Anda di halaman 1dari 8

METODE NUMERIK

MODUL 3
Deret Taylor dan MacLaurin

Zuhair
Jurusan Teknik Informatika
Universitas Mercu Buana
Jakarta
2008年10月19日(日)
Deret Taylor dan deret MacLaurin

3.1. Deret Taylor


Pada umumnya fungsi-fungsi yang bentuknya kompleks dapat
disederhanakan menjadi fungsi hampiran dalam bentuk fungsi polinomial yang
lebih sederhana. Fungsi polinomial lebih mudah dipahami kelakuannya.
Apabila kita melakukan pekerjaan hitungan dengan menggunakan fungsi
yang sesungguhnya, maka akan kita dapatkan hasil solusi eksak (solusi sejati).
Tetapi bila kita melakukan pekerjaan hitungan dengan menggunakan fungsi
hampiran, maka akan kita dapatkan hasil solusi hampiran (solusi pendekatan).
Perbedaan antara solusi eksak dan solusi hampiran terletak pada adanya
galat pada solusi hampiran. Galat pada solusi numerik harus dihubungkan
dengan seberapa teliti polinomial dalam menghampiri fungsi yang
sesungguhnya. Biasanya dalam menghampiri fungsi yang sesungguhnya, orang
menggunakan apa yang disebut dengan deret Taylor.

Definisi Deret Taylor


Andaikan suatu fungsi f (x) dan turunannya, yaitu

f ' ( x), f " ( x), f ' ' ' ( x),..., f ( n ) ( x) kontinu dalam selang [a,b], dan x0 ∈ [a, b] , maka

untuk nilai x disekitar x 0 (Gambar 3.1) f (x) dapat diekspansikan (diperluas) ke

dalam deret Taylor sebagai,

( x − x0 ) ( x − x0 ) 2 ( x − x0 ) 3
f ( x) = f ( x0 ) + f ' ( x0 ) + f " ( x0 ) + f ' ' ' ( x 0 ) + ...
1! 2! 3!
( x − x0 ) m
+ f (m)
( x 0 ) + ... .......... .......... .......... .......... .( 3 .1 . 1)
m!
x
a b
x0
Gambar 3.1

Apabila h = x − x0 atau x = h + x0 , persamaan (3.1.1) dapat dinyatakan

sebagai,

2
h h2 h3 hm
f ( x 0 + h) = f ( x 0 ) + f ' ( x0 ) + f " ( x0 ) + f ' ' ' ( x0 ) + ... + f m)
( x0 ) + ....
1! 2! 3! m!
. ...........(3.1.2)

Persamaan (3.1.1) dan (3.1.2) merupakan penjumlahan dari suku-suku (term)


yang disebut deret. Jumlah suku-suku dalam deret Taylor adalah tak berhingga.

CONTOH 3.1.
Hampirilah fungsi f ( x) = x Sin x dengan deret Taylor di sekitar x 0 = 0,1

dimana x dalam radian. Hitunglah nilai hampiran untuk x = 1 atau f (1) .


Penyelesaian:
f ( x) = x Sin x → f (0,1) = 0,1 × Sin(0,1) = 0,009983
f ' ( x) = Sin x + xCos x → f ' (0,1) = Sin(0,1) + 0,1 × Cos (0,1) = 0,199334
f ' ' ( x) = 2Cos x − x Sin x → f ' ' (0,1) = 2Cos (0,1) − 0,1 × Sin(0,1) = 1,980025
f ' ' ' ( x) = −3 Sin x − xCos x → f ' ' ' (0,1) = −3 × Sin(0,1) − 0,1 × Cos (0,1) = −0,399001

f ( 4) ( x) = x Sin x − 4Cos x → f ( 4)
(0,1) = 0,1 × Sin(0,1) − 4 × Cos (0,1) = −3,970033

f (5) ( x) = 5 Sin x + xCos x → f (5) (0,1) = 5 × Sin(0,1) + 0,1 × Cos (0,1) = 0,598667
…………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………..
dan seterusnya.
( x − 0,1) ( x − 0,1) 2 ( x − 0,1) 3
f ( x) = xSin x = f (0,1) + f ' (0,1) + f " (0,1) + f ' ' ' (0,1) +
1! 2! 3!
( x − 0,1) 4 ( 4) ( x − 0,1) 5 (5)
f (0,1) + . f (0,1).........................................................(3.1.1)
4! 5!

Untuk h = x − 0,1 , maka persamaan (3.1.1) dapat dinyatakan sebagai,

h h2 h3 h4
f ( x ) = xSin x = f ( 0 ,1) + f ' ( 0 ,1) + f " ( 0 ,1) + f ' ' ' ( 0 ,1) + f (4)
( 0 ,1) +
1! 2! 3! 4!
h5
. f (5)
( 0 ,1) + ... .......... .......... .......... .......... .......... ........( 3 .1 . 2 )
5!

3
Untuk x = 1 , maka h = 1 − 0,1 = 0,9 dan persamaan (3.1.2) dinyatakan
sebagai,
(0,9) 2 (0,9) 3
f (1) = 1 × Sin(1) ≈ 0,009983 + 0,9 × 0,199334 + × 1,980025 − × 0,399001 −
2! 3!
(0,9) 4 (0,9) 5
× 3,970033 + × 0,598667 + .... ≈ 0,837230
4! 5!

3.2. Deret MacLaurin


Untuk x 0 = 0 , maka persamaan (3.1.1) dan (3.1.2) dapat dinyatakan

sebagai,
x x2 x3 x m (m)
f ( x ) = f (0) + f ' (0) + f " (0) + f ' ' ' ( 0 ) + ... + f ( 0 ) + ....
1! 2! 3! m!
.......... .......... .......... ( 3 . 2 . 1)

h h2 h3 h m m)
f ( h ) = f (0) + f ' (0) + f " (0) + f ' ' ' ( 0 ) + ... + f ( 0 ) + ....
1! 2! 3! m!
.......... .......... .......... .......... .......... ......( 3 . 2 . 2 )

Persamaan (3.2.1) dan (3.2.2) disebut deret MacLaurin.

CONTOH 3.2.
Hampirilah fungsi f ( x) = x Sin x dengan deret MacLaurin dan hitunglah

nilai hampiran untuk x = 1 atau f (1) .


Penyelesaian:
f ( x) = x Sin x → f (0) = 0 × Sin(0) = 0
f ' ( x ) = Sin x + xCos x → f ' (0) = Sin(0) + 0 × Cos (0) = 0 + 0 × 1 = 0
f ' ' ( x) = 2Cos x − x Sin x → f ' ' (0) = 2Cos (0) − 0 × Sin(0) = 2 × 1 − 0 = 2
f ' ' ' ( x) = −3 Sin x − xCos x → f ' ' ' (0) = −3 × Sin(0) − 0 × Cos (0) = −3 × 0 − 0 × 1 = 0

f ( 4) ( x) = x Sin x − 4Cos x → f ( 4 ) (0) = 0 × Sin(0) − 4 × Cos (0) = 0 − 4 × 1 = −4

f (5) ( x) = 5 Sin x + xCos x → f ( 5) (0) = 5 × Sin(0) + 0 × Cos (0) = 5 × 0 + 0 × 1 = 0


…………………………………………………………………………………..

4
…………………………………………………………………………………..
dan seterusnya
x x2 x3 x 4 ( 4) x 5 ( 5)
f ( x) = xSin x = f (0) + f ' ( 0) + f " ( 0) + f ' ' ' ( 0) + f ( 0) + . f (0) + ...
1! 2! 3! 4! 5!
........................................(3.2.3)

x x2 x3 x4 x5 1
f ( x) = xSin x = 0 + ×0+ ×2+ ×0+ × −4 + . 0 + ... = x 2 − x 4 + ...
1! 2! 3! 4! 5! 6
1 1 5
f (1) = (1) 2 − (1) 4 ≈ 1 − ≈ = 0,833333
6 6 6
Fungsi f ( x) = x Sin x dapat didekati oleh deret MacLaurin dengan hasil
yang berbeda, sedikit lebih kecil dibandingkan dengan yang didekati oleh deret
Taylor.

3.3. Akar Persamaan Non Linear

Salah satu problema umum yang dijumpai dalam matematika dan teknik
adalah mencari akar suatu persamaan. Bila fungsi f (x) diketahui maka akan
dicari nilai x yang memenuhi persamaan yang bersangkutan. Memenuhi
persamaan didefinisikan sebagai apabila nilai x disubstitusikan ke dalam
fungsi f (x) , maka f ( x ) = 0 . Dalam hal ini berkaitan dengan menentukan titik

potong dua buah kurva apabila kurva-kurva yang dinyatakan oleh f (x) dan

g (x) diketahui dimana titik potong kurvanya merupakan akar-akar dari

f (x) - g ( x) = 0 .

3.3.1. Akar Suatu Persamaan


Misalkan fungsi f (x) adalah suatu fungsi kontinu. Setiap bilangan s pada

domain f yang memenuhi f ( s ) = 0 disebut akar persamaan. Di sini s adalah

pembuat nol fungsi f (x) . Secara singkat s disebut akar dari fungsi f (x) .

5
Sebagai contoh, persamaan f ( x) = x 2 − 5 x + 6 = 0 mempunyai dua akar

nyata dan eksak, yaitu s0 = 2 dan s1 = 3 . Kita tahu bahwa

f ( x) = x 2 − 5 x + 6 = ( x − 2)( x − 3) sehingga s 0 = 2 dan s1 = 3 merupakan


pembuat nol f (x) .

Pada umumnya fungsi kuadrat yang berbentuk f ( x) = ax 2 + bx + c ,


dimana a ≠ 0 , b dan c adalah konstanta riil yang diketahui, mempunyai akar

− b ± b 2 − 4ac
yang dapat dicari dengan rumus abc , yaitu x1, 2 = , dimana
2a

b 2 − 4ac = D , disebut diskriminan.


Nilai dari akar-akar tersebut tergantung pada nilai D. Bila D > 0 , maka
terdapat dua akar riil berlainan ( x1 dan x 2 ). Bila D = 0 , maka terdapat dua akar

riil yang sama ( x1 = x 2 ). Bila D < 0 , maka tidak terdapat akar riil (akarnya
khayal).
Problema akan timbul ketika kita mendapati model fungsi yang tidak
dapat dicari akar-akarnya dengan rumus abc . Maka di sinilah peran metode
numerik untuk mencari solusi pendekatan atau hampiran. Sebagai contoh,
2 −2
( x + 1) 2 e x − 3 = 0 ……………………...............................…(3.3.1)
Persamaan (3.3.1) tidak dapat diselesaikan secara analitik atau kalau
memungkinkan penyelesaiannya memerlukan perhitungan yang sangat rumit.
Kalau kita amati lebih teliti, persamaan (3.3.1) dapat ditulis dalam bentuk,
2
( x + 1) 2 = 3(e 2− x ) ……………………………………………………….(3.3.2)
yang sebenarnya dapat dinyatakan dalam dua buah fungsi, yaitu
f ( x) = ( x + 1) 2 ……………………………………………………………(3.3.3)
dan
2
g ( x) = 3(e 2− x ) …………………………………………………………(3.3.4)
Akar–akar persamaan (3.3.1) sesungguhnya adalah titik potong dari
persamaan (3.3.3) dan persamaan (3.3.4).

6
3.3.2. Metode Pencarian Akar Suatu Fungsi
Dalam metode numerik, pencarian akar suatu fungsi dapat dilakukan
dengan cara melakukan iterasi. Secara umum metode pencarian akar
dikatagorikan ke dalam dua kelompok metode, yaitu:
1. Metode tertutup (metode pengurung / bracketing method)
Dalam metode ini pencarian akar dilakukan dalam interval tertutup [a, b] ,
yang didalamnya diharapkan terdapat akar, namun hal ini tergantung
pada f (a ) ∗ f (b) . Pada umumnya iterasi selalu konvergen, karena itu
metode tertutup kadang-kadang dinamakan juga metode konvergen.
Yang termasuk metode tertutup adalah metode biseksi (metode bagi
dua) dan metode regula falsi (metode titik palsu).
2. Metode terbuka.
Berbeda dengan metode tertutup, metode terbuka tidak memerlukan
interval tertutup [a, b] , yang diperlukan adalah tebakan awal akar.
Dengan prosedur iterasi kemudian diharapkan dapat kita temukan akar
hampiran. Setiap kali dilakukan iterasi, hampiran akar yang lama dipakai
untuk menghitung hampiran akar yang baru. Mungkin saja hampiran akar
yang baru mendekati akar sejati (konvergen) tetapi mungkin juga
menjauhinya (divergen). Karena itu, metode terbuka tidak selalu berhasil
menemukan akar karena kadang-kadang konvergen, kadang-kadang
pula divergen. Yang termasuk metode terbuka adalah metode iterasi titik
tetap, metode Newton-Raphson dan metode Sekan.

3.3.2.1. Metode Tertutup


Misalkan suatu fungsi f (x) kontinu dalam interval (selang) tertutup
[a, b] . Untuk menentukan jumlah akar, maka kita harus selidiki apakah
f (a) ∗ f (b) < 0 atau f (a) ∗ f (b) > 0 .
Jika f (a ) ∗ f (b) < 0 , maka jumlah akar yang akan didapatkan adalah

ganjil, paling tidak satu buah, tetapi bila f (a ) ∗ f (b) > 0 , maka jumlah akar yang
akan diperoleh adalah genap atau justru tidak mempunyai akar (lihatlah Gambar
3.2 dan 3.3)

7
a s0 s0 s2 b
b a s1

Gambar 3.2.
f (a ) ∗ f (b) < 0
Jumlah akar ganjil, paling tidak satu buah.

a b
a b s0 s1

a b

s0 s1
a b
Gambar 3.3.
f (a) ∗ f (b) > 0
Jumlah akar genap atau tak ada akar.