Anda di halaman 1dari 23

PERENCANAAN BANGUNAN PELINDUNG PADA KAKI JEMBATAN

SUNGAI WANGGAR DI KABUPATEN NABIRE PAPUA


PROPOSAL TUGAS AKHIR

Proposal tugas akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana

dari Institut Teknologi Bandung

Dosen Pembimbing :

Ir. M. Cahyono, M.Sc., Ph.D.

Dr. Eng. Eka Oktariyanto N., S.T., M.T.

Oleh :

Ilmiadin Rasyid

NIM 15815003

PROGRAM STUDI TEKNIK DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN

2019
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sungai merupakan salah satu sumber daya alam untuk dimanfaatkan bagi kehidupan manusia,
antara lain penyediaan air irigasi, air baku, industri, transportasi dan lain-lain. Sungai dapat
menimbulkan masalah jika permukaan airnya lebih tinggi daripada yang dikehendaki bagi
manusia dan reggim aliranya berdampak pada kerusakan disekitar lingkungan sungai.

Wanggar merupakan sungai permanen yang mengalirkan air sepanjang tahun, panjang sungai
utama +- 47 km dan luas daerah aliran sungai (DAS) sekitar 1541 km2. Arah aliran dari selatan
menuju ke arah utara melintasi kawasan Wanggar dan bermuara di Teluk Sarera. Daerah aliran
Sungai Wanggar bagian tengah ke arah hilir merupakan wilayah administrasi Kecamatan
Wanggar, sedangkan bagian tengah kearah hilir teramasuk wilayah administrasi Kecamatan
Uwapa Kabupaten Nabire Provinsi Papua.

Beberapa tahun terakhir sungai Wanggar tidak saja berfungsi sebagai saluran drainase utama dan
sumber air di dataran Wanggar tetapi juga mulai menjadi ancaman bencana banjir dan erosi
hampir setiap tahun. Kerugian akibat daya rusak air secara nominal cukup besar jika terdata
dengan baik. Perkiraan kasar yang dilakukan oleh Kecamatan Wanggar pada kejadian banjir
tahun 2010 sebesar Rp. 1.910.155.000,00 dan terhentinya kegiatan perekonomian masyarakat.

Salah satu aspek yang paling penting untuk ditata dan disempurnakan dalam pembangunan
infrastruktur adalah prasarana pengendalian banjir. Sungai-sungai dan jaringan drainase di
Kabupaten Nabire terdapat indikasi bahwa tingkat kebutuhan akan prasarana tersebut sudah jauh
diatas kapasitas yang ada, terutama untuk kota yang sedang mengalami proses pembangunan.

Apabila hal ini tidak segera ditangani maka dikhawatirkan akan merusak fasilitas umum serta
bangunan lainnya. Salah satu bangunan yang paling berdampak terhadap banjir adalah jembatan.
Ketika banjir daya gerus air melonjak dengan cepat yang mengakibatkan tanah sekitar jembatan
akan tergerus. Kemudian akan merusak kestabilan jembatan. Oleh karena itu dibutuhkan suatu
bangunan yang dapat setidaknya meminimalisir terjadinya gerusan tanah pada dasar pilar
jembatan.

1.2 Maksud

Maksud penyusunan tugas akhir ini adalah untuk memberikan perencanaan desain bangunan
pelindung pada pilar jembatan wanggar Kabupaten Nabire dan analisis stabilitas bangunan
pelindung. Maka tujuan dari penyusunan tugas akhir ini adalah sebagai berikut:
a. Menentukan debit banjir rencana sungai wanggar pada dasar jembatan sungai wanggar.
b. Merencanakan desain optimal bangunan pelindung pilar jembatan sungai wanggar.
c. Menghitung rencana anggaran biaya (RAB) pembuatan bangunan pelindung pilar
jembatan sungai wanggar.

1.3 Ruang Lingkup


Ruang lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam tugas akhir adalah sebagai berikut :
a. Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dilakukan berupa data curah hujan, data kecepatan aliran, data
bathimetri, peta riwayat gempa dan data tanah
b. Analisa Hidrologi
Analisa hidrologi dilakukan menggunakan data curah hujan. Dari data curah hujan ini
akan dibangkitkan debit banjir rencana. Proses membangkitkan debit banjir rencana ada
pada metodologi hidrologi.
c. Pemodelan dan Analisa Gerusan
Pemodelan dan analisa gerusan dilakukan menggunakan software HEC-RAS. Hasil dari
pemodelan ini digunakan untuk mengetahui tinggi gerusan sebelum dibangun bangunan
pelindung dan untuk membuat desain bangunan pelindung yang optimal.
d. Analisa Stabilitas
Analisis Stabilitas meliputi perhitungan Safety factor, analisis geser, analisis guling dan
analisis keruntuhan bangunan pelindung.
e. Perencanaan Bangunan Pelindung
Perencanaan bangunan pelindung meliputi dimensi bangunan pelindung, stabilitas
bangunan pelindung, dan jenis bangunan pelindung
f. Gambar Desain
Gambar desain adalah gambar yang dibuat berdasarkan dimensi bangunan pada
perencanaan bangunan pelindung.
g. Perencanaan Biaya
Perencanaan biaya dihitung dengan analisis harga satuan pekerjaan berdasarkan standar
harga satuan Kabupaten Nabire yang dikalikan dengan volume pekerjaan. Kemudian
disusun menjadi RAB.

1.4 Sistematika Penulisan

Berikut ini adalah sistematika penulisan dari tugas akhir :

BAB 1 PENDAHULUAN

Bab ini berisi Latar Belakang, Maksud, Ruang Lingkup dam sistematika penulisan dari tugas
akhir ini

BAB 2 LOKASI STUDI


Bab ini mendeskripsikan daerah kajian yang direncanakan untuk dibangun bangunan
pelindung pilar jembatan, diantaranya lokasi dan topografi wilayah.

BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi tentang penyajian studi pustaka, dasar pemikiran tentang hidrologi dan
hidraulika serta acuan yang dipakai dalam perencanaan bangunan pelindung pilar jembatan.
Diantaranya yaitu menjelaskan cara pengolahan data hutan, pengujian data hujan, intensitas
curah hujan rencana, debit banjir rencana dan desain bangunan pelindung.

BAB 4 METODOLOGI

Bab ini berisi tentang tahap tahap perencanaan bangunan pelindung pilar jembatan dimulai
dari tinjauan umum, studi pustaka, pengumpulan data, metodologi analisis hidrologi,
metodologi analisis hidraulika, metodologi analisis gerusan, analisa gerusan, pemilihan jenis
bangunan dan RAB

BAB 5 ANALISA

Bab ini berisi analisa hidrologi, hidraulika dan gerusan. Pada subbab analisis hidrologi
pembahasan ini meliputi perhitungan curah hujan rencana, pengujian distribusi hujan,
distribusi hujan, perhitungan debit rencana. Pada subbab analisis hidraulikan pembahasan
meliputi kecepatan aliran maksimum yang diizinkan dan pemodelan hidraulik. Pada subbab
analisa gerusan, pembahasan ini meliputi pemodelan gerusan yang terjadi pada pilar sungai,
tinggi gerusan hasil pemodelan dan tinggi gerusan hasil perhitungan manual.

BAB 6 DESAIN

Bab ini berisi perencanaan desain hidraulik dan stabilitas bangunan pelindung pilar jembatan,
yang meliputi pemilihan jenis bangunan pelindung yang optimal, dimensi bangunan
pelindung dan analisa stabilitas bangunan pelindung.

BAB 7 RANCANGAN ANGGARAN BIAYA

Bab ini berisi tentang rancangan anggaran biaya dan bill of quantity terkait pembangunan
bangunan pelindung.

BAB 8 PENUTUP

Bab ini berisi tentang hasil analisis berupa kesimpulan dan saran dari perencanaan desain
bangunan pelindung pilar jembatan.
BAB 2

LOKASI STUDI

2.1 Lokasi Pekerjaan

Lokasi pekerjaan berada di Kecamatan Wanggar secara administratif di Distrik Wanggar dan
Distrik Yaro, Kabupaten Nabire Provinsi Papua. Aksesbilitas untuk menuju ke lokasi pekerjaan
dapat ditempuh melalui jalan darat dari Kota Nabire dengan jarak tempuh lebih dari 35 km
melalui jalan kabupaten dengan kondisi jalan beraspal.

Sumber : Google Maps

Gambar 2.1 : Lokasi Permasalahan Sungai Wanggar


Sumber : Buku Ranperda Agropolis wanggar 2009

Gambar 2.2 : Lokasi Permasalahan Sungai Wanggar (2)

Gambar 2.3 : Lokasi Pilar Jembatan Sungai Wanggar

Secara administratif pada tahun 2009 Distrik wanggar terbagi menjadi 5 kampung. Luas wilayah
Distrik Wanggar pada tahun 2009 tercatat sebesar 204,86 Km2. Ketinggian kawasan wanggar
diperkirakan tempat dengan menggunakan GPS ditemukan mayoritas ketinggian adalah dibawah
20 m dpl.

Tabel 2.1 : Kampung Distrik Wanggar

No Desa/Kampung Luas (Km^2) Letak Geografis Ketinggian Dpl.


1 Wiraska 11.56 Dataran 12
2 Wanggar Makmur 28.80 Dataran 12
3 Bumi Mulya 12.00 Dataran 10
4 Karadiri 90.00 Dataran 10
5 Wanggar Sari 62.50 Pesisir 10
Jumlah 204.86
Sumber : BPS Kabupaten Nabire

2.2 Kondisi Geografis

Distrik Wanggar terletak di Utara Kabupaten Nabire dengan posisi geografis 134035’ –
135028’Bujur timur dan 2025’ – 4015’ Lintang Selatan. Batas batas Distrik Wanggar adalah
sebagai berikut :

 Sebelah Utara : Teluk Sarera


 Sebelah Selatan : Distrik Uwapa
 Sebelah Barat : Distrik Waro
 Sebelah Timur : Distrik Nabire

2.3 Kondisi topografi

Topografi Kabupaten Nabire sangat bervariasi mulai dari datar, bergelombang hingga
pegunungan. Wilayah pantai sebagian besar merupakan dataran. Wilayah dengan topografi ini
seluas 47 persen dari seluruh wilayah Nabire. Sementara sisanya (53 persen) merupakan wilayah
perbukitan. Wilayah dengan topgrafi ini umunya terletak di wilayah pedalaman. Berdasarkan
ketinggian dari permukaan laut, maka wilayah Nabire dapat dikelompokan ke dalam 3 zona,
yaitu:

(1) Zona dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 600 meter diatas permukaan laut;
(2) Zona ketinggian sedang, ketinggian 600-1500 meter di atas permukaan laut;
(3) Zona dataran tinggi, yaitu wilayah dengan ketinggian di atas 1500 meter.
Gambar 2.4 : Peta Kelerengan Wanggar
Gambar 2.5 : Legenda Peta Kelerengan Wanggar

2.4 Kondisi Sosial Ekonomi

Kabupaten Nabire pada tahun 2008 dihuni 46.253 KK (Kepala Keluarga) dengan penduduk
berjumlah 175.798 jiwa. Jumlah tersebut diatas termasuk penduduk yang tidak bertempat tinggal
tetap/suku terasing. Sedangkan pada tahun 2007 sebanyak 174.274 jiwa, yang menunjukkan
pertambahan penduduk sebsesar 0,87 perse. Rasio jenis kelamin 115,88 laki laki berbanding
perempuan, hal tersebut berarti di antara 100 pasangan laki laki dan perempuan terdapat 15 laki
laki yang tidak memiliki pasangan perempuang.

Kepadatan penduduk di Kabupaten Nabire yaitu 34,01 jiwa /km2. Distribusi penduduk terbanyak
di Distrik Nabire 53.328 jiwa (30,33%) Uwapa 12.849 (7,31%) dan Kamu Selatan 11.741
(6,68%) sedangkan terendah distrik Wapoga 551 Jiwa (0,26%) Teluk Umar 864 jiwa (0,49%)
dan Yaur 2114 jiwa (1,20%). Penyebaran penduduk mengikuti hukum ekonomi yaitu daerah
sumber ekonomi dan akses yang lebih mudah akan lebih banyak didiami dibanding dengan
daerah kondisi sebaliknya. Daerah yang banyak penduduknya adalah wilayah pesisir dan daerah
kaya tambang.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nabire tahun 2004 – 2008 nampak menunjukkan peningkatan
setiap tahunya, walaupun pertumbuhan yang terjadi mengalami perlambatan seja tahun 2004
yang tumbuh 3,35 persen namun pada tahun 2005 pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Nabire
mulai mengalami perepatan menjadi 5,62 persen kemudian pada tahun 2006 sebesar 6,13 persen,
tahun 2007 mengalami perlambatan hanya 5,59 persen dan pada tahun 2006 mengalami
pertumbuhan sebsear 7,63 persen.

Pertumbuhan ekonomi tersebut dibentuk oleh 9 (Sembilan) sektor dengan karakter dan
perilakunya masing-masing. Beberapa sektor nampak menunjukkan pertumbuhan yang pesat,
keadaan ini dimungkinkan setelah adanya tahapan rekonstruksi pasca gempa bumi di Kabupaten
Nabire pada tahun 2005.

Tabel 2.1 : Sembilan Sektor Distrik Wanggar

2.5 Kondisi Geologi

Nabire terletak ditepi utara kraton Australia, struktur ini ditandai oleh jalur batuan termalihan
dan terlipatkan dengan lebar mencapai 50 km. Daerah lipatan ini mencakup peralihan antara
strukter leher burung yang mempunyai arah utara – barat dan struktir Irian jaya bagian timur
yang berah barat. Peralihan batuan yang ditandai oleh sesar sungkup Weyland yang menungkup
sangat kuat. Batasan struktur arah barat jelas terutama di jalur lipatan di susut tenggara lembar
ini. Berdasarkan jenis batuanya, maka Kabupaten Nabire dibagi kedalam tiga zona batuan yakni;
Zona Anjungan Irian Jaya (Irian Jaya platform A), Zona Peralihan (Transitional Zone =B)dan
Zona Kerak Samudera (Oceanic crust=C)

Zona A (Anjungan Irian Jaya); Secara fisografi zona ini didominasi oleh perbukitan terjal dengan
lembah yang sempit dan perbukitan sepi. Sebagian kecil dari zona ini berupa dataran danau
Paniai. Pada zona ini ditemukan beberapa kawasan perlipatan baik berupa sinklinal maupun
anticlinal

Zona B (Jalur Peralihan); Zona ini secara fisiografi didominasi oleh pegunungan yang terbentuk
oleh batuan malihan dan perbukitan landau dengan lembah terbuka. Zona ini didominasi oleh
dua macam batuan yaitu Batuan Malihan Derewi dan Diorit Utawa.

Zona C (Kerak Samudera); Zona ini secara fisiografi didominasi oleh dataran pesisir dan rawa.
Hanya sebagian kecil dari daerah ini yang fisiografisnya berupa perbukitan rawa (perbukitan
Nabire). Janis batuan yang mendominasi zona ini adalah batuan alluvial.

Gambar 2.6 : Peta Geologi Wanggar


Gambar 2.7 : Legenda Peta Geologi Wanggar

2.6 Kondisi Air Permukaan

Kondisi air permukaan di Kabupaten Nabire dapat dibedakan menjadi 3, yaitu sungai, danau dan
rawa (lahan basah). Sungai sungai yang ada pada umunya sifat aliranya sepanjang tahun dan arah
aliranya berasal dari pegunungan- pegunungan di bagian selatan Kabupaten Nabire dan mengalir
ke Utara dan sebagian besar bermuara di teluk Cendrawasih. Namun ada juga sungai yang
mengalir dari timur ke barat, yaitu Sungai Kogou, yang bernuara di Laut Arafura. Secara umum
sungai-sungai di Kabupaten Nabire merupakan sistem sungai yang ada di Wilayah Sungai
Memberamo. Sungai sungai tersebut sebagian besar mempunyai pola aliran dendritic dengan
dinding yang lebar.

Luasan rawa di Kabupaten Nabire cukup luas, terutama di Distrik Napan dan Wanggar/Yaur.
Rawa yang ada pada umunya berbentuk sebagai hutan rawa

2.7 Tata Guna Lahan

Sesuai dengan peruntukan sebagai kawasan Transmigrasi maka tata guna lahan Kecamatan
Wanggar sebagian besar berupa lahan pertanian dengan sebagian berupa semak belukar dan
hutan.

Tabel 2.2 : Tata Guna Lahan Kecamatan Wanggar

No Desa/Kampung Luas (Ha) Sawah (Ha) Ladang (Ha) Lainya (Ha) Komoditas Unggulan
1 Wiraska 1,156.00 175.00 883.00 98.00 Kakao/Palawija Holtilutura
2 Wanggar Makmur 2,880.00 - 994.00 1,866.00 Sayuran
3 Bumi Mulya 1,200.00 100.00 806.00 294.00 Kakao/Palawija
4 Karadiri 9,000.00 97.00 1,658.00 7,245.00 Kakao/Palawija
5 Wanggar Sari 6,250.00 100.00 2,023.00 4,127.00 Kakao/Palawija
Sumber : BPS Kab. Nabire
BAB 4

METODOLOGI

4.1 Tinjauan Umum

Dalam perencanaan bangunan pelindung pilar jembatan sungai terlebih dahulu dilakukan survey
dan investigasi dari lokasi yang bersangkutan guna memeroleh data perencanaan yang lengkap
dan teliti Untuk mengatur ini perlu adanya metodologi yang baik dan benar karena metodologi
merupakan acuan untuk menentukan langkah-langkah kegiatan yang perlu diambil dalam
perencanaan. Pada metodologi penyusunan Tugas Akhir ini, inilah beberapa poin yang terdapat
pada metodologi umum.

 Studi Pustaka
 Pengumpulan data
 Analisa Hidrologi
 Analisa Hidraulika
 Pemodelan dan Analisa Gerusan
 Analisa Kestabilan
 Desain Alternatif Bangunan Pelindung
 Rancangan Anggaran Biaya
Gambar 4.1 : Flowchart Metodologi Umum Tugas Akhir
Pada pengerjaan Tugas Akhir ini diawali dengan studi pustaka, yaitu pengumpulan beberapa
referensi untuk dibaca. Setelah itu dilakukan pengumpulan data yang sesuai kebutuhan
konstruksi. Dari data yang ada akan diolah menjadi data debit rencana, kecepatan maksimum
yang diizinkan dan kecepatan kritis. Setelah itu dilakukan pemodelan dan analisa gerusan pada
alternative konstruksi, sehingga mendapatkan konstruksi groundsill yang optimal. Bila sudah
mendapatkan perencanaan konstruksi yang optimal, dilakukan perhitungan rancangan anggaran
biaya.

4.2 Studi Pustaka

Pengerjaan Tugas Akhir ini diawali dengan melakukan studi pustaka untuk menghimpun segala
informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan diteliti dan untuk mengetahui
bagaimana gambaran keseluruhan tema yang akan dikerjakan. Studi pustaka dilakukan dengan
mengumpulkan dan memelajari literatur yang berhubungan dengan perlindungan gerusan pilar
jembatan.

4.3 Pengumpulan Data

Setelah studi pustaka dilakukan, pengumpulan data-data yang diperlukan dalam pengerjaan
Tugas Akhir ini. Data yang dikumpulkan berupa data sekunder dan data primer. Data sekunder
adalah data yang akan digunakan dalam analisis data, baik dari laporan studi terdahulu maupun
dari berbagai instansi yang terkait dengan perencanaan. Data primer adalah data yang didapat
dari hasil wawancara langsung dengan pihak yang berkepentingan dan data-data aktual yang
berkaitan dengan kondisi saat ini. Data –data yang diperoleh yaitu:

1. Data curah hujan


Data curah hujan yang dibutuhkan adalah data hujan maksimum tahunan dari Stasiun
Hujan Wanggar, Stasiun Hujan Kalibumi dll. Data ini diperoleh dari Konsultan PT.
Aditya. Data curah hujan yang diperoleh dari tahun 2003-2016. Data ini digunakan untuk
penentuan debit banjir rencana pada bangunan pelindung.
2. Data tanah
Data yang dihasilkan dari penyelidikan tanah di sekitar jembatan Sungai Wanggar. Data
ini digunakan untuk mengetahui strukur dan tipe dari tanah maupun batuan yang ada.
Data tanah yang diperoleh adalah hasil boring log, SPT, tes Atterberg Limit, tes Traixial
UU, tes konsolidasi dan dokumentasi
3. Data Topografi
4. Data Tata Guna Lahan
Data ini berupa tata guna lahan, data kontur pada DAS yang digunakan untuk
menentukan elevasi dan tata letak lokasi pilar Jembatan Wanggar.
5. Bathimetri Sungai wanggar
Bathimetri adalah bentuk dari dasar sungai. Data ini digunakan untuk melakukan
perhitungan hidraulika.
6. Data kecepatan arus
Data kecepatan arus sungai digunakan untuk menghitung nilai manning pada suatu jarak
disungai, pada masalah ini sudah ada 4 data yang tersedia.

Gambar 4.2 : Flowchart Pengumpulan Data

Dalam menentukan jenis dan kelengkapan data dilakukan penyaringan data melalui mekanisme
pengecekan. Data yang digunakan adalah data yang valid (berasal dari instansi terpercaya),
memiliki tanggal pembuatan dan data yang lengkap sesuai kebutuhan desain.

4.4 Analisis Hidrologi


Analisa hidrologi dilakukan menggunakan data curah hujan. Mula-mula data curah hujan yang
kosong diisi dengan menggunakan metode rasio normal karena adanya data pembanding berupa
curah hujan bulanan dari stasiun terdekat. Setelah semua data hujan lengkap dapat dilakukan
perhitungan perhitungan curah hujan wilayah. Curah hujan wilayah dihitung dengan
menggunakan metode Polygon Thiessen.

Kemudian dilakukan perhitungan curah hujan rencana dengan melakukan analisis frekuensi pada
data hujan berdasarkan periode ulang yang ditentukan. Curah hujan rencana dihitung dengan
berbagai metode distribusi, yakni Distribusi gumbel, Normal, Log Normal dan Log Pearson III.
Untuk mengetahui metode mana yang selanjutnya akan dipakai dalam perhitungan debit banjir,
dilakukan pengujian sebaran data hujan tersebut. Uji sebaran data dilakukan dengan metode Chi
Kuadrat dan Smirnov-Kolommogrov

Setelah mendapatkan curah hujan rencana yang memenuhi syarat uji sebaran dengan error
terendah, dapat dilakukan perhitungan debit banjir. Debit banjir rencana dihitung dengan
beberapa metode hidrograf sintetik, yaitu SCS, ITB-1,ITB-2 dan Nakayasu. Kemudian hasil dari
keempat hidrograf sintetik itu, diuji dengan Uji Creager. Uji Creager ini dilakukan untuk
mengetahui pilihan satu metode yang paling baik dari keempat metode tadi. Setelah didapatkan
metode yang terbaik dari uji crager, bila ada data debit historis dilakukan kalibrasi dengan data
historis debit pada Sungai wanggar, bila tidak ada data debit historis maka gunakan data hasil
bangkitan dari uji creager sebelumnya.
Gambar 4.3 : Flowchart Perhitungan Debit Rencana

4.5 Analisis Hidraulika

Analisis hidraulika dilakukan dengan menggunakan data tanah, data bathimetri dan data
kecepatan arus. Dari data tanah tersebut diketahui diameter butiran tanah dengan kecepatan
aliran yang diijinkan. Hubungan ini digambarkan pada kurva kecepatan yang diijinkan untuk
tanah tidak kohesif menurut Amerika dan Rusia. Dengan ini diperoleh kecepatan maksimum
yang diijinkan. Dari data bathimetri akan diketahui nilai kecepatan kritis oleh HEC-RAS. Dari
data kecepatan arus historis didapat diketahui nilai manning penampang.

4.6 Pemodelan dan Analisa Gerusan

Selanjutnya data dari hasil analisis hidrologi, yaitu debit banjir rencana, kecepatan maksimum
yang diijinkan dan kecepatan kritis dilakukan pemodelan dua dimensi. Pemodelan juga
menggunakan data bathimetri sungai dan kecepatan aliran. Pemodelan dilakukan dengan HEC-
RAS. Pemodelan ini dilakukan untuk mengevaluasi desain groundsill sehingga dapat diperoleh
alternatif paling optimal.

Analisa gerusan dilakukan dengan perhitungan manual pada setiap alternatif bangunan pelindung
pilar. Setelah didapat tinggi gerusan hasil perhitungan manual dan pemodelan, kemudian
dibandingkan hasil perhitungan tersebut. Bila hasil perhitungan manual menunjukkan hasil tinggi
gerusan terbesar dibanding perhitungan permodelan maka pakai tinggi gerusan hasil perhitungan
manual, begitu juga sebaliknya.

Gambar 4.4 : Flowchart Perhitungan Tinggi Gerusan

Hasil perhitungan dan perencanaan konstruksi dibuat gambar desain pada kertas A3. Kemudian
diajukan kepada dosen pembimbing, apabila diterima gambarnya maka akan dilampirkan pada
lampiran Tugas Akhir. Apabila ditolak, maka akan diperbaiki gambarnya sampai diterima dosen
pembimbing.

4.7 Analisa Kestabilan


Analisa kestabilan dilakukan pada perencanaan alternatif bangunan. Apabila salah satu dari uji
geser, uji guling dan uji runtuh pada bangunan alternatif memiliki angka keamanan (Safety
Factor) dibawah dua(2) maka akan diubah desain bangunan pelindung sampai ketiga uji
kestabilan tadi memiliki angka keamanan diatas dua(2).

Gambar 4.5 : Flowchart Analisa Kestabilan

4.8 Desain Bangunan Pelindung Terpilih

Setelah mendapat desain yang optimal, kemudian dilakukan perencanaan desain. Perencanaan
desain meliputi seluruh dimensi yang berkaitan. Dalam proses perencanaan bangunan pelindung
perlu dibantu dengan gambar deain konstruksi yang jelas dan benar. Proses ini tergantung dari
perhitungan atau perencanaan konstruksi yang telah dicek keamananya. Adapun proses
menggambar desain konstruksi pada penyusunan tugas akhir dapat dijelaskan dalam bentuk
diagram alir berikut ini.
Gambar 4.6 : Flowchart Pembuatan Gambar Desain

4.9 Rencana Anggaran Biaya

Besarnya anggaran biaya yang dibutuhkan untuk konstruksi bangunan pelindung perlu
diperhitungkan. Rencana Anggaran Biaya dibuat dengan mengacu pada analisis harga satuan
bahan dan pekerjaan di Papua. Perencanaan bentuk dan dimensi bangunan pelindung terpilih
mengacu pada gambar desain dan topografi.
Gambar 4.7 : Flowchart Penentuan RAB

JADWAL PENGERJAAN TUGAS AKHIR

Tabel 4.1 : Jadwal Pengerjaan Tugas Akhir


2019
No Kegiatan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penentuan Dosen Pembimbing
2 Penentuan Topik
3 Pengumpulan Data
4 Penyusunan Proposal
5 Seminar Proposal
6 Tinjauan Pustaka
7 Analisa Hidrologi
8 Analisa Hidraulika
9 Alternatif Pemodelan
10 Gambar Desain dan Analisa Kestabilan
11 Rancangan Anggaran Biaya
12 Penyusunan Laporan Tugas Akhir
13 Sidang Tugas Akhir
14 Wisuda
Daftar Pustaka

Hadisusanto, Nugroho. 2010. Aplikasi Hidrologi. Malang : Jogja Mediautama.Departrmen


Pekerjaan Umum Direktoral

Soemarto, C.D. 1986. Hidrologi Teknik. Surabaya: Usaha Nasional.

Badan Standarisasi Nasional. 2016. SNI 2415-2016 Tata Cara Perhitungan Debit Banjir
Rencana. Jakarta : Badan Standarisasi Nasional.

Badan Standardisasi Nasional Indonesia, 2012. SNI 7745 : 2012 tentang Penghitungan Nilai
Evapotrasnpirasi.

Das, M. Braja. 2002. Principles of Foundation Engineering. California: Wadsworth Group.