Anda di halaman 1dari 11

MATERI 5

PENGELOLAAN PROGRAM
PENINGKATAN KUALITAS
LINGKUNGAN KELUARGA

1
KONSEP PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN KELUARGA

A. LATAR BELAKANG
Hidup sejahtera adalah dambakan setiap keluarga dan menjadi tanggung jawab
negara untuk membantu seluruh keluarga guna mewujudkan cita-cita luhur
tersebut, sebagai manifestasi amanat konstitusi “untuk memajukan kesejahteraan
umum”, tetapi realitasn`ya saat ini masih banyak di jumpai keluarga yang berada
dalam kondisi tidak berdaya, terpuruk dalam kemiskinan mereka menghadapi
banyak hambatan dalam usaha mencapai kesejahteraan baik karena disebabkan
oleh faktor-faktor internal keluarga, maupun faktor-faktor lain dari luar lingkungan
keluarga.

Berdasarkan Susenas 2002, jumlah penduduk miskin di Indonesia hampir


mencapai 39 juta jiwa. Tepatnya sebanyak 38,39 juta jiwa atau 18,20% dari
keseluruhan jumlah penduduk, sedangkan menurut hasil pendataan keluarga
tahun 2001, jumlah Keluarga Pra Sejahtera (KPS) atau yang belum dapat
memenuhi kebutuhan dasar secara minimum akibat terkendali oleh faktor ekonomi
sebanyak 8.104.802 keluarga. Disamping itu terdeteksi pula adanya 7.030.759
keluarga. Yang berada pada tataran Keluarga Sejahtera Tahap I (KS I), yaitu
mereka yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar minimum keluarga tetapi
masih belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya, yang juga
disebabkan karena mengalami kesulitan ekonomi.

Munculnya permasalahan lingkungan keluarga pada keluarga-keluarga yang


tergolong KPS dan KS I alasan ekonomi, kebanyakan disebabkan karena
karakteristiknya yang kurang menguntungkan antara lain berpendidikan
rendah, jumlah anak banyak, bekerja disektor informal serta penghasilan
tidak tetap dan rendah, akibatnya mereka tidak memperoleh kehidupan yang
layak. Karena itu pemerintah mestinya turun tangan untuk mengentaskan mereka

2
dari himpitan kemiskinan dan tidak membiarkannya berjuang sendirian untuk
mengatasi permasalahan lingkungan keluarga yang dihadapinya.

Berkaitan hal tersebut, program KB selalu memberi keberpihakan kepada


keluarga-keluarga rentan, khususnya yang tergolong KPS dan KPS I alasan
ekonomi. Sesuai Visi BKKBN, “Seluruh Keluarga Ikut KB” dengan Misi
“Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera”, yang dilandasi dengan nilai :
 Cerdas, bertindak dengan cepat, tepat, efektif dan efisien,
 Ulet, mampu bertahan dan pulih dengan cepat dalam kondisi sulit, dan
 Kemitraan, membangun jejaring dan kerjasama dengan prinsip saling
menguntungkan.

Hal tersebut menunjukkan keseriusan program KB untuk menghantarkan keluarga-


keluarga Indonesia menjadi keluarga-keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

Mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera melalui pelaksanaan program


KB erat kaitannya dengan pembentukan kondisi lingkungan keluarga yang
berkualitas. Hal itu disebabkan kehidupan keluarga tidak dapat dipisahkan dari
dimensi ruang yang melingkunginya dengan segala benda, daya, keadaan serta
makhluk hidup didalamnya sebagai suatu kesatuan termasuk manusia dan
perilakunya. Dengan demikian mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera
harus dilewati melalui pembentukan lingkungan keluarga yang berkualitas, karena
yang demikian itu akan memudahkan keluarga untuk melaksanakan fungsi-fungsi
keluarga secara optimal, sehingga lebih memudahkan keluarga untuk mencapai
derajat keluarga bahagia dan sejahtera.

Pentingnya pengetahuan dan perubahan sikap perilaku (PSP) tentang menjaga


dan memelihara lingkungan keluarga baik fisik maupun non fisik keluarga semakin
dirasakan di Indonesia, karena masih banyak keluarga yang belum tahu cara
memelihara dan menjaga lingkungan yang sehat dan harmonis bagi keluarga.
Oleh karena itu sangatlah penting untuk diketahui mengenai aspek-aspek

3
lingkungan keluarga, peranannya dalam kehidupan keluarga dan upaya untuk
meningkatkan kualitas lingkungan keluarga.

A. PENGERTIAN
1. Lingkungan yaitu kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan
dan mahluk hidup didalamnya termasuk manusia dan perilakunya.
2. Keluarga yaitu unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri atas suami-istri
atau suami-istri dan anak-anaknya, atau ayah dan anaknya atau ibu dan
anaknya.
3. Lingkungan keluarga yaitu seluruh aspek hidup dan kehidupan yang ada
di masing-masing keluarga termasuk hubungan timbal balik antar anggota
keluarga, antar keluarga serta dengan masyarakat dan alam sekitarnya.
4. Kualitas lingkungan keluarga adalah seluruh aspek fisik dan non fisik
yang ada di lingkungan masing-masing keluarga termasuk hubungan timbal
balik antar anggota keluarga, antar keluarga, masyarakat dan alam sekitarnya
secara baik dan benar sesuai adat – istiadat dan norma-norma agama.
5. Lingkungan fisik yaitu kesatuan ruang dengan segala isinya baik yang
bersifat biotic (mahluk hidup) maupun yang abiotik (benda) termasuk daya dan
keadaan.
6. Lingkungan fisik keluarga di dalam rumah adalah lingkungan yang
dapat memenuhi kebutuhan fisik, meliputi kesehatan, kebersihan dan
kenyamanan keluarga. Lingkungan keluarga ini dicairkan dengan pola hidup
sehat dan bersih, serta memberikan perlindungan dalam kehidupan keluarga.
7. Lingkungan fisik keluarga di luar rumah adalah semua lingkungan
yang berkaitan dengan alam sekitarnya yaitu tumbuh-tumbuhan dan hewan
yang dapat menunjang kehidupan keluarga.
8. Lingkungan non fisik yaitu kesatuan ruang dengan berbagai perilaku
dari semua manusia yang ada didalamnya
9. Kemandirian keluarga adalah sikap mental keluarga dalam
mendayagunakan kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan

4
membangun seluruh potensinya agar menjadi sumber daya insani yang
tanggun dalam mendukung pembangunan bangsa.
10. Interaksi sosial dalam keluarga merupakan hubungan komunikasi
timbal balik yang efektif dalam keluarga sebagai landasan untuk membangun
cinta kasih dalam keluarga, sehingga dapat menanamkan nilai-nilai moral dan
agama sebagai benteng ketahanan keluarga.
11. Interaksi sosial antar keluarga merupakan hubungan timbal balik antara
satu keluarga dengan keluarga lainnya yang terjalin dengan baik dan harmonis
sehingga berdampak terhadap kerukunan bertetangga.
12. Interaksi sosial keluarga dengan masyarakat merupakan hubungan
timbal balik antara keluarga dengan masyarakat sesuai dengan norma-norma
dan aturan yang berlaku dalam masyarakat.
13. Masyarakat adalah kelompok orang yang tinggal menetap dalam suatu
wilayah, yang berinteraksi menurut kesamaan pola tertentu, diikat oleh
kepentingan yang sama yang keberadaannya berlangsung secara terus
menerus dengan suatu rasa identitas bersama
14. Kepedulian sosial merupakan keterlibatan pihak yang satu kepada pihak
lain dalam turut merasakan apa yang dirasakan dan dialami orang atau
kelompok lain.

5
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
- Dipahaminya lingkungan keluarga sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari kehidupan keluarga, berikut komponen dan
permasalahannya, untuk dijadikan bahan masukan dalam membangun
lingkungan keluarga yang berkualitas.
2. Tujuan Khusus
- Dipahaminya komponen lingkungan keluarga yang menyangkut aspek
fisik, non fisik dan permasalahannya sebagai stimulant dan asupan guna
mendapatkan respon positif dan menentukan alternatif solusi dalam rangka
mewujudkan lingkungan fisik dan non fisik yang berkualitas bagi keluarga.

D. MANFAAT
- Setiap anggota keluarga memperoleh lingkungan keluarga yang kondusif
baik itu lingkungan fisik maupun non fisik
- Setiap anggota keluarga tahu, mau dan mampu memanfaatkan potensi
dan kemandirian dalam menerapkan delapan fungsi keluarga
- Terciptanya hubungan yang harmonis dalam keluarga
- Terciptanya interaksi sosial yang harmonis antara keluarga dengan
tetangga dan masyarakat dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan
sosial keluarganya.

6
KEBIJAKAN DAN STRATEGI

A. Kebijakan.

Kebijakan umum program peningkatan kualitas lingkungan keluarga pada dasarnya


mengarah untuk menciptakan kondisi lingkungan keluarga yang kondusif bagi
terwujudnya ketahanan dan kemandirian keluarga.

1. Pendayagunaan SDM pengelola dan pelaksana Program KB Nasional sebagai


pengelola dan pelaksana program peningkatan kualitas lingkungan keluarga
Kebijakan ini dimaksudkan untuk memberikan pembekalan bagi pengelola dan
pelaksana Program KB Nasional dari segi pengetahuan tentang program
peningkatan kualitas lingkungan keluarga dan ketrampilan
mensosialisasikannya dalam bentuk aktivitas pelayanan kepada keluarga dan
masyarakat agar pelaksanaan advokasi dan KIE peningkatan kualitas
lingkungan keluarga dapat diterima dan mudah dipahami oleh keluarga dan
masyarakat.

2. Pelayanan advokasi, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) secara


bertanggung jawab
Kebijakan ini diarahkan agar para pembuat kebijakan/keputusan, tokoh
masyarakat dan institusi yang berpengaruh dapat mendukung program
peningkatan kualitas lingkungan keluarga serta keluarga dapat terakses dan
menerima informasi yang benar dan terbuka sesuai dengan kebutuhan
sehingga terbangun sikap dan perilaku yang positif dan bertanggung jawab
dalam mewujudkan kondisi lingkungan keluarga yang kondusif bagi terciptanya
ketahanan dan kemandirian keluarga.

3. Pengembangan model-model percontohan


Kebijakan ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada daerah untuk
menciptakan model-model percontohan tentang lingkungan keluarga yang
berkualitas, baik untuk lingkungan keluarga yang bersifat fisik maupun sosial.

4. Fasilitasi bagi wilayah khusus


Kebijakan ini dimaksudkan untuk memberikan fasilitasi khususnya bagi
keluarga rentan agar lebih mampu menerapkan pemahaman dan kepedulian

7
terhadap kualitas lingkungan ke dalam praktik mewujudkan lingkungan
keluarga yang berkualitas pada keluarganya.

5. Mengembangkan jejaring kerja dengan sektor dan institusi terkait.


Kebijakan ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan peranserta sektor lain
dan masyarakat agar semakin peduli dan berpartisipasi secara lebih aktif
dalam upaya mewujudkan lingkungan keluarga yang berkualitas.

6. Peningkatan kemandirian keluarga dan masyarakat dalam mengelola


lingkungan keluarga
Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan keluarga dan
masyarakat agar mampu melaksanakan upaya peningkatan kualitas
lingkungan keluarga secara mandiri.

B. Strategi.

1. Integrasi
Program peningkatan kualitas lingkungan keluarga dilaksanakan secara
terintegrasi dengan upaya peningkatan kesejahteraan keluarga serta terpadu
dengan berbagai program pembangunan lain yang berwawasan lingkungan.

2. Desentralisasi
Pelaksanaan program peningkatan kualitas lingkungan keluarga melalui
pemberdayaan keluarga memberikan kewenangan dan peluang yang seluas-
luasnya kepada masing-masing daerah untuk mengembangkan disesuaikan
dengan kondisi spesifik daerah serta potensi yang dimiliki daerah.

3. Pemberdayaan
Pelaksanaan program peningkatan kualitas lingkungan keluarga diarahkan
untuk memfasilitasi peningkatan pengelolaan upaya mewujudkan lingkungan
keluarga yang kondusif sehingga para pengelola dan pelaksana mempunya
kemampuan dalam memberikan pelayanan sesuai dengan aspirasi dan
kebutuhan masyarakat serta meningkatkan jejaring pelayanan program secara
terpadu.

8
PROGRAM STRATEGIS

Dengan memperhatikan tujuan dan sasaran yang akan dicapai maka program
strategis peningkatan kualitas lingkungan keluarga :

A. Pemetaan Lingkungan Keluarga

Pemetaan lingkungan keluarga bertujuan untuk menetapkan prioritas program


disuatu wilayah. Program ini dilakukan oleh petugas lapangan melalui identifikasi
dan analisa hasil pendataan keluarga.

B. Advokasi dan KIE Program Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga.

Advokasi Program Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga bertujuan untuk


mendapatkan dukungan dari tokoh formal dan informal di wilayah kerja.

KIE bertu juan untuk meningkatkan pemahaman sikap, dan perilaku masyarakat
terhadap program Peningkatan Kualitas Limgkungan Keluarga.

Advokasi dan KIE Program Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga dilakukan


melalui pendekatan-pendekatan kepada tokoh-tokoh maupun melalui forum-forum
pertemuan yang ada.

Kegiatan Advokasi dan KIE Program Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga


meliputi :

1. Identifikasi sasaran
2. Penetapan strategi
3. Penyusunan isue/isi pesan
4. Pelaksanaan Advokasi dan KIE
5. Monitoring dan Evaluasi

Advokasi dilakukan secara terpadu oleh petugas pada setiap tingkatan wilayah.

C. Fasilitasi

Program fasilitasi bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi petugas dan


keluarga-keluarga di wilayah khusus dalam mengembangkan kemampuan serta
melaksanakan kegiatan peningkatan kualitas lingkungan keluarga.

9
Kegiatan fasilitasi dilaksanakan secara terpadu bersama sektor terkait, dalam
wadah kelompok kegiatan (poktan).

Bentuk program fasilitasi antara lain :

1. Pemanfaatan lahan
2. Lantainisasi
3. Tabulampot (tanaman buah dalam pot)
4. Jum’at bersih
5. Kepedulian sosial
6. Pemanfaatan pusat rujukan keluarga

D. Modeling

Program modeling bertujuan untuk mengembangkan program peningkatan kualitas


lingkungan keluarga yang spesifik untuk dijadikan contoh/model bagi wilayah lain.

E. Penghargaan bagi yang berhasil

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan dorongan dan motivasi bagi keluarga
dalam meningkatkan kualitas lingkungan keluarga.

Bentuk penghargaan dapat diberikan berupa :

1. Piagam penghargaan
2. Pujian
3. Hadiah

F. Capacity Building

Capacity building bertujuan untuk meningkatkan kompetensi tenaga pengelola dan


pelaksana program peningkatan kualitas lingkungan keluarga

Bentuk kegiatannya :
1. Seminar
2. Diseminasi /sosialisasi
3. Orientasi
4. Pelatihan
5. Magang
6. Latihan kerja
7. Studi banding

G. Pengembangan Program Peningkatan

10
Kualitas Lingkungan Keluarga
di Wilayah Khusus

Pengembangan program peningkatan kualitas lingkungan keluarga untuk wilayah


khusus dimana keluarga yang ada sebagian besar adalah Keluarga Pra Sejahtera
dan KS I yang kesertaan ber KB-nya rendah, perlu diawali dengan peningkatan
pelayanan program KB, sebagai prasyarat untuk meningkatkan kualitas lingkungan
keluarga.

Bentuk kegiatannya antara lain:

1. Pelayanan KB dan Kesehatan


2. Kegiatan Bina-Bina (BKB, BKR, BKL)
3. Kegiatan Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga yang difasilitasi oleh
Pemerintah seperti :
a. Lantainisasi
b. Lelang kepedulian sosial.
c. UPPKS

11