Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH

PEMBANGUNAN BANDAR UDARA

DISUSUN OLEH :

NURRAHMASARI
216190076

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE
2019

1
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT, akhirnya saya

bisa menyelesaikan makalah tentang Pembangunan Bandar Udara untuk

penyelesaian tugas dari mata kuliah Perencanaan Bandar Udara.

Makalah ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari

berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu

saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah

berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Walaupun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu

dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar

saya dapat memperbaiki makalah ini kedepannya.

Sebagai penyusun saya berharap bahwa makalah ini bisa bermanfaat bagi

kita semua. Akhirnya kata saya ucapkan terima kasih atas perhatian dari semua

pihak.

Parepare, 28 Mei 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................................................................ii
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 2
C. Tujuan ..................................................................................................................... 3
BAB II................................................................................................................................. 4
BANDAR UDARA SECARA UMUM .............................................................................. 4
A. Pengertian Bandar Udara ........................................................................................ 4
B. Tujuan Bandar Udara .............................................................................................. 4
C. Bagian – bagian Bandar Udara ............................................................................... 5
BAB III ............................................................................................................................... 8
PERIZINAN PEMBANGUNAN BANDAR UDARA ...................................................... 8
A. Dasar Hukum .......................................................................................................... 8
B. Persyaratan .............................................................................................................. 8
C. Prosedur Pengajuan Permohonan............................................................................ 9
BAB IV ............................................................................................................................. 11
PERENCANAAN BANDAR UDARA ............................................................................ 11
A. Pendahuluan .......................................................................................................... 11
B. Perencanaan Runway ............................................................................................ 16
1. Pendahuluan ...................................................................................................... 16
2. Metode Perencanaan ......................................................................................... 19
C. Perencanaan Taxyway........................................................................................... 20

ii
I. Pendahuluan ...................................................................................................... 20
II. Metode Perencanaan ......................................................................................... 21
D. Perencanaan Apron ............................................................................................... 22
I. Pendahuluan ...................................................................................................... 22
II. Metode Perencanaan ......................................................................................... 27
BAB V .............................................................................................................................. 29
PEMBANGUNAN BANDAR UDARA DI INDONESIA............................................... 29
BAB VI................................................................................................................................ 37
PENUTUP ........................................................................................................................... 37
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 37
6. Saran ..................................................................................................................... 38
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 39

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini perkembangan teknologi semakin meningkat, salah satunya adalah

dalam bidang Transportasi. Transportasi merupakan suatu kegiatan manusia untuk

melakukan suatu perjalanan dengan jarak tertentu, dari tempat yang satu ke

tempat yang lain dengan menggunakan alat transportasi.

Sistem transportasi nasional menyelenggarakan transportasi guna

memperlancar arus penumpang dan barang dari suatu tempat ketempat yang

lain disseluruh wilayah tanah air dan untuk pelayanan internasional.

Terselenggaranya sistem transportasi terpadu, tertib, lancar, dan aman serta

terjangkau oleh kemampuan masyarakat dalam rangka mencapai jasa transportasi

yang handal dan berkemampuan tinggi.

Meningkatkan pergerakan penumpang dan barang diharapkan dapat

menciptakan peningkatan perekonomian. Pertumbuhan lalu-lintas udara secara

langsung berpengaruh menunjang laju pertumbuhan ekonomi seiring dengan

meningkatnya kebutuhan akan sarana transportasi yang dapat menjangkau daerah

- daerah yang jauh atau sulit terjangkau oleh transportasi darat.

Transportasi terbagi menjadi tiga bagian, yaitu taransportasi darat, laut dan

udara. Keunggulan alat transportasi udara terletak pada kecepatan yang tinggi dan

kemampuanya untuk menembus daerah yang terisolasi. Tetapi banyak juga

1
kelemahanya, antara lain kemampuan angkut terbatas, sarana dan prasarananya

mahal, serta biaya operasinya juga mahal.

Bandar udara merupakan salah satu infrastruktur penting yang diharapkan

dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat. Bandar udara berfungsi

sebagai simpul pergerakan penumpang atau barang dari transportasi udara ke

transportasi darat atau sebaliknya.

Untuk meningkatkan pelayanan transportasi udara, maka perlu dibangun

bandar udara yang mempunyai kualitas baik secara struktural maupun fungsional.

Membangun bandar udara baru maupun peningkatan yang diperlukan sehubungan

dengan penambahan kapasitas penerbangan, tentu akan memerlukan metode

efektif dalam perencanaan agar diperoleh hasil yang terbaik dan ekonomis,

memenuhi unsur keselamatan pengguna dan tidak menggangu ekosistem.

Dalam suatu pekerjaan pembangunan bandar udara, yang menjadi penentu

tercapainya keberhasilan pekerjaan salah satunya adalah dari segi

perencanaannya. Oleh karena itu diperlukan tenaga ahli yang mampu membuat

perencanaan bandar udara.

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu bandar udara?

2. Apa saja bagian bagian utama dari bandar udara?

3. Apa saja yang perlu dipersiapkan dalam membangun sebuah bandar

udara?

4. Apa saja tahapan pembangunan suatu bandar udara?

5. Bagaimanakah pembangunan bandar udara di Indonesia?

2
C. Tujuan

1. Dapat mengetahui pengertian bandar udara secara umum

2. Dapat mengetahui apa saja bagian bagian utama dari sebuah bandar udara

3. Dapat mengetahui hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam membangun

sebuah bandar udara

4. Dapat mengetahui tahapan-tahapan pada pembangunan sebuah bandar

udara

5. Dapat mengetahui tentang perkembangan bandar udara di Indonesia

3
BAB II

BANDAR UDARA SECARA UMUM

A. Pengertian Bandar Udara

Bandar udara merupakan area yang secara reguler dipergunakan untuk

mendarat (landing) dan lepas landas (take off) pesawat udara, naik turun

penumpang, dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos, serta dilengkapi dengan

fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda

transportasi.

B. Tujuan Bandar Udara

Bandar udara merupakan salah satu bagian penting pada aspek operasional

penerbangan. Bandar Udara adalah lapangan terbang yang dibangun dengan

memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Tempat untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara

2. Tempat menaikkan dan menurunkan penumpang.

3. Tempat bongkar muat kargo dan atau pos serta tempat penyimpanan

barang selama pengurusan dokumen

4. Sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi, dalam hal ini

moda transportasi udara dengan moda transportasi lainnya (darat dan laut)

5. Tempat pengisian bahan bakar pesawat

4
6. Tempat perbaikan dan pemeliharaan pesawat agar layak digunakan

dalam penerbangan

7. Tempat yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan

untuk menunjang pengoperasian penerbangan.

Untuk itu, penentuan lokasi, pembuatan rancang bangunan, perencanaan, dan

pembangunan bandar udara termasuk kawasan di sekelilingnya wajib

memperhatikan ketentuan keamanan penerbangan, keselamatan penerbangan, dan

kelestarian lingkungan kawasan bandar udara.

C. Bagian – bagian Bandar Udara

Secara umum bandar udara terdiri dari dua bagian, yaitu sisi udara (air

side) dan sisi darat (land side).

1. Sisi udara (air side)

Sisi udara dalah bagian bandar udara yang digunakan untuk menuver

pesawat terbang di daratan. Daerah ini tertutup untuk umum. Sisi udara terdiri

dari beberapa pasilitas, antara lain :

a. Landasan - pacu (runway)

Bagian bandar udara yang berbentuk empat persegi panjang dan

digunakan untuk lepas landas (take-off) dan mendarat (landing).

b. Landasan - hubung (taxiway)

5
Bagian bandar udara yang digunakan pesawat terbang untuk ’taxing’,

menghubungkan satu bagian bandar udara dengan bagian yang lain

(umpamanya antara landasan pacu dan landasan parkir).

c. landasan – parkir (apron)

Bagian bandar udara yang digunakan untuk parkir pesawat terbang.

Ditempat ini dilakukan juga untuk naik/turun penumpang, pengisian

bahan bakar dan untuk perawatan dan untuk pelayanan terhadap pesawat

terbang.

2. Sisi darat (land side)

Sisi darat disediakan untuk penumpang sebelum diperoses menjadi

penumpang angkutan udara. Daerah ini sebagian besar untuk umum tetapi ada

beberapa bagian ruang (didalam bangunan terminal) yang tidak untuk umum

dan hanya penumpang yang boleh masuk. Bagian yang termasuk sisi darat antara

lain :

a. Bangunan terminal (terminal building)

Di dalam bangunan terminal ini terjadi proses perubahan dari

penumpang angkutan darat menjadi penumpanng angkutan udara dan

sebaliknya dari penumpang angkutan udara menjadi penumpang

angkutan darat. Oleh karena itu ada dua bagian yang penting,yaitu

1) Daerah keberangkatan (depatures)

a) Publik hall

b) Check-in area

6
c) Depatures lauge (ruang keberangkatan)

2) Daetah keberangkatan (arrival)

a) Arrival launge

b) Baggage claim area

c) Public hall

3) Jalan masuk dan prasarana darat

a) Jalan masuk ke bandar udara

b) Curve (kerb)

c) Halaman parkir

4) Ruang VIP dan VVIP

Ruang VIP untuk pejabat setingkat menteri dan VVIP untuk

kepala negara dan tamu negara.

5) Kantor pengelola bandar udara

6) Depot pengisian pesawat udara (DPPU = fuel farm)

Selain dari itu masih ada beberapa bangunan lain seperti gedung pertolongan

kecelakaan pesawat dan pemadam kebakaran (PK-PK), gedung pendukung

operasi penerbangan (gedung operasi) dan stasiun meteorologi.

7
BAB III

PERIZINAN PEMBANGUNAN BANDAR UDARA

Pembangunan suatu bandar udara tidak lepas dari adanya izin pembangunan

bandar udara yang tentunya harus sesuai dengan prosedur yang ada. Seperti yang

dikutip dari website resmi Direktorat Bandar Udara.

A. Dasar Hukum

1. Undang-Undang nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan

2. Peraturan Pemerintah nomor 3 Tahun 2001 Tentang Keamanan dan

Keselamatan Penerbangan

3. Peraturan Pemerintah nomor 70 Tahun 2001 Tentang Kebandarudaraan

4. Keputusan Menteri Perhubungan nomor KM 11 Tahun 2010 Tentang Tatanan

Kebandarudaraan Nasional

5. Keputusan Menteri Perhubungan nomor KM 48 Tahun 2002 Tentang

Penyelenggaraan Bandar Udara dan

6. Peraturan Pemerintah nomor 6 Tahun 2009 Tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis

Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku Pada Departemen

Perhubungan.

B. Persyaratan

1. Pembangunan bandar udara pusat penyebaran dan bandar udara bukan

pusat penyebaran yang ruang udara di sekitarnya dikendalikan hanya dapat

8
dilakukan setelah ditetapkan keputusan pelaksanaan pembangunan oleh

Menteri

2. Pembangunan bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara di

sekitarnya tidak dikendalikan hanya dapat dilakukan setelah ditetapkan

keputusan pelaksanaan pembangunan oleh Bupati/Walikota

3. Penyelenggara bandar udara melaksanakan pekerjaan pembangunan bandar

udara paling lambat 1 tahun sejak keputusan pelaksanaan pembangunan

ditetapkan

C. Prosedur Pengajuan Permohonan

1. Untuk memperoleh keputusan pelaksanaan pembangunan bandar udara

mengajukan permohonan kepada Menteri melalui Direktur Jenderal dengan

melampirkan :

a. Salinan keputusan penetapan lokasi

b. Rencana induk bandar udara

c. Bukti penguasaan tanah

d. Dokumen rancangan teknis bandar udara yang meliputi rancangan

awal dan rancangan teknis terinci sesuai dengan standar yang berlaku

e. Studi analisis mengenai dampak lingkungan yang telah disahkan oleh

pejabat yang berwenang.

2. Untuk memperoleh keputusan pelaksanaan pembangunan penyelenggara

bandar udara mengajukan permohonan kepada Bupati/Walikota setempat

dengan melampirkan :

a. Salinan keputusan penetapan lokasi

9
b. Rencana induk bandar udara

c. Bukti penguasaan tanah

d. Pertimbangan teknis dari Gubernur sebagai tugas dekonsentrasi

e. Dokumen rancangan teknis bandar udara yang meliputi rancangan

awal dan rancangan teknis terinci sesuai dengan standar yang berlaku

f. Studi analisis mengenai dampak lingkungan yang telah disahkan oleh

pejabat yang berwenang.

3. Direktur Jenderal menyampaikan hasil evalusai kepada Menteri selambat-

lambatnya 30 hari kerja setelah dokumen diterima secara lengkap

4. Menteri menetapkan pelaksanaan pembangunan dengan memperhatikan

hasil evaluasi Direktur Jenderal selambat-lambatnya 14 hari kerja setelah

dokumenditerima secara lengkap

5. Bupati/Walikota menetapkan pelaksanaan pembangunan selambat-lambatnya

30 hari kerja setelah dokumenditerima secara lengkap.

10
BAB IV

PERENCANAAN BANDAR UDARA

A. Pendahuluan

Perencanaan dan perancangan bandar udara merupakan suatu pekerjaan yang

kompleks dan multi-faset. Sebuah proses yang membutuhkan integrasi dari

berbagi disiplin keilmuan dan keahlian dan memiliki lingkup perencanaan

yang kompleks dari level perencanaan strategis sampai dengan perancangan

detail fasilitas yang terinci.

Perencanaan dan perancangan bandar udara untuk penerbangan sipil (civil

aviation) pada dasarnya mengacu kepada standar dan rekomendasi praktis yang

dikeluarkan oleh organisasi penerbangan sipil sedunia yang dikenal dengan nama

ICAO (International Civil Aviation Organization). ICAO adalah sebuah badan di

bawah naungan PBB yang berkantor pusat di Montreal Kanada. Regional Office

of ICAO untuk kawasan Asia dan Pasifik berada di Bangkok Thailand. ICAO

mengeluarkan dokumen standar dan rekomendasi praktis yang harus dipatuhi

oleh negara-negara anggotanya. Indonesia termasuk negara anggota ICAO

sehingga seluruh fasilitas dan instalasi bandar udara untuk penerbangan sipil

semestinya memenuhi standar dan rekomendasi yang dipersyaratkan oleh ICAO

tersebut. Peraturan dan standar yang dikeluarkan oleh Departemen

Perhubungan (Kementerian) dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara pada

11
dasarnya senantiasa mengacu kepada standar dan rekomendasi praktis

dipersyaratkan oleh ICAO tersebut.

Dalam proses pembangunan dan pengembangan prasarana bandar udara pada

umumnya dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:

1. Studi kelayakan (feasibility study) pembangunan bandar udara di

dalamnya termasuk pemilihan lokasi (site selection analysis),

2. Studi rencana induk (master plan) berikut analisis KKOP (kawasan

keselamatan operasi penerbangan) dan analisis BKK (Batas Kawasan

Kebisingan Bandar Udara)

3. Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

4. Sampai pada tahapan penyusunan rancangan teknik terinci fasilitas

bandar udara (detailed engineering design).

Dalam pembangunan bandar udara baru, maka diperlukan kesepakatan dari

berbagai pihak, seperti: pemerintah, kalangan swasta, masyarakat setempat, airline

serta operator bandar udara itu sendiri terkait dengan tujuan proyek, sistem

transportasi yang akan dikembangkan, maupun kebijakan umum mengenai layak

tidaknya suatu bandar udara baru dibangun.

1. Faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi lapangan

terbang

a. Tipe Pengembangan Lingkungan Sekitar

12
Merupakan faktor yang sangat penting, sebab kegiatan sebuah lapangan

terbang tertutama ditinjau dari segi kebisingan , inilah yang paling banyak

menganggu lingkungan dari sebuah lapangan terbang. Maka penelitian,

pengamatan terhadap penggunaan tanah sekitar lapangan terbang sangat

perlu bila memungkinkan pemilihan lokasi menjauhi daerah pemukiman

penduduk dan sekolah.

b. Kondisi Atmosfir.

Adanya kabut (fog) , asap (smoke) , atau campuran keduanya akan

mengurangi jarak pandang pilot. Hambatan jenis ini mempunyai pengaruh

kepada menurunnyakapsitas lalu lintas penerbangan.

c. Kemudahan Untuk Mendapat Transport Darat.

Waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari tempat penumpang berangkat ke

pelabuhan udara, merupakan hal yang perlu dipelajari.Hal ini bukan hanya

karena panjangnya jarak, tetapi yang terutama adalah kelancaran lalu-

lintas dari kota ke air port. Sering kali terjadi bahwa waktu pejalanan di

daratnya melebihi waktu penerbangannya, dan perbedaan itu akan lebih

menyolok lagi bila penerbangan dengan pesawat jet kecepatan tinggi

terutama untuk penerbangan jarak dekat.

d. Tersedianya Tanah Untuk Pengembangan

Dengan bertambahnya penduduk yang menggunakan jasa penerbangan

akan meningkatkan volume lalu-lintas udara. Untuk itu perlu pemikiran

persediaan tanah untuk pengembangan air port itu. Hal ini tidak hanya

13
karena meningkatnya penumpang tetapi juga karena dituntut adanya

perkembangan teknologi pesawat.

e. Adanya Lapangan Terbang Lain

Lapangan terbang harus mempunyai jarak yang cukup jauh satu sama lain,

untuk memberikan ruang lingkup yang cukup untuk manuver saat akan

mendarat pada suatu lapangan terbang dan gangguan gerakan/naik/turun

pesawat di lapangan terbang lain. Jarak minimum antar pelabuhan udara

tergantung kepada volume dan tipe lalu-lintas serta apakah pelabuhan

udara itu mempunyai perlengkapan operasi lapangan terbang dengan

kondisi jarak pandang yang jelek.

f. Halangan Sekeliling (Surrounding Obstruction)

Lokasi pelabuhan udara harus dipilih sedemikian, hingga bila diadakan

pengembangan, bebas halangan atau halangan mudah dihilangkan.

Lapangan terbang harus dilindungi dengan peraturan yang ketat agar orang

tidak sembarangan membangun apa saja yang merupakan halangan bagi

penerbangan. Terutama pada Approach area, pengawasan harus seketat-

ketatnya.

g. Petimbangan Ekonomi

Penyajian rancangan induk tentu memberikan beberapa pilihan

kemungkinan lokasi, ada perbandingan-perbandingan ditinjau secara

ekonomis. Berbagai alternatif lengkap dengan perhitungan volume dan

biaya diberikan. Tentu saja dipilih lokasi dengan biaya pembangunan yang

murah.

14
h. Tersedianya Utilitas

Sebuah lapangan terbang terutama yang besar membutuhkan utilitas yang

besar pula, perlu tersedia air minum dan air gelontor, tenaga listrik,

sambungan telepon, bahan bakar minyak. Dalam pembuatan

rancanganinduk tentu penyediaan utilitas harus dipertimbangkan pula.

2. Faktor yang mempengaruhi ukuran lapangan terbang

a. Karakteristik dan ukuran pesawat yang direncanakan menggunakan

pelabuhan udara.

Karakteristik kemampuan pesawat, mempunyai pengaruh langsung kepada

penentuan panjang landasan.

b. Perkiraan volume penumpang

Volume lalu lintas udara dan karakteristiknya, mempunyai pengaruh

terhadap jumlah landasan yang dibutuhkan, konfigurasi taxy way, dan

ukuran panjang, lebar dari ramp area.

c. Kondisi meteorologi.

Kondisi meteorologi yang mempengaruhi ukuran lapangan terbang adalah

angin dan temperatur.

d. Ketinggian dari muka laut.

Jika pelabuhan udara letaknya semakin tinggi dari muka air laut maka

temperaturnya semakin kecil sehingga pada landasan membutuhkan

runway yang lebih panjang.

15
B. Perencanaan Runway

1. Pendahuluan

Runway adalah jalur perkerasan yang dipergunakan oleh pesawat terbang

untuk mendarat ( landing ) atau lepas landas ( take-off ). Menurut Horonjeff

(1994) sistem runway di suatu bandara terdiri dari perkerasan struktur, bahu

landasan ( shoulder ), bantal hembusan ( blast pad ), dan daerah aman runway (

runway end safety area ).

Uraian dari sistem runway adalah sebagai berikut:

a. Perkerasan struktur mendukung pesawat sehubungan dengan beban struktur,

kemampuan manuver, kendali, stabilitas dan kriteria dimensi dan operasi

lainnya.

b. Bahu landasan ( shoulder ) yang terletak berdekatan dengan pinggir

perkerasan struktur menahan erosi hembusan jet dan menampung peralatan

untuk pemeliharaan dan keadaan darurat.

c. Bantal hembusan ( blast pad ) adalah suatu daerah yang dirancang

untuk mencegah erosi permukaan yang berdekatan dengan ujung-ujung

runway yang menerima hembusan jet yang terus-menerus atau yang

berulang. ICAO menetapkan panjang bantal hembusan 100 feet ( 30 m ),

namun dari pengalaman untuk pesawat-pesawat transport sebaiknya 200

feet (60 m), kecuali untuk pesawat berbadan lebar panjang bantal

hembusan yang dibutuhkan 400 feet (120 m). Lebar bantal hembusan harus

mencakup baik lebar runway maupun bahu landasan ( Horonjeff , 1994 ).

16
d. Daerah aman runway ( runway end safety area ) adalah daerah yang bersih

tanpa benda-benda yang mengganggu, diberi drainase, rata dan mencakup

perkerasan struktur, bahu landasan, bantal hembusan dan daerah perhentian,

apabila disediakan. Daerah ini selain harus mampu untuk mendukung

peralatan pemeliharaan dan dalam keadaan darurat juga harus mampu

mendukung pesawat seandainya pesawat karena sesuatu hal keluar dari

landasan.

Keadaan sekeliling pelabuhan udara akan mempengaruhi panjang pendeknya

runway. Adapun kondisi kondisi yang harus diperhatikan adalah :

a. Suhu

Keadaan suhu pelabuhan udara pada tiap-tiap tempat tidaklah sama. Makin

tinggi suhu di Airport makin panjang runwaynya, karena makin tinggi

temperatur maka density udaranya makin kecil yang mengakibatkan kuat

desak pesawat berkurang sehingga dengan kondisi seperti ini akan dituntut

runway yang panjang. Setiap kenaikan 1F diperlukan panjang runway antara

0,42–0,65% dari panjang runway standar, yakni kondisi suhu 590–900 F.

b. Surface wind

Surface wind adalah angin yang lewat diatas permukaan landasan. Panjang

runway sangat ditentukan oleh angin, yang dibedakan atas tiga keadaaan :

1) Arah angin sejajar arah pesawat, hal ini akan memperpanjang runway.

2) Arah angin berlawanan arah pesawat, hal ini akan memperpendek

runway.

17
3) Arah angin tegak lurus arah pesawat, hal ini tidak mungkin digunakan

dalam perencanaan.

Penentuan arah angin untuk menentukan arah runway ditentukan oleh arah

angin dengan kecepatan terbesar.

c. Runway gradient

Kemiringan dari landasan juga akan mempengaruhi panjang pendeknya

runway. Tanjakan landasan akan mengakibatkan tuntutan panjang yang lebih

jika dibandingkan dengan landasan datar. Landasan yang menurun akan

mengakibatkan runway akan menjadi lebih pendek. Karena sulitnya

pembuatan uniform gradient, maka kemiringan yang diambil adalah Averange

Gradient yaitu dengan menghubungkan ujung-ujung runway tersebut.

Pada peta topografi yang direncanakan boleh dibuat rata yaitu diambil

harga rata-ratanya dengan syarat daerah yang naik dan yang turun tidak lebih

dari 5 ft.

d. Ketinggian pelabuhan udara

Semakin tinggi elevasi pelabuhan udara dari muka air laut maka hawanya

lebih tipis dari hawa laut, sehingga landasan membutuhkan runway yang lebih

panjang. Setiap kenaikan 1000 ft akan terjadi perpanjangan runway 7%.

e. Kondisi permukaan runway

18
Adanya genangan air menyebabkan runway lebih panjang, karena pada

saat take-off, pesawat akan mengalami hambatan-hambatan kecepatan akibat

genangan air.

2. Metode Perencanaan

Dalam merencanakan suatu landasan pacu atau runway pada suatu andar

Udara secara umum, metodelogi yang digunakan adalah seperti pada gambar

19
C. Perencanaan Taxyway

I. Pendahuluan

Taxyway merupakan bagian bandar udara yang digunakan pesawat

terbang untuk “taxing” (keluar- masuk) dan menghubungkan satu bagian

bandar udara dengan bagian yang lain, yaitu dari runway ke apron atau

bagian lain dari bandar udara. Kecepatan sebuah pesawat di taxiway sangat

lebih rendah dari kecepatannya di runway sewaktu pendaratan dan lepas

landas. Karena itu standar rancangan “taxiway” tidaklah seketat standar

rancangan untuk runway.

Dalam perencanaan taxiway, hal-hal yang dapat dipakai sebagai

pertimbangan adalah sebagai berikut :

a. Rute taxiway untuk hubungan ke elemen lain dari aerodrome harus

mempunyai jarak yang terpendek. Hal ini bertujuan untuk menekan

waktu taxiing dan biaya.

b. Rute taxiway harus dibuat sesederhana mungkin untuk menghindari

petunjuk yang berbelit-belit sehingga menyebabkan kebingungan pilot.

c. Permukaan taxiway jika mungkin dibuat datar. Jika perubahan arah

diperlukan, radius kurva yang memadai, seperti perpotongan atau lebar

ekstra taxiway, harus dirancang agar taxiing dapat dilakukan dengan

kecepatan praktis maksimum.

20
d. Perpotongan antar taxiway dengan runway atau dengan taxiway lain

harus dihindari untuk menjaga keselamatan penerbangan dan untuk

mengurangi resiko penundaan taxiing.

e. Rute dari taxiway harus mempunyai jalur alternatif untuk mencegah

konflik pesawat dan penundaan. Arus pada segmen taxiway harus

dianalisa sesuai dengan konfigurasi runway yang akan digunakan.

f. Sistem dari taxiway harus didesain agar dapat diperluas tanpa

harus mengalami banyak perubahan, sehingga mempunyai waktu pakai

yang maksimal.

g. Taxiway harus dirancang dengan dimensi yang memadai. Oleh karena

itudalam perencanaan kita harus mengetahui dan mempertimbangkan

antrian yang mungkin terjadi.

h. Suatu bangunan, struktur, kendaraan, dinding, bangunan pabrik,

peralatan, pesawat terbang yang diparkir atau jalan raya, tidak boleh kurang

dari jarak yang ditentukan.

II. Metode Perencanaan

Dalam merencanakan suatu taxiway pada Bandar Udara secara umum metedologi

yang digunakan adalah seperti pada gambar

21
Mulai

Penentuan lebar Taxyway

Penentuan kemiringan
Taxyway

Penentuan lebar Taxyway


shoulder

Penentuan lebar Taxyway


strip

Penentuan Taxyway
curve

Penentuan separation
distance Taxyway

Selesai

D. Perencanaan Apron

I. Pendahuluan

Apron adalah suatu daerah yang ditentukan untuk mengakomodasi pesawat

dalam menaikkan dan menurunkan penumpang atau kargo, pengisian bahan

bakar, parkir, atau pada saat melakukan maintenance segera. Luas apron

ditentukan berdasarkan pada saat terjadinya kepadatan maksimum bandar udara.

Apron berada pada sisi udara (airport side) yang langsung bersingungan

dengan bangunan terminal, di mana apron dihubungkan dengan taxiway ke

runway.

Sejumlah besar factor harus dipertimbangkan jika merancang “apron”.

Faktor- faktor ini meliputi :

22
a. Surface gradient (gradien permukaan)

Gradien permukaan mempunyai dampak pada “taxing” dan

penggandengan pesawat, saluran buangan yang memadai, utilitas yang

permanen, dan pengisian bahan bakar. Surface gradien harus jauh dari

bagian depan terminal demi saluran buangan yang layak dan keamanan

kalau-kalau ada tumpahan bahan bakar.

b. Size of gate position (ukuran posisi gerbang/pintu)

Posisi gerbang/pintu adalah tempat menaikkan muatan yang

dibutuhkan untuk setiap jenis pesawat. Ukuran posisi gerbang/pintu

tergantung pada :

1) Ukuran pesawat dan radius berputar/belok minimumnya

2) Cara pesawat memasuki dan meninggalkan posisi

gerbang/pintu dengan tenaganya sendiri atau dengan didorong

oleh traktor.

3) Konfigurasi parkir pesawat

a) Nose – in

Keuntungan :

 Pada waktu taxiing tidak begitu berisik karena tidak

perlu berputar

 Luapan hawa panas tidak terarah ke arah bangunan

terminal

 Pintu depan pesawat dekat dengan bangunan

terminal

23
Kerugian :

 Diperlukan tenaga yang besar ketika menggerakkan

pesawat keluar dari posisi gerbang/pintu setelah

menaikkan muatan

 Pintu belakang pesawat yang digunakan untuk

menaikkan muatan menjadi jauh dari bangunan

terminal.

b) Angle Nose – in (keuntungan dan kerugian sama dengan

Nose-in)

c) Nose – out

Keuntungan :

 Tenaga yang dibutuhkan lebih sedikit ketika

menggerakkan pesawat keluar dari posisi

gerbang/pintu setelah menaikkan muatan

 Pintu belakang pesawat yang digunakan untuk

menaikkan muatan menjadi dekat dengan bangunan

terminal

Kerugian :

 Luapan hawa panas terarah ke arah bangunan

terminal

d) Angle Nose – out (keuntungan dan kerugian sama dengan

Nose-out)

e) Parallel

24
Keuntungan :

 Pintu depan dan belakang pesawat dekat dengan

bangunan terminal

Kerugian :

 Konfigurasi ini membutuhkan banyak tempat/ruang

 Luapan hawa panas terarah ke dekat posisi

gerbang/pintu.

c. Number of Gate Positions

Ini terutama tergantung pada gerakan-gerakan puncak perjam dan waktu

dimana setiap pesawat tetap berada dalam posisi gerbang. Waktu ini juga

dikenal dengan waktu “ramp”, dan waktu ini beragam dari beberapa menit

untuk pesawat kecil ingga lebih dari satu jam tergantung pada ukuran

(pesawat) jumlah posisi gerbang yang dibutuhkan bisa dilihat dari

hubungan berikut :

Ng = Cr x Tg/(60 x 2 )

Ng:Number of gate position

Cr : Capacity of runway

Tg : average gate occupacy time (waktu rata-rata penggunaan gerbang)

d. Aircraft Parking System

Sistem parkir pesawat tidak hanya mempengaruhi ukuran apron tetapi

juga mempengaruhi fasilitas-fasilitas untuk system penanganan

25
penumpang dan barang. Pesawat-pesawatnya bisa dikumpulkan dekat

bangunan terminal dengan berbagai cara seperti berikut :

1) Frontal System

Dalam system ini pesawat diparkir di apron tepat disebelah/

didekat garis bangunan terminal. Ini merupakan system

sederhana yang ditemukan di bandara-bandara kecil dimana

bangunan terminalnya berukuran kecil dan jumlah posisi

gerbangnya sedikit. Sistim ini juga dipakai jika konsep

pemrosesan kedatangan penumpang diterapkan.

2) Open apron System

Disini pesawat diparkir secara bebas di apron dekat dengan

bangunan terminal tetapi tidak tepat di sebelah/didekatnya.

Sistem posisi parkir ini dan dalam hal ini penumpang

berjalan di apron antara bangunan terminal dan pesawat.

Sistem ini yang paling banyak dipakai di bandara-bandara di

Indonesia, misalnya di Bandara Adisucipto, Ahmad Yani, Adi

Sumarmo, dll. Jika system ini diterapkan/dipakai di bandara

dengan volume lalu lintas yang tinggi dan jumlah posisi parkir

yang besar, konsep proses pengantaran/penyampaian yang

mobil/bisa bergerak (pindah) pasti diperlukan.

3) Finger System

Sistem ini digunakan dalam kombinasi dengan konsep proses

jari dermaga. Perluasan/penambahan jumlah posisi gerbang

26
bisa dilakukan tanpa penambahan ukuran pada system proses

itu sendiri. Sistem inim juga memungkinkan digunakannya

fasilitas-fasilitas untuk menaikkan penumpang ke pesawat

seperti “nose briges”

4) Satellite System

Pesawat diparkir dalam kelompok disekeliling unit-unit

bangunan terminal dihubungkan seperti satelit. Jika pesawat

bisa parkir bebas di sekeliling banguna satelit,pola manuver

dan “taxiing” sederhana bisa dilakukan/dicapai. Sistem ini

tentu saja membutuhkan apron yang lebih besar/luas

daripada ketiga system lainnya.

II. Metode Perencanaan

Perencanaan apron dilaksanaan bersamaan dengan perencanaan

gedung terminal untuk dapat melayani volume lalu – lintas pesawat yang akan

menggunakan bandar udara lintas pesawat serta hal – hal yang dipertimbangkan

dalam perencanaan apron antara lain adalah faktor keamanan, efisiensi,

fleksibilitas ( kemampuan pengembangan ), ketersediaan lahan, volume, lalu

banyak faktor lain yang membutuhkan prioritas tersendiri dalam perencanaan

tersebut. Ukuran dari apron didesain agar apron masih dapat beroperasi dengan

baik pada saat bandara tersebut berada pada saat kepadatan maksimum yang

mungkin terjadi.

27
Kekuatan setiap bagian dari apron didesain agar mampu untuk menahan

tekanan yang berasal dari setiap pesawat yang melaluinya. Biasanya apron

mempunyai kepadatan (densiti) yang tinggi sebagai akibat dari pesawat yang

tinggal atau pesawat yang bergerak dengan lambat, sehingga tekanan pada

apron ini biasanya lebih besar bila dibandingkan dengan runway.

Dalam merencanakan suatu apron pada Bandar Udara secara umum

metedologi yang digunakan adalah

Mulai

Perencanaan Jumlah Pintu dan Pesawat pada Terminal

Perencanaan Luas Pintu (Gate) dan Luas Apron

Perencanaan Kemiringan Apron

Sisitem Parkir Pesawat pada Area Apron

Konfigurasi Sistem Parkir Pesawat

Perencanaan Jalan Pada Apron

Selesai

28
BAB V

PEMBANGUNAN BANDAR UDARA DI INDONESIA

Perkembangan infrastrukur di Indonesia, kian hari makin berkembang. Hal

tersebut tampak dari berbagai sarana dan prasarana yang telah beroperasi atau

masih dalam tahap pembangunan. Salah satu yang paling nampak ialah bandara.

Berikut adalah beberapa daftar bandara baru di Indonesia dari tahun 2018

hingga tahun 2019 baik yang masih dalam proses pembangunan maupun telah

beroperasi.

1. Bandara Maratua, Berau

Pada tanggal 25 Oktober 2018 lalu, Presiden Jokowi meresmikan Bandara Maratua

yang berada di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Banyak pihak yang berharap

bahwa dengan adanya bandara ini, dapat memajukan pariwisata daerah. Terlebih, Berau

29
memang dikenal keindahan bawah lautnya, spot-spot diving, dan juga resort. Hal itu

membuat banyak wisatawan tertarik untuk berkunjung.

2. Bandara APT Pranoto, Samarinda

Peresmian Bandara APT Pranoto di Samarinda, Kalimantan Timur

ini bersamaan dengan Bandara Maratua di Berau. Saat ini, enam

maskapai telah melayani penerbangan di Bandar Udara Aji Pangeran

Tumenggung (APT) Pranoto. Rutenya pun tak hanya antar provinsi,

melainkan internasional, mulai dari Kuala Lumpur, Kuching,

Kinabalu, Brunei Darussalam, juga Singapura.

3. Bandara Kertajati, Majalengka

30
Bandara Kertajati yang terletak di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat,

digadang menjadi bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-

Hatta, Cengkareng, Tangerang. Setelah mangkrak di tahun 2003, akhirnya

pemerintah mengebut pembangunannya pada 2014.

Bandara dengan luas sekitar 1.800 hektare (ha) ini akan melayani

penerbangan ke Denpasar, Surabaya, Ujung Pandang, Balikpapan dan Medan.

Termasuk embarkasi penumpang haji dari Jawa Barat.

Bandara yang dibangun dengan nilai proyek Rp2,6 triliun ini akan dapat

memfasilitasi hingga 5,6 juta penumpang untuk tahun pertama. Pada tahun

berikutnya, bandara diperkirakan akan mampu menampung hingga 18 juta

penumpang. Bandara juga dilengkapi dengan ruang tunggu ekslusif dengan

miniature Ka'bah. Landasan pacu (runway) berukuran 2.500x60 meter dan akan

diperpanjang menjadi 3.000x60 meter sehingga bisa melayani 800 pergerakan

pesawat berbadan besar.

PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) selaku pengelola berencana

membangun asrama haji embarkasi Jabar seluas 17 ha dengan kapasitas 1.200

orang. BIJB juga akan membangun apartemen empat tower berkapasitas 1.000

kamar. Seluruh proyek dikerjakan akhir tahun 2018.

Bandara ini sebelumnya diresmikan Presiden Joko Widodo pada 24 Mei

2018. Adapun penerbangan sipil perdana di bandara itu dilakukan 8 Juni 2018

lalu.

4. Bandara Wiriadinata, Tasikmalaya

31
Masih berada di Jawa Barat, Bandara Wiriadinata juga baru

diresmikan oleh Jokowi tanggal 27/2/2019 kemarin, walau sarana ini

telah beroperasi sejak tahun 2017 lalu. Wiriadinata melayani

penerbangan maskapai Wings Air dengan rute Tasikmalaya-Jakarta

(Halim Perdana Kusuma). Setelah adanya revitalisasi, akan ada

penambahan penerbangan dari Maskapai Garuda Indonesia dan

Citilink.

5. Bandara NYIA, Kulon Progo

32
Satu bandara yang masih dalam tahap pembangunan ialah

Bandara NYIA (New Yogyakarta Airport) yang berada di kecamatan

Temon, Kabupaten Kulon Progo. Direncanakan akan mulai beroperasi

pada bulan April 2019 tahun ini. Proses pembangunan bandara bisa

dibilang cepat. Konstruksi dan pengaspalan lapis awal landasan pacu

bandara telah rampung, padahal pembangunan bandara baru dimulai

pada bulan Oktober 2018 lalu.

Bandara yang akan dibangun di atas lahan seluas 587 hektar ini digadang

bakal menjadi satu di antara bandara terbesar dan termegah di Indonesia. Data PT

Angkasa Pura I, NYIA pada tahap pertama pembangunannya (2020-2030) akan

memiliki terminal seluas 130 ribu meter persegi dengan kapasitas hingga 15 juta

penumpang per tahun. Adapun panjang runway akan dibangun dengan panjang

3.200 meter dan lebar 45 meter. Nantinya, pada pengembangan tahap II (2031-

2041) terminal akan dikembangkan menjadi 195 ribu meter persegi hingga

mampu menampung 20 juta penumpang per tahun. Runway pun akan diperanjang

hingga 3.600 meter dan lebar 45 meter dengan apron yang bisa diparkiri 45

peswat. Bandara juga akan dijadikan kawasan logistic, kawasan industry, serta

kawasan wisata dalam satu kawasan ekonomi terpadu. Konektivitas antar kota

dihubungan dengan jalan nasional dan juga jalur kereta api.

6. Bandara Kediri

Bandara Kediri, Jawa Timur, merupakan bandara yang dibangun oleh

perusahaan rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dengan luas sekitar 500

33
hektare (ha). Per Juli tahun lalu GGRM telah membebaskan lahan seluas 400 ha.

Hingga tahun lalu, perusahaan mengaku sudah menghabiskan dana sekitar Rp1

triliun. Diprekirakan investasi pembangunan bandara ini memakan biaya senilai

Rp1-10 triliun.

Bandara Kediri masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), dipertegas

dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 3/2018 tentang Percepatan Pelaksanaan

Proyek Strategis Nasional. Pembangunannya akan dibangun dengan skala

internasional dengan panjang landasan pacunya juga akan disesuaikan dengan

kebutuhan maskapai internasional.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebelumnya membeberkan landas

pacu bandara ini akan dibangun dengan panjang 3.000 meter dengan

pembangunan tahap awal sekitar 2.400 meter. Kendati demikian, belum diketahui

kapan pelaksanaan pembangunan bandara akan dilakukan.

7. Bandara Baru di Bali Utara

Pembangunan bandara baru di Bali Utara ini diharapkan akan mampu

mengembangkan pariwisata di Bali bagian utara. Bandara yang akan dibangun di

Kubutambahan, Buleleng, ini rencananya akan mulai dibangun tahun ini.

Diharapkan pembangunan bandara ini akan melengkapi fasilitas di Bandara I

Gusti Ngurah Rai yang hanya terdiri dari satu runway.

Akhir tahun lalu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi melongok area

calon bandara. Rencananya bandara bakal melayani low cost carrier (LCC). Budi

menyebut lokasi pembangunan bandara baru bakal ditetapkan usai uji kelayakan.

34
Dari tiga lokasi Grogak, Celukan Bawang, dan Kubutambahan disebut paling

ideal untuk pembangunan bandara baru.

Rencananya runway bandara bakal dibangun sepanjang 3.000x45 meter.

Kapasitas bandara Bali Utara diprediksi bakal lebih besar dibanding Bandara I

Gusti Ngurah Rai karena dibangun di atas lahan seluas 300400 hektar.

8. Pengembangan Bandara Soekarno-Hatta II

PT Angkasa Pura II mulai mengembangkan masterplan pembangunan

Bandara Soekarno-Hatta II. Direktur Utama PT AP II Muhammad Awaluddin

sempat mengatakan sembari akan membangun Terminal 4 di kawasan bandara,

selanjutnya pihaknya akan mengembangkan Bandara Soekarno Hatta II untuk

menunjang pertumbuhan pergerakan penumpang dan pesawat.

Rencananya, Bandara Soekarno Hatta II akan diperluas ke arah Timur

bandara yang ada saat ini. Hal ini menyusul kekhawatiran jumlah penumpang

yang akan melonjak jelang tahun 2025 mencapai 100 juta penumpang. Bandara

Soekarno-Hatta II akan dibangun di atas lahan seluas 2.000 ha.

Di sisi lain, pembangunan Terminal 4 kini sedang disiapkan. Rencananya

proyek ini akan menelan anggaran sebesar Rp11 triliun. Pembangunannya baru

akan dimulai tahun 2020. Adapun lahan terminal 4 berdiri di atas lahan bekas

Cengkareng Glof Club. Luas Terminal 4 390 ribu meter persegi atau hampir sama

dengan luas lahan Terminal 3.

35
Pembangunan infrastruktur di tanah air kian berkemban termasuk adanya

sejumlah bandara baru di Indonesia. Hal ini diharapkan dapat membuat

perekonomian di Indonesia meningkat untuk kedepannya

36
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Bandar udara merupakan area yang secara reguler dipergunakan untuk

mendarat (landing) dan lepas landas (take off) pesawat udara, naik turun

penumpang, dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos, serta dilengkapi

dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan

antar moda transportasi.

2. Secara umum bandar udara terdiri dari dua bagian, yaitu sisi udara (air

side) yang terdiri dari Landasan pacu (runway), Landasan hubung

(taxiway), dan landasan parkir (apron) serta sisi darat (land side) berupa

bangunan terminal yang terdiri dari sejumlah gedung dan fasilitas penunjang

dari sebuah bandara seperti daerah keberangkatan (depature & arrival), jalur

masuk, kantor pengelola bandar udara, depot pengisian pesawat dan masih

banyak lagi prasarana lainnya.

3. Pembangunan suatu bandar udara tidak lepas dari adanya izin pembangunan

bandar udara yang tentunya harus sesuai dengan prosedur yang ada dan tak

luput dari dasar hukum, persyaratan serta tahapan prosedur pengajuan

permohonan

37
4. Secara umum tahapan pembangunan bandara ada 3 yaitu perencanaan

runway, perencanaan taxyway dan perecananaan apron yang pastinya sesuai

dengan standar yang telah ditentukan.

5. Perkembangan infrastrukur di Indonesia, semakin hari semakin berkembang.

Dibutikan dengan maraknya pembangunan serta pengembangan bandar udara

di Indonesia. Dengan ini diharapkan dapat membuat perekonomian di

Indonesia meningkat untuk kedepannya.

6. Saran

Diharapkan kepada pembaca agar mencari lebih banyak referensi mengenai

pembangunan bandar udara untuk dapat lebih memahami tentang materi ini.

38
DAFTAR PUSTAKA

dephub,hubud.(2019, Mei 24). Izin pembangunan bandara. Diambil kembali dari :


http://hubud.dephub.go.id/?id/izin/detail/86

kppip.(2019, Mei 24) Proyek pembangunan bandar udara baru. Diambil kembali dari :
https://kppip.go.id/proyek-strategis-nasional/f-proyek-pembangunan-bandar-udara-
baru/

dephub,hubud.(2019, Mei 24). Izin pembangunan bandara. Diambil kembali dari :


http://hubud.dephub.go.id/?id/izin/detail/4

travellingyuk.(201, Juni 1).Bandara baru di Indonesia. Diambil kembali dari :


https://travelingyuk.com/bandara-baru-di-indonesia/182518/

Indonesia,cnbc.(2019, Juni 1).Ini 5 proyek bandara raksasa RI ada yang bisa salip
Changi. Diambil kembali dari :
https://www.cnbcindonesia.com/news/20190120134328-4-51489/ini-5-proyek-
bandara-raksasa-ri-ada-yang-bisa-salip-changi

Scribd.( 2019, Mei 24). Tugas perencanaan bandar udara. Diambil kembali dari :
https://www.scribd.com/document/267952152/Tugas-Perencanaan-Bandar-Udara

Scribd.( 2019, Mei 24). Tugas perencanaan lapangan terbang. Diambil kembali dari :
https://www.scribd.com/doc/123917438/Tugas-Perencanaan-Lapangan-
Terbang#download

Scribd.( 2019, Mei 24). Perencanaan bandara. Diambil kembali dari :


https://www.scribd.com/document/251050962/perencanaan-bandara

Scribd.( 2019, Mei 24). Perencanaan runway taxyway dan apron untuk pesawat tipe B
737 900 ER. Diambil kembali dari :
https://www.scribd.com/doc/121806985/PERENCANAAN-RUNWAY-
TAXIWAY-DAN-APRON-UNTUK-PESAWAT-TIPE-B-737-900-ER#download

39
Scribd.( 2019, Mei 24). Tugas makalah perancangan bandar udara I. Diambil kembali
dari : https://www.scribd.com/doc/224493998/Tugas-Makalah-Perancangan-
Bandar-Udara-I-docx

40