Anda di halaman 1dari 10

TELAAH KASUS

PULPEKTOMI NON VITAL PADA GIGI 36


DENGAN DIAGNOSA NEKROSIS PULPA

Oleh :
Rezy Kurnia
1210342029

Pembimbing :
drg. Deli Mona, Sp.KG

UNIVERSITAS ANDALAS
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI
2018
PULPEKTOMI NON VITAL GIGI 36
DENGAN DIAGNOSA NEKROSIS PULPA

A. Data Pasien
Nama : Luthfi Almuaidi
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 11 tahun
Alamat : Jl. Gajah Mada Kampung Olo
No. Rekam Medis : 12885
Elemen Gigi : 36

B. Pemeriksaan Subjektif
Chief Complain :Pasien datang dengan keluhan gigi berlobang besar pada
geraham kiri bawah
Present Illness : pasien menyadari gigi tersebut berlobang sejak 1 tahun yang
lalu. Pada awalnya gigi tersebut dirasakan berdenyut tiba-tiba.
Pasien pernah ke puskesmas untuk mengobati gigi tersebut dan
diberi obat oleh dokter gigi di puskesmas.
Past Dental History : pasien biasanya mencabut gigi susu di rumah. Pasien menyikat
gigi 2 kali sehari (siang dan malam) dan tidak menggunakan
obat kumur
Past Medical History : Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit. Pasien tidak sedang
mengonsumsi obat.
Family History : ayah dan ibu pasien tidak dicurigai memiliki penyakit sistemik
Social History : pasien merupakan siswa SMP dengan jadwal sekolah siang.
Pasien rutin mengonsumsi sayur dan buah.
C. Pemeriksaan Objektif

Pada foto klinis gigi 36 menunjukkan terdapat karies profunda pada oklusal gigi

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap gigi 36, berupa tes :


Perkusi (+)
Palpasi (-)
Chlor Ethil (-)
Mobility (-)
Tes Bur (-)

D. Pemeriksaan Radiografis
Dari gambaran radiografis di atas pada gigi 36 menunjukkan :
1. Terdapat gambaran radiolusen pada bagian oklusal berupa kehilangan struktur
jaringan gigi pada gigi 36
2. Saluran akar dua buah (mesial dan distal) dan dapat diakses.
3. Tampak gambaran radiolusen pada apikal gigi 36 yang menunjukkan adanya lesi
periapikal
4. Terjadi pelebaran ligamen periodontal pada sekeliling akar gigi yang ditunjukkan
tidak adanya daerah radioopak yang mengelilingi akar gigi

E. Diagnosis
Nekrosis pulpa gigi 36

F. Rencana Perawatan
1. Dental Health Education (DHE)
2. Pulpektomi Gigi 36
3. Restorasi akhir

G. Prognosis
Dari pemeriksaan objektif dan radiografis yang dilakukan, disimpulkan bahwa prognosa
BAIK karena :
1. Masih banyak struktur jaringan gigi yang tersisa
2. Pasien kooperatif
3. Akar lurus

H. Alat dan Bahan


Alat :
 Diagnostic set
 Penggaris atau Sliding Caliper
 Bur set
 Jarum Miller (smooth broach)
 Jarum Ekstirpasi (barbed broach)
 K-file
 Reamer
 Spuit untuk irigasi
 Lentulo
 Root canal spreader
 Root canal plugger
 Gunting
 Lampu Spiritus
 Glass Lab
 Plastis Instrumen

Bahan :
 Cotton roll
 Cotton pellet
 Kapas
 Alkohol
 NaOCl 2,5 %
 Calcium hydroxide
 Paper point
 Caviton
 Gutta perca
 Endomethasone (sealer)
 Eugenol
 GIC lining
 GIC restorative
I. Tahapan Pekerjaan
Kunjungan 1
1. Informed Consent
2. Pemeriksaan pasien
3. Perkirakan panjang kerja dari rontgen foto dengan mengukur panjang gigi pada
rontgen foto mulai dari mahkota sampai ujung apeks lalu dikurangi 1 mm
4. Rontgen foto
Foto rontgen digunakan untuk melihat kondisi gigi dan menghitung panjang kerja.
Panjang gigi sebenarnya = a x b
c
keterangan : a = panjang gigi pada rontgen foto
b = panjang mahkota klinis
c = panjang mahkota pada rontgen foto

 Panjang gigi sebenarnya (mesial) =


20 mm x 6 mm
7 mm
= 17 mm
 Panjang kerja = panjang gigi sebenarnya – 1 mm
= 17 mm – 1 mm
= 16 mm

 Panjang gigi sebenarnya (distal) =


18 mm x 6 mm
7 mm
= 15 mm
 Panjang kerja = panjang gigi sebenarnya – 1 mm
= 15 mm – 1 mm
= 14 mm
A. Preparasi kamar pulpa
1. Outline form, akses preparasi dari oklusal dengan menggunakan round bur.
2. Membuka kamar pulpa dan membuang atap kamar pulpa dengan round bur.
3. Menghaluskan dinding kavitas dengan silindris bur.
4. Membuang isi kamar pulpa dengan excavator.
5. Mencari orifis dengan jarum miller (smooth broach).
6. Semua tahap preparasi kamar pulpa akan mempengaruhi preparasi pada saluran akar.
Irigasi sesering mungkin dengan NaOCl 2,5 % Irigasi dengan menggunakan spuit
untuk irigasi secara perlahan.
7. Preparasi kamar pulpa selesai.

B. Panjang kerja
Panjang kerja yang digunakan berdasarkan panjang gigi sebenarnya yang sudah diketahui
sebelumnya kemudian dikurangi 1 mm, maka didapatkanlah panjang kerja yang
digunakan untuk preparasi saluran akar.

C. Preparasi saluran akar


1. Pasang rubber stopper 1-2 mm lebih pendek dari panjang gigi
2. Pakai alat yang halus terlebih dahulu dengan ukuran terkecil (jarum miller) untuk
mengetahui arah dan keadaan saluran akar
3. Gunakan jarum ekstirpasi untuk mengeluarkan isi pulpa dari kamar dan saluran akar.
Jarum ekstirpasi diputar >360 derajat supaya pulpa terlilit dan kemudian ditarik
keluar.
 Irigasi sesering mungkin setiap pergantian alat dengan NaOCl 2,5 %. Irigasi
dengan menggunakan spuit untuk irigasi secara perlahan. Jangan menyemprotkan
larutan irigasi melewati apeks. Jangan menyemprotkan udara ke dalam kavitas
karena dapat mendorong debris ke apeks.
4. Preparasi saluran akar dengan teknik step back.
 Preparasi apikal
1) Tentukan Initial Apical File (IAF), yaitu nomor file yang pertama kali bisa
masuk sepanjang panjang kerja di saluran akar.
2) Perbesar bagian apikal dengan gerakan memutar searah jarum jam, kemudian
dengan arah berlawanan ditarik keluar.
3) Preparasi apikal dilakukan minimal 3 nomor lebih besar dari IAF
(misal : IAF nomor 15, perbesar dengan file nomor 20, 25 dan 30).
4) Ukuran file yang terakhir digunakan pada preparasi apikal disebut MAF
(Master Apical File). Ukuran MAF akan sama dengan MAC (Master Apical
Cone =cone gutta perca utama).
5) Lakukan irigasi setiap penggantian ukuran file.

 Preparasi saluran akar


1) Setelah MAF/MAC didapat, naikkan lagi ukuran file sebanyak 3 nomor di
atas MAF/MAC. Setiap pergantianfile panjang kerja dikurangi 1 mm
2) Lakukan preparasi dengan gerakan yang sama sampai file terasa longgar
3) Lakukan rekapitulasi yaitu pengukuran panjang kerja dengan MAF. Panjang
kerja harus sama dengan panjang awal.
4) Haluskan dinding saluran akar dengan file dengan gerakan menekan dinding
saluran akar dan tarik file keluar
Reaming dan filling dilakukan pada saluran akar yang terisi cairan irigasi. Tidak boleh
dilakukan pada saluran akar yang kering.

D. Irigasi saluran akar


Irigasi sesering mungkin setiap pergantian alat dengan NaOCl 2,5%. Irigasi dengan
menggunakan spuit untuk irigasi secara perlahan. Jangan menyemprotkan larutan irigasi
melewati apeks. Jangan menyemprotkan udara ke dalam kavitas karena dapat mendorong
debris ke apeks.
E. Sterilisasi saluran akar
1) Keringkan saluran akar dengan paper point.
2) Aplikasikan Calcium Hydroxide
3) Letakkan cotton pellet kering di atas nya.
4) Tutup dengan tambalan sementara
5) Cek oklusi dengan articulating paper

Kunjungan II :
1. Tanyakan apakah ada keluhan pasien dan lakukan tes perkusi, palpasi, sondasi,tekan,
mobility.
Jika tes dan keluhan masih positif (+), lakukan penggantian obat dengan Calcium
Hydroxide
2. Bongkar tambalan sementara.
3. Keluarkan kapas kering dan cotton roll.
 Irigasi saluran akar dengan NaOCl 2,5 %
4. Keringkan saluran akar dengan paper point.
5. Lakukan penggantian obat
6. Letakkan cotton pellet pada kamar pulpa, tutup dengan kapas kering.
7. Tutup dengan caviton (tambalan sementara).
8. Cek Oklusi dengan articulating paper.

Kunjungan III :
1. Tanyakan apakah ada keluhan pasien dan lakukan tes perkusi, palpasi, sondasi,tekan,
mobility.
Jika tes dan keluhan tidak lagi dirasakan maka sudah bisa dilakukan obturasi.
2. Bongkar tambalan sementara.
3. Keluarkan kapas kering dan cotton roll.
4. Irigasi saluran akar dengan NaOCl 2,5%
5. Keringkan saluran akar dengan paper point. Ulangi sampai saluran akar kering, dan
terakhir gunakan paper point yang ukurannya kecil untuk mencapai daerah apeks.
6. Lakukan trial pengisian bahan pengisi saluran akar/ gutta perca menggunakan MAC
yang telah ditentukan sebelumnya, lakukan rontgen foto dengan MAC di dalam saluran
akar dan lihat apakah terjadi over filling atau under filling. Jika sudah baik, obturasi dapat
dilanjutkan.
7. Gunakan gutta perca sesuai ukuran alat yang terakhir (MAF/MAC) atau satu nomor lebih
kecil. Masukkan ke dalam saluran akar sampai ±1mm mendekati foramen apikal dan beri
tanda.
8. Bahan sealer/endomethasone dimasukkan ke dalam saluran akar dengan reamer untuk
melapisi dinding saluran akar.
9. Masukkan gutta perca yang sudah dilapisi bahan sealer kemudian dimasukkan ke dalam
saluran akar sampai tanda yang diberikan.
10. Tekan spreader ke samping gutta perca ke arah apeks ± 2-3mm mendekati foramen
apikal. Ruang yang tersisa diisi dengan gutta perca tambahan dengan ukuran yang lebih
kecil. Lakukan sampai saluran akar terisi penuh. Teknik pengisian saluran akar ini
dinamakan Lateral Condensation Technique.
11. Potong gutta perca dengan instrumen panas dan padatkan dengan root canal plugger.
Kamar pulpa harus bersih dari gutta perca supaya tidak terjadi perubahan warna
12. Tutup dengan lining GIC kemudian tutup dengan caviton
13. Cek oklusi dengan articulating paper
14. Lakukan rontgen foto untuk melihat kehermetisan obturasi dan tingkat keberhasilan
pengisian.

Kunjungan IV :
1. Jika dari hasil rontgen foto obturasi sudah hermetis lalu tanyakan apakah ada keluhan
pasien dan lakukan tes perkusi, tekan, dan palpasi.
2. Jika semua pemeriksaan tidak menunjukkan keadaan patologis dapat dilakukan restorasi
permanen.