Anda di halaman 1dari 37

RANCANGAN AKTUALISASI

LATIHAN DASAR CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL


GOLONGAN II PEMERINTAH KOTA PALEMBANG

PENGOPTIMALAN SARANA PENYULUHAN ASI EKSLUSIF DI


PUSKESMAS 4 ULU PALEMBANG

Disusun Oleh:
FITRI HANDAIYANI
NIP . 19950108 201902 2 004

Peserta Pelatihan Dasar CPNS Golongan II


PEMERINTAH KOTA PALEMBANG
Angkatan XI
NDH : 012

PEMERINTAH PROVINSI SUMATRA SELATAN


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DAERAH
PELATIHAN DASAR CPNS GOLONGAN II ANGKATAN XI
BEKERJASAMA DENGAN PEMERINTAH KOTA DAN DINAS KESEHATAN
KOTA PALEMBANG
TAHUN 2019
LEMBAR PERSETUJUAN
PENGOPTIMALAN SARANA PENYULUHAN ASI EKSLUSIF DI
PUSKESMAS 4 ULU PALEMBANG

Disusun Oleh:
FITRI HANDAIYANI
NIP . 19950801 201902 2 004
NDH: 012

Telah Diseminarkan dan disetujuI pada:


Hari/Tanggal : Sabtu, 11 Mei 2019
Tempat : Balai Diklat Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan
Palembang

COACH, MENTOR,
KEPALA PUSKESMAS

Drs NURSIWAN .MM dr Hj NURHAYATI, MN


Widyaiswara Ahli Madya Pembina Tingkat I
NIP. 196709231992031005 NIP. 166110241996102001

Diketahui/Disetujui Oleh:
KEPALA BALAI PENDIDIKAN DAN
PELATIHAN PENERBANGAN PALEMBANG

M ANDRA KATA PENGANTARS.T.MT


ADITYAWARMAN,
Pembina Tingkat I
KATA PENGANTAR
NIP. 196807291996031001
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
rancangan aktualisasi ini dengan judul “Pengoptimalan Sarana Penyuluhan ASI
Ekslusif di Puskesmas 4 Ulu Palembang” yang merupakan salah satu syarat
untuk menyelesaikan pendidikan dan pelatihan dasar (Latsar) CPNS
Pemerintah Kota Palembang tahun 2019.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusun laporan
rancangan aktualisasi ini, khususnya kepada:
1. dr Hj. Nurhayati, MN selaku pimpinan puskesmas 4 ulu Palembang
sekaligus mentor dalam penyusunan laporan rancangan aktualisasi ini
2. Bapak Drs. Nursiwan, MM selaku coach dalam penyusunan laporan
rancangan aktualisasi ini
3. Bapak dan Ibu widyaiswara yang telah memberikan materi dengan tulus
dan semangat selama pendidikan dan pelatihan
4. Orang tua, dan keluarga yang senantiasa memberikan doa dan dukungan
terbaik
5. Teman-teman seperjuangan di latsar golongan II angkatan XI di Balai Diklat
Penerbangan Palembang yang senantiasa saling mendukung selama
proses diklat, dan memberi bantuan dalam penyusunan rancangan
aktualisasi ini.
Penulis menyadari bahwa laporan rancangan aktualisasi ini masih banyak
kekurangan, maka dari itu kritik dan saran yang membangun selalu penulis
harapkan agar laporan rancangan aktualisasi ini jauh lebih baik. Semoga
laporan rancangan aktualisasi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan semua
pihak yang berkepentingan.

Palembang, Mei 2019

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................... i
LEMBAR PERSETUJUAN ...................................................... ii
KATA PENGANTAR.................................................................... iii
DAFTAR ISI................................................................................. v
DAFTAR TABEL.......................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR.................................................................... vii
BAB I PENDAHULUAN............................................................ 1
A.....................................................................................Latar Belakang
........................................................................................ 1
B.....................................................................................Tujuan dan
Manfaat........................................................................... 3
C.....................................................................................Ruang Lingkup
........................................................................................ 3
BAB II RANCANGAN AKTUALISASI (HABITUASI)................ 4
A......................................................................................Deskripsi
Organisasi....................................................................... 4
1. Profil Organisasi................................................ 4
2. Visi, Misi, Motto, dan Nilai-Nilai Organisasi....... 7
B......................................................................................Deskripsi
Isu/Situasi Problematik................................................... 8
C.....................................................................................Analisis Isu
........................................................................................ 9
D.....................................................................................Argumentasi
terhadap Core Issue Terpilih........................................... 12
E......................................................................................Nilai-Nilai Dasar
Profesi PNS.................................................................... 13
F......................................................................................Matrik
Rancangan..................................................................... 26
G.....................................................................................Jadwal
Kegiatan.......................................................................... 35
H.....................................................................................Kendala dan
Antisipasi........................................................................ 36
Daftar Pustaka............................................................................ 37

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Deskripsi isu/ situasi problematik 9

2. Pembobotan analisis AKPK dan USG 10

3. Analisis kriteria isu dengan alat analisis AKPK 10

4. Analisis kualitas isu dengan alat analisis USG 11

5. Matrik rancangan aktualisasi 27

6. Jadwal kegiatan aktualisasi 35

7. Kendala dan antisipasi 36


DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2. 1 Gedung RSUD Palembang Bari 4

2. 2 Struktur Organisai RSUD Palembang Bari 6


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara


mengamanatkan Instansi Pemerintah Untuk wajib memberikan Pendidikan dan
Pelatihan terintegrasi bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selama satu
(satu) tahun masa percobaan. Tujuan dari Pelatihan terintegrasi ini adalah
untuk membangun integritas moral, kejujuran, semangat dan motivasi
nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan
bertanggungjawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang.
Dengan demikian UU ASN mengedepankan penguatan nilai-nilai dan
pembangunan karakter dalam mencetak PNS.
Pelatihan ini memadukan pembelajaran klasikal dan non-klasikal di
tempat Pelatihan serta di tempat kerja, yang memungkinkan peserta mampu
untuk menginternalisasi, menerapkan, dan mengaktualisasikan, serta
membuatnya menjadi kebiasaan (habituasi), dan merasakan manfaatnya,
sehingga terpatri dalam dirinya sebagai karakter PNS yang professional. Nilai-
nilai Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti korupsi
(ANEKA) merupakan nilai-nilai dasar profesi PNS yang perlu diterapkan dan
dimaknai dalam setiap kegiatan yang dilakukan PNS sesuai dengan Tugas
Pokok dan Fungsi (Tupoksi) nya. Oleh karena itu dalam diklat pra Jabatan yang
wajib diikuti setiap CPNS diberikan materi yang berkaitan dengan ANEKA untuk
selanjutnya dilakukan dan dimaknai dalam kegiatan aktualisasi yang dilakukan
pada tahap kedua di instansi masing-masing. Diharapkan setelah selesai
rangkaian diklat pra jabatan, setiap PNS dapat melaksanakan tugas dengan
dilandasi nilai-nilai ANEKA.
Kementerian Kesehatan RI menargetkan cakupan ASI eksklusif 6 bulan
sebesar 80%. Namun demikian sangat sulit untuk dicapai bahkan tren
prevalensi ASI eksklusif masih jauh dari target. Seperti halnya cakupan ASI
ekslusif di puskesmas 4 ulu pada tahun 2018 hanya sebesar 73% dari nilai
yang ditargetkan sebesar 82%.
Air susu ibu (ASI) merupakan makanan paling ideal bagi kelangsungan
hidup, pertumbuhan dan perkembangan bayi. Keuntungan ASI akan lebih
optimal jika bayi diberi ASI saja hingga usia enam bulan pertama. Setiap ibu
yang melahirkan harus memberikan ASI ekslusif kepada bayi yang
dilahirkannya (PP no 33 tahun 2012). Di Indonesia menyusui bayi sudah
menjadi budaya, namun upaya meningkatkan perilaku ibu memberikan ASI
ekslusif masih diperlukan karena pada kenyataanya praktik pemberian ASI
ekslusif belum dilaksanakan sepenuhnya. Penyebab utama adalah faktor sosial
budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas
kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung Program Peningkatan Ais
Susu Ibu (PP ASI), gencarnya promosi susu formula, rasa percaya diri ibu
masih kurang, serta rendahnya pengetahuan ibu tentang manfaat ASI bagi bayi
dan dirinya (Depkes RI, 2005).
Pemberian ASI eksklusif dapat menurunkan mortalitas bayi,
menurunkan morbiditas bayi, mengoptimalkan pertumbuhan bayi, membantu
perkembangan kecerdasan anak, dan membantu memperpanjang jarak
kehamilan bagi ibu. Selain untuk menekan kematian ibu dan anak, ASI
eksklusif juga biaya kesehatan yang ditimbulkan akibat risiko morbiditas pada
anak. Penelitian yang dilakukan di Inggris bahwa dengan mendukung ibu yang
menyusui secara eksklusif pada 1 minggu untuk melanjutkan menyusui sampai
4 bulan dapat menurunkan insiden penyakit infeksi pada masa kanak-kanak
dan menghemat minimal £ 11.000.000 per tahun (Pokhrel et all. 2014).
Faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif menurut Rambu
(2015) ada empat yaitu pengetahuan tentang ASI eksklusif, dukungan
keluarga, mitos/kepercayaan dan promosi susu formula. Keempat faktor ini
saling mempengaruhi dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Ibu juga
memerlukan dukungan dari orang-orang sekitarnya untuk menunjang
keberhasilan perilaku ASI eksklusif, baik itu dari keluarga maupun dari petugas
kesehatan atau yang menolong persalinan. Peranan petugas kesehatan sangat
penting dalam melindungi, meningkatkan, dan mendukung usaha menyusui
harus dapat dilihat dalam segi keterlibatannya yang luas dalam aspek sosial.
Peran petugas dalam promosi kesehatan sangat diperlukan berkaitan
agar Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) berupa preventif dan
promotif dapat direalisasikan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 1114/Menkes/SK/VII/2005 tentang pedoman promosi kesehatan daerah.
Pelaksanaan program promosi kesehatan yang belum efektif merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi cakupan ASI eksklusif di Puskesmas. Oleh
karena itu peserta tertarik untuk mengangkat rancangan aktualisasi tentang
pengoptimalan sarana penyuluhan ASI ekslusif di puskesmas 4 ulu Palembang.

B. Tujuan dan Manfaat


1.1 Tujuan :
a. Untuk mengidentifikasikan Nilai-nilai Dasar Profesi PNS, Peran dan
Kedudukan PNS dalam NKRI dalam aktualisasi.
b. Mampu menerapkan Peran dan Kedudukan PNS dalam NKRI dalam
lingkungan kerja.
c. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Latihan Dasar CPNS
Pemerintah Kota Palembang.
1.2 Manfaat :
a. Mewujudkan sikap professional, akuntabel, sinergi, dan transparan
sebagaimana moto Dinas Kesehatan Kota Palembang.
b. Peserta diklat diharapkan dapat malaksanakan peran dan kedudukan
ASN dalam NKRI di tempat kerja.

C. Ruang Lingkup
Aktualisasi peran dan kedudukan Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam
NKRI sebagai unsur aparatur negara dilakukan di Puskesmas 4 ulu
Palembang. Ruang lingkup rancangan aktualisasi meliputi pengoptimalan
sarana penyuluhan guna meningkatkan nilai cakupan ASI ekslusif di wilayah
kerja puskesmas 4 ulu Palembang berkaitan dengan nilai-nilai dasar profesi
PNS yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti
korupsi (ANEKA).

BAB II

RANCANGAN AKTUALISASI (HABITUASI)

D. Deskripsi Organisasi
1. Profil Puskesmas 4 Ulu
Puskesmas 4 Ulu didirikan pada tahun 1975, dimulai dari pusat
pelayanan kesehatan Ibu dan Anak serta pengobatan umum, merupakan
wakaf dari salah satu warga kecamatan Seberang Ulu I. Puskesmas 4 Ulu
terletak di Jalan K.H.M.Asyik Kelurahan 3-4 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I
Palembang. Masyarakat yang ingin berobat dapat menjangkaunya dengan
berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan bermotor.Puskesmas 4 Ulu
tidak dilewati kendaraan umum. Puskesmas 4 Ulu sebagai unit pelaksana
teknis Dinas Kesehatan Kota Palembang yang bertanggungjawab untuk
melaksanakan identifikasi kondisi masalah kesehatan masyarakat dan
lingkungan di wilayah Kerja Puskesmas 4 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I
Palembang serta fasilitas pelayanan kesehatan yang meliputi cakupan mutu
pelayanan,identifikasi mutu sumber daya manusia serta menetapkan
kegiatan untuk menyelesaikan masalah.
Puskesmas 4 Ulu telah beberapa mengalami perbaikan fisik yaitu pada
tahun 2000, tahun 2005, dan renovasi total dilakukan tahun 2007 , serta
perluasan bangunan juga pembuatan gedung baru untuk labolatorium tahun
2015 dan perbaikan terakhir dengan adanya penambahan ruang pertemuan
pada tahun 2017, sehingga tampak seperti penampilan saat ini.

Gambar 1.1 Puskesmas 4 ulu

Letak dan Batas Wilayah Kerja Puskesmas 4 Ulu

Terletak di Jalan K.H.M.Asyik Kelurahan 3-4 Ulu Kecamatan Seberang


Ulu I Palembang dengan Luas Wilayah : 2850 Ha terbagi menjadi 23 Rw dan
119 Rt. Pada tahun 2018 jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas 4 Ulu
sebanyak 47.576 jiwa.
Batas wilayah kerja Puskesmas 4 Ulu
 Sebelah utara : 3-4 ulu dengan sungai Musi
 Sebelah selatan : Sungai Musi
 Sebelah barat : 3-4 ulu dengan I ulu dan musi
 Sebelah timur : 7 ulu dan jalan KH. Wahid Hasyim
Wilayah kerja puskesmas 4 ulu Palembang terdiri dari 2 kelurahan
dengan masing-masing yaitu :
a) Puskemas 4 Ulu yang berada di Kelurahan 3-4 Ulu
b) Puskesmas Pembantu 5 Ulu beralamat di Jln.H Azhari Lrg.Lakso
Rt.01 kelurahan 5 Ulu .

Puskesmas Pembantu
Pustu adalah unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan berfungsi
menunjang dan membantu memperluas jangkauan puskesmas dengan
melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan puskesmas dalam ruang
lingkup wilayah yang lebih kecil serta jenis dan kompetensi pelayanan yang
disesuaikan dengan kemampuan tenaga dan sarana yang tersedia.
Keadaan Kependudukan
Pada tahun 2018, jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas 4 Ulu
Adalah 47.576 jiwa , terdiri dari 23.488 jiwa laki-laki dan 24.088 jiwa
Perempuan.

Struktur Organisasi

PIMPINAN PUSKESMAS
dr Hj Nurhayati, MN SISTEM FORMASI
Febiansyah, A.Md

KEPEGAWAIAN
KEPALA SUB BAGIAN TATA USAHA Yuliantini, ST
Hj Maya Mardiah, SKM RUMAH TANGGA
Rosidah, SE
KEUANGAN
Niken Santika, AMG

PENANGGUNG JAWAB
PENANGGUNG JAWAB
PENANGGUNG JAWAB UKP JARINGAN YANKES DAN
UKM
dr Hj Marilin Natalia JEJARING FASYANKES
drg Oggie Wijayanto
dr Tuti Tanri
UKM ESENSIAL Pelayanan Pendaftaran JARINGAN
Pujianita Markhamah, SKM
Pelayanan termasuk UKS:
Pelayanan Pemeriksaan Umum: Pustu 5 ulu:
drg Oggie Wijayanto
dr Hj Marilin Natalia Hj Deyeri AM.Keb
Pelayanan Kesling:
Pelayanan Kesehatan Gigi & Mulut:
Desmiati AM.KL
drg Oggie Wijayanto Poskeskel 3-4 ulu:
Pelayanan KIA-KB:
Hj Valentina AMKG Dewi Isyati AMKeb
Rusnah AMKeb
Pelayanan Imunisasi:
Pelayanan Gizi: JEJARING
Hj Rodiah, AM.Kep Prskeskel 5 ulu:
Niken Santika AMG
Pevi Ellisse, AM.Keb Yunani, AMKeb
PelayananUKM
P2P: PENGEMBANGAN Klinik :
Pelayanan Lansia:
Hj Sari Sartika AMKeb Gita
Misnaini Arianti
Pelayanan
PelayananKesehatan
Perkesmas:Jiwa: Hani Hadi
Pelayanan Gawat Darurat:
H Gusdiyanto, Sifta Indah, AMKep
S.Kep 5 ulu
H Gusdiyanto, S.Kep
Pelayanan Kesehatan Gigi Masyarakat:
Pelayanan Promkes:
drg Oggie Wijayanto Apotek:
Yunita Wisandra, SKM
Hj Valentina AMKG K24
Khoirunnisah, SKM
Pelayanan Tradisional Komplementer: KITO
Pelayanan Kefarmasian:
Ellyana AMF Adysah Farma
Ellyana AMF
Pelayanan Kesehatan Olahraga:
Grease Prathama, AMF
Hj Valentina AMKG Rumah Sakit:
Sri Hatipa
Pelayanan Kesehatan Indera: RSUD Palembang Bari
Lidia Ermiza, S.Farm.Apt
Hj Sari Agus Sartika, AMKeb
Pelayanan KIA-KB:
Pelayanan Lansia: BPS
Rusnah AMKeb
Misnaini Arianti Dewi Isyati AM.Keb
Pelayanan MTBS:
Gambar 2.1 Struktur Organisasi

2. Visi, Misi, dan nilai Organisasi

a. Visi

“ Terwujudnya masyarakat sehat di wilayah kerja Puskesmas 4 Ulu “

b. Misi

Meningkatkan kemandirian masyarakat untuk berprilaku hidup bersih


dan sehat.
Meningkatkan pelayanan yang bermutu prima
Meningkatkan kemitraan dengan semua pihak

c. Motto

“SENYUM, RAMAH, dan SABAR Selama Menjalankan tugas“

d. Tata Nilai :

P = Profesional
Memiliki kompetensi dan kemampuan dalam memberikan
pelayanan kesehatan yang baik.
R = Ramah
Memiliki sikap yang sopan dan santun kepada seluruh
masyarakat dan rekan kerja.
I = Inisiatif dan Inovatif
Memiliki kemampuan untuk bekerja mandiri dengan ide ide
kreatif serta memberi terobosan bagi peningkatan
pelayanan kesehatan
M = Malu
Memiliki budaya malu bila tidak melaksanakan tugas dengan sebaik
baiknya
A = Adil
Adil pada semua pasien yang datang ke puskesmas

e. Kebijakan Mutu Puskesmas 4 Ulu


Kami seluruh karyawan Puskesmas Empat Ulu berkomitmen untuk
memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu prima, berorientasi pada
kebutuhan dan harapan pelanggan serta memperhatikan keselamatan
pasien, mengadakan perbaikan berkelanjutan, adil, inovatif demi
terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang optimal .

E. Deskripsi Isu/Situasi Problematik


Pengertian isu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah masalah
yg dikedepankan untuk ditanggapi; kabar yang tidak jelas asal usulnya dan
tidak terjamin kebenarannya; kabar angin; desas desus. Setidaknya ada 3
(tiga) faktor yang mempengaruhi dan perlu mendapatkan perhatian dalam
menetapkan isu yang akan diangkat, yaitu kemampuan melakukan:

1. Enviromental Scanning, yaitu peduli terhadap masalah dalam organisasi


dan mampu memetakan hubungan kausalitas.

2. Problem Solving, mampu mengembangkan dan memilih alternatif, dan


mampu memetakan aktor terkait dan perannya masing-masing.

3. Analysis, mampu berpikir konseptual (mengkaitkan dengan substansi


Mata Pelatihan), mampu mengidentifikasi implikasi/dampak/manfaat dari
sebuah pilihan kebijakan/program/kegiatan/ tahapan kegiatan.

Berdasarkan hasil pengamatan studi lapangan, situasi problematik yang


terjadi di Puskesmas 4 Ulu dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Rendahnya inisiatif keluarga pasien gizi buruk untuk datang kembali
mengontrol kesehatan ke puskesmas

2. Kurangnya sarana penyuluhan membuat cakupan ASI ekslusif belum


tercapai

3. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam berperilaku hidup bersih dan


sehat

4. Kurangnya promosi kesehatan dibidang gizi untuk melakukan konseling


gizi

5. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya gizi untuk


tumbuh kembang anak
Adapun 5 (lima) isu diatas akan dijelaskan secara ringkas pada table
dibawah ini :
Keterk
ait
Kondis an Identifikasi
Identifikasi Isu/
i De Akar
NO Kondisi
Ide ng Permasala
Sekarang
al an han
Ma
teri
1. Rendahnya Pasien Pelaya Karena
inisiatif de na pengetahu
keluarga ng n an
pasien gizi an Pu masyarakat
buruk untuk sta blik yang
datang tus kurang dan
kembali gizi tidak
mengontrol bur menerima
kesehatan uk bahwa
ke raji keadaan
puskesmas n anaknya
me yang gizi
ng buruk.
ont
rol
kes
eh
ata
n
ke
pu
ske
sm
as
2. Sarana Pelaya Pemanfaatan
Kurangnya pe na fasilitas
ny n yang
sarana ulu Pu kurang
penyuluhan ha blik
n
membuat ya
cakupan ASI ng
efe
ekslusif ktif
belum ma
ka
tercapai inf
or
ma
si
ak
an
lebi
h
mu
da
h
me
ny
eb
ar
3. Rendahnya Penera Pelaya Daerah
kesadaran pa na pinggiran
masyarakat n n sungai
dalam per Pu yang masih
berperilaku ilak blik termasuk
hidup bersih u kategori
dan sehat hid kumuh
up
ber
sih
da
n
se
hat
ya
ng
opt
im
al
4. Kurangnya Masyar Pelaya Rendahnya
promosi ak na tingkat
kesehatan at n pendidikan,
dibidang gizi sa Pu dan
untuk dar blik kurangnya
melakukan me pengetahu
konseling lak an.
gizi uk
an
ko
ns
elin
g
gizi
itu
pe
nti
ng,
da
n
tid
ak
ha
ny
a
unt
uk
ora
ng
ya
ng
sak
it
saj
a
5. Rendahnya Penget Pelaya Rendahnya
pengetahua ah na tingkat
n ua n pendidikan,
masyarakat n Pu dan
tentang gizi blik kurangnya
pentingnya ma pengetahu
gizi untuk sya an.
tumbuh rak
kembang at
anak me
nin
gk
at.
Tabel 1. Deskripsi Isu / Situasi Problematik

F. Analisis Isu

Analisis isu dilakukan untuk menetapkan kriteria isu dan kualitas isu.
Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan kualitas isu tertinggi. Disamping itu
tidak semua isu bisa dikategorikan menjadi isu actual, oleh karena itu perlu
dilakukan analisis kriteria isu, alat analisis kriteria isu dengan menggunakan
alat analisis AKPK (Aktual, Kekhalayakan, Problematika, Kelayakan),
sedangkan menentukan kualitas isu dengan menggunakan alat analisis USG
(Urgency, Seriousness, Growth).
Alat analisa dengan menggunakan AKPK (kriteria isu)
1. Aktual : Benar-benar terjadi, sedang hangat dibicarakan di masyarakat.
2. Kekhalayakan: Isu menyangkut hajat hidup orang banyak
3. Problematik: Isu memiliki dimensi masalah yang kompleks sehingga perlu
dicarikan solusinya sesegera mungkin.
4. Kelayakan: masuk akal, realisitis, relevan untuk dimunculkan inisiatif
pemecahan masalahnya.

Pembobotan dan analisis AKPK :


Bobot Keterangan
5 Sangat kuat pengaruhnya
4 Kuat pengaruhnya
3 Sedang pengaruhnya
2 Kurang pengaruhnya
1 Sangat kurang pengaruhnya
Tabel 2. Bobot Penetapan Kriteria Kualitas ISU AKPK dan USG

ANALISIS KRITERIA ISU DENGAN ALAT ANALISIS AKPK


A K P K PERING
NO ISU JML
(1-5) (1-5) (1-5) (1-5) KAT
1. Rendahnya inisiatif keluarga pasien 2 4 5 3 14 II
gizi buruk untuk datang kembali
mengontrol kesehatan ke
puskesmas

2. 3 5 4 4 16 I
Kurangnya sarana penyuluhan
membuat cakupan ASI ekslusif
belum tercapai

3. Rendahnya kesadaran masyarakat 3 4 2 3 12 IV


dalam berperilaku hidup bersih dan
sehat
4. Kurangnya promosi kesehatan 2 2 2 2 8 V
dibidang gizi untuk melakukan
konseling gizi

5. Rendahnya pengetahuan 3 4 3 3 13 III


masyarakat tentang pentingnya gizi
untuk tumbuh kembang anak

Tabel 3. Tabel Analisis Isu Menggunakan AKPK


Analisis Kriteria Isu dengan alat analisis AKPK tersebut kemudian diambil tiga
nilai tertinggi yaitu:

1. Kurangnya sarana penyuluhan membuat cakupan ASI ekslusif belum


tercapai.

2. Rendahnya inisiatif keluarga pasien gizi buruk untuk datang kembali


mengontrol kesehatan ke puskesmas.

3. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya gizi untuk


tumbuh kembang anak.

Dari ketiga kriteria isu yang mendapat ranking tiga besar tersebut
kemudian dilkaukan analisis lanjutan yaitu analisis kualitas isu dengan alat
analisis USG (Urgency, Seriousness, Growth).
Alat analisa menggunakan USG (kualitas isu).
1. Urgency: seberapa mendesak isu itu harus dibahas, dianalisis dan
ditindaklanjuti.
2. Seriousness: seberapas serius isu itu harus dibahas dikaitkan dengan
akibat yang ditimbulkan.
3. Growth: seberapa besar kemungkinan memburuknya isu tersebut jika
tidak ditangani sebagaimana mestinya.
Penilaian secara USG dilakukan dengan menggunakan nilai dengan
rentang nilai 1 sampai dengan 5. Semakin tinggi nilai menunjukkan bahwa isu
tersebut sangat urgen dan sangat serius untuk segera ditangani.
Analisis kualiatas isu dengan menggunakan alat analisis USG.

Kreteria J
N Penilaian PERINGKA
M
O Masalah U S G T
L
(1-5) (1-5) (1-5)
4 5 4 13 I
Kurangnya sarana penyuluhan membuat
1
cakupan ASI ekslusif belum tercapai

Rendahnya inisiatif keluarga pasien gizi 3 3 3 9 III


buruk untuk datang kembali mengontrol
2
kesehatan ke puskesmas

Rendahnya pengetahuan masyarakat 3 3 4 10 II


tentang pentingnya gizi untuk tumbuh
3
kembang anak

Tabel 4. Tabel Analisis Isu Menggunakan USG

Berdasarkan penentuan kualitas Isu dengan alat analisis USG maka


tergambar ranking tertinggi yang merupakan isu final yang perlu dicarikan
pemecahan masalahnya yaitu : Kurangnya sarana penyuluhan ASI ekslusif
membuat cakupan ASI ekslusif belum tercapai.

G. Argumentasi Terhadap Core Issue Terpilih

Setelah dilakukan analisis kriteria isu dengan alat analisis AKPK dan
kemudian dilkaukan analisis lanjutan yaitu analisis kualitas isu dengan alat
analisis USG (Urgency, Seriousness, Growth), ditemukan core issue terpilih
yaitu Kurangnya sarana penyuluhan ASI ekslusif membuat cakupan ASI
ekslusif belum tercapai.
Kenyataan yang ada di lapangan masih terdapat masalah mengenai
realisasi program sosialisasi, edukasi dan kampanye tentang ASI eksklusif di
Puskesmas 4 Ulu Palembang. Pelaksanaan program promosi kesehatan yang
belum efektif merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi cakupan ASI
eksklusif di Puskesmas 4 Ulu Palembang.
Maka dipandang perlu dan penting dengan melakukan penambahan
beberapa sarana penyuluhan ASI ekslusif guna meningkatkan cakupan ASI
ekslusif, sebagai implementasi manajemen ASN.
Kelengkapan sarana yang perlu ditambahkan pada puskesmas 4 ulu
seperti :
1. Banner ASI ekslusif.
2. Poster ASI ekslusif.
3. Leaflet ASI ekslusif.
4. Video informasi ASI ekslusif.
Rancangan ini diharapkan menjadi bagian dari misi organisasi dan
memberikan penguatan pada nilai-nilai organisasi demi tercapainya tujuan
tercapainya cakupan ASI ekslusif di wilayah kerja puskesmas 4 ulu.

H. Nilai-Nilai Dasar PNS

Seorang Apartur Sipil Negara harus mamput menanamkan nilai-nilai


dasar ANEKA yang merupakan singkatan dari Akuntabilitas, Nasionalisme,
Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi. Untuk itu perlu indikator-
indikator dan nilai-nilai dasar tersebut yaitu :
1. Akuntabilitas

Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau


institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. Amanah
seorang PNS adalah menjamin terwujudnya nilai-nilai publik. Nilai-nilai publik
tersebut antara lain adalah:
a. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik
kepentingan, antara kepentingan publik dengan kepentingan sektor,
kelompok, dan pribadi;
b. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah
keterlibatan PNS dalam politik praktis;
c. Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik;
d. Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat diandalkan
sebagai penyelenggara pemerintahan.

Akuntabilitas memiliki empat dimensi agar memenuhi terwujudnya


sektor publik yang akuntabel, diantaranya sebagai berikut:
1) Akuntabilitas kejujuran dan hukum (accountability for probity and
legality);
2) Akuntabilitas proses (process accountability);
3) Akuntabilitas program (program accountability);
4) Akuntabilitas kebijakan (policy accountability)

2. Nasionalisme
Nasionalisme adalah suatu paham yang sama dan mampu
menciptakan serta membentuk kedaulatan dalam sebuah negara, dengan
mempertahankan dan mewujudkan suatu konsep identitas milik bersama dari
sekelompok manusia yang memiliki tujuan, visi, cita-cita yang sama demi
mewujudkan kepentingan nasional, serta juga dapat diartikan sebagai rasa
yang ingin mempertahankan negaranya baik itu sisi luar maupun dalam.
Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai ASN. Bahkan
tidak hanya sekedar wawasan saja tetapi kemampuan mengaktualisasikan
nasionalisme dalam menjalankan fungsi dan tugasnya merupakan hal yang
lebih penting.Diharapkan dengan nasionalisme yang kuat, maka setiap
pegawai ASN memiliki orientasi berpikir mementingkan kepentingan publik,
bangsa, dan negara.Nilai-nilai yang berorientasi pada kepentingan publik
menjadi nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap pegawai ASN.Pegawai ASN
dapat mempelajari bagaimana aktualisasi sila demi sila dalam Pancasila agar
memiliki karakter yang kuat dengan nasionalisme dan wawasan
kebangsaannya.
Fungsi ASN sebagai perekat dan pemersatu bangsa dan Negara
yaitu setiap pegawai ASN harus memiliki jiwa nasionalisme dan wawasan
kebangsaan yang kuat, memiliki kesadaran sebagai penjaga kedaulatan
Negara, menjadi perekat bangsa dan mengupayakan situasi damai di selurih
wilayah Indonesia, dan menjaga keutuhan NKRI. Maka indicator Nasionalisme
yang harus dimiliki aparatur sipil Negara adalah ialah berwawasan
kebangsaan yang kuat, memahami pluralitas, beroientasi kepublikan yang
kuat, serta memntingkan nasional di atas segalanya.
Selain profesional dan melayani, ASN juga dituntut harus memiliki
integritas tinggi yang merupakan bagian dari kode etik dan kode etik perilaku
yang telah diatur dalam Undang-Undang ASN.Etika-etika dalam kode etik
tersebut harus diarahkan pada pilihan-pilihan yang benar-benar
mengutamakan kepentingan masyarakat luas.

3. Etika Publik

Etika adalah refleksi atas nilai tentang benar/salah, baik/buruk atau


pantas tidak panas yang harus dilakukan. Dalam kaitannya dengan pelayan
publik etika public adlah refleksi tentang standar/norma yang menentukan baik
buruk, benar salah prilaku tindakan dan keputusan untuk mengarahkan
kebijakan public dalam rangka menajalankan tanggung jawab pelayanan
publik.
Etika dapat dipahami sebagai sistem penilaian perilaku serta
keyakinan untuk menentukan perbuatan yang pantas guna menjamin adanya
perlindungan hak-hak individu, mencakup cara-cara pengambilan keputusan
untuk membantu membedakan hal-hal yang baik dan buruk serta
mengarahkan apa yang seharusnya dilakukan sesuai nila-nilai yang dianut,
Catalano, 1991 (dalam Widita, 2015).
Kode etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam
suatu kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal
prinsip dalam bentuk ketentuan-ketentuan tertulis (LAN, 2015:9).Kode etik
profesi dimaksudkan untuk mengatur tingkah laku/etika suatu kelompok
khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang
diharapkan dapat dipegang teguh oleh sekelompok profesional tertentu.
Berdasarkan undang-undang ASN, kode etik dan kode perilaku ASN
yakni sebagai berikut:
1) Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan
berintegritas tinggi;
2) Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
3) Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;
4) Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku;
5) Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau pejabat
yang berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan dan etika pemerintahan;
6) Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara;
7) Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung
jawab, efektif, dan efisien.
Pelayanan publik yang profesional membutuhkan tidak hanya
kompetensi teknis dan leadership, namun juga kompetensi etika. Oleh karena
itu perlu dipahami etika dan kode etik pejabat publik.Tanpa memiliki
kompetensi etika, pejabat cenderung menjadi tidak peka, tidak peduli dan
bahkan seringkali diskriminatif, terutama pada masyarakat kalangan bawah
yang tidak beruntung. Etika publik merupakan refleksi kritis yang
mengarahkan bagaimana nilai-nilai kejujuran, solidaritas, keadilan,
kesetaraan, dan lain-lain dipraktikkan dalam wujud keprihatinan dan
kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat.Dengan diterapkannya kode
etik ASN, perilaku pejabat publik harus berubah dari penguasa menjadi
pelayan, dari wewenang menjadi peranan, dan menyadari bahwa
jabatanpublik adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan bukan
hanya di dunia namun juga di akhirat.

4. Komitmen Mutu
Komitmen mutu adalah janji pada diri kita sendiri atau pada orang
lain yang tercermin dalam tindakan kita untuk menjaga mutu kinerja pegawai.
Bidang apapun yang menjadi tanggung jawab pegawai negeri sipil semua
mesti dilaksanakan secara optimal agar dapat member kepuasan kepada
stakeholder.
LAN RI (2015: 9) menjelaskan bahwa karakteristik utama yang dapat
dijadikan dasar untuk mengukur tingkat efektivitas adalah ketercapaian target
yang telah direncanakan, baik dilihat dari capaian jumlah maupun mutu hasil
kerja, sehingga dapat memberi kepuasan, sedangkan tingkat efisiensi diukur
dari penghematan biaya, waktu, tenaga, dan pikiran dalam menyelesaikan
kegiatan.
Inovasi kemudian muncul karena adanya dorongan kebutuhan
organisasi/perusahaan untuk beradaptasi dengan tuntutan perubahan yang
terjadi di sekitarnya. Mengenai inovasi, LAN RI (2015:11) menyatakan bahwa
proses inovasi dapat terjadi secara perlahan (bersifat evolusioner) atau bisa
juga lahir dengan cepat (bersifat revolusioner). Inovasi akan menjadi salah satu
kekuatan organisasi untuk memenangkan persaingan.
Empat indikator dari nilai-nilai dasar komitmen mutu yang harus
diperhatikan, yaitu:
1) Efektif
Efektif adalah berhasil guna, dapat mencapai hasil sesuai dengan target.
Sedangkan efektivitas menunjukkan tingkat ketercapaian target yang telah
direncanakan, baik menyangkut jumlah maupun mutu hasil kerja.
Efektifitas organisasi tidak hanya diukur dari performans untuk mencapai
target (rencana) mutu, kuantitas, ketepatan waktu dan alokasi sumber
daya, melainkan juga diukur dari kepuasan dan terpenuhinya kebutuhan
pelanggan.
2) Efisien
Efisien adalah berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan mencapai
hasil tanpa menimbulkan keborosan.Sedangkan efisiensi merupakan
tingkat ketepatan realiasi penggunaan sumberdaya dan
bagaimanapekerjaan dilaksanakan sehingga dapat diketahui ada tidaknya
pemborosan sumber daya, penyalahgunaan alokasi, penyimpangan
prosedur dan mekanisme yang ke luar alur.
3) Inovasi
Inovasi Pelayanan Publik adalah hasil pemikiran baru yang konstruktif,
sehingga akan memotivasi setiap individu untuk membangun karakter
sebagai aparatur yang diwujudkan dalam bentuk profesionalisme layanan
publik yang berbeda dari sebelumnya, bukan sekedar menjalankan atau
menggugurkan tugas rutin.
4) Mutu
Mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan produk, jasa,
manusia, proses dan lingkungan yang sesuai atau bahkan melebihi
harapan konsumen. Mutu mencerminkan nilai keunggulan produk/jasa
yang diberikan kepada pelanggan sesuai dengan kebutuhan dan
keinginannya, bahkan melampaui harapannya. Mutu merupakan salah
satu standar yang menjadi dasar untuk mengukur capaian hasil kerja.Mutu
menjadi salah satu alat vital untuk mempertahankan keberlanjutan
organisasi dan menjaga kredibilitas institusi.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli maka dapat disimpulkan bahwa
mutu mencerminkan nilai keunggulan produk/jasa yang diberikan kepada
pelanggan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan dan bahkan melampaui
harapannya. Manajemen mutu harus dilaksanakan secara terintegrasi,
dengan melibatkan seluruh komponen organisasi, untuk senantiasa
melakukan perbaikan mutu agar dapat memuaskan pelanggan. Target utama
kinerja aparatur yang berbasis komitmen mutu adalah mewujudkan kepuasan
masyarakat yang menerima layanan.
5. Anti Korupsi

Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio yang artinya
kerusakan, kebobrokan dan kebusukan. Korupsi sering dikatakan sebagai
kejahatan luar biasa, karena dampaknya yang luar biasa,
menyebabkankerusakan baik dalam ruang lingkup pribadi, keluarga,
masyarakat dan kehidupan yang lebih luas.Kerusakan tidak hanya terjadi
dalam kurun waktuyang pendek, namun dapat berdampak secara jangka
panjang.
Korupsi adalah perilaku pejabat public, baik politikus maupun
pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau
memperkaya merka yang dekat dengan dirinya, dengan cara
menyalahgunakan kekuasaan public yang dipercayakan kepada mereka. 9
(sembilan) indikator dari nilai-nilai dasar anti korupsi yang harus diperhatikan,
yaitu Jujur, Peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana,
berani serta adil.
1) Jujur
Kejujuran merupakan nilai dasar yang menjadi landasan utama bagi
penegakan integritas diri seseorang.Tanpa adanya kejujuran mustahil
seseorang bisa menjadi pribadi yang berintegritas. Seseorang dituntut
untuk bisa berkata jujur dan transparan serta tidak berdusta baik terhadap
diri sendiri maupun orang lain, sehingga dapat membentengi diri terhadap
godaan untuk berbuat curang.
2) Peduli
Kepedulian sosial kepada sesama menjadikan seseorang memiliki sifat
kasih sayang. Individu yang memiliki jiwa sosial tinggi akan
memperhatikan lingkungan sekelilingnya di mana masih terdapat banyak
orang yang tidak mampu, menderita, dan membutuhkan uluran tangan.
Pribadi dengan jiwa sosial tidak akan tergoda untuk memperkaya diri
sendiri dengan cara yang tidak benar tetapi ia malah berupaya untuk
menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu sesama.
3) Mandiri
Kemandirian membentuk karakter yang kuat pada diri seseorang menjadi
tidak bergantung terlalu banyak pada orang lain. Mentalitas kemandirian
yang dimiliki seseorang mengoptimalkan daya pikirnya guna bekerja
secara efektif. Pribadi yang mandiri tidak akan menjalin hubungan dengan
pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab demi mencapai keuntungan
sesaat.
4) Disiplin
Disiplin adalah kunci keberhasilan semua orang. Ketekunan dan
konsistensi untuk terus mengembangkan potensi diri membuat seseorang
akan selalu mampu memberdayakan dirinya dalam menjalani tugasnya.
Kepatuhan pada prinsip kebaikan dan kebenaran menjadi pegangan
utama dalam bekerja. Seseorang yang mempunyai pegangan kuat
terhadap nilai kedisiplinan tidak akan terjerumus dalam kemalasan yang
mendambakan kekayaan dengan cara yang mudah.
5) Tanggung Jawab
Pribadi yang utuh dan mengenal diri dengan baik akan menyadari bahwa
keberadaan dirinya di muka bumi adalah untuk melakukan perbuatan baik
demi kemaslahatan sesama manusia. Segala tindak tanduk dan kegiatan
yang dilakukannya akan dipertanggungjawabkan sepenuhnya kepada
Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat, negara, dan bangsanya. Dengan
kesadaran seperti ini maka seseorang tidak akan tergelincir dalam
perbuatan tercela dan nista.
6) Kerja Keras
Individu beretos kerja akan selalu berupaya meningkatkan kualitas hasil
kerjanya demi terwujudnya kemanfaatan publik yang sebesar-besarnya. Ia
mencurahkan daya pikir dan kemampuannya untuk melaksanakan tugas
dan berkarya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan mau memperoleh
sesuatu tanpa mengeluarkan keringat.
7) Sederhana
Pribadi yang berintegritas tinggi adalah seseorang yang menyadari
kebutuhannya dan berupaya memenuhi kebutuhannya dengan
semestinya tanpa berlebih-lebihan.Ia tidak tergoda untuk hidup
dalamgelimang kemewahan. Kekayaan utama yang menjadi modal
kehidupannya adalah ilmu pengetahuan.Ia sadar bahwa mengejarharta
tidak akan pernah ada habisnya karena hawa nafsu keserakahan akan
selalu memacu untuk mencari harta sebanyak-banyaknya.
8) Berani
Seseorang yang memiliki karakter kuat akan memiliki keberanian untuk
menyatakan kebenaran dan menolak kebathilan. Ia tidak akan mentolerir
adanya penyimpangan dan berani menyatakanpenyangkalan secara
tegas. Ia juga berani berdiri sendirian dalam kebenaran walaupun semua
kolega dan teman-teman sejawatnyamelakukan perbuatan yang
menyimpang dari hal yang semestinya. Ia tidak takut dimusuhi dan tidak
memiliki teman kalau ternyata mereka mengajak kepada hal-hal yang
menyimpang.
9) Adil
Pribadi dengan karakter yang baik akan menyadari bahwa apa yang dia
terima sesuai dengan jerih payahnya. Ia tidak akan menuntut untuk
mendapatkan lebih dari apa yang ia sudah upayakan. Bila ia
seorangpimpinan maka ia akan memberi kompensasi yang adil kepada
bawahannya sesuai dengan kinerjanya. Ia juga ingin mewujudkankeadilan
dan kemakmuran bagi masyarakat dan bangsanya.
Kesadaran anti korupsi yang dibangun melalui pendekatan spiritual,
dengan selalu ingat akan tujuan keberadaannya sebagai manusia di muka
bumi, dan selalu ingat bahwa seluruh ruang dan waktu kehidupannya harus
dipertanggungjawabkan sehingga dapat menjadi benteng kuat untuk
antikorupsi. Tanggung jawab spiritual yang baik akan menghasilkan niat yang
baik dan mendorong untuk memiliki visi dan misi yang baik, hingga selalu
memiliki semangat untuk melakukan proses atau usaha terbaik
danmendapatkan hasil terbaik agar dapat dipertanggungjawabkan secara
publik.

Kedudukan dan Peran ASN dalam NKRI

Manejemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan pegawai


ASN yang profesional, memilikinilai dasar, etika profesi, beba dari intervensi
politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme.Manajemen ASN lebih
menekankan kepada pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan agar
selalu tersedia sumber daya ASN yang unggul selaras dengan perkembangan
jaman.
1. Kedudukan ASN
Kedudukan atau status jabatan PNS dalam sistem birokrasi selama ini
dianggapbelum sempurna untuk menciptakan birokrasi yang
profesional.Untuk dapat membangun profesionalitas birokrasi, maka konsep
yang dibangun dalam UU ASN tersebut harus jelas.Berikut beberapa konsep
yang ada dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN.

a. Berdasarkan jenisnya
Pegawai ASN terdiri atas Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai
Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). PNS merupakan warga
negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai
pegawai ASN secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk
menduduki jabatan pemerintahan, memiliki nomor induk pegawai secara
nasional. Sedangkan PPPK adalah warga negara Indonesia yang
memnuhi syarat tertentu, yang diangkat oleh pejabat pembina
kepegawaian berdasarkan perjanjian kerja sesuai dengan kebutuhan
instansi pemerintah untuk jangka waktu tertentu dalam rangka
melaksanakan tugas pemerintahan.
b. Pegawai ASN berkedudukan sebagai apartur negara yang menjalankan
kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi pemerintah serta harus
bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik.
Pegawai ASN dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik.
Selain itu untuk menjauhkan birokrasi dari pengaruh partai politik, hai ini
dimaksudkan untuk menjamin keutuhan, kekompakan dan persatuan
ASN, serta dapat memusatkan segala perhatian, pikiran dan tenaga pada
tugasyang dibebankan kepadanya. Oleh karena itu dalam pembinaan
karir pegawai ASN, khususnya di daerah dilakukan oleh pejabat
berwenang yaitu pejabat karir tertinggi.Kedudukan ASN berada di pusat,
daerah dan luar negeri. Namun demikian pegawai ASN merupakan
kesatuan. Kesatuan bagi pegawaiASN sangat penting, mengingat dengan
adanya desentralisasi dan otonomi daerah, sering terjadinya isu putra
daerah yang hampir ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk
memberikan pelayanan publik yang profesional da berkualitas. Pelayanan
publik merupakan kegiatan dalam terjadi dimana-mana sehingga
perkembangan birokrasi menjadi stagnan di daerah-daerah. Kondisi
tersebut merupakan ancaman bagi kesatuan bangsa.

2. Peran ASN
Untuk menjalankan kedudukan pegawai ASN, maka pegawai ASN
berfungsi dan bertugas sebagai berikut:

a. Pelaksana kebijakan publik


ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk melaksanakan kebijakan
yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan
ketentuanperaturan perundang-undangan. Untuk itu ASN harus
mengutamakan kepentingan publik dan masyarakat luas dalam
menjalankan fungsi dan tugasnya, serta harus mengutamakan pelayanan
yang berorientasi pada kepentingan publik.
b. Pelayan publik
Dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai peraturan
perundang-undangan bagi setiap warga negaradan penduduk atas
barang, jasa dan/atau pelayanan administratif yang diselenggarakan oleh
penyelenggara pelayanan publik dengan tujuan kepuasan pelanggan.
c. Perekat dan pemersatu bangsa
ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk mempererat persatuan dan
kesatuan NKRI.ASN senantiasa setia dan taat sepenuhnya kepada
Pancasila, UUD 1945, negara danpemerintah.ASN senantiasa menjunung
tinggi martabat ASN serta senantiasa mengutamakan kepentingan negara
daripada kepentingan diri sendiri, seseorang dan golongan.
3. Hak dan kewajiban ASN
Hak adalah suatu kewenangan atau kekuasaan yang diberikan oleh
hukum, suatu kepentingan yang dilindungi oleh hukum, baik pribadi maupun
umum.Dapat diatikan bahwa hak adalah sesuatu yang patut atau layak
diterima. Agar melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik ,
dapat meningkatkan produktivitas, menjamin kesejateraan ASN dan
akuntabel, maka setiap SN diberikan hak. Hak ASN dan PPPK yang diatur
dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN sebagai berikut:
PNS berhak memperoleh:
a. gaji, tunjangan, dan fasilitas;
b. cuti;
c. jaminan pensiun dan jaminan hari tua;
d. perlindungan; dan
e. pengembangan kompetensi.
PPPK berhak memperoleh:
a. gaji dan tunjangan;
b. cuti;
c. perlindungan; dan
d. pengembangan kompetensi.
Selain hak sebagaimana disebutkan di atas, berdasarkan pasal 70 UU
No. 5 Tahun 2014 tentang ASN disebutkan bahwa setiap pegawai ASN
memiliki hak dan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi.
Berdasarkan Pasal 92 pemerintah juga wajib memberikan perlindungan
berupa:
a. Jaminan kesehatan;
b. Jaminan kecelakaan kerja;
c. Jaminan kematian;
d. Bantuan hukum.

Sedangkan kewajiban adalah suatu beban atau tanggungan yang


bersifat kontraktual. Dengan kata lain kewajiban adalah suatu yang sepatutnya
diberikan.Pegawai ASN berdasarkan UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN wajib:
a. setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan
pemerintah yang sah;
b. menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;
c. melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang
berwenang;
d. menaati ketentuan peraturan perundang-undangan;
e. melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran,
kesadaran, dan tanggung jawab;
f. menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan
dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar
kedinasan;
g. menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia
jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
h. bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

4. Kode etik dan kode perilaku ASN


Dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN disebutkan bahwa ASN
sebagai profesi berlandaskan pada kode etik dan kode perilaku.Kode etik dan
kode perilaku ASN bertujuan untuk menjaga martabat dan kehormatan
ASN.Kode etik dan kode perilaku berisi pengaturan perilaku agar pegawai
ASN.
a. melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan
berintegritas tinggi;
b. melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
c. melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;
d. melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
e. melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau Pejabat
yang berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan dan etika pemerintahan;
f. menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan;
g. menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung
jawab, efektif, dan efisien;
h. menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan
tugasnya;
i. memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada
pihak lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan;
j. tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status,
kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan
atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang lain;
k. memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan
integritas ASN; dan
l. melaksanakan ketentuan peraturan perundangundangan mengenai
disiplin Pegawai ASN.

I. Matrik Rancangan Aktualisasi

Unit Kerja : Puskesmas 4 Ulu Palembang


Identifikasi Isu :

1. Rendahnya inisiatif keluarga pasien gizi buruk untuk datang kembali


mengontrol kesehatan ke puskesmas

2. Kurangnya sarana penyuluhan ASI ekslusif membuat cakupan ASI


ekslusif belum tercapai

3. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam berperilaku hidup bersih


dan sehat

4. Kurangnya promosi kesehatan dibidang gizi untuk melakukan


konseling gizi

5. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya gizi untuk


tumbuh kembang anak

Isu yang diangkat : Kurangnya sarana penyuluhan ASI ekslusif membuat


cakupan ASI ekslusif belum tercapai

Gagasan pemecahan Isu :


1. Mengkonsep pelaksanaan tahapan-tahapan aktualisasi di Puskesmas 4
Ulu.
2. Mencari referensi tentang ASI ekslusif.
3. Mendata sasaran penyuluhan yaitu jumlah ibu hamil dan ibu menyusui
diwilayah kerja puskesmas 4 ulu.
4. Mengkonsep jenis sarana yang akan dibuat.
5. Pelaksaan kegiatan membuat dan melengkapi sarana penyuluhan ASI
ekslusif.
6. Sosialisasi penggunaan sarana penyuluhan ASI ekslusif kepada petugas
gizi, perlengkapan dan pihak IT yang terlibat.
7. Penerapan penggunaan sarana penyuluhan ASI ekslusif oleh petugas
gizi, perlengkapan dan pihak IT yang terlibat.
8. Evaluasi penerapan penggunaan sarana penyuluhan ASI ekslusif di
puskesmas 4 Ulu Palembang.
G. Jadwal Kegiatan
Bulan dan Minggu
ke-
M J
NO KEGIATAN TAHAPAN E U
I N
I
3 4 5 1 2 3 4
1 Mengkonsep 1. Menghadap mentor
pelaksa untuk berkoordinasi
naan dimulainya
tahapan aktualisasi.
-
tahapan
2. Mencatat dan
aktualis Menindak lanjuti hasil
asi di bimbingan dan
Puskes arahan dari mentor.
mas 4
Ulu.

2 Mencari 1. Mencari referensi


referens melalui internet
i maupun buku yang
tentang menunjang kegiatan
ASI penyuluhan ASI
ekslusif. ekslusif
2. Menerima bimbingan
dan arahan dari
kepala puskesmas
(mentor)
3 Mendata 1. Mencari referensi
sasaran tentang penyuluhan
penyulu ASI ekslusif
han
yaitu
2. Mendata sarana
jumlah yang ada dan yang
ibu belum ada di
hamil puskesmas 4 ulu
dan ibu bekerjasama dengan
menyus bagian IT.
ui di 3. Mengkoordinasikan
wilayah hasil pendataan
kerja sarana penyuluhan
puskes dengan pihak pihak
mas 4 yang terlibat seperti
ulu dokter, Bidan dan
tenaga lainnya.
4. Menerima bimbingan
dan arahan dari
mentor
4 Mengkonsep 1. Berkoordinasi dengan
jenis pihak IT untuk
sarana menampilkan video
yang penyuluhan ASI
akan ekslusif pada TV di
dibuat. ruang tunggu.
2. Mengkonsep banner
serta leaflet untuk
media penyuluhan.
3. Mengkonsep tata
cara penyuluhan
maupun konseling.
4. Konsultasi kepada
Tabel 6. Jadwal Kegiatan
Mentor.
5. Menerima arahan dan
bimbingan dari
Mentor.
6. Melanjutkan kegiatan
aktualisasi
7 Penerapan 1. Sarana yang ada di
penggu puskesmas 4 ulu di
naan terapkan sesuai
dan fungsinya.
pemelih
araan
2. Setiap petugas dan
sarana staf wajib memelihara
penyulu sarana yang telah
han ASI ada.
ekslusif
H. Kendala dan Antisipasi

Berikut adalah kendala-kendala yang mungkin akan terjadi saat


aktualisasi nilai-nilai pada saat habituasi dan antisipasinya.

NO. KENDALA ANTISIPASI


1. Membutuhkan bantuan tenaga Meminta bantuan kepada
dari rekan-rekan satuan kerja atasan untuk membantu
koordinasi dengan rekan kerja
lainnya
2. Adanya biaya yang harus Berkoordinasi dengan Mentor
dikeluarkan untuk melakukan
aktualisasi
3. Penyelesaian kegiatan yang Harus Segera melakukan
tidak sesuai jadwal pelaksanaan sesuai jadwal
tanpa menunda-nunda
Tabel 7. Kendala dan Antisipasi

DAFTAR PUSTAKA
Modul pembelajaran selama pelatihan dasar CPNS

Referensi Lain

Tersedia online pada :

https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/54090/Optimalisasi-Pemberian-Asi-
Eksklusif-Pada-Bayi-Usia-6-Bulan-Di-Kabupaten-Probolinggo

http://jos.unsoed.ac.id/index.php/kesmasindo/article/download/230/199/

https://www.academia.edu/10703024/Masalah_ASI_Ekslusif_dan_Strategi
_Peningkatan_Cakupan_di_Indonesia

Anda mungkin juga menyukai