Anda di halaman 1dari 106

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pangan dan Gizi memiliki peranan penting dalam pembangunan suatu bangsa.
Hubungan gizi dengan pembangunan bersifat timbal balik, yang artinya bahwa gizi akan
menentukan keberhasilan suatu bangsa, begitupula sebaliknya kondisi suatu bangsa dapat
mempengaruhi status gizi masyarakatnya. Gizi dalam kaitannya dengan pembangunan suatu
bangsa berkaitan dengan sumber daya manusia, karena gizi sebagai sentra untuk
pembangunan manusia.
Dimensi pembangunan bangsa diarahkan pada upaya kebijakan dan program yang
dilakukan untuk meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat yang menghasilkan manusia-
manusia Indonesia yang unggul. Oleh karena itu salah satu prioritas pembangunan adalah
pembangunan karakter bangsa, yang tentunya ditentukan pula oleh kecukupan pangan dan
gizi.
Masalah pangan dan gizi merupakan masalah pokok yang mendasari seluruh
kehidupan dan pembangunan bangsa. Masalah ini adalah masalah yang harus selalu
mendapat perhatian ekstra dari pemerintah dan kita semua tentunya sebagai warga negara.
Akar permasalahan pangan dan gizi sebenarnya adalah kemiskinan, ketidaktahuan, ketidak
pedulian (ignorance), distribusi bahan pangan yang buruk. Demikian pentingnya pangan dan
gizi bagi kehidupan masyarakat, maka tersedianya harus dapat dijamin dalam kualitas
maupun kuantitas yang cukup untuk pemenuhan aspirasi humanistik masyarakat, yaitu hidup
maju, mandiri, dalam suasana tenteram, serta sejahtera lahir dan batin.
Permasalahan pangan dan gizi Indonesia khususnya di Provinsi Kalimantan timur
seperti kurangnya perbaikan Gizi Masyarakat terutama pada ibu pra-hamil, ibu hamil dan
anak, kurangnya peningkatan aksesibilitas pangan yang beragam, kurangnya peningkatan
pengawasan mutu dan keamanan pangan, kurangnya peningkatan perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS) serta kurangnya penguatan kelembagaan pangan dan gizi.
Untuk mencapai status perbaikan gizi dan pangan nasional peran pemerintah saja tidak
cukup, karena proses pengawasan dan pendanaan yang setingkat nasional tidaklah mudah.
Disini peran daerah diperlukan untuk dapat melaksanakan maupun menginovasikan program
gizi dan pangan. Pemerintah daerah yang dianggap lebih memahami permasalahan
daerahnya dituntut akan inovasinya serta jalinan hubungan kemitraan dengan swasta. Oleh

1
karena itu permasalahan perbaikan gizi masyarakat merupakan upaya dari berbagai sektor
yang membutuhkan sinergi dan harus terkoordinasi. Rencana Aksi Pangan dan Gizi (RAD PG)
Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2014-2018 akan dilakukan revisi kembali dengan
mengedepankan kesesuaian dengan perencanaan baik secara horizontal maupun vertikal
dengan dokumen RPJMN 2015-2019 dan Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RAN PG)
2015-2019. Selain itu RAD PG ini juga tetap disusun atas dasar partisipasi multisektor; dan
diharapkan integrasi yang baik antar program, keleluasaan dalam penganggaran, dan
kapasitas kelembagaan yang kuat dalam menjawab tantangan sebagai upaya pencapaian
ketahanan pangan dan nutrisi.

Penyusunan dokumen Revisi Rencana Aksi Pangan dan Gizi Provinsi Kalimantan Timur
Tahun 2014-2018 melibatkan berbagai SKPD maupun instansi yaitu Balai Besar Pengawasan
Obat dan Makanan, Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Peternakan &
Kesehatan Hewan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan
Masyarakat dan Pemerintahan Desa, Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Biro Hukum Sekretariat Daerah
Provinsi Kalimantan Timur, serta Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda.

1.2 Maksud dan Tujuan


Tujuan penyusunan Revisi RAD Pangan dan Gizi Provinsi Kalimantan Timur 2014-2018
ini adalah sebagai panduan, arahan, bagi seluruh pemangku kepentingan pada tataran provinsi
maupun kabupaten dan kota serta masyarakat untuk berperan serta aktif dalam upaya
mewujudkan ketahanan pangan dan gizi sesuai dengan visi dan misi yang tertuang dalam
RPJMD Provinsi Kaltim Tahun 2013-2018 dalam rangka meningkatkan perbaikan Gizi
Masyarakat terutama pada ibu pra-hamil, ibu hamil dan anak, Peningkatan aksesibilitas pangan
yang beragam, Peningkatan pengawasan mutu dan keamanan pangan, peningkatan perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) serta penguatan kelembagaan pangan dan gizi. Dalam
dokumen ini akan direvisi terkait updating data, analisa data terhadap buku laporan RAD PG
yang telah disusun sebelumnya serta kesesuaian terhadap dokumen perencanaan RAN PG
2015-2019, RPJMN 2015-2019,serta RPJMD Kalimantan Timur 2013-2018 dan Renstra SKPD
terkait.

2
Berdasarkan maksud diatas, dalam rangka meningkatkan kontribusi yang optimal untuk
mewujudkan ketahanan pangan dan gizi Kalimantan Timur, maka tujuan Revisi RAD-PG
Kalimantan Timur Tahun 2014-2018 adalah sebagai berikut :

a. Mengintegrasikan dan menyelaraskan peran setiap stakeholders baik dari aspek


perencanaan, program, serta kegiatan dalam melaksanakan rencana aksi pangan dan gizi;
menetapkan prioritas penanganan masalah pangan dan gizi; maupun memantau dan
mengevaluasi pembangunan pangan dan gizi
b. Meningkatkan komitmen setiap stakeholders dalam menjalankan pembangunan pangan
dan gizi secara terpadu dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan dan gizi yang
berkelanjutan
c. Sebagai panduan bagi kabupaten/kota dalam menyusun Rencana Aksi Pangan dan Gizi
agarterbangun sinergitas implemetasi pelaksanaan dan evaluasi capaian.

1.3 Dasar Hukum


Kegiatan Penyusunan Rancangan RAD–PG Provinsi Kalimantan Timur 2014 – 2018
berdasar pada :
1. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan ;
2. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan ;
3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah ;
4. Perpres Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN Tahun 2015 – 2019 ;
5. Perpres Nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi
6. Perda Provinsi Kalimantan Timur Nomor 7 Tahun 2014 tentang RPJMD Tahun 2013-2018
Provinsi Kalimantan Timur ;
7. Perda Provinsi Kalimantan Timur No 13 Tahun 2015 Perubahan atas Perda No. 1 Tahun
2013 Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan berkelanjutan ;
8. Perda Provinsi Kalimantan Timur No. 9 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan
Perangkat Daerah Provinsi Kalimantan Timur ;
9. Pergub Provinsi Kalimantan Timur No 54 Tahun 2015 Tentang Pengawasan Mutu dan
Keamanan Pangan Segar ;
10. Pergub Provinsi Kalimantan Timur No 55 Tahun 2013 Tentang Pengelolaan Cadangan
Pangan ;
11. Keputusan Gubernur Provinsi Kalimantan Timur No 520/K.106/2015 Tentang Penetapan
Kecamatan Sentra Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura se Kalimantan Timur.

3
BAB II
PANGAN DAN GIZI SEBAGAI INTERVENSI PEMBANGUNAN

2.1 Situasi Pangan dan Gizi


2.1.1 Situasi Pangan
Secara umum situasi pangan Provinsi Kalimantan Timur masuk dalam kategori cukup
aman yang diindikasikan dengan kemampuan wilayah ini menyediakan pangan untuk
penduduk secara stabil, walaupun sebanyak 38 % mendatangkan dari luar daerah namun
dengan distribusi yang cukup lancar sehingga ketersediaan pangan utama pada dasarnya
cukup tersedia. Adapun situasi pangan Provinsi Kalimantan Timur dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1. Ketersediaan Energi dan Protein
Ketersediaan pangan merupakan aspek penting dalam mewujudkan ketahanan
pangan. Penyediaan pangan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi
masyarakat, rumah tangga, dan perseorangan secara berkelanjutan. Untuk
memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan meningkatkan kuantitas serta kualitas
konsumsi pangan, diperlukan target pencapaian angka ketersediaan pangan per
kapita per tahun sesuai dengan angka kecukupan gizinya. Widyakarya Nasional
Pangan dan Gizi (WNPG) X Tahun 2012 merekomendasikan kriteria ketersediaan
energi ditetapkan minimal 2400 kkal/kapita/hari untuk energi dan minimal 63
gram/kapita/hari untuk protein.
Ketersediaan energi di Provinsi Kalimantan Timur pada Tahun 2016 sudah di
atas rekomendasi WNPG X dengan rata - rata 2.445 kkal/kapita/hari. Ketersediaan
energi tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dari tahun 2015 sebesar
0,41 persen. Peningkatan ketersediaan energi pada Tahun 2016 disebabkan karena
adanya peningkatan produksi beberapa komoditas pangan. Seperti halnya
ketersediaan energi, tingkat ketersediaan protein pada pada Tahun 2016 juga sudah
melebihi rekomendasi angka kecukupan gizi WNPG X dengan ketersediaan protein
rata-rata 88,13 gram/kapita/hari. Ketersediaan protein tersebut mengalami penurunan
sebesar 8,36 persen jika dibandingkan dengan tahun 2015 dan masih lebih tinggi
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kecenderungan penurunan ketersediaan
protein pada Tahun 2016 ini disebabkan karena adanya menurunan ketersediaan
beberapa komoditas pangan sumber protein, seperti beras, minyak dan lemak serta
buah-buahan.

4
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan energi dan protein secara
umum sudah cukup baik. Kelebihan ketersediaan pangan tersebut dapat
dimanfaatkan sebagai stok atau cadangan. Jika dilihat dari sumbangan energi dan
proteinnya, kelompok pangan nabati dan pangan hewani memberikan porsi
sumbangan dengan jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok pangan
lainnya. Ketersediaan energi dan protein per kapita pada Tahun 2016 dapat dilihat
pada gambar 2.1 dan gambar 2.2 di bawah ini.

Sumber : Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2016


Gambar 2.1
Perkembangan Ketersediaan Energi (kkalori/kapita/hari) Tahun 2013 – 2016 di KalimantanTimur

Sumber : Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2016


Gambar 2.2
Perkembangan Ketersediaan Protein (gram/kapita/hari) Tahun 2013 – 2016
di Kalimantan Timur

5
Perkembangan skor Pola Pangan Harapan (PPH) tingkat ketersediaan
berdasarkan Neraca Bahan Makanan (NBM) sejak tahun 2013 sampai 2015
menunjukkan skor rata-rata 95,12 kecenderungan meningkat dengan rata-rata 4,12
% per tahun. Skor PPH tingkat ketersediaan dari NBM pada Tahun 2015 adalah
97,70. Untuk mencapai keberagaman yang ideal dan memenuhi Angka Kecukupan
Gizi (AKG) yang dianjurkan, maka yang perlu ditingkatkan adalah ketersediaan
kelompok pangan hewani,sayuran dan buah.

2. Perkembangan Tingkat Konsumsi Pangan


Konsumsi pangan, baik secara kuantitas maupun kualitas, harus dipenuhi agar
setiap orang dapat hidup sehat, aktif dan produktif. Gambaran pemenuhan kuantitas
konsumsi pangan diketahui dari tingkat konsumsi energi dan protein, yaitu proporsi
konsumsi energi atau protein aktual terhadap Angka Kecukupan Gizi/AKG
(rekomendasi WNPG Tahun 2012), yaitu Angka Kecukupan Energi (AKE) 2.150
kkal/kapita/hari dan Angka Kecukupan Protein (AKP) sebesar 57 gram/kapita/hari.
Pada aspek capaian konsumsi pangan penduduk secara kuantitatif pada Tahun
2016 menunjukkan tingkat konsumsi energi yang cenderung meningkat dibandingkan
dengan tahun 2015 sebesar 1,15 persen. Pada tahun 2016 AKE yakni sebesar
1.938,7 kkal/kap/hari. Angka kecukupan gizi tahun 2016 cenderung terjadi kenaikan
yakni secara berturut-turut dari tahun 2013 sampai 2016 adalah sebesar 1.752,
1.641, 1.686 dan 1.937,7 kkal/kap/hari. Konsumsi energi masih termasuk kategori
defisit energi, sekitar 1,03 persen AKE. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh
menurunnya konsumsi padi-padian, umbi-umbian, sayur dan buah yang masih
dibawah standar WNPG.
Sementara itu, konsumsi protein penduduk sudah melebihi Angka Kecukupan
Protein (AKP) dimana pada tahun 2016 mencapai sebesar 57,5 gram/kapita/hari dan
berdasarkan WNPG sebesar 57 gram/kapita/tahun. Konsumsi protein penduduk
Kalimantan Timur berarti mencapai sebesar 100,87 persen dari AKP rekomendasi
WNPG. Tingginya konsumsi protein dalam pola konsumsi pangan nasional,
memberikan indikasi bahwa konsumsi pangan sumber protein sudah terpenuhi.
Namun jika dicermati, sumbangan konsumsi protein tertinggi penduduk Indonesia
khususnya di Kalimantan Timur selama beberapa tahun terakhir berasal dari protein
pangan nabati terutama dari kelompok padi-padian (beras). Jadi, beras tidak hanya
penyumbang energi terbesar tetapi juga merupakan penyumbang protein yang

6
terbesar.
Perkembangan jumlah dan jenis bahan pangan yang dikonsumsi
mencerminkan tingkat kemampuan rumah tangga dalam mengakses pangan, yang
dipengaruhi berbagai faktor seperti pendapatan rumah tangga, ketersediaan bahan
pangan yang terdistribusi secara merata dengan harga yang terjangkau, serta
pemahaman dan tingkat kesadaran gizi masyarakat.
Secara umum, potensi pangan Kalimantan Timur belum mampu memenuhi
kebutuhan pangan masyarakatnya. Hal tersebut terlihat dari adanya defisit untuk
hampir semua komoditas, kecuali pangan hewani khususnya ikan. Kondisi defisit
ketersediaan pangan tersebut diusahakan Pemerintah Kalimantan Timur dengan
melakukan import untuk menjaga stabilitas pangan di daerah ini. Ketersediaan
komoditas karena belum sebanding dengan konsumsi masyarakat, sehingga dalam
pemenuhannya harus disuplai dari luar dalam hal ini disuplai dari Pulau Jawa dan
Sulawesi.

Sumber : Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2016


Gambar 2.3 Situasi Ketersediaan Komoditas Pangan Strategis
Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2013 – 2016

Begitu pula dengan konsumsi daging berkembang dengan pesat yang


disebabkan oleh pertambahan penduduk, peningkatan pendapatan, kesadaran gizi
serta pola hidup sehat. Berdasarkan data konsumsi maka peningkatan konsumsi
daging mencapai 11,51% pada tahun 2016. Struktur konsumsi daging jika dilihat
atas jenis daging yang dikonsumsi, sebagaimana tabel 2.1. berikut :

7
Tabel 2.1. Struktur konsumsi daging Kaltim tahun 2011-2016 (%)
No Jenis Daging 2011 2012 2013 2014 2015 2016*
1 Sapi 18,39 19,77 15,94 15,60 14,78 13,13
2 Kerbau 0,30 0,47 0,08 0,09 0,05 0,05
3 Kambing 1,32 1,04 0,86 1,64 0,64 0,61
4 Domba 0,05 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
5 Babi 1,63 2,30 1,99 2,16 1,33 1,34
6 Ayam Buras 9,97 9,40 8,99 7,29 6,63 6,70
7 Ayam Petelur 1,00 1,05 1,08 0,44 0,57 0,63
8 Ayam 67,65 65,83 70,97 72,47 75,76 77,34
Pedaging
9 Itik 0,20 0,13 0,10 0,28 0,18 0,14
10 Kelinci 0,00 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01
Jumlah 100 100 100 100 100 100

Sumber :Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Timur, 2016 * angka Sementara

Struktur konsumsi daging terbesar pada 5 tahun terakhir mencapai lebih dari
78 % adalah daging ayam ras atau Broiler. Prestasi yang telah diraih bahwa
seluruh kebutuhan konsumsi daging broiler tersebut berasal dari lokal Kaltim. Saat
ini perkembangan ternak ayam ras broiler sudah sepenuhnya ditangani swasta,
pemerintah hanya sebagai regulator saja. Konsumsi daging kambing menduduki
peringkat ke-5 pada tahun 2016 yaitu sebesar 0,61%, sebagian masih dipenuhi
dari luar daerah. Jumlah pemotongan kambing pada tahun 2016 sebanyak 37.730
ekor yang terdiri atas 15.052 ekor berasal dari lokal dan 22.678 ekor berasal dari
luar Kaltim atau 60.10%. Sedangkan daging sapi mencapai 13,13% pada tahun
2016 dan konsumsi daging tahun 2015 mencapai 14,78 % mengalami penurunan
pada tahun 2016, namun 82% dari jumlah konsumsi daging sapi tersebut masih
didatangkan dari luar daerah, hal ini menjadi peluang untuk dapat memenuhi
kebutuhan daging sapi dari lokal. Pada tahun 2016 diperlukan 65.554 ekor sapi
untuk dipotong, yang terdiri atas 12.586 ekor berasal dari lokal dan 52.967ekor
berasal dari luar Kaltim atau 80,79 %. Peluangnya sangat besar untuk
mengembangkan peternakan sapi dan kambing sehingga bisa memenuhi
kebutuhan daging sendiri tidak mendatangkan lagi dari luar Kalimantan Timur.

8
3. Perkembangan Penganekaragaman Konsumsi Pangan
Pemenuhan konsumsi pangan seyogyanya tidak hanya ditekankan pada aspek
kuantitas, tetapi yang juga tidak kalah pentingnya kualitas konsumsi pangan atau
keanekaragaman konsumsi pangan dengan gizi berimbang. Proporsi energi dari
setiap kelompok pangan terhadap total anjuran konsumsi energi memberikan
gambaran kualitas atau keragaman dan keseimbangan gizi, yang ditunjukkan
dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH). Perkembangan rata-rata kualitas
konsumsi pangan masyarakat Tahun 2016 yang ditunjukkan dengan pencapaian
skor PPH berfluktuasi setiap tahunnya. Skor PPH tahun 2016 meningkat
dibandingkan tahun 2015 yakni sebesar 2,7 poin dengan skor 82,6. Peningkatan
skor PPH tersebut banyak dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi pangan
hewani, minyak dan lemak serta konsumsi padi-padian.

Gambar 2.4 Perkembangan Konsumsi Energi dan Protein serta Skor PPH
Provinsi Kalimantan Timur
Salah satu pembentuk gizi seimbang didasarkan pada triguna makanan, salah
satunya adalah makanan sebagai sumber zat tenaga atau biasa disebut konsumsi
energi penduduk. Dari hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi tahun 2014,
konsumsi energi penduduk atau biasa disebut Angka Kecukupan Energi (AKE)
ideal/anjuran 2.000 kilokalori/kap/hari Konsumsi energi tahun 2016 sebesar 1.938,7
lebih rendah 61.3 kilokalori/kap/hari dari konsumsi energi ideal / anjuran 2.000
kilokalori/kap/hari. Tetapi bila dilihat terjadinya peningkatan konsumsi energi tahun
2016 bila dibandingkan dengan tahun 2015, atau mengalami kenaikan sebesar
25,27 kilokalori/kap/hari. Kebaikan tersebut dipicu oleh tingginya angka konsumsi
minyak dan lemak sebesar 27,0 gram/kap/hari (212,3 kkal/kap/hari). Selain minyak
dan lemak, sumbangan energi terbesar didapat dari kelompok pangan padi-padian
dan pangan hewani.

9
Sementara itu, produk utama asal ternak yang sangat penting dalam memenuhi
gizi masyarakat serta menjadi komoditas ekonomi yang strategis adalah daging,
telur, dan susu. Standar kecukupan protein hewani yang dikeluarkan oleh Widya
Karya Nasional Pangan dan Gizi (LIPI, 1989) adalah 6 gr/kapita/hari setara dengan
daging 10,3 kg, telur 6,5 kg dan susu 7,2 kg/kapita/tahun. Konsumsi protein hewani
masyarakat Indonesia saat ini daging 5,213 kg, telur 6,309 kg dan susu 7,090
kg/kapital/tahun (Data Susenas BPS, 2015). Sedangkan konsumsi protein hewani
masyarakat Kalimantan Timur sekarang ini daging 20,24 kg telur 7,64 kg dan susu
5,55 kg/kapita/tahun (Data Statistik Dinas Peternakan Prov Kaltim, 2015).
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui konsumsi daging dan telur masyarakat
Kalimantan Timur di atas Standar WPG dan Standar Nasional, namum konsumsi
susu masih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa standar konsumsi daging dan telur
telah terpenuhi, khusus konsumsi susu diharapkan dapat meningkat, walaupun
belum dapat memenuhi standar.
Permintaan terhadap produk pangan hewani ini cenderung terus meningkat
setiap tahun sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk. Pada tahun 2016
Konsumsi dari komoditi daging menempati urutan pertama dengan jumlah konsumsi
6,95 gram protein per kapita per hari, diikuti komoditi telur dengan jumlah konsumsi
2,14 gram protein per kapita perhari, dan yang terakhir adalah komoditi susu
dengan jumlah konsumsi 0,48 gram protein per kapita per hari (Tabel 2.2). Selain
faktor penduduk, faktor yang turut mendorong meningkatnya permintaan daging
sapi adalah terjadinya pergeseran pola konsumsi masyarakat dari bahan pangan
sumber protein nabati ke bahan pangan sumber protein hewani. Fenomena ini
diperkirakan akan terus berlanjut kedepan.

Tabel 2.2. Konsumsi Daging, Telur dan Susu di Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2011 –
2016 (gram protein/kapita/hari)

Komoditi Tahun

2011 2012 2013 2014 2015 2016*

1. Daging 5,31 4,83 5,43 6,85 7,36 6,95

2. Telur 1,74 1,48 1,59 - 1,77 2,14

3. Susu 0,42 0,44 0,44 - 0,41 0,48

Protein hewani 7,48 6,76 7,46 6,85 9,55 9,57

Sumber : Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur, 2016* Angka Sementara

10
Pengembangan kearah pola konsumsi pangan yang sehat memerlukan
perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat agar dengan kemauan dan
kemampuan sendiri mau mengubah pola konsumsinya ke arah yang lebih
beragam dan bergizi seimbang. Untuk itu, upaya sosialisasi dan promosi yang
lebih intensif dan melibatkan beragam pemangku kepentingan dari sektor
pemerintah, swasta, akademisi dan masyarakat secara utuh dan menyeluruh perlu
menjadi prioritas.

4. Perkembangan Konsumsi Beras dan Pangan Utama


Perkembangan jumlah dan jenis bahan pangan yang dikonsumsi
mencerminkan tingkat kemampuan rumah tangga dalam mengakses pangan, yang
dipengaruhi berbagai faktor seperti pendapatan rumah tangga, ketersediaan bahan
pangan yang terdistribusi secara merata dengan harga yang terjangkau, serta
pemahaman dan tingkat kesadaran gizi masyarakat. Secara umum, potensi pangan
Kalimantan Timur masih belum mampu memenuhi kebutuhan pangan
masyarakatnya kecuali komoditi ubi kayu.
Khusus untuk kebutuhan konsumsi beras, terlihat dari produksi padi Kalimantan
Timur tahun 2015 yang mencapai 408.782 ton masih belum cukup untuk memenuhi
kebutuhan beras penduduk Kalimantan Timur yang berjumlah 3.426.838 jiwa. Bila
dilakukan konversi gabah kering giling ke beras, maka pada tahun 2015 Provinsi
Kalimantan Timur hanya menghasilkan beras sebesar 0,6285 x 408.782 ton =
256.919 ton beras. Sementara kebutuhan beras penduduk sebesar (114 kg/kapita x
3.426.838 jiwa)/1000 = 390.660 ton beras. Dengan demikian pada tahun 2015
Kalimantan Timur masih kekurangan beras sebesar 133.740 ton beras. Bila
kekurangan beras tersebut dikonversi ke Gabah Kering Giling, maka
kekurangannya sebesar 212.792 ton.
Penyebab belum terpenuhinya kebutuhan konsumsi beras di Kalimantan Timur
adalah produksi padi yang belum bisa maksimal dikarenakan lokasi lahan
terpencar-pencar dengan luasan kecil-kecil, sarana dan prasarana (benih, pupuk,
pestisida, alsintan) serta infrastruktur sangat terbatas, belum padunya antar sektor
dalam menunjang pembangunan pertanian, meningkatnya kerusakan lingkungan,
alih fungsi lahan, dan perubahan iklim, lemahnya permodalan dan kelembagaan
petani, terjadinya perubahan SDM petugas dan struktur organisasi di tingkat

11
kabupaten/kota, adanya serangan organisme pengganggu tanaman, dan laju
pertumbuhan penduduk yang meningkat pesat.

Tabel 2.3 Ketersediaan dan Konsumsi Pangan Di Kalimantan Timur


Tahun 2011 - 2016 (Ton)
KC. KC. UBI
TAHUN TARGET BERAS JAGUNG KEDELAI UBI JALAR
TANAH HIJAU KAYU
Produksi 267,430 5,332 1,493 1,402 552 56,558 13,691
2011 Konsumsi 356,064 14,930 21,551 12,244 4,248 38,792 15,898
Surplus - 88,634 - 9,598 - 20,058 - 10,841 - 3,696 17,766 - 2,207
Produksi 266,905 6,093 952 1,399 407 47,036 11,477
2012 Konsumsi 364,765 15,295 22,078 12,543 4,352 39,740 16,286
Surplus - 97,860 - 9,201 - 21,126 - 11,143 - 3,945 7,296 - 4,809
Produksi 276,187 4,182 1,269 1,322 339 47,194 11,434
2013 Konsumsi 373,446 15,659 22,603 12,841 4,455 40,686 16,674
Surplus - 97,259 - 11,476 - 21,335 - 11,519 - 4,116 6,508 - 5,240
Produksi 268,098 6,508 1,020 1,385 333 51,800 11,443
2014 Konsumsi 382,060 16,020 23,125 13,138 4,558 41,624 17,059
Surplus - 113,962 - 9,512 - 22,104 - 11,753 - 4,225 10,176 - 5,615
Produksi 256,919 7,206 1,375 1,027 160 45,871 9,621
2015 Konsumsi 390,660 16,380 23,645 13,433 4,660 42,561 17,443
Surplus - 133,740 - 9,174 - 22,270 - 12,407 - 4,501 3,310 - 7,822
Produksi 239.184 7.382 1.423 887 193 57.243 7.033
2016 Konsumsi 385.208 16.295 23.521 13.363 4.636 42.339 17.3521
Surplus - 146.024 - 8.912 - 22.099 - 12.486 - 4.443 14.904 - 10.319
konsumsi beras : 113 kg/kapita/tahun
konversi Ton GKG jadi beras : 62,85 %
Sumber : Dinas Pangan TPH Prov. Kaltim, diolah BKPP Prov. Kaltim 2016

Perkembangan konsumsi pangan pokok sumber karbohidrat pada Tahun 2015


menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi pangan pokok yang cenderung
mengarah ke pola tunggal beras, dari semula pola beras dan/atau umbi-umbian
dan/atau jagung (Tabel 2.3).
Upaya untuk menurunkan konsumsi beras 1,5 persen per tahun belum tercapai.
Meskipun demikian, selama Tahun 2015 konsumsi beras masyarakat cenderung
mengalami penurunan, dengan laju rata-rata 1,2 persen per tahun. Pada tahun
2009 (baseline) tingkat konsumsi beras adalah 102,2 kg/kapita/tahun dan turun
menjadi 99,7 kg/kapita/tahun pada tahun 2010. Pada tahun 2014 menjadi sebesar
96,2 kg/kapita/tahun. Idealnya, apabila konsumsi beras menurun diharapkan dapat

12
disubstitusi dengan pangan pokok lainnya yang berbasis sumber daya lokal seperti
jagung, sagu, singkong, dan ubi jalar.

Sumber : Diolah oleh Dinas Pangan TPH Prov. Kaltim, 2016


Gambar 2.5 Perkembangan Konsumsi Beras Tahun 2013-2016 di Kalimantan Timur

Perkembangan konsumsi pangan sumber protein pada Tahun 2015 mengalami


peningkatan, dengan pola konsumsi pangan hewani didominasi oleh ikan (rata-rata
peningkatan konsumsi 0,2 % per tahun). Komoditas sumber protein lain yang
banyak dikonsumsi penduduk yaitu telur dan daging unggas. Kedua komoditas
tersebut menjadi komoditas utama bagi penduduk dalam memenuhi kecukupan
protein per hari, mengingat aksesibilitasnya (harga dan ketersediaan) yang dapat
terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Di sisi lain, komoditas pangan sumber
protein yang masih sangat minim dikonsumsi yaitu susu dan daging sapi. Meskipun
demikian, konsumsi komoditas susu meningkat rata-rata 3,35 % per tahun dan
daging sapi mengalami peningkatan 3,9 % pertahun.

13
Tabel 2.6 Perkembangan harga Eceran Barang – Barang yang Sesuai Perpres No. 71 Tahun 2015
Tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting di
Provinsi Kalimantan Timur

Perkembangan Harga Tahun 2016 Provinsi Kalimantan Timur


No jenis barang
sat Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
1 Barang Kebutuhan Pokok Hasil Pertanian
Beras Sulawesi Kg 11150 11150 11150 11150 11150 11150 11150 11150 11150 11150 10700 1650
Kedelai Lokal Kg 7600 7800 7850 7800 7800 7800 7800 11800 7650 7500 7500 7500
Cabe merah
Besar Kg 25500 37500 38300 40000 36650 36650 42300 37300 37350 37800 50400 41600
Cabe Keriting Kg 28250 32650 40650 37650 34900 34900 36350 36350 38950 36650 49600 42650
Cabe Rawit
Merah Kg 41600 32250 35450 37550 34200 31700 36350 36350 28550 25100 46400 42750
Cabe Rawit
Hijau Kg 45500 37900 37550 37550 37450 36650 4210 42150 41000 38650 54600 56600
Bawang
Merah Kg 38050 33000 31950 45150 43450 38300 43750 43750 44700 34860 42800 42350

2 Barang Kebutuhan Pokok Hasil Industri


Gula Kg 11300 13300 13300 13150 15350 15900 17000 16500 14650 13800 18700 18600
Minyak
Goreng Ltr 16500 16500 16500 16850 16850 17150 17150 17150 17150 17150 17150 17150
Tepung Terigu Kg 10300 10300 10300 10300 10300 10300 10300 10300 10300 10300 10300 10300

3 Barang Kebutuhan Pokok Hasil Peternakan & Perikanan


12830
Daging Sapi Kg 124280 0 128300 128300 128300 127100 128300 128300 128300 128300 128300 128300
Daging Ayam
Ras (1 ekor) Kg 39000 32800 36300 34550 34950 34950 36150 38250 40600 40700 36300 39750
Telur Ayam
Ras (1 Kg atau
16-17 butir) Kg 27250 27300 27300 25000 25000 26100 25550 25850 25400 25150 24550 24750
Ikan Bandeng Kg 0 0 0 0 0 0
Ikan Gembung Kg 30150 37100 35000 30200 32300 33900 33900 37450 34850 35100 30500 35500
Ikan Tongkol Kg 26800 28700 31850 28850 27400 28200 28200 31650 32200 29650 29800 33350

4 Barang Penting
Benih Padi Kg 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Benih Jagung Kg 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Benih Kedelai Kg 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Pupuk KCL Kg 7000 7000 7000 7000 7000 7000 7000 7000 7000 7000 7000 7000
Pupuk NPK Kg 12000 12000 12000 12000 12000 12000 12000 12000 12000 12000 12000 12000
Pupuk SP36 Kg 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500
Pupuk Urea Kg 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500
Pupuk ZA Kg 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500
Gas Elpiji Kg 16000 17500 18000 18000 18000 18000 19000 19000 19500 19000 19000 19000

14
Perkembangan Harga Tahun 2016 Provinsi Kalimantan Timur
No jenis barang
sat Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
Triplek Lbr 80000 80000 800000 80000 80000 80000 80000 80000 80000 80000 80000 80000
Semen Tonasa Kg 60300 60300 60300 61000 61000 61000 60300 60300 60300 61000 61000 61000
Besi Baja
Kontruksi Btg 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Baja Ringan Btg 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

2.2. Pendidikan di Bidang Pertanian


Adanya SMK yang bergerak dibidang pengolahan hasil pertanian, sebagai contoh
SMKN-2 Tanah Grogot sebagai pusat belajar keahlian ganda di bidang Agrobisnis untuk
Wilayah :

a. Provinsi Kalimantan Timur;


b. Provinsi Kalimantan Utara;
c. Provinsi Kalimantan Selatan
d. Provinsi Kalimantan Barat;
e. Provinsi Kalimantan Tengah;

2.3. Perkembangan Konsumsi Ikan

Pada sektor perikanan, produksi perikanan Kalimantan Timur dari tahun 2010 hingga
tahun 2014 menunjukkan penurunan yang cukup berarti dimana pada tahun 2011 total produksi
perikanan sebesar 225.116 ton dan tahun 2014 menurun menjadi 211.793 ton. Dari total
produksi perikanan, produksi perikanan laut jauh lebih mendominasi dibandingkan produksi
perikanan darat, yaitu sebesar 114.942 ton.

15
160000
146286
136664
140000 129956

120000 114842
108828.3 101718.2
93556 94679 96851 99494.09
100000

80000

60000

40000

20000

0
2012 2013 2014 2015 2016

Produksi Perikanan Laut (Ton)

Produksi Perikanan Darat (Ton)

Sumber: Statistik DKP Prov. Kaltim, 2016


Gambar 2.6
Perbandingan Produksi Perikanan Laut dan Darat
Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2012 - 2016

Produksi perikanan berkurang salah satu penyebabnya karena wilayah Kalimantan Utara
sudah tidak masuk dalam perhitungan. Selain itu, adanya perubahan iklim mepengaruhi
kegiatan perikanan dan kelautan di daerah. Utamanya pada tambak-tambak di pesisir. Upaya
yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan sinergitas sistem produksi hulu-hilir yang
menciptakan harmonisasi pelaku, penyedia jasa, pendukung dan pemerintah di sektor
perikanan. Saat ini Dinas Perikanan dan Kelautan membagi tiga area Provinsi Kalimantan
Timur sebagai pusat industri berbasis perikanan yakni wilayah utara, tengah dan selatan.
Wilayah utara meliputi Berau, Kutai Timur, dan Bontang yang diperuntukkan bagi perikanan
tangkap dan budidaya laut. Adapun untuk wilayah tengah meliputi Kutai Kartanegara, Kutai
Barat, Samarinda, dan Mahakam Hulu yang akan diproyeksikan sebagai produksi perikanan air
tawar. Sementara di wilayah selatan yang meliputi Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan
Paser akan diproyeksikan sebagai industri pengolahan ikan.
Terkait dengan tingkat konsumsi ikan masyarakat Kalimantan Timur pada tahun 2016
mencapai rata-rata 46,41 kilogram per kapita setiap tahun yang tercatat melampaui konsumsi
nasional yang hanya 43,88 kilogram per kapita. Angka ini menunjukkan perkembangan baik

16
mengingat tingkat konsumsi ikan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu 46,12
kilogram per kapita melalui program GEMARIKAN (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan)
yang dicanangkan sejak tahun 2012. Hal ini berarti target konsumsi ikan yang digalakkan DKP
Provinsi Kaltim melalui program GEMARIKAN telah tercapai lebih dari 99 persen. Dalam
implementasinya, program GEMARIKAN dilaksanakan terstruktur mulai dari pusat, provinsi,
hingga kabupaten/kota. Dinas Kelautan dan Perikanan bekerja sama dengan tim
Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga di tiap-tiap kabupaten/kota, bahkan masuk hingga
setiap kelurahan dan desa.

2.4. Kondisi Rawan Pangan

Masalah kemiskinan berhubungan erat dengan kerawanan pangan, meskipun tidak


identik. Tingkat kedalaman kerawanan pangan ditunjukkan dengan indikator kecukupan
konsumsi kalori perkapita perhari dengan nilai AKG 2.150 kkal/kap/hari. Jika konsumsi
perkapita kurang atau lebih kecil dari 70 % dari AKG dikategorikan sangat rawan pangan;
antara 70 hingga 90 % dari AKG dikategorikan rawan pangan; dan lebih dari 90 % dari AKG
termasuk kategori tahanpangan.

60
Prosentase AKG (%)

50
40
30
20
10
0
2013 2014 2015 2016
Paser 35.92 47.88 39.51 19.11
Kutai barat 26.32 28.38 15.28 30.21
Kutai Kartanegara 42.64 38.14 21.98 19.9
Berau 12.4 9.32 13.51 15.52
Penajam Paser Utara 18.66 21.4 15.79 14.84
Mahakam Ulu 0 0 32.94 32.73
Kutai Timur 29.55 31.69 13.43 18.8
Balikpapan 28.11 25.77 13.11 20.21
Samarinda 22.37 35.33 21.13 18.61
Bontang 28.01 14.74 18.44 12.31

Sumber : Diolah oleh Dinas Pangan TPH Prov.Kaltim , 2017


Gambar 2.7
Persentase Penduduk Sangat Rawan Pangan (<70% Angka Kecukupan Gizi)
Tahun 2013- 2016 Provinsi Kalimantan Timur

17
Prosentase penduduk dengan kondisi sangat rawan pangan (<70% AKG) terjadi
penurunan pada hampir semua kabupaten dan kota, kecuali kabupaten Kutai Barat, Berau,
Kutai Timur dan Balikpapan terjadi peningkatan. Sejalan dengan meningkatnya jumlah
penduduk yang tahan pangan, pada periode Tahun 2016 jumlah penduduk sangat rawan
pangan di Provinsi Kalimantan Timur mengalami penurunan dari 652.158 jiwa (20,51 persen)
tahun 2015 menjadi 686.455 jiwa (20,22 persen) pada tahun 2016.

60
Prosentase AKG (%)

50
40
30
20
10
0
2013 2014 2015 2016
Paser 42.34 35.82 30.78 38.11
Kutai barat 38.77 33.28 33.28 26.9
Kutai Kartanegara 35.92 33.57 36.18 29.66
Berau 33.76 37.61 26 20.67
Penajam Paser Utara 32.26 38.87 28.74 33.87
Mahakam Ulu 0 0 48.47 32.66
Kutai Timur 32.28 30.53 27.14 31.28
Balikpapan 33.97 31.74 31.93 33.55
Samarinda 43.87 39.86 21.13 29.34
Bontang 35.29 38.77 29.45 30.05

Sumber : Diolah oleh Dinas Pangan TPH Prov. Kaltim, 2017


Gambar 2.8
Persentase Penduduk Rawan Pangan (70-89,9% Angka Kecukupan Gizi)
Tahun 2013- 2016 Provinsi Kalimantan Timur

Prosentase penduduk dengan kondisi rawan pangan umumnya terjadi peningkatan


kecuali Kabupaten Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Berau, dan Mahakam Ulu sedangkan
prosentase tertinggi terdapat pada Kabupaten Paser. Sementara itu, jumlah penduduk rawan
pangan juga mengalami perbaikan dari 997.474 jiwa (31,37 persen) pada tahun 2015 menjadi
1.039.188 jiwa (30,61 persen) pada tahun 2016.
Penduduk Kalimantan Timur pada tahun 2016 berjumlah 3.394.932 jiwa dan
berdasarkan AKG tersebut, jumlah penduduk yang tahan pangan (90% AKG) mengalami
peningkatan pada Tahun 2016 masing-masing sebesar 503.860 jiwa atau meningkat sebesar

18
10,23 persen. Peningkatan penduduk tahan pangan karena pergeseran dari penduduk sangat
rawan pangan dan penduduk rawan pangan menjadi tahan pangan.

70
Prosentase AKG (%) 60
50
40
30
20
10
0
2013 2014 2015 2016
Paser 21.74 16.3 29.71 42.79
Kutai barat 34.91 38.34 51.44 42.89
Kutai Kartanegara 21.44 28.29 41.84 50.44
Berau 53.84 53.07 60.49 63.81
Penajam Paser Utara 49.08 39.73 55.47 51.29
Mahakam Ulu 0 0 18.59 34.61
Kutai Timur 38.17 37.78 58.83 49.92
Balikpapan 37.92 42.49 54.96 46.24
Samarinda 33.76 24.81 42.54 52.05
Bontang 36.7 46.5 52.11 57.65

Sumber : Diolah oleh Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Prov. Kaltim, 2017
Gambar 2.9. Persentase Penduduk Tahan Pangan (>90% Angka Kecukupan Gizi)Tahun
2014 dan 2015 Provinsi Kalimantan Timur

Sumber : Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2017


Gambar 2.10 Peta Daerah Sentra Produksi Pangan Provinsi Kalimantan Timur

19
Sumber : Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2017
Gambar 2.11 Peta Komposit Kerentanan dan Kerawanan
Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2016

Peta Kerentanan dan Kerawanan Pangan (Food Security and Vurenability Atlas/FSVA)
Tahun 2016 adalah berdasarkan tiga pilar utama ketahanan pangan, yaitu : ketersediaan
pangan, akses pangan dan pemanfaatan pangan menunjukkan bahwa umumnya kondisi di
Kalimantan Timur masuk dalam kategori tahan sampai sangat tahan pangan, kecuali di
kecamatan Siluq Ngurai Kabupaten Kutai Barat termasuk dalam prioritas 3 (tiga) yang artinya
rentan terhadap kerawanan pangan.
Tingkat kerawanan pangan berdasarkan konsumsi kalori sangat ditentukan oleh
berbagai faktor, antara lain penyediaan pangan, harga pangan, pendapatan keluarga, dan
kemampuan keluarga dalam mengakses pangan, serta pengetahuan masyarakat tentang pola
konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman. Tingkat pendapatan yang
rendah di bawah harga pangan, akan mengurangi kemampuan rumah tangga dalam
mengakses kebutuhan pangan, sehingga asupan pangan pada tingkat perseorangan di
keluarga akan berkurang, dan secara bertahap akan mengarah pada timbulnya kasus gizi
buruk, yang akan menciptakan kualitas sumberdaya yang lemah.

20
Terkait dengan distribusi pangan, adanya peningkatan perekonomian membuat
permintaan akan daging sapi juga semakin meningkat, seiring dengan kesadaran masyarakat
akan gizi dan kemampuan daya beli masyarakat yang meningkat. Jumlah permintaan akan
daging sapi juga harus diimbangi dengan pasokan yang mencukupi.Produk peternakan seperti
daging sapi pada umumnya memiliki harga yang relatif tinggi dibandingkan komoditas pangan
lainnya, sehingga permintaan produk peternakan berkaitan erat dengan kemampuan dan daya
beli konsumen. Semakin meningkatnya pendapatan masyarakat Kalimantan Timur
menyebabkan permintaan akan produk-produk bermutu tinggi semakin meningkat. Selain itu
juga berkaitan dengan jumlah penduduk yang selalu meningkat akibat dari dampak
perkembangan kota yang cukup pesat, sehingga terjadi arus urbanisasi yang cukup tinggi
setiap tahun.
Adanya peningkatan perekonomian membuat permintaan akan daging sapi juga
semakin meningkat, seiring dengan kesadaran masyarakat akan gizi dan kemampuan daya
beli masyarakat yang meningkat. Jumlah permintaan akan daging sapi juga harus diimbangi
dengan pasokan yang mencukupi. Produk peternakan seperti daging sapi pada umumnya
memiliki harga yang relatif tinggi dibandingkan komoditas pangan lainnya, sehingga
permintaan produk peternakan berkaitan erat dengan kemampuan dan daya beli konsumen.
Semakin meningkatnya pendapatan masyarakat Kalimantan Timur menyebabkan permintaan
akan produk-produk bermutu tinggi semakin meningkat. Selain itu juga berkaitan dengan
jumlah penduduk yang selalu meningkat akibat dari dampak perkembangan kota yang cukup
pesat, sehingga terjadi arus urbanisasi yang cukup tinggi setiap tahun.

21
140,000

135,000
Harga Daging Sapi (Rp.)

130,000

125,000

120,000

115,000
Balikpa Samari Bontan
Berau Kubar Kukar Kutim Paser PPU
pan nda g
Tahun 2013 120,000 120,000 120,000 120,000 120,000 120,000 120,000 120,000 120,000
Tahun 2014 120,000 120,000 120,000 120,000 120,000 130,000 120,000 120,000 120,000
Tahun 2015 125,000 125,000 135,000 125,000 130,000 125,000 125,000 125,000 125,000
Tahun 2016 125,000 125,000 130,000 125,000 125,000 130,000 125,000 120,000 130,000

Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016

Sumber: Sumber : Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2016

Gambar 2.12. Harga Rata-Rata Daging Sapi pada Tahun 2013- 2016
pada 9 kabupaten/Kota di Kaltim

Harga rata-rata daging sapi pada tahun 2015 berkisar pada Rp. 125.000,-/Kg, harga
tertinggi terdapat di Kabupaten Kutai Barat yaitu Rp. 135.000,-/kg, sementara pada tahun
2016 harga rata-rata daging sapi berkisar antara harga Rp. 120.000,- - Rp. 130.000,-.
Harga daging ayam buras pada 9 Kabupaten/Kota pada tahun 2013 s.d 2016 bervariasi
pada kisaran harga Rp. 19.000,-/kg sampai dengan Rp. 56.000,-/kg. Pada tahun 2016 harga
terendah sebesar Rp. 19.000,-/kg pada Kota Samarinda, sedangkan harga tertinggi sebesar
Rp.38.000,-/kg terdapat pada Kabupaten Kutai Barat.

22
( RP/ E KO R)

125000
115,000

115,000
112,500
110,000

110,000

110,000
110,000

110,000
100,000

100,000
100,000

100,000
100000

100000

100000
95,000

95,000
95000
93,333

90,000

90,000

90,000
90000

90000

70000
55000

TAHUN 2014 TAHUN 2015 Tahun 2016


Sumber: Dinas Peternakan Prov.Kaltim, 2016
Gambar 2.13 Harga Rata-Rata Daging Ayam Buras Tahun 2014 s.d 2016 pada
9 Kabupaten/Kota di Kaltim

Pada tahun 2014 harga telur ayam di 9 kabupaten/kota sama yaitu sebesar Rp.1.200,-
/butir dan pada tahun 2015 harga telur ayam juga sama di 9 kabupaten/kota sebesar
Rp.1.400,-/butir. Pada tahun 2016 harga telur di 9 kabupaten/kota antara Rp. 1.200,- s.d Rp.
1600,- per butir. Fluktuasi harga telur ayam pada 9 kabupaten/kota di Kalimantan Timur yang
terendah di Kota Samarinda, Penajam Paser Utara, Kutai Timur dan tertinggi Berau, Bontang
dan Kutai Kartanegara.

2.5. Perkembangan Keamanan Pangan Segar

Keamanan pangan merupakan kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah
pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu,
merugikan dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama,
keyakinan dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi.
Pangan yang aman adalah pangan yang terbebas dari cemaran biologis, kimia dan benda
lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak
bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif
dan produktif. FAO dan WHO juga sepakat bahwa keamanan pangan (food safety) merupakan
salah satu komponen dari ketahanan pangan (food security). Untuk itu, program ketahanan
pangan nasional harus memasukan aspek keamanan pangan untuk kesehatan manusia.

23
Dukungan pemerintah Indonesia terhadap aspek keamanan pangan terlihat dari adanya
perubahan Undang-Undang Pangan No 7 tahun 1996 yang telah diganti menjadi Undang-
Undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan. Dalam Undang-Undang pangan yang baru,
keamanan pangan telah memasukkan aspek keamanan pangan rohani serta diatur secara lebih
mendetail dan peran pemerintah dalam penetapan norma, standar, prosedur dan kriteria
keamanan pangan pembinaan serta pengawasannya lebih dipertegas. Demikian pula dengan
penyelenggaraan keamanan pangan sebagaimana diatur dalam BAB VII Pasal 69, diatur
secara mendetail. Penyelenggaraan keamanan pangan tersebut dilakukan melalui: a) Sanitasi
pangan, b) Pengaturan terhadap bahan tambahan pangan, c) Pengaturan pangan produk
rekayasa genetika, d) Pengaturan iradiasi pangan, e) Standar kemasan pangan, f) Jaminan
keamanan pangan dan mutu pangan, g) Jaminan produk halal bagi yang dipersyaratkan.
Sebagai standar acuan yang dipakai Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi
Kalimantan Timur adalah permentan 88 tahun 2011 tentang pemasukan dan pengeluaran
PSAT serta SNI. Parameter yang diuji antara lain: pestisida, formalin, logam berat (Cadmium,
timbale, merkuri, arsen), mikroba (e.coli, salmonella, TPC, V. Cholerae, S.Aures, dan coliform).
Pangan disebut aman jika terbebas dari semua parameter cemaran. Berdasarkan pengujian
pangan yang dilakukan oleh Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Kalimantan
Timur, diperoleh hasil bahwa tingkat keamanan pangan segar asal tumbuhan adalah 90,74%.
Berdasarkan pengujian pestisida diperoleh hasil semua pangan segar asal tumbuhan
aman untuk dikonsumsi karena pestisidanya di bawah batas minimum residu.
Sedangkan 3 komoditi yang mengandung formalin di atas batas minimum cemaran antara
lain: pisang kepok, pisang ambon dan jeruk. Formalin buatan tidak boleh ada pada pangan.
Formalin dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Rumus kimia formaldehyde dalam formalin
(sintesis) = HCOH+CH3OH+H2O.
Komoditi yang mengandung cemaran logam berat yaitu sebanyak 1 komoditi yaitu jeruk
borneo, dengan kandungan timbale di atas batas minimum cemaran. Pencemaran logam berat
dapat terjadi di air, udara dan darat. Pencemaran udara oleh logam berat erat kaitannya dengan
sifat-sifat logam itu sendiri. Pencemaran udara biasanya terjadi proses-proses industry yang
menggunakan suhu tinggi. Logam berat seperti Hg, As, Cd dan Pb adalah logam yang sangat
mudah menguap. Pencemaran logam berat di darat dan air banyak dikaitkan dengan
pembuangan limbah dari industry yang penggunaan logamnya tidak terkontrol.
Komoditi yang mengandung cemaran mikroba di atas batas minimum cemaran adalah
bayam. Yaitu mengandung Escherichia coli melebihi BMC. Namun dengan pemasakan yang
benar dapat mengurangi pertumbuhan cemaran e.coli.

24
Secara keseluruhan kondisi keamanan pangan segar (sayur dan buah) dikategorikan
aman.

2.6. Perkembangan Keamanan Pangan Olahan


Terkait pengawasan mutu dan keamanan pangan olahan pada tahun 2016 Balai Besar
Pengawas Obat dan Makanan di Samarinda telah melakukan pengawasan terhadap:
Tabel. 2.4 Jenis Pelanggaran Pada Keamanan Pangan
No Jenis Pelanggaran Jumlah Pelanggaran TMK
1 Higine/sanitasi 6 Sarana
2 Administrasi 1 Sarana
Sumber : BBPOM Prov. Kaltim, 2016

2.6.1. Sarana produksi industri pangan dengan registrasi MD


Provinsi Kalimantan Timur terdapat 21 sarana terdiri dari : 1 sarana industri garam
beryodium, 19 sarana Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dan 1 sarana industri Ice
cream. Sarana industri pangan yang diperiksa sebanyak 21 sarana (100%) dari 19 sarana
yang diawasi, dengan hasil 2 sarana tidak produksi /tutup ; 14 sarana ( 66,67%)
Memenuhi Ketentuan (MK), dan 7 sarana (33,33 %) Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK)
dalam Penerapan Cara Produksi Pangan yang Baik dengan tindak lanjut rekomendasi ke
Badan POM RI dalam bentuk Peringatan seperti tertera pada tabel di bawah ini :

Tabel 2.5 : Jenis Pelanggaran Industri Pangan Tahun 2016


No Jenis Pelanggaran Jumlah Pelanggaran TMK

1 Higine/sanitasi 6 Sarana

2 Administrasi 1 Sarana
Sumber: BBPOM Prov.Kaltim, 2016

25
1

14

Sarana Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) terkait administrasi

Sarana Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) terkait Higiene dan sanitasi

Sarana Memenuhi Ketentuan (MK)

Sumber: BBPOM Prov.Kaltim, 2016


Gambar 2.14 Profil Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Pangan
Tahun 2016

Dalam hal pengawasan terhadap mutu dan keamanan pangan Industri Rumah
Tangga, Balai Besar POM bersinergi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai
dengan PP 28 tahun 2004 tentang Keamanan Mutu dan Gizi Pangan. Tahun 2016 telah
dilakukan pemeriksaan sebanyak 40 sarana dengan hasil sarana IRTP Tidak Memenuhi
Ketentuan sebanyak 40 (100%) sarana; dengan rincian temuan sebagai berikut :

Tabel 2.6 : Jumlah Pelanggaran Kemanan Pangan Industri Rumah Tangga

No Jenis Pelanggaran Jumlah Pelanggaran TMK

1 Higine/sanitasi 40 pelanggaran

2 Administrasi 11 pelanggaran

3 Perijinan 8 pelanggaran

4 Mutu/Label 4 pelanggaran

Sumber: BBPOM Prov.Kaltim, 2016

26
40
Perizinan

7 CPPB

Mutu / Label

Bahan Produk
dilarang
Administrasi
8 11 1

Sumber: BBPOM Prov.Kaltim, 2016

Gambar 2.15 Profil Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Rumah Tangga Pangan
Tahun 2016

2.6.2. Pemeriksaan Sarana Distribusi Pangan


Pemeriksaan sarana distribusi pangan pada tahun 2016 telah dilaksanakan
terhadap 151 sarana (16,95%) dari 891 sarana yang ada, dengan hasil 91 sarana
(60,26%) Memenuhi Ketentuan dan 60 sarana (39,74%) Tidak Memenuhi Ketentuan
dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 2.7 : Jumlah Pelanggaran Sarana Distribusi Pangan


No Jenis Pelanggaran Jumlah Pelanggaran TMK
1 Produk Tidak Terdaftar 19 pelanggaran
2 Mutu/Label 4 pelanggaran
3 Bahan/Produk dilarang 6 pelanggaran
4 Administrasi 1 pelanggaran
5 Hygiene/Sanitasi 25 pelanggaran
Sumber: BBPOM Prov.Kaltim, 2016

27
19 4 6 Produk TIE
Mutu/ Label
Bahan/ Produk dilarang
Administrasi
Hygiene/ Sanitas

25

Gambar 2.16 Profil jenis Pelanggaran Sarana Distribusi Pangan

2.6.3 Pemeriksaan Parcel


Dalam rangka mengamankan produk pangan pada hari raya keagamaan (Idul Fitri
1437 H, Natal 2016 dan Tahun Baru 2017), Balai Besar POM di Samarinda juga
melakukan operasi penertiban khusus terhadap penjual parsel. Pemeriksaan Parsel pada
tahun 2016 dilaksanakan terhadap 352 sarana di 14 kabupaten/kota dengan hasil 251
sarana memenuhi ketentuan dan 101 sarana tidak memenuhi ketentuan. Temuan
pelanggaran yang dilakukan sarana adalah:
- 60 Sarana menjual pangan Tanpa Izin Edar ( TIE )
- 54 Sarana menjual pangan TMK Mutu/Label
- 208 Sarana menjual Pangan Kedaluwarsa

Sarana menjual Pangan


60 Kedaluwarsa

Sarana menjual pangan


Tanpa Izin Edar ( TIE )
54
Sarana menjual pangan
208 TMK Mutu/Label

Gambar 2.17 Profil Jenis Pelanggaran Sarana Parcel Tahun 2016

28
2.6.4 Pengawasan Periklanan Dan Label Produk Pangan
Kegiatan pengawasan Iklan telah dilaksanakan dengan rincian sebagai
 Iklan Pangan : Pengawasan iklan Pangan dilakukan terhadap 71 iklan, dan telah
dilaporkan ke Badan POM RI dengan hasil 10 iklan memenuhi ketentuan dan 61
iklan tidak memenuhi ketentuan.
 Pengawasan label dan penandaan produk Pangan dilakukan terhadap 601
item penandaan produk, dengan hasil 488 item memenuhi ketentuan dan 113
item penandaan tidak memenuhi ketentuan.

2.6.5 Pengujian Produk Pangan Olahan

Sumber: BBPOM Prov.Kaltim, 2016


Gambar 2.18 Profil Hasil Uji TMS Pangan Tahun 2016

Dari hasil pengujian seluruh sampel diperoleh data produk pangan yang
mengandung bahan berbahaya( Tabel 24), terdiri dari :
 Kadar Formalin: Kemasan Pangan
 Kadar Cemaran Pb: Produk Susu

Laboratorium Mikrobiologi pada tahun 2016 menerima 624 sampel pangan dengan
rincian 564 sampel anggaranDIPAdan 60 sampel INL (pihak ketiga).Jumlah
yangditerima Laboratorium Mikrobiologi tersebut diatas seluruhnya selesai diuji pada
tahun 2016.

29
2.6.6 Sampling dan Operasional Laboratorium Mobil Keliling
Dalam pelaksanaan operasional mobil laboratorium keliling melibatkan 3 bidang
di BBPOM di Samarinda yaitu :
 Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan melakukan sampling
 Bidang Pengujian melakukan uji Rapid Test
 Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen melakukan Komunikasi,
Informasi dan Edukasi (KIE) baik kepada komunitas sekolah maupun penjaja
makanan di sekitar sekolah , juga kepada masyarakat, selain menyebarkan leaflet,
poster dan brosur tentang keamanan pangan.
Sasaran dari operasional laboratorium mobil keliling tahun 2016 adalah :
1. Sampling dalam Rangka Pangan Jajan Anak Sekolah (PJAS)
Pangan Jajanan Anak Sekolah memegang peranan yang sangat penting
dalam memberikan asupan energi dan gizi bagi anak usia sekolah.
Penyalahgunaan bahan kimia berbahaya seperti formalin, boraks, pewarna
rhodamin B dan methanyl yellow oleh produsen pangan jajanan adalah salah
satu contoh masih rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran produsen
tentang keamanan pangan jajanan.
Implementasi Aksi Nasional Pangan Jajanan Anak Sekolah yang Aman,
Bermutu, dan Bergizi (Aksi Nasional PJAS) selama 2011-2014 dan dilanjutkan
dengan pengawalan PJAS ditahun 2015-2016 ini diharapkan dapat menjangkau
± 2400 SD/MI di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. SD/MI yang telah
diintervensi selama Aksi Nasional PJAS di daerah semakin meningkat yang
diharapkan dapat menjadi penggerak dan percontohan dalam upaya
peningkatan keamanan pangan di lingkungan sekolah pada khususnya serta di
Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara pada umumnya. Oleh karena itu, SD/MI
tersebut perlu didukung dengan pendampingan atau bimbingan teknis lainnya
agar sekolah mampu mandiri menjaga keamanan pangan di lingkungannya.
Gerakan Aksi Nasional Menuju Pangan Jajanan Anak Sekolah yang Aman,
Bermutu dan Bergizi (Aksi Nasional PJAS) yang dicanangkan oleh Bapak Wakil
Presiden RI pada tanggal 31 Januari 2011 sudah berakhir di tahun 2014. Sampai
dengan tahun 2014 semua kabupaten/kota di Propinsi Kalimantan Timur dan
Kalimantan Utara sudah dialakukan intervensi baik melalui Intervensi A, B dan C.
Tahun 2016, BBPOM di Samarinda melakukan pengawalan AN PJAS dengan

30
melakukan sampling dan uji PJAS di tempat menggunakan rapid test kit ke SD
yang belum terintervensi AN-PJAS sebagai berikut:

Tabel 2.8
Data Intervensi BBPOM di Samarinda ke sekolah Terkait Pengawalan
Aksi Nasional (AN-PJAS) Tahun 2016

Jumlah SD/MI yang


NO KAB/KOTA
diintervensi

1 Samarinda 432
2 Berau 48
3 Bulungan 107
4 Nunukan 31
549
Total
Sumber: BBPOM Prov.Kaltim, 2016

2. Sampling dalam Rangka Pengawalan dan Pengawasan Desa dalam


Program Gerakan Keamanan Pangan Desa.
Pengawalan Desa dalam Program Gerakan Keamanan Pangan Desa
(GKPD) 2016 dilaksanakan dengan melakukan operasional mobil laboratorium
keliling di desa yang sudah mendapatkan intervensi dalam program GKPD.
Kegiatan ini dilaksanakan di 5 (lima) Kelurahan di Kota Samarinda yang
mendapat intevensi GKPD tahun 2014; 3 (tiga) Desa di Kabupaten Kutai
Kartanegara yang mendapat intevensi GKPD tahun 2015 dan 3 (tiga) Kelurahan
di Kota Balikpapan yang mendapat intervensi GKPD tahun 2016.

3. Sampling dalam Rangka Pengawasan Pangan Jajanan Ramadhan.


Dalam rangka pengawasan pangan jajanan ramadhan tahun 2016
BBPOM di Samarinda melaksanakan sampling dan pengujian pangan jajanan
ramadhan dengan menggunakan operasional mobil laboratorium keliling
(Mobling). Mobling dalam rangka pengawasan pangan ramadhan dilaksanakan
di 2 Kota yaitu Samarinda dan Tarakan.
Dari 129 sampel yang diambil dalam kegiatan mobling pangan jajanan
Ramadhan 2016, diperoleh hasil bahwa 99.23 % sampel memenuhi syarat,
0.77% sampel TMS Rhodamin B.Secara keseluruhan dari 956 sampel mobling
PJAS yang disampling dan diuji pendahuluan dengan rapid test kit dan
dilanjutkan dengan uji lanjut ke Laboratorium Pengujian Pangan dan BB,

31
diperoleh hasil bahwa 97.91 % sampel memenuhi syarat dan 2.09 % sampel
TMS (1.26 % TMS Rodhamin, 0.84 % TMS Boraks) Data lengkap hasil
operasional laboratorium mobil keliling dapat dilihat pada tabel dan gambar di
bawah ini :

Tabel 2.9 Hasil Uji dengan Rapid Test Kit Melalui Operasional Laboratorium Mobil Keliling
Tahun 2016

TMS
Total
No Bulan MS Rhod - Methanil Boraks Formalin
Sampel
B Yellow
1 Januari 20 20 0 0 0 0
2 Februari 48 46 2 0 0 0
3 Maret 0 0 0 0 0 0
4 April 97 97 0 0 0 0
5 Mei 46 44 2 0 0 0
6 Juni 129 125 4 0 0 0
7 Juli 0 0 0 0 0 0
8 Agustus 48 42 2 0 4 0
9 September 0 0 0 0 0 0
10 Oktober 183 183 0 0 0 0
11 November 69 69 0 0 0 0
12 Desember 316 310 2 0 4 0
936 12 8
Total 956 0 0 0
(97,91%) (1.26%) (0,84%)
Sumber: BBPOM Prov.Kaltim, 2016

4. Pelatihan Fasilitator Keamanan Pangan Jajan Anak Sekolah (PJAS)


Tahun 2016 BBPOM di Samarinda menyelenggarakan Pelatihan Fasilitator
PJAS di 3 Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Timur yaitu di Berau,
Mahakam Ulu dan Kutai Barat. Dengan demikian sampai akhir tahun 2016 Balai
Besar POM di Samarinda sudah melatih petugas puskesmas kabupaten/kota di
provinsi Kalimantan Timur.
Pelatihan Fasilitator Keamanan PJAS dilaksanakan dengan cara
penyampaian modul pelatihan dan dilakukan evaluasi penilaian pada hasil pre
dan post test. Peserta pelatihan memperoleh sertifikat telah mengikuti pelatihan
fasilitator keamanan PJAS bila hasil evaluasi post test minimal nilai 70. Bagi
peserta yang memperoleh sertifikat telah mengikuti pelatihan fasilitator
keamanan PJAS pengawalan AN-PJAS akan ditindaklanjuti sesuai Panduan
Pengawalan Intervensi AN-PJAS yang ditetapkan Badan POM.

32
Data peserta pelatihan fasilitator keamanan PJAS dapat dilihat pada table
di bawah ini :

Tabel 2.10 Data Peserta Pelatihan Fasilitator Pengawalan PJAS Tahun 2016
No Kabupaten/ Kota Jumlah Peserta
1. Berau 30
2 Mahakam Ulu 30
3 Kutai Barat 31
Jumlah 91
Sumber: BBPOM Prov.Kaltim, 2016

2.7 Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan.


Selama kurun waktu tahun anggaran 2016 telah terjadi 8 (delapan) laporan
Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan di Kabupaten/Kota yaitu Balikpapan,
Berau, dan Kutai Kartanegara. Kasus keracunan semua disebabkan oleh keracunan
pangan. Berikut hasil tindak lanjut pengujian yang dilakukan BBPOM di Samarinda.

Tabel 2.11 Kasus Keracunan Pangan Provinsi Kaltim dan Kaltara Tahun 2016

No Kab/Kota Tanggal Produk Pangan diduga Hasil Tindak lanjut


pengiriman Penyebab keracunan Pengujian
sampel
1 Kutai Timur 9 Februari Nasi, Ikan Bumbu Negatif Parameter
2016 Kuning, Telur, Sop Mikrobiologi yang
Sayuran, Ikan Bumbu dicurigakan
Kuning

2 Kutai 15 Februari Campuran Soun, Ayam Memenuhi Syarat


Kartanegara 2016 suwir, Kentang Telur,
sambal, Nasi Putih, Sop
Wortel

3 Paser 30 Mei 2016 Kerupuk, Tahu, Negatif Parameter


Mentimun, kacang Mikrobiologi yang
panjang, Kecambah, dicurigakan
Lontong, Sambal kacang

4 Dinas 14 Oktober Ikan tongkol, Positif histamin pada


Kesehatan 2016 ikan tongkol
Pemprov
Kaltim
5 Kutai 13 November Nasi Putih, Sayur Memenuhi Syarat
Kartanegara 2016 Bening Kangkung, Ayam
goreng ,Bakwan dan
Sambel
6 Balikpapan 28 November Ikan Tongkol Goreng Positif histamin pada
2016 dan Ikan Tongkol ikan tongkol

33
No Kab/Kota Tanggal Produk Pangan diduga Hasil Tindak lanjut
pengiriman Penyebab keracunan Pengujian
sampel
Mentah

7 Kutai 21 November Nasi Putih, Sambal Memenuhi Syarat


Kartanegara 2016 Goreng Daging

8 Dinas 23 Desember Nasi Putih, Ikan Kering Memenuhi Syarat


Kesehatan 2016 Asin, Sayur Santan
Pemprov Kacang Panjang , Tahu
Kaltim Goreng, Sambal Goreng
Tahu Tempe

Sumber: BBPOM Prov.Kaltim, 2016

Adapun kegiatan pemantauan pemetaan kasus keracunan tahun 2016 dilaksanakan


dengan mengumpulkan data kasus keracunan di rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit
swasta. Kegiatan ini dilaksanakan di 22 (dua puluh dua) rumah sakit di provinsi Kalimantan
Timur dan Kalimantan Utara dari bermacam-macam tipe yaitu tipe A, B, C dan D.
Dari pemantauan selama satu tahun diperoleh data kasus keracunan sebanyak 61 kasus.
Penyebab keracunan antara lain karena Bahan tumbuhan (50.7%), binatang (8%), kimia rumah
industri (8%), kimia rumah tangga (8%), makanan minuman (8%), Minuman beralkohol, Alkohol
dan ektaksi, obat (11%), obat dan minuman, Pestisida, lain-lain. seperti tertera pada tabel 40.
Dari data yang terkumpul dapat dianalisa bahwa bahan penyebab keracunan yang sering terjadi
dikarenakan makanan dan minuman, dan dari golongan usia dewasa, sedangkan kondisi ini
banyak disebabkan adanya unsur kesengajaan seperti minum minuman beralkohol dan
percobaan bunuh diri.
Pada kurun waktu tahun 2011 – Mei 2016 terdapat 33 KLB Keracunan Pangan yang
dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara
ke Balai Besar POM di Samarinda dan sebaran angka KLB Keracunan Pangan
menggambarkan hasil yang fluktuaktif.

2.8 Kesehatan Pendidikan Anak Sekolah


Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah Program pemerintah untuk meningkatkan
pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dan pembinaan lingkungan sekolah
sehat/kemampuan hidup sehat dengan warga sekolah. Melalui Program UKS diharapkan dapat
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik yang harmonis dan optimal, agar
menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

34
Tujuan diselenggarakannya Program UKS secara umum untuk meningkatkan
kemamppuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik serta menciptakan lingkungan
sehat sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan anak yang harmonis dan
optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Sedangkan tujuan khusus
untuk memupuk kebiasaan hidup sehat dan meningkatkan derajat kesehatan peserta didik yang
mencakup :
1. Penurunan angka kesakitan anak sekolah.
2. Peningkatan kesehatan peserrta didik (fisik, mental, sosial)
3. Agar peserta didik memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan
prinsip-prinsip hidup sehat serta perpartisipasi aktif dalam usaha peningkatan kesehatan di
sekolah.
4. Meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan terhadap anak sekolah
5. Meningkatkan daya tangkal dan daya hayat terhadap pengaruh buruk narkotika, rokok,
alkhohol dan obat-obatanan berbahaya lainnya.
Sasaran Program UKS meliputi seluruh peserta didik, baik di Jenjang TK, SD, SMP, SMA,
SMK dan SLB. Adapun Kegiatan-Kegiatan UKS meliputi :
1. Pemeriksaan kesehatan (gigi, mulut, mata, telinga, tenggorokan, kulit dan rambut)
2. Pemeriksaan perkembangan kecerdasan
3. Pemberian imunisasi
4. Penemuan kasus-kasus dini
5. Pengobatan sederhana
6. Pertolongan pertama
7. Rujukan
Beberapa kegiatan Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah (TPUKS) diantaranya:
1. Pembinaan sarana keteladanan gizi, seperti kantin sekolah
2. Pembinaan sarana keteladanan lingkungan, seperti pemeliharaan dan pengawasan
pengelolaan sampah, SPAL, WC, dan kamar mandi, kebersihan kantin sekolah, ruang UKS
dan ruang kelas , usaha mencegah pengendalian vektor penyakit.
3. Pembinaan personal higiene peserta didik dengan pemeriksaan rutin kebersihan kuku,
telinga, rambut, gigi serta dengan mengajarkan cara gosok gigi yang benar.
4. Pengembangan kemampuan peserta didik untuk berperan aktif dalam pelayanan
kesehatan antara lain dalam bentuk kader kesehatan sekolah dan dokter kecil.
5. Penjaringan kesehatan peserta didik baru.
6. Pemeriksaan kesehatan secara periodik

35
7. Imunisasi,pengawasan sanitasi air, usaha P3K di Sekolah
8. Rujukan medik, penanganan kasus anemia.
9. Forum komunikasi terpadu dan pencatatan pelaporan.
Presentase Jumlah UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) pada Jenjang SD, SMP, SMA, SMK
dan SLB di Provinsi Kalimantan Timur bias di lihat pada Tabel di bawah ini.

36
PERSENTASE
Tabel JUMLAH RUANG
2.12 Presentase UKS
Jumlah SE KALIMANTAN
Ruang TIMUR
UKS Se- Kalimantan Timur
SD SMP SMA SMK SLB

NO KAB/KOTA JUMLAH JUMLAH JUMLAH JUMLAH


JUMLAH
JUMLAH SEKOLAH YG PERSENTASE JUMLAH SEKOLAH YG PERSENTASE JUMLAH SEKOLAH YG PERSENTASE JUMLAH PERSENTAS JUMLAH SEKOLAH YG PERSENTASE
SEKOLAH YG
SEKOLAH MEMILIKI (%) SEKOLAH MEMILIKI (%) SEKOLAH MEMILIKI (%) SEKOLAH E (%) SEKOLAH MEMILIKI (%)
MEMILIKI R.UKS
R.UKS R.UKS R.UKS R.UKS

1 Kota Samarinda 213 165 77.46% 81 61 75.31% 35 32 91.43% 53 25 47.17% 12 3 25.00%

2 Kota Bontang 55 46 83.64% 29 22 75.86% 11 6 54.55% 12 7 58.33% 4 3 75.00%

3 Kota Balikpapan 176 117 66.48% 59 48 81.36% 21 13 61.90% 29 12 41.38% 3 3 100.00%

4 Kabupaten Paser 220 101 47.87% 67 40 59.70% 17 9 52.94% 11 5 45.45% 1 - 0.00%

5 Kab. Penajam Paser Utara 104 33 31.73% 29 18 62.07% 8 5 62.50% 8 6 75.00% 1 - 0.00%

6 Kab. Kutai Kartanegara 456 218 47.81% 131 60 45.80% 50 23 46.00% 41 13 31.71% 2 2 100.00%

7 Kab. Kutai Timur 206 57 27.67% 79 37 46.84% 22 11 50.00% 24 7 29.17% 1 - 0.00%

8 Kab. Kutai Barat 206 56 27.18% 55 20 36.36% 21 5 23.81% 13 5 38.46% 1 - 0.00%

9 Kabupaten Berau 160 44 27.50% 46 29 63.04% 19 6 31.58% 14 3 21.43% 1 - 0.00%

10 Kab. Mahakam Ulu 38 7 18.42% 13 7 53.85% 6 2 33.33% 2 - 0.00% - - 0.00%

TOTAL 1,834 844 46.02% 589 342 58.06% 210 112 53.33% 207 83 40.10% 26 11 42.31%

37
2.9 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
2.9.1. Gerakan Keamanan Pangan Desa (GKPD)
Pembangunan keamanan pangan dimulai dari individu, keluarga, hingga
masyarakat, termasuk di perdesaan sesuai salah satu agenda prioritas Nawa Cita, yaitu
membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa
dalam kerangka negara kesatuan. Badan POM menginisiasi program dan kegiatan di
bidang keamanan pangan yang berbasis masyarakat. Program nasional ini disebut
Gerakan Keamanan Pangan Desa (GKPD).
Pada tahun 2016 program nasional Gerakan Keamanan Pangan Desa di
Balikpapan dilaksanakan di 3 (tiga) kelurahan di Kota Balikpapan, yaitu Muara Rapak,
Sumber Rejo dan Manggar.
Adapun rangkaian kegiatan GKPD pada tahun 2016 sebagai berikut :

1. Perkuatan Kapasitas Desa.


Kegiatan Advokasi Kelembagaan Desa merupakan salah satu kegiatan Perkuatan
Kapasitas Desa.Kegiatan Pertemuan Advokasi Kelembagaan dalam rangka Gerakan
Keamanan Pangan Desa di Kota Balikpapan tanggal 6 April 2016 dibuka dengan
sambutan dan arahan Asisten III Bidang Administrasi Umum Pemerintah Kota
Balikpapan oleh Bapak Ir. Chaidar Chairulsjah. Pertemuan ini merupakan pertemuan
kemitraan keamanan pangan dengan lintas sektor terkait yang memiliki program di
desa dan dapat disinergikan dan dikolaborasikan dengan program keamanan
pangan desa di desa target di Kota Balikpapan, antar lain yaitu Asisten Bidang
Administrasi Perekonomian dan Pembangunan, Kabag Ekonomi, Dinas Kesehatan,
Dinas Perindagkop dan UMKM, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kota Balikpapan,
Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Balikpapan, Dinas Kominfo Kota Balikpapan, Dinas
Pemberdayaan Masyarakat Desa Kota Balikpapan, Dinas Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak Kota Balikpapan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota
Balikpapan, Badan Ketahanan Pangan, Bappeda Kota, Ketua Tim Penggerak, Kwartir
Pramuka Kota, Camat Kecamatan Balikpapan Timur, Camat Balikpapan Tengah, Camat
Balikpapan Utara, Lurah Manggar, Lurah Sumber Rejo dan Lurah Muara Rapak.
Kegiatan ini mendapat respon positif dari Pemerintah Kota Balikpapan dan SKPD
termasuk didalamnya kelurahan yang akan mendapat intervensi keamanan pangan yaitu
Manggar, Sumber Rejo, Muara Rapak.

38
2. Pemberdayaan Komunitas Desa
Pemberdayaan Komunitas Desa dilakukan melalui bimtek dan fasilitasi di 3
(tiga) kelurahan yaitu Manggar, Sumber Rejo, Muara Rapak Kota Balikpapan.
Tujuan kegiatan ini adalah memberdayakan komunitas desa dengan :
a. Meningkatkan awareness keamanan pangan di komunitas kelurahan dan
produsen pangan kelurahan.
b. Membentuk Kader Kemanan Pangan Kelurahan.
c. Meningkatkan kemampuan menerapkan praktek keamanan pangan yang baik
di tingkat rumah tangga dan tingkat IRTP/PKL dan Ritel.
Tahapan pelaksanaan kegiatan antara lain : pembahasan, Pengambilan Data
dalam rangka GAP Asesment, pelaksanaan bimtek Kader Keamanan Pangan
Desa (KKPD), pelaksanaan bimtek keamanan pangan untuk komunitas desa,
fasilitasi penerapan keamanan pangan oleh KKPD.

3. Pengambilan Data dalam rangka GAP Asesment


Pengambilan data dalam rangka GAP Assesment yang bertujuan untuk
memperoleh data komunitas desa sebelum dilakukan intervensi keamanan pangan.
Adapun target peserta GAP Assesment adalah Tim Kemanan Pangan Desa, KKPD
dan Komunitas Desa di kelurahan Manggar, Sumber rejo dan Muara Rapak.
Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei 2016 dengan menggunakan
Formulir Kuisioner untuk Komunitas Desa dengan rincian responden sebagai berikut :
1. PKK : 10 Responden
2. IRTP : 10 Responden
3. Ritel : 10 Responden
4. Komunitas sekolah : 10 Responden
5. PKL : 10 Responden

4. Bimtek Kader Keamanan Pangan Desa (KKPD)


Salah satu tujuan dari Bimtek Kader Keamanan Pangan Desa adalah untuk
pembentukan kader/ fasilitator keamanan pangan di desa sehingga nantinya terbentuk
Fasilitator Keamanan Pangan Desa dari berbagai kader target yang terlatih. Di tiap
Desa/Kelurahan dilatih 15 (lima belas ) Kader Keamanan Pangan Desa yang terdiri
dari 5 (lima) kader komunitas sekolah, 5 (lima) kader Pembinaan Kesejahteraan
Keluarga (PKK), 5 (lima) kader Karang Taruna dan 2 (dua) orang tenaga PKP/DFI dari

39
masing-masing kelurahan.
Bimtek Kader Keamanan Pangan Desa Kelompok Kader Guru/Komunitas
Sekolah dilaksanakan tanggal 26 April 2016. Bimtek diikuti sebanyak 15 (lima belas)
orang Kader Guru yang berasal dari 3 (tiga) kelurahan yang mendapat intervensi GKPD
yaitu Manggar, Sumber Rejo, Muara Rapak Kota Balikpapan.
Bimtek Kader Keamanan Pangan Desa Kelompok Kader PKK dilaksanakan
tanggal 27 April 2016. Bimtek diikuti sebanyak 15 (lima belas) orang kader PKK yang
berasal dari 3 (tiga) kelurahan yang mendapat intervensi GKPD yaitu Manggar, Sumber
Rejo, Muara Rapak Kota Balikpapan.
Bimtek Kader Keamanan Pangan Desa Kelompok Kader Karang Taruna
dilaksanakan tanggal 28 April 2016. Bimtek diikuti sebanyak 15 (lima belas) orang kader
karang taruna yang berasal dari 3 (tiga) kelurahan yang mendapat intervensi GKPD yaitu
Manggar, Sumber Rejo, Muara Rapak Kota Balikpapan.
Pada Bimtek Kader Keamanan Pangan Desa (KKPD) dilakukan pre test dengan
nilai rata-rata 91,25 untuk kader komunitas sekolah, 70,64 untuk kader PKK dan 92,38
untuk kader Karang Taruna. Adapun post test dengan dengan nilai rata-rata 93,33 untuk
kader komunitas sekolah, 73,50 untuk kader PKK dan 93,60 untuk kader Karang
Taruna.
Dari hasil evaluasi pre test dan post test semua kader dapat dilihat bahwa ada
peningkatan nilai sehingga dapat disimpulkan bahwa semua kader telah memahami
penerapan keamanan pangan sesuai fungsinya masing-masing.

5. Bimtek untuk Komunitas di Desa


Tujuan Bimtek Komunitas di Desa adalah untuk melatih dan memandirikan
masyarakat desa di bidang keamanan pangan dan Bimtek Keamanan Pangan untuk
pelaku usaha pangan desa yang bertujuan untuk melatih usaha pangan desa di bidang
keamanan pangan.
Bimtek komunitas desa dilaksanakan di tanggal 19 s/d 21 Juli 2016. Narasumber
Bimtek Keamanan Pangan untuk Komunitas Desa tahun 2016 adalah Kader Keamanan
Pangan Desa yang sudah mengikuti Bimtek Kader Keamanan Pangan sebelumnya yang
didampingi narasumber dari Balai Besar POM di Samarinda.

40
a. Kelurahan Sumber Rejo.
Jumlah Peserta yang mengikuti Bimtek Keamanan Pangan untuk Komunitas
Desa di Kelurahan Sumber Rejo tahun 2016 sebanyak 43 (empat puluh tiga)
orang yang berasal dari 5 (lima) Kelompok Komunitas Desa yaitu Kader PKK,
Pedagang Kreatif lapangan (PKL), kantin sekolah, sarana ritel pangan dan warung
makanan siap saji serta Industri Rumah Tangga Pangan IRTP). Adapun rincian
peserta yang hadir dan tanggal pelaksanaan pertemuan ini adalah :

Tabel 2.13 Jumlah Komunitas yang diberdayakan di Kelurahan Sumber Rejo


BalikpapanTahun 2016
No Kelompok Komunitas Peserta
1 PKK 10
2 Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) 9
3 Kantin Sekolah 10
4 Ritel Pangan 9
5 IRTP 5

b. Kelurahan Manggar
Jumlah Peserta yang mengikuti Bimtek Keamanan Pangan untuk Komunitas
Desa tahun 2016 ini sebanyak 41 (empat puluh satu) orang yang berasal dari 5
(lima) Kelompok Komunitas Desa di Kelurahan Manggar yaitu Kader PKK,
Pedagang Kreatif lapangan (PKL), kantin sekolah, sarana ritel pangan dan warung
makanan siap saji serta Industri Rumah Tangga Pangan IRTP). Adapun rincian
peserta yang hadir dan tanggal pelaksanaan pertemuan ini adalah :

Tabel 2.14 Jumlah Komunitas yang Diberdayakan di Kelurahan Manggar


BalikpapanTahun 2016
No Kelompok Komunitas Peserta
1 PKK 10
2 Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) 7
3 Kantin Sekolah 7
4 Ritel Pangan 8
5 IRTP 9

c. Kelurahan Muara Rapak


Jumlah Peserta yang mengikuti Bimtek Keamanan Pangan untuk Komunitas
Desa tahun 2017 ini sebanyak 40 (empat puluh) orang yang berasal dari 5 (lima)
Kelompok Komunitas Desa di Kelurahan Muara Rapak yaitu Kader PKK,
Pedagang Kreatif lapangan (PKL), kantin sekolah, sarana ritel pangan dan warung

41
makanan siap saji serta Industri Rumah Tangga Pangan IRTP). Jumlah peserta
yang hadir dalam pertemuan ini adalah :
Tabel 2.15 Jumlah Komunitas yang Diberdayakan di Kelurahan Muara Rapak
Balikpapan Tahun 2016
No Kelompok Komunitas Peserta
1 PKK 7
2 Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) 10
3 Kantin Sekolah 10
4 Ritel Pangan 7
5 IRTP 6

Pada Bimtek Komunitas Desa dilakukan pre test pada saat gap assessment
dengan nilai rata-rata 70,18 untuk PKK, 71,11 untuk PKL, 90,8 untuk kader
Komunitas Sekolah, 79,6 untuk IRTP dan 63,8 untuk IRTP. Adapun post test
pada saat Bimtek Komunitas Desa dengan dengan nilai rata-rata 76,4 untuk
PKK, 72,3 untuk PKL, 91 untuk kader Komunitas Sekolah, 81,8 untuk IRTP dan
78,2 untuk IRTP.

6. Fasilitasi Penerapan Kemanan Pangan Oleh Kader Keamanan Pangan


Fasilitasi penerapan keamanan pangan oleh Kader Keamanan Pangan Desa
(KKPD) dilakukan dalam rangka mengimplementasikan keamanan pangan dalam
kehidupan sehari-hari di lingkup rumah tangga/sekolah dan praktek/cara produksi/ritel
pangan yang baik di lingkup usaha pangan.
Masing-masing kader keamanan pangan desa dan tenaga Penyuluh
Keamanan Pangan (PKP) serta District Food Inspector (DFI) melakukan fasilitasi
penerapan keamanan pangan kepada masing-masing komunitasnya dengan cara
melakukan kunjungan kedapur/tempat produksi pangan, melakukan pengamatan
bagaimana komunitas yang dibinanya melakukan penyiapan/ pemasakan/
penyajian/ penyimpanan pangan. Kegiatan pengambilan data dengan menggunakan
Formulir Kuisioner Komunitas Desa ini dilakukan di Kelurahan Manggar, Muara Rapak
dan Sumber Rejo pada bulan Agustus dan September 2016.

42
7. Pengawasan Keamanan Pangan Desa
Tujuan Pengawasan Keamanan Pangan Desa adalah :
a. Menjamin pelaksanaan program kegiatan keamanan pangan di desa
berjalan sesuai rencana dan aturan yang telah ditetapkan serta tercapai
targetnya.
b. Menjamin perwujudan sustainabilitas (keberlanjutan) sistem keamanan pangan di
desa.
Pelaksanaan intensifikasi Pengawasan Pangan Desa dalam rangka pengawalan
yang sudah mendapat intervensi GKPD tahun 2014 dan 2015 dilakukan di kelurahan di
wilayah Kota Samarinda, yaitu Kelurahan Sengkotek, Kelurahan Sindang Sari,
Kelurahan Mugirejo, Kelurahan Lok Bahu dan Kelurahan Bantuas dan Kabupaten Kutai
Kertanegara, yaitu Desa Loa Janan Ulu, Desa Purwajaya, dan Desa Tani Bhakti.
Selain itu, pelaksanaan intensifikasi Pengawasan Pangan Desa juga dilakukan di
Kelurahan yang mendapat intervensi GKPD tahun 2016 yaitu Kelurahan Manggar,
Muara Rapak dan Sumber Rejo Kota Balikpapan.
Dalam tahapan ini dilakukan kegiatan Mobil Laboratorium Keliling (Mobling) di
Kelurahan Manggar, Muara Rapak dan Sumber Rejo Kota Balikpapan oleh petugas
Balai Besar POM di Samarinda didampingi oleh Tim Keamanan Pangan Kelurahan.
Pada kegiatan mobling ini, dilakukan pengambilan sampel dan pengujian sampel
menggunakan rapid test kit.
Pengawasan Keamanan Pangan di usaha pangan desa dilakukan oleh tenaga
PKP dan DFI dalam bentuk Fasilitasi Keamanan Pangan terhadap kelompok
komunitasnya dengan menggunakan formulir / check list penerapan keamanan pangan.
Khusus untuk IRTP, fasilitasi yang dilakukan sekaligus dalam rangka penerbitan SPP-
IRT

8. Monitoring dan Evaluasi GKPD


Setelah intervensi keamanan pangan dilakukan, dilakukan monitoring dan evaluasi
dengan pengambilan data post intervensi terhadap kader keamanan pangan dan kepala
desa/lurah untuk dievaluasi.
Tujuan Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Program GKPD :
a. Mengevaluasi pelaporan oleh Koorlap dan KKPD
b. Melakukan analisis pelaksanaan kegitan GKPD
c. Melaporkan hasil program GKPD tahun 2016

43
d. Memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah menerapkan keamanan
pangan dengan baik seperti tingkat desa dan tingkat sekolah
e. Memberikan rekomendasi peningkatan keamanan pangan di tingkat desa

9. Pengambilan Data dalam rangka Monev

Kelompok target yang akan diambil datanya dalam rangka monev post intevensi
yaitu sama dengan GAP Assesment adalah Tim Kemanan Pangan Desa, KKPD dan
Komunitas Desa di kelurahan Manggar, Sumber rejo dan Muara Rapak.
Pengambilan data dilakukan pada Bulan Oktober sd Desember2016.

10. Lomba Desa

Lomba desa dalam rangka GKPD ini dapat diikuti oleh seluruh desa/kelurahan
yang diintervensi baik pada tahun 2014, 2015 dan 2016. Petugas Balai Besar POM di
Samarinda melaksanakan verifikasi data maupun lapangan dari akhir November sd
Desember 2016. Desa yang diajukan untuk mewakili Provinsi Kalimantan Timur tingkat
nasional tahun 2016 dalam rangka lomba desa adalah Kelurahan Sumber Rejo.

2.10 Pasar Aman dari Bahan Berbahaya


2.10.1. Intervensi Pasar Aman dari Bahan Berbahaya
Intervensi tahun 2016 dilaksanakan di Pasar Arum Samarinda dengan tahapan :
 Advokasi dengan pemda kota Samarinda (sudah dilaksanakan tahun sebelumnya) ;
 Bimbingan Teknis kepada petugas pasar Arum Samarinda ;
 Monev dan Sampling tahap 1 dilaksanakan oleh petudas pasar ;
 Penyuluhan / KIE terkait Bahan Berbahaya dalam Makanan kepada komunitas pasar
oleh Balai Besar POM di Samarinda ;
 Monev dan Sampling tahap 2 dilaksanakan oleh petugas pasar ;
 Monitoring dan Evaluasi oleh Balai Besar POM di Samarinda ;

2.10.2. Monitoring dan Evaluasi Pasar Aman dari Bahan Berbahaya


Monitoring dan Evaluasi Pasar Aman dari Bahan Berbahaya merupakan salah satu
rangkaian dari Kegiatan Pasar Aman dari Bahan Berbahaya yang sudah dimulai tahun
2014. Pelaksanaan kegiatan ini berlokasi di Pasar Pagi Samarinda yang merupakan
target pelaksanaan rangkaian kegiatan pasar aman tahun 2014, Pasar Segiri Samarinda

44
yang merupakan target pasar aman tahun 2015 dan Pasar Arum Samarinda yang
merupakan target pasar aman tahun 2016.
Monitoring dan Evaluasi dilakukan sebanyak 2 (dua) tahap. Monitoring dan
Evaluasi tahap 1 dilaksanakan bulan Juni s/d Juli 2016 dengan melakukan sampling
pangan :
 Pasar Segiri Samarinda sebanyak 100 sampel . Dari 100 sampel diperoleh hasil
Tidak Memenuhi Syarat (TMS) sebanyak 14 sampel (11 TMS Rhodamin- B; 3 TMS
Boraks)
 Pasar Pagi Samarinda sebanyak 100 sampel . Dari 100 sampel diperoleh hasil TMS
sebanyak 12 sampel (8 TMS Rhodamin- B; 4 TMS Formalin)
 Pasar Arum Samarinda sebanyak 100 sampel. Dari 100 sampel didapatkan hasil 3
sampel (2 TMS Rhodamin- ; 1 TMS Boraks)

2.10.3. Monitoring dan Evaluasi tahap 2


Monitoring dilaksanakan bulan September s/d Oktober 2016 dengan melakukan
sampling :
 Pasar Segiri Samarinda sebanyak 100 sampel . Dari 100 sampel diperoleh hasil TMS
3 sampel (3 TMS Rhodamin- B)
 Pasar Pagi Samarinda sebanyak 100 sampel . Dari 100 sampel diperoleh hasil TMS
sebanyak 7 sampel (5 TMS Rhodamin- B, 2 TMS Formalin)
 Pasar Arum Samarinda sebanyak 100 sampel. Dari 100 sampel diperoleh hasil
semua sampel Memenuhi Syarat.

2.11. Unsur Pelaksana dari DPMPD


Dinas pemberdayaan masyarakat dan Pemerintahan Desa merupakan Unsur pelaksana
yang memilki input dan output, yaitu :
a. Input :
- PKK
- Posyandu
- PMT - AS
b. Output: Tersedianya akses pelayanan dalam rangka pengembangan dan peningkatan
Pemberdayaan Kelembagaan dan Sosial Budaya Masyarakat.

45
2.12. Intensifikasi Pengawasan Pangan Fortifikasi
Beberapa cara dalam menangani permasalahan tingginya angka kekurangan gizi mikro,
antara lain dengan pemberian Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), suplementasi dan fortifikasi.
Mulai tahun 2014 Badan POM mengadakan program Pengawasan Pangan Daerah Terkait
Pengawasan pangan Fortifikasi. Langkah awal untuk mewujudkan kegiatan tersebut adalah
dimulai dengan acara Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Jejaring Pengawasan Pangan
Daerah Terkait Pangan Fortifikasi.
Balai Besar POM di Samarinda menyelenggarakan FGD Intensifikasi Pengawasan
Pangan Fortifikasi tanggal 29 November 2016 yang dihadiri SKPD Provinsi Kalimantan Timur
dan Kota Samarinda yang terkait dengan pangan fortifikasi dan peserta dari BBPOM di
Samarinda. Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan tersebut adalah :
a. SKPD terkait mendukung suksesnya pelaksanaan program Pengawasan Pangan Daerah
Terkait Pangan Fortifikasi sebagai salah satu sarana dalam mengurangi kekurangan gizi
mikro masyarakat Indonesia utamanya Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
b. Badan POM tidak dapat berdiri sendiri dalam melakukan pengawasan pangan olahan yang
beredar. Perlu koordinasi dan kerja sama dengan lintas sektor terkait untuk mewujudkan
keamanan pangan yang berkesinambungan mulai dari tahap penanaman, pemanenan,
sampai dengan siap dikonsumsi (form farm to table).
c. Melalui kegiatan ini diharapkan tercipta penguatan koordinasi dan manajemen pangan
fortifikasi.
d. Terkait fortifikasi minyak goreng sawit, tahun 2017 batas akhir penerapan SNI, diperlukan
peraturan menteri perdagangan
e. Sehubungan dengan rencana fortifikasi pada beras, dalam pertemuan selanjutnya akan
diupayakan untuk mengundang narasumber dari Bulog

2.13. Situasi Gizi


Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya
manusia (SDM) yang dilakukan secara berkelanjutan. Upaya peningkatan kualitas SDM dimulai
dengan perhatian utama pada proses tumbuh kembang anak sejak pembuahan sampai
mencapai dewasa muda. Pada masa tumbuh kembang ini, pemenuhan kebutuhan dasar anak
seperti perawatan dan makanan bergizi yang diberikan dengan penuh kasih sayang dapat
membentuk SDM yang sehat, cerdas dan produktif.
Masalah gizi adalah masalah kesehatan masyarakat yang penanggulangannya tidak
dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Masalah gizi

46
disamping merupakan sindrom kemiskinan yang erat kaitannya dengan masalah ketahanan
pangan di tingkat rumah tangga dan juga menyangkut aspek pengetahuan serta perilaku yang
kurang mendukung pola hidup sehat. Keadaan gizi masyarakat akan mempengaruhi tingkat
kesehatan dan umur harapan hidup yang merupakan salah satu unsur utama dalam penentuan
keberhasilan pembangunan negara yang dikenal dengan istilah Human Development Index
(HDI).
Pada saat ini, sebagian besar atau 50% penduduk Kaltim dapat dikatakan tidak sakit akan
tetapi juga tidak sehat, umumnya disebut kekurangan gizi dan kelebihan gizi (obesitas).
Kejadian kekurangan gizi dan gizi lebih sering terlupakan oleh kita, akan tetapi secara perlahan
berdampak pada tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka kematian balita,
serta rendahnya umur harapan hidup. Masa kehamilan merupakan periode yang sangat
menentukan kualitas SDM di masa depan, karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan
oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan.
Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan
juga jauh sebelumnya, yaitu pada saat remaja atau usia sekolah. Demikian seterusnya status
gizi remaja atau usia sekolah ditentukan juga pada kondisi kesehatan dan gizi pada saat lahir
dan balita.
Secara umum Prevalensi status gizi balita di Provinsi Kaltim Berdasarkan hasil
Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016 sudah terjadi penurunan, walaupun ditahun 2014
dan 2015 terjadi peningkatan. Namun pada tahun 2015 prevalensi kurang gizi 19,1 % telah
turun menjadi 18,0 % ditahun 2016.

PREVALENSI KURANG GIZI BERDASARKAN HASIL


RISKESDAS DAN PSG PROV. KALTIM
20

19.3
19.5
TARGET MDG’S
TARGET RPJMD
2014 - 2018 19.1
19 2015 DAN RPJMN
2010 - 2014
18.5 16 %
18
18 15 %
17.1 17.3
17.5

17 16.6
16.5

16

15.5

15

TH 2007 TH 2010 TH 2013 TH 2014 TH 2015 TH 2016


RISKESDAS PSG

Sumber: Dinas Kesehatan Prov.Kaltim, 2016


Gambar 2.19 Prevalensi Kurang Gizi Berdasarkan Hasil Riskesdas dan PSG
Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2014 dan 2016

47
Demikian juga balita yang pendek, cendrung terjadi peningkatan, yaitu dari 26,1% pada
tahun 2014 meningkat menjadi 26,7 % pada tahun 2015, dan tahun 2016 meningkat lagi
menjadi 27,19 % atau masih diatas target RPJMD Provinsi Kaltim yaitu diharapkan pada tahun
2018 setinggi-tingginya balita pendek adalah 25 % .

PREVALENSI BALITA PENDEK BERDASARKAN HASIL


RISKESDAS DAN PSG PROVINSI KALTIM Target RPJMD
2014 - 2018
40

35.2 Target RPJMN


35 2010 - 2014 26 %
32 %
29.1 27.6
30
26.1 26.7 27.19
25

20

15

10

th 2007 th 2010 th 2013 th 2014 th 2015 th 2016


riskesdas psg

Sumber: Dinas Kesehatan Prov.Kaltim, 2016


Gambar 2.20 Prevalensi Balita Pendek Berdasarkan Hasil Riskesdas dan PSG
Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2014 dan 2016

Sedangkan prevalensi balita kurus sudah turun dari 12,1 % pada tahun 2015 menjadi
9,6 % ditahun 2016 demikian juga balita gemuk dari 5,9 % pada tahun 2015 menjadi 4,6 % di
tahun 2016.

TREN STATUS GIZI BALITA BERDASARKAN KATEGORI KURUS


DAN GEMUK (BB/TB) DI PROVINSI KALTIM
18

15.9
16

14 12.9 12.3
14.2 11.6 12.1
12

10
11.6 9.6
7.9
8
9.6
5.9
6
4.6
4

th 2007 th 2010 th 2013 th 2014 th 2015 th 2016


KURUS GEMUK

Sumber: Dinas Kesehatan Prov.Kaltim, 2016


Gambar 2.21 Tren Status Gizi Balita Berdasarkan Kategori Kurus dan Gemuk (BB/TB)
Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2014 dan 2016

48
Adapun status gizi yang dikompositkan berdasarkan 3 indeks Berat Badan menurut
Umur, Tingga Badan menurut Umur dan Berat Badan menurut Tinggi Badan, maka diitemukan
18,1% balita menderita kurang gizi, dan diantara balita kurang gizi tersebut sebanyak 26,1 %
balita pendek.

Balita
Kurang Gizi Berdasarkan hasil PSG th
2016 didapatkan 18% balita
18 %
menderita kurang gizi.
Diantara balita kurang gizi
tersebut sebanyak 26,1 %
balita pendek
25 23

20

15
Intervensi dalam rangka
10 Penurunan Stun ng sudah
6.5 tepat karena dapat
menurunkan angka balita
5 3.6 3.1 kurang gizi (gizi buruk+gizi
1 kurang)

0
UK RU
S K AL US
EM MU RM R
L-G -KU -G E -N O -KU
AL EK EK
MA RM ND EK ND
NO
R
NO PE ND PE
PE

Sumber: Dinas Kesehatan Prov.Kaltim, 2016


Gambar 2.22 Status Gizi Komposit Berdasarkan 3 Indeks (BB/U, TB/U dan BB/TB) Prevalensi
Balita Gizi Kurang dalam 6 Kategori di Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2016

Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi tahun 2016, menunjukkan prevalensi orang
dewasa gemuk umur > 19 tahun berdasarkan Indeks Masa Tubuh (IMT) di Provinsi Kaltim
adalah 33,8 %.

PERSENTASE DEWASA GEMUK UMUR > 19 TAHUN BERDASARKAN INDEKS


IMT DI PROV. KALTIM

45
40.9
40 36.9 36.4
34.1 33.8
35 33 32.8 32.5 31.9 31.8
28.9
30

25

20

15

10

0
AN DA G R IM U U R LU R
AP AN KA LT RA TIM PP BA HU SE
P RIN NT KU KA BE KU KU PA
LI K M A
BO MA
BA SA

Sumber: Dinas Kesehatan Prov.Kaltim, 2016


Gambar 2.23 Presentase Dewasa Gemuk Umur > 19 Tauhn Berdasarkan Indeks IMT di Provinsi
Kalimantan Timur

49
Adapun batasan masalah kesehatan masyarakat berdasarkan indikator gizi menurut
WHO, bahwa balita kurus (5%), kurang gizi (10%) dan balita pendek (20%) sudah dianggap
bermasalah. Namun apabila kita bandingkan dengan hasil survey Pemantauan Status Gizi,
bahwa Provinsi Kaltim termasuk bermasalah gizi kronis dan akut, karena Prevalensi balita
kurang gizi, balita kurus dan balita pendek sudah diatas batasan indikator gizi menurut WHO.
Adapun peningkatan prevalensi balita kurang gizi dan balita pendek ini terjadi, karena masih
ada disparitas status gizi antar kabupaten kota se Kaltim, dimana aksesibilitas masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan masih rendah, terutama kunjungan balita ke posyandu masih
rendah yaitu D/S baru mencapai 53,75 % , sehingga status gizi balita kita tidak bisa terdeteksi
lebih dini. Dan disamping itu juga hasil Pemantauan Monitoring Pemberian ASI Eksklusif
melalui survey PSG tahun 2016 baru mencapai 25,82 % atau masih dibawah target tahun 2016
yaitu 42 %.

PRESENTASE BALITA SAMPAI UMUR 6 BULAN MENDAPAT ASI


EKSKLUSIF DI PROV. KALTIM
44.7 43.7
45

40
35.1
35 31.3
29 28.4
30
25.82
25

20 16.7
14.3
15
10.9 10.1
10

0
R NG AN U DA U IM U R R
SE
TA AP RA IN PP LT UL KA BA TIM
PA N KP BE AR KA AH KU KU KU
BO LI M M
BA SA

Gambar 2.24 Presentase Balita Sampai Umur 6 Bulan Mendapat ASI Ekslusif
di Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2016

Sedangkan Prevalensi Kekurangan Energi Kronis (KEK) WUS, yaitu untuk ibu Hamil 27,5 %
ditahun 2013 telah turun menjadi 14,8 % ditahun 2016.

50
PERSENTASE IBU HAMIL RISIKO KEK BERDASARKAN LILA
DI PROV. KALTIM

30 28

24.1
25

18.4 18.9
20
14.8
15 12.9 13.5
11.9 12.1

10 7.9
6.7

TIM S ER AN
G
BA
R AN RA
U IM DA UL
U
PP
U
KA
R
KU PA AP BE LT IN KU
NT KU P KA AR AH
BO LI K M M
BA SA

Gambar 2.25 Presentase Ibu Hamil Risiko KEK Berdasarkan LILA


di Provinsi Kalimantan Timur

serta untuk obesitas sentral pada orang dewasa 31,3 % (riskesdas 2013). Secara Nasional
angka kematian karena penyakit tidak menular cenderung meningkat terus, terutama penyakit
Hipertensi, Diabetes dan stroke.

2.14 Konsumsi Protein

Pada tahun 2016 Konsumsi dari komoditi daging menempati urutan pertama dengan
jumlah konsumsi 6,95 gram protein per kapita per hari, diikuti komoditi telur dengan jumlah
konsumsi 2,14 gram protein per kapita perhari, dan yang terakhir adalah komoditi susu dengan
jumlah konsumsi 0,48 gram protein per kapita per hari (Tabel 2.16). Selain faktor penduduk,
faktor yang turut mendorong meningkatnya permintaan daging sapi adalah terjadinya
pergeseran pola konsumsi masyarakat dari bahan pangan sumber protein nabati ke bahan
pangan sumber protein hewani. Fenomena ini diperkirakan akan terus berlanjut kedepan.

51
Tabel 2.16 Konsumsi Daging, Telur dan Susu di Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2011 – 2016
(gram protein/kapita/hari)

Komoditi Tahun

2011 2012 2013 2014 2015 2016*

1. Daging 5,31 4,83 5,43 6,85 7,36 6,95

2. Telur 1,74 1,48 1,59 - 1,77 2,14

3. Susu 0,42 0,44 0,44 - 0,41 0,48

Protein hewani 7,48 6,76 7,46 6,85 9,55 9,57

Sumber : Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur, 2016* Angka Sementara

Pengembangan kearah pola konsumsi pangan yang sehat memerlukan


perubahan pola dan perilaku masyarakat agar dengan kemauan dan kemampuan
sendiri mau mengubah pola konsumsinya kearah yang lebih beragam dan bergizi
seimbang. Untuk itu, upaya sosialisasi dan promosi yang lebih intensif dan melibatkan
beragam pemangku kepentingan dari sektor pemerintah, swasta, akademisi dan
masyarakat secara utuh dan menyeluruh perlu menjadi prioritas.

Gambar 2.26 Perkembangan Konsumsi Energi dan Protein serta PPH Provinsi Kalimantan Timur

52
2.15 Konsekuensi Pangan dan Gizi dalam Pembangunan
1. Pergeseran Tren Penyakit
Perhatian terhadap penyakit tidak menular semakin meningkat seiring
meningkatnya frekuensi kejadian penyakit di masyarakat. Di Indonesia terjadi perubahan
pola penyakit yaitu dari penyakit menular ke penyakit tidak menular, yang dikenal
sebagai transisi epidemiologi. Penyakit tidak menular (PTM) yang utama adalah penyakit
jantung termasuk kardiovaskuler, paru-paru terutama yang kronis, stroke dan kanker.
Prevalensi PTM berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 antara
lain hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar
25,8%, Penyakit Jantung Koroner (PJK) penduduk usia 18 tahun ke atas 1,5%, gagal
jantung 0,3%, gagal ginjal kronik 0,2%, batu ginjal 0,6%, rematik 24,7%, stroke 12,1%,
cedera semua umur 8,2%, asma 4,5%, Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK)
penduduk usia 30 tahun ke atas 3,8%, kanker 1,8%, diabetes mellitus 2,1%, hipertiroid
pada penduduk usia 15 tahun ke atas berdasarkan diagnosa 0,4% dan cedera akibat
transportasi darat 47,7%.
Pada sisi lain, di Indonesia terjadi kegemukan atau kelebihan gizi dengan segala
macam akibatnya yang disababkan oleh pola makan.Kasus-kasus penyakit infeksi saat
ini sudah mengalami penurunan tapi muncul penyakit-penyakit yang disebut tidak
menular karena gaya hidup, terutama hipertensi atau tekanan darah tinggi yang
mengarah pada stroke dan serangan jantung. Oleh karena itu upaya yang perlu
dilakukan antara lain peningkatan aktivitas fisik dan perilaku konsumsi gizi seimbang.
Tidak hanya mengalami beban ganda, Indonesia juga terjadi apa yang disebut dengan
nutrition transition yaitu pola hidup pedesaan yang mulai beralih seperti perkotaan.
Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 prevalensi PTM di Kalimantan Timur masih termasuk
rendah, terkecuali untuk penyakit diabetes dan penyakit hipertensi. Prevalensi diabetes
yang terdiagnosis dokter tertinggi berada pada urutan keempat dengan persentase 2,3
% (angka nasional 1,5%), dan Prevalensi hipertensi pada umur ≥18 tahun berada pada
urutan ketiga dengan persentase (29,6 %) (angka nasional 25,8%).

2. Peran dan Dampak Pangan dan Gizi Dalam Pembangunan

Kebijakan dan strategi pembangunan di bidang pangan dan gizi terus berkembang
dari waktu ke waktu seiring perubahan tantangan dan peluang yang dihadapi oleh setiap
pemerintahan. Di sektor penyediaan pangan, dalam beberapa tahun terakhir setidaknya
terdapat dua paradigma, yaitu: a) paradigma produksi (supply side) termasuk pada

53
penekanan peningkatan produktivitas (intensifikasi) dan perluasan areal (ekstensifikasi);
pada paradigma ini kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan didasarkan pada
kemampuan produksi, dan semua aspek, khususnya kelembagaan ditujukan untuk
mendukung proses produksi, b) paradigma sistem usaha agribisnis yang mengkaitkan
kegiatan produksi bahan baku dengan kegiatan industri dan jasa dalam perspektif
ekonomi makro. Implementasi kedua paradigma tersebut dalam pembangunan ketahanan
pangan menunjukkan bahwa kebijakan dan strategi untuk pembangunan ketahanan
pangan, khususnya dalam hal produksi, penyediaan dan distribusi pangan harus bersifat
integratif. Artinya pembangunan di bidang ini diarahkan terintegrasi, harus memadukan
kebijakan yang bersifat jangka panjang dan kegiatan operasional jangka pendek, serta
harus memadukan kebijakan yang mempengaruhi pasar, infrastruktur, teknologi serta
penguatan aspek kelembagaan.
Sistem ketahanan pangan di Indonesia secara komprehensif meliputi empat hal,
yaitu: (a) ketersediaan pangan dalam jumlah dan jenis yang cukup untuk seluruh
penduduk, (b) distribusi pangan yang lancar dan merata, serta dapat diakses oleh
masyarakat, (c) konsumsi pangan setiap individu yang memenuhi kecukupan gizi
seimbang dan aman, yang berdampak pada d) status gizi masyarakat. Dengan demikian,
sistem ketahanan pangan dan gizi tidak hanya menyangkut soal produksi, distribusi, dan
penyediaan pangan ditingkat makro (nasional dan regional), tetapi juga menyangkut
aspek mikro, yaitu akses pangan di tingkat rumah tangga dan individu serta status gizi
anggota rumah tangga, terutama anak dan ibu hamil dari rumah tangga miskin.
Masalah gizi merupakan masalah yang kompleks dan memiliki dimensi yang luas
karena penyebabnya multifaktor dan multidimensi, tidak hanya merupakan masalah
kesehatan tetapi juga meliputi masalah sosial, ekonomi, budaya, pola asuh, pendidikan
dan lingkungan. Kita ketahui bersama bahwa masalah gizi berakar pada masalah
ketersediaan, distribusi, dan keterjangkauan pangan, kemiskinan, pendidikan dan
pengetahuan serta perilaku masyarakat. Dengan demikian masalah pangan dan gizi
merupakan permasalahan berbagai sektor dan menjadi tanggung jawab bersama
pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, langkah-langkah penanggulangannya juga
harus dirumuskan dan dilaksanakan bersama.
Guna mengoptimalkan pencapaian keberhasilan program Pangan dan Gizi daerah,
diharapkan target dan rencana aksi yang disusun dapat tercapai dengan memperhatikan
kebijakan, strategi, SDM, dan aspek pembiayaan. Mengingat pembangunan ketahanan
pangan dan gizi bersifat lintas sektor, maka dalam menyusun rencana aksi maupun

54
rencana implementasinya, semangat koordinasi dan integrasi serta sinergitas antar
kegiatan harus diutamakan. Kemitraan antar pemerintah dengan masyarakat dan swasta
juga merupakan salah satu faktor kunci dalam pembangunan ketahanan pangan dan gizi.

2.16 Kebijakan Daerah dalam Pembangunan Pangan dan Gizi


2.16.1 Kebijakan terkait Konsumsi
Sesuai dengan analisis isu strategis pembangunan Provinsi Kalimantan Timur,
rencana pembangunan tidak hanya dititikberatkan pada pengelolaan unrenewable
resources tetapi lebih pada (transformasi)renewable resources yang berpihak pada
lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Untuk mewujudkan
keseimbangan tersebut, pembangunan Provinsi Kalimantan Timur diarahkan pada model
pembangunan ekonomi hijau sebagai rezim pembangunan untuk menjaga keseimbangan
antara pilar ekonomi, lingkungan, dan sosial, serta mewujudkan kondisi masyarakat yang
lebih baik dan berkeadilan sosial dengan mengurangi risiko kerusakan lingkungan.
Pemerintah Daerah juga mendukung sepenuhnya visi nasional untuk mewujudkan
empat sukses pembangunan pertanian, yaitu: pencapaian swasembada dan swasembada
berkelanjutan, peningkatan diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing dan
ekspor serta peningkatan kesejahteraan petani. Dukungan tersebut termuat dalam RPJMD
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2014-2018 melalui 10 Prioritas
Pembangunan Kaltim Maju 2018, yaitu Penguatan Cadangan Pangan.
Dalam kerangka tersebut, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi
Kalimantan Timur, bersama-sama instansi terkait lainnya mempunyai peran strategis dalam
mendorong perwujudan ketahanan pangan daerah dan pemberdayaan penyuluh menuju
kemandirian pangan dan kedaulatan pangan Provinsi Kalimantan Timur, termasuk dalam
mengurangi angka kemiskinan dan kerawanan pangan di tingkat rumah tangga, desa,
kecamatan, kabupaten/kota dan akhirnya tingkat provinsi menyusun Program dan Kegiatan
Strategis seperti pendampingan pada petani, lembaga petani, dan pelaku agribisnis;
penanganan daerah rawan pangan; analisa dan penyusunan pola konsumsi dan suplai
pangan; analisis rasio jumlah penduduk terhadap jumlah kebutuhan pangan;
mengemangkan cadangan pangan daerah, desa mandiri pangan, diversfikasi pangan,
lumbung pangan desa, serta model distribusi pangan efisien. Program dan kegiatan
strategis diharapkan mampu mendukung upaya pemerintah Kalimantan Timur dalam
mengatasi ancaman ketahanan pangan. Oleh karena itu, upaya peningkatan produksi,
ketersediaan dan cadangan pangan, distribusi, peningkatan kualitas konsumsi dan

55
keamanan pangan, serta pemberdayaan penyuluh akan terus dilaksanakan sebagai
penggerak utama pembangunan sosial ekonomi daerah dalam rangka menuju kemandirian
pangan di Kalimantan Timur. Dengan demikian, program – program pembangunan daerah
khususnya ketahanan pangan dan pemberdayaan penyuluhan perlu diarahkan untuk
mendorong terciptanya kondisi sosial ekonomi yang kondusif menuju ketahanan pangan
yang mantap dan berkelanjutan sehingga konsumsi pangan daerah dapat terpenuhi.
Selain itu, dalam rangka mendukung ketahanan pangan mendorong akselearsi
peningkatan konsumsi ikan nasional, telah dilakukan pula sosialisasi Gerakan
Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) sebagai upaya mendukung program nasional
dalam peningkatan konsumsi ikan. Kampanye Gemarikan ini dimotori Dinas Kelautan dan
Perikanan Provinsi Kalimantan Timur.
Terkait dengan keamanan pangan daerah, Balai Besar Pengawasan Obat dan
Makanan (BBPOM) Samarinda telah menyusun program dan kegiatan diantaranya Pasar
Aman dari Bahan Bahaya, Pengamanan Jajan Anak Sekolah, IRTP (Industri Rumah
Tangga Pangan), serta yang baru dilakukan Gerakan keamanan Pangan Desa yang fokus
terhadap keamanan pangan yang berbasis masyarakat. Upaya yang dilakukan adalah
dengan membangun kemitraan lintas sektor di tingkat desa yang merupakan re-orientasi
peran pemerintah kearah kebutuhan fasilitasi yang lebih mendukung berkembangnya
awareness keamanan pangan desa secara berkelanjutan.

2.16.2 Kebijakan terkait Akses


Pertanian merupakan sektor strategis yang berperan penting untuk pertumbuhan
ekonomi, penyerapan tenaga kerja, penanggulangan kemiskinan, sumber devisa dan
ketahanan pangan. Gangguan produksi pertanian yang terjadi akhir-akhir ini akibat iklim
yang ekstrim mempengaruhi ketersediaan dan ketahanan pangan dunia. Khusus
tanaman pangan (padi, palawija, hortikultura) kehadirannya tidak hanya diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan pangan manusia, tetapi juga diperlukan untuk pembuatan pakan
hewan (ternak, ikan).
Peran pertanian tanaman pangan selain untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi
manusia dan pakan hewan, juga dapat diproses secara industrial untuk menghasilkan
produk-produk yang bernilai lebih tinggi. Terlebih saat ini ketersediaan sumber-sumber
energi yang tidak terbaharui di dunia semakin menipis, maka sumber energi dari tanaman,
khususnya tanaman yang tergolong tanaman pangan dapat dikembangkan sebagai
sumber energi terbarukan yang strategis. Salah satu contoh dapat diambil dari tanaman

56
palawija yaitu ubi kayu yang dapat diproses menjadi bioetanol dan dapat digunakan
sebagai Bahan Bakar Nabati (BBN) pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) dari fosil.
Dalam pelaksanaan pembangunan pertanian tanaman pangan di Kalimantan Timur
kendala yang dihadapi diantaranya adalah lokasi lahan terpencar-pencar dengan luasan
kecil-kecil, sarana dan prasarana (benih, pupuk, pestisida, alsintan) serta infrastruktur
sangat terbatas, belum padunya antar sektor dalam menunjang pembangunan pertanian,
meningkatnya kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan, dan perubahan iklim, lemahnya
permodalan dan kelembagaan petani, terjadinya perubahan SDM petugas dan struktur
organisasi di tingkat kabupaten/kota, adanya serangan organisme pengganggu tanaman,
dan laju pertumbuhan penduduk yang meningkat pesat.
Pembangunan pertanian tidak bisa berdiri sendiri melainkan melibatkan banyak
sektor terkait. Koordinasi antar sektor sudah sering dilakukan, hanya saja
mengintegrasikan secara fisik kegiatan antar sektor masih sulit dilaksanakan. Sektor
pertanian khususnya tanaman pangan Provinsi Kalimantan Timur terus berupaya untuk
meningkatkan produksinya, khususnya produksi padi, jagung dan kedelai dalam
mendukung program Swasembada Pangan Indonesia pada tahun 2017 guna menjamin
kedaulatan pangan nasional serta untuk mendukung Provinsi Kalimantan Timur
swasembada beras tahun 2018. Upaya tersebut dituangkan dalam Rencana Strategis
(Renstra) Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kalimantan Timur tahun 2013 - 2018,
dengan target produksi padi, jagung dan kedelai sampai tahun 2018 mencapai : Produksi
Padi 672.052 ton GKG, produksi Jagung 9.023 ton dan produksi Kedelai 1.636 ton.
Kebijakan terkait ketersedian akses pangan pertanian lebih difokuskan pada
keluarga rawan pangan dan miskin dengan arah kebijakan mengembangkan ketersediaan
pangan melalui peningkatan produksi dan mutu tanaman Tanaman Serealia, aneka
kacang dan umbi, tanaman buah, perkebunan, peternakan dan perikanan; membangun
sistem distribusi; serta upaya dalam stabilitas harga pangan. Upaya yang dilakukan tetap
konsisten pada pemenuhan dan penganekaragaman konsumsi pangan.

Sementara itu, terkait dengan aksesibilitas daging, pembangunan peternakan pada


dasarnya adalah untuk penyediaan pangan hewani yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal
(ASUH) maupun kuantitas dan turut berperan dalam mendorong terhadap peningkatan
kualitas sumberdaya manusia dari sisi pemenuhan gizi melalui penyediaan konsumsi
protein hewani asal ternak yaitu daging, telur dan susu. Sehingga pembangunan
peternakan Kalimantan Timur diharapkan dapat meningkatkan populasi dan produktivitas
ternak serta terpenuhinya kebutuhan konsumsi hasil ternak yang ASUH dalam rangka

57
meningkatkan ketahanan pangan.

Salah satu kebijakan pemerintah untuk mendorong pengembangan usaha


peternakan adalah menjamin agar produk yang dihasilkan mempunyai daya saing, sesuai
dengan kebutuhan pasar seperti produk yang ASUH, ramah lingkungan dan mampu
menjamin keberlanjutan usaha serta melindungi dari serbuan produk dumping, illegal atau
yang tidak ASUH melalui kebijakan maupun perlindungan tarif dan non-tarif. Kebijakan
dalam hal mempromosikan produk peternakan yang ASUH, mengingat konsumsi produk
peternakan yang belum merata di kalangan penduduk, sehingga diperlukan suatu promosi
dalam kerangka keamanan pangan serta peningkatan konsumsi.

2.16.3 Kebijakan terkait Pelayanan Kesehatan


Upaya meningkatkan akses dan kualitas program Gizi Masyarakat dilakukan
Pemerintah provinsi Kalimantan Timur dengan meningkatkan ketersediaan dan jangkauan
pelayanan kesehatan berkelanjutan yang difokuskan pada intervensi gizi efektif pada ibu
pra-hamil, ibu hamil, bayi, dan anak balita. Arah kebijakan peningkatan gizi masyarakat
difokuskan pada strategi antara lain: peningkatan pencapaian derajat kesehatan melalui
promosi cara hidup sehat, pemberdayaan perempuan dan keluarga dalam meningkatkan
mutu kesehatan keluarga, mengembangkan pelayanan dan penyediaan obat, makanan
serta melindungi masyarakat dari bahan-bahan berbahaya, meningkatkan cakupan dan
mutu pelayanan rumah sakit serta fasilitas pelayanan kesehatan lainnya serta
mengembangkan jaringan pelayanan kesehatan yang terintegrasi, memenuhi kebutuhan,
meningkatakan mutu profesionalisme tenaga kesehatan, mengembangkan sistem
pembiayaan pelayanan kesehatan yang berbasis sistem pra upaya/asuransi/JPKM,
memberikan pembiayaan pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin dengan
system JPKM, penyediaan pelayanan puskesmas 24 jam yang lengkap dengan ruang
rawat inap dan UGD, serta peningkatan dan pemerataan tenaga medis dan para medis di
setiap Kabupaten/Kota sampai kepedalaman dan perbatasan.
Adapun Upaya meningkatkan akses dan kualitas program Gizi Ibu dan Anak,
dilakukan dengan pendekatan Continuum of Care yang dimulai sejak masa pra hamil,
kehamilan, persalinan dan nifas, bayi, balita, remaja, usia kerja hingga Lansia, minimal
percepatan perbaikan gizi diprioritaskan pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK)
serta meningkatkan upaya Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit dari 10 Kabupaten /kota
telah ada 9 (sembilan) Rumah Sakit Umum Daerah dan 180 Puskesmas semua telah

58
memberikan pelayanan kepada masyarakat terhadap pelayanan tata laksana gizi buruk
baik rawat inap maupun rawat jalan.
Semua unit pelayanan baik itu Rumah Sakit Puskesmas dan kilinik swasta dalam
memberikan pelayanan khususnya pertolongan persalinan diwajibkan untuk melakukan
IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan mendukung pemberian ASI eksklusif pada bayi serta
telah dibuatnya surat edaran dari Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kaltim kepada
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten/Kota untuk mendukung Peningkatan pemberian
ASI eksklusif khususnya melalui dukungan keluarga. Disamping itu juga melakukan
optimalisasi pemantuan pertumbuhan di posyandu, dimana salah satu upaya dengan
melaksanakan Pertemuan pembentukan dan pengaktifan Pokjanal UKBM (Posyandu) se-
Kaltim, mengingat posyandu merupakan salah satu tempat yang paling strategis dalam
rangka mendeteksi lebih dini satus gizi balita serta melakukan Workshop peningkatan
program gizi dengan adanya penanda tanganan komitmen dari lintas sektor dan lintas
program terkait dalam rangka percepatan perbaikan gizi program gizi di Provinsi Kaltim.
Adapun implementasi yang merupakan tindak lanjut dari Pertemuan workshop gizi
ditahun 2015, ada beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan di tahun 2016 adalah
sebagai berikut :
1. Melakukan Orientasi perbaikan gizi bagi anak sekolah di 10 Kabupaten Kota sekaltim
(APBN) ;
2. Melaksanakan pertemuan lintas sektoral dan lintas program baik di Provinsi maupun di
Kabupaten Kota se Kaltim dalam rangka percepatan perbaikan gizi (APBN) ;
3. Melakukan fasiltasi kelompok pendukung ASI di 5 Kabupaten/Kota se Kaltim (APBD I) ;
4. Melaksanakan Jambore Kader Posyandu se-Kaltim (APBD I) ;
5. Review capaian indikator kegiatan pembinaan gizi yang dilakukan secara
terpadu.(APBN) ;
6. Melakukan kelas edukasi untuk ibu hamil bekerjasama dengan tim konselor menyusui
provinsi Kaltim ;
7. Membangun kerjasama dengan PKK dan Organisasi Wanita di Provinsi dalam rangka
mendukung peningkatan capaian ASI Eksklusif dengan menjadi motifator ASI serta
membentuk Kelompok pendukung ASI.

59
2.16.4 Kebijakan Lintas Sektor

Dalam upaya mencapai tujuan pertama SDGs yaitu mengurangi angka kemiskinan
dan kelaparan di dunia sampai setengahnya ditahun 2015, Pemerintah sudah dan masih
melanjutkan program pembangunan yang tertuang di dalam triple track strategy
diantaranya untuk track ketiga revitalisasi pertanian, kehutanan, kelautan dan ekonomi
pedesaan untuk mengurangi kemiskinan. Untuk mewujudkan kemandirian pangan
dilakukan pemberdayaan masyarakat miskin di daerah rawan pangan melalui strategi jalur
ganda/twin track strategi; pertama, Membangun ekonomi berbasis pertanian dan pedesaan
untuk menyediakan lapangan kerja dan pendapatan, kedua, memenuhi pangan bagi
kelompok masyarakat miskin di daerah rawan pangan melalui pemberdayaan dan
pemberian bantuan langsung. Untuk itu, Pemerintah melalui Badan Ketahanan pangan dan
penyuluhan Kementerian Pertanian sejak tahun 2006 telah meluncurkan Program Aksi
Desa Mandiri Pangan. Dengan program ini diharapkan dapat mendorong kemampuan
masyarakat desa untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi keluarganya, sehingga
dapat menjalani hidup sehat dan produktif dari hari ke hari. Desa Mandiri Pangan adalah
desa yang masyarakatnya mempunyai kemampuan untuk mewujudkan ketahanan pangan
dan gizi melalui pengembangan subsistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan
dengan memanfaatkan sumberdaya setempat secara berkelanjutan. Penetapan desa
mandiri pangan melalui survey DDRT (Data Dasar Rumah Tangga) dan SRT (Survei
Rumah Tangga) yang akhirnya didapat RTM (Rumah Tangga Miskin) minimum 30%.
Kalimantan Timur sebagai provinsi dengan wilayah yang luas, memandang aspek
ketahanan pangan dan gizi merupakan agenda penting di dalam pembangunan ekonomi.
Salah satu isu strategis yang dihadapi Kalimantan Timur terkait pembangunan
Pangan dan Gizi antara adalah kemandirian dan kedaulatan pangan, pengentasan
kemiskinan dan peningkatan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu pemerintah
Kalimantan Timur terus memacu pembangunan ketahanan pangan dan gizi melalui
program-program yang benar-benar mampu memperkokoh ketahanan pangan sekaligus
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menjadi sangat penting bagi Kalimantan Timur
untuk mampu mewujudkan ketahanan pangan dan gizi wilayah, rumahtangga dan individu
yang berbasiskan kemandirian pangan.Pembangunan ketahanan pangan dan gizi
Kalimantan Timur secara menyeluruh di setiap sektornya akan dapat terlaksana dengan
efektif manakala memiliki arah yang jelas dan terukur kinerjanya. Program-program dalam
rangka pembangunan ketahanan pangan dan gizi harus terpadu (integrated), terukur

60
keberhasilannya (measureable) dan berkesinambungan (sustainability) yang selaras
dengan RPJMD.
Selain itu, Pencapaian Indonesia dalam pemenuhan akses air minum dan sanitasi
sesuai target MDGs 2015 juga perlu menjadi perhatian sebagai tonggak penting bagi
keberlanjutan bukan hanya pembangunan air minum dan sanitasi, namun bagi seluruh
tujuan pembangunan nasional. Pembangunan sektor sanitasi pada periode 2015-2019
dihadapkan pada target ambisius. 100 persen penduduk Indonesia sudah harus terlayani
akses sanitasi pada tahun 2019, atau dikenal dengan Universal Access. Sesuai Peraturan
Presiden (Perpres) No. 185/2014 tentang Percepatan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi
juga disebutnya sebagai potensi untuk lebih mengoptimalkan pembangunan sanitasi.
Perpres tersebut mengatur koordinasi perencanaan sekaligus legitimasi terhadap Pokja
dan Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sangat mendukung keberlangsungan program
Percepatan Pembangunan Sanitasi Perkotaan (PPSP), terlebih dengan semakin
berkembangnya isu-isu strategis dan persoalan terkait ketersediaan air minum dan
kelayakan sanitasi sebagai kebutuhan mendasar bagi kesehatan dan kesejahteraan
masyarakat di daerah. Pengembangan program PPSP di Kalimantan Tiimur dinilai selaras
dengan Misi pertama RPJMD Kalimantan Timur, yaitu Mewujudkan kualitas sumberdaya
manusia Kaltim yang mandiri dan berdaya saing tinggi.
Di tingkat provinsi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah membentuk
kelembagaan Tim Pokja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Kaltim dengan
tugas utama untuk melakukan koordinasi dan pembinaan kepada kabupaten/kota peserta
PPSP yang ada di daerah. Unsur-unsur yang terdapat di dalam Tim Pokja AMPL Kaltim
terdiri dari : Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum, BLH, Dinas Pemberdayaan Masyarakat
dan Pemerintahan Desa, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Diskominfo, Dinas Pendidikan,
Biro Humas dan Protokol, Biro Pembangunan Daerah, Biro Organisasi, dan Universitas
Mulawarman.

61
Tabel 2.17 Keterkaitan SDGs dengan Rencana Pembangunan Nasional

TARGET
GOALS TARGET RPJMN PRIORITAS NASIONAL
GLOBAL
 Penanggulangan
Kemiskinan Peningkatan
Kesejahteraan Masyarakat
No Poverty 7 4 melalui Penghidupan
Berkelanjutan
 Peningkatan Kesejahteraan
Rakyat Marjinal

 Peningkatan Kedaulatan
Zero Hunger 8 5
Pangan

Good Health
 Pelaksanaan Program
and Well- 13 8
Indonesia Sehat
Being

Quality  Pelaksanaan Program


10 5
Education Indonesia Pintar

 Melindungi Anak,
Gender
9 6 Perempuan dan Kelompok
Equality
Marjinal

Clean water
8 6  Ketahanan Air
and Santation

Affordable and
5 3  Kedaulatan Energi
Clean Energy

Decent Work  Pertumbuhan Ekonomi


12 9
and Economic Nasional

62
Growth  Peningkatan Daya Saing
Tenaga Kerja
 Membangun Konektivitas
Nasional untuk Mencapai
Keseimbangan
Pembangunan
 Membangun Transportasi
Umum Massal Perkotaan
 Penguatan Investasi
 Akselerasi Industri
Manufaktur

Industry,
 Peningkatan Kapasitas
Innovation,and 8 3
Inovasi dan Teknologi
Infrastructure

 Pengembangan Kawasan
Perbatasan
 Pembangunan Daerah
Reduce Tertinggal
10 6
Inequlites  Pemerataan pembangunan
antar wilayah
 Menjamin Kepastian Hukum
Hak Kepemlikan Tanah

Sustainable
 Membangun Perumahan
Cities and 10 7
dan Kawasan Permukiman
Communities

 Peningkatan agroindustri,
hasil hutan kayu, perikanan
Responsible dan hasil tambang
Consumption 11 7 berkelanjutan
and Production  Perbaikan kualitas
lingkungan (termasuk
perilaku ramah lingkungan)

63
 Penanganan Perubahan
iklim dan Penyediaan
Climate Action 5 2
informasi Iklim dan
Kebencanaan

 Pengembangan ekonomi
maritim dan kelautan:
i. Meningkatkan dan
mempertahankan kualitas
Life Below
10 7 daya dukung dan kelestarian
Water
fungsi lingkungan laut;
ii. Meningkatkan harkat hidup
nelayan dan masyarakat
pesisir
 Pelestarian SDA, lingkungan
hidup dan pengelolaan
bencana:
i. Peningkatan konservasi dan
tata kelola hutan
ii. Perbaikan kualitas
Life On Land 12 7
lingkungan hidup
iii. Pelestarian dan
pemanfaatan kehati
 Pemberantasan tindakan
penebangan liar dan
penambangan liar
 Meningkatkan kualitas
perlindungan warga negara
Indonesia
Peace Justice
 Peningkatan penegakan
and Strong 12 10
hukum yang berkeadilan
Institutions
 Membangun Transparansi
dan Akuntabilitas Kinerja
Pemerintahan
 Pelaksanaan politik LN
bebas aktif
 Memperkuat peran dalam
kerjasama global dan
Partnership regional
19 13
For the Goals
 Peningkatan kapasitas
inovasi dan teknologi
 Peningkatan kualitas data
dan informasi

64
 Penguatan sektor keuangan
JUMLAH 169 108

Dalam SDG’s yang telah ada, Pangan dan Gizi berada di Goals ke 2 (Zero Hunger)
dimana Target Goal Zero Hunger SDG’S secara global mencapai skor 8 sedangkan dalam
Target RPJMN mencapai skor 5 yang mana sesuai dengan prioritas nasional yakni
Peningkatan Kedaulatan Pangan.

2.17 Tantangan dan Hambatan Kunci


2.17.1 Tantangan dan Hambatan Kunci Program Spesifik Gizi Secara Langsung

1. Dalam naskah akademik Pedoman Gizi Seimbang (Dirjen Bina Gizi dan KIA,
2013), disebutkan bahwa tingginya angka kesakitan dan kematian akibat PTM
diperberat dengan rendahnya aktivitas fisik; rendahnya konsumsi sayuran dan
buah; pola makan tidak sehat Industri pangan yang menyediakan pangan
olahan tinggi lemak, gula dan garam; tersedianya pangan jenis tersebut
diberbagai toko waralaba dengan harga murah dan porsi yang besar, kantin
sekolah dan program makan siang yang sehat dan higienis di sekolah, belum
menjadi kebijakan bagi penyelenggara pendidikan;
2. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku masyarakat untuk hidup sehat yang masih
kurang. Berdasarkan Riskesdas tahun 2013 kecenderungan proporsi penduduk
Kalimantan Timur yang berperilaku benar dalam Buang Air Besar/BAB sebesar
87,8%, tertinggi keempat setelah Riau, Kepulauan Riau, dan Lampung ;
3. Adanya beberapa Capaian indikator gizi yang masih dibawah target meliputi
kunjungan balita ke posyandu (D/S) masih dan Capaian ASI eksklusif dan IMD
masih rendah;
4. Pendanaan kegiatan sebagian besar masih mengharapkan anggaran yang
bersumber dari dana dekonsentrasi (APBN), sehingga dengan terjadinya
rasionalisasi penganggaran akan berdampak terhadap pelaksanaan kegiatan
program perbaikan gizi .

2.17.2 Tantangan dan Hambatan Kunci Program Sensitif Gizi Secara Langsung
1. Dewasa ini kasus gizi buruk dan gizi kurang pada anak dapat terjadi pada
siapapun, baik anak dari keluarga miskin, keluarga kaya, sampai keluarga
berpendidikan. Dalam beberapa kasus, gizi kurang bahkan ditemukan di pusat
perkotaan. Hal ini menyatakan gizi buruk/gizi kurang tidak identik dengan

65
kawasan perdesaan, melainkan merata. Di kawasan kota, kasus ini terjadi pada
orang tua yang terlalu sibuk dengan karir dan tidak sempat memperhatikan gizi
anak-anaknya. Di perkampungan pun, kasus gizi buruk banyak yang menimpa
keluarga petani. Padahal mereka memiliki banyak sayuran di kampungnya.
Kondisi yang sama juga terjadi pada anak nelayan yang mengalami gizi buruk
karena kekurangan protein. Sementara itu saat ini tidak sedikit orang tua yang
memberikan makanan instan kepada anak. Padahal, asupan makanan instan
ini tidak memenuhi standar gizi yang berkualitas bagi anak untuk tumbuh
kembangnya. Perawatan dan pemberian asupan makanan sepenuhnya
diserahkan kepada baby sitter atau asisten rumah tangga yang kurang memiliki
pengetahuan tentang asupan gizi untuk balita. Bahkan makanan yang
seharusnya belum bisa dikonsumsi untuk anak sudah diberikan. Gizi yang
dimakan tidak terserap maksimal karena organ pencernaan juga belum siap
untuk jenis makanan yang diberikan tersebut.Oleh karena itu pengetahuan
mereka mengenai gizi harus ditingkatkan.

2. Konsumsi pangan yang masih tetap didominasi oleh beras sebagai sumber
karbohidrat, dalam jangka panjang akan cukup memberatkan bagi upaya
pemantapan ketahanan pangan yang berkelanjutan dan bertumpu kepada
sumber daya lokal. Berbagai permasalahan dan tingginya tantangan yang akan
muncul, yang harus diantisipasi, terutama dalam mewujudkan pola konsumsi
pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman antara lain :
a. Besarnya jumlah penduduk miskin dan pengangguran dengan kemampuan
akses pangan rendah;
b. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap diversifikasi
konsumsi pangan dan gizi;
c. Masih dominannya konsumsi sumber karbohidrat yang berasal dari beras.

2.17.3 Tantangan dan Hambatan Kunci Program Spesifik dan Sensitif Gizi Secara
Tidak Langsung
1) Desentralisasi menuntut peran daerah untuk menyelesaikan
permasalahannya secara lebih luas. Dalam kaitan tersebut, diperlukan
komitmen daerah dalam melaksanakan kebijakan termasuk kebijakan pusat
sehingga pelaksanaan perbaikan pangan dan gizi dapat dicapai lebih baik.

66
Dalam hal RAD-PG, keberadaan RAD-PG Provinsi dan Kabupaten/kota
merupakan kesempatan dan tantangan untuk melaksanakan pembangunan
pangan dan gizi.
2) Kesenjangan antar wilayah yang tinggi.
Prevalensi permasalahan pangan dan gizi yang ditemukan antara daerah
yang satu dan lainnya dapat berkali-kali lipat lebih tinggi. Adanya perbedaan
karakteristik demografis, geografis, serta sosio-ekonomi yang berbeda antar
wilayah satu dengan lainnya memerlukan adanya perlakuan atau
penyesuaian implementasi intervensi yang sesuai dengan karakteristik
wilayah, tidak dapat dilakukan penyamarataan intervensi yang dilakukan di
Kabupaten Mahakam Ulu dan di Kabupaten Berau misalnya. Pendekatan
penyelesaian masalah dengan pendekatan lokal perlu menjadi perhatian.
3) Adanya kesenjangan antara kebijakan yang ditetapkan, implementasi
yang dilaksanakan, dan masih belum kuatnya monitoring dan evaluasi
terhadap pelaksanaan program yang telah direncanakan. Indikator input
dalam pelaksanaan perbaikan gizi relatif tercapai, namun outcome yang
ditemukan di lapangan adalah sebaliknya, permasalahan gizi cenderung
meningkat.
4) Struktur wilayah Indonesia yang berupa kepulauan menggambarkan
adanya masalah untuk menyalurkan pangan dan pelayanan kesehatan
secara efektif, akses jalan dan transportasi yang sulit merupakan
permasalahan yang kerap ditemui.

67
BAB III
RENCANA AKSI MULTISEKTOR

3.1 Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dengan pendekatan multi-sektor adalah terbentuknya


sumber daya manusia yang cerdas, sehat, produktif secara berkelanjutan dan berdaya
saing tinggi. Selain itu diharapkan dengan disusunnya RAD PG ini menjamin kesediaan
dan kebutuhan pangan di Kalimantan Timur.

3.2 Outcome Utama dan Output


Upaya pemerintah dalam mencapai perbaikan pangan dan gizi diperlukan
pendekatan multisektor. Adanya koordinasi dan kolaborasi yang baik antara
pemerintah dan non pemerintah dengan tujuan yang sama akan meningkatkan
kapasitas dan meningkatkan efektivitas pekerjaan yang dilakukan. Untuk mencapai
output yang ditetapkan perlu dilakukan intervensi terhadap program kegiatan pangan
dan gizi yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pemerintah Dearah dalam hal ini Perangkat Daerah/Instansi terkait bertanggung
jawab untuk mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan, namun dalam
melaksanakan usaha untuk mencapai target tersebut komponen non pemerintah, yaitu
pelaku usaha, media, mitra pembangunan, dan masyarakat harus turut mengambil
peran. Dengan menetapkan outcome dan output utama, maka diharapkan setiap
stakeholder yang terlibat dapat melaksanakan program kegiatan lebih terarah dan
focus pada pemecahan masalah pangan dan gizi.

Tabel 3.1 Indikator Outcome Perbaikan Pangan dan Gizi

No Status Target
Indikator Awal (2018)
(2014)
1 Produksi padi (ton) 426.567 672.052
2 Produksi jagung (ton) 7.567 9.023
3 Produksi kedelai (ton) 1.128 1.636
4 Produksi daging sapi (ribu ton) 8.817 11.677
5 Produksi ikan (ton) diluar rumput laut 184.600 382.800
6 Skor PPH 85,7 91,4
7 Tingkat konsumsi energi (kkal/kapita/hari) 3.034 2.150
8 Konsumsi ikan (kg/kap/tahun) 50,5 55,74
9 Prevalensi anemia pada ibu hamil 20 <10
(persen)

68
No Status Target
Indikator Awal (2018)
(2014)
10 Persentase bayi dengan berat badan lahir 25 <15
rendah (BBLR) (persen)
11 Persentase bayi dengan usia kurang dari 45 50
6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif
(persen)
12 Prevalensi kekurangan gizi (underweight) 17,3 16
pada anak balita (persen)
13 Prevalensi kurus (wasting) pada anak 15 <10
balita (persen)
14 Prevalensi pendek dan sangat pendek 26,1 26
(stunting) pada anak baduta (bayi di
bawah 2 tahun) (persen)
15 Prevalensi berat badan lebih dan obesitas 35 20
pada penduduk usia >18 tahun (persen)

Penjabaran lebih rinci terkait peran lintas sektor ditampilkan pada Tabel berikut yang
didalamnya terdapat alur pikir (logical framework) dari peranan setiap stakeholder dan tabel ini
merupakan modifikasi dari kegiatan yang tercantum pada Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Strategis SKPD/Instansi lingkup Pemerintah
Provinsi Kalimantan Timur.

Tabel 3.2 Logical Framework RAD-PG Provinsi Kalimantan Timur


Tahun 2014-2018
Impact
Peningkatan Kualitas SDM Outcome
1. Produksi padi mencapai 672.052 ton
2. Produksi jagung mencapai 9.023 ton
3. Produksi kedelai mencapai 1.636 ton
4. Produksi daging sapi mencapai 11.677 ton
5. Produksi ikan (diluar rumput laut) mencapai 382.800 ton
6. Skor pola pangan harapan (PPH) mencapai 91,4
7. Konsumsi energi mencapai 2.150 kkal/kapita/hari
8. Konsumsi ikan mencapai 55,74 kg/kap/tahun
9. Prevalensi anemia pada ibu hamil mencapai <10%
10. Persentase bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mencapai <15%
11. Persentase bayi dengan usia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif
mencapai 50%
12. Prevalensi kekurangan gizi (underweight) pada anak balita mencapai <16%
13. Prevalensi kurus (wasting) pada anak balita mencapai <10%
14. Prevalensi pendek dan sangat pendek (stunting) pada anak baduta (bayi di bawah 2
tahun) mencapai 26%
15. Prevalensi berat badan lebih dan obesitas pada penduduk usia >18 tahun mencapai 20 %

69
PELAKSANA INPUT OUTPUT

1. Persentase Puskesmas yang Peningkatan Pengetahuan Gizi


Dinas Kesehatan menyelenggarakan kegiatan Remaja, WUS & IBU
kesehatan remaja
2. Persentase puskesmas yang
melaksanakan kelas Ibu hamil.
3. Persentase ibu hamil yang
mendapatkan pelayanan
antenatal (K4)
4. Persentase bayi baru lahir yang
melakukan Inisiasi Menyusui
Dini (IMD)

5. Persentase bayi usia kurang dari


6 bulan mendapat ASI Eksklusif

6. Persentase Persalinan di
fasilitas pelayanan kesehatan
7. Persentase Puskesmas Program
Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K)
Konsumsi energi dan zat gizi
8. Prevalensi merokok pada tercukupi terutama bagi
penduduk usia < 18 tahun kelompok rentan yaitu remaja
putri, Ibu hamil

9. Persentase remaja putri yang


mendapatkan Tablet Tambah
Darah(TTD)
10. Persentase Ibu hamil KEK yang
mendapat Pemberian Makanan
Tambahan( PMT)
11. Persentase Ibu hamil yang
mendapatkan TTD 90 tablet
selama masa kehamilan.
12. Persentase balita kurus yang
mendapat makanan tambahan
13. Persentase balita yang
ditimbang berat badannya
14. Presentase balita gizi buruk Penanggulangan Gizi Buruk Akut
yang mendapat perawatan dan kronis
15. Persentase balita 6-59 bulan
mendapat kapsul Vitamin A
16. Persentase ibu nifas mendapat Manajemen dan Pencegahan
kapsul vitamin A Penyakit

70
17. Persentase ibu hamil anemia
18. Persentase rumah tangga
mengkosumsi garam beriodium
19. Persentase bayi dengan berat
badan lahir rendah (berat
badan <2500 gram)
20. Persentase anak usia 0-11
bulan yang mendapat imunisasi
dasar lengkap
21. Persentase kabupaten/kota
yang memiliki kebijakan
Perilaku Hidup Bersih & Sehat
(PHBS)
22. Persentase sarana air minum
yang dilakukan pengawasan

Dinas Pangan,
Jumlah Pemanfaatan Pekarangan
Tanaman Pangan Penganekaragaman Makanan
(kelompok)
dan Hortikultura

Dinas Pangan, 1. Produksi Padi (ton)


Tanaman Pangan 2. Produksi Jagung(ton)
dan Hortikultura 3. Produksi Kedelai(ton)
Dinas Peternakan Produksi Daging Sapi (ton)
1. Produksi Perikanan
Budidaya(ton)
Dinas Kelautan dan 2. Produksi Perikanan
Perikanan Tangkap(ton)
3. Rata-rata Konsumsi Ikan per
tahun(kg)
1. Tersedianya Cadangan Pangan
Pemerintah Provinsi setara Ketersediaan Pangan, Akses
200ton Ekonomi dan Pemanfaatan
2. Penurunan Jumlah Penduduk Pangan
Dinas Pangan, Rawan Pangan
Tanaman Pangan 3. Lumbung Pangan
dan Hortikultura yangdiberdayakan
4. Produk Pangan Segar
yangTersertifikasi
5. Tingkat Keamanan Pangan
Segar yang Diuji
1. Persentase Cakupan
PengawasanSarana Produksi
BBPOM Obat danMakanan
2. Jumlah Desa Pangan Aman
(PAMAN)

71
3. Jumlah Pasar yang diintervensi
menjadi pasar aman
bahanberbahaya
4. Jumlah Kabupaten/kota yang
menerapkan Peraturan Kepala
Badan POM tentang IRTP
1. Pembangunan Saluran PAM ke Peningkatan Sanitasi dan Akses
Rumah Tangga Air Bersih
a. Pembangunan SPAM(KK)
b. Optimalisasi SPAM(KK)
c. Pembangunan SPAM Ibu
Kota Kecamatan (KK)
d. Perluasan SPAM Perkotaan
(KK)

PU Bidang Cipta
Karya

2. Pembangunan Infrastruktur
Limbah
a. Pembangunan
SANIMAS(KK)
b. Pembangunan IPAL(KK)
c. Pembangunan IPLT(KK)
d. Pembangunan Drainase (ha)
1. Laporan Kegiatan Dewan
Dinas Pangan, Ketahanan Pangan
Tanaman Pangan Koordinasi Vertikal Horizontal
dan Hortikultura 2. Laporan Sistem Kewaspadaan
pangandan Gizi

Dinas Tersedianya akses pelayanan


dalam rangka pengembangan dan
Pemberdayaan
1. PKK peningkatan Pemberdayaan
Masyarakat dan Kelembagaan dan Sosial Budaya
Pemerintahan Desa Masyarakat
2. Posyandu

3. PMT-A

3.3 Prinsip dan Pendekatan Kunci


3.3.1 Sensitif Gender dan Kesetaraan

a. Pelaksanaan Pengarusutamaan Pembangunan Gender.


Kegiatan-kegiatan dan mungkin juga dlm konsepsinya di tingkat nasional
maupun Provinsi, dan Kabupaten/Kota, secara eksplisit maupun implisit, membuat
asumsi yang menguatkan pemisahan peran laki-laki dan perempuan, antara lain

72
penyuluhan pertanian, program kredit, perkumpulan-perkumpulan formal dan peran
pemimpin didalamnya ditetapkan sebagai urusan laki-laki. Sedang perempuan
ditetapkan terbatas pada kegiatan-kegiatan yang menjurus ke bidang reproduksi,
seperti KB, Pendidikan, gizi dan kesehatan, PKK dan lainnya. Hal ini menggambarkan
kebijakan pemerintah belum peka gender.
Secara umum akses dan kontrol perempuan pada kelembagaan dan organisasi,
baik yang bersifat formal maupun tradisional baru sebatas pada kelembagaan yang
erat hubungan dengan peran gender perempuan, misalnya organisasi PKK, arisan,
pengajian dan sebagainya. Penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan
pelayanan di daerah masih diperlukan peningkatan pengintegrasian gender melalui
penguatan kelembagaan, pemantauan dan evaluasi atas kebijakan program dan
kegiatan yang responsif gender.
Melalui Strategi Nasional (STRANAS) percepatan PUG melalui Perencanaan
yang responsip Gender (PPRG), berdasarkan permasalahan, sasaran serta arah
kebijakan nasional, maka strategi umum mengacu pada dua permasalahan yang
dihadapi adalah penerapan PPRG di tingkat nasional dan daerah yaitu a). Penguatan
dasar hukum dan b). Penguatan koordinasi baik antar sesama instansi penggerak
dengan instansi pelaksana.

b. Kesenjangan Gender Dalam Hal Akses, Manfaat dan Partisipasi Dalam


Pembangunan.
Lambatnya peningkatan nilai Indeks Pembangunan Gender (IPG) setiap tahun.
Hal ini mengidikasikan bahwa peningkatan kesetaraan gender di bidang ekonomi dan
ketengakerjaan, politik, serta pengambilan keputusan yang signifikan yang antara lain
disebabkan oleh (1). Masih terdapatnya kesenjangan gender dalam hal akses, manfaat
dan partisipasi dalam pembangunan serta penguasaan terhadap sumber daya pada
tataran antar Provinsi dan antar Kabupaten/Kota, (2). Rendahnya peran dan
partisipasi perempuan di bidang politik, jabatan publik dan di bidang ekonomi, (3).
Rendahnya kesiapan perempuan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim,
krisis ekonomi, bencana alam dan konflik sosial serta terjadinya penyakit.
Untuk 2 tahun terakhir (2014 dan 2015) Kalimantan Timur termasuk 5 (lima)
daerah terendah (Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Papua Barat
dan Papua) yang memiliki gap antara IPG dan IPM. Salah satu penyebab dari
kesenjangan gender yang terjadi di Kalimantan Timur adalah terjadinya kesenjangan

73
gender dalam sumbangan pendapatan laki-laki dan perempuan.(Sumber dari Buku
Pembngunan Manusia Berbasis Gender 2016, terbitan Kerjasama Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dengan BPS).
Lambatnya peningkatan nilai IPG setiap tahun mengindikasikan bahwa
peningkatan kesetaraan gender di bidang ekonomi dan ketenagakerjaan, politik serta
pengambilan keputusan yang signifikan yang antara lain disebabkan oleh :
- Masih terdapatnya kesenjangan gender dalam hal akses, manfaat dan partisipasi
dalam pembangunan serta penguasaan terhadap sumber daya pada tataran antar
Provinsi dan antar Kabupaten/Kota.
- Rendahnya peran dan partisipasi perempuan di bidang politik, jabatan-jabatan
publik dan dibidang ekonomi.
- Rendahnya kesiapan perempuan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim,
krisis energi, krisis ekonomi, bencana alam dan konflik sosial serta terjadinya
penyakit.

3.3.2 Pendekatan Multi Sektor

Tantangan utama dalam peningkatan status gizi masyarakat adalah


meningkatkan intervensi gizi spesifik serta peningkatan intervensi sensitif melalui
penguatan regulasi, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan bagi upaya perbaikan gizi
termasuk peningkatan jumlah dan kualitas sumber daya manusia, meningkatkan akses
masyarakat terhadap pangan yang berkualitas, dan mendorong pola hidup makan
sehat terutama dengan penurunan konsumsi gula, lemak, dan garam untuk
menurunkan faktor risiko penyakit tidak menular. Tantangan lainnya yang perlu
diselesaikan adalah disparitas masalah gizi yang masih cukup tinggi antar propinsi,
antar kabupaten/kota, serta antar kelompok sosial ekonomi masyarakat.
Ketika bahan pangan sudah didapatkan, maka berbagai faktor mempengaruhi
jumlah dan kualitas pangan yang dijangkau oleh anggota keluarga. Bahan pangan yang
dimakan harus aman dan memenuhi kebutuhan fisiologis suatu individu. Keamanan
pangan mempengaruhi pemanfaatan pangan dan dapat dipengaruhi oleh cara
penyiapan, pemrosesan, dan kemampuan memasak di suatu komunitas atau rumah
tangga. Akses kepada fasilitas kesehatan juga mempengaruhi pemanfaatan pangan
karena kesehatan suatu individu mempengaruhi bagaimana suatu makanan dicerna.
Misal keberadaan parasit di dalam usus dapat mengurangi kemampuan tubuh

74
mendapatkan nutrisi tertentu sehingga mengurangi kualitas pemanfaatan pangan oleh
individu. Kualitas sanitasi juga mempengaruhi keberadaan dan persebaran penyakit
yang dapat mempengaruhi pemanfaatan pangan sehingga edukasi mengenai nutrisi dan
penyiapan bahan pangan dapat mempengaruhi kualitas pemanfaatan pangan.
Dalam rangka mengatasi permasalahan gizi diketahui bahwa intervensi gizi
spesifik yang sebagian besar dilaksanakan oleh sektor kesehatan dan berpengaruh
secara langsung merupakan yang paling efektif (Bhutta, 2013). Keberlanjutan
intervensi ini bergantung pada pelaksanaan intervensi gizi sensitif, yang merupakan
faktor mendasar yang mempengaruhi status gizi, intervensi sensitif dilaksanakan oleh
sektor lain seperti pendidikan, pertanian, pekerjaan umum/infrastruktur, dan
kesejahteraan sosial (WHO, 2012).

Pengarusutamaan Pembangunan Gizi


Lintas Sektor

Berfikir Multi-
Sektor, Bertindak
Sektoral

Sumber: Bappenas, 2012

Gambar 3.1 Pengarusutamaan Pembangunan Gizi Lintas Sektor

Logical framework (logframe) RAD-PG dengan peran SKPD terkait secara lebih
rinci. Semua SKPD terkait mempunyai goal atau dampak program multi-sektor yang
sama yaitu menghasilkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Semua

75
kegiatan SKPD ini diharapkan dapat mencapai semua Outcome yang telah ditentukan.
Seluruh outcome akan dapat dicapai setidaknya apabila 1) terjadi peningkatan
pengetahuan gizi dan kesehatan pada remaja, wanita usia subur dan ibu; 2) konsumsi
makanan yang berpedoman pada gizi seimbang terutama pada kelompok rentan yaitu
kelompok 1000 HPK, remaja perempuan, ibu menyusui, dan balita; 3) pemantauan dan
stimulasi tumbuh kembang; 4) pencegahan dan manajemen penyakit infeksi; 5)
penanggulangan gizi buruk akut; 6) ketersediaan pangan, akses ekonomi dan
pemanfaatan pangan yang adekuat; 7) Jaminan terhadap akses kesehatan dan sosial;
8) Peningkatan sanitasi dan air bersih; 9) Akses terhadap pelayanan kesehatan dan KB;
10) Pendidikan dan pemberdayaan perempuan, serta perkembangan anak usia dini; 11)
Peningkatan pemahaman dan pelaksanaan advokasi yang strategis; 12) koordinasi
vertikal dan horizontal; 13) Akuntabilitas, regulasi insentif, peraturan perundang-
undangan; 14) investasi dan mobilisasi kapasitas; 15) Monitoring dan evaluasi tepat
guna. Peran setiap SKPD terkait dapat dijabarkan melalui pencapaian indikator output,
seperti yang dicantumkan pada indikator input didalam logframe RAD-PG2015-2019.

Keterangan :
*) Peran Utama dari setiap Sektor

Gambar 3.2 Contoh Peran Multi-sektor dalam Kerangka Perbaikan

Berbagai aspek gizi dan komponen sektor lainnya seperti pertanian, air dan
sanitasi, dan kebutuhan perlindungan sosial pada RAD-PG Provinsi Kalimantan Timur
perlu mengacu apa yang telah ditetapkan dalam RPJMN, RAN-PG, RPJMD Provinsi
Kalimantan Timur dan peraturan pemerintah lainnya. Pelaksanaan peraturan yang

76
ditetapkan harus fokus pada kelompok yang rentan dan termiskin, sehingga dapat
meningkatkan pencapaian target yang telah ditetapkan.Pengembangan pendekatan
multi-sektor yang terintegrasi untuk intervensi diperlukan melalui pendekatan dari bawah
ke atas (bottom up) yang dapat dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah di provinsi dan kabupaten/kota. Untuk pelaksanaan RAD-PG dapat dimulai
ditingkat provinsi dan selanjutnya dilakukan di tingkat kabupaten/kota.

3.3.3. Kaitan Dengan RPJMD

RPJMD Kalimantan Timur 2013 – 2018 menitikberatkan pada pengelolaan


unrenewable resources tetapi lebih pada (transformasi) renewable resources yang
berpihak pada lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Untuk
mewujudkan keseimbangan tersebut, pembangunan Provinsi Kalimantan Timur diarahkan
pada model pembangunan ekonomi hijau sebagai rezim pembangunan untuk menjaga
keseimbangan antara pilar ekonomi, lingkungan, dan sosial, serta mewujudkan kondisi
masyarakat yang lebih baik dan berkeadilan sosial dengan mengurangi risiko kerusakan
lingkungan.
Dimensi-dimensi yang bernilai penting dalam pembangunan berkelanjutan memiliki
relevansi yang sama dengan Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi (RAD PG)
Kalimantan Timur yang berupaya mewujudkan ketahanan pangan daerah namun tetap
memperhatikan sumber daya manusia yang sehat, dinamis dan memperhatikan
lingkungan berkelanjutan. Visi RPJMD Provinsi Kalimantan Timur 2013-2018 adalah
‘Mewujudkan Kaltim Sejahtera Yang Merata Dan Berkeadilan Berbasis Agroindustri Dan
Energi Ramah Lingkungan’. Selanjutnya untuk mencapai visi ini, maka misi pertama
RPJMD Kalimantan Timur adalah ‘Mewujudkan kualitas sumber daya manusia Kaltim
yang mandiri dan berdaya saing tinggi’.
Dalam mengarahkan strategi pembangunan, Pemerintah Provinsi Kaltim berupaya
untuk fokus pada prioritas pembangunan yang sejalan dengan visi dan misi daerah, yaitu:
1. Peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan;
2. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan;
3. Percepatan pengentasan kemiskinan;
4. Peningkatan dan perluasan kesempatan kerja;
5. Pengembangan ekonomi kerakyatan
6. Percepatan transformasi ekonomi;
7. Pengembangan agribisnis;

77
8. Peningkatan produksi pangan;
9. Pemenuhan kebutuhan energi ramah lingkungan;
10. Peningkatan kualitas infrastruktur dasar;
11. Reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan; dan
12. Peningkatan kualitas lingkungan hidup.

Sejalan dengan visi, misi


pertama dan prioritas
pembangunan RPJMD
Kalimantan Timur 2013-
2018, Pembangunan
kesehatan dan pangan
merupakan kegiatan prioritas
yang dipandang sebagai
suatu investasi dalam
kaitannya untuk mendukung
peningkatan kualitas sumber
daya manusia dan pembangunan ekonomi, serta memiliki peran penting dalam upaya
penanggulangan kemiskinan. Peningkatan akses dan mutu di bidang kesehatan
dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan angka harapan hidup bagi masyarakat
provinsi Kalimantan Timur. Perhatian kepada bidang kesehatan menjadi semakin
penting di masa desentralisasi ini, karena kemampuan daerah menentukan arah dan
kebijakan pembangunannya, akan menentukan pula pembangunan dibidang ini secara
mendasar. Arah kebijakan pembangunan yang mendukung dan selaras dengan RAD
Pangan dan Gizi adalah :
2. Peningkatan akses di bidang kesehatan
3. Peningkatan mutu di bidang kesehatan
4. Peningkatan areal pertanian melalui cetak sawah dan optimasi lahan
5. Penerapan mekanisasi dan teknologi pertanian
6. Peningkatan produktivitas pertanian
7. Peningkatan infrastrutur pertanian
8. Peningkatan Kualitas Bantuan dan Perlindungan sosial bagi masyarakat miskin;
9. Penyediaan infrastruktur dasar bagi masyarakat miskin
10. Pemberdayaan usaha ekonomi masyarakat miskin

78
Untuk mengimplementasikan arah kebijakan RPJMD ditetapkan pula program
prioritas pembangunan yang dilaksanakan oleh SKPD MultiSektor di Provinsi Kalimantan
Timur untuk mendukung tercapainya tujuan RAD-PG 2013-2019 yaitu:
1. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pelayanan kesehatan
2. Peningkatan promosi kesehatan dan membangun kemitraan dengan lintas sektor
3. Peningkatan kualitas tenaga kesehatan
4. Peningkatan upaya penanggulangan penyakit menular
5. Percepatan Pembangunan Sanitasi Perkotaan
6. Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah
7. Peningkatan kualitas manajemen pelayanan kesehatan
8. Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin
9. Peningkatan mekanisme pemberian bantuan dan perlindungan sosial bagi
masyarakat miskin
10. Peningkatan pemberdayaan usaha ekonomi masyarakat miskin
11. Pengembangan kemampuan kerja dan berusaha (wirausha)
12. Peningkatan produksi hasil pertenakan
13. Pengembangan Perikanan Tangkap
14. Pengembangan kawasan budidaya laut, air payau dan air tawar
15. Intensifikasi dan Ekstensifikasi Produksi Pertanian Padi
16. Penyediaan dan Peningkatan kualitas SDM pertanian
17. Mendorong produksi pertanian dan arti luas
18. Penganekaragaman Produk Olahan Pertanian dalam arti luas
19. Peningkatan Ketahanan Pangan
20. Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Pedesaan
21. Program Peningkatan Pendayagunaan Teknologi tepat guna

Berbagai program prioritas tersebut bermuara pada pencapaian berbagai


Output sebagaimana termuat dalam Logical Fremework RAN-PG 2015-2019 dan Revisi
Kedua RAD PG Kalimantan Timur 2014-2018.

3.3.4. Penguatan RAD-PG


Penguatan RAD-PG merupakan langkah-langkah yang ditempuh untuk
melaksanakan RAN-PG. Tahapan pelaksanaan dalam rangka memperkuat perbaikan
pangan dan gizi adalah pembenahan aspek kelembagaan di tingkat provinsi yang

79
dilanjutkan dengan pembentukan dan pendampingan di kabupaten/kota, sehingga bila
dari aspek kelembagaan sudah solid dan tertata maka akan mudah dalam menyusun
perencanaan hingga melakukan rencana aksi dan implementasi.
Kelembagaan ketahanan pangan dan gizi di pemerintahan propinsi Kalimantan
Timur mulai dilaksanakan di bawah koordinasi Dewan Ketahanan Pangan (DKP) yang
diketuai oleh Gubernur. Namun kelembagaan Dewan Ketahanan Pangan di tingkat
kabupaten/kota masih belum optimal. Kendala belum efektifnya ini disebabkan karena
permasalahan pemahaman dan penerapan PP 38 Tahun 2007 dan PP 41 Tahun 2007,
selain itu karena keterbatasan SDM yang dimiliki Kabupaten/Kota, sehingga ada
beberapa organisasi ketahanan pangan yang berbentuk Badan, Kantor ataupun hanya
pada eselon III atau IV, sehingga dalam pelaksanaan koordinasi akan sangat
menyulitkan. Disamping itu karena institusi ini relatif baru, sehingga dijumpai kendala-
kendala kualitas SDM dan produktivitas tenaga penyuluh serta terbatasnya sarana dan
prasarana. Usaha-usaha untuk meningkatkan kelembagaan fungsional (DKP) maupun
kelembagaan struktural harus dilakukan, serta meningkatkan koordinasi dan kerjasama
lintas SKPD yang menangani pangan dan gizi. Hingga saat ini penanganan masalah
ketahanan pangan dan gizi seringkali menghadapi kendala yang bersumber dari aspek
kelembagaan. Kondisi tentang kelembagaan Pangan dan Gizi di Kalimantan Timur dapat
di uraikan dalam Tabel berikut.
Tabel 3.3 Kondisi Kelembagaan Pangan dan Gizi di Kalimantan Timur

KINERJA
Dewan Ketahanan 1. Ditingkat Provinsi telah dibentuk Dewan Ketahanan Pangan
Pangan Daerah berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor : 58 Tahun
2009 dan Keputusan Gubernur Nomor : 520/K.372/2009.
2. Ditingkat Kabupaten/Kota sudah dibentuk 8 Dewan Ketahanan
Pangan Daerah
3. Rapat Koordinasi DKP seharusnya dilaksanakan minimal 2 kali
setahun atau atas permintaan Ketua Dewan dalam hal ini
Gubernur/Bupati/Walikota dapat dilakukan secara berkala.
Ditingkat provinsi baru dilaksanakan satu kali di tahun 2010
yang dipimpin oleh Gubernur Kalimantan Timur.Sedangkan
rapat koordinasi antara provinsi dan kabupaten belum pernah
dilaksanakan akibat keterbatasan sarana dan prasarana,
seperti Sekretariat, Pokja Ahli, SDM, dan Anggaran, sehingga
koordinasi dilakukan melalui fasilitas yang ada.
4. Ada beberapa kabupaten yang dalam tahun 2013 akan
membentuk Dewan Ketahanan Pangan meliputi Penajam

80
KINERJA
Paser Utara dan Mahulu
5. Anggota DKP telah mengikuti beberapa kegiatan baik tingkat
regional maupun nasional, baik melalui Rakor dan Rapat
Teknis

Pendataan dan 1. Sistem pendataan belum dilakukan secara terpadu dan


informasi pangan kontinyu, terutama akses data-data sekunder serta belum
berbasis waktu. Data-data yang ada merupakan data-data
yang belum diperbaharui, karena keterbatasan SDM dan
sarana prasarana operasional.

2. Sistem informasi pangan belum dapat diakses secara tepat


dan cepat, baik melalui media online maupun media offline
lainnya.
Kelembagaan 1. Kelembagaan menangani gizi dan kesehatan ditingkat provinsi
pangan dan gizi dan kabupaten/kota sudah berkembang, namun ditingkat
di pedesaan kecamatan dan pedesaann belum berkembang secara
optimal.
2. Kelembagaan menangani desa rawan belum merata di
kabupaten/kota, karena tidak adanya kelembagaan ketahanan
pangan.
3. Kelembagaan menangani penganekaragaman pangan baru
tumbuh sejak tahun 2010 ditingkat pedesaan melalui stimulus
APBN dan APBD, namun pendampingan oleh petugas belum
berjalan secara baik.
Monitoring dan Monitoring dan evaluasi kinerja ketahanan pangan ditingkat
evaluasi kinerja provinsi dan kabupaten belum berjalan sebagaimana Standar
ketahanan Pelayanan Minimal (SPM) yang ditetapkan, masih bersifat parsial,
pangan dan belum terpadu dan belum menjangkau tingkat
kabupaten/kota secara keseluruhan dengan baik.
Pengembangan 1. Minimnya penelitian terhadap potensi pangan lokal di Kaltim
inovasi ketahanan sebagai bahan pangan alternatif, tidak dilakukan secara
pangan keluarga terkoordinasi, sehingga hasil-hasil penelitian tersebut belum
terpublikasi pada masyarakat luas.
2. Belum optimal dalam memanfaatkan IpTek yang berbasiskan
sumberdaya dan kearifan lokal .
3. Tidak berkembangnya hasil-hasil Lomba Cipta Menu yang
dilaksanakan karena mahalnya biaya promosi dan harga
bahan baku pangan lokal.
Sumber: BKPP Provinsi Kaltim, 2015

81
Dalam rangka penguatan aspek pangan dan gizi, diperlukan penguatan koordinasi dan
sarana pertemuan yang mampu menjadi pengungkit kelembagaan yang solid dan konsisten
hingga ke tingkat kabupaten/kota. Oleh sebab itu perlu dibangun kerangka kerja dan SOP
(standar, operasional, dan procedure) yang dijalankan secara konsisten oleh setiap multisektor
yang terlibat.

Gambar 3.3 Upaya Penguatan Kelembagaan Pangan dan Gizi di Kalimantan Timur

3.3.5. Kesetaraan

Kesetaraan gender merupakan kesamaan kondisi bagi laki laki dan perempuan. Dalam
rangka memperoleh kesempatan serta hak-haknya. Sebagai manusia agar mampu berperan
dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, social budaya, pendidikan,
pertahanan dan keamanan, serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.
Dengan berubahnya paradigma tentang perempuan, maka ruang publik tidak lagi
dominasi oleh pria tetapi perempuan juga memiliki peluang, akses dan kemampuan yang sama.
Dimensi kehidupan sosial kemasyarakatan seperti pendidikan, dunia usaha, birokrasi bahkan
politik sendiri diwarnai oleh kaum perempuan. Hal ini mempertegas bahwa transformasi sosial
bagi perempuan sudah tidak bisa tertindas.
Seiring dengan terjadinya keterbukaan informasi pelaksanaan pembangunan.
Pemerintahan daerah telah mengupayakan hasil pembangunan dapat dirasakan oleh warga

82
masyarakat tanpa terkecuali, baik laki laki maupun perempuan. Hal ini dapat ditunjukkan
melalui pengangkatan jabatan strategis yang dipimpin oleh perempuan yang artinya tidak ada
diskriminasi terhadap laki laki dan perempuan sepanjang telah memiliki kemampuan.
Kalimantan Timur merupakan daerah yang memiliki potensi yang cukup besar untuk
berkembang lebih maju. Maju dan tidaknya tergantung dari peran semua pihak sehingga hasil
pembangunan dapat dirasakan oleh semua tanpa diskriminasi. Untuk mendukung kesetaraan
gender, pemerintah daerah melakukan terobosan melalui program peningkatan peran serta dan
kesetaraan gender. Dalam pembangunan dengan alokasi anggaran Rp. 652 juta pada tahun
2016, dan pada tahun 2017 sebesar Rp. 2,5 M dan Pagu indikatif tahun 2018 sebesar
Rp. 800 juta.

83
BAB IV
KERANGKA PELAKSANAAN RENCANA AKSI

Kerangka pelaksanaan rencana aksi menjadi suatu hal yang penting karena
menyangkut siapa dan bagaimana kegiatan tersebut dilaksanakan. Pada kerangka
pelaksanaan diatur kerangka kelembagaan, manajemen keuangan dan aliran dana,
anggaran indikatif, strategi pengembangan kapasitas, strategi advokasi dan komunikasi,
dan strategi monitoring dan evaluasi.

4.1 Kerangka Kelembagaan


4.1.1 Struktur organisasi
Tim Rencana Aksi Pangan dan Gizi Provinsi Kalimantan Timur dibentuk
berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Timur yang terdiri dari Tim
Pengarah, Tim Teknis dan Tim Sekretariat dengan susunan keanggotaan masing-
masing sebagai berikut:
PenanggungJawab : Gubernur Kalimantan Timur
Pengarah I : Wakil Gubernur Kalimantan Timur
Pengarah II : Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur
Ketua : Kepala Bappeda Provinsi Kalimantan Timur
Sekretaris : Kepala Biro Hukum Setda Provinsi Kalimantan Timur
Anggota: : 1. Kabid Ekonomi Bappeda Provinsi Kalimantan Timur
2. Sekretaris Bappeda Provinsi Kalimantan Timur
3. Kepala Bidang Prasarana Wilayah Bappeda Provinsi
Kalimantan Timur
4. Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian
Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Timur
5. Kepala Bidang Pemerintahan, Sosial dan Budaya Bappeda
Provinsi Kalimantan Timur
6. Kepala UPTB Pusat Data dan Informasi Bappeda Provinsi
Kalimantan Timur
7. Kasubbid Pertanian dan Perikanan Bappeda Provinsi
Kalimantan Timur
8. Kasubbid Indagkop, Investasi dan Pariwisata Bappeda
Provinsi Kalimantan Timur

84
9. Kasubbid SDA dan LH Bappeda Provinsi Kalimantan
Timur
10. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Provinsi
Kalimantan Timur
11. Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi
Kalimantan Timur
12. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi
Kalimantan Timur
13. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur
14. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur
15. Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Timur
16. Disperindakop & UKM Provinsi Kalimantan Timur
17. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan
Timur
18. Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Provinsi Kalimantan Timur
19. Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa
Provinsi Kalimantan Timur
20. Dinas PUP2 & PERA Provinsi Kalimantan Timur
21. Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda
22. Pelaksana pada Bappeda Provinsi Kalimantan Timur.

4.1.2 Tugas dan Tanggung Jawab Tim Pengarah :


1. Memberikan arahan dalam penyusunan RAD-PG antara lain koordinasi
penyusunan, kebijakan yang perlu dimasukkan dalam RAD-PG, serta
kegiatan prioritas yang diperlukan;
2. Menyampaikan laporan penyusunan RAD-PG kepada Menteri
PPN/Kepala Bappenas;
3. Memberikan arahan dalam pelaksanaan RAD-PG termasuk kebijakan
pelaksanaan dan strategi melaksanakan kegiatan prioritas.

Tim Teknis :
1. Bertanggung jawab terhadap kegiatan penyusunan RAD-PG;
2. Melakukan penyusunan RAD-PG mulai dari membuat jadwal dan rencana

85
kerja, mencari dan mengumpulkan bahan yang diperlukan, melakukan
penyusunan sampai menghasilkan draft untuk disampaikan kepada Tim
Pengarah;
3. Menyampaikan draft RAD-PG kepada tim pengarah untuk proses lebih
lanjut;
4. Mengkoordinasikan pelaksanaan RAD-PG;
5. Menjalankan strategi untuk peningkatan efektifitas pelaksanaan sesuai
masukan Tim Pengarah

4.1.3 Keterlibatan Pemangku Kepentingan


Untuk mengimplementasikan rencana aksi ini, terdapat pelaksana dari pihak
PD Provinsi Kalimantan Timur maupun instansi vertikal. Dalam
mempermudah pelaksanaan di lapangan, PD/Instansi dapat dikelompokkan
ke dalam pilar, yaitu :

1. Perbaikan Gizi Masyarakat, melibatkan Dinas Kesehatan.


2. Peningkatan Aksesibilitas Pangan yang Beragam, melibatkan Dinas
PTPH, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Peternakan.
3. Peningkatan Pengawasan Mutu dan Keamanan Pangan, melibatkan
Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kaltim, serta Dinas
Pangan TPH.
4. Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, melibatkan Dinas
Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum (Cipta Karya)
5. Kelembagaan Pangan dan Gizi, melibatkan Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah dan DPTPH.

4.2 Manajemen Keuangan dan Pendanaan


Untuk menjalankan rencana aksi ini, setiap pelaksana memerlukan dukungan dan
pengelolaan dana yang dapat berasal dari berbagai sumber. Sumber pendanaan utama
berasal dari APBN dari pemerintah pusat dan APBD dari pemerintah daerah. Dana
APBD diatur secara mandiri oleh pemerintah daerah, untuk dana APBN pembiayaannya
diperuntukkan bagi belanja kegiatan di tingkat pusat dan dapat digunakan di provinsi dan
kabupaten dalam berbagai skema yang ada. Dana APBN yang dapat didistribusikan
pada masing–masing PD terkait sedangkan pendanaan melalaui APBD melekat pada
program dan kegiatan sesuai dengan Renstra PD.

86
4.3 Keterlibatan Pemangku Kepentingan
Para pemangku kepentingan (stakeholders) di bidang pangan dan gizi termasuk
sektor swasta, perguruan tinggi dan organisasi non pemerintah dalam dan luar negeri
terlibat dalam perbaikan gizi. Jika memungkinkan Badan PBB dan mitra pembangunan
berkontribusi memberikan hibah dan bantuan teknis untuk perbaikan pangan, kesehatan,
dan gizi. Walaupun demikian, koordinasi lintas program dan lintas sektor/bidang di
pemerintah maupun antar Badan PBB dan mitra pembangunan masih harus terus
ditingkatkan. Koordinasi perlu dibangun untuk mengkoordinasikan secara efektif kebijakan
antar sektor/bidang, memfasilitasi kolaborasi di tingkat operasional dan mengintegrasikan
kegiatan program terkait dengan penurunan prevalensi kekurangan gizi dan peningkatan
asupan kalori pada semua anggota keluarga yang mengalami rawan pangan (Landscape
Analysis on Nutrition, Kemenkes, 2010).
Sasaran pembangunan pangan dan gizi dicapai dengan meningkatkan koordinasi dan
kerja sama antara berbagai lembaga terkait dengan pembangunan pangan dan gizi, baik
antar lembaga pemerintah, antara pemerintah dan masyarakat, maupun antar kelompok
masyarakat. Peningkatan koordinasi didukung oleh penyusunan perangkat hukum tentang
pangan dan pemasyarakatannya. Perangkat hukum itu termasuk peraturan tentang
penyediaan bahan baku, produk pangan olahan dan bahan penolong lainnya.
Di samping kelembagaan tersebut di atas dikembangkan pula kebijaksanaan untuk
mendorong dunia usaha, swasta, serta koperasi, untuk berperan serta dalam produksi dan
pengolahan pangan, penyediaan dan distribusi pangan yang berkualitas dan aman
sehingga menjadi mitra pemerintah untuk mencapai sasaran pembangunan pangan;
menata kelembagaan yang terkait dengan pengawasan kualitas dan pengendalian
pangan; dan meninjau kembali dan menata ketentuan dan peraturan yang menghambat
usaha peningkatan produksi, distribusi dan penyediaan pangan, serta menghambat
pengembangan industri dan sistem perdagangan pangan.

4.4 Strategi Pengembangan Kapasitas


Untuk melaksanakan program yang telah direncanakan, diperlukan adanya peningkatan
kapasitas organisasi, sumberdaya manusia, dan panduan pelaksanaan program atau
kegiatan. Strategi pengembangan kapasitas yang dapat dilakukan adalah dengan cara
berikut:

87
 Peningkatan tenaga profesional di tingkat Pemerintah paling bawah yakni tingkat
Kecamatan dan Desa
 Melakukan Kampanye kesehatan tentang pentingnya gizi seimbang pada semua
siklus kehidupan, terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan melalui pada event-
event tertentu, seperti Hari Kartini, Hari Ibu dll.
 Peningkatan dan pemerataan tenaga medis dan para medis di setiap Kabupaten/Kota
sampai ke pedalaman dan perbatasan.
 Pengembangan teknologi pertanian dan peningkatan Sumberdaya Manusia Pelaku
Pertanian Tanaman Pangan untuk menghasilkan produksi yang mempunyai daya
saing.
 Peningkatan ketahanan pangan masyarakat

 Peningkatan kesejahteraan petani

 Pemberdayaan dan Peningkatan penyuluhan ke Kabupaten/Kota dan peningkatan


SDM Penyuluh.

 Bimbingan Teknis pada Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP)

 Bimbingan Teknis dan Monitoring pada Kantin Sekolah.


 Peningkatan Keamanan, Mutu, Gizi Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS)
 Peningkatkan pemberdayaan masyarakat dan peran pimpinan formal serta non formal
terutama dalam perubahan perilaku atau budaya konsumsi pangan yang difokuskan
pada penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal, perilaku
hidup bersih dan sehat, serta merevitalisasi posyandu.

4.5 Strategi Advokasi dan Komunikasi


Advokasi gizi adalah kombinasi antara pendekatan atau kegiatan individu dan sosial
untuk memperoleh komitmen politik, dukungan kebijakan, penerimaan sosial, dan adanya
sistem yang mendukung terhadap suatu program atau kegiatan khususnya di bidang gizi.
(Notoatmodjo, Soekidjo. 2007.Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta Rineka
Cipta.)Advokasi gizi memiliki tujuan yaitu:
 Melakukan perubahan, terutama dalam hal gizi dan kesehatan
 Meningkatkan perhatian publik terhadap kesehatan, dan meningkatkan alokasi sumber
daya untuk kesehatan.
 Komitmen Politik (Political Comitment), komitmen para pembuat keputusan atau penentu
kebijakan baik kekuasaan eksekutif maupun legislatif sangat diperlukan terhadap

88
permasalahan kesehatan dan upaya pemecahan permasalahan kesehatan. Seberapa jauh
komitmen politik para eksekutif maupun legislatif terhadap masalah kesehatan dipengaruhi
oleh pemahaman mereka terhadap masalah – masalah kesehatan.
 Dukungan Kebijakan (Policy Support), dukungan kebijakan ini dapat berupa Undang –
Undang, peraturan pemerintah atau peraturan daerah, surat keputusan pimpinan institusi
baik pemerintah maupun swasta, instruksi atau surat edaran dari para pemimpin lembaga/
institusi, dsb.
 Dukungan Masyarakat (Social Acceptance), dukungan masyarakat berarti diterimanya
suatu program oleh sasaran program tersebut yakni masyarakat, terutama tokoh
masyarakat.
 Dukungan Sistem (System Support), agar suatu program atau kegiatan berjalan dengan
baik, perlu adanya sistem, mekanisme, atau prosedur kerja yang jelas yang
mendukungnya.

Advokasi gizi dapat dilakukan melalui media cetak maupun media elektronik,
permasalahan kesehatan disajikan baik dalam bentuk lisan, artikel, berita, diskusi,
penyampaian pendapat, dsb. Hal ini karena media massa mempunyai kemampuan yang kuat
untuk membentuk opini publik (public opinion) yang dapat mempengaruhi bahkan merupakan
tekanan terhadap para penentu kebijakan dan para pengambil keputusan. Adapun metode yang
digunakan dalam advokasi gizi adalah :
 Lobi politik (political lobying), lobi adalah berbincang – bincang secara informal dengan para
pejabat untuk menginformasikan dan membahas masalah dan program kesehatan yang
akan dilaksakan.
 Seminar dan atau presentasi, seminar atau presentasi yang dihadiri oleh pejabat lintas
program dan lintas sektoral.
 Media massa.
 Perkumpulan (asosiasi) peminat, perkumpulan profesi juga merupakan bentuk advokasi.

4.6 Pendanaan Indikatif


Penting untuk mengetahui anggaran yang tersedia untuk pelaksanaan program. Dengan
demikian dapat diketahui jumlah dana yang diperlukan dan ketersediaan dana sehingga
apabila terjadi kekurangan dapat diketahui lebih awal dan direncanakan untuk mencari
alternatif pendanaan dari sumber lainnya. Besar dana indikatif untuk program dan kegiatan
hendaknya dimiliki pusat dan daerah dan untuk pusat biasanya terdapat pada RPJMN dan

89
Renstra K/L sedang di daerah biasanya dianggarkan dalam APBD Provinsi dan APBD
Kabupaten/kota.

4.7 Strategi Monitoring dan Evaluasi

Dalam rangka menjamin pencapaian RAD-PG Kaltim 2014-2018, maka perlu dilakukan
kegiatan monitoring dan evaluasi. Monitoring difokuskan pada kegiatan yang sedang
dilaksanakan agar kelemahannya diketahui secara cepat dan bisa segera diantisipasi.
Sedangkan evaluasi dilakukan untuk melihat hasil yang dicapai dengan rencana target atau
standar yang telah ditentukan.
Selain itu dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi perlu pula menetapkan target
dan output yang ingin dicapai, siapa yang berperan, dan apa saja yang berperan, apa saja
input dan proses yang harus dilakukan
Untuk melaksanakan monitoring dan evaluasi perlu ditetapkan target atau output yang
ingin dicapai, siapa saja yang berperan, apa saja input dan proses yang harus dilakukan.
Secara garis besar informasi ini diperoleh dari logical framework. Namun agar lebih terukur
dipilih beberapa indikator kinerja utama untuk setiap Peringkat Daerah yang terkait dengan
pencapaian RAD-PG dan akan terus dipantau pencapaiannya dalam kurun waktu tertentu.
Indikator diperoleh dengan memilih indikator kinerjanya yang berasal dari RPJMD maupun
Renstra Peringkat Daerah atau kegiatan lainnya yang relevan terhadap upaya perbaikan gizi
dan berkaitan dengan output dan outcome yang ingin dicapai. Indikator ini akan terus
dipantau dan dievaluasi sehingga dapat mendorong tercapainya output dan outcome dari
RAD-PG 2014-2018.
Tabel 4.1 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) dan Komponen Menurut Kab/Kota
Tahun 2010 – 2015

IDG
KODE PROVINSI/KAB. /KOTA
2010 2011 2012 2013 2014 2015
6400 Kalimantan Timur 60,05 61,29 61,84 63,12 53,74 55,96
6401 Pasir 54,26 56,08 56,08 52,85 58,90 64,58
6402 Kutai Barat 52,78 47,77 53,70 49,15 63,49 62,36
6403 Kutai 46,73 45,81 46,04 45,86 52,91 53,41
6404 Kutai Timur 51,67 54,92 48,56 50,52 55,31 55,20
6405 Berau 46,40 49,53 50,34 50,48 49,20 47,09
6409 Penajam paser utara 64,45 63,69 63,98 61,74 49,42 49,92

90
6411 Mahakam Ulu 68,19 66,37
6471 Kota Balikpapan 66,39 58,62 68,94 67,83 65,82 66,29
6472 Kota Samarinda 62,25 57,49 55,60 56,79 70,67 73,60
6474 Kota Bontang 46,93 59,11 59,06 59,47 44,29 45,85
Sumber : Disduk, P3A IGG Tahun 2016

Tabel 4.2 Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Komponen Menurut Kab/Kota
Tahun 2010 - 2015

IPG
KODE PROVINSI/KAB. /KOTA
2010 2011 2012 2013 2014 2015

6400 Kalimantan Timur 83 83.18 84.33 84.69 84.75 85.07


6401 Pasir 65.78 66.44 66.86 67.82 68.58 68.66
6402 Kutai Barat 77.91 78.28 80.91 82.87 83.01 82.51
6403 Kutai 72.98 73.29 74.92 76.13 76.92 77.22
6404 Kutai Timur 72.55 72.64 73.54 74.17 74.9 74.93
6405 Berau 81.82 83.49 85.76 86.27 87.23 87.37
6409 Penajam paser utara 82.01 82.05 82.87 84.71 85.97 86.26
6411 Mahakam Ulu 0 0 0 76.65 78.04 78.31
6471 Kota Balikpapan 85.81 86.22 86.72 87.14 90.05 89.97
6472 Kota Samarinda 87.65 87.82 88.03 88.71 89.26 89.43
6474 Kota Bontang 79.76 82.17 84.25 85.47 86.31 85.85

Tabel 4.3 DATA JUMLAH PENDUDUK KABUPATEN/KOTA SE KALIMANTAN TIMUR


BERDASARKAN JENIS KELAMIN DILENGKAPI LUAS WILAYAH, JUMLAH KECAMATAN,
DESA DAN KELURAHAN TAHUN 2016
Jenis Kelamin Jumlah
Kabupaten / Kota Jumlah
L % P % Kec Desa Kel

Kalimantan Timur
Pasir 129.457 52 118.580 48 248.037 10 139 5
Kutai Barat 347.291 52 315.190 48 662.481 18 193 44
Kutai 112.732 53 98.780 47 211.512 13 100 10
Kutai Timur 83.184 53 74.901 47 158.085 16 190 4
Berau 226.459 54 189.094 46 415.553 18 134 1
Penajam paser utara 86.855 52 79.200 48 166.055 4 30 24
Mahakam Ulu 12.840 53 11.541 47 24.381 5 50 0

91
Kota Balikpapan 316.389 51 301.739 49 618.128 6 0 34
Kota Samarinda 392.130 51 371.599 49 763.729 10 0 59
Kota Bontang 90.664 52 83.106 48 173.770 3 0 15

JUMLAH 1,798.001 523 1,643.730 477 3,441.73 103 836 196


Sumber : Data Penduduk Bersih (DKB) Kemendagri Semester II Tahun 2016

92
BAB V
PEMANTAUAN DAN EVALUASI

5.1 Pelaksanaan
Dalam rangka menjamin pencapaian RAD-PG 2014-2018, disamping menyelaraskan
informasi yang terkini terhadap pencapaian indikator serta target program kegiatan 2014-
2018 dilakukan juga kegiatan pemantauan dan evaluasi terhadap hasil RAD Pangan Gizi
tahun 2014-2018. Pemantauan difokuskan pada kegiatan yang sedang dilaksanakan agar
secepatnya dapat diketahui perkembangannya selama ini. Sedangkan evaluasi dilakukan
untuk melihat hasil yang dicapai dengan rencana target atau standar yang telah dite ntukan.

Pemantauan dan evaluasi dilakukan secara berkala, dengan memperhatikan indikator


input, proses, output, serta indikator dampak. Program dan kegiatan yang dilakukan pada
setiap tahun dimonitor dan dievaluasi dengan mekanisme Masing masing koordinator pilar
RAD-PG melakukan koordinasi internal maupun eksternal serta secara horisontal dan vertikal
pada SKPD atau Kementerian yang terkait langsung dalam penyelengaraan urusan sesuai
pilar pilar dimaksud. Hasil pemantauan dan evaluasi selanjutnya dilaporkan secara berkala
setiap 6 bulan kepada Gubernur Provinsi Kalimantan Timur. Di samping pemantauan dan
evaluasi terhadap terhadap program/kegiatan, juga dilakukan evaluasi pencapaian target
RAD-PG. Hasil monitoring akan ditindak lanjuti berupa perbaikan rencana maupun
pelaksanaan. Pada akhir pelaksanaan RAD-PG yakni tahun 2018 dilakukan evaluasi secara
keseluruhan terhadap pencapaian seluruh indikator terhadap capaian target RAD-PG.

5.2 Tujuan

Tujuan pelaksanaan evaluasi adalah :


1. Menyediakan data dan informasi tentang pelaksanaan pencapaian target pembangunan
pangan dan gizi di Kalimantan Timur
2. Memberikan masukan untuk mengatasi hambatan yang dihadapi oleh pelaksana kegiatan
3. Sebagai salah satu dasar dalam perumusan kebijakan di bidang pangan dan gizi di
Kalimantan Timur.

5.3 Kegiatan yang dimonitoring


Kegiatan yang dimonitoring dalam RAD-PG Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2014-
2018:

93
Tabel 5.1
Pelaksanaan dan Indikator Monitoring dan Evaluasi RAD-PG Kalimantan Timur
PILAR PENANGGUNG
INDIKATOR YANG DIMONITOR FREK MONEV
KEGIATAN JAWAB
Kepala Dinas
Perbaikan Gizi 1. Persentase kasus balita gizi buruk yang
Kesehatan Prov. 3-6 Bulan/Th
Masyarakat mendapatkan perawatan
Kaltim
2. Persentase balita yang ditimbang berat
badannya
3. Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan
mendapat ASI Eksklusif
4. Persentase rumah tangga mengkosumsi
garam beriodium
5. Persentase balita 6-59 bulan mendapat
kapsul Vitamin A
6. Persentase ibu hamil yang mendapatkan
Tablet Tambah Darah (TTD) minimal 90
tablet selama masa kehamilan
7. Persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik
(KEK) yang mendapat makanan tambahan
8. Persentase balita kurus yang mendapat
makanan tambahan
9. Persentase remaja puteri mendapat TTD
10. Persentase ibu nifas mendapat kapsul
vitamin A
11.Persentase bayi yang baru lahir mendapat
IMD
12.Persentase bayi dengan berat badan lahir
rendah (berat badan <2500 gram)
13.Persentase balita mempunyai buku
KIA/KMS (K)
14.Persentase balita ditimbang yang naik
berat badannya
15.Persentase balita ditimbang yang tidak naik
berat badannya (T)
16. Persentase balita ditimbang yang tidak
naik berat badannya dua kali berturut-turut
(2T)
17. Persentase balita di Bawah Garis Merah
(BGM)
18. Persentase ibu hamil anemia

Kepala Dinas
Aksesibilitas Pangan Tanaman
3-6 Bulan / Tahun
Pangan Pangan dan
Hortikultura
1. Jumlah lumbung pangan yang
dikembangkan di daerah rawan pangan

94
PILAR PENANGGUNG
INDIKATOR YANG DIMONITOR FREK MONEV
KEGIATAN JAWAB
2. Penanganan daerah rawan pangan (desa)
3. Ketersediaan data desa rawan pangan
(jumlah Kab/kota)
4. Terlaksananya system Kewaspadaan
pangan dan Gizi (SKPG) diKabupaten/
kota

Dinas Pangan,
5. Cadangan Pangan Pemerintah (CPP)
Tanaman Pangan
Provinsi
dan Hortikultura
6. Jumlah lembaga distribusi pangan di
daerah produsen pangan (PUPM)
Gapoktan
7. Jumlah kab/Kota yang melakukan
pendataan dan informasi tentang distribusi,
harga dan akses pangan
8. Jumlah kab/kota memantau dan
pemantapan distribusi, harga, dan akses
pangan
9. Jumlah desa P2KP
10. Jumlah kab/kota yang melakukan promosi
penganekaragaman konsumsi dan
keamanan pangan
11. Jumlah desa tersedia tenaga /petugas
lapangan seperti penyuluh (pendamping
P2KP)
12. Jumlah kab/kota memantau dan pemantapan
penganekaragaman pangan dan keamanan pangan
13. Pengembangan kawasan sentra tanaman
pangan
14. Jumlah lumbung pangan yang
dikembangkan didaerah rawan pangan
(unit)
15. Penanganan daerah rawan pangan (jumlah
kab/kota)
16. Ketersediaan data desa rawan pangan
(jumlah kab/kota)
Dinas Peternakan
17. Jumlah produksi daging dan Kesehatan
Hewan
18. Jumlah produksi telur

19. Konsumsi daging

20. Konsumsi telur

21. Jumlah kebuntingan hasil IB

22. Pengembangan budidaya ternak Perah

23. Pengembangan budidaya kambing/domba

95
PILAR PENANGGUNG
INDIKATOR YANG DIMONITOR FREK MONEV
KEGIATAN JAWAB

24. Pengembangan budidaya unggas lokal

25. Pengembangan budidaya ternak kelinci

26. Pengembangan budidaya ternak babi

27. Pengembangan budidaya ternak sapi


potong
28. Peningkatan populasi ternak (%) :
- Sapi (%)
- Kerbau (%)
- Kambing (%)
- Babi (%)
- Ayam Buras (%)
29. Peningkatan Produksi daging (%)

30. Peningkatan Produksi telur (%)

31. Rehabilitasi Tanaman kakao 5.000 Ha


32. Perluasan Tanaman Kakao (Ha)
33. Pengembangan Tanaman Kelapa Sawit
(595.000 ha) untuk Pemenuhan 1 jt ha.
34. Peremajaan Tanaman Kelapa Sawit
30.000 ha
35. Peremajaan tanaman Lada 3000 ha.
36. Peremajaan tanaman kelapa 6000 (ha)
37. Volume produksi perikanan tangkap (ribu
ton)
38. Volume produksi perikanan budidaya (ribu
ton)
39. Peningkatan konsumsi ikan per kapita
(kg/tahun)
40. Pameran produk perikanan (paket)
Dinas
Pemberdayaan
Masyarakat dan
41. Peningkatan pemanfaatan pekarangan Pemerintahan
dengan mewujudkan HATINYA PKK Desa
42. Jumlah Penyuluhan Gizi di Posyandu
43. Jumlah hari buka posyandu
44. Jumlah Posyandu terintegrasi
45. Persetanse daya kunjungan masyarakat di
Posyandu
46. Jumlah pembinaan dari Pokjanal Posyandu
47. Persentase asupan Gizi anak sekolah
48. Jumlah peserta didik untuk menyukai
makanan lokal bergizi

96
PILAR PENANGGUNG
INDIKATOR YANG DIMONITOR FREK MONEV
KEGIATAN JAWAB

Pengawasan
Kepala Balai
Mutu dan 1. Persentase Cakupan Pengawasan Sarana
Besar POM 3-6 Bulan/Th.
Keamanan Produksi
Kaltim
Pangan
2. Persentase Cakupan Pengawasan Sarana
Distribusi
3. Persentase Makanan yang Memenuhi
Syarat
4. Jumlah Komunitas yang diberdayakan
5. Jumlah Desa Pangan Aman (sebagai Pilot
Project)
6. Jumlah SKPD yang diadvokasi
7. Terlaksananya Bulan Keamanan Pangan
8. Jumlah Kader Keamanan Pangan yang
diberikan Bimbingan Teknis
9. Jumlah Komunitas yang diberikan
Bimbingan Teknis
10. Jumlah Komunitas Desa yang difasilitasi
penerapan Keamanan Pangan
11. Terlaksananya kegiatan Lomba
12. Jumlah pasar yang diintervensi menjadi
Pasar Aman dari Bahan Berbahaya (
sebagai Pilot Project)
13. Jumlah Kab/Kota yang memberikan
komitmen dan menerapkan peraturan
Kepala Badan POM terkait Industri Rumah
Tangga (IRTP)
14. Jumlah Perkara dengan tindak lanjut
penyidikan
Kadis Kelautan
15. Tersertifikasinya usaha Pembudidaya ikan
dan Perikanan
16. Persentase Cakupan Pengawasan Sarana
Distribusi

17. Persentase Makanan yang Memenuhi


Syarat

18. Jumlah Komunitas yang diberdayakan


19. Jumlah Kader Keamanan Pangan yang
diberikan Bimbingan Teknis
20. Jumlah pasar yang diintervensi menjadi Pasar
Aman dari Bahan Berbahaya (sebagai Pilot
Project)
21. Jumlah Kab/Kota yang memberikan
komitmen dan menerapkan peraturan
Kepala Badan POM terkait Industri Rumah
Tangga (IRTP)
22. Jumlah Perkara dengan tindak lanjut

97
PILAR PENANGGUNG
INDIKATOR YANG DIMONITOR FREK MONEV
KEGIATAN JAWAB
penyidikan
23. Menurunnya hama penyakit ikan dan
meningkatkan mutu hasil budidaya serta
menunjang peningkatan produksi
perikanan budidaya Kaltim
24. Penerapan CCS untuk menjamin mutu dan
keamanan hasil perikanan (orang)
25. Penerapan GMP dan SSOP bagi UKM
sektor kelautan dan perikanan (unit)
26. Sosialisasi Gerakan Memasyarakatkan
Makan Ikan (Gemarikan) dan Lomba
Masak Serba Ikan
27. Keikutsertaan dalam Promosi/Pameran
Kepala Dinas
28. Jumlah sosialisasi Public Awareness Peternakan dan
Pangan Asal Hewan yang Aman, Sehat, Kesehatan
Utuh dan Halal (ASUH) Hewan Prov.
Kaltim
29. Jumlah Auditor Nomor Kontrol Veteriner
(NKV)
30. Jumlah usaha peternakan yang
bersertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV)
31. Jumlah Penyidik Pegawai Negeri Sipil
(PPNS) Peternakan
32. Jumlah peserta pelatihan pengolahan
produk olahan hasil peternakan
33. Peningkatan usaha yang bersertifikat
Nomor Kontrol Veteriner/NKV (%)
34. Penurunan kasus cemaran mikroba (%)
1. Prensentase rumah tangga melaksanakan
PHBS
2. Jumlah kabupaten / Kota melaksanakan
survey PHBS
3. Jumlah kabupaten / Kota yang
melaksanakan pengembangan Media
Perilaku Hidup PHBS Kepala Dinas
Bersih dan Kesehatan Prov. 3-6 Bulan/Th.
4. Jumlah Kabupaten / Kota yang
Sehat (PHBS) Kaltim
melaksanakan pengembangan SBH
5. Jumlah kabupaten / Kota yang membuat
rencana operasional peningkatan rumah
tangga ber PHBS

1. Kelompok desa mandiri pangan yang


dikembangkan
Penguatan 2. Kelompok desa pada daerah rawan Kepala BKPP
Kelembagaan pangan Provinsi, Kadis
3-6 Bulan/Th.
Pangan dan 3 kelompok desa lokasi Percepatan Kesehatan dan
Gizi Penganekaragaman Konsumsi Pangan Kepala BPOM
(P2KP)
4. Pembinaann kelompok pendamping P2KP

98
PILAR PENANGGUNG
INDIKATOR YANG DIMONITOR FREK MONEV
KEGIATAN JAWAB
5. Pembinaan kelompok pada untuk
pemantuan dan pemantapan
penganekaragaman pangan dan
keamanan pangan
6. Penguatan Tim Pangan dan Gizi
Kecamatan pada setiap Kabupaten
7. Revitalisasi Dewan Ketahanan Pangan
daerah
8. Penguatan Sistem Kewaspadaan Pangan
dan Gizi Daerah
9. Penguatan kapasitas tenaga Pembina
10. Pendataan Kerawanan Pangan
masyarakat
11. Pendataan Pola Pangan Harapan
12. Jumlah penelitian tentang pangan olahan
13. Jumlah penelitian tentang zat gizi mikro
14. Jumlah penelitian tentang pangan lokal

5.4 Kegiatan yang Dimonitoring Berdasar Indikator


Kegiatan yang dimonitoring dalam RAD-PG Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2014-
2018 memuat sejumlah indikator yang akan dievaluasi secara berkala .

Tabel 5.2 Indikator untuk Evaluasi Pengembangan Ketahanan Pangan dan Gizi

DASAR
INDIKATOR 2014 2015 2016 2017 2018
TA 2013
PILAR I : GIZI MASYARAKAT
1. Persentase kasus balita gizi
buruk yang mendapatkan 100 100 100 100 100 100
perawatan
2. Persentase balita yang
47,07 51,34 51,7 53,75 74 80
ditimbang berat badannya
3. Persentase bayi usia kurang
dari 6 bulan mendapat ASI 58,3 66,2 65 70,96 44 47
Eksklusif
4. Persentase rumah tangga
mengkosumsi garam 97,7 97,65 94,53 98,71 95 95
beriodium
5. Persentase balita 6-59 bulan
61,04 64,7 67,3 72,32 80,7 85
mendapat kapsul Vitamin A
6. Persentase ibu hamil yang
mendapatkan Tablet Tambah
75,1 83,32 90 95
Darah (TTD) minimal 90 54,63 81,8
tablet selama masa kehamilan
7. Persentase ibu hamil Kurang
- 31,17 65 80
Energi Kronik (KEK) yang - -

99
DASAR
INDIKATOR 2014 2015 2016 2017 2018
TA 2013
mendapat makanan tambahan
8. Persentase balita kurus yang
15 15 39,06 37,75 80 85
mendapat makanan tambahan
9. Persentase remaja puteri
- 5,47 36 34
mendapat TTD - -
10. Persentase ibu nifas
87,95 93,31 84,4 85,65 90 95
mendapat kapsul vitamin A
11. Persentase bayi yang baru -
41,3 - 60,96 46,52 48,26
lahir mendapat IMD
12. Persentase bayi dengan berat
badan lahir rendah (berat - 4,04 9,4 8,9
- -
badan <2500 gram)
13. Persentase balita mempunyai
64,7 82,5 78,67 66,7 100 100
buku KIA/KMS (K)
14. Persentase balita ditimbang
62,76 63,55 77,5 74,8 78,1 79,2
yang naik berat badannya
15. Persentase balita ditimbang
yang tidak naik berat 17,55 21,4 25,4 25,2 21,9 20,8
badannya (T)
16. Persentase balita ditimbang
yang tidak naik berat
2,18 2,3 2,3 3,03 1,75 1
badannya dua kali berturut-
turut (2T)
17. Persentase balita di Bawah
1,19 1,1 0,83 0,8 0,47 0,17
Garis Merah (BGM)
18. Persentase ibu hamil anemia - - 25,66 10,7 30,24 29,12
PILAR II : AKSESIBILITAS
PANGAN

1. Jumlah lumbung pangan yang


dikembangkan di daerah rawan 0 2 19 3 2 21
pangan (unit)

2. Penanganan daerah rawan 20 16 20 24 28 32


pangan (desa)

3. Ketersediaan data desa rawan 1 Provinsi 1 Provinsi 1 Provinsi 1 Provinsi 1 Provinsi 1 Provinsi
pangan (jumlah Kab/kota) 8 Kab 7 Kab 7 Kab 7 Kab 7 Kab 7 Kab

4. Terlaksananya system
Kewaspadaan pangan dan Gizi 10
3 Kab/Kota 9 Kab/Kota 9 Kab/Kota 9 Kab/Kota 10 Kab/Kota
(SKPG) di Kabupaten/ kota Kab/Kota

5. Cadangan Pangan Pemrintah 0 ton 123 ton 221 ton 212 ton 212 ton 250 ton
(CPP)

6. Jumlah lembaga distribusi pangan


di daerah produsen pangan 0 0 6 Gapoktan 6 Gapoktan 6 Gapoktan 0
(PUPM) Gapoktan

100
DASAR
INDIKATOR 2014 2015 2016 2017 2018
TA 2013
7. Jumlah kab/kota melakukan
pendataan dan informasi tentang
10
distribusi, harga dan akses 6 Kab/Kota 9 Kab/Kota 10 Kab/Kota 10 Kab/Kota 10 Kab/Kota
Kab/Kota
pangan

8. Jumlah kab/ kota memantau dan


pemantapan distribusi, harga dan 10
6 Kab/Kota 9 Kab/Kota 10 Kab/Kota 10 Kab/Kota 10 Kab/Kota
akses pangan Kab/Kota

9. Jumlah desa P2KP


87 KWT 6 KWT 34 KWT 40 KWT 21 KWT 72 KWT
10. Jumlah kabupaten/kota yang
melaksanakan promosi 1 Provinsi, 1 Provinsi,
1 Provinsi, 9 1 Provinsi, 9 1 Provinsi, 9 1 Provinsi, 9
penganekaragaman konsumsi 9 Kab / 9 Kab /
Kab / Kota Kab / Kota Kab / Kota Kab / Kota
dan keamanan pangan Kota Kota

11. Jumlah desa tersedia


tenaga/petugas lapangan seperti
87 Desa 6 Desa 34 Desa 40 Desa 21 Desa 72 Desa
punyuluh (pendamping P2KP)

12. Jumlah kab/kota memantau dan


1 Provinsi, 1 Provinsi,
pemantapan penganekaragaman 1 Provinsi, 9 1 Provinsi, 9 1 Provinsi, 9 1 Provinsi, 9
9 Kab / 9 Kab /
pangan dan keamanan pangan Kab / Kota Kab / Kota Kab / Kota Kab / Kota
Kota Kota
13. Pengembangan kawasan sentra
tanaman pangan 10 kab/kota 10 kab/kota 10 kab/kota 10 kab/kota 10 kab/kota 10 kab/kota

14. Jumlah lumbung pangan yang


dikembangkan di daerah rawan 7 17 17 20 25 30
pangan (unit)

15. Penanganan daerah rawan 20 16 20 24 28 32


pangan (desa)

1 Provinsi
16. Ketersediaan data desa rawan 1 Provinsi 1 Provinsi 1 Provinsi 1 Provinsi 1 Provinsi
10
pangan (jumlah Kab/kota) 8 Kab/Kota 8 Kab/Kota 10 Kab/Kota 10 Kab/Kota 10 Kab/Kota
Kab/Kota

52.820,6 52.820,6 53.630,9 54.441,2


17. Jumlah produksi daging Ton Ton Ton Ton
* *
13.685,2 13.950,2 14.220,5
18. Jumlah produksi telur 14.496 Ton * *
Ton Ton Ton
15,811 19,96 21,93 25,17
19. Konsumsi daging * *
kg/kap/th kg/kap/th kg/kap/th kg/kap/th
5,38 6.54 6,9 9,62
20. Konsumsi telur * *
kg/kap/th kg/kap/th kg/kap/th kg/kap/th
21. Jumlah kebuntingan hasil IB 2.358 ekor 2.415 ekor 2.573 ekor 2.730 ekor * *
(tidak
22. Pengembangan budidaya ternak
15 ekor - - dianggarkan * *
Perah
Th. 2016)
23. Pengembangan budidaya
466 ekor - 60 ekor 450 ekor * *
kambing/domba
(tidak
24. Pengembangan budidaya unggas
5.500 ekor 2.100 ekor 6.000 ekor dianggarkan * *
lokal
Th. 2016)
(tidak
25. Pengembangan budidaya ternak
100 ekor - dianggarkan * *
kelinci
Th. 2016)
26. Pengembangan budidaya ternak
100 ekor - 125 ekor - * *
babi
27. Pengembangan budidaya ternak 2.891 ekor 2.258 ekor 13.187 ekor 3.260 ekor * *

101
DASAR
INDIKATOR 2014 2015 2016 2017 2018
TA 2013
sapi potong
28. Peningkatan populasi ternak (%) :
- Sapi (%) 6% 5%
- Kerbau (%) 5% 3%
** ** **
- Kambing (%) 7% 6%
- Babi (%) 5% 5%
- Ayam Buras (%) 6% 6%
29. Peningkatan Produksi daging
** ** ** 3,3 % 3,3 %
(%)
30. Peningkatan Produksi telur (%) ** ** ** 3% 3%
31. Rehabilitasi Tanaman kakao
5.000 (ha) 1.750 1.250 1.250 1.000 1.250 1.250

32. Perluasan Tanaman Kakao (Ha)


29.629 2.600 2.600 2.600 2.600 2.600
33. Pengembangan Tanaman Kelapa
Sawit (595.000 ha) untuk
691.766 119.000 119.000 119.000 119.000 119.000
Pemenuhan 1 juta Ha

34. Peremajaan Tanaman Kelapa


Sawit 30.000 Ha - 10.000 10.000 10.000 - -

35. Peremajaan tanaman Lada 3.000


ha - 750 750 750 750 750

36. Peremajaan tanaman kelapa


6.000 Ha - 100 1400 1550 1400 1550

37. Volume produksi perikanan


tangkap (ribu ton) 136,664 114,842 146,286 101,718 111,890 123,079

38. Volume produksi perikanan


budidaya (ribu ton) 94,679 96,851 108,286 99,494 109,443 120,387

39. Peningkatan konsumsi ikan per


43 44 46,12 46,41 48,73 51,16
kapita (kg/tahun)
40. Pameran produk perikanan
(paket) 4 4 4 4 2 2

41. Peningkatan pemanfaatan


pekarangan dengan mewujudkan 160 160 160
HATINYA PKK
42. Jumlah Penyuluhan Gizi di
10 10 10
Posyandu
43. Jumlah hari buka posyandu 24 24 24

44. Jumlah Posyandu terintegrasi 10 10 10


45. Persetanse daya kunjungan
80 % 80 % 90 %
masyarakat di Posyandu
46. Jumlah pembinaan dari Pokjanal
10 10 10
Posyandu
47. Persentase asupan Gizi anak
10 10 10
sekolah
48. Jumlah peserta didik untuk
75% 75% 80%
menyukai makanan lokal bergizi
PILAR III : MUTU DAN KEMANAN
PANGAN

1. Persentase Cakupan
100% 100% 100% 100%
Pengawasan Sarana Produksi
2. Persentase Cakupan
24.5% 25% 30% 30%
Pengawasan Sarana Distribusi
3. Persentase Makanan yang 86,10% 86,60% 87,10% 87,60%

102
DASAR
INDIKATOR 2014 2015 2016 2017 2018
TA 2013
Memenuhi Syarat
4. Jumlah Komunitas yang
9 12 15 18
diberdayakan
5. Jumlah Desa Pangan Aman
0 0 0 0 0 0
(sebagai Pilot Project)
6. Jumlah Perangkat Daerah
0 0 0 0 0 0
yang diadvokasi
7. Terlaksananya Bulan
0 0 1 1 0 1
Keamanan Pangan
8. Jumlah Kader Keamanan
Pangan yang diberikan 0 0 0 30 Orang 0 0
Bimbingan Teknis
9. Jumlah Komunitas yang
0 0 0 0 0 0
diberikan Bimbingan Teknis
10. Jumlah Komunitas Desa yang
difasilitasi penerapan 0 0 0 0 0 0
Keamanan Pangan
11. Terlaksananya kegiatan
0 0 0 0 0 0
Lomba
12. Jumlah pasar yang
diintervensi menjadi
Pasar Aman dari Bahan 1 2 3 4
Berbahaya (sebagai Pilot
Project)
13. Jumlah Kab/Kota yang
memberikan komitmen dan
menerapkan peraturan Kepala 4 6 8 10
Badan POM terkait Industri
Rumah Tangga (IRTP)
14. Jumlah Perkara dengan tindak
8 8 9 9
lanjut penyidikan
15. Tersertifikasinya usaha
50 50 50 50 - -
Pembudidaya ikan (unit)
16. Persentase Cakupan
24.5% 25% 30% 30%
Pengawasan Sarana Distribusi
17. Persentase Makanan yang
86,10% 86,60% 87,10% 87,60%
Memenuhi Syarat
18. Jumlah Komunitas yang
9 12 15 18
diberdayakan
19. Jumlah Kader Keamanan
Pangan yang diberikan 30 orang
Bimbingan Teknis
20. Jumlah pasar yang
diintervensi menjadi
Pasar Aman dari Bahan 1 2 3 4
Berbahaya (sebagai Pilot
Project)
21. Jumlah Kab/Kota yang
memberikan komitmen dan
menerapkan peraturan Kepala 4 6 8 10
Badan POM terkait Industri
Rumah Tangga (IRTP)
22. Jumlah Perkara dengan tindak 8 8 9 9

103
DASAR
INDIKATOR 2014 2015 2016 2017 2018
TA 2013
lanjut penyidikan
23. Menurunnya hama penyakit
ikan dan meningkatkan mutu
hasil budidaya serta
20 15 10 10 - -
menunjang peningkatan
produksi perikanan budidaya
Kaltim
24. Penerapan CCS untuk
menjamin mutu dan
20 Org 10 Org 10 Org 10 Org 10 Org 10 Org
keamanan hasil perikanan
(orang)
25. Penerapan GMP dan SSOP
bagi UKM sektor kelautan 3 Unit 3 Unit 3 Unit 3 Unit 3 Unit 3 Unit
dan perikanan (unit)
26. Sosialisasi Gerakan
Memasyarakatkan Makan
3 Kali 2 Kali 2 Kali 2 Kali 2 Kali 2 Kali
Ikan (Gemarikan) dan Lomba
Masak Serba Ikan
27. Keikutsertaan dalam
1 Kali 1 Kali 1 Kali 1 Kali 1 Kali 1 Kali
Promosi/Pameran
28. Jumlah sosialisasi Public
Awareness Pangan Asal 3 Kali 3 Kali 3 Kali
3 Kali * *
Hewan yang Aman, Sehat,
Utuh dan Halal (ASUH)
29. Jumlah Auditor Nomor
5 Auditor 1 Auditor 1 Auditor 1 Auditor * *
Kontrol Veteriner (NKV)
30. Jumlah usaha peternakan yang
11 Unit 5 Unit 5 Unit 5 Unit
bersertifikat Nomor Kontrol Usaha
* *
Usaha Usaha Usaha
Veteriner (NKV)
31. Jumlah Penyidik Pegawai
Negeri Sipil (PPNS) 5 PPNS - - 1 PPNS * *
Peternakan
32. Jumlah peserta pelatihan
pengolahan produk olahan 25 Orang 25 Orang 25 Orang 25 Orang * *
hasil peternakan
33. Peningkatan usaha yang
bersertifikat Nomor Kontrol ** ** ** 2 1
Veteriner/NKV (%)
34. Penurunan kasus cemaran
** ** ** 25 2
mikroba (%)
PILAR IV : PHBS
1. Persentase rumah tangga
melaksanakan PHBS 55,7 20 30 40 50 65

2. Jumlah Kab/Kota melaksanakan


survey PHBS 10 10 10 10 10 10

3. Jumlah Kab/Kota yang


Melaksanakan Pengembangan
10 10 10 10 10 10
Media PHBS

4. Jumlah Kab/Kota yang


Melaksanakan Pengembangan
10 10 10 10 10 10
SBH

104
DASAR
INDIKATOR 2014 2015 2016 2017 2018
TA 2013
5. Jumlah kab/kota yang membuat
rencana operasional peningkatan
10 10 10 10 10 10
rumah tangga ber PHBS

PILAR V : KELEMBAGAAN
PANGAN DAN GIZI
1. Pembinaan kelompok desa
mandiri pangan yang 2 Kali/ 2 Kali/
1 Kali/ Thn 3 Kali/Thn 3 Kali/Thn 3 Kali/Thn
dikembangkan (desa) Thn Thn

2. Pembinaan kelompok pada


3 Kali/ 3 Kali/ 3 Kali/ 3 Kali/ 3 Kali/ 3 Kali/
daerah rawan pangan (desa)
Thn Thn Thn Thn Thn Thn
3. Pembinaan kelompok pada desa
3 Kali/ 3 Kali/ 3 Kali/ 3 Kali/ 3 Kali/ 3 Kali/
lokasi P2KP (desa)
Thn Thn Thn Thn Thn Thn
4. Pembinaan kelompok
6 Kali/ 6 Kali/ 6 Kali/ 6 Kali/ 6 Kali/ 6 Kali/
pendamping P2KP (desa)
Thn Thn Thn Thn Thn Thn
5. Pembinaan pada kelompok untuk
pemantauan dan pemantapan 3 Kali/ 3 Kali/ 3 Kali/ 3 Kali/ 3 Kali/ 3 Kali/
P2KP (desa) Thn Thn Thn Thn Thn Thn

6. Penguatan Tim Pangan dan Gizi


Kecamatan pada setiap Kab/Kota 9 Kec. 9 Kec. 9 Kec. 9 Kec. 9 Kec. 9 Kec.

7. Revitalisasi Dewan Ketahanan


1 Prov. 1 Prov. 1 Prov. 1 Prov. 1 Prov. 1 Prov.
Pangan Daerah
9 KK 9 KK 9 KK 9 KK 9 KK 9 KK
8. Penguatan Sistem Kewaspadaan
1 Prov. 1 Prov. 1 Prov. 1 Prov. 1 Prov. 1 Prov.
Pangan dan Gizi Daerah
3 KK 4 KK 6 KK 7 KK 8 KK 9 KK
9. Penguatan Kapasitas tenaga
1 Prov. 3 1 Prov. 1 Prov. 8
pembina 1 Prov. 4 KK 1 Prov.7 KK 1 Prov. 9 KK
KK 6 KK KK
10. Pendataan kerawanan pangan
masyarakat 2 KK 3 KK 4 KK 9 KK 10 KK 14 KK

11. Pendataan Pola Pangan Harapan 1 Prov. 1 Prov. 1 Prov. 1 Prov. 1 Prov.
1 Prov.
8 KK 8 KK 8 KK 8 KK 8 KK
12. Jumlah penelitian tentang pangan
olahan
- - 1 2 2 3

13. Jumlah penelitian tentang zat gizi


mikro - - 1 2 2 3

14. Jumlah penelitian tentang pangan


lokal - - 1 2 2 3

Catatan : * (Tidak dilaksakan karena indikator berubah pada tahun 2017-2018 sesuai SOTK baru)
** (Tidak dilaksanakan karena indikator baru)

105
BAB VI
PENUTUP

Dokumen RAD-PG Provinsi Kalimantan Timur 2014 – 2018 ini telah disusun melalui
proses partisipatif dan diskusi yang mendalam bersama Perangkat Daerah terkait, dengan
demikian dokumen ini dapat dikatakan kesepakatan perencanaan di bidang pangan dan gizi.

Permasalahan pangan dan gizi dan pembangunan ketahanan pangan dan gizi bersifat
multisektor, maka dalam rencana dan implementasi RAD-PG diperlukan koordinasi dan
integrasi serta sinergitas antar kegiatan dan pemangku kepentingan.

Pelaksanaan monitoring dan evaluasi berbagai kegiatan diharapkan menghasilkan data


yang valid dan terdokumentasi dengan baik, dengan demikian capaian setiap target yang telah
di tetapkan dapat terukur.

Selanjutnya RAD-PG ini hendaknya diarusutamakan dalam perencanaan anggaran


setiap tahunnya terutama di setiap Perangkat Daerah yang terlibat langsung dalam
penanganan masalah pangan dan gizi.

Perbaikan data dan informasi yang tertuang dalam dokumen RAD-PG ini akan
dilakukan secara berkala dengan memperhatikan perkembangan kondisi yang ada.

Diharapkan dokumen RAD-PG ini dapat dijadikan sebagai acuan bagi provinsi dalam
perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan untuk mewujudkan tujuan memperkuat
ketahanan pangan dan gizi provinsi Kalimantan Timur. Selain itu juga dokumen ini dapat
menjadi pedoman & acuan bagi Kabupaten/Kota untuk segera menyusun Rencana Aksi
Daerah Pangan & Gizi (RAD-PG).

106