Anda di halaman 1dari 19

MATERI 4

PENGELOLAAN
POKTAN
BINA KELUARGA LANSIA
KONSEP BINA KELUARGA LANSIA (BKL)

I. PENGERTIAN
LANJUT USIA adalah seseorang berusia 60 tahun atau lebih
KELUARGA LANJUT USIA adalah keluarga yang di dalamnya terdapat
anggota yang lanjut usia atau keluarga yang seluruh anggotanya lanjut usia
BINA KELUARGA LANSIA adalah kelompok kegiatan yang dilakukan
untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan keluarga yang memiliki
lanjut usia dalam pengasuhan, perawatan dan pemberdayaan lansia agar
dapat meningkatkan kesejahteraannya.

II. TUJUAN BINA KELUARGA LANJUT USIA (BKL)


Untuk meningkatkan kesejahteraan lansia, melalui kepedulian dan peran
keluarga dalam mewujudkan lansia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, mandiri, produktif dan bermanfaat bagi keluarga dan
masyarakat.

III. SASARAN BINA KELUARGA LANJUT USIA (BKL)


A. LANGSUNG

1. Keluarga yang mempunyai anggota lansia

2. Keluarga yang seluruh anggotanya lansia

B. TIDAK LANGSUNG
1. Tokoh agama
2. Tokoh masyarakat
3. Lembaga swadaya dan organisasi masyarakat
4. Anggota masyarakat
IV. MATERI BINA KELUARGA LANSIA (BKL)

A. PEMBINAAN FISIK BAGI LANSIA

Pembinaan Fisik Lansia adalah upaya pembinaan secara fisik yang


ditujukan bagi para lansia dengan mempertimbangkan faktor usia dan
kondisi fisik yang secara perseorangan berbeda

1. KONDISI FISIK LANSIA

PROSES MENJADI TUA


Perkembangan hidup manusia dimulai dari bayi, anak-anak, remaja,
dewasa dan kemudian tua atau lanjut usia. Menjadi lanjut usia adalah
suatu proses alami yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Proses
menjadi lanjut usia selalu ditandai dengan kemunduran fungsi-fungsi
anggota tubuh yang dapat menimbulkan masalah/gangguan yang akan
banyak mempengaruhi kegiatan/ aktivitas sehari-hari, misalnya dalam hal
kelambatan gerak, kurang cepat bereaksi, berkurangnya tenaga,
menurunnya daya tahan dan menurunnya fungsi organ-organ tubuh bagian
luar maupun bagian dalam.

2. PENURUNAN KONDISI TUBUH LANSIA

1. Sistem Syaraf dan Panca Indra


Penurunan fungsi syaraf dan pancaindera men yebabkan:
a. Gangguan keseimbangan sehingga cara berjalan menjadi tidak
seimbang dan mudah jatuh
b. Kemunduran fungsi mata, telinga dan hidung sehingga
menimbulkan gangguan penglihatan, pendengaran dan penciuman
c. Kemunduran fungsi otak sehingga daya ingat menurun dan menjadi
sering lupa/pikun
d. Kemunduran fungsi urat syaraf sehingga reaksi dan gerakan
menjadi lamban dan kadang-kadang tidak terkontrol/terkendali

2. Pembuluh Darah dan Jantung


Gangguan pembuluh darah dan jantung ini menyebabkan:
a. Perubahan tekanan darah sehingga menyebabkan tekanan darah
tinggi atau tekanan darah rendah
b. Penyumbatan pembuluh darah pada jantung yang akan
menyebabkan tergangguya fungsi jantung dengan gejala nyeri
dada dan berdebar-debar
c. Penyumbatan pembuluh darah pada otak atau pecahnya pembuluh
darah pada otak yang akan menyebabkan kelumpuhan.
d. Penyumbatan pembuluh darah pada angggota tubuh yang dapat
menyebabkan gangguan fungsi dan kebas-kebas.

3. Sistem Pernapasan
Kemunduran elastisitas/kelenturan otot-otot pernafasan dan paru-paru
yang dapat menyebabkan gangguan sesak nafas, cepat lelah dan
batuk-batuk.

4. Sistem Pencernaan
a. Gigi mulai ompong sehingga sulit mengunyah makanan, ini dapat
mengakibatkan gangguan pencernaan
b. Kemunduran fungsi usus sehingga lebih sulit mencerna makanan,
lebih peka yang mengakibatkan kesulitan dalam menyerap
makanan. Hal ini dapat menimbulkan kurangnya nafsu makan dan
perut tidak nyaman.

5. Sistem Otot, Sendi dan Tulang


a. Tulang yang sudah kena kerobos ada kalanya menyebabkan tulang
menjadi bengkok sehingga menyebabkan nyeri sendi dan rasa sakit
pada otot tetentu
b. Otot menjadi lemah dan mengecil sehingga menyebabkan perasaan
lemah dan mudah lelah, mudah terpeleset dan jatuh
c. Kekurangan cairan pada sendi menyebabkan nyeri sendi
d. Perkapura pada sendi adan tulang menyebabkan nyeri pada sendi
dan tulang.

6. Sistem Kesehatan Pasca Reproduksi


Pasca reproduksi bagi kaum bapak yang perlu diwaspadai adalah
pembesaran prostat yang sangat mengganggu buang air kecil dan
mengganggu tidur malam sehingga perlu pemeriksaan oleh tenaga
medis. Sedangkan bagi kaum ibu yang perlu diwaspadai adalah kanker
mulut rahim sehingga perlu dilakukan pemeriksaan pap’s smear tiap
tahun.

7. Saluran Kemih
Yang perlu diwaspadai bagi lansia adalah kemunduran fungsi ginjal,
melemahnya saluran kencing dan menurunnya fungsi kantong kencing
yang menyebabkan sering kencing atau pendarahan dalam air kencing
dan kadang-kadang kencing tidak terkontrol.

8. Gangguan Metabolisme
Yang paling sering terjadi adalah menurunnya fungsi pancreas
sehingga produksi insulin berkurang. Sedangkan insulin ini berfungsi
untuk menurunkan kadar gula dalam darah dan keadaan ini
menyebabkan orang tersebut kena sakit gula atau Diabetes Mellitus.

9. Gangguan lain
a. Gangguan pola tidur
b. Rambut berubah
c. Berkurangnya elastisitas kulit
C. PEMELIHARAAN KESEHATAN LANSIA

1. Pemberian gizi yang seimbang


Fungsi organ tubuh lansia sudah banyak bekurang oleh sebab itu
kecukupan gizi pada usia lanjut tetap harus diupayakan untuk
kelangsungan hidup yang layak, serta untuk mengurangi penyakit
menua. Untuk mencukupi kebutuhan gizi pada usia lanjut, perlu
diberikan makanan seimbang dengan cara ;
- Mengurangi bahan makanan yang banyak mengandung lemak
terutama yang berasal dari hewan
- Batasi gula, kopi, garam dapur dan makanan yang diawetkan
- Meminum susu tanpa lemak
- Memakan bahan makanan yang banyak mengandung zat besi
seperti kacang-kacangan, hati, daging, bayam dan sayuran hijau
- Menggunakan bahan makanan yang segar dan banyak
mengandung vitamin serta membatasi penggunaan tablet vitamin
bila tidak perlu
- Mengkonsumsi cairan dengan minum air putih minimal 2 liter (lebih
kurang 6-8 gelas) per hari

B. PEMBINAAN PSIKOLOGIS BAGI LANSIA

1. Kondisi psikis adalah keadaan mutlak atau jiwa seseorang.


Kondisi psikis mencakup:

 Kemampuan berpikir : kemampuan seseorang untuk menangkap,


mengolah dan menilai suatu permasalahan.
 Emosi : keadaan perasaan seseorang misalnya stabil/tidak stabil,
sedih/senang, terkendali/tidak terkendali.
 Sikap : kesiapan seseorang untuk bertindak sesuai perasaan dan
pikirannya.
 Perilaku : tindakan atau perbuatan seseorang terhadap
lingkungannya

2. BAGAIMANA KONDISI PSIKIS LANSIA?

Pada umumnya lansia mengalami perubahan atau kemunduran fungsi


psikisnya, baik dari segi kemampuan berpikir, perasaan maupun sikap dan
perilakunya.

Ada 4 tipe lansia:


1. Lansia yang produktif yaitu lansia yang fungsi psikisnya stabil dan
fisiknya kuat
2. Lansia yang mengalami kemunduran psikis, tetapi fisiknya masih kuat
3. Lansia yang mengalami kemunduran fisik, tapi psikisnya tetap stabil.
4. Lansia yang jompo yaitu lansia yang fisik maupun psikisnya
mengalami kemunduran.

3. PERUBAHAN YANG TERJADI PADA KEMAMPUAN BERFIKIR LANSIA

1. KEPIKUNAN
Ada kemunduran daya ingat, khususnya lupa tehadap hal-hal yang baru
saja terjadi, tetapi ingat hal-hal yang sudah lama terjadi.
Contoh : lupa terhadap apa yang baru saja dikatakan, lupa meletakan
kacamata yang baru saja dipakai, tetapi ingat terhadap kawan lama.

a. Kemunduran dalam proses berpikir:


o lambat menangkap dan mengartikan informasi
o sulit konsentrasi
o kaku dalam mempertahankan pendapat
o kreatifitas berkurang

2. PERASAAN LANSIA

a. Adanya perasaan tidak berguna dan tidak dibutuhkan orang lain


sehingga muncul keinginan untuk diakui orang lain.
b. Adanya penurunan dalam menyatakan emosi.
Lansia merasa sulit untuk menampilkan perasaannya secara terbuka.
Contoh : sebenarnya ia merasa sedih karena kesepian, tetapi
ditutupinya dengan raut muka yang datar.

3. SIKAP DAN PERILAKU LANSIA


a. Gerakan kaku dan lamban. Hal ini disebabkan karena kemunduran
psikomotorik, sehingga tubuh tidak lentur dan tidak terkoordinasi
dengan baik.
b. Dalam menjalin hubungan sosial, cenderung mencari orang-orang
seusianya, dan mengurangi partisipasi dalam hubungan sosial.
c. Memimpikan dan berorientasi pada masa lampaunya dengan
kenangan-kenangan yang menyenangkan; kejayaan, keunggulan dan
keberhasilan.

4. PENYEBAB KEMUNDURAN ATAU PERUBAHAN PHISIK LANSIA


Sistem syaraf dipengaruhi oleh kondisi fisik lainnya, misalnya:
o Fungsi jantung
o Penyempitan pembuluh darah
o Berbagai penyakit, antara lain: penyakit gula

5. PROSES MENUA
Perubahan-perubahan ini menyebabkan perubahan pula pada fungsi
psikisnya

6. DUKUNGAN LINGKUNGAN ATAU SUASANA KELUARGA


Keluarga yang kurang memberikan perhatian, kurangnya komunikasi dan
kurang memahami kebutuhan lansia akan mempercepat kemunduran
kondisi psikis lansia.

4. MASALAH PSIKIS PADA LANSIA

 APA SAJA PENYEBAB TIMBULNYA BERBAGAI PERMASALAHAN


YANG PSIKIS PADA LANSIA
Menurunnya konsisi fisik dan psikis lansia merupakan faktor yang
alami. Penurunan kondisi fisik dan psikis ini dapat dipercepat atau
diperlambat dengan faktor kesiapan menghadapi masa lansia. Makin
siap seseorang menghadapi masa lansia, makin lambat proses
penurunan fisik dan psikis tadi dan sebaliknya.

 APA SAJA TUGAS PERKEMBANGAN LANSIA


a. Menentukan tempat tinggal yang memuaskan untuk masa tua.
b. Menyesuaikan diri dengan uang pensiun yang diperolehnya.
c. Memantapkan kegiatan rutin rumah tangga secara memuaskan.
d. memelihara hubungan yang harmonis dengan suami/istri.
e. Mengahadapi kematian diri sendiri atau persiapan diri untuk hidup
tanpa pasangan.
f. Memelihara hubungan dengan anak dan cucu.
g. Memelihara hubungan dengan lingkungan sekitar.
h. Menemukan makna hidup.

 HAL-HAL APA SAJA YANG BERKAITAN DENGAN TIMBULNYA


MASALAH LANSIA
o Keluarga
Keluarga dapat menimbulkan frustasi bagi lansia jika terjadi
hambatan komunikasi antara lansia dan anak cucunya.
o Pasangan hidup
Pria/wanita lansia yang mengisolasi diri, merasa putus
persahabatannya padahal lansia ada keinginan diakui dan
dibutuhkan orang lain.
Lansia yang tidak punya pasangan, cenderung mengisolasi diri
karena merasa sudah tidak punya teman/sahabat lagi.
o Lingkungan sosial
Lansia cenderung mengisolasi diri, merasa terputus
persahabatannya padahal lansia ada keinginan diakui dan
dibutuhkan orang lain.
o Pensiun
Perpindahan status dari pekerja menjadi pensiunan, berpengaruh
dan menjadi sangat bermakna terhadap lansia.
o Aspek kematian
Lansia yang tidak siap menghadapi kematian akan menimbulkan
rasa takut mati.

4. MASALAH PSIKIS APA SAJA YANG DIALAMI LANSIA

a. Kecemasan dan Ketakutan


Kecemasan dan ketakutan yang muncul misalnya:
o Cemas akan perubahan fisiknya dan fungsi anggota tubuh
o Cemas akan kekuatan sosial
o Cemas akan tersingkir dari kehidupan sosial
o Takut penyakit
o Takut mati
o Takut kekurangan uang
Keadaan ini disertai rasa sedih, bimbang dan terancam sampai
ke dalam batinnya.
- Bila yang ditakutkan menjadi kenyataan, maka lansia akan
menjadi penakut, penuh duka dan curiga
- Bila lansia berhasil menguasai rasa takut, lansia akan
mengupayakan menghadapi diri apa adanya dengan segala
kelemahan dan keunggulannya.

b. Mudah tersinggung
Suasana hati lansia cenderung peka, mudah tersinggung dan cepat
berubah. Perasaan penuh dengan ketegangan, gelisah dan sikap
banyak menuntut. Bahkan kadang kala terjadi ledakan emosional
yang penuh kecurigaan.

c. Rasa Kesepian
Bagi lansia yang sudah janda dan duda kesadaran akan kesendirian
sering menjadi pengalaman yang menakutkan. Teman dekat satu
persatu meninggal, selain itu anak-anak meninggalkan rumah untuk
membentuk keluarga sendiri. Rasa sepi ini dapat menimbulkan
kesangsian akan makna/nilai dirinya dan guna bagi masyarakat.
d. Hilangnya Kepercayaan Diri
Lansia sering merasa tidak yakin akan dirinya dan menjalani hidup
dengan perasaan iri dan benci. Kadang kala ia gembira bila melihat
kegagalan generasi muda.

e. Bermimpi Masa Lampau


Sebagian lansia suka bermimpi hayalan kosong mengenai masa
lampau. Lansia berusaha melarikan diri dari masa kini yang tidak
menyenangkan dan masa mendatang yang kurang memberikan
harapan, ke masa lampau dengan kenangan-kenangan yang
menyenangkan.

f. Egois
Lansia merasa bahwa kekuatannya makin surut. Sebagai kompensasi,
munculnya pelampiasan dalam bentuk kesombongan, keras kepala,
mementingkan diri sendiri dan merasa dirinya paling benar.

C. PEMBINAAN MENTAL SPIRITUAL

A. MENGAPA MANUSIA PERLU AGAMA

1. Agama merupakan sumber


nilai dan aturan yang mutlak kebenarannya karena berasal dari
Tuhan Yang Maha Esa.
Nilai-nilai dan aturan Tuhan ini disebut Firman Tuhan yang diwahyukan
kepada manusia pilihan-Nya yang disebut Rasul atau Nabi. Siapa yang
berpegang pada Kitab Tuhan tersebut akan selamat dunia dan akhirat.

2. Agama mengatur hubungan


manusia dengan Penciptanya.
Manusia berhubungan dengan Tuhannya dengan berbagai cara yang
telah diatur oleh masing-masing agama sesuai dengan kitab sucinya,
seperti melaksanakan ibadah, sholat, zikir dan berdoa. Orang yang
selalu berhubungan dengan Tuhan, Iman dan Taqwanya makin
meningkat.

3. Agama mengatur hubungan


antara manusia dengan manusia
Hubungan saling harga menghargai dan hormat menghormati akan
membawa kehidupan yang harmonis dan ketentraman, sedangkan
kehidupan yang saling mengganggu dan curiga akan membawa
kesengsaraan dan kegelisahan dalam bertetangga dan bermasyarakat.
Orang yang berakhlaq dan berbudi pekerti yang baik akan
mendapatkan kawan yang banyak dan kawan yang banyak akan
mendatangkan rezeki.
4. Agama mengatur hubungan
antar manusia dengan lingkungannya.
Lingkungan yang dipelihara kebersihannya dan tumbuh-tumbuhan
yang rindang akan memberikan suasana kehidupan lingkungan yang
nyaman dan asri. Kebersihan bagian dari iman.

5. Manusia pasti mati dan kematian merupakan kehidupan yang


abadi
Kehidupan di dunia merupakan tempat untuk memperbanyak amal
yang baik, maka hendaklah menggunakan kesempatan selagi muda
sebelum tua, selagi sehat sebelum sakit, selagi kaya sebelum menjadi
miskin dan selagi hidup sebelum mati datang menjemput. Siapa yang
menanam akan menuai.

6. Tempat kehidupan di akhirat


ada dua yaitu Surga dan Neraka
Manusia yang paling beruntung adalah yang panjang umurnya selalu
baik amalnya, dan manusia yang paling merugi adalah manusia yang
panjang umurnya tapi selalu berbuat dosa. Kematian yang paling baik
adalah Khusnul Khotimah (Kematian dalam kebaikan) dan Kematian
yang paling menderita adalah Su’ul Khotimah (Kematian dalam dosa)

B. MASALAH KEHIDUPAN BERAGAMA BAGI LANSIA


Tingkat pengetahuan keagamaan lansia terdiri atas :
Lansia yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang
baik dan Lansia yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman
keagamaan yang kurang.

1. Lansia yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman


keagamaan
Lansia yang mempunyai potensi perlu dimanfaatkan atau diberi
kesempatan sebagai pengajar, pendidik, teladan, idola, kader dalam
keluarga maupun dalam kelompok kegiatan Bina Keluarga Lanjut
Usia (BKL).

2. Lansia sebagai pendidik dalam keluarga


Sebagai orang tua atau teladan dari cucu-cucunya hendaknya
menjadi guru agama, seperti mengajar mengaji dan menceritakan
kisah nabi-nabi atau pahlawan agama. Keluarga adalah tempat
pendidikan yang utama dan pertama.

3. Lansia sebagai Kader dalam kelompok BKL


Bagi Lansia yang mempunyai pengetahuan agama yang tinggi
hendaknya dimanfaatkan sebagai kader atau ketua atau pengurus
kelompok BKL, bisa juga sebagai Ustad atau guru sesuai keinginan
dan kemampuan serta tingkat pengetahuan para peserta kelompok
BKL. Kelompok kegiatan BKL merupakan tempat untuk memecahkan
masalah dan bertukar masalah dan bertukar pengalaman di antara
keluarga lansia.

4. Lansia yang kurang mempunyai pengetahuan dan pengalaman


keagamaan
Karena kurangnya pengetahuan agama dan menurunnya kondisi fisik
bagi lansia sehingga tidak dapat melaksanakan kegiatan ibadah
dengan baik dan sempurna, maka mereka perlu diberi kesempatan
dan bimbingan oleh keluarganya serta didorong meningkatkan
pengetahuan agama dan mengikuti kelompok kegiatan BKL.

C. PEMBINAAN KEHIDUPAN KEAGAMAAN LANSIA DALAM


KELUARGA

1. Keluarga membantu menyediakan tempat ibadah, sajadah,


tasbih dan perlengkapan ibadah lainnya.
Karena kondisi fisik lansia makin menurun, maka perlu disediakan
tempat khusus untuk melaksanakan ibadah atau mengantarkan ke
tempat ibadah yang terdekat. Kewajiban orang tua memelihara,
membesarkan dan mendidik anaknya dan setelah orang tua menjadi
lansia dan lemah maka anak berkewajiban untuk memeliharanya.

2. Keluarga membantu menyediakan Kitab Suci, dan buku-buku


agama
Lansia mempunyai banyak waktu untuk memperdalam agama karena
kegiatan berbentuk fisik sudah makin dikurangi karena kondisi fisiknya
semakin lemah. Dengan kondisi demikian maka keluarga lansia perlu
mendorong dan menyediakan berbagai buku-buku bacaan agama
untuk menambah pengetahuannya, karena lansia yang banyak
membaca khususnya kitab suci dan selalu belajar atau mengasah
otaknya tentang ilmu agama akan mencegah terjadinya kepikunan.
Sebaliknya bagi lansia yang selalu termenung dan bengong apalagi
dikucilkan oleh keluarga akan mempercepat terjadinya kepikunan.
Buku-buku agama yang perlu dipersiapkan adalah buku yang lebih
banyak mengarah kepada keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa
dan persiapan hidup di akhirat.

3. Keluarga harus mampu menciptakan suasana yang mendukung


penanaman sikap dan nilai-nilai kehidupan agama
Menciptakan suasana kehidupan keagamaan dalam keluarga akan
membantu anggota keluarga termasuk lansia bersikap dan bertingkah
laku yang ramah, cinta kasih, saling menghormati dan menghargai.
Keluarga yang bahagia dan sejahtera adalah keluarga yang
menjalankan 8 fungsi keluarga, yaitu: keagamaan, sosial budaya,
cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosial dan pendidikan, ekonomi
dan pembinaan lingkungan.

4. Keluarga harus mampu memberikan kesempatan kepada lansia


(orang tuanya) untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan
keagamaan.
Kegiatan keagamaan yang baik untuk diikuti oleh lansia adalah
pengajian, Majelis Taklim, peringatan hari besar agama yang
dilaksanakan dekat dari tempat tinggal. Hari-hari besar agama antara
lain seperti: Maulid Nabi, Is’ra Mi’raj, Hari Raya Idul Fitri, Natal, Hari
Raya Galungan, Hari Waisak, dll

D. PEMBINAAN SOSIAL KEMASYARAKATAN


BAGI LANJUT USIA (LANSIA)

A. KEPEDULIAN SESAMA LANSIA

Lansia dalam keluarga masyarakat Indonesia, memiliki nilai emosional


sendiri yang tidak ternilai bandingannya. Kasih sayang anggota keluarga
tercermin dari tindakan dan perilaku keluarga sehari-hari, bahkan
perlakuan yang berlebihan terhadap lansia dari keluarga kadang
membatasi gerak langkah lansia sendiri. Seperti tidak boleh bekerja, tidak
boleh keluar, tidak boleh berkarya. Tinggal di rumah dengan fasilitas yang
lengkap dan baik untuk lansia. Di sisi lain, kadang ada lansia yang masih
dibebani untuk mengasuh cucunya, sehingga cenderung lansia harus
tetap tinggal di rumah, tidak perlu sosialisasi. Tindakan keluarga
memperlakukan lansia seperti ini sungguh keliru. Sebaiknya lansia,
diberikan kesempatan oleh keluarganya untuk bersosialisasi, berkunjung
kepada teman-temannya yang masih ada. Berkomunikasi sesamalansia
sesame lansia adalah tindakan yang bijak dari keluarga. Kesertaan lansia
dalam kelompok BKL adalah suatu solusi untuk melawan kejenuhan,
dengan mengalihkan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi lansianya
sendiri, sehingga kehadirannya dalam keluarga maupun sesama lansia
masih diperlukan.
Dalam menumbuhkan kepedulian terhadap sesama lansia, sebaiknya
lansia tetap dihargai, baik sebagai subyek maupun obyek. Keluarga
sebaiknya mendukung kebutuhan lansia untuk tetap berbuat sesuatu
maupun berkarya, sehingga sisa hidupnya masih berarti bagi keluarga,
sesama, maupun bangsanya. Penumbuhan minat sosial kemasyarakatan
harus dijaga, seperti:
1. Memberikan santunan kepada sesama lansia
Adakalanya dalam suatu kehidupan tidak selamanya manis, kadang
ada pahit, kadang ada getir, kadang ada tawa maupun tangis. Lansia
sebagai sosok pribadi yang harus tetap dihargai kehadirannya, dijaga
kebutuhannya. Kadang tidak semua lansia beruntung nasibnya.
Kadang ada yang terlantar atau ditelantarkan oleh keluarganya.
Bagi sebagian lansia yang kurang bernasib baik ini, sebaiknya
ditumbuhkan kepedulian antar sesama lansia sendiri maupu oleh
keluarga yang mampu dengan memberikan santunan. Santunan bisa
berupa uang, jasa, maupun barang, seperti makanan/minuman,
pakaian, dan lain-lain, yang diberikan secara insidentil atau tetap
melalui yayasan atau organisasi kemasyarakatan.
Di dalam kelompok BKL, mungkin pemberian santunan bisa diberikan
secara spontan atau ditumbuhkan penggalangan dana secara rutin
atau insidentil tanpa harus memberatkan lansia, dana digalang bisa
pada saat sesudah kegiatan penyuluhan BKL dari lansia atau keluarga
yang mampu, untuk diserahkan kepada lansia yang kurang beruntung.
Karena pemberian santunan kepada sesame lansia adalah suatu
perbuatan yang terpuji, yang dianjurkan oleh setiap agama manapun.
2. Melakukan silahturahmi
Berkunjung atau mengunjungi sesama lansia dalam rangka
silahturahmi adalah merupakan terapi yang sehat bagi lansia. Kadang
kenangan masa lalu, atau pengalaman masa kanak-kanak maupun
remaja, atau masa aktif bekerja menjadi terapi yang menyenangkan
untuk diingat dan dikenang. Kenangan itu akan silih berganti, rekaman
masa lalu yang manis atau yang pahit adalah satu formula pengobatan
yang menyehatkan bagi sesama lansia. Obrolan atau banyolan-
banyolan akan menambah semangat dalam menjaga stabilitas
hidupnya.
Silahturahmi dalam ajaran agama sangat dianjurkan, dapat mengikat
persaudaraan, kekerabatan dan pertemanan asal dilakukansecara
ikhlas. Silahturahmi juga akan menghubungkan tali-tali yang rentas
agar terikat kembali, mengunjungi sesama lansia yang mendapat
musibah atau kesusahan adalah sangat dianjurkan, karena akan dapat
menghibur dan mengurangi penderitaan sesama lansia.

3. Mengunjungi lansia sakit


Masih dalam rangka silaturahmi, mengunjungi lansia yang sedang
sakit juga merupakan langkah terpuji. Nilai silahturahmi dalam
mengunjungi sesama lansia yang sedang sakit, akan sangat
bermakna. Selain memiliki nilai ibadah, juga bagi lansia yang sedang
sakit akan dapat memberikan dorongan dan kepercayaan diri yang
akan memompa semangat hidupnya.
4. Melayat lansia yang meninggal
Melayat lansia yang meninggal adalah merupakan wujud rasa empati
sesama lansia. Mengunjungi lansia yang meninggal merupakan suatu
penghormatan kepada almarhum atau dengan memberikan doa yang
tulus, agar arwahnya diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan
diberikan keringanan-keringanan serta diampuni segala dosanya.
Mengunjungi lansia yang meninggal sama juga menanamkan nilai
ibadah, selain mengantar kepergiannya juga akan memberikan
dorongan dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.
B. MASALAH INTERAKSI SOSIAL PADA LANSIA

Kembali pada sosok lansia, adalah suatu pribadi yang harus dihormati
dalam keluarga sebagai wujud terimakasih dari anak kepada orang tuanya
atau dari cucu atau mungkin juga buyut kepada kakek neneknya.
Penghormatan ini bagi keluarga Indonesia adalah wajar, karena adanya
ikatan emosional yang sengaja ditumbuhkan dari sejak jaman nenek
moyang kita dahulu, bahkan ikatan emosional ini ditumbuhkan sampai
orang tua kita atau kakek nenek kita meninggal, ini dibuktikan dengan
berdoa pada waktu-waktu tertentu di kuburan orang tua kita.
Selain wujud penghargaan yang berlebihan, di sisi lain, kadang ada juga
sebagian lansia di tengah perjalanan hidupnya menemukan masalah-
masalah dalam interaksi sosialnya. Masalah-masalah itu jngan dibiarkan
menjadi meradang dan berlarut-larut dalam diri lansia. Angota keluarga
harus paham itu, sehingga turut memecahkan masalah yang dihadapi oleh
lansia atau dalam kelompok BKL oleh kader yang menjadi pembinanya.
Biasanya masalah-masalah itu adalah :
1. Masalah yang ditimbulkan oleh pasangan hidup
Adakalanya pasangan hidup (suami-isteri) akan jadi batu himpitan bagi
lansia di dalam menjalankan sisa hidupnya. Masalah itu berupa ketidak
cocokan (disharmonis) diantara masing-masing pihak, mungkin ini
terjadi karena secara alami lansia sejalan dengan pertambahan usia
akan mengalami penurunan fisik maupun psikologis yang dialami oleh
kedua belah pihak. Sehingga sering mengalami ketegangan emosional
dan pada gilirannya akan mempengaruhi hubungan suami- isteri, tidak
sedikit pasangan suami isteri lansia mengalami perceraian di usia
senja karena masing-masing mempertahankan sifat egoisnya. Tetapi di
sisi lain banyak juga pasangan suami-isteri lansia, yang begitu
ditinggal mati oleh pasangannya, akan terjadi ketidak seimbangan
mental maupun fisiknya ,sehingga dalam menjalankan sisa hidupnya
kurang bergairah. Inilah beberapa masalah lansia yang diakibatkan
oleh pasangan hidupnya. Bila ini terjadi, keluarga harus dapat
meminimalisir dengan mengalihkan melalui kegiatan-kegiatan yang
bermanfaat, sehingga lansia dapat melupakan masalah-masalah yang
dihadapinya. Kader kelompok BKL harus dapat membaca
permasalahan-permasalah yang dihadapi oleh lansia, sehingga
penyuluhan-penyuluhan yang dilakukan oleh kader BKL sifatnya selain
penambahan pengetahuan juga menghibur.

2. Masalah yang ditimbulkan oleh lingkungan keluarga


Bisa juga masalah interaksi social bagi lansia ditimbulkan oleh
lingkungan keluarganya. Masalah itu bisa diakibatkan oleh ketidak
cocokan dengan sebagian anggota keluarga atau seluruh anggota
keluarga.
Sering juga masalah itu hanya sepele, karena adanya perbedaan
konsepsi antara lansia maupun keluarganya. Misalnya keluarga
melarang atau membatasi lansia untuk keluar rumah maupun
pekerjaan-pekerjaan fisik yang dilakukan lansia, dalam konteks ini
sebetulnya keluarga tersebut maksudnya baik dan sayang kepada
lansia tersebut, dengan memposisikan keamanan dan kenyamanan.
Tetapi bagi lansia, mungkin tindakan itu dianggap mengekang yang
dapat menimbulkan ketidak nyamanan, sehingga lansia merasa bagai
hidup di penjara yang terlalu banyak diatur oleh keluarganya.
Dalam kasus seperti ini, keluarga harus paham dan memperlakukan
lansia secara wajar sesuai dengan kondisi fisik maupun psikologisnya.
Kalau lansia ini ikut dalam kegiatan penyuluhan kelompok BKL,
bagaimana peran keluarga dalam mensupor lansia tersebut untuk aktif
dan membimbing lansia di keluarganya serta menerapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
3. Masalah yang ditimbulkan oleh lingkungan masyarakat
Lingkungan masyarakat yang tidak kondusif bagi lansia, akan
menimbulkan masalah tersendiri bagi lansia. Hal ini terjadi, karena
faktor kehidupan masa lalunya. Selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi
fisik dan psikologi lansia yang sudah berubah, sehingga lingkungan
masyarakat adakalanya menjadi masalah sendiri bagi lansia. Dalam
kondisi lingkungan masyarakat yang tidak sesuai ini akan mudah
mempengaruhi mental psikologisnya, sehingga ada lansia yang mudah
stress, cepat emosi, maupun murung. Ada lansia yang tidak cocok
dalam ligkungan masyarakat yang hiruk pikuk, dia lebih senang tinggal
di daerah yang sepi dengan lingkungan masyarakat yang agamis.
Tetapi ada juga sebaliknya, lansia lebih senang tinggal dalam suasana
lingkungan keluarga yang hangat, ramai, sehingga menambah gairah
hidupnya. Dalam kondisi seperti ini keluarga harus bijak, membahas
masalah ini bersama lansianya sendiri, mencarikan jalan keluar
sehingga lansia betul-betul merasa nyaman di lingkunganya. Keiikut
sertaan dalam kelompok BKL, yang secara rutin bertemu dengan
sesama lansia mungkin akan membantu mengurangi beban lansia.
4. Masalah yang ditimbulkan oleh pekerjaan.
Mungkin ada juga lansia yang memiliki beban dengan pekerjaannya,
terutama bagi lansia di usia yang semakin rentan terbebani oleh
pekerjaannya. Misalnya ada lansia karena kebutuhan hidupnya masih
dibebani oleh pekerjaan-pekerjaan atau tugas tertentu. Bagi kelompok
lansia seperti ini, pekerjaan adakalanya menjadi beban yang berat bagi
dirinya, atau ada juga lansia yang mempunyai beban yang sama
misalnya harus mengasuh cucunya. Hal ini terjadi biasanya di tengah
kehidupan keluarga modern atau juga keluarga tidak mampu, dimana
pasangan suami-isteri harus bekerja di luar rumah, sehingga ada
lansia dibebani dengan beban pekerjaan di rumah. Dalam kondisi
seperti ini, keluarga harus mencarikan jalan keluar, harus ada
keseimbangan yang dapat menghibur lansia sehingga lansia masih
tetap bersemangat.
5. Masalah dalam menghadapi kematian.
Bagi sebagian lansia, mungkin kematian adalah sebagai sesuatu yang
menakutkan, terutama bagi lansia yang menyia-nyiakan masa lalunya,
sehingga merasa kurang bekal terhadap persiapan ibadahnya.
Keluarga atau kader BKL dalam menghadapi lansia seperti ini harus
dapat memompa semangatnya, dengan memfasilitasi untuk
mendekatkan diri di bidang keagamaan, dengan cara menumbuhkan
keimanan dan kepercayaan diri, sehingga lansia dapat pasrah
menghadapi kematian atau dapat memberikan sugesti bahwa
kematian bukan untuk ditakuti. Ajak mereka untuk aktif di kelompok
BKL, perbanyak untuk mengikuti kegiatan-kegiatan ibadah yang
diselenggarakan oleh kelompok BKL.

E. PEMBINAAN PENGEMBANGAN POTENSI

A. Tugas Perkembangan Para Usia Lanjut


Tahapan terakhir dari sirkulasi perkembangan seseorang usia lanjut
biasanya diawali dengan tahapan pensiun, meninggalnya pasangan
dan berakhir dengan meninggalnya usia lanjut sendiri. Selain karena
biasanya nenek lebih muda, usia perempuan pun lebih panjang, dan
umumnya kakek akan menikah lagi kalau nenek meninggal lebih dulu,
maka tidak mengherankan jumlah janda di dunia lebih banyak dari
duda. Pria usia lanjut biasanya lebih tergantung hidupnya dibandingkan
perempuan atau istrinya sendiri, maka sebaiknya setiap usia lanjut
diperkenalkan dengan tugas perkembangannya. Apabila seseorang
mampu melaksanakan tugas perkembangannya berarti mampu
memenuhi harapan lingkungannya, dan dapat bertahan dalam
hidupnya. Adapun tugas perkembangan usia lanjut adalah :
1. Mengusahakan kehidupan di masa tua tetap menyenangkan,
selalu optimis
2. Menyesuaikan diri dengan penghasilan pensiunnya, yang biasanya
lebih kecil
3. Memantapkan kegiatan sehari-hari melalui pengembangan hobi,
mengikuti kegiatan sosial dan keagamaan serta bersosialisasi
dengan teman-teman
4. Menjaga kesehatan fisik dan mental dengan menjaga makanan,
istirahat secara teratur
5. Menjaga kehidupan yang bahagia dengan pasangan dan
keluarganya.
6. Tetap menjaga hubungan dengan keluarga besar dan rekan-
rekannya
7. Selalu tetap aktif dan mengikuti berbagai kegiatan sesuai dengan
kondisi usia lanjut
8. Menemukan makna hidup dengan mengikuti berbagai kegiatan
keagamaan bersama rekan dan tetap mengembangkan berbagai
kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya, dan masyarakat luas.

B. MENJADI KAKEK NENEK


Seseorang akan menjadi kakek dan nenek pada usia sekitar 60 tahun.
Pada tahapan usia tersebut mereka dikatakan sebagai generasi
sandwich, yaitu generasi yang memiliki berbagai peran yang sangat
kompleks. Biasanya pada usia tersebut mereka harus mengurus anak,
cucu, orangtua/mertua yang umumnya masih hidup, serta memenuhi
kebutuhan mereka sendiri. Pada tahapan tersebut, mereka masih
berminat untuk mengikuti pendidikan atau sedang berkarir. Khususnya
peran yang dimainkan lansia sebagai kakek-nenek adalah:
1. Sebagai penasehat atau pembimbing keluarga dan sanak saudara
dilingkungan keluarga
2. Sebagai panutan dalam keluarga
3. Mengamalkan pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang baik
dan berharga kepada anak cucu dan generasi muda
4. Membantu meningkatkan pendapatan keluarga
5. Peran untuk menyenangkan cucu. Peran ini sifatnya informal,
misalnya mengajak cucu untuk bermain dan bercengkrama.
6. Peran sebagai pengganti orang tua, yang bertugas mengasuh dan
mendisiplinkan cucu dan biasanya dilakukan oleh nenek saja. Nenek
biasanya lebih akrab dengan cucu dibandingkan kakek.
7. Lansia bisanya memiliki peran penting untuk memberikan berbagai
keterampilan dan pengetahuan khusus, misalnya tentang berkebun,
memberi nasehat pada saat keluarga dalam krisis (misalnya:
menghadapi kasus perselisihan, perceraian) atau hal-hal penting
dalam keluarga (pertunangan/pernikahan).