Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga makalah
dengan judul PEMILIHAN DAN PENENTUAN METODE PEMBELAJARAN dapat tersusun
hingga selesai. Tidak lupa juga kami ucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yang
telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar
menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................................... i


DAFTAR ISI................................................................................................................................................. ii
BAB I ............................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah ................................................................................................................ 1
B. Rumusan masalah ........................................................................................................................... 2
C. Tujuan .............................................................................................................................................. 2
BAB II .......................................................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN .......................................................................................................................................... 2
A. Pentingnya Pemilihan Metode Pembelajaran bagi Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas. ....... 2
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode Pembelajaran. ................................... 5
C. Contoh Kerangka Pikir dalam Pemilihan Metode Pembelajaran yang Sesuai. ..................... 16
BAB III....................................................................................................................................................... 20
PENUTUP.................................................................................................................................................. 20
A. Kesimpulan .................................................................................................................................... 20
B. Saran .............................................................................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 21

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Paradigma pembelajaran senantiasa mengalami perubahan. Perubahan dimaksudkan
untuk perkembangan dan kemajuan pembelajaran yang dapat memberikan hasil yang lebih
baik. Paradigma pembelajaran yang berkembang dan diterapkan selalu menyesuaikan dengan
kondisi kekinian. Tidak berlebihan bilamana terdapat anggapan umum, bahwa pembangunan
sumber daya manusia dimulai dari ruang-ruang kelas dalam lingkup pendidikan formal di
sekolah. Proses pendidikan merupakan langkah nyata untuk mempersiapkan sumber daya
manusia bagi kemajuan bangsa dan negara (human investment).
Salah satu cita-cita pendidikan diantaranya, proses pembelajaran di kelas mampu
membentuk sumber daya manusia yang memiliki kapasitas dan kualitas yang dibutuhkan
jaman, tanpa meninggalkan karekter humanis yang berkebangsaan. Melihat betapa pentingnya
pembelajaran di kelas, sebagai bagian dari human investement, tentu proses pembelajaran di
kelas harus memiliki kualitas yang di atas rata-rata. Penentu proses pembelajaran yang
berkualitas terletak di tangan guru. Secara sederhana proses pembelajaran di kelas dapat
diringkas dalam tiga tahapan utama. Ketiga tahapan tersebut antara lain: (1) persiapan; (2)
pelaksanaan; dan, (3) evaluasi.
Keberhasilan suatu pembelajaran dapat diraih manakala semua aspek yang berkaitan
dengan pembelajaran membentuk hubungan yang sinergis, saling melengkapi, dan didukung
oleh semua pihak yang terlibat di dalamnya. Dukungan dari semua warga belajar tidak
diperoleh begitu saja, tetapi harus dibangun melalui pola interaksi positif antara pendidik dan
peserta didik. Seorang pendidik harus memiliki kepercayaan diri yang dilandasi dengan
kapasitas, kualitas, dan komitmen yang kuat, sehingga mampu menumbuhkan kepercayaan
peserta didik akan kemampuan pendidik sebagai seorang fasilitator pembelajaran. Guru
sebagai seorang learning designer, konduktor, sekaligus evaluator harus mampu
mengoptimalkan peranan-peranan fungsional tersebut agar keberhasilan pembelajaran dapat
dicapai. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran, bukan keberhasilan guru seorang, tetapi
keberhasilan yang sama-sama diraih beserta peserta didik.

1
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan
berikut ini:
1. Mengapa pemilihan dan penentuan metode pembelajaran merupakan hal penting dalam
pelaksanaan pembelajaran di kelas?
2. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode
pembelajaran?
3. Bagaimana contoh kerangka pikir dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui pentingnya pemilihan dan penentuan metode pembelajaran bagi pelaksanaan
pembelajaran di kelas.
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode
pembelajaran.
3. Mendeskripsikan contoh kerangka pikir dalam pemilihan metode pembelajaran yang
sesuai.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pentingnya Pemilihan Metode Pembelajaran bagi Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas.

2
Pemilihan dan penentuan metode pembelajaran sangatlah penting dilakukan oleh seorang
guru. Hal ini dikarenakan tidak semua metode pembelajaran dapat digunakan oleh seorang guru
dalam hal kegiatan belajar mengajar serta mendukung pencapian tujuan pembelajaran. Apabila
guru salah dalam hal memilih dan menentukan metode yang akan digunakan maka tujuan dari
pembelajaran tidak akan tercapai.

Trend pendidikan modern memusatkan kegiatan belajar pada aktifitas peserta didik. Guru
tidak lagi mendominasi pelaksanaan pembelajaran di kelas. Paradigma pembelajaran yang
demikian memiliki tujuan yang positif bagi pembangunan kualitas sumber daya manusia sebagai
aset pembangunan bangsa dan negara. Student center sebagai salah satu pendekatan pembelajaran
dirasakan lebih efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran sekaligus dalam membangun
kecerdasan peserta didik yang meliputi tiga ranah penting. Wajah pendidikan di masa lalu selalu
terfokus pada pembentukan kecerdasan pada ranah kognitif, sedangkan kecerdasan pada ranah
afektif dan psikomotor sering kali diabaikan. Pendidikan di masa lalu kurang memberikan tempat
dan pengakuan bagi pengembangan multi intelegency yang tidak hanya meliputi ranah kognitif,
tetapi juga ranah afektif dan psikomotor peserta didik. Pembelajaran yang hanya berkonsentrasi
pada pembangunan kognitif ternyata kurang berhasil menciptakan sumber daya manusia yang
dibutuhkan kompetitif.

Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher center), faktanya justru kurang
memberikan ruang bagi perkembangan peserta didik agar memiliki kecerdasan di tiga ranah
penting tersebut. Agar dapat meraih keberhasilan dalam hidup, seseorang tidak cukup berbekal
kecerdasan kognitif saja. Pembentukan kapasitas dan kualitas seseorang yang diperoleh di bangku
sekolah harus dilakukan dengan cara membangun ketiga ranah tersebut secara bersamaan.
Pendekatan pembelajaran yang berbasis student center akan lebih aplikatif jika dituangkan dalam
bentuk metode-metode pembelajaran. Berbagai inovasi pembelajaran marak disosialisasikan oleh
para pakar pendidikan. Kalangan pendidik pun tidak mau kalah dalam berinovasi menemukan dan
mengembangkan berbagai metode pembelajaran.

Komitmen positif para pemerhati pendidikan tersebut, bukan tanpa alasan. Berbagai
problematika yang mewarnai pelaksanaan pembelajaran dipandang sebagai suatu hambatan dalam
langkah nyata untuk mengembangkan kecerdasan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
Metode pembelajaran memiliki arti penting dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang

3
timbul dalam pelaksanaan pembelajaran. Berikut ini adalah alasan pentingnya pemilihan metode
pembelajaran bagi pelaksanaan pembelajaran di kelas, yakni:

1. Metode sebagai strategi pembelajaran.


Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan
guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008: 42)
menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan.
Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-
keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Perbedaan daya serap peserta didik terhadap pelajaran, memerlukan staregi
pembelajaran yang tepat. Dalam satu kelas kemampuan peserta didik untuk menyerap
pelajaran berbeda-beda, demikian pula gaya belajarnya. Sebagian peserta didik mungkin
condong pada kemampuan menangkap pelajaran berdasarkan audiotori, visual, maupun
audio – visual. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat akan mampu mengatasi
perbedaan daya serap tersebut.
2. Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Robert F. Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah
perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan
tingkat kompetensi tertentu. Oemar Hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan
pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh
siswa setelah berlangsung pembelajaran (diunduh dari
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/08/30/tujuan-pembelajaran-sebagai-
komponen-penting-dalam-pembelajaran/, diakses pada Kamis, 27 Maret 2013).
Metode pembelajaran merupakan alat yang dipakai untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat akan menjadikan kegiatan
belajar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Keberhasilan pelaksanaan
pembelajaran dapat diukur dari perubahan perilaku peserta didik setelah proses
pembelajaran usai. Dinyatakan sebagai perubahan perilaku, karena perubahan yang terjadi
tidak hanya pada tataran pengetahuan peserta didik, tetapi meliputi sikap dan cara pandang
peserta didik terhadap realitas disekitarnya.

4
Pemilihan suatu metode pembelajaran secara individu, maupun kombinasi antara
beberapa metode pembelajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran harus
disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang mempengaruhi pembelajaran. Tujuan
pembelajaran dikatakan tercapai manakala terjadi perubahan perilaku peserta didik, dan
perubahan perilaku tersebut cenderung bertahan lama.
3. Metode sebagai alat motivasi ekstrinsik.
Metode sebagai alat motivasi ekstrinsik maksudnya, metode berfungsi sebagai alat
perangsang dari luar yang dapat membangkitkan minat belajar seseorang. Penggunaan
metode yang tepat dan bervariasi akan dapat dijadikan sebagai alat motivasi ekstrinsik
dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran konvensional yang tidak banyak
menggunakan metode yang bervariasi dan kurang membuat siswa aktif, akan
menimbulkan kebosanan. Siswa akan menjadi pasif, tidak bersemangat, dan antusiame
rendah saat mengikuti pelajaran di kelas.
Pemilihan metode belajar yang inovatif dan memberikan ruang yang luas bagi
aktualisasi diri siswa akan memunculkan ‘kegembiraan belajar’. Kegembiraan belajar
merupakan atmosfer yang perlu diciptakan oleh guru melalui penggunaan metode
pembelajaran yang menantang, interaktif, menarik minat, serta mampu memenangkan
perhatian siswa. Pemilihan metode pembelajaran harus mampu melibatkan setiap siswa di
kelas untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan porsi dan peranan
yang beragam. Dengan demikian, tidak ada seorang pun peserta didik yang tidak terlibat
dalam proses berpikir, memahami, dan melakukan kegiatan belajar secara keseluruhan.
Penggunaan metode belajar yang tepat, akan mampu meminimalisir adanya alasan siswa
tidak memiliki kesempatan berpartisipasi, alokasi waktu yang kurang, terlalu banyaknya
jumlah peserta didik dalam satu kelas, dan berbagai alasan yang menyebabkan siswa
merasa bosan dan enggan secara intens melibatkan diri dalam pembelajaran siswa aktif.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode Pembelajaran.


Melaksanakan suatu pembelajaran harus diawali dengan kegiatan perencanaan pembelajaran.
Perencanaan memiliki fungsi penting agar pembelajaran menjadi lebih terarah. Dalam membuat

5
perencanaan pembelajaran, banyak aspek yang harus dipertimbangkan oleh guru. Oleh karenanya
agar pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan dapat meraih tujuan yang
diharapkan, maka dalam menyusun learning design perlu memperhatikan faktor-faktor yang
mempengaruhi pemilihan metode pembelajaran. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang
mempengaruhi pemilihan metode pembelajaran, antara lain:
1. Faktor peserta didik.
a. Perbedaan jenjang pendidikan.
Pemilihan suatu metode pembelajaran, harus menyesuaikan tingkatan jenjang
pendidikan siswa. Pertimbangan yang menekankan pada perbedaan jenjang
pendidikan ini adalah pada kemampuan peserta didik, apakah sudah mampu untuk
berpikir abstrak atau belum. Penerapan suatu metode yang sederhana dan yang
kompleks tentu sangat berbeda, dan keduanya berkaitan dengan tingkatan kemampuan
berpikir dan berperilaku peserta didik pada setiap jenjangnya.
Sebagai contoh, pemilihan metode pembelajaran untuk anak kelas satu SD
biasanya dengan metode belajar yang sederhana dan menyenangkan, karena tingkatan
berpikirnya masih kongkret. Misalnya saat membahas mengenai ‘saling berbagi’, guru
harus menunjukkan dan mengajak peserta didiknya untuk saling berbagi, dengan cara
membagi makanan maupun saling berbagi mainan dengan cara mempraktekannya.
Berbeda pada metode pembelajaran yang diterapkan pada anak pada jenjang
pendidikan yang lebih tinggi, misalnya SMP dan SMA. Saat membahas mengenai
‘saling berbagi’ cukup dengan melakukan diskusi, karena pada tahap ini mereka sudah
memiliki kemampuan berpikir abstrak dan analitis.
Semakin tinggi tingkatan berpikirnya, maka pemilihan metode pembelajaran
yang diterapkan dapat semakin kompleks. Ini berkaitan dengan pemahaman siswa,
pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya, serta kebutuhan akan
aktualisasi diri yang bersifat lebih kompleks. Kebutuhan akan aktualisasi diri yang
lebih kompleks menunjuk pada motif peserta didik dalam tingkatan partisipasi
pembelajaran yang dilakukan.
Pada usia anak-anak, aktualisai diri biasanya didasari karena: (1) pujian; (2)
perasaan malu karena teman yang lain aktif, sehingga ia terdorong untuk turut aktif;
(3) perasaan segan maupun takut pada guru; (4) karena memang siswa mampu; (5)

6
perasaan senang terhadap guru maupun mata pelajaran tertentu; (6) keinginan untuk
mendapatkan nilai lebih sebagai hasil pencapaian belajar. Berbeda dengan motivasi
aktualisasi diri pada peserta didik yang tergolong usia remaja dan dewasa, aktualisasi
diri selain dimotivasi hal-hal diatas bisa didorong oleh alasan yang bersifat lebih
kompleks, seperti: (1) keinginan untuk maju dan meningkatkan kualitas diri; (2)
idealisme; (3) sosialisasi ide atau gagasan sebagai hasil pemikiran; serta (4) keinginan
untuk mendapatkan respons dari warga belajar atas partisipasinya.
b. Latar belakang peserta didik.
Latar belakang peserta didik dapat ditelusur dari keluarga, pola didik, pola
asuh, kondisi-kondisi tertentu (ekonomi, sosial, budaya, anak berkebutuhan khusus,
dan lain sebagainya). Prakarsa belajar seseorang sangat dipengaruhi oleh individual
culture yang besangkutan. Individual culture terbentuk dari pola asuh dan pola didik
seseorang dalam lingkungan keluarganya yang dipengaruhi oleh berbagai faktor
perkembangan individu. Meskipun tidak signifikan, atau pengaruhnya kecil sebagai
pertimbangan dalam pemilihan metode pembelajaran, namun untuk kondisi-kondisi
khusus, latar belakang peserta didik perlu mendapat perhatian yang besar. Contoh,
pemilihan metode pembelajaran bagi anak-anak sekolah luar biasa harus memberikan
perlakuan khusus, sehingga metode pembelajaran yang digunakan akan mampu
mencapai tujuan yang diharapkan.
c. Tingkat intelektualitas.
Pada bagian ini yang dimaksud dengan tingkat intelektualitas, mencakup gaya
belajar dan daya serap peserta didik dalam mengolah informasi dan menyerap
substansi pembelajaran yang dilakukan. Gaya belajar yakni, melalui apa siswa mampu
menangkap dan memahami pembelajaran. Kategorinya antara lain gaya belajar
audiotori, visual, atau audio – visual. Daya serap, adalah seberapa cepat dan seberapa
besar kemampuan siswa dalam menyerap informasi, dan proses pembelajaran secara
keseluruhan. Apakah siswa termasuk cepat, lambat, atau tengah – tengah, dalam
menyerap pembelajaran.
Dalam satu kelas tidak menutup kemungkinan terdapat rentang yang terlalu
lebar terkait gaya belajar dan daya serap peserta didik. Rentang yang terlalu lebar
tersebut akan menimbulkan suatu ‘gap’ dalam pelaksanaan pembelajaran. Sebagian

7
siswa mungkin terlalu cepat menangkap informasi namun sebagian yang lain justru
sulit dan lamban dalam menangkap informasi. Oleh karenanya, pemilihan metode
belajar yang mampu mengatasi ‘gap’ dan menyatukan perbedaan dengan bentangan
yang luas menjadi suatu keharusan bagi guru, dalam menentukan metode
pembelajaran yang efektif dan efisien.
2. Faktor dinamika kelas.
a. Jumlah peserta didik.
Jumlah peserta didik dalam satu kelas perlu menjadi pertimbangan dalam
pemilihan metode pembelajaran yang tepat. Meskipun pemerintah telah mengeluarkan
aturan baku mengenai standar jumlah peserta didik dalam satu kelas, namun
kenyataannya aturan tersebut masih belum dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Kekurangan jumlah peserta didik dalam satu kelas disebabkan karena minat dan
berbagai alasan lain, sehingga terjadi kekurangan siswa. Lain halnya dengan kelas
yang jumlah siswanya justru over capasity. Masih banyak sekolah-sekolah yang
menerima murid dalam jumlah yang besar namun tidak memiliki kapasitas ruang yang
memadai, sehingga dalam satu ruangan kelas dipenuhi oleh jumlah siswa yang
melebihi dari 32 orang.
Hal ini berpengaruh pada efektifitas pembelajaran. Dalam kelas yang jumlah
peserta didiknya melampau batas, guru akan kewalahan mengampu pembelajaran.
Pencapaian tujuan belajar akan menjadi lebih sulit karena ketidakseimbangan antara
porsi maksimal perhatian dan penanganan yang dapat diberikan guru, dengan kondisi
besarnya jumlah siswa yang akan menimbulkan berbagai keruwetan. Kelas yang over
capasity, cenderung sulit diatur, gaduh, peserta didik sulit untuk memfokuskan
perhatian secara konsisten terhadap pelaksanaan pembelajaran dan berbagai masalah
lainnya.
Pemilihan metode yang tepat akan mampu menciptakan suasana
pembelajaran yang memberdayakan. Artinya, dengan penggunaan metode tersebut
setiap peserta didik tidak luput dari perolehan peran dan porsi keterlibatan dalam
pembelajaran. Sebagai contoh, dalam kelas besar, berisi 43 siswa, tidak terdapat
rombel sehingga tidak ada team teaching. Kondisi ini mengharuskan guru benar-benar
dalam posisi sebagai ‘single fighter’ menghadapi sekian banyak siswa yang berpotensi

8
menimbulkan kegaduhan. Pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn),
materi pembelajaran adalah mengenai empat sikap politik, yakni: (1) sikap politik
radikal; (2) sikap politik liberal; (3) sikap politik moderat; dan (4) sikap politik status
quo. Guru menggunakan metode pembelajaran individual job – grouping in cluster
yang ia kembangkan sendiri.
Aplikasi metode ini adalah dengan memberikan penjelasan singkat pada
peserta didik mengenai keempat sikap politik tersebut, kemudian menugasi siswa
secara individu untuk menuliskan dalam kartu jawab mengenai  pengertian dan
contoh kongkret sikap politik radikal, liberal, moderat, dan status qou. Satu orang
peserta didik memperoleh satu sikap politik. Setelah waktu yang ditentukan, guru
mengelompokkan siswa dengan sikap politik sejenis dalam kelompok-kelompok
cluster dengan posisi tempat duduk memanjang dari depan ke belakang. Diskusi
mengenai sikap politik segera dilakukan. Secara singkat dapat dijelaskan, pada metode
ini siswa mengerjakan latihan soal pada awalnya  kemudian dikelompokkan dalam
tugas yang sejenis, dengan kata lain individual learning dikembangkan menjadi
cooperatif learning.
Mengetahui seluk beluk kondisi kelas dan peserta didik tidak hanya sebagai
suatu keharusan bagi guru, tetapi harus dijadikan sebagai prisip pelaksanaan
pembelajaran yang mantap dan profesional. Dengan demikian guru dapat mengatasi
permasalahan yang muncul dalam pembelajaran yang diampunya. Guru memiliki
kebebasan dalam mengembangkan ide-ide dan kreatifitasnya demi kemajuan kualitas
pembelajaran di kelasnya.
b. Karakter kelas.
Pemilihan metode pembelajaran harus memperhatikan karakter kelas.
Karakter kelas menyangkut sifat dan sikap peserta didik dalam tataran umum untuk
ruang lingkup kelas. Guru harus memiliki ketajaman pandangan dan mampu menilai
karakter yang dimiliki oleh kelas-kelas yang diampunya. Setiap kelas memiliki
karakternya masing-masing. Salah satu keterampilan wajib seorang guru adalah dalam
hal penguasaan kelas. Penguasaan kelas bukan diartikan guru dominan dan diktatoris,
tapi guru sangat mengenali dan memahami secara mendalam karakter kelas yang
diampunya.

9
Mengenali dan memahami karakter kelas memerlukan cara tersendiri. Cara
yang bisa dilakukan untuk mengetahui karakter kelas adalah dari sikap yang paling
dominan yang dimiliki kelas tersebut, dimana sikap dominan tersebut merupakan
sikap yang mencirikan (membedakan) kelas tersebut dengan kelas lainnya. Ini berarti
setiap kelas memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Sikap dominan bisa ditelusur dari
indikasi-indikasi seperti yang tampak, antara lain:
1.) Seberapa kooperatifkah warga belajar.
Dalam menjalankan tugasnya, tidak jarang guru mendapatkan reaksi
penolakan dari peserta didik. Reaksi penolakan tersebut biasanya ditunjukkan
dengan sikap tidak senang terhadap mata pelajaran atau tidak senang pada
gurunya, yang diperlihatkan pada saat pembelajaran berlangsung. Sikap
penolakan ini bisa berlangsung sementara atau bahkan akan terus berlangsung,
bilamana guru tidak segera berupaya melakukan tindakan-tindakan untuk
mengatasinya.
Kelas yang kooperatif adalah kelas yang mampu dan bisa ‘diajak’
bekerjasama. Hal ini tampak dari sebagian besar peserta didik mengikuti pelajaran
dengan sungguh-sungguh, sehingga suasana kelas cenderung kondusif,
pembelajaran dapat berjalan dengan sangat baik. Namun jika keadaan sebaliknya,
seperti kegaduhan yang melebihi batas, peserta didik malas dan enggan
menunjukkan partisipasi yang diharapakan dalam proses pembelajaran, ini
tandanya kelas tersebut perlu mendapatkan pendekatan dari guru agar lebih
kooperatif.
Menciptakan kelas yang kooperatif menjadi bagian penting dari tugas
guru. Tujuan pembelajaran dicapai tidak hanya oleh dan untuk peserta didik saja,
tetapi dicapai secara bersama-sama antara guru dan peserta didik.
2.) Adakah kelompok dominan dalam kelas tersebut.
Seorang guru, pasti pernah menjadi murid. Saat menjadi murid, guru
pernah mengalami masa-masa di sekolah, dimana di kelas selalu saja ada
kelompok teman-teman sekelas yang memiliki ‘power’ sehingga mendominasi
kelas. Berbekal pengalaman tersebut, guru harus memiliki kejelian dalam
memetakan kondisi siswanya secara individu, maupun secara berkelompok.

10
Mengidentifikasi keberadaan kelompok dominan dalam kelas akan memudahkan
guru memegang kendali kelas.
Tidak berlebihan manakala hukum ‘people sovereignity’ juga terjadi di
ruang-ruang kelas di sekolah. Kelompok dominan di kelas biasanya mampu
mengontrol situasi kelas sesuai yang mereka inginkan. Jika yang berkembang
adalah kelompok dominan dengan kebiasaan negatif, maka situasi kelas akan
tidak kondusif untuk pelaksanaan pembelajaran. Peserta didik akan cenderung
gaduh, tidak kooperatif, bahkan menunjukkan sikap yang memojokkan guru.
Menghadapi situasi demikian, guru perlu memiliki kemampuan
interpersonal dan ketepatan dalam pemilihan metode pembelajaran yang tepat.
Pemilihan metode belajar yang tepat pada kenyataanya mampu mengatasi
masalah dominasi kelompok tertentu dalam lingkup kelas.
3.) Bagaimana performa dan tingkat partisipasinya.
Menelusur karakter kelas, juga dapat dilakukan dengan mengamati
performa dan tingkat partisipasi peserta didik baik secara individu maupun
berkelompok, dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Guru biasanya akan mudah
menilai bagaimana performa dan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Penilaian
tersebut kemudian akan memunculkan pandangan apakah kelas tersebut termasuk
kelas aktif atau kelas pasif. Pemilihan metode pembelajaran untuk kelas aktif tidak
akan menyulitkan guru dalam menentukan metode mana yang akan digunakan.
Berbeda dengan kelas pasif, guru harus memilih metode mana yang cocok agar
dengan metode tersebut mampu mendorong tingkat partisipasi peserta didik dan
memunculkan performa mereka.
3. Faktor ketersediaan fasilitas pembelajaran.
Fasilitas pembelajaran berfungsi untuk memudahkan proses pembelajaran dan
pemenuhan kebutuhan proses pembelajaran. Bagi sekolah yang telah memiliki fasilitas
pembelajaran yang lengkap, ketersediaan fasilitas belajar bukan lagi suatu kendala.
Namun demikian tidak semua sekolah memiliki fasilitas pembelajaran dengan standar
yang diharapkan. Keadaan tersebut hendaknya tidak menjadi suatu hambatan bagi guru
dalam merancang pembelajaran yang tetap mampu menjangkau tujuan pembelajaran.
Dalam kondisi tertentu, guru-guru yang memiliki semangat dan komitmen yang kuat tetap

11
mampu menyelenggarakan pembelajaran yang menarik, menyenangkan, dan mampu
mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Manakala sekolah mengalami keterbatasan dalam penyediaan fasilitas
pembelajaran, pemilihan metode pembelajaran merupakan jalan keluar yang paling
relevan agar pembelajaran tetap menarik, menyenangkan, dan dapat memberikan goal
yang ingin dicapai. Sebagai contoh, dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
(PKn), peserta didik harus mencari informasi mengenai pandangan masyarakat terhadap
aktor-aktor politik di Indonesia. Saat ini banyak sekolah-sekolah yang telah dilengkapi
dengan fasilitas internet Wi Fi, sehingga semua warga sekolah dapat mengakses internet
dengan mudah. Tetapi tidak sedikit pula sekolah yang belum memiliki kemampuan untuk
menyediakan fasilitas ini.
Penggunaan perpustakaan sebagai fasilitas subtitusi (pengganti penggunaan
internet) bisa dilakukan. Akan tetapi ada cara yang lebih ‘menghidupkan’ suasana
pembelajaran dibandingkan menggunakan perpustakaan. Guru dapat memilih
menggunakan metode pembelajaran wawancara. Siswa diminta mewawancarai warga
sekolah untuk menjaring informasi mengenai pendapat mereka terhadap aktor-aktor
politik di Indonesia. Dalam hal ini ketiadaan fasilitas internet dapat digantikan dengan
pemilihan metode pembelajaran yang tepat. Justru dengan metode ini guru dan peserta
didik akan mendapatkan nilai tambah, yakni adanya pola interaksi langsung antara peserta
didik dengan masyarakat yang diwawancarai. Disamping menambah kepercayaan diri,
serta memupuk keberanian peserta didik. Rasa optimis adalah kunci utama untuk
menciptakan pembelajaran yang berkualitas ditengah-tengah kekurangan yang ada.
4. Faktor tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
Setiap pelaksanaan pembelajaran tentu memiliki tujuan pembelajaran yang
hendak dicapai. Penyelenggaraan pembelajaran bertujuan agar pesera didik sebagai warga
belajar akan memperoleh pengalaman belajar dan menunjukkan perubahan perilaku,
dimana perubahan tersebut bersifat positif dan bertahan lama. Kalimat tersebut dapat
dimaknai bahwa pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran yang tidak hanya akan
menambah pengetahuan peserta didik tetapi juga berpengaruh terhadap sikap dan cara
pandang peserta didik terhadap realitas kehidupan.

12
Pemilihan metode pembelajaran yang tepat akan mampu menjadikan peserta didik
meraih tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Sebagai contoh, pada mata pelajaran
Geografi dirumuskan dua tujuan pembelajaran, antara lain: (1) agar siswa memahami
dampak pemanasan global bagi lingkungan; dan (2) agar siswa mampu menunjukkan
sikap mencintai lingkungan dan alam. Demi tercapainya kedua tujuan pembelajaran
tersebut, guru menggunakan metode resitasi. Dalam tugas resitasi ini guru meminta siswa
untuk mengumpulkan informasi mengenai dampak pemanasan global bagi lingkungan,
selain itu siswa diminta untuk melakukan aksi nyata kepedulian dan cinta terhadap
lingkungan dan alam. Guru menghendaki agar siswa mengumpulkan laporan tugas dan
bukti aksi nyata kepedulian dan cinta siswa terhadap lingkungan dan alam.
Dalam jangka waktu yang ditentukan penugasan resitasi telah membuat siswa
berhasil menyusun laporan mengenai dampak pemanasan global terhadap lingkungan.
Sebagai aksi nyata sikap peduli dan cinta terhadap lingkungan dan alam, siswa
menunjukkan berbagai macam ide maupun tindakan nyata berkaitan dengan hal tersebut.
Terdapat siswa yang secara gencar mensosialisasikan gerakan-gerakan mencintai
lingkungan dan alam dengan memanfaatkan situs jejaring sosial dan membentuk
komunitas pecinta lingkungan dan alam di dunia maya; terdapat siswa yang memanfaatkan
sampah di lingkungan tempat tinggalnya melalui gerakan Reduce – Re-use – Recycle; dan
berbagai tindakan nyata lainnya.
Dengan penggunaan metode yang tepat, tujuan pembelajaran yang mencakup
pembangunan individu di ketiga ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dapat dicapai
dengan hasil yang memuaskan.
5. Faktor materi pembelajaran.
Pada bagian ini, hal yang perlu diperhatikan dalam materi pembelajaran adalah
apa materinya (what), seberapa banyak (how much), dan bagaimana tingkat kesulitan (how
hard) materi yang hendak dipelajari. Berikut penjelasan masing-masing:

a. ‘What’, apa materi yang hendak dipelajari.

13
Setiap mata pelajaran memiliki karakternya sendiri-sendiri, salah satunya bisa
ditelusur dari materi yang tercakup dalam mata pelajaran tersebut. Secara umum,
materi (dalam hal ini menunjuk pada content and substancy) antara mata pelajaran
bidang ilmu alam dan bidang ilmu sosial terdapat perbedaan-perbedaan yang jelas.
Pemilihan metode pembelajaran yang tepat salah satunya harus berbasis pada content
dan substancy materi pembelajaran.
Misalnya dalam bidang ilmu alam, untuk mempelajari reaksi kimia dipilih
pendekatan inquiry. Agar menemukan jawaban sendiri, inquiry dilakukan dengan
metode eksperimen dengan melakukan percobaan di laboratorium untuk mengetahui
suatu reaksi kimia tertentu. Secara sederhana diilustrasilan dalam alur berikut ini: Mata
pelajaran KIMIA  Materi: Reaksi Kimia  Pendekatan: INQUIRY  Metode:
EKSPERIMEN  Uji coba di laboratorium.
Contoh lain, dalam bidang ilmu sosial, untuk mengetahui dampak ekonomi
yang ditimbulkan akibat bencana erupsi gunung Merapi terhadap perekonomian
masyarakat di sekitar kawasan bencana, maka dipilih pendekatan inquiry dengan
metode penelusuran dokumen melalui pemberitaan di berbagai media massa. Ilustrasi
sederhana, dengan alur sebagai berikut: Mata pelajaran EKONOMI  Materi:
Dampak Ekonomi Pasca Bencana Alam  Pendekatan: INQUIRY  Metode:
DOKUMENTASI  Penelusuran dokumen yang bersumber dari media massa, bisa
juga dengan pembuatan kliping.
b. How much, seberapa banyak materi yang hendak dipelajari.
Jumlah materi yang akan dipelajari menjadi salah satu dasar pertimbangan
dalam menentukan metode pembelajaran yang akan dipakai. Metode pembelajaran
yang dipilih harus efektif, efisien, praktis dalam aplikasinya sehingga cakupan materi
yang hendak dipelajari dapat dengan tuntas diselesaikan. Dalam satu kali pertemuan,
tidak jarang cakupan materi yang dipelajari jumlahnya kecil maupun besar.
Penggunaan metode pembelajaran yang tepat akan memudahkan guru dan peserta
didik untuk menyelesaikan jumlah materi yang harus ditempuh.
c. How hard, seberapa sulit materi yang hendak dipelajari.
Materi pelajaran memiliki tingkat kedalaman, keluasan, kerumitan yang
berbeda-beda. Materi pembelajaran dengan tingkat kesulitan yang tinggi biasanya

14
menuntut langkah-langkah analisis dalam tataran yang beragam. Analisis bisa hanya
pada tataran dangkal, sedang, maupun analisis secara mendalam. Pemilihan metode
pembelajaran yang tepat mampu memberikan arahan praktis untuk mengatasi tingkat
kesulitan suatu materi pembelajaran.
6. Faktor alokasi waktu pembelajaran.
Pemilihan metode pembelajaran yang tepat juga harus memperhitungkan
ketersediaan waktu. Rancangan belajar yang baik adalah penggunaan alokasi waktu yang
dihitung secara terperinci, agar pembelajaran berjalan dengan dinamis, tidak ada waktu
terbuang tanpa arti. Kegiatan pembukaan, inti, dan penutup disusun secara sistematis.
Dalam kegiatan inti yang meliputi tahap eksplorasi – elaborasi – konfirmasi, mengambil
bagian waktu dengan porsi terbesar dibandingkan dengan kegiatan pembuka dan penutup.
Pemilihan metode pembelajaran pada kenyataannya dapat menciptakan suasana
belajar yang dinamis dan praktis dalam penggunaan waktu. Dalam gambaran yang
sederhana, suatu materi pembelajaran yang banyak dapat diselesaikan dalam waktu yang
relatif lebih cepat dengan penggunaan metode cooperatif learning dengan berbagai variasi
dan pengembangannya.
7. Faktor kesanggupan guru.
Guru memang dituntut untuk selalu menunjukkan performa yang selalu prima
dalam setiap pembelajaran yang diampunya. Namun demikian, guru tetaplah manusia
dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Memilih suatu metode
pembelajaran pun harus menimbang kesanggupan guru. Akan tetapi, hal ini tidak menjadi
dalih pembenaran bagi guru untuk menunjukkan performa yang terlalu apa adanya, dan
yang biasa-biasa saja.
Tuntutan untuk senantiasa meningkatkan kapasitas dan kualitas harus selalu
diupayakan oleh setiap pendidik. Faktor kesanggupan guru bukanlah suatu pembatas bagi
guru untuk memunculkan ide, kreativitas, dan inovasi-inovasi segar yang dapat
memunculkan ‘ruh’ dalam pembelajaran yang diselenggarakannya. Dalam paparan
sederhana misalnya, guru yang memiliki ‘sense of humor’ banyak disukai muridnya, tetapi
guru tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi ‘orang lucu’ di depan muridnya agar ia
disukai. Cukup dengan penggunaan metode pembelajaran yang mampu memunculkan

15
antusiasme belajar siswa, maka guru akan menjadi orang yang ‘diterima’ dan disukai
peserta didiknya.
Alasan agar disukai murid, juga tidak boleh menjadikan guru terlena, karena
hakikatnya tujuan pembelajaran jauh lebih mulia jika dibandingkan alasan tersebut. Guru
memiliki tugas mulia menhantarkan peserta didiknya meraih cita-cita di masa depan.
Menjadi disukai adalah ‘bonus’ atau kompensasi dari kineja guru yang dilaksanakan
secara profesional dan mantap.
C. Contoh Kerangka Pikir dalam Pemilihan Metode Pembelajaran yang Sesuai.
Pemilihan metode belajar yang sesuai maksudnya, dalam menentukan metode
pembelajaran guru perlu melakukan penyesuaian dan mempertimbangkan faktor-faktor
tertentu. Tujuannya agar metode pembelajaran yang digunakan tepat dan dapat mencapai
tujuan yang diharapkan. Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi, kegiatan memilih
metode pembelajaran yang tepat jangan dipikirkan sebagai suatu pekerjaan yang berat dan
rumit. Ini sudah menjadi bagian dari tugas guru sebagai seorang fasilitator pembelajaran. Agar
memudahkan tugas guru dalam memilih metode pembelajaran yang hendak diaplikasikan,
guru dapat mengembangkan kerangka pikir pemilihan metode menjadi ‘Applicable Learning
Method’ (penulis menamainya dengan sebutan ALM).
Penerapan ALM ini tergantung pada setiap guru. ALM dapat diwujudkan dalam
bentuk sketsa rencana maupun cukup dalam bentuk abstraksi di dalam pikiran guru saja. Cara
mana pun yang dipilih tergantung pada keinginan guru sebagai learning designer-nya.
Hakikatnya, semua guru yang membuat perencanaan pembelajaran telah mempraktekkan
ALM ini dengan caranya masing-masing.
Kegiatan pemilihan metode pembelajaran tercakup dalam kegiatan perencanaan
pembelajaran atau pembuatan learning design. Berikut ini adalah contoh tahapan kerangka
pikir dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai, yakni:

KERANGKA PIKIR 1:

16
Pemisahan antara faktor konstan, faktor relatif, dan faktor kondisi yang menyertai,
yakni:
Ketiganya disebut faktor
KONSTAN karena ketiga
faktor tersebut sudah ada
Faktor Faktor Faktor
tujuan aturannya yang baku, atau
materi alokasi
pembe- dengan kata lain sudah
pembelaja waktu
lajaran ran pembelaja ditentukan sebelumnya,
ran baik dalam silabus maupun
dalam program semester.

Dikategorikan sebagai faktor


Faktor Faktor RELATIF, maksudnya kondisi faktor-
peserta dinamika faktor tersebut cenderung berubah-
didik kelas ubah, tidak selalu sama, objek
banyak dipengaruhi berbagai hal.

Keduanya disebut dengan faktor KONDISI YANG


Faktor
MENYERTAI, karena fasilitas pembelajaran meliputi
ketersediaan
sarana dan prasarana yang ada/telah dimiliki oleh
fasilitas
sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk proses
pembelajara
pembelajaran, sedangkan kesanggupan guru
n
merupakan kondisi guru secara personel meliputi
Faktor kapasitas dan komitmennya. Kedua faktor ini
kesang- memiliki kondisi yang berbeda-beda disetiap sekolah
gupan guru dan pada setiap personel guru.

Sekali lagi, perlu ditegaskan bahwasanya dalam mempraktekkan ALM setiap guru
memiliki cara dan pengalamannya masing-masing, sehingga penjabaran yang ada disini
bukanlah harga mati bagi guru untuk membentuk kerangka pikirnya sendiri dalam pemilihan
metode pembelajaran yang tepat.
KERANGKA PIKIR 2:

17
Interaksi antar faktor-faktor dalam pemilihan metode pembelajaran yang tepat.
Dalam memilih metode pembelajaran, berdasarkan langkah pada kerangka pikir yang kedua
dapat dilakukan dengan dua cara yang berbeda, berikut penjelasannya:
Pertama, guru telah menentukan metode apa yang akan dipakai. Metode tersebut
diinteraksikan dengan berbagai faktor yang ada, sehingga menghasilkan suatu keputusan
metode apa yang akan dipilih. Pada ilustrasi skema bisa dilihat alur berdasarkan tanda garis
merah/ RED LINE (RL). Kedua, guru belum menentukan metode pembelajaran yang akan
dipakai, tetapi guru terlebih dahulu menginteraksikan berbagai faktor pertimbangan dalam
pemilihan metode pembelajaran. Berdasarkan hasil interaksi tersebut guru memperoleh
gagasan dan menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan.

METODE
PEMBELAJARAN

Faktor peserta didik (a)

Faktor tujuan
pembelajaran (e)
Faktor dinamika
kelas (b) INTERAKSI
ANTAR Faktor materi
FAKTOR pembelajaran (f)
Faktor ketersediaan fasilitas
pembelajaran (c)
Faktor alokasi waktu (g)
Faktor kesanggupan guru
(d)

RL BL

METODE PEMBELAJARAN
yang tepat

18
Penggunaan metode pembelajaran dalam sekali tatap muka tidak dibatasi pada
penggunaan satu metode saja, guru dapat mengkombinasikan beberapa metode pembelajaran
sekaligus, agar pembelajaran berjalan sesuai dengan harapan.
KERANGKA PIKIR 3:
Aplikasi. Pada bagian ini, guru mengintegrasikan kondisi riil faktor-faktor tersebut
dalam skema pikiran pada rumus kerangka pikir 2, berikut contoh aplikasinya:
Pertama, berpedoman pada RL:
Intinya adalah mengkompromikan antara ide penggunaan suatu metode yang akan
dipilih dengan berbagai faktor. Bilamana dalam pengkompromian tersebut banyak
kesesuaian, atau selalu ada solusi, maka ide dapat diaplikasikan. Namun demikian, tidak
menutup kemungkinan ide penggunaan metode akan berubah bilamana tidak bisa
dikompromikan dengan faktor-faktor yang ada.
Kedua, berpedoman pada Kegiatan pemilihan metode pembelajaran oleh guru,
merupakan serangkaian kerja pikiran dengan mengintegrasikan, menginteraksikan, dan
mengkompromikan metode pembelajaran dengan berbagai faktor-faktor tersebut. Kegiatan ini
memang tidak secara tersurat tergambar seperti pada skema kerangka pikir di atas, akan tetapi
skema diatas bertujuan untuk mendeskripsikan dan memvisualisasikan kerja pikiran dalam
bentuk ilustrasi di atas. Memilih metode pembelajaran yang tepat termasuk dalam kerja
perencanaan pembelajaran.
Perencanaan yang matang adalah perencanaan yang sistematis dan melakukan
pertimbangan-pertimbangan yang relevan dan proporsional. Produk perencanaan berupa
learning design akan menjadi tidak berati manakala guru tidak disiplin dengan perencanaan
yang ia susun sendiri. Pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan learning design akan
memudahkan guru dan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Adanya
kondisi-kondisi lapangan yang berbeda tidak bisa dijadikan suatu alasan bagi guru untuk tidak
disiplin menjalankan learning design yang telah ia susun.
Kondisi force major memang jarang terjadi, tapi juga tidak menutup kemungkinan
untuk terjadi. Memilih metode pembelajaran yang tepat jika dilakukan melalui pertimbangan-
pertimbangan faktor-faktor tersebut, tentu akan meminimalisir kendala-kendala dalam
pelaksanaan pembelajaran, termasuk jika terjadi force major.

19
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pemilihan dan penentuan metode pembelajaran sangatlah penting dilakukan oleh seorang
guru. Hal ini dikarenakan tidak semua metode pembelajaran dapat digunakan oleh seorang guru
dalam hal kegiatan belajar mengajar serta mendukung pencapian tujuan pembelajaran. Apabila
guru salah dalam hal memilih dan menentukan metode yang akan digunakan maka tujuan dari
pembelajaran tidak akan tercapai. faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode
pembelajaran, antara lain: Faktor peserta didik, Faktor dinamika kelas, Faktor ketersediaan
fasilitas pembelajaran, Faktor tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, Faktor materi
pembelajaran, Faktor alokasi waktu pembelajaran, Faktor kesanggupan guru.

B. Saran

Makalah yang dibuat ini masih banyak kekuranggannya, dan masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu Saya mohon kritik, saran serta masukan-masukan dari rekan-rekan yang membaca
makalah ini, agar kedepannya dalam pembuatan makalah bisa lebih baik lagi.

20
DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku:
Andri Hakim. Hipnosis In Teaching (Cara Dahsyat Mendidikan dan Mengajar). Jakarta:
Visimedia, 2011.
Bobbi De Pcorter. Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas. Bandung: PT.
Mizan Pustaka, 1999.
Dave Meier. The Accelerated Learning (Panduan Kreatif dan Efektif Merancang Program
Pendidikan dan Pelatihan). Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2002.
Munif Chatib. Sekolahnya Manusia (Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia).
Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2012.
Rusman. Seri Managemen Sekolah Bermutu, Model-model Pembelajaran (Mengembangkan
Profesionalisme Guru). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012.
Wina Senjaya. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2008.

Sumber Internet:
Anonim. Definisi Model, Pendekatan, dan Strategi Pembelajaran, diunduh dari
http://mkhgfthj.blogspot.com/2012/10/definisi-model-pendekatan-strategi.html, diakses
pada Kamis, 27 Maret 2013.
https://www.academia.edu/checkout?feature=ADVANCED_SEARCH&trigger=download-new-
design-related-
works&after_upgrade_path=%2Fsearch%2Fadvanced%3Fw%3D5505401

21