Anda di halaman 1dari 29

Laboratorium Ilmu Kesehatan Jiwa Refleksi Kasus

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

GANGGUAN DEPRESI

Oleh

Dwiki Fitrandy Rezy Rizaly

1710029050

Pembimbing
dr. Eka Yuni N., Sp.KJ

LAB / SMF KESEHATAN JIWA


Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman
RSJD Atma Husada Mahakam
2019

0
GANGGUAN DEPRESI

Oleh

Dwiki Fitrandy Rezy Rizaly

NIM. 1710029050

Dipresentasikan pada Juni 2019

Mengetahui,

Pembimbing

dr. Eka Yuni N., Sp.KJ

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gangguan mood atau gangguan afektif meliputi sekelompok besar gangguan
dengan mood patologis serta gangguan terkait mood yang mendominasi gambaran
klinisnya. Gangguan ini mengacu pada keadaan emosi yang menetap, bukan
hanya ekspresi eksternal (afektif) pada keadaan emosional sementara. Depresi
adalah suatu gangguan mood dengan ciri sedih, merasa sendirian, rendah diri,
putus asa, biasanya disertai tanda–tanda retardasi psikomotor atau kadang-kadang
agitasi, menarik diri dan terdapat gangguan vegetatif
seperti insomnia dan anoreksia (Sadock & Sadock, 2014). Selain gejala diatas
dapat pula terganggunya aktivitas sehari-hari, perubahan berat badan, gangguan
konsentrasi, anhedonia (kehilangan minat apapun), lelah dan tak berdaya serta
pikiran bunuh diri. Jika gangguan depresif berjalan dalam waktu yang panjang
(distimia) maka orang tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik
diri dari pergaulan, karena ia kehilangan minat hampir disemua aspek
kehidupannya (Marsasina, 2016)
Depresi dapat digolongkan menjadi depresi ringan, depresi sedang, depresi
berat tanpa gejala psikotik dan depresi berat dengan gejala psikotik.
Penatalaksanaan pasien gangguan mood harus diarahkan kepada beberapa tujuan.
Pertama, keselamatan pasien harus terjamin. Kedua, kelengkapan evaluasi
diagnostik pasien harus dilaksanakan. Ketiga, rencana terapi bukan hanya untuk
gejala, tetapi kesehatan jiwa pasien kedepan juga harus diperhatikan. Selanjutnya
melalui terapi harus dapat menurunkan banyak stresor berat dalam pasien. Secara
keseluruhan, penatalaksanaan gangguan mood harus diserahkan kepada psikiater.
Remisi penuh akan dialami pasien dalam waktu empat bulan degan pengobatan
yang adekuat (Ismail & Siste, 2015).

1.2 Tujuan
Menambah pengetahuan mengenai gangguan mood episode depresif mulai
dari etiologi hingga penatalaksanaannya.

2
1.3 Manfaat
Menambah wawasan ilmu pengetahuan penulis dan masyarakat sekitar
mengenai gangguan suasana perasaan (mood) episode depresi.

3
BAB II
LAPORAN KASUS

1.1 Data Medis Pasien


A. Identitas Pasien :
1. Nama : Nn. RWN
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Usia : 23 tahun
4. No. RM : 2017 12 0051
5. Pekerjaan : Pegawai Swasta Klinik Kecantikan
6. Agama : Islam
7. Tanggal Berobat : 17 Juni 2019
8. Status Pernikahan : Belum Menikah
9. Pendidikan : S1
10. Alamat : Jl. Wolter Monginsidi, Samarinda
11. Tanggal Pemeriksaan : 17 Juni 2019
B. Identitas Penanggung Jawab :
1. Nama : Ny. D
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Hubungan : Ibu Kandung
C. Riwayat Psikiatri :
1. Riwayat Penyakit Sekarang
1) Autoanamnesis
Pasien datang ke Poli RSJD Atma Husada Mahakam dengan keluhan
gelisah, dan susah tidur ±5 hari yang terakhir. Keluhan ini bukan
merupakan hal yang baru bagi pasien karena sebelumnya pasien sudah
mulai berobat dari tahun 2017 dengan keluhan yang sama yaitu susah tidur
yang sudah dialami ±1 tahun. Pasien saat itu mengaku sejak tidak bisa
tidur pasien menjadi pemarah, sehingga emosi pasien susah untuk
dikontrol. Tetapi pasien mengatakan sering membanting barang, tetapi
tidak pernah hingga melukai diri sendiri dan orang lain.. Pasien mengaku
setiap mencoba ingin tidur pasien masih memikirkan skripsinya sehingga

4
pasien tidak dapat tidur nyenyak. Untuk aktifivitas sehari-hari pasien
masih bisa mandiri.
Pasien rutin kontrol ke Poli RSJD Atma Husada Mahakam dan
mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan.
2) Heteroanamnesis
-

2. Riwayat Penyakit Dahulu


-
3. Riwayat Penyakit Keluarga
-
4. Gambaran Premorbid
Saat pertama kali datang berobat pasien merupakan orang yang pemalu
dan tertutup untuk bercerita dengan keluarga jika memiliki masalah.
5. Faktor Pencetus
Skripsi yang belum selesai.
6. Genogram

Perempuan

Laki

Meninggal

Pasien

5
7. Riwayat Pribadi
1) Masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
- Riwayat prenatal, kehamilan ibu, dan kelahiran: pasien dikandung
selama 9 bulan. Pasien lahir secara spontan pervaginam. Berat dan
Panjang normal.
- Kebiasaan makan dan minum: pasien mendapatkan ASI selama 8
bulan dan tidak berbeda dengan anak-anak yang lain.
- Perkembangan awal: keluarga pasien mengatakan bahwa tumbuh
kembang pasien normal sesuai usia. Tidak ada terlmabat bicara
maupun berjalan.
2) Masa kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)
- Pasien menghabiskan masa kanak-kanak bersama kedua orang tua
dan adik
- Hubungan pasien dengan saudara cukup baik
- Pasien merupakan pribadi yang mendiam dan pemalu
3) Masa kanak-kanak akhir (Pubertas sampai remaja)
- Hubungan pasien dengan teman sebaya: hubungan dengan keluarga
dan teman sekitar baik. Pasien cenderung menyendiri
- Riwayat sekolah: pasien bersekolah hingga tamat S1 jurusan hukum.
Pasien memiliki masalah berkaitan dengan tugas akhir (skripsi)
4) Masa dewasa
- Riwayat pekerjaan
Setelah lulus S1 pasien bekerja di klinik kecantikan sebagai
customer service.
- Aktivitas social
Pasien akrab dengan tetangga sekitar rumah. Dan pasien akrab
dengan teman temannya
8. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum : Sakit Sedang
2) Kesadaran : Composmentis
3) Tanda vital : TD=100/70 mmHg, N=72x/menit,
RR= 20x/menit, t= 36,5oC

6
4) Kepala : Ikterus (-/-), sianosis (-/-), anemis (-/-)
5) Leher : Tidak terdapat pembesaran KGB
6) Dada : Simetris kiri & kanan
7) Jantung : S1S2 tunggal reguler, murmur (-)
8) Paru : Vesikular (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
9) Perut : Soefl, bising usus normal
10) Anggota gerak : Akral hangat, CRT <2 Detik
9. Status neurologis
1) GCS : E4 V5 M6
2) Refleks fisiologis : Tidak dievaluasi
3) Refleks patologis : Tidak dievaluasi
4) Meningeal sign : Tidak dievaluasi
10. Pemeriksaan Psikiatrik
1) Kesan Umum : Tampak rapi, kooperatif
2) Kontak : Verbal (+), visual (+)
3) Kesadaran : Komposmentis
4) Orientasi : Orientasi waktu, tempat, orang (baik)
5) Atensi/Konsentrasi : Atensi (+)
6) Emosi/Afek : Mood stabil
7) Proses Berpikir : Koheren
8) Intelegensi : Cukup
9) Persepsi : Halusinasi (-), Ilusi (-)
10) Psikomotor : Dalam batas normal
11) Kemauan : Activity Daily Living (ADL) mandiri
11. Wawancara Diagnostik Psikiatrik Tambahan
Pemeriksaan HDRS (Hamilton Depression Rating Scale)
SKORING HDRS
NO Aspek-Aspek HDRS Nilai
1 Keadaan perasaan depresi 2
2 Perasaan bersalah 0
3 Bunuh diri 2
4 Insomnia (initial) 2

7
5 Insomnia (middle) 2
6 Insomnia (late) 2
7 Kerja dan kegiatannya 2
8 Kelambanan kegelisahan/ agitasi 1
9 Kegelisahan/ agitasi 0
10 Ansietas somatic 0
11 Ansietas psikis 1
12 Gejala somatik gastrointestinal 0
13 Gejala somatik umum 0
14 Genital 0
15 Hipokondriasis 0
16 Kehilangan berat badan ( A+ B) 0
17 Insight (pemahaman diri) 0
18 Variasi lain 0
19 Depersonalisasi dan derealisasi 0
20 Gejala-gejala paranoid 0
21 Gejala-gejala obsesi dan kompulsi 0
Total 14
Interpretasi Depresi Sedang

Skor HDRS adalah 14, maka termasuk dalam kategori depresi sedang.

12. Diagnosis Multiaksial


Axis I : F.32.1
Axis II : Tidak ada diagnosis
Axis III : Tidak ada diagnosis
Axis IV : Masalah pendidikan (skripsi)
Axis V : GAF scale 80-71
13. Penatalaksanaan
1) Non farmakologi
- Psikoedukasi keluarga
- Psikoterapi suportif

8
2) Farmakologi
- Sandepril (Maprotiline) 0-0-50mg
14. Follow Up
19 Januari 2018
S : Cemas, sedih, kehilangan semangat hidup, makan (+), emosi (+),
menangis.
O : TD: 110/90
A : F32.1
P : Sandepril 0-0-50mg

19 Februari 2018
S : Kalau malam gelisah, pasien merasa emosi susah dikontrol.
O : TD: 80/50
A : F32.1
P : Sandepril 0-0-50mg, clobazam 5mg-0-0

21 Juni 2018
S :-
O : TD: 100/60
A : F32.1
P : Elizac 0-0-20mg, Risperidon 0-0-1mg, Alprazolam 0-0-0,125 mg

21 Juli 2018
S :-
O : TD: 90/60
A : F32.1
P : Elizac 0-0-20mg, Risperidon 0-0-1mg, Alprazolam 0-0-0,125 mg

19 November 2018
S : putus obat 2 bulan, emosi melonjak.
O : TD: 110/80
A : F32.1

9
P : Elizac 0-0-20mg, Risperidon 0-0-1mg, Alprazolam 0-0-0,125 mg

18 Desember 2018
S :-
O : TD: 110/60
A : F32.1
P : Elizac 0-0-20mg, Risperidon 0-0-1mg, Alprazolam 0-0-0,125 mg

18 Januari 2019
S :-
O : TD: 110/70
A : F32.1
P : Elizac 0-0-20mg, Risperidon 0-0-0,5mg, Alprazolam 0-0-0,125 mg

15 Februari 2019
S :-
O : TD: 90/60
A : F32.1
P : Elizac 0-0-20mg, Risperidon 0-0-0,5mg

15 Maret 2019
S :-
O : TD: 90/60
A : F32.1
P : Elizac 0-0-20mg, Risperidon 0-0-0,25mg

15 April 2019
S :-
O : TD: 90/60
A : F32.1
P : Elizac 0-0-20mg, Risperidon 0-0-0,25mg

10
22 April 2019
S : Gelisah, mual (+), susah tidur
O : TD: 100/70
A : F32.1
P : Elizac 0-0-20mg, Risperidon 0-0-0,5mg

15 Mei 2019
S :-
O : TD: 100/70
A : F32.1
P : Elizac 0-0-20mg, Risperidon 0-0-0,5mg

12 Juni 2019
S :-
O : TD: 110/80
A : F32.1
P : Elizac 0-0-20mg, Risperidon 0-0-0,5mg

17 Juni 2019
S : Gelisah, susah tidur
O : TD: 110/80
A : F32.1
P : Elizac 0-0-20mg, Risperidon 0-0-0,5mg

11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 DEFINISI
Gangguan mood atau gangguan afektif meliputi sekelompok besar
gangguan dengan mood patologis serta gangguan terkait mood yang
mendominasi gambaran klinisnya. Gangguan ini mengacu pada keadaan emosi
yang menetap, bukan hanya ekspresi eksternal (afektif) pada keadaan emosional
sementara. Gangguan mood paling baik dianggap sebagai sindrom yang terdiri
atas sekelompok tanda dan gejala yang bertahan selama berminggu-minggu
hingga berbulan-bulan, yang menunjukkan penyimpangan fungsi habitual
seseorang serta kecenderungan untuk kambuh dalam bentuk periodik atau siklik
(Sadock & Sadock, 2010).
Pasien dengan mood menurun menunjukkan hilangnya energi dan minat,
rasa bersalah, sulit berkonsentrasi, hilang nafsu makan, serta pikiran mengenai
kematian dan bunuh diri. Gejala atau tanda lainnya berupa perubahan tingkat
aktivitas, kemampuan kognitif, pembicaraan, serta fungsi vegetative yang hampir
selalu menimbulkan gangguan fungsi interpersonal, sosial, dan pekerjaan
(Sadock & Sadock, 2010).
Depresi adalah suatu gangguan perasaan hati dengan ciri sedih, merasa
sendirian, rendah diri, putus asa, biasanya disertai tanda–tanda retardasi
psikomotor atau kadang-kadang agitasi, menarik diri dan terdapat gangguan
vegetatif seperti insomnia dan anoreksia(Sadock & Sadock, 2014).

3.2 FAKTOR RISIKO


1) Usia
Onset depresi terjadi rata-rata pada usia sekitar 40 tahun-an, namun pada 50
persen kasus tidak jarang onset terjadi diantara usia 20-50 tahun. Gangguan
depresi berat dapat timbul pada masa anak atau lanjut usia (Sadock & Sadock,
2014).
2) Jenis Kelamin

12
Perempuan mempunyai predisposisi lebih yaitu sekitar 2:1 dalam prevalensi
depresi pada remaja setelah pubertas. Terdapat temuan yang kuat berdasarkan
penelitian secara epidemiologi dan klinis namun alasan perbedaan kerentanan
depresi berdasarkan jenis kelamin ini kemungkinan terkait dengan perubahan
hormon perempuan yang memengaruhi mood, kepekaan otak, dan respon terhadap
stres (Thapar, Collishaw, Pine, & Thapar, 2012).
3) Status Perkawinan
Paling sering terjadi pada orang yang tidak mempunyai hubungan
interpersonal yang erat atau pada mereka yang bercerai atau berpisah. Depresi
lebih rentan terjadi pada seseorang yang tidak menikah dan cerai dibandingkan
dengan seseorang yang menikah (Yan, Huang, Huang, Wu, & Qin, 2011)
4) Faktor Sosioekonomi dan Budaya
Tidak ditemukan kolerasi antara status sosioekonomi dengan gangguan
depresi berat. Depresi lebih sering terjadi di daerah pedesaan dibanding perkotaan
(Ismail & Siste, 2015).
5) Pendidikan
Terdapat hubungan yang signifikan pendidikan dengan depresi pada usia
dewasa-tua. Tingkat pendidikan berkaitan dengan kesehatan fisik yangbaik.
Penelitian di Inggris menyebutkan bahwa lansia yang hanya menamatkan
pendidikan dasar mempunyai risiko terhadap depresi 2,2 kali lebih besar
(Marsasina, 2016).

3.3 ETIOLOGI
3.3.1 Faktor Biologis
Neuroimaging
Berdasarkan berbagai penelitian yang berbeda terdapat hubungan yang
konsisten dan resiprokal antara daerah dorsokortikal serta ventrolimbik pada
depresi. Variasi kelainan dalam region ventromedial termasuk cingulate anterior
konsisten pada gangguan depresi. Terdapat pengecilan volume hipokampus pada
pasien depresi dibandingkan dengan yang normal (Marsasina, 2016).

Neurokimiawi

13
Terdapat peran neurotransmitter serotonin pada gangguan mood. Serotonin
disintesis dari asam amino esensial tryptophan dalam 2 tahap enzimatis.
Perubahan fungsi serotonergik otak menunjukkan perubahan fungsi tubuh dan
perilaku pada depresi seperti nafsu makan, fungsi seksual, sensitivitas nyeri, dan
temperatur tubuh. Kekurangan serotonin dapat mencetuskan depresi dan beberapa
pasien dengan impuls bunuh diri memiliki konsentrasi metabolit serotonin yang
rendah dalam cairan serebrospinal (Sadock & Sadock, 2010).
Bukti lain menunjukkan adanya keterlibatan reseptor prasinaps β 2-
adrenergik pada depresi, aktivasi reseptor ini menimbulkan penurunan jumlah
norepinefrin yang dilepaskan. Reseptor ini juga terletak pada neuron serotonergik
serta mengatur jumlah serotonin yang dilepaskan (Sadock & Sadock, 2010).
Aktivitas dopamine berkurang pada depresi. Dua teori terkini mengenai
dopamine dan depresi adalah bahwa jaras dopamine mesolimbic mungkin
mengalami disfungsi pada depresi dan bahwa reseptor dopamine D1 mungkin
hipoaktif pada depresi (Sadock & Sadock, 2010).

Regulasi Neuroendokrin
Hipotalamus merupakan pusat pengaturan aksis neuroendokrin dan juga
menerima berbagai input saraf melalui neurotransmitter amin biogenik. Berbagai
disregulasi neuroendoktrin dilaporkan pada pasien dengan gangguan mood,
sehingga regulasi aksis neuroendokrin yang abnormal merupakan akibat fungsi
neuron yang mengandung amin biogenik yang abnormal pula. Aksis
neuroendokrin utama yang dimaksud disini adalah aksis adrenal, tiroid, serta
hormone pertumbuhan.Sekitar 50% pasien yang mengalami depresi memiliki
tingkat kortisol yang meningkat. Sekitar sepertiga pasien dengan gangguan
depresif berat yang tidak memiliki aksis tiroid normal ditemukan memiliki respon
tirotropin dan hormone perangsang tiroid (TSH) yang tumpul terhadap hormone
pelepas tirotropin (TRH). Pasien depresi memiliki respon stimulasi pelepasan
hormone pertumbuhan oleh tidur yang tumpul (Sadock & Sadock, 2010).

3.3.2 Faktor Genetik


Studi keluarga, studi anak kembar dan studi anak adopsi dari gangguan

14
depresi unipolar pada umumnya menunjukkan risiko mendasar dari komponen
yang dapat diturunkan, namun gangguan bipolar mempunya sifat menurun yang
tinggi dibandingkan depresi unipolar berulang (Marsasina, 2016).

3.3.3 Faktor Psikososial


Peristiwa Hidup dan Stres Lingkungan
Peristiwa hidup yang penuh tekanan lebih sering timbul mendahului episode
gangguan mood yang mengikuti.Stress yang mendahului episode pertama
mengakibatkan perubahan yang bertahan lama pada biologi otak. Perubahan ini
dapat menghasilkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan
system pemberian sinyal intraneuron, hilangnya neuron, dan berkurangnya kontak
sinaps yang berlebihan.Sehingga penderita memiliki risiko tinggi mengalami
episode gangguan mood berikutnya, bahkan tanpa stressor eksternal (Sadock &
Sadock, 2010).

Faktor Kepribadian
Tidak ada satupun ciri bawaan atau jenis kepribadian yang secara khas
menjadi predisposisi depresi. Semua orang dengan pola kepribadian apapun dapat
mengalami depresi di bawah situasi yang sesuai (Sadock & Sadock, 2010).

3.4 DIAGNOSIS
Berikut kriteria diagnosis episode depresif menurut PPDGJ-III
F32 Episode Depresif
Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat)
- Afek depresif,
- Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
- Berkurangnya energi, mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja
sedikit saja) dan menurunnya aktivitas (Maslim, 2013).
Gejala lainnya :
(a) Konsentrasi dan perhatian berkurang;
(b) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
(c) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna;

15
(d) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis;
(e) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri;
(f) Tidur terganggu;
(g) Nafsu makan berkurang.
Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan
masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, namun periode
yang lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala sangat berat dan berlangsung
cepat. Kategori episode depresif ringan (F32.0), sedang (F32.1), dan berat (F32.2)
hanya digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama).Episode depresif
berikutnya harus diklasifikasikan di bawah salah satu diagnosis gangguan depresif
berulang (F33.-) (Maslim, 2013).

F32.0 Episode Depresif Ringan


 Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti
disebut diatas;
 Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya: (a) sampai dengan
(g).
 Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya.
 Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2
minggu
 Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa
dilakukannya.

F32.1 Episode Depresif Sedang


 Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti pada
episode depresi ringan;
 Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya;
 Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu.
 Menghadapi kesulitan nyata utnuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan
dan urusan rumah tangga.

F32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik

16
 Semua 3 gejala utama depresi harus ada.
 Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa
diantaranya harus berintensitas berat.
 Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang
mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu utnuk
melaporkan banyak gejalanya secara rinci.
Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap episode
depresif berat masih dapat dibenarkan.
 Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2
minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka
masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang
dari 2 minggu.
 Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat
terbatas.

F32.3 Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik


 Episode depresi berat yang memenuhi kriteria meurut F32.2 tersebut
diatas;
 Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya
melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang
mengancam, dan pasien merasa bertanggungjawab atas hal itu. Halusianasi
auditorik atau olfatorik biasanya berupa suara yang menghina atau
menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi psikomotor
yang berat dapat menuju pada stupor.
Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi
atau tidak serasi dengan afek (mood-congruent).

3.5 TATALAKSANA
Penatalaksanaan pasien gangguan mood harus diarahkan kepada beberapa
tujuan. Pertama, keselamatan pasien harus terjamin. Kedua, kelengkapan evaluasi
diagnostik pasien harus dilaksanakan. Ketiga, rencana terapi bukan hanya untuk

17
gejala, tetapi kesehatan jiwa pasien kedepan juga harus diperhatikan. Walaupun
penatalaksanaan farmakoterapi dan psikoterapi harus dipikirkan pada pasien,
peristiwa kehidupan yang penuh ketegangan dapat meningkatkan angka
kekambuhan pasien dengan gangguan mood. Selanjutnya melalui terapi harus
dapat menurunkam banyak stresor berat dalam pasien. Secara keseluruhan,
penatalaksanaan gangguan mood harus diserahkan kepada psikiater. Remisi penuh
akan dialami pasien dalam waktu empat bulan degan pengobatan yang adekuat
(Ismail & Siste, 2015).

3.5.1 Rawat inap


Indikasi yang jelas untuk rawat inap adalah kebutuhan prosedur diagnosis,
risiko bunuh diri atau membunuh, dan kemampuan pasien yang menurun drastis
untuk mendapatkan makanan dan tempat tinggal. Riwayat gejala yang
berkembang cepat serta rusaknya sistem dukungan pasien yang biasa juga
merupakan indikasi rawat inap. Pasien dengan gangguan mood sering tidak ingin
masuk rumah sakit dengan sukarela dan mungkin harus dipaksa masuk (Sadock &
Sadock, 2014).

3.5.2 Terapi keluarga


Terapi keluarga tidak umum digunakan sebagai terapi primer untuk
gangguan depresi berat, tetapi meningkatkan bukti klinis dapat membantu pasien
dengan gangguan mood untuk mengurangi dan menghadapi stres dan untuk
mengurangi adanya kekambuhan. Terapi keluarga diindikasikan untuk gangguan
yang membahayakan perkawinan pasien atau fungsi keluarga atau jika gangguan
mood didasari atau dapat ditangani oleh situasi keluarga. Terapi keluarga menguji
peran pasien gangguan mood pada seluruh keluarga, juga menguji peran pasien
gangguan mood pada seluruh keluarga, juga menguji peran dari keluarga untuk
menangani gejala pasien(Ismail & Siste, 2015).

3.5.3 Farmakoterapi
Gejala pertama yang menjadi penanganan adalah sulit tidur dan gangguan
dalam pola makan. Gejala lainnya yang dapat timbul adalah mengamuk, cemas,

18
dan rasa putus asa. Target gejala lainnya termasuk energy menurun, kurang
konsentrasi, tidak berdaya, dan menurunnya libido.
Obat yang biasa digunakan dalam terapi depresi adalah golongan SSRIs,
yang merupankan obat pilihan efektif, mudah digunakan, dan relative kurang efek
samping meskipun dalam dosis tinggi. Contoh SSRIs yang sering digunakan
misalnya, Floxetin, Paroxetine, dan Sertralin. Antidepresan golongan lain
misalnya bupropion, venlafaxine, nefazodone (serzone) dan mirtazapine
(remeron), menunjukkan secara klinis hasil yang sama efektif dengan obat
terdahulu tetapi lebih aman dan toleransinya lebih baik. Obat-obatan tersebut
cenderung lebih aman diibandingkan trisiklik, tetrasiklik, dan MAOIs, dan
menunjukkan efektifitas pada uji klinik. Obat golongan trisiklik dan tetrasiklik,
misalnya trazadone, dan mirtazapine dapat menyebabkan sedasi. Selain itu
terdapat juga golongan MAOIs, misalnya Troamfetamin dan Metilfenidat
mungkin menghasilkan perbaikan mood yang cepat (dalam minggu pertama) dan
diindikasikan pemantauan yang ketat.

Edukasi pasien yang adekuat tentang kegunaan antidepresan sebagai hal


penting untuk kesuksesan terapi termasuk pemilihan obat dan dosis yang paling
sesuai. Ketika mengenalkan penggunaan obat kepada pasien, dokter perlu
menekankan gangguan depresi berat adalah kombinasi dari faktor biologi dan
psikologi; kedua-duanya mendapatkan manfaat dengan terapi pengobatan. Dokter
juga harus menekankan kepada pasien tidak akan menjadi ketergantungan dengan
obat antidepresan karena obat tidak memberikan kepuasan segera dan dosis obat
akan diturunkan secara perlahan-lahan sesuai dengan evaluasi gejala.

Pada pemberian antidepresan, obat akan memperlihatkan efek


antidepresan yang optimal dalam 3 sampai 4 minggu. Timbulnya efek samping
menunjukkan obat bekerja, tetap efek samping yang timbul ini harus dijelaskan
secara detail. Sebagai contoh, beberapa pasien yang meminum antidepresan
golongan SSRIs menjadi gelisah, mual dan muntah sebelum adanya perbaikan
gejala. Efek samping berkurang seiring berjalannya waktu. Dengan obat trisiklik
dan MAOis, dokter akan menjelaskan kepada pasien bahwa gejala yang akan
membaik lebih awal adalah adanya perbaikan tidur dan selera makan, yang diikuti

19
oleh perbaikan pada perasaan kurang energy, dan terakhir perasaan depresi,
untungnya hal terakhir merupakan gejala yang terakhir muncul. Apabila pada 3
minggu setelah pemberian obat antidepresan pasien belum memperlihatkan
perbaikan gejala atau perbaikan gejala kurang dari 20% maka perlu mengganti
antidepresan dengan antidepresan golongan lainnya. Namun setelah 3-6 minggu
pemberian antidepresan hanya didapatkan respon parsial, maka dosis obat harus
terus dinaikkan sampai dosis maksimal atau dengan pemberian augmentasi,
misalnya dengan litium atau psikostimulan, yang terbukti ada penelitian
mempercepat perbaikan gejala dalam waktu 1-2 minggu pada 25% pasien (Ismail
& Siste, 2015).

20
Gambar 2.1 Algoritma terapi depresi tanpa komplikasi (Marsasina, 2016)
3.5.4 Psikoterapi
Penggunaan psikoterapi direkomendasikan sebagai pilihan pengobatan
awal untuk pasien gangguan depresi ringan sampai sedang, dengan bukti klinis
yang mendukung penggunaan terapi kognitif-perilaku, psikoterapi interpersonal,
psikodinamik terapi, dan terapi pemecahan masalah pada masing masing individu
maupun berkelompok. Faktor-faktor dilakukannya intervensi psikoterapi adalah
adanya stres psikososial yang signifikan, konflik intrapsikis, kesulitan
interpersonal, gangguan pada axis II, ketersediaan pengobatan, atau yang
keinginan pasien (APA, 2015).
 Terapi kognitif-perilaku
Pendekatan kognitif mengajak pasien secara langsung mengenali distorsi
kognitif dan pendekatan perilaku, mengenali gejala somatik secara langsung.
Teknik utama yang digunakan adalah pendekatan behavioral adalah relaksasi dan
biofeedback (Saddock & Saddock, 2010).
 Terapi suportif
Pasien diberikan reassurance dan kenyamanan, digali potensi-potensi yang
ada dan belum tampak, didukung egonya agar lebih bisa beradaptasi optimal dan
fungsi sosial dan pekerjaannya (Saddock & Saddock, 2010).
 Psikoterapi berorientasi tilikan
Terapi ini mengajak pasien untuk mencapai penyingkapan konflik bawah
sadar, menilik egostrengh, relasi objek, serta keutuhan self pasien (Saddock &
Saddock, 2010).
Pada wanita yang sedang hamil, ingin hamil, atau sedang menyusui, terapi
psikoterapi tanpa farmakoterapi dipertimbangkan sebagai pilihan awal dan
tergantung pada tingkat keparahan gejala. Pertimbangan dalam memilih jenis dari
psikoterapi mencakup tujuan, respon positif pada terapi psikoterapi sebelumnya,
keinginan pasien, dan ketersediaan dokter ahli dalam pendekatan psikoterapi yang
spesifik (APA, 2015)
Banyak penelitian telah membuktikan bahwa psikoterapi merupakan terapi
yang bermakna untuk depresi. Pemberian psikoterapi dan obat, lebih efektif.
Terapi penggabungan ini lebih baik hasilnya daripada hanya pemberian obat saja.

21
Pasien juga dapat bertahan lebih lama menggunakan obat bila ia dalam proses
psikoterapi. Hal yang perlu diingat pada pemilihan jenis psikoterapi adalah
tentang kondisi pasien. Bila pasien dalam kondisi depresi berat, terlebih dengan
ciri psikotik, yang dapat dilakukan hanya psikoterapi suportif, jangan menghibur
pasien atau langsung diberi nasihat karena pasien akan bertambah sedih bila tidak
mampu melaksanakan nasihat dokternya. Bila pasien sudah lebih tenang, tidak
dipengaruhi gejala psikotiknya, dapat dipertimbangkan pemberian psikoterapi
kognitif, atau kognitif-perilaku atau psikoterapi dinamik (Ismail & Siste, 2015).

3.5.5 Electrocolvulsice Therapy


Electroconvulsive Therapy (ECT) biasanya digunakan jika pasien tidak
berespon terhadap farmakoterapi dengan dosis yang sudah adekuat atau tidak
dapat mentoleransi farmakoterapi atau pada tampilan klinis yang sangat berat
yang memperlihatkan perbaikan sangatcepat dengan penggunaan ECT (Ismail &
Siste, 2015).

3.6 PROGNOSIS
Gangguan depresi berat bukan merupakan gangguan yang ringan.
Biasanya cenderung untuk menjadi kronik dan kambuh. Episode pertama
gangguan depresi berat yang dirawat di rumah sakit sekitar 50 persen angka
kesembuhannya pada tahun pertama. Persentase pasien untuk sembuh setelah
perawatan berulang berkurang seiring berjalannya waktu. Banyak pasien yang
tidak pulih akan menderita gangguan distimik. Kekambuhan depresi berat juga
sering terjadi. Sekitar 25 persen pada 6 bulan setelah keluar dari rumah sakit,
sekitar 30 sampai 50 persen dalam 2 tahun pertama, dan sekitar 50 sampai 75
persen dalam periode 5 tahun. Insiden relaps berkurang pada pasien yang
melanjutkan terapi psikofarma profilaksis dan pasien yang hanya mempunyai satu
atau dua episode depresi. Secara umum, semakin sering pasien mengalami
episode depresi, semakin memperburuk keadaannya (Sadock & Sadock, 2014).
Indikator prognosis adalah identifikasi indikator prognosis baik dan buruk pada
depresi berat. Pasien mempunyai kemungkinan prognosis baik jika episode
ringan, tidak ada gejala psikotik, singkatnya waktu rawat inap, indikator

22
psikososial meliputi mempunyai teman akrab selama remaja, fungsi keluarga
stabil, lima tahun sebelum sakit secara umum fungsi sosial baik. Sebagai
tambahan, tidak ada komorbiditas dengan gangguan psikiatri lain, tidak lebih dari
sekali rawat inap dengan depresi berat, onsetnya awal pada usia lanjut. Pasien
mempunyai kemungkinan prognosis buruk jika depresi berat bersamaan dengan
distimik, penyalahgunaan alkohol dan zat lain, ditemukan gejala gangguan cemas,
ada riwayat lebih dari sekali episode depresi sebelumnya (Ismail & Siste, 2015)

23
BAB III
PEMBAHASAN

No. TEORI FAKTA

Etiologi

FAKTOR RISIKO  Usia pasien 23 tahun


 Usia  Jenis kelamin perempuan
 Jenis Kelamin  Pasien belum pernah menikah
 Status Perkawinan  Status sosioekonomi menengah

 Faktor Sosioekonomi dan  Pasien seorang Pendidikan S1

Budaya  Pasien memiliki kepribadian

 Pendidikan pendiam, pemalu dan cenderung

ETIOLOGI tertutup ketika ada masalah

 Faktor Biologis
 Faktor Genetik
 Faktor Psikososial
- Peristiwa Hidup dan Stres
Lingkungan
- Faktor Kepribadian

Anamnesis dan Pemeriksaan Psikiatri

Berikut kriteria diagnosis episode - Sulit tidur dimalam hari


- Mudah gelisah
depresif menurut PPDGJ-III
- Mudah marah dan membanting
F32 Episode Depresif barang
- Tidak ada kemauan untuk
Gejala utama (pada derajat ringan, bekerja dan bersosialisasi
dengan tetangga dan teman
sedang, dan berat) temannya
 Afek depresif, - Lebih cenderung menggurung
diri di rumah
 Kehilangan minat dan - Pasien memiliki kepribadian

24
kegembiraan, dan pemalu dan cenderung tertutup
ketika ada masalah
 Berkurangnya energi, mudah - Keluhan sudah mulai terlihat
lelah (rasa lelah yang nyata dari bulan Desember 2017.
Pemeriksaan Psikiatrik
sesudah kerja sedikit saja) dan
menurunnya aktivitas 1) Kesan Umum: Tampak rapi,
kooperatif
(Maslim, 2013).
2) Kontak: Verbal (+), visual (+)
Gejala lainnya : 3) Kesadaran : Komposmentis
4) Orientasi : Orientasi waktu,
 Konsentrasi dan perhatian tempat, orang (baik)
berkurang; 5) Atensi/Konsentrasi: Atensi (+)
6) Emosi/Afek: Mood stabil
 Harga diri dan kepercayaan
7) Proses Berpikir: Koheren
diri berkurang; 8) Intelegensi : Cukup
 Gagasan tentang rasa bersalah 9) Persepsi: Halusinasi (-), Ilusi (-)
10) Psikomotor: Dalam batas normal
dan tidak berguna;
11) Kemauan: Activity Daily Living
 Pandangan masa depan yang (ADL) mandiri
suram dan pesimistis;
 Gagasan atau perbuatan
membahayakan diri atau
bunuh diri;
Pemeriksaan HDRS (Hamilton
 Tidur terganggu; Depression Rating Scale):Skor
 Nafsu makan berkurang. HDRS adalah 14, maka termasuk
dalam kategori depresi sedang
Untuk episode depresif dari
ketiga tingkat keparahan tersebut
diperlukan masa sekurang-
kurangnya 2 minggu untuk
penegakan diagnosis, namun
periode yang lebih pendek dapat
dibenarkan jika gejala sangat berat
dan berlangsung cepat. Kategori
episode depresif ringan (F32.0),
sedang (F32.1), dan berat (F32.2)
hanya digunakan untuk episode

25
depresi tunggal (yang
pertama).Episode depresif
berikutnya harus diklasifikasikan di
bawah salah satu diagnosis
gangguan depresif berulang (F33.-)
(Maslim, 2013).

F32.1 Episode Depresif Sedang

 Sekurang-kurangnya harus
ada 2 dari gejala utama
depresi seperti pada episode
depresi ringan;
 Ditambah sekurang-
kurangnya 3 (dan sebaiknya
4) dari gejala lainnya;
 Lamanya seluruh episode
berlangsung minimum
sekitar 2 minggu.
 Menghadapi kesulitan nyata
utnuk meneruskan kegiatan
sosial, pekerjaan dan urusan
rumah tangga.

Penatalaksanaan

Obat yang biasa digunakan Pasien diberikan terapi:


dalam terapi depresi adalah
15 Des 2017:
golongan SSRIs, yang merupankan
obat pilihan efektif, mudah - Sandepril (Maprotiline) 0-0-50mg
digunakan, dan relative kurang efek

26
samping meskipun dalam dosis 21 Jun 2018:
tinggi. Contoh SSRIs yang sering
 Elizac 0-0-20mg
digunakan misalnya, Floxetin,
 Risperidon 0-0-1mg
Paroxetine, dan Sertralin.
 Alprazolam 0-0-0,125 mg
Antidepresan golongan lain
misalnya bupropion, venlafaxine,
nefazodone (serzone) dan
mirtazapine (remeron),
menunjukkan secara klinis hasil
yang sama efektif dengan obat
terdahulu tetapi lebih aman dan
toleransinya lebih baik. Obat-
obatan tersebut cenderung lebih
aman diibandingkan trisiklik,
tetrasiklik, dan MAOIs, dan
menunjukkan efektifitas pada uji
klinik. Obat golongan trisiklik dan
tetrasiklik, misalnya trazadone, dan
mirtazapine dapat menyebabkan
sedasi. Selain itu terdapat juga
golongan MAOIs, misalnya
Troamfetamin dan Metilfenidat
mungkin menghasilkan perbaikan
mood yang cepat (dalam minggu
pertama) dan diindikasikan
pemantauan yang ketat.

27
DAFTAR PUSTAKA

American Pyschiatric Association. (2015). Practice guideline for the treatment of


patients with major depressive disorder, third edition. United States: National
Guideline Clearing House.
Ismail, R. I., & Siste, K. (2015). Gangguan Depresi. In S. D. Elvira, & G.
Hadisukanto, Buku Ajar Psikiatri (p. 228). Jakarta: Badan Penerbit FK UI.
Marsasina A. (2016). Gambaran dan Hubungan Tingkat Depresi dengan Faktor-
Faktor yang Mempengaruhi pada Pasien Rawat Jalan Puskesmas. Jurnal
Undip. 2016, 29-33
Maslim, R. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III dan
DSM-5. Jakarta: PT. Nuh Jaya.
Sadock, B. J., & Sadock, V. A. (2010). Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis.
Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran.
Thapar, A., Collishaw, S., Pine, D. S., & Thapar, A. K. (2012). Depression in
adolescence. The Lancet, 379(9820), 1056–1067.

28