Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Terapi komplementer merupakan terapi yang sering dikenal dengan terapi
tradisonal yang berkombinasi dengan terapi pengobatan modern. Komplementer
merupakan pengaplikasian terapi tradional ke dalam terapi modern (Andrews et al, 1999)
Terapi komplementer juga ada yang menyebutnya dengan pengobatan holistik. Pendapat
ini didasari oleh bentuk terapi yang mempengaruhi individu secara menyeluruh yaitu
sebuah keharmonisan individu untuk mengintegrasikan pikiran, badan, dan jiwa dalam
kesatuan fungsi (Smith et al., 2004).
Pengobatan komplementer merupakan suatu fenomena yang muncul saat ini
diantara banyaknya fenomena – fenomena pengobatan non konvensional yang lain.
Masyarakat luas saat ini mulai beralih dari pengobatan modern (Medis) ke pengobatan
komplementer, meskipun pengobatan modern juga sangat popular diperbincangkan di
kalangan masyarakat. Di antara banyaknya jenis pengobatan komplementer, terapi pijat
refleksi merupakan jenis terapi yang cukup populer.
Terapi pijat refleksi adalah suatu teknik pengobatan non medis yang dilakukan
dengan cara memijat atau menekan pada titik – titik refleksi di daerah kaki ataupun tangan
sehingga menimbulkan efek terapeutik. Titik – titik refleksi yang terkait mempunyai
koneksi dengan organ – organ tertentu pada tubuh manusia. Dengan menekan pada titik –
titik refleksi tersebut, maka akan merangsang dan meningkatkan aliran darah ke organ
yang terkoneksi, sehingga akan memberi efek positif terhadap kesehatan organ yang
berhubungan.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka penting bagi seorang perawat untuk bisa
memahami konsep terapi refleksi, agar diharapkan mampu mengaplikasikannya dalam
masyarakat.

1
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian dari terapi refleksi?
1.2.2 Apa manfaat dari terapi refleksi?
1.2.3 Bagaimana proses dan cara kerja terapi refleksi?
1.2.4 Apa saja dampak dari terapi refleksi?
1.2.5 Bagaimana konsep terapi refleksi?
1.2.6 Apa indikasi dari terapi refleksi?
1.2.7 Apa kontra indikasi dari terapi refleksi?
1.2.8 Bagaimana titik-titik refleksi pada telapak kaki?
1.2.9 Apa manfaat dan fungsi titik refleksi kaki?
1.2.10 Bagaimana Standar Prosedur Operasional (SOP) terapi refleksi?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari terapi refleksi
1.3.2 Untuk mengetahui manfaat dari terapi refleksi
1.3.3 Untuk mengetahui proses dan cara kerja terapi refleksi
1.3.4 Untuk mengetahui dampak terapi refleksi
1.3.5 Untuk mengetahui konsep terapi refleksi
1.3.6 Untuk mengetahui indikasi terapi refleksi
1.3.7 Untuk mengetahui kontra indikasi terapi refleksi
1.3.8 Untuk mengetahui titik-titik refleksi pada telapak kaki
1.3.9 Untuk mengetahui manfaat dan fungsi titik refleksi kaki
1.3.10 Untuk mengetahui Standar Prosedur Operasional (SOP) terapi refleksi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Terapi Refleksi


Terapi refleksi merupakan teknik pengobatan non medis yang mencakup penekanan
pada beberapa bagian dari kaki, tangan dan telinga dengan tujuan untuk memperbaiki
kesehatan. Refleksologi adalah teknik penyembuhan alternatif untuk mengurangi
ketegangan, meningkatkan sirkulasi, dan mempromosikan fungsi alami dari tubuh melalui
penerapan tekanan pada berbagai titik – titik tertentu di kaki, tangan, dan bagian bagian
tubuh lainnya. Titik – titik refleksi yang terkait mempunyai koneksi dengan organ – organ
tertentu pada tubuh manusia. Dengan menekan pada titik – titik refleksi tersebut, maka
akan merangsang dan meningkatkan aliran darah ke organ yang terkoneksi, sehingga akan
memberi efek positif terhadap kesehatan organ yang berhubungan.
Selain itu, refleksologi juga didefinisikan sebagai cara pengobatan dengan
merangsang berbagai daerah refleks (zona atau mikrosistem) di kaki, tangan, dan telinga
yang ada hubungannya dengan (atau mewakili) berbagai kelenjar, organ, dan bagian tubuh
lainnya.

2.2 Manfaat Terapi Refleksi


Terapi refleksi merupakan pemberian energi yang dimasukan ke dalam tubuh untuk
memperlancar peredaran darah, melenturkan otot – otot, meningkatkan daya tahan tubuh,
menghilangkan stres, nyeri, dan ketegangan, meningkatkan kekuatan dan kelenturan
pikiran dan tubuh, meningkatkan kualitas tidur, restrukturisasi tulang, otot, dan organ,
menyembuhkan cedera baru dan lama, meningkatkan konsentrasi dan ingatan, bahkan rasa
percaya diri dan harmoni bisa disegarkan (Harapan, 2009). Pamungkas (2009), juga
menyatakan bahwa terapi refleksi ini bisa menyembuhkan hampir semua penyakit, tetapi
tujuan utama dari terapi refleksi ini untuk kebugaran dan secara tidak langsung dapat
mencegah penyakit.
Secara teoretis, terapi ini bisa untuk menyembuhkan segala penyakit termasuk
penyakit infeksi. Infeksi bisa terjadi akibat tubuh dalam keadaan lemah, sehingga tubuh
tidak sanggup menghadapi kuman. Dengan pijat refleksi, daya tahan tubuh dapat

3
ditingkatkan karena semua organ menjadi dalam keadaan siaga, kerja samanya juga
menjadi lebih sempurna sehingga efeknya lebih besar untuk melawan serangan kuman.
Selain itu, pijat refleksi juga mampu mencegah munculnya penyakit kronis. Karena
melalui pijat refleksi, akan diketahui organ-organ dalam tubuh yang bermasalah, seperti
hati, ginjal, limpa, paru-paru, jantung, dan pankreas. Organ-organ itu berhubungan dengan
saraf di telapak kaki. Telapak kaki bagian atas, misalnya, berhubungan dengan dada dan
paru-paru. Jika seseorang merasakan sakit saat pemijatan pada saraf tersebut, menandakan
bahwa terdapat masalah pada paru-parunya. Pijat refleksi makin efektif apabila ditunjang
dengan asupan makanan yang sehat, cara kebiasaan hidup yang baik, dan cukup
berolahraga

2.3 Proses dan Cara Kerja Terapi Refleksi


Cara kerja refleksi (refleksologi) belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa
teori yang bisa mewakilinya. Teori yang paling populer adalah refleksologi bekerja
dengan mengirim pesan menenangkan ke sistem saraf pusat dengan perantara saraf perifer
pada tangan dan kaki. Pesan ini kemudian memerintahkan tubuh untuk mengurangi tingkat
ketegangan sehingga memicu relaksasi dan melancarkan aliran darah. Teori kedua
menyatakan bahwa stimulasi yang dihasilkan dari sesi refleksi akan merangsang tubuh
untuk melepaskan endorfin dan monoamina, yaitu dua senyawa yang berfungsi mengontrol
rasa sakit dan merangsang relaksasi. Teori ketiga yang disebut Teori Zona, menyatakan
refleksologi bekerja dengan cara yang mirip dengan akupunktur. Teori ini mengatakan
bahwa tubuh dibagi menjadi 10 zona vertikal, dan bahwa setiap otot dan organ dalam
tubuh dapat dirangsang dengan melakukan tekanan atau pijitan pada tangan dan kaki.
Sesi terapi refleksi umumnya akan dimulai dengan pemanasan pada kaki. Metode
pijat refleksi selanjutnya adalah memijat atau menekan titik refleksi pada kaki atau tangan.
Pemijatan atau penekanan titik refleksi ini bertujuan untuk merangsang saraf-saraf yang
berhubungan dengan organ tubuh yang sakit atau mengalami gangguan. Titik-titik refleksi
sebenarnya terdapat di seluruh tubuh. Peredaran darah ke seluruh tubuh melalui jalur saraf
berhubungan dengan seluruh organ tubuh. Jalur saraf tersebut ada yang melewati kaki dan
tangan. Pada daerah kaki dan tangan, terdapat serabut-serabut saraf yang menjadi titik-titik
refleks. Titik-titik refleksi pada kaki atau tangan akan memberikan rangsangan secara

4
refleks (spontan) pada saat dipijat atau ditekan. Rangsangan tersebut akan mengalirkan
semacam gelombang kejut atau listrik menuju otak. Gelombang tersebut diterima otak dan
diproses dengan cepat, lalu diteruskan menuju saraf pada organ tubuh yang mengalami
gangguan. Salah satu penyebab organ tubuh mengalami gangguan atau sakit adalah adanya
penyumbatan aliran darah menuju organ tersebut. Saat titik refleks dipijat atau ditekan,
gelombang yang merambat akan menghancurkan atau memecah penyumbatan tesebut
sehingga aliran darah akan kembali lancar.

2.4 Dampak Terapi Refleksi


Terapi refleksi bisa menghasilkan berbagai perubahan fisik dalam tubuh. Reaksi
yang paling umum dijumpai adalah relaksasi tubuh yang sangat bermanfaat untuk
kesehatan dan kesejahteraan secara umum. Terapi pijat refleksi kaki dapat memberikan
efek relaksasi yang serupa dengan ketika berjalan di atas bebatuan. Pemijatan pada telapak
kaki akan memberikan rangsangan yang mampu memperlancar aliran darah dan membantu
pembuangan produk limbah. Aliran darah yang lancar memungkinkan nutrisi penting
mencapai sel-sel tubuh. Sirkulasi aliran darah yang lancar juga akan memberikan efek
relaksasi dan kesegaran pada seluruh anggota tubuh. Pijatan dan tekanan yang dilakukan
mampu memberikan banyak manfaat seperti halnya terapi pijat yang lain.

2.5 Konsep Terapi Refleksi


Prinsip pijat refleksi pada dasarnya adalah memanipulasi titik pusat simpul saraf
atau pengendali refleks di titik meridian. Bila energi di jalur meridian berjalan lancar
artinya tubuh dalam kondisi sehat. Sebaliknya, jika ada gangguan kerja, organ tubuh akan
pincang dan bereaksi dalam bentuk gejala sakit. Dalam terapi pemijatan, rasa sakit ini
biasanya timbul karena titik-titik refleksi tersebut menjadi sangat sensitif terhadap
rangsangan saat dilakukan pemeriksaan atau diagnosa. Setelah terdiagnosa, pemijatan
suatu organ tubuh bisa dilakukan melalui kaki atau tangan. Jika dilakukan dengan benar
dan tepat pada titik pusat simpul saraf yang mengalami gangguan, bukan gejala sakit saja
yang hilang tetapi juga penyebabnya.

5
Refleksologi menggunakan teknik urutan pada 62 titik utama yang ada pada telapak
kaki seseorang. Titik titik refleksi mempunyai hubungan dengan organ utama pada tubuh
antaranya jantung, paru-paru, ginjal, organ seks dan otak.
1. Titik refleksi pada kaki bagian bawah (telapak)
Titik - titik refleksi pada telapak kaki berhubungan dengan seluruh organ tubuh. Titik-
titik refleksi dibagi menjadi bagian bawah jari - jari, telapak bagian depan, telapak
bagian tengah, dan telapak bagian belakang. Titik refleksi pada bagian bawah jari - jari
kaki berhubungan dengan organ otak, dahi, hidung, leher, mata, dan telinga. Titik
refleksi pada telapak bagian depan berhubungan dengan bahu, pundak (otot trapezius),
kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, dan paru - paru. Titik refleksi pada telapak bagian
tengah berhubungan dengan lambung, usus 12 jari, pankreas, kelenjar adrenalin,
ginjal, jantung, usus besar, dan limpa. Titik refleksi pada telapak bagian belakang
berhubungan dengan ureter (saluran kencing), usus kecil, kandung kemih, rektum,
anus, lutut, insomnia, dan kelejar reproduksi.
2. Titik refleksi pada punggung kaki
Titik - titik refleksi pada punggung kaki bagian depan berhubungan dengan kelenjar
getah bening, organ keseimbangan, dada, sekat rongga dada dan perut, amandel,
rahang, dan saluran pernapasan. Titik refleksi pada punggung kaki bagian belakang
dan samping berbuhubungan dengan bahu, lutut, indung telur atau testis, sendi
pinggul, tulang tungging, tulang belikat, sendi siku, tulang rusuk, dan pinggul.
3. Titik refleksi pada kaki bagian samping dalam
Titik refleksi pada kaki bagian depan berhubungan dengan hidung, leher, kelenjar
paratiroid, dan punggung. Titik refleksi pada kaki bagian belakang berhubungan
dengan pinggang, kandung kemih, kelangkang, tulang paha, kelenjar getah bening,
rahim, prostat, tulang rusuk, dan dubur.
Terapi pijat refleksi kaki harus dilakukan secara menyeluruh. Artinya, pemijatan
tidak hanya pada satu titik syaraf telapak kaki tertentu saja. Contohnya, pada proses
penanganan kasus telinga berdenging, tidak hanya menekan titik syaraf kaki yang
berhubungan dengan telinga. Pemijatan titik syaraf telapak kaki yang berhubungan dengan
organ kepala, ginjal, dan kelenjar getah bening juga harus dilakukan. Hal ini disebabkan
semua organ tersebut berkaitan dengan organ telinga.

6
Sebagian orang akan merasa lebih baik saat pertama kali dipijat refleksi. Tetapi
untuk sebagian orang dampak pijat refleksi tidak dapat langsung dirasakan. Untuk itu,
sebaiknya pijat refleksi harus dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu tertentu. Jika
terlalu cepat juga kurang baik dan jika terlalu lama maka toksin-toksin akan kembali
mengendap. Sebaiknya lakukan pijat berikutnya 3 - 4 hari setelah pijat yang sebelumnya
atau disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien.

2.6 Indikasi Terapi Refleksi


Terapi refleksi telah lama dikenal sebagai terapi alternatif untuk mengatasi
gangguan pada saraf dan peredaran darah. Indikasi (penggunaan) terapi refleksi cocok
untuk tujuan – tujuan berikut
1. Meningkatkan daya tahan individu
2. Mengurangi risiko tulang rapuh atau keropos
3. Menyeimbangkan tata letak badan
4. Melancarkan pergerakan
5. Menguatkan otot kaki
6. Mengurangi risiko kencing tidak lancar
7. Menguatkan tulang dan pinggul
8. Mengurangi risiko sakit sendi
9. Meredakan rasa letih
10. Menghindarkan risiko sembelit
11. Mengurangi masalah usus
12. Mengurangi masalah organ reproduksi
13. Membantu mengatasi sakit kepala
14. Membantu mengatsi depresi
15. Membantu mengatasi sindrom pra-haid, asma, dan penyakit kulit

7
2.7 Kontra Indikasi Terapi Refleksi
Pijat refleksi termasuk salah satu metode penyembuhan atau terapi kesehatan yang
tidak menimbulkan efek samping selama dilakukan secara baik dan sesuai dengan
petunjuk. Namun ada beberapa penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan cara dipijat
refleksi antara lain :
1. Matinya urat saraf akibat kecelakaan, benturan, stroke atau penyakit lainnya.
Pemijatan pada daerah refleksi tidak boleh dianjurkan sebab tidak akan memberikan
reaksi atau respon terhadap organ yang berhubungan dengan daerah refleksi.
2. Tumpulnya kepekaan urat saraf karena terlalu banyak minum obat kimia. Terlalu
sering dan banyak meminum obat kimia dapat membuat urat saraf menjadi tumpul
atau kurang peka, karena peran yang alami telah digantikan atau dimatikan oleh obat
kimia tersebut.
3. Kanker yang terlalu parah karena telat ditangani.

8
2.8 Titik – Titik Refleksi pada Telapak Kaki
Berikut merupakan titik – titik refleksi pada kaki kiri:

Organ yang berhubungan :


1. Otak kanan 7. Leher
2. Dahi kanan 8. Mata kanan
3. Otak kecil 9. Kuping kanan
4. Kelenjar di bawah otak 10. Bahu kiri
5. Saraf trigerninus (berpusat di 11. Otot trapezius (di leher dan
pelipis) pundak kiri)
6. Hidung 12. Kelenjar tiroid

9
13. Kelenjar paratiroid 26. –
14. Paru-paru dan bronkus kanan 27. –
15. Lambung 28. –
16. Doudenum 29. Usus besar Transversus
17. Pankreas 30. Usus besar desendens
18. – 31. Rekturn
19. – 32. Anus
20. Serabut saraf lambung 33. Jantung
21. Kelenjar Adrenal kiri 34. Limpa
22. Ginjal kiri 35. Lutut kiri
23. Ureter (saluran kencing) kiri 36. Kelenjar reproduksi kiri (indung
24. Kandung kemih telur / testis)
25. Usus kecil

10
Berikut ini beberapa titik - titik refleksi pada telapak kaki kanan :

Organ yang berhubungan :


1. Otak kiri 11. Otot trapezius (di leher dan
2. Dahi kiri pundak kanan)
3. Otak kecil 12. Kelenjar tiroid
4. Kelenjar di bawah otak 13. Kelenjar paratiroid
5. Saraf trigernius (berpusat di 14. Paru-paru dan bronkus kiri
pelipis) 15. Lambung
6. Hidung 16. Doudenum
7. Leher 17. Pankreas
8. Mata kiri 18. Liver
9. Kuping kiri 19. Kandung empedu
10. Bahu kanan 20. –

11
21. Kelenjar adrenal kanan 29. Usus besar transversus
22. Ginjal kanan 30. –
23. Ureter (saluran kencing) kanan 31. –
24. Kandung kemih 32. –
25. Usus kecil 33. –
26. Usus buntu 34. –
27. Katuplseo-sekal (akhir usus kecil) 35. Lutut kanan
28. Usus besar asendens
36. Kelenjar reproduksi kanan (indung telur / testis)

2.9 Manfaat dan Fungsi Titik Refleksi Kaki


Berikut ini fungsi titik refleksi telapak kaki yang berjumlah total 36 titik yang terdapat pada
telapak kaki kanan dan kiri :
1. Otak kiri/kanan : mengatasi pusing, stress, sakit kepala, emosional, ketegangan, amarah,
mudah tersinggung, pelupa, pikun, susah tidur.
2. Dahi kiri/kanan : mengatasi sakit kepala, sirkulasi daerah di atas kepala, lembek bagian atas
kepala, sakit dahi dan vertigo.
3. Otak kecil kiri/kanan : Mengatasi sakit / pegal bagian belakang kepala (tengkuk), stroke,
kesemutan bagian tangan, luka pendarahan di otak.
4. Kelenjar di bawah otak : Mengatasi polio/kelumpuhan, mempertahankan dorongan/sumber
daya sex, lemah syahwat, impotensi, sulit mendapat keturunan, mengatur sel dan pertumbuhan
tubuh, kendali jantung, mengatur kelenjar tiroid dan kelenjar repoduksi.
5. Saraf trigerninus: Melawan virus, alergi, gatal, menguatkan kulit terutama kulit kemaluan agar
tidak mudah lecet, kulit kepala, sakit kepala sebelah (migrain), memperbaiki pengecapan, saraf
panca indera, kelenjar peluh, kulit kepala dan wajah.
6. Hidung kiri/kanan : Mengatasi pilek dan flu
7. Leher kiri/kanan : Mengatasi sakit bagian leher, kesulitan menggerakan leher, sakit pundak.
8. Mata kiri/kanan : Mengatasi mata lamur, katarak, buta senja, lapisan saraf mata, mata merah,
mata berair dan beberapa gangguan pada mata.
9. Kuping kiri/kanan : Mengatasi kuping mendengung, kurang pendengaran, sakit kuping, darah
tinggi, hilang keseimbanan.
10. Bahu kiri/kanan : Mengatasi sakit sendi bahu, sulit mengenakan pakaian, mengangkat tangan,
mengangkat barang dan sulit menyisir rambut.

12
11. Otot trapezius kiri/kanan : Mengatasi sakit pundak dan leher, membuka saraf terjepit pada
organ pundak, mencegah katup jantung bocor, stroke atau lumpuh separuh badan.
12. Kelenjar tiroid : Mengatasi gondok, gangguan pada tenggorokan, mengontrol
metabolisme, gangguan pada pernapasan, jantung, wajah bengkak, kegemukan, bola
mata melotot, memproduksi yodiom.
13. Kelenjar paratiroid : Mengatasi kesemutan dalam kaki, pegal rematik, kram, saraf
terjepit, varises dan stroke.
14. Paru-paru kiri/kanan : Mengatasi batuk, infeksi paru, radang paru, sesak nafas.
15. Lambung : Mengatasi sakit maag, masuk angin, kembung, sakit perut, mencret, sakit
kepala.
16. Duodenum : Menetralisir asam lambung yang berlebihan dalam lambung, membuang
dan mendorong angin keluar dari lambung.
17. Pankreas : Meningkatkan produksi insulin
18. Liver : Memperbaiki fungsi hati dan mencegah penyakit pada hati.
19. Kandung empedu : Mengoptimalkan fungsi empedu
20. Serabut saraf lambung : Mngobati penyakit lambung
21. Kelenjar adrenal kiri/kanan : Menstimulasi persediaan gula dalam lever, menambah
gula dalam darah, menambah produksi hormone sexual.
22. Ginjal kiri/kanan : Mengatasi sakit ginjal, radang ginjal, asam urat, batu ginjal, TBC
ginjal, gagal ginjal, infeksi ginjal, pegal bagian pinggang.
23. Ureter kiri/kanan : Mengatasi sakit kencing, infeksi saluran kencing, putih telur dalam
kencing.
24. Kandungkemih : Mengatasi kencing batu, membantu berfungsinya kelenjar prostat.
25. Usus kecil : Mengatasi kolestrol agar tidak mengganggu jantung
26. Usus buntu : Mengatasi penyakit usus buntu, radang usus buntu, pegal kaki bagian
kanan.
27. Katupiseo-sekal : Mengatasi penyakit usus buntu
28. Usus besar asendens : Mengatasi radang usus, hernia.
29. Usus besar transverses : Mengatasi asam urat, membantu pekerjaan ginjal, sembelit,
radang usus.
30. Usus besar desendes : Mengatasi sakit perut bagian bawah.

13
31. Rektum : Mengatasi sembelit, ambeien, kangker rectum.
32. Anus : Mengatasi ambeien, sembelit, sakit perut bagian bawah.
33. Jantung : Mengatasi sakit jantung, lemah jantung, radang jantung, jantung koroner,
sakit dada sebelah kiri, cemas, gelisah, melancarkan peredaran darah, pingsan.
34. Limpa : Membantu produksi darah serta meningkatkan imunitas.
35. Lutut kiri/kanan : Mengatasi sakit lutut, asam urat, saraf terjepit pada bagian lutut.
36. Kelenjar reproduksi : Untuk kesuburan pria atau wanita, memproduksi sperma atau
indung telur, mengatasi rambut rontok, mandul lemah sahwat.

2.10 Standar Operasional Prosedur (SOP) Terapi refleksi


1. Tahap Persiapan
a. Persiapan klien :
1) Memperkenalkan diri
2) Menjelaskan tujuan
3) Menjelaskan langkah-langkah yang akan dilakukan
b. Persiapan Lingkungan :
Menutup pintu atau memasang sampiran
c. Persiapan Alat
1) Minyak urut
2) Baskom 1 buah
3) Air Hangat
4) Garam
5) Handuk 1 buah
2. Tahap Pelaksanaan
a. Cuci tangan
b. Rendam kaki pasien dalam air hangat yang telah dibubuhi garam selama 10-15
menit
c. Keringkan kaki pasien dengan handuk
d. Minta pasien untuk berbaring dan anjurkan pasien untuk rileks
e. Pakailah minyak ketika akan melakukan teknik pijatan refleksi.

14
f. Ketika dipijat, apabila makin sakit maka makin baik. Namun harus diperhatikan
pula daya tahun dari penderita, sebab setiap orang berbeda-beda daya tahannya.
Maka dari itu para pemijat refleksi harus memberi tahu pasiennya agar menahan
sakit ketika dipijat. Apabila penderita menahan sakit sampai pucat pada mukanya,
berarti sakitnya melampaui daya tahannya, maka dari itu perlu diistirahatkan.
g. Daerah refleksi yang terdapat pada titik kaki, cara memijat refleksi pada titik kaki
yaitu dari arah bawah ke atas. Kemudian untuk disekitar titik betis memijatnya
menurut arah aliran darah.
h. Ketika melakukan pijat refleksi pada kaki perlu menggunakan tulang jari telunjuk
yang dilipatkan untuk memijat, khusus pada titik refleksi yang letaknya agak
tersembunyi atau telapak kaki yang banyak dagingnya.
i. Lama waktu ketika melakukan pijat refleksi adalah sekitar 30 – 40 menit. Tetapi
juga bergantung kepada penyakit yang diderita serta daya tahan tubuh pasien.
j. Setiap titik refleksi hanya dipijat 5-9 menit dalam sekali pengobatan.
k. Bagi penderita penyakit jantung, DM, lever, kanker, jangan memijat dengan keras.
Tiap daerah refleksi pada titik kaki tidak lebih dari 2 menit.
l. Selama pemijatan, hentikan terlebih dahulu obat-obatan dari apotik / dokter. Hal
ini karena dapat menghambat kesembuhan, terkecuali penderita penyakit Jantung
dan DM, obat-obat tersebut tetap diperlukan.
m. Kebanyakan orang memerlukan waktu perawatan 4-8 minggu untuk memperoleh
hasil yang memuaskan. Tetapi bagi pasien berpenyakit kronis dipijat 3x dalam
seminggu atau 2 hari sekali. Jangan memijat setiap hari
n. Setelah selesai memijat, cuci tangan hingga bersih
o. Anjurkan pasien untuk minum air putih 2-3 gelas atau 500 cc. Hal ini akan
membantu membuang kotoran di dalam tubuh pasien. Khusus untuk penderita
penyakit ginjal, jangan minum air putih setelah pijat refleksi lebih dari 150 cc.
3. Tahap Akhir
a. Evaluasi persaan klien
b. Kontrak waktu untuk kegiatan selanjutnya
c. Dokumentasikan prosedur dan hasil observasi

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Terapi refleksi merupakan teknik pengobatan non medis yang mencakup penekanan
pada beberapa bagian dari kaki, tangan dan telinga dengan tujuan untuk memperbaiki
kesehatan. Refleksologi adalah teknik penyembuhan alternatif untuk mengurangi
ketegangan, meningkatkan sirkulasi, dan mempromosikan fungsi alami dari tubuh melalui
penerapan tekanan pada berbagai titik – titik tertentu di kaki, tangan, dan bagian bagian
tubuh lainnya. Terapi refleksi bisa menghasilkan berbagai perubahan fisik dalam tubuh.
Reaksi yang paling umum dijumpai adalah relaksasi tubuh yang sangat bermanfaat untuk
kesehatan dan kesejahteraan secara umum.

3.2 Saran
Sebagai seorang perawat professional yang bekerja di bidang komplementer, sudah
semestinya mengetahui dan memahami refleksi dalam keperawatan agar dapat memberikan
pelayanan yang efektif kepada pasien. Untuk itu ada baiknya untuk terus menambah dan
memperluas pengetahuan mengenai refleksi dalam keperawatan dari berbagai sumber.

16
DAFTAR PUSTAKA

Atmojo, Tri. 2008. Pijat Refleksi dan Aneka Ramuan Tradisional Untuk Kesembuhan Segala
Penyakit. Yogyakarta: Media Pressindo.

Aukes L. 2008. Personal reflection in medical education [dissertation]. Netherland: University


Medical Center Groningen

Boud D, Keogh R, Wlker D. 1985. Reflection: turning experience into learning. London: Kogan

Lyons J. 1999. Reflective education for professional practice: discovering knowledge from
experience, Nurse Education Today.

Rahimsyah. 2014. Pijat Refleksi dan Ramuan Tradisional. Surabaya: Penerbit Serba Jaya

Robertson K. 2005. Reflection in professional practice and education. Australian Family


Physician Vol. 34, No. 9.

Schon DA. 1983. The reflective practitioner. How professional think in action. London: Temple
Smith.

Suyoto. 2015. Pijat Refleksi. Jakarta: Penebar Plus

Widyatuti. 2008. Terapi komplementer dalam keperawatan. Jurnal Keperawatan Indonesia.

17