Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, bahwa
Panduan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) di RSUD Dayaku Raja Kota
Bangun ini dapat terselesaikan dengan baik. Panduan ini merupakan tuntunan bagi
RSUD Dayaku Raja Kota Bangun dalam melakukan upaya pelayanan DPJP di RSUD
Dayaku Raja Kota Bangun. Dengan adanya Panduan ini, diharapkan RSUD Dayaku
Raja Kota Bangun mendapat kemudahan dalam menjalankan kegiatan.
Namun demikian, demi perubahan ke arah yang lebih baik, kami menyadari
masih terdapat kekurangan dalam penyusunan Panduan ini. Oleh karena itu, kami
mengharap saran dan kritik perbaikan atas Panduan yang telah tersusun ini.
Semoga Panduan Pelayanan DPJP ini bermanfaat bagi semua pihak yang
membutuhkan, serta tidak lupa ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua
pihak yang telah berpartisipasi dalam penyusunan Panduan ini.

Kota Bangun, 10 Januari 2019

Tim Penyusun
SAMBUTAN DIREKTUR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
karunia-nya kita dapat menyelesaikan penyusunan salah satu dokumen regulasi RSUD
Dayaku Kota Bangun yaitu Panduan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP).
Memahami dan mengimplementasikan isi yang ada pada dokumen regulasi yang
telah disusun dan ditetapkan berdasarkan aturan serta standar akreditasi, merupakan
langkah awal bagi setiap unit kerja di RSUD Dayaku Raja Kota Bangun dalam
membentuk sistem dan budaya kerja yang terstandar, efektif, dapat dipertanggung
jawabkan dan berorientasi pada keselamatan pasien. Semoga dokumen regulasi ini dapat
bermanfaat dan menjadi tuntunan bagi semua pihak dalam memberikan pelayanan
kepada pasien dan keluarga di RSUD Dayaku Raja Kota Bangun.
Akhirnya, berbekal motto "Melayani Sepenuh Dayaku" kami mengajak semua pihak
di RSUD Dayaku Raja Kota Bangun untuk dapat membawa nilai-nilai yang menjadi dasar
dalam memberikan pelayanan yakni m e m b e r i k a n p e l a y a n a n t e r b a i k b a g i
s e l u r u h k a l a n g a n m a s y a r a k a t dalam implementasi standar akreditasi
rumah sakit di RSUD Dayaku Raja Kota Bangun.

Kota Bangun, 28 Desember 2018

Direktur

dr. Aulia Rahman Basri


NIP. 19850823 201101 1 001
DAFTAR ISI

KATA PEN GANTAR .


SAMBUTAN DIREKTUR ii
DAFTAR ISI iii
SK DIREKTUR iv
BABI PENDAHULUAN………………………………………………………..
1
A. Latar Belakang………………………………………………………………
.
B. Tujuan 2
C. Definisi . .. .. .. .. .. 2
BAB II RUANG LINGKUP 4
A. Ruang Lingkup . . . . . . .. . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . 4
BAB III TATA LAKSANA 5
A. Tata Laksana........................................................................................... 5
BAB IV DOKUMENTASI 9
BAB V PENUTUP
10
DAFTAR PUST AKA
11
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
DAYAKU RAJA KOTA BANGUN
Jalan Poros Kota Bangun – Tenggarong KM. 5 Kota Bangun, Kab. Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Website : www.rsudayakuraja.com e-mail : manajemen@rsudayakuraja.com Kode Pos 75561

KEPUTUSAN DIREKTUR
RSUD DAYAKU RAJA KOTA BANGUN
Nomor : / / / / 2019

PEMBERLAKUAN PANDUAN DOKTER PENANGGUNG


JAWAB PELAYANAN (DPJP)

DIREKTUR
Menimbang :
1. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan yang aman, berfokus
kepada keselamatan pasien serta kepuasaan pelanggan ( patient centeredness )
di RSUD Dayaku Raja Kota Bangun, maka di perlukan pengaturan dokter
penanggung jawab pasien secara jelas
2. Bahwa agar pelayanan yang memperhatikan hak dan kewajiban pasien dapat
terlaksana dengan baik, perlu adanya keputusan Direktur sebagai penanggung
jawab Pelayanan ( DPJP ) di RSUD Dayaku Raja Kota Bangun
3. Bahwa untuk memenuhi Standar Nasional Akreditasi RSUD Dayaku Raja Kota
Bangun.
4. Bahwa sehubungan dengan butir a tersebut di atas perlu di tetapkan acuan
dalam penyusunan panduan dokter penanggung jawab pasien di RSUD Dayaku
Raja Kota Bangun dengan Keputusan Direktur
Mengingat :
1. Undang- undang RI No.44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
2. Undang –undang RI No.36 Tahun 2004 tentang Kesehatan
3. Keputusan Menteri Kesehatan No. 496/ MENKES/ SK/ IV/ 2005 tentang
Pedoman Audit Medis
4. Keputusan Menteri Kesehatan No.631 / MENKES / SK / IV / 2005 tentang
Pedoman Peraturan Internal Staf Medis di Rumah Sakit
5. Peraturan Menteri Kesehatan No.1419/ MENKES / PER/X/2005 tentang
Penyelenggraan Praktik Dokter dan Dokter Gigi
6. Peraturan Menteri Kesehatan No. 438/MENKES/PER/IX/2010 tentang Standar
Pelayanan Kedokteran
7. Peraturan Menteri Kesehatan No.755/MENKES/PER/IV/2011 tentang
Penyelenggaraan Komite Medik Rumah Sakit
8. Peraturan Menteri Kesehatan No.5052/MENKES/PER/IV/2011 tentang
Registrasi dan Perijinan Praktek
9. Peraturan Menteri Kesehatan No.691/MENKES/PERN/ IV/ 2011 tentang Keselamatan Pasien
Rumah Sakit.

MEMUTUSKAN
Menetapkan PANDUAN DOKTER PENANGGUNG JAWAB PELAYANAN (
DPJP )

Pertama :Keputusan direktur RSUD Dayaku Raja Kota Bangun


tentangpenetapanPanduanDokter Penanggung Jawab Pelayanan ( DPJP ) di
RSUD Dayaku Raja Kota Bangun
Kedua :Panduan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan ( DPJP ) sebagai mana
tercantum dalam lampiran keputusan ini
Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal di tetapkanya dan apabila di kemudian
hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan
perbaikan sebagaimana mestinya

Ditetapkan : Kota Bangun


Pada Tanggal : 28 Desember 2018

RSUD Dayaku Raja Kota Bangun


Direktur

dr. Aulia Rahman Basri


NIP.
PANDUAN DOKTER PENANGGUNG JAWAB PELAYANAN
DI RSUD DAYAKU RAJA KOTA BANGUN

BABI
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rumah sakit adalah institusi tempat memberikan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat dengan tujuan penyembuhan penyakit serta terhindar dari kematian atau
kecacatan. Dalam melaksanakan fungsinya rumah sakit harus pula mengendalikan
atau meminimalkan risiko baik klinis maupun non klinis yang mungkin terjadi selama
proses pelayanan kesehatan berlangsung, sehingga terlaksana pelayanan yang aman
bagi pasien.
Oleh karena itu keselamatan pasien di rumah sakit merupakan prioritas utama
dalam semua bentuk kegiatan di rumah sakit. Untuk mencapai kondisi pelayanan yang
efektif, efisien dan aman bagi pasien, diperlukan komitmen dan tanggung jawab yang
tinggi dari seluruh personil pemberi pelayanan di rumah sakit sesuai dengan
kompetensi dan kewenangannya.
Selanjutnya pelayanan berfokus pada pasien, Patient Centered Care, dengan
elemen utama asuhan terintegrasi merupakan standar dalam akreditasi. Untuk
penerapannya diperlukan kolaborasi interprofesional para Profesional Pemberi
Asuhan (PPA) karena merupakan prasyarat untuk mencapai tujuan tersebut dan
dilengkapi <lengan kornpetensi praktek kolaborasi termasuk komunikasi yang
baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa peranan dokter sebagai ketua tim (Clinical
Leader) sangat besar dan sentral dalam menjaga keselamatan pasien, karena semua
proses pelayanan berawal dan ditentukan oleh dokter.
Sebagai instrumen monitoring dan evaluasi maka tidak kalah pentingnya faktor
catatan medis yang lengkap dan baik, dimana semua proses pelayanan terhadap
1
pasien direkam secara real time dan akurat. Apabila terjadi sengketa medis maka
rekam medis ini benar-benar dapat menjadi alat bukti bagi rumah sakit bahwa proses
pelayanan telah dijalankan dengan benar dan sesuai prosedur, atau kalau terjadi
sebaliknya dapat pula berfungsi sebagai masukan untuk memperbaiki proses
pelayanan yang ada.
Salah satu elemen dalam pemberian asuhan kepada pasien (patient care) adalah
asuhan medis. Asuhan medis diberikan oleh dokter yang dalam standar keselamatan
pasien disebut DP JP : Dokter Penanggung Jawab Pelayanan.
Pengaturan tentang DP JP sangat diperlukan dalam pelaksanaan asuhan medis di
rumah sakit untuk menghindari kemungkinan terjadinya pelayanan yang kurang baik
karena terjadinya duplikasi, interaksi obat yang kurang terkontrol, kontra indikasi,
ketidak jelasan peranan dokter bila hanya diminta pendapat saja, dan lain-lain.
Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien rumah sakit.
2. Tujuan Khusus

a. Memberikan perlindungan kepada pasien agar memperoleh asuhan medis yang


terbaik.

b. Memberikan kemudahan kepada rumah sakit untuk mengelola


penyelengggaraan asuhan medis oleh DPJP dalam rangka memenuhi Standar
Akreditasi Rumah Sakit.

c. Memberikan panduan dan kejelasan tentang peranan DPJP.

d. Memberikan panduan dan kejelasan tentang mekanisme koordinasi, kolaborasi


interprofesional dan kerjasama tim dalam memberikan asuhan kepada pasien di
rumah sakit.

C. Definisi
1. DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan) : adalah seorang dokter, sesuai
dengan kewenangan klinisnya terkait penyakit pasien, memberikan asuhan medis
lengkap (paket) kepada satu pasien dengan satu patologi/penyakit, dari awal
sampai dengan akhir perawatan di rumah sakit, baik pada pelayanan rawat jalan
2
dan rawat inap. Asuhan medis lengkap artinya melakukan asesmen medis sampai
dengan implementasi rencana serta tindak lanjutnya sesuai kebutuhan pasien.
2. Pasien dengan lebih dari satu penyakit dikelola oleh lebih dari satu DPJP sesuai
kewenangan klinisnya, dalam pola asuhan secara tim atau terintegrasi, maka harus
ada DPJP Utama. Contoh : pasien dengan Diabetes Mellitus, Katarak dan Stroke,
dikelola oleh lebih dari satu DPJP : Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dokter
Spesialis Mata dan Dokter Spesialis Saraf.
3. DPJP Utama : bila pasien dikelola oleh lebih dari satu DPJP, maka asuhan
medis tersebut dilakukan secara terintegrasi dan secara tim diketuai oleh seorang
DPJP Utama. Peran DPJP Utama adalah sebagai koordinator proses pengelolaan
asuhan medis bagi pasien yang bersangkutan "Ketua Tim", dengan tugas menjaga
terlaksananya asuhan medis komprehensif terpadu efektif, demi keselamatan
pasien melalui komunikasi efektif dengan membangun sinergisme dan mencegah
duplikasi serta mendorong penyesuaian pendapat (adjustment) antar
anggota/DPJP, mengarahkan agar tindakan masing- masing DPJP bersifat
kontributif (bukan intervensi).
4. Dokter yang memberikan pelayanan interpretatif, misalnya memberikan uraian/
data tentang hasil laboratorium atau radiologi, tidak dipakai istilah DPJP, karena
tidak memberikan asuhan medis yang lengkap.
5. Profesional Pemberi Asuhan ( PPA) adalah tenaga kesehatan yang secara
langsung memberikan asuhan kepada pasien, antara lain : dokter, perawat, bidan,
ahli gizi, apoteker, psikolog klinis, penata anestesi, terapis fisik dan sebagainya.
6. Asuhan pasien terintegrasi dan Pelayanan berfokus pada pasien (Patient Centered
Care-PCC) adalah istilah yang sating terkait, yang mengandung aspek pasien
merupakan pusat pelayanan, PPA memberikan asuhan sebagai tim
interdisiplin/klinis dengan DPJP sebagai ketua tim klinis-Clinical Leader, PPA
dengan kompetensi dan kewenangan yang memadai, yang antara lain terdiri dari :
dokter, perawat, bidan, nutrisionis/dietisien, apoteker, penata anestesi, terapis fisik
dan sebagainya.
BAB II RUANG
LINGKUP

Panduan ini berlaku pada semua lini pelayanan rumah sakit yang meliputi :
emergensi, rawat jalan, rawat inap, ruang tindakan, ruang perawatan khusus (ICU,
Hemodialisis, dan sebagainya).

4
BAB III
TATA LAKSANA

A. Tata Laksana
1. Setiap pasien yang mendapat asuhan medis di rumah sakit baik rawat jalan maupun
rawat inap harus memiliki DPJP.
2. Pada unit/instalasi gawat darurat, dokter gawat darurat, dokter jaga (dengan
sertifikat kegawatdaruratan, antara lain PPGD, ATLS, ACLS, GELS) menjadi
DPJP pada pemberian asuhan medis awal/penanganan kegawat-daruratan.
Kemudian selanjutnya saat dilakukan konsultasi/rujuk ditempat (on side) atau
konsultasi lisan kepada dokter spesialis, dan dokter spesialis tersebut memberikan
asuhan medis (termasuk instruksi secara lisan) maka dokter spesialis tersebut telah
menjadi DPJP pasien yang bersangkutan, sehingga saat itulah DPJP telah berganti
dari dokter gawat darurat/dokter jaga IGD kepada dokter spesialis tersebut.
3. Apabila pasien mendapat asuhan medis lebih dari satu DPJP, maka harus
ditunjuk DPJP Utama yang berasal dari para DPJP pasien terkait. Kesemua DPJP
tersebut bekerja secara tim dalam tugas mandiri maupun kolaboratif, berinteraksi
dan berkoordinasi (dibedakan dengan bekerja sendiri-sendiri).
4. Peran DP JP Utama adalah sebagai koordinator proses pengelolaan asuhan medis
bagi pasien yang bersangkutan (sebagai "Ketua Tim"), dengan tugas menjaga
terlaksananya asuhan medis komprehensif-terpadu-efektif, demi keselamatan
pasien ruelalui komunikasi yang efektif dan membangun sinergisme dengan
mendorong penyesuaian pendapat (adjustment) antar Anggota/DPJP, mengarahkan
agar tindakan masing-masing DPJP bersifat kontributif (bukan intervensi), dan juga
mencegah duplikasi serta interaksi obat.
5. Tim membuat keputusan melalui DPJP Utama, termasuk keinginan DPJP
mengkonsultasikan ke dokter spesialis lain agar dikoordinasikan melalui DPJP
Utama. Kepatuhan DPJP terhadap jadwal kegiatan dan ketepatan waktu misalnya
antara lain kehadiran atau menjanjikan waktu kehadiran, adalah sangat penting
bagi pemenuhan kebutuhan pasien serta untuk kepentingan koordinasi sehari-hari.

5
6. Dibawah koordinasi DPJP Utama, sekurang-kurangnya ada rapat Tim yang
melibatkan semua DPJP yang bersangkutan beserta profesi terkait lainnya sesuai
kebutuhan pasien ; rumah sakit diharapkan menyediakan ruangan untuk rapat Tim
di tempat-tempat pelayanan, misalnya di Rawat Inap, ICU, UGD, dan lain-lain.
DPJP Utama juga bertugas untuk menghimpun komunikasi/data tentang pasien.
7. Setiap penunjukan DPJP harus diberitahu kepada pasien dan/keluarga, dan pasien
dan/keluarga dapat menyetujuinya ataupun sebaliknya. Rumah sakit berwenang
mengubah DPJP bila terjadi pelanggaran prosedur.
8. Koordinasi dan transfer informasi antar DPJP dilakukan secara lisan dan tertulis
sesuai kebutuhan. Bila ada pergantian DPJP pencatatan di rekam medis harus jelas
tentang alih tanggung jawabnya. Harap digunakan Formulir Daftar DPJP.
9. Pada unit pelayanan intensif DPJP Utama adalah dokter intensif. Koordinasi dan
tingkatan keikutsertaan para DPJP terkait, tergantung kepada sistem yang
ditetapkan dalam kebijakan rumah sakit misalnya sistem terbuka/tertutup/semi
terbuka. Bila rumah sakit memakai sistem terbuka, gunakan kriteria tersebut
diatas.
10. Pada kamar operasi DPJP Bedah adalah ketua dalam seluruh kegiatan pada saat
di kamar operasi tersebut.
11. Pada keadaan khusus misalnya seperti konsul saat diatas meja operasi/sedang
dioperasi, dokter yang dirujuk tersebut melakukan tindakan/memberikan
instruksi, maka otomatis menjadi DP JP juga bagi pasien tersebut.
12. Dalam pelaksanaan pelayanan dan asuhan pasien, bila DPJP dibantu oleh
dokter lain (antara lain dokter ruangan, residen) dimana yang bersangkutan
boleh menulis/mencatat di rekam medis, maka tanggung jawab adalah tetap ada
pada DP JP, sehingga DP JP yang bersangkutan harus memberikan supervisi, dan
melakukan validasi berupa pemberian paraf/tanda tangan pada setiap catatan
kegiatan tersebut di rekam medis setiap hari.
13. Asuhan pasien dilaksanakan oleh para profesional pemberi asuhan yang
bekerja secara tim "Tim Interdisiplin" sesuai konsep Pelayanan Fokus pada
Pasien (Patient Centered Care), DPJP sebagai ketua tim (Clinical/Team Leader)
harus proaktif melakukan koordinasi dan mengintegrasikan asuhan pasien, serta
berkomunikasi intensif dan efektif dalam tim. Terrnasuk dalam kegiatan im

6
adalah perencanaan pulang (discharge plan) yang dapat dilakukan pada awal
masuk rawat inap atau pada akhir rawat inap
14. DPJP hams aktif dan intensif dalam pemberian edukasi/informasi kepada pasien
dan keluarganya. Gunakan dan kembangkan tehnik komunikasi yang berempati.
Komunikasi merupakan elemen yang penting dalam konteks Pelayanan Fokus
pada Pasien (Patient Centered Care), selain juga merupakan kompetensi dokter
dalam area kompetensi ke 3 (Standar Kompetensi Dokter Indonesia, KKI 2012;
Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Yang Baik di Indonesia, KKI 2006)
15. Pendokumentasian yang dilakukan oleh DPJP di rekam medis harus
mencantumkan nama dan paraf/tandatangan. Pendokumentasian tersebut
dilakukan antara lain di form asesmen awal medis, catatan perkembangan pasien
terintegrasi/CPPT (Integrated note), form asesmen pra anestesi/sedasi, instruksi
pasca bedah, form edukasi/informasi ke pasien, dan sebagainya. Termasuk juga
pendokumentasian keputusan hasil pembahasan tim medis, hasil ronde bersama
multi kelompok staf medis/departemen, dan sebagainya. (Contoh Formulir
Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi dan Contoh Formulir Perintah Lisan
terlampir).
16. Pada kasus tertentu DPJP sebagai ketua tim dari para profesional pemberi asuhan
bekerja sama erat dengan Manajer Pelayanan Pasien (Hospital Case Manager),
sesuai dengan Panduan Pelaksanaan Manajer Pelayanan Pasien (dari KARS, edisi
I 2014), agar terjaga kontinuitas pelayanan baik waktu rawat inap, rencana
pemulangan, tindak lanjut asuhan mandiri dirumah, kontrol, dan sebagainya.
17. Pada setiap rekam medis hams ada pencatatan (kumulatif, bila lebih dari satu)
tentang DPJP, dalam bentuk satu formulir yang diisi secara periodik sesuai
kebutuhan/penambahan/pengurangan/penggantian, yaitu nama dan gelar setiap
DPJP, tanggal mulai dan akhir penanganan pasien, DPJP Utama nama dan gelar,
tanggal mulai dan akhir sebagai DPJP Utama. Daftar ini bukan berfungsi sebagai
daftar hadir.
18. Rumah sakit yang terletak jauh dari kota besar, atau di daerah terpencil,
penetapan kebijakan tentang asuhan medis yang sifatnya khusus agar
dikonsultasikan dengan pemangku kepentingan antara lain Komite Medis,
Fakultas Kedokteran yang bersangkutan bagi residen, Organisasi Profesi, IOI,

7
Dinas Kesehatan, Badan Pengawas Rurnah Sakit Propinsi, Kolegiurn, dan
sebagainya.
19. Keterkaitan DPJP dengan Panduan Praktek Klinis/Alur Perjalanan Klinis/
Clinical Pathway, setiap DPJP bertanggung jawab mengupayakan proses asuhan
pasien (baik asuhan medis maupun asuhan keperawatan atau asuhan lainnya)
yang diberikan kepada pasien patuh pada Panduan Praktek Klinis/Alur
Perjalanan Klinis/Clinical Pathway yang telah ditetapkan oleh Rurnah Sakit.
Tingkat kepatuhan pada Panduan Praktek Klinis/Alur Perjalanan Klinis/Clinical
Pathway ini akan menjadi objek Audit Klinis dan Audit Medis.
20. Apabila dokter tidak mematuhi Alur Perjalanan Klinis/Clinical Pathway/
Panduan Praktek Klinik maka harus memberi penjelasan tertulis dan dicatat di
rekam medis.

8
BAB IV
DOKUMENTASI

A. Dokumen yang dibutuhkan


1. Formulir Asesmen Awai Medis
2. Formulir Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT)
3. Formulir Asesmen Pra Anestesi/Sedasi
4. Formulir Intruksi Pasca Bedah
5. Formulir Edukasi/lnformasi Ke Pasien
6. Formulir Discharge Planning

9
BABV
PENUTUP

Untuk dapat memenuhi standar akreditasi, maka rumah sakit memerlukan regulasi
yang adekuat tentang DP JP dalam pelaksanaan asuhan medis, dan panduan ini merupakan
acuan utama bagi rumah sakit. Regulasi ini agar dapat diterapkan oleh para pemberi
asuhan, termasuk DPJP, sehingga terwujud asuhan pasien yang bermutu. Panduan ini
terbuka untuk dievaluasi dan disempumakan dari waktu ke waktu.

Ditetapkan : Kota Bangun


Pada Tanggal : 28 Desember 2018
RSUD DAYAKU RAJA KOTA
BANGUN
Direktur

dr. Aulia Rahman Basri

10
DAFT AR PUSTAKA

1. Permenkes No. 1691/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit


2. UU No. 44/2009 tentang Rumah Sakit
3. UU No. 29 Tahun 2004 Praktik Kedokteran
4. Perkonsil No. 11/2012 tentang Standar Kompetensi Dokter Indonesia
5. Perkonsil No. 48/2010 tentang Kewenangan Tambahan Dokter Dokter Gigi
6. Permenkes No. 1438/2010 Standar Pelayanan Kedokteran
7. Manual Komunikasi Efektif, KKI, 2006
8. KepKonsil No. 18/2006 Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Yang Baik di Indonesia
9. KepKonsil No. 19/2006 Kemitraan Dalam Hubungan Dokter- Pasien
10. Kode Etik Kedokteran Indonesia, 2012
11. SK PB IDI No. 111/2013 tentang Penerapan Kode Etik Kedokteran Indonesia
12. Johnson, Bet al. : Partnering with Patients and Families to Design a Patient and Family•
Centered Health Care System, Institute for Family-Centered Care 2008
13. Mullahy, C.M. : The Case Manager's Hanbook, 5th ed. Jones & Bartlett Leaming,
2014
14. Zander, K: Hospital Case Management Models. HC Pro, 2008
15. Accredited Case Manager, Candidate Handbook : American Case Management
Association, 2012
16. Cesta, T and Cunningham, B Core Skills for Hospital Case Managers. HC Pro,
2009.
17. Interprofessional Education Collaborative Expert Panel
Core competencies for
interprofessional collaborative practice.
3