Anda di halaman 1dari 6

Analisa Jurnal

Komponen HasilAnalisa
Jurnal Jurnal 1 Jurnal 2
Judul Pengaruh pemberian bronkodilator Effect of nebulizer and effective cough on
inhalasi dengan pengenceran dan tanpa the status ofbreathing copd patients
pengenceran nacl 0,9% terhadap fungsi
paru pada pasien asma
Pendahulu Terapi inhalasi bronkodilator pada Penurunan kadar oksigen dalam sirkulasi dan
an/ Latar pasien asma merupakan pemberian obat jaringan tubuh, menempatkan pasien pada
Belakang secara langsung ke dalam saluran risiko tinggi terhadap beberapa kondisi serius
lainnya. Bila COPD menunjukkan keadaan
napas melalui penghisapan. Kenyataan
ketidak seimbangan antara perbaikan paru
di lapangan ada pebedaan dalam
dan mekanisme pertahanan diri menyebabkan
prosedur pemberiannya, dimana ada
fibrosis jalan nafas perifer, sehingga
yang memberikannya dengan
rusaknya struktur bronkiolus dan melebarnya
pengenceran NaCl 0,9%, tetapi ada juga alveoli yang nantinya menyebabkan
yang memberikan tanpa pengenceran. meningkatnya tahanan dijalan napas perifer,
Serangan asma semakin berat, akhirnya terjadi obstruksi sehingga
terlihat dari meningkatnya angka memperberat penyempitan jalan napas akibat
kejadian adanya edema dan hipersekresi mucus
asma rawat inap dan angka kematian. (Brunner & Suddarth, 2002). Berdasakan
Di data WHO menunjukkan bahwa COPD
menempati urutan ke 6 sebagai penyebab
Indonesia dilaporkan pasien status
utama kematian di dunia, sedangkan pada
asmatikus dengan angka kematian di
tahun 2002 telah menempati urutan ke 3
Rumah Sakit Sutomo adalah 2,9% dari
setelah penyakit Kordivaskoler dan kanker.
68
pasien dan di Rumah Sakit Hasan
Sadikin
Bandung adalah 0,73% dari 137 pasien
(Sukamto, 2006).
Semakin bertambahnya pengetahuan
para penderita asma terhadap penyakit
dan
penanganan penyakitnya menyebabkan
pengaruh penyakit asma terhadap diri
mereka kecil. Namun, kombinasi
pengetahuan penderita dengan
penggunaan yang luas dari rencana
penanganan yang dilakukan sendiri,
terutama dengan menggunakan
pengukur
aliran puncak (peak flow meter),
bersamasama dengan meningkatnya
perhatian
terhadap pentingnya terapi
bronkodilator
(nebulizer) yang teratur menyebabkan
kesakitan asma dapat diturunkan
(Amrie,
2004). Realitas di lapangan
menunjukkan
bahwa dokter yang lebih
berpengalaman
cenderung menggunakan tehnik
pengenceran dengan Nacl 0,9% dalam
prosedur pemberian bronkodilator
inhalasi pada pasien asma. Fungsi NaCl
0,9% dalam hal ini adalah sebagai
cairan
pengencer atau campuran untuk
memberikan efek kelembaban pada
saluran peranapasan saat melakukan
terapi
inhalasi. Sedangkan dokter lulusan
baru. menggunakan tehnik tanpa
pegenceran
dalam prosedur pemberian
bronkodilator
inhalasi pada pasien asma. Hal ini
tentunya akan membingungkan bagi
perawat pelaksana dalam pemberian
bronkodilator inhalasi pada pasien
asma.
Metode Penelitian ini menggunakan Penelitian ini merupakan penelitian Pra –
Penelitian rancangan Quasy-Eksperiment (Pre- eksperimen one–group pra test -
Post post test design yaitu mengungkapkan

Test Control Group Design) untuk hubungan sebab akibat dengan cara
melibatkan satu kelompok subyek. Kelompok
mencari pengaruh dari variabel
subyek diobservasi sebelum dilakukan
independen. Peneliti melakukan
intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah
intervensi
intervensi. Sampling
sebagian dari sampel yang ada dengan
yang digunakan adalah purposive sampling
pengenceran NaCl 0,9% dan tanpa yaitu Tehnik penetapan sampel dengan cara
pengenceran NaCl 0,9%. memilih sampel diantara populasi sesuai
Populasi dalam penelitian ini adalah dengan yang dikehendaki peneliti. Variabel
semua pasien asma yang mendapatkan independen pada penelitian ini adalah
terapi bronkodilator Inhalasi di Ruang pemberian nebulizer dan batuk efektif,
Melati RSUD dr.Hi.Abdul Moeloek Varibel dependen pada penelitian ini adalah
Propinsi Lampung pada Bulan status pernafasan pasien COPD. Setelah
didapatkan nilai dari masing-masing variabel,
AgustusSeptember 2012.
kemudian ditabulasikan ke dalam tabulasi
Tehnik sampling yang digunakan
silang. Selanjutnya dianalisis dengan
yaitu Accidental Sampling, yaitu
menggunakan uji Willcoxon Sign Rank Test
seluruh
untuk mengetahui efektivitas pemberian
pasien asma dengan pengobatan nebulizer dan batuk efektif terhadap status
nebulizer pernafasan pasien COPD.
yang menggunakan obat bronkodilator
Inhalasi pada Agustus-September 2012
dan memenuhi kriteria inklusi.
Hasil dan Setelah melakukan analisis data dengan nilai rata-rata sebelum diberikan
pembahasa menggunakan uji T dependen, maka nebilizer dan batuk efektif adalah X1 =
n diperoleh nila p value sebesar 0.000, 15,4165 dan nilai standar deviasinya 1,9982.
Sedangkan nilai rata-rata setelah diberikan
dengan demikian maka dapat
nebulizer dan batuk efektif X2 = 8,1248 dan
disimpulkan bahwa ada perbedaan rata-
nilai standar deviasinya 1,4836. Hasil uji
rata nilai VEP1 sebelum dan sesudah
statistik menunjukkan nilai sig (2-tailed)
dilakukan inhalasi dengan pengenceran
adalah p = 0,001 berarti p < 0,05 maka Ho
Nacl 0.9%. Hal ini menunjukkan ditolak dan H1 diterima artinya Efektif
adanya pengaruh pemberian pemberian nebulizer dan batuk efektif
bronkodilator secara inhalasi dengan terhadap status pernafasan pasien COPD.
pegenceran Nacl 0.9% terhadap fungsi 1. Status Pernafasan Pasien COPD. Sebelum
paru (VEP1) pada pasien asma. NaCl Pemberian Nebulizer dan Batuk Efektif
adalah larutan jernih, tidak berwarna, Dari tabel 1 menunjukkan status

steril dan bebas pirogen. Cairan infus pernafasan pasien PPOK sebelum dilakukan
pemberian kombinasi bronkodilator aerosol
normal salin atau NaCl 0,9
dan batuk efektif seluruhnya atau 100%
%mengandung 9 gr NaCl/Ltr, jadi ini
menurun. Penurunan status pernafasan ini
sebanding dengan 154.mmol NaCl
terjadi disebabkan keterbatasan aliran udara
Dengan tekanan osmotik 308
(terutama aliran ekspirasi) yang tidak
mOsmol/l. Normal salin/NaCl sepenuhnya reversibel. Keterbatasan aliran
merupakan cairan iosotonik yang biasa udara terjadi progresif dan berkaitan dengan
digunakan sebagai cairan pengganti respon peradangan yang abnormal terhadap
cairan tubuh. Kandungan NaCl dalm partikel atau gas-gas berbahaya, terutama
cairan tersebut merupakan komponen asap rokok
utama dari kationkation ekstrasel dan 2. Status Pernafasan Pasien COPD

sebagai penentu dari tekanan osmotik Sesudah Pemberian nebulizer dan Batuk
Efektif
plasma darah, sedangkan Clorida
Dari tabel.2 menunjukkan kadar status
merupakan anion utama didalam
pernafasan pasien COPD sesudah dilakukan
plasma darah, jadi pada keadaan
kehilangan cairan atau dehidrasi pemberian nebulizer dan Batuk Efektif
isotonik, pada muntah-muntah dimana sebanyak 15 responden (75%) mengalami
clorida banyak keluar dari tubuh sangat peningkatan atau menjadi lebih baik.. Hal ini
disebabkan karena responden tersebut benar
diperlukan cairan pengganti seperti
– benar telah mendapatkan terapi
normal salin ini dan secara umum untuk
bronlodilator aerosol dan batuk
mengatasi kekurangan natrium serta ion
efektif.Namun ada 5 responden (25%) yang
clorida dalam darah misal pada keadaan
mengalami penurunan status pernafasan.
dehidrasi dan lain-lain. Dengan 3. Efektivitas Pemberian nebulizer dan
demikian normal salin atau Batuk Efektif Terhadap Status Pernafasan
NaCl 0.9% juga sangat baik digunakan Pasien COPD
sebagai pelarut medikamentosa untuk Nebulizer adalah alat yang dapat mengubah
pemakaian secara parenteral, menilai obat yang berbentuk larutan menjadi aerosol
dari keterangan kandungan NaCl 0,9% secara terus- menerus dengan tenaga yang
maka larutan dapat dipakai sebagai berasal dari udara yang dipadatkan atau
gelombang ultrasonik. Aerosol yang
bahan pembanding untuk pengenceran
terbentuk dihirup penderita melalui mouth
obat bronkodilator. Hal ini terbukti
piece atau sungkup. Merupakan salah satu
pada hasil penelitian pada analisis
penggunaan terapi inhalasi (pemberian obat
statistik lanjut diperoleh nilai p value
ke dalam saluran pernafasan dengan cara
sebesar 0.000, dengan
demikian inhalasi).Sedangkan bronkodilator yang
pemberian bronkodilator dengan diberikan dengan nebulizer memberikan efek
pengenceran tetap memberikan bronkodilatasi yang bermakna tanpa
pengaruh yang signifikan terhadap menimbulkan efek sampingSelain itut ujuan
peningkatan nilai VEP1 pada pasien pemberian nebulizer adalah untuk
asma. Dampak lain yang dirasakan oleh mengurangi sesak, untuk mengencerkan

pasien asma yang diterapi inhalasi dahak, bronkospasme berkurang atau


menghilang dan menurunkan hiperaktivitas
bronkodilator dengan pengenceran
bronkus serta mengatasi infeksi dan untuk
NaCl 0.9% adalah diperolehnya
pemberian obat-obat aerosol atau
kelembaban saluran pernapasan yang
inhalasi.Dari sini diketahui bahwa jenis
lebih baik sehingga berdampak terhadap
nebulizer yang digunakan di ruang Mawar
pengenceran dan pengeluaran dahak. Merah Sidoarjo adalah Simple nebulizer
dimana nebulizer ini menghasilkan partikel
yang lebih halus, yakni antara 2 – 8 mikron.
Biasanya tipe ini mempunyai tabel dan paling
banyak dipakai di rumah sakit. Beberapa
bentuk jet nebulizer dapat pula diubah sesuai
dengan keperluan sehingga dapat digunakan
pada ventilator dimana dihubungkan dengan
gas kompresor.