Anda di halaman 1dari 12

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Histologi Kornea

Sumber: MedicineNet.Inc

Gambar 3.1 Anatomi Mata

Kornea (Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian

selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata

sebelah depan dan terdiri atas 5 lapis1:

1. Epitel

Epitel kornea merupakan lapis paling luar kornea dengan tebal 50 µm dan

berbentuk epitel gepeng berlapis tanpa tanduk.Bagian terbesar ujung saraf kornea

berakhir pada epitel ini.Setiap gangguan epitel akan memberikan gangguan sensibilitas

9
kornea berupa rasa sakit atau mengganjal. Daya regenerasi epitel cukup besar, sehingga

apabila terjadi kerusakan akan diperbaiki dalam beberapa hari tanpa membentuk

jaringan parut.

2. Membran Bowman

Membran bowman yang terletak di bawah epitel merupakan suatu membrane

tipis yang homogen terdiri atas susunan serat kolagen kuat yang mempertahankan

bentuk kornea. Bila terjadi kerusakan pada membrane bowman maka akan berakhir

dengan terbentuknya jaringan parut.

3. Stroma

Merupakan lapisan yang paling tebal dari kornea dan terdiri atas jaringan

kolagen yang tersusun dalam lamel-lamel dan berjalan sejajar dengan permukaan

kornea.Di antara serat-serat kolagen ini terdapat matriks. Stroma bersifat higroskopis

yang menarik air dari bilik mata depan. Kadar air di dalam stroma kurang lebih

70%.Kadar air dalam stroma relative tetap yang diatur oleh fungsi pompa sel endotel

dan penguapan oleh epitel. Apabila fungsi sel endotel kurang baik maka akan terjadi

kelebihan kadar air, sehingga timbul sembab kornea (edema kornea). Serat di dalam

stroma demikian teratur sehingga memberikan gambaran kornea yang transparan atau

jernih. Bila terjadi gangguan dari susunan serat di dalam stroma seperti edema kornea

dan sikatriks kornea akan mengakibatkan sinar yang melalui kornea terpecah dan

kornea terlihat keruh.

10
Sumber: MedicineNet.Inc

Gambar 3.2 Histoanatomi Kornea

4. Membran Descement

Merupakan suatu lapisan tipis yang bersifat kenyal, kuat, tidak berstruktur dan

bening, terletak di bawah stroma.Lapisan ini merupakan pelindung atau barrier infeksi

dan masuknya pembuluh darah.

5. Endotel

Terdiri atas satu lapis sel yang merupakan jaringan terpenting untuk

mempertahankan kejernihan kornea.Sel endotel adalah sel yang mengatur cairan di

dalam stroma kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi sehingga bila terjadi

kerusakan, endotel tidak akan normal lagi. Endotel dapat rusak atau terganggu

11
fungsinya akibat trauma bedah, penyakit intraocular.Usia lanjut akan mengakibatkan

jumlah endotel berkurang.Kornea tidak mengandung pembuluh darah, jernih dan

bening, selain sebagai dinding, juga berfugsi sebagai media penglihatan. Dipersarafi

oleh nervus V1,3.

B. Fisiologi Kornea

Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan “jendela” yang dilalui

berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh strukturnya

yang uniform, avaskuler dan deturgesensi. Deturgesensi atau keadaan dehidrasi relatif

jaringan kornea, dipertahankan oleh “pompa” bikarbonat aktif pada endotel dan oleh

fungsi sawar epitel dan endotel. Dalam mekanisme dehidrasi ini, endotel jauh lebih

penting daripada epitel, dan kerusakan kimiawi atau fisis pada endotel berdampak jauh

lebih parah daripada kerusakan pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan

edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya, kerusakan pada epitel hanya

menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat yang akan meghilang bila sel-sel epitel

telah beregenerasi. Penguapan air dari lapisan air mata prekorneal menghasilkan

hipertonisitas ringan lapisan air mata tersebut, yang mungkin merupakan faktor lain

dalam menarik air dari stroma kornea superfisial dan membantu mempertahankan

keadaan dehidrasi.2

Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam

perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan

seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di

12
permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea akan

segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh karena itu,

kelainan sekecil apapun di kornea dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang

hebat terutama bila letaknya di daerah pupil.4

C. Corpus Alienum

1. Definisi

Corpus alienum adalah benda asing, merupakan salah satu penyebab terjadinya

cedera mata, sering mengenai sclera, kornea, dan konjungtiva.Meskipun kebanyakan

bersifat ringan, beberapa cedera bisa berakibat serius. Apabila suatu corpus alienum

masuk ke dalam bola mata maka akan terjadi reaksi infeksi yang hebat serta timbul

kerusakan dari isi bola mata. Oleh karena itu, perlu cepat mengenali benda tersebut dan

menentukan lokasinya di dalam bola mata untuk kemudian mengeluarkannya2,4.

Benda yang masuk ke dalam bola mata dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu4

1) Benda logam, seperti emas, perak, platina, timah, besi tembaga

2) Benda bukan logam, seperti batu, kaca, bahan pakaian

3) Benda inert, adalah benda yang terbuat dari bahan-bahan yang tidak

menimbulkan reaksi jaringan mata, jika terjadi reaksinya hanya ringan dan tidak

mengganggu fungsi mata. Contoh : emas, platina, batu, kaca, dan porselin

13
4) Benda reaktif, terdiri dari benda-benda yang dapat menimbulkan reaksi

jaringan mata sehingga mengganggu fungsi mata. Contoh : timah hitam, seng, nikel,

alumunium, tembaga.

2. Etiologi

Penyebab trauma atau cedera mata yang dapat menghasilkan benda asing pada

pemukaan mata adalah7:

a. Percikan kaca, besi/gram, keramik.

b. Partikel yang terbawa angina seperti debu.

c. Ranting pohon.

d. Hewan, seperti serangga dan semut.

Beratnya kerusakan pada organ-organ di dalam bola mata tergantung dari4 :

a. Besarnya corpus alienum,

b. Kecepatan masuknya,

c. Ada atau tidaknya proses infeksi,

d. Jenis bendanya.

Faktor predisposisi dari masuknya benda asing pada mata yaitu7:

a. Mengendarai motor tanpa menggunakan helm yang disertai kaca penutup.

b. Berjalan dibawah terik matahari dalam waktu begitu lama tanpa menggunakan

topi atau kaca mata pelindung.

c. Pekerja las dalam pekerjaannya tanpa menggunakan kaca pelindung mata.

14
3. Patofisiologi

Gambar 3.1. Patofisiologi Korpus Alienum pada mata

Benda asing di kornea secara umum masuk ke kategori trauma mata ringan.

Benda asing dapat bersarang (menetap) di epitel kornea atau stroma bila benda asing

tersebut diproyeksikan ke arah mata dengan kekuatan yang besar7.

15
Benda asing dapat merangsang timbulnya reaksi inflamasi, mengakibatkan

dilatasi pembuluh darah dan kemudian menyebabkan udem pada kelopak mata,

konjungtiva dan kornea. Sel darah putih juga dilepaskan, mengakibatkan reaksi pada

kamera okuli anterior dan terdapat infiltrate kornea. Pada keadaan tertentu, jika benda

asing yang masuk ke mata tidak dihilangkan, maka benda asing tersebut dapat

menyebabkan infeksi dan nekrosis jaringan4,7.

4. Manifestasi Klinis

Secara subjektif penderita mengeluhkan gejala berupa sensasi benda asing

yang memasuki mata, terasa nyeri, mata berair dan silau (fotofobia). Sedangkan secara

objektif biasanya ditemukan tanda visus yang normal, namun dapat menurun. Selain

itu juga ditemukan benda asing di kornea mata, bisa disertai dengan pelebaran

pembuluh darah perikornea. Jika dilakukan pemeriksaan lanjutan bisa didapatkan hasil

pemeriksaan fluoresin (+)8.

5. Diagnosis

Diagnosis corpus alienum dapat ditegakkan berdasarkan9:

1) Anamnesis kejadian trauma.

2) Pemeriksaan tajam penglihatan kedua mata.

3) Pemeriksaan benda asing yang dilakukan dengan:

- lampu senter dan loupe

- Slit lamp biomikroskop

16
4) Bila ada perforasi, maka dilakukan pemeriksaan x-ray orbita.

6. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada benda asing seperti kaca/gelas dan semua fragmen yang

muncul di permukaan mata adalah dengan mengeluarkannya dari bola mata.8

○ Beri anestesi lokal/ topical tetes mata (hindari pemberian yang berlebihan dan

berulang pada trauma/defek kornea karna dapat memeperlambat penyembuhan,

merangsang kerusakan kornea serta menimbulkan jaringan parut atau sikatrik.

○ Kelopak mata dibuka dengan spekulum.

○ Pengeluaran benda asing, dengan:

-Memakai slitlamp biomikroskop/ loupe

-Ujung jarum suntik steril (disposable hypodermic needle no 25 atau foreign body

spud).

-Sikloplegik tetes mata (short acting)

-Salep mata antibiotic

-Bebat mata selama 24-48jam.

- KIE

-Evaluasi ulang, kotrol setelah 2 hari pengambilan benda asing.8

Bila lokasi corpus alienum berada di palpebra dan konjungtiva, kornea maka

dengan mudah dapat dilepaskan setelah pemberian anatesi lokal. Untuk

mengeluarkannya, diperlukan kapas lidi atau jarum suntik tumpul atau tajam. Arah

pengambilan, dari tengah ke tepi. Bila benda bersifat magnetik, maka dapat

17
dikeluarkan dengan magnet portable. Kemudian diberi antibiotik lokal, siklopegik, dan

mata dibebat dengan kassa steril dan diperban.9

Pecahan besi yang terletak di iris, dapat dikeluarkan dengan dibuat insisi di

limbus, melalui insisi tersebut ujung dari magnit dimasukkan untuk menarik benda

asing, bila tidak berhasil dapat dilakukan iridektomi dari iris yang mengandung benda

asing tersebut.10

Pecahan besi yang terletak di dalam bilik mata depan dapat dikeluarkan dengan

magnit sama seperti pada iris. Bila letaknya di lensa juga dapat ditarik dengan magnit,

sesudah insisi pada limbus kornea, jika tidak berhasil dapat dilakukan pengeluaran

lensa dengan ekstraksi linier untuk usia muda dan ekstraksi ekstrakapsuler atau

intrakapsuler untuk usia yang tua.11

Bila letak corpus alienum berada di dalam badan kaca dapat dikeluarkan dengan

giant magnit setelah insisi dari sklera. Bila tidak berhasil, dapat dilakukan dengan

operasi vitrektomi.12

Setelah dilakukan ekstraksi korpal, dapat dilakukan terapi berikut10:

a. Antibiotik

Pemberian antibiotik ditujukan untukmencegah infeksi, tetapi tidak ada bukti

yang mendukung penggunaannya dalam cacat kornea superfisial setelah pengangkatan

benda asing.

Salep antibiotik tetes mata (Bacitracin, Ciprofloxacin) memiliki keuntungan

dan berfungsi sebagai pelumas. Pastikan untuk memilih antibiotik Fluorokuinolon jika

pasien memakai lensa kontak, karena risiko infeksi pseudomonas lebih tinggi. Solusi

18
Oftalmik (Sulfacetamide, Ofloksasin) lebih mudah untuk menerapkan dan

meningkatkan kepatuhan pasien. Obat kortikosteroid atau salep harus dihindari karena

dapat meningkatkan kemungkinan infeksi dan memperlambat proses penyembuhan.

b. Kontrol nyeri

Anestesi topikal memperpanjang penyembuhan epitel dan tidak boleh

diresepkan untuk menghilangkan rasa sakit. Agen analgesik opioid (Hydrocodone /

Acetaminophen [Vicodin], Oxycodone / Acetaminophen [Percocet] dapat digunakan

untuk menghilangkan rasa sakit dan telah ditemukan untuk memungkinkan pasien

untuk tidur lebih nyaman di malam hari. Obat antiinflamasi non steroid (Ketorolac)

dapat memberikan bantuan nyeri yang signifikan dan belum ditemukan untuk

memperlambat penyembuhan.

c. Patching

Penggunaan patching telah menjadi kontroversi. Baru-baru ini, penelitian telah

menunjukkan bahwa lecet kornea akibat benda asing yang terbaik diobati tanpa

patching mata. Penyembuhan lebih cepat dan bahkan kurang rasa sakit tanpa penutup

mata. Kurangnya manfaat terbukti pada ketidaknyamanan pasien, dan satu-satunya

alasan yang mungkin untuk menggunakan penutup mata adalah untuk melindungi lecet

yang mencakup lebih dari 50% dari kornea.

d. Vaksinasi tetanus

Vaksinasi tetatus ini harus diberikan kepada setiap pasien dengan benda asing

intraokular atau cedera yang menembus kornea atau sklera.

19
7. Pencegahan

Pencegahan agar tidak ada benda asing masuk ke dalam mata, baik dalam

bekerja atau berkendara, maka perlu menggunakan kaca mata pelindung.5

8. Komplikasi

Komplikasi terjadi tergantung dari jumlah, ukuran, posisi, kedalaman, dan efek

dari corpus alienum tersebut. Jika ukurannya besar, terletak di bagian sentral dimana

fokus cahaya pada kornea dijatuhkan, maka akan dapat mempengaruhi visus. Reaksi

inflamasi juga bisa terjadi jika corpus alienum yang mengenai kornea merupakan benda

inert dan reaktif. Sikatrik maupun perdarahan juga bisa timbul jika menembus cukup

dalam.7

Bila ukuran corpus alienum tidak besar, dapat diambil dan reaksi sekunder

seperti inflamasi ditangani secepatnya, serta tidak menimbulkan sikatrik pada media

refraksi yang berarti, sehingga prognosis bagi pasien dari segala aspek dengan cedera

ringan adalah baik.7

20