Anda di halaman 1dari 14

Pendidikan usia dini adalah salah satu bagian penentu tumbuh kembang anak.

Seperti yang kita tahu


bersama, anak usia dini sedang mengalami perkembangan yang luar biasa, baik fisik maupun otak.
Sebagai orangtua, kita harus bisa mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Meski begitu, orangtua tidak bisa menjejalkan semua pendidikan kepada si kecil. Pendidikan anak usia
dini harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan usianya. Salah satu hal penting yang harus Anda
ajarkan kepada anak adalah tentang konsep gender.

Kita tentu tahu bahwa gender berbeda dengan jenis kelamin. Jika jenis kelamin mengacu pada hal-hal
yang sifatnya biologis, gender lebih luas lagi. Gender dibentuk oleh lingkungan, adat istiadat, serta
budaya. Gender lebih mengacu pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan berkaitan dengan
perilaku, sifat, dan tanggung jawab.

Pentingkah Mengenalkan Gender pada Anak Usia Dini?

Pengenalan gender adalah langkah awal untuk memberikan pendidikan seksual kepada anak. Mengapa
harus diberikan sejak dini? Salah satu alasannya adalah karena usia ini anak sedang mengalami masa
golden age. Lebih dari itu, anak usia dini juga memiliki ketertarikan tentang perbedaan tentang anak laki-
laki dan perempuan.

Pengenalan perbedaan gender harus dilakukan secara tepat. Mengapa? Karena pendidikan gender akan
tersimpan di dalam memori jangka panjang si kecil. Hal ini nantinya berpengaruh pada pembentukan
perilaku dan kepribadian ketika anak dewasa.

Kapan Waktu yang Tepat Mengenalkan Konsep Gender?

Pada dasarnya, anak sudah bisa dikenalkan tentang gender sejak sejak umur 15 bulan. Pada saat ini, anak
mulai memasuki fase anal. Fase anak adalah fase yang mana anak mulai paham tentang fungsi dari alat
kelamin. Pada fase ini, anak mulai mempelajari perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Secara tidak langsung, sebenarnya orangtua juga sudah mulai menerapkan prinsip gender pada anak.
Misalnya, tentang pemilihan model dan warna baju, mainan, serta aksesoris untuk anak. Yang perlu
orangtua pelajari adalah tentang bagaimana tahapan dan cara membuat anak paham tentang konsep
gender.
Melalui pengenalan konsep gender, orangtua bisa memberikan pengajaran tentang area-area pribadi
anak. Apa yang boleh dilihat atau disentuh orang lain dan apa yang tidak. Lebih dari itu, pengenalan
gender ini juga berfungsi untuk mengajarkan identitas dan tugas anak.

Tahapan Mengenal Gender pada Anak Usia Dini

Saat usia 12 bulan, anak-anak sudah mengenal perbedaan wajah ayah dan ibunya. Lalu, menginjak usia 2
tahun, anak sudah bisa membedakan mainan, misalnya boneka untuk anak perempuan dan mobil-
mobilan untuk anak laki-laki. Saat usia 3 tahun, anak mulai penasaran secara fisik. Anak sering
menyentuh alat kelaminnya sendiri. Ketika hal tersebut terjadi, orangtua tak perlu memarahinya, karena
ini adalah salah satu fase perkembangan anak. Berikan penjelasan yang tepat tentang mengapa mereka
tidak seharusnya melakukan hal itu.

Saat memasuki usia 4 tahun, anak-anak sudah mulai mengerti konsep sederhana tentang gender. Hal
tersebut terbukti ketika anak bermain. Anak laki-laki cenderung enggan main boneka. Sebaliknya, anak
perempuan sangat senang bermain boneka.

Pada anak usia dini, pengenalan gender terbatas pada perbedaan sifat dan perilaku antara laki-laki dan
perempuan. Saat anak-anak sudah beranjak dewasa, pendidikan tentang gender ini berlanjut pada
perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan.

Cara Mengenalkan Konsep Gender pada Anak

1. Melalui Permainan Anak

Konsep gender bisa dikenalkan melalui permainan anak. Pada usia balita, anak-anak biasanya senang
bermain rumah-rumahan. Anak perempuan bisa berperan sebagai ibu, sementara anak laki-laki
berperan sebagai ayah. Permainan seperti ini berperan untuk mengenalkan perbedaan tanggung jawab
antara laki-laki dan perempuan.

Anak laki-laki, misalnya, mempunyai peran sebagai kepala keluarga yang bekerja, melindungi keluarga
dan yang lainnya. Anak perempuan berperan menjaga anak, mendongeng, memasak, dan lain
sebagainya.
Penting!

Orangtua sering kali terjebak pada pemahaman yang keliru tentang boneka. Pada dasarnya, boneka tidak
hanya untuk anak perempuan saja. Anak laki-laki juga bisa bermain boneka, dan bukan hal yang harus
dilarang.

Perbedaannya adalah pada pandangan anak tentang boneka. Anak perempuan akan menganggap
boneka sebagai “anak” atau bayinya. Sementara anak laki-laki cenderung menyukai action figure, boneka
hewan, dan patung-patung kecil.

2. Melalui Buku Cerita

Anak-anak sangat suka belajar melalui dongeng atau cerita. Meski mereka belum bisa membaca sendiri
cerita yang mereka inginkan, anak-anak sangat antusias ketika dibacakan cerita. Pilihlah cerita-cerita
tertentu yang disukai anak. Setelah membacakan cerita, tanyakan hal-hal tentang perbedaan antara laki-
laki dan perempuan, misalnya, “Tokoh ini mirip ibu atau ayah, kak?”

3. Lewat Film

Selain buku cerita, film juga menjadi media yang tepat untuk mengenalkan konsep gender. Tontonlah
film anak-anak yang menurut Anda relevan untuk ditonton si kecil. Setelah itu, buatlah pertanyaan-
pertanyaan yang berhubungan dengan konsep gender. Atau jika memungkinkan, minta anak-anak
bertanya kepada Anda.

Berkaitan dengan pertanyaan anak tentang gender, berikanlah jawaban yang sederhana dan lugas.
Jangan memberikan jawaban yang ambigu dan terkesan ditutup-tutupi. Hal tersebut justru akan
memberikan salah pengertian pada anak.

https://schoolofparenting.id/mengenalkan-konsep-gender-pada-anak-usia-dini/

Mengenal Gender pada Anak Usia Dini

9 Maret 2019 09:53 Diperbarui: 9 Maret 2019 09:53 220 0 0


Identitas gender kesadaran akan jenis kelamin laki-laki atau perempuan dan semua terimplikasi pada
satu lingkunga sosial tempat individu berada,merupakan asperk penting pembentukan konsep diri.
Seberapa bedakah anak laki-laki dan anak perempuan? Apa yang menyebabkan perbedaan-perbedaan
ini?Bagaimana anak mengembangkan identitas gender ?dan bagaimana hal ini memengaruhi sikap dan
perilaku mereka?

Perbedaan gender bagi laki-laki dan perempuan.

Perbedaan gender merupakan perbedaan psikologis dan prilaku antara laki-laki dan perempuan.secara
fisik, perbedaan gender pada laki-laki lebih tinggi tingkat aktifitas,penampilan motorik lebih baik
terutama setelah masa pubertas,dan agresif fisik yang cenderung tinggi( Hyde,2005).tipe pilihan
berdasarkan jenis kelamin yang meningkat antara masa toddler dan masa pertengahan anak-anak, dan
tingkat tipe prilaku yang ditunjukkan pada dasar perbedaan jenis kelamin diawal kehidupan merupakan
indikator yang kuat dalam perilakunya berdasarkan jenis kelamin dimasa mendatang( Gelombok
dkk,2008 ).

Perbedaan kognitif berdasarkan gender hanya sedikit dan kecil( Spelke,200).secara umum skor tes
intelegensi tidak menunjukkan perbedaan gender( Keenan & Shaw, 1997).jadi kemungkinan alat tes yang
dibuat untuk menghilangkan biasa gender.anak laki-laki dan perempuan memilki kemampuan untuk
menyelesaikan masalah matematis dan untuk melajar matematika.

Ada sedikit perbedaan dalam kemampuan lainya.anak perempuan cenderung lebih baik dari
kemampuan berbicara, hitungan matematika tertulis, dan mengingat suatu lokasi objek.sedangkan anak
laki-laki lebih baik dalam analogi verbal,menyelesaikan matematis secara lisan, dan ingatan konfigurasi
spasial.Dalam banyak penelitian,perbedaan ini tidak dapat muncul sampai anak masuk sekolah daras
atau lebih.( Spelke,2005).

Yang kita ingat adalah perbedaan gender adalah valid dalam sekelompok besar anak laki-laki atau anak
perempuan, tetapi tidak selalu secara individual.dengan hanya mengetahui jenis kelamin anak,kita tidak
dapat memperkirakan bahwa anak ini lebih cepat, kuat,pandai, tertip, atau lebih arsetif dari anak lain.

Berbagai sudut pandang gender;


Peran gender; perilaku,keinginan,sikap, keterampilan serta keperibadian tempat budaya
mempertimbangkan kesesuaian untuk perbedaan laki-laki dan perempuan.semua kelompok sosial
memiliki peran gender.berdasarkan sejarah, hampir semua budaya,perempuan diharapkan waktunya itu
untuk menyediakan kebutuhan rumah tangga dan dan anak.sedangkan anak laki-laki diharapkan untuk
menyediakan kebutuhan rumah tangga, dan menjaga dari bahaya.perempuan diharapkan patuh dan
merawat; sedangkan anak laki-laki menjadi aktif ,agresif dan berkompetensi.saat ini, peran gender
terutama dibarat semakin beragam dan lebih fleksibel.

Tipe gender; proses bersosialisasi saat anak diusia awal mempelajari peran gender yang
sesuai.pelaksanaan peran gender dimulai dari anak usia dini,tetapi sangat berfareasi ditingkat mana
mereka menjdi bertipe gender( Lervolineo, Hines, Gelombak, Rust & Plomin, 2005).

Streotype gender; adalah generalisasi prasangka tentang prilaku laki-laki dan perempuan;semua
perempuan adalah pasif dan tergantung; semua laki-laki dalah aktif dan mandiri.streotpe gender
meliputi semua budaya.Mereka muncul dibeberapa tingkat pada anak usia dini 2-3 tahun, meningkat
pada saat pra-sekolah dan mencapai puncaknya pada usia 5 tahun( Campbell, Shirley & Candy, 2004;
Ruble & Martin,1998).Lima prespektif utama pada perkembangan gender sbb:

PENDEKATAN BIOLOGIS

Adanya kesamaan peran gender diberbagai budaya menunjukkan bahwa perbedaan gender, setidaknya,
mungkin berdasarkan perbedaan biologis dan peneliti kontemporer, telah mengumpulkan bukti
penjelasan biologis mengenai perbedaan gender: genetic, hormone, dan sistem saraf.

Hormon dalam darah sebelum atau sesaat sebelum lahir dapat memengaruhi otak yang masih
berkembang. Pada usia 5 tahun, ketika otak anak mencapai ukuran yang hampir sama dengan otak orang
dewasa, otak anak laki-laki lebih besar 10 persen dibandingkan anak perempuan, disebabkan karena
anak laki-laki memiliki gray matter yang lebih banyak pada korteks serebrum, sedangkan anak
perempuan memiliki kepadatan neuron yang lebih tinggi. Kita memiliki bukti bahwa perbedaan ukuran
copus callosum, kumpulan jaringan yang menghubungkan otak bagian sebelah kiri dan kanan
berhubungan dengan kelancaran bahasa.Karena anak perempuan memiliki copus callosum yang lebih
besar, koordinasi yang lebih baik antara otak kiri dan kanan mungkin dapat menjelaskan mengapa anak
perempuan memiliki kemampuan verbal yang lebih tinggi.
Dalam sebuah penelitian terhadap anak berusia 3-19 tahun, anak dengan CAH (congenital adrenal
hyperplasia) menunjukkan pemilihan terhadap mainan laki-laki yang lebih tinggi dibandingkan saudara
perempuan mereka yang tidak memiliki kelainan ini meskipun orang tua mereka mendorong perilaku
yang sesuai dengan gender mereka.Mungkin contoh yang paling dramatis dari penelitian berdasarkan
biologis adalah bayi yang diubah jenis kelaminnya menjadi perempuan secara medis karena hilangnya
alat kelamin atau kelamin yang ambigu (sebagian laki-laki sebagian perempuan). Penelitian ini
menunjukkan bahwa identitas gender mungkin didasari oleh struktur kromosom atau perkembangan
sebelum lahir sehingga tidak bisa diubah dengan mudah.

PENDEKATAN EVOLUSIONER

Pendekatan evalusioner melihat prilaku gender berdasarkan hal biologis dengan sebuah tujuan.dari
prespektif kontroversial ini,peran gender anak-anak didasarkan oleh perkawinan evolusi dan strategi
pengasuhan anak dari dewasa laki-laki maupun perempuan.Menurut teori seleksi sosial teori Charles
Darwin mengatakan bahwa peran gender berkembang untuk merespons perbedaan kebutuhan
reproduksi laki-laki maupun perempuan.menurut teori evolusioner kompetetif dan agresifitas laki-laki
serta rasa keibuan pada perempuan berkembang yang berkembang pada selama masa anak-anak
sebagai persiapan pada saat masa dewasa kelak( Pellegrini & Archer,2005).

Jika teori ini berkembang maka peran gender seharunya universal dan tidak akan berubah.bukti yang
mendukung teori ini adalah,dalam sebuah budaya perempuan selalu berperan sebagai pengasuh
utama,meskipun dibeberapa kelompok sosial tanggung jawab ini dibagi keayah atau yang lain( Wood &
Eagly, 2002).Menurut penganut teori ini, melihat beberapa evolusi peran gender sebagi proses
dinamis.mereka tahu pergeseran gender seperti laki-laki ikut serta dalam mengasuh anak dapat terjadi
akibat perubahan lingkungan yang telah berubah dari asal mulanya( Grawford, 1998).

logo-kompasiana

DAFTAR

Endang Srirukmini

Endang Srirukmini

FOLLOW

EDUKASI

Mengenal Gender pada Anak Usia Dini


9 Maret 2019 09:53 Diperbarui: 9 Maret 2019 09:53 220 0 0

Identitas gender kesadaran akan jenis kelamin laki-laki atau perempuan dan semua terimplikasi pada
satu lingkunga sosial tempat individu berada,merupakan asperk penting pembentukan konsep diri.
Seberapa bedakah anak laki-laki dan anak perempuan? Apa yang menyebabkan perbedaan-perbedaan
ini?Bagaimana anak mengembangkan identitas gender ?dan bagaimana hal ini memengaruhi sikap dan
perilaku mereka?

Perbedaan gender bagi laki-laki dan perempuan.

Perbedaan gender merupakan perbedaan psikologis dan prilaku antara laki-laki dan perempuan.secara
fisik, perbedaan gender pada laki-laki lebih tinggi tingkat aktifitas,penampilan motorik lebih baik
terutama setelah masa pubertas,dan agresif fisik yang cenderung tinggi( Hyde,2005).tipe pilihan
berdasarkan jenis kelamin yang meningkat antara masa toddler dan masa pertengahan anak-anak, dan
tingkat tipe prilaku yang ditunjukkan pada dasar perbedaan jenis kelamin diawal kehidupan merupakan
indikator yang kuat dalam perilakunya berdasarkan jenis kelamin dimasa mendatang( Gelombok
dkk,2008 ).

Perbedaan kognitif berdasarkan gender hanya sedikit dan kecil( Spelke,200).secara umum skor tes
intelegensi tidak menunjukkan perbedaan gender( Keenan & Shaw, 1997).jadi kemungkinan alat tes yang
dibuat untuk menghilangkan biasa gender.anak laki-laki dan perempuan memilki kemampuan untuk
menyelesaikan masalah matematis dan untuk melajar matematika.

Ada sedikit perbedaan dalam kemampuan lainya.anak perempuan cenderung lebih baik dari
kemampuan berbicara, hitungan matematika tertulis, dan mengingat suatu lokasi objek.sedangkan anak
laki-laki lebih baik dalam analogi verbal,menyelesaikan matematis secara lisan, dan ingatan konfigurasi
spasial.Dalam banyak penelitian,perbedaan ini tidak dapat muncul sampai anak masuk sekolah daras
atau lebih.( Spelke,2005).

Yang kita ingat adalah perbedaan gender adalah valid dalam sekelompok besar anak laki-laki atau anak
perempuan, tetapi tidak selalu secara individual.dengan hanya mengetahui jenis kelamin anak,kita tidak
dapat memperkirakan bahwa anak ini lebih cepat, kuat,pandai, tertip, atau lebih arsetif dari anak lain.
Berbagai sudut pandang gender;

Peran gender; perilaku,keinginan,sikap, keterampilan serta keperibadian tempat budaya


mempertimbangkan kesesuaian untuk perbedaan laki-laki dan perempuan.semua kelompok sosial
memiliki peran gender.berdasarkan sejarah, hampir semua budaya,perempuan diharapkan waktunya itu
untuk menyediakan kebutuhan rumah tangga dan dan anak.sedangkan anak laki-laki diharapkan untuk
menyediakan kebutuhan rumah tangga, dan menjaga dari bahaya.perempuan diharapkan patuh dan
merawat; sedangkan anak laki-laki menjadi aktif ,agresif dan berkompetensi.saat ini, peran gender
terutama dibarat semakin beragam dan lebih fleksibel.

Tipe gender; proses bersosialisasi saat anak diusia awal mempelajari peran gender yang
sesuai.pelaksanaan peran gender dimulai dari anak usia dini,tetapi sangat berfareasi ditingkat mana
mereka menjdi bertipe gender( Lervolineo, Hines, Gelombak, Rust & Plomin, 2005).

Streotype gender; adalah generalisasi prasangka tentang prilaku laki-laki dan perempuan;semua
perempuan adalah pasif dan tergantung; semua laki-laki dalah aktif dan mandiri.streotpe gender
meliputi semua budaya.Mereka muncul dibeberapa tingkat pada anak usia dini 2-3 tahun, meningkat
pada saat pra-sekolah dan mencapai puncaknya pada usia 5 tahun( Campbell, Shirley & Candy, 2004;
Ruble & Martin,1998).Lima prespektif utama pada perkembangan gender sbb:

PENDEKATAN BIOLOGIS

Adanya kesamaan peran gender diberbagai budaya menunjukkan bahwa perbedaan gender, setidaknya,
mungkin berdasarkan perbedaan biologis dan peneliti kontemporer, telah mengumpulkan bukti
penjelasan biologis mengenai perbedaan gender: genetic, hormone, dan sistem saraf.

Hormon dalam darah sebelum atau sesaat sebelum lahir dapat memengaruhi otak yang masih
berkembang. Pada usia 5 tahun, ketika otak anak mencapai ukuran yang hampir sama dengan otak orang
dewasa, otak anak laki-laki lebih besar 10 persen dibandingkan anak perempuan, disebabkan karena
anak laki-laki memiliki gray matter yang lebih banyak pada korteks serebrum, sedangkan anak
perempuan memiliki kepadatan neuron yang lebih tinggi. Kita memiliki bukti bahwa perbedaan ukuran
copus callosum, kumpulan jaringan yang menghubungkan otak bagian sebelah kiri dan kanan
berhubungan dengan kelancaran bahasa.Karena anak perempuan memiliki copus callosum yang lebih
besar, koordinasi yang lebih baik antara otak kiri dan kanan mungkin dapat menjelaskan mengapa anak
perempuan memiliki kemampuan verbal yang lebih tinggi.
Dalam sebuah penelitian terhadap anak berusia 3-19 tahun, anak dengan CAH (congenital adrenal
hyperplasia) menunjukkan pemilihan terhadap mainan laki-laki yang lebih tinggi dibandingkan saudara
perempuan mereka yang tidak memiliki kelainan ini meskipun orang tua mereka mendorong perilaku
yang sesuai dengan gender mereka.Mungkin contoh yang paling dramatis dari penelitian berdasarkan
biologis adalah bayi yang diubah jenis kelaminnya menjadi perempuan secara medis karena hilangnya
alat kelamin atau kelamin yang ambigu (sebagian laki-laki sebagian perempuan). Penelitian ini
menunjukkan bahwa identitas gender mungkin didasari oleh struktur kromosom atau perkembangan
sebelum lahir sehingga tidak bisa diubah dengan mudah.

PENDEKATAN EVOLUSIONER

Pendekatan evalusioner melihat prilaku gender berdasarkan hal biologis dengan sebuah tujuan.dari
prespektif kontroversial ini,peran gender anak-anak didasarkan oleh perkawinan evolusi dan strategi
pengasuhan anak dari dewasa laki-laki maupun perempuan.Menurut teori seleksi sosial teori Charles
Darwin mengatakan bahwa peran gender berkembang untuk merespons perbedaan kebutuhan
reproduksi laki-laki maupun perempuan.menurut teori evolusioner kompetetif dan agresifitas laki-laki
serta rasa keibuan pada perempuan berkembang yang berkembang pada selama masa anak-anak
sebagai persiapan pada saat masa dewasa kelak( Pellegrini & Archer,2005).

Jika teori ini berkembang maka peran gender seharunya universal dan tidak akan berubah.bukti yang
mendukung teori ini adalah,dalam sebuah budaya perempuan selalu berperan sebagai pengasuh
utama,meskipun dibeberapa kelompok sosial tanggung jawab ini dibagi keayah atau yang lain( Wood &
Eagly, 2002).Menurut penganut teori ini, melihat beberapa evolusi peran gender sebagi proses
dinamis.mereka tahu pergeseran gender seperti laki-laki ikut serta dalam mengasuh anak dapat terjadi
akibat perubahan lingkungan yang telah berubah dari asal mulanya( Grawford, 1998).

PENDEKATAN PSIKOANALISIS

Identifikasi dalam teori freudian,proses saat anak kecil mengadopsi karakteristik,keyakinan,sikap, nilai-
nilai dan prilaku dari orang tua dengan jenis kelamin yang sama.Freud menganggap identifikasi adalah
perkembangan kepribadian yang penting pada anak usia dini.
PENDEKATAN KOGNITIF

Menurut Kolhberg dan para ahli kognitif lain, anak secara aktif mencari petunjuk mengenai gender
dalam dunia sosial mereka siapa melakukan apa dan siapa dapat bermain dengan siapa. Ketika anak
menyadari dirinya termasuk ke dalam gender yang mana, ,mereka mengadopsi perilaku yang mereka
anggap sesuai dengan gender tersebut.

Menurut Kohlberg perolehan peran gender bergantung pada Ketetapan kesadaran anak bahwa jenis
kelaminnya selalu tetap. Konstanta gender tumbuh dalam tiga tahap: Identitas, stabilitas, dan konsistensi
gender (Ruble & Martin, 1998; Szkrybalo & Ruble, 1999).

Identitas gender;kesadaran mengenai gendernya sendiri dan orang lain, biasanya muncul pada usia
antara 2 sampai 3 tahun.

Stabilitas gender ;muncul ketika anak perempuan sadar bahwa ia akan tumbuh sebagai seorang wanita
dan anak laki-laki menyadari bahwa ia akan tumbuh menjadi seorang pria. Dengan perkataan lain,
gender adalah sesuatu yang tetap meskipun usia seseorang berubah. Pada saat usia 3 dan 7 atau bahkan
lebih, tumbuhlah

konsistensi gender; kesadaran bahwa perempuan akan tetap menjadi perempuan meskipun rambutnya
dipotong pendek, memakai celana, atau anak laki-laki tetap menjadi laki-laki meskipun ia memiliki
rambut panjang atau memakai anting.

Pendekatan kognitif yang menggabungkan elemen perkembangan kognitif dan teori belajar sosial adalah
teori skema gender (gender schema theory), yang mencoba menggambarkan mekanisme kognitif
bagaiaman pembelajaran gender dan prilaku tipe yang terjadi.

Skema (mirip dengan skema Piaget) adalah sebuah jaringan yang terorganisasi secara mental mengenai
informasi yang memengaruhi berbagai macam perilaku. Menurut teori skema gender, anak mulai
(kemungkinan besar dari bayi) mengategorikan berbagai kejadian dan orang, mengatur pengamatan
mereka di sekitar skema, atau kategori, dari gender.
Mereka mengatur informasi ini dengan dasar bahwa mereka melihat masyarakat mereka mengklasifikasi
orang dengan cara ini: laki-laki dan perempuan menggunakan pakaian, bermain dengan mainan, dan
menggunakan kamar mandi yang berbeda. Setelah mengetahui jenis kelaminnya, anak mengambil peran
gender dengan mengembangkan konsep arti menjadi laki-laki dan perempuan dalam masyarakat
mereka. Anak kemudian menyesuaikan perilaku mereka dengan skema gender budaya-apa yang
"seharusnya" dilakukan oleh anak laki-laki dan perempuan.

Masalah yang timbul dari kedua teori skema gender maupun teori Kohlberg adalah stereotip gender
tidak selalu meningkat seiring dengan peningkatan pengetahuan gender; bahkan sering kali yang terjadi
adalah berlawanan (Bussey & Bandura, 1999). Pandangan saat ini yang didukung oleh hasil penelitian,
adalah stereotip gender meningkat, kemudian menurun seiring dengan pola perkembangan (Rule &
Martin, 1998; Welch-Ross & Schmidt, 1996).

Sekitar usia 4-6, menurut teori skema gender, anak mengonstruksi dan mengonsolidasikan skema
gender, mereka hanya menyadari dan mengingat informasi yang sesuai dengan skema ini dan bahkan
melebih-lebihkannya. Bahkan mereka cenderung untuk salah mengingat informasi yang bertentangan
dengan stereotip gender, seperti foto anak perempuan yang menggergaji kayu atau anak laki-laki yang
memasak, dan bersikeras mengatakan jenis kelamin pada foto itu adlah sebaliknya. Anak kecil akan
dengan cepat menerima label ketika diberi tahu bahwa sebuah mainan yang tidak familiar adalah untuk
lawan jenisnya, mereka akan melepaskan dengan segera, dan mereka juga mengharapkan orang lain
melakukan hal yang sama (C.L. Martin. Eisenbund & Rose, 1995; Martin & Ruble, 2004; Ruble & Martin,
1998).

Pada usia 5 dan 6 tahun, anak mengembangkan perbendaharan stereotip yang kaku mengenai gender
dan mengaplikasikannya pada diri sendiri dan orang lain. Anak laki-laki akan lebih memperhatikan apa
yang dianggap sebagai mainan "laki-laki" dan anak perempuan terhadap mainan "perempuan".

Anak laki-laki akan berharap bisa melakukan lebih dari baik pada hal-hal yang dianggap "laki-laki"
daripada "perempuan", dan ketika mencoba sesuatu, misalnya mendandani boneka, mereka akan sangat
kikuk. Kemudian pada usia 7 atau 8 tahun, skema menjadi lebih kompleks seiring dengan integrasi anak
mengenai informasi yang bertentangan, seperti fakta bahwa kebanyakan anak perempuan juga memakai
celana. Anak mengembangkan keyakinan yang lebih kompleks mengenai gender dan jadi lebih fleksibel
mengenai pandangan mereka terhadap peran gender.
Pendekatan kognitif terhadap perkembangan gender telah memberikan konstribusi penting dengan
mengeksplorasi bagaimana anak berpikir mengenai gender dan apa yang mereka ketahui mengenai hal
ini pada usia yang berbeda, Meskipun demikian, pendekatan ini tidak bisa secara penuh menjelaskan
keterkaitan antara pengetahuan dan perilaku. Ada perdebatan mengenai mekanisme pasti yang
membuat anak melakukan peran gender tertentu dan mengapa sebagian anak lebih memiliki penipean
gender yang lebih kuat dibandingkan yang lain (Bussey & Bandura, 1992, 1999; Martin & Ruble, 2004;
Ruble & Martin, 1998).Beberapa peneliti menunjuk pada sosialisasi.

PENDEKATAN PEMBELAJAR SOSIAL

Pada teori belajar tradisional, anak memperoleh peran model dari apa yang diamati. Anak biasanya
memilih model yang dianggap kuat dan telaten. Biasanya model seseorang adalah orang tuanya, sering
kali yang berjenis kelaminsama, tetapi anak juga membuat pola dari perilaku orang dewasa lain dan juga
teman sepermainanmereka .Umpan balikdari perilaku bersama dengan pengajaran orang tua, guru, dan
orang dewasa lain mendorong penipean gender.

Teori kognitif Sosial (Albert Bandura)

Sebuah perluasan dari teori belajar social, melihat gender sebagai hasil gabungan berbagai pengaruh
yang kompleks, baik personal maupun social. Sosialisasi bagaimana anak menginterpretasi dan
menginternalisasi pengalaman dengan orang tua, guru, teman dan institusi masyarakat, memainkan
peran yang penting.

Pengaruh Keluarga

Anak laki-laki cenderung lebih memperhatikan sosialisasi dalam permainan yang berhubungan dengan
gender dibanding perempuan. Orang tua, terutama Ayah, biasanya lebih menunjukan ketidak setujuan
jika anak laki-laki bermain dengan boneka dibandingkan anak perempuan bermain mobil-mobilan. Anak
perempuan memiliki kebebasan yang lebih dibandingkan anak laki-laki dalam memilih mainan, pakaian,
dan temanbermain.

Dalamkeluarga yang egalite, peran ayah dalamsosialisasi gender menjadi sangat penting.Dalam sebuah
penelitian pengamatan terhadap anak berusia 4 tahun di inggris dan hungaria, anaklaki-laki dan
perempuan yang ayahnya ikut terlibat dalam tugas rumah tangga dan pengasuhan anak menjadi lebih
tidak sadar mengena istereotip gender dan terlibat dalam permainan yang tidak memiliki stereotip
gender.

Menurut sebuah penelitian longitudinal selama tiga tahun terhadap 198 anak pertama dan anak kedua
yang bersaudara (usia median 10 dan 8) dan orang tua mereka. Anak kedua cenderung lebih mirip
dengan saudara tuanya dalam hal sikap, kepribadian, dan aktivitas waktu senggangnya. Anak pertama
lebih dipengaruhi oleh orang tuanya dan bukan oleh saudara mudanya.

Pengaruh teman sebaya

Pada masak anak-kanak awal, teman sebaya adalah hal utama yang memengaruhi penipean geder.Teman
sebaya mulai mendorong perilaku penipean gender pada usia 3 tahun, dan pengaruh ini meningkat
seiring pertambahan usia.Anak-anak, seperti juga orang tua mereka, tidak senang dengan anak laki-laki
yang bertindak "seperti wanita" dibandingkan anak perempuan yang tomboy.

Bahkan pemelihan permainan pada usia ini lebih dipengaruhi secara kuat oleh teman sebaya dan media
dibandingkan oleh model yang anak-anak lihatdirumah. Meskipun demikian, biasanya sikap orang tua
dan teman sebaya bekerja saling melengkapi. Teori kognitif social melihat teman sebaya sebagai
pengaruh independen terhadap sosialisasi, tetapi sebagai bagian dari system budaya yang kompleks yang
melampaui orang tua dan juga agen sosialisasi yang lain.

Perubahan budaya

Di AS, Televisi adalah saluran utam apenyebarluasan sikap budaya terhadap gender. Meskipun
parawanita dalam program televis dan iklan lebih mungkin untuk bekerja diluar rumah dan terkadang
laki-laki diperlihatkan mengurus anak atau memasak, sebagian besar kehidupan yang digambarkan
ditelevisi tetap lebih bersifat stereotip dibandingkan kenyataan.

Teori belajar social meramalkan bahwa anak yang banyak menonton siaran televise lebih memiliki
penipean gender dengan meniru model yang mereka lihat dilayar kaca. Bukti pendukung yang sangat
dramatis muncul dari sebuah eksperimen alamiah dibeberapa kota di kanada yang memperoleh akses
siaran televisi untuk pertama kalinya.
Anak yang tadinya relatif memiliki sikap yang tidak memiliki stereotip menunjukkan peningkatan
pandangan yang lebih tradisional dua tahun kemudian. Dalamsebuah penelitian lain, anak-anak yang
menonton serial televisi yang tidak tradisional seperti episode dimana ayah dan anak laki-lakinya
memasak bersama, memiliki pandangan stereoptik yang lebih rendah dibandingkan anak yang
tidakmenonton serial itu.

Buku anak, terutama yang bergambar, sejak lama telah menjadi stereoptip gender. Sekarang, proporsi
perempuan sebagai karakter utama sudah meningkat, dan anak-anak makin sering diperlihatkan sedang
melakukan kegiatan yang eas dari penipean gender (anakperempuan yang berpakain pilot atau sopir
ambulans, anak laki-laki yang hadir dipesta minum teh ata umembant umencuci). Meskipun demikian,
bahkan dalam buku bergambar yang baik, perempuan sering kali diperlihatkan dalam perandomestik
yang tradisional, dan laki-laki jarang di perlihatkan mengasuh anak atau melakukan pekerjaan rumah
tangga. Ayah, bahkan, biasanya tidakhadir, dan ketikamuncul, biasanya digambarkan sebagai orang tua
yang tertutup dan tidak efktif.

Kekuatan utama dari pendekatan sosialisasi adalah kedalamandan keluasan berbagai macam proses yang
diamatinyaserta lingkup perbedaan individual yang brhasil disingkap. Namun, kekompleksan ini
membuatya sulit untuk menghasilkan suatu hubungan kausal yang jelas antara cara anak dibesarkan
dengan bagaimana mereka berfikir atau bertindak.

Sumber:

Diane,E.Papalia, Ruth Duskin Feldman.2014.Menyelami Perkembangan Manusia.Jakarta: Salemba


Humanika.

Sandtrock,John W.2011.Perkembangan Masa Hidup.Jakarta: Erlangga.