Anda di halaman 1dari 4

F6.

Pengobatan Dasar – Asma Eksaserbasi Akut Derajat Sedang


Judul Laporan Asma Eksaserbasi Akut Derajat Sedang
Latar Belakang Asma adalah penyakit saluran napas kronik yang penting dan
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara
di seluruh dunia. Asma dapat bersifat ringan dan tidak mengganggu
aktivitas, akan tetapi dapat bersifat menetap dan mengganggu aktivitas
bahkan kegiatan harian. Produktivitas menurun, dan dapat menimbulkan
disability (kecacatan), sehingga menambah penurunan produktivitas serta
menurunkan kualitas hidup.
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang
melibatkan banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan
peningkatan hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik
berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk
terutama malam dan atau dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan
obstruksi jalan napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat
reversibel dengan atau tanpa pengobatan.
Asma merupakan inflamasi kronik saluran napas. Berbagai sel
inflamasi berperan terutama sel mast, eosinofil, sel limfosit T, makrofag,
neutrofil dan sel epitel. Faktor lingkungan dan berbagai faktor lain
berperan sebagai penyebab atau pencetus inflamasi saluran napas pada
penderita asma. Inflamasi terdapat pada berbagai derajat asma baik pada
asma intermiten maupun asma persisten. Inflamasi dapat ditemukan pada
berbagai bentuk asma seperti asma alergik, asma nonalergik, asma kerja
dan asma yang dicetuskan aspirin
Permasalahan 1. IDENTITAS PASIEN
Nama: An. R
Usia: 14 tahun
Jenis kelamin: Perempuan
Agama: Islam
Pekerjaan: Pelajar
Alamat: Bae RT. 1 RW. 1
Pasien: IGD Puskesmas Dawe

2. ANAMNESIS
Keluhan Utama: Sesak nafas
Riwayat Penyakit Sekarang: Seorang remaja berusia 14 tahun
dibawa oleh ibunya datang ke IGD Puskesmas Dawe dengan keluhan
sesak nafas. Keluhan dirasakan sejak 3 hari yang lalu sebelum masuk
IGD dan memberat 2 jam sebelum masuk IGD. Sesak nafas yang
dirasakan pasien diikuti dengan suara ngik ngik seperti meniup peluit
atau mengi dan disertai dengan batuk berdahak berwarna putih pekat
yang muncul sejak 3 hari yang lalu. Keluhan tidak disertai dengan
demam. Saat tiba di IGD pasien lebih nyaman pada saat posisi duduk
bersandar bantal atau posisi setengah duduk. Pasien kooperatif saat
dianamnesis oleh dokter dan dapat menjawab pertanyaan dokter
dengan beberapa kata namun disertai nafas tersenggal-senggal.
Riwayat Penyakit Dahulu:
 Pasien memiliki riwayat penyakit asma yang muncul sejak kecil
dan mengalami kekambuhan beberapa hari dalam seminggu,
sehingga pasien menjalani pengobatan rutin terkait dengan
penyakitnya saat ini dan selalu membawa salbutamol inhaler tiap
menjalankan aktivitasnya.
 Riwayat alergi debu, udara dingin, dan seafood.
Riwayat Penyakit Keluarga:
 Ayah kandung dari pasien memiliki riwayat penyakit yang sama
dengan pasien.
3. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan di IGD Puskesmas Dawe pada 29 Mei
2019 pukul 18.30
Keadaan umum : tampak sesak, composmentis
GCS: E4V5M6
Tanda vital :
TD : 100/76
RR : 24 x/menit
N: 127 x/menit,reguler, isi & tegangan cukup
t : 36,4˚C (aksiler)
BB : 36 kg
Kesan : gizi baik, BB normal, perawakan normal
Kulit : turgor cukup
Mata : mata cowong (-/-) konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Hidung : nafas cuping hidung (-/-), sekret (-/-)
Tenggorok : T1-1, faring hiperemis (-)
Leher : trakea di tengah, pembesaran nnll (-/-)
Thorax : bentuk normal
Cor
▪ Inspeksi : Iktus kordis tak tampak
▪ Palpasi : Iktus kordis teraba di SIC V
▪ Perkusi : Konfigurasi jantung dbn
▪ Auskultasi : BJ I-II murni, reguler, bising (-), gallop (-)
Pulmo
▪ Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis
▪ Palpasi : stem fremitus kanan sama dengan kiri, nyeri tekan (-/-)
▪ Perkusi : sonor seluruh lapangan paru
▪ Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), wheezing (+/+), ronchi (-/-
)
Abdomen
▪ Inspeksi : datar, lesi kulit (-)
▪ Auskultasi : bising usus (+) normal
▪ Perkusi : timpani, pekak sisi (+) normal, pekak alih (-)
▪ Palpasi : supel, hepar dan lien tak teraba, nyeri tekan (-)
Ekstremitas :
Oedem: superior (-/- ) inferior (-/-)
Akral dingin superior (-/- ) inferior (+/+)
Sianosis : superior (-/- ) inferior (-/-)
Cap. Refill : superior <2’’ inferior <2”

4. DIAGNOSIS
Asma Eksaserbasi Akut derajat sedang

5. DIAGNOSIS BANDING
Obstruksi saluran napas atas
Benda asing di saluran napas
Disfungi pita suara

6. TATALAKSANA
a. Terapi Farmakologi
Terapi IGD:
 O2 Nasal Canul 2 lpm
 Nebulisasi Salbutamol 1.8 mg (atau 0.75 ml sediaan 2.5 mg/2ml)
dan Budesonide 0.25 ml (atau 1 ml sediaan 0.5 ml/2ml)
 Observasi selama 1 jam menilai perbaikan klinis dan tanda vital
HR, RR, SPO2 jika membaik pasien diijinkan rawat jalan
Terapi Rawat Jalan:
 Inhaler Salbutamol 100 mcg (1 pump) sebanyak 4 kali sehari
 Metil Prednisolon 3x4 mg
 Glyceryl Guaicolate 3x100 mg

b. Terapi Non Farmakologi


 Menjelaskan cara dan waktu serta keptuhan penggunaan obat,
 menghindari faktor pencetus,
 meningkatkan kebugaran fisik
 mengenali efek samping obat
 dan kegunaan kontrol teratur pada pengobatan asma

PERENCANAAN 1. Diagnosis
DAN Asma Eksaserbasi Akut Derajat Sedang
PEMILIHAN 2. Penatalaksanaan Asma Eksaserbasi Akut Derajat Sedang
INTERVENSI dilakukan dengan pendekatan berikut.
 Promotif diharapkan dapat memelihara, meningkatkan dan
melindungi kesehatan diri serta kondisi lingkungan pasien,
diintervensi dengan edukasi kepada pasien dan orang tua
pasien sehingga meningkatkan pengetahuan dan kesadaran
mengenai pencegahan penyakit asma dengan cara
menghindari factor pencetus, meningkatkan kebugaran fisik,
kepatuhan minum obat dan control secara teratur. Orang tua
pasien juga diminta untuk menjaga kebersihan lingkungan
supaya mengurangi pajanan debu mengingat pasien memiliki
riwayat alergi debu yang dapat memicu terjadinya serangan
asma.
 Preventif dengan cara menghindari faktur pencetus yang dapat
menimbulkan kekambuhan, yakni menghindari factor
pencetus
 Kuratif dilakukan melalui pengobatan farmakologis.
 Rehabilitatif dilakukan melalui kontrol rutin untuk melihat
derajat kendali asma pada pengobatan terapi jangka panjang.
Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
menyarankan stepdown therapy untuk penanganan asma yaitu
memulai pengobatan dengan upaya menekan inflamasi jalan
napas dan mencapai keadaan asma terkontrol sesegera
mungkin, dan menurunkan terapi sampai seminimal mungkin
dengan tetap mengontrol asma.
PELAKSANAAN Pada tanggal 29 Mei 2019 pukul 18.30 bertempat di IGD Puskesmas
Dawe. Proses intervensi berupa melakukan pemeriksaan fisik pada pasien
serta memberikan penatalaksanaan yang komprehensif baik dari terapi
farmakologi maupun non farmakologi. Terapi farmakologi berguna untuk
life saving diberikan secara cepat dan tepat di IGD. Selain terapi yang
diberikan di igd pasien juga diberikan terapi jangka panjang untuk
mengendalikan atau meminimalisir terjadinya kekambuhan berbasis
stepdown therapy.
Terapi non farmakologi memberikan edukasi kepada pasien bahwa
penyakit ini dapat kambuh akibat paparan secara langsung oleh factor
pencetus berupa allergen mengingat pasien memiliki riwayat alergi debu
dan udara dingin. Pasien harus menghidari factor pencetus yang dapat
memunculkan kekambuhan, meningkatkan kebugaran fisik dengan cara
Senam Asma Indonesia (SAI) adalah salah satu bentuk olahraga yang
dianjurkan karena melatih dan menguatkan otot-otot pernapasan.
Dilakukan pula edukasi cara penggunaan obat untuk terapi jangka panjang
dan kontrol secara rutin guna menilai derajat kendali asma.
MONITORING Dilakukan dengan cara mengfollow up pengobatan jangka panjang pasien
DAN EVALUASI pada saat control rutin tidak hanya pada saat serangan asma tetapi kontrol
teratur terjadual guna melihat derajat kendali pada pengobatan jangka
panjang.
Menanyakan dan mengevaluasi teknik inhalasi, kepatuhan menggunakan
obat, lingkungan dan konkomitan penyakit saluran nafas karena dapat
memperberat asma yang dapat memicu kemungkinan asma tidak
terkontrol pada pasien ini sehingga sering mengalami kekambuhan.