Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENYAKIT INFEKSIUS I

DERMATOFITOSIS

Oleh:
Irma Widyani Warman (B04120096)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dermatofita merupakan kelompok kapang bersepta yang tersebar luas. Kelompok


kapang ini menyerang bagian superfisial tubuh inang mencakup struktur keratin, kulit,
rambut dan kuku. Dermatofitosis adalah salah satu kelompok dermatomikosis superfisialis
yang disebabkan oleh jamur dermatofit, terjadi sebagai reaksi pejamu terhadap produk
metabolit jamur dan akibat invasi oleh suatu organisme pada jaringan hidup. Terdapat tiga
genus dermatofita yang dapat menyebabkan penyakit dermatofitosis antara lain ialah
Microsporum, Trichophyton dan Epidermophyton.

Microsporum adalah kelompok dermatofita yang bersifat keratofilik, hidup pada


tubuh manusia (antropofilik) atau pada hewan (zoofilik). Koloni mikrosporum adalah
glabrous, serbuk halus, seperti wool atau powder. Sedangkan jenis Epidermophyton terdiri
dari dua jenis; Epidermophyton floccosum dan Epidermophyton stockdaleae. E. stockdaleae
dikenal sebagai non-patogenik, sedangkan E.floccosum satu-satunya jenis yang menyebabkan
infeksi pada manusia. E. floccosum adalah satu penyebab tersering dermatofitosis pada
individu tidak sehat. Menginfeksi kulit (tinea corporis, tinea cruris, tinea pedis) dan kuku
(onychomycosis). Infeksi terbatas kepada lapisan korneum kulit luar.koloni E.
floccosumtumbuh cepat dan matur dalam 10 hari. Diikuti inkubasi pada suhu 25 ° C pada
agar potato-dextrose, koloni kuning kecoklat-coklatan. Trichophyton adalah suatu
dermatofita yang hidup di tanah, binatang atau manusia. Berdasarkan tempat tinggal terdiri
atas anthropophilic, zoophilic, dan geophilic. Trichophyton concentricum adalah endemic
pulau Pacifik, Bagian tenggara Asia, dan Amerika Pusat. Trichophyton adalah satu penyebab
infeksi pada rambut, kulit, dan kuku pada manusia.

Patogenesis dermatofitosis tergantung pada faktor lingkungan, antara lain iklim yang
panas, higiene perseorangan, sumber penularan, penggunaan obatobatan steroid, antibiotik
dan sitostatika, imunogenitas dan kemampuan invasi organisme, lokasi infeksi serta respon
imun dari pasien.
Dengan memperhatikan kejadian dermatofitosis yang cukup penting untuk dipelajari,
maka perlu dilakukan cara identifikasi yang tepat untuk dapat menentukan diagnosa terhadap
hewan yang diduga menderita dermatofitosis.

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi sampel kerokan kulit hewan yang di
duga mengalami dermatofitosis.

C. TINJAUAN PUSTAKA

Dermatofitosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kolonisasi jamur dermatofit


yang menyerang jaringan yang mengandung keratin seperti stratum korneum kulit, rambut,
dan kuku pada manusia dan hewan. Dermatofit adalah sekelompok jamur yang memiliki
kemampuan membentuk molekul yang berikatan dengan keratin dan menggunakannya
sebagai sumber nutrisi untuk membentuk kolonisasi (Rippon, 1988). Kelompok kapang ini
bersifat keratinofilik,yaitu kapang yang menyerang lapisan superfisial tubuh seperti kulit,
rambut dan kuku. Microsporum dan Trichophyton biasa menyerang hewan dan
manusia,sedangkan Epidermophyton hanya menyerang manusia (CFSPB 2005).

Penyakit kulit yang disebabkan oleh kapang dermatofit disebut dermatofitosis dikenal
dengan nama ringworm. Pada manusia penyakit ini menimbulkan gejala kulit bersisik
kemerahan dan di pinggirnya berbentuk cincin (ring), dan di bagian tengahnya adalah sel-sel
kulit yang mengalami persembuhan. Gejala ini disangka penyebabnya adalah cacing (worm),
maka istilah ringworm digunakan untuk menamakan penyakit ini. Nama dermatofit
(dermatophyte) bagi jenis kapang penyebabnya diartikan sebagai ‘tanaman yang hidup di
kulit’ karena zat keratin yang terdapat di kulit diperlukan untuk pertumbuhannya. Sehingga
nama yang tepat untuk penyakit ini adalah dermatophytosis (dermatofitosis). Gejala pada
hewan menunjukkan kerontokan bulu berbentuk bulat, kulit bersisik, berwarna abu dan
keadaannya kering, kadang-kadang mirip dengan gejala penyakit kulit lainnya (Harkness dan
Wagner, 1983).

Penularan dapat terjadi akibat kontak dengan artrospora atau konidia. Infeksi biasanya
dimulai pada rambut yang sedang tumbuh atau pada stratum komeum kulit.Penularan
diantara inang terjadi akibat kontak langsung dengan inang yangmenunjukkan gejala maupun
yang tidak menunjukkan gejala klinis atau kontak langsung maupun melalui udara dengan
rambut atau kulit yang terkelupas yang mengandung spora kapang dermatofita (CFSPB,
2005). Faktor yang menyokong terjadinya penyakit antara lain cara pemeliharaan hewan,
faktor nutrisi, lingkungan dan stress. Populasi yang padat, suhu tinggi dan kelembaban, juga
ektoparasit, umur muda atau tua, kehamilan adalah faktor predisposisi timbulnya penyakit
(Harkness dan Wagner, 1983).

D. METODOLOGI

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah scalpel, gelas objek, cover glass,
ose dan jarum, cawan petri, dan mikroskop. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah
KOH 10%, Lactophenol Cotton Blue (LPCB), aquades, selotape, media biakan SDA
(Sabouraud Dextrose Agar), dan sampel kulit. Hewan sebelumnya diduga menderita
dermatofitosis dengan gejala klinis berupa kebotakan dengan batas yang jelas pada daerah
leher. Sampel kulit dikerok dengan scalpel yang steril dan dimasukkan ke dalam plastik
bersih yang berpenutup dan di bawa ke laboratorium untuk pemeriksaan lanjut.

Metode

Pemeriksaan pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan langsung dengan


menempelkan sampel dari kerokan kulit pada gelas objek. Kemudian sampel ditetesi larutan
KOH 10% dan ditunggu sekitar 15 menit. Larutan KOH 10% ini adalah untuk melisiskan
jaringan sehingga dapat terlihat hifa dan makrokonidia. Selanjutnya sampel diamati di bawah
mikroskop dengan pembesaran objektif 40x .

Identifikasi berikutnya yaitu menanam sampel kerokan kulit pada media biakan SDA
yang diberi antibiotik, kemudian diinkubasikan pada suhu kamar selama 7 hari. Hasil biakan
tersebut kemudian diamati baik secara makroskopis dengan mengamati morfologi koloni dan
secara mikroskopis dengan mengamati morfologi mikroskopisnya. Pengamatan morfologi
mikroskopis dilakukan secara natif, yaitu dengan menggunakan selotape yang ditempelkan ke
gelas objek yang ditetesi LPCB dan dibuat slide culture dengan teknik Riddel. Penentuan
kapang dilakukan dengan mengidentifikasi berdasarkan morfologi hifa, konidia dan
konidiosporanya.
BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
1. Pemeriksaan makroskopik
1.1 Hasil Pengamatan

Tanpa pewarnaan

Sample : 1 Referensi

(http://faculty.ccbcmd.edu/)

Keterangan :
Warna : cream
tekstur : cottony
kecepatan pertumbuhan : 3 – 4 minggu
topografi : verrucose
Media : SDA
2. Pewarnaan LCB
2.1 Hasil Pengamatan

Pewarnaan LCB (lactophenol blue)


Sample : 1 Referensi

( www. lib.jiangnan.edu.cn)

Keterangan :
Struktur : 1. Hifa bersepta
2. Makrokonidia (berbentuk spindel, dinding tebal, ukuran)
3. Mikrokonidia (berbentuk clubbing, dinding halus, ukuran)
Perbesaran : 40 x 100
B. PEMBAHASAN

Identifikasi isolat fungi dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama yaitu, pengamatan
fungi secara makroskopis yang meliputi pengamatan terhadap warna dan bentuk koloni. Tahap
kedua yaitu, pengamatan secara mikroskopis yang dilakukan dengan membuat slide kutur
yang meliputi pengamatan terhadap bentuk hifa, bentuk, dan ukuran konidia. Tahap
pembuatan slide kultur dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1Tahap pembuatan slide kultur : (A) Potongan agar yang diambil dari medium
PDA. (B) Cawan Petri berisi batang penahan dan gelas objek. (C) Inokulasi fungi pada agar
yang disimpan di atas gelas objek. (D) Agar yang telah diinokulasi ditutup dengan kaca
penutup. (Sumber : www.botany.utoronto.ca)

Disiapkan sebuah cawan petri steril yang di dalamnya diberi kertas saring steril yang
dipotong bundar dan telah dilembabkan dengan menggunakan akuades steril untuk menjaga
kelembaban kultur dalam cawan Petri. Pada cawan Petri tersebut disimpan batang penahan
berbentuk segitiga, dan di atas batang penahan tersebut diletakkan sebuah objek gelas steril
beserta penutupnya seperti terlihat pada Gambar 3.1. Blok agar steril kira-kira berukuran satu
sentimeter kuadrat dipotong dari medium PDA dalam cawan Petri steril lain (Gambar 3.1 A)
dan diletakkan di atas gela objek dengan menggunakan pisau atau alat pemotong steril.
Kemudian, fungi diinkubasi pada keempat blok agar (Gambar 3.1 C) dan ditutup oleh gelas
penutup steril (Gambar 3.1 D). Setelah beberapa hari diinkubasi dalam suhu kamar, sllide
dapat diamati dengan menggunakan mikroskop pada perbesaran rendah sampai tinggi, lalu
diidentifikasi.

Ringworm atau dermatofitosis adalah infeksi oleh cendawan pada bagian


kutan/superfisial atau bagian dari jaringan lain yang mengandung keratin (bulu, kuku, rambut
dan tanduk). Trichopyton spp dan Microsporum spp, merupakan 2 jenis kapang yang menjadi
penyebab utama ringworm pada hewan. Di Indonesia yang menonjol diserang adalah anjing,
kucing. Penyebab ringworm ialah cendawan dermatofit yaitu sekelompok cendawan dari
genus Epidermophyton, Microsporum dan Trichophyton. Cendawan dermatofit penyebab
ringworm menurut taksonomi tergolong fungi imperfekti (Deuteromycetes), karena
pembiakannya dilakukan secara aseksual, namun ada juga yang secara seksual tergolong
Ascomycetes.
M. canis bersifat ectothrix dan zoofilik yang terdapat pada kucing, anjing, kuda, dan
kelinci, gambaran mikroskopis dari kultur adalah macroconidia berbentuk spindle, berdinding
tebal dan kasar. Microconidia berbentuk clubbing dan berdnding halus, sedangkan M.
gypseum bersifat ectothrix dan geofilik. Gambaran makroskopisnya makrokonidia berbentuk
spindle, dinding tipis 3-6 septa, dan mikrokonidianya sedikit dan berbentuk clubbing (Pohan.,
A. 2009).
Sebaran geografis keberadaannya cukup luas, namun penyakit ini lebih banyak
ditemukan di daerah beriklim tropis dan subtropis, terutama daerah dengan kondisi udara
panas dan kelembaban yang tinggi. Kemudian pada daerah yang mempunyai empat musim,
setelah periode multiplikasi kapang pada bulu selama musim panas. Penyebaran infeksi dapat
terjadi karena luka, bekas luka atau patahan bulu untuk melangsungkan hidupnya. Dapat
tumbuh pada lingkungan kering, dingin, aerobik serta tanpa mikroorganisme lain dan
terlindung dari sinar matahari.
Di negara-negara yang beriklim subtropik atau dingin, kejadian ringworm lebih
sering, karena dalam bulan-bulan musim dingin, hewan-hewan selain kurang menerima sinar
matahari secara langsung, juga sering bersama-sama di kandang, sehingga kontak langsung di
antara sesama individu lebih banyak terjadi. Cara penularan jamur dapat secara langsung dan
secara tidak langsung. Penularan langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut-rambut yang
mengandung jamur baik dari manusia, binatang atau dari tanah. Penularan tak langsung dapat
melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, barang-barang atau pakaian, debu atau air.
Disamping cara penularan tersebut diatas, untuk timbulnya kelainan-kelainan di kulit
tergantung dari beberapa faktor seperti faktor virulensi dari dermatofita, faktor trauma, kulit
yang utuh tanpa lesi-lesi kecil, factor suhu dan kelembaban, kurangnya kebersihan dan faktor
umur dan jenis kelamin (Ahmad., R.Z. 2009).
Untuk mendiagnosa melalui pemeriksaan laboratorium diperlukan sampel kerokan
kulit, serpihan kuku, rambut. Kemudian dapat diperiksa dengan Wood light, atau
pemeriksaan langsung dengan mikroskop dengan KOH, atau pewarnaan, atau dengan
membuat biakan pada media. Penyakit ini dapat dikelirukan dengan lesi yang diperlihatkan
seperti gigitan serangga, urtikaria, infeksi bakteri dan dermatitis lainnya, namun dengan
adanya bentuk cincin pada derah yang terinfeksi dan peneguhan diagnose dengan
pemeriksaan laboratorium akan memastikan bahwa hewan tersebut menderita penyakit
(Ahmad., R.Z. 2009).

Pencegahan yang dapat dilakukan adalah sanitasi kesehatan, lingkungan maupun


hewannya. Terdapat 5 kelompok macam obat dengan berbagai cara dapat dipakai untuk
menghilangkan dermatofit, yaitu: (1). Iritan, dilakukan untuk membuat reaksi radang
sehingga tidak terjadi infeksi dermatofit; (2). Keratolitik, digunakan untuk menghilangkan
dermatofit yang hidup pada stratum korneum; (3) Fungisidal, secara langsung merusak dan
membunuh dermatofit; (4). Perubah. Merubah dari stadium aktif menjadi tidak aktif pada
rambut. Salah satu cara yang efektif untuk penanggulangan adalah mencegah penyebaran
sehingga tidak terjadi endemik, peningkatkan masalah kebersihan, perbaikan gizi dan tata
laksana pemeliharaan. Hewan kesayangan harus terawat dengan cara memandikan secara
teratur, pemberian makanan yang sehat dan bergizi sangat diperlukan untuk anjing dan
kucing. Vaksinasi adalah pencegahan yang baik. Di Indonesia pemakaian vaksin dermatofit
belum dilaksanakan. Pengobatan dapat dilakukan secara sistemik dan topikal. Secara sistemik
dengan preparat Griseofulvin, Natamycin, dan azole peroral maupun intravena dengan cara
topikal menggunakan fungisida topikal dengan berulang kali, setelah itu kulit hewan
penderita tersebut disikat sampai keraknya bersih; setelah itu dioles atau digosok pada tempat
yang terinfeksi. Selain itu, dapat pula dengan obat tradisional seperti daun ketepeng (Cassia
alata), Euphorbia prostate dan E. thyophylia (Ahmad., R.Z. 2009).
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Sample 1 setelah dilakukan serangkaian uji identifikasi didapatkan hasil bahwa jamur
tersebut adalah microsporum canis merupakan jamur yang memiliki warna cream, tekstur
cottony, topografi verrucose. Sedangkan secara mikroskopik memiliki makrokonidia
berbentuk spindle, dinding tipis 3-6 septa, mikrokonidianya berbentuk clubbing, hifa
bersepta.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad., R.Z. 2009. Permasalahan & Penanggulangan Ring Worm Pada Hewan. Lokakarya
Nasional. Penyakit Zoonosis. Balai Penelitian Veteriner.Bogor.

Boel.,T. 2009. Mikosis superficial. Fakultas kedoteran gigi. Universitas Sumatera Utara.

Harkness, JE. and JE. Wagner. 1983. The Biology and Medicine of Rabbits and Rodents,
Second Edition, Lea & Febiger. pp. 115-117.

Pohan., A. 2009. Bahan Kuliah Mikologi. arthur@fk.unair.ac.id.

Rippon JW. Medical Mycology The Pathogenic Fungi. 3rd ed. Philadelphia : WB Saunders
Company; 1988.

Anda mungkin juga menyukai