Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

Pada saat ini dalam bidang pembuatan bangunan banyak digunakan


beton mutu tinggi, sehingga kita dituntut untuk dapat merancang
perbandingan campuran lebih tepat sesuai dengan teori perancangan
proporsi campuran adukan beton. Perancangan adukan beton
dimaksudkan untuk mendapatkan beton yang sebaik-baiknya, antara
lain :
a. Kuat tekan yang tinggi
b. Mudah dikerjakan
c. Tahan lama
d. Murah
e. Tahan Aus.

1.1. Kuat Tekan Beton


Meninjau mutu beton biasanya secara kasar hanya ditinjau kuat
tekannya saja. Dalam teori Teknologi Beton dijelaskan bahwa faktor-
faktor yang sangan mempengaruhi kekuatan beton adalah :
 Faktor Air Semen (fas) dan kepadatan
Hubungan antara faktor air semen (fas) dan kuat tekan beton
secara umum dapat ditulis dengan rumus yang diusulkan Duf
Abrams (1919) adalah sebagai berikut :
A
fc '  1, 5 x  di mana : fc’ = kuat tekan beton
B
x = faktor air semen (fas)
A,B = konstanta
Dari rumus di atas tampak bahwa semakin tinggi nilai faktor air
semen (fas) semakin rendah nilai kuat tekan betonnya, demikian
sebaliknya semakin rendah niali faktor air semen semakin tinggi
nilai kuat tekan beton. Namun pada nilai fas yang terlalu rendah
kuat tekan betonya justru semakin rendah. Hal ini diakibatkan
karena apabila nilai fas terlalu rendah maka adukan sangat sulit
dipadatkan sehingga mengakibatkan banyak terdapat pori yang
pada akhirnya akan menurunkan nilai kuat tekan beton. Dengan
demikian ada sutau nilai faktor air semen tertentu yang optimum
yang menghasilkan kuat tekan beton maksimum.
Kepadatan adukan campuran beton sangat mempengaruhi kuat
tekan betonnya setelah mengeras. Adanya pori udara sebanyak
5 % dapat mengurangi kuat tekan beton sampai 35 % Dan pori
sebanyak 10 % dapat mengurangi kuat tekan sampai 60 %.
Untuk mengatasi kesulitan pemadatan beton dapat dilakukan
dengan menggunakan mesin penggetar (Vibrator), atau dengan
memberikan bahan kimia tambahan (chemical admixture) yang
bersifat mengencerkan adukan beton sehingga lebih mudah
dilaksanakan pemadatannya.

 Umur beton
Kuat tekan beton bertambah sesuai dengan bertambahnya umur
beton tersebut. Kecepatan bertambah naiknya kekuatan beton
sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor , antara lain :
 Faktor air semen
 Suhu perawatan

 Jenis Semen
Menurut SII 0031-81 semen Portland dibagi menjadi lima jenis.
Masing-masing jenis mempunyai kelebihan dan kegunaan yang
berbeda tergantung pada kebutuhan konstruksi yang diinginkan.
Kelima jenis semen ini adalah :

2
 Semen Jenis I: Semen ini digunakan untuk penggunaan
konstruksi secara umum, dimana dalam
pelaksanaanya struktur tersebut tidak
membutuhkan persyaratan khusus.
 Semen Jenis II: Semen ini digunakan untuk beton yang tahan
terhadap sulfat dan mempunyai panas
hidrasi yang sedang.
 Semen Jenis III : Semen ini digunakan untuk beton yang
membutuhkan kekuatan awal yang tinggi.
Jadi beton dari jenis semen ini cepat
mengeras.
 Semen Jenis IV : Semen ini digunakan pada beton yang
memerlukan panas hidrasi yang rendah.
Biasanya digunakan untuk beton massa yang
membutuhkan panas hidrasi yang rendah.
Biasanya beton jenis semen ini lambat
mengeras.
 Semen Jenis V : Semen ini digunakan untuk beton yang
sangat tahan terhadap sulfat. Biasanya
digunakan untuk beton yang berhibungan
langsung dengan air laut.

Jenis-jenis semen ini mempunyai laju kenaikan kekuatan tekan


beton yang berbeda antra jenis semen yang satu dengan jenis
semen lainnya.

 Jumlah Semen
Jumlah pemakain semen dalam adukan beton sangat
mempengaruhi kuat tekan betonnya. Karena hal ini sangat

3
berkaitan dengan nilai faktor air semen. Seperti kita ketahui
faktor air semen sangat tergantung pada jumlah semen yang
digunakan . Hal ini dapat kita lihat dari defenisi faktor air semen
yaitu :

Jumlah berat air


Faktor air semen = Jumlah berat semen

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa : Peningkatan jumlah


semen tidak berbanding lurus terhadap kenaikan kuat tekan
beton, karena jumlah pemakaian semen sangat mempengaruhi
nilai faktor air semen.

 Sifat Agregat
Kekuatan agregat tidak terlalu mempengaruhi kuat tekan beton,
karena pada umumnya kuat tekan agregat lebih tinggi dari kuat
tekan betonnya. Namun demikian bila dikehendaki kuat tekan
beton yang tinggi, diperlukan juga agregat yang kuat agar
kekuatan agregat tidak kurang dari kuat tekan beton yang
diinginkan.
Sifat agregat yang paling mempengaruhi kuat tekan beton
adalah : kekasaran permukaan dan ukuran maksimum
butirannya.
Kekasaran permukaan agregat ini berpengaruh terhadap bentuk
kurve tegangan regangan tekan beton dan terhadap kekuatan
tekan betonnya. Semakin kasar permukaan agregat semakin
bagus lekatan antara pasta dengan dengan agregat, sehingga
kuat tekan akan semakin tinggi, tetapi pelaksanaan
pekerjaannya akan semakin sulit.

4
Besar ukuran maksimum agregat mempengaruhi kuat tekan
betonnya. Pada pemakaian ukuran butir agregat maksimum
lebih besar, memrlukan jumlah pasta lebih sedikit, sehingga pori-
pori udara dalam beton berkurang, sehingga kuat tekan akan
lebih tinggi ( pori-pori udara hanya terdapat dalam pasta
semen). Tetapi ukuran butir agregat yang maksimum maka luas
permukaan akan menjadi lebih sempit sehingga lekatan antara
permukaan agregat dengan pasta semen akan semakin kurang
kuat. Lagi pula karena butirannya besar akan sangan
menghalangi susutan pastanya, sehingga akan timbul retakan-
retakan kecil di sekitar agregat akan lebih mudah terjadi.

1.2 Metode Perancangan Campuran Beton


Pada perancangan adukan campuran beton ada beberapa macam
metode yang sering digunakan. Masing-masing metode mempunyai
kelebihan dan kekurangn. Pada umumnya semua metode yang
digunakan pada akhirnya mencari perbandingan jumlah pemakaian
Semen, Agregat dan Air dalam adukan beton. Adapun metode yang
dimaksud adalah :

a. Perancangan menurut Raod Note No. 4


Cara perancangan adukan ini disimpulkan atas penelitian
Glanville, dkk yang ditekankan pada pengaruh gradasi agregat
terhadap kemudahan pengerjaan adukan beton.
Cara “Road Note No. 4 “ ini memiliki kekurangan antara lain :
 Gradasi agregat yang tersedia ada empat kurva, pada
kenyataannya di lapangan amat sulit menepatkan antara
gradasi agregat yang dipakai dengan salah satu kurva yang
tersedia.

5
 Agregat yang dipakai terdiri dari agregat dengan berat jenis
yang berbeda-beda, dari 2,5 sampai 2,7, sehingga perlu
sedikit koreksi jika berat jenisnya tidak sama.

b. Perancangan menurut “American Concerete Institue”.


The American Concerete Institute (ACI) menyarankan suatu cara
perancangan campuran yang memperhatikan nilai ekonomi,
bahan yang tersedia, kemudahan pekerjaan, keawetan, serta
kekuatan yang diinginkan Cara ACI ini melihat kenyataan bahwa,
pada ukuran maksimum agregat tertentu, jumlah air permeter
kubik adukan mementukan tingkat konsisten/ kekentalan (slump)
adukan itu. Cara ACI ini didasarkan atas penelitian eksperimental
untuk memperoleh proposi bahan yang akan menghasilkan
berbagai konsistensi.
Cara ACI ini memiliki keterbatasan/kekurangan, antara lain :
 Agregat yang dipakai mempunyai bentuk dan gradasi yang
memenuhi spesifikasi, sehingga bila agregat yang dipakai
tidak sesuai akan diperoleh konsistensi yang berbeda.
 Nilai Modulus Kehalusan Agregat Halus sebenarnya kurang
menggambarkan gradasi agregat yang tepat, sehingga jumlah
volume agregat kasar yang diperoleh kurang tepat, sehingga
diperlukan koreksi bila dipakai berat jenis butir agregat yang
lain.

c. Perancangan Menurut Cara Inggris (Departement Of


Environment/DOE)

6
Perancangan adukan beton cara Inggris ini di Indonesia dikenal
dengan DOE (Departement Of Environment). Perancangan
dengan cara DOE ini dipakai standar perencanaan Departemen
Pekerjaan Umum di Indonesia, dan dimuat dalam buku standar
No. SK. SNI-T – 15 – 1990 – 03 . Dalam perencanaan ini
digunakan grafik dan tabel.
Cara DOE ini mempunyai kekurangan antara lain :
 Jenis agregat yang ditetapkan sebagai batu pecah dan alami
saja tampaknya sulit, karena sering walaupun agregat alami
tetapi bentuk dan permukaannya tidak bulat atau halus.
Kekasaran permukaan butir merupakan hal yang sulit diukur,
dan ini berpengaruh terhadap jumlah air yang diperoleh.
 Diagram proporsi agregat halus terhadap agregat total yang
dipakai, sulit mendapatkan hasil yang tepat.
 Diagram hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan
rata-rata silinder beton tidak sama untuk berbagai jenis
agregat yang dipakai untuk beton.

d. Perancangan Campuran Coba-coba.


Cara coba-coba (Try and Error method of mix design)
mendasarkan pada percobaan untuk memperoleh campuran
dengan pori-pori yang minimum atau kepadatan maksimum.
Agregat halus dalam jumlah tertentu ditaburkan untuk mengisi
rongga-rongga di antara butir-butir agregat kasar, dan sejumlah
pasta semen dipakai untuk mengisi rongga-rongga antara butir-
butir campuran agregat tersebut. Proporsi antara agregat halus
dan agregat kasar ditetapkan dengan coba-coba, yaitu sampai
diperoleh campuran yang mempunyai berat satuan tertinggi.
Cara perancangan ini mempunyai kekurangan antara lain :

7
 Pada pelaksanaan mencari proporsi campuran antara agregat
halus dan agregat kasar dengan cara menaburkan agregat
halus , kemudian diketuk perlahan-lahan. Pada
pelaksanaannya sering terjadi bahwa apabila mengetuknya
terlalu keras agregat kasar akan lari mengambang ke atas
dan agregat halus turun menyusup ke bawah sehingga tidak
jadi mengisi rongga-rongga sebagaimana diharapkan.

e. Perancangan dengan cara perencanaan campuran di


Laboratorium.
Pada cara ini untuk memperoleh proporsi campuran agregat
kasar dan halus yang optimum dilakukan dengan cara analisis
gradasi agar diperoleh gradasi agregat campuran yang sesuai
dengan persyaratan yang diinginkan.

f. Perancangan Campuran Coba


Campuran coba yang mempunyai proporsi dan konsistensi yang
diperlukan untuk pekerjaan yang diusulkan harus dibuat minimal
sebanyak tiga nilai faktor air semen yang berbeda atau
kandungan semen yang berbeda. Setiap nilai faktor air semen
datau kandungan semen, harus dibuat minimal tiga silinder uji.
Silinder-silinder uji tersebut selanjutnya diuji pada umur uji 28
hari atau umur uji lain yang ditetapkan untuk memperoleh kuat
tekan rata-rata. Dari hasil uji ini kemudian dibuat suatu grafik
yang menunjukkan hubungan antara nilai faktor air semen atau
kandungan semen dan kuat tekan silinder betonnya sehingga
dapat dicari secara interpolasi nilai faktor air semen yang tepat.

8
BAB II
DATA PERANCANGAN CAMPURAN BETON

Dalam merencanakan campuran adukan beton maka diperlukan data-


data material yang akan digunakan. Adapun data – data yang dimaksud
adalah :

1.1 Kegunaan Beton


Beton ini akan digunakan untuk pengecoran balok, kolom dan pelat
lantai gedung bertingkat banyak dan akan dilaksanakan di Kota
Ternate Propinsi Maluku Utara pada Pembangunan Gedung
Perkantoran.

1.2 Kuat tekan beton


Kuat tekan beton yang disyaratkan pada pekerjaan ini adalah mutu
beton fc’ = 22,5 Mpa, dengan nilai slump 100 mm

1.3 Agregat Halus


Agregat halus yang akan digunakan adalah agregat halus alami
yang mempunyai berat jenis sebesar 2,60 t/m 3 dan yang setelah
dilakukan pengayakan maka hasilnya adalah sebagai berikut :
Lubang Ayakan Berat Tertinggal
(mm) (gram)

9
10,00 -
4,80 125.00

2,40 587.00
1,20 958.00
0,60 1,125.00
0,30 657.00
0,15 425.00
Sisa 75.00
Jumlah 3,952.00

1.4 Agregat Kasar


Agregat Kasar yang akan digunakan adalah agregat Kasar Batu
Pecah yang mempunyai berat jenis sebesar 2,70 t/m 3 yang setelah
dilakukan pengayakan maka hasilnya adalah sebagai berikut :

Lubang Ayakan Berat Tertinggal


(mm) (gram)
40 -

20 -

10 26,584.00

5 6,548.00

2,4 2,351.00

1,2 1,745.00

0,6 1,252.00

0,3 512.00

0,15 250.00

10
Sisa 15.00

Jumlah 39,257.00

Agregat Campuran dikehendaki mempunyai Modulus Halus Butir


(mhb) sebesar 5,25.
Dalam perencanaan campuran adukan beton ini dianggap tidak ada
data uji pada pekerjaan sebelumnya dan belum pernah mempunyai
pengalaman dalam bidang pekerjaan beton.

BAB III
PERANCANGAN ADUKAN BETON
MENURUT STANDAR No. SK.SNI.T – 15 – 1990 -03

3.1 Penetapan kuat tekan rata-rata yang direncanakan.


Dari data diperoleh bahwa tidak ada data uji dari pekerjaan
terdahulu dan pelaksana pekerjaan belum berpengalaman dalam
pekerjaan beton maka kuat tekan beton rata-rata direncakan
diperoleh dari rumus :
fcr’ = fc’ + M  di mana : fcr’ = kuat tekan beton rata-
rata (Mpa)
fc’ = kuat tekan yang disyaratkan (22,5
Mpa)
M = Nilai margin (tambah) ; 12 Mpa

11
Sehingga diperoleh :
fcr’ = 22,5 + 12 = 34,5 Mpa.

3.2 Penetapan Jenis Semen Portland.


Karena pekerjaan beton digunakan untuk balok, kolom dan pelat
lantai dan dilaksanakan di Kota Ternate Propinsi Maluku Utara, maka
semen yang dipakai adalah semen Jenis I yang banyak beredar di
pasaran Kota Ternate dengan merk dagang “Semen Tonasa”

3.3 Penetapan Jenis Agregat


Jenis Agregat halus yang digunakan adalah Pasir alami dan dan
agregat kasar digunakan Batu Pecah (Split) dengan diameter
maksimum 20 mm dengan modulus halus butir agrgegat campuran
(mhb) campuran = 5,25 seperti hasil hitungan di atas.

3.4 Menetapkan “faktor air semen”


Ada dua cara dalam penetapan faktor air semen yaitu :
a. Berdasarkan jenis semen yang dipakai dan kuat tekan rata-rata
silinder beton yang direncanakan pada umur tertentu, ditetapkan
faktor air semen dengan melihat gambar 3.1 pada lembaran
berikut . Pada grafik tersebut terbaca untuk mutu beton rencana
(fcr’) = 34,5 Mpa ,  faktor air semen (fas) = 0,46

12
Grafik 3 – 1 Grafik Hubungan Antara Kuat Tekan dan Faktor Air Semen
Untuk Benda Uji Silinder (diameter 150 mm, tinggi 300 mm)

b. Berdasarkan jenis semen yang dipakai, jenis agregat kasar , dan


kuat tekan rata-rata yang direncanakan pada umur tertentu,
ditetapkan nilai faktor air semen dengan tabel 3-1 dan gambar
3-2. Langkah penetapannya dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
 Lihat Tabel 3-1. Dengan data jenis semen, jenis agregat kasar,
dan umur beton yang dikehendaki, dibaca perkiraan kuat tekan

13
silinder beton yang akan diperoleh jika dipakai faktor air semen
0,50. Jenis kerikil ataupun umur beton yang direncanakan,
maka dapat diperoleh kuat tekan beton seandainya dipakai fas
0,50.
 Lihat Grafik 3-2. Lukislah titik A pada gambar grafik 3-2 dengan
nilai fas 0,50 (sebagai absis) dan kuat tekan beton yang
diperoleh dari tabel 3-1 (sebagai ordinat). Pada titik A tersebut
kemudian dibuat grafik baru yang bentuknya sama dengan 2
grafik yang sudah ada didekatnya. Selanjutnya ditarik garis
mendatar dari sumbu tegak di kiri pada kuat tekan rata-rata
yang dikehendaki sampai memotong grafik baru tersebut. Dari
titik potong itu kemudian ditarik garis ke bawah sampai
memotong sumbu mendatar dan dapatlah dibaca nilai faktor air
semen yang dicari.

Tabel 3 - 1. Perkiraan Kuat Tekan Beton (Mpa)


dengan Faktor Air Semen 0,5
Jenis Agregat Umur (Hari)
Jenis Semen
Kasar 3 7 28 91
I,II, III Alami 17 23 33 40

Batu Pecah 19 27 37 45

III Alami 21 28 38 44

Batu Pecah 25 33 44 48

14
Faktor Air Semen

Grafik 3 – 2 Grafik mencari Faktor Air Semen

15
Dari pembacaan grafik tersebut di atas maka diperoleh nilai fas =
0,53

3.5 Penetapan Faktor Air Semen Maksimum


Agar beton yang diperoleh tidak cepat rusak, misalnya maka perlu
ditetapkan nilai faktor air semen maksimum. Penetapan nilai faktor
air semen masimum dilakukan dengan tabel 3-2 berikut.
Tabel 3-2 Persyaratan faktor air semen maksimum untuk
berbagai pembetonan dan lingkungan khusus
Jenis Pembetonan Fas Maksimum
Beton didalam ruangan bangunan
a. Keadaan keliling non-korosif 0,60
b. Keadaan keliling korosif, disebabkan 0,52
oleh kondensasi atau
uap korosi
Beton diluar ruangan bangunan
a. Tidak terlindung dari hujan dan terik 0,55
matahai langsung
b. Terlindung dari hujan dan terik matahari 0,60
langsung
Beton yang masuk ke dalam tanah
a. Mengalami keadaan basah dan kering 0,55
bergantian
b. Mendapat pengaruh sulfat dan alkali lihat tabel 3-2.a.
tanah
Beton yang selalu berhubungan dengan lihat tabel 3-2.b.
air tawar/payau/
/air laut.

Tabel 3- Faktor air maksimum untuk beton yang


2.a
berhubungan dengan air tanah yang mengandung
sulfat
Konsentrasi sulfat (SO3) Jenis Semen Fas
Dalam Tanah Maks.

16
SO3 dlm SO3
Total SO3 campuran dalam
% air : tanah air tanah
=2:1
< 0,20 < 1,00 < 0,30 Tipe dengan atau Pozolan 0,50
(15 - 40 %)
0,20 - 1,00 - 0,30 - Tipe I tanpa Pozolan 0,50
0,50 1,90 1,20
Tipe dengan atau Pozolan 0,55
(15 - 40 %)
Atau semen portlan pozolan
Tipe II dan V 0,55
0,50 - 1,90 - 1,20 - Tipe dengan atau Pozolan 0,45
1,00 3,10 2,50 (15 - 40 %)
Atau semen portlan pozolan
Tipe II dan V 0,45
1,00 - 3,10 - 2,50 - Tipe II dan V 0,45
2,00 5,60 5,00
> 2,00 >5,60 > 5,00 Tipe II dan V,dan lapisan 0,45
pelindung

Tabel 3- 2 b. Faktor Air Semen untuk beton bertulang dalam


air
Berhubungan Faktor Air
Tipe Semen
dengan Semen
Air tawar Semua tipe I - V 0,50
Tipe I + Pozolan (15 –
40 %) 0,45
Air Payau
Atau S.P. Pozolan
Tipe II atau V 0,50
Air Laut Tipe II atau V

Dari ketiga tabel tersebut maka diperoleh bahwa nilai faktor air
semen maksimum adalah 0,60.
Dari uraian di atas kita mendapatkan 3 nilai faktor air semen yaitu :
Fas 1 = 0,46
Fas 2 = 0,53

17
Fas 3 = 0,60
Maka yang dipakai untuk mendesain perancangan adukan beton
adalah nilai fas terendah yaitu : fas = 0,46

3.6 Penetapan Nilai Slump


Penetapan nilai slump dilakukan dengan memperhatikan
pelaksanaan pembuatan, pengangkutan, penuangan, pemadatan
maupun jenis strukturnya. Nilai selump yang diingikan dapat
diperoleh dati tabel 3-3 berikut :
Tabel 3-3 Penetapan nilai slump (cm)

Maksim
Pemakaian Beton Minimum
um
Dinding, Plat Pondasi dan Pondasi
12,50 5,00
telapak bertulang
Fondasi telapak tak bertulang, koison
9,00 2,50
dan struktur di bawah tanah
Pelat, Balok, kolom dan dinding 15,00 7,50
Pengerasan Jalan 7,50 5,00
Pembetonan Masal 7,50 2,500

Dari data perencanaan kita dapatkan nilai slump = 10 cm


3.7 Penetapan besar butir agregat maksimum
Penetapan besar butir agregat maksimum dilaksanakan
berdasarkan nilai terkecil dari ketentuan-ketentuan berikut :
a. Tiga per empat kali jarak tulangan minimum antar baja tulangan,
atau berkas baja tulangan, atau tendon prategang atau
selongsong
b. Sepertiga kali tebal plat
c. Seperlima jarak terkecil antara bidang samping dari cetakan

18
Dari data agregat kita mendapat bahwa agregat maksimum yang
dipakai adalah 20 mm

3.8 Menetapkan jumlah air yang diperlukan.


Jumlah air yang diperlukan permeter kubik neton, berdasarkan
ukuran maksimum agregat, dan nilai slump yang diinginkan, lihat
tabel 3 – 4 berikut :

Tabel 3 – 4 : Perkiraan Kebutuhan Air Permeter Kubik Beton (liter)


Besar ukuran Nilai Slump (mm)
Jenis
maksimum 0- 10 - 30 - 60 -
Batuan
kerikil (mm) 10 30 60 180
Alami 150 180 205 225
10
Batu Pecah 180 205 230 250
Alami 135 160 180 195
20
Batu Pecah 170 190 210 225
Alami 115 140 160 175
40
Batu Pecah 155 175 190 205

Dari tabel di atas, berdasarkan data yang adal yaitu : Agregat kasar
yang dipakai adalah Batu Pecah dengan diameter maksimum = 20
mm , dan nilai slump yang dipakai adalah = 10 cm , maka
kebutuhan air = 225 liter

3.9 Menghitung Berat semen yang dibutuhkan


Berat semen permeter kubik beton dihitnug dengan mebagi jumlah
air yang diperlukan dengan faktor air semen atau dengan rumus :
W Air
Wsemen  kg W Air = 225 liter
fas

fas = 0,46

19
225
WSemen  kg  490 kg
0,46

Jadi dibutuhkan semen = 490 kg

3.10 Kebutuhan semen minimum


Kebutuhan semen minimum ini ditetapkan untuk menghindari beton
dari kerusakan akibat lingkungan khusus, misalnya lingkungan
korosif, air payau atau air laut. Kebutuhan semen minimum
ditetapkan dari tabel 3 – 5.

Tabel 3-5 Kebutuhan semen minimum untuk


Berbagai pembetonan dan lingkungan khusus
Jenis Pembetonan Semen
Minimum
(kg/m3 beton)
Beton didalam ruangan bangunan
a. Keadaan keliling non-korosif 275
b. Keadaan keliling korosif, disebabkan 325
oleh kondensasi atau
uap korosi
Beton diluar ruangan bangunan
a. Tidak terlindung dari hujan dan terik 325
matahai langsung
b. Terlindung dari hujan dan terik matahari 275
langsung
Beton yang masuk ke dalam tanah
a. Mengalami keadaan basah dan kering 325
bergantian
b. Mendapat pengaruh sulfat dan alkali lihat tabel 3-5.a.
tanah
Beton yang selalu berhubungan dengan lihat tabel 3-5.b.
air tawar/payau/
/air laut.

20
Tabel 3- Kandungan semen minimum untuk beton yang
5.a berhubungan
Dengan air tanah yang mengandung
sulfat

Konsentrasi sulfat (SO3) Kandungan


semen
Dalam Tanah minimum
SO3 (kg/M3)
Jenis Semen
dalam Ukuran
Total SO3 %
air tanah Maksimum
SO3 dlm
campuranair : tanah Agregat (mm)
=2:1 40 20 10
< 0,20 < 1,00 < 0,30 Tipe dengan atau
280 300 350
Pozolan (15 - 40 %)
0,20 - 1,00 - 0,30 - Tipe I tanpa Pozolan
290 330 380
0,50 1,90 1,20
Tipe dengan atau
Pozolan (15 - 40 %)
Atau semen portlan
pozolan
Tipe II atau V 250 290 430
0,50 - 1,90 - 1,20 - Tipe dengan atau
340 380 430
1,00 3,10 2,50 Pozolan (15 - 40 %)
Atau semen portlan
pozolan
Tipe II dan V 290 370 420
1,00 - 3,10 - 2,50 - Tipe II dan V
330 370 420
2,00 5,60 5,00
> 2,00 >5,60 > 5,00 Tipe II dan V,dan
330 370 420
lapisan pelindung

Tabel 3- 5 b. Kandungan semen minimum untuk beton


bertulang dalam air

Kandungan semen

Berhubungan minimum
Tipe Semen Ukuran maksimum agregat
dengan
(mm)
40 20
21
Air tawar Semua tipe I - V 280 300
Tipe I + Pozolan (15
– 40 %) 340 380
Air Payau
Atau S.P. Pozolan
Tipe II atau V 290 330
Air Laut Tipe II atau V 330 370

Berdasarkan tabel diatas, maka kebutuhan semen minimum unutk


pekerjaan beton ini adalah : semen min. = 275 kg
3.11 Penyesuaian kebutuhan semen
Apabila kebutuhan semen yang diperoleh (pada langkah 3.9)
ternyata lebih kecil dari kebutuhan semen minimum (langkah 3.10),
maka kebutuhan semen harus digunakan yang minimum (yang
nilainya lebih besar). Karena hasil yang diperoleh pada langkah 3.9
lebih besar dari pada kebutuhan semen minimum (langkah 3.11)
maka digunakan semen = 490 kg

3.12 Penyesuaian Jumlah air atau faktor air semen


Jika jumlah semen ada perubahan akibat langkah ke 3.11 maka nilai
faktor air semen akan berubah. Dalam hal ini, dapat dilakukan dua
cara berikut :
a. Faktor air semen dihitung kembali dengan cara membagi jumlah
air dengan jumlah semen minimum. Cara ini akan menurunkan
nilai faktor air semen
b. Jumlah air disesuaikan dengan mengalikan jumlah semen
minimum dengan faktor air semen, Cara ini akan menaikkan
jumlah air.
Dalam perencanaan ini jumlah semen yang digunakan tmelebihi
dari jumlah semen minimum, sehingga jumlah semen , air maupun
faktor air semen tidak berubah.

22
3.13 Perhitungan Gradasi Agregat halus
Berdasarkan data agregat yang ada maka pencampuran agregat
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Dari pengayakan Pasir diperoleh hasil :
sebagai berikut
Lubang Berat Berat
Berat Tertinggal Berat Butir
Ayakan Tertinggal Tertinggal
Komulatif yang lewat
(mm) (gram) (%)
(%) (%)
100.0
10,00 - - -
0
96.8
4,80 125.00 3.16 3.16
4
81.9
2,40 587.00 14.85 18.02
8
57.7
1,20 958.00 24.24 42.26
4
29.2
0,60 1,125.00 28.47 70.72
8
12.6
0,30 657.00 16.62 87.35
5
1.9
0,15 425.00 10.75 98.10
0
Sisa 75.00 1.90
Jumlah 3,952.00 100.00 319.61
319,61
Nilai Modulus Halus butir Pasir =  3,20
100,00

Dari pengayakan Batu Pecah (Split) diperoleh hasil


sebagai berikut :
Berat Berat Berat
Lubang Ayakan Berat Butir
Tertinggal Tertinggal Tertinggal
Komulatif yang lewat
(mm) (gram) (%)
(%) (%)
40 - - - 100.00

20 - - - 100.00

10 26,584.00 67.72 67.72 32.28

23
5 6,548.00 16.68 84.40 15.60

2,4 2,351.00 5.99 90.39 9.61

1,2 1,745.00 4.45 94.83 5.17


0,6 1,252.00 3.19 98.02 1.98
0,3 512.00 1.30 99.32 0.68
0,15 250.00 - 99.32 0.68
Sisa 15.00 0.04
Jumlah 39,257.00 99.36 634.00

634,00
Nilai Modulus Halus butir Batu Pecah =  6,34
100,00

Dengan Modulus Halus Butir yang diinginkan (mhb) = 5,25, maka :


6,34  5,25
W  x100 %  53,07 %
5,25  3,20

Perbandingan antara Pasir dengan Batu Pecah : 53,07 : 100


53,07
Maka persen berat pasir adalah :  x 100 %  35 %
153,07

100,00
Maka persen berat Batu Pecah adalah :  x 100 %  65 %
153,07

Hitungan Campuran Pasir dan Kerikil (mhb = 5,25)


Lubang (3) x B
Berat Butir yang lewat (2) x P (4 + 5 )
Ayakan P
Batu Pecah
(mm) Pasir (%) 35 (%) 65 (%) (%)
(%)
1 2 3 4 5 6
40 100.0 100.0 35 65 100.0
20 100.0 100.0 35 65 100.0
10 100.0 32.3 35 21 55.8
5 96.8 15.6 34 10 43.8
2.4 82.0 9.6 28 6 34.7
1.2 57.7 5.2 20 3 23.4
24
0.6 29.3 2.0 10 1 11.4
0.3 12.7 0.7 4 0 4.8
0.15 1.9 0.7 1 0 1.1
3.14 Perbandingan agregat halus dan agregat kasar
Nilai banding antara agregat halus dan agregat kasar diperlukan
untuk memperoleh gradasi Grafik 3- 2Grad
agregat asi Agregat Cam
campuran puranbaik. Pada
yang
langkah ini dicari nilai banding antara agregat halus dan agregat
100 100
100
100
campuran. Penetapan dilakukan dengan memperhatikan besar
butur maksimum agregat kasar, nilai slump, faktor air semen, pada
80
Berat Butir Yang Lewat (%)

daerah gradasi agregat halus. Berdasarkan data tersebut di75 atas


dan grafik 3-3 dapat diperoleh prosentase berat agregat 65halus
60
terhadap agregat campuran. 56
55

48
42 44
42 43
40
35 36
34 35
30
27 28 28
23 23
20 21 21
16
14
12 11
9
5
5
3
2 2
0 01
0
0,15 0,30 0,60 1,20 2,40 5,00 10,0 20,0
Lubang Ayakan (mm)

25
rafik 3 – 3 Grafik Prosentase Agregat halus terhadap agregat
keseluruhan
untuk ukuran butir maksimum 20 mm

Berdasarkan data :
Agregat kasar maksimum = 20 cm
Nilai Slump = 10 cm
Faktor air semen = 0,46
Maka dipakai grafik 3-6 b. dan diperoleh prosentase berat agregat
halus terhadap agregat campuran sebesar = 35 %

3.15 Berat Jenis Agregat Campuran


Berat Jenis Agregat Campuran dihitung berdasarkan rumus :
P K
Bj camp  x bj ag . halus  x bj. ag. kasar
100 100

di mana : P = Prosentase agregat halus thd ag. campuran = 35 %


K = Prosentase agregat Kasar thd ag. campuran = 65 %
Bj. Ag. halus = Berat jenis agregat halus = 2,60
t/m3
Bj. Ag. Kasar = Berat jenis agregat Kasar = 2,70 t/m3
35 65
Bj. camp  x 2,60  x 2,70  2,665 t M 3
100 100

3.16 Penentuan Berat Jenis Beton


26
Dengan data berat jenis agregat campuran dan kebutuhan semen
diperkirakan berat jenis betonya.
Caranya sebagai berikut :
a) Dari berat jenis agregat campuran pada langkah ke 3. 15 dibuat
garis kurva berat jenis agregat campuran sesuai garis kurva
yang paling dekat dengan garis kurva pada grafik 3 - 4.
b) Kebutuhan air yang diperoleh pada langkah ke 3.8 dimasukkan
dalam gambar grafik 3 – 4. Kemudian nilai ini ditarik garis
vertikal ke atas sampai mencapai garis kurva yang dibuat pada
langkah a). di atas.
c) Dari titik potong ini kemudian ditarik garis horizontal ke kiri
sehingga diperoleh nilai berat jenis beton.

Perkiraan Berat Jenis Beton Basah yang dimampatkan Secara Penuh

Grafik 3.4 Perkiraan Berat Jenis Beton Basah yang dimampatkan


Secara Penuh

27
Dari grafik tersebut kita dapatkan bahwa berat jenis beton
adalah = 2.413 kg/M3

3.17 Kebutuhan Agregat Campuran


Kebutuhan agregat campuran dihitung dengan cara mengurangi
berat beton permeter kubik dikurangi kebutuhan air dan semen.

WAC = WBB - (Wair + Wsemen) di mana : WAC = Berat Agregat


Campuran
WBB = Berat Beton permeter kubik
= 2352 kg/M3
Wair = Berat kebutuhuan air = 225
liter = 225 kg Wsemen = Berat
kebutuhan semen = 490 kg
WAC = 2352 – (225 + 490)
WAC = 1637 kg/M3

3.18 Menghitung kebutuhan Agregat Halus


Menghitung kebutuhan Agregat Halus berdasarkan prosentase
agregat halus terhadap agregat campuran yaitu :

WPasir = 35 % x WAC = 35 % x 1637 = 573 kg/M3

3.19 Menghitung kebutuhan Agregat Kasar


Menghitung kebutuhan Agregat Kasar dengan cara mengurangi
jumlah berat agregat campuran dikurangi dengan kebutuhan
agregat halus yaitu :

28
WBtau pecah = WAC - WPasir = 1637 - 573 = 1.064 kg/M3

29
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

Dari analisa di atas untuk perencanaan adukan campuran beton dengan


Standar Pekerjaan Umum, berdasarkan data yang ada maka dapat
dibuatkan formulir perancangan sebagai berikut :
No. U r a i a n
: 22,5
1 Kuat tekan yang disyaratkan
Mpa
: 12,0
2 Nilai Tambah (m)
MPa
: 34,5
3 Kuat tekan rata-rata yang direncanakan (f’cr)
Mpa
4 Jenis semen (biasa/cepat kering) : biasa tipe I
5 Jenis agregat kasar (alami/batu pecah) : Batu Pecah
6 Jenis agregat halus (alami/batu pecah) : alami
7 Faktor air semen (fas) (grafik 3 – 1) : 0,46
8 Faktor air semen maksimum (tabel 3-2) : 0,60
---------> dipakai faktor air semen yang rendah : 0,46
9 Nilai slump (tabel 3-3) : 10 cm
: 20
10 Ukuran maksimum agregat kasar (data)
cm
: 225
11 Kebutuhan air (tabel 3-4)
liter
: 490
12 Kebutuhan semen portland (dihitung)
kg
: 275
13 Kebutuhan semen portland minimum (tabel 3-5)
kg
----------.> dipakai kebutuhan semen Portland : 490
maksimum kg
14 Penyesuaian jumlah pemakaian semen / fas : …………..
15 Daerah gradasi agregat campuran (grafik 3 – 2) : daerah 2
Prosentasi agregat halus terhadap agregat
16 : 35 %
campuran (tabel 3-6 b)
: 2.665
17 Berat jenis agregat campuran (dihitung)
kg/m3
: 2.352
18 Berat Jenis Beton (grafik 3 – 4)
kg/m3
19 Kebutuhan agregat campuran (dihitung) : 1.637

30
kg/m3
: 573
20 Kebutuhan agregat halus (dihitung)
kg/m3
: 1.064
21 Kebutuhan agregat kasar (dihitung)
kg/m3

Kesimpulan :

A i r Semen Agregat Agregat


Berat Total
Volume (liter) (kg) halus kasar
(kg)
(kg) (kg)
1 m3 2352 225 490 573 1064
1 22,96 50 58,47
240 108.57
adukan

4.2 S a r a n
Dalam perhitungan di atas, agregat halus dan agregat kasar
dianggap dalam keadaan jenuh kering muka, sehngga di lapangan
yang ada pada umumnya keadaan agregat tidak jenuh kering muka,
maka harus dilakukan koreksi terhadap kebutuhan bahannya. Koreksi
harus dilakukan minimum satu kali perhari.
Hitungan koreksi dilakukan dengan rumus sebagai berikut :
Ah  A1  A  A2 
1) Air = A xB   k xC 
100  100 

 Ah  A1 
2) Agregat Halus = B  xB
 100 

 Ak  A2 
3) Agregat Kasar = C   xC
 100 

dimana :
A = Jumlah Kebutuhan Air (liter/m3)
B = Jumlah Kebutuhan Agregat Halus (kg/m3)
C = Jumlah Kebutuhan Agregat Kasar (kg/m3)
31
Ah = Kadar air sesungguhnya dalam agregat halus (%)
Ak = Kadar air sesungguhnya dalam agregat kasar (%)
A1 = Kadar air pada agregat halus jenuh kering muka (%)
A2 = Kadar air pada agregat Kasar jenuh kering muka (%)

Makalah :

32
METODE PERANCANGAN CAMPURAN
BETON

Oleh

Mufti Amir Sultan, ST., MT

33