Anda di halaman 1dari 18

STUDY GUIDE

INTER-PROFESSIONAL EDUCATION

MODUL 3 INTERVENSI, MONITORING DAN EVALUASI

Unit Interprofessional Education


Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana
2017
DAFTAR
ISI

PENGANTAR 3
BABI INFORMASI UMUM 5
BAB II KOMPETENSI 7
BAB III BAHASAN DAN JADWAL KEGIATAN 9
BAB IV RANCANGAN TUGAS LATIHAN 11
BAB V EVALUASI 12
DAFTAR PUSTAKA 15

2
PENGANTAR

Hasil pertemuan Konsil Kedokteran se-ASEAN menyebutkan bahwa karakteristik dokter dan tenaga
kesehatan yang ideal meliputi : profesional, kompeten, beretika serta memiliki kemampuan
manajerial dan kepemimpinan. Untuk menjawab tantangan ini, masih diperlukan penguatan dalam
aspek perilaku profesional, mawas diri dan pengembangan diri serta komunikasi efektif sebagai dasar
kompetensi bagi seluruh tenaga kesehatan. Dalam rangka pencapaian tersebut, institusi pendidikan
perlu mengembangkan muatan lokal yang menjadi unggulan untuk memberikan kesempatan bagi
seluruh peserta didik untuk meningkatan kompetensi sekaligus profesionalisme profesi sebagai
modal menghadapi persaingan bebas yang akan dimulai tahun 2015.

Realita saat ini, jika diamati pemberitaan oleh berbagai media massa, tampak bahwa ada
kecenderungan lulusan tenaga kesehatan yang semakin meningkat setiap tahunnya, namun disisi
yang lain juga diikuti penurunan kompetensi, soft skill, rasa empati dan profesioalisme. Tantangan
lainnya adalah terjadinya komersialisasi kesehatan yang juga diduga berkaitan dengan lemahnya
sistem penguatan aspek profesionalisme selama jenjang pendidikan.Potret yang disajikan oleh
berbagai media ini harus disikapi dengan kreatif dan bijaksana oleh seluruh instansi pendidikan
kesehatan untuk melakukan perbaikan pada sistem pendidikan.Barangkali minimnya paparan sejak
dini merupakan salah satu faktor yang ikut berkontribusi.Paparan dini terhadap realita sosial terhadap
masyarakat, situasi determinan sosial yang ikut berperan dalam kejadian sakit, serta berbagai sistem
yang melembaga di tengah masyarakat yang juga berpengaruh terhadap status kesehatan
masyarakat.Seluruh peserta didik profesi kesehatan sangat memerlukan paparan ini secara
berkelanjutan.Selain untuk mengembangkan kompetensi, hal ini juga penting untuk melatih
kepekaan sosial serta mengasah empati calon – calon tenga kesehatan.

Salah satu program atau sistem pembelajaran unutk menjawab situasi problematik diatas adalah
melalui community health program dengan pendekatan lintas profesi (inter-profesional education /
IPE) yang tidak hanya mengedepankan tenaga kesehatan sebagai provider kesehatan, namun juga
sebagai active communicator, manager, community leader serta sebagai decision maker.
Implementasi pendekatan ini akan memdekatkan calon – calon tenaga kesehatan pada situasi sosial
masyarakat serta melahirkan kreativitas untuk berupaya mengatasi permasalahan di masyarakat dari
berbagai disiplin ilmu. Pengalaman dari beberapa negara menunjukan bahwa implementasi
3
community health program dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam pemecahan masalah
kesehatan di masyarakat secara lebih efektif dan efisien.

Disisi lain, wacana tentang Universal Health Coverage di Indonesia mengharuskan adanya layanan
kesehatan yang mudah di akses, bermutu, efisien dan terintegrasi. Situasi ini merupakan peluang
yang harus dimanfaatkan oleh institusi pendidikan kesehatan unutk memulai memikirkan pendekatan
inter-profesional dalam sistem pendidikannya. Hal ini juga sangat direkomendasikan oleh Badan
Kesehatan Dunia (WHO) tentang inter-profesional education and collaborative practicesfor global
health, untuk mengatasi permasalahan terkait fragmentasi dan inefisiensi layanan kesehatan di masa
mendatang, khususnya pada situasi atau permsalahan kesehatan yang kompleks. Pendekatan ini juga
menjadi solusi untuk menyediakan layanan kesehatan yang integratif dan terpadu sejalan dengan
kebijakan pemerintah yang baru, yaitu Jaminan Kesehatan Nasional.

Program IPE ini dirancang untuk mencoba memenuhi kebutuhan terhadap model pendidikan yang
lebih berorientasi pada sistem kesehatan dimana masyarakat merupakan komponen integral di
dalamnya.Semoga adanya model pembelajaran lintas profesi yang berorientasi pada komunitas dapat
menjadi solusi jangka panjang untuk melahirkan tenaga – tenaga kesehatan yang profesional dan
memiliki integritas tinggi terhadap nilai kemanusiaan.

Tim Penyusun

4
BAB I
INFORMASI UMUM

Nama Program Studi/ : Pendidikan Dokter Umum,Kedokteran Gigi, Keperawatan,


Psikologi, Kesehatan Masyarakat, Fisioterapi danFarmasi

Namamodul : Modul 3Intervensi, Monitoring dan Evaluasi

Kodemodul : Modul IPE -3

Semesterke- : 6 dan 7 tahapakademik/preklinik

JumlahSKS : 2SKS

Metodapembelajaran : Tutorial, Problem Based Learning, Focus Group


discussion,
Presentasipleno

Pendukungmodul : Modul IPE 1 dan 2

Integrasiantaramodul : Buku Log Mahasiswa

Deskripsimodul :

Modul ini merupakan salah satu modul dibawah Fakultas Kedokteran dan Farmasi MIPA yang
bertujuan sebagai pedoman belajar mahasiswa dalam meningkatkan kemampuannya berkolaborasi
dalam pengelolaan masalah kesehatan.Modul ini adalah lanjutan dari Modul 1 dan 2 dalam
kurikulum interprofessional education di Universitas Udayana.Dalam modul ini setiap mahasiswa
diberikan kesempatan untuk belajar dengan, dari dan mengenai profesi kesehatan lainnya melalui
berbagai metode pembelajaran yang disiapkan.Masalah kesehatan yang digunakan sebagai pemicu
untuk mempelajari dan melatih kemampuan bekerja sama adalah masalah yang berada dan sering
ditemukan di masyarakat (individu/keluarga dan masyarakat) dan memerlukan penanganan yang
kolaboratif dan sinergis antar profesi kesehatan.Pada Modul 3 ini kemampuan menerapkan
intervensi, evaluasi dan monitoring disesuaikan dengan hasil kegiatan di semester sebelumnya
(Semester Ke-3, 4, dan 5).

Evaluasi program merupakan bagian terpenting dari suatu kegiatan untuk menilai keberhasilan dan
hambatan yang dijumpai selama pelaksanaan program serta faktor pendukung yang menunjang
5
keberhasilan. Untuk evaluasi suatu program semestisnya ada suatu membanding yang dijadikan
acuan untuk menyatakan program tersebut berhasil. Pembanding tersebut dapa berupa data awal
(data dasar) sebelum program tersebut dilaksanakan yang dikenal dengan istilah pre and post test
evaluation without control. Pembanding juga dapat berupa objek lain (KK atau area) dengan
kharakteristik yang hampir mirip namun tidak dilakukan perlakuan, dan cara ini dikenal dengan
sebutan one shoot evaluation with control. Evaluasi yang lebih valid adalah data dasar, kemudian
ada perlakuan dan ada kontrol yang dikenal dengan metode pre and post test evaluation with
control.

Untuk program pemecahan masalah di keluarga angkat (KA), evaluasi dengan pre and post test
evaluation with control dinilai sudah cukup memadai asalkan semua indikator evaluasi sudah
ditentukan dari awal. Komponen evaluasi mencakup 4 (empat) aspek yaitu proses, output
(keluaran), outcome (hasil) dan impact (dampak). Evaluasi proses dapat dilihat dari berdasarkan
beberapa indikator yaitu ketepatan perencanaan, kesesuaian pelaksanaan dengan perencanaan,
pengorganisasian, pergerakan sumber daya, faktor pendukung dan faktor penghambat atau kendala
pelaksanaan kegiatan. Indikator output dapat dilihat dari jumlah cakupan (coverage) kegiatan
sedangkan indikator outcome dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada objek sasaran
program sesuai dengan tujuan yang sudah ditentukan dalam perencanaan. Untuk menilai indikator
impact (dampat) program berupa perubahan status kesehatan atau tingkat kesejahteraan biasanya
memerlukan waktu relatif lama sehingga pada program yang singkat sulit untuk dinilai. Kecuali
evaluasi proses, maka semua hasil evaluasi yang lain sebaiknya didasarkan atas pengukuran secara
kuantitatif agar lebih mudah untuk membandingkan hasilnya dan lebih mudah merumuskan
keberhasilannya.

6
BAB II
KOMPETENSI

Kompetensi (Sasaran Pemelajaran Akhir)

Setelah selesai mengikuti modul ini pada tahap pendidikan pre-klinik, mahasiswa Semester VI
1. mampu menentukan dan mendeskripsikan lama intervensi, indikator-indikator keberhasilan
intervensi, serta alat ukur dan cara ukur keberhasilan intervensi
2. mampu menerapkan prinsip-prinsip solusi dan menetapkan solusi terbaik untuk mengatasi
permasalahan kesehatan baik ditingkat keluarga ataupun masyarakat secara lintas profesi;

3. mampu melakukan monitoring (pemantauan), melaporkan hasil intervensi yang diberikan


di semester sebelumnya
4. mampu melakukan evaluasi program yang telah dilakukan di semester sebelumnya
5. mampu mengembangkan rencana aksi yang sistematis dan terukur secara lintas profesi

Setelah selesai mengikuti modul ini pada tahap pendidikan pre-klinik, mahasiswa Semester VII
1. mampu mengembangkan rencana aksi yang sistematis dan terukur secara lintas profesi

7
Bagan Alir Kompetensi

IPE PRE-KLINIK

Mampu berkomunikasi, berkolaborasi dalam


memecahkan masalah kesehatan dengan mahasiswa
antar profesi

Mahasiswa mampu mengembangkan rencana aksi


yang sistematis dan terukur secara lintas profesi SEMESTER VII

Mahasiswa mampu melakukan monitoring (pemantauan), melaporkan


hasil intervensi yang diberikan di semester V; mampu melakukan
evaluasi program yang telah dilakukan di semester sebelumnya
SEMESTER VI

Mahasiswa mampu menerapkan prinsip-prinsip penentuan solusi dan


menetapkan intervensi terbaik untuk mengatasi permasalahan kesehatan
baik ditingkat keluarga ataupun masyarakat secara lintas profesi; mampu SEMESTER V
mengembangkan intervensi yang sistematis dan terukur secara lintas profesi

Mahasiswa mampu menentukan skala prioritas dalam permasalahan


kesehatan yang diidentifikasi; menerapkan prinsip-prinsip penetapan
prioritas permasalahan kesehatan secara lintas profesi; menentukan lama
intervensi dan indikator-indikator keberhasilan intervensi serta alat ukur dan SEMESTER IV
cara ukur keberhasilan intervensi; mengidentifikasi media yang akan
dipergunakan dalam intervensi (contoh poster, slides, film etc)

Mahasiswa memahami kode etika masing-masing profesi; memahami peranan


masing-masing profesi; memahami prinsip-prinsip komunikasi interpersonal,
interprofesional dan lintas budaya; dan mampu melakukan komunikasi dan SEMESTER III
kolaborasi untuk mengidentifikasi masalah- masalah kesehatan secara efektif baik di
tingkat keluarga ataupun masyarakat

8
BAB III
BAHASAN DANJADWAL KEGIATAN

A. Kompetensi, Bahasan dan Jadwal Kegiatan

Estimasi waktu
Kompetensi/subkompetensi Pokok Bahasan/Subpokok bahasan
mampu menerapkan Strategi dalam: Lecture 1X
prinsip-prinsip solusi dan - penentuan lokasi
menetapkan solusi terbaik - penyusunan timeline kegiatan
untuk mengatasi - Sosialisasi kegiatan
permasalahan kesehatan
baik ditingkat keluarga
ataupun masyarakat secara
lintas profesi;

mampu mengembangkan - penyusunan modul intervensi Lecture 1X


intervensi yang sistematis - Pelaksanaan kegiatan intervensi
dan terukur secara lintas - Merencanakan Pretest dan Posttest
profesi (sesuai indikator yang telah
ditentukan)

1. Cara dan teknik monitoring program


Mampu melakukan (monitoring berkaitan dengan proses
monitoring hasil dan monitoring berkaitan dengan
intervensi yang telah hasil)
dilakukan di semester 2. Cara dan teknik membuat laporan
sebelumnya monitoring
Mampu melakukan 1. Cara dan teknik evaluasi program
evaluasi program yang (qualitative dan quantitative)
telah dilakukan di 2. Cara membuat laporan evaluasi
Semester sebelumnya program (waktu-tepat waktu, budget-
tidak melebihin dana, target atau
outcome tercapai)
3.
Mampu
mengembangkan
rencana aksi berdasarkan
fakta, situasi dan kondisi
di lapangan, secara
sistematis dan terukur
dalam persektif lintas
profesi berdasarkan hasil
evaluasi

9
SEMESTERVI

NO Waktu Kegiatan Penanggung Tempat


jawab
1 18 Maret Kuliah Pembekalan Tim IPE Lt 4
2017
2 18 – 31 Diskusi kelompok I Pembimbing Ruang
Maret 2017 Persiapan kunjungan lapangan- menentukan cara dan teknik monitoring yang sesuai dengan program diskusi
intervensi (monitoring berkaitan dengan proses dan monitoring berkaitan dengan hasil); mencari dampak
kegiatan setelah intervensi dilakukan, menilai/ mengukur dampak dari intervensi yang telah dilakukan
3 3– 31 April Kunjungan lapangan I Pembimbing Lapangan
2017 mengamati, mencatat dan melakukan monitoring hasil kegiatan berdasarkan alat dan cara yang telah
ditentukan
4 3 – 31 April Kunjungan lapangan II Pembimbing Lapangan
2017 mengamati, mencatat dan melakukan monitoring hasil kegiatan berdasarkan alat dan cara yang telah
ditentukan
5 2 – 13 Mei Diskusi kelompok II Pembimbing Ruang
2017 melaporkan hasil kunjungan I dan II) dan menyerahkan absen diskusi kelompok, kunjungan I dan II; diskusi
mengidentifikasi data-data yang belum dilakukan
6 15 Mei – 15 Kunjungan lapangan III Pembimbing Lapangan
Juni 2017 Mendata, mencatat dan memonitoring data yang belum dilaporkan di kunjungan sebelumnya); melihat
kemungkinan keberhasilan kegiatan (evaluasi), mengamati dan mencatat hasil kegiatan
7 15 Mei – 15 Kunjungan lapangan IV Pembimbing Lapangan
Juni 2017 mendata, mencatat dan memonitoring data yang belum dilaporkan di kunjungan sebelumnya); melihat
kemungkinan keberhasilan kegiatan (evaluasi), mengamati dan mencatat hasil kegiatan
8 5 – 17 Juni Diskusi kelompok III Pembimbing Ruang
2017 membahas hasil kunjungan III & IV, menyerahkan absen kunjungan lapangan III & IV diskusi
9 19 Juni – 1 Studi literature untuk menjelaskan dampak intervensi (dengan scientific reasoning), membuat laporan
Juli 2017 dan
10 19 Juni – 1 Diskusi kelompok IV Pembimbing Ruang
Juli 2017 Bimbingan dengan dosen untuk membahas hasil studi literatur diskusi
11 3– 15 Juli Presentasi hasil kegiatan monitoring dan evaluasi Pembimbing Ruang
2017 diskusi
12 17 Juli 2017 Penyerahan nilai , kuisioner, dan upload dokumen di IMISSU Tim IPE Ruang IPE
Waktu : Sabtu, 18 Maret 2017
Tempat : Ruang 401, 402, R. Teater

Materi Kuliah Semester VI


NO Jam Materi PIC
1 13.00 – 13.45 - Jenis-jenis intervensi (KIE, mediator/fasilitator kesehatan) Sang Gede Purnama SKM MM
- Indikator dalam proses (pelaksanaan intervensi, jumlah peserta yang terlibat, ketepatan
waktu pelaksanaan sesuai dengan perencanaan)
- Indikator hasil (menentukan indikator keberhasilan intervensi)
- Alat ukur
- Teknik observasi
- Teknik wawancara
- Teknik penyusunan kuesioner
- Komunikasi massa
- Komunikasi persuasif
- Contoh media yang dapat digunakan – leaflet, poster, slides, film, alat peraga
2 13.45 - 14.30 Strategi dalam: Made Ary Sarasmita., S.Farm.
- penentuan lokasi MFarm.Klin., Apt
- penyusunan timeline kegiatan
- Sosialisasi kegiatan
- penyusunan modul intervensi
- Pelaksanaan kegiatan intervensi
- Merencanakan Pretest dan Posttest (sesuai indikator yang telah ditentukan)
3 14.30 – 16.00 - Cara dan teknik monitoring program (monitoring berkaitan dengan proses dan monitoring dr Made Sri Nopiyani., MPH
berkaitan dengan hasil)
- Cara dan teknik membuat laporan monitoring
- Cara dan teknik evaluasi program (qualitative dan quantitative)
- Cara membuat laporan evaluasi program (waktu-tepat waktu, budget-tidak melebihin
dana, target atau outcome tercapai)

- Refleksi Diri Ns Made Oka Ari Kamayani.,


Skep., MKep
BAB IV
RANCANGAN TUGAS LATIHAN

STUDENT PROJECT
Student Project adalah kajian mendalam tentang keluarga angkat (KA)/masyarakat berdasarkan
hasil wawancara mendalam dan pengamatan langsung melalui kunjungan yang dilaksanakan
minimal 4 kali setiap semester.dituangkan dalam bentuk laporan hasil kajian pada akhir
semester. Hasil kajian mencakup hal Hasil kajian tersebut:
(1) Proses pelaksanaan program kesehatan
(2) Proses monitoring pelaksanaan program
(3) Proses evaluasi terhadap implementasi program
(4) Identifikasi terhadap hambatan implementasi
(5) Simpulan hasil intervensi dengan mengacu pada capaian terhadap indikator keberhasilan
program
(6) Rumusan rekomendasi untuk perbaikan program

Laporan student project dapat mengadopsi format berikut :


1) Halaman depan (cover) dan hlaman kedua berisikan:
 Judul : Laporan IPE-3 : Intervensi, Monitoring dan Evaluasi
 Nama mahasiswa dan NIM, nama KA, nama Pembimbing
 Nama Institusi (FK UNUD) dan Tahun
2) Abstrak (halaman ii)
3) Daftar Isi (halaman iii)
4) Badan laporan mencakup butir-butir sbb :
 Pendahuluan : Latar Belakang, Tujuan dan Manfaat (hasil laporan di IPE-1)
 Analisis Situasi dan Prioritas Masalah (hasil laporan di IPE-1 dan 2)
 Menentukan indikator keberhasilan Intervensi (hasil laporan IPE-2)
 Analisis Potensi : Alternatif Solusi dan Prioritas Solusi (hasil laporan di IPE-2)
 Laporan Intervensi (hasil laporan di IPE-2)
 Laporan Evaluasi dan Monitoring (hasil laporan di IPE-3)
 Simpulan dan Rekomendasi (hasil laporan di IPE-3)

11
12
BAB V EVALUASI

FORM PENILAIAN HASIL PROGRAM


INTER-PROFESSIONAL EDUCATION (IPE-3)
FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS UDAYANA
IDENTITAS MAHASISWA
Kelompok :
Nama :
NIM :
Program Studi :
Semester :
ASPEK-ASPEK YANG Nilai Hasil Sumber
: Bobot
DINILAI 10 - 10 - 100 Nilai
Disiplin Diri : 0.10 100 Individu
Laporan Buku Logbook (self-
: 0.15 Individu
reflection)
Presentasi Student Project : 0.25 Kelompok
Laporan Student Project
: 0.50 Kelompok
(Monitoring dan Intervensi)
Hasil Akhir Dengan Angka : Total Nilai akhir
Hasil Akhir Dengan Huruf : Nilai Dengan Huruf

Mengetahui, Denpasar,
Ketua Dosen Pembimbing

Keterangan Kategori Nilai:


A ≥ 80
B+= 71-79
B = 65-70
C+ = 60-64
C = 55-59
D+ = 50-54
D = 40-49
E ≤ 39

13
FORMAT REFLEKSI DIRI

Nama Mahasiswa :
NIM :
Kelompok :
Pembimbing :

NO PERNYATAAN REFLEKSI
1 Komunikasi

2 Kolaborasi

3 Peran dan tanggungjawab

4 Manajemen konflik

5 Pengambilan keputusan

6 Berbagi pengetahuan dan


ketrampilan

7 Respect

14
A. KriteriaPenilaian

Komponen kognitif:
1. Ketepatan analisis masalah (masalah kesehatan dan masalahkolaborasi)
2. Ketepatan penyelesaian masalah (masalah kesehatan dan masalahkolaborasi)
3. Keterampilan manajemenkelompok
4. Keterampilan manajemenkonflik
5. Kreativitas

Komponen skills:
1. Kemampuan komunikasiinterprofesional
2. Kemampuan berbagi informasi danberargumentasi

Komponen afektif:
1. Sikap menghargai dan menghormati profesilain
2. Keterbukaan menghadapi perbedaanpendapat
3. Motivasi dalamberkolaborasi

15
A. Daftar Rujukan
1. Tuckman BW. Development sequence in small groups. Psychological Bulletin,
1965,63:384–399.
2. Committee on Quality of Health Care in America, Institute of Medicine (2001).
Crossing the quality chasm: a new health system for the 21st century. National
Academy ofSciences.
3. Frenk J et al (2010). Health professionals for a new century: transforming
education to strengthen health systems in an interdependent world. The Lancet
376:1923-58
4. Nemeth CP (2008). Improving healthcare team communication: building on
lessons from aviation and aerospace. Hampshire: Ashgate PublishingLimited
5. The Victorian Quality Council (2010). Promoting effective communication among
healthcare professionals to improve patient safety and quality of care. Victorian
Government Department of Health, Melbourne,Victoria
6. Office of Interprofessional Education & Practice, Queen’s University.
Communication for patient safety: timely open communication for patient safety.
Ontario,Canada
7. Lingard L et al. Communication failures in the operating room: an observational
classification of recurrent types and effects. Quality & Safety in Health Care,
2004,13(5):330–334.
8. Marshall S, Harrison J, Flanagan B. The teaching of a structured tool improves the
clarity and content of inter-professional clinical communication. Quality & Safety
in Health Care, 2009:18:137-140
9. CMA Working Group (2007). Putting Patients First: Patient-centred collaborative
care – a discussion paper. Canadian MedicalAssociation
10. Family Health Teams (2005). Guide to collaborative team practice.
Toronto,Ontario
11. O’Daniel M & Rosenstein AH (2008). Chapter 33: Professional communication
and team collaboration in Patient Safety and Quality: an evidence-based handbook
for nurses, Hughes RG (ed). Agency for Healthcare Research andQuality.
12. Teamwork in health care: promoting effective teamwork in health care in Canada
Canadian
Health Services Research Foundation (CHSRF),
2006 (http://www.chsrf.ca/research_themes/pdf/teamwork-synthesis-
report_e.pdf).
13. Baker DP et al. Medical teamwork and patient Safety: the evidence-based relation.
Literature Review. AHRQ Publication No. 05-0053. Rockville, MD, Agency for
Healthcare Research and Quality, 2005(http://www.ahrq.gov/qual/medteam/)
14. Quality AfHRa. TeamSTEPPS™: strategies and tools to enhance performance and
patient safety. Rockville, MD, November2007
15. Mickan SM. Evaluating the effectiveness of health care teams. Australian Health
Review, 2005, 29(2):211–217.
16. Mickan SM, Rodger SA. Effective health care teams: a model of six characteristics
developed
fromsharedperceptions.JournalofInterprofessionalCare,2005,19(4):358–370.
17. Risser DT et al. The potential for improved teamwork to reduce medical errors in
the emergency department. The MedTeams Research Consortium. Annals of
Emergency Medicine, 1999, 34(3):373–383.
16
18. Ramsay MAE (2001). Conflict in the health care workplace. BUMC
Proceedings14:138-139
19. College of Nurses of Ontario (2009). Conflict prevention and management.
Toronto: College of Nurses ofOntario.
20. Andrew LB (1999). Conflict management, prevention and resolution in
medical settings.
Physician Executives 25(4):38-42
21. Sotile WM & Sotile MO (1999). How to shape positive relationships in medical
practices and hospitals. Physician Executives25(5):51-55

17