Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH FTS BAHAN ALAM

Disusun Oleh :
Bramantio Erlangga
Muhammad Sega Maulana
Siti Aqubah
Siti Noraina

STIKES BORNEO CENDEKIA MEDIKA PANGKALAN BUN


TAHUN AJARAN 2018/2019
JL.SUTAN SYAHRIR NO.11 PANGKALAN BUN
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Tumbuhan menghasilkan bermacam-macam golongan senyawa organic yang melimpah


yang sebagian besar dari senyawa itu tidak nampak secara langsung dalam pertumbuhan dan
perkembangan tumbuhan tersebut. Zat-zat kimia ini sederhana dirujuk sebagai metabolit
sekunder yang keberadaannya terbatas pada spesies tertentu dalam kingdom tumbuhan. Metablit
sekunder juga dikenal sebagai hasil alamiah metabolisme. Hasil dari metabolisme sekunder
biasanya tidak untuk semua sel secara keseluruhan, tetapi hanya untuk beberapa sel tertentu.
Hasil dari metabolit sekunder lebih kompleks dibandingkan dengan metabolit primer.
Berdasarkan asal biosintetiknya, metabolit sekunder dapat dibagi ke dalam tiga kelompok besar,
yakni terpenoid (termasuk triterpenoid, steroid, dan saponin), alkaloid, dan senyawa-senyawa
fenol (termasuk flavonoid dan tanin). Alkaloid biasanya didapati sebagai garam organik dalam
tumbuhan dalam bentuk senyawa\ padat berbentuk Kristal dan kebanyakan berwarna. Pada daun
atau buah segar biasanya keberadaan alkaloid memebrikan rasa pahit di lidah. Dalam kehidupan
sehari-hari kita melakukan aktifitas, baik yang telah merupakan kebiasaan misalnya berdiri,
berjalan, mandi, makan dan sebagainya atau yang hanya kadang-kadang saja kita lakukan untuk
melakukan aktifitas itu kita memerlukan energi, energi yang diperlukan ini kita peroleh dari
bahan makanan yang kita konsumsi. Pada umumnya bahan makanan itu mengandung tiga
kelompok utama senyawa kimia yaitu karbohidrat, protein dan lemak atau lipid.
1.2 Rumusan masalah
1. Pengertian alkaloid ?
2. Cara penetapan kadar alkaloida ?
3. Apa itu morfin ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian alkaloid
Alkaloid adalah sebuah golongan senyawa basa bernitrogen yang kebanyakan
heterosiklik dan terdapat di tetumbuhan. Asam amino, peptida, protein, nukleotid, asam
nukleik, gula amino dan antibiotik biasanya tidak digolongkan sebagai alkaloid.
Banyak alkaloid yang digunakan sebagai obat. Senyawa organik yang bersifat basa ini
diperoleh dari tanaman, terutama tanaman berkeping dua (dikotil). Struktur kimia alkaloid
memiliki susunan heterosiklik dengan nitrogen sebagai hetero atomnya. Dalam dunia
pengobatan, senyawa alkaloid memiliki efek analgetik (morfin dan kodein), antitusif
(kodein), antimalaria (Quinin), spasmolitik (Papaverin), antiamuba, dan anti emetik
(Emetin)
2.2 Pengertian penetapan kadar
Penetapan (kadar) adalah prosedur pengukuran properti atau konsentrasi analit.
2.3 Morfin dalam opium

2.3.1 Pengertian Morfin

Kata "morfina" berasal dari Mofeus, dewa mimpi dalam mitologi Yunani. Morfin
merupakan amina tersier yang mengandung sebuah radikal hidroksi alkoholik dan
radikal hidroksi fenolik. Radikal hidroksi fenolik ini yang menyebabkan morfin
larut dalam alkali dan membentuk warna dengan Feri Klorida. Morfin adalah hasil
olahan dari opium/candu mentah. Morfin merupakan alkaloida utama dari opium
(C17H19NO3 ) .

2.3.2 Kegunaan morfin dalam bidang farmasi

 Analgesik
Efek analgesik morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme:
(1) Morfin meninggikan ambang rangsang nyeri
(2) Morfin dapat mempengaruhi emosi, artinya morfin dapat mengubah reaksi yang
timbul dikorteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima oleh korteks serebri
dari thalamus.
(3) Morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri
meningkat.
2.3.3 Pengertian opium

Poppy (opium) secara botanikal merupakan tanaman yang diklasifikasikan


sebagai Papaver somniferum. Nama tersebut berasal dari bahasa Latin yang berarti
“mendorong tidur”. Tanaman ini bukan termasuk tanaman budidaya dan tumbuh
liar di wilayah belahan bumi. akan tetapi, tanaman ini dapat tumbuh subur di daerah
yang beriklim sub-tropis. Tanaman Papaver somniferum sangat kuat, mudah
tumbuh dan tidak perlu pupuk mahal, insektisida atau fungisida. Tanaman Papaver
somniferum menghasilkan dua produk yaitu biji/benih dan opium. Sebenarnya
benih atau biji opium cukup berbahaya karena menghasilkan berbagai alkaloid,
namun warga tetap menggunakannya sebagai bumbu masakan. Getah tersebut
mengandung berbagai jumlah alkaloid seperti morfin, codeine, the baine dan
papaverine yang memiliki kegunaan klinis. Senyawa morfin yang terkandung dalam
opium kemudian jika diekstrak lagi akan menjadi heroin. Sedangkan morfin dan
heroin ditetapkan menjadi obat-obatan terlarang yang tidak boleh diperdagangkan
di mayarakat.

GETAH OPIUM

Morfin terjadi secara alami dalam opium sejauh 9- 17% berat, tergantung pada
sumber opium. Saat bunga-bunga yg hanya berumur beberapa hari itu sudah
menjadi buah yang masak, penuai akan mulai menuainya dengan cara memotong
tangkai buah tersebut. Untuk narkotika diperoleh dengan cara menyayat buahnya
hingga mengeluarkan getah putih yang lengket. Setelah kering, getah tersebut akan
berubah warna menjadi kecoklatan. Kandungan getah tersebut berisi campuran
narkotika alami alkaloid, termasuk morfin.
2.4 Emetin dalam radix ipeka

Emetine adalah obat yang digunakan baik sebagai anti-protozoa dan untuk menginduksi
muntah. Ini dihasilkan dari akar ipeka.

Nama lain:
Akar ipeka, akar muntah
Nama asal:
Cephaelis ipecacuanha, Cephaelis acuminata
keluarga:
Rubiaceae
Utama bergizi zat / isi:
Emetina alkaloid, sefaelina, psikotrina, emetina, orthomethil, sikotrina
Persyaratan:
Tingkat Ramah 2,0%

TANAMAN PENGHASIL
 Litsea firma : lastorfillin, norlastofilin
 Cephaelis ipecacuanhae : cephaelin
 Papaver somniferum : morfin
 Ipecacuanhae Radix yang terdapat dalam tanaman Cephalis ipecacuanhae
kandungan alkaloid: emetin 72%, cephaelin 26%, psychotrina 2%
 CEPHAELIN C28H38N2O4 Alkaloid utama di akar ipeka
2.5 Reserpine dalam radix rauwalfiae

Pule pandak (Rauvoljia serpen• tina L) merupakan tanaman semak yang


berkhasiat obat, meskipun kurang popular pule pandak merupakan tanaman obat penting.
Di Indonesia, tanaman pule pandak banyak ditemukan di kawasan hutan jati yang
gersang seperti di Kab. Grobogan, Blora dan Banjarnegara. Pule pandak mampn
mengobati berbagai macam penyakit yaitu tekanan darah tinggi, hiperaktif saraf
simpatis, bisul, kudis, biduran, penawar bisa ular dan gigitan serangga, muntah
karena angin, hernia, bisul dan memar, Alkaloid reserpine mampu menurunkan
tekanan darah (mengatasi hipertensi), sementara alkaloid ajmaline mampu menormalkan
denyut jantung. Meskipun kandungan alkaloid dalam akar pule pandak sangat
ditentukan oleh umur tanaman dan lokasi budidayanya. Semakin kering dan tandus
kawasan budidayanya, semakin tinggi kadar alkaloid dalam akarnya. Akar pule
pandak terbaik saat ini dihasllkan oleh India dan Pakistan.
Bahan Aktif yang Terkandung Dalam Tanaman Pule Pandak.
Berdasarkan analisis farmakologis, akar pule pandak mengandung alkaloid
resepine,cinnsmine, yohimbine,ajmalinine,sdan serpentineAlkaloid yohimbine inilah
yang berkhasiat mengobati gangguan syaraf (menenangkan).
Kandungan Fitokimia dan Khasiat
Nilai pule pandak sebagai tanaman obat terletak pada kandungan alkaloidnya.
Kadar alkaloid dari pule pandak akan meningkat sesuai dengan bertambahnya umur
tanaman. Akar merupakan bagian tanaman yang paling sering digunakan dan memiliki
kandungan alkaloid yang berbeda beda, kadarnya berkisar antara 0,7-2,4% (Sulandjari,
2008). Kandungan bahan kimianya meliputi alkaloid reserpin, spegatrin, dan verticillin.
Kandungan akar lainnya adalah polifenol, oleoresin, asam oleak, asam 8 fumarat,
glukosa, surkosa, sterol, aximetil anthraquinon, dan garam mineral. Terdapat 5 jenis
alkaloid pule pandak yang digunakan dalam pembuatan obat yaitu: reserpin, resinamin,
deserpidin, roubasin (ajmalisin), dan ajmalin (Zumaidar, 2000).

Metode penetapan kadar


Metode yang digunakan untuk memeriksa kadar reserpin dalam sediaan farmasi dan
akar diantaranya adalah kromatografi cair kinerja tinggi (USP 1995; Alexander et al. 1998), dan
spektrofotometri UV-Vis (Singh et al. 2004; British Pharmacopiea 1993)
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan