Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pneumonia adalah salah satu penyakit peradangan akut parenkim paru yang
biasanya dari suatu infeksi saluran pernafasan bawah akut (ISNBA) (Sylvia A price).
Dengan gejala batuk dan disertai dengan sesak nafas yang disebabkan agen infeksius
seperti virus, bakteri, mycoplasma (fungi), dan aspirasi substansi asing,berupa radang
paru-paru yang disertai eksudasi dan konsolidasi dan dapat dilihat melalui gambaran
radiologis.
Pneumonia pada anak seringkali bersamaaan terjadinya proses infeksi akut
pada bronkus dan disebut bronkopneumonia. Terjadinya pneumonia pada anak
seringkali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkus
(bronkopneumonia) disebut pneumonia. Keadaan yang dapat menyebabkan
bronkopneumonia adalah pertusis, morbili, penyakit lain yang disertai dengan infeksi
saluran pernapasan, gizi buruk, paska bedah atau kondisi terminal.
Pneumonia adalah penyebab kematian balita tertinggi di dunia, lebih banyak
dibandingkan dengan penyakit lainnya seperti AIDS, Malaria, Campak. Di dunia
setiap tahun diperkirakan lebih dari 2 juta balita meninggal karena pneumonia dari 9
juta total kematian balita. Diantara 5 kematian balita, 1 diantaranya diakibatkan oleh
kasus pneumonia. Di negara berkembang 60% kasus pneumonia disebabkan oleh
bakteri, sedangkan di negara maju di sebabkan oleh virus. Oleh sebab itu pneumonia
disebut pembunuh nomer 1. Di negara berkembang pneumonia merupakan penyakit
terabaikan atau terlupakan. Banyak anak meninggal karena penyakit pneumonia,
namun sangat sedikit perhatian yang diberikan terhadap masalah tersebut (UNICEF,
WHO, 2009). Kurangnya perhatian tersebut disebabkan gejala pasti pneumonia anak
tidak mudah diketahui sehingga diperlukan kecermatan petugas kesehatan dalam
mendeteksinya.
Dalam keperawatan pneumonia atau bronkopneumonia pada anak termasuk
masalah yang serius dan mengancam keselamatan jiwa. Karena sistem pernapasan
pada bayi dan anak belum matur. Oleh karena itu, perawat maupun tim kesehatan lain
harus mampu mengidentifikasi dan mengatasi masalah yang ada pada anak atau bayi
yang menderita pneumonia.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit pneumonia
di RS. Sele Be Solu.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu mendeskripsikan hasil pengkajian pada pasien dengan penyakit
pneumonia di RS. Sele Be Solu
b. Mampu mendeskripsikan rumusan diagnosa keperawatan pada pasien dengan
penyakit pneumonia di RS. Sele Be Solu

1
c. Mampu mendeskripsikan rencana keperawatan pada pasien dengan penyakit
pneumonia di RS. Sele Be Solu
d. Mampu mendeskripsikan tindakan keperawatan pada pasien dengan penyakit
pneumonia di RS. Sele Be Solu
e. Mampu mendeskripsikan evaluasi keperawatan pada pasien dengan penyakit
pneumonia di RS. Sele Be Solu

C. MANFAAT
1. Manfaat Praktis
Dapat bermanfaat bagi semua tenaga kesehatan tentang kesehatan yang tepat dan
akurat bagi penderita penyakit pneumonia
2. Manfaat Teoritis
Dapat menambah asuhan keperawatan kepada mahasiswa tentang penyakit
pneumonia serta asuhan keperawatan yang diberikan secara tepat dan akurat. Juga
dapat menjadi sumber referensi bagi mahasiswa untuk memenuhi tugas.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

A. DEFINISI
Pneumonia adalah salah satu penyakit peradangan akut parenkim paru yang
biasanya dari suatu infeksi saluran pernafasan bawah akut (ISNBA) (Sylvia A price).
Dengan gejala batuk dan disertai dengan sesak nafas yang disebabkan agen infeksius
seperti virus, bakteri, mycoplasma (fungi), dan aspirasi substansi asing,berupa radang
paru-paru yang disertai eksudasi dan konsolidasi dan dapat dilihat melalui gambaran
radiologis.
B. ETIOLOGI
Penyebaran infeksi terjadi melalui droplet dan sering disebabkan oleh
streptococus pneumonia, melalui selang infus oleh staphylococcus aureus sedangkan
pada pemakaian ventilator oleh P.aeruginosa dan enterobacter. Dan masa kini terjadi
karena perubahan keadaan pasien seperti kekebalan tubuh dan penyakit kronis, polusi
lingkungan, penggunaan antibiotik yang tidak tepat.
Setelah masuk ke paru-paru organisme bermultiplikasi dan jika telah berhasil
mengalahkan mekanisme pertahanan paru-paru, terjadi pneumonia. Selain diatas
penyebab terjadinya pneumonia sesuai penggolongannya yaitu
1. Penyebab pasti
a. Bacteria : Diplococcus pneumonia, Pneumococcus, Streptococcus
hemolyticus, Streptococcus aureus, Hemophilus Influinzae, Mycrobakterium
tuberkulosis, Bacillus Friediander.
b. Virus : Respiratory Syncytial Virus, Adeno Virus, V. Sitomegalitik, V.
Influenza.
c. Mycoplasma Pneumonia
d. Jamur : Histoplasma Capsulatum, Cryptococcus Neuroformans, Blastomyces
Dermatitides, Coccidodies Immitis, Aspergilus Species, Candida Albicans.
e. Aspirasi : Makanan, Kerosene (Bensin, Minyak Tanah), Cairan Amnion,
Benda Asing
f. Pneumonia Hipostatik
g. Sindrom Loeffler
2. Faktor resiko
Faktor resiko pneumonia yang didapat di Rumah Sakit menurut Morton
a. Faktor resiko terkait penjamu
1) Pertambahan usia
2) Perubahan tingkat kesadaran
3) Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK)
4) Penyakit berat, malnutrisi, shock
5) Trauma tumpul, trauma kepala berat, trauma dada
b. Faktor resiko terkait pengobatan
1) Fentilasi mekanik rentubasi atau intubasi
2) Bronkoskopi, selang NGT
3) Adanya alat pemantau tekanan intra kranial (TIK)

3
4) Peningkatan PH lambung
c. Faktor resiko terkait infeksi
1) Mencuci tangan kurang bersih
2) Mengganti selang ventilator kurang dari 48 jam sekali
C. KLASIFIKASI PNEUMONIA
1. Klasifikasi berdasarkan anatomi (IKA FKUI)
a. Pneumonia Lobaris, melibatkan seluruh atau satu bagian besar dari satu atau
lebih lobus paru. Bila kedua paru terkena, maka dikenal sebagai pneumonia
bilateral atau “ganda”
b. Pneumonia Lobularis (Bronkopneumonia) terjadi pada ujung akhir bronkiolus,
yang tersumbat oleh eksudat mukopurulen untuk membentuk bercak
konsolidasi dalam lobus yang berada didekatnya, disebut juga pneumonia
loburalis.
c. Pneumonia Interstitial (Bronkiolitis) proses inflasi yang terjadi di dalam
dinding alveolar (interstisium) dan jaringan peribronkial serta interlobular

2. Klasifikasi pneumonia berdasarkan inang dan lingkungan


a. Pneumonia Komunitas
Dijumpai pada H. Influenza pada pasien perokok. Pathogen atipikal pada
lansia, gram negative pada pasien dari rumah jompo, dengan adanya PPOK,
penyakit penyerta kardiopolmonal/jamak, atau paska terapi antibiotika
spectrum luas.
b. Pneumonia nosokomial
Tergantung pada tiga faktor yaitu : tingkat berat sakit, adanya resiko untuk
jenis patogen tertentu, dan masa menjelang timbul onset pneumonia
c. Pneumonia aspirasi
Disebabkan oleh infeksi kumam, penumonitis kimia akibat aspirasi bahan
toksik, akibat aspirasi cairan innert misalnya cairan makanan atau lambung,
edema paru dan obstruksi mekanik simple oleh bahan padat
d. Pneumonia pada gangguan immune
Terjadi akibat proses penyakit dan akibat terapi. Penyakit infeksi dapat
disebabkan oleh kuman patogen atau mikroorganisme yang biasanya
nonvirulen, berupa bakteri protoza, parasit, virus, jamur dan cacing
D. PATOFISIOLOGI
Menurut Chirstman (1995) dalam Asih & Effendy (2004), Dari
berbagai macam penyebab pneumonia, seperti virus, bakteri, jamur, dan
riketsia, pneumonitis hypersensitive dapat menyebabkan penyakit primer. Pneumonia
juga dapat terjadi akibat aspirasi, yang paling jelas adalah pada klien yang diintubasi,
kolonisasi trachea dan terjadi mikroaspirasi sekresi saluran pernafasan atas yang
terinfeksi, namun tidak semua kolonisasi akan mengakibatkan pneumonia.
Menurut Asih & Effendy (2004), mikroorganisme dapat mencapai paru
melalui beberapa jalur, yaitu:
1. Ketika individu terinfeksi batuk, bersin atau berbicara, mikroorganisme
dilepaskan kedalam udara dan terhirup oleh orang lain.

4
2. Mikroorganisme dapat juga terinspirasi dengan aerosol (gas nebulasi) dari
peralatan terapi pernafasan yang terkontaminasi.
3. Pada individu yang sakit atau hygiene giginya buruk, flora normal orofaring dapat
menjadi patogenik
4. Staphylococcus dan bakteri gram-negatif dapat menyebar melalui sirkulasi dari
infeksi sistemik, sepsis, atau jarum obat IV yang terkontaminasi.

Pada individu yang sehat, pathogen yang mencapai paru dikeluarkan atau bertahan
dalam pipi melalui mekanisme perubahan diri seperti reflex batuk, kliens
mukosiliaris, dan fagositosis oleh makrofag alveolar. Pada individu yang rentan,
pathogen yang masuk ke dalam tubuh memperbanyak diri, melepaskan toksin yang
bersifat merusak dan menstimulasi respon inflamasi dan respon imun, yang keduanya
mempunyai efek samping yang merusak.

Reaksi antigen-antibodi dan endotoksin yang dilepaskan oleh beberapa


mikroorganisme merusak membrane mukosa bronchial dan membrane alveolokapiler.
Inflamasi dan edema menyebabkan sel-sel acini dan bronkiales terminalisterisi oleh
debris infeksius dan eksudat, yang menyebabkan abnormalitas ventilasi-perfusi. Jika
pneumonia disebabkan oleh staphilococcuc atau bakteri gram-negatif dapat terjadi
juga nekrosis parenkim paru.

Pada pneumonia pneumokokus, organism S. pneumonia meransang respons


inflamasi, dan eksudat inflamsi menyebabkan edema alveolar, yang selanjutnya
mengarah pada perubahan-perubahan lain . sedangkan pada pneumonia viral
disebabkan oleh virus biasanya bersifat ringan dan self-limited tetapi dapat membuat
tahap untuk infeksin sekunder bakteri dengan memberikan suatu lingkungan ideal
untuk pertumbuhan bakteri dan dengan merusak sel-sel epitel bersilia, yang
normalnya mencegah masuknya pathogen ke jalan nafas bagian bawah.

E. MANIFESTASI KLINIS
1. Demam, sering tampak sebagai tanda infeksi yang pertama.
2. Meningismus, yaitu tanda-tanda meningeal tanpa infeksi meninges.
3. Anoreksia, merupakan hal yang umum yang disertai dengan penyakit masa kanak-
kanak.
4. Muntah, anak kecil mudah muntah bersamaan dengan penyakit yang merupakan
pentunjuk untuk awitan infeksi.
5. Diare, biasanya ringan, diare sementara tetapi dapat menjadi berat.
6. Nyeri abdomen, merupakan keluhan umum yang kadang tidak bisa dibedakan dari
nyeri apendiksitis.
7. Sumbatan nasal, pasase nasal kecil dari bayi mudah tersumbat oleh
pembengkakkan mukosa dan eksudasi.
8. Keluaran nasal, sering menyertai infeksi pernapasan.
9. Batuk, merupakan gambaran umum penyakit pernapasan
10. Bunyi pernapasan seperti mengi batuk mengorok.
11. Sakit tenggorokkan dan kesulitan bernapas.

5
F. PENATALAKSANAAN
Kepada penderita yang penyakitnya tidak terlalu berat, bisa diberikan
antibiotik per oral dan tetap tinggal dirumah. Penderita yang lebih tua dan penderita
dengan sesama pasien sesak nafas atau penyakit jantung atau dengan penyakit paru
lainnya harus dirawat dan antibiotik diberikan melalui infus. Mungkin perlu diberikan
oksigen tambahan, cairan intravena dan alat bantu nafas mekanik.
Kebanyakan penderita memberikan respon terhadap pengobatan dan keadaan
membaik dalam waktu 2 minggu. Penatalaksanaan umum yang dapat diberikan antara
lain :
1. Oksigen 1-2 liter/menit
2. IVFD dekstrose 10% : NaCl 0,9% = 3:1, + KCL mEq/500 ml cairan. Jumlah
cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu dan status hidrasi
3. Jika sesak tidak terlalu berat, dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui
NGT dengan Feeding Drip
4. Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan
beta agonis untuk memperbaiki transport mukosilier. Koreksi gangguan
keseimbangan asam basa dan elelktrolit

Penatalaksanan untuk pneumonia bergantung penyebab, antibiotik diberikan sesuai


hasil kultur.

1. Untuk kasus pneumonia comunity based :


a. Ampicilin 100 mg/kg BB/hari dalam 4x pemberian
b. Chloramfenichol 75 mg/kg BB/hari dalam 4x pemberian
2. Untuk kasus pneumonia hospital based :
a. Sefatokcim 100 mg/kg BB/hari dalam 2x pemberian
b. Amikasin 10-15 mg/kg BB/hari dalam 2x pemberian
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses
luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi
(bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia
mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.
2. Analisa Gas Darah (Analisa Gas Darah) : tidak normal mungkin terjadi,
tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
3. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum,
aspirasi transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk
mengatasi organisme penyebab.
4. JDL : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi
virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial.
5. Pemeriksaan serologi : titer virus atu legionella, aglutinin dingin.
6. LED : meningkat
7. Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar);
tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia.
8. Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah

6
9. Bilirubin : mungkin meningkat
10. Biopsi paru : untuk menetapkan diagnosis
H. MANAJEMEN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Aktivitas / istirahat
1) Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
2) Tanda : Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas
b. Sirkulasi
1) Gejala : riwayat gagal jantung kronis
2) Tanda : takikardi, penampilan keperanan atau pucat
c. Integritas Ego :Gejala : banyak stressor, masalah finansial
d. Makanan / Cairan
1) Gejala : kehilangan nafsu makan, mual / muntah, riwayat DM
2) Tanda : distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan
turgor buruk, penampilan malnutrusi
e. Neurosensori
1) Gejala : sakit kepala bagian frontal
2) Tanda : perubahan mental
f. Nyeri / Kenyamanan :Gejala : sakit kepala, nyeri dada meningkat dan batuk,
myalgia, atralgia
g. Pernafasan
1) Gejala : riwayat PPOM, merokok sigaret, takipnea, dispnea, pernafasan
dangkal, penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal
2) Tanda : sputum ; merah muda, berkarat atau purulen
3) Perkusi ; pekak diatas area yang konsolidasi, gesekan friksi pleural
4) Bunyi nafas : menurun atau tak ada di atas area yang terlibat atau nafas
Bronkial
5) Framitus : taktil dan vokal meningkat dengan konsolidasi
6) Warna : pucat atau sianosis bibir / kuku
h. Keamanan
1) Gejala : riwayat gangguan sistem imun, demam
2) Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan, mungkin
pada kasus rubela / varisela
i. Penyuluhan :Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol
kronis
2. Diagnosa keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi mucus
yang kental, kelemahan, upaya batuk buruk, dan edema ystem, edema trakeal/
faringeal.
b. Resiko tinggi gangguan pertukarangas yang berhubungan dengan penurunan
jaringan efektif paru, atelektasis, kerusakan membrane alveola-kapiler, edema
bronchial.
c. Hipertermi yang berhubungan dengan reaksi sistemis: bekteremia/piremia,
penigkatan laju metbolisme umum.

7
d. Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan kelemahan fisk peningkatan
metabolisme umum sekunder dari kerusakan pertukaran gas.
e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan merabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan sekunder
terhadap demam
f. Resiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan demam,
diaphoresis, dan masukan oral sekunder terhadap proses pneumonia
3. Intervensi keperawatan
a. Diagnosa Perawatan : Kebersihan jalan nafas tidak efektif
Dapat dihubungkan dengan :
1) Inflamasi trakeobronkial, pembentukan oedema, peningkatan produksi
sputum
2) Nyeri pleuritik
3) Penurunan energi, kelemahan

Kemungkinan dibuktikan dengan :


1) Perubahan frekuensi kedalaman pernafasan
2) Bunyi nafas tak normal, penggunaan otot aksesori
3) Dispnea, sianosis
4) Batuk efektif/tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum

Kriteria Hasil :
1) Menunjukkan perilaku mencapai kebersihan jalan nafas
2) Menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih, tak ada dispnea
atau sianosis

Intervensi Keperawatan :
Mandiri
1) Kaji frekuensi / kedalaman pernafasan dan gerakan dada
2) Auskultasi paru, catat area penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi nafas
tambahan (krakles, mengi)
3) Bantu pasien untuk batuk efektif dan nafas dalam
4) Penghisapan sesuai indikasi
5) Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari

Kolaborasi
1) Bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi lain
2) Berikan obat sesuai indikasi : mukolitik, ekspektoran, bronkodilator,
analgesik
3) Berikan cairan tambahan
4) Awasi seri sinar ‘X’ dada, Analisa Gas Darah, nadi oksimetri
5) Bantu bronkoskopi / torakosintesis bila diindikasikan

b. Diagnosa Perawatan : Kerusakan pertukaran gas


Dapat dihubungkan dengan :

8
1) Perubahan membran alveolar – kapiler (efek inflamasi)
2) Gangguan kapasitas oksigen darah

Kemungkinan dibuktikan oleh :


1) Dispnea, sianosis
2) Takikardi
3) Gelisah/perubahan mental
4) Hipoksia

Kriteria Hasil :
1) Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan Analisa
Gas Darah dalam rentang normal dan tak ada gejala distress pernafasan
2) Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigen

Intervensi Keperawatan :
1) Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernafas
2) Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku
3) Kaji status mental
4) Awasi status jantung/irama
5) Awasi suhu tubuh, sesui indikasi. Bantu tindakan kenyamanan untuk
menurunkan demam dan menggigil
6) Pertahankan istirahat tidur
7) Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan
batuk efektif
8) Kaji tingkat ansietas. Dorong menyatakan masalah/perasaan.
9) Berikan terapi oksigen dengan benar
10) Awasi Analisa Gas Darah

c. Diagnosa Perawatan : Peningkatan suhu tubuh


Dapat dihubungkan dengan :
1) Proses infeksi

Kemungkinan dibuktikan oleh :


1) Demam, penampilan kemerahan
2) Menggigil, takikardi

Kriteria Hasil :
1) Pasien tidak memperlihatkan tanda peningkatan suhu tubuh
2) Tidak menggigil
3) Nadi normal

Intervensi Keperawatan :
1) Obeservasi suhu tubuh (4 jam)
2) Pantau warna kulit
3) Lakukan tindakan pendinginan sesuai kebutuhan
4) Berikan obat sesuai indikasi : antipiretik

9
5) Awasi kultur darah dan kultur sputum, pantau hasilnya setiap hari

d. Diagnosa Perawatan : Intoleransi aktivitas


Dapat dihubungkan dengan :
1) Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
2) Kelemahan, kelelahan

Kemungkinan dibuktikan dengan :


1) Laporan verbal kelemahan, kelelahan dan keletihan
2) Dispnea, takipnea
3) Takikardi
4) Pucat / sianosis

Kriteria Hasil : Melaporkan / menunjukkan peningkatan toleransi terhadap


aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnea, kelemahan berlebihan
dan Tanda-tanda Vital dalam rentang normal

Intervensi Keperawatan :
1) Evaluasi respon klien terhadap aktivitas
2) Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung
3) Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya
keseimbangan aktivitas dan istirahat
4) Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat / tidur
5) Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan

e. Diagnosa Perawatan : Resti nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


Dapat dihubungkan dengan :
1) Peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses
infeksi
2) Anoreksia distensi abdomen

Kriteria Hasil :
1) Menunjukkan peningkatan nafsu makan
2) Berat badan stabil atau meningkat

Intervensi Keperawatan :
1) Indentifikasi faktor yang menimbulkan mual atau muntah
2) Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin
3) Auskultasi bunyi usus
4) Berikan makan porsi kecil dan sering
5) Evaluasi status nutrisi

10
f. Diagnosa Perawatan : Resti kekurangan volume cairan
Faktor resiko :
Kehilangan cairan berlebihan (demam, berkeringan banyak, hiperventilasi,
muntah)
Kriteria Hasil :
1) Balance cairan seimbang
2) Membran mukosa lembab, turgor normal, pengisian kapiler cepat

Intervensi Keperawatan :
1) Kaji perubahan Tanda-tanda Vital
2) Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa
3) Catat laporan mual / muntah
4) Pantau masukan dan keluaran, catat warna, karakter urine
5) Hitung keseimbangan cairan
6) Asupan cairan minimal 2500 / hari
7) Berikan obat sesuai indikasi ; antipirotik, antiametik
8) Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan

11
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Data Klien
Nama : An. L
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 1 Tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat : Jl.Makbon Km 12
Diagnosa Medis : Pneumonia
2. Data Penanggung Jawab
Nama : Ny. T
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 27 Tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat : Jl.Makbon Km 12
Pendidikan : SMP
3. Keluhan Utama
Ibu klien mengatakan bahwa An. L mengeluh sesak nafas sejak tadi malam
B. RIWAYAT KESEHATAN
1. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu An.L mengatakan bahwa sejak 4 hari yang lalu anaknya menderita
batuk/pilek, oleh keluargaa di berikan obat hufagrip batuk/pilek berkurang. Pada
tanggal 25 Oktober 2018 (22.21 WIB) anak rewel dan tidurnya gelisah karena
sesak, oleh keluarga di pijat dan sesak berkurang, akan tetapi pada tanggal 29
Oktober 2018 subuh anaknya sesak lagi disertai batuk dan pilek , oleh keluarga di
bawa ke Puskesmas Klasaman untuk dilakukan pengobatan.
2. Riwayat kesehatan masa lalu
Ibu An.L mengatakan tidak pernah menderita sakit seperti ini, hanya saja
batuk, pilek dan demam saja.
3. Status immunsasi
Anak telah memperoleh imunisasi BCG pada usia 1 bulan, DPT pada usia 2
bulan, Polio pada usia 3 bulan, Campak pada usia 6 bulan, dan Hepatitis 8 bulan.
4. Riwayat kesehatan keluarga
Ny.T mengatakan bahwa dalam Keluarga Ny.T tidak memiliki riwayat
penyakit menular seperti TBC, Hepatitis, tapi memiliki riwayat hipertensi di
dalam keluarga dari pihak ibu pasien. Ibu pasien mengatakan bahwa dia tidak tahu
apa yang harus dilakukan pada saat anaknya sesak karena ini adalah anak
pertamanya. Ibu pasienn tampak gelisah

12
C. GENOGRAM

Tinggal
Satu
Rumah
Pasien
Keterangan :

: Laki – laki : Menikah

: Perempuan

: Hipertensi

D. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
Tingkat kesadaran klien adalah compos mentis/sadar penuh, tampak lemah,
tampak pucat, tampak sesak, kontak mata baik, ujung ekstremitas teraba dingin,
Rewel dan gelisah, Klien dapat berbicara dengan belum lancar,
penampilan cukup rapi.
2. Tanda vital
Tanda-tanda vital klien saat dikaji adalah suhu 37,4° C, RR 44 x/Menit, Nadi
110x/Menit.
3. Kepala dan wajah
a. Ubun-ubun
Ubun-ubun pasien dalam keadaan sudah menutup sempurna dan tidak ada
kelainan pada ubun-ubun klien.
b. Rambut
Klien memiliki rambut berwarna hitam, tidak rontok, tidak mudah di cabut
dan tidak kusam.
c. Kepala
13
Keadaan kulit kepala bersih tidak berketombe, pada kepala tidak ada
perlukaan serta tidak ada peradangan atau benjolan.
d. Mata
Pada saat dilakukan pemeriksaan bentuk mata simetris, konjungtiva
berwarna normal (merah muda), sklera berwarna putih, reflek pupil
positif yaitu pada saat diberikan reflek cahaya pupil mengecil. Ketajaman
penglihatan klien baik dibuktikan klien dapat melihat benda dari kejauhan.
e. Telinga
Bentuk telinga simetris, tidak ada serumen, tidak ada peradangan dan
ketajaman pendengaran klien baik, klien menoleh saat ada suara memanggil
nyanamanya.
f. Hidung
Bentuk hidung simetris pada saat dilakukan pemeriksaan terdapat secret kental
berwarna kuning kehijauan di kedua hidung.
g. Mulut
Pada saat dilakukan pemeriksaan keadaan bibir kering dan bibir utuh. Serta
lidah kotor
h. Gigi
Klien mempunyai gigi belum lengkap.
4. Leher dan tenggorokan
Pada saat dilakukan pemeriksaan bentuk leher simetris, pada saat minum anak
menelan dengan baik, pada saat anak membuka mulut tidak ada pembesaran
tonsil, tidak terdapat secret pada tenggorokan. Tidak tampak adanya pembesaran
vena jugularis, tidak ada benjolan dan peradangan.
5. Dada
Pada saat baju anak dibuka bentuk dada simetris, batuk produktif/berdahak,
terdapat retraksi dada, bunyi nafas yang terdengar menggunakan stetoskop
yaitu vesikuler dan terdapat suara napas tambahan wheezing di sebalah kanan ,
tipe pernafasan dada dan perut, bunyi jantung normal saat diauskultasi
terdengar (lub dub/S1,S2).
6. Punggung
Bentuk punggung simetris, tidak ada peradangan dan benjolan.
7. Abdomen
Bentuk abdomen kiri dan kanan simetris, warna kulit putih, tidak terdapat
nyeri tekan di semua lapang abdomen, bising usus (+).
8. Ekstremitas
Pergerakan atau tonus otot bebas, klien dapat melakukan aktivitas
sendiri dengan bantuan. Tidak terdapat adanya oedema, sianosis dan clubbing
finger. Keadaan kulit halus, turgor kulit elastis dapat kembali dalam waktu <2
detik dan kulit teraba hangat.
9. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan
Gizi : Baik
BB : 8,4 kg, panjang badan 70 cm, kebutuhan gizi
terpenuhi.

14
Kemandirian Bergaul : Ibu mengatakan anaknya dapat menggunakan sendok
garpu dan membuka pakaian sendiri.
Motorik Halus : Ibu mengatakan anaknya sudah mampu membuat
menara dari 2 kubus
Motorik Kasar : Ibu mengatakan anaknya dapat berjalan mundur
Kognitif dan Bahasa : Ibu mengatakan anaknya sudah mampu berkata-
kata yaitu sebanyak 3-4 kata : mama, papa, mam, ee
Psikososial : Anak dapat berkumpul dan berbuat lucu dalam lingkup
keluarga dan tetangga

No Pola Kebiasaan Sebelum Sakit Saat Sakit


1 Nutrisi:
a. Frekuensi 3-4x sehari 3x sehari (1/2 porsi)
b. Nafsu makan Baik Baik
c. Jenis makanan Makanan lunak Makanan lunak
2 Eliminasi
a. BAB
Frekuensi 1-2 kali sehari 1 kali sehari
Konsistensi Lunak Lunak
b. BAK
Frekuensi 8-10 kali sehari, 5-7 kali sehari,
Konsistensi warna kuning pekat. warna kuning pekat,
3 Istirahat/tidur
a. Siang/jam 1 jam/siang 2-3 jam/siang
b. Malam/jam 7-8 jam/malam 7 jam/malam
4 Personal Hygiene
a. Mandi 2-3 kali sehari Tidak ada mandi
hanya diseka saja.
b. Oral Hygiene 2 kali sehari 1 kali sehari

E. PELAKSANAAN MEDIS
Pelaksanaan medis yang dilakukan tanggal 30 Oktober 2018
Nama Obat Dosis Golongan dan
Farmakokinetik
Amoxicillin Syrup 2 x 5 mL Golongan obat antibiotik
penisilin yang bekerja
sebagai spetrum luas untuk
membunuh bakteri gram
negatif dan positif
1
Paracetamol 500 mg 1 /2 Tablet (3 x 1 Golongan obat analgesik
bungkus) untuk mengurangi rasa
rasik dengan car
mengurangi produksi zat
dalam tubuh yang disebut
prostaglandin
1
Glyseril Guaiacolate 100 1 /2 Tablet (3 x 1 Mengencerkan dahak pada

15
mg bungkus) saluran pernapasan
sehingga mampu
mempermudah
pengeluaran dahak
Dexamethasone 0,5 mg 1 1/2 Tablet (3 x 1 Golongan obat
bungkus) kortikosteroid yang bekerja
dengan cara mencegah
pelepasan zat-zat di dalam
tubuh yang menyebabkan
peradangan
Salbutamol 2 mg 1 tablet (3 x 1 bungkus) Golongan bronkodilator
yang berfungsi untuk
melebarkan jalan napas

F. ANALISA DATA
Berdasarkan data-data yang didapat dari hasil pengkajian maka dapat dilakukan
analisis data, yaitu :
Data Subyektif dan Data Penyebab Masalah
Obyektif
DS : 1. Infeksi mikroorganisme Bersihan jalan
Keluarga klien mengatakan virus/bakteri/ jamur/ napas tidak
bahwa klien mengalami protozoa efektif
batuk berdahak sudah 4 hari 2. Inhalasi : udara/aspirasi
yang lalu organisme dari
DO : nasofaring/hematogen
1. Klien tampak lemah 3. Pneumonia
2. Klien tampak pucat 4. Peningkatan produksi
3. RR : 44 kali/menit sputum
4. Bunyi napas
tambahan yaitu
wheezing di sebelah
kanan
5. Ujung ekstremitas
teraba dingin
6. Batuk produktif

DS : 1. Infeksi mikroorganisme Gangguan


Keluarga mengatakan klien virus/bakteri/ jamur/ pertukaran gas
mengalami sesak napas protozoa
sejak malam tadi saat 2. Pneumonia
dirawat 3. Gangguan difusi O2 dan
DO : CO2/kapasitas pemawa
1. Klien tampak lemah oksigen darah
dan pucat
2. RR : 44 kali/menit
3. Klien tampak sesak
atau dispnea
4. Ujung ekstremitas

16
teraba dingin
5. Klien tampak
gelisah dan rewel

DS : 1. Kurang pengetahuan Kurang


Ibu klien mengatakan mengenai penyakit yang pengetahuan
bahwa dia tidak tahu apa diderita klien akibat kurang
yang harus dilakukan pada informasi serta pengalaman
saat anaknya sesak karena 2. Kesalahan interprestasi
ini adalah anak pertamanya
DO :
Ibu klien tampak gelisah

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang muncul untuk kasus pneumonia pada anak tersebut yaitu
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sputum yang
ditandai dengan batuk produktif
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan difusi O2 dan CO2 yang
ditandai dengan klien tampak sesak atau dispnea
3. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan serta
informasi dan pengalaman yang ditandai dengan ibu klien tampak cemas

H. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Diagnosa keperawatan : Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan
peningkatan sputum yang ditandai dengan batuk produktif
Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi Rasional
Setelah dilakukan 1. Kaji frekuensi/ 1. Takipnea,
tindakan keperawatan kedalaman pernapasan
selama 3 kali kunjungan pernapasan dan dangkal dan
diharapkan jalan napas gerakan dada gerakan dada tak
klien kembali efektif 2. Bantu pasien simetris sering
dengan kriteria latihan napas terjadi karena
1. Napas normal < sering. ketidaknyamanan
40 kali/menit Tunjukan/bantu gerakan dinding
2. Batuk dan pilek klien mempelajari dada dan cairan
teratasi melakukan batuk paru
3. Bunyi napas 3. Penghisapan sesuai 2. Napas dalam
menjadi bersih indikasi memudahkan
4. Tidak terjadi 4. Kolaborasi dengan ekspamsi
sianosis dokter dengan maksimum paru-
memberikan obat paru/jalan napas
sesuai indikasi lebih kecil. Batuk
adalah mekanisme
pembersihan jalan
napas secara alami
sehungga
membantu silia

17
untuk
mempertahankan
jalan napas paten
3. Merangsang batuk
atau pembersihan
jalan napas secara
mekanik pasa klien
yang tak mampu
melakukan karena
batuk tak efektif
4. Alat untuk
menurunkan
spasme bronkus
dengan mobilisasi
sekret

2. Diagnosa keperawatan : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan


difusi O2 dan CO2 yang ditandai dengan klien tampak sesak atau dispnea
Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi Rasional
Setelah dilakukan 1. Kaji frekuensi, 1. Manifestastasi
tindakan keperawatan kedalaman dan distress
selama 3 kali kunjungan kemudahan pernapasan
diharapkan gangguan bernapas tergantung pada
pertukaran gas dapat 2. Observasi warna indikasi derajat
teratasi dengan kriteria kulit, membran keterlibatan paru
hasil : mukosa dan kuku dan status
1. Tidak ada sianosis serta catat adanya kesehatan umum
2. Napas normal < sianosis perifer 2. Sianosis kuku
40 kali/menit dan sentral menunjukan
3. Tidak terjadi 3. Kaji status respon tubuh
sesak atau dispnea mental terhadap
4. Tidak ada 4. Tinggikan kepala demam/menggigil.
hipoksia dan dorong Sedangkan
5. Klien tampak sering mengubah sianosis membran
tenang posisi, napas mukosa
dalam dan batuk menunjukkan
efektif hipoksemia
sistemik
3. Gelisah, mudah
terangsang,
bingung dapat
menunjukan
hipoksemia/ atau
penurunan
oksigenasi serebral
4. Untuk
meningkatkan
inspirasi
maksimal,

18
meningkatkan
pengeluaran sekret
untuk
memperbaiki
ventilasi

3. Diagnosa keperawatan : Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya


pengetahuan serta informasi dan pengalaman yang ditandai dengan ibu klien
tampak cemas
Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi Rasional
Setelah dilakukan 1. Kaji fungsi normal 1. Meningkatkan
tindakan keperawatan paru, serta patologi pemahaman situasi
selama 3 kali kunjungan kondisi yang ada dan
diharapkan kecemasan 2. Berikan informasi pentingnya
orang tua klien dalam bentuk menghubungkanny
berkurang dan tertulis dan verbal a dengan program
pengetahuan serta 3. Tekankan pengobatan
informasi tentang pentingnya 2. Kelemahan dan
penyakit yang dialami melanjutkan batuk depresi dapat
teratasi dengan kriteria : efektif/latihan mempengaruhi
1. Tampak tenang pernapasan kemampuan untuk
2. Pengetahuan 4. Tekankan mengasimilasi
menjadi lebih pentingnya informasi/mengiku
baik melanjutkan ti program medik
3. Mampu evaluasi medik dan 3. Selama awal 6-8
merawat vaksin/imunisasi minggu setelah
anggota dengan tepat pulang, klien
keluarga yang beresiko besar
sakit untuk kambuh
pneumonia
4. Dapat mencegah
kambuhnya
pneumonia dan/
atau komplikasi
yang berhubungan

I. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI


Hari/Tanggal Implementasi Evaluasi (SOAP) Tanda
/Jam Tangan
Perawat
Diagnosa 1 kunjungan pertama jam
1. Kaji 12.00 WIT
frekuensi/kedalaman S : Ibu klien mengatakan
pernapasan dan klien masih batuk
gerakan dada O : RR = 42 x /menit,
2. Mengajarkan klien pernapasan dada dan perut,
napas sering serta batuk produktif, sekret
latihan batuk hidung kental kekuningan,

19
3. Kolaborasi dengan bunyi napas whezzing
dokter dalam sebelah kanan, ujung
pemberian obat ekstremitas masih teraba
sesuai indikasi: dingin
a. Antibiotik : A: Masalah belum teratasi
amoxicilin syrup P : Motivasi ibu memberikan
2 x 5 ml obat sesuai saran dokter
b. Pulv :
Paracetamol,
dexamethasone,
glyseryl
guaiacolate,
salbutamol
Diagnosa 2 Kunjungan pertama jam
1. Mengkaji 12.00 WIT
frekuensi/kedalaman S: Ibu mengatakan anaknya
dan kemudahan masih mengalami sesak
bernapas O: RR = 44 x/menit,
2. Menganjurkan pernapasan dada dan perut,
keluarga untuk rkstremitas masih teraba
meninggikan kepala dingin, tidak ada retraksi
dan mengubah posisi dinding dada.
klien A: Masalah belum teratasi
3. Menganjurkan orang P: Motivasi ibu untuk
tua menjaga agar memberikan obat jika anak
sirkulasi udara baik sesak
dan optimal di dalam
rumah
4. Berkolaborasi
dengan dokter dalam
pemberian terapi
bronkodilator :
Paracetamol,
dexamethasone,
glyseryl guaiacolate,
salbutamol
Diagnosa 3 Kunjungan pertama pukul
1. Mengkaji tingkat 12.00 WIT
kecemasan keluarga S : Ibu mengatakan saat ini
2. Memberikan sudah merasa lebih tenang
informasi kesehatan O : Ibu sudah tampak tenang,
tentang penyakit pengetahuan baik, koperatif
yang dialami A : Masalah teratasi
anaknya P : hentikan intervensi dan
motivasi ibu untuk selalu
belajar dan mencari
informasi

20
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pneumonia adalah salah satu penyakit peradangan akut parenkim paru yang
biasanya dari suatu infeksi saluran pernafasan bawah akut (ISNBA) (Sylvia A price).
Dengan gejala batuk dan disertai dengan sesak nafas yang disebabkan agen infeksius
seperti virus, bakteri, mycoplasma (fungi), dan aspirasi substansi asing,berupa radang
paru-paru yang disertai eksudasi dan konsolidasi dan dapat dilihat melalui gambaran
radiologis.
Penyebaran infeksi terjadi melalui droplet dan sering disebabkan oleh
streptococus pneumonia, melalui selang infus oleh staphylococcus aureus sedangkan
pada pemakaian ventilator oleh P.aeruginosa dan enterobacter. Dan masa kini terjadi
karena perubahan keadaan pasien seperti kekebalan tubuh dan penyakit kronis, polusi
lingkungan, penggunaan antibiotik yang tidak tepat.
Dalam kasus pneumonia pada anak diagnosa yang dapat diangkat yaitu seperti
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sputum yang
ditandai dengan batuk produktif
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan difusi O2 dan CO2 yang
ditandai dengan klien tampak sesak atau dispnea
3. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan serta
informasi dan pengalaman yang ditandai dengan ibu klien tampak cemas
Dengan intervensi yang dapat dilakukan seperti, mengkaji frekuensi/
kedalaman pernapasan dan gerakan dada serta kemudahan bernapas, bantu pasien
napas dalam dan batuk efektif, posisikan kepala pasien dengan posisi lebih tinggi dan
dorong untuk selalu mengganti posisi, serta memberikan penyuluhan kepada orang
tua klien mengenai pendidikan dan informasi tentang penyakit yang di derita anggota
keluarganya. Lakukan implementasi sesuai dengan intervensi yang telah di susun dan
kemudian evaluasi hasil dari keseluruhan kegiatan.

B. SARAN
Diharapkan sebagai mahasiswa keperawatan mampu menerapkan asuhan
keperawatan yang terbaik untuk pasiennya. Serta untuk para pembaca diharapkan
masukan yang bersifat membangun agar menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya

21
DAFTAR PUSTAKA
Amin Huda dkk (2015), Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &
NANDA NIC-NOC. Jakarta : Mediaction

Marilynn E, Doengoes. 2000. Rencana Asuhan Kperawatan Edisi 3. EGC : Jakarta

22