Anda di halaman 1dari 10

Studi Al-Qur’an

Kajian Tafsir Al-Qur’an Tentang Teknologi Bangunan 1


Surah Al-Qashash Ayat 38

Pendahuluan

Teknologi Konstruksi saat ini menjadi sebuah hal yang sangat dibutuhkan manusia dalam
mewujudkan sebuah bangunan atau hunian. Teknologi Konstruksi semakin berkembang dikarenakan
semakin komplels/semakin berkembangnya minat masyarakat terhadap desain bangunan terutama hunian
dan bangunan komersil. Teknologi terutama sekali sangat dibutuhkan oleh para pengembang bangunan-
bangunan komersil untuk mempermudah proses pembangunan karena biasanya bangunan komersil
memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi dalam desainnya. Kerumitan desain pada bangunan
komersil dimaksudkan untuk menarik konsumen untuk berinvestasi pada bangunan tersebut dan untuk
meningkatkan nilai ekonomi dari bangunan tersebut. Konstruksi berasal dari kata Construction yang dapat
diartikan sebagai : a. Pembuatan, pembangunan, pelaksanaan b. Bangunan c. Susunan/ bentuk Ciri utama
dari konstruksi adalah selalu dikaitkan dengan pelaksanaannya, dan kekuatannya maupun bahan yang
digunakan (detail, step by step).1 Konstruksi didefinisikan sebagai ”sebuah proses yang terdiri dari
bangunan atau perakitan infrastruktur.” Di sisi lain, proyek konstruksi “termasuk semua material/ bahan
dan pekerjaan yang diperlukan untuk pembangunan suatu infrastruktur hingga selesai dan dapat
difungsikan oleh pengguna. Termasuk di dalamnya adalah persiapan tempat, pondasi, pekerjaan
mekanikal elektrikal, dan setiap pekerjaan lain yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek tersebut.2
Perkembangan teknologi konstruksi saat ini juga tidak bisa dilepaskan dengan teknologi konstruksi
terdahulu. Teknologi konstruksi saat ini berkembang merupakan andil dari teknologi konstruksi
terdahulu. Teknologi konstruksi saat ini banyak mengambil ilmu dari teknologi konstruksi terdahulu
seperti teknologi konstruksi yang terkenal adalah teknologi konstruksi pada bangunan piramida yang
dibangun pada zaman Nabi Musa A. S. dengan teknologi konstruksi tanah litanya yang sangat kuat dan
mampu bertahan hingga kini. Piramida adalah bangunan besar untuk menaruh mumi para Fir’aun dan
orang penting lainnya. Para Fir’aun dikubur bersama dengan segala pakaian dan perhiasan mahalnya.
Maka di dalam Piramida ada banyak perangkap untuk menjebak pencur.3 Fungsi utama dari Piramida
Mesir adalah sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi raja-raja Mesir Kuno yang di kenal dengan nama
Fir’aun. Puluhan mayat para penguasa Mesir Kuno dipastikan dikuburkan di sekitar Piramida. Selain itu,
disamping berfungsi sebagai makam, Piramida juga digunakan untuk menimbun berbagai kekayaan yang
dimiliki penguasa yang berupa perhiasan, artefak dan barang-barang berharga lainnya bersamaan dengan
mayat Fir’aun yang dibalsemi untuk di bawa ke alam baka dengan berbagai mantra pelindung. 4

1
Danto Sukmajati,ST
2
http://www.steelbuildingreference.com/steel_buldings_definitions.htm
3
Philip Steele, Op. Cit., hlm. 12.
4
Piramida dan Sphinx, Bangunan Berperadaban Tinggi” http://my.opera.com/aktif-kreatif/blog/Piramida-dan-
sphinx-bangunan-berperadaban-tinggi, diakses pada tanggal 12 Des 2015, 17:21.

Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim


Studi Al-Qur’an

Gambar 1: Piramida Giza dan Sphinx


Sumber: http://www.griyawisata.com/internasional/africa/artikel/menelusuri-piramida-terbesar-di-mesir

Kebesaran piramida dengan teknologi konstruksinya inipun telah tertuang di dalam al-Qur’an Surah
al-Qashash ayat 38 dan ayat-ayat pendukungnya. Teknologi konstruksi yang dikembangkan pada zaman
fir’aun inilah yang kini terus dikembangkan dan diberi inovasi agar teknologi konstruksi sekarang dapat
lebih baik dan tahan lama dibandingkan dengan teknologi konstruksi zaman dahulu. Menurut penelitian
dari Ilmuwan dan Arkeologi, bahan baku pembuatan Piramida diambil dari beberapa tempat. Misalnya
batu kapur dari Tura, granit dari Aswan, tembaga dari Sinai dan kayu untuk peti dari Libanon yang
kesemuanya diangkut melalui Sungai Nil.5 Pada akhir tahun 1880 silam, bapak arsitektur modern yakni
William F menuturkan bahwa yang paling menakjubkan dari Piramida ini adalah posisinya. 6 Sebab tiap-
tiap garis sisinya dengan begitu akurat mengarah pada tenggara Barat Laut. Selain itu, keakuratan
tarafnya juga sangat mengagumkan. Sebab toleransinya hanya 1.5 inci atau 3.8 cm, 7 meski bangunan
modern sekalipun juga sulit menyamainya. Ilmuwan memperkirakan bahwa jika hendak mencapai taraf
teknik tinggi seperti bangunan Piramida yang maha besar ini sedikitnya butuh evolusi ribuan tahun.
Namun setelah memeriksa catatan sejarah Mesir, tidak ditemukan adanya catatan tentang perkembangan
teknik demikian. Bentuk kerucutnya bukan di tata secara langsung dengan 2 juta lebih batuan. Seandainya
jika hanya menggnakan teknih sederhana, apabila sebagian di dalamnya roboh, maka seluruh bangunan
itu akan ambruk karena terlalu berat. Dengan keajaiban seperti itu, seharusnya di zaman modern seperti
ini kita dapat mengembangkan sebuah teknologi konstruksi yang kuat, aman, dan ramah lingkungan
seperti yang dilakukan bangsa Mesir dahulu. Dengan hanya menggunakan campuran bebatuan alam untuk
dijadikan bata, bangsa Mesir dengan kemampuan matetamtika dan astronominya mampu membuat
sebuah teknologi konstruksi anti gempa dan dapat bertahan hingga kini. Kita yang hidup di zaman
modern dengan berbagai ilmu pengetahuan yang kita kuasai masih belum dapat mengembangkan
teknologi konstruksi sehebat bangsa Mesir. Padahal dengan kebutuhan manusia yang semakin kompleks
akan bangunan sudah seharusnya ditemukan sebuah teknologi konstruksi tepat guna dan aman terhadap
lingkungan untuk dikembangkan dan digunakan dalam membangun bangunan terutama bangunan
highrise building.

5
“Membuat Piramida”. http://www.indonesiaindonesia.com/f/36405-membuatPiramida, diakses pada tanggal 12
Des 2015 jam 15:42..
6
“Membuat Piramida”. http://www.indonesiaindonesia.com/f/36405-membuatPiramida, diakses pada tanggal 12
Des 2015 jam 15:42..
7
“Membuat Piramida”. http://www.indonesiaindonesia.com/f/36405-membuatPiramida, diakses pada tanggal 12
Des 2015 jam 15:42.

Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim


Studi Al-Qur’an

Para sarjana Mesir secara memperkirakan lebih dari 30 macam metode pembangunan piramida.
Namun menurut sarjana bernama Graham Hancock yang pernah mendaki Piramida bahwa menurut 3
metode pembangunan yang diumpamakan saat ini kemungkinan itu kecil. Menurutnya di tempat yang
tinggi menjulang. Di satu sisi harus menjaga keseimbangan, sisi lainnya harus mengangkut dari bawah ke
atas, satu demi satu batu tersebut yang beratnya paling tidak 2 kali lipat beratnya mobil sekarang. Batu
raksasa yang digunakan membangun Piramida kala itu, dipadukan dengan pengukuran yang tepat akurat,
teknik pembangunan yang akurat, jika di lakukan dengan metode yang diperkirakan sekarang, jelas itu
adakala mimpi buruk bagi pekerja dan pengurus lapangan. Ditilik dari kecerdasan yang ditunjukkan
Piramida, Hancock memperkirakan bahwa metode pembangunan oleh pembangun zaman dahulu
mungkin melampaui imajinasi kita. Karena terdapat sejumlah besar tanda Tanya pada pandangan
tradisional, ditambah lagi dengan sulitnya menemukan catatan sejarah, ilmuwan modern mengemukakan
pandangan peradaban prasejarah yang menantang dengan metode secara geologi, klimatologi kuno, dan
metode lain untuk meneliti tempat bersejarah di atas dataran tinggi tersebut.8 Dari uraian di atas dapat
dilihat betapa akuratnya bangsa Mesir dalam membangun piramida hingga dikatakan sangat sulit
diterapkan dan dapat menjadi beban bagi para pekerja lapangan untuk bekerja dengan metode ini. dari sini
seharusnya kita dapat bercermin bagaiman mengembangkan sebuah teknologi konstruksi yang lebih
praktis karena jika mengikuti teknologi konstruksi zaman dahulu mungkin akan banyak sekali kejadian-
kejadian kecelakaan kerja saat pembangunan. Inovasi ahli konstruksi bersama arsitek sebagai perancang
dalam mengembangkan teknologi konstruksi tepat guna, praktis, dan tahan lama sangat diperlukan agar
resiko kecelakaan kerja dapat dikurangi serta proses kerja dilapangan menjadi lebih mudah.

Keajaiban Tanah Liat Sebagai Bahan Konstruksi

Di zaman sekarang ini seharusnya terus dilakukan penelitian terkait bagaimana sebuah teknologi
konstruksi dapat bertahan lama hingga berabad-abad seperti pada piramida. Piramida dengan bahan
bakunya yang hanya berupa batu bata tanah liat dapat bertahan hingga kini meskipun sering diterpa
bencana seperti dari badai pasir, dan lain-lain. Batu bata yang digunakan dalam membangun sebuah
piramida telah dikatakan merupakan campuran dari berbagi batuan alam atau di dalam al-Qur’an
disebutkan bahwa batu bata yang digunakan merupakan tanah liat yang dibakar sesuai dengan surah al-
Qashash ayat 38. Al-Qur’an telah mengungkap fakta ini dengan sangat jelas sesuai dengan ungkapan
Firaun saat itu. Koran Amerika Times menerbitkan berita ilmiah yang mengkonfirmasi bahwa Firaun
menggunakan tanah liat untuk membangun piramida. Menurut penelitian Amerika-Perancis menyebutkan
bahwa batu yang digunakan untuk membuat batu bata untuk piramida, sebelumnya telah dilemparkan di
bawah kayu lalu dipanaskan sehingga membentuk batu keras yang hampir normal. Para ilmuwan
mengatakan bahwa Firaun mahir dalam ilmu kimia dan mengelola tanah liat dan metode yang mereka
gunakan masih menjadi rahasia. Profesor Gilles Hug, dan Profesor Michel Barsoum menegaskan bahwa
Piramida yang paling besar di Giza terbuat dari dua jenis batu yaitu batu alam dan batu-batu yang dibuat
secara manual. Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh majalah “Journal of American Ceramic
Society” menegaskan bahwa Firaun menggunakan jenis tanah slurry untuk membangun monumen yang
tinggi secara umum, dan membangun piramida pada khususnya. Setelah berhasil mencampur lumpur
kapur di tungku perapian yang dipanaskan dengan uap air garam dan berhasil membuat uap air darinya
sehingga membentuk campuran tanah liat, maka akan dilakukan template diatas kayu dan dituangkan
dalam tempat yang disediakan di dinding piramida. Profesor Davidovits telah mengambil batu piramida
yang terbesar untuk dilakukan analisis dengan menggunakan mikroskop elektron terhadap batu tersebut

8
“Membuat Piramida”. http://www.indonesiaindonesia.com/f/36405-membuatPiramida, diakses pada tanggal 12
Des 2015 jam 15:42.

Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim


Studi Al-Qur’an

dan menemukan jejak reaksi cepat yang menegaskan bahwa batu terbuat dari lumpur, sedangkan ahli
geologi sampai baru-baru ini, belum memiliki kemampuan untuk membedakan antara batu alam dan batu 4
buatan dengan metode ini, tetapi hari ini mereka bisa membedakan berkat teknologi modern. Dari sini
dapat kita lihat bagaimana sebuah tanah liat yang dibakar dapat menjadi sebuah teknologi konstruksi yang
tahan lama bahkan berabad-abad lamanya. Walaupun para ilmuan belum menemukan cara pembuatannya
dengan pasti, akan tetapi inovasi para tenaga ahli dan para perancang seharusnya dapat dilakukan agar
teknologi konstruksi dapat menjadi sebuah teknologi yang ramah lingkungan.
Profesor Davidovits mengatakan, bahwa tanah liat dan bahan lainnya diambil dari sepanjang
Suangai Nil, lalu bahan-bahan ini disatukan dalam sebuah cetakan kayu khusus, dan dapat digunakan
berulang kali. Campuran semua unsur tanah liat ini selanjutnya dipanaskan pada suhu tinggi, sehingga
menyebabkan komponen-komponen kimiawi dari bahan-bahan tersebut saling berinteraksi dan
membentuk sejenis batu, persis seperti batu gunung berapi, yang terbentuk jutaan tahun lalu. Dengan
teknis semacam ini, menjadikan semua blok batu memiliki ukuran dan potongan yang sama. Percobaan
yang dilakukan oleh Profesor Davidovits menggunakan Nanoteknologi (cabang teknik yang berhubungan
dengan hal-hal kecil dari 100 nanometer) membuktikan adanya sejumlah besar unsur air dalam bebatuan.
Jumlah tersebut seharusnya tidak ada, seperti pada batu alam kebanyakan. Selain itu, dalam bukunya “Ils
ont bati les pyramides” (cara membangun piramida) yang diterbitkan tahun 2002, Profesor Davidovits
telah menjelaskan semua teka-teki yang selama ini menjadi perdebatan para arkeolog, sekitar cara
Piramida Agung Giza dibangun. Selain itu, ia juga mereka ulang mekanisme konstruksi sederhana
geometris dari lumpur. Beberapa penelitian menegaskan bahwa tungku atau sejenis kompor telah
digunakan pada zaman dahulu untuk membuat keramik dan patung-patung. Secara umum, setelah tanah
liat dicampur dengan logam dan bahan alami lainnya, lalu dibakar dengan nyala api, sampai patung itu
mengeras menyerupai bentuk batuan nyata. Adapun proses penyusunan blok-blok tanah liat tersebut
sebelum dipanaskan, guna membentuk bangunan piramida. Yaitu dengan membangun lereng (ramp) dari
bahan kayu mengelilingi konstruksi piramida, sehingga memudahkan para pekerja melakukan proses
pengangkutan bahan baku tanah liat/lumpur ke berbagai ruas bangunan piramida. Sehingga dengan cara
ini, tidak diperlukan lagi puluhan ribu pekerja untuk membangun sebuah piramida. Sehingga dengan
temuan teranyar ini, akan membuka mata kita, bahwa teknologi yang digunakan sebenarnya sangat
simpel.9 Kurangnya informasi seputar pengolahan tanah liat yang digunakan pada piramida Mesir
membuat para ahli konstruksi terus berupaya mencari teknologi yang sesuai untuk dikembangkan pada
dunia konstruksi. Akan tetapi penelitian ahli arkeolog di atas dapat dijadikan refrensi bagaiman tanah liat
yang dibakar dapat menjadi sebuah bahan baku bangunan yang sangat kuat dan tahan lama. Sekarang
yang perlu dilakukan oleh para tenaga ahli dan perancang adalah sebuah inovasi yang tepat untuk
mengembangkan tanah liat bakar sebagai bahan baku bangunan yang aman bagi lingkungan dan tahan
terhadap bencana.

9
http://www.kompasiana.com/coffeeaceh/menguak-rahasia-mesir-kuno-membangun-piramida-agung-
giza_550d911ca33311241e2e3c10, Diakses tanggal 12 Desember 2015, Pukul 14:02 WIB

Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim


Studi Al-Qur’an

Gambar 2: Ilustrasi pembangunan piramida Mesir


Sumber: http://www.kompasiana.com/coffeeaceh/menguak-rahasia-mesir-kuno-membangun-piramida-agung-
giza_550d911ca33311241e2e3c10, Diakses tanggal 12 Desember 2015, Pukul 14:02 WIB
Dari uraian di atas kita sebagai manusia modern sepatutnya dapat mengambil hikmah dari
kehebatan manusia zaman dulu bukannya mencontoh mentah-mentah hasil teknologi yang mereka
ciptakan. Teknologi konstruksi yang diterapkan di masa lalu dapat menjadi sebuah gambaran bagi kita
bagaiman caranya mengembangkan sebuah teknologi konstruksi yang tepat guna dan ramah lingkungan.
Sebagai manusia modern, kita sepatutnya dapat berinovasi dengan lebih baik tanpa harus mengorbankan
banyak tenaga kerja seperti yang dilakukan oleh Fir’aun saat membangun piramida

Ayat Al-Qur’an Tentang Teknologi Konstruksi


Dari penjelasan di atas, al-Qur’an sebenarnya terlebih dahulu telah menerangkan tentang teknologi
konstruksi. Sebelum adanya penelitian tentang penggunaan tanah liat sebagai bahan baku pyramid, al-
Qur’an telah lebih dahulu mengungkapkan bahwa tanah liat bakar merupakan bahan baku pembuatan
piramid. lewat surah al-Qashash ayat 38 al-Qur’an menjelaskan tentang Fir’aun yang memerintahkan
Haman untuk membakar tanah liat untuk dibangunkan sebuah bangunan yang tinggi agar dirinya dapat
melihat Tuhan Nabi Musa A. S. Surah Al-Qashash ayat 38 berbunyi:

Artinya: “Maka Bakarlah, Hai Haman, untukku tanah liat. Kemudian buatkanlah untukku bangunan
yang tinggi supaya aku dapat melihat Tuhan Musa.” (Al-Qashash ayat 38).10
Di dalam tafsir ibnu katsir dikatakan bahwa Fir’aun memerintahkan Haman patihnya yang
mengatur rakyatnya dan menjalankan roda pemerintahannya, agar membakar tanah liat yakni batu bata

10
Tafsir Ibnu Katsir Online Versi 1.0

Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim


Studi Al-Qur’an

untuk membuat menara atau Ash-Sharh atau sebuah istana yang tinggi sebagaimana yang diterangkan
dalam ayat lain melalui FirmanNya di dalam Surah al-Mu’minun ayat 36-37: 6

Artinya: “Dan berkatalah Fir’aun, “hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi
supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan
sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik
perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain
hanyalah membawa kerugian.” (Al-Mu’minun ayat 36-37)
Di dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan demikian itu karena Fir’aun memang membangun menara
yang tinggi itu yang di masanya belum pernah ada bangunan setinggi itu. Hal tersebut tiada lain karena ia
ingin membuktikan di mata rakyatnya akan kedustaan Musa dalam anggapannya yang mengatakan bahwa
ada Tuhan lain selain Fir’aun.11 Karena itulah disebutkan oleh firmanNya:

Artinya: “Siapakah Tuhan semesta alam itu?” (Asy-Syu'ara: 23)

Artinya: “Sungguh jika kamu menyembah tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan
kamu salah seorang yang dipenjarakan.” (Asy-Syu'ara: 29)
Dan Firman Allah SWT:

Artinya: Hai pembesar-pembesarku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. (Al-Qashash:
12
38).
Menurut Tafsir Jalalayn tentang Surah Al-Qashash ayat 38 adalah: (Dan berkata Firaun, "Hai
pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui tuhan bagi kalian selain aku sendiri. Maka bakarlah hai Haman,
untukku tanah liat) maksudnya buatlah batu bata untukku (kemudian buatkanlah untukku bangunan yang
tinggi) maksudnya gedung yang tinggi sekali (supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa) aku akan
melihat-Nya dan berdiri di hadapan-Nya (dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk
orang-orang yang pendusta") di dalam pengakuannya yang mengatakan ada Tuhan lain selain aku, bahwa
ia seorang Rasul.13

Menurut Tafsir Quraish Shihab tentang Surah Al-Qashash adalah: Ketika tidak kuasa lagi untuk
mendebat Mûsâ, Fir'aun--dengan tetap bersikap sewenang-wenang--berkata, "Wahai masyarakat sekalian,
aku tidak mengetahui adanya Tuhan bagi kalian selain diriku." Kemudian ia memerintahkan menterinya,

11
Tafsir Ibnu Katsir Online Versi 1.0
12
http://shirathal-mustaqim.org/quran.php?page=1211&idindex=1389, Diakses tanggal 12 Desember 2015, Pukul
15:57 WIB
13
http://tafsirq.com/28-al-qasas/ayat-38#tafsir-jalalayn, Diakses tanggal 12 Desember 2015, Pukul 15:00 WIB

Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim


Studi Al-Qur’an

Hâman, untuk menyewa seseorang agar membuat bangunan dan istana yang tinggi agar Fir'aun dapat
menaikinya untuk melihat Tuhan yang diserukan Mûsâ. Maka, dengan begitu, Fir'aun dapat lebih yakin 7
bahwa Mûsâ termasuk dalam golongan para pendusta dalam anggapannya.14

Hikmah dari tafsir diatas adalah sebagai seorang manusia, tidak sepantasnya kita menggunakan
ilmu dan teknologi sebagai alat untuk menyombongkan/mengagungkan diri. Sebaik-baiknya manusia
seharusnya menggunakan akalnya untuk hal-hal yang bermanfaat seperti yang termaktub dalam hadist
Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:

Artinya: “Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, maka Allah akan
mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah, dan sesungguhnya para malaikat benar-
benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang penuntut ilmu
akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai
ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya. Dan sesungguhnya keutamaan seorang
yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas
seluruh bintang, dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah mewariskan
dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang
mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HR. Abu Dawud
no.3641, At-Tirmidziy no.2683).15

Seseorang yang dapat menggunakan ilmunya dengan baik niscaya dirinya akan mendapatkan
berkah dari Allah SWT. Begitupun jika seorang ahli di bidang konstruksi menggunakan keilmuannya
dalam hal konstruksi yang nantinya dapat bermanfaat bagi orang banyak dan tidak menimbulkan
kerusakan di muka bumi mudah-mudahan dirinya mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Teknologi
konstruksi sudah saatnya diperlakukan dengan sebenar-benarnya bukan semena-mena. Jangan
memanfaatkan teknologi konstruksi karena hanya ingin menunjukkan kekuasaan dan kesombongan
semata. Pergunakanlah teknologi yang ada untuk mempermudah pekerjaan dalam membangun dan
supaya bangunan yang dihasilkan dapat bertahan lama serta tidak merusak lingkungan.

14
http://tafsirq.com/28-al-qasas/ayat-38#tafsir-jalalayn, Diakses tanggal 12 Desember 2015, Pukul 15:00 WIB
15
http://www.teknoislam.com/2013/07/hadits-tentang-ilmu-pengetahuan-dan.html, Diakses tanggal 12 Desember
2015, Pukul 16:10 WIB.

Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim


Studi Al-Qur’an

Gambar 3: Contoh bangunan yang menerapkan teknologi konstruksi hanya untuk menyombongkan diri

Sumber: http://dubaimetro.eu/featured/14826/major-traffic-jam-on-sheikh-zayed-road-towards-dubai-mall, Diakses tanggal 12


Desember 2015, Pukul 16:20 WIB

Sudah saatnya sebagai seorang manusia lebih mementingkan kepentingan bersama diatas
kepentingan pribadinya. Manusia dengan akal dan kecerdasan yang dia miliki sudah seharusnya berfikir
kedepan dalam menghadapi teknologi konstruksi. Pemanfaatan teknologi konstruksi ke arah yang lebih
baik dan mengedepankan kelangsungan lingkungan di sekitarnya menjadi hal yang seharusnya dilakukan
agar kerusakan di muka bumi tidak semakin banyak dan akhirnya berdampak kepada seluruh kehidupan
manusia.

Contoh Bangunan Yang Menerapkan Teknologi Tepat Guna

Gambar 4: Salah satu contoh bangunan yang menerapkan teknologi tepat guna dengan memanfaatkan energy matahari dan dinding
rumah sebagai taman

Sumber: http://alikabudi.blogspot.co.id/2015_07_01_archive.html, Diakses tanggal 12 Desember 2015, Pukul 16:34 WIB

Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim


Studi Al-Qur’an

Gambar 5: bangunan yang menerapkan roof garden untuk mengurangi efek panas saat siang hari

Sumber: http://alikabudi.blogspot.co.id/2015_07_01_archive.html, Diakses tanggal 12 Desember 2015, Pukul 16:34 WIB

Gambar 6: Penggunaan teknologi konstruksi yang tidak berlebihan yang mencerminkan kesederhanaan sang pemilik bangunan

Sumber: https://architektur23zone.wordpress.com/, Diakses tanggal 12 Desember 2015, Pukul 16:39 WIB

Kesimpulan

Sebagai seorang manusia yang berakal, sudah menjadi kewajiban kita dalam mengembangkan
sebuah teknologi konstruksi yang tepat guna dan ramah terhadap lingkungan. Kita dapat bercermin
dengan kejadia-kejadian atau peristiwa-peristiwa di masa lampau untuk diambil pelajarannya dan ilmu
yang baik dapat kita terapkan di masa kini. Teknologi konstruksi hadir bukan untuk dijadikan alat untuk
menunjukkan kesombongan kita sebagai manusia yang berilmu, akan tetapi teknologi konstruksi hadir
untuk membantu memcahkan persoalan kita dalam membangun sebuah bangunan atau hunian. Kehadiran
bangunan dengan teknologi yang tepat guna setidaknya dapat mengurangi kerusakan-kerusaan yang
terjadi saat ini dan sudah saatnya kita memperlakukan teknologi dengan sebaik-baiknya.

Daftar Pustaka

 http://www.teknoislam.com/2013/07/hadits-tentang-ilmu-pengetahuan-dan.html, Diakses
tanggal 12 Desember 2015, Pukul 16:10 WIB.
 http://tafsirq.com/28-al-qasas/ayat-38#tafsir-jalalayn, Diakses tanggal 12 Desember 2015,
Pukul 15:00 WIB
 http://shirathal-mustaqim.org/quran.php?page=1211&idindex=1389, Diakses tanggal 12
Desember 2015, Pukul 15:57 WIB

Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim


Studi Al-Qur’an

 “Membuat Piramida”. http://www.indonesiaindonesia.com/f/36405-membuatPiramida,


diakses pada tanggal 12 Des 2015 jam 15:42. 10
 Piramida dan Sphinx, Bangunan Berperadaban Tinggi” http://my.opera.com/aktif-
kreatif/blog/Piramida-dan-sphinx-bangunan-berperadaban-tinggi, diakses pada tanggal 12
Des 2015, 17:21.
 http://www.kompasiana.com/coffeeaceh/menguak-rahasia-mesir-kuno-membangun-
piramida-agung-giza_550d911ca33311241e2e3c10, Diakses tanggal 12 Desember 2015,
Pukul 14:02 WIB
 Tafsir Ibnu Katsir Online Versi 1.0
 Tinjauan Umum Pusat Penelitian Dan Pelatihan Ilmu Konstruksi Dan Teknologi
Bangunan. Yogyakarta. Universitas Atma Jaya
 Kurniasih, Retno. 2010. Piramida: Peninggalan Budaya Dari Peradaban Mesir Kuno.
Depok. Perpustakaan Universitas Indonesia.

Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim