit pasien
tidak terasa hangat, Terapi yang diberikan:(Amoxilin syr 3x1cth, Febrinex 3x1
cth), Masalah teratasi sebagian, Lanjutkan intervensi.
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pada pengkajian, tidak semua data yang muncul pada kasus sama dengan
teori. Tetapi pada pemeriksaan fisik didapatkan banyak kesamaan antara teori
dan fakta yang ada. Hal tersebut menurut penulis, karena reaksi dan daya
tahan tubuh tiap individu yang berbeda-beda, lama tidaknya individu terpajan
dengan penyakit tersebut, serta riwayat terpajan sebelumnya. Masalah utama
keperawatan anak pada kasus Tonsilitis disebabkan karena adanya data
pendukung yang ditemukan oleh penulis.
Dalam diagnosa yang diangkat oleh penulis terdapat kesamaan dengan
diagnosa secara teori. Hal tersebut karena adanya gambaran penyakit yang
jelas dan tanda gejala yang menunjang pengangkatan diagnosa sebagian besar
sesuai dengan teori yang ada.
Intervensi yang dilakukan hanya sebagian saja, dan tidak semua
intervensi yang ada di teori ada di kasus. Hal tersebut disesuaikan dengan
waktu, keadaan klien, dan pemilihan kemungkinan intervensi yang akan
efektif dan sesuai dengan keadaan klien.
Tindakan keperawatan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah
dibuat dan ada beberapa tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan rencana
yang telah disusun dan hanya beberapa rencana yang dapat dilakukan. Karena
adanya penyesuaian antara rencana yang disusun dan tindakan keperawatan
dengan keadaan klien.
Terdapat perbedaan antara teori dan fakta di mana tidak semua hasil yang
diharapkan dari evaluasi sesuai dengan teori yang ada. Hal ini disebabkan
karena waktu yang ada tidak mencukupi untuk melakukan tindakan
keperawatan secara optimal, serta masalah tersebut tidak begitu saja langsung
teratasi. Keterbatasan waktu dalam melakukan tindakan keperawatan
membuat hasil yang diharapkan dari evaluasi pun berbeda dari teori yang ada.
5.2 Saran
5.2.1 Penulis
Meningkatkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan anak tentang
sistem persyarafan dengan diagnosa Tonsilitis serta dapat menambah
wawasan tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terbaru.
5.2.2 Bagi Institusi Pendidikan
Bagi institusi pendidikan agar dapat meningkatkan kegiatan
pembelajaran dan pendalaman materi kepada mahasiswa mahasiswi tentang
teori dan penerapannya pada lahan praktek, dan diharapkan pada mahasiswa
untuk selalu memperhatikan pelajaran-pelajaran yang diberikan untuk
diterapkan pada saat di lahan praktek. Karena masih banyak hambatan-
hambatan saat saya melakukan asuhan keperawatan dilahan praktek,
terutama pada asuhan keperawatan tentang Keperawatan Anak yang
dilakukan pada An. R dengan diagnosa medis Tonsilitis. Penulis berharap
dengan adanya hambatan-hambatan tersebut mahasiswa mahasiswi dapat
lebih giat belajar dan melatih keterampilan pada saat terjun ke lahan praktek
nantinya dan bagi dosen, kasus ini dapat dijadikan bahan evaluasi dan
perbandingan sejauh mana mahasiswa dapat menerapkannya baik itu di
lahan klinik ataupun masyarakat dan keluarga serta sebagai pembanding apa
yang didapat secara teoritis di akademik dengan yang terjadi di lahan
praktek.
5.2.3 Bagi Lahan Praktik
Sebagai bahan evaluasi rumah sakit terhadap mahasiswa dan mahasiswi
yang menjalankan praktek klinik di Puskemas tersebut, sekaligus sebagai
masukan dalam sejauh mana keterampilan mahasiswa mahasiswi penerapan
nyata dilahan prakteknya nanti, sehingga dapat meningkatkan mutu
pelayanan kepada masyarakat terutama di ruang Poli Anak UPT Puskesmas
Pahandut Palangka Raya.
DAFTAR PUSTAKA
Brodsky L. Adenotonsillar disease in children. In: Cotton RT, Myer CM
editors. Practical pediatric otolaryngology. Philadelphia, New York
Lippincott-Raven, :p.15-38
Brodsky L, Poje Ch. Tonsillitis, tonsilectomy and adenoidectomy. In:
Bailey BJ, Johnson JT, Newlands SD editors. Ototlaryngology Head
and Neck Surgery, 4th Ed Vol 1. Philadelphia: Lippincott Williams
& Wilkins, 2006:p.1183-98.
Firman, Sriyono (2006). Faktor lingkungan pencegahan bakteri dan virus.
Jakarta: Salemba.
Hembing, (2004). Teknik pemeriksaan telinga hidung tenggorokkan
Jakarta: EGC
Hammouda M, Khalek ZA, Awad S, Azis MA, Fathy M. Chronic
tonsillitis bacteriology in egyptian children including antimicrobial
susceptibility. Aust. J. Basic & Appl. Sci.,2009;3(3):1948-53.
Mansjoer, (2000) Hubungan Faktor Lingkungan Rumah Dan
Karakteristik Balita Dengan Kejadian Penyakit 2006. Depok : FKM
UI.
Kornblut AD. Non-neoplastic diseases of the tonsils and adenoids. In:
Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL, editors
Otolaryngology 3th ed. Philadelphia WB Saunders Company
1991:p.2129-46.
Kartasamita. (2000). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian
ISPA Pada Batita Di Puskesmas Dahlia Kota Makassar Tahun
2006. Makassar : FKM UNHAS.
Koch et al. (2003). Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan
Akut. Jakarta : salemba.
Megantara, Imam. Tonsilektomi terhadap kadar interferon dan tumor.
Jakarta: EGC.
Nettina. (2006). Buku pencegahan penanganan bakteri dan viruh pada
tubuh. Jakarta: EGC.
Nanda, (2008). Hubungan Lingkungan Fisik Rumah Dengan Kejadian
Infeksi bakteri dan virus Pada Anak Balita Di Kabupaten Wonosobo
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012. Depok : FKM UI.
Reeves, 2001. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta :Rineka Cipta.
Supardi. (2007) faringitis tonsillitis dan hipertrofi adenoid dalam buku
ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorokan. Edisi ke enam.
Jakarta FKUI; 2007
Shelov. (2004). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan pembedahan
pada tonsil dan pencegahan Tasikmalaya : FKM UNSIL.
Soepardi, Effiaty Arsyad,dkk, 2007. Bacteriology of tonsilar surface and
core in patients with recurrent tonsillitis, undergoing tonsilectomy.
Otolaryngology,2009;15(4):95-7.
Tuminah, S. (2011). Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC
Widoyono. (2008;156). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
Kejadian Tonsilitis (amandel) Pada Balita Di Wilayah Kerja
Puskesmas Brangsong II Kabupaten Kendal. Semarang : FKM
UNDIP.