Anda di halaman 1dari 29

Subsiden tanah adalah pergerakan permukaan tanah ke bawah relatif

terhadap datum atau titik tertentu. Subsiden tanah dapat diakibatkan oleh berbagai hal,
seperti ekstraksi migas, penambangan mineral, ekstraksi air tanah, kelarutan batu
kapur, gempa bumi, dan sebagainya. Subsiden tanah merupakan salah satu
permasalahan yang menjadi fokus utama pakar geologi, surveyor, dan
insinyur geoteknik.

Gambar 1. Ilustrasi beberapa tipe subsidence

Faktor Penyebab Terjadinya Penurunan Muka Tanah

Berdasarkan Whittaker and Reddish, 1989 dalam Metasari 2010, secara umum faktor
penyebab penurunan muka tanah antara lain ;

1. Penurunan tanah alami (natural subsidence) yang disebabkan oleh proses -


proses geologi seperti siklus geologi, sedimentasi daerah cekungan dan sebagainya.
Beberapa penyebab terjadinya penurunan tanah alami bisa digolongkan menjadi:

a.Siklus Geologi
Penurunan muka tanah terkait dengan siklus geologi. Proses – proses yang
terlihat dalam siklus geologi adalah : pelapukan (denuation), pengendapan
(deposition), dan pergerakan kerak bumi (crustal movement). Adapun keterkaitannya
yaitu pelapukan bisa disebabkan oleh air seperti pelapukan batuan karena erosi baik
secara mekanis maupun kimia, oleh perubahan temperature yang mengakibatkan
terurainya permukaan batuan, oleh angin terutama di daerah yang kering dan gersang
karena pengaruh glacial dan oleh gelombang yang biasanya terjadi di daerah pantai
(abrasi).

Gambar 2. Pelapukan (Denudation)

Gambar 3. Deposisi sedimen


Gambar 4. Crustal Movement

b. Sedimentasi Daerah Cekungan

Biasanya daerah Cekungan terdapat di daerah – daerah tektonik lempeng terutama


di dekat perbatasan lempeng. Sedimen yang terkumpul di Cekungan semakin
lama semakin banyak dan menimbulkan beban yang bekerja semakin meningkat,
kemudian proses kompaksi sedimen tersebut menyebabkan terjadinya penurunan
pada permukaan tanah. Sebagian besar penurunan muka tanah akibat faktor ini adalah
:

 Adanya gaya berat dari beban yang ditimbulkan oleh endapan dan juga
ditambah dengan air menyebabkan kelenturan pada lapisan kerak bumi.
 Aktivitas internal yang menyebabkan naiknya temperature kerak bumi dan
kemudian mengembang menyebabkan kenaikan pada permukaan pada
permukaan tanah. Setelah itu proses erosi dan pendinginan kembali
menyebabkan penurunan muka tanah.
 Karakteristik deformasi dari lapisan tanah yang berkaitan dengan tekanan –
tekanan yang ada.

c. Penurunan Isostatik
Gambar 5. Isostatic Subsidence

Kerak mengapung di plastik astenosfer , dengan rasio massa di bawah ” permukaan ”


sebanding dengan kepadatan astenosfer itu sendiri. Jika massa ditambahkan ke area
lokal dari kerak ( misalnya melalui deposisi ) , kerak akan mengalami penurunan
untuk mengimbangi dan menjaga keseimbangan isostatic . Efek berlawanan dengan
penurunan Isostatic dikenal sebagai Rebound isostatic – aksi kerak kembali ke
keadaan isostasi , seperti setelah mencairnya lembaran es besar atau pengeringan dari
danau besar setelah zaman es terakhir (kadang-kadang selama periode ribuan tahun .
Danau Bonneville adalah contoh terkenal rebound isostatic . Karena berat air di danau
, kerak bumi turun hampir 200 kaki ( 61 m ) untuk menjaga keseimbangan ,kemudian
saat danau mengering , kerak naik kembali. Hari ini di Danau Bonneville yang
modern , pusat bekas danau adalah sekitar 200 kaki ( 61 m ) lebih tinggi dari tepi yang
sebelumnya danau .

d. Kelarutan Batu Kapur

Terutama terjadi di kawasan karst, batu kapur rentan larut oleh air yang mengalir di
atasnya sehingga menyebabkan terbentuknya celah besar yang menuju ke sungai
bawah tanah membentuk gua. Jika atap gua terlalu rapuh, maka akan terbentuk lubang
vertikal.
2. Aktivitas Manusia Terkait Pengambilan Air tanah dan Penambangan Mineral
dalam bumi

a. Penambangan Mineral

Penambangan mineral bawah tanah dilakukan dengan membuat lubang secara


horizontal. Ruang yang tercipta akibat penambangan ini dapat menyebabkan subsiden
tanah di atas tambang dan area di sekitarnya. Subsiden dari penambangan bawah
tanah cenderung dapat diprediksi besarannya, kecuali ketika terjadi kerusakan pada
tiang penyangga yang biasanya terjadi pada tambang tua.

b. Ekstraksi Migas

Reservoir gas alam biasanya memiliki tekanan awal hingga 60 megapascal, dan terus
menurun seiring dengan ekstraksi gas tersebut. Tekanan gas ini, yang awalnya
menopang sejumlah massa tanah di atasnya, tidak lagi mampu menopang sehingga
tanah di atasnya menurun dan terjadi subsiden. Contoh yang telah terjadi adalah
subsiden di ladang gas Slochteren, Belanda. Penambangan dimulai sejak tahun
1960an, dan sejak saat itu subsiden telah terjadi hingga 30 cm.

Gambar 6. Subsidence akibat ekstraksi migas


c. Penurunan tanah akibat pengambilan air tanah (groundwater extraction)

Pengambilan air tanah secara besar – besaran yang melebihi kemampuan


pengambilannya akan mengakibatkan berkurangnya jumlah airtanah pada suatu
lapisan akuifer. Hilangnya airtanah ini menyebabkan terjadinya kekosongan pori –
pori tanah sehingga tekanan hidrostatis di bawah permukaan tanah berkurang sebesar
hilangnya airtanah tersebut. Selanjutnya akan terjadi pemampatan lapisan akuifer.

Gambar 6. Groundwater Extraction

3. Penurunan akibat beban bangunan (settlement)

Tanah memiliki peranan penting dalam pekerjaan konstruksi. Tanah dapat


menjadi pondasi pendukung bangunan atau bahan konstruksi dari bangunan itu sendiri
seperti tanggul atau bendungan. Penambahan bangunan di atas permukaan tanah
dapat menyebabkan lapisan di bawahnya mengalami pemampatan. Pemampatan
tersebut disebabkan adanya deformasi partikel tanah, relokasi partikel, keluarnya air
atau udara dari dalam pori, dan sebab lainnya yang sangat terkait dengan keadaan
tanah yang bersangkutan. Proses pemampatan ini pada akhirnya menyebabkan
terjadinya penurunan permukaan tanah. Secara umum penurunan tanah akibat
pembebanan dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu :
a. Penurunan konsolidasi yang merupakan hasil dari perubahan volume tanah jenuh
air sebagai akibat dari keluarnya air yang menempati pori – pori air tanah.

Gambar 7. Proses settlement akibat perubahan volume tanah jenuh air

b. Penurunan segera yang merupakan akibat dari deformasi elastik tanah kering,
basah, dan jenuh air tanpa adanya perubahan kadar air.

Sumber :

 Pengantar Kuliah Geologi Teknik Universitas Diponegoro oleh Dwiyanto JS


MT.
 https://en.wikipedia.org/wiki/Subsidence
 Another references related to subsidence from http://www.google.com
Bagikan ini:

Jakarta dan Ekstraksi Air Tanah Berlebihan Kompas.com - 20/09/2010, 03:00 WIB OLEH NILA
ARDHIANIE Amblesnya Jakarta yang ditandai dengan miringnya gedung-gedung bertingkat,
amblesan tanah, kemunculan rongga di gedung, dan amblesnya ruas jalan adalah konsekuensi logis
pengambilan air tanah berlebihan secara terus- menerus, serta makin besarnya beban tanah akibat
berat bangunan yang mendorong terjadinya pemampatan lapisan tanah. Di Jakarta, layanan air
leding perpipaan belum mampu melayani seluruh penduduk. Hal ini membuat sebagian besar
penduduk Jakarta bergantung pada penggunaan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari sehingga
mendorong ekstrasi air tanah dalam jumlah besar. Pada saat yang bersamaan, pembangunan hotel
mewah, apartemen, dan pusat perbelanjaan terus berlangsung. Makin banyaknya gedung besar ini
secara masif menambah beban pada tanah. Kombinasi dua hal tersebut saling menunjang
menciptakan ruang kosong di Bumi yang membuat tanah ambles. Tahun 2008, saat beberapa
bagian gedung BPPT, Sarinah, Menara Eksekutif, ambles, para ahli telah mengingatkan bahwa itu
terjadi karena proses dewatering atau pengurasan air bawah tanah dalam jumlah besar yang tidak
hati-hati serta besarnya penekanan permukaan tanah akibat pembangunan gedung-gedung
pencakar langit. Blunder Penggunaan air tanah Jakarta memang besar. Data resmi untuk
pemakaian komersial menurut Dinas Pelayanan Pajak adalah 22 juta meter kubik per tahun.
Biasanya penggunaan komersial adalah 30 persen dari penggunaan domestik. Dengan demikian,
hitungan kasar total pemanfaatan air tanah Jakarta 73 juta meter kubik per tahun. Akan tetapi,
penghitungan berdasar jumlah penduduk yang 9 juta orang, rata-rata kebutuhan air dan
kemampuan layanan PT Palyja dan PT Aetra, maka angka minimal pemanfaatan air tanah yang
muncul adalah 270 juta meter kubik per tahun, jauh di atas batas pengambilan aman, yaitu 60 juta
meter kubik per tahun. Gap yang besar ini mungkin terjadi karena pengawasan air tanah masih
sangat minimal. Jumlah aparat yang bertugas mengawasi dapat dihitung dengan jari, sementara
pemanfaat komersial sudah ribuan jumlahnya. Di sisi lain, pengawasan dari masyarakat sangat sulit
dilakukan karena data pemanfaat komersial air tanah tertutup rapat. Pejabat yang berwenang
memberikan izin dan mengendalikan pemanfaatan air tanah justru membuat blunder dengan
menutup akses publik terhadap data yang ada di instansinya, meski seharusnya data ini masuk
kategori informasi publik yang diatur dalam UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan
Informasi Pulik. Sejak tiga tahun belakangan lembaga tempat penulis bekerja melakukan penelitian
di beberapa daerah tentang penerimaan dari pajak air tanah dan manfaatnya bagi pemerintah
daerah. Semua daerah yang diteliti, kecuali Jakarta, memberikan data secara terbuka tentang nama
pengguna, volume yang diambil, serta nilai pajak yang dibayar. Di Jakarta, ada dua instansi terkait,
yaitu Badan Pengendali Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) dan Dinas Pelayanan Pajak. Dua
institusi ini selalu memiliki alasan untuk tidak memberikan data penggunaan air tanah Jakarta,
termasuk salah satunya menyatakan instansinya tidak memiliki data dimaksud. Upaya menutup-
nutupi penggunaan air tanah Jakarta tentu saja menimbulkan prasangka bahwa volume ekstrasinya
jauh di atas yang diketahui umum. Sedikit banyak prasangka itu terbukti pada Kamis (16/9) ketika
103 meter Jalan RE Martadinata ambles sedalam tujuh meter. Penelitian oleh Amrta Institute dan
Yayasan Tifa menunjukkan bahwa jumlah ekstrasi riil memang jauh di atas data resmi. Hal tersebut
dapat dilihat dari data BPLHD yang hanya mencatat 645 industri besar sebagai pembayar pajak air
tanah, padahal menurut BPS ada 1.872 industri besar di Jakarta. Begitu pula dengan kantor bank
yang hanya tercatat sebanyak 93 buah, padahal menurut Bank Indonesia ada 2.500 kantor bank di
Jakarta. Atlantis kedua? Nicola Colbarn dari Universitas Oslo dalam tulisannya, Will Jakarta Be The
Next Atlantis, gamblang menyatakan, jika pemanfaatan berlebihan tidak dapat dihentikan dan
pemerintah tidak menjalankan komitmennya terhadap penggunaan air tanah yang berkelanjutan,
Jakarta akan menjadi Atlantis kedua, tenggelam dan hilang. Mungkin penggambaran Colbran
berlebihan. Namun, pesannya yang jelas mestinya mampu membuka mata tentang bahaya yang
dihadapi Jakarta dan kota pantai lain di Indonesia. Amblesnya Jalan RE Martadinata harus
menyadarkan pemerintah untuk menempatkan pengelolaan air berkelanjutan sebagai prioritas
karena dapat memberi efek ikutan positif bagi sektor lain. Pengguna air pun harus meninggalkan
ketergantungannya pada air tanah dan beralih pada air permukaan yang lebih berkelanjutan. PAM
Jaya, pengelola air bersih, perlu berbenah agar mampu memberikan layanan kepada mayoritas
penduduk Jakarta. Upaya secara berbarengan ini diharapkan dapat membantu menurunkan
penggunaan air tanah di Jakarta. NILA ARDHIANIE Direktur Amrta Institute for Water Literacy

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jakarta dan Ekstraksi Air Tanah
Berlebihan", https://megapolitan.kompas.com/read/2010/09/20/03001076/Jakarta.dan.Ekstraksi.Air.
Tanah.Berlebihan.
Ekstraksi Sampel Tanah untuk Analisa Total
Petroleum Hydrocarbon
Metode ekstraksi tanah yang umumnya digunakan sebagai berikut :

 Untuk volatile
– Purge and Trap

Senyawa volatile (missal BTEX dan gasoline) dapat diekstrak dengan pelarut dari tanah. EPA method 5035,
analisis purge and trap, ekstraksi spesifik methanol dilakukan dengan mengocok secara mekanik tanah dengan
methanol. Sebagian dari ekstrak metanol ditambahkan ke a purge vessel dan dilarutkan dalam reagent grade
water. Ekstrak kemudian di purge seperti sampel air.

– Headspace

Sampel tanah diletakkan dalam vial headspace dan dipanaskan. Garam dapat ditambahkan untuk meningkatkan
efisiensi mengerakkan senyawa volatile dari sampel ke headspace tempat sampel.

 Untuk semi volatile


– Shaking or vortexing ( dapat juga untuk volatile)

Metode paling mudah untuk memisahkan senyawa semi volatile dari tanah menggunakan shake or
vortex (vigorous mechanical stirring) tanah dengan pelarut. Penambahan desiccant ke campuran tanah/pelarut
dapat membantu memecah tanah dan meningkatkan luas permukaan. Ekstrak dapat langsung di analisa.
Efisiensi ekstraksi bervariasi tergantung tipe tanah.
– Soxhlet

Pelarut dipanaskan dan direfluks melewati sampel tanah secara kontinu selama 16-24 jam atau semalaman.
Metode ini akan menghasilkan volume ekstrak yang banyak untuk dipekatkan. Sehingga metode ini lebih
cocok untuk semi volatile dibanding volatile.

– Sonication

Sonication menggunakan gelombang suara untuk meningkatkan transfer analit dari sampel ke pelarut. Metode
ini lebih cepat dibandingkan soxhlet dan membutuhkan pelarut yang lebih sedikit.

– Supercritical fluid

Metode ini meliputi memanaskan dan menekan fase bergerak untuk parameter supercritical (memiliki sifat gas
dan cairan). Cairan supercritical melewati sampel tanah dan analit di pekatkan di sorbent atau trapped
cryogenically. Analit dielusi dengan pelarut dan dianalisa dengan teknik konvensional. CO2 adalah fase
bergerak paling sering digunakan.
– Subcritical fluid
Metode ini menggunakan pelarut konvensional seperti methylene chloride yang dipanaskan dan ditekan,
kemudian melewati sampel tanah ( metode ini bisa digunakan juga untuk sludge dan sediment). Pelarut untuk
metode ini lebih sedikit digunakan dibandingkan konvensional ekstraksi.

Daftar Pustaka

Total Petroleum Hydrocarbon Criteria Working Groups Series. Volume 1. Analysis of Petroleum
Hydrocarbons in Environmental Media. March 1998. Amherst Scientific Publishers.

PEMILAHAN DARI DALAM TANAH DAN BAHAN ORGANIK

Jenis Ekstraktan dan Langkah-langkah Ekstraksi

Syekhfani

Bahan organik, adalah “kunci” keberlanjutan pertanian di Indonesia yang beriklim tropika basah dan
hangat, di mana proses degradasi berjalan sangat cepat. Di pihak lain, bahan organik bersifat “multi
purpose”, menata sifat fisik, kimia, biologi, dan kehidupan dalam tanah. Degradasi bahan organik
menyebabkan degradasi pertumbuhan dan produksi tanaman.

Dalam manajemen bahan organik, sifat perilaku (nature and properties) senyawa organik dalam kaitan
dengan reaksi dalam hidup dan kehidupan perlu diketahui dan dipelajari.

Asam Humat http://en.wikipedia.org/wiki/Humic_acid, adalah kunci keberlanjutan kesuburan potensial


tanah, karena senyawa asam humat tergolong senyawa kompleks, siklik, atau aromatik yang tahan
terhadap degradasi, di samping mempunyai gugus aktif mampu mengikat air dan unsur hara dalam
jumlah besar.

Asam humat, saat ini menjadi fokus dalam pengembangan pertanian organik, bahkan dijadikan objek
dalam industri pupuk ataupun pembenah tanah.

Berapa besar kandungan asam humat dalam tanah dapat diketahui melalui analisis kimia tanah, meliputi
pemilahan-pemilahan fraksi mineral maupun oreganik menggunakan ekstraktan tertentu yang efisien
dan efektif.
Perilaku bahan organik tanah, khususnya senyawa asam humat, hanya dapat dipelajari dalam satus
bebas (free state), yaitu bebas dari ikatan senyawa inorganik tanah.

Sehingga, langkah pertama yang dilakukan para peneliti adalah “pemisahan” bahan organik dari ikatan
matriks inorganik tanah: pasir, debu dan liat; dan selanjutnya “pemilahan” spesies senyawa organik
dalam bahan organik, dan akhirnya dapat diperoleh senyawa asam humat itu sendiri.

Untuk maksud tersebut di atas, maka diperlukan analisis menggunakan metode ekstraksi yang telah
lazim dilakukan dan diketahui akurasinya. Sebagai contoh, metode ekstraksi yang dikemukakan oleh
Stevenson (1982)* berikut, banyak diacu oleh para ilmuan dan peneliti:

Sebuah teknik telah dikembangkan, tergantung pada sifat bahan yang diuji. Senyawa-senyawa non-polar
seperti lemak, lilin, resin, dan lain-lain, dapat diekstrak dengan pelarut organik seperti heksana, eter,
campuran benzena-alkohol, dan sebagainya.

Prosedur hidrolisis telah digunakan untuk mengisolasi monomer-monomer individual, seperti asam
amino dan gula.

Metode ekstraksi yang ideal dikembangkan untuk untuk tujuan berikut:

• Mengisolasi bahan yang tidak berbeda.

• Senyawa asam humat terekstrak bebas dari kontaminasi inorganik, seperti liat dan kation-kation
polivalen.

• Ekstraksi adalah lengkap, karena mewakili fraksi-fraksi pada kisaran berat molekulnya.

• Metode secara universal berlaku untuk semua jenis tanah.

Pereaksi untuk mengekstrak senyawa organik dari tanah (Stevenson 1982):

Tipe Bahan Ekstraktan: Ekstrak % bahan organik

Senyawa Asam Humat: NaOH hingga 80%

Ekstraktan Tawar (Mild): Na4P2O7 dan lainnya hingga 30%


Khelat Organik: Acetyloacetone, cupferron, hydroxyquinoline hingga 30%

Asam Format (HCOOH) hingga 55%

Ekstraksi Bahan Organik Alkali:

Penampakan ekstraksi alkali yang tidak menyenangkan adalah: larutan NaOH 0.1 – 0.5N dalam air dan
tanah terhadap rasio ekstraktan dari 1:2 hingga 1:5 (g/ml) telah banyak digunakan untuk recovering
bahan organik.

Ekstraksi ulangan dibutuhkan untuk mencapai recovery maksimum. Pembilasan tanah dengan larutan
HCl, akan menghilangkan Ca dan kation polivalen lain, meningkatkan efisiensi ekstraksi bahan organik
dengan pereaksi alkalin. Secara aturan umum, ekstraksi tanah dengan 0.1 atau 0.5N NaOH menghasilkan
recovery sekitar 2/3 dari kandungan tanah.

1. Larutan alkali melarutkan silika dari bahan mineral dan silika mengkontaminasi pemisahan fraksi
organik dari ekstrak.

2. Larutan alkali melarutkan komponen struktural dan protoplasmik jaringan organik segar dan menjadi
tercampur dengan bahan organik humat.

3. Di bawah kondisi alkalin, autoksidasi beberapa senyawa organik tampak dalm kontak dengan udara
selama ekstraksi dan saat didiamkan.

4. Perubahan kimia dapat juga kelihatan dalam larutan alkalin seperti kondensasi sntara asam amino
dan aldehida atau quinon.

Ekstraktan Tawar (extractant mild)

Beberapa ekstraktan tawar sebagai ekstraktan lebih selektif telah direkomendasikan tahun-tahun
terakhir sebagai alternatif menggantikan ekstrak dengan alkali kuat.
Termasuk agen garam-garam kompleks (Na4P2O7 dan EDTA), agen organik kompleks dalam medium
larut (acetylacetone), dan pelarut organik berbagai tipe. Meski hasilnya kurang menggantikan bahan,
ekstraktan ini jauh kurang efektif dibanding hidroksida alkali dalam mengurai bahan organik.

Seperti pada ekstraksi alkali, frekuensi recovery bahan organik dapat ditingkatkan dengan perlakuan
pendahuluan terhadap tanah mineral masam untuk menghilangkan karbonat (HCl) atau silikat
(campuran HCl-HF).

Untuk penyelidikan tertentu, suatu ekstraktan tawar dibutuhkan; untuk yang lebih komplit lainnya,
maka yang dibutuhkan adalah alkali panas. Saat ini, banyak penyidik emnggunakan ekstraktan secara
berurutan sehingga bagian bahan organik diperoleh dengan ekstraktan tawar sebelum ekstraktan alkali.

Na4P2O7 dan garam netral lain di kebanyakan tanah, Ca dan kation-kation polivalen lain (Fe, Al)
bertanggung jawab dalam membentuk bahan organik dalam kondisi terflokulasi dan tidak larut.
Pereaksi-pereaksi yang menyebabkan kondisi kation tidak aktif melalui pembentukan endapan atau
koordinasi kompleks larut ke solubilisasi bahan organik.

Pereaksi tertentu seperti amonium oksalat, sodium irofosfat dari asam organik lemah telah digunakan
untuk hal ini. Dari berbagai pereaksi netral, Na4P2O7 lah yang terbanyak digunakan. Seperti disebut
terdahulu, jumlah bahan organik yang ditemukan (<30%) diperkirakan lebih rendah dari pada alkali
kostik, tetapi kurang menggantikan.Untuk meminimalkan modifikasi kimia bahan organik, ekstraksi
harus dilakukan pada pH 7.0.

Asam Format – HCOOH

Penelitian intensif terhadap ekstraksi bahan organik dengan asam format menunjukkan bahwa pada
keadaan tertentu hingga 55% bahan organik tanah mineral dan sebanyak 80% dalam kompos dapat
diekstrak dengan asam format mengandung LiF, LiBr atau HBF4.

Pengembangan asam format anhidrous untuk ekstraksi bahan organik adalah bahwa senyawa polar
yang teroksidasi ataupun bersifat hidrolitik. Lebih lanjut, asam format merupakan solven yang baik
untuk spesies senyawa secara luas, termasuk polisakharida. Jumlah Ca, Fe, Al dan senyawa inorganik lain
larut dalam tanah sepanjang bahan organik dan lebih jauh yang mungkin lepas menjadi bahan inorganik
secara komplit. Asam format paling efisien dengan tanah yang mengandung banyak bahan organik yang
hanya terhumifikasi setempat.
Agen Khelat Organik

Senyawa organik seperti acetylacetone, cupferron dan hydroxyquinoline, yang mampu membentuk
khelat dengan logam polivalen, telah digunakan untuk mengekstrak bahan organik lluvial tanah dari
Spodosols. Bahn organik dari horizon B tanah-tanah ini tampak sebagai kompleks dengan Fe dan Al dan
kompleks logam-logam ini melalui agen khelating melepas bahan organik menjadi bentuk larut. Agen
khelat bahan organik agak kurang efektif untuk mengekstrak bahan organik dari tipe tanah lain.

*) SOIL SCIENCE 702/802: CHEMISTRY OF SOILS … SYLLABUS (revised Jan 1998); Text: Sparks, 1995,
Environmental Soil Chemistry, Academic Press; Supplemental: Cresser, Killham, and Edwards, 1993, Soil
Chemistry and its applications, Cambridge.

EKSTRAKSI DAN IDENTIFIKASI NEMATODA YANG BERASAL DARI TANAH DAN AKAR TANAMAN

Elysa Fitri A34080001

Hamdayanty A34080022

Dr. Ir. Supramana,Msi

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

BAB I.
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Nematoda berasal dari bahasa Yunani yang berarti benang, berbentuk memanjang seperti tabung,
kadang-kadang sebagai kumparan yang dapat bergerak seperti ular. Nematoda ini ada yang hidup bebas
dan ada yang sebagai parasit. Nematoda parasitik dapat hidup pada semua bagian tumbuhan termasuk
pada kuncup bunga, daun, batang dan akar. Mereka mempunyai kebiasan makan yang sangat bervariasi.

Peran nematoda sebagai parasit tumbuhan telah menyebabkan terjadinya kerusakan tanaman hampir di
seluruh dunia. Hal ini menyebabkan jatuhnya hasil pangan dunia dan menurunnya penghasilan petani.
Langkah yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah ini salah satunya dengan mengetahui jenis
nematoda yang hidup pada tanaman yang terserang melalui morfologi dan fisiologinya. Nematoda yang
berbeda biasanya menyerang tumbuhan yang berbeda pula sehingga cara penanganan untuk nematoda
ini pun berbeda. Langkah awal yang harus ditempuh untuk mengamati nematoda ini adalah dengan
mengekstrasi nematoda. Untuk itu, penguasaan akan teknik dan metode ekstrasi sangat penting untuk
diketahui.

2.1. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum ekstrasi dan identifikasi nematoda dari akar dan tanah
adalah untuk mengetahui cara dan metode yang digunakan dalam mengekstrasi nematoda tanah dan
akar, mengetahui spesies-spesies nematoda yang terdapat pada akar dan tanah tanaman setahun dan
tahunan melalui struktur morfologinya, menbedakan nematode parasit dan non parasit dari struktur
morfologinya dan membandingkan jumlah nematoda yang terdapat pada tanaman setahun dan
tahunan.

BAB II.

BAHAN DAN METODE

1.1. Alat dan Bahan


– Alat

Mikroskop compound, mikroskop stereo, pisau, corong dengan sambungan pipa plastik, kain tipis
berpori/tissue, gelas plastik, saringan 200 mesh, botol semprot, jarum pengait nematoda, alat
pengkabutan, wadah saringan akar, cawan sirakus, pipet, timbangan, gelas ukur 10 ml, gelas objek, kaca
penutup, gunting, skop.

– Bahan

Air, tanah dan akar tanaman setahun (pisang, jagung, kana, talas), tanah dan akar tanaman tahunan
(jeruk, nanas, kopi, rumput).

2.2 Metode

Metode yang digunakan dalam melakukan ekstrasi adalah metode Baermann dan metode ekstrasi
dengan pengkabutan. Metode Baermann digunakan untuk mengekstrasi nematoda dari tanah
sedangkan metode ekstrasi dengan pengkabutan digunakan untuk mengekstrasi akar tanaman, baik itu
tanaman tahunan maupun tanaman setahun. Prinsip kerja kedua metode ini sama yaitu gerakan aktif
dari nematoda dan gaya gravitasi bumi yang menyebabkan nematoda bergerak ke bawah.

Langkah awal pada pengambilan sampel untuk ekstrasi tanah dan akar sama yaitu dengan membuat
lingkaran selebar diameter tajuk kemudian membuat gambar bintang di dalam lingkaran tersebut. Enam
sudut dari bintang yang dibuat dipilih sebagai titik pengambilan sampel. Sampel yang diambil berasal
dari kedalaman 5-20 cm dari pemukaan tanah. Massa sampel tanah yang diambil adalah 100 gram
sedangkan massa sampel akar adalah 5 gram.

Tanah yang berasal dari enam sudut kemudian disatukan dan dibagi menjadi empat. Dua bagian dari
sudut kiri atas dan sudut kanan atas disatukan dan yang lainnya dibuang. Lakukan hal yang sama pada
perlakuan tanah yang kedua. Contoh tanah yang terakhir kemudian diletakkan di atas kertas tissu pada
wadah saringan. Wadah saringan kemudian diletakkan pada gelas plastik berisi air. Air ini harus selalu
menyentuh sampel tanah. Nematoda kemudian akan bergerak ke bawah dan terkumpul di gelas plastik.

Sampel akar yang telah diambil kemudian dicuci untuk menghilangkan tanah yang melekat pada akar.
Akar yang digunakan adalah akar muda yang berukuran kecil. Akar tersebut kemudian dipotong dengan
ukuran ±1 cm dan ditimbang sebanyak 5 gram. Akar diletakkan di atas wadah saringan yang diletakkan
di atas corong berpipa. Corong berpipa kemudian didudukkan di atas gelas plastik. Alat ekstraksi
kemudian dimasukkan ke dalam ruang pengkabutan selama satu minggu.

Setelah satu minggu, gelas plastik yang berisi air ekstrasi nematoda akar dan tanah dituang ke saringan
dengan sudut ±450. Saringan tersebut kemudian disemprotkan dengan air dari arah bawah sebanyak
kurang lebih lima kali untuk menghilangkan sisa kotoran tanah. Setelah yakin sudah tidak ada sisa tanah
yang terperangkap, hasil ekstrasi tersebut kemudian dituang ke tabung ukur sambil disemprotkan air
dengan tekanan yang kecil agar tidak ada nematoda yang terperangkap di saringan. Jumlah ekstrasi yang
diambil sebanyak 10 ml. Hasil ekstrasi nematoda ini kemudian dituang ke cawan sirakus.

Langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah nematoda di bawah mikroskop stereo. Caranya dengan
memipet 1 ml hasil ekstrasi ke cawan sirakus lainnya kemudian menghitungnya. Langkah ini dilakukan
sebanyak tiga kali. Jumlah dari ketiganya dirata-ratakan kemudian hasilnya dikali 10 ml, sebanyak hasil
ekstrasi awal. Hasil ini menunjukkan jumlah nematoda dalam 10 ml ekstrasi awal.

Setelah menghitung jumlah, nematoda dipancing dengan jarum pengait kemudian diletakkan di gelas
objek yang berisi air. Gelas objek kemudian ditutup dengan gelas penutup dan diletakkan di mikroskop
compound. Hal ini dilakukan untuk mengamati ciri-ciri morfologi nematoda yang diperoleh.

BAB III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil pengamatan

Tanaman Setahun

Tabel 1. Hasil Ekstrasi Nematoda Tanah

No Asal Nematoda Jumlah Nematoda Jenis Bentuk

1 2 3 Rata-rata

1 Pisang 1 2 3 2 Ditylenchus

Rotylenchus
G

2 Jagung 7 6 6 6,33 Dolichodorus

Dolichodorus

Rotylenchus

3 Kana 3 3 4 3,33 Haplolaimus C

4 talas 4 3 3 3.33 Xiphinema

Ditylenchus

2. Tabel data nematoda dari akar

No Asal Nematoda Jumlah Nematoda Jenis Bentuk

1 2 3 Rata-rata

1 Piasang 8 17 11 12 Trichodorus

Aphelenchoides

Rotylenchus
Hemicycliophora

C dan G

S dan I

2 Jagung 9 8 5 7,33 Dolichodorus S

3 Kana 8 6 5 6,33 Tylenchorhynchus

Hemicycliophora

Ditylenchus

4 talas 6 4 5 5 Trichodorus

Hoplolimus

Tanaman Tahunan

1. Tabel data nematoda dari tanah


No Asal Nematoda Jumlah Nematoda Jenis Nematoda Bentuk Nematoda

1 2 3 Rata-rata X

1 Jeruk 2 2 2 2 20 Ditylenchus

Aphelenchoides

Pratylenchus

2 Nanas 1 1 1 1 10 Xiphinema

Pratylenchus

3 Kopi 6 4 2 4 40 Xiphinema

Pratylenchus

4 rumput 1 1 0 2/3 20/3

2. Tabel data nematoda dari akar

No Asal Nematoda Jumlah Nematoda Jenis Nematoda Bentuk Nematoda

1 2 3 Rata-rata X

1 Jeruk 1 1 1 1 10 Criconemella G,I,&C


2 Nanas 2 3 1 2 20 Ditylenchus C

3 Kopi 3 4 2 3 30 Tylenchorhychus C

4 rumput 2 2 0 4/3 40/3 Dolichodorus I

Gambar Tylenchorinchus spp. yang terdapat pada akar kopi dengan pengamatan di bawah mikroskop
compound

Literatur Tylenchorymnhus

(http:/tylenchorincus_files/G138.html)

3.2. Pembahasan

Nematoda termasuk dalam kerajaan hewan, dan spesiesnya bersifat parasit pada tumbuhan, berukuran
sangat kecil yaitu antara 300 – 1000 mikron, panjangnya sampai 4 mm dan lebar 15 – 35 mikron. Ciri
khas nematoda parasit adalah adanya stilet pada mulut. Ukurannya yang sangat kecil ini menyebabkan
hewan ini hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop

Nematoda yang menyebabkan penyakit dan kerusakan pada tanaman hampir semuanya hidup pada
bagian bawah permukaan tanah. Ada yang hidup bebas di tanah, bagian luar akar dan batang, dan ada
pula beberapa parasit yang hidupnya bersifat menetap di dalam akar dan batang. Konsentrasi hidup
nematoda lebih besar terdapat di dalam perakaran tumbuhan inang terutama disebabkan oleh laju
reproduksinya yang lebih cepat karena tersedianya makanan yang cukup. Selain itu, tertariknya
nematoda oleh zat yang dilepaskan dalam rizosfir awalnya menyebabkan nematoda dapat melekat dan
menginfeksi akar dan batang.

Pada umumnya nematoda pada tanaman tahunan lebih banyak dibandingkan tanaman setahun. Hal ini
disebabkan karena telah terjadi proses reproduksi nematoda yang lebih banyak pada tanaman tahunan
dibandingkan pada tanaman setahun. Selain itu, nematoda pada tanaman tahunan cenderung telah
melakukan adaptasi yang kuat pada tanaman inangnya.

Gejala serangan nematoda terbagi atas dua kelompok yaitu gejala serangan di atas permukaan tanah
dan gejala serangan di bawah permukaan tanah. Gejala serangan yang muncul di atas permukaan tanah
menunjukkan pertumbuhan yang abnormal berupa tunas mati, batang dan daun mengkerut, serta puru
biji. Hal ini disebabkan oleh luka pada tunas, titik tumbuh, dan primordial bunga. Sedangkan
pertumbuhan abnormal sebagai akibat terjadinya luka pada bagian dalam batang dan daun
menunjukkan gejala nekrosis, bercak dan luka daun, serta puru pada daun. Gejala serangan di bawah
permukaan tanah seperti puru akar, busuk, nekrosis permukaan akar, luka pada akar, percabangan akar
yang berlebihan (excessive root branching), stubby root, coarse root, dan curly trip.
(http://mail.uns.ac.id)

Perlakuan yang dilakukan kelompok lima adalah ekstrasi dan perhitungan serta pengamatan ciri
morfologi nematoda akar kopi. Ciri morfologi nematoda akar kopi yang diamati di bawah mikroskop
compound, setelah ekstrasi dan pemancingan, sangat mendekati ciri morfologi Tylenchorymnhus yang
terdapat pada literatur praktikum. Adapun klasifikasi dari nematoda jenis ini adalah sebagai berikut.
Klas: Tylenchida, subklas: Tylenchina, ordo: Tylenchoidea, family: Belonolaimidae, sub family:
Telotylenchinae, genus: Tylenchorhynchus. (http://tylenchorincus_files.com)

Menurut Michel Luc:1995, nematoda ini berukuran kecil (jarang berukuran lebih dari 1 mm). Tidak
terdapat adanya tanda dimerfose seksual dalam bentuk di bagian anteriornya. Stilet Tylenchorymnhus
berbentuk silindris langsing dengan panjang 15-30 µm, bersklerotin sedang dan membulat dengan knob
miring ke belakang. Bidang lateral terdiri atas 2, 3, 4, atau 4 garis, kutikulanya kadang terbagi ke dalam
blok-blok. Esofagus nematoda ini selalu berkembang dan berbatasan dengan usus dengan median
bulbusnya berbentuk kumparan berukuran sedang. Kelenjar esofagus dorsal terdapat dekat dengan
pangkal stilet.

Terdapat perbedaan antara nematoda jantan dan betina. Pada nematoda betina, vulvanya terletak di
tengah dengan dua saluran genital yang keduanya sama-sama berkembang, satu mengarah ke anterior
dan satu lagi mengarah ke posterior tubuh. Spermateka berbentuk bulat. Panjang ekornya kurang lebih
sama dengan tiga kali diameter tubuh pada anal dan berbentuk kerucut sampai subsilindris dengan
ujungnya membengkok. Pada nematoda jantan, ekornya memanjang, berbentuk kerucut lancip dan
bursanya melebar sampai pada ujung ekor.

Tylenchoronchus spp. merupakan nematoda ektoparasit yang sebagian besar menyerang akar,
khususnya akar kopi. Mereka memakan sel-sel epidermis yang terdapat di dekat rambut-rambut akar
dan di daerah-daerah sel yang memanjang. Selama makan, secara individual tetap tinggal pada satu
bercak dalam waktu yang singkat yaitu kurang dari 10 menit. Dengan cepat stilet ditekankan dengan
kuat kepada dinding sel inang hingga dinding tersebut rusak kemuudian mengalirlah granula dari
kelenjar esofagus ke stilet dan masuk ke dalam sel (M. Luc:1995)

Akar tanaman kopi yang terserang oleh Tylenchorynchus kelihatan kurus, batang berukuran kecil, daun
tua menguning dan gugur, yang tertinggal hanya daun pada ujung cabang dan batang. Daun-daun
tersebut berukuran kecil, keriting dan menguning. Pada serangan berat tanaman mati, namun proses
kematian berlangsung lambat. Gejala serangan nampak jelas pada musim kemarau karena akar tidak
mampu menyerap air dan unsur hara sebab sebagian besar akar serabut rusak dan busuk. Rusaknya akar
serabut ditandai dengan tanaman mudah digoyang dan dicabut. (http://narutin.wordpress.com)

Berdasarkan data di atas (pada tabel hasil pengamatan) diperoleh bahwa jumlah nematoda pada akar
cenderung lebih banyak dibandingkan nematoda pada tanah. Dari data diketahui pula bahwa jumlah
nematoda yang terdapat pada akar tanaman setahun lebih banyak dibandingkan pada akar tanaman
tahunan. Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang telah disebutkan bahwa seharusnya jumlah
nematoda yang terdapat pada tanaman tahunan lebih banyak dibandingkan jumlah namatoda yang
terdapat pada akar tanaman setahun. Adanya kesalahan ini dapat disebabkan karena akar tanaman
setahun berukuran lebih kecil dan lunak sehingga nematoda lebih mudah tersekstrasi sedangkan akar
pada tanaman tahunan lebih besar dan keras sehingga nematoda susah untuk terekstrasi secara
keseluruhan.

BAB IV

KESIMPULAN

Sebagian besar nematoda merupakan parasit bagi tanaman. Spesies namatoda yang berbeda
menyerang tanaman yang berbeda pula. Contohnya namatoda yang terdapat pada akar kopi yaitu
Tylenchoryncus spp. Terdapat berbagai bentuk nematoda yang diamati yaitu bentuk G, S, C, dan I. Ciri
yang paling menonjol dari seluruh nematoda adalah adanya stilet yang berfungsi untuk menyerap
makanan dari sel inang. Nematoda pada akar cenderung lebih banyak dibandingkan pada tanah. Adanya
ketidaksesuaian hasil pengamatan dengan literatur mengenai jumlah nematoda yang seharusnya lebih
banyak pada akar dan tanah tanaman tahunan dibandingkan pada tanaman setahun mungkin
disebabkan kesalahan pada ekstrasi ataupun morfologi dari akar tanaman tahunan sendiri yang lebih
keras dan besar.

DAFTAR PUSTAKA

Dropkin V. H. 1998. Pengantar Nematologi Tumbuhan. Supratoyo, penerjemah. Terjemahan Dari :


Introduction to Plant Nematology. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Luc M. , Sikora R. A. , dan Bridge J. 1995. Nematoda Parasitik Tumbuhan di Pertanian Subtropik dan
Tropik. Supratoyo, penerjemah. Terjemahan Dari : Plant Parasitic Nematodos in Subtropical and
Tropical Agriculture. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

http://mail.uns.ac.id/~subagiya/GEJALA%20SERANGAN%20NEMATODA.html. (15 November 2009)

http://narutin.wordpress.com/2008/03/27/nematoda-akar/html. (15 November 2009)

http:// (http://tylenchorincus_files/G138.html. (15 November 2009)

Posted in Academic

Comments are closed.

Ekstraksi Air Tanah untuk Cegah Tanah Longsor


Penulis: Siti Retno Wulandari/X-7Pada: Sabtu, 17 Feb 2018, 09:41 WIB HUMANIORA

ANTARA FOTO/HO/Tisna

KAMPUNG Cibitung di Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung, terkena bencana tanah


longsor pada 2015. Tak hanya itu, material longsor juga mengenai pipa panas bumi sehingga pecah
dan menimbulkan ledakan. Bencana tanah longsor kerap terulang, apalagi saat tiba musim hujan,
daerah lereng menjadi salah satu lokasi rentan bencana tersebut.

Menurut Adrin Tohari, peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI), daerah lereng kerap diterpa hujan deras dan kondisi tanah yang gembur
menyebabkan muka air tanah naik. Apalagi, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB), tanah longsor merupakan bencana yang banyak menimbulkan korban jiwa.

Tercatat pada periode Januari hingga 7 Februari tahun ini, sudah 19 orang meninggal akibat bencana
tersebut. Karena itu, LIPI memanfaatkan hasil penelitian the greatest (teknologi gravitasi ekstraksi air
tanah untuk kestabilan lereng) untuk mengurangi potensi longsor pada daerah lereng.

Penelitian yang sudah dimulai sejak 2013 itu telah terpasang di Kampung Cibitung, Pengalengan,
Kabupaten Bandung, sebanyak 13 unit. Namun, yang beroperasi hanya 10. Itu disebabkan pada tiga
sumur lainnya muka air tanah sudah di bawah 7 meter.

"Prinsipnya menurunkan muka air tanah dengan batasan kedalaman hingga minus 10 meter. Kami
mengebor sumur di lereng, lalu pasang selang dengan diameter dalam 8 milimeter dan luar 12
milimeter. Selang itu terhubung pada flushing unit di kaki lereng," ujar Adrin saat dihubungi, Kamis
(15/2).

Setelah itu, lanjutnya, gelembung udara dibilas, dipisahkan dari air, dan akan terjebak dalam satu
bagian di flushing unit sehingga bisa menambah daya dorong bagi air dari dalam sumur keluar dan
mengalir ke lereng atau disebut ekstraksi. Ukuran keharusan penurunan muka air tanah pun terlebih
dahulu diteliti dengan perbandingan bidang gelincir.

Untuk di Kampung Cibitung, tercatat muka air tanah harus berada pada kedalaman 7 meter,
sementara kondisi di lapangan air dapat ditemukan pada kedalaman 3 meter dari permukaan tanah.
Kini, air sudah dapat diturunkan hingga kedalaman 6 meter. Tim pun masih terus bekerja untuk
menambah unit sumur dengan kemampuan menurunkan muka air tanah. Debit air yang mengalir pun
cukup deras, 120 liter per jam untuk satu sumur. Sementara itu, jarak dari satu sumur ke sumur lain
dibuat setiap 4 meter.

Belajar dari alam

Air memang menjadi teman, tapi ketika tidak diperlakukan secara baik, ia bisa menjadi musuh. Adrin
mengatakan ketika air terisi penuh pada suatu tempat, itu akan memberikan tekanan yang besar.
Kekuatan tanah berkurang, terjadi bencana tanah longsor. Sebab itu, masyarakat harus belajar dari
alam. Lihat saja indikasi salah satunya muncul retakan yang lama-kelamaan semakin membesar. Lalu
muncul mata air yang debitnya besar.

"Daerah rawan gerakan tanah, muka air tanahnya harus dijaga serendah mungkin. Namun,
masyarakat tetap bisa, kok, mengambil air dari tanah. Kalau untuk yang di Kampung Cibitung, air
dibiarkan mengalir begitu saja karena kandungan belerang tinggi," pungkas Adrin.

Untuk daerah yang memiliki kualitas air tanah baik, air bisa ditampung dan dimanfaatkan
masyarakat. Temuan teknologi yang sederhana itu tanpa bantuan sumber energi apa pun. Namun,
jika muka air tanah harus diturunkan hingga batasan minus 15 meter, diperlukan alat vakum dengan
sumber energi listrik karena gelembung udara yang sangat besar.
Longsor tak hanya perihal muka air tanah yang tinggi, tetapi juga adanya penjenuhan pada pori-pori
tanah. Seperti yang terjadi pada longsoran di wilayah Puncak, Bogor.

INTRO : F Am F Am 2x

F Am

Are you coming baby eyes

E F

It takes two to do the ocean

F Am

Are you coming baby eyes

E F

It takes two to do the sky

F Am

Are you coming baby eyes


E F

It takes two to do the ocean

F Am

Are you coming baby eyes

E F

It takes two to do the sky

Dm E

Making scene of fairy tale

Am G

was it worthy?

Dm E

White love in the drawing sand

Am G

make it worth it

LEAD : F Am F Am 2x E
F Am

Are you coming baby eyes

E F

It takes two to do the ocean

F Am

Are you coming baby eyes

E F

It takes two to do the sky

Dm E

I build the high fortress

Am G

You take polaroid

Dm E

I watch the halo moon

Am G

You slow down the road


F

Are you coming baby eyes

Am

Are you coming baby eyes

Are you coming baby eyes

Am

Are you coming baby eyes

Are you coming baby eyes

Am

Are you coming baby eyes