Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Gangguan depresif adalah salah satu jenis gangguan jiwa yang paling
sering terjadi. Prevalensi gangguan depresif pada populasi dunia adalah 3-8 %
dengan 50% kasus terjadi pada usia produktif yaitu 20-50 tahun. World Health
Organization menyatakan bahwa gangguan depresif berada pada urutan keempat
penyakit di dunia. Gangguan depresif mengenai sekitar 20% wanita dan 12% laki-
laki pada suatu waktu dalam kehidupan. Pada tahun 2020 diperkirakan jumlah
penderita gangguan depresif semakin meningkat dan akan menempati urutan
kedua penyakit di dunia.

Seseorang yang mengalami depresi ditandai dengan hilangnya rasa senang


atau ketertarikan terhadap hal-hal yang biasanya disukai. Kira-kira dua pertiga
pasien depresi mengalami fikiran akan bunuh diri dan sekitar 10 – 15%
melakukan bunuh diri. Depresi bisa disebabkan oleh faktor biologik seperti
gangguan keseimbangan neurotransmitter (norepinefrin, serotonin, dopamine,
gamma amino butyric acid), gangguan regulasi hormon, faktor genetik dan yang
tidak kala pentingnya adalah faktor psikososial (stress kehidupan, kepribadian).

Infeksi HIV/AIDS sangat erat hubungannya dengan gangguan depresi.


Penyebabnya bisa dikarenakan faktor psikologisnya ataupun efek dari agen HIV
yang sudah menginfeksi sistem saraf pusat. Perjalanan penyakit HIV/AIDS yang
progresif, penyebarannya yang luas dan cepat serta adanya stigma dan
diskriminasi pada pasien HIV/AIDS dapat menimbulkan stres pada penderitanya.
Bila gangguan psikologis ini tidak ditatalaksana dengan baik, maka besar
kemungkinan seseorang yang mengalami HIV/AIDS mengalami depresi.
Penderita HIV/AIDS yang mengalami depresi cendrung akan melakukan bunuh
diri terutama pada saat awal mengetahui terinfeksi HIV sebagai suatu respon
impulsive dari gejolak emosinya, juga resiko bunuh diri akan meningkat pada saat
penyakit berlanjut yang menyebabkan kemampuan fisik dan mental makin
menurun.
penelitian menunjukkan bahwa pravelensi gangguan psikiatri pada orang
yang hidup dengan HIV/AIDS adalah antara 30%-60%. Berbagai gangguan
psikiatri yang sering menyertai penyakit HIV/AIDS antara lain depresi, ansietas,
post trumatic stress disorder (PTSD) dan lain-lain. diagnosa yang paling banyak
adalah depresi berat, ansietas dan gangguan penyesuain, walaupun tidak ada bukti
insidensi yang tinggi dari psikosi pada infeksi HIV. dilaporkan suaru kisaran
sebesar 4 sampai 40 persen pasien terinfeksi HIV yang memenuhi kriteria
diagnositik untuk gangguan depresif. pravelensi gangguan depresif pra infeksi
HIV mungkin lebih tinggi dibanding yang biasa pada beberapa kelompok yang
beresiko mengidap HIV. Alasan lain untuk variasi angka pravelensi yang
dilaporkan ini adalah penerapan kriteria diagnostik yang bervariasi, beberapa
kriteria untuk gangguan depresif (kurang tidur dan penurunan berat badan) juga
dapat disebabkan oleh infeksi HIV itu sendiri. depresi lebih tinggi pada wanita
dibanding pria.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. HIV/AIDS
HIV adalah virus yang menyebabkan AIDS. AIDS merupakan suatu
keadaan yang serius, penyakit yang mengancam hidup. AIDS adalah
sekumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh
akibat infeksi oleh virus HIV yang termasuk famili retroviridae. Kondisi akhir
pada orang yang terkena HIV membuat seseorang rentan terhadap infeksi
oportunistik dan tumor. Walaupun sudah ada penanganan untuk AIDS dan
HIV, penyakit ini belum bisa disembuhkan.
Infeksi oportunistik adalah infeksi yang timbul akibat penurunan kekebalan
tubuh. Infeksi ini dapat timbul karena mikroba (bakteri, jamur, virus) yang
berasal dari luar tubuh, maupun yang sudah ada dalam tubuh manusia namun
dalam keadaan normal terkendali oleh kekebalan tubuh. Pada umumnya
kematian pada orang dengan HIV/AIDS disebabkan oleh infeksi oportunistik.
Dari semua orang yang terinfeksi HIV, sebagian berkembang masuk
tahap AIDS pada 3 tahun pertama, 50% berkembang menjadi pasien AIDS
sesudah 10 tahun, dan sesudah 13 tahun hampir semua orang yang terinfeksi
HIV menunjukkan gejala AIDS, dan kemudian meninggal. Perjalanan penyakit
tersebut menunjukkan gambaran penyakit yang kronis, sesuai dengan perusakan
sistem kekebalan tubuh yang juga bertahap.
Terdapat dua dimensi dari klasifikasi HIV, yaitu riwayat keadaan klinis dan
derajat immunosupresinya yang dilambangkan dalam hitung CD4+ limfosit T.
Keadaan klinis yang berhubungan dengan HIV ini dibagi menjadi 3 kategori
(lihat tabel1). Semua keadaan pada kategori C tanpa memandang keadaan
derajat imunosupresinya didiagnosis sebagai AIDS, sedangkan semua pasien
dengan CD4+ limfosit T < 200/mm didiagnosis sebagai AIDS tanpa melihat
keadaan klinisnya.
Sebagian ahli memandang definisi AIDS sangat kompleks dan rumit
sehingga seorang klinisi sebaiknya tidak mempertanyakan apakah AIDS telah
muncul atau tidak, tetapi memandang penyakit HIV sebagai suatu spektrum
mulai dari infeksi primer (baik dengan sindrom akut maupun tidak) sampai ke
stadium asimptomatik hingga stadium lanjut.
HIV ditemukan didalam darah, semen, sekresi serviks dan vagina, dan
dalam jumlah yang lebih kecil, didalam saliva, air mata, air susu ibu, dan
cairan serebrospinaldari orang yang terinfeksi. HIV dapat ditularkan dalam 3
cara, yaitu: melalui hubungan seksual (baik homoseksual atau heteroseksual) ;
melalui darah ; dan dari ibu ke anaknya (selama kehamilan atau kelahiran, atau
melalui air susu ibu).
Penularan HIV paling sering terjadi melalui hubungan seksual atau
perpindahan darah yang terkontaminasi. Seks anal, vaginal dan oral yang tidak
terproteksi adalah aktivitas seksual yang paling mungkin menularkan
virus.Rute seksual (risiko transmisi adalah 0.3% dari pria-ke pria, 1.2% pria ke
wanita, 0.1% dari wanita ke pria), transfusi, needle sticks (0.3%), vertical (15-
40%).
Anak-anak dapat terinfeksi in utero atau melalui air susu ibu jika ibunya
terinfeksi HIV. Petugas kesehatan secara teoritis berada pada risiko karena
kemungkinan kontak dengan cairan tubuh dari pasien yang terinfeksi HIV.
Dalam prakteknya, bagaimanapun, insidensi transmisi tersebut sangat kecil dan
hampir semua laporan kasus telah menemukan tusukan jarum yang tidak
disengaja dengan jarum yang terkontaminasi. Tidak ditemukan bukti-bukti
bahwa HIVdapat tertular melalui kontak biasa, seperti tinggal bersama-sama di
rumah atau kelas dengan orang yang terinfeksi HIV, walaupun kontak
langsung maupun tidak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi,
seperti darah dan semen, harus dihindari

2. DEPRESI
A. Definisi
Gangguan depresif merupakan gangguan medik serius menyangkut
kerja otak, bukan sekedar perasaan murung atau sedih dalam beberapa
hari. Gangguan ini menetap selama beberapa waktu dan mengganggu
fungsi keseharian seseorang. Gangguan depresif masuk dalam kategori
gangguan mood, merupakan periode terganggunya aktivitas sehari-hari,
yang ditandai dengan suasana perasaan murung dan gejala lainnya
termasuk perubahan pola tidur dan makan, perubahan berat badan,
gangguan konsentrasi, anhedonia (kehilangan minat apapun), lelah,
perasaan putus asa dan tak berdaya serta pikiran bunuh diri. Jika gangguan
depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia) maka orang
tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari
pergaulan, karena ia kehilangan minat hampir disemua aspek
kehidupannya.
Berdasarkan PPDGJ-III, gejala utama pada episode depresif adalah
adanya afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya
energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah, (rasa lelah yang
nyata setelah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktifitas. Dan gejala
lainnya antara lain konsentrasi perhatian berkurang, harga diri dan
kepercayaan diri berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak
berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan atau
perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu, dan nafsu
makan berkurang.
B. Epidemiologi
Gangguan depresif dapat terjadi pada semua umur, dengan riwayat
keluarga mengalami gangguan depresif, biasanya dimulai pada usia 15 dan
30 tahun. Usia paling awal dikatakan 5-6 tahun sampai 50 tahun dengan
rerata pada usia 30 tahun. Gangguan depresif berat rata-rata dimulai pada
usia 40 tahun (20-50 tahun). Epidemiologi ini tidak tergantung ras dan tak
ada korelasinya dengan sosioekonomi. Perempuan juga dapat mengalami
depresi pasca melahirkan anak. Beberapa orang mengalami gangguan
depresif musiman, di negara barat biasanya pada musim dingin. Gangguan
depresif ada yang merupakan bagian gangguan bipolar (dua kutub: kutub
yang satu gangguan depresif, kutub lainnya mania). Gangguan depresif
berat adalah suatu gangguan dengan prevalensi seumur hidup kira-kira
15%, pada perempuan mungkin sampai 25%. Perempuan mempunyai
kecenderungan dua kali lebih besar mengalami gangguan depresif
daripada laki-laki. Alasan dalam penelitian di negara barat dikatakan
karena masalah hormonal, dampak melahirkan, stressor dan pola perilaku
yang dipelajari. Gangguan depresif sangat umum terjadi, setiap tahun lebih
dari 17 juta orang Amerika mengalaminya.
C. Etiologi Dan Patofisiologi
Penyebab gangguan jiwa senantiasa dipikirkan dari sisi
organobiologik, sosiokultural dan psikoedukatif. Dari sisi biologik
dikatakan adanya gangguan pada neurotransmiter norefinefrin, serotonin
dan dopamin. Ketidakseimbangan kimiawi otak yang bertugas menjadi
penerus komunikasi antar serabut saraf membuat tubuh menerima
komunikasi secara salah dalam pikiran, perasaan dan perilaku. Karena itu
pada terapi farmakologik maka terapinya adalah memperbaiki kerja
neurotransmitter norefinefrin, serotonine dan dopamin.
Dari penelitian keluarga didapatkan gangguan depresi mayor dan
gangguan bipolar, terkait erat dengan hubungan saudara; juga pada anak
kembar, suatu bukti adanya kerentanan biologik, pada genetik keluarga
tersebut. Episoda pertama gangguan seringkali dipicu oleh stresor
psikososial pada mereka yang biologiknya rentan. Gangguan depresif juga
mungkin dialami oleh mereka yang tidak mempunyai faktor biologik
sebagai kontributor terhadap terjadinya gangguan depresif, hal ini lebih
merupakan gangguan psikologik.
Berbagai faktor psikologik memainkan peran terjadinya gangguan
depresif. Kebanyakan gangguan depresif karena faktor psikologik terjadi
pada gangguan depresif ringan dan sedang, terutama gangguan depresif
reaktif. Gangguan depresif reaktif biasanya didiagnosis sebagai gangguan
penyesuaian diri selama masa pengobatan.
Mereka dengan rasa percaya diri rendah, senantiasa melihat dirinya
dan dunia luar dengan penilaian pesimistik. Jika mereka mengalami stres
besar, mereka cenderung akan mengalami gangguan depresif. Para
psikolog menyatakan bahwa mereka yang mengalami gangguan depresif
mempunyai riwayat pembelajaran depresi dalam pertumbuhan
perkembangan dirinya. Mereka belajar seperti model yang mereka tiru
dalam keluarga, ketika menghadapi masalah psikologik maka respon
mereka meniru perasaan, pikiran dan perilaku gangguan depresif. Orang
belajar dengan proses adaptif dan maladaptif ketika menghadapi stres
kehidupan dalam kehidupannya di keluarga, sekolah, sosial dan
lingkungan kerjanya. Faktor lingkungan mempengaruhi perkembangan
psikologik dan usaha seseorang mengatasi masalah. Faktor pembelajaran
sosial juga menerangkan kepada kita mengapa masalah psikologik
kejadiannya lebih sering muncul pada anggota keluarga dari generasi ke
generasi. Jika anak dibesarkan dalam suasana pesimistik, dimana dorongan
untuk keberhasilan jarang atau tidak biasa, maka anak itu akan tumbuh dan
berkembang dengan kerentanan tinggi terhadap gangguan depresif.
Menurut Freud, kehilangan obyek cinta, seperti orang yang
dicintai, pekerjaan tempatnya berdedikasi, hubungan relasi, harta, sakit
terminal, sakit kronis dan krisis dalam keluarga merupakan pemicu
episode gangguan depresif. Seringkali kombinasi faktor biologik,
psikologik dan lingkungan merupakan campuran yang membuat gangguan
depresif muncul. Selain hal di atas, obat-obat juga dapat mendorong
seseorang mengalami gangguan depresif
D. Gejala
Gejala gangguan depresif berbeda-beda dari satu orang ke orang
lainnya, dipengaruhi juga oleh beratnya gejala. Gangguan depresif
mempengaruhi pola pikir, perasaan dan perilaku seseorang serta kesehatan
fisiknya. Gangguan depresif tidak mempunyai simptom fisik yang sama
dan pasti pada satu orang dan bervariasi dari satu orang ke orang lain.
Keluhan yang banyak ditampilkan adalah sakit, nyeri bagian atau seluruh
tubuh, keluhan pada sistem pencernaan. Kebanyakan gejala dikarenakan
mereka mengalami stres yang besar, kekuatiran dan kecemasan terkait
dengan gangguan depresifnya. Simptom dapat digolongkan dalam
kelompok terkait perubahan dalam cara pikir, perasaan dan perilaku.
a. Perubahan cara berpikir – terganggunya konsentrasi dan pengambilan
keputusan membuat seseorang sulit mempertahankan memori jangka
pendek, dan terkesan sebagai sering lupa. Pikiran negatif sering
menghinggapi pikiran mereka. Mereka menjadi pesimis, percaya diri
rendah, dihinggapi perasaan bersalah yang besar, dan mengkritik diri
sendiri. Beberapa orang merusak diri sendiri sampai melakukan
tindakan bunuh diri atau membunuh orang lain.
b. Perubahan perasaan – merasa sedih, murung, tanpa sebab jelas.
Beberapa orang merasa tak lagi dapat menikmati apa-apa yang dulu
disenanginya, dan tak dapat merasakan kesenangan apapun. Motivasi
menurun dan menjadi tak peduli dengan apapun. Perasaan seperti
berada dibawah titik nadir, merasa lelah sepanjang waktu tanpa bekerja
sekalipun. Perasaan mudah tersinggung, mudah marah. Pada keadaan
ekstrim khas dengan perasaan tidak berdaya dan putus asa.
c. Perubahan perilaku – ini merupakan cerminan dari emosi negatif.
Mereka menjadi apatis. Menjadi sulit bergaul atau bertemu dengan
orang, sehingga menarik diri dari pergaulan. Nafsu makan berubah
drastis, lebih banyak makan atau sulit membangkitkan keinginan untuk
makan. Seringkali juga sering menangis berlebihan tanpa sebab jelas.
Sering mengeluh tentang semua hal, marah dan mengamuk. Minat seks
sering menurun sampai hilang, tak lagi mengurus diri, termasuk
mengurus hal dasar seperti mandi, meninggalkan tanggung jawab dan
kewajiban baik pekerjaan maupun pribadi. Beberapa orang tak dapat
tidur, beberapa tidur terus.
d. Perubahan Kesehatan Fisik – dengan emosi negatif seseorang merasa
dirinya tidak sehat fisik selama gangguan depresif. Kelelahan kronis
menyebabkan ia lebih senang berada di tempat tidur tak melakukan
apapun, mungkin tidur banyak atau tidak dapat tidur. Mereka terbaring
atau gelisah bangun ditengah malam dan menatap langit-langit.
Keluhan sakit dibanyak bagian tubuh merupakan tanda khas dari
gangguan depresif. Gelisah dan tak dapat diam, mondar-mandir sering
menyertai. Gejala tersebut berjalan demikian lama, mulai dari
beberapa minggu sampai beberapa tahun, dimana perasaan, pikiran dan
perilaku berjalan demikian sepanjang waktu setiap hari. Jika gejala ini
terasa, terlihat dan teramati, maka sudah waktunya membawanya
untuk berobat, sebab gangguan depresif dapat diobati.

3. DEPRESI PADA PENDERITA HIV


A. Definisi
Depresi pada ODHA dikaitkan dengan perasaan bahwa
kesehatannya buruk, rasa sakit kronis, dan kehilangan daya ingat serta
konsentrasi.Namun, depresi, berbeda dengan kesedihan atau kecil hati,
bukan merupakan dampak alami dari penyakit.Lamanya suasana hati yang
lesu, kegelisahan, atau kemarahan mungkin biasanya menjadi bagian dari
penyesuaian terhadap penyakit, tetapi perkembangan depresi yang parah
bukanlah sesuatu yang normal.Sebagaimana diagnosis depresi berat
dihubungkan dengan berbagai penyakit, suasana hati yang lesu harus
dilihat sebagai bagian dari kumpulan gejala seperti rasa senang yang
hilang, perasaan bersalah atau tidak berharga, memikirkan kematian, dan
gejala neuro vegetatif. Bahkan bila gambaran semacam ini ditemukan,
penyebab medis sebaiknya diselidiki dan diobati sebelum memulai
pengobatan dengan anti depresan.Selain itu terdapat masalah yang
psikososial yang biasa dihadapi ODHA yaitu stigma dan diskriminasi,
depresi, pengucilan dari lingkungan sosial dan keluarga, masalah dalam
pekerjaan/ekonomi, masalah dalam pengasuhan anak.
Stigmatisasi mencerminkan perilaku, tetap idiskriminasi adalah
tindakan atau perilaku. Diskriminasi adalah cara mengekspresikan, baik
secara sengaja ataupun tidak disengaja dengan melakukan stigmatisasi
pendapat, yang dapat membuat seseorang bertindak atau berperilaku
menolak layanan atau hak untuk orang lain. Stigmatisasi dan diskriminasi
telah dicatat dalamkaitannya dengan penyakit menulardan dianggap tercela
yang tidak dapat disembuhkan, misalnya TBC, Sifilis dan
lepra.Stigmatisasi terhadap HIV AIDS tampak jauh lebih parah.
Hubungan antara depresi dengan HIV/AIDS merupakan hubungan
yang sangat kompleks, di satu sisi depresi dapat timbul karena penyakit
HIV/AIDS itu sendiri, di sisi lain depresi yang timbul akan lebih
memperberat perjalanan penyakit HIV/AIDS itu sendiri. Depresi akan
memperberat perjalanan penyakit HIV /AIDS melalui perubahan perilaku
seperti perasaan bersalah, kurangnya minat berkomunikasi, berkurangnya
kepatuhan memakan obat serta keinginan untuk bunuh diri dan juga
gangguan sistim imun. Berbagai gejala pada depresi seperti gangguan
neurovegetatif (gangguan tidur, nafsu makan berkurang, disfungsi seksual),
gangguan kognitif (pelupa, susah berkonsentrasi) juga akan memperberat
perjalananpenyakitnya
B. Patofisiologi
HIV adalah virus RNA berbentuk sferis dengan diameter 80-
100nm. Sel target HIV adalah CD4+helper T lymphocytes,
monosit/makrofagsel dendritic, sel Langerhans, sel microglial di
susunansarafpusat. Virus menggunakansel target untukmasuknya virus
kedalamselinduk, diseminasi, replikasi (virus menggunakan protein
danasam amino sel target untukmembentuk virus baru), dan reservoir
(virus hanya terjebak, tanpa replikasi). Efek pada sistem imun adalah
disfungsi dan berkurangnya sellimfosit CD4, defek imunologis yang
disebabkan oleh HIV meliputi kerusakan jaringan limfoid, disfungsi sel
CD8+, abnormalitas sel B, disfungsi timus dan abnormalitas autoimun.
Beberapa mekanisme yang terlibat pada penurunan CD4, meliputi
penurunan sel T CD4 melalui penghancuran sel tunggal yang disebabkan
oleh akumulasi DNA HIV pada sel atau melalui hambatan terhadap fungsi
sel.
HIV menginfeksi sel sistem kekebalan dan system syaraf. Infeksi
sel di dalam system syaraf pusat (terutama astrosit) secara langsung
menyebabkan perkembangan sindroma neuropsikiatrik, yang sering
dipersulit lebih jauh pada pasien dengan AIDS oleh efek neuropsikiatrik
dari infeksi sistem saraf pusat.
Depresi yang timbul pada penderita HIV/AIDS dapat disebabkan
olehbeberapa hal seperti:
a. Invasi virus HIV ke susunan saraf pusat (SSP), dimana menghasilkan
perubahan neuropatologis pada basal ganglia, thalams, nukleus batang
otak yang menyebabkan disfungsi dan akhirnya akan menyebabkan
gangguan pada mood dan motivasi
b. Efek samping penggunaan obat-obat anti retroviral
c. Komplikasi HIV
d. Pengaruh psikologis yang ditimbulkan setelah diketahui menderita
penyakit tersebut, biasanya penderita mangalami penolakan dari
pekerjaan, keluarga maupun masyarakat.
Walaupun kejadian depresi pada penderita HIV/AIDS ini
sebenarnya Cukup tinggi tetapi sering kurang terdiagnosis karena
beberapa gejala depresi sering dijumpai sebagai bagian dari gejala
penyakit HIV/AIDS itu sendiri.Beberapa hal yang menjadikan diagnosis
depresi pada penderita HIV/AIDS menjadi lebih sulit untuk ditegakkan
antara lain:
a. Kemungkinan efek gejala klinis yang timbul akibat infeki virus HIV
itu sendiriseperti : fatique, berkurangnya nafsu makan dan tidur, dan
penurunan berat badan.
b. Kemungkinan efek gangguan kognitif yang timbul akibat infeksi virus
HIV pada otak dengan gejala seperti retardasi psikomotor, pelupa, dan
kesulitan untuk berkonsentrasi mungkin gejala-gejala awal dari
kerusakan ini.
c. Reaksi emosional dan perilaku yang bersifat sementara, yang sering
timbul dalam perjalanan penyakit seperti: hilangnya minat
berkomunikasi dengan sesama, perasaan bersalah tentang perilaku
berisiko sebelumnya, keinginan bunuh diri
Kriteria depresif mayor menunjukkan bahwa simtom-simtom ini
seharusnya diperhitungkan sebagai bagian dari depresi jika simtom-
simtom secara jelas bukan akibat masalah fisik yang komorbid. Beragam
solusi telah diajukan oleh Cohen-Cole dan kawan-kawan, yang
menyarankan 4 pendekatan yang mungkin.
a. Pendekatan etiologikal, yang mengikuti kriteria Diagnostic and
statistical manual of mental disorder (DSM) yang memerlukan
penilaian terdahulu untuk memasukkan simtom / tanda tertentu bukan
hasil dari gangguan fisik yang melatarbelakanginya.
b. Pendekatan inklusif, dimana seluruh simtom-simtom dihitung tanpa
memperhatikan penyebab yang mungkin.
c. Pendekatan eksklusif, yang tidak mengizinkan setiap simtom-simton
fisik untuk dimasukkan pada diagnosis.
d. Pendekatan substitusi, yang mana empat kriteria psikologikal / kognitif
yang baru disubstitusi untuk dipindahkan / dihilangkan.
Tinjauan selanjutnya memisahkan pendekatan ini kedalam 2
pendekatan yaitu eksklusif dan inklusif. Pendekatan ekslusif mungkin
secara diagnostik yang paling murni dan jadi pilihan yang terbaik untuk
tujuan penelitian. Namun, pendekatan inklusif, meskipun diagnosis
depresi memungkinkan, menunjukkan yang terbaik untuk manajemen
klinikal karena pasien-pasien sering tidak melaporkan simtom-simtom
psikologik depresi akibat stigma kultural dan perlindungan terbaik
terhadap pasien dari resiko depresi yang tidak terdiagnosis. Pendekatan
ini merekomendasikan bahwa klinisi memperhitungkan setiap simtom-
simtom depresif yang relevan meskipun bila terdapat alasan untuk
meyakini simtom mungkin bukan bagian dari sindrom depresif tapi
mungkin sekunder terhadap proses penyakit atau pengobatannya.
C. Diagnosis
Pendekatan gangguan jiwa adalah pendekatan sindrom atau
kumpulan gejala, dalam hal ini sindroma atau pola perilaku, atau
psikologik seseorang yang secara klinik cukup bermakna dan yang secara
khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan atau hendaya di dalam satu
atau lebih fungsi penting dari manusia. Pemahaman tersebut memberi
gambaran bahwa untuk membuat diagnosis gangguan jiwa perlu
didapatkan butir-butir :
a. Adanya gejala klinis yang bermakna berupa sindrom atau pola
perilaku, sindrom atau pola psikologik
b. Gejala klinis tersebut menimbulkan penderitaan, seperti rasa nyeri,
tidak nyaman, gangguan fungsi organ dsb.
c. Gejala klinis menimbulkan disabilitas dalam aktivitas sehari-hari
seperti mengurus diri (mandi, berpakaian, makan dsb )
PPDGJ-III membagi episode depresif menjadi 4 episode depresif
yaitu :
1. Episode Depresif Ringan (F32.0)
Pedoman Diagnostik sebagai berikut :
1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti
tersebut diatas.
2) Ditambah sekurang-kurang nya 2 dari gejala lainnya.
3) Tidak boleh ada gejala yang berat diantara nya.
4) Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar
2 minggu
5) Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang
biasa dilakukannya
2. Episode Depresif Sedang (F32.1)
Pedoman diagnostik sebagai berikut :
1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala depresi seperti pada
episode depresi ringan
2) Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala
lainnya.
3) Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu
4) Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan dan urusan rumah tangga
3. Episode depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2)
1) Semua 3 gejala utama depresi harus ada
2) Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa
diantaranya hanya berintesitas berat.
3) Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor)
yang mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu
untuk melaporkan banyak gejala nya secara rinci. Dalam hal
demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap episode depresif
berat masih dapat dibenarkan.
4) Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya
2 minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat
cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam
kurun waktu kurang dari 2 minggu.
5) Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan
sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang
sangat terbatas.
4. Episode depresif berat dengan gejala psikotik
1) Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2
tersebut diatas
2) Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya
melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang
mengancam, dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu.
Halusinasi auditorik atau olfatorik biasanya berupa suara yang
menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk.
Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.
Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai
serasi atau tidak serasi dengan afek (mood congruent).
Berdasarkan DSM IV kriteria diagnosis untuk depresi berat
meliputi hal-hal berikut:
1. Lima atau lebih gejala di bawah telah ada selama periode waktu 2
minggu dan menunjukkan perubahan fungsi sebelumnya; setidaknya
satu gejalanya adalah mood menurun atau (2) kehilangan minat atau
kesenangan . Catatan: jangan memasukkan gejala yang jelas-jelas
disebabkan kondisi medis umum, atau waham atau halusinasi yang
tidak kongruen-mood
a. Mood menurun hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, seperti
yang ditunjukkan baik melalui laporan subjektif (cth., perasaan
sedih atau kosong) atau pengamatan orang lain (cth., tampak
bersedih). Catatan: pada anak dan remaja, bisa berupa mood
iritabel.
b. menurunnya minat atau kesenangan yang nyata pada semua, atau
hampir semua aktivitas hampir sepanjang hari, hampir setiap hari
(seperti yang ditunjukkan laporan subjektif atau pengamatan orang
lain)
c. Penurunan berat badan yang bermakna walaupun tidak diet atau
berat badan bertambah (cth, perubahan lebih dari 5% berat badan
dalam sebulan), atau menurun maupun meningkatnya nafsu makan
hampir setiap hari catatan: pada anak, pertimbangkan adanya
kegagalan mencapai berat badan yang diharapkan.
d. insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
e. Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati
orang lain, tidak hanya perasaan subjektif adanya kegelisahan atau
menjadi lebih lamban)
f. Lelah atau hilang energi hampir setiap hari (7) perasaan tidak
berarti atau rasa bersalah yang tidak sesuai atau berlebihan (yang
dapat menyerupai waham) hampir setiap hari (tidak hanya
menyalahkan diri atau rasa bersalah karena sakit)
g. Menurunnya kemampuan berpikir atau berkonsentrasi atau keragu-
raguan hampir setiap hari (baik laporan subjektif atau diamati
orang lain)
h. Pikiran berulang mengenai kematian (bukan hanya rasa takut mati),
gagasan bunuh diri berulang tanpa suatu rencana yang spesifik,
atau upaya bunuh diri atau suatu rencana spesifik untuk melakukan
bunuh diri.
2. gejala tidak memenuhi kriteria episode campuran
3. gejala menyebabkan penderitaan yang secara klinis bermakna atau
hendaya di dalam fungsi sosial, pekerjaan atau area fungsi lain
4. gejala tidak disebabkan pengaruh fisiologi langsung zat
5. gejala sebaiknya tidak disebabkan berkabung, setelah kehilngan orang
yang dicintai.
D. Penatalaksanaan Depresi Pada Penderita HIV
Banyak klinisi percaya bahwa gangguan depresi pada pasien
terinfeksi HIV harus diobati secara agresif dengann medikasi antidepresan.
Dosis awal antidepresan harus kira-kira seperempat dari dosis normal yang
digunakan pada orang dewasa, dan dosis harus dinaikkan sedikit-sedikit
setiap dua sampai 3 hari hingga tercapai suatu efek terapetik, obat trisiklik
dan serotonin-spesific reuptake inhibitor keduanya telah digunakan secara
efektif pada pasien terinfeksi HIV. Penggunaan obat simpatomimetik
(sebagai contohnya, amphetamine) juga merupakan pendekatan
pengobatan yang beralasan.
Pengobatan dengan obat anti retrovirus, seperti Azidothymidine,
mencegah atau membalikkan gejala neuropsikiatrik yang berhubungan
dengan ensefalopati HIV. Walaupun antagonis dopamin, seperti
haloperidol (Haldol), mungkin diperlukan untuk pengendalian agitasi, obat
tersebut harus digunakan dalam dosis yang serendah mungkin karena
adanya peningkatan kepekaan pasien terhadap efek extrapiramidal dan
terjadinya sindroma neuroleptik malignan
Keluarga pasien dan teman dekat seringkali merupakan kesatuan
penting dalam pengobatan. Bentuk dukungan psikososial antara lain:
1. Konseling :
a. konseling individu, termasuk konseling untuk ARV
b. konseling pasangan
c. konseling keluarga
d. konseling kelompok
2. Pendampingan :
3. Layanan sahabat
4. Pengawas minum obat
5. Kunjungan rumah (home visit)
6. Dukungan ekonomi keluarga
Tujuan dukungan psikologis adalah untuk mengurangi stress dan
depresi, meningkatkan semangat hidup, serta meningkatkan kepatuhan
berobat. Sedangkan tujuan dukungan sosial adalah untuk mengurangi
diskriminasi oleh lingkungan, meringankan kebutuhan hidup, dan
memberikan akses terhadap layanan kesehatan.
Penatalaksanaan penderita depresi dengan HIV/ AIDS secara garis
besar dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu penatalaksaan terhadap penyakit
HIV/AIDS dan penatalaksanaan terhadap depresinya. Penatalaksaan
terhadap penyakit HIV/AIDS sendiri telah cukup berkembang dengan
ditemukannya obat-obat anti retrovirus. Penatalaksanaan yang baik terhadap
depresinya akan memperbaiki kualitas hidup, memperbaiki kepatuhan terhadap
pengobatan, dan memperpanjang angka harapan hidup penderita HIV/AIDS
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

1. SIMPULAN
Infeksi HIV dan gangguan psikiatrik mempunyai hubungan yang
kompleks. Infeksi HIV akan menyebabkan gangguan psikiatrik sebagai
konsekuensi psikologis dari infeksi atau karena efek dari virus HIV dalam
otak.Perjalanan penyakit AIDS yang progresif dan berakhir dengan
kematian, serta penyebaran yang cepat, adanya stigma dan diskriminasi
terhadap penderita dapat menimbulkan keadaan stres dan gangguan
psikiatrik pada penderita tersebut.
Berbagai gangguan psikiatrik yang sering menyertai penyakit
HIV/AIDS antara lain depresi, ansietas, post traumatic stress disorder
(PTSD), dan lain-lain.Depresi berkenaan dengan keadaan psikiatrik yang
paling umum pada orang dengan infeksi HIV.
Penatalaksanaan yang baik terhadap depresinya akan memperbaiki kualitas
hidup, memperbaiki kepatuhan terhadap pengobatan, dan memperpanjang
angka harapan hidup penderita HIV/AIDS.
2. SARAN
Melihat tingginya angka sindrom depresif pada penderita
HIV/AIDS, maka perlu dipertimbangkan pentingnya penanganan yang
bersifat menyeluruh dalam dampak psikologis. Perlunya peranan dokter-
dokter baik di poliklinik atau di bangsal untuk lebih menanggapi adanya
gejala-gejala depresi pada penderita HIV/AIDS, dan untuk peningkatan
kualitas hidup penderita HIV/AIDS tersebut, perlu dipertimbangkan adanya
kerjasama antara Departemen Penyakit Dalam dengan Departemen
Psikiatri.
Perlu dilakukan penyuluhan lebih lanjut tentang HIV/AIDS dan
dengan ditemukannya sindrom depresif sedang dan berat pada penderita
HIV/AIDS agar dipertimbangkan pemberian obat anti depresan dalam
meningkatkan kualitas hidup pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Kaplan Dan Sadock. 2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Ed 2. EGC:Jakarta

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Pedoman Nasional Tatalaksana


Klinis Infeksis HIV Dan Terapi Antiretroviral. Depkes RI

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pharmaceutical Care Untuk


Penderita Gangguan Depresif. Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan
Klinik Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Departemen
Kesehatan RI

Maslim R, 2013. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari
PPDGJ III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya: Jakarta

Yaunin Y, Dkk. 2014. Kejadian Gangguan Depresi Pada Penderita HIV/AIDS


Yang Mengunjungi Poli VCT RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode
Januari - September 2013. Jurnal Kesehatan Andalas. 2014; 3(2) .
Http://Jurnal.Fk.Unand.Ac.Id