Anda di halaman 1dari 6

Friday, May 15, 2015

FARMAKOLOGI OBAT ASMA

FARMAKOLOGI OBAT ASMA

Pengenalan Asma
Asma adalah suatu penyakit yang dikarakteristikkan dengan adanya respon yang berlebihan dari trakea
dan bronki terhadap berbagai rangsangan dan bermanifestasi dengan penyebaran penyempitan saluran
napas yang beratnya dapat berubah secara spontan atau sebagai hasil dari terapi. Secara klinik, asma
bronkial ini ditandai dengan serangan spasme bronkus hebat dengan batuk, mengi, dan dispnea (sesak
napas).
Asma atau bengek merupakan suatu penyakit yang bercirikan peradangan yang disertai serangan sesak
napas akut yang berkala, mudah sengal-sengal dan batuk (dengan bunyi khas). Ciri lain adalah
hipersekresi dahak yang biasanya lebih parah apada malalm hari dan meningkatnya ambang rangsang
(hiperreaktivitas) bronchi terhadap rangsangan alergi maupun non alergi. Asma atau bengek terjadi
karena hiperresponsivitas bronkus, inflamasi saluran pernafasan, dan bronkokonstriksi. Di pengaruhi
oleh faktor lingkungan dan genetik.

KLASIFIKASI ASMA
ž Intermiten
Gejala : siang hari ˂ 2x/ minggu. Malam hari ˂ 2x/ bulan, serangan singkat, intensitas serangan
bervariasi.
ž Persisten ringan
Gejala : siang hari ˃ 2x/ minggu, tetapi ˂ 1x/ hari, malam hari ˃ 2x/bulan, serangan dapat
mempengaruhi aktifitas.
ž Persisten sedang
Gejala : siang hari ada gejala, malam hari ˃ 1x/ minggu serangan mempengaruhi aktifitas, serangan ˃
2x/minggu serangan berlangsung berhari-hari, sehari hari menggunakan inhalasi beta 2 agonis short
acting.

ž Persisten berat
Gejala : terus menerus ada gejala disiang hari, setiap malam hari sering timbul gejala, aktifitas fisik
terbatas.

Obat-Obat Asma
Berdasarkan mekanisme kerjanya,obat dapat di bagi dalam beberapa kelompok,yaitu
1.antialergika
Adalah zat zat yang berkhasiat menstabilisasi mastcells ,sehinnga tidak pecah dan mengakibatkan
terlepasnya histamine dan mediator peradang lainnya.yang terkenal adalah kromoglikat dan
nedocromil,tetapi juga antihstaminnika (ketotipen,oksatomida) dan β2-adrenergika (lemah) memiliki
daya kerja ini. Obat ini sangat berguna untuk prefensi serangan asma dan rhinitis alergis (hay fever) .
Penggunaan kromoglikat sangat efektif sebagai obat pencegah serangan asma dan bronchitis yang
bersifat alergi serta conjunctivitis alergi dan alergi akibat makanan. Untuk profilaksis yang layak, obat
ini perlu diberikan minimal 4 kali sehari yang efeknya baru menjadi nyata sesudah 2-4 minggu. Pada
serangan akut kromolin tidak efektif karena tidak memblok reseptor histamine.
Resorpsi didalam usus tidak terjadi, dari suatu dosis inhalasi (serbuk halus) senyawa ini hanya 5-10%
mencapai bronchi dan diserap, yang segera diekskresikan lewat kemih dan empedu secara utuh.
Efeksampingnya berupa rangsangan local pada selaput lender tenggorokan dan tracea, dengan gejala
batuk-batuk, kadang-kadang kejang, dan serangan asma selewat . Untuk mencegah hal ini dapat
digunakan inhalasi salbutamol terlebih dahulu. Rangsangan mukosa dapat terjadi pada penggunaan
nasal (Rynacrom, Lomusol) dan pada mata. Wanita hamil dapat menggunakan kromoglikat.
Dosis inhalasi minimal 4 dd 1 puff (20mg) sebagai serbuk halus dengan menggunakan alat khusus
(spinhaler) atau sebagai larutan (aerosol). Nasal 4 dd 10 mg serbuk dan untuk mata 4-6 dd 1-2 tetes dari
larutan 2%.

2. Bronchodilator
Pelepasan kejang dan bronchodilasi dapat dicapai dengan dengan merangsan adrenergic dengan
adrenergika atau melauai penghambatan sistim kolinergis dengan antikolinergika, juga dengan
teofilin.
a. agonis β adrenerrgik atau (β-mimetika)
salbutamol,terbutalin, klenbuterol, salmeterol, fenoterol, formoterol dan prokaterol.
Contoh :
ž Kerja singkat (1-3 jam) : epinefrin, isoproterenol, isoetarin
ž Kerja sedang (3-6 jam) : salbutamol, bitolterol, fenoterol, metaproterenol. pributerol, terbutalin.
ž Kerja lama (lebih dari 12 jam) : formoterol, salmeterol, bambuterol.
Zat zat ini bekerja selktif tehadap reseptor β adrenergic (bronchospasmolysis) dan praktis tidak
terhadap reseptor β1 (stimulasi jantung). Obat dengan efek terhadap kedua reseptor sebaiknya jangan
digunakan lagi berhubung efeknya terhadap jantung. Seperti efedrin,isoprenalin, dan
orsiprenalin.pengecualian ada adrenalin (reseptor-α dan – β) dan yang sangat efektif pada keadaan
kemelut.
· Mekanisme kerjannya adalah melaui stimulasi reseptor β2 yang banyak terdapat di trachea
(batang tenggorok dan bronchi yang menyebabkan aktivasi dari adenilsiklase.Enzim ini memperkuat
pengubahan adenosintrifosfat (ATP) yang kaya energi menjadi cyclic-adenosine-monophosphape
(cAMP) dengan pembebasan enersi yang digunakan proses-proses dalam sel.Meningkatnya kadar
(cAMP) didalam sel menghasilkan beberapa efek melalui enzim fosfokinase,a.1.bronchodilatasi dan
penghambatan pelepasan mediator oleh mastcells.
· Farmakodinamika : Zat zat ini bekerja selektif terhadap reseptor beta-2 adrenergik
(bronchospasmolysis) dan praktis tidak terhadap reseptor beta-1 (stimulasi jantung).
· Indikasi : Untuk mencegah dan untuk mengatasi bronkospasme.
· Farmakokinetik : diadsorbsi minimal dari saluran cerna,tidak melintasi blood-brain barier
,dimetabolisme secara ekstensif dalam hepar menjadi metabolit in aktif,dieksresi secara cepat melaui
urin dan feses.
· Efek samping :
kerja pendek :mulut kering,tremors,tachycardia,paradoxial bronchospasm
Kerja lama: bronchospasm, tachycardia
Penggunaanya semula sebagai monoterapi kontinu,yang ternyata berangsur meningkatkan HRB dan
akhirnya memperburuk fungsi paru karena tidak menanggulangi peradangan dan peningkatan kepekaan
bagi allergen . Pada pasien alergis.oleh karena itu sejak beberapa tahun sejak beberapa tahun hanya
untuk
melawan serangan dan sebagai pemeliharaan dalam kombinasi dengan zat anti radang.yaitu
kortikosteroid
inhalasi. Salbutamol dan butalin dapat di gunakan oleh wanita hamil,begitu pula penoterol dan hekso-
prenalin settelah minggu ke 16.salbutamol, terbutalin dan salmeterol mencapaiair susu ibu.dari obat
lain
nya belum terdapat data untuk menilai keamanannya tetapi cukup pada binatang percobaan salmeterol
ternyata merugikan janin.
Contoh obat

· Dosis : 2mg, 4mg/tab, 2mg/5ml


Anak-anak : 3-4x 1/4-1/2 tab
Dewasa : 3-4x 2 tab

· Indikasi : asma bronkial, bronkitis kronik, emfisema pulmonum,


· Efek samping : kejang otot, tremor,takikardia, sakit kepala, ketegangan, gugup,mual, vasodilatasi
perifer, dan susah tidur.
· Kontraindikasi : Hipersensitif

b. antikolinergik
Ipratropium,tiotropiumdan deftropin. Di dalam sel sel otot polos terdapat keseimbangan antara sistem
adrenergic dan sistem kolinergis. Bila karena sesuatu sebab reseptor beta-2 dari sistem adrenergic akan
berkuasa dengan akibat bronchokonsttriksi. Antikolinergika memblock reseptor muskarin dari saraf
saraf kolinergik di otot polos bronchi, hingga aktivitas saraf adrenergic menjadi dominan dengan efek
bronchodilatasi. Penggunaannya untuk terapi pemeliharaan HRB ,tetapi juga berguna untuk
meniadakan serangan asma akut (melalui inhalasi efek pesat). Iprat ropium dan tiotropium khusus
digunakan sebagai inhalasi, kerjanya lebih panjang dari pada salbutamol. kombinasinya dengan β2
mimetika sering kali igunakan karena mencapai efek adiktif. Deptropin (brontin) berdaya mengurangi
HRB tetapi kerja spasmolitisnya ringan, sehingga diperlukan dosis tinggi dengan risiko efek samping
yang lebih tinggi pula. Adakalahnya senyawa ini masih digunakan pada anak-anak kecil dengan
hipersekresi dahak, yang belum mampu diberikan terapi inhalasi.
Efek samping yang tidak dikehendaki adalah sifatnya yang mengentalkan dahak dan tachycardia, yang
tak jarang mengganggu terapi. Begitu pula efek atropine lainnya seperti mulut kering, obstipasi, sukar
kemih, dan penglihatan kabur akibat gangguan akomodasi. Penggunaannya sebagai inhalasi
meringankan efek samping ini.
3. Derivate Xantin : Teofilin, Aminofilin
Derivat metilxanttin mencangkup teofilin, aminofilin, dan kafein. Xantin juga merangsang saraf pusat
dan pernafasan, mendilatasi pembuluh pulmolar dan koronaria, dan menyebabkan diuresis karena
efeknya terhadap respirasi dan pembuluh pulmolar, maka xantin dipakai untuk mengobati asma.
Daya bronchorelaksasinya diperkirakan berdasarkan blockade reseptor adenosine. Selain itu, teofilin
seperti kromoglikat mencegah meningkatnya hiperreaktivitas dan berdasarkan ini bekerja profilaktis.
Resorpsi dari turunan teofilin sangat berfariasi yang terbaik adalah teofilin microfine (particle size :1-5
micron) dan garam-garam aminofilin dan kolinteofilinat.
Penggunaan secara terus menerus pada terapi pemeliharaan ternayata efektif mengurangi frekuensi
serta hebatnya serangan. Pada keadaan akut (injeksi aminofilin) dapat dikombinasi dengan abat asma
lain , tetapi kombinasi dengan beta-2 mimetika hendaknya digunakan dengan hati-hati berhubung
kedua jenis obat saling memperkuat efek terhadap jantung. Kombinasinya dengan efedrin (asmadex,
asmasolon) praktis tidak meningkatkan efek bronchodilatasi. Sedangkan efeknya terhadap jantung dan
efek sentralnya sangat diperkuat. Oleh karena ini, sediaan kombinasi demikian tidak dianjurkan
terutama untuk pasien pemula.
· Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik setelah diberikan secara oral, tetapi absorbsi dapat
bervariasi sesuai dengan dosis. Teofilin dapat diberikan secara i.v dalam cairan i.v. obat-obat teofilin
dimetabolisasi oleh enzim hati, dan 90% dari obat ini dikeluarkan melalui ginjal.
· Farmakodinamik : Teofilin meningkatkan kadar siklik AMP, menyebabkan terjadinya
bronkodilatasi.
· Efek samping : Mual, muntah, nyeri lambung karena peningkatan sekresi asam lambung,
pendarahan usus, disritmia jantung, palpitasi (berdebar), hipotensi berat, hiperrefleks, dan kejang.
Teofilin adalah suatu bronkodilator dengan potensi sedang.
· Mekanisme : menghambat aktifitas fosfodiesterase yang dihasilkan oleh peningkatan kadar
cAMP dalam otot polos saluran napas. Teofilin menghambat degranulasisel mastosit, mengurangi
kebocoran mikrovaskular, dan meningkatkan bersihan mukosiliar.
· Efek samping : teofilin berkaitan dengan kadar plasma (20 mg/1), termasuk kegugupan, tremor
ansietas, mual, anoreksia, perut tidak enak, aritmia jantung, dan kejang.
· Indikasi : sebagai terapi penunjang untuk asma kronis yang gejalanya masih sulit dikontrol oleh
kombinasi agonis beta-2 dan obat antiinflamasi. Memperbaiki fungsi paru dan kelemahan diafragma.
· Farmakokinetik :
· Absorbsi teofilin lebih komplet dan cepat pada pemakaian peroral.
· Metabolisme : oleh sitokrom P-450 dan kecepatan metabolisme bervariasi luas diantara subjek-
subjek.
4. kortikosteroid : Hidrokortison, Prednisone, Dexametason
Kortikosteroi berkhasiat meniadakan efek mediator, seperti peradangan dan gatal gatal. Daya
antiradang ini berdasarkan blockade enzim fosfolipase A2, sehingga pembentukan mediator
peradangan prostaglandin dan leukotrien dari asam arachidonat tidak terjadi. Kortikosteroid
menghambat mekanisme kegiatan allergen yang melalui IgE dapat menyebabkan degranulasi mastcells,
juga meningkatkan kepekaan reseptor beta 2 hingga efek beta mimetika diperkuat. Penggunaannya
terutama bermanfaat pada serangan asma akibat infeksi virus,selain itu juga pada infeksi bakteri,dan
melawan reaksi perdangan .zat zat ini dapat diberikan inhalasi atau per oral pada kasus gawat dan
statuis asthmatikus,obat ini di berikan secara iv (perinfus)disusul pemberian oral. Penggunaan oral
dalam jangka waktu lama hendaknya di hindari karena menekan funsi aank ginjal yang mengakibatkan
osteoporosis maka hanya diberikan untuk satu kurunsingkat.
· Steroid inhalasi → untuk asma nokturnal (budesonid,beklometason,flunisolid,flutikason dan
triamcinolon cetonide)
· Steroid intravena → untuk penanganan asma akut berat ( hydrocortisone sodium succinate.
Metylprednisolon sodium succinate)
· Oral → prednisolon, prednison
· Indikasi : pengobatan asma sedang dan asma berat.
· Mekanisme : bekerja dengan jalan berikatan dengan reseptor cytosolic yang penting untuk
regulasi gen tertentu. Kortikosteroid meningkatkan densitas reseptor beta 2 dalam otot polos saluran
naps yang dapt mencegah potensial toleransi terhadap agonis beta 2.
Contoh obat

· Dosis : 4mg, 8mg, dan 16mg


Anak –anak : 0,4-1,6 mg/kg BB
Dewasa : 4-48 mg/hari
· Kontraindikasi : infeksi jamur ,sistemik, dan hipersensitif.
· Indikasi : asma bronkial, gangguan endokrin, gastrointestinal, reumatik,eksema,alergi,meningitis
tuberkulosa.
· Efek samping : gangguan elektrolit dan cairan tubuh,gangguan pencernaan, keringat berlebih,
kelemahan otot, hambatan pertumbuhaan pada anak, DM, glaukoma, katarak, meningkatnya tekanan
darah.
· Farmakokinetik :
Prednison oral dapat diabsorbsi dengan cepat dalam sal. Cerna dimetabolisme secara ekstensif dalam
hepar menjadi metabolit aktif prednisolone .Bentuk iv mempunyai onset cepat .Bentuk inhalasi
diabsorbsi minimal (absorbsi linier dengan penambahan dosis)
Kortikosteroid bekerja dengan banyak mekanisme yaitu :
ž Relaksasi bronkospasme
ž Mengurangi sekresi mukosa
ž Potensiasi dengan reseptor adrenergik beta
ž Mengantagonis aksi aksi kolinergik
ž Stabilisasi lisosom
ž Memiliki sifat antiinflamsi
ž Menghambat pembentukan antibodi dan mengantagonis kerja histamin.
ž Kortikosteroid tidak menghambat pembebasan mediator dari sel mastosit, dan tidak pula
menghambat respon awal terhadap alergen , tetapi memblok respon lambat dan hiperresponsif
selanjutnya.
ž Steroid yang aktif pada pemberian topikal dan dapat mengontrol asma tanpa menyebabkan efek
sistemik atau suspersi adrenal adalah beklometason dipropionat, budesonid, triamsinolon asetat, dan
flunisolid.
ž Efek samping : yang umum dari steroid inhalasi adalah kandidiasis orofaringeal dan disfonia yang
dapat dikurangi dengan penggunaan aerosol spacer dan higiene orofaringeal yang baik. Efek samping
trerois per oral adalah osteoporosis, penambahan berat badan, hipertensi, diabetes, miopati, gangguan
psikiatri, kulit rapuh, katarak, dan supresi adrenal.

2.3 Pendekatan Baru Terapi Asma


1. mukolitika dan expetoransia : Asetil-krbosistein, Mesna, bromheksin,dan
ambroksol,kaliummiodida dan amoniumklorida.
semua obat ini mengurangi kekentalann dahak, mukolitik dengan merombak mukoproteinnya dan
ekspektoransia dengan mengencerkan dahak, sehingga pengeluarannya di permudah. Obat ini dapat
meringankan perasaan sesak napas dan terutama berguna pada serangan asma hebatyang dapat
mematikan bila sumbatan lender sedemikian kental tidak dapat dikeluarkan. kalimiodida sebaiknya
jangan digunakan untuk jangka waktu lama berhubung efek sampingnya udema, urticaria, acna.
Penangan simtomatis dengan menghirup uap air panas dapat membantu pencairan dahak yang kental
sehingga mudah di keluarkan. Penderita dianjurkan untuk berbatuk sehingga mengeluarkan dahak.

2. Antihistaminika : Ketotipen, oksatomida


Obat obat ini memblokir reseptor histamine dengan demikian mencegah efek bronchokonstriksinya.
Antihistaminika sangan efektif terhadap sejumlah gejal rhinitis allergic, urticaria, kepekaan terhadap
obat-obat, pruritus, dan gigitan serangga. Namun efeknya terhadap asma terbatas dan kurang
memuaskan karena antihistaminika tidak menghambat bronchokonstriksi dari mediator lain yang di
lepaskan mastcells. Banyak antihistamin memiliki daya antikolinergik dan sedative, mingkin inilah
mengapa obat ini masih banyak digunakan untuk terapi pemeliharaan. Ketotifen dan oksatomida
berdaya menstabilkan mastcell, oksatomida bahkan bekerja sebagai antiserotonin dan antiluekortin.
Antihistamin lain (cetrizin, azelastin) memiliki khasiat antiluekotrin.
Antihistaminika generasi pertama (klorpeniramin.prometazin) memiliki daya kerja antimuskarin dapat
menumbus barrier darah otak sehinnga mengakibatkan mabuk dan gangguan penggerakan. Genrasi ke
tiga dari senyawa ini (setrizin,feksofenadin) tidak memiliki daya kerja atropine dan praktis tidak
menimbulkan mabuk karena tidak menembus barrier darah otak.
Antihistamin genrasi kedua (ketotifen,terfenadin,astemizol,loratadin,setirizin,akrivastin,dan azelastin).
Salahsatu senyawa ini ketotifen digunakan untuk profililaksis untuk mengontrol asma.
· Mekanisme kerja : bekerja memblok reseptor H1 secara kompetitif atau non kompetitif untuk
mengurangi kotraksi otot polos saluran nafas, mngurangi permeabilitas vaskular, dan mengurangi
reflex serabut sensoris yang membebaskan neuro peptida dari serabut sensoris.
· Kerja Utama : mencegah degranulasi sel mastosid dan basofil serta mencegah kebebasan
mediator inflamasi
· Efek samping : mengantuk ringan dan mulut kering . Ketotifen dan Astemizol menimbulkan
efek samping kenaikan berat badan.

3. Zat-zat antileukotrien (LT)


Pada pasien asma leoukotrien turut menimbulkan bronchokonstriksi dan sekresi mucus. Kerja
antileoukotrien bisa berdasarkan penhambatan sintesa LT dengan jalan blockade enzim lipoksigenase
atau berdasarkan penempatan resptor LT dengan LTC4 /D4-blocker. Leukotrien merupakan mediator
yang bersifat bronkokontsriktor (memicu asma) . Obat ini bekerja dengan cara menghambat
bronkokontsriktor dan leukotrien . Contoh Obat : Zafirlukast 20mg/tab.
· Farmakodinamik : bekerja memblok reseptor sisteinil leukotrien C4,D4,dan E4. Sitein leukotrien
adalah suatu bronkokontsriktor yang kuat ,kira-kira 100-1000 kali lebih kuat dari histamin. Dengan
memblok reseptor yang memperantai bronkokontsriktor,permeabilitas vaskular, dan sekresi mukus,
zafirlukast secara bermakna memperbaiki gejal mengi,batuk, dan sesak nafas pada penderita asma.
· Indikasi : untuk terapi asma kronik.
· Efek Samping : sakit kepala,infeksi mual dan diare.

a. lipoksigenase-bloker
Misalnya antihistamin generasi ke 2,yang di samping memblok reseptor H1 juga menghambat
pembentukan leoukotrien dan mediator radang lainnya (prostatglandin dan kinnin).contohnya setrizin
dan loratadin, azelastin, dan ebastin.
b. LT-receptroblockers
(Leoukotrien receptorantagonis LTRA) yang kini tersedia adalah muntelukast zafirlukas dan pranlukas.
Obat obat anti asma dari golongan baru ini berdaya menempati reseptor LTB4 dan LT-cisteyi-myl (C4
D4 E4). Antagonis leukotrin ini mengurangi efak konstriksi bronchi dan inflamasi dari LTD4.