Anda di halaman 1dari 5

TUGAS BIODIVERSITAS TANAH

Disusun Oleh:
Reza Woro Prasasty (S611808008)

PROGRAM STUDI AGRONOMI PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2019
Pertanyaan:

1. Mengapa diversitas biota tanah kurang mendapat perhatian pd pengelolaan lahan


pertanian?
2. Apa layanan ekologi yg diberikan oleh diversitas biota tanah epigeik, anesik &
endogeik?
3. Apa pentingnya diversitas makrofauna tanah dalam mitigasi perubahan iklim?
4. Apa efek perubahan iklim terhadap diversitas makrofauna tanah dan apa
konsekwensinya terhadap produktivitas lahan?
5. Sampai sejauh mana perkembangan studi atau riset biodiversitas tanah sampai saat
ini di Indonesia? Apa kendala & tantangannya?

Jawaban

Pengelolaan lahan pertanian hingga saat ini dapat dibilang masih memusatkan pada
pengelolaan lahan yang intensif untuk meningkatkan produksi lahan, sehingga masalah
kesehatan tanah yang berkaitan dengan diversitas biota tanah masih belum menjadi fokus
atau isu yang genting. Hal tersebut dilakukan melalui penggunaan input yang intesnsif
seperti contohnya pupuk dan pestisida. Padahal kita ketahui penggunaan input berupa
pupuk dan pestisida kimia akan berdampak pada kesehatan lahan dalam jangka waktu
tertentu. Sesuai dengan pernyataan Basak et al (2007) bahwa kesenjangan lebar dalam
rasio NPK dengan ketidakmampuan terintegrasi penggunaan semua sumber nutrisi
tanaman memperburuk kesehatan tanah dan nutrisi tanaman. Namun, pertanian telah
menjadi lebih menguntungkan dengan hasil panen yang lebih tinggi melalui penggunaan
pupuk NPK anorganik tersebut. Dengan demikian sangat penting untuk menjaga
kesehatan tanah mengingat efek aplikasi jangka panjang anorganik pupuk pada sifat
biologis tanah.

Aplikasi pupuk lebih dari level optimal tidak bisa hanya berpengaruh buruk pada
komunitas biologis di dalam tanah tetapi juga dapat mengakibatkan peningkatan residu
anorganik N, yang dapat meningkatkan mineralisasi SOC (soil organic carbon) dan
kehilangan SOC (Singh 2018). Penggunaan sistem pengolahan tanah yang masih
difokuskan pada pengolahan intensif juga menyebabkan kurangnya perhatian pada
diversitas biota tanah. Sedangkan menurut penelitian Harahap et al (2016) populasi
mesofauna serasah pada lahan tanpa olah tanah (T0) lebih tinggi daripada olah tanah
minimum (T1) dan olah tanah intensif (T2). Berdasarkan akibat yang ditimbulkan dari
pengelolaan lahan intensif dan input pupuk intensif tersebut, ppendekatan menuju
pegelolaan ekosistem tanah untuk menjaga kesehatan tanah menjadi penting adanya.
Spesies epigeik seperti Dendrobaena octaedra hidup di lapisan serasah, terutama
memakan serasah daun, berkontribusi pada pencampuran residu tanaman di atas tanah
mineral, dan merupakan pembuat kompos yang baik. Spesies anekik seperti Lumbricus
terrestris memakan sampah permukaan, membangun dan hidup di jaringan yang besar,
memindahkan sejumlah besar serasah daun ke dalam profil tanah, dan menghasilkan gips
pada permukaan tanah yang berkontribusi penggabungan partikel tanah dan organik.
Spesies endogeik seperti Pontoscolex corethrurus hidup dan makan di dalam tanah
substrat organik dengan kualitas berbeda seperti akar dan SOM (soil organic matter) dan
menghasilkan gips dan lubang yang merupakan situs penting aktivitas mikroba dan akar
tanaman serta penguraian bahan organik (Barrios 2017).
Menurut Yulipriyanto (2012) Struktur Komunitas dapat menggambarkan kondisi
organisme secara mendetail, termasuk cacing tanah. Struktur komunitas cacing tanah
yang lengkap (epigeik, anecik dan endogeik) mencerminkan keanekaragaman spesies
dalam suatu ekosistem. Struktur komunitas juga menggambarkan ada atau tidaknya
ancaman pada cacing tanah di suatu habitat atau ekosistem (sawah). Peranan hewan tanah
khususnya cacing di sawah sangat penting sebagai komponen soil food web, yang
menyumbang bagi ketersediaan makanan bagi tanaman. Berkurangnya jumlah organisme
tanah khususnya cacing akan mengurangi agen penyedia hara tanah. Pengelolaan
biologitanah pada sawah dengan memberikan bahan organik tanah sangat diperlukan.
Berdasarkan hal tersebut upaya pengelolaan biota tanah epigeik, anesik dan
endogeik menjadi penting. Hal ahal yang mempengaruhi keberadaan nya diantaranya
adalah kondisi tanah sebagai habitat. Penelitian Fitria (2018) menunjukkan bahwa sistem
olah tanah konvensional system tanpa olah tanah memiliki keunggulan dalam
mengkonservasi kandungan bahan organic tanah tetap tinggi, sehingga memperbaiki
agregasi tanah, meningkatkan konservasi air, dan meningkatkan keragaman biota
tanah.Dalam hal ini adalah cacing tanah famili Glossoscoleada (spesies Pontoscolex dan
Megascolex).
DAFTAR PUSTAKA

Kardinan, A., M. Iskandar, S. Rusli, dan Makmun. 1999. Potensi Daun Selasih (Ocimum sanctum)
sebagai Atraktan Nabati untuk Pengendali Hama Lalat Buah Bactrocera dorsalis. Makalah
Forum Komunikasi Ilmiah Pemanfaatan Pestisida Nabati. Balai Penelitian Tanaman Rempah
dan Obat. Bogor, 9-10 November 1999.
Kardinan. A. 2003. Mengenal Lebih Dekat Selasih Tanaman Keramat Multi Manfaat.
Agromedia. Jakarta.
Kuswadi, A.N., Kerusakan Morfologis dan Histologis Organ Reproduksi Lalat Buah Bactrocera
carambolae (Drew & Hancock) (Diptera;Tephritidae) Jantan yang Dimandulkan dengan
Iradiasi Gamma. Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi A Scientific Journal for The
Applications of Isotopes and Radiation Vol. 7 No. 1 Juni 2011.
Bueno AM. and O. Jones. 2002. Alternative Methods for Controlling the Olive Fly, Bactrocera
oleae, Involving Semiochemical. 2002. IOBC wprs Bulletin. Vol. 25 : 1-11 (2002).
Copeland RS., RA. Wharton, Q. Luke, MD. Meyer, S. Lux, N. Zenz, P. Machera and M. Okumu.
2006. Geographic Distribution, Host Fruit, and Parasitoids of African Fruit Fly Pest Ceratitis
anonae, Ceratitis cosyra, Ceratitis fasciventris, and Ceratitis rosa (Diptera : Tephritidae) in
Kenya. Ann. Entomol. Soc. Am. 99(2) : 261-278 (2006).
Daud, D., 2008. Pengkajian Pengendalian Terpadu Lalat Buah Pada Tanaman Cabai Rawit.
Prosiding Seminar Ilmiah Dan Pertemuan Tahunan PEI PFI XIX Komisariat Daerah
Sulawesi Selatan, 5 Nopember 2008.
Gopaul S. and NS. Price. 2002. Local Production of Protein Bait for Use in Fruit Fly Monitoring and
Control. Indian Ocean Regional Fruit Fly Programme.
Hasyim, A., Muryati dan W.J. de Kogel, 2006. Efektivitas Model dan Ketinggian Perangkap
Dalam Menangkap Hama Lalat Buah Jantan, Batrocera spp. J. Hort. 16 (4):314-320.
Howarth, V.M.C. dan F.G. Howarth, 2000. Attractiveness oh methyl eugenol baited traps to
oriental fruit fly (Diptera;Tephiritidae): Effect of dosage, Placement and Color. Hawaii
Entomol.Soc. 34:187-198.
Manrakhan A., and NS. Price. 1999. Seasonal Profiles in Production, Fruit Fly Populations and Fly
Damage on Mangoes in Mauratius. AMAS, Food and Agriculture Research Council, Reduit,
Mauratius. 107-115.
Michaud, JP. 2003. Toxicity of Fruit Fly Baits to Beneficial Insects in Citrus. J. of Insect Science.
Available online : insectscience.org/3.8.