Anda di halaman 1dari 3

DASAR PEMBENTUKAN KELUARGA

Defenisi Keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari masayarakat yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di
bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan .

Hammudah mengemukakan defenisi keluarga sebagai suatu struktur yang


bersifat khusus,hubungan satu sama lain dalam keluarga mempunyai ikatan
hubungan darah atau perkawinan/pernikahan. Oslen dan Fuller (2003)
mendefinisikan keluarga sebagai orang yang hidup bersama, saling mencintai dan
saling membnatu satu sama lain . Selanjutnya Odgen dan Zevin (1976)
mengemukakan pengertian keluarga sebagai kelompok orang yang mempunyai
hubungan darah atau perkawinan, hidup umumnya pada tempat yang sama, saling
bergantung dalam berbagai cara untuk menjaga kelangsungan hidup mereka, dan
memiliki status legal dalam masyarakatnya.

Dari beberapa definisi diatas terkandung beberapa pengertian:1), keluarga


itu dapat terbentuk melalui perkawinan/pernikahan. 2), keluarga tinggal pada
suatu tempat tertentu secara bersama-sama, dan 3), setiap anggota keluarga saling
memperhatikan dan saling membantu untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.
Sehingga dapat disimpulkan disini bahwa keluarga bukan saja sebagai sepasang
pengantin atau sekumpulan orang yang hidup bersama pada suatu tempat tinggal
tertentu,melainkan lebih luas dari itu yaitu sebagai suatu “support system”, sistem
kehidupan yang para anggotanya saling mendukung dan menunjang untuk
mencapai kebahagiaan bersama.

Elemen Keluarga

Keluarga sebagai “support system” memiliki lima elemen pokok. Kelima


elemen pokok itu adalah ;1), Kepercayaan,adanya rasa saling percaya diantara
anggota keluarga. 2), Komitmen, kesepakatan setiap anggota keluarga untuk
berhubungan, dan berpartisipasi dalam setiap pengambilan keputusan keluarga
serta secara bersama-sama mengantisipasi masa depan. 3), Harapan, kebutuhan-
kebutuhan emosional, biologis, intelektual,dan ekonomik. 4), Komunikasi, rasa
tanggung jawab untuk saling memerhatikan,saling mendengar, dan saling
memberi perasaan antara satu dengan lainnya. 5), tempat tinggal bersama, suatu
tempat yang dapat memberikan kebebasan bagi anggota keluarga untuk bertindak.
Apabila kelima elemen “support system” itu berjalan baik, akan menjadi dasar
yang baik dan kuat untuk pengembangan diri anggota keluarga, terutama untuk
pengembangan dan pembentukan kepribadian anak-anak.

Cinta sebagai dasar perkawinan dan pembentukan keluarga

Dasar pembentukan sebuah keluarga adalah perkawinan dan cinta


merupakan dasar yang paling baik untuk memasuki perkawinan dan menciptakan
keluarga yang kokoh.

Sekaitan dengan makna cinta, Mahmud (2006) mengemukakan pendapat


Sasse tentang cinta sebagai perasaan tertarik yang sangat kuat antara laki-laki dan
perempuan yang dibarengi dengan kelemah-lembutan dan keinginan-keinginan
seksual antar satu sama lain. Batasan cinta yang lebih dinamis dikemukakan oleh
Peck (1991) cinta adalah suatu tindakan aktif, bukan perasaan yang pasif, kita
“berdiri” dalam cinta bukan “jatuh” di dalamnya. Cinta lebih mengutamakan
“memberi” daripada “menerima”. Dengan demikian, cinta dapat diartikan sebagai
suatu proses belajar untuk berkomunikasi dengan lawan jenis agar tercipta
hubungan antarpribadi dan hubungan emosional yang saling menguntungkan
kedua belah pihak.

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita
sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga ), lain dari
itu perkawinan merupakan cara pembentukan rumah tangga yang memberikan
kesempatan kepada manusia untuk melampiaskan fitrahnya dengan baik dan
memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologisnya.

Menurut Suryanah (1995:77) perkawinan menurut ajaran islam memiliki


arti yang sangat penting karena :
1. Perkawinan merupakan fitrah manusia, artinya setiap manusia yang sehat
baik jasmani maupun rohani memerlukan perkawinan sebagai pemenuhan
kebutuhan hidupnya sebagai manusia
2. Perkawinan mengandung makna ibadah
3. Perkawinan merupakan awal kehidupan seseorang baik laki-laki maupun
perempuan yang membentuk keluarga sebagai proses regenerasi yang akan
melanjutkan kehidupan.

REFERENSI

Sunarty, Kustiah dan Alimuddin Mahmud. 2016. Konseling Perkawinan dan


Keluarga. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar