Anda di halaman 1dari 67

1

PERSIAPAN PRODUKSI

Pembuatan busana secara industri dapat diartikan kegiatan ekonomi


mengolah bahan busana hingga menjadi produk busana dengan melibatkan
sejumlah tenaga kerja,peralatan/mesin dan berbagai sumber daya secara efektif
dan efisien untuk menghasilkan produk busana dalam jumlah banyak yang
memiliki kualitas yang sama dalam kurun waktu yang telah ditentukan dan
dipasarkan dalam jangkauan wilayah yang luas.

1. Pengembangan Produk
Proses produksi garment dimulai dari pengembangan produk/diterimanya
order dari buyer yang dilanjutkan dengan pembuatan order sheet, pembuatan
sampel produk, penyiapan bahan baku. Proses awal sebelum produksi dapat
diuraikan sebagai berikut:
a. Pengembangan Disain
Pada proses pengembangan produk di industry melalui berbagai riset trend
dan riset pasar. Riset trend digunakan untuk memprediksi model busana yang
akan trend dan riset pasar digunakan untuk mengetahui perilaku dan selera
konsumen terhadap model. Hasil dari riset ini dikembangkan oleh tim desainer
sehingga memunculkan ide, sket dan gambar busana untuk menjadi satu
koleksi busana, yang selanjutnya dari koleksi yang akan diproduksi dibuatkan
disain produksi. Pada proses selanjutnya disain tersebut kemudian dibuatkan
sample (contoh produk) pakaian jadinya. Tidak semua industri busana
melakukan proses pengembangan produk ini. Proses pengembangan produk ini
biasanya hanya dilakukan oleh industri yang memiliki brand/merek busana
sendiri. Berikut ini contoh pengembangan produk kemeja dengan melakukan
riset trend dan pasar (https://riashah94.blogspot.co.id/2015/06/module-
fas4009-fashion-design-practice.html):

1
1) Fashion trend story for the season Autumn Winter 15-16

Gambar 2.1
2) Client board for the selected brand

Gambar 2.2
3) Design Developments

Gambar 2.3

2
Gambar 2.4
4) Final Line up

Gambar 2.5

Gambar 2.6

3
5) Garment Specification Sheets

Gambar 2.7

Gambar 2.8
6) Photoshoot

Gambar 2.9

4
Gambar 2.10

Gambar 2.11
Banyak industry garmen yang hanya menerima pesanan produksi dari para
pemilik/pememgang merek (buyer) sehingga tidak mengembangkan sendiri
desainnya. Pada proses ini, order yang diterima dari buyer dapat berupa sket
disain dapat pula berupa sampel produk. Apabila berupa sampel produk maka
akan dilakukan penterjemahan dalam bentuk disain yang kemudian diberikan
catatan berisi analisis disain yang meliputi: bentuk dan jumlah komponen, jenis
bahan, warna bahan, asesoris, spect ukuran, dan jumlah order.
Contoh analisis disain berdasarkan order:

Gambar 2.12
Sumber: https://id.pinterest.com/pin/402298179192087636/

5
b. Penanganan Order
Hasil dari proses pengembangan produk yang beupa desain dan sample
standarnya kemudian dituangkan dalam lembar ordersheet yang umumnya
berisi
1) Desain busana
2) Ukuran standar busana (S, M, L, XL dst)
3) Jumlah order dan batas waktu pengiriman barang.
4) Spesifikasi bahan busana
5) Standar pengerjaaan
Ordersheet selanjutnya dilengkapi dengan Production Specification Sheet
yang menunjukkan spesifikasi material yang digunakan.
Industi garmen Indonesia umumnya adalah industri yang hanya
mengerjakan order berbagai brand/merek busana yang beredar di dunia. Para
pemilik merek (buyer) akan mengirimkan order untuk diproduksi oleh indsutri
garmen.

Gambar 2.13. Contoh Ordersheet


Sumber: http://www.konveksibandung.net/2014/03/formulir-persetujuan-
produksi-order.html

6
Gambar 2.14. Contoh Production Sheet
Sumber: https://www.lifehack.org/articles/lifestyle/the-ultimate-suit-
wearing-cheat-sheet-every-man-needs.html

c. Pembuatan Sampel Produk


Berdasarkan lembar order yang diterima maka bagian sample dan
patternmaker kemudian membuatkan sample produksi kepada (buyer). Sample
produksi kemudian dikirimkan kepada buyer untuk mendapatkan persetujuan.
Jika pihak buyer telah menyetujui sample maka sample yang telah disetujui
buyer tersebut menjadi.sample standar produksi.
Pembuatan Sampel memerlukan berbagai tahap untuk mendapatkan
persetujuan desain dari buyer. Sesuai tahapan pengembangan sampel diberi
nama sebagai berikut:
1) Development sample terdiri dari: sebelum proses cutting dan sewing
dimulai
a) Proto sample,
b) Fit sampel,
c) Size set sampel,
d) Sales man sampel,
e) Advertising sample

7
2) Production Sample terdiri dari:
a) Approval/Pre-production Sample: sebelum Pre prod Meeting
b) Production sampel: sesudah sewing dimulai
c) TOP of produksi (TOP) sampel: pengiriman sample tersebut paling
lambat 1 minggu setelah produksi dimulai
3) Finished Goods Sample terdiri dari:
a) Shipping sample (setelah barang dikirim/ekspor)
Istilah tersebut setiap industry tidak selalu sama, kemungkinan besar setiap
buyer memiliki istilah sample yang berbeda dengan yang di atas.
d. Penyiapan Bahan dan Pengujian Defect Bahan
Setelah sample produksi ditetapkan maka dilakukan proses pembeliaan
bahan-bahan yang diperlukan untuk produksi busana. Bahan tersebut meliputi
bahan utama, bahan pelengkap dan bahan tambahan. Bahan-bahan yang dibeli
kemudian dilakukan prosespemeriksaaan (pemeriksaan persiapan produksi/pre
production inspection) kualitas bahan untuk memastikan bahwa bahan
memenuhi kualitas dan mencukupi secara kuantitas.

2. Pembuatan Pola, Grading, Layout Marker


Pembuatan pola, melakukan grading serta penyusunan layout marker di
industry sebagian besar sudah menggunakan software.
a. Sistim Pembuatan Pola, Grading, Layout Marker di Industri
Berdasarkan lembar order dan sample yang telah disetujui maka dilakukan
proses pembuatan pola. Pola dibuat berdasarkan ukuran standar tanpa
mengukur tubuh pemakai. Ukuran standar umumnya disimbolkan dalam
bentuk huruf atau angka S, M, L atau 14, 16, 17 dsb. Pola dibuat untuk semua
ukuran yang akan diproduksi seperti S, M, L dan XL. Proses pembuatan pola
dilakukan secara manual maupun komputer (CAD). Umumnya industri garmen
telah mengunakan pembuatan pola dan marker dengan komputer. Marker
merupakan gambaran lay out rencana pencacahan lembaran kain menjadi
bagian-bagian terpotong dari sebuah model apparel dengan rasio tertentu
berdasarkan pola dan dibuat se-efisien mungkin.

8
Marker biasanya dibuat dalam beberapa size sekaligus sedekat mungkin
dengan rasio order agar lebih efisien. Rasio Marker adalah perbandingan dan
jumlah ukuran (size) pola-pola yang dibuat pada selembar marker. Pengaturan
rasio pada marker dilakukan sedemikan rupa berdasarkan jumlah pesanan dari
tiap size (size assortment). Sehingga size assortment order produksi terbagi
habis oleh rasio marker dikali dengan jumlah amparan kain sehingga
diharapkan tidak terdapat kelebihan atau kekurangan jumlah potongan. Rasio
yang ideal untuk pembuatan marker dengan 4 ukuran S-M-L-XL adalah 1:2:2:1.
Namun hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena seringkali assortment size
order pesanan tidak mempunyai perbandingan rasio yang baku. Jika hal ini
terjadi maka diperlukan marker ke-2, ke-3 dan seterusnya dengan rasio yang
berbeda dengan marker utama untuk dapat memenuhi jumlah pesanan. Rasio
marker berpengaruh pada besaran efisiensi kain dan efisiensi kebutuhan bahan
untuk seluruh jumlah produksi yang akan dibuat. Hal berikutnya yang harus
diperhatikan dalam pembuatan marker adalah kualitas pembuatan markernya
sendiri. Pembuatan marker yang kurang baik dapat mengakibatkan hasil
potongan yang kurang sempurna dan pada gilirannya akan mempengaruhi
kualitas produk akhirnya. Contoh tahapan pembuatan marker kemeja dan
celana:
1) Menganalisis disain kemeja dan celana
Kegiatan menganalisis kemeja dan celana sangat penting dilakukan
agar kita dapat mengetahui komponen-komponen yang dibutuhkan.
Dengan mengetahui komponen rok sesuai disain akan mempermudah
dalam melakukan perancangan layout marker hingga perancangan
penggabungan komponen rok. Berikut ini analisis disain kemeja dan
celana:
2) Memeriksa break down size pesanan kemeja/celana
Contoh:
PT. ALFA GARMEN mendapat pesanan kemeja dan celana dari salah satu
pelanggan dengan break down size sbb:

9
Contoh Break Down Size Order Kemeja

SIZE S M L
KUANTITI ORDER 25 50 25
Contoh Break Down Size Order Celana

SIZE S M L
KUANTITI ORDER 20 60 20

3) Menentukan panjang marker dan jumlah marker


Panjang marker disesuaikan dengan panjang meja potong yang
tersedia. Selain itu panjang marker ditentukan juga oleh size ratio
berdasarkan kuantiti order serta kapasitas mesin cutting. Penghitungan
jumlah marker dapat menggunakan rumus:

Jumlah marker = kuantiti order terbanyak : (ratio


terbesar x tinggi layer)

*) bila hasilnya tidak bulat maka ditambah 1 marker


Contoh
PT. Sejahtera Garment menerima order kemeja dan celana panjang dengan
jumlah order tertera dalam break down size di atas, dengan rasio order
kemeja 1:2:1, sedangkan order celana panjang dengan ratio 1:3:1 serta
kemampuan mesin potong 5 lapis satu kali potong, maka jumlah marker
yang harus disiapkan adalah ...
Jumlah marker kemeja = 50 : (2 x 5) = 5 marker
Jumlah marker celana panjang = 60 : (3 x 5) = 4 marker
Cara hitung panjang penentuan jumlah marker kemeja
SIZE S M L JUMLAH
Kuantiti Order (PCS) 25 50 25 100
Size Ratio Marker 1 1 2 1 4
Hasil Potongan (PCS) U/5 Layer 5 10 5 20
Selisih Potongan (PCS) 20 40 20 80
Size Ratio Marker 2 1 2 1 4
Hasil Potongan (PCS) U/5 Layer 5 10 5 20

10
Selisih Potongan (PCS) 15 30 15 60
Size Ratio Marker 3 1 2 1 4
Hasil Potongan (PCS) U/5 Layer 5 10 5 20
Selisih Potongan (PCS) 10 20 10 40
Size Ratio Marker 4 1 2 1 4
Hasil Potongan (PCS) U/5 Layer 5 10 5 20
Selisih Potongan (PCS) 5 10 5 40
Size Ratio Marker 5 1 2 1 4
Hasil Potongan (PCS) U/5 Layer 5 10 5 20
Selisih Potongan (PCS) 0 0 0 0
Total Potongan (PCS) 25 50 25 100

Cara hitung panjang penentuan jumlah marker celana panjang


SIZE S M L JUMLAH
Kuantiti Order (PCS) 20 60 20 100
Size Ratio Marker 1 1 3 1 5
Hasil Potongan (PCS) U/5 Layer 5 15 5 25
Selisih Potongan (PCS) 15 45 15 75
Size Ratio Marker 2 1 3 1 5
Hasil Potongan (PCS) U/5 Layer 5 15 5 25
Selisih Potongan (PCS) 10 30 10 50
Size Ratio Marker 3 1 3 1 5
Hasil Potongan (PCS) U/5 Layer 5 15 5 25
Selisih Potongan (PCS) 5 15 5 25
Size Ratio Marker 4 1 3 1 5
Hasil Potongan (PCS) U/5 Layer 5 15 5 25
Selisih Potongan (PCS) 0 0 0 0
Total Potongan (PCS) 20 60 20 100

Setelah perencanaan marker dilakukan maka akan diperoleh panjang


marker yang dibutuhkan. Berdasarkan panjang marker kemudian
ditentukan kebutuhan bahan yang diperlukan. Jika sebuah perusahaan
garmen memperoleh pesanan kemeja ukuran S sebanyak 25 piece ukuran
M sebanyak 50 piece dan ukuran L sebanyak 25 piece. Setelah dilakukan
perencanaakn marker diperoleh panjang marker adalah 6 meter. Untuk
menghitung kebutuhan bahan adalah sebaga berikut:

༌⧔༌༌⧔
༌⧔༌

X Jumlah Order = Kebutuhan Bahan
༌ ༌༌ ⧔༌h
༌༌༌⧔༌⧔

11
Jumlah rasio ukuran adalah total jumlah pola yang harus dimarker
yang diperoleh dari jumlah rasio perbandingan jumlah pesanan pada
masing masing ukuran
S : M : L = 25 : 50: 25 = 1 : 2 : 1
Maka jumlah rasio ukuran adalah 1 + 2 + 1 = 4
dengan jumlah order adalah 25 + 50 +25 = 100 piece
sehingga kebutuhan bahan adalah
ꀀ
x 100 piece = 150 meter

Jika toleransi bahan adalah 10 % maka jumlah bahan yang harus


disediakan adalah
110 % x 150 = 165 meter
Berdasrkan data diatas maka dalam proses marker komponen pola
yang harus ditata adalah 1 set ukuran S, 2 set ukuran M dan 1 set ukuran L
sehingga jika proses pemotongan bahan dilakukan dalam 5 kali proses,
mengingat kemampuan mesin potong hanya 5 layer, maka penggelaran
kain sepanjang 6 meter sebanyak 5 lapis/tumpukan. Maka proses
pemotongan dilakukan 5 kali.
4) Tentukan jumlah layer /amparan kain dalam satu spreading
Dari pesanan kemeja dan celana sesuai dengan order PT. ALFA
GARMEN, maka untuk menentukan tinggi layer dalam satu spreading
harus mempertimbangkan kemampuan pisau cutting, tebal kain, serta
perhitungan size ratio. Sebagai contoh pada order celana panjang di atas,
menunjukkan kemampuan pisau mesin cutting dengan susunan spreading
5 layer dalam satu kali potong.
5) Tentukan jenis marker
Penetapan jenis marker didasarkan pada motif kain (polos, garis, atau
motif), lebar kain dan karakteristik kain. Jenis marker antara lain Solid
Marker, One Way Marker, Two Way Marker, One Each Way Marker,
Special Marker Block Marker
(https://text-id.123dok.com/document/6qm699e4y-pembuatan-busana-
industri-materi.html).

12
Solid Marker adalah semua pola dapat ditempatkan pada posisi bebas
(arah lusi, pakan, maupun serong) tidak perlu mempertimbangkan jenis
komponen garment. Jenis marker ini biasanya digunakan untuk jenis kain
polos.

Gambar 2.15. Solid Marker

One Way Marker adalah semua pola dalam marker diletakan satu arah,
dimana letak pola arahnya tidak boleh berlawanan. Biasanya marker ini
digunakan untuk jenis kain corduroy, atau untuk jenis motif kain bunga
border print, fabric one facing direction.

Gambar 2.16. One Way Marker

Two Way Marker adalah peletakan pola dalam marker dapat dilakukan
dua arah. Biasanya marker ini digunakan untuk jenis kain yang
mempunyai design dengan repeat yang simetris.

13
Gambar 2.17. Two Way Marker

One Each Way Marker Pengertian dari one each marker adalah
peletakan pola dalam marker diperbolehkan dua arah Tapi hasil dalam satu
garment akan satu arah. Metode ini sama seperti two way marker
Special Marker Block Marker Pengertian special marker adalah
perlakuan khusus dalam peletakan pola pada marker yang disebabkan oleh
kualitas kain yang mempunyai cacat konsisten.

b. Pembuatan Pola, Grading, Layout Marker Kemeja Secara Industri


1) Penggunaan Tool dalam CAD System
Richpeacce CAD System merupakan salah satu software yang saat ini
digunakan di industry, karena penggunaannya mudah, praktis dan banyak
memberikan berbagai fasilitas. Sebelum membuat pola perlu menguasai
beberapa tool dasar yang sering digunakan dalam pembuatan pola
khususnya pola kemeja dan pola celana.
a) Inteligent Pen (Shortcut “F”)

Tool ini bisa digunakan untuk beberapa fungsi,


diantaranya:
Membuat persegi empat, gerakan/ posisikan pointer ke tengah
atau di area kerja, kemudian klik dengan tombol mouse kiri sambil
ditahan jangan dilepas (jika salah ulangi). Sambil ditahan gerakan/
geser sedikit cursor/ mouse hingga keluar gambar persegi dan lepas

14
tombol kiri yang tadi ditahan, bila berhasil maka akan keluar gambar
seperti dibawah.

Gambar 2.18
Membuat garis lurus dan lengkung, caranya dengan mengarahkan
posisi pointer ke area kerja dan klik tombol mouse geser maka akan
muncul garis. Bila akan merubah dari garis lengkung ke garis lurus
klik kanan maka simbul akan berubah. Simbul logo huruf T untuk
garis lurus, simbul menyerupai huruf S untuk garis lengkung.

Gambar 2.19
b) Rectangle (shorcut “S”)

Digunakan untuk membuat persegi empat juga, cara


menggunakannya, Klik logonya atau tekan “S” dari keyboard, logo
pada pointer mouse akan berubah menjadi persegi empat, selanjutnya

15
arahkan pointer ke area kerja dan klik dengan tombol kiri sambil
ditahan (jangan dilepas tombol kiri) dan geser sedikit dan lepas
tombol kiri yang tadi ditahan. Kemudian isi kolom yang keluar
dengan nilai panjang dan lebar yang kita inginkan, seperti gambar
dibawah.

Gambar 2.20
c) Add point (Shorcut “P”)
Berfungsi untuk menambahkan poin pada garis atau bidang lain,
penambahan poin bisa lebih dari satu. Cara menggunakan bisa dengan
shortcut “p” dan logo pointer akan berubah menjadi dua garis kecil
dan titik.

Gambar 2.21

16
Gambar 2.22
d) Paralel Line (Shortcut “Q”)
Paralel line digunakan untuk membuat/ menambahkan garis
paralel/ sejajar dengan garis yang anda. Caranya katifkan tool dengan
menekan “Q” dari keyboard dan logo pointer akan berubah menjadi
garis paralel. Kemudian arahkan pointer ke garis yang akan kita
tambahkan garis paralelnya (sampai garis berwarna merah), terus klik
dengan tombol kiri kemudian geser kearah yang diinginkan kemudian
klik tombol kiri sekali lagi dan akan muncul jendela kotak yang harus
diisi pada kolom seperti petunjuk dibawah:

Gambar 2.23
Isi kolomnya sbb :
Kolom pertama adalah jarak garis pertama/ garis acuan ke garis kedua.
Kolom kedua adalah jumlah garis yang akan ditambahkan.
Kolom ketiga adalah jarak antara garis kedua dengan garis ketiga,
keempat dst

17
e) Forfex (Shorcut “W”)
Digunakan untuk memecah desain menjadi beberapa bentuk pola.
Setelah kita selesai membuat desain pola dari rectangle/ persegi empat,
maka kita bisa memecahnya menjadi beberapa bagian seperti contoh
pada gambar berikut :

Gambar 2.24

f) Pattern Flip
Pattern flip atau Mirror adalah tool yang digunakan untuk
mencerminkan pola terhadap sumbu X (horizontal) atau Y (vertical)
sesuai yang dibutuhkan. Caranya, aktifkan toolnya dan perhatikan
logo pointernya dan tekan shift maka logo pointer akan berubah sesuai
arah sumbu yang akan dipilih. Arahkan pointer ke area pola yang akan
di flip dan klik tombol kiri mouse sekali dan pola akan berubah
posisinya.

18
Gambar 2.25

2) Pola Badan
Disain

Gambar 2.26
Size Spec Kemeja Pria
SIZE NAME S M L
Panjang Kemeja 68 70 72
Lebar Punggung 46 47 48
Lingkar Badan 104 110 116
Lingkar Leher 44 46 47
Panjang Lengan 54 55 56
Lingkar Kerung Lengan 47 49 51
Rendah Bahu 4 4 4
Lingkar Pergelangan Tangan 24 26 28

19
Badan Depan
a) Buatlah kotak menggunakan rectangle dengan ukuran = ¼
Lingkar Badan x Panjang kemeja (27.5 x 70 cm).

Gambar 2.27
b) Buatlah kotak lagi untuk kerung leher dengan ukuran 1/6 Lingkar
leher +1 cm x 1/6 Lingkar leher + 1,5 cm.

Gambar 2.28
c) Buatlah Parallel Line menggunakan Intelegance Pen

dengan ukuran ½ Lingkar Lengan + 2 = 26.5 cm (tahan


lalu tarik kebawah garis paling atas lalu ketik angka 26.5 lalu klik
kanan)

20
Gambar 2.29

d) Gunakan intellegance pen arahkan pointer pada sudut atas


sampai muncul pintang merah Enter. Isi table ½ Lebar Punggung
+ 1 = 23.5 cm kemudian isikan -4 untuk nilai Y, lalu tarik garis
lurus ke garis leher terluar. Klik kanan.

Gambar 2.30

21
e) Tarik garis parallel untuk membuat Flap button lebar 1.5 cm

Gambar 2.31

f) Potong garis flap panjang 9.2 cm sama dengan panjang


kerung leher di TM, klik pada titik awak kemudian klik titik ke
dua, muncul tabel isi 9.2. Hapus garis yang tidak berguna dengan

eraser

Gambar 2.32

22
g) Buat kerung leher, buat garis lengkung dari TM sampai garis bahu
terdalam.

Gambar 2.33

h) Buat kerung lengan, klik point , arahkan pointer ke


titik garis bahu terluar, enter isi tabel -2 (kedalamanan kerung
lengan depan) dan ½ dari 26, 5 cm atau ½ (lingkar kerung lengan
depan + 2 cm). Hubungan titik kerung lengan dengan intelegent

pen selanjutnya luweskan garis kerung lengan.

Gambar 2.34

23
i) Buat lapisan tengah muka dengan parallel lebar 4 cm.

Gambar 2.35
Pola Badan Belakang
a) Buat garis parallel 4 cm ke atas untuk menentukan posisi bahu
bagian belakang.

Gambar 2.36
b) Buat kerung leher belakang 2 cm dan 8.7 cm.

Gambar 2.37

24
c) Buat garis bahu, arahkan pointer ke sudut tengah belakang, enter
lalu isi table dengan 23.25 cm dan -4 cm, dan hubungkan dengan
titik bahu terdalam.

Gambar 2.38
d) Buat kerung lengan dengan lengkung bagian belakang selisih 0,5

cm dari lengan depan. klik point , arahkan pointer ke


titik garis bahu terluar, enter isi tabel 1.5 cm (kedalaman kerung
lengan depan, ½ dari 26, 5 cm atau ½ (lingkar kerung lengan + 2
cm). Hubungan titik kerung lengan dengan intelegent

pen selanjutnya luweskan garis kerung lengan.

Gambar 2.39
Pola Saku
Arahkan pointer pada tengah muka sejajar bawah lengan enter, isi
table 7.5 cm untuk posisi saku, oke, buat garis ke samping 11 cm

25
untuk lebar saku. Selanjutnya buat garis untuk tinggi saku 13 cm, dan
selesaikan saku.

Gambar 2.40. Pemberian Tanda kancing dan lubang kancing

a) Blok pola dengan forfex , mulai dari pola saku, pola


depan, pola belakang.

Gambar 2.41

26
b) Betulkan arah serat dengan klik kanan.

Gambar 2.42
c) Tekan G untuk mengkopi pola dengan, klik kanan, klik kiri sambal
geser pola pada posisi yang sesuai, lalu klik kanan untuk
membalik posisi pola.

Gambar 2.43
d) Blok pola, sesuaikan arah serat, lalu buka pola belakang dengan

pattern symmetry

27
Gambar 2.44

e) Buat tanda posisi kancing posisi kancing pertama

Gambar 2.45
Selanjutnya posisi kancing ke 2 dan seterusnya.

28
Gambar 2.46

f) Buat tanda lubang kancing pertama dengan button hole

Gambar 2.47

29
g) Buat tanda lubang kancing ke 2 dan seterusnya

Gambar 2.48
2) Pola Kerah
Pola Daun Kerah
Keterangan Pola daun Krah
A – B = C – D = ½ lingkar leher
A – C = B – D = 5 cm A turun 1 cm
C naik 1 cm
B keluar 1 cm
Hubungkan titik-titik A1 – C1 – D – B1 – B – A1, sehingga
membentuk daun krah

Gambar 2.49
Ukuran
Nama ukuran Hasil Ukuran
Lingkar leher 42 cm
Tinggi daun kerah 6 cm

30
Langkah Pembuatan Pola

a) Membuat garis bantu dengan rectangle 6 x ½ lingkaar


kerung leher.

Gambar 2.50
b) Dari garis luar masuk 1 cm.

Gambar 2.51
c) Keluar 1 cm.

Gambar 2.52
d) Hubungkan dan bentuk garris pola kerah kemeja.

Gambar 2.53

31
e) Warnai kerah dengan forfex dan sesuaikan arah serat
pola.

Gambar 2.54
Pola Board
Keterangan
A – B = C – D = ½ lingkar leher +2
A – C = B – D = 4 cm
C naik 1 cm, D naik 1,5 cm
B masuk 1 cm, B1 turun 0,5 cm
Hubungkan titik-titik A – C1 – D1 – B2 – A, sehingga membentuk
daun krah

Gambar 2.55

Ukuran
Nama ukuran Hasil Ukuran
Lingkar leher 42 cm
Tinggi kaki kerah 4 cm

Langkah Pembuatan Pola Kaki Kerah

Buat kotak menggunakan rectangle dengan ukuran ( lingkar


leher + 2 cm)x tinggi board (23 x 4 cm)

32
Gambar 2.56
Menentukan titik masuk dari tepi 1 cm ddan keluar 1,5 cm.

Gambar 2.57

3) Pola Lengan

Gambar 2.58

Ukuran
Nama ukuran Hasil Ukuran
Panjang lengan 51 cm
Lingkar kerung lengan 49 cm
Lingkar pergelangan tangan/panjang manset 26 cm

33
Langkah Membuat Pola Lengan

a) Membuat garis bantu dengan rectangle panjang lengan – lebar


manset dan ½ kerung lengan.

Gambar 2.59
b) Turun ½ dari ½ kkerung lengan.

Gambar 2.60

34
c) Hubungkan garis.

Gambar 2.61

d) Garis dibagi menjadi 3 bagian dengan point .

Gambar 2.62
e) Ukur lingkar pergelangan tangan. ½ lingkar pergelangan tangan +
2 cm.

Gambar 2.63

35
f) Hubungkan garis lengan.

Gambar 2.64
g) Buat titik offset pada garis 1/3 kerung lengan.

Gambar 2.65
h) hubungkan dan bentuk garis kerung lengan.

Gambar 2.66

36
i) Buka pola dengan , klik kiri arahkan pointer ke titik
awal garis miror ke titik akhir grs mirror.

Gambar 2.67
j) Buat opening slevee (belahan)

Gambar 2.68
Tinggi belahan 10 cm.

Gambar 2.69

37
k) Blok pola dengan forfex

Gambar 2.70
Pola Manset
Keterangan Pola Lengan
A – B = C-D = lingkar pergelangan lengan
A – C = B-D = lebar manset 4 cm
C – C1 = C – C2 = D – D1 = D – D2 = 1,5 cm
Hubungkan titik A – C2 – C1 – D1 – D2 – B – A Sehingga
membentuk pola manset

Gambar 2.71

Langkah Pembuatan Pola Manset

Buat kotak menggunakan rectangle dengan ukuran


lingkar pergelangan lengan x lebar manset.

Gambar 2.72

38
Memberi warna dan arah serat pola manset dengan forfex.

Gambar 2.73

Pola Slit Besar


Keterangan Pola Belahan Bagian Atas
A – B = 17 cm (panjang belahan)
A – A1 = A – A2 = 2 cm
B – B1= B – B2 = 2,5 cm
B3 tengah-tengah B – B1
B1 – B5 = B – B4 = 1 cm
A2 – A3 = 12 cm
Hubungkan titik A1 – A – A2 – A3 – A4 – B4 – B3 – B5 – A1
sehingga membentuk belahan manset bagian atas

Gambar 2.74
Langkah Pembuatan Pola Slit Besar

Buat kotak menggunakan rectangle dengan ukuran


panjang belahan x (2 x lebar belahan) = (17 x 5 cm),

Gambar 2.75

39
Dari garis atas turun 1 cm.

Gambar 2.76
Hubungkan garis titik tersebut.

Gambar 2.77
Memberi warna dan arah serat.

Gambar 2.78
Pola Slit Kecil
keterangan Pola Belahan Bagian Bawah
A – B = C – D = 13 cm
A – C = B – D = 4 cm
A – A1 = C – A1 = 2 cm

40
B – B1 = D – B1 = 2 cm
Hubungkan titi A – C – D – B – A sehingga membentuk pola
belahan bagian bawah

Gambar 2.79

Langkah Pembuatan Pola Belahan Bagian Bawah

Buat kotak menggunakan rectangle dengan ukuran


panjang belahan x lebar belahan (13 x 4 cm), selanjutnya tandai
bagian tengah untuk lipatan pola belahan bagian bawah.

Gambar 2.80

4) Grading Pola Kemeja


a) Buka tool Edit size & mesurement.

Gambar 2.81
b) Isikan ukuran S, M, L, lalu oke.

Gambar 2.82

41
c) Buka Grade table dan mulai menggrading sesuai dengan
ukuran yang telah ditentukan dengan mengisi tabel dengan nilai
selisih.

Gambar 2.83
Lakukan pada bagian lain dengan cara yang sama
d) Hasil pola yang telah digrading seprti gambar berikut ini.

Gambar 2.84

42
e) Beri nama setiap bagian – bagian pola.

Gambar 2.85
Lakukan pada semua komponen dengan cara yang sama
f) Beri kampuh dengan langkah

Gambar 2.86

43
g) Beri kampuh pada bagian sisi

Gambar 2.87
h) Kampuh tengah muka bagian kiri

Gambar 2.88
i) Kampuh sisi pola depan bagian kiri

Gambar 2.89

44
5) Layout Marker

a) Buka aplikasi RP-GMS

Gambar 2.90
b) Pilih load, pilih file kemeja.

Gambar 2.91
c) Buka pola yang akan dibuat markernya dan isikan jumlahnya
sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan, oke.

Gambar 2.92

45
d) Tata pola dengan pilih nesting, start autonesting.

Gambar 2.93

b. Pembuatan Pola, Grading, Layout Marker Celana


Pembuatan Pola Celana Pria

Bagian Tubuh S M M
Panjang Celana 93 95 100
Lingkar Pinggang 70 72 74
Tinggi Duduk 23 24 26
Lingkar Pesak 58 66 67
Lingkar Panggul 90 92 94
Lingkar Paha 60 62 64
Lingkar Lutut 50 52 54
Gambar 2.94 Lingkar Kaki 38 40 42

c. Cara Membuat Pola Celana Panjang Pria

Keterangan Pola Bagian Depan


A – B = Panjang Celana – ban pinggang (3
Cm)
A – A1= Tinggi Duduk = ½ Lingkar
Pesak – 6 cm
A1 – A2 = ½ A1 – B dikurangi 3 cm
A – E1 = 1/3 (1/4 Lingkar Pinggang)
E1 – E =1/4 Lingkar Pinggang

46
Gambar 2.95 C – C1 = ½ Lingkar Paha – 4 cm
F – F1 = ½ Lingkar Lutut – 2.5 cm
D – D1= ½ Lingkart kaki – 2
C1 – C2 = 3.5 cm
C2 – C3 = 6 Cm
Keterangan Pola Bagian Belakang
E1 – H2 = 2 cm
H2 – H1 = 2.5 cm
H1 – H = ¼ Lingkar Pinggang + 3 cm
Titik H menyentuh / sejajar tepi atas
C4 – C5 = ½ Lingkar paha + 4 cm
F2 – F3 = ½ Lingkar Lutut + 2.5 cm
D3 – C2 = ½ Lingkar Kaki = 2 cm
Letak Klep Saku belakang 6 cm dari gari
H–H1, Kupnat 3 cm tepat di tengah H – H1

1) Pola Celana Bagian Depan

a) Gunakan rectangle untuk membuat dasar pola celana ½


lingkar paha-4 cm x (panjang celana-lebar ban pinggang) yaitu 27
x 92 cm.

Gambar 2.96

b) Membuat garis parallel untuk menjadi garis tengah pola celana,


ukuran setengah dari lebar pola.

47
Gambar 2.97

c) Buat garis pangkal paha dengan parallel dengan ukuran ½ lingkar


pesak – 6 cm.

Gambar 2.98
d) Buat garis parallel posisi lutut

Gambar 2.99

48
e) Buat garis pesak dengan dengan menghitung panjang dari ssisi
pinggang sepanjang ¼ lingkar pinggang + 2cm (untuk
membentuk panggul).

Gambar 2.100
f) Hubungkan ke posisi pangkal paha masuk 3.5 cm.

Gambar 2.101
g) Tentokan posisi lingkar lutut dari tengah lutut diukur kesamping ½
lingkar lutut – 2.5 cm.

49
Gambar 2.102
h) hubungkan dengan pangkal paha.

Gambar 2.103
i) Tentukan lingkar dari tengah diukur kesamping ½ lingkar kaki – 2
cm.

Gambar 2.104

50
j) hubungkan dengan lingkar lutut.

Gambar 2.105
k) Buat sisi pinggang dengan mengukur ¼ lingkar pinggang dari
tengah muka pinggang.

Gambar 2.106
l) Hubungkan untuk membentuk sisi panggul

Gambar 2.107

51
m) Buat garis yang menghubungkan paha dan lutut serta lingkar kaki.

Gambar 2.108
n) Buat pesak dengan ukuran 6 cm ke atas.

Gambar 2.109
o) Hubungkan dengan pangkal paha dan lengkungkan.

Gambar 2.109

52
p) Buat pesak dengan membuat garis parallel 3.5 cm.

Gambar 2.110
q) Bentuk pesak dan potong garis yang tidak berguna.

Gambar 2.110

r) Membuat saku sisi lebar 4 cm dari sisi pinggang.

Gambar 2.111

53
s) Lebar saku ke bawak 2 cm dari titik panggul.

Gambar 2.112
t) Membuat kantong.

Gambar 2.113

54
u) Bentuk kantong.

Gambar 2.114
v) Lengkungkan kantong.

Gambar 2.115

55
w) Pecah pola badan depan dan saku, lapusan golbi.

Gambar 2.116

2) Pola Celana Bagian Belakang


a) Arahkan pointer pada bagian atas golbi, enter isi table pergeseran
titik untuk posisi tengah belakang.

Gambar 2.117

b) Gunakan compases Menentukan titik pinggang bagian


belakang, dengan membuat garis dari tengah muka ke samping
kiri 2 cm dan ke atas 2.5 cm.

56
Gambar 2.118
c) Arahkan ke garis pinggang depan untuk mendapatkan garis
pinggang belakang dengan ukuran ¼ lingkar pinggang + 3 cm.

Gambar 2.119
d) Buat titik pesak belakang dengan menghitung paha depan dan
belakang dibagi 2.

Gambar 2.120

57
e) Hubungkan dengan titik pesak belakang.

Gambar 2.121

Gambar 2.122
f) Menghubungkan dengan kaki.

.
Gambar 2.123

58
g) Lakukan cara yang sama untuk menyelesaikan sisi celana dengan
catatan setiap titik penyambungan berhenti bari diteruskan agar
mendapatkan titik grading nantinya.

Gambar 2.124
h) Membuat kupnat dan saku, buat garis parallel.

Gambar 2.125
i) Membuat garis bantuan kupnat panjang 12 cm.

Gambar 2.126

59
j) Potong garis untuk menyesuaikan lebar saku.

Gambar 2.127

Gambar 2.128
k) Hapus garis.

Gambar 2.129

60
l) Sempurnakan bentuk saku.

Gambar 2.130

m) Buat kupnat dengan V dart pilih garis yang akan menjadi


posisi kupnat, isi tabel jarak kupnat.

Gambar 2.131

Gambar 2.132

61
n) Blok pola.

Gambar 2.133
o) Buat ban pinggang

Gambar 2.214

62
p) Buat saku

Gambar 2.215
q) Namai masing komponen pola.

Gambar 2.216

63
3) Grading Pola
a) Pilih Size -> edit size and measurement

Gambar 2.217
b) Lakukan grading sesuai dengan selisih ukuran pada setiap
komponen, dengan cara seperti pada grading kemeja.

Gambar 2.218

64
4) Layout Marker Celana
a) Membuka RP-GMS

Gambar 2.219
b) Tampilan lembar kerja yang masih kosong dan siap untuk ditata.
Gunakan autonesting untuk menata secara otomatis.

Gambar 2.220

65
c) Hasil marker pola celana panjang

Gambar 2.221

Daftar Pustaka
Alex T. Hidayat Modul Materi MK Merchandising dan Distribusi Garmen.
alexhidayat.blogspot.com.
Burke Sandra. 2011. Fashion Desgner: Concept to Collection. Burke Publishing.
China.
Frings Gini Stephens. 1996. Fashion from Concept to Consumer. Prentice Hall,
Inc. A Simon & Schuster Company Upper Saddle River, NJ 07458. United
State of Amerika.
Sri Emy Yuli S, dkk. 2017. Menguasai Software CAD Pattern Making untuk
Meraih Sukses di Industri Fashion Global Abad 21. Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan
Menengah Direktotat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.

66

Anda mungkin juga menyukai