Anda di halaman 1dari 13

KOMPONEN-KOMPONEN PEMBELAJARAN

Ghina Nur Afifah, Mira Purnamasari, Rizaldi Cakra Kusumah

DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK


FAKULTAS PENDIDIKAN SENI DAN DESAIN
the.silencer.kid@gmail.com

Dr. H. Dadang Sukirman, M.Pd. Ence Surahman, S.Pd., M.Pd

A. PENDAHULUAN
Pandangan mengenai konsep pembelajaran terus menerus mengalami
perubahan dan perkembangan sesuai dengan perkembangan IPTEK.
Pembelajaran sama artinya dengan kegiatan mengajar. Kegiatan mengajar
dilakukan oleh guru untuk menyampaikan pengetahuan kepada siswa.
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen
tersebut meliputi: kurikulum, guru, siswa, materi, metode, media dan evaluasi.
Pelaksanaan pembelajaran adalah operasional dari perencanaan
pembelajaran, sehingga tidak lepas dari perencanaan pengajaran atau
pembelajaran yang sudah dibuat. Oleh karenanya dalam pelaksanaan akan
sangat tergantung pada bagaimana perencanaan pengajaran sebagai
oprasionalisasi dari sebuah kurikulum. Setelah membahas mengenai pengertian
pengelolaan pembelajaran, timbulah pemikiran tentang hal-hal apakah yang
terdapat dalam proses pembelajaran. Perhatian pada proses terjadinya
pembelajaran mengarahkan pada pemikiran tentang komponen-komponen
pembelajaran. Berikut akan diuraikan satu persatu komponen-kumponen
tersebut.
Makalah ini diharapkan pembaca dapat mengetahui dan mengaplikasikan
komponen-komponen pembelajaran serta mengimplementasikannya dalam
kegiatan pembelajaran. Setelah mempelajari materi ini diharapkan:
1. Untuk mengetahui pengertian dari komponen pembelajaran.
2. Untuk mengetahui macam-macam komponen pembelajaran.
3. Untuk mengidentifikasi hubungan masing-masing komponen pembelajaran.
4. Untuk mengetahui fungsi dari masing-masing komponen pembelajaran.

Berdasrakan latar belakang diatas, diharapkan bermanfaat dan bahan masukan bagi:

1. Penyusun

Menambah wawasan mengenai komponen-komponen pembelajaran serta


memahami materi dari masing-masing komponen pembelajaran.

2. Mahasiswa Pendidkan Seni Musik

Memberikan pengetahuan dan wawasan mengenai komponen-komponen


pembelajaran.

Metode yang digunakan dalam penulisanmakalah ini adalah dengan


menggunakan metode studi teks (studi kepustakaan) dimana dalam penulisan
makalah ini penulis melakukan kegiatan penelusuran dan penelaahan literature
dari hasil data yang diperoleh dari buku dan internet sehingga metode ini sangat
menuntut ketekunan dan kecermatan pemahaman penulis.

A. PEMBAHASAN

Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang memiliki peran penting
dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses pembelajaran. Komponen
pendidikan berarti bagaian-bagian daari sistem proses pendidikan, yang menentukan
berhasil atau tidaknya proses pendidikan. Bahkan dapat dikatakan bahwa untuk
berlangsungnya proses kerja pendidikan diperlukan keberadaan komponen-
komponen tersebut.

Pembelajaran merupakan istilah yang diambil dari terjemahan kata


“Instraction”. Seringkali orang membedakan kata ini dengan “pengajaran”, akan
tetapi tidak tidak jarang pula orang memberikan pengertian yang sama untuk kedua
kata tersebut. Menurut Arief S. sadiman, kata pembelajaran dan kata pengajaran
dapat dibedakan pengertiannya. Kalau kata pengajaran hanya ada di dalam konteks
guru-murid di kelas formal, sedangkan kata pembelajaran tidak hanya ada dalam
konteks guru-murid di kelas formal, akan tetapi juga meliputi kegiatan belajar
mengajar yang tak dihadiri oleh guru secara fisik di dalam kata pembelajaran
ditekankan pada kegiatan belajar siswa melalui usaha-usaha terencana dalam
memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar. Dengan definisi
seperti ini, kata pengajaran lingkupnya lebih sempit dibanding kata pembelajaran.
Di pihak lain ada yang berpandangan bahwa kata pembelajaran dan kata pengajaran
pada hakekatnya sama, yaitu suatu proses interaksi antara guru dan siswa dalam
mencapai tujuan yang telah ditentukan (Cepi Riana, 2009).

Gambar hubungan antar komponen dalam pembelajaran.

Komponen-komponen Pembelajaran
Komponen pembelajaran memiliki fungsinya masing-masing.Kurikulum
memiliki fungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.Komponen-
komponen yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan atau terlaksananya
proses mendidik terdiri dari 7 komponen. Berikut akan kami uraikan satu persatu
komponen-komponen tersebut.
1. Komponen Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran merupakan suatu target yang ingin dicapai, oleh
kegiatan pembelajaran. Tujuan kurikulum merupakan kekuatan fundamental
yang peka sekali, karena hasil kurikuler yang diinginkan tidak hanya sangat
mempengaruhi bentuk kurikulum tetapi memberikan arah dan focus untuk
seluruh program pendidikan (Zais. 1979: 297). Tujuan pengajaran terbagi
menjadi macam yakni Tujuan Umum Pengajaran (TUP) dan Tujuan Khusus
Pengajaran (TKP).
Hirarki vertical tujuan kurikulum Indonesia paling tinggi antara lain:
1) Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan ini merupakan tujuan jangka panjang yang ingin
dicapai dan didasari oleh falsafah Negara (Indonesia didasari oleh
Pancasila). Tujuan pendidikan nasional ini merupak tujuan yang sifatnya
umum.
Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional
(Indonesia) adah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangan
manusia Indonesia sutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa
terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian
yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan
kebangsaan.
2) Tujuan kelembagaan atau Institusional
Tujuan Institusional merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap
sekolah atau lembaga pendidikan. Tujuan insttitusional ini merupkan
penjabaran dari tujuan pendidikan sesuai dengan jenis dan sifat sekolah atau
lembaga pendidikan. Oleh karena itu, setiap sekolah atau lembaga memeiliki
tujuan institusional sendiri-sendiri. Tujuan kelembagaan ini bersifat konkret.
Tujuan konstitusional ini dapat dilihat dalam kurikulum setiap lembaga
pendidikan.
3) Tujuan Kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang dicapai oleh setiap bidang. Tujuan ini
dapat dilihat dari GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran) setiap
bidang studi.. Tujuan kurikuler merupakan penjabaran dari tujuan
institusional, sehingga kumulasi dai setiap tujuan kurikuler ini akan
menggambarkn tujuan institusional.
4) Tujuan Intruksional
Tujuan instruksional adalah tujuan yang ingin dicapai dari setiap kegiatan
intruksional atau pembelajaran. Tujuan ini dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a) Tujuan instruksional/ Tujuan pembelajaran umum, yaitu tujuan
pembelajaran yang sifatnya masih umum dan belum menggambarkan
tingkah laku yang lebih spesifik. Tujuan instruksional umum ini dapat
dilihat dari tujuan setiap pokok bahasan suatu bidang studi yang ada di
dalam GBPP.
b) Tujuan Instruksional/ Pembelajaran khusus
Tujuan Instruksional khusus merupakan penjabaran dari tujuan
instruksional umum. Tujuan ini dirumuskan oleh guru dengan maksud
agara tujuan instruksional umum dapat lebih spesifik dan mudah diukur
tingkat ketercapaiannnya.

2. Materi atau Bahan Pembelajaran

Materi Pembelajaran pada hakekatnya adalah “isi” dari kurikulum,


yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi dengan topic atau subtopic
dan rinciannya. Materi pembelajaran ini juga merupakan bagian tak
terpisahkan dari Silabus, yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang
apa yang akan dilakukan pada saat Kegiatan Pembelajaran. Secara garis
besar dapat dikemukakan bahwa Materi pembelajaran (instructional
materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai
peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan
kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat
mencapai sasaran. Sasaran tersebut harus sesuai dengan Standar Kompetensi
dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik. Artinya, materi
yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-
benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar,
serta tercapainya indikator .
Materi pembelajaran dipilih seoptimal mungkin untuk membantu
peserta didik dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Hal-hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pemilihan materi
pembelajaran adalah jenis, cakupan, urutan, dan perlakuan (treatment)
terhadap materi pembelajaran tersebut. Agar guru dapat membuat persiapan
yang berdaya guna dan berhasil guna, dituntut memahami berbagai aspek
yang berkaitan dengan pengembangan materi pembelajaran, baik berkaitan
dengan hakikat, fungsi, prinsip, maupun prosedur pengembangan materi
serta mengukur efektivitas persiapan tersebut.

Isi bahan pembelajara itu dapat diklasifikasikan yaitu sebagai berikut.

1) Fakta yaitu segala hal yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi
nama-nama objek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, nama
bagian atau komponen suatu benda, dan sebagainya. Contoh dalam mata pelajaran
Sejarah: Peristiwa sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 dan pembentukan
Pemerintahan Indonesia.
2) Konsep atau teori yaitu segala yang berwujud pengertian-pengertian baru
yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus,
hakikat, inti /isi dan sebagainya. Contoh, dalam mata pelajaran Biologi: Hutan
hujan tropis di Indonesia sebagai sumber plasma nutfah, Usaha-usaha pelestarian
keanekargaman hayati Indonesia secara in-situ dan ex-situ, dsb.
3) Prinsip yaitu berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting,
meliputi dalil, rumus, adagium, postulat, paradigma, teorema, serta hubungan
antarkonsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat. Contoh, dalam mata
pelajaran Fisika: Hukum Newton tentang gerak, Hukum 1 Newton, Hukum 2
Newton, Hukum 3 Newton, Gesekan Statis dan Gesekan Kinetis, dsb.
4) Prosedur merupakan langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam
mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem. Contoh, dalam mata
pelajaran TIK: Langkah-langkah mengakses internet, trik dan strategi penggunaan
Web Browser dan Search Engine, dsb.
5) Keterampilan adalah suatu kemampuan untuk berbuat sesuatu, baik dalam
pengertian fisik maupun mental. (Supriadie, 1994: 3)
6) Sikap atau Nilai merupakan hasil belajar aspek sikap, misalnya nilai
kejujuran, kasih sayang, tolongmenolong, semangat dan minat belajar dan bekerja,
dsb. Contoh, dalam mata pelajaran Geografi: Pemanfaatan lingkungan hidup dan
pembangunan berkelanjutan, yaitu pengertian lingkungan, komponen ekosistem,
lingkungan hidup sebagai sumberdaya, pembangunan berkelanjutan.
Prinsip-Prinsip Pengembangan Materi Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar
dalam menentukan materi pembelajaran adalah kesesuaian (relevansi), keajegan
(konsistensi), dan kecukupan (adequacy).
1. Relevansi artinya kesesuaian. Materi pembelajaran hendaknya relevan
dengan pencapaian standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika
kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka
materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip
ataupun jenis materi yang lain. Misalnya : kompetensi dasar yang harus dikuasai
peserta didik adalah ”Menjelaskan hukum permintaan dan hukum penawaran serta
asumsi yang mendasarinya” (Ekonomi kelas X semester 1) maka pemilihan materi
pembelajaran yang disampaikan seharusnya ”Referensi tentang hukum permintaan
dan penawaran” (materi konsep), bukan Menggambar kurva permintaan dan
penawaran dari satu daftar transaksi (materi prosedur).
2. Konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai
peserta didik ada empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus
meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta
didik adalah Operasi Aljabar bilangan bentuk akar (Matematika Kelas X semester
1) yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka
materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan,
perkalian, dan merasionalkan pecahan bentuk akar.
3. Adequacy artinya kecukupan. Materi yang diajarkan hendaknya cukup
memadai dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang
diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika
terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan
kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan
keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan
KD).

3. Strategi dan Metode Pembelajaran

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata strategi diartikan sebagai


rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran yang telah
ditetapkan. Apabila dikaitkan dengan pembelajaran maka strategi mempunyai arti
yang berbeda. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai
pola-pola umum kegiatan guru-anak didik dalam mewujudkan kegiatan belajar
mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Dalam konteks pengajaran,
strategi dimaksudkan sebagai daya upaya guru dalam menciptakan suatu system
lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses mengajar, agar tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dan berhasil.
Jadi strategi yang dimaksudkan adalah sebagai upaya dalam menciptakan
suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar
atau dengan kata lain strategi berarti pilihan pola kegiatan belajar mengajar yang
diambil untuk mencapai sasaran secara efektif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan strategi

Pembelajaran penerapan suatu strategi dalam setiap situasi pembelajaran


haruslah mempertimbangkan dan memperhatikan dari berbagai kemungkinan yang
akan terjadi, kalau tidak diperhatikan maka akan berakibat proses pembelajaran
terlambat, atau lebih jauh lagi yakni tidak tercapainya tujuan pembelajaran
sebagaimana yang ditetapkan.

1. Faktor Guru

Guru merupakan faktor utama dalam penerapan strategi pembelajaran karena


berhasil tidaknya pembelajaran tergantung kepada guru, karena itu guru
merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru.
Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian
untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Untuk mendapatkan
pemahaman yang jelas, maka diuraikan sebagai berikut:

a. Latar Belakang Pendidikan

Apabila seorang guru mata pelajaran yang bersangkutan bukan dilatarbelakangi


oleh jalur pendidikan guru, maka guru tersebut tidak akan siap melaksanakan
tugasnya sebagai guru, kecuali mempunyai seperangkat keterampilan guru
(kompetensi guru). Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa latar
belakang pendidikan seorang guru akan mempengaruhi kompetensinya didalam
interaksi pembelajaran maka dapat disimpulkan bahwa seorang guru, dalam hal
ini guru minimal harus memiliki kemampuan dalam menyusun bahan pelajaran
yang akan disampaikan dalam pembelajaran dan keterampilan dalam
menyampaikan bahan dengan menggunakan metode dan strategi yang tepat
dalam proses pembelajaran.

b. Pengalaman Mengajar

Dengan adanya pengalaman maka guru akan semakin mampu dan terampil
dalam mengajar, menguasai materi, metode, dan strategi dalam mengajar.
Seorang guru yang lama menjalani masa mengajar, semakin banyak
pengalaman yang diperoleh atau didapatkannya untuk membekali dan
memperbaiki keterampilan mengajar. Mengajar bukan sebagai ilmu teknologi
dan seni belaka, tetapi sebagai keterampilan. Keterampilan mengajar banyak
macamnya, dalam hal ini perlu dimiliki dan dikuasai oleh guru agar dapat
melaksanakan interaksi belajar mengajar yang afaktif dan efesien.

c. Pengetahuan guru terhadap strategi pembelajaran


Secara ideal, seorang guru sebaikya memang harus memiii banyak
pengetahuan dan keterampilan (multiskill competencies). Dalam hal ini guru
harus menguasasi materi yang aan diguakan untuk diajarkan, menguasai
penggunaan strategi dan metode mengajar yang akan digunakan untuk menilai
hasil belajar ssiwa, aspek-aspek manajemen kelas, dan dasar-dasar pendidikan.
Kegiatan itu melibatkan komponen-komponen yang diantara satu dan lainnya
saling menyesuaikan dan menunjang dalam mencapai tujuan belajar bagi anak
didik. Dengan demikian dalam interaksi pembelajaran metode bukanlah satu-
satunya, tetapi faktor anak didik, guru, alat, tujuan, dan lingkungan juga
menentukan interaksi tersebut. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, masing-
masing komponen itu saling merespon dan mengetahui, sehingga tugas guru
bagaimana mendesain semua koponen itu agar tercipta pembelajaran yang
kondusif.

2. Faktor Siswa

a. Kemampuan Siswa
Kalau dalam kegiatan pembelajaran, guru adalah orang yang memberikan
pelajaran, maka siswa adalah orang yang menerima pelajaran tersebut,
seseorang guru yang menginginkan pengajarannya berhasil dengan baik ia
harus memperhatikan keadaan siswanya, sehigga ia dapat menentukan
strategi yang sesuai dengan kemampuan siswanya
b. Minat Belajar Siswa
Faktor minat mempunyai peran sangat penting untuk mencapai generasi
dalam belajar. Minat adalah kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan
dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang,
diperhatikan terus menerus yang diserta dengan rasa senang. Minat besar
pengaruhnya terhadap aktifitas belajar, bila bahan pelajaran yang tidak
sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya,
karena tidak ada daya tarik sebagainya
c. Motivasi Siswa
Motivasi adalah suatu proses atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu
yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai
tujuan tertentu. Tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak sehingga
ia mau belajar. Motivasi biasanya timbul dari dalam individu (motivasi
intrinsik) dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar dirinya

3. Faktor Materi atau Bahan Pelajaran


Dalam menjalankan proses pembelajaran dikelas, seorang guru dituntut
untuk dapat menguasai bahan materi bidang studi yang diajarkan serta wawasan
yang berhubungan dengan materi itu, materi pelajaran yang dipilih untuk
mencapai kompetensi haruslah yang bermakna, agar peserta didik terhindar dari
materi-materi yang tidak menunjang pencapaian kompetensi. Sedangkan bahan
pelajaran adalah subtansi yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran.
Tanpa bahan pembelajaran proses pembelajaran tidak akan
berjalan lancar. Penerapan strategi sangat bergantung dengan materi yang akan
dipelajari,
karena jika strategi yng dipilih tidak cocok dengan materi pembelajaran, maka
tujuan pembelajaran tidak akan tercapai dengan maksimal.

4. Faktor Fasilitas
Proses pembelajaran akan berjalan dengan baik jika didukung oleh fasilitas yang
memadai. Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang belajar siswa disekolah.
Lengkap tidaknya falisitas belajar akan mempengaruhi pemilihan metode dan
strategi pembelajaran.
5. Faktor Waktu
Faktor waktu dibagi dua, yaitu yang menyangkut jumlah waktu dan kondisi
waktu. Hal yang menyangkut jumlah waktu ialah berapa puluh menit atau
berapa jam pelajaran alokasi waktu yang tersedia untuk proses belajar mengajar.
Sedangkan yang menyangkut kondisi waktu ialah kapan pelajaran itu
dilaksanakan, pagi, siang, atau sore. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap
proses belajar mengajar dan pemilihan strategi pembelajaran yang akan
digunakan.

4. Metode Pembelajaran

Dalam kamus bahasa Indonesia didefinisikan metode adalah cara yang


digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan pembelajaran adalah suatu
proses untuk menuju yang lebih baik. Metode pembelajaran adalah pola yang
digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas.
Metode pembelajaran yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan yang
akan dicapai, bahan yang digunakan, waktu dan perlengkapan yang tersedia,
kemampuan dan banyaknya murid, dan kemampuan guru mengajar, sehingga
bisa disesuaikan dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan
keseluruhannya dan tidak menyulitkan siswa dan gurunya, sehingga bisa
tercapai tujuan yang diinginkan.
Jenis-jenis metode, yaitu:
1) Metode Ceramah
Metode ceramah yaitu cara menyampaikan informasi secara lisan yang
dilakukan oleh sumber belajar kepada warfa belajar. Metode ini
merupakan yang paling banyak digunakan dalam kesempatan
penyampaian informasi dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran.
2) Metode Tanya Jawab
Metode Tanya jawab yaitu cara penjelasan informasi yang
pelaksanaannya saling bertanya dan menjawab antara sumber belajar dan
warga belajar
3) Metode Demonstrasi
Metode ini yaitu cara memperagakan sesuatu hal yang pelaksanaannya
diawali oleh peragaan sumber belajar kemudian diikuti oleh warga
belajar. Hal yang diperagakan adalah harus kegiatan yang sebenarnya,
tidak bersifat abstrak.

4) Metode Curah Pendapat


Metode Curah Pendapat yaitu cara untuk menghimpun gagasan atau
pendapat dari setiap warga belajar tentang suatu permasalahan.
5) Metode Diskusi kelompok
Metode diskusi kelompok yaitu cara pembahasan suatu masalah oleh
sejumlah anggota kelompok untuk mencapai suatu kesepakatan.
6) Metode Diskusi Kelompok Kecil
Metode diskusi kelompok kecil yaitu cara pembahasan suatu maslah
yang pelaksanaannya warga belajar dibagi dalam kelompok kecil antara
tiga sampai enam orang membahas suatu masalah yang diakhiri dengan
penyampaian hasil pembahasannya oleh setiap juru bicara pada
kelompok besar.

5. Media Pembelajaran
Media Pembelajaran adalah suatu alat atau wadah yang dapat membantu
suatu proses kegiatan belajar mengajar. Ada beberapa media yang dapat
membantu suatu proses kegiatan belajar mengajar. Media Pembelajaran
terdiri dari lima jenis yaitu media visual, media audio, media audio-visual,
kelompok media penyaji, serta media objek dan media interaktif.
a) Media Visual
Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan
menggunakan indra penglihatan. Jenis media ini adalah yang sering
digunakan oleh para guru untuk membantu menyampaikan isi atau
materi pelajaran. Media visual terdiri dari media yang tidak dapat
diproyeksikan (non-projected visual) dan media yang dapat
diproyeksikan (projected visual). Media yang dapat diproyeksikan
ini bisa berupa gambar diam (still pictures) atau bergerak (motion
pictures).
b) Media Audio
Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk
auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian, dan kemauan para siswa untuk mempelajari
bahan ajar.
Terdapat beberapa pertimbangan apabila akan menggunakan media
audio ini, diantaranya :
 Media ini hanya akan mampu melayani mereka yang sudah
mempunyai kemampuan dalam berfikir abstrak.
 Media ini memerlukan pemusatan perhatian yang lebih tinggi
dibanding media lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan teknik-
teknik tertentu dalam belajar melalui media ini.
 Karena sifatnya yang auditif, jika ingin memperoleh hasil
belajar yang baik diperlukan juga pengalaman-pengalaman
secara visual. Sedangkan kontrol belajar bisa dilakukan
melalui penguasaan pembendaharaan kata-kata, bahasa, dan
susunan kalimat.
c) Media Audio-Visual
Media ini merupakan kombinasi dari audio dan visual, atau biasa
disebut media pandang-dengar. Dengan menggunakan media ini,
penyaji bahan ajar kepada para siswa akan semakin lengkap dan
optimal. Selain itu, dengan media ini, dalam batas-batas tertentu
dapat menggantikan peran dan tugas guru. Dalam hal ini, guru tidak
selalu menjadi penyaji materi (teacher) tetapi karena penyajian
materi bisa diganti oleh media, maka peran guru bisa beralih menjadi
fasilitator belajar, yaitu memberikan kemudahan bagi para siswa
untuk belajar. Contoh dari media audio-visual diantaranya program
video/televisi pendidikan, video/televisi instruksional, dan program
slide suara (sound slide)
d) Kelompok Media Penyaji
Selain cara pengelompokan di atas, Donald T. Tosti dan John R. Ball
menyusun pengelompokan media menjadi tujuh kelompok media
penyaji yaitu :
a) Kelompok kesatu : grafis, bahan cetak, dan gambar diam;
b) Kelompok kedua : media proyeksi diam;
c) Kelompok ketiga : media audio;
d) Kelompok keempat : media audio-visual
e) Kelompok kelima : media gambar hidup/film
f) Kelompok keenam : media televisi
g) Kelompok ketujuh : multimedia
e) Media Objek dan Media Interaktif
1) Media Objek
Media objek merupakan media tiga dimensi yang
menyampaikan informasi tidak dalam bentuk penyajian,
melainkan melalui ciri fisiknya sendiri, seperti ukuran,
bentuk, berat, susunan, warna, fungsi, dan sebagainya.
2) Media Interaktif
Karakteristik terpenting kelompok media ini adalah bahwa
siswa tidak hanya memperhatikan media atau objek saja,
melainkan juga dituntut untuk berinteraksi selama mengikuti
pelajaran
f) Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran adalah penilaian atau pengukuran dari
proses pembelajaran yang telah dilakukan. Ada tiga hal yang
berkaitan dalam kegiatan evaluasi pembelajaran tersebut, yaitu
evaluasi, pengukuran, dan tes. Evaluasi lebih bersifat komperhensif
yang di dalamnya meliputi pengukuran. Sedangkan tes merupakan
salah satu alat atau bentuk dari pengukuran.
Evaluasi menurut syarat-syarat psikologis bertujuan agar
pendidik mengenal peserta didik selengkap mungkin dan agar peserta
didik juga mengenak dirinya seutuhnya. Di samping itu, evaluasi
juga berguna mempertinggi hasil pengajaran, karena itu evaluasi
tidak bisa dipisahkan dari belajar dan mengajar. Evaluasi harus
dilakukan oleh semua yang bersangkutan, bukan hanya dari pendidik
tapi juga peserta didik sendiri. Evaluasi harus ditinjau dari
keseluruhan.
Fungsi utama evaluasi dalam pembelajaran dapat
dikelompokkan ke dalam empat fungsi, yaitu formatif, sumatif,
diagnostik, dan penempatan. Evaluasi formatif menekankan pada
upaya perbaikan proses pembelajaran. Evaluasi sumatif lebih
menekankan kepada penetapan tingkat keberhasilan belajar setiap
peserta didik yang dijadikan dasar dalam penentuan nilai, dan/atau
kenaikan dan kelulusan peserta didik. Evaluasi diagnostik
menekankan pada upaya memahami kesulitan siswa dalam belajar,
sedangkan evaluasi penempatan menekankan pada upaya untuk
menyelaraskan antara program dan proses pembelajaran dengan
karakteristik peserta didik.
Evaluasi yang baik harus menilai hasil-hasil yang autentik
dan hal ini dilakukan dengan mengetes hingga manakah hal itu dapat
ditransfer. Evaluasi harus dilakukan dengan tepat, teliti, dan objektif
terhadap hasil belajar sehingga dapat menjadi alat untuk mengecek
kemampuan peserta didik dalam belajarnya dan mempertinggi hasil
belajarnya. Di samping itu, dapat menjadi alat pengontrol bagi cara
mengajar guru, serta dapat membimbing peserta didik untuk
memahami dirinya.
Contoh dari materi ini adalah “Efektifkah Cara Belajar-
Mengajar dalam Kurikulum 2013 pada SMA” menurut kami kurang
efektif, karena SDMnya sendiri kurang persiapan. Sehingga baik
pendidik dan peserta didik merasa kesulitan dalam kegiatan
pembelajaran. Dengan adanya konsep tersebut, persiapan yang
dilakukan juga harus matang.
Seperti perubahan dari isi mata pelajaran yang ada. Ditambah adanya
proses peminatan yang mengharuskan peserta didik memilih jenis
peminatan apa yang ingin di pelajari. Misal siswa yang memilih
matematika peminatan, maka siswa tersebut dua kali belajar
matematika dengan materi yang berbeda pula.
Contoh lainnya adalah “Belajar Aisatsu Melalui Video Erin”
menurut kami belajar aisatsu dalam Bahasa Jepang menggunakan
video erin ini sangat menarik. Sehingga, kita dapat lebih mudah
mengetahui dan menghafal aisatsu dalam Bahasa Jepang. Selain itu
juga, dengan menggunakan video ini siswa atau peserta didik tidak
akan mudah merasa bosan dan membuat minat peserta didik lebih
tinggi.

B. Penutup
Kesimpulan
Dari penjelasan materi di atas kami menyimpulkan bahwa komponen-komponen
pembelajaran merupakan bagian dari suatu sistem yang memiliki peran penting
dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses pembelajaran. Dimana di dalam
pembelajaran akan terdapat komponen-komponen sebagai berikut yaitu
komponen kurikulum, materi atau bahan ajar, metode, media (alat
pembelajaran), evaluasi, anak didik atau siswa, dan adanya pendidik (guru).
Jadi dapat disimpulkan bahwa komponen pembelajaran adalah kumpulan dari
beberapa item yang saling berhubungan satu sama lain yang meruprakan hal
penting dalam proses belajar mengajar.
Saran
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, serta menambah
banyak wawasan bagi orang yang membaca makalah ini. Dalam komponen
pembelajaran, terutama pembelajaran konstekstual diperlukan guru yang
berwawasan luas yang dapat mengaitkan mata pelajaran dengan kehidupan
sehari-hari serta materi pembelajaran dikaitkan dengan konteks kehidupan
siswa. Strategi guru dalam proses pembelajaran kontekstual sangat menetukan
keberhasilan siswanya. Guru melakukan perubahan kebiasaan dalam proses
belajar mengajar, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penilaian hasil
belajarnya. Sebagai calon pendidik (guru) pembelajaran kontekstual ini sangat
penting karena dapat membantu siswa untuk lebih mudah menerima materi
pelajaran yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Daftar Pustaka:

Pengembangan MKDP. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rajagrafindo


Penada.

Sanjaya, Wina. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Prenada media Group.
https://pandidikan.blogspot.co.id/2010/05/komponen-pembelajaran.html
(dikutip pada 3 Mei 2017)