Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN DIABETES SELF CARE MANAGEMENT DENGAN

DIABETIC PERIPHERAL NEUROPATHY PADA PASIEN


DIABETES MELITUS TIPE 2
I Gede Patria Prastika1, Ni Made Wedri2, I Wayan Sukawana3
1
Prodi D-IV Keperawatan, Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Denpasar
Denpasar, Indonesia

e-mail: igd.patriaprastika@gmail.com1

ABSTRAK
Diabetic peripheral Neuropathy (DPN) merupakan salah satu komplikasi mikrovaskuler
dari Diabtes Melitus (DM) yang menimbulkan kerusakan fungsi saraf pada tubuh
bagian perifer. Tingginya angka kejadian DPN disebabkan karena kontrol glikemik
yang buruk. Kontrol glikemik dapat dicapai dengan melakukan diabetes self care
management (DSCM). Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara DSCM
dengan DPN pada pasien DM tipe 2. Penelitian dilakukan di Puskesmas Klungkung I
pada tahun 2019. Rancangan penelitian menggunakan analitik korelasional dengan
pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 51 orang dengan
menggunakan teknik purposive sampling. DSCM diukur menggunakan kuesioner
SDSCA dan DPN diukur dengan menggunakan kuesioner DNS. Hasil penelitian
menunjukkan sebanyak 62,7% responden berjenis kelamin perempuan, 41,2% tidak
pernah sekolah, 64,7% tidak bekerja, rata-rata usia 57,69 tahun, dan rata-rata durasi
DM 7,18 tahun. Rata-rata skor DSCM responden berada pada kategori kurang. Sebagian
besar responden tergolong kedalam neuropati ringan. Hasil uji korelasi pearson
menghasilkan nilai r -0,692 dan p value 0,000 (α=0,050). Kesimpulan dari penelitian ini
adalah ada hubungan yang kuat, negatif, dan signifikan antara DSCM dengan DPN.
Kata kunci : diabetes self care management, diabetic peripheral neuropathy, kontrol
glikemik, diabetes melitus tipe 2.

ABSTRACT
Diabetic peripheral neuropathy (DPN) is one of the microvascular complications of
Diabetes Mellitus (DM) which causes the nerves dysfunction on the peripheral side. The
high incidence of DPN is caused by poor glycemic control. Glycemic control can be
achieved by doing diabetes self care management. The purpose of this study to
determine the correlation between DSCM and DPN in type 2 DM. The study has done
at Klungkung Public Health Center I in 2019. Research design used correlational
analytic with cross sectional approach. Number of samples were 51 people by using
purposive sampling. DSCM was measured by using SDSCA questionnaire and DPN
was measured by using DNS questionnaire. The result showed that 62.7% of the
respondents were female, 41.2% never attended school, 64.7% didn’t work, the average
age was 57.69 years, and the average duration of having DM was 7.18 years. The
average DSCM score of respondents was in the less category. Most respondents belong
to mild neuropathy. Pearson correlation test showed that the result of r value was -
0.692 and p value was 0.000 (α = 0.050). According to the results, it can be concluded
that there was a strong, negative, and significant correlation between DSCM and DPN.
Keywords: diabetes self care management, diabetic peripheral neuropathy, glycemic
control, type 2 diabetes mellitus.

Jurnal Gema Keperawatan | 1


PENDAHULUAN Penyandang DM yang terkena
Diabetes Melitus (DM) DPN sangat berisiko mengalami ulkus
merupakan salah satu masalah kaki. Ulkus kaki bila tidak dilakukan
kesehatan terbesar di dunia pada abad perawatan dengan baik akan
ke-21. International Diabetes Federation menyebabkan timbulnya infeksi, yang
(IDF) menyatakan jumlah penderita berakhir dengan tindakan amputasi (5).
DM usia 20-79 tahun pada tahun 2017 Untuk mencegah maupun
sejumlah 425 juta jiwa, dan dipredikisi memperlambat perkembangan DPN,
meningkat menjadi 629 juta jiwa pada dapat dilakukan dengan melakukan
tahun 2045 (1). Jumlah penderita DM di kontrol glikemik (7). Kontrol glikemik
Indonesia pada tahun 2017 sebanyak dapat dicapai dengan melakukan
10,3 juta jiwa, diperkirakan meningkat pengelolaan terhadap perubahan
menjadi 16,7 juta jiwa pada tahun 2045. perilaku perawatan diri terhadap
Tingginya angka kejadian DM penyakitnya, salah satunya adalah
menyebabkan pada tahun 2017 dengan melakukan diabetes self care
Indonesia menempati urutan ke enam management (DSCM) (8). DSCM yang
dengan jumlah penderita DM tertinggi dilakukan oleh klien meliputi minum
setelah China, India, United States, obat secara teratur, pengaturan pola
Brazil dan Mexico (1). Berdasarkan makan (diet), latihan fisik (exercise),
data Dinas Kesehatan Provinsi Bali, monitoring glukosa darah, melakukan
kasus DM juga mengalami peningkatan perawatan kaki secara teratur, dan status
dari tahun ke tahun. Data menunjukan merokok (8–11).
penderita DM pada tahun 2016 tercatat Sikap preventif dalam melakukan
12.553 jiwa, dan pada tahun 2017 pencegahan komplikasi DM, termasuk
mencapai 16.254 (2). Di kabupaten DPN dapat dilakukan apabila kadar
Klungkung, jumlah penderita DM tahun glukosa darah terkontrol sedini
2017 mencapai 3.955 jiwa, dan pada mungkin. Adapun kontrol glikemik
tahun 2018 mengalami peningkatan dapat dilakukan dengan cara melakukan
menjadi 5.195 jiwa (3). Sementara itu, DSCM. Oleh karena itu, penelitian ini
jumlah penyandang DM di wilayah bertujuan untuk meneliti hubungan
kerja Puskesmas Klungkung I pada DSCM dengan DPN pada pasien DM
tahun 2018 adalah 611 jiwa, yang terdiri tipe 2 di Puskesmas Klungkung I.
dari 272 orang laki-laki, dan 339 orang
perempuan (4). METODE
Apabila tidak dikelola dengan Penelitian ini merupakan
baik, DM akan menyebabkan berbagai penelitian kuantitatif non eksperimental.
komplikasi. Salah satu komplikasi Rancangan penelitian yang digunakan
kronis yang paling sering terjadi adalah adalah korelasional, dengan pendekatan
kerusakan saraf (neuropati), dimana cross sectional. Populasi dalam
lebih dari 60% penderita diabetes akan penelitian ini adalah semua pasien DM
mengalami komplikasi ini (5). Diabetic tipe 2 yang mengalami DPN di wilayah
peripheral neuropathy (DPN) adalah kerja Puskesmas Klungkung I. Sampel
bentuk paling umum dari neuropati dalam penelitian ini berjumlah 51 orang
diabetes yang mengacu pada kerusakan dengan menggunakan teknik purposive
saraf perifer, terutama di kaki pada sampling. Data yang dikumpulkan
penderita DM (6). Menurut IDF, adalah data primer dengan
prevalensi dari DPN berkisar antara 16 menggunakan metode wawancara. Data
– 66% (1). DSCM diukur menggunakan kuesioner

Jurnal Gema Keperawatan | 2


The Summary of Diabetes Self Care 1 Bekerja 18 35,3
Activities (SDSCA) dan data DPN 2 Tidak 33 64,7
diukur dengan menggunakan kuesioner Bekerja
Diabetic Neuropathy Symptom (DNS). Total 51 100,0
Teknik analisa data yang digunakan
yaitu analisis univariat dan analisis Tabel 1 menunjukkan bahwa
bivariat. Data yang dianalisis univariat sebagian besar responden berjenis
meliputi usia, jenis kelamin, durasi DM, kelamin perempuan, tidak pernah
pendidikan, status pekerjaan, DSCM, sekolah, dan tidak bekerja. Responden
dan DPN. Data jenis kelamin, yang berjenis kelamin perempuan
pendidikan, dan status pekerjaan sebanyak 32 orang (62,7%). Hal ini
termasuk data kategorik, sehingga sejalan dengan penelitian yang
dianalisis dengan statistik deskriptif, dilakukan oleh Javed, yang
yaitu menggunakan distribusi frekuensi mendapatkan hasil DPN lebih banyak
dan dijabarkan persentase dari masing- dialami oleh perempuan, yaitu sebanyak
masing variabel. Untuk data usia, durasi 68 orang (54,4%) (12). Hal ini sesuai
DM, DSCM, dan DPN termasuk data dengan teori yang menyatakan bahwa
numerik, oleh karena itu data yang neuropati pada diabetisi perempuan
dijabarkan yaitu mean, median, modus, dikaitkan dengan adanya hormon
standar deviasi, dan minimal-maksimal. estrogen. Secara hormonal, estrogen
Semua data disajikan dalam bentuk akan menyebabkan perempuan lebih
tabel. Untuk analisis bivariat, data banyak terkena neuropati akibat
DSCM dan DPN dianalisis penyerapan iodium pada usus
menggunakan korelasi pearson, karena terganggu, sehingga mengakibatkan
telah memenuhi syarat uji parametrik, proses pembentukan serabut mielin
yaitu data harus berdistribusi normal. saraf terganggu, yang nantinya akan
memicu terjadi neuropati (13,14).
HASIL DAN PEMBAHASAN Dari tabel 1, dapat diketahui
Tabel 1 bahwa sebagian besar responden tidak
Karakteristik Responden berdasarkan pernah sekolah, yaitu sebanyak 21
Data Demografi orang (41,2%). Sejalan dengan
penelitian Wang, yang mendapatkan
No Karakteristik f % hasil dari 110 orang yang mengalami
Jenis kelamin DPN, 48,2% orang tidak pernah
1 Laki-Laki 19 37.3 menjalani pendidikan formal (15).
2 Perempuan 32 62,7 Pada dasarnya, penderita DM
Total 51 100,0 yang berpendidikan rendah cenderung
Pendidikan tidak memiliki banyak pengetahuan
1 Tidak 21 41,2 mengenai cara pencegahan serta
Sekolah mengontrol pola hidup sehat sehari-hari
2 SD/Sederajat 18 35,3 agar tidak mengalami komplikasi.
3 SMP/Sederat 6 11,8 Dengan pengetahuan yang cukup akan
4 SMA/SMK/ 5 9,8 menjadi modal perubahan sikap dan
Sederajat gaya hidup yang nantinya diharapkan
5 Perguruan 1 2,0 dapat meningkatkan kepatuhan
Tinggi manajemen DM sehingga akan
Total 51 100,0 meningkatkan kualitas hidup dan
Status Pekerjaan mencegah komplikasi DM (16).

Jurnal Gema Keperawatan | 3


Tabel 1 juga menunjukkan mengalami berat badan berlebih (18).
responden dalam penelitian ini sebagian Pekerjaan yang dimiliki juga akan
besar tidak bekerja, yaitu sebanyak 33 memengaruhi jumlah pendapatan yang
orang (64,7%). Sejalan dengan diperoleh. Penelitian oleh Bai,
penelitian Hutapea, yang mendapatkan mendapatkan hasil individu dengan
hasil 39,8% penderita neuropati pendapatan yang kurang memiliki skor
berstatus pensiunan, dan hanya sebagian perilaku perawatan diri yang jauh lebih
kecil yang bekerja (17). Ketika buruk daripada yang berpenghasilan
seseorang tidak bekerja, maka akan tinggi (19). DM yang tidak dilakukan
menyebabkan kurangnya latihan fisik perawatan dengan baik inilah yang
sehingga jumlah timbunan lemak dalam nantinya akan menyebabkan berbagai
tubuh tidak akan berkurang dan berisiko komplikasi, termasuk DPN (5).

Tabel 2
Karakteristik Responden berdasarkan Usia dan Durasi DM

Karakteristik n Mean Median Modus SD Minimal-Maksimal


Usia 51 57,69 59,00 63 6,250 45-65
Durasi DM 51 7,18 7,00 7 1,584 5-10

Tabel 2 menunjukkan rentang usia nutrisi ke jaringan mengalami


responden adalah 45-65 tahun, dengan penurunan, yang nantinya
usia rata-rata adalah 57,69 tahun. Hal mengakibatkan terjadinya iskemia dan
ini sejalan dengan penelitian Rosyida dalam waktu yang lama akan terjadi
dan Safitri, yang menemukan bahwa neuropati (22,23).
kelompok usia yang paling banyak Tabel 2 juga menunjukkan rata-
mengalami DPN adalah kelompok usia rata durasi menderita DM adalah 7,18
dewasa tengah (45-65 tahun) (20). tahun. Sejalan dengan penelitian
Penelitian serupa juga menyatakan Katulanda, yang mendapatkan rata-rata
neuropati diabetik lebih banyak durasi DM pasien dengan DPN adalah
ditemukan pada usia ≥ 55 tahun, dengan 7,8 tahun (24). Berdasarkan teori yang
rata-rata usia penderita adalah 57 tahun dikemukakan oleh Vincent, tingkat
(21). keparahan dari neuropati dapat
Penuaan merupakan proses meningkat sejalan dengan lamanya
fisiologis yang dihubungkan dengan menderita DM (25). Hal ini terjadi
perubahan anatomi dan fisiologi semua akibat dari hiperglikemia persisten yang
sistem dalam tubuh, termasuk pada sel berkepanjangan akan menyebabkan
saraf. Peningkatan usia akan aktivitas jalur poliol meningkat, yaitu
merangsang proses degenerasi dan aktivasi enzim aldose-reduktase yang
menyebabkan kerusakan sel saraf yang merubah glukosa menjadi sorbitol.
memicu terjadinya neuropati. Peningkatan sintesis sorbitol dapat
Kerusakan saraf tersebut disebabkan mengakibatkan terhambatnya
karena terjadi perubahan pada dinding mioinositol masuk ke dalam sel saraf
pembuluh darah, di mana terjadi yang dapat menimbulkan stres oksidatif
penebalan pada lapisan endotel. dan merangsang jalur-jalur lainnya yang
Perubahan tersebut menyebabkan menyebabkan kerusakan saraf dan
kekakuan pada pembuluh darah, endotel pembuluh darah (23).
sehingga transportasi oksigen maupun

Jurnal Gema Keperawatan | 4


Tabel 3
Skor DSCM dan Skor DPN Responden

Variabel n Mean Median Modus SD Minimal-Maksimal


Skor DSCM 51 32,96 31,00 31 11,972 15-57
Skor DPN 51 2,14 2,00 1 1,059 1-4

Berdasarkan tabel 3, rata-rata skor Penelitian di Semarang juga


DSCM responden adalah 32,96. mendapatkan hasil yang serupa, yaitu
Kategori skor DSCM dapat responden yang mengalami neuropati
digolongkan menjadi 3 kelompok yaitu: ringan lebih banyak dibandingkan
baik : n ≥ 66, cukup : 33 ≤ n < 66, dan dengan yang mengalami neuropati
kurang : n < 33 (9). Apabila sedang maupun berat, yaitu sebanyak
dikategorikan, maka rata-rata skor 55,8% dari 113 responden (20). Dalam
DSCM responden adalah kurang. penelitian ini, kebanyakan responden
Sejalan dengan penelitian oleh Yasa dan mempunyai skor DPN 1 karena
Rahayu, yang mengungkapkan bahwa sebagian besar responden hanya
sebagian besar responden berada pada mengalami 1 dari 4 gejala yang terdapat
kategori DSCM rendah, yaitu sebanyak pada item pertanyaan kuesioner DNS.
20 orang (36,4%) (26). Berbeda dengan Dari 4 gejala tersebut, gejala yang
penelitian Chaidir, Wahyuni dan paling sering muncul adalah gejala pada
Furkhani, dari 89 penyandang DM, item pertanyaan 2, yaitu gejala
54,8% ditemukan memiliki aktivitas mengalami sensasi terbakar, kesemutan,
self care yang tinggi (27). Perbedaan atau nyeri pada tungkai atau kaki, dan
hasil ini dapat terjadi karena aktivitas pada item pertanyaan 3, yaitu gejala
DSCM seseorang dipengaruhi oleh mengalami sensasi tusukan pada
berbagai hal, antara lain diabetes tungkai atau kaki. Berbeda dengan studi
knowledge, self efficacy, self care yang dilakukan di India, yang
agency, motivasi, aspek emosional, mengungkapkan lebih banyak
status sosial ekonomi, dukungan sosial, responden yang mengalami neuropati
dan komunikasi petugas kesehatan sedang dibandingkan dengan yang
(10,16,28). Hal tersebut juga ditemukan mengalami neuropati ringan maupun
dalam penelitian ini, bahwa kebanyakan berat (29). Perbedaan hasil ini dapat
responden tidak memahami tentang cara disebabkan karena berbagai faktor yang
mengelola penyakitnya secara tepat. berkontribusi terhadap perkembangan
Selain itu banyak pasien yang sudah DPN.
malas berobat karena merasa bosan dan Kontrol glikemik yang buruk
tidak kunjung sembuh, serta beberapa merupakan faktor utama yang ikut serta
responden kurang mendapat motivasi terhadap perkembangan DPN. Risiko
dan dukungan dari keluarganya terjadinya DPN juga meningkat dari
sehingga membuat pasien tidak peduli waktu ke waktu, semakin lama orang
dengan penyakitnya. tersebut menderita diabetes, semakin
Tabel 3 juga menunjukkan skor besar kemungkinannya untuk
DPN terbanyak adalah 1. Skor DPN 1 mengalami DPN (30). Faktor – faktor
dapat digolongkan kedalam neuropati lain yang dapat berkontribusi terhadap
ringan, sehingga dapat diketahui terjadinya DPN antara lain usia, riwayat
neuropati yang dialami responden hipertensi, dan merokok (30,31).
paling banyak adalah neuropati ringan.

Jurnal Gema Keperawatan | 5


Tabel 4 membuktikan penderita DM yang
Hasil Analisa Korelasi Pearson secara teratur melakukan aktivitas self
care mempunyai kendali glikemik yang
Skor DPN baik (32). Penelitian serupa juga
Skor n r P mendapatkan hasil bahwa terdapat
DSCM 51 -0,692 0,000 hubungan yang signifikan antara
activity of daily living, aktivitas fisik,
Berdasarkan tabel 4, diperoleh dan kepatuhan diet dengan
nilai p value dari uji korelasi pearson terkontrolnya kadar gula darah pasien
sebesar 0,000. Nilai p value < 0,050, DM (33). Hal ini juga didukung oleh
menunjukkan bahwa terdapat hubungan penelitian Nurayati dan Adriani yang
yang signifikan antara DSCM dengan menyatakan terdapat hubungan yag
DPN. Hasil analisa juga mendapatkan signifikan antara aktivitas fisik dengan
nilai korelasi pearson (r) sebesar -0,692, kadar gula darah puasa penderita DM
yang menandakan ada hubungan yang Tipe 2 (34). Selain itu, menurut
kuat antara DSCM dengan DPN. Tanda penelitian yang dilakukan oleh Arini
negatif menunjukkan semakin tinggi Rahmawati, faktor yang berhubungan
skor DSCM, maka skor DPN akan dengan kejadian komplikasi neuropati
semakin rendah, begitupun sebaliknya. diabetik pada DM tipe 2 antara lain
DPN dapat dicegah ataupun keteraturan berobat, pola makan, pola
diperlambat dengan melakukan kontrol aktivitas fisik dan hipertensi. Dimana
glikemik (7). Kontrol glikemik dapat faktor keteraturan berobat merupakan
dicapai dengan melakukan pengelolaan faktor dominan terhadap kejadian
terhadap perubahan perilaku perawatan neuropati diabetik (35).
diri terhadap penyakitnya, yang dikenal Dari hasil penelitian, di
dengan nama self care. Pemberdayaan Puskesmas Klungkung I terdapat
manajemen perawatan diri pasien (self kegiatan prolanis (program
care) merupakan hal yang sangat pengendalian penyakit kronis) yang
penting untuk keberhasilan perawatan merupakan salah satu program untuk
dengan kondisi kronis seperti DM (8). mengendalikan penyakit-penyakit
Kemampuan pasien DM tipe 2 dalam kronis yang diderita oleh usia produktif
mengelola penyakitnya secara mandiri hingga usia lanjut, dimana penderita
agar tercapai pengontrolan glukosa DM merupakan salah satu sasaran dari
darah dan pencegahan terhadap program tersebut. Kegiatan prolanis
komplikasi dikenal dengan diabetes self yang dilakukan oleh Puskesmas
care management (DSCM) (8). Klungkung I meliputi pemeriksaan
Terdapat enam aspek dari DSCM yang glukosa darah, pemeriksaan tekanan
dapat membantu penderita DM dalam darah, maupun senam. Dari hasil
mencapai kontrol glikemik. Antara lain pengamatan ketika kegiatan prolanis
latihan jasmani (exercise), pola makan berlangsung, Puskesmas Klungkung I
(diet), pengobatan, monitoring glukosa belum memberikan edukasi yang
darah, perawatan kaki, dan status mengkhusus terkait aktivitas DSCM
merokok (8–11). kepada penyandang DM, serta belum
Beberapa penelitian membuktikan melakukan skrining terkait komplikasi
bahwa aktivitas DSCM berpengaruh DM, khususnya neuropati.
terhadap tercapainya kontrol glikemik
pada penderita DM. Penelitian yang
dilakukan oleh Padma di India

Jurnal Gema Keperawatan | 6


SIMPULAN DAFTAR PUSTAKA
Berdasarkan karakteristik 1. IDF. IDF Diabetes Atlas Eight
responden dari 51 sampel penelitian, Edition 2017. 8th ed. 2017.
sebanyak 62,7% berjenis kelamin 2. Dinas Kesehatan Provinsi Bali.
perempuan, 41,2% tidak pernah Surveilans Kasus Penyakit Tidak
sekolah, 64,7% tidak bekerja, rata-rata Menular di Provinsi Bali. 2017.
usia responden 57,69 tahun, dan rata- 3. Dinas Kesehatan Kabupaten
rata durasi DM responden penelitian ini Klungkung. Surveilans Kasus
adalah 7,18. Rata-rata skor DSCM Penyakit Tidak Menular di
dalam penelitian ini adalah 32,96, yang Kabupaten Klungkung. 2018.
tergolong dalam kategori kurang. Skor 4. Puskesmas Klungkung I.
DPN terbanyak dalam penelitian ini Surveilans Kasus PTM di
adalah 1, yang tergolong kedalam Puskesmas Klungkung I. 2018.
neuropati ringan. Ada hubungan yang 5. Tandra H. Segala Sesuatu yang
kuat, negatif, dan signifikan antara Harus Anda Ketahui Tentang
diabetes self care management dengan Diabetes. 2nd ed. Jakarta: PT
diabetic peripheral neuropathy, dengan Gramedia Pustaka Utama; 2017.
nilai r = -0,692 (p = 0,000). 6. Hamed E, Monem MA. A Review
of Diabetic Peripheral Neuropathy
UCAPAN TERIMAKASIH Management Given Recent
Peneliti mengucapkan terimakasih Guidelines Updates. Arch Gen
kepada Poltekkes Kemenkes Denpasar Intern Med [Internet]. 2018;2(4):1–
sebagai institusi tempat peneliti 5. Available from:
bernaung, dosen pembimbing yang http://www.alliedacademies.org/arti
telah memberikan masukan, cles/a-review-of-diabetic-
pengetahuan dan bimbingan dalam peripheral-neuropathy-
menyelesaikan penelitian ini, seluruh management-given-recent-
pihak Puskesmas Klungkung I yang guidelines-updates-10723.html
telah memberikan izin peneitian dan 7. Tesfaye S, Chaturvedi N, Eaton
mendampingi selama proses penelitian, SE., Ward JD, Manes C, Ionescu-
dan semua pihak yang terlibat dan telah tirgoviste C, et al. Vascular Risk
membantu dalam penelitian ini yang Factors and Diabetic Neuropathy.
tidak bisa peneliti sebutkan satu persatu. New Engl J Medicene [Internet].
2005;341–50. Available from:
ETIKA PENELITIAN https://www.nejm.org/doi/full/10.1
Etika dalam penelitian ini 056/NEJMoa032782
meliputi autonomy, confidentiality, 8. ADA. Standars of Medical Care in
justice, serta beneficience dan non Diabetes - 2017. Diabetes Care.
maleficience. Persetujuan etika dalam 2017;40 (sup 1)(January).
penelitian ini diperoleh di komisi etik 9. Toobert DJ, Hampson SE, Glasgow
penelitian kesehatan (KEPK) Poltekkes RE. The Summary of Diabetes
Kemenkes Denpasar, dengan nomor Self-Care Activities Measure.
surat LB.02.03/EA/KEPK/0134/2019. Diabetes Care [Internet].
2000;23(7):943–50. Available
SUMBER DANA from:
Sumber dana dalam penelitian ini http://care.diabetesjournals.org/cont
sepenuhnya berumber dari peneliti ent/diacare/23/7/943.full.pdf
(swadana). 10. Sousa VD, Zauszniewski JA, Musil

Jurnal Gema Keperawatan | 7


CM, Lea PJP, Davis SA. P.S. JM. Gambaran Klinis
Relationships Among Self-Care Neuropati pada Pasien Diabetes
Agency, Self-Efficacy, Self-Care, Melitus di Poliklinik Neurologi.
and Glycemic Control. Res Theory 2016;4(1).
Nurs Pract [Internet]. 18. Soewondo P. Pemantauan
2005;19(3):217–30. Available Pemgendalian Diabetes Melitus. In
from: Penatalaksanaan Diabetes Melitus
https://www.researchgate.net/public Terpadu. Jakarta: Balai Penerbit
ation/7617658_Relationships_Amo FKUI; 2013.
ng_Self-Care_Agency_Self- 19. Bai, Y.L., Chiou, C.P., & Chang
Efficacy_Self- YY. Self –Care Behaviour and
Care_and_Glycemic_Control Related Factor in Older Peapole
11. PERKENI. Konsensus Pengelolaan with Type 2 Diabetes. J Clin Nurs
dan Pencegahan Diabetes Melitus [Internet]. 2009;18:3308–15.
Tipe 2 di Indonesia 2015. PB. Available from:
PERKENI; 2015. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pub
12. Javed A, Furqan A, Zaheer M, med/18267996
Kasuri N. Gender Based 20. Rosyida K, Safitri N. Gambaran
Differences in Diabetic Peripheral Neuropati Perifer di Semarang. J
Neuropathy. Pakistan J Neurol Sci. Luka Indones [Internet].
2014;9(4). 2017;2(3):137–44. Available from:
13. Aaberg ML, Burch DM, Hud ZR, http://www.jurnalluka.etncentre.co.
Zacharias MP. Gender Differences id/index.php/jli/article/view/31
in The Onset of Diabetic 21. Suri MH, Haddani H, Sinulingga S.
Neuropathy. Journals Diabetes Its Hubungan Karakteristik,
Complicat. 2008;22:83–7. Hiperglikemi, dan Kerusakan Saraf
14. Franconi F, Campesi I, Occhioni S, Pasien Neuropati Diabetik. J
Tonolo G. Sex-Gender Differences Kedokt dan Kesehat [Internet].
in Diabetes Vascular Complications 2015;2(3):305–10. Available from:
and Treatment. Endocrine, Metab https://www.google.co.id/#q=hubu
Immune Disord - Drug Targets. ngan+karakteristik+pada+pasien+n
2012;12:179–96. europati
15. Wang DD, Bakhotmah BA, Hu FB, 22. Priyantono T. Faktor-faktor Risiko
Alzahrani HA. Prevalence and yang Berpengaruh Terhadap
Correlates of Diabetic Peripheral Timbulnya Polineuropati pada
Neuropathy in a Saudi Arabic Penderita Diabetes Melitus Tipe 2.
Population : A Cross-Sectional Universitas Diponegoro; 2005.
Study. PLoS One [Internet]. 23. Subekti I. Neuropati Diabetik. In:
2014;9(9):1–9. Available from: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/ K MS, Setiadi S, editors. Ilmu
articles/PMC4153691/ Penyakit Dalam. 3rd ed. Jakarta:
16. Ismonah. Analisis Faktor - Faktor Pusat Penerbitan Departemen
yang Berhubungan dengan Self Penyakit Dalam; 2009. p. 1947–51.
Care Management Pasien Diabetes 24. Katulanda P, Ranasinghe P,
Mellitus dalam Konteks Asuhan Jayawardena R, Constantine GR,
Keperawatan. Universitas Sheriff MHR, Matthews DR. The
Indonesia; 2008. prevalence , patterns and predictors
17. Hutapea FS, Kembuan MAHN, of diabetic peripheral neuropathy in

Jurnal Gema Keperawatan | 8


a developing country. 2012;1–8. Peripheral Neuropathy.
25. Vincent AM, Russell JW, Low P, Diabetes/Metabolism Res Rev
Feldman EL. Oxidative Stress in [Internet]. 2012;28(Suppl 1):8–14.
the Pathogenesis of Diabetic Available from:
Neuropathy. 2004;25(4):612–28. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pub
Available from: med/22271716
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pub 32. Padma K, Bele SD, Bodhare TN,
med/15294884 Valsangkar S. Evaluation of
26. Yasa IDPGP, Rahayu VES. Knowledge and Self Care Practices
Diabetes Self Care Management In Diabetic Patients And Their Role
pada Pasien Diabetes Melitus Tipe In Disease Management. Natl J
2. 2016;9(1):14–21. Community Med [Internet].
27. Chaidir R, Wahyuni AS, Furkhani 2012;3(1):3–6. Available from:
DW. Hubungan Self Care dengan http://connection.ebscohost.com/c/a
Kualitas Hidup Pasien Diabetes rticles/83290504/evaluation-
Melitus. 2017;2(June):132–44. knowledge-self-care-practices-
Available from: diabetic-patients-their-role-disease-
http://pustaka.unpad.ac.id/wp- management
content/uploads/2011/06/hubungan 33. Sam N, Lestari H, Afa JR. Analisis
_tingkat_self_care_dengan_tingkat Hubungan Activity of Daily Living
_hba1c.pdf (ADL), Aktivitas Fisik dan
28. Kusniawati. Analisis Faktor yang Kepatuhan Diet terhadap Kadar
Berkontribusi terhadap Self Care Gula Darah Pasien Diabetes
Diabetes pada Klien Diabetes Melitus. J Ilm Mhs Kesehat Masy
Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit [Internet]. 2017;2(7):1–12.
Umum Tanggerang. Tesis. Available from:
Universitas Indonesia; 2011. http://ojs.uho.ac.id/index.php/JIMK
29. Bansal D, Gudala K, Muthyala H, ESMAS/article/view/3414
Esam HP, Nayakallu R, Bhansali 34. Nurayati L, Adriani M. Hubungan
A. Prevalence and Risk Factors of Aktifitas Fisik dengan Kadar Gula
Development of Peripheral Darah Puasa Penderita Diabetes
Diabetic Neuropathy in Type 2 Melitus Tipe 2. Amerta Nutr
Diabetes Mellitus in a Tertiary Care [Internet]. 2017;80–7. Available
Setting. J Diabetes Investig from: https://e-
[Internet]. 2014;5(6):714–21. journal.unair.ac.id/AMNT/article/vi
Available from: ew/6229/0
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/ 35. Rahmawati A. Faktor Dominan
articles/PMC4234236/ Neuropati Diabetik pada Pasien
30. Hershey DS. Diabetic Peripheral Diabetes Melitus Tipe 2. J Berk
Neuropathy: Evaluation and Epidemiol [Internet]. 2018;6(1):60–
Management. J Nurse Pract 8. Available from:
[Internet]. 2017;13(3):199–204.e1. https://www.researchgate.net/public
Available from: ation/327341082_Dominant_Factor
http://dx.doi.org/10.1016/j.nurpra.2 _of_Diabetic_Neuropathy_on_Diab
016.08.034 etes_Mellitus_Type_2_Patients
31. Tesfaye S, Selvarajah D. Advances
in the Epidemiology, Pathogenesis
and Management of Diabetic

Jurnal Gema Keperawatan | 9