Anda di halaman 1dari 27

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALU

TS 534 – STRUKTUR BETON BERTULANG

ANALISIS DAN DESAIN ELEMEN


AKSIAL DAN LENTUR (KOLOM)

Arzal M. Zain, ST., MT.


Analisis dan Elemen Aksial dan Lentur (Kolom)

Outline Perkuliahan :
• Analisis dan Desain Kolom Persegi Beban Konsentrik

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 2


Siklus Pelaksanaan Gedung

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 3


Pengantar Kolom

Elemen struktur kolom merupakan elemen tekan yang menumpu balok yang memikul gaya-gaya pada
lantai. Kolom juga dapat didefinisikan sebagai elemen struktur vertikal yang berfungsi menyalurkan gaya
tekan aksial, dengan atau tanpa momen, dari pelat lantai dan atap ke pondasi. Momen yang disalurkan
dapat berupa momen uniaksial atau biaksial.

Sama halnya dengan balok, kekuatan kolom dievaluasi dengan memperhatikan prinsip-prinsip berikut :

• Distribusi regangan di sepanjang tinggi penampang kolom bersifat linier.


• Tidak terjadi slip antara beton dan tulangan.
• Regangan tekan maksimum beton pada kondisi ultimit = 0,003.
• Kekuatan Tarik beton diabaikan.

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 4


Tipe Kolom

a. Kolom persegi dengan tulangan longitudinal dan tulangan pengikat lateral.

b. Kolom bundar dengan tulangan longitudinal, spiral dan pengikat lateral.

c. Kolom komposit dimana profil baja ditanam dalam beton.

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 5


Sengkang Pengikat

Tulangan pengikat lateral (sengkang ikat) biasanya dipasang dengan spasi maksimum ≅ ℎ (kecuali untuk
bangunan yang didesain terhadap gempa).

Sengkang ikat pada dasarnya berfungsi untuk :

• Memberi tumpuan lateral pada tulangan longitudinal (mengurangi tekuk).


• Memberi kekangan terhadap inti beton.
• Meningkatkan tahanan tulangan longitudinal terhadap tekuk.
• Memberi bentuk pada kolom dan mempertahankan posisi tulangan-tulangan
longitudinal selama pengecoran.
• Sebagai tulangan sengkang penahan geser.

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 6


Sengkang Pengikat Spiral

Kolom berspiral umum dijumpai pada kolom bundar. Berdasarkan SNI 2847:2013, spasi minimum
tulangan spiral ≅ 25 𝑚𝑚 dan maksimum = 75 𝑚𝑚. Fungsi tulangan spiral adalah mirip dengan fungsi
tulangan sengkang ikat. Namun, sebagai pengekang, tulangan spiral adalah lebih efektif dibandingkan
tulangan sengkang ikat dalam membuat keruntuhan tekan menjadi lebih daktail.

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 7


Perilaku Elastik Kolom

Analisis elastic untuk kolom dilakukan dengan menggunakan penampang transformasi untuk beban
terpusat 𝑃, yaitu :

𝑃
𝑓𝑐 = (sifat tegangan seragam pada penampang)
𝐴𝑐 + 𝑛𝐴𝑠𝑡

Dimana :
𝑛 = 𝐸𝑠 𝐸𝑐
𝐴𝑐 adalah luas beton
𝐴𝑠𝑡 adalah luas baja

Tegangan pada baja dihitung sebagai berikut : 𝑓𝑠 = 𝑛𝑓𝑐

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 8


Perilaku Elastik Kolom
(Lanjutan…)
Beton pada dasarnya mengalami deformasi rangkak dan susut sebagai fungsi waktu, sehingga tegangan
pada baja dan beton akibat beban yang bekerja tidak sepenuhnya dapat dihitung dengan menggunakan
analisis elastic.
Perubahan regangan beton terhadap waktu akan mempengaruhi tegangan beton dan baja.

Oleh karena itu, metode tegangan kerja


berdasarkan analisis elastik tidak disarankan
untuk desain kolom; yang sebaiknya
digunakan adalah metode desain ultimit
(berbasis kekuatan penampang). Hal ini
didasari oleh fakta bahwa deformasi rangkak
dan susut tidak mempengaruhi kekuatan
elemen struktur.

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 9


Kategori Kolom

Berdasarkan beban yang bekerja, kolom dapat dibagi atas :


• Kolom yang dibebani secara konsentrik
Jadi, di sini 𝑀 = 0; namun dalam praktek, semua kolom harus didesain terhadap kemungkinan
adanya eksentrisitas (akibat ketidak sempurnaan pengerjaan dan lain-lain). Besarnya nilai
eksentrisitas minimum biasanya diambil 10% dimensi penampang untuk kolom persegi, dan 5%
diameter untuk kolom bundar yang diberi spiral.
• Kolom yang dibebani secara eksentrik

Keruntuhan pada kolom dapat disebabkan oleh


• Kelelehan tulangan pada zona tarik
• Crushing beton pada zona tekan Jenis keruntuhan ini terjadi pada kolom pendek
• Tekuk pada kolom langsing

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 10


Kategori Kolom
(Lanjutan…)
Pemisahan kolom pendek dan kolom langsing didasari atas nilai rasio kelangsingan kolom berdasarkan SNI
2847:2013 Pasal 10.10.1.
Suatu kolom didefinisikan sebagai kolom pendek bilamana memenuhi kondisi berikut :
𝑘𝑙𝑢 𝑀1
≤ 34 − 12 ≤ 40
𝑟 𝑀2
Dimana :
𝑘 = faktor panjang efektif komponen struktur tekan
𝑙𝑢 = tinggi komponen struktur kolom yang diukur dari pusat ke pusat joint
𝑟 = radius girasi penampang komponen struktur kolom
𝑀1 = momen ujung terfaktor yang terkecil
𝑀2 = momen ujung terfaktor yang terbesar

𝑀1 𝑀2 bernilai positif bila kolom melentur dengan kelengkungan tunggal dan bernilai negatif bila
kolom melentur dengan kelengkungan ganda.

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 11


Kekuatan Kolom Pendek yang Dibebani Secara Konsentrik

Kekuatan kolom pendek yang dibebani secara konsentrik terdiri atas komponen sumbangan beton dan
sumbangan baja, yaitu :

𝑃𝑜𝑐 = 0,85𝑓𝑐′ 𝐴𝑔 − 𝐴𝑠𝑡

𝑃𝑜𝑠 = 𝑓𝑦 𝐴𝑠𝑡

Dimana :
𝐴𝑠𝑡 = luas total tulangan baja 𝐴𝑠 + 𝐴′𝑠
𝐴𝑔 = luas total penampang kotor

Penggunaan nilai 0,85 dalam perhitungan kuat tekan kolom didasari atas adanya perbedaan kuat tekan
′ = 0,85𝑓 ′ .
beton pada elemen struktur kolom aktual terhadap kuat tekan beton silinder, yaitu 𝑓𝑐𝑜 𝑐

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 12


Kekuatan Kolom Pendek yang Dibebani Secara Konsentrik
(Lanjutan…)
Berdasarkan persamaan sebelumnya, kuat tekan kolom adalah :
𝑃𝑜 = 0,85𝑓𝑐′ 𝐴𝑔 − 𝐴𝑠𝑡 + 𝐴𝑠𝑡 𝑓𝑦

Untuk menghidari perlunya perhitungan eksentrisitas minimum seperti yang dijabarkan sebelumnya,
SNI 2847:2013 Pasal 10.3.6 mensyaratkan adanya reduksi kekuatan sedemikian rupa sehingga :

• Untuk kolom dengan tulangan spiral


𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑠 = 0,85 0,85𝑓𝑐′ 𝐴𝑔 − 𝐴𝑠𝑡 + 𝑓𝑦 𝐴𝑠𝑡
• Untuk kolom dengan tulangan sengkang pegikat
𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑠 = 0,80 0,85𝑓𝑐′ 𝐴𝑔 − 𝐴𝑠𝑡 + 𝑓𝑦 𝐴𝑠𝑡
Nilai kuat tekan nominal di atas harus dikalikan lagi dengan faktor reduksi untuk elemen struktur tekan
sesuai SNI 2847:2013 Pasal 9.3.2.2, yaitu :
𝜙 = 0,75 untuk kolom dengan tulangan spiral
𝜙 = 0,65 untuk kolom dengan tulangan sengkang pengikat

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 13


Persyaratan Penulangan
Tulangan Longitudinal
Rasio tulangan longitudinal kolom dihitung sebagai berikut :
𝐴𝑠𝑡
𝜌𝑔 =
𝐴𝑔

SNI 2847:2013 Pasal 10.9.1 mensyaratkan 0,01 ≤ 𝜌𝑔 ≤ 0,08. Pada Pasal 10.9.2, SNI 2847:2013
mensyaratkan jumlah tulangan minimum yang harus dipasang pada kolom :

• Minimal 6 tulangan pada kolom berspiral


• Minimal 4 tulangan pada kolom dengan sengkang persegi atau sengkang cincin
• Minimal 3 tulangan pada kolom dengan sengkang ikat segitiga

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 14


Persyaratan Penulangan
Tulangan Lateral atau Sengkang Pengikat
SNI 2847:2013 Pasal 7.10.5.1 mensyaratkan ukuran tulangan lateral pada kolom :
• 𝐷 ≥ 10 𝑚𝑚 jika 𝐷 longitudinal ≤ 32 𝑚𝑚
• 𝐷 ≥ 13 𝑚𝑚 jika 𝐷 longitudinal ≥ 36 𝑚𝑚
• 𝐷 ≥ 10 𝑚𝑚 jika tulangan longitudinal dibundel

SNI 2847:2013 Pasal 7.10.5.2 mensyaratkan spasi vertikal tulangan lateral pada kolom :
• 𝑠 ≤ 16𝑑𝑏 (𝑑𝑏 untuk tulangan longitudinal)
• 𝑠 ≤ 48𝑑𝑏 (𝑑𝑏 untuk sengkang ikat)
• 𝑠 ≤ ukuran dimensi kolom terkecil

SNI 2847:2013 Pasal 7.10.5.3 mensyaratkan pemasangan spasi vertikal tulangan lateral sebagai berikut :
1) Sengkang harus diatur hingga setiap sudut dan tulangan longitudinal yang berselang harus
didukung secara lateral oleh sudut atau kait sengkang yang sudut dalamnya tidak lebih dari 135°
2) Tidak boleh ada tulangan longitudinal di sepanjang sisi sengkang yang jarak bersihnya lebih dari
150 mm terhadap batang tulangan yang didukung secara lateral

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 15


Persyaratan Penulangan
Tulangan Spiral
SNI 2847:2013 Pasal 7.10.4.3 mengharuskan diameter minimum baja tulangan spiral = 10 mm yang
dipasang dengan spasi (bersih) minimum 25mm dan maksimum 75 mm.

Rasio tulangan spiral, 𝜌𝑠 didefinisikan sebagai :

volume spiral 𝐴𝑠𝑝 𝜋𝐷𝑐 4𝐴𝑠𝑝


𝜌𝑠 = = =
volume inti (core) 1 𝜋𝐷2 𝑠 𝐷𝑐 𝑠
4 𝑐

Persyaratan rasio tulangan spiral minimum berdasarkan SNI 2847:2013 Persamaan 10-5 :

Dimana :
𝐴𝑔 𝑓𝑐′ 𝐴𝑠𝑝 = luas penampang tulangan spiral
𝜌𝑠 = 0,45 −1 𝐴𝑐 = luas inti beton = 𝜋𝐷𝑐2 4
𝐴𝑐 𝑓𝑦
𝐷𝑐 = diameter inti kolom beton = jarak tepi ke tepi tulangan spiral
𝑠 = spasi spiral (as ke as)
𝑓𝑦 = kuat leleh tulangan spiral ≤ 400 𝑀𝑃𝑎

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 16


Persyaratan Penulangan

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 17


Persyaratan Kekuatan

Dalam perencanaan kolom, harus dipenuhi kondisi berikut :

𝜙𝑃𝑛 ≥ 𝑃𝑢

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 18


Contoh

Kolom pendek berikut dibebani gaya aksial. Hitung kuat aksial tekan nominal 𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑠 penampang kolom
tersebut.

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 19


Contoh
Penyelesaian

𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑠 = 0,80 0,85𝑓𝑐′ 𝐴𝑔 − 𝐴𝑠𝑡 + 𝑓𝑦 𝐴𝑠𝑡

𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑠 = 0,80 0,85 × 27,6 305 × 508 − 1846 × 2 + 400 1846 × 2

𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑠 = 4020 𝑘𝑁

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 20


Contoh

Rencanakan kolom dengan sengkang ikat untuk menahan beban aksial konsentrik, di mana 𝑃𝐷𝐿 = 150 𝑡𝑜𝑛,
𝑃𝐿𝐿 = 300 𝑡𝑜𝑛, dan 𝑃𝑤 beban angin layan = 50 𝑡𝑜𝑛. Mutu beton dan baja tulangan yang akan
digunakan direncanakan masing-masing dengan 𝑓𝑐′ = 30 𝑀𝑃𝑎, dan 𝑓𝑦 = 400 𝑀𝑃𝑎.

Desain kolom persegi dengan menetapkan rasio tulanga 𝜌𝑔 = 0,03. Hitung kebutuhan tulangan
longitudinal dan transversal.

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 21


Contoh
Penyelesaian
Langkah 1. Beban ultimit yang bekerja.
Beban ultimit dapat dihitung dengan menggunakan kombinasi pembebanan berdasarkan SNI 2847:2013
Pasal 9.2.1

𝑃𝑢−1 = 1,2𝑃𝐷𝐿 + 1,6𝑃𝐿𝐿 = 1,2 150 + 1,6 300 = 660 𝑡𝑜𝑛


𝑃𝑢−2 = 1,2𝑃𝐷𝐿 + 1,0𝑃𝐿𝐿 + 1,6𝑃𝑤
= 1,2 150 + 1,0 300 + 1,6 50 = 560 𝑡𝑜𝑛

Langkah 2. Cek kondisi tekan dan Tarik pada kolom.

𝑃𝑢−3 = 0,9𝑃𝐷𝐿 − 1,3𝑃𝑤 = 0,9 150 − 1,3 50 = 70 𝑡𝑜𝑛

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 22


Contoh
(Lanjutan…)
Langkah 3. Estimasi dimensi penampang.
Untuk kolom persegi dengan 𝑟 = 0,80; 𝜙 = 0,65; dan 𝜌 = 0,03
𝑃𝑢
𝐴𝑔 =
𝜙𝑟 0,85𝑓𝑐′ + 𝜌𝑔 𝑓𝑦 − 0,85𝑓𝑐′

660 𝑡𝑜𝑛
𝐴𝑔 =
0,65 × 0,80 0,85 30 𝑀𝑃𝑎 + 0,03 400 𝑀𝑃𝑎 − 0,85 30 𝑀𝑃𝑎

𝐴𝑔 = 𝑑 2 , sehingga 𝑑 = 𝐴𝑔 = 587,8 𝑚𝑚. Digunakan 𝑑 = 600 𝑚𝑚

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 23


Contoh
(Lanjutan…)
Langkah 4. Perencanaan baja tulangan longitudinal.
Untuk kolom persegi, 𝐴𝑠 = 𝜌𝐴𝑔 = 0,03 6002 = 10800 𝑚𝑚2

1 𝑃𝑢
𝐴𝑠𝑡 ≥ − 0,85𝑓𝑐′ 𝐴𝑔
𝑓𝑦 − 0,85𝑓𝑐′ 𝜙𝑟

1 6,6 × 106
𝐴𝑠𝑡 ≥ − 0,85 30 6002
400 − 0,85 30 0,65 × 0,80

𝐴𝑠𝑡 ≥ 9378,66 𝑚𝑚2

Gunakan 8D40 → 𝐴𝑠𝑡 = 8 1256 = 10048 𝑚𝑚2

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 24


Contoh
(Lanjutan…)
Langkah 5. Pemeriksaan 𝑃𝑜 .

𝑃𝑜 = 0,85𝑓𝑐′ 𝐴𝑔 − 𝐴𝑠𝑡 + 𝑓𝑦 𝐴𝑠𝑡

𝑃𝑜 = 0,85 30 360000 − 10048 + 400 10048

= 1294,3 𝑡𝑜𝑛

𝜙𝑃𝑛 = 𝜙𝑟𝑃𝑜 = 0,65 × 0,8 × 1294,3 = 673 𝑡𝑜𝑛 > 660 𝑡𝑜𝑛

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 25


Contoh
(Lanjutan…)
Langkah 6. Perencanaan tulangan sengkang ikat.

Karena diameter baja tulangan longitudinal yang digunakan ≥ 36 𝑚𝑚, maka digunakan
sengkang ikat D13. Spasi bersih antar tulangan longitudinal :

𝑏 − #𝑑𝑏 − 2 cover + 𝑑𝑠𝑡𝑖𝑟𝑟𝑢𝑝 600 − 3 40 − 2 40 + 13


𝑠𝑙𝑜𝑛𝑔 = = = 187 𝑚𝑚
#bars − 1 3−1

𝑠𝑙𝑜𝑛𝑔 = 187 𝑚𝑚 > 150 𝑚𝑚 → dibutuhan pengikat silang (cross ties)

Spasi vertikal sengkang ikat dan cross ties :


• 16𝑑𝑏 = 16 × 40 = 640 𝑚𝑚
• 48𝑑𝑠𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛𝑔 = 48 × 13 = 624 𝑚𝑚
• Nilai terkecil dari 𝑑 atau 𝑏 = 600 mm
Jadi, digunakan sengkang ikat 𝐷13 dengan spasi vertikal, 𝑠𝑣𝑒𝑟 = 600 𝑚𝑚

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 26


Contoh
(Lanjutan…)

Arzal M. Zain 2017© TS 534 – Struktur Beton Bertulang Slide 27