Anda di halaman 1dari 19

I.

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Ekstraksi adalah salah satu proses pemisahan atau pemurnian suatu senyawa dari
campurannya dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat
mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material suatu bahan
lainnya. Ekstraksi merupakan salah satu metode pemisahan yang menggunakan
sifat fisis, yaitu perbedaan kelarutan komponen-komponen dalam larutan dengan
menggunakan larutan lain sebagai media pemisah (Sudjadi,1989).
Ekstraksi cair-cair digunakan jika pemisahan dengan operasi lainnya tidak dapat
dicapai seperti: distilasi, evaporasi, kristalisasi dan lain-lain. Ekstraksi cair-cair
adalah proses pemisahan suatu komponen dari fasa cair ke fasa cair lainnya .
Proses pemisahan campuran(ekstraksi) merupakan proses yang penting dalam
proses ekstraksi cair-cair. Dalam pemisahan larutan tersebut diperlukan
pelarut.Dalam memilih pelarut tersebut kita harus memperhatikan beberapa hal
yaitu hubungan antara jenis zat yang dilarutkan dengan pelarutnya, sifat kepolaran
antara zat dan pelarut, pelarut biasanya memiliki titik didih rendah dan lebih mudah
menguap, dan meninggalkan substansi terlarut yang didapatkan.Dalam suatu
pemisahan yang ideal oleh ekstraksi pelarut, seluruh zat yang diinginkan akan
berakhir dalam satu pelarut dan semua zat pengganggu dalam pelarut yang lain
(Ladda, 1976).
Ekstraksi lebih efisien bila dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut yang
lebih kecil daripada jumlah pelarutnya banyak tetapi ekstraksinya hanya sekali.
1.2. Tujuan
1. Memisahkan komponen kimia berdasarkan kepolarannya
2. Memisahka dua fraksi yang berbeda

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. EKSTRAKSI
Ekstraksi adalah teknik yang sering digunakan bila senyawa organik atau
sebagian besar hidrofob dilarutkan atau didispersikan dalam air. Pelarut yang tepat
(cukup untuk melarutkan senyawa organik; seharusnya tidak hidrofob)
ditambahkan pada fasa larutan dalam airnya, campuran kemudian diaduk dengan
baik sehingga senyawa organik diekstraksi dengan baik. Pelarut yang paling sering
digunakan adalah dietil eter C2H5OC2H5, yang memiliki titik didih rendah (sehingga
mudah disingkirkan) dan dapat melarutkan berbagai senyawa organic
(Fessenden,1990).
Teknik ekstraksi bermanfaat untuk memisahkan campuran senyawa dengan
berbagai sifat kimia yang berbeda. Contoh yang baik adalah campuran fenol
C6H5OH, anilin C6H5NH2 dan toluen C6H5CH3, yang semuanya larut dalam dietil
eter. Pertama anilin diekstraksi dengan asam encer. Kemudian fenol diekstraksi
dengan basa encer. Toluen dapat dipisahkan dengan menguapkan pelarutnya. Asam
yang digunakan untuk mengekstrak anilin ditambahi basa untuk mendaptkan
kembali anilinnya, dan alkali yang digunakan mengekstrak fenol diasamkan untuk
mendapatkan kembali fenolnya (Fessenden,1990).
Bila senyawa organik tidak larut sama sekali dalam air, pemisahannya akan lengkap.
Namun nyatanya, banyak senyawa organik, khususnya asam dan basa organik dalam
derajat tertentu larut juga dalam air. Hal ini merupakan masalah dalam ekstraksi. Untuk
memperkecil kehilangan yang disebabkan gejala pelarutan ini, disarankan untuk dilakukan
ekstraksi berulang. Anggap anda diizinkan untuk menggunakan sejumlah tertentu pelarut.
Daripada anda menggunakan keseluruhan pelarut itu untuk satu kali ekstraksi, lebih baik
Anda menggunakan sebagian-sebagian pelarut untuk beberapa kali ekstraksi. Kemudian
akhirnya menggabungkan bagian-bagian pelarut tadi. Dengan cara ini senyawa akan
terekstraksi dengan lebih baik. Alasannya dapat diberikan di bawah ini dengan
menggunakan hukum partisi.
Ekstraksi campuran-campuran merupakan suatu teknik dimana suatu larutan
(biasanya dalam air) dibuat bersentuhan dengan suatu pelarut kedua (biasanya
organik), yang pada hakikatnya tidak tercampurkan dengan yang pertama, dan
menimbulkan perpindahan satu atau lebih zat terlarut (solut) ke dalam pelarut
kedua itu. Untuk suatu zat terlarut A yang didistribusikan antara dua fasa tidak
tercampurkan a dan b, hukum distribusi (atau partisi) Nernst menyatakan bahwa
asal keadaan molekulnya sama dalam kedua cairan dan temperatur adalah konstan :
Dimana KD adalah sebuah tetapan, yang dikenal sebagai koefisien distribusi (atau
koefisien partisi) (Basset, 1994).
Ekstraksi meliputi distribusi zat terlarut diantara dua pelarut yang tidak dapat
campur. Pelarut umum dipakai adalah air dan pelarut organik lain seperti CHCl3,
eter atau pentana. Ekstraksi lebih efisien bila dilakukan berulang kali dengan
jumlah pelarut yang lebih kecil daripada jumlah pelarutnya banyak tetapi
ekstraksinya hanya sekali (Arsyad, 2001).
2.2. Ekstraksi Cair – Cair
Ekstraksi cair-cair (liquid extraction, solvent extraction): yaitu
pemisahan solute dari cairan pembawa (diluen) menggunakan solven cair.
Campuran diluen dan solven tersebut bersifat heterogen (immiscible, tidak saling
campur), dan jika dipisahkan terdapat 2 fase, yaitu fase diluen (rafinat) dan fase
solven (ekstrak).
Ekstraksi cair-cair ditentukan oleh distribusi Nerst atau hukum partisi yang
menyatakan bahwa ”pada konsentrasi dan tekanan yang konstan, analit akan
terdistribusi dalam proporsi yang selalu sama diantara dua pelarut yang saling tidak
campur”. Perbandingan konsentrasi pada keadaan setimbang di dalam 2 fase
disebut dengan koefisien distribusi atau koefisien partisi (KD) dan diekspresikan
dengan:

[S]org
KD = -------------
[S]aq
[S]org dan [S]aq masing-masing merupakan konsentrasi analit dalam fase
organik dan dalam fase air; KD merupakan koefisien partisi. Dalam prakteknya,
analit seringkali berada dalam bentuk kimia yang berbeda karena adanya disosiasi
(ionisasi), protonasi, dan juga kompleksasi atau polimerisasi karenanya ekspresi
yang lebih berguna adalah rasio distribusi atau rasio partisi (D) yang diekspresikan
dengan:
(Cs)org
D = -------------
(Cs)aq
(Cs)org dan (Cs)aq masing-masing merupakan konsentrasi total analit (dalam
segala bentuk) dalam fase organik dan dalam fase air; D merupakan rasio partisi
(Debbing ,1987).
Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran
dipisahkan dengan bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara teknis dalam skala
besar misalnya untuk memperoleh vitamin, antibiotika, bahan-bahan penyedap,
produk-produk minyak bumi dan garam-garam. logam. Proses inipun digunakan
untuk membersihkan air limbah dan larutan ekstrak hasil ekstraksi padat cair.
Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara
distilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan aseotrop atau
karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-
cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaltu pencampuran
secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut, dan pemisahan kedua fasa cair itu
sesempurna mungkin.

2.3 PELARUT

Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau gas,
yang menghasilkan sebuah larutan.Pelarut paling umum digunakan dalam
kehidupan sehari-hari adalah air. Pelarut lain yang juga umum digunakan adalah
bahan kimia organik (mengandung karbon) biasanya disebut pelarut
organik. (http://wapedia.mobi/id/Pelarut)
Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut dan pelarut
di dalam larutan. Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam perbandingan jumlah zat
terlarut dengan jumlah total zat dalam larutan, atau dalam perbandingan jumlah zat
terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa satuan konsentrasi
adalah molar, molal, danbagian per juta (part per million, ppm).Sementara itu,
secara kualitatif, komposisi larutan dapat dinyatakan sebagaiencer (berkonsentrasi
rendah) atau pekat (berkonsentrasi tinggi) (Pramudono , 2008).
Molekul komponen-komponen larutan berinteraksi langsung dalam keadaan
tercampur. Pada proses pelarutan, tarikan antarpartikel komponen murni terpecah
dan tergantikan dengan tarikan antara pelarut dengan zat terlarut. Terutama jika
pelarut dan zat terlarut sama-sama polar, akan terbentuk suatu sruktur zat pelarut
mengelilingi zat terlarut. Hal ini memungkinkan interaksi antara zat terlarut dan
pelarut tetap stabil.
Bila komponen zat terlarut ditambahkan terus-menerus ke dalam pelarut, maka
tidak akan dapat larut lagi. Misalnya, jika zat terlarutnya berupa padatan dan
pelarutnya berupa cairan, pada suatu titik padatan tersebut tidak dapat larut lagi dan
terbentuklah endapan.Jumlah zat terlarut dalam larutan tersebut adalah maksimal,
dan larutannya disebut sebagai larutan jenuh.
Titik tercapainya keadaan jenuh larutan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor
lingkungan, seperti suhu,tekanan, dan kontaminasi. Secara umum, kelarutan suatu
zat (yaitu jumlah suatu zat yang dapat terlarut dalam pelarut tertentu) sebanding
terhadap suhu.Hal ini terutama berlaku pada zat padat, walaupun ada
perkecualian.Kelarutan zat cair dalam zat cair lainnya secara umum kurang peka
terhadap suhu daripada kelarutan padatan atau gas dalam zat cair.Kelarutan gas
dalam air umumnya berbanding terbalik terhadap suhu. Pelarut dibedakan menjadi
tiga yaitu :
a. Pelarut Polar
Memiliki tingkat kepolaran yang tinggi, cocok untuk mengekstrak
senyawa-senyawa yang polar dari tanaman.Pelarut polar cenderung
universal digunakan karena biasanya walaupun polar, tetap dapat menyari
senyawa-senyawa dengan tingkat kepolaran lebih rendah. Salah satu
contoh pelarut polar adalah: air, metanol, etanol,dan asam asetat.
b. Pelarut semi polar
Pelarut semipolar memiliki tingkat kepolaran yang lebih rendah
dibandingkan dengan pelarut polar.Pelarut ini baik untuk mendapatkan
senyawa-senyawa semipolar dari tumbuhan. Contoh pelarut ini adalah:
aseton, dan etil asetat
c. Pelarut non polar
Pelarut nonpolar, hampir sama sekali tidak polar. Pelarut ini baik untuk
mengekstrak senyawa-senyawa yang sama sekali tidak larut dalam pelarut
polar. Senyawa ini baik untuk mengekstrak berbagai jenis minyak. Contoh:
heksana,dan eter
(Handojo, 1995: 180)
2.4 ROTARY EVAPORATOR
Rotary evaporator adalah alat yang digunakan untuk melakukan ekstraksi,
penguapan pelarut yang efisien dan lembut.Komponen utamanya adalah pipa
vakum, pengontrol, labu evaporasi, kondensator dan labu penampung hasil
kodensasi (Rahayu, 2009).
Ekstraksi menggunakan rotary evaporator dapat digunakan pada bahan makanan
seperti pandan. Pandan merupakan tumbuhan monokotil yang memiliki beraroma
wangi. Pandan mempunyai akar tunjang besar, daunnya roset rapat.Daunnya dapat
berkhasiat sebagai penambah nafsu makan karena kandungan alkaloida, saponin,
dan flavonoida.Selain itu dapat digunakan untuk pewarna makanan karena memiliki
klorofil yang berwarna hijau dan juga mengandung minyak atsiri.Klorofil
merupakan pigmen fotosintesis pada tumbuhan yang dapat menyerap cahaya
merah, biru, ungu dan merefleksikan cahaya hijau.Klorofil banyak terdapat pada
daun dan merupakan ciri tumbuhan autotrof (Arya, 2005).
Rotary evaporator bekerja seperti alat destilasi. Pemanasan pada rotary evaporator
menggunakan penangas air yang dibantu dengan rotavapor akan memutar labu yang
berisi sampel oleh rotavapor sehingga pemanasan akan lebih merata. Selain itu,
penurunan tekanan diberikan ketika labu yang berisi sampel diputar menyebabkan
penguapan lebih cepat. Dengan adanya pemutaran labu maka penguapan pun
menjadi lebih cepat terjadi. Pompa vakum digunakan untuk menguapkan larutan
agar naik ke kondensor yang selanjutnya akan diubah kembali ke dalam bentuk cair
(Fessenden , 1990).Prinsip rotary evaporator adalah proses pemisahan ekstrak dari
cairan penyarinya dengan pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu, cairan
penyari dapat menguap 5-10º C di bawah titik didih pelarutnya disebabkan oleh
karena adanya penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan
penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi
molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu penampung.
Prinsip ini membuat pelarut dapat dipisahkan dari zat terlarut di dalamnya tanpa
pemanasan yang tinggi (Rachman, 2009).
2.5 AQUDES
Air yang diperoleh pada pengembunan uap air melalui proses penguapan atau
pendidihan air. Tidak berwarna, tidak berasa, titik leleh 0 0C, titik didih 100 0C
bersifat polar, pelarut oranik yang baik (Mulyono, 1997).
Sifat fisika Aquades
1.Rumus molekul : H2O
2.Massa molar : 18.0153 g/mol
3.Densitas dan fase : 0.998 g/cm³, cairan 0.92 g/cm³
4.Titik lebur : 0 °C (273.15 K) (32 ºF)
5.Titik didih : 100 °C (373.15 K) (212 ºF)
6.Penampilan : Cairan tak Berwarna, Tidak berbau
(Mulyono, 2009)
2.6 ETIL ASETAT
Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus CH 3CH2OC(O)CH3/
CH3COOC2H5. Senyawa ini merupakan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa
ini berwujud cairan,tak berwarna tetapi memiliki aroma yang khas.
Etil asetat merupakan pelarut polar menengah yang mudah menguap, tidak
beracun dan tidak higrokopis. Etil asetat dapat melarutkan air hingga 30% dan larut
dalam air hingga kelarutan 8% pada suhu kamar. Kelarutannya meningkat pada
suhu yang lebih tinggi, namun senyawa ini tidak stabil dalam air mengandung basa
atau asam.
Etil asetat dapat dihirdolisis pada keadaan asam atau basa yang menghasilkan
asam asetat dan etanol kembali. Katalis yang digunakan adalah asam sulfat
(H2SO4), karena berlangsungnya reaksi. Reaksi kebalikan hidrolisis yaitu,
esterifikasi ficher. Untuk memperoleh hasil rasio yang tinggi biasanya digunakan
asam kuat dengan proposi stoiklometris, misalnya natrium hidroksida. Reaksi ini
menghasilkan etanol dan natrium asetat yang tidak dapat di reaksi lagi dengan
etanol.
Sifat fisika :
 Berbau khas
 Titik didih 77,1°C
 Densitas 0.89 gr/cm³
 Berat molekil 88,12 gr/mol
Sifat Kimia :
 Mudah menguap
 Tidak beracun
 Tidak higroskopis
 Tidak berwarna
(Nahville , 1997)
2.7 N-HEKSANA
Heksana adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus kimia C6H14
(isomer utama n-heksana memiliki rumus CH3(CH2)4CH3). Awalan heks- merujuk
pada enam karbon atom yang terdapat pada heksana dan akhiran -ana berasal dari
alkana, yang merujuk pada ikatan tunggal yang menghubungkan atom-atom karbon
tersebut. Seluruh isomer heksana amat tidak reaktif, dan sering digunakan sebagai
pelarut organik yang inert. Heksana juga umum terdapat pada bensin dan lem
sepatu, kulit dan tekstil.Dalam keadaan standar senyawa ini merupakan cairan tak
berwarna yang tidak larut dalam air.
CH3 ─ CH2 ─ CH2 ─ CH2 ─ CH2 ─ CH3

(Handojo , 1995)

III. MATERI DAN METODA


3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
3.1.1 Waktu : Kamis,25 April 2013, Pukul 13.00 WIB
3.1.2 Tempat : Laboratorium bio kimia, Gedung E lantai 1 FPIK
Universitas Diponegoro
3.2 Materi
3.2.1 Alat

No NamaAlat Gambar Fungsi


1 Gelas Ukur Untuk mengukur
jumlah zat cair, yang
akan digunakan

2 Corong Pisah digunakan dalam


ekstraksi cair cair
untuk memisahkan
komponen-komponen
dalam suatu campuran
antara dua fase
pelarut dengan
densitas berbeda yang
takcampur

3 Statif untuk menegakkan


buret, corong, corong
pisah dan peralatan
gelas lainnya pada
saat digunakan

4 Pipet Tetes Untuk meneteskan


atau mengambil
larutan kimia

5 Pengaduk Untuk mengaduk


larutan
6 Gelas Beker Untuk mengaduk,
mencampur, dan
memanaskan cairan
yang biasanya
digunakan dalam
laboratorium

Untuk mengaduk
larutan

3.2.2 Bahan

No Nama Gambar Fungsi


1

Air Pelarut polar

2 Kecap Bahan organik

3 Etil Pelarut polar

Asetat

4 n-Heksana Pelarut Non-


polar
5. Pewarna Bahan Organik

Makanan

3.3 CARA KERJA

1. Menyiapkan 100ml air dalam gelas beaker

Pewarna Makanan
Gelas Beaker
- Mencampurkan pewarna makanan
- Mengaduk pewarna makanan sampai larut dan
tercampur
Hasil

2.Menyiapkan 100ml air dalam gelas beaker

Kecap
Gelas Beaker
- Mencampurkan kecap
- Mengaduk pewarna makanan sampai larut dan
tercampur
Hasil

3.Mencampurkan etil asetat

Bahan Organik Kecap


Corong Pisah
- Masukkan bahan organik kecap
- Campurkan 25ml etil asetat
- Homogenisasi sambil dilakukan penggojogan sampai
gas dalam corong pisah habis
- Tunggu sampai terbentuk 2 lapisan

Hasil
4. Mencampurkan etil asetat
Bahan organik Pewarna Makanan
Corong Pisah
- Masukkan bahan organik pewarna makanan
- Campurkan 25ml etil asetat
- Homogenisasi sambil dilakukan penggojogan sampai
gas dalam corong pisah habis
- Diamkan sampai terbentuk 2 lapisan

Hasil

5.Ekstraksi

Campuran etil asetat dan bahan organik kecap


Corong Pisah
- Taruh corong pisah pada statif
- Buka tutup corong pisah
- Buka keran sampai batas lapisan
- Didapat fraksi etil asetat
Hasil

6. Ekstraksi

Campuran etil asetat dan larutan pewarna makanan


Corong Pisah
- Taruh corong pisah pada statif
- Buka tutup corong pisah
- Buka keran sampai batas lapisan
- Didapat fraksi etil asetat
Hasil

7. Ekstraksi

Bahan Organik Pewarna Makanan


Corong Pisah
- Taruh corong pisah pada statif
- Buka tutup corong pisah
- Buka keran sampai batas lapisan
- Didapat fraksi etil asetat
Hasil

8. Mencampurkan dengan n-heksana

Bahan organik pewarna makanan campuran etil asetat


Corong Pisah

- Masukkan bahan organik


- Campurkan 25ml n-heksana
- Homogenisasi sambil dilakukan penggojogan
sampai gas dalam corong pisah habis
- Tunggu sampai terbentuk 2 lapisan

Hasil

9. Mencampurkan dengan n-heksana

Bahan organik kecap campuran etil asetat


Corong Pisah
- Masukkan bahan organik
- Campurkan 25ml n-heksana
- Homogenisasi sambil dilakukan penggojogan
sampai gas dalam corong pisah habis
- Tunggu sampai terbentuk 2 lapisan

Hasil
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL
Praktikum cair-cair pada praktikum ini menggunakan bahan-bahan berupa pewarna
makanan dan kecap (bahan organic),etil asetat dan n-heksana.Hasil pada praktikum
ekstraksi cair-cair ini adalah terbentuk 2 fraksi etil asetat,n-heksana dan bahan
organic dari pewarna makanan dan kecap. Fraksi etil asetat dan n-heksana pada
pewarna makanan dan kecap berwarna keruh.Sedangkan fraksi bahan organic
pewarna makanan berwarna merah terang dan kecap berwarna coklat bening.
4.2 HASIL PENGAMATAN

Gambar larutan kecap(kiri) dan pewarna makanan Pewarna makanan dengan etil asetat (kiri),
Yang telah ditambah pelarut Pewarna makanan dengan n-heksana (kanan)
Larutan kecap dengan etil asetat(kiri),Larutan

kecap dengan n-heksana (kanan)

Dari gambar diatas terbentuk 2 fraksi ,yaitu fraksi etil asetat dan fraksi n-
heksana . Pada gambar diatas dapat dilihat bahan organik (pewarna makanan dan kecap)
jika ditambah etil asetat tidak dapat tercampur dan fraksi bahan organiknya berada di
bawah,sedangkan pada bahan organik (pewarna makanan dan kecap) yang ditambah
dengan n-heksana tidak dapat bercampur dan bahan organik diatas

4.3 PEMBAHASAN
Pada praktikum ekstraksi cair-cair menggunakan bahan organik pewarna
makanan dan kecap yang telah diencerkan dengan bantuan corong pemisah.
Penggunaan corong pemisah ini dilakukan untuk melakukan ekstraksi secara sederhana
dengan dua pelarut yang tidak saling bercampur dimana air bertindak sebagai pelarut
polar dan etil asetat sebagi pelarut semi polar bertindak serta n-heksana sebagai pelarut
organik yang non polar. Larutan bahan organik kecap serta perwarna makanan yang
telah diencerkan pada gelas beker masing masing ditambah 25 ml etil asetat yang
dimasukkan kedalam corong pemisah yang digojok agar campuran tersebut dapat
terdistribusi sempurna dan sesekali kran dibuka untuk mengeluarkan gas yang
dihasilkan ketika melakukan penggojokan . Pengeluaran gas ini dilakukan guna
menghindari adanya tekanan pelarut ketika penggojokan. Saat mengeluarkan gas corong
di arahkan ketempat yang aman karena gas dari pelarut tersebut bersifat toksik dan
kemudian didiamkan sementara waktu.Sesaat didiamkan pelarut organik kecap dan
pewarna makanan dipisahkan dengan pelarut semi polar etil asetat pada gelas beker
yang berbeda. Bahan organik kecap dan pewarna makanan yang telah dipisahkan
dimasukkan kembali kedalam corong pemisah yang berbeda dimana masing-masing
corong ditambah dengan n-heksana sebanyak 25 ml. Keuntungan dari ekstraksi ini
bahan-bahan sempel (bahan organik ) dapat digunakan kembali jika pelarutnya berbeda
sifat karena tidak bercampur dengan pelarutnya.
Masing-masing senyawa memiliki sifat yang berbeda seperti air bersifat polar,
etil asetat bersifat semi polar dan n-heksana bersifat nonpolar.Bahan organic larut
sempurna dengan pelarut air, hal ini karena bahan organic yang berupa pewarna
makanan dan kecap merupakan senyawa yang mempunyai polaritas yang sama dengan
pelarutnya berupa air. Ekstraksi seperti ini berdasarkan prinsip like dissolve like, yaitu
pelarut polar akan melarutkan senyawa polar, pelarut semi polar akan melarutkan
senyawa semi polar dan pelarut non polar akan melarutkan senyawa non polar.
Pada tiap pengekstraksian menggunakan etil asetat dan n-heksana,letak fraksinya
berbeda. Menggunakan etil asetat fraksi bahan organic terletak di bawah dan fraksi etil
asetatnya terletak diatas. Sedangkan dengan menggunakan n-heksana fraksi organic
terletak diatas dan fraksi n-heksananya berada di bawah ini terjadi karena perbedaan
massa jenis pada bahan organik tersebut . Selain itu terjadi penggumpalan bahan
organik pada tiap bahan yang digunakan untuk ekstraksi.
Pada etil asetat menunjukan hasil bahan organik tidak dapat larut dengan etil
asetat hal ini dikarenakan etil asetat memiliki sifat semi polar. Semi polar tersebut
maksudnya adalah tingkat kepolaran yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut
polar. Jika bahan organik tersebut mengandung senyawa semi polar,maka senyawa
semipolar tersebut akan larut dengan etil asetat. Pada n-heksana menunjukan bahan
organik yang bersifat polar tidak dapat larut dengan pelarut n-heksana yang bersifat non
polar. Jika bahan organik tersebut (pewarna makanan dan kecap) mengandung senyawa
yang bersifat non polar maka senyawa tersebut akan larut dengan n-heksana.Jika Suatu
larutan semi polar (etil asetat) dan non polar (n-heksana) dicampukan dengan larutan
yang bersifat polar tidak akan bercampur secara sempurna.
Pada hasil praktikum kali ini pada gelas beker yang berisi etil asetat dengan
pewarna makanan ,fraksi pewarna makanan lebih sedikit daripada fraksi pada gelas
beker yang berisi n-heksana.Sedangkan fraksi bahan organik kecap pada etil asetat lebih
banyak bila dibandingkan fraksi bahan organik kecap pada gelas beker berisi n-
heksana .Perbedaan ini dikarenakan adanya kesalahan dan kurang telitinya saat
membuka kran corong pemisah,sehingga menimbulkan fraksi bahan organik yang
berbeda-beda yang seharusnya sesama etil asetat (semi polar) memiliki fraksi yang
sama dan sesama n-heksana memiliki fraksi yang sama.Hal ini dikarenakan sempel
memiliki sifat yang sama yaitu polar.

V. PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
 Untuk memisahkan komponen kimia berdasarkan kepolarannya, dapat kita
gunakan senyawa etil asetat, n heksana dan aquades.
 Kemudian cara untuk memisahkan dua fraksi yang berbeda yaitu dengan
menggunakan teknik ekstrasi, salah satunya yaitu dengan ekstrasi cair cair.
5.2 SARAN
 Pada Praktikum kali ini, diharapkan praktikan untuk lebih aktif ketika praktikum
sehingga bisa terjadi efisiensi waktu.
 Praktikan di harapkan untuk berhati hati ketika melakukan praktikum agar alat
praktikum tidak pecah.
 Setelah selesai praktikum diharapkan praktikan mencuci alat yang telah dipakai
untuk menjaga kebersihan.

DAFTAR PUSTAKA

Laddha, G.S. & Degaleesan, T.S. 1976.Transport Phenomena in Liquid-Liquid


Extraction .New Delhi:Tata McGraw-Hill Publishing Co. Ltd.

Debbing, D.D. 1987. General Chemistry 2nd edition. Massachusetts: Houghton


Miffin Company.
Fessenden, R.J. & J.S. Fessenden. 1990. Kimia Organik. Diterjemahkan oleh A.H.
Pudjaatmaka, Ph.D. Jakarta: Erlangga.
Handojo, Lienda, Dr. Ir, 1995. Teknologi Kimia. Jakarta: PT Pradya Paramita
“OHS”, MDLInformation System, Inc, Donelson Pike, Nashville, 1997.
Sitting Masrshall, “Handbook of Toxic and Hazardous Chemical and
Carcinogens”, Third Edition, Noyes Publication, USA, vol. 1 A-F, 1991, p.
729.
Stahl, Egon. 1985. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. ITB:
Bandung. 3-5.
Sudjadi, Drs., (1986), "Metode Pemisahan", UGM Press, Yogyakarta
Wijaya H. M. Hembing (1992), ”Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia”, Cet 1 ,
Jakarta .

http://id.wikipedia.org/wiki/Larutan

Beri Nilai