Anda di halaman 1dari 7

TUGAS

TEKNIK PEMBORAN

METODE PEMBORAN MINYAK DAN GAS BUMI DAN


PENGGUNAAN LUMPUR DALAM PEMBORAN

Disusun Oleh:

Ammar Baskara

21100112130048

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG
APRIL 2015
METODE PEMBORAN MINYAK DAN GAS BUMI DAN
PENGGUNAAN LUMPUR DALAM PEMBORAN

A. Pra Pengeboran
Tahap awal sebelum dilakukannya pengeboran yaitu analisis kondisi
geologi setempat daerah yang dapat dibantu dengan berbagai alat geofisika
seperti seismik untuk menentukan formasi batuan atau cekungan dan trap
bawah permukaan bumi yang berpotensi mengandung minyak dan gas bumi.

B. Tahap Pengeboran
Ketika lokasi trap yang mengandung minyak atau gas bumi atau minyak
dan gas bumi, tahap selanjutnya yaitu pemasangan drilling rig atau anjungan
rig. Drilling rig merupakan bagian dari peralatan yang dibawa ke rig (titik
pengeboran), kemudian 5, 6, atau 7 hari drilling rig akan mengebor lubang
seukuran bola sepak dengan kedalaman sampai beberapa ribu kaki (sekitar 1
Km) di bawah permukaan bumi. Ketika lubang telah selesai dibuat, selanjutnya
berbagai macam alat sensitif disebut logging tool (peralatan utama logging,
berbentuk pipa pejal berisi alat pengirim sensor dan penerima sinyal)
mengirimkan sinyal elektronik yang memberikan catatan data detail mengenai
batuan dan sifat cairan dari formasi geologi.
Sebuah metode standar pengeboran yaitu rotary drilling (dengan cara
memutar) dapat mengebor sedalam 5.000 kaki ke bawah (bayangkan panjang
16 lapangan sepakbola disatukan kemudian diberdirikan atau sekitar 1.500
Km). Proses di rig hampir sama dengan proses mengebor kayu, hanya saja
ukuran bornya hampir sebesar ukuran bola sepak seperti saya sebutkan
sebelumnya. Pekerjaan pengeboran sumber daya alam ini harus dilakukan oleh
anggota sangat terlatih dari drilling crew (pekerja pengeboran). Sistem
pengeboran rotary drilling menggunakan mata bor bergerigi yang diputar.
Mata bor dipasang di ujung pipa yang disebut sebagai drill pipe atau pipa bor.
Panjang pipa bor kurang lebih adalah 30-33 ft, yang dipasang satu persatu
menurut kedalaman pengeboran. Seluruh rangkaian pipa bor dan mata bor,
digantung pada sebuah sistem penggantung (hoisting system). Hoisting system
ini adalah bagian utama dari sebuah menara besar yang disebut rig.
Berdasarkan sistem penetrasinya, metode rotary drilling dibagi menjadi 2
sistem yaitu sistem tricone dan sistem drag bit. Sistem tricone bit dengan
hasil penetrasinya berupa gerusan dan drag bit dengan hasil penetrasinya
berupa potongan (cutting).

Gambar 1. Drilling rig dengan top drive (Engine Drilling and well construction;
gene culver geo-heat center klamath falls, or 97601) dan jenis mata bor.
Gambar 2. Metode rotary drilling dengan kelly drive.

Pemutaran mata bor dilakukan dengan salah satu dari 3 cara dibawah ini.
a. Menggunakan mesin yang terletak tepat di atas lantai rig, yang disebut
sebagai meja pemutar (rotary table).
b. Menggunakan motor yang terpasang pada ujung atas tempat penyambungan
pipa bor, disebut sebagai pemutar atas (top drive).
c. Pada kasus-kasus khusus (pengeboran berarah/directional drilling dan
pengeboran mendatar/horizontal drilling) menggunakan motor yang
dipasang pada ujung bawah pipa bor, yang disebut sebagai motor bawah
permukaan (downhole motor).
Kelebihan dari sistem pengeboran rotary drilling, salah satunya adalah
tersedianya sistem untuk sirkulasi fluida (drilling fluid) dari dan keluar lubang
bor selama proses pengeboran berlangsung. Fluida ini dimasukkan ke dalam
pipa bor, kemudian dikeluarkan dari bagian bawah rangkaian pipa bor (drill
string) dan mata bor (drill bit). Melalui lubang bor di sebelah luar pipa bor,
fluida akan dikeluarkan dari lubang bor. Sehingga akan terjadi sirkulasi masuk
dan keluarnya fluida.
C. Penggunaan Lumpur dalam Pemboran
Fluida pemboran merupakan suatu campuran (liquid) dari beberapa unsur
yang terdiri dari air (air tawar atau asin), minyak, tanah liat, bahan – bahan
kimia, gas, busa maupun detergen. Lumpur merupakan salah satu bagian
terpenting dari sistem pemboran, atau lazim disebut “darahnya pemboran”
yang berfungsi untuk membantu sistem pemutar dalam operasi pemboran
sumur. Lumpur (mud) merupakan penunjang yang paling utama dari operasi
pemboran dan mempunyai fungsi. Lumpur dapat menanggulangi masalah -
masalah yang ada sekaligus juga menimbulkan masalah dalam operasi
pemboran. Fungsi lumpur pemboran, antara lain:
1. Mendinginkan dan melumasi pahat
Karena adanya gesekan pada putaran pahat (bit) pada formasi dan
rangkaian maka akan timbul panas. Di saat inilah peran dari lumpur
pemboran, panas yang timbul akan diserap secara konduksi sehingga
gesekan dan panas akan berkurang.
2. Mengangkat cutting ke permukaan
Serbuk bor (Cutting) cenderung tidak terbawa oleh aliran lumpur
karena adanya beda tekanan, sehingga cutting akan bertumpuk pada dasar
lubang. Pencegahannya adalah mengurangi perbedaan tekanan yang terlalu
tinggi dan aliran lumpur yang merata ke seluruh lubang bor sehingga serbuk
bor dapat terangkat ke permukaan bersama dengan lumpur. Sifat dasar
lumpur juga tidak kalah penting dalam proses pengangkatan serbuk bor,
berat jenis (densitas) dan kekentalan (viskositas) harus dikendalikan
sehingga dapat mengangkat serbuk bor dengan sempurna.
3. Membersihkan dasar lubang
Lumpur mengalir melalui pipa pemboran masuk ke pahat dan keluar
melalui nozzle menimbulkan daya sembur yang sangat kuat sehingga dasar
lubang bersih dari serbuk bor. Dalam fungsi ini sangat dibutuhkan
perhitungan gpm pompa dan kekuatan formasi.
4. Mengontrol tekanan formasi
Mengontrol tekanan formasi merupakan hal yang sangat penting
dalam operasi pemboran untuk mencegah terjadinya semburan liar (blow
out) atau lost circulation. Blow out adalah berat lumpur lebih kecil dari
tekanan formasi yang ada. Lost Circulation adalah kondisi dimana berat
lumpur terlalu besar dari tekanan formasi sehingga lumpur masuk ke dalam
formasi.
5. Menahan serbuk bor dan material pemberat saat sirkulasi dihentikan
Kemampuan lumpur bor untuk menahan atau mengapungkan serbuk
bor saat tidak ada sirkulasi tergantung pada gel strength-nya. Fungsi ini
sangat dibutuhkan untuk mencegah menumpuknya serbuk bor di anulus
yang akan menyebabkan rangkaian terjepit.
6. Menghantar daya hidrolika ke pahat
Lumpur adalah media untuk menghantarkan daya hidrolika dari
permukaan ke dasar lubang. Daya hidrolika lumpur harus ditentukan dalam
membuat progam pengeboran sehingga laju sirkulasi dan tekanan
permukaan menjadi balance sehingga dapat membersihkan lubang dan
mengangkat serbuk bor.
7. Mencegah terjadinya caving dan kontaminasi pada formasi
Terjadinya kontaminasi pada formasi akan mempersulit operasi
pemboran. Untuk itu sangat dihindari menggunakan lumpur yang tidak
bereaksi dengan formasi. Terutama untuk formasi yang mempunyai
pemeabilitas 100 – 150 md. Caving terjadi pada formasi shale yang mudah
menghidrasi.
8. Mencegah dan menghambat laju korosi
Gas CO2 dan H2S yang terkandung dalam formasi akan menaikan laju
korosi pada peralatan pemboran dibawah permukaan. Untuk mengurangi
terlarutnya gas – gas tersebut, harus menjaga PH lumpur. Zat pengikat
oksigen (oxygen scavenger) atau zat penghambat kerak (scale inhibitor)
dapat menjadi solusi untuk menghambat laju korosi.
9. Melindungi dinding lubang bor
Lumpur akan membuat mud cake atau lapisan padat dan tipis di
permukaan formasi yang permeable. Pembentukan mud cake akan
mengakibatkan aliran fluida menuju formasi tertahan. Cairan yang masuk ke
formasi disebut filtrate. Mud cake diharapkan adalah tipis dan padat dengan
demikian lubang bor tidak menyempit.