Anda di halaman 1dari 5

Mungkinkah kita sendirian di Era Interdependensi hari ini?

Menjawab Tuduhan Jokowi Antek Asing

Pertama, untuk menjelaskan fenomena antek asing ini, kita perlu melihat dalam sisi hubungan
internasional agar tidak asbun (Asal bunyi). Sejak jatuhnya Soviet di 26 Desember 1991,
sistem internasional praktis berubah, negara-negara tidak lagi terlibat dalam perang dingin dan
saling memutus hubungan diplomatik karena perkara ideologi. Fukuyama (1992)
mengungkapkan dalam bukunya The end of history and the last man bahwa berakhirnya
perang dingin menandai selesainya konflik ideologi yang ini saya maknai sebagai
gerbang demokratisasi dunia.

Indonesia juga pernah menutup hubungan diplomatik dengan RRT, namun Presiden
Soeharto lewat menteri luar negerinya pada tahun 1996 kembali membuka hubungan
bilateral. Normalisasi ini dirasa penting pada masa pemerintahan Soeharto saat itu, karena di
awal dasawarsa 90-an pertumbuhan ekonomi RRT sedang dalam masa take-off. Pasca
pemerintahan Deng Xiaoping mengganti sistem ekonomi tirai bambu (ekonomi tertutup) di
tahun 1978.

Gusdur juga melakukan lawatan pertama, sejak di lantik ke negeri Tiongkok, dan mengidekan
poros Jakarta-Beijing-New Delhi. Gusdur mengatakan bahwa Tiongkok memiliki potensi
ekonomi besar dan rugi juga jika Indonesia tidak berhubungan dengan mereka pada
lawatannya 1-3 Desember 1999. Pada masa pemerintahan SBY, monumen kedekatan
hubungan Indonesia-Tiongkok ditandatangani yaitu Kemitraan Strategis pada 25 April
2005, yang kemudian ditingkatkan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif pada
Oktober 2013.
Presiden-presiden sebelum Jokowi tentu menghitung, bahwa kerugian jika kita
bermusuhan dengan satu negara saja, siapapun itu. Jadi, mengapa Pak Jokowi harus
mengambil jarak bahkan memusuhi satu negara tertentu? Kita juga bisa berbicara
mengenai relasi Indonesia dan Amerika jika hari ini isunya adalah Indonesia sedang dijajah
negara tertentu.

Sejak memulai hubungan diplomatik pada 1949, relasi antara Indonesia dan Amerika Serikat
terus bertumbuh dan semakin penting secara timbal balik bagi dua negara. Di masa
pemerintahan Soekarno misalnya, Indonesia pernah marah dengan Eisenhower, mesra
dengan John F Kennedy, kembali berfriksi dengan Johnston. Di masa pemerintahan
Soeharto, Indonesia dan Amerika selalu tersenyum manis dalam hubungan bilateral dari
masa Presiden Lyndon Johson, Richard Nixon, Gerald Ford, Jimmy Carter, Ronald
Reagan, dan terakhir G. H. W. Bush. Praktis tidak ada sejarah retak gelas di masa Orde
Baru, Amerika selalu memberikan bantuan ekonomi, diadakan pelatihan militer dan adanya
kunjungan kenegaraan.

Pada bulan November 2010, Presiden SusiloBambang Yudhoyono dan Presiden Barrack
Obama menandatangani Comprehensive Partnership Agreement (CPA) Perjanjian ini
meliputi kerja sama dalam bidang perdagangan dan investasi, pendidikan, energi,
perubahan iklim dan lingkungan, keamanan, demokrasi dan masyarakat sipil. Selain
menandatangani CPA, upaya Pemerintah Indonesia dan AS untuk meningkatkan hubungan
ekonomi kedua negara ditandai dengan pembentukan beberapa forum.

Forum dan insiatif tersebut terdiri atas: US-Indonesia Trade and Investment Dialogue,
Commercial Dialogue, dan Overseas Private Investment Corporation (OPIC). Selain itu,
Indonesia menjadi satu dari negara fokus ekspor AS yang tercantum dalam National Export
Initiatives (NEI). AS menyelenggarakan Global Entrepreneurship Program (GEP) untuk
mendorong wirausaha di Indonesia United States Trade and Development Agency (USTDA)
Geothermal Development untuk mendorong kerja sama energi.

Satu contoh saja bagaimana Indonesia juga mengimpor sekaligus mengekspor ke Amerika.
Sejak 2009 ekspor barang AS ke Indonesia telah meningkat dari $5,1 miliar ke $7,8 miliar
pada tahun 2001, dan impor barang telah meningkat dari $12.9 miliar ke $19.1 miliar.

Era Interdependensi jadi tren baru sejak dasawarsa 1990

Seperti yang awal telah saya katakan bahwa perang ideologi bukan lagi tren yang berkembang
di masa multipolar (negara-negara di dunia punya kesempatan yang sama untuk berkembang
dan berkuasa).Interdependensi adalah sebuah hubungan yang saling ketergantungan,
antara satu pihak dengan pihak lain. Hal ini jadi kata kunci di periode awal 2000-an

Hubungan ini dibangun atas kesadaran bahwa tidak semua kebutuhan suatu negara
dapat dipenuhi oleh negara dan membutuhkan support dari negara lain. Jepang akan
sangat kesulitan jika menutup diri dari kerjasama internasional, ke seluruh negara. Mereka
tidak punya cadangan energi untuk dikelola, meskipun teknologi mereka memadai. Iran
(dahulu sebelum sanksi dicabut), merasakan perihnya embargo minyak sebagai sanksi nuklir
dari US dan Uni Eropa. Iran menjerit karena tidak dapat mengekspor minyaknya. Mau
memenuhi kebutuhan ekonomi dalam negeri pakai apa?

Jika pertanyaan ini diaplikasikan ke Indonesia. Jika kita terus memusuhi negara orang,
satu saja misal Amerika. Apakah kita mau mengulang embargo senjata (sebagai sanksi
pelanggaran HAM yang dilakukan di penghujung tahun 1998) yang baru dicabut tahun
2005? Sebagai Contoh di bidang pertahanan, Kita saja baru mengadakan kerjasama
pengembangan teknologi alutsista Tank dengan Turki. Artinya kan kita perlu negara
lain untuk berkembang bersama di berbagai bidang.

Soekarno sudah pernah merasakan intervensi Amerika Serikat ketika melawannya di


penghujung tahun 1964. Saddam Hussain juga sudah pernah merasakan operasi militer
Amerika Serikat karena dugaan senjata pemusnah massal. Terakhir, Khadafi merasakan betul
Libia yang porak-poranda karena terus menerus memusuhi Amerika Serikat.

Kita harus berpikir jernih, tidak bisa terus menerus kita berpikir inward looking. Sistem
Internasional kita semakin cairKerjasama ekonomi antar negara terus berjalan meskipun
jika Indonesia memilih jalan ekonomi tertutup Tirai Bambu seperti RRT di era Mao. Hanya
saja, Indonesia akan merasakan jeritan yang sama dengan Iran jika terus berpikir
Cauvinis dengan mengantarkan permusuhan. Bahasa anti asing, antek asing, bahkan
asing sendiri merupakan perilaku verbal dari cauvinisme. Dalam hubungan
internasional, hanya disediakan kosakata negara lain, bilateral, multilateral, dan
sebagainya.

Kalau kita bicara konteks pemilu 2019 dan Gerindra hari ini. Saya akan contohkan serial anti
asing dan bukan antek asing kepada pemirsa.Pada tanggal 14 October 2013, GerindraTV,
meluncurkan video yang berjudul 'Hashim Djojohadikusumo Memaparkan Visi Partai
Gerindra'.1Video ini merupakan rekaman pidato Hashim di acara USINDO Washington
Special Open Forum Luncheon yang berlangsung di Washington DC pada tanggal 17
Juli 2013 lalu."Hashim mengatakan: “Jadi, Prabowo adalah seseorang yang sangat pro-
Amerika, dia sekolah SMA di Amerika, sekolah sebelum SMA juga Amerika.”

1
https://nasional.kompas.com/read/2014/06/03/1023296/Video.Pidato.Hashim.bahwa.Prabowo.Pro-
Amerika.Beredar.di.Medsos
Pada kesempatan lain, Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, menghadiri
Hari Kemerdekaan Ke-69 China yang digelar di Ballroom Shangrilla hotel, Jakarta,
Kamis Malam, 28 November 2018.2 Saya memandang China sangat penting bagi
Indonesia, jadi kita harus jalin hubungan baik, kita harus tingkatkan hubungan dalam
tingkat yang lebih baik dan saling membantu," kata Prabowo. Dua saja itu ya, bukti,
mungkin pemirsa bisa mencari lagi berbagai tindakan verbal yang melawan prinsip anti asing
dan bukan antek asing dari Pihak 02.

Saya kira kita perlu luwes dalam berhubungan internasional. Kerjasama ekonomi,
pertahanan, bahkan pendidikan merupakan fenomena yang wajar. Kewajaran ini kalau
kita protes hanya menggunakan pendekatan perasaan semata, akan merugikan
Indonesia sebagai sebuah negara. Negara ini akan terus berlanjut setelah Pak Jokowi
dua periode. Jangan sampai karena cauvinisme seorang politikus yang kemudian terpilih
secara elektoral di satu masa dan memimpin negara ini, kita mengalami nasib negara
dengan ratusan embargo negara lain yang membenci Indonesia.

2
https://nasional.kompas.com/read/2018/09/28/11193861/prabowo-china-penting-bagi-indonesia-
hubungan-harus-ditingkatkan