Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN STERIL


FORMULASI OBAT SALEP MATA (Atropin Sulfat 0,1%)

oleh :
Yayu Tresnasari (31112055)
KELOMPOK 7

PROGRAM STUDI FARMASI


STIKes BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2015
1.1 Judul Praktikum : Salep Mata (Atropin Sulfat 0,1 %)
2.1 Tanggal praktikum : 8 Mei 2105
3.1 Tujuan : Untuk Mengetahui Cara Membuat Salep Mata Steril
dengan Zat Aktif Atropin Sulfat 0,1 %.
4.1 Dasar Teori :
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan
sebagai obat luar. Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar
salep yang cocok (Anief, 2000) hal 110. Salep mata adalah salep yang digunakan
pada mata. Pada pembuatan salep mata harus diberikan perhatian khusus. Sediaan
dibuat dari bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta
memenuhi syarat uji sterilitas.
Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata. Pada pembuatan salap
mata harus diberikan perhatian khusus. Sediaan dibuat dari bahan yang sudah
disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memnuhi syarat uji sterilitas.
Bila bahan tertentu yang digunakan dalam formulasi salap mata tidak dapat
disterilkan dengan cara biasa, maka dapat digunakan bahan yang yang memenuhi
syarat uji sterilitas dengan pembuatan secara aseptik. Salap mata mengandung bahan
atau campuran bahan yang sesuai untuk mecegah pertumbuhan atau memusnahkan
mikroba yang mungkin masuk secara tidak sengaja bila wadah dibuka pada waktu
aplikasi penggunaan, kecuali dinyatakan lain dalam monografi, atau formulanya
sendiri sudah bersifat bakteriostatik.
Obat biasanya dipakai untuk mata untuk maksud efek lokal pada pengobatan
bagian permukaan mata atau pada bagian dalamnya. Yang paling sering digunakan
adalah larutan dalam air, tapi bisa juga dalam bentuk suspensi, cairan bukan air dan
salep mata.
Berbeda syarat salep dermatologi salep mata yang baik yaitu :
1. Steril
2. Bebas hama/bakteri
3. Tidak mengiritasi mataDifusi bahan obat ke seluruh mata yang dibasahi
karena sekresi cairan mata.
4. Dasar salep harus mempunyai titik lebur/titik leleh mendekati suhu tubuh.
Keuntungan dan Kelemahan
Keuntungan utama suatu salep mata terhadap larutan untuk mata adalah
penambah waktu hubungan anatara obat dengan obat dengan mata, dua sampai empat
kali lebih besar apabila dipakai salep dibandingkan jika dipakai larutan garam. Satu
kekurangan bagi pengggunaan salep mata adalah kaburnya pandangan yang terjadi
begitu dasar salep meleleh dan menyebar melalui lensa kontak.
Sediaan mata umumnya dapat memberikan bioavailabilitas lebih besar
daripada sediaan larutan dalam air yang ekuivalen. Hal ini disebabkan karena waktu
kontak yang lebih lama sehingga jumlah obat yang diabsorbsi lebih tinggi. Salep mata
dapat mengganggu penglihatan, kecuali jika digunakan saat akan tidur (Remington
Pharmaceutical Science, hal.1585).
Atropine Sulpat (C17H23NO3)2H2SO4.H2O
Atropin sulfat mengandung tidak kurang dari 99,0 persen dan tidak lebih dari
setara 101,0 persen dari bis (1R, 3r, 5S) -3 - [(RS) - (3-hydroxy-2-phenylpropionyl)
oksi]-8-metil-8-azabicyclo silfat oktan, dihitung dengan substansi anhidrat.
Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau,
mengembang di udara kering ; perlahan-lahan terpengaruh oleh cahaya.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol, terlebih
dalam etanol mendidih, mudah larut dalam gliserin.
Penyimpanan : simpan dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Titik Leleh : 191-1950C (FI IV hal 115)

5.1 Alat dan Bahan c. Mortar dan stamper


5.1.1 Alat d. Kaca arloji
a. Beker glass e. Tube
b. Corong dan kertas saring f. Batang pengaduk
g. Spatel logam a. Atropin Sulfat
b. Paraffin cair
c. Cetil alcohol
d. Paraffin padat
e. Vaselin album
5.1.2 Bahan

6.1 Penimbangan
Bahan Satuan Dasar Volume Produksi
5 gram 50 gram
Atropin Sulfat 50 mg 50/5 x 50 mg = 500 mg = 0,5 g
Paraffin cair 250 mg 50/5 x 250 mg = 2500 mg = 2,5 g
Cetil alcohol 250 mg 50/5 x 250 mg = 2500 mg = 2,5 g
Paraffin padat 4,2 gram 50/5 x 250 mg = 2500 mg = 2,5 g
Vaselin album 50/5 x 4,2 mg = 42 g

7.1 Perhitungan
7.1.2 Formula Lengkap
Tiap 10 g mengandung:
Atropin Sulfat 100 mg
Paraffin cair 500 mg
Cetil alcohol 500 mg
Paraffin padat 500 mg
Vaselin album 8,4 gram

7.1.3 Penimbangan volume produksi :


Satuan dasar = 5 gram
Volume produksi = 50 gram
Bahan :
Atropin Sulfat 0,5 gram
Paraffin cair 2,5 g
Cetil alcohol 2,5 g
Paraffin padat 2,5 g
Vaselin album 42 g

8.1 Prosedur
No Pengolahan
1 Sterilkan tube dalam alcohol 70% selama 10-15 menit lalu tiriskan
Leburkan basis salep cetil alcohol, paraffin padat, vaselin album bersama
2
paraffin cair
3 Disterilkan basis salep dalam oven pada suhu 1500C selama 1 jam
4 Dinginkan dan simpan pada ruangan steril
5 Dilarutkan atropine sulfat dalam a.p.i 1 ml
6 Dicampurkan dengan basis salep secara aseptic
7 Dimasukan kedalam tube yang steril

9.1 Hasil Pengamatan

No Jenis Evaluasi Penilaian


1 Penampilan fisik wadah Baik
2 Jumlah sediaan 3 buah
3 Homogenitas sediaan Semua bagus
4 Keseragaman volume Semua seragam
5 Brosur Lengkap
6 Kemasan Lengkap
7 Etiket Lengkap
9.1 Pembahasan

Pada praktikum kali ini, kami melakukan praktikum pembuatan sediaan steril
berupa salep mata dengan bahan aktif berupa atropine sulfat 0,1% yang dibuat
dengan sterilisasi. Tujuan suatu sediaan dibuat steril, karena berhubungan langsung
dengan darah atau cairan tubuh dan jaringan tubuh lain yang pertahanannya terhadap
zat asing tidak selengkap pada saluran cerna atau gastrointestinal. Diharapkan dengan
kondisi steril dapat dihindari adanya infeksi sekunder.
Atropin sulfat mempunyai efek farmakologi yaitu menghambat M. constrictor
pupillae dan M. ciliaris lensa mata, sehingga menyebabkan midriasis dan siklopegia
(paralisis mekanisme akomodasi). Midriasis mengakibatkan fotopobia, sedangkan
siklopegia menyebabkan hilangnya daya melihat jarak dekat.
Dan juga memiliki efek farmakodinamik Sesudah pemberian 0,6 mg atropin
SK padamulanya terlihat efek terhadap kelenjar eksokrin, terutama hambatan salivasi,
serta efek bradikardi sebagai hasil perangsangan N. vagus. Mula timbulnya midriasis
tergantung dari besarnya dosis.
Pada praktikum teknologi steril kali ini membuat salep mata atropin sulfat
0,1%l, salep mata merupakan sediaan salep yang digunakan pada mata. Pada
pembuatan salap mata harus diberikan perhatian khusus. Sediaan dibuat dari bahan
yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji
sterilitas. Keuntungan salep mata penambah waktu hubungan anatara obat dengan
obat dengan mata, dua sampai empat kali lebih besar apabila dipakai salep
dibandingkan jika dipakai larutan garam. Salep mata atropine sulfat digunakan
sebagai mengatasi infeksi pada mata dan dosis yang diberikan adalah 0,1%.
Formulasi salep mata mengikuti formulasi pada fornas dengan memodifikasi sesuai
dengan jumlah salep yang akan kita buat. Pada penimbangan basis pada chawan
penguap harus dilapisi dengan kain kasa 2 lapis dan penimbangan dilebihkan 50%
karena setelah strilisasi di oven selama 30 menit dengan suhu oC dan kemudian
diperas kain kasanya takut sebagian basis menempel pada kain kasa sehingga
penimbangan basis dilebihkan 50%.

Sterilisasi yang digunakan adalah sterilisasi akhir yaitu strilisasi dilakukan


lebih awal. Basis yang terdapat pada lapisan kain kasa di chawan penguap diperas
dan setelah itu ditimbang untuk mengetahui apakah jumlah basis yang hilang tidak
menggangu perhitungan jumlah basis sebelumnya. Basis dimasukkan lebih dahulu di
lumpang dan digerus homogen kemudian dimasukkan zat aktif ke dalam lumpang dan
setelah itu digerus sampai homogen. Sediaan salep yang telah jadi dimasukkan ke
dalam tube dengan cara memilit sediaan salep pada kertas dan dimasukkan pada tube
dan setelah itu diberi etiket.

10.1 Kesimpulan

Dari praktikum yang dikerjakan dapat disimpulkan bahwa obat salep mata
dengan bahan aktif atropine sulfat 0,1% harus dilakukan secara aseptis, karena
berhubungan langsung dengan darah atau cairan tubuh dan jaringan tubuh lain yang
pertahanannya terhadap zat asing tidak selengkap pada saluran cerna atau
gastrointestinal.

Bahan yang digunakan diantaranya :


Tiap 10 g mengandung:
Atropin Sulfat 100 mg
Paraffin cair 500 mg
Cetil alcohol 500 mg
Paraffin padat 500 mg
Vaselin album 8,4 gram

DAFTAR PERTAKA

Departemen Kesehatan RI, 1979. Farmakope Indonesia, edisi III, Jakarta.

Departemen kesehatan RI, 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV, Jakarta.

Martindale, The Extra Pharmacopeia Twenty-eight Edition. The Parmaceutical Press,


London. 1982.

LACHMAN, Leon. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia (UI-Press), 1989.

ANSEL, Howard C. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: Penerbit Universitas


Indonesia (UI-Press),1989.

ISO Indonesia. Jakarta: PT Anem Kosong Anem (AKA), 1979