Anda di halaman 1dari 28

SOAL SOAL PPDS

ILMU BEDAH
1. Bedah Plastik

a. Penatalaksanaan luka bakar fase akut


Primary Survey
1. Airway
Lakukan pembebasan jalan nafas, cek tanda trauma inhalasi seperti:
o Luka bakar wajah/leher
o Alis atau bulu hidunhg hangus
o Karbon disertai tanda radang orofaring
o Suara serak
o Gangguan mengunyah
o Luka pada kepala dan badan
o Karboksihemoglobin >10% setelah dr tempat kebakaran

Klinis trauma inhalasi biasanya belum tampak dlm 24 jam

Jika intubasi susah, lakukan krikotiroidektomi untuk memasukkan


pipa endotracheal.

2. Breathing
 Luka bakar biasanya akan menyebabkan edema dan atau
obstruksi jalan nafas atas
 Keracunan CO2 (sakit kepala, mual,kebingungan, koma)
 Terapi O2 100% 10-12 l, dengan NRM
 Pada luka bakar grade III yang mengenai dinding dada anterior
dan lateral menyebabkan terbatasnya pergerakan dinding
dada lakukan ESCHAROTOMY
3. Circulation
Shock hipovolemik dewasa 2liter secepatnya, rumus 20ml/kgBB
dengan RL kemudian evaluasi lalu beri RL lagi
Pasang cateter urin , evaluasi urin output  1cc/kgBB/jam (anak)
0,5-1 cc/kgBB dewasa
Grade II/III 4x%luka bakarxBB (jam) , *jam pertama setengahnya,
16 selanjutnya setengah lg.
Pada anak terapi glukosa juga
4. Disability
5. Environment  cegah hipotermia

SECONDARY SURVEY

1. PF  luas dan derajat luka


 Cedera penyerta
 Timbang BB
2. Catatan penderita
3. Pem Penunjang
Lab: darahlengkap, crossmatch, gol darah, kimia darah, AGD
Radiologi: Ro Thorax
4. Luka bakar melingkar ada/tidak
5. Pasang NGT pada indikasi ini Mual, muntah, kembung,Luas luka bakar
>20%
6. Antibiotik dan antitetanus , hanya bila terjadi infeksi dan Tanya riwayat
imunisasi aktif dan pasif

Pasien dirawat jika:

 Luka bakar derajat II dan III


 Luka bakar listrik/ kimia
 Trauma Inhalasi
 Cedera penyerta yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas
b. Klasifikasi penyembuhan luka
a. primary closure
o bila luka bersih tidak terinfeksi dijahit
b. delayed primary closure:
o menurunkan resiko infeksi pada luka terkontaminasi.
o Luka dibiarkan beberapa hari hingga granulasi baik dan tidak
ada tanda infeksi baru kemudian dijahit.

c. Secondary closure

o cocok untuk luka terinfeksi atau terkontaminasi


o memungkinkan untuk drainase atau debridement dengan penggantian
kassa
o luka dibiarkan terbuka hingga terisi jaringan granulasi, ditutup oleh
epitel, fase remodeling disertai kontraktur.

c. Fase fase penyembuhan luka

FASE PROSES GEJALA/TANDA


I. Inflamasi Radang Calor dolor rubor
hari0-5 tumor
2. Proliferasi Regenerasi / Granulasi / kalus
fibroplasti
Hari 5-14
3. Remodeling Pematangan Jar parut/ fibrosis
3-6 hingga 1 th

d. Trias hipospadia

1. Letak meatus uretra eksterna abnormal di ventral penis, mulai dari


glans penis hingga perineum
2. Kurvatura di arah ventral penis (chordee)
3. Foreskin abnormal dengan hood dibagian dorsal dan defisiensi di
bagian ventral penis.
e. Kasus anak bibir sumbing umur 2 bulan, sbg dokter umum
apa yang dilakukan.

RULE OF TEN:BB > 10n pon/4.5 kg

USIA >10 MINGGU

Hb > 10 MG/DL

Leukosit < 10.000

Anak umur 2 bulan belum dapat dilakukan operasi, jd informed consent


ke keluarga.
 Untuk sementara jika anak sulit menyusu apalagi jika putting kecil,
anjurkan menggunakan putting buatan.
 Jika disertai celah pada langit-langit anak harus menggunakan dot
dengan posisi 15° menggunakan dot besar.

Jika syarat operasi sudah dipenuhi, rujuk anak ke dokter bedah plastik.

Operasi dilakukan palatoplasty saat umur 15-24 bulan

f. Penanganan luka di perianal


Rekonstruksi spinchter ani local muscle seperti gracilis dan gluteus
maximus flap.

g. Derajat luka bakar menurut kedalamannya

a. Luka bakar derajat I


Eritema , tidak ada bula, nyeri
b. Luka bakar derajat II (partial thicknessburns).
Eritem, bengkak, bulla, permukaan basah, nyeri hebat, kerusakan
sampai sebagian dermis.
c. Luka bakar derajat III (full-thickness burns)
Luka kehitaman, warna kulit putuh seperti lilin, tidak nyeri, kering,
kerusakan seluruh dermis atau bias sampai subkutan.

h. RULE OF NINE Luka Bakar


2. Bedah Onkologi
a. Perbedaan klinis tumir jinak dan ganas

KLINIS JINAK GANAS


Tumbuh Lambat Cepat
Pertumbuhan Ekspansif Infiltrative
Batas Jelas Tidak jelas
Penyebaran - Metastase +
vaskularisasi Sedikit banyak

b. Wanita 40th benjol di payudara .tatalaksana?


Anamnesis: berapa lama , membesar /tdk, nyeri, keluar cairan dr putting,
timbul borok brp lama, BBturun ga, cek factor resiko seperti sudah
menikah?mens kpn? Menoupose? Riw kb?

PF: teraba tumor di payudara, ukuran, konsistensi, batas tegas/tdk,


mobile?,retraksi putting?, dimpling?, peau de orange?, KGB sekitar?

Tatalaksana: bersihkan luka, buang jaringan nekrotik,


Lakukan pemeriksaan penunjang: lab darah rutin, thorax foto,
usg abd utk staging lalu tentukan terapi.

c. Neoplasma dan Karsinogenetis


 Neoplasma adalah:
Neoplasma, sesuai definisi Willis, adalah massa abnormal
jaringan yang pertumbuhannya berlebihan dan tidak terkoordinasi
dengan pertumuhan jaringan normal serta terus demikian walaupun
rancangan yang memicu perubahan tersebut telah berhenti.

 Karsinogenetis adalah:
Peristiwa perubahan sel normal menjadi sel kanker.
d. Pengobatan tumor jinak dan ganas

 Tumor jinak: Bedah


 Tumor ganas: Tergantung jenis, letak, dan luas
Pilihan terapi: a. Bedah
b. Sinar radioresisten atau radio sensitive
c. Kemoterapi
d. Imunoterapi
e. Terapi hormone
3. Bedah Thorax
a. Anatomi mediastinum

Thoracal V-VIII

DIAFRAGMA

Penjelasan: Mediastnum oleh garis imaginer berjalan dari angulus sterni hingga
margo inferior corpus vertebrae thoracal IV menjadi superior dan inferior.

b. Fisiologi hemodinamik

Sistem peredaran darah kecil (sistem peredaran paru-paru)


Merupakan sistem peredaran yang membawa darah dari jantung ke paru-
paru kembali lagi ke jantung yang mengubah darah yang banyak mengandung CO2
dari jantung menjadi O2 setelah keluar dari paru-paru.
Mekanisme aliran darah sebagai berikut:

Ventrikel kanan jantung –> Arteri pulmonalis –> paru-


paru –> vena pulmonalis –> atrium kiri jantung
Sistem peredaran darah besar (peredaran darah sistemik)
merupakan sistem peredaran darah yang membawa darah yang membawa darah
dari jantung ke seluruh tubuh. Darah yang keluar dari jantung banyak mengandung
oksigen.

Mekanisme aliran darah sebagai berikut:

Ventrikel kiri –> aorta –> arteri superior dan inferior –> sel /
jaringan tubuh –> vena cava inferior dan superior –> atrium
kanan jantung
c. Cavum thorax dari luar ke dalam.

 Dinding thorax anterior: sternum, costae, cartilage costae


 Cavum thorax: pleura parietal , visceral, kel thymus, trachea,
pulmo, cor+aorta pars thoracalis, vena cava, esophagus, ductus
thoracalis.
 Dinding posterior: vertebra thoracalis dan discus intervertebralis.

d. Bagian bagian pembuluh darah

 Tunika intima (endotel)


 Tunika media (muskularis)
 Tunika adventisia (jaringan ikat)

e. Katup katup di jantung


4. Bedah Urologi
a. Arti kata urologi

Urologi adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari penyakit dan klainan
di traktus urogenitalia pria dan traktur urinarius wanita.
 Organ urinaria: ginjal dengan salurannya, glandula adrenal, ureter,
buli buli, urethra
 Organ genital pria: testis, epididymitis, vs deferens, vesica
seminalis, prostat, dan penis.
 Semua organ urogenital terletak retroperitoneal kecuali: testis,
epididymis, vasa deferens, penis dan urethera.

b. Penatalaksanaan batu buli (vesicolitiasis)

 Litotripsi (endoskopik)
 Jika terlalu besar dilakukan vesikolitotomi

c. Penatalaksanaan Torsio testis

Terpuntirnya funikulus spermatikus yang berakibat terganggunya aliran


darah testis.
Jika >4jam akan menyebabkan infark
Penatalaksanaan:
a. Detorsi manual dengan onset <4 jam
b. Operasi untuk reposisi dan evaluasi viabilitas testis
Viable Orkidopeksi atau fiksasi testis kekontralateral agar tidak
torsi
Non viable
d. Penatalaksanaan urolitiasis (batu ginjal)

Diterapi bila telah menimbulkan infeksi, obstruksi, indikasi social.


Pilihan terapi:
 Medikamentosa batu <5mm , tujuan untuk mengurangi
nyeri,diuretic melancarkan aliran urine, banyak minum agar
mendorong batu.
 ESWL (extracorporeal Shockwave Lithotripsy) memecah batu
tanpa tindakan invasive dan pembiusan, namun pecahan batu yang
keluar akan menimbulkan kolik dan hematuria.
 Endourologi Minimal invasive , alat dimasukkan langsung ke
saluran kemih bias urethra \ perkutan.
Tindakan Endorurologi meliputi:
PNL
Litotripsi untuk batu buli dan ureter
Uteroskopi/ uterorenoskopi
Bedah bisa laparaskopi atau
pielolitotomi,nefrolitotomi,ureterolitotomi.

e. Trauma tumpul buli buli dengan hematuria, tatalaksana?


Jika riwayat trauma yang disertai dengan:
 Tidak keluar kencing atau tidak ingin kencing
 Kencing darah atau bercampur darah
 Nyeri didaerah supra symphysis/perut bagian bawah
 Nyeri tekan didaerah abdomen dan tegang (peritonismus)
 Sistografi: ada ekstravasasi kontras
 Test buli-buli: cairan yang keluar < cairan yang masuk buli

CURIGA RUPTUR BULI BULI

 Lakukan pemeriksaan : Darah lengkap, tes faal ginjal, sedimen


urin, foto polos abdomen/pelvis, IVP, sistografi dan tes buli-
buli.
 Pasang cateter no 16 lewat urethra , rujuk ke dokter bedah
urologi
5. Bedah Digestive
a. Seorang perempuan, muntah muntah disertai perut
kembung. DD?
Jika obstruksi bagaimana penanganannya?
Pemeriksaan apa yang dilakukan?
Komplikasi?
Pasien dengan keluhan kembung dan muntah pertama harus digali dr
anamnesis dan PF. Muntah berwarna apa?ada nyeri daerah perut? Sudah
dari kapan keluhan? BAB ? Flatus? Demam? BAK?

Pada PF abdomen dengar suara BU ↑↓ , DD:

b. Seoreng anak 5 th nyeri perut kanan bawah. DD nyeri tsb?


Bagaimana penatalaksanaannya?

KANAN ATAS KIRI ATAS


Colelitiasis Ulkus peptikum
Colesistitis Ca gaster
Nefrolitiasis Limpa
Ulkus peptikum?
KIRI ATAS KIRI BAWAH
Appendisitis bias akut/kronik Kolitis
Batu ureter dextra PID pada wanita
KET Batu ureter kiri
Torsio kista ovarium Limfadenitis
PID
Limfadenitis mesentrika
Batu ureter
c. Jelaskan tentang appendicitis dan ileus.

Apendisitis
Appendisitis peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering.

Apendisitis terbagi 2 garis besar:


a. Appendicitis akut
 Apendisitis Akut Sederhana Proses peradangan baru terjadi di
mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi
 Appendicitis akut purulenta
 Appendisitis akut gangrenosa
 Appendisitis infiltrate
 Appendicitis abses
 Appendicitis perforasi

b. Appendicitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika ditemukan
adanya riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang
kronik apendiks secara makroskopik dan mikroskopik.

Patofisiologi Apendisitis
penyumbatan lumen apendiks (hiperplasia folikel limfoid, fekalit,
benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya
atau neoplasma) mukus yang diproduksi mukosa mengalami
bendungan mukus tersebut makin banyak elastisitas dinding
apendiks mempunyai keterbatasan  peningkatan tekanan
intralumen akan menghambat aliran limfe mengakibatkan edema,
diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa.
Pada saat inilah terjadi apendistis akut fokal yang ditandai oleh nyeri
epigastrium (Price, 2005).
Diagnosis
Anamnesis: nyeri perut kanan bawah , demam 37,5-38,5, mungkin
obstipasi

PF: Status lokalis abdomen kuadran kanan bawah adalah :


1. Nyeri tekan (+) Mc. Burney. merupakan tanda kunci diagnosis.
2. Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum.
3. Defence muscular adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen
yang menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal
4. Rovsing sign (+)hal ini diakibatkan oleh adanya nyeri lepas yang
dijalarkan karena iritasi peritoneal pada sisi yang berlawanan.
5. Psoas sign (+) terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas
oleh peradangan yang terjadi pada apendiks.
6. Obturator sign (+) menunjukkan peradangan apendiks terletak pada
daerah hipogastrium (Departemen Bedah UGM, 2010).

Diagnosis juga dpt menggunakan Alvarado score:

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Hitung jenis leukosit dengan hasil leukositosis.
Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi :
o leukositosis yang lebih tinggi lagi.
o Hb (hemoglobin) nampak normal.
o Laju endap darah(LED) meningkat pada keadaan apendisitis
infiltrat.

b. Urin rutin
penting untuk melihat apakah terdapat infeksi pada ginjal.

2. Pemeriksaan Radiologi
a. Apendikogram
b. Ultrasonografi (USG)

Diagnosis Banding
1. Gastroenteritis, ditandai dengan terjadi mual, muntah, dan diare
mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih ringan, panas dan
leukositosis kurang menonjol dibandingkan, apendisitis akut.
2. Limfadenitis Mesenterika, biasanya didahului oleh enteritis atau
gastroenteritis. Ditandai dengan nyeri perut kanan disertai dengan
perasaan mual dan nyeri tekan perut.
3. Demam dengue, dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis dan
diperoleh hasil positif untuk Rumple Leede, trombositopeni, dan
hematokrit yang meningkat.
4. Infeksi Panggul dan salpingitis akut kanan sulit dibedakan dengan
apendisitis akut. Suhu biasanya lebih tinggi dari pada apendisitis dan
nyeri perut bagian bawah lebih difus. Infeksi panggul pada wanita
biasanya disertai keputihan dan infeksi urin.
5. Gangguan alat reproduksi wanita, folikel ovarium yang pecah dapat
memberikan nyeri perut kanan bawah pada pertengahan
siklusmenstruasi. Tidak ada tanda radang dan nyeri biasa hilang
dalam waktu 24 jam.
6. Kehamilan ektopik, hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan
keluhan yang tidak jelas seperti ruptur tuba dan abortus. Kehamilan
18
di luar rahim disertai pendarahan menimbulkan nyeri mendadak
difus di pelvik dan bisa terjadi syok hipovolemik.
7. Divertikulosis Meckel, gambaran klinisnya hampir sama dengan
apendisitis akut dan sering dihubungkan dengan komplikasi yang
mirip pada apendisitis akut sehingga diperlukan pengobatan serta
tindakan bedah yang sama.
8. Ulkus peptikum perforasi,
9. Batu ureter, jika diperkirakan mengendap dekat appendiks dan
menyerupai apendisitis retrosekal. Nyeri menjalar ke labia, skrotum,
penis, hematuria dan terjadi demam atau leukositosis.

Penatalaksanaan
1. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang
tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian
antibiotik. Pemberian antibiotik berguna untuk mencegah infeksi.
Pada penderita apendisitis perforasi, sebelum operasi dilakukan
penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik sistemik
(Oswari, 2000).
2. Operatif
Penundaan appendektomi dengan pemberian antibiotik dapat
mengakibatkan abses dan perforasi. Pada abses apendiks dilakukan
drainase (Oswari, 2000).

Ileus

Definisi: Gangguan pasase isi usus


Klasifikasi:
a. Obstruksi mekanik
Penyebab:
 Pada lumen usus bisa scibala, parasite, corpus allienum, batu
empedu
 Pada dinding usus bisa inflamasi chrondisease(dinding
menebal sehingga lumen menyempit), tumor
 Diluar Usus bisa adhesi atau penempelan usus, volvulus,
intususepsi, hernia inkarserata.
Level obstrksi:
 Letak tinggi ex di duodenum, jejunum, ileum
 Letak rendah ex colon dan rectum
b. Gangguan saraf
Paralitik dan spastik
c. Gangguan pembuluh darah ex sumbatan vasa
Keluhan:
Nyeri, meteorismus, muntah, tidak BAB,
Gejala sistemik: tachycardia, hipotensi, oliguria, mulut kering.

PF:
 Inspeksi: scar, distensi abdomen, darm contour(gamb usus
terlihat), darm steifung (gambaran peristaltic usus), hernia
ireducible.
 Palpasi: nyeri tekan, masaa abdominal,
 Perkusi: timpani
 Auskultasi: hiperperistaltik, metallic sound, gurgling, absent
of bowel sound.
 Rectal Touche

Pemeriksaan penunjang
 Hb, leukosit, diff count
 Ureum creatinine takut gga post dehidrasi
 Elektrolit post muntah

Penatalaksanaan

 Fase preop: NGT, DC, rehidrasi, antibiotic


 Fase op: laparatomi eksplorasi
 Fase post op: maintance cairan, dextrose dengan asam
amino, antibiotic,test feeding
6. Bedah Anak
a. Anak dengan benjolan di skorotum, apa DD?
 Hidrokel testis  trasluminasi diafanoskopi +
 Orchitis disebabkan Mumps, diafanoskopi -
 Varikokel diafanoskopi -, teraba spt kantong cacing
 Epididimitis
 Spermatocele
 Tumor testis pemeriksaan usg
 Torsio testis
 Jika membesar curiga hernia

b. Anak dengan muntah hijau


 Atresia duodenum
 Malrotasi/volvulus
 Atresia jejunal
 Atresia ileum
 Enterokolitis nekrotikan

c. Hirschprung disease
Hirschsprung Disease (HD) adalah kelainan kongenital dimana tidak
dijumpai pleksus auerbach dan pleksus meisneri pada kolon.

Klinis:
 Penyakit Hirschsprung harus dicurigai pada anak yang mengalami
keterlambatan dalam mengeluarkan meconium.
 pada anak dengan riwayat konstipasi kronik sejak kelahiran. Gejala
lainnya termasuk obstruksi usus dengan muntah empedu, distensi
abdominal, nafsu makan menurun, dan pertumbuhan terhambat.
 Konstipasi kronik sejak kelahiran
 penambahan berat badan yang buruk.
Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan fisik pada masa neonatus biasanya tidak dapat
menegakkan diagnosis, hanya memperlihatkan adanya distensi
abdomen dan/atau spasme anus.
2. Imperforata ani letak rendah dengan lubang perineal
kemungkinan memiliki gambaran serupa dengan pasien
Hirschsprung. Pemeriksaan fisik yang saksama dapat membedakan
keduanya.
3. Pada anak yang lebih besar, distensi abdomen yang disebabkan
adanya ketidakmampuan melepaskan flatus jarang ditemukan

Differensial Diagnosis
 konstipasi,
 Ileus,
 Iritable Bowel Syndrome,
Gangguan Motilitas Usus.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium

1. Kimia Darah :
2. Darah Rutin : Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui hematokrit
dan platelet preoperatif.
3. Profil Koagulasi : Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan tidak
ada gangguan pembekuan darah yang perlu dikoreksi sebelum operasi
dilakukan.

Pemeriksaan Radiologi
1. Foto Polos Abdomen dapat menunjukkan adanya loop usus yang
distensi dengan adanya udara dalam rectum
2. Barium enema
Gambaran radiologis lainnya yang mengarah pada penyakit Hirschsprung
adalah adanya retensi kontras lebih dari 24 jam setelah barium enema
dilakukan.
d. Anak dengan hernia inguinal
1. Anamnesa: Benjolan saat mengedan (miksi,defikasi,batuk,
menangis), menghilang saat tidak mengedan
2. PF: Benjolan di lipat paha, skorotum, dpt msk/tidak?
3. Terapi: Herniotomi untuk yang reponibile bisa elektif
Untuk inkarserata maximal 6 jam bila hernia tidak
berhasil tereduksi.
7. Bedah Orthopaedi
a. Pembagian fr supracondylar humerus pada anak
Berdasarkan FRAGMEN DISTAL:
i. TIPE POSTERIOR(ekstensi)
\90% dari semua kasus. Fragmen distal bergeser kearah posterior.
Sendi siku hiperekstensi atau sedikit fleksi dengan pergelangan
tangan dorso fleksi.
ii. TIPE ANTERIOR
Jatuh dan trauma langsung sendi siku pada distal humerus
sehingga fragmen distal bergeser ke anterior.

Berdasarkan MEKANISME:

i. TIPE I hanya garis retakan tanpa pergeseran fragmen


ii. TIPE II perubahan sudut antara humerus dengan condilus lateralis
tanpa pergeseran fragmen
iii. TIPE III terdapat pergeseran fragmen tapi korteks masih utuh dan
masih ada kontak antara dua fragmen
iv. TIPE IV pergeseran kedua fragmen tanpa ada kontak sama sekali.

b. Tahap penyembuhan fraktur


1. Hematom ekstravasasi vascular (hari 1-5)
2. Proliferasi osteogenik (periosteum dan endoosteum)
Radiologis belum tampak kalus,
Terjadi s.d hari ke 12
3. Pembentukan Kalus  clinical union s.d minggu 12
Osifikasi endokondrial
Radiologis tampak kalus
4. Konsolidasi  fibrous kalus berubah jd primary bone callus lalu
diganti jadi secondaru bone callus
6-8 bulan
5. Remodelling
Secondary bone callus kaya kalsium sehingga tulang terbentuk baik.
8-12 bulan.
c. Skin graft/flap

Perbedaan skin graft dengan flap berada pada pembuluh darah. Klo flap
sudah ada vaskularisasi, klo graft tanpa pemb.darah.
 Skin graft merupakan suatu tindakan pembedahan dimana
dilakukan pemindahan sebagian atau seluruh tebalnya kulit dari
suatu daerah asal (donor) tanpa disertai vaskularisasinya kedaerah
lainnya (resipien) untuk menutupi suatu defek.
 Setiap luka yang tidak dapat ditutup primer mempunyai indikasi
untuk dilakukan skin graft

PEMBAGIAN SKIN GRAFT


a. Autograft
Graft berasal dari individu yang sama (berasal dari tubuh yang sama)
b. Allograft
Graft berasal dari individu lain yang sama spesiesnya (berasal dari tubuh
yang lain).
c. Xenograft
Berasal dari makhluk lain yang berbeda spesies (binatang)

Berdasarkan ketebalannya, skin graft dibagi atas :


 Split Thickness Skin Graft (STSG) mencakup dermis dan
sebagian dermis.
 Full Thickness Skin Graft (FTSG) Skin Graft yang terdiri dari
epidermis dan seluruh bagian dermis.
d. Prinsip kerja CT scan ,MRI

CT SCAN MRI
Cedera tulang, paru, Jaringan lunak ex
dada, deteksi kanker tendon,ligament, saraf
tulang belakang
Bias keadaan darurat 30 menit , darurat tidak
Cuma 5 menit bisa
Lebih murah Lebih mahal
Ada radiasi Tidak ada radiasi

e. Macam macam malunion


Malunion : Bila tulang sembuh di waktu normal tapi fungsi anatomis
abnormal (angulasi, perpendekan,atau rotasi).
Delayed union : Fraktur sembuh lebih dari waktu normal.
Nonunion : Fraktur yang tidak menyambung dalam 20 minggu-
Kekakuan sendi/kontraktur
f. Kegawat daruratan Orthopedi
o Fraktur terbuka maupun tertutup
o Neurovaskular ex:putus ekstremitas
o Kompartemen
g. Kelainan Muskuloskeletal
C: congenital
I: infection
N: Neoplasma
T: Trauma
A: Another such as degenerative and metabolic

h. Asal kata orthopaedi


Kata orthopedic dikenalkan oleh Nicholas Andry th 1741 melalui buku
L’ortho’edie
 Orthos : straight atau lurus atau free from deformity and Pais: child

Sejak saat itu orthopedic meliputi evaluasi dan tatalaksana semua


cedera yang berkaitan dengan muskulo skeletal.
i. Fraktur Galleazi, Colles, Monteggia
 Fr. Galleazi: fraktur 1/3 distal radius disertai dislokasi/subluksasi
sendi radioulnar distal.
 Fr. Colles : fraktur metafisis distal radius yang sudah mengalami
osteoporosis.
 Fr.Monteggia: fraktur 1/3 proximal ulna dengan dislokasi ke
anterior dari kapitulum radius.
8. Bedah Syaraf
a. Grade trauma kepala
Berdasarkan GCS:
 Mild head injury GCS 13-15
 Moderate head injury 9-12
 Severe head injury 3-8

Berdasarkan standar pelayanan medic RSMH:


 Ringan penderita dengan riwayat trauma kepala GCS 14-15
disertai kehilangan kesadaran sewaktu (<5menit atau gang
memori).
 Sedang trauma kepala dengan GCS 9-13 atau kehilangan
kesadaran namun bias mengikuti perintah sederhana >6 jam
trauma, atau ada deficit neurologis fokal seperti hemiparese.
 Berat Penurunan kesadaran dan tidak mampu mengikuti perintah
sederhana dan GCS 3-8 setelah fungsi cardiopulmonal stabil.

b. Indikasi rawat pada trauma kepala.


Indikasi Observasi pasien cedera kepala:
 CT scan tidak ada
 CT scan abnormal
 Sakit kepala sedang-berat
 Riwayat hilang kesadaran
 Penurunan kesadaran
 Intoksikasi alcohol
 Kebocoran LCS ex: rinorea,ottorhea
 Deficit neurologis fokal
 GCS<15
 Cedera penyerta bermakna
 Semua cedera tembus
Indikasi berdasarkan Diktat:

 Muntah muntah
 Tanda fraktur skull
 Pingsan >15 menit
 Penurunan kesadaran
 Sakit kepala berat
Penggunaan alcohol
 Fraktur basis cranii
 Amnesia .30 menit
 Ada riwayat kejang
 Tidak ada keluarga dirumah
 Rujukan atau tempat tinggal jauh

Anda mungkin juga menyukai